THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: Again, I do not own Twilight... all main characters (excluding Korra) and backgrounds related belong to Stephenie Meyer
(why should I write this anyway... everybody already knew!)
.
Duapuluh tiga – Tiga Lolongan Serigala
Monday, December 17, 2012
1:14 AM
.
Lolongan serigala selalu tidak pernah merupakan pertanda bagus.
Dalam kisah manapun, dalam dongeng maupun legenda manapun, lolongan serigala tidak pernah menjadi pertanda bagus. Itu adalah perwujudan mimpu burukmu. Bangkitnya kekuatan hitam. Penyihir dari kegelapan. Bangunnya Raja Neraka. Necromancer yang membangunkan roh dari kubur. Setan jahat yang akan memakan roh para gadis muda. Para serigala jadi-jadian pemakan manusia.
Jacob menghentikan laju motornya dan berpaling ke arah barat.
Ia sedang dalam setengah perjalanan menuju wilayah Cullen, untuk mengisi jadwal patroli malamnya bersama Seth. Seth lagi-lagi meng-sms bahwa ia akan telat, urusan di Port Angeles seperti biasa, dan memintanya mengisi patroli duluan. Di wilayah Quileute, shift siang yang diisi Collin dkk. akan berakhir sekitar tiga jam lagi, dan akan digantikan oleh shift malam Adam, Josh, dan Caleb. Ia merasa aman bahwa para serigala patroli berempat, sehingga tidak menyempatkan diri untuk mengecek terlebih dahulu.
Mungkin itu kesalahannya. Karena belum sampai setengah jam ia berkendara, ia sudah mendengar lolongan itu. Tidak hanya satu.
Lolongan pertama itu menyiratkan kengerian yang mencekam. Nadanya mendesak. Permintaan tolong.
Ia segera meminggirkan motornya dan memasuki hutan. Pada saat yang sama ketika lolongan kedua membelah udara. Ini tidak biasa, ini benar-benar tidak biasa. Dua lolongan dengan waktu yang tidak sama, namun berdekatan. Lokasi asal lolongan berbeda, tapi suaranya sama. Berasal dari satu serigala. Situasi genting ketika seekor serigala diserang atau pemanggilan kawanan biasanya hanya melibatkan satu lolongan. Tapi dua lolongan?
Ia tak lagi mempedulikan pakaiannya atau jaraknya yang masih terlalu dekat dengan jalan raya ketika ia berubah. Seketika itu juga gelombang pikiran, perasaan anak buahnya membasuh pikirannya. Saling bertindih dan bertumpuk sehingga ia bahkan butuh waktu untuk menyortir, untuk mengerti situasi yang dihadapinya kini.
Lolongan pertama adalah lolongan peringatan.
Seseorang diserang. Bukan, dua orang. Pete dan Ben. Di wilayah Quileute.
Sesaat perasaan tidak berdaya, aneh, kalut menyergapnya. Pete dan Ben? Kedua anak buah Collin itu memang tengah patroli di teritori Quileute. Sejak sore malah. Vampir, lagi-lagi, menyerang wilayahnya? Pete dan Ben … para serigala muda. Bahkan bukan Triad!
Ia mengingat pembicaraannya dengan Embry waktu itu. Pola serangan. Ternyata itu salah. Para vampir tidak mengincar mereka, para pemimpin kelompok saja. Mereka mungkin menyerang secara acak. Itu gawat, itu lebih gawat. Jika para Triad saja tidak berdaya dengan serangan itu, anggota yang lebih muda takkan punya kesempatan.
Ben! Pete! ia berteriak.
Ben sepertinya tumbang tapi Pete masih bertahan. Dan sesaat ia merasa lega bahwa tidak beberapa lama kemudian, kedua serigala itu mendapat bantuan. Embry, Quil, dan Adam telah berubah dan meluncur ke sana, tepat pada saat vampir-vampir itu hampir menerkam Pete. Empat lawan enam mungkin kalah jumlah, tapi jelas tidak ada yang patut dikhawatirkan. Mereka masih bertarung, tapi jelas kawanannya jauh di atas angin. Kelompok vampir itu sama sekali tidak punya harapan. Dan dengan adanya Adam, ia bisa yakin bahwa Ben berada di tangan yang tepat.
.
Tapi lolongan kedua bahkan menyiratkan kengerian yang lebih lagi.
