THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: basic plots, majority of the characters, any situation surroundings belong to Stephenie Meyer. Quileute legends and names practically never even existed... even in Twilight world
.
Dua puluh - Rahasia
Monday, December 17, 2012
1:15 AM
.
"Kau bertemu dengan Sam di hutan?!" seru Seth, kaget sekaligus bingung, ketika Jacob memberitahunya tentang apa yang terjadi pada patroli semalam. Mereka ada di ruang tengah keluarga Clearwater. Sue pergi bekerja, sehingga hanya ada mereka berdua di sana.
Pagi itu sepulang patroli, tanpa kembali lagi ke rumahnya, Jacob langsung meluncur ke rumah Clearwater. Untung saja Seth baru pulang dari tugas jaga malam menemani Quil di rumah sakit. Sepanjang sisa patroli semalam, Jacob berusaha keras menutupi pikirannya dari Embry, tidak bereaksi terhadap apapun pertanyaan temannya. Ia punya dugaan, ia punya kecurigaan. Tetapi ia tidak yakin untuk mengungkapkannya pada Embry. Tetapi ia perlu mendiskusikan dengan seseorang. Dan hanya satu orang yang bisa ia percaya untuk masalah ini.
Sang Beta.
Seth belakangan selalu punya ide-ide bagus. Untuk brainstorming. Sebagian besar memang acak dan malah membuat pusing, tentu, tetapi setidaknya ia lebih mendingan daripada Embry. Setidaknya Seth takkan keceplosan di depan Sam seandainya Sam memelototinya dengan mata Medusa-nya lagi.
"Kau yakin itu Sam?" bisik Seth setelah berhasil menenangkan diri.
"Positif," gumam Jake.
"Dia kembali berubah menjadi serigala?" tanya Seth sejurus kemudian yang disambut anggukan Jake. Seth termenung, lalu katanya, "Berarti melepas wujud serigala bukan berarti benar-benar tidak bisa berubah menjadi serigala. Mungkin Sam kehilangan kendali dan ..."
"Seth!" Jacob memotong. "Ini jelas bukan masalah Sam kehilangan kendali atau emosi dan berubah menjadi serigala. Ini bukan masalah itu!" ia tampak kehilangan kata-kata, seolah apa yang ada di pikirannya juga bukan sesuatu yang ia yakini benar. "Percaya padaku, aku sungguh-sungguh berharap semudah itu: Sam marah dan berubah. Tapi ini bukan, aku yakin. Aku bisa merasakannya."
"Lalu?"
"Bau Sam berbeda. Dia tidak seperti Sam yang kita kenal. Baunya familiar, tapi... berbeda. Aku dan Embry awalnya tidak mengenali bau itu. Hingga kami melihat Sam."
Seth berpikir sejenak. "Mungkin itu bukan Sam. Mungkin serigala hitam lain yang mirip Sam. Mungkin..."
"Apa menurutmu kau mungkin bisa salah mengenali serigala yang pernah jadi Alfamu?" kata Jacob langsung. Dan Seth tercenung. Jacob langsung menebak apa yang ada di pikiran Seth, dan langsung membantah. "Aku pernah melihat serigala yang menolongmu, Seth. Di pikiranmu dan secara langsung dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihat kesaksian tiga orang lain yang juga melihat bersamaku. Aku membandingkan. Serigala itu bukan Sam. Tapi serigala jantan semalam aku yakin pasti Sam."
Seth berusaha mencari alternatif lain, melihat kemungkinan terkonyol, tapi lebih mungkin. "Mungkin kemarin begitu gelap… Kaubilang kau melihatnya sekitar pukul dua? Hanya di bawah sinar bulan purnama? Kau bisa salah mengenali."
"Aku mengenali suaranya," aku Jacob.
"Suara?"
"Dia bicara padaku."
Pemuda yang tahun ini baru menginjak usia 20 tahun itu mengangguk. Masalah suara memang tidak bisa dibantah. Jacob mengenal suara Sam hampir sama dengan ia mengenal suaranya sendiri. Jika ia menyimpulkan serigala itu Sam dari tiga hal: bentuk fisik, suara, dan insting yang menyatakan itu Sam, jadi itu pasti Sam. Sam kehilangan kendali dan berubah jadi serigala. Ia masih tidak melihat permasalahan apapun.
"Kau tahu, justru masalah suara itu yang jadi permasalahan bagiku," kata Jacob sejurus kemudian. Seth mengernyit. "Aku tidak yakin. Dan aku berusaha keras menutupi hal ini dari Embry. Tapi aku yakin satu hal: Sam membentuk kawanan sendiri."
"Apa?"
