THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: basic plots, majority of the characters, any situation surroundings belong to Stephenie Meyer. Quileute legends and names practically never even existed... even in Twilight world

.


Dua puluh satu- Sarapan bersama Tetua

Thursday, December 20, 2012

5:08 PM


Judul Alternatif: Alasan


.

Pagi itu Jacob bangun dengan wajah sangat, sangat, sangat kusut.

Setelah patroli yang berakhir dengan sangat tidak diduga-duga kemarin, dan pembicaraan berat dengan Seth, sorenya ia ditelepon bosnya di bengkel, Mr. Peterson. Orang tua gendut botak yang pemarah itu mengomelinya hampir satu jam, sebelum akhirnya menyatakan bahwa bulan ini gajinya tidak dibayarkan, karena ia tidak pernah masuk. Dan bahkan mengancam akan memecatnya.

Tentu saja ia tidak pernah masuk. Serangan vampir, patroli... Ia bahkan hampir mati! Apa si tua itu tidak tahu bagaimana upayanya berusaha melindungi mereka semua? Melindungi seluruh suku? Seluruh Semenanjung Olympic? Oh, tentu si tua itu tidak tahu, tidak ada yang boleh tahu. Tentu saja ia tidak bisa mengatakan hal itu padanya, pada siapapun, apalagi menuntut mereka membayar untuk kerja keras yang ia lakukan dengan mempertaruhkan nyawa. Melindungi La Push adalah tugas mulianya, tugas yang tidak menuntut bayaran. Seperti Superman, Spiderman, seluruh tokoh superhero.

Tapi lantas itu membuat satu-satunya sumber pendapatannya menghilang. Semua ini membuatnya gila!

Itu saja sudah membuat mood-nya hancur lebur. Dan setelah itu ia masih harus patroli malam, pulang menjelang fajar, dan baru tidur sekitar dua jam, ketika ponsel barunya, yang dibelikan Nessie sebagai hadiah entah-untuk-perayaan-apa, tiba-tiba membunyikan bip-bip aneh.

Oh, dering sms. Ia hampir lupa bahwa dering sms di ponsel barunya belum di-set ulang.

Hanya ada sebaris kalimat di bawah nama pengirim dan jam:

Conversation with Sam Medusa Uley

Sam Medusa Uley (07.13 AM):

Sarapan. Tetua dan Triad. Pondok Sam. 8 AM. Tepat waktu!

Jacob mengerang. Apa Sam mau menyiksanya? Sarapan bersama Tetua? Jam 8? Sekarang saja sudah jam 7 lebih!

Dengan sebal ia membalas singkat.

Mumbling Jakey (07.16 AM):

Siap.

Ia sudah akan tidur lagi barang setengah jam begitu menyadari nickname di ponsel barunya yang di-set oleh Renesmee. Apa itu? Mumbling Jakey? Untung saja ia mengirim sms dan bukan e-mail, YM, BBM, apapun. Bisa mati dia ditertawai Sam. Dan tunggu sampai beritanya sampai ke Collin.

Sam rupanya tidak puas hanya dengan sms, tahu bahwa Jacob pasti masih tidur dan tidak akan bangun hingga jam 11. Baru sekitar semenit Jacob menutup mata, ia sudah menelepon.

"Ya..." Jacob menjawab setengah mengantuk.

"Kemana saja kau? Ini sudah jam setengah sepuluh!" Sam mengamuk di ujung sana.

Mata Jacob yang masih terpejam langsung membuka sebesar bola tenis, demi disadarinya Sam marah. Sam marah adalah tanda yang tidak bagus. Benar-benar tidak bagus. Ia menatap jam digital di samping tempat tidurnya. Benar, jam menunjukkan angka 09.27 AM. Bagaimana mungkin waktu langsung melompat dua jam kala ia baru memejamkan mata semenit?

Ia menggumamkan kata-kata yang bahkan ia tidak mengerti artinya di telepon, menutup pembicaraan, lantas segera mencuci muka, menggosok gigi, dan berpakaian seadanya. Jika Sam memanggil, selalu ada masalah penting. Dan belakangan sarapan memang menjadi momok yang menyebalkan.

Apapun yang ia lihat kemarin, Sam tetap Tetua dan Tetua harus dipatuhi.


