THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: majority of characters and backgrounds belong to Stephenie Meyer... I just own Korra and few minor characters of the packs, and also plot for this story only... Any similarity with anything in reality maybe just a coincidence... but any unsimilarity with Quileute legends, geography, and history, also with Twilight basic plots, surely uncoincidental... hahaha...
just enjoy...
IT'S GOSSIP TIME NOW!
Duapuluh dua - Incest (Collin and The Gossip Guys)
Monday, December 17, 2012
1:14 AM
.
Kau harus berhenti memikirkan tentang gadis itu, Man... Serius... kata-kata itu singgah di pikirannya, justru saat ia tidak ingin seorang pun ada di sana, mengganggunya, saat ia hanya ingin pikirannya ada untuk dirinya sendiri.
Menghela napas dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, Collin berhenti berlari, kemudian menjatuhkan dirinya di tanah lembab dengan bertumpu pada dua kaki belakangnya. Ia menatap dahan-dahan pepohonan yang menaunginya, tidak tahu apa yang seharusnya ia rasakan.
Ada satu hal yang ia ketahui pasti setelah ia bertemu Korra, ia tidak bisa menjauhkan pandangannya dari gadis itu. Caranya bicara, sinar yang melintasi matanya setiap ia mengatakan sesuatu yang menarik, caranya berjalan dan caranya menarik semua orang padanya. Ia ratu lebah. Ia hanya cukup memberi sedikit tatapan, melakukan sedikit gestur yang bahkan jauh dari merayu. Itu saja. Dan mereka semua jatuh, berlutut dengan senang hati di depannya.
Ia yakin bukan hanya ia yang merasa demikian.
Sejak Korra masuk ke kehidupan mereka, Korra sudah menjadi satu-satunya matahari tempat mereka berevolusi mengitarinya. Itu terjadi bukan sejak acara api unggun, bukan saat Jacob mengenalkan Korra pada mereka di ruang tengahnya yang sempit itu, bukan sejak ia ditugaskan mengawasi Korra, bukan sejak ia dan Brady memaksakan diri memasuki lingkaran teman Korra di hari pertama gadis itu masuk sekolah, bukan pula sejak Seth terus-menerus membayangkan Korra dan menayangkan gambar yang hampir terlalu dramatis hingga sama sekali tidak realistis mengenai penyelamatan dirinya oleh serigala hitam. Walau akhirnya serigala itu terbukti bukan Korra, bayangan tentang Korra sudah melekat kuat sebelumnya, sehingga sulit sudah menerima kenyataan yang ada. Bagaimanapun versi ideal-lah yang menang, dan seluruh kawanan masih mendambakan Korra dengan cara yang sama seperti ketika mereka menanggapi image heroik Korra.
Ya, itu terjadi sebelumnya. Ketika tak sengaja Jacob lupa menutupi pikirannya dan berlari dengan bayangan akan memiliki seorang adik perempuan yang tak penah ia kenal seumur hidup. Itu bukan pikiran yang indah, sebenarnya, di kepala yang punya pikiran itu sendiri, tetapi di kepala orang lain, spekulasi dan rasa penasaran berkembang. Awalnya itu hanya rasa penasaran. Tapi akhirnya itu berkembang lebih dan lebih, lagi dan lagi... Tumbuh dan menghantui dan menguasai pikirannya.
Collin merasa ia jatuh cinta pada sepupunya.
.
Tapi ia tidak tahu. Tidak bisa berpikir jernih. Ia bahkan tidak tahu kesimpulan atas perasaan yang ia rasakan benar-benar kesimpulannya sendiri atau bukan. Bahkan tidak tahu apakah perasaan yang ia rasakan benar-benar perasaannya sendiri atau bukan. Ini bisa jadi permainan pikiran, karena jelas-jelas seisi kawanan merasakan hal yang sama.
Dude... Yang benar saja, masa kau jatuh cinta pada sepupumu? serangkaian pikiran menyerangnya.
Korra, Cole? Serius?
Itu incest, Collin!
Ia menggeram mendapati Ben meneriakkan kata-kata yang sama dengan Jacob waktu itu. Pada waktu yang sama ketika Korra memperkenalkan diri di depan mereka semua. Waktu ia meneriaki Jacob bully.
Kalian kalau tidak mengerti arti kata itu jangan ngomong! bela Brady, sembari membayangkan definisi 'incest' dalam Merriam-Webster Dictionary yang membuat dua teman lainnya menggeram kesal. Dalam hati Collin berterima kasih pada sahabatnya. Brady memang sahabat terbaiknya.
Wooooowwwww… apa itu, Cole? Kenapa tiba-tiba kau mendeklarasikan perasaanmu pada Brady? Kupikir tadi kau bilang kau suka Korra?
Apa? Collin dan Korra? Hei Dude, kukira selama ini kau dengan Brady…
Terdengar Brady mengamuk di ujung sana.
Yeah, dan Pete dengan Benjamin Adamair. Kurasa ia memang sudah mengimprint cowok kutu buku itu.
Kali ini Pete yang mengamuk.
Tunggu sampai Jake tahu, Cole... Ia tidak akan segan mengirimmu kembali pada ibumu dalam kotak korek api.
Hey, Pete... Kotak korek api masih jauh lebih baik. Mungkin Jake akan menguliti Cole, menjadikan dia permadani di ruang tengahnya yang kusam itu. Serius Dude, ruangan itu perlu make-over...