"Aku mendengar suaranya, bukan pikirannya. Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya, Seth. Ini seperti sewaktu kita membentuk kawanan sendiri di luar kawanan Sam. Aku bisa mendengarnya karena dia menggunakan kemampuannya sebagai Alfa, sebagai medium antarkawanan."
"Jake!" tegur Seth. "Ini kesimpulan yang terlalu cepat, terlalu melompat! Apa kau mau bilang bahwa Sam membentuk kawanan baru? Menjadi Alfa kawanan baru? Tanpa sepengetahuanmu?"
Jacob menghela napas berat. Bangkit dari sofa, tampak resah, ia melangkah ke jendela, duduk di bingkainy sembari memandang ke luar. Di luar hujan musim panas mulai turun, titik-titik gerimis meninggalkan jejak lebih gelap pada daun, sebelum akhirnya air tumpah dari langit dan menyaputi seluruh pemandangan dalam tirai air yang tebal.
Ia berbalik dan menatap Seth.
"Seandainya ada kemungkinan lain, menurutmu apa?"
Seth terdiam sejurus, keningnya berkerut, berusaha berpikir. "Apa Embry bisa mendengar?"
"Dia mendengar ketika Sam bicara padaku. Dan aku hanya mendengar 'siapa itu'. 'Siapa itu', Seth! Aku tidak mendengar pikiran, atau merasakannya seperti itu bagian dari kawananku."
Ini terlalu berat bagi Seth. Terlalu memusingkan. Terlalu banyak kecurigaan, terlalu banyak hal tidak jelas. Dan ia benci semua itu.
"Kau tahu, seandainya Sam membentuk kawanan tersendiri, siapa saja anggota kawanannya?"
Jacob menggeleng. "Entahlah, aku tidak tahu. Bisa jadi ia sendirian."
"Atau bersama para Tetua..."
"Aku tidak berpikir itu mungkin untuk membentuk kawanan serigala dengan anggota manusia, Seth. Bahkan Tetua sekalipun."
"Jadi menurutmu ia sendirian?" kejar Seth.
"Aku tidak tahu, Seth."
"Atau ia mengemban tugas dari para Tetua?"
"Aku juga tidak tahu, Seth."
"Atau … kaubilang ada serigala hitam di hutan yang tidak bisa juga kaudengar suaranya, kan? Apa Sam membentuk kawanan dengannya ?"
Jacob memejamkan mata. Jika memang ada kemungkinan itu, ia lebih baik tidak tahu. Itu adalah kemungkinan yang paling buruk.
Seth juga menyadarinya, dan ia segera mencari kemungkinan lain yang lebih ringan.
"Atau karena ia sudah terpisah dari kawanan, jika ia tiba-tiba berubah, pikirannya tidak akan menjadi bagian dari kita lagi?"
Jacob membuka mata, memandangnya. "Dan mungkinkah itu otomatis menjadikannya Alfa?"
"Apa kau tidak bisa menempatkan dirimu dalam posisi setara Alfa jika kau sendirian? Menjadi Alfa dari dirimu sendiri?"
"Seperti sewaktu aku memisahkan diri dari kawanan Sam?"
"Tepat. Sam juga awalnya tidak menyadari ketika kau memisahkan diri, kan?"
Jacob merenung.
"Sam telah menjadi Alfa sejak dulu. Kalian pernah punya kawanan terpisah. Dan sekarang kau Alfa. Bisa jadi jika ia berubah mendadak, tanpa sepengetahuannya, insting dan egonya, alam bawah sadar-nya," Seth menekankan pada kata 'alam bawah sadar' dengan agak sinis—dan Jacob tidak merasa perlu menanyakan mengapa: semua orang tahu Seth punya kesan buruk terhadap Sam sejak urusan 'batalion werewolf'— " menolak untuk menjadi bagian dari kawananmu, menjadi bawahanmu."
Jacob menggigit bibir. "Menurutmu, jika Sam memang mendirikan kawanan baru, apa ia bisa melakukannya tanpa sepengetahuanku?"
Seth berpikir sejenak. "Kau Alfa yang berhak. Dahulu kau mendirikan kawanan terpisah dari kawanan resmi karena kau berhak melakukannya. Kau bisa mengklaim posisimu dalam kawanan Sam jika kau mau, tapi kau menolak, itu menjadikanmu mampu mendirikan kawanan baru," analisanya. "Tapi kurasa Sam tidak memiliki hak untuk membentuk kawanan baru jika tidak sejak semula ia mendapatkan mandat darimu, Jake."
"Tepat itu yang kupikirkan..." gumam Jacob.
