THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: majority of characters and backgrounds belong to Stephenie Meyer... I just own Korra and few minor characters of the packs, and also plot for this story only... Any similarity with anything in reality maybe just a coincidence... but any unsimilarity with Quileute legends, geography, and history, also with Twilight basic plots, surely uncoincidental... hahaha...
just enjoy...
Duapuluh empat - Rekruitmen
Saturday, January 05, 2012
1:14 AM
Alternatif: Batalion Werewolf -2-
.
Keadaan tidak mungkin lebih buruk lagi, demikian pikir Jacob.
Satu per satu anggota kelompok jatuh di tangan vampir-vampir sialan yang bahkan tidak bisa dilacak dari mana asalnya itu. Pertama Seth, lalu dirinya sendiri, Seth lagi dan Embry, dan kini Collin, Pete, dan Ben sekaligus.
Sungguh beruntung Pete hanya menderita sedikit retak pada kaki dan punggungnya, serta sedikit cakaran pada tubuhnya, yang langsung sembuh hari itu juga. Collin dan Ben menderita luka yang lebih serius. Luka yang didapat keduanya memang kelihatannya tidak separah dirinya dan Seth. Collin memang koyak-koyak, tetapi ia bahkan tidak digigit. Tapi leher Collin nyaris patah. Ia harus memakai penyangga leher selama beberapa hari sampai tulang lehernya sembuh total. Hal itu bisa lebih parah, karena seandainya mereka terlambat beberapa detik saja, ia sudah akan kehilangan nyawa akibat tercekik.
Dan Ben, Ben malah hampir kehilangan kakinya, kakinya remuk, betul-betul remuk, sesuatu yang bahkan tidak dapat dikoreksi dengan kemampuan penyembuhan serigala karena tulang tidak bisa begitu saja tumbuh dari bagian yang bahkan tidak tersambung. Caleb bahkan sempat mempertimbangkan amputasi.
Untung saja Adam berani mengambil resiko itu. Resiko yang sangat aneh dan bodoh. Ia berusaha menyatukan serpihan-serpihan tulang femur Collin. Seperti puzzle. Dalam operasi hampir 8 jam di bawah bimbingan dr. Carlisle Cullen via Skype, berjuang melawan kemampuan penyembuhan Ben yang berupaya menyatukan tulang-tulangnya sendiri dalam posisi yang salah, dan dengan sistem tubuh sang serigala yang membakar habis morfin sebanyak apapun diberikan, akhirnya kedua dokter-bedah-tanpa-sertifikat tersebut mampu meletakkan serpihan-serpihan tulang Ben pada tempatnya. Selanjutnya tinggal menyerahkan nasib Ben pada kemampuan penyembuhannya sendiri.
Itu tentu saja versi sederhananya. Karena hal yang sebenarnya terjadi jauh lebih mengerikan. Pikiran, perasaan, dan jiwa kedua ahli bedah dadakan itu dihantui horor yang terjadi selama operasi. Bagaimana mereka tidak hanya harus menguliti paha Ben, tetapi juga mengupas daging hingga menyingkap tulang yang sudah tidak berbentuk... Bagaimana mereka harus mencabuti serpihan-serpihan tulang yang menusuk daging Ben dan menyusunnya seperti puzzle, membongkar jika salah... Bagaimana mereka harus berpacu dengan sistem tubuh Ben yang tiap lima menit membakar habis morfin...
Perasaan mencekam melingkupi pikiran mereka berhari-hari hingga saat patroli pun, semua anggota kawanan harus berusaha menutup pikiran rapat-rapat jika tidak mau menonton film horor yang lebih parah dari thriller Hollywood manapun, langsung dari kepala pelakunya.
"Cukup, Caleb, Adam. Kalian berdua dibebastugaskan dari patroli hingga Collin dan Ben sembuh," Titah Alfa akhirnya turun, dan baru kali ini perintah semacam itu disambut sorak sorai gembira kawanan.