Astaga, Ben... kita sudah sering bicara tentang ini. Obsesimu menjadi desainer interior tidak akan membawamu ke mana-mana kalau berurusan dengan Jake. Lagipula bagaimana caranya kau mau mengecat ruang tengahnya? Jake akan mendampratmu melihat ada orang berusaha merusak image rumahnya. Ia sudah susah payah menyesuaikan image rumahnya dengan dirinya yang menyedihkan! Jadi sebelum kau sempat mencatnya, belum-belum kau sudah berubah di tengah rumahnya, memohon ampun dan menggores-gores dindingnya dengan cakarmu, karena dia pastinya akan mencambukimu berulang kali, dan bayangan Pete tentang Jacob yang mencambuki Ben dalam wujud serigala, dengan rol pengecat dinding, membasuh pikiran seisi kawanan yang sedang patroli hari itu. Dan mereka mulai mengerang, berteriak frustasi ketika adegannya makin tidak karuan...
Sensor! Sensor! Adegan grafis Rating Triple X!
Pete! bentak Ben marah. Belakangan kau sering browsing situs BDSM atau Bestiality ya?! Mengerikan sekali bayanganmu itu! Tolong hentikan!
Sejujurnya, di luar adegan bagus yang mungkin kau anggap perlu disensor itu, bekas-bekas cakaran di dinding itu bisa jadi elemen estetis yang bagus, tahu, Ben…
Astaga, Ben, Pete... apa hubungannya soal dinding rumah Jake dengan Collin? Brady menghentikan kekacauan topik itu dan mulai menjangkarkannya kembali pada kasus Collin.
Mungkin itu menjelaskan mengapa mood Sang Alfa jelek terus, Brady... Dan dia jelas menumpahkan semua pada Collin...
Mungkin wajar, mengingat Cole kentara sekali sangat merindukan adiknya...
Kalian bertiga diam! seru Collin dalam pikirannya. Kalian tidak bisa berhenti menggosip dan mengoceh tanpa ujung pangkal, ya? Siapa bilang aku merindukan Korra? Kalian ribut sekali lagi dan tiba-tiba Jake menangkap basah pikiran itu, dan entah bagaimana tahu-tahu aku sudah dikebiri. Aku masih ingin hidup, tahu! Tidak seperti kalian...
Kau takut sama sepupumu ya, Cole?
Enak saja, Ben!
Itu menjelaskan kenapa kau tiba-tiba gemetar begitu. Padahal belum sampai sepuluh menit lalu kau mengakui kalau kau suka Korra. Dan Ben memutar ulang memori ketika Collin ribut dengan dirinya sendiri mengenai perasaan yang ia rasakan terhadap Korra.
Collin menggeram dan menggonggong, merasa marah dengan ketiga temannya. Untung saja Jake menyuruh mereka patroli di titik-titik yang terpisah jauh. Jika tidak, mungkin ia sudah mendatangi mereka satu per satu dan merobek mulut besar mereka.
Wow, pikiranmu kejam sekali, Cole... Kamu tidak tahu kami ini sahabatmu dalam suka dan duka?
Lebih seperti tukang mencampuri urusan orang bagiku... Dan tukang gosip juga.
Waaaaaaw, Cole, itu kan definisi dari namamu...
Diam, Ben!
Ia sungguh merasa lelah dengan segala pikiran yang menyelimutinya. Tidak tahu yang mana pikirannya dan yang mana yang ditanamkan orang lain dalam pikirannya. Pikirannya sendiri saling berperang satu sama lain. Belum lagi pikiran yang membombardirnya dari segala arah. Ia merasa lelah.
.
Collin bangkit dan berlari.
.
Ia berusaha berkonsentrasi, membangun dinding yang memisahkan pikirannya dari pikiran anggota kawanan yang lain. Membuat pikirannya kosong. Membebaskan ruang dalam kepalanya yang disesaki beragam suara yang bahkan bukan miliknya.
Yeah, seakan itu bisa dilakukan... satu suara mengetuk dinding pikirannya, dan tanpa dipersilahkan masuk, bukan, menembus masuk sekaligus menghancurkan barrier yang sedang ia coba bangun.
Terima saja, Cole... Kau seterusnya, selamanya, hingga kematian datang menjemput, berbagi pikiran dengan kami semua.
Koreksi, Ben... Hingga kita berubah jadi manusia, atau berhenti berubah jadi serigala, pikiran Pete memasuki benaknya.
Usahamu membentengi pikiranmu itu benar-benar payah... Kau tahu selamanya kau tak bisa menjauhi kami. Jadi terima sajalah, Brady menambahkan.
Collin menggeram, berusaha menulikan telinga, menulikan pikirannya. Ia mungkin tidak bisa membangun tembok mental, tetapi ia bisa bersikap seolah tidak peduli.
Kau tidak bisa mengusir kami, Cole… Ben lagi-lagi mengganggunya.
Oh ya? Coba saja, Ben!