Jacob, Brady berteriak panik. Collin diserang di teritori Cullen! Dikepung!
Ia segera berhenti dan berbalik.
Wilayah Cullen?
Ia tidak percaya pendengarannya. Tapi Brady tidak bicara dengan lidahnya. Ia bicara dengan pikirannya. Dan semua pikiran Brady membasuhnya. Menerangkan semuanya.
Brengsek! Apa yang bocah itu lakukan di sana?
Cepat, Jake! Ia tidak bisa kembali! Ia tidak bisa mencium baunya sendiri!
Apa ini? Apakah itu bakat vampir? Menutupi indra?
Aku tidak mampu mengendus bau Collin! teriak Brady, lebih panik daripada sebelumnya.
Jacob berusaha memindai bau-bauan di sekitarnya juga. Mencari. Mendengar. Ya, dia juga sama dengan Brady. Ia tidak bisa mencium, tidak bisa mendengar Collin.
Katamu ia bisa memasang tembok mental?
Ya, tapi tadi sempat aku bisa mendengarnya, Jake…
Brady mengirimkan potongan adegan ketika link antara ia dan Collin sempat terjadi. Ya, tak heran lagi, pastinya Collin terjebak oleh beberapa vampir yang dapat menutupi keberadaannya. Menghapus jejak dan bahkan menutupi pikirannya dari anggota kawanannya yang lain.
Suatu jenis Perisai yang lain-kah?
Ia hampir tidak percaya ketika didengarnya lolongan ketiga itu. Bukan saja karena emosi yang membelitnya. Siratan ketakutan, kengerian, keputusasaan. Itu bukan panggilan, lolongan itu bahkan sama sekali tidak bernada mendesak, bukan nada panggilan yang terburu-buru. Lolongan itu adalah lolongan pilu, lolongan kematian. Lolongan perpisahan.
Dan begitu dekat.
Ia mengenalinya. Suara itu. Emosi yang dikandungnya.
Dan ia mendengarnya.
Collin…
.
.
Cepat dilarikannya keempat kakinya menuju asal suara itu. Emosi yang berkecamuk dalam suara itu membuatnya pedih. Collin dalam bahaya, tidak salah lagi. Dan ia tanpa harapan. Serigala itu sudah putus asa. Serigala itu bahkan tidak memanggil bantuan. Ia mengucapkan selamat tinggal.
Jacob menembus perbatasan, memasuki wilayah Cullen.
Dia harus tenang, dia harus tenang. Tidak boleh dibiarkannya emosi itu ikut membelitnya juga. Ia harus tiba di sana tepat waktu. Ia harus berkonsentrasi, mencari sumber suara itu.
Karena tidak dirasakannya keberadaan Collin di mana pun. Tidak di hutan ini. Tidak di tempat ia berpijak. Bau yang melingkupi daerah sekitarnya adalah bau yang berbeda. Bau tanah, rerumputan basah, kayu pinus… Tapi tidak ada aroma Collin di manapun. Tidak sebersit pun. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Tidak ada sisa jejak, bahkan secuil pun. Ia tahu ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang menutupi bau Collin. Sesuatu yang menutupi jejaknya. Sesuatu yang mengancam Collin.
Collin!
Dipaksa dipanggilnya nama itu.
Collin, dimana kau?
Tidak ada jawaban. Tidak di udara, tidak di pikirannya. Ia tidak bisa merasakan apapun, mendengar apapun.
.
Namun tiba-tiba ia merasakan sosok lain. Bukan vampir. Serigala.
Ia berusaha menajamkan konsentrasi. Berusaha menangkap suara. Pikiran. Kontak. Apapun.
Tidak ada.
Dan ia melihatnya. Dari balik lingkung pepohonan dan semak belukar. Maju ke muka, menampakkan diri di hadapannya. Serigala lain.
Semula ia mengharapkan kemunculan serigala hitam, seperti yang sudah-sudah. Serigala langsing bermoncong panjang dengan bulu hitam, garis putih melilit leher dan melintang sepanjang punggungnya. Serigala yang menolong Seth. Menolongnya. Mungkin menolong Embry dan Seth lagi waktu penyerangan di wilayah Cullen, karena untuk serangan itu memang tidak ada saksi mata.
Tapi tidak. Bukan itu yang ia dapat.