Josh dan Pete bahkan berseru, "Hail Black!" dan memberi salam Nazi ketika akhirnya patroli malam selesai dan mereka dibubarkan.
Empat penyerangan yang terjadi dalam kurun waktu dua bulan membuat situasi menjadi sangat tegang. Kawanan mulai bertanya-tanya siapa berikutnya yang jadi korban, karena jelas kini serangan tidak hanya diarahkan pada para Triad seperti mereka kira sebelumnya. Jacob menjalankan patroli 24 jam, melipatgandakan shift anak-anak dalam seminggu, serta menekankan agar tidak ada anggota kawanan yang dibiarkan sendirian dalam patroli. Musuh mereka menyerang secara berkelompok dan sistematis, selalu memanfaatkan kesendirian dan kelengahan mereka. Anggota kelompok seringkali tidak konsentrasi selama patroli, memikirkan hal tetek bengek dalam kehidupan remaja mereka atau saling berdebat satu sama lain. Itu menyebabkan penjagaan mereka menurun. Jacob kini lebih tegas menindak anggotanya yang tertangkap basah melantur, dan tidak segan-segan menghukum dengan memberi tambahan shift. Namun kawanan tidak protes kali ini. Mereka juga sama tidak inginnya dengan sang Alfa, bahwa malam itu akan ada salah satu anggota yang jadi korban akibat kelalaian mereka sendiri.
Ketiga petinggi mereka, para Triad: Jacob, Seth, dan Embry, mulai melakukan sistem yang lebih terstruktur tidak hanya dalam jadwal patroli dan kedisiplinan kawanan, tetapi juga soal pelatihan sumber daya. Selama ini mereka selalu bertarung berdasarkan insting, seringkali membiarkan sisi rasional mereka terpinggirkan. Namun Seth mulai berpikir bahwa mereka harus menganalisa kekuatan dan kelemahan masing-masing anggota secara individual serta kekuatan dan kelemahan kawanan sebagai satu kesatuan. Akhirnya dengan dibantu tiga dari empat pejabat eselon tingkat tiga-tentunya yang tidak sedang terbaring dengan penyangga, yakni Quil, Brady, dan Adam-mereka mulai melatih teknik bertarung, terutama jika dikeroyok. Awalnya mereka menggerutu dengan sistem wajib militer ini, tetapi menyadari bahwa Sang Alfa sendiri pun takluk oleh teknik keroyokan para vampir, mau tak mau mereka terpaksa menjalankan sistem tersebut.
Seth juga menyarankan agar mereka mengadakan kontak dengan serigala-serigala misterius di hutan. Dengan adanya dua serigala yang memperlihatkan diri, jelas bergerak sebagai satu kesatuan, tanpa adanya kontak dengan mereka, Jacob mulai memikirkan keberadaan Alfa yang lain, yang belum menampakkan jati diri. Dengan demikian, ia menganggap kedua serigala tersebut sebagai bagian kawanan terpisah yang minimal memiliki tiga anggota. Tentu saja ia diam-diam berpikir tentang keterlibatan Sam, tepatnya Sam sebagai Alfa mereka, tetapi ia masih menyembunyikan kemungkinan yang hampir-pasti-merupakan-fakta ini dari anak buahnya.
.
.
Sementara itu pengawasan yang diperintahkan Sam dan nasib batalion werewolf masih belum jelas arahnya.
Jika memang ada werewolf lain di La Push, seharusnya ini saat yang tepat bagi mereka untuk berubah. Tentunya berat bagi dirinya sendiri untuk bahkan memikirkan itu. Tapi vampir tepat di hutan La Push, penyerangan, ancaman Volturi di depan mata, seharusnya itu menjadi pemicu yang cukup untuk tumbuhnya pasukan werewolf baru. Mungkin jumlah ancaman itu masih belum cukup besar dan seharusnya masih bisa ditangani oleh werewolf yang ada. Tapi itu membuatnya lebih bertanya-tanya lagi. Sebenarnya apa tujuan Sam mengawasi dan mengharapkan adanya mereka kalau begitu? Satu-satunya alasan hanya untuk bersiap-siap, melatih mereka bertempur sehingga mereka lebih berpengalaman nanti. Jika mereka baru muncul nanti ketika ancaman vampir atau Volturi di ambang pintu, mereka akan sama barunya dengan anggota lain ketika mereka berubah dulu, dan sama tidak terlatihnya. Itu berarti tujuan pengawasan akan sama sekali tidak berguna.
