THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: basic plots, majority of the characters, any situation surroundings belong to Stephenie Meyer. Quileute legends and names practically never even been existed... even in Twilight world

.


.

Delapan belas - Teleskop

Monday, December 17, 2012

1:15 AM


Nessie bergetar hebat setelahnya. Jika tidak tahu benar, Jacob mungkin akan mengira gadis itu kedinginan. Tetapi kemungkinan Ness kedinginan akan sama kecilnya dengan dirinya ataupun anggota kawanan lain.

"Kau tak apa, Ness?" tanyanya yang disambut gelengan kepala Nessie. "Mau kuantar ke rumah? Kita bisa naik Rabbit, Harley, atau kau bisa menunggangiku kalau kau mau," ia bisa merasa dirinya menahan napas saat mengucapkan frase terakhir.

"Kukira tadi kaubilang itu tidak pantas..." gadis itu tertawa, rambut panjangnya berkibar ditiup angin darat. "Aku tidak tahu, Jake... mungkin aku tidak ingin pulang malam ini," katanya, mencengkeram lengan atas Jake makin kuat.

"Ayolah, Ness... Kautahu Ed akan membunuhku jika tahu kau menginap di reservasi. Jika tidak, Emmet dan Jasper yang akan membunuhku," bujuknya.

Nessie tertawa pelan atas ide itu, tapi akhirnya mengangguk juga. Jake tidak tahu tapi ia merasakan gadis itu memendam sesuatu yang tidak ingin ia katakan. Entah apa, tapi yang jelas bukan sesuatu yang baik. Ia lebih dari tahu untuk berusaha mengenyahkan pikiran itu ketimbang memaksanya menyampaikan hal itu padanya.

Mereka bangkit dari pasir, agak terlalu cepat daripada yang lain-lain. Anak-anak masih piknik di sana, ribut berceloteh dan bersorak sementara Emily mengeluarkan satu kotak besar sandwich dan kue-kue. Tidak semua masih tinggal, tentu. Old Quil sudah pergi diantar cucunya, begitu juga ayahnya dan Sue. Beberapa anak yang kebagian tugas patroli, seperti Embry, Josh, dan Pete juga sudah angkat kaki.

"Mau ke mana, Jake?" Collin mengikuti dengan ekor matanya. Korra masih menempel di sisinya, juga memandang pada Jacob dan Nessie dengan ekspresi aneh.

"Mengantar Nessie pulang. Dia tidak enak badan," jawab Jake. Collin mendengus dan tertawa mengejek. Ia sama tahunya dengan yang lain bahwa Ness tidak mungkin bisa sakit.

"Yah, anginnya agak kencang malam ini," ia jelas sengaja mengatakan itu sebagai sindiran.

Jacob merasakan keinginan untuk menonjoknya, tetapi alih-alih ia memutuskan untuk menyesuaikan diri, "Ya, memang, jadi maaf kami undur diri duluan," dan ia membopong Ness hanya untuk menekankan hal barusan.

Jake bisa mendengar Collin tertawa dan berkomentar, "Cari kamar kosong sana, Jake," tapi ia tidak peduli. Ia membawa Renesmee ke balik pepohonan, pamit sebentar untuk berubah wujud, dan kembali dalam bentuk serigala.

Nessie tersenyum dan memeluk leher berbulu serigala kesayangannya. Mungkin memang hanya imajinasi Jacob, tapi ia merasa gadis itu memang lebih dingin dan wajahnya lebih pucat. Ia membaringkan perutnya di tanah sebentar, menunggu Ness duduk nyaman di punggungnya, kemudian memacu kakinya ke rumah keluarga Cullen.

Oh Jake, tolong simpan pikiran sakitmu untuk dirimu sendiri, oke? Ada yang mencoba berkonsentrasi patroli di sini, pikiran Embry meraihnya. Jacob mendengus.

Diam Embry, berhenti membayangkan dan berkomentar yang tidak-tidak. Kau tahu tangan Nessie di leherku sekarang. Aku tidak tahu ini mungkin tapi bisa jadi ia tiba-tiba membaca pikiranmu lewat pikiranku kalau mau.