Seth mendesah. "Tidakkah kemungkinan-kemungkinan kita terlalu jauh? Bukankah kemungkinan pertama terdengar lebih mudah?"
"Ya," timbang Jacob. "Hanya entah mengapa aku merasa tidak tepat."
"Instingmu?"
"Insting dan memang tidak cukup masuk akal," ia melontarkan kedua tangannyake udara, tampak sangat putus asa. "Kautahu, Seth... Dia tidak bisa melacakku dan Embry."
"Tidak bisa? Maksudmu?"
"Kami begitu dekat dengannya. Ia seharusnya bisa mengendus bauku dan Embry."
"Mustahil..."
"Tepat itu yang kupikirkan."
"Mengapa?"
Jacob tidak menjawab, tidak punya jawaban.
Kini giliran Seth menggigit bibir.
"Kautahu, Seth... aku punya perasaan ini... bahwa semua kejadian yang terjadi belakangan bukan kebetulan. Bahwa Sam adalah kuncinya. Bahwa ia merencanakan sesuatu."
Seth terlonjak. "Seperti konspirasi? Sam dan para Tetua? Apa ini urusan batalion werewolf lagi, Jake?"
Kembali resah, Jacob menggigit bibir. Jemarinya memainkan ujung tirai kerang yang menjuntai menutupi separuh jendela. "Kau pasti menganggapku gila. Aku juga mulai berpikir aku gila, berhalusinasi, skizofrenia, bereaksi berlebihan... Mungkin ketakutanku dan ketidakpercayadirianku berada dalam bayang-bayang kepemimpinan Sam memainkan trik pada pikiranku. Aku tidak tahu. Tapi aku merasa ia punya rencana, Seth... Rencana yang tidak ia katakan padaku. Tapi rencana yang ia ingin kita lakukan."
"Seolah kita bonekanya..." bisik Seth pelan, hampir tidak terdengar, nadanya miris. Dan Jacob mengiyakan.
"Seolah kita bonekanya..."
Hening lagi. Hanya ada suara hujan yang menampar atap. Dan deru angin menghantam pepohonan di luar sana.
Dan sejurus kemudian ia berkata, agak spekulatif, "Mungkinkah Sam… memang membutuhkan kedudukan Alfa ini?"
Dahi Seth mengernyit. Jangan bilang Jacob merasa tersudut karena mengira Sam mengincar kedudukan Alfanya. Tetapi Seth cukup tahu bahwa baik Sam maupun Jacob tidak pernah benar-benar cukup haus kekuasaan untuk mau dengan sukarela berebut otoritas atas kawanan.
"Ada beberapa hal mengenai status Alfa yang tidak dimiliki anggota lain kawanan, kau tahu… " katanya sejurus kemudian.
Seth hanya memasang tampang bingung, tentu saja ia tidak tahu. Ia berharap ini bukan masalah otoritas atas kawanan, atau Titah Alfa.
"Misalnya soal medium antarkawanan," lanjut Jacob yang agak membuatnya lega, walau masih bingung.
"Medium? Apa kalian para Alfa bisa memanggil roh Alfa sebelumnya?" ia bertanya polos yang membuat Jacob mau tidak mau tertawa dalam situasi tegang dan serius itu. Sepertinya Seth mencuplik ide itu dari salah satu film animasi.
Seth masih memasang tampang bingung.
"Tentu saja tidak. Itu konyol sekali, Seth," katanya. "Maksudku tentang menjadi perantara dua kawanan. Alfa bisa bicara dengan Alfa lain, kau tahu. Dan kawanan bisa mendengar apa yang dikatakan pemimpin kawanan lain melalui koneksi dua Alfa. Tentunya mereka hanya mendengar 'yang diucapkan', bukan 'yang dipikirkan'."
"Maksudmu, Sam membutuhkan status Alfa untuk menghubungi kawanan lain?"
Jacob mengangguk, kentara sekali ia masih agak ragu, jika tidak bisa dikatakan takut, dengan arah pembicaraan mereka.
Seth juga merasakan hal yang sama, karena ia hampir berteriak ketika membantah, "Itu konyol sekali, Jake! Dengar dirimu sendiri! Kau berpikir Sam punya rencana konspiratif dengan upaya untuk menghubungi kawanan lain! Kawanan apa?"
Dan ia tidak perlu bertanya lebih jauh lagi, atau mendengar jawaban Jacob, untuk mengetahuinya. Hanya ada satu serigala lain di La Push selain kawanan serigala Quileute. Serigala misterius, yang mungkin bagian dari kawanan misterius. Yang tidak diketahui kawan atau lawan.
Kawanan dengan si serigala hitam yang pernah menolongnya sebagai salah satunya.