Kecuali, ya tentu saja ini terdengar sangat aneh, ia bisa membocorkan rahasia ini pada anak-anak yang tidak tahu-menahu itu dan mempersiapkan mereka akan masa depan sebelum hal itu terjadi.
Ia sendiri tertawa pada kemungkinan itu.
Itu akan sama bodohnya. Ia ingat dahulu ketika Billy dan Old Quil berusaha mempersiapkan dirinya dan Quil dengan menceritakan kisah-kisah legenda suku mereka. Ia malah menertawainya, tak sengaja menjadi ancaman yang merusak perjanjian malah, dengan menceritakannya pada orang luar.
Tapi Seth antusias dengan ide itu.
"Itu atau memaksa anak-anak itu berubah dengan mengekspos mereka pada pemicunya: vampir."
"Seth!" nada suara Jacob tidak percaya, dan memperingatkan.
"Ayolah, Jake... itu satu-satunya cara memicu perubahan pertama. Aku yakin bahkan Sam pun memikirkannya, ia hanya menunggu kita menyadarinya."
"Dan bagaimana teknisnya kau bisa mengekspos mereka secara langsung pada ancaman vampir tanpa beresiko membunuh mereka bahkan sebelum mereka berubah jadi serigala, tepatnya?"
Seth tampak berpikir.
"Mengundang vampir ke La Push untuk pesta koktail? Menaruh mereka di kerangkeng dan meletakkannya sebagai umpan di tengah hutan? Tunggu. Kedua itu sudah kita lakukan, secara teknis. Sudah empat serigala diserang di dalam teritori Quileute, tiga di teritori Cullen, dan tidak ada yang berubah. Pesta koktail yang menjemukan," sambung Jacob dengan nada mencela.
Seth diam.
"Tepat itu yang kumaksud," gumam Jacob tak jelas.
Tapi bukan Seth jika tidak langsung melompat pada ide lain. Ia hampir sama kreatifnya dengan Collin dalam urusan ini.
"Kita bisa mengekspos mereka pada hal lain. Amarah."
Jacob tidak percaya ia mendengarnya dari mulut Seth, anak paling manis dalam kawanan yang bahkan tidak bisa ditandingi oleh kemunculan anak-anak baru yang lebih muda. Dan ia lebih tidak percaya lagi mengetahui bahwa sebagian dari dirinya menyetujui ide itu.
Dan sekarang ia mulai menimbang-nimbang untuk menugaskan para pengawasnya di sekolah sebagai pemicu itu sendiri. Memberi mereka tugas yang paling buruk.
Oh, tidak... Seth akan menentangnya dalam hal ini, itu pasti. Dan Collin mungkin akan mengkudetanya. Sepupunya itu paling benci hal satu ini.
Ya, menjadi bully.
.
.
"Jadi..." ia masih merasa gemetar bahkan ketika akhirnya berhasil mengumpulkan semua keberanian, termasuk sisi jahatnya, untuk melakukannya. Ini bertentangan dengan hati nuraninya. "Semuanya tujuh orang yang cukup umur dan enam di antaranya bersekolah di sekolah yang sama dengan kalian," ia membuka catatannya.
Mereka berada di rumah Black, semua kecuali Quil yang masih di rumah sakit menunggui kakeknya, lagi, dalam pertemuan yang ia rasa akan mengubah total citra kawanan. Ini titik balik, yang buruk tepatnya. Ia berusaha berteriak bahwa ia melakukannya demi kebaikan, tetapi tetap saja batinnya sendiri tak percaya.