Tepat seperti itu yang kumaksud. Jaga pikiranmu, tolong, Jake, aku dan dua anak di bawah 18 tahun sedang patroli di sini.

Jacob menulikan telinga, bukan, pikirannya terhadap apapun pikiran mereka. Ia juga berusaha mengontrol pikirannya. Ed tidak akan suka kalau si parasit-pembaca-pikiran itu menangkap basah pikirannya sekarang ini.

Tapi bau Edward tidak tertangkap di mana pun ketika ia masuk wilayah kekuasaan keluarga Cullen. Begitu juga ketika akhirnya ia tiba di rumah Cullen. Emmet dan Jasper pun tidak ada. Ia menurunkan Nessie, mencari tempat tersembunyi untuk berubah dan berganti pakaian, kemudian menyambar kunci serep dari sakunya untuk membuka pintu depan.

"Kau masih menyimpan kunci itu, Jake?" kata Nessie kagum, suaranya lebih berupa pernyataan ketimbang pertanyaan. Tentu saja. Keluarga Cullen sudah pergi sejak tiga tahun lalu, jadi resminya rumah itu kosong. Ia hanya bertindak sebagai juru kunci, kalau tidak mau dibilang anjing penjaga.

"Ya, untuk berjaga-jaga kalau sesekali aku ingin datang," kata Jacob akhirnya, menarik Nessie masuk. Rumah agak berbau debu, dan perabotan tertutupi kain putih di mana-mana. Kelihatannya Emmet dan Jasper belum tiba.

"Dan untuk apa tepatnya kau mau datang ke rumah ini? Seolah-olah ada makanan saja di sini kalau Granma tidak ada," kata Nessie tertawa, menarik satu kain putih dari sofa dan terbatuk-batuk karena debunya.

"Entahlah, kau sebut saja. Pesta liar dengan sekumpulan werewolf remaja? Mungkin kami bisa mengundang hewan-hewan liar di sekitar sini untuk…," ia membungkam mulut pada saat yang tepat ketika sadar candanya agak-agak keluar dari koridor Bimbingan Orangtua. Tapi Nessie tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.

"Untuk apa?" tanyanya polos.

Jacob merasa berkeringat dingin. "Untuk…" ia mencari-cari alasan.

Nessie masih menatapnya dengan mata polos, namun menuntut.

"Memeriahkan suasana…" ia menghela napas, akhirnya bisa menemukan kata yang tidak terlalu perlu disensor. "Atau mungkin merampok pajangan Esme? Aku yakin harga vas kristal di sana itu lumayan," katanya sambil menunjuk lemari pajangan berisi barang-barang antik yang sebagian kain penutupnya terbuka. Nessie terkikik, tidak jadi tiduran di sofa dan menarik Jacob ke kamarnya di lantai atas.

"Kalau mau, ambil saja piano ayah. Atau sekalian saja dobrak kamar Granpa. Aku yakin ia meninggalkan brankasnya di sana," ia bercanda, menari sepanjang selusur tangga.

Jacob ikut tertawa bersamanya, walau entah mengapa ia merasa amat sangat gugup. Menatap Nessie dari hari ke hari tumbuh dewasa kadangkala terasa sangat berat, membuatnya hampir kehabisan napas. Ditambah lagi belakangan ini mereka jarang bertemu setelah keluarga Cullen pindah lagi dari kota yang mereka diami sejak meninggalkan Forks tiga tahun lalu, kali ini ke Alaska. Rasanya seperti sebulan lalu melihat Nessie masih bocah usia 14 tahun, dan kini mendadak ia terlihat berusia 15 atau 16. Ia menghela napas, dan memutuskan segera pergi sebelum Emmet dan Jasper menemukannya di sini, berkeringat dingin bersama Nessie, dan kemudian melaporkannya pada Edward. Bisa mati ia nanti.

Ia menatap mata Nessie, menyentuh pipinya. "Kau tidak apa-apa? Tadi kau pucat dan tubuhmu dingin..."