Yang muncul di hadapannya adalah serigala lain. Bulunya berwarna oranye keemasan. Hampir seperti warna emas bulu singa, namun sedikit lebih kemerahan. Bulunya sedikit lebih tipis dan pendek ketimbang serigala sukunya, namun agak tebal di bagian leher dan wajah. Bulu-bulu yang agak panjang menunjukkan bahwa bagian ujung bulu-bulunya mengikal. Dia bukan serigala betina, dia serigala jantan. Dan sorot matanya, tenang dan dalam. Sama seperti serigala hitam itu.
Jacob masih tidak bisa merasakan apa-apa. Mendengar apa-apa.
Serigala ini bukan anggota kawanannya.
Siapa kau? Apa yang kaulakukan di tanah kami?
Secara teknis, ini memang sudah bukan tanahnya. Ia sudah melintas ke wilayah Cullen. Tapi ia tahu, serigala apapun selain kawanannya juga tidak seharusnya ada di wilayah Cullen sebagaimana tidak seharusnya ada di wilayahnya.
Tetap tidak terdengar jawaban.
Jacob mengulang pertanyaannya dan masih tidak terdengar jawaban. Di kepalanya anggota kawanannya heboh karena banyak hal: serangan atas teman mereka, Collin yang tidak diketahui rimbanya, dan kehadiran serigala lain, muncul tepat di depan Alfa mereka.
Tenang kalian semua! perintahnya. Kembali ia berusaha berkonsentrasi pada si serigala emas ini. Tetap tidak ada suara apapun.
Beberapa kali bersentuhan dengan serigala lain, yang bisa didengarnya dan yang tidak, membuatnya mengetahui setidaknya satu hal: ia takkan bisa mendengar serigala lain selain serigala Alfa. Dan ini bukan serigala Alfa. Sama seperti si serigala hitam. Yang hanya mengkonfirmasi satu kecurigaannya: adanya kawanan lain.
Serigala itu menundukkan kepala seakan menghormat, dan kemudian menengokkan kepala ke sisi sebelum berbalik membelakanginya dan berjalan, seakan memberi isyarat baginya mengikuti. Meski tak bicara, ia tahu serigala ini bukan musuhnya. Dan ia mengikuti, bahkan walau itu berarti mengabaikan protes keras kawanan di kepalanya.
Kita tidak tahu dia siapa atau apa maksudnya!
Hati-hati Jacob, itu mungkin jebakan!
Apa kau perlu back-up?tanya seseorang. Brady lagi.
Suruh Embry dan Quil kesini segera setelah mereka selesai! perintahnya.
Serigala emas itu tampaknya tahu apa yang ia lakukan. Ia mengendus, menangkap bau-bauan yang bahkan tidak bisa ditangkapnya. Dan ia berlari, begitu cepat ke sebuah arah. Dan Jacob hanya bisa mengikuti.
Pepohonan tersibak dan ia melihatnya di puncak sebuah tebing: Collin dalam belitan seekor vampir. Collin tampaknya telah bertarung dengan gagah berani. Anggota-anggota tubuh yang termutilasi di sekitar padang pertempuran menunjukkan bahwa lawannya bukan hanya satu atau dua ekor. Setidaknya ia telah membantai tiga, dan merenggut tangan seekor vampir lainnya.
Jacob menerjang bahkan sebelum si vampir yang mencekik Collin menyadari keberadannya. Melompati sekian belas meter yang memisahkan dirinya dari lawannya, ia mengaum dan menerkam, tepat sasaran. Tubuh si vampir terenggut, terpisahkan dari kedua tangannya yang masih bertengger di leher Collin. Tubuh itu jatuh ke tanah, dan dengan segera Jacob merenggut kepala si vampir dari badannya sebelum melemparkannya ke jurang di bawahnya.
Tubuh lunglai Collin roboh ke tanah. Penuh luka koyakan dan darah. Kesadarannya hanya bertahan sedetik sebelum ia kehabisan napas dan tak berkutik lagi.
Collin! Jacob berteriak panik. Tapi tak ada waktu untuk mengkhawatirkan keadaan Collin. Karena kini ia menghadapi ancaman lain.
.
Satu, dua, bukan, enam vampir mendadak bermunculan dari sekitarnya. Mungkin tujuh, ia bahkan tidak dapat menghitung dengan tepat. Menerjang ke arahnya begitu cepat hingga ia bahkan tidak mampu berpikir atau memperhitungkan serangan.