Ia sampai sekitar dua puluh menit kemudian. Sam Medusa Uley yang bertampang kesal menunggu di kepala meja makan, mengetuk-ngetukkan jarinya dengan nada bosan sekaligus mengancam. Jacob bisa melihat bayangan rambut ularnya lagi sementara ia mendelik penuh amarah pada Jacob, mengikuti setiap langkahnya dengan pandangannya yang membekukan itu. Ayahnya dan Sue mengapitnya di sisi kiri dan kanan meja. Seth di sisi Billy dan Embry di sisi Sue. Meninggalkan hanya satu ruang kosong untuknya di kepala meja di seberang Sam.

Glek! Jacob menelan ludah.

Jacob berusaha memamerkan senyum terbaiknya semenawan mungkin, dan duduk dengan manis di kursi yang disediakan untuknya. Tampak sudah tidak ada lagi piring yang menggeletak di meja makan, maupun makanan yang tersisa. Tentu saja, ia sudah terlambat hampir dua jam. Dan ini bukan sarapan biasa kalau hanya melibatkan Tetua dan para 'Triad', istilah mudah yang diciptakan Embry untuk menyebut tiga petinggi kawanan mereka. Ini pastinya rapat Dewan Suku seperti biasa.

Kesal karena ayahnya jelas-jelas ikut rapat namun tidak membangunkannya, Jacob sedikit melotot pada ayahnya. Yang dipelototi hanya tertawa, memberi pandangan 'salah sendiri bangun telat', dan kemudian berpaling untuk mengobrol dengan Sam.

Setelah Old Quil masuk rumah sakit, Dewan Suku hanya tinggal tersisa tiga orang ini. Dewan sedang memikirkan untuk memberi ketenangan pada Old Quil yang mungkin mendekati akhir hidupnya, dan sekarang mulai jarang melibatkan Old Quil dalam rapat-rapat dewan. Billy terkadang menyalahkan dirinya, karena ia yang meminta Old Quil mengikuti acara api unggun malam itu, yang mungkin ternyata berefek buruk terhadap kesehatannya. Dan dengan pensiunnya Old Quil, tidak ada yang benar-benar berperan sebagai wakil Ateara. Sue Clearwater memang menggantikan suaminya, sehingga dapat dianggap mewakili Ateara dan Black sekaligus. Tapi bagaimanapun ia Uley. Dan para Tetua sedang mempertimbangkan menaruh Quil Ateara V menggantikan kakeknya di Dewan.

Jacob berusaha sesantai mungkin, namun tidak bisa menahan ketegangan dalam dirinya. Sesaat dia berpandangan dengan Seth, dan lantas dengan Embry. Keduanya tahu apa yang memberatkan hatinya. Sam.

Mereka menunggu Sam membuka rapat sebagaimana biasa. Secara yuridis memang Billy adalah pemimpin Dewan, tetapi ia lebih suka memberikan 'tongkat estafet kepemimpinan', demikian ia menyebut, kepada yang lebih muda. Dan memang, dalam berbagai rapat dewan, belakangan Sam-lah yang bertindak selaku ketua. Membuatnya kadang bertanya-tanya sendiri siapa sebenarnya Kepala Suku mereka: dia atau Sam.

Mungkin memang Sam, putusnya. Sudah jelas Sam.

Sam berdehem meminta perhatian seperti biasa, dan semua mata tertuju padanya. "Jadi," katanya dengan kata pembuka favoritnya, "hari ini kita berkumpul untuk membicarakan beberapa permasalahan menyangkut kondisi La Push belakangan ini."

Jacob agak sedikit mengantuk untuk membicarakan hal yang jadi makanan sehari-hari itu, tapi ia berusaha mempertahankan matanya, kesadarannya, dan perhatiannya, tetap pada rapat. Terlebih dengan Tuan Medusa memelototinya, tepat di depan wajahnya, siapa yang bisa benar-benar tidur?

Bangun, Jake, bangun! Fokus!

Ia menegakkan tubuh. Mengerjap beberapa kali.

"Ada yang mau kaubagi, Jake?" tanya Sam dengan nada berbahayanya seperti biasa.