Nessie menggeleng. "Kini sudah baikan, kan? Mungkin memang anginnya dingin."

"Ness..." Jacob menatap putus asa. Tentu saja Nessie tidak akan berpura-pura bermain 'manusia biasa' dengannya.

"Aku hanya..." gadis itu menutup mata sejenak. "Kisah itu... seram..."

Jake lebih dari tahu untuk tidak mengungkitnya lagi. Nessie juga pasti berpikir begitu karena ia mulai mengganti topik.

"Kau tahu, tahun depan kupikir pertumbuhanku akan mulai melambat. Jadi kupikir aman jika aku masuk sekolah seperti anak-anak lainnya," Nessie bersenandung. Jacob mengerjap.

"Apa? Maaf, aku tidak memperhatikan."

Ness tertawa. "Dan kupikir werewolf punya pendengaran terbaik di dunia," sindirnya. Jake ikut tertawa karenanya.

"Maaf Ness... Agak banyak masalah belakangan ini. Apa tadi kaubilang?"

Gadis itu melompat-lompat lincah di selusur sebelum melanjutkan, "Aku meminta Grans untuk diizinkan bersekolah di asrama."

Jake tidak yakin pendengarannya benar. "Apa? Tadi kau menyebut sekolah berasrama?"

"Ya. Aku sudah bilang Mom dan ia setuju, asal aku bisa jaga diri," dan Jacob tidak perlu bertanya apa definisi dari 'jaga diri' dalam konteks Renesmee, karena jelas ia lebih dari mampu untuk membela diri dari apapun masalah senioritas dan kisah cinta ala remaja yang akan muncul di sekolah. Definisi 'jaga diri' di keluarga Cullen selalu berhubungan dengan menghindari ketenaran dan berusaha tidak memangsa teman sebangku. Atau sekamar. Dan Jacob merinding membayangkan kemungkinan yang bisa jauh lebih buruk dari itu.

"Berapa lama?" tanyanya. Anehnya suaranya agak tercekat.

"Tiga tahun," jawab Ness antusias, "dan kemudian aku akan melanjutkan kuliah. Mungkin di Harvard atau Yale. Orang tidak akan terlalu curiga kalau melihat gadis yang kelihatannya berumur 21 mengaku berumur 18 dan sejak saat itu tidak pernah tumbuh. Mereka akan menganggapnya awet muda," ia terkekeh.

Itu berarti tujuh atau delapan tahun lagi. Tujuh atau delapan tahun sebelum Nessie menyelesaikan sekolahnya.

Dan ia mungkin tidak punya waktu tujuh atau delapan tahun lagi.

"Apa aku bisa ikut?"

Astaga! Ia sama sekali tidak menduga dirinya menanyakan hal ini.

Nessie mengernyit. "Entahlah, Jake. Kau terlihat seperti berusia 25. Masa kau mau masuk SMA?" ia tertawa, tampak puas dengan bayangan di kepalanya sendiri.

"Bukan, maksudku kuliah."

"Hmmm..." Nessie menekur. Wajahnya tampak bahagia oleh pemikiran itu. "Tergantung. Nilai-nilaimu harus bagus kalau begitu, Jake... Kau harus lebih sering menghabiskan waktu untuk belajar ketimbang berkeliaran sebagai serigala," katanya, terdiam sejenak, dan sejurus kemudian tertawa sendiri. Jacob merasa hampir seperti Edward, dia bisa melihat apa yang ada di pikiran Nessie: bayangan dirinya dalam bentuk serigala berbulu merah kecoklatan raksasa, berbaring di tanah di tebing di puncak gunung yang disinari cahaya matahari, dengan kacamata super-besar bertengger di hidungnya, menekur membaca Hamlet. Atau buku teks kalkulus.

Ia menggeleng, mengenyahkan bayangan bodoh itu dari kepalanya.