Satu lawan tujuh jelas bukan sesuatu yang bisa ia hadapi.
Tapi ia tidak sendiri. Serigala oranye keemasan itu menerjang pada saat yang sama ketika ia bergerak menghindari serangan salah satu vampir. Gerakannya sigap, efektif, penuh perhitungan. Mereka kini bergerak bagai satu kesatuan. Bertahan. Melawan. Menerkam. Mencabik. Mengoyak-ngoyak musuhnya. Saling melindungi.
Tapi vampir-vampir itu juga bukan lawan sepele. Bahkan juga tidak bagi dua serigala yang menguasai medan pertempuran.
Dan dalam segala kekacauan itu Jacob sempat melihat vampir-vampir lain berdatangan dari balik pepohonan. Tak bisa ia hitung. Mengepung mereka.
Pada saat yang bersamaan pepohonan di sebelah utara mereka kembali tersibak dan muncul sosok lain. Serigala hitam. Menerjang pada saat yang tepat ketika satu vampir hampir saja mendaratkan taringnya di leher Jacob.
Bantuan tambahan lain.
Mereka bertiga sekarang. Melawan entah-berapa vampir yang masih tersisa, atau yang sudah bertambah lagi.
Serigala hitam itu menghabisi lawan di lingkaran luar, dengan manuver-manuver anggun dan tepat sasaran yang mungkin akan Jacob kagumi, jika ia sendiri tidak sedang sibuk menghalau serangan yang diarahkan pada tubuhnya. Pikirannya kini hanya berupa getar-getar pendek yang dikendalikan oleh insting. Terkam. Cabik. Menghindar. Koyak. Berputar. Cakar. Buntungi. Lempar. Lompat. Lindungi. Terjang. Cabik lagi. Robek. Gigit. Koyak lagi. Lempar.
Tak berapa lama padang kecil di atas tebing itu sudah penuh oleh anggota-anggota tubuh beku yang termutilasi. Tangan. Kaki. Kepala. Bagian-bagian tubuh yang tidak bisa dikenali lagi. Sobekan-sobekan baju tak berbentuk.
Musuh terakhir mereka terkoyak tepat di taring sang serigala emas. Dan puncak adrenalin itu kembali melandai. Ia berdiri di puncak tebing, berusaha mengejar napasnya. Dan kedua serigala itu di sana, memandangnya, berdiri di antara bagian-bagian tubuh beku vampir yang berserakan tanpa bentuk di sekelilingnya.
Tak berapa lama terdengar lolongan jauh, dan telinga kedua serigala itu terangkat sesaat sebelum kepala mereka mengedik ke arah lolongan tersebut. Jacob menyadari apa arti lolongan itu: panggilan Alfa. Alfa mereka.
Kedua serigala itu mengangguk sesaat padanya sebelum berlari meninggalkan tempat itu, kembali menembus kerimbunan pepohonan. Menghilang bahkan sebelum Jacob sempat mengejar.
Dan ia memang tidak perlu mengejar. Tidak ingin mengejar. Karena ada hal lain yang harus ia lakukan.
.
Berlari melintasi padang yang dipenuhi mayat, ia mendekati tubuh terbujur Collin. Serigala berbulu coklat kemerahan itu sudah tidak ada, sebagai gantinya ada sosok tubuh telanjang sepupunya, lemas terbaring dalam posisi membusur. Jacob segera berubah untuk mengecek keadaan tubuh itu. Masih hangat, dan masih bernapas, walau sangat samar. Dan meski jelas tubuhnya koyak-koyak penuh luka, sepertinya tidak ada bekas gigitan di mana pun.
"Collin, kau bisa dengar aku?" Jacob berusaha menyadarkan sepupunya, menepuk-nepuk pipinya. Collin tidak juga bergerak. Kepalanya terkulai lemas ke samping ketika Jacob berusaha merengkuh bahunya di pelukannya dan ia menyadari: pemuda itu mengalami patah tulang leher.
Pepohonan kembali tersibak dan Jacob hampir bersiaga kembali, bersiap berubah, ketika disadarinya yang datang bukan musuh. Serigala coklat dan abu-abu berbintik-bintik gelap. Quil dan Embry.
Mereka berubah begitu menyadari pertarungan telah usai. Berlari kea rah Jacob dan Collin.