"Oh... ah... ehm..." Jacob menelan ludah.

Brengsek Sam! Kenapa dia harus bertanya padanya sekarang?

Ia melirik pada Seth dan Embry dengan panik. Di sudut matanya, ia melihat ayahnya membuang muka dan mendengus tidak sabar.

"Sebenarnya, Sam..." Embry tiba-tiba memotong, mengalihkan pandangannya pada Sam. Kalimatnya agak mengancam. Mengancam Jacob, sebenarnya.

Ia tahu apa yang akan Embry katakan. Pastinya soal apa yang mereka lihat kemarin di dalam hutan. Pastinya soal Sam, tidak salah lagi.

Brengsek Embry! Berhenti! Jangan bicara apapun!

Embry mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya matanya membelalak nanar, mulutnya membuka tapi tidak ada suara keluar dari situ. Kepalanya masih menghadap Sam, tetapi matanya tidak terfokus ke sana. Bola matanya bergerak-gerak cepat. Kepanikan tampak dari setiap senti wajahnya. Jacob baru sadar bahwa secara tidak sengaja ia melepas Titah lagi.

Membekunya Embry membuat Sam mendesah dan kemudian makin intens memelototinya. "Jacob, aku mohon kau jangan memberi Titah apapun dalam rapat ini!" geramnya. Dan Jacob merasa kini baik ayahnya, Sue, maupun Seth mengalihkan pandangan padanya dalam ekspresi tidak terkira. Sue marah. Ayahnya kaget. Dan Seth mengernyitkan kening bertanya, bingung.

"A, aku tidak..."

"Jake tidak bisa memberi Titah dalam wujud manusia, Sam!" bela Seth. Tapi nadanya terdengar tidak yakin.

"Ya, aku yakin dia bisa," kata Sam, menegakkan punggung dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Dan aku mohon kau tidak melakukan apapun untuk menunda rapat ini lagi, Jacob," ia meminta, menekankan, mengancam.

Jacob menyerah. Entah dia bisa atau tidak, yang jelas membekunya Embry membuat Sam marah. Dan dia tidak ingin Sam marah sekarang.

Baiklah, Embry, kau boleh bicara sekarang. Tapi jangan katakan apapun soal yang kemarin, perintahnya dalam pikirannya. Entah pikiran ini bisa menjangkau Embry atau tidak.

Tapi kelihatannya memang pikirannya bisa menjangkau Embry, karena mendadak ia mengerjap lagi dan menarik napas lega. Mulutnya kembali terkatup dan sikapnya kembali rileks, walau kini ada pandangan bingung dan bertanya yang diarahkan pada Jacob.

"Jadi, Embry, apa yang ingin kau katakan?" tanya Sam lagi, kini pertanyaannya langsung diarahkan pada Embry. Tapi Jacob merasa bahwa ia sempat melirik menyelidik ke arah Jacob.

Embry berdehem beberapa kali sebelum akhirnya menjawab, "Penyelidikan asal para vampir masih belum mendapat titik terang." Jacob setengah bersyukur Embry tidak mengungkit soal serigala Sam. Tapi topik ini juga tidak terlalu aman.

Ini topik yang tidak akan membuat Sam senang. Pastinya.

"Jelaskan 'belum mendapat titik terang'," perintahnya.

"Kami masih mengawasi hingga Forks, Port Angeles, dan Seattle... Tiga hari sekali ke Seattle, sebenarnya."

Penyelidikan ke Seattle apanya! dengus Jacob sebal. Akhir pekan kemarin memang Collin dkk. meminta izinnya menyelidiki vampir ke Seattle sejak pagi dan pulang larut. Tanpa kesimpulan apa-apa. Sudah jelas urusannya kalau melibatkan Collin dalam pengawasan: pastinya ia dan geng The Gossip Guys-nya cuma main seharian. Nongkrong di mall atau ke taman ria. Mungkin mencari cewek, pacaran. Tidak mungkin ada penyelidikan serius kalau melibatkan bocah satu itu.

"Kami mengendus beberapa bau vampir, tapi samar. Kelihatannya pergi sebelum kami datang. Mungkin hanya vampir yang melintas, seperti biasa," lapor Embry melanjutkan.