Dan Collin mulai melakukan hal standar yang ia tiru dari Jacob setiap kali ia berusaha mengenyahkan pikiran anak buahnya: memikirkan hal lain. Apapun. Episode terbaru The Gossip Girls. Siaran ulang Smallville. Desperate Housewives. The L Word. Six Feet Under. The House. Film Sex and The City 2 yang sudah ia tonton ulang untuk keenam kalinya. Jonathan Rhys Meyers agak tidak terlalu tampan dalam episode 9 The Tudors yang ia tonton di DVD yang baru ia pinjam kemarin. Ia heran mengapa anak-anak cewek di sekolah tergila-gila pada cowok itu. Gosip terbaru seputar pasangan aktris-aktor Hollywood yang terlibat cinta lokasi selama beberapa tahun, sebelum akhirnya putus karena sang aktris ketahuan selingkuh dengan entah produser entah sutradara film terbarunya. Anak-anak cewek di sekolah juga ribut mengurusi gosip itu setiap hari. Mereka malah benar-benar membuat batalion pendukung fanatik aktor dan aktris itu untuk kemudian berperang dengan sesamanya, walaupun jelas-jelas kedua tokoh utama itu sendiri sudah baikan entah dari kapan.
Astaga, Cole! Kau mengerti banyak soal gosip anak cewek!
Wow, Dude, kau punya banyak sekali koleksi opera sabun! Boleh aku pinjam kapan-kapan?
Itu drama, Ben… Itu bukan telenovela!
Oh, memangnya kau tahu apa bedanya, Pete?
Entahlah… Tapi Collin pasti tahu. Ya kan, Cole?
Collin menggeram. Ada apa dengannya? Kenapa ia tidak bisa membentengi pikirannya sama sekali? Ia juga, seperti Jake, berdarah Black kan? Dan ia juga Beta-nya Beta. Hierarkinya jelas di atas bocah-bocah bodoh ini. Ia seharusnya punya bakat yang tidak dimiliki serigala biasa. Melihat Jake dan Seth mampu mengontrol koneksi pikiran semau mereka, seharusnya ia juga bisa.
Mungkin nalurimu sebagai biang gosip tidak memungkinkanmu untuk menutup pikiran, Cole… Kau kan biasanya paling antusias membagi pikiranmu dengan kami semua.
Diam, Ben!
.
Di ujung sana ia merasa pikiran Brady kusut, perasaannya aneh. Bahkan pikirannya pun seakan menimbang-nimbang sesuatu. Ini gawat. Jika kukusutan pikiran Brady terasa oleh bocah-bocah yang sedang ribut sendiri itu, bias-bisa ada tambahan gosip macam-macam. Misalnya soal Brady cemburu karena jelas-jelas ia jatuh cinta pada Korra atau semacamnya.
Apa?—Pete kelihatannya tertarik pada pikirannya dan mulai menginterogasi Brady. Huh, salah langkah! Kau cemburu, Brad? Pada Korra? Dan ia mulai menebar gosip lagi.
Collin memilih tidak mempedulikan Pete dan langsung bicara pada Brady.
Apa, Brady? Katakan saja…
Nggg, Cole…
Apa?
Kau sadar tidak, kalau kau naksir Korra, kau mungkin bersaing dengan Seth?
Seth takkan punya kesempatan, aku yang paling dekat dengan Korra saat ini, Collin membusungkan dada dengan pongah. Lagipula yang disukainya kan serigala hitam.
Kemungkinannya kan serigala hitam itu Korra.
Tapi kata Jacob, Sam bilang… Collin menayangkan ulang adegan ketika Jacob membagi ingatannya tentang kesaksian Sam.
Tapi menurut Embry, Sam mungkin berbohong. Brady membalas dengan menayangkan adegan sebelum Jacob diserang. Collin sudah tahu itu. Ia sendiri termasuk orang yang menggunakan adegan itu untuk membuat pusing Jacob. Senang rasanya melihat sepupunya itu tambah ruwet dengan segala kemungkinan-kemungkinan aneh.
Menurutmu Sam bohong?
Entahlah. Para Triad jelas mengira Sam menyembunyikan sesuatu. Tapi mereka menyembunyikan itu dari kita. Cuma kadang, yah, Embry sering kelepasan…
Entahlah, Brad… Lagipula yang pertama kali memunculkan praduga Korra adalah si serigala hitam kan kita… Bisa jadi Seth termakan gosip kita juga. Dia tidak benar-benar suka Korra.
Bagaimana jika ia memang benar-benar mengira Korra serigala hitam?
Kalaupun benar, Seth tetap takkan punya kesempatan. Jacob takkan membiarkan siapapun mendekati adiknya. Dia protektif seperti biasa. Ia kembali mengingat hari ketika ia dipojokkan karena tuduhan yang sama.
Kau yakin? Seth sahabat baiknya… Orang kepercayaannya. Beta-nya.
Pikiran Collin langsung kacau.
Aku mendapat kesan Seth belakangan sering bertemu Korra. Dan Brady menayangkan adegan yang dicomotnya dari kepala Seth dan Jacob.
Dada Collin berdesir. Pikirannya buntu. Tapi kemudian ia memotong tayangan adegan itu dari kepala Brady, berteriak, Itu bukan bukti apa-apa. Itu adegan parsial!
Kau lupa kalau mereka bisa menutupi pikiran dari kita? Aku bahkan yakin Seth menutupi ini dari Jacob, Cole…
Collin menggeram. Sesaat pikirannya blank.
.
Serigala berbulu coklat kemerahan itu berlari makin cepat. Gugus pepohonan di sekitarnya tampak kian pudar tatkala ia memaksa kakinya berlari dan berlari, setiap langkah lebih cepat daripada langkah yang sebelumnya. Ia ingin melakukan apapun, apapun untuk bisa berada di pikirannya sendiri, tidak berada dalam satu kepala dengan tiga bocah brengsek yang selalu merapal topik acak yang tidak ada juntrungannya dan malah membuat pusing kepala. Ia menyerahkan dirinya pada insting, tidak melihat lagi kemana arahnya menuju. Menghindari pepohonan, melompati tebing, menyeberangi sungai...