"Aku tidak sebodoh yang kaukira, tahu... Aku tahu aku bahkan tidak lulus SMA. Tapi anggap saja aku home schooling, toh dulu pun nilaiku bagus-bagus. Ujian persamaan takkan begitu sulit," tandas Jacob, tampak agak terluka karena anak usia 5 tahun punya cita-cita dan rencana akademis yang jauh lebih terukur ketimbang dirinya.

Tentu saja dulu juga ia punya impian akademis yang sama tingginya. Lulus SMA, masuk universitas jurusan otomotif atau robotika, mengambil master atau bahkan doktoral, seperti Rachel. Tentunya itu sebelum ia terpaksa tersangkut di sana, bergelung dengan takdirnya sebagai pelindung La Push. Tapi masa SMA adalah masa yang berat baginya. Tahun pertamanya dijejali dengan transformasi mendadak, penyangkalan diri, rusuk hancur, tulang patah. Sementara tahun keduanya diisi dengan pelarian diri, patroli, tulang patah, belum lagi ancaman kedatangan Volturi. Tentu saja sekolah bukan lagi prioritas utama. Begitu semua tenang, ia merasa sangat sangat ketinggalan untuk melanjutkan lagi.

"Tentu, tentu," beo Nessie, meniru kalimat legendaris Jacob.

Sejenak ekspresi di wajah Nessie membuat Jacob ragu. Apa Nessie sedang berusaha menjauhkan diri darinya?

"Kau tahu, bagaimana rasanya? Masuk SMA, jatuh cinta, berpacaran..." kata Nessie sejurus kemudian, matanya menerawang sementara ia bersandar di pagar langkan atas, memandang bayangan hutan di balik jendela.

Jacob membeku sesaat sebelum berhasil mengumpulkan kesadarannya dan berusaha bersikap kasual. Tentu saja Nessie berhak mendapatkan semua yang berhak ia dapatkan, ia rasakan, sebagai remaja setidaknya, karena jelas ia tidak mendapatkan cukup sebagai anak-anak, sebesar apapun upaya Rosalie dan Alice untuk memanjakannya. Pelajaran, sekolah, teman, jatuh cinta, patah hati, persaingan... Sesuatu yang normalnya semua orang rasakan. Normal. Mungkin ia pasangan sejatinya, tapi apa ia akan menahan gadis itu jika ia ingin merasakan hidup? Ia pernah jatuh cinta pada gadis lain, tahu bagaimana rasanya. Apa ia akan berharap Ness hanya jatuh cinta padanya? Memaksa jika perlu? Tentu tidak.

Tidak jika Nessie memiliki masa depan yang jauh, jauh lebih panjang daripada dirinya.

"Tentu kau akan menarik banyak cowok, Ness... Kau pasti akan terlihat cantik nanti."

Mungkin hanya imajinasinya saja, ketika ia melihat rona kemerahan membayang di pipi Nessie. Ia merasa dirinya sendiri memerah karena pikiran itu, dan segera mengalihkan perhatiannya pada hal lain.

Tapi belum lagi Jacob berhasil menangkap satu saja bahan pembicaraan yang cukup pantas untuk meredakan getaran dadanya, tahu-tahu Ness sudah menariknya sepanjang langkan, menaiki tangga lain menuju ruang kerja Carlisle.


"Ada apa, Ness?" Jacob curiga, tetapi tidak menolak ketika Nessie mendorongnya masuk.

Rambut coklat gadis itu bergoyang-goyang dalam ombak sempurna ketika ia menari sepanjang pintu hingga jendela besar Carlisle, untuk kemudian terbelai angin malam ketika ia membuka jendela. Ia bertengger di selusur pagar beranda sejenak, menikmati angin malam dan bau cemara, sebelum kemudian masuk kembali, menuju sudut ruangan tempat Carlisle menaruh teropong bintang besarnya.

Maksudnya besar, benar-benar besar. Ini bukan teropong biasa yang ada di kamar anak umur 10 tahun. Teropong Carlisle agak lebih profesional. Bukan sebesar teropong yang ada di observatorium tentu. Dan Jacob, sayangnya, agak kurang tahu soal teropong untuk dapat menyebut nama dan modelnya.