"Sam," ayahnya tiba-tiba ikut sumbang suara. "Jake sudah mengatakan hal ini padaku sebelumnya, dan aku juga sudah mengatakannya padamu. Alice melihat sesuatu akan terjadi di daerah ini. Ia mengirim Emmet dan Jasper untuk menyelidiki ke Port Angeles."

"Ya, aku sadar itu, Billy..." kata Sam. "Apa Emmet dan Jasper sudah menghubungi kita lagi?"

"Belum," kata ayahnya.

"Apa seseorang dari kalian punya gambaran apa yang dilihat Alice?"

Ya, tentu saja. Alice melihat dirinya dan Seth mati. Tepatnya Edward dan Bella berdiri di dekat nisan mereka. Tapi bagian itu tidak akan ia katakan pada Sam.

Entah Sam mengendus kebohongannya atau ekspresi wajahnya mengkhianatinya, lagi, karena tiba-tiba Sam kembali menatap tajam padanya.

"Jacob pastinya tahu sesuatu. Ya kan, Jake?" Dan ia melanjutkan dengan nada menuding, "Mungkin sesuatu yang disampaikan Nyonya Cullen di telepon-ku pada malam kau sadar? Embry juga tahu, mungkin?"

Embry mengejit.

Jacob balas menatapnya. "Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, Sam. Bella hanya khawatir karena aku tidak bisa dihubungi."

"Pastinya bukan hanya itu kalau kau sampai menurunkan Titah menyuruh dia diam!" ia menunjuk Embry. "Dan hari ini kau menyuruhnya diam, lagi."

Jacob mendengus, membuang muka sambil menyeringai. "Persetan, Sam," gumamnya.

Tidak diduga ucapan pendeknya itu membuat Sam marah. "Cukup! Aku sudah bosan dengan semua ini! Katakan padaku apa yang kausembunyikan, Black!"

Semua omongan ini membuat Jacob kesal. Ia bangkit, mendorong kursi, berdiri mengkonfrontasi Sam. "Apa yang aku sembunyikan? Kau menanyaiku apa yang aku sembunyikan? Kau yang mengatakan apa yang kau sembunyikan, Sam!"

"Aku tidak menyembunyikan apapun!" tegas Sam. "Tapi kau pastinya tahu sesuatu. Kau tidak akan menyembunyikan apapun di depan Dewan. Tidak jika itu berhubungan dengan keselamatan suku!"

"Oh ya? Batalion werewolf. Serangan Vampire Putty Patrollers di siang hari. Serigala hitam. " Dan serigala Sam di tengah malam. Di dalam hutan. Alfa... "Semua pasti saling berhubungan dan kau pastinya tahu sesuatu, Sam Uley! Dan kau tidak mengatakan padaku! Jangan katakan kau tidak menyembunyikan apapun!"

Sam makin tajam menancapkan pandangannya. Suaranya turun, lebih tenang, namun tajam. Tidak menuduh, tapi lebih menyerupai nada tidak percaya. "Apa kau menuduhku ada di balik semua itu?"

Jacob terpana. Seluruh yang hadir menahan napas.

Apa Jacob menuduh Sam ada di balik itu semua?

Itu tidak mungkin. Seumur hidupnya ia takkan percaya jika Sam, seorang Sam, semenyebalkan dan semena-mena apapun, walau ia sok menyembunyikan sesuatu, apapun, akan mungkin berada di balik serangan vampir di tengah hari bolong. Tidak karena ia percaya Sam takkan mungkin menginginkan dia atau Seth mati. Sam, lebih dari siapapun, tidak akan mungkin berkhianat pada sukunya.

Tidak peduli apa yang ia lihat kemarin di hutan.

Tidak peduli apapun kecurigaan Seth, Embry, dan dirinya sendiri.

Sam tidak mungkin berkhianat.

Ia menyerah. Lebih baik ya daripada tidak.

"Oke. Akan kukatakan. Alice melihat aku mati." Dan Seth. "Sudah cukup?"

Terdengar gumam tidak percaya dari semua yang hadir. Mata Billy Black menatap anaknya, nanar. Tapi Sam tetap tenang.

"Tapi Alice tidak bisa melihat kau mati," kata Seth, tepat sasaran. "Dia tidak bisa melihat siapapun dalam kawanan, serigala manapun, entah itu hidup atau mati."