Collin, kau mau kemana?
Ke mana saja asal jauh dari kalian!
Terserah. Hati-hati saja kau bertemu dengan gerombolan vampir. Jake sudah bilang kita tidak boleh terpisah terlalu jauh satu sama lain. Dia tidak akan senang kalau ada korban lagi, Cole… ia mendengar Brady berusaha memperingatkan.
Kaupikir aku takut dengan para Vampire Putty Patrollers itu?! ia membentak.
Putty Patrollers? Istilah yang bagus, Collin…
Serius! Power Rangers?
Hey, kukira kau cuma menonton film drama…
Sebenarnya Jake sendiri yang memakai istilah itu waktu ia berpikir acak lagi pada patroli minggu lalu, Pete… Brady menjelaskan.
Wah, langsung dari Jake? Sudah resmi, kalau begitu.
Benar. Dekrit Alfa no. 523: Istilah resmi untuk gerombolan vampir yang merambah tanah Quileute adalah The Vampire Putty Patrollers… Kalau begitu kita tinggal menunggu bangsawan Volturi, Rita Repulsa, mengirim monster-lintah yang kemudian disihir jadi besar… Siap-siap aktifkan Dino-Wolf Megazord, Rangers!
Si Alfa tolol itu kelahiran tahun berapa, sih? Kenapa dia bikin istilah dari perbendaharaan Power Rangers paling tua dalam sejarah?
Benar, kita bahkan tidak pernah menonton season yang itu…
Oh ya, 1990!
Oh, pantas saja… Dasar angkatan lama...
Diam kalian semua! teriak Collin lagi, lagi-lagi berusaha menciptakan tembok mental, yang tentu saja langsung gagal pada detik ia mencobanya.
.
Serius, dia tidak mengerti mengapa ia harus patroli berkelompok dengan ketiga bocah itu. Memang ia bersahabat dengan mereka bertiga, tidak hanya di kawanan, tetapi juga di sekolah. Mereka klop satu sama lain. Nyaris tak terpisahkan sejak Ben dan Pete pertama kali berubah, menjelang serangan Volturi lima tahun lalu. Geng kecil 'The Gossip Guys', demikian Jacob selalu menyebut mereka dengan sinis. Bisa dibilang mereka berbagi segalanya, di dalam maupun di luar pikiran. Meskipun itu berarti berbagi gosip terbaru mengenai apapun yang terjadi di suku kecil mereka. Atau melakukan hal-hal kecil yang sengaja diniatkan untuk membuat Jacob marah dan kemudian menertawakan si Alfa bodoh emosional itu mulai membara, tepat di depan hidungnya.
Sejujurnya, bersama mereka menyenangkan. Hal paling menyenangkan dari berbagi gosip bukanlah pada membicarakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi pada berbagai kemungkinan telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Dan ia senang memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan membaginya. Dalam cara yang berbeda dengan Seth tentu. Tetapi terkadang, seperti sekarang ini, ia ingin pikirannya adalah miliknya sendiri.
Saat jelas-jelas ada hal yang hanya ingin ia bagi dengan dirinya sendiri.
Hal-hal yang bahkan tidak ia mengerti sehingga tak bisa dibaginya pada orang lain…
Hal-hal menyangkut Korra.
.
.
.
Saat itu tiba-tiba ia merasakan perlahan suara anak-anak kian memudar. Tidak hilang, ia masih bisa merasakan mereka mengoceh, tetapi memudar. Seakan ia bisa mengecilkan volume radio di kepalanya. Dalam hati Collin menjerit riang. Bersorak dan berguling kalau bisa.
Yeah! Wohoooooo!
Akhirnya ia bisa menciptakan tembok mental!
Makan itu, Ben! Hah!
Di ujung sana ia bisa merasakan bocah-bocah itu panik. Kesal. Agak terusik oleh keberadaan barrier barunya. Mencoba menembus. Menguatkan cengkeraman mereka atas pikirannya. Marah karena tidak bisa. Merasa nyaman dengan kemampuan barunya, Collin membayangkan dirinya memasang headset di telinganya. Mengecilkan sekali lagi volume teman-temannya hingga batas minimal. Mute. Dan ia mulai menyenandungkan lagu favoritnya. Untuk pertama kalinya menikmati indahnya hutan di malam hari dengan tenang.
.
Baby, baby, baby… oooo… baby, baby, baby, oooo…
.
.
Justin Bieber masih mengalun untuk kesepuluh kali di kepalanya ketika ia menyadari ada yang salah. Ia berada di bagian hutan yang tidak ia kenali. Ia menghentikan langkah untuk melihat sekeliling, merasakan sekeliling. Ia tidak pernah menjadi ahli dalam merasakan bau-bauan di udara untuk mengidentifikasi apapun, tidak juga memiliki pendengaran terbaik di kawanan, tetapi kemampuan itu tidak diperlukan sekarang. Ia sendirian. Jauh dari kawanan.
Yeah, itu bagus. Siapa yang perlu bersama kawanan bodoh menyusahkan itu?
Tapi memang instingnya menyatakan ada yang salah. Tempatnya berada kini tidak ada di manapun di teritori Quileute.