Teropong itu tidak sekadar tinggal dipindahkan. Ia harus dirakit ulang. Carlisle menempatkan rangka dan bagian besarnya dalam keadaan terpasang, berdiri di sudut ditutupi kain putih. Tetapi bagian-bagian terpentingnya tersimpan aman di kardus di salah satu rak yang penuh buku dan model angkasa luar dari berbagai zaman.

Kadang Jacob agak bingung dengan keahlian dan pekerjaan Carlisle. Oke, dia dokter, dan vampir tentu. Lalu apa lagi? Pemain saham, pembalap paruh-waktu, pemalsu dokumen, negosiator, analis ulung, ahli legenda rakyat dari seluruh dunia, ya... Dan kini apa? Astronom? Ahli nujum?

Mungkin hidup ratusan tahun bisa membuatmu ahli dalam segala hal. Huh, tentu saja, pikir Jacob sejurus kemudian. Terkutuklah kau kalau menghabiskan masa abadi tanpa tidurmu dengan menonton opera sabun kacangan. Lagipula, dari sekian ratus tahun si dokter itu hidup, hanya beberapa dekade terakhir yang diisi dengan menikmati tayangan televisi. Sisanya? Jacob hanya bisa membayangkan.

Ness mengangkut rangka-rangka itu, bukan keluar beranda, tetapi ke ruangan lain yang ditutupi sekat berukir bergaya Baroque. Tentu saja ia bisa mengangkut dan memindahkan semuanya sendirian, tapi Jacob merasa tidak gentleman jika tidak membantu. Ia tidak menanyakan tujuan gadis itu, hanya mengikuti, ketika menarik kotak besar dan berat dari rak dan mengekor Nessie.

Ruangan di balik sekat itu hanya berupa lorong kecil dengan tangga sempit. Jacob dan Nessie melalui tangga itu, hingga Nessie membuka tingkapnya dan menyingkap satu ruangan lain. Ukurannya tidak besar, tidak luas. Atapnya melengkung. Nessie memasuki ruangan, menekan salah satu tombol di dinding. Kemudian terdengar derit dan suara berputar halus. Beberapa detik kemudian, perlahan atap itu membelah. Dan Jacob terpana melihat hamparan langit terbuka di hadapannya.

"Wow..." cuma itu kata yang keluar dari mulutnya yang menganga.

"Granpa dan Dad berencana memasang teleskop besar di sini," jelasnya, ikut berdiri di samping Jacob. "Tapi mengingat kemungkinan perkembangan teknologi nanti, mereka akan memasangnya nanti, kalau kami sudah yakin akan kembali ke sini lagi… Dad bilang rugi kalau memasang teleskop paling anyar sekarang, dan ketika kami kembali 50 tahun lagi, misalnya, teleskop itu sudah ketinggalan zaman."

Lima puluh tahun lagi… Jacob bahkan tidak yakin ia bisa ada di sana, memandang bintang dari teleskop ultra-modern Nessie, masih hidup...

Nessie tak banyak membuang waktu. Ia mulai mendirikan rangka, membongkar kotak dan memasang bagian-bagiannya. Jacob tidak ikut campur bahkan ketika Nessie mengangkat bagian yang terlihat sangat berat dan memasangnya dengan mudah. Tentu saja Jacob tidak mengerti banyak soal teleskop sehingga ia tidak hendak mempermalukan diri dengan ikut membantu tapi mengganggu atau malah merusak pekerjaan Nessie. Tidak ketika ia melihat gadis itu sangat serius, bahkan bahagia, kala terhanyut dalam pekerjaannya. Jake tahu perasaan itu, sama seperti ketika ia terhanyut dalam hobinya mengutak-atik Rabbit yang seharusnya sudah lama jadi bangkai. Dan Ness memang kelihatan tahu benar apa yang sedang ia lakukan, apa yang harus ia kerjakan. Ia bahkan tidak membaca manual. Dalam hati Jacob merasa kagum, bangga, tapi tak bisa ditahan ketakutan, ketidakamanan, ditingkah sebersit rasa cemburu menyelinap di hatinya. Apa lagi yang Nessie tahu dan ia tidak tahu?