"Alice melihat nisanku, tepatnya. Nisan dengan nama Jacob Black!" Dan nisan dengan nama Seth Clearwater.

"Jake," Embry memotong. "Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Gambaran itu melibatkan Edward dan Bella, dua vampir! Yang kita tahu takkan pernah menua. Dan Alice juga tidak melihat tanggal kematianmu atau apapun yang tertera di nisan. Itu bisa jadi gambaran 100 tahun atau 400 tahun atau entah berapa ratus tahun lagi. Kautahu takdirmu bersama Renesmee dan kau juga takkan menua. Kau sama abadinya dengan mereka."

Jacob menatap Embry. "Alice takkan mengirim Emmet dan Jasper sekarang kalau ia mengkhawatirkan kematianku sekian abad lagi, Embry."

"Jadi menurutmu kematianmu atau apapun itu berhubungan dengan apa yang diselidiki Emmet dan Jasper di Port Angeles?" tanya Sam, mengabaikan fakta soal kematian Jacob dan lebih menekankan persoalan yang sudah jelas di depan mata.

Menyebalkan, memang, tapi itulah Sam. Selalu berkepala dingin.

Ia meneguhkan diri dan menjawab, "Aku tidak yakin tapi itu mungkin."

"Apa ia melihatmu sebelum penyerangan atau sesudah penyerangan?"

"Apa bedanya?" Jacob meradang. "Ia melihatku mati! Apa itu tidak mengganggumu, Sam? Kematian-ku?!"

Ya, mungkin itu takkan mengganggu Sam. Sudah bukan rahasia lagi kalau hubungan mereka tidak semanis madu. Tapi setidaknya, sekali ini saja, ini berhubungan dengannya! Akhir hidupnya! Ia harus menerima fakta bahwa ia tidak akan hidup lama, tepat ketika ia mengira, semua orang mengira, bahwa ia akan sama abadinya dengan para vampir.

Tapi memang vampir juga tidak abadi. Di dunia ini tidak ada yang abadi. Ia cukup tahu itu. Bahkan para vampir pun akan mati. Karena perang sesama vampir atau dibantai serigala.

Tapi kematiannya begitu dekat. Begitu dekat kalau Alice sampai bisa melihatnya sekarang dan mengkhawatirkannya sekarang.

Dan ia bahkan belum punya kesempatan untuk bersama Nessie.

"Kalau kau bisa berkepala dingin dan melihat ramalan Alice sebagai pertanda yang lain dan bukan cuma akhir hidupmu, kau bisa melihat bedanya, Jake," suara Sam tetap terdengar tenang. "Kau tahu cara kerja penglihatan Alice. Masa depan tidak tetap dan terus berubah."

Jacob mengerjap. Ia baru sadar hal itu sekarang. Jika Alice melihatnya sebelum penyerangan, bisa jadi ia melihat penyerangan itu sebagai sumber kematiannya. Dan ia terbukti sudah melewati penyerangan itu, melewati koma yang disebabkan olehnya, dan masih hidup. Ia sudah menghindari kematiannya.

"Bella bilang Alice mengatakan seminggu sebelumnya bahwa ia melihat mereka di pemakamanku. Itu berarti dua hari sebelum penyerangan," tiba-tiba ia merasa kelegaan membasuh tubuhnya. Ia memang sudah melewati kematian itu.

"Jangan senang dulu, Jake," suara Sam menyergapnya. "Dan kaubilang kapan Emmet dan Jasper disuruh Alice untuk menyelidiki Port Angeles?"

"Pada acara api unggun," katanya. "Kenapa?"

Dan ia menyadarinya. Acara api unggun dilangsungkan lebih dari dua minggu setelah ia sadar. Tiga minggu setelah penyerangan. Hampir sebulan dari penglihatan Alice.

"Oh Tuhan!" Embry memekik tidak percaya.

Dan Jacob tahu itu. Alice mungkin melihatnya mati sebelum penyerangan dan kematian itu melewatinya. Tapi ia tetap melihat ada bahaya bahkan setelah penyerangan. Dan jika Alice tetap melihat kematiannya, artinya kematian itu masih membayanginya.