Sial, tanpa sengaja ia sudah menyeberang! Ini pasti wilayah Cullen!
Ia harus kembali sekarang juga. Geng Kwartet itu: para Triad plus Quil mungkin bebas keluar masuk wilayah ini, tapi Jake sendiri belum benar-benar menghapus Perjanjian. Bahkan waktu Seth dan Embry diserang, ia tidak berani melintas, hanya memerintahkan Caleb dan Adam menolong mereka. Apapun bisa terjadi di sini, ketika para werewolf tidak berada dalam perlindungan teritori mereka. Bisa-bisa salah satu anggota Cullen tiba-tiba pulang dan mengendusnya, lalu menyangkanya melanggar perjanjian. Ia bisa habis di situ saat itu juga dan mungkin keluarga itu langsung menggempur kawanannya yang lain. Jake mungkin bilang mereka tak lagi jadi ancaman, tapi siapa tahu? Siapapun tahu tak boleh percaya pada lintah. Mereka licin, langsung bisa terselip dari genggamanmu dan detik berikutnya langsung menghisapmu. Dan bisa jadi ada vampir yang memang tamu keluarga Cullen, dan menyerangnya di situ juga. Bahkan di teritori Quileute sendiri mereka tidak aman, apalagi di teritori luar.
.
Tapi tunggu, suara lain, jelas suara iblis, dalam otaknya menghentikannya. Di sini wilayah Cullen. Wilayah yang jauh dari teman-temannya. Wilayah yang bahkan takkan berani dilintasi bocah-bocah pengganggu itu. Dan para vampir juga belakangan agak sepi…
Dari pikiran Embry, ia bisa tahu bahwa gerombolan The Vampire Putty Patrollers itu hanya mengincar para Triad. Dan ia bukan Triad. Ia mungkin no.2 sesuai hierarki Alfa, tepat setelah Jacob. Atau no.3 sesudah Seth. Atau no.4 jika mempertimbangkan kemungkinan Embry sebagai adik tiri Jacob dan menempatkan si Gamma itu di no.2, entahlah… Tapi yang jelas ia bukan termasuk golongan yang diincar.
Nikmati saja dulu kenyamanan ini, pikirnya. Sedikit jalan-jalan tidak akan ada buruknya. Perubahan suasana dari hutan Quileute yang menjemukan dan itu-itu saja. Toh ia bisa pulang dengan mengendus bau yang ia tinggalkan dari rute asal tadi. Ia pasti tidak akan tersesat.
Yeah, mana ada ceritanya serigala bisa tersesat?
Ha-ha…
.
.
Ia kembali berlari dengan lincah seraya menyenandungkan lagu lain di kepalanya. Membuang segala pikiran yang menyusahkan hatinya. Membiarkan dirinya bebas, lepas, ringan… Menikmati keindahan tebing-tebing dan kumpulan pepohonan. Hutan cemara. Padang rumput yang terhampar dengan kerimbunan pepohonan mengitarinya. Naik ke tebing tinggi dan memandang aliran sungai jauh di bawahnya. Bulan yang indah mengambang di langit yang luas membentang. Begitu tenang, begitu indah… Membuatnya ingin melantunkan lagu romantis. Pantas saja vampir-vampir itu begitu melankolis, daerah tempat tinggal mereka memang berbeda dengan La Push. Suasana di sini begitu hening dan menenteramkan. Hanya ada desir angin dan getar dedaunan. Agung sekaligus menyejukkan. Mistis. Megah. Sepi. Hening…
Atau mungkin itu pengaruh tembok mental yang ia ciptakan.
Seandainya saja ia bisa ada di sini bersama Korra, memandang semua keindahan itu…
Hmmm…
Ia memejamkan mata, merasakan semilir angin meniup bulu-bulunya. Memikirkan seandainya tangan lembut Korra-lah yang menyentuh bulu-bulu itu. Apa rasanya kira-kira, jika Korra membelainya? Apakah bulunya akan terasa lembut? Seakan bulunya bagai bulu-bulu angsa? Ataukah gadis itu akan merasakan bulu yang agak kasar, namun hangat? Ia belum pernah menyentuh bulunya sendiri atau bulu serigala manapun untuk tahu rasa permukaan kulitnya, teksturnya sendiri. Tapi mungkin Korra akan kegelian, mengikik sementara meletakkan pipinya di tubuhnya, atau membenamkan wajah di lehernya. Bagaimana rasanya terduduk di tanah, berbaring, sementara Korra bersandar padanya, menjadikan tubuhnya sebagai bantalan? Bagaimana rasa tubuhnya bagi gadis itu? Apakah ia akan terasa hangat? Apakah ia akan terasa nyaman?
Dan bayangan Korra terbaring di sisinya, dengan ia dalam wujud serigala, memudar. Ia kini membayangkan Korra dan dirinya berdua, dalam wujud manusia, memandang langit yang luas tiada terbatas. Kemudian Korra membisikkan kata-kata di telinganya bagai desau angin. Memandang matanya dengan mata yang tenang dan hitam, dalam, bagai air danau di malam hari, menyejukkan sekaligus mampu membuatnya terserap masuk ke lubang tanpa dasar. Menyentuh wajahnya dengan jemari yang lembut itu, membuatnya merasakan kesejukan dan kehangatan dan bara menyala dalam tubuhnya sekaligus. Dan mereka akan saling menautkan jari-jemari di hamparan rumput yang lembab, merasakan ikatan dan segumpal emosi lain membuncah dalam kebersamaan, kebersatuan mereka.