Gadis itu menyelesaikan pekerjaannya tidak sampai tiga puluh menit kemudian, lantas balik memandang Jacob dengan rasa bangga jelas terpampang di wajahnya. Jacob langsung mengungkapkan kekagumannya, bukan hanya untuk menyenangkan Nessie karena jelas-jelas gadis itu ingin menunjukkan kemampuannya di depannya, ingin dipuji, tetapi karena ia memang kagum. Tentu saja, bahkan dengan usia mentalnya, bukan usia fisik maupun kenyataannya, apa yang dilakukan Nessie bukan hal yang bisa dengan mudah dilakukan semua orang. Tidak juga Jacob.

"Darimana kau mempelajari ini?" tanyanya, masih menganga.

"Aku pernah membaca buku manualnya dulu waktu Granpa membelinya, waktu kami belum pindah..." kata gadis itu agak malu, yang membuat Jacob makin menganga. Itu berarti tiga tahun lalu, waktu tubuh Nessie menunjukkan sosok usia sembilan atau sepuluh tahun-an. "Aku melihat beberapa teleskop lain di observatorium ketika Mom dan Dad mengajakku jalan-jalan, dan aku juga membaca beberapa buku mengenai teleskop. Aku pernah merakit sesuatu yang agak lebih sederhana dari ini. Tapi ini pertama kalinya aku merakit teleskop ini."

Itu benar-benar membuat Jacob nyaris kehilangan kata-kata.

"Itu..." ia berdehem. "Sangat menakjubkan, Ness..."

Tentu saja itu menakjubkan. Lebih dari itu bahkan. Nessie tersenyum senang. Dan Jacob agak mengutuk cahaya terang ruangan itu, karena ia jelas bisa melihat rona kemerahan lagi merayap di pipi gadis itu.

Ia mematikan lampu utama, dan memberikan sedikit penerangan yang diarahkan hanya pada lensa pengamat. Ia membimbing Jacob berbaring di matras besar di bawah lensa, menghadapkan lensa pengintai besar di ujung teleskop ke langit malam.

"Kau siap?" katanya, sebelum berbaring di sisi Jacob, mengedip dan membimbing pandangan Jacob ke lensa.

Dan Jacob melihat segala keindahan itu: bintang yang tak lagi berupa titik-titik jauh di langit, tetapi lebih berupa lapisan-lapisan titik-titik berbeda ukuran dan jarak. Semua terbentang di angkasa di hadapan matanya.

"Lihat ini," kata Nessie, mengutak-atik dan memutar-mutar pengatur fokus di depannya. Seketika layar di hadapan Jacob menampakkan gambar yang berbeda. Arahnya tetap sama, fokusnya tetap sama, tetapi berbeda. Ia seakan menjelajahi lapisan demi lapisan bintang, menuju lapisan terjauh.

"Menakjubkan..." hanya itu kata yang terlontar dari bibirnya.

Mereka di sana, di bawah langit yang telanjang, berkelana lapis demi lapis bintang.

Bahu Nessie mendekat ketika ia juga ikut mengamati di bawah lensa. Jacob bergeser untuk sedikit memberi ruang, tapi Ness bersikukuh agar ia juga ikut melihat. Jadi didekatkannya tubuhnya pada tubuh Nessie. Bahu mereka saling menyentuh. Jacob bisa merasakan bau Nessie kian menguat. Kepala Nessie bersandar di kepalanya...

Dalam sekejap angkasa tidak lagi ada di atas sana. Ia ada di sini. Mengelilinginya, menyelimutinya, melingkunginya.

Ia tak lagi ada di bumi.

Dan dalam sedetik, sedetik yang rasanya sekian milyar tahun cahaya itu, ia mengecup kening Nessie.


catatan:

kayaknya emang aku ga berhasil menangkap mood yang tepat... pengennya sih romantis gt...

btw, apa ada teleskop yang cara kerjanya seperti di imajinasiku ini? hohoho :D