"Apa ini semacam Final Destination?" bisik Embry nanar. "Alice melihat Kematian dan Jacob mencuranginya dan Kematian itu masih mengincarnya?"

Sudah dua kali, kalau begitu. Dan dua kali bagi Seth juga.

"Kita tidak tahu apa yang Alice lihat ketika ia menyuruh Emmet dan Jasper ke Port Angeles, Sam," Seth mengemukakan pandangannya. "Kita tidak tahu apa Alice masih melihat bayangan kematian Jacob."

"Kalau begitu apa kau bisa menghubungi Alice? Menanyakan langsung?" tanya Sam.

"Jika Alice mau mengatakan padaku, ia pasti sudah mengatakannya..." gumam Jacob.

"Itu justru berita bagus, Jake!" seru Seth. "Artinya mungkin ia sudah tidak melihatnya lagi..."

Jacob merasakan secercah harapan.

"Meski begitu," Sam masih bersikap pahit, "apapun yang dilihat Alice sebelum acara api unggun tidak mungkin bagus. Kita tetap harus mempertimbangkan kemungkinan terburuk."

"Tapi Sam," Seth kembali bicara. "Penglihatan Alice sudah lebih dari sebulan yang lalu, bahkan mungkin sebulan setengah, jika perhitunganku tidak salah. Dan Jacob masih hidup hingga sekarang."

"Tidak ada batas waktu untuk penglihatan Alice. Namun aku tidak menekankan pada kematian Jacob. Aku menekankan pada bahaya yang mengintai suku." Lalu ia kembali memandang Jacob. "Katakan lagi yang kautahu. Aku tahu kau tidak hanya memikirkan kematianmu saja."

Jacob diam.

"Katakan, Jacob, apa ada lagi yang dilihat Alice? Apa hanya nisanmu seorang saja? Apa tidak ada nisan yang lain?"

Ada, nisan Seth...

Dan ia menyadari kemungkinan lain itu. Keterangan Bella saat itu tidak lengkap, jelas ia mengeditnya. Mungkin bukan hanya nisannya, dan bukan hanya nisan Seth saja. Mungkin malah nisan seluruh kawanan. Nisan seluruh suku.

"Bella menyebutkan Edward melarangnya dan Renesmee kesini untuk menemui Jacob begitu Alice menerima Penglihatan..." kata-kata itu tidak keluar dari Jacob, tapi dari Embry.

Hening sesaat sebelum akhirnya mata Sam membeliak, menatap Jacob. Menggeram. Ia bangkit dari kursinya begitu cepat hingga kursi itu hampir jatuh.

"Jadi ini yang kausembunyikan?!" tuduhnya.

"Memang apa yang Jacob sembunyikan?" tanya Seth.

"Kemungkinan perang, Seth. Dan jangan bilang Jacob belum mengatakan padamu kemungkinan ini, Embry!" katanya melihat Embry sudah akan membuka mulut. "Ia pastinya sudah memikirkan ke sana kalau ia sampai menutupinya dariku. Hanya kematiannya seorang bukan alasan yang cukup untuk merahasiakan semua ini. Kautahu Jacob tidak begitu bodoh hanya mengkhawatirkan nyawanya sendiri, tapi cukup bodoh dan sangat bodoh untuk menutupi kemungkinan kematian yang lain!"

Semua yang hadir diam.

"Jadi kutanya sekali lagi, Jacob Black! Jawab yang jujur: nisan siapa lagi yang Alice lihat? Pasti ada yang lain, kan?"

Jacob menutup mata dan mendesah sebelum akhirnya menjawab, menyerah, "Seth..."

Seth membeliak. Sue kelihatan hampir pingsan.


Waktu terasa berjalan lambat dalam keheningan yang mencekam sebelum akhirnya Sam bisa menenangkan diri, dan kembali berujar, "Kita harus menilai semua situasi secara lengkap sekarang."

"Tentu saja. Nyawa anakku dalam taruhan..." bisik Sue.

"Bukan cuma Seth dan Jake, Sue... Mungkin malah seluruh suku. Bukan begitu, Jake?" ayahnya membuka suara. Lamat-lamat Jacob mengangguk.

"Pertama serangan vampir di siang hari di dalam wilayah Quileute," Sam menunjuk.