.
Korra…
.
Korra…
.
Korra…
.
Mengapa nama itu menggema begitu indah di hatinya? Di dadanya? Di pikirannya?
Sungguh aneh mendapati dirinya mendapatkan kemungkinan itu, bahwa ia memang mencintai Korra. Korra, adik Jacob. Korra, sepupunya sendiri.
Ia bahkan tidak mengimprint gadis itu.
Tapi sejak ia dipaksa mengawasi Korra… tidak, sejak ia menjadi bagian dari lingkaran sahabat Korra… tidak, sejak ia sibuk memikirkan kemungkinan Korra serigala yang menolong Seth… tidak, bahkan jauh sebelum itu, sejak Jacob pertama kali membawa masuk nama Korra ke dalam pikiran kawanan, ia merasa dirinya sudah terikat pada gadis itu. Nama gadis itu. Terngiang selalu di pikirannya. Membuatnya benar-benar terjerat.
Detik ia melihat Korra pertama kali, secara nyata, adalah di selusur tangga sekolah. Hari ketika gadis itu diantar Billy mendaftar. Ia hanya berniat melihat sekilas, awalnya, tapi ia terkesiap begitu meyadari cara Korra memandangnya. Mata itu tenang, dan dalam… Mata itu seakan menilainya, menyelidikinya, berusaha menyelaminya. Sesuatu merenggutnya saat itu juga, sesuatu yang tidak dapat ia deskripsikan. Dan sesaat itu ia terpaku. Ia tak mampu berkata-kata. Bahkan ketika Korra melewatinya, ia masih membeku. Masih kalut. Bingung. Tidak mengerti apa yang baru saja ia alami.
Penasaran, ya, itu yang membuatnya mendekati Korra. Menggerek Brady bersamanya. Dan ia mendapati bahwa Korra adalah gadis yang menyenangkan. Benar-benar menyenangkan. Ringan, cerah. Seperti matahari. Ia sendiri adalah matahari bagi kelompoknya, tapi terhadap Korra ia merasa berbeda. Merasa kalah. Sinar Korra melampaui sinarnya. Dan membuatnya makin merasa nyaman, hangat. Korra adalah matahari baginya.
Ya, itu bukan imprint.
Ia tahu bagaimana imprint. Ia memiliki akses langsung terhadap pikiran dan perasaan banyak orang di kawanan yang pernah mengalaminya. Sam. Paul. Jared. Quil. Jacob. Harry. Ini bukan perasaan mendadak seperti tarikan gravitasi atau semacamnya. Ia masih bisa mempertahankan kewarasannya. Ini bukan candu baginya. Korra bukan satu-satunya alasan yang membuatnya tetap berada di bumi. Tapi itu perasaan yang lain.
Ini perasaan yang berkembang. Jika Jacob menggambarkan apa yang ia rasakan pada Nessie bagai tarikan gravitasi, maka ia menggambarkan perasaannya pada Korra seperti alam semesta. Galaksi. Mengembang. Meluas. Perasaannya melingkupi segalanya. Membuncah dari dadanya dan tak lagi membuatnya menapak. Ia melayang dan tidak tahu lagi kemana ia akan kembali. Ia bahkan tidak tahu jika ia masih punya tubuh, tak ada lagi yang membuatnya menjejak bumi. Dan ia tidak peduli. Ia merasa tidak perlu menjangkarkan dirinya pada apapun, karena ia sudah di sana. Di dalamnya. Bagian darinya. Karena Korra adalah alam semestanya. Ia ada di dalam semesta Korra, atau ia melingkupi semesta Korra. Ia tidak tahu yang mana yang lebih mendeskripsikan perasaannya. Jika ia matahari, mungkin Korra adalah Bima Sakti. Tempatnya berada.
Apakah sama? Tidak, pastinya bukan. Ia pastinya tahu kalau ia mengimprint Korra.
Tapi tidak, ia tidak mengimprint. Ini mungkin…
.
Cinta...
.
Konyol sekali ia bicara begitu seakan dia cewek umur 16. Tapi memang itu yang dirasakannya. Perasaan yang membuncah dan berkembang dari hari ke hari, setiap saat ia bertemu Korra, istirahat siang bersama, melakukan apapun dengan alasan pengawasan, bergosip dan sebagainya… Termasuk saat ia mendengarkan pikiran semua teman-temannya tentang gadis itu. Ia tak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu.
Dan kini terhadap Korra ia merasakan keterikatan lain, keterkaitan lain. Jika Korra pergi, ia akan mengikuti. Jika Korra memerintah, ia akan menuruti. Seakan-akan Korra adalah Alfanya.
Tunggu, apa maksudnya tadi—seakan-akan Korra adalah Alfanya?
Tidak, tidak, ia tidak boleh memikirkan itu. Meski mungkin itu menggiurkan, berada di bawah perintah gadis yang ia cintai… Menyerahkan seluruh hidup… Bukan hanya tubuh, hati, kesetiaan, tapi juga nyawa…
Tidak! Hentikan, Collin! teriaknya lagi, berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
Ia tahu. Ia tak boleh memikirkan itu. Korra sebagai Alfanya. Bahkan ia tidak boleh memikirkan bahwa ia mencintai Korra. Jacob akan mengulitinya hidup-hidup, seperti kata Ben tadi. Menjadikan kulitnya sebagai permadani di ruang tengah rumah keluarga Black yang suram itu.