"Man, kau menghabisi sekitar selusin vampir sendirian?" nada kagum sekaligus tak percaya muncul di lidah Quil.
Ucapan Quil membuat Jacob yakin bahwa tempat ini dilindungi perisai. Yang bahkan membuat pikirannya pun tidak dapat terhubung dengan kawanannya selama pertarungan.
"Kuharap begitu, tapi tidak. Ada dua serigala lain tadi sini," ujar Jacob yang membuat kedua sahabatnya mengejang.
"Dua?"
"Serigala hitam dan oranye keemasan. Dan kurasa mereka tidak sendiri."
"Apa?"
"Mereka bagian dari suatu kawanan. Aku mendengar panggilan Alfa mereka sesaat setelah mereka selesai di sini. Kalian dengar. Lolongan yang terakhir."
Kedua sahabatnya jelas memperlihatkan pandangan ngeri.
"Apa itu Sam?" bisik Embry nanar.
Sungguh Jacob tidak tahu jawabannya.
.
.
Rasanya Sam sudah menaruh mata-matanya sendiri di antara kawanan, atau mungkin serangkaian lolongan serigala yang sambung-menyambung dalam beberapa jam lalu membangkitkan insting alaminya terhadap situasi yang terjadi, karena baru saja Jacob, Embry, dan Quil tiba dengan menggotong tubuh lunglai Collin di kediaman Black, ia sudah bertengger di sana.
Jacob segera berubah di batas pekarangan belakang rumahnya dengan hutan, menyambar celana pendek cadangan yang ia gantungkan di salah satu pohon, sebelum berlari menemuinya. Di belakangnya, Quil berusaha menurunkan Collin dari tubuh serigala Embry, dengan dibantu Adam dan Caleb yang sudah siaga, membaringkan tubuh itu di tandu.
Ia sempat mengintip ke dalam rumah sekilas sebelum menghadap Sam yang berdiri menunggunya dengan wajah tegang di beranda. Pete di dalam, berbaring di sofa. Ia tampak kacau tapi jelas sudah mendapat pertolongan pertama. Tubuh Ben terbaring di atas meja makan yang dialihfungsikan sebagai tempat tidur darurat. Kondisinya terlihat parah.
Meski masih tegang dan panik atas kejadian yang baru saja mereka alami, setidaknya ia merasa lega menyadari tiadanya tanda-tanda keberadaan dua orang di sana: ayahnya dan Korra. Tentu saja dengan menilik keberadaan Sam di rumahnya yang mendadak berubah menjadi semacam barak Palang Merah darurat, ia menduga Sam sudah mengatur agar dua orang itu tidak ada di tempat ketika rumahnya dibutuhkan untuk urusan kawanan.
"Keadaan makin genting sekarang," ia merasakan getar ketegangan dalam suara Sam. "Lintah-lintah itu bahkan tidak lagi menyerang dalam kelompok kecil."
Rupanya Sam memang sudah diberi tahu mengenai situasi yang baru saja mereka hadapi.
"Apa ada yang terpicu?" tanyanya lagi.
Jacob agak sedikit kurang mengerti arah pembicaraan ini.
"Apa?"
"Serigala baru."
Jacob tidak menduga bahwa itu topik yang ingin diangkat Sam sekarang ini. Ketika tiga anggotanya jelas-jelas baru saja menghadapi serangan. Tiga korban sekaligus.
Tapi ia berusaha mengatasi emosinya dan menjawab seprofesional mungkin. "Tidak. Tidak ada."
Geram dan kekecewaan yang tampak di wajah Sam menjadi bukti bahwa dibanding semua kekacauan yang baru saja terjadi, inilah yang lebih dikhawatirkan, atau mungkin malah dinanti-nanti, oleh Sam.
Itu wajar saja sebetulnya. Penyerangan dalam skala besar ini seharusnya memicu sesuatu. Reaksi gen-dalam-darah mereka. Vampir-vampir yang ia hadapi di tanah Cullen jelas bukan jumlah yang sebanding dengan kawanan mereka. Dan jika ditambah dengan yang Embry dkk. hadapi di wilayah Quileute, itu lebih lagi.
Tapi mungkin ada hal lain yang ingin ia informasikan. Sesuatu yang entah sudah diketahui Sam atau belum, tapi Sam mungkin akan menghardiknya lagi jika ia tidak mengatakannya sekarang.