"Kami sudah menyatakan hal ini sebelumnya, Sam," Embry mengemukakan lagi fakta-fakta yang jelas. "Kami sudah menyelidiki hingga Forks, Port Angeles, dan bahkan Seattle dan tidak menemukan bukti-bukti aktivitas vampir yang terorganisasi. Karena kalau semua ini akan berakhir pada perang atau ada yang mengincar La Push, seharusnya tanda-tanda itu sudah jelas dari sekarang."

"Bau vampir yang muncul dan menghilang begitu mencapai perbatasan, lalu vampir yang menguntit dan menyerang secara berkelompok itu adalah bukti aktivitas yang terorganisasi, Em," tekan Sam. "Bahkan mereka tahu di mana perbatasan Quileute dan menyembunyikan jejak mereka begitu keluar dari batas. Itu tampak seperti surat ancaman menurutku. Sesuatu yang mengincar dan membiarkan kita tahu."

"Quil merasa itu hanya kelompok nomad yang melintas."

"Dalam kelompok yang besar? Jika aku tidak salah tangkap, sebelumnya kaubilang penyerang Jacob ada lima? Dan penyerang Seth ada empat, dengan dua vampir lainnya hanya mengawasi?"

Embry terdiam. Mungkin ia merasa omongan Sam masuk akal.

Sam menyambar kesempatan ini untuk melompat ke kesimpulannya sendiri.

"Ada yang mengawasi aktivitas serigala di La Push, kalau kau mau tanya opiniku," suara Sam masih sama mantapnya dengan sewaktu ia masih menjadi Alfa dulu. Dan baik Jacob, Seth, maupun Embry melonjak.

"Maksudmu, para Putty Patrollers itu bahkan bukan ancaman sesungguhnya?" tanya Embry, mengutip istilah Jake.

"Oke, jika kita pakai istilah a la Power Rangers Jake, para Vampire Putty Patrollers itu pastinya tidak bergerak sendirian. Mereka hanya datang untuk mengacau sedikit, jika beruntung menaklukkan kalian. Mungkin kau berpikir kalian para Triad diincar, tapi menurutku itu bukan tujuan utamanya. Mereka hanya datang untuk bermain dengan kita. Menciptakan teror. Dan ya, mereka bahkan bukan ancaman sesungguhnya. Mereka jelas terorganisasi dan menunggu untuk sesuatu yang lebih besar."

Jacob, jujur saja, merasa itu masuk akal. Sebelumnya juga ia merasa ada yang bermain dengan mereka. Vini, vidi, vici. Datang, mengawasi, mengeroyok, menang. Bagian terakhir itu masih dipertanyakan, sebenarnya, karena jelas tentu saja sebagian besar pengeroyok mereka habis dibantai dengan bantuan si serigala hitam misterius itu. Itu dapat menjelaskan bau yang hilang. Tapi bau asal, yang seharusnya bisa mereka endus, hilang di perbatasan. Seolah sesuatu berusaha menutupinya, mengecoh mereka.

"Untuk apa?" ia bertanya, lebih pada dirinya sendiri. Untuk apa mengawasi kegiatan serigala di La Push? Mereka seharusnya tersembunyi bagi dunia vampir. Sebelum, tentu saja, sebelum para bangsawan Volturi itu datang.

Dan yang lebih penting: untuk apa mereka membiarkan mereka tahu, mengirim ancaman, mengintimidasi? Kalau mereka bisa menghapus jejak, mereka bisa melakukan itu sepenuhnya. Atau menyerang kawanan secara frontal. Semuanya.

"Kau sudah tahu apa alasannya, menurutku," Sam menekankan.

"Ya..." suara Jacob mengambang.

Ia sudah tahu ini.

Perang dengan Volturi lima tahun lalu, akhir Desember 2006 itu, mengubah segalanya. Mereka tidak hanya terekspos pada dunia luar, maksudnya dunia vampir. Dunia luar pun menganggap mereka sebagai ancaman. Dan itu wajar: bagaimana mungkin satu klan pembunuh vampir bisa dianggap sebagai kelompok anjing manis yang tidak berbahaya?