.
Dan bayangan mengenai Korra, tertidur di atas bulu-bulu coklat kemerahannya, menimbunkan wajah di antara helai-helai bulunya… Menyentuhkan bibir lembutnya pada kulitnya. Membelai bulunya...
.
Arghh…! Hentikan itu! teriak sebagian pikirannya, frustasi.
.
Mendadak pikiran lain muncul. Pikiran yang langsung merusak mood romantisnya.
Ya, apa lagi? Pikiran yang sejak tadi berusaha ia halau. Kemungkinan bahwa Korra berkencan dengan Seth! Bagaimana itu mungkin? Korra dekat dengannya, setiap hari di sekolah mereka bersama. Memang Korra seringkali kabur sebelum jam pelajaran usai, tapi itu biasanya dengan teman ceweknya. Dan Seth bahkan tidak pernah menjemput Korra di sekolah. Korra juga tidak pernah cerita apa-apa soal apa dia punya pacar atau tidak, atau bahkan apa ada cowok lain yang dekat dengannya.
Adegan parsial yang dicomot Brady dari kepala Seth dan Jacob kembali berputar di kepalanya.
.
Adegan di salah satu kafe di Port Angeles. Seth makan siang bersama Korra di Port Angeles. Mereka berbincang. Kelihatan riang.
.
Telepon dan kecurigaan Jacob.
.
Jalanan Port Angeles. Perasaan Seth begitu riang Dari mata Seth ia bisa melihat Korra di sisinya. Tangannya menggenggam tangan Korra.
.
Adegan di bawah pohon di sudut hutan entah di mana. Seth merasakan detak jantung yang aneh. Seth mendekati Korra, matanya memandang mata Korra. Dan wajahnya mendekati wajah Korra. Wajah mereka kini hanya berpaut tiga senti satu sama lain.
.
Aaaaarggghhh!
Adegan itu putus-putus, terlalu singkat. Tapi sesuai kata Brady, Seth bisa menutupi pikirannya. Cuplikan-cuplikan adegan itu pastinya adegan yang lupa tertutupi dan muncul begitu saja tanpa Seth sadari. Ia bahkan tak ingin tahu adegan selanjutnya setelah itu.
Ia yang paling dekat dengan Korra saat ini! Ia masuk lingkaran dalam Korra! Ia bersama Korra sepanjang hari di sekolah, kecuali pada jam pelajaran tertentu! Mengapa Korra tidak pernah cerita apapun padanya?
Selama ini ia hanya mengira obsesi Seth hanya sekadar obsesi pada si serigala hitam. Ia bahkan tidak pernah mengira Seth serius mempertimbangkan gosip mereka mengenai hubungan antara Korra dan si serigala hitam. Tidak mungkin Seth berani mendekati Korra ketika ia sendiri tidak yakin apakah gadis dalam obsesinya itu Korra. Ya, karena ini kenyataannya: jika Korra memang si serigala hitam, yang artinya ia sudah berubah, mengapa Korra ada di daftar calon werewolf?
Jacob sudah bilang, werewolf yang merambah hutan itu tidak memiliki koneksi dengan pikirannya. Ia bagian dari kawanan lain, atau serigala yang tersesat, atau bahkan mungkin musuh mereka. Ia bahkan sudah muncul pada hari pertama Korra datang ke tempat itu. Entahlah. Dan Korra adik Jacob. Jika memang ia sudah berubah, seharusnya mereka tahu. Seharusnya Korra menjadi bagian dari mereka.
Namun mendadak satu kemungkinan lain menyelinap.
Serigala hitam muncul pada hari pertama Korra datang ke tempat itu.
Apakah Sam sengaja menyuruh mereka mengawasi Korra karena tahu Korra adalah si serigala hitam?
Bagaimana mungkin? Bagaimana caranya ia bisa tahu?
Semua puzzle belum lengkap. Dan semua orang berahasia. Sam, Triad, Seth… Korra… Jujur saja, semua hal ini membuatnya makin frustasi.
Collin bangkit segera, berlari bergegas. Rupanya keindahan dan kemenkolisan tempat ini tetap tidak bisa membendung kekacauan dalam pikirannya sendiri.
.
.
Belum hilang rasa frustasinya, tiba-tiba terdengar lolongan membelah langit. Lolongan Brady. Nadanya memaksa. Meminta tolong.
Seketika tembok mentalnya runtuh. Ia bisa mendengar suara anak-anak menyerbu masuk sekaligus. Berteriak. Panik.
Serangan lagi. Pete dan Ben.
Brengsek! Pete dan Ben? Kenapa Pete dan Ben? Mereka bukan Triad! Mereka bahkan bukan Sectad! Mereka bahkan tidak termasuk dalam tujuh orang pada tiga tingkat teratas dalam susunan hierarki kawanan.
Collin berbalik dan mempercepat larinya, berusaha mengendus rute asalnya ketika ia pergi tadi, mencari jalan pulang. Dan seketika ia terhenti.
Ia tidak menemui baunya.
Tidak ada baunya sendiri di manapun. Di udara, di tanah, di pohon-pohon. Ia tidak menemukan jejaknya sendiri.
Ia memang melintasi wilayah Cullen tanpa berpikir, tanpa melihat arahnya pergi. Ia terlalu sibuk dengan pikiran dan perasaan dan entah apa yang melingkungi kepalanya sejak tadi. Dan ini hasilnya: ia tersesat.