Ia tahu kemungkinan bahwa si serigala misterius adalah bagian dari kawanan lain hanya dengan satu alasan: ia tak bisa mendengar suaranya. Jika ia tidak bisa mendengar suaranya dan tidak bisa membuat koneksi Alfa, bahkan walaupun berusaha, itu menghilangkan kemungkinan bahwa serigala itu bagian dari kawanannya atau serigala itu merupakan seorang, atau seekor, Alfa.
Yang berarti serigala itu tidak sendirian. Ia pasti punya kawanan.
Dan karena ia sudah berkali-kali memunculkan diri, campur tangan dalam tiap serangan, sudah pasti ia bukan serigala yang kebetulan saja melintas. Ia pasti ada di sana, mengawasi, sama seperti vampir-vampir itu.
Itu saja sudah membuat perutnya tidak nyaman.
"Tapi untuk apa?" tuntut Seth.
Ya, untuk apa Sam merasa perlu menghubungi kawanan lain?
Dan Jacob tidak punya jawaban.
Karena kemungkinan lainnya justru lebih mengerikan. Dan baik ia maupun Seth, meski menyadarinya, tidak ingin mengungkapkannya. Tapi kini ia mempertimbangkan kemungkinan yang sebelumnya sempat diajukan Seth itu.
Sam-lah Alfa dari kawanan lain itu.
Keheningan melanda dalam jeda yang sangat panjang, sebelum akhirnya Seth memecahnya, "Jadi apa yang ingin kaulakukan?"
"Apa?"
"Apa kau ingin menanyakannya langsung pada Sam? Atau para Tetua? Atau memerintahkan kami semua mengintai Sam?"
Jacob menimbang-nimbang sesaat, kembali memandang ke luar jendela. Hujan sudah separuh berhenti kini, hanya ada titik-titik gerimis kecil yang masih menerpa tanah becek.
"Jangan lakukan apa-apa," katanya akhirnya.
"Jangan lakukan apa-apa?" kerut Seth, bingung.
"Semua keputusan punya kelemahan. Jika Sam memang merencanakan sesuatu, kita butuh bukti lebih dari yang kita ketahui sekarang atau kita tidak akan menemukan bukti apa-apa lagi. Dan kita juga butuh banyak pertimbangan untuk tahu apa kita perlu berkonfrontasi dengannya. Jika kita mengatakan pada Tetua, pertama aku tidak yakin Tetua tidak punya andil sama sekali dalam hal ini. Kedua jika pun tidak demikian, aku takut mereka mulai mencurigai Sam sedangkan kita tidak tahu apa yang Sam lakukan, apa ia benar-benar merencanakan sesuatu atau tidak. Dan jika kita meminta kawanan memata-matai, yah katakan saja, Seth... mereka semua adalah mantan anak buah Sam. Kesetiaan mereka lebih pada Sam daripada aku. Dan aku tidak ingin mereka berpikir aku berkonfrontasi dengan Sam ketika aku tidak yakin apa yang ia lakukan."
Seth diam.
"Tolong, Seth... jangan katakan ini pada siapapun. Jangan pada kawanan yang lain. Jangan pula pada Quil dan Embry. Aku tidak yakin pikiran mereka aman."
"Itu sama denganku, Jake. Aku tidak yakin pikiranku juga aman."
Begitu banyak pertanyaan, begitu banyak kecurigaan, begitu banyak ketidakpercayaan, begitu banyak … tekanan.
Jacob bangkit dari jendela, mengalihkan perhatiannya pada Seth. "Aku tahu kau bisa menutup pikiranmu dari kawanan. Dan kita akan berlatih untuk menguatkannya. Mulai besok, jika kau patroli, pasanganmu hanya aku. Tampaknya kita harus mengatur ulang jadwal patroli. "
"Tapi bagaimana dengan Collin, Brady, dan lain-lain? Aku harus mengawasi mereka kan? Jika mereka bertemu Sam di hutan... Mereka, bagaimanapun, setia pada Sam."
"Mereka masih cuti, masa ujian tengah semester, ingat? Kurasa saat mereka kembali, kau sudah dapat menutup pikiranmu. Dan soal Quil dan Embry, bahkan walau aku tidak menurunkan titah Alfa, aku yakin mereka takkan berani mengkonfrontasi Sam."
Seth tertawa. "Terdengar seperti konspirasi bagiku."
Jacob tersenyum masam. "Jika Sam punya rencana yang dia sembunyikan dariku, aku bisa punya rahasia darinya."
.
catatan:
R&R please...
i love Sam sooooo much! masih bingung apa aku berhasil menggambarkannya tepat seperti yang ada di bayangan aku...