Dan bahkan setelah mereka menandatangani pakta kesepakatan teritorial dengan Volturi, mereka tahu mereka tidak aman. Volturi bisa datang kapan saja, mencari-cari masalah seperti yang mereka lakukan terhadap keluarga Cullen. Keluarganya Carlisle, yang bahkan Aro sendiri hormati.

Sam pasti mengira Volturi sudah turun tangan dengan adanya serangan vampir di La Push. Dia mungkin menduga soal kelompok kecil yang sengaja dikirim untuk mengawasi dan menilai kekuatan para serigala. Dan mungkin mengincar anggotanya satu per satu. Sekaligus menebar teror.

Bahkan mungkin ada alasan mengapa ia dan Seth adalah yang terlebih dahulu jatuh. Tanpa kepala, kawanan serigala hanyalah gerombolan yang mudah dikalahkan. Collin dan Embry bisa saja memimpin, tapi siapa yang menjamin mereka juga takkan diserang?

Tidak, mereka bukan mendadak diserang. Tidak secara kebetulan.

Mereka diincar.

Dan mendadak ramalan Alice kembali bermain di kepalanya. Ia dan Seth... Ia dan Seth...

"Dan ada satu alasan lagi," Sam menambahkan, membuat Jacob terlonjak. "Mereka menjaga jarak. Jika terlalu banyak vampir di dekat kawasan ini, hal itu akan memicu reaksi genetik dalam darah anggota suku. Hal terakhir yang mereka inginkan adalah pertambahan populasi werewolf."

Jadi ini yang membawa Sam pada topik yang paling mereka benci: batalion werewolf. Satu suku penuh serigala pemarah. Serigala baru, masih sangat emosional, tidak stabil, dan sebagian besar di bawah umur.

Seth mendengus. Dan bahkan Embry mendengus, jelas menunjukkan ketidaksukaannya. Rupanya berada di pucuk pimpinan pengawasan, karena Seth jelas angkat tangan dalam hal ini, ditambah ia sendiri ikut ambil bagian dalam pengawasan, tidak membuatnya seratus persen menyukai ide itu.

Baik Sam maupun Jacob mengabaikannya. Jacob, yang sudah merasakan secara langsung ancaman itu, mulai memahami alasan-alasan Sam. Dan kini ketika kematian mulai membayanginya, ia akhirnya memikirkan bagaimana menghindarkan hal yang lebih buruk terjadi pada kaumnya jika memang itu harus terjadi.

Karena kalau memang ini rencana Volturi, dan Volturi akan datang untuk menghancurkan para serigala, mereka takkan berhenti hanya dengan membantai kawanannya. Mereka akan membantai seluruh suku. Memastikan tidak ada gen yang tersisa. Dan mereka tidak perlu khawatir tentang batalion lagi karena memang tidak akan ada darah yang tersisa dari suku kecil mereka. Hingga detik ini pun anggota suku mereka hanya ada sekitar 750 orang dan itu jumlah yang pastinya sangat kecil bagi siapapun musuh mereka. Bahkan musuh mereka tidak perlu menjatuhkan bom atom segala untuk memusnahkan seluruh populasi.

Sesuatu yang mungkin harus dipahami Seth, jika ia masih bersikap pahit dalam masalah ini.

"Aku mengerti," kata Jacob akhirnya, mengangguk. Cukup persetujuan Jacob yang dibutuhkan Sam untuk memastikan rencananya terlaksana.

Meski begitu ia tetap merasa pahit. Sam masih tidak membuka dirinya sepenuhnya. Ia tahu itu. Sam masih menyembunyikan hal lain.

Serius! Ia benci waktu sarapan.

Apalagi sarapan bersama ayahnya atau Sam. Terutama bersama Sam.


Catatan:

Tentu saja Sam tidak bernama lengkap Sam Medusa Uley ataupun memiliki kekuatan yang berhubungan dengan ular setelah menjadi Tetua. Di A/U ini, Jacob cuma hobi membuat nama tengah atau nickname… misalnya Collin 'The Gossip Guy' Littlesea, Brady 'The Stalker' Fuller, dan dirinya sendiri… Mumbling Idiot Jakey.

Of course!

Aku bahkan ga ngerti ngapain aku nulis catatan ini…

R&R please... :)