Serigala tidak mungkin tersesat, pikirnya. Bodoh sekali jika seekor serigala bisa sampai tersesat.
Tapi ya, ia tersesat! Itu kenyataannya! Ialah satu-satunya serigala bodoh yang tersesat, justru pada detik ia harus kembali. Ia harus kembali pada kawanannya. Kawanannya membutuhkannya.
Ia berusaha berkonsentrasi. Menajamkan indranya. Mencium bau-bauan di udara. Menajamkan pendengarannya. Membiarkan insting serigala menguasainya.
Tapi tidak, tidak bisa. Semua tumpul. Indra penciuman, indra perasa, indra pendengaran. Bahkan instingnya pun tumpul. Semua indranya tak bisa digunakan pada saat ia paling membutuhkannya.
Ada apa sebenarnya ini?
Ia panik. Ketakutan. Ngeri. Tapi tidak, tidak boleh. Ia tidak boleh takut. Ia tidak boleh panik. Tegar, Collin! teriaknya pada diri sendiri. Kuatkan dirimu!
Ia mempercepat larinya, berusaha menyerahkan diri pada instingnya.
Namun seketika ia berhenti.
Ada sesuatu yang berbeda di sekitarnya. Insting dan indranya mungkin tumpul, tapi ia merasakannya. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang salah dengan lingkungan sekitarnya. Ada yang berbeda.
Dan seketika ia berbalik, menggeram.
Vampir.
.
.
Seekor vampir muncul di hadapannya. Bukan keluarga Cullen, kepalanya berteriak panik. Vampir mata merah.
Sosok itu bergerak pelan, penuh perhitungan, mendekat. Ia mundur selangkah. Dan tiba-tiba dirasakannya keberadaan dua sosok lain tepat di belakangnya. Di kiri dan kanannya. Ia tidak perlu menengok ke belakang untuk tahu sosok apa itu, atau apa yang sedang ia hadapi kini.
Tiga vampir. Tiga vampir mata merah. Mengepungnya.
Collin! teriak Brady panik.
Panggil bantuan, Brad!
Aku ke sana! teriak Brady lagi, bergerak ke arah teritori Cullen. Tapi sesaat kemudian ia mendengar kepanikan di kepala sahabatnya. Serigala itu juga tidak bisa mengendusnya.
Panggil bantuan! Bauku hilang! Panggil bantuan sekarang, Brad!
Ia mendengar lolongan lagi di udara, jauh dari tempatnya kini. Dan ia merasakan Brady pergi.
Ia tahu apa yang terjadi. Tepat seperti yang diperkirakan kawanan. Vampir dengan kemampuan menyembunyikan jejak. Tidak hanya menyembunyikan jejak para lintah, tapi juga menyembunyikan jejak serigala. Menyembunyikan jejaknya. Ia terisolasi di sini. Tidak ada bala bantuan. Brady takkan mampu menjangkaunya. Dan bahkan jika Brady memanggil bala bantuan pun, mereka tidak bisa menjangkaunya.
Jadi ini dia: ia juga terjatuh dalam salah satu serangan itu. Serangan keroyokan para vampir. Serangan yang telah menjatuhkan Jacob, Seth, dan Embry. Sesaat panik dan ketakutan menguasai dirinya. Ia mungkin akan mati, ia pasti akan mati. Ia pasti mati.
Wajah-wajah yang dikenalnya, wajah-wajah yang mengisi hidupnya, kembali melayang memasuki kepalanya. Tampak di ruangan matanya. Keluarganya. Kawanannya. Korra. Apa yang akan mereka lakukan jika ia mati? Akankah mereka menangisinya? Akankah jenazahnya sampai pada mereka? Ataukah jasadnya akan di sini, tercabik-cabik hingga tak berbentuk lagi, termutilasi begitu rupa, di tempat yang tak seorangpun tahu? Di tempat yang bahkan tidak ada satu serigala pun dapat menemukannya?
Ia menggeram.
Tidak, ia tidak boleh panik. Ia tidak boleh takut. Ia harus berani.
Berani, Collin!
Jika ia harus mati di sini, maka ia takkan mati begitu saja. Ia harus melawan. Dengan segenap kekuatan hingga titik darah terakhir. Vampir-vampir itu mungkin akan mencabik-cabiknya, membunuhnya, menghisap darahnya, tapi ia takkan membiarkan lintah-lintah itu, yang telah menyakiti orang-orang yang dekat dengannya, kawanannya, menumbangkannya begitu saja. Setidaknya ia akan membawa beberapa di antaranya ke alam sana bersama dirinya. Atau membuat anggota tubuh mereka tercerai berai hingga tak dapat disatukan lagi. Jika ia tidak bisa membunuh mereka, setidaknya ia akan merenggut tangan atau kaki mereka dari tubuh tanpa darah itu.
Ia melolong, lolongan terakhir yang mungkin bisa ia teriakkan. Lolongan perpisahan.
Kalian akan tahu siapa itu Collin Littlesea!
Dan dengan satu auman yang membahana menguasai seantero hutan, ia menyerang.
.
Catatan:
Semua istilah dalam fanfic ini yang berhubungan dengan Mighty Morphin Power Rangers ©1993-1996, SABAN ENTERTAINMENT
jujur fanfic ini tidak diniatkan untuk crossover, ini normal fanfic... penggunaan istilah dari mana-mini cuma keisengan semata...