"Ada kawanan lain, Sam," ujar Jacob tegang. "Serigala lain. Selain yang kita ketahui."
"Selain si serigala hitam?"
"Emas. Tepatnya oranye keemasan. Di tanah Cullen."
Ketegangan di wajah Sam yang menjadi-jadi menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui hal ini sebelumnya. Atau ia memang begitu ahli berakting dan menguasai emosi untuk tidak membiarkan ekspresi mencurigakan apapun tampak di wajahnya.
"Mereka bergerak sebagai suatu kesatuan. Sebuah kawanan. Yang minimal terdiri atas tiga serigala."
Sam menoleh ke arahnya, tampak bingung. "Maksudmu?"
"Kau mendengarnya tadi. Lolongan terakhir. Lolongan Alfa."
Jacob sengaja menekankan frase terakhirnya guna menilai reaksi Sam. Berusaha menangkap sinyal apapun, sekecil apapun, bahwa Sam memang sudah mengetahui atau memprediksi hal ini. Tapi rupanya Sam masih memasang ekspresi ketegangan sama. Yang tidak terbaca.
"Menurutmu ada kawanan lain, Alfa lain, di tanah ini?" tuntut Sam.
Tidak, bukan hanya satu, tapi dua. Mungkin. Kawanan lain dan kawanan Sam.
Itu jika memang bukan Sam Alfa mereka.
Jacob mengangguk.
"Ada kontak? Apapun?"
Ia menggeleng.
"Kawanan ini jelas bukan lawan, Sam. Mereka membantu kita," tegasnya.
Sam memandang tajam padanya, seakan apa yang baru saja dikatakan Jacob adalah sebuah kesalahan. "Kau tidak tahu itu, Jake. Terlalu cepat merasakan aman hanya akan membuatmu lengah."
"Apa menurutmu mereka dari dalam?" tanya Jacob, menyelidik.
Tapi Sam malah balik bertanya padanya. "Menurutmu mereka dari dalam?"
Jelas ia tidak mungkin mempertimbangkan kemungkinan itu. Kawanan serigala dari sukunya sendiri yang tidak ia kenali hanya berarti satu: keberadaan Alfa lain dengan status dan hak yang sama besar dengannya untuk membentuk kawanan. Dan ia bahkan tak yakin itu mungkin. Bahkan Sam pun tidak bisa mendirikan kawanan baru, dengan anggota baru, tanpa sepengetahuannya. Tidak mungkin ada serigala baru yang berubah tanpa koneksi langsung dengannya, satu-satunya Alfa sejati di tanah ini.
Dan kawanan lain itu, dengan melihat kemampuan mereka, gerakan mereka, semua maneuver-manuver lincah dan penuh perhitungan yang mereka buat dalam pertempuran, menunjukkan bahwa mereka bukan serigala baru. Serigala kuat, yang berpengalaman. Sangat berpengalaman. Jauh lebih kuat daripada kawanan mereka.
Tapi itu hanya berarti satu: kawanan luar.
"Mengapa ada kawanan luar di tanah Quileute?"
Sejujurnya itu pertanyaan yang menghantui mereka sejak awal mereka mencium keberadaan si serigala hitam. Serigala yang hanya melintas jelas bukan jawaban. Dua bulan bukan jangka waktu yang sebentar. Serigala-serigala itu menetap. Tinggal. Dan kemunculan mereka tepat di situasi-situasi genting ketika mereka membutuhkan bantuan merupakan konfirmasi hal lain: mereka mengawasi. Mengawasi mereka seperti para vampir itu mengawasi kawanan.
Dan para vampir itu, seperti Sam sebutkan sebelumnya, telah menunjukkan tanda-tanda aktivitas dalam tingkat yang lebih tinggi. Mereka tak lagi menyerang dalam kelompok kecil. Tak lagi hanya mengincar para Triad. Apapun tujuan mereka, apapun teknik yang mereka gunakan, hanya berarti satu: kawanan tidak lagi aman. Sama sekali tidak aman.
Sam mendesah, berat.
"Kita harus membuat mereka segera berubah. Apapun itu, kita tidak ingin anggota kawanan habis sebelum ancaman yang sebenarnya datang."
Jacob bisa merasakan horror yang membalut dirinya begitu menyadari apa maksud di balik perkataan Sam.
Batalion werewolf memang dibutuhkan.
.