"Coraline Louise Gerrard-Black, 16. Serena Augustine St. Pierre, 21. Tannya Allistair Cameron, 18. Noah Isaac Peterson, 17. Kenneth Wilson Cameron, 16. Frida Antoina van der Brook, 16. Benjamin Clark Adamair, 15, " ia membaca tabel yang terasa bagai daftar kematian itu di depan anak buahnya yang memasang tampang jijik dan tak percaya.
Ia melipat kembali daftar, menghela napas berat.
"Itu tujuh nama dari enam belas orang yang kalian awasi selama ini. Dengan kata lain, calon angkatan baru kawanan. Kalian telah melakukan yang terbaik dalam pengawasan belakangan ini. Dan juga dalam patroli. Dan juga dalam latihan. Aku bangga pada kalian," katanya memulai pidato. Ia sudah melatih ini berulang kali sebelum kedatangan mereka. Tapi tampaknya pidato kecilnya tidak terlalu berhasil memukau mereka atau membuat keadaan menjadi lebih baik. Anggota kawanannya masih tegang, menunggu kelanjutannya. Ini takkan mengarah pada hal baik.
Ia melihat Seth membeku tepat di ujung matanya. Embry juga. Apapun yang akan dikatakannya, mereka tidak tahu-menahu. Ia tidak pernah berkonsultasi dengan mereka, bahkan tidak juga dengan para Tetua. Ini keputusan yang buruk dan ia akan menanggungnya tanpa melibatkan yang lain. Jika ia harus dibenci, maka hanya ia yang dibenci. Setidaknya kali ini ia harus berani.
Seperti Sam.
Ya, seperti Sam.
"Sekarang aku meminta kalian melakukan hal yang paling buruk," kata-kata itu bagai racun di lidahnya. Ia ingin menariknya, bilang ia hanya main-main, dan kabur segera dari tempat itu.
Ia meneguhkan diri dan membersihkan kerongkongannya.
"Aku ingin kalian mengganggu mereka."
Kawanan membeku.
"Mengganggu?" Ben bertanya, tidak yakin akan apa yang ia dengar atau apa yang ia tangkap dari kata itu.
"Tolong katakan apa yang dimaksud dengan mengganggu," Pete mengerutkan kening.
Jacob menarik napas, membersihkan kerongkongannya sekali. Berani, Jake...
"Apapun untuk membuat mereka marah. Kalian pasti mengerti, gunakan kreativitas kalian. Menekan mereka, mengompas uang jajan mereka, merobek-robek tugas mereka, menendang mereka ke jalanan, mengancam mereka..."
"Maksudmu mem-bully mereka?!" nada suara Collin melengking naik dua oktaf. Suaranya berdesir. Jika mereka dalam wujud serigala, Jacob yakin Collin akan menantangnya dengan menggunakan hak Alfa keduanya dalam hierarki pewaris.
"Tepat."
"Dan mengapa kawanan harus ikut mem-bully mereka?" mungkin tidak terdengar oleh anggota kawanan lain, tapi Jacob bisa menangkap dengung samar di suara Collin. Yep, ini dia. Kebangkitan anarki. Kudeta.
Dan yang protes bukan hanya Collin.
"Man, ada dua sepupu Jared di daftar itu!" Brady mendesah. Harry menggumamkan kata-kata yang sama.
"Dan adikmu juga!" Collin kembali memekik.
"Mem-bully Tannya? Dia itu yang mem-bully semua cewek di sekolah!" komplain Harry.
"Tidak... Noah akan membunuhku jika aku berani merobek-robek bukunya. Ia memukul teman sekelasnya sampai patah tulang hanya karena orang itu salah membelikannya roti keju dan bukan roti coklat kemarin!" Ben dengan tolol kelihatan ketakutan di kursi rodanya. Dengan segala perban yang masih membalut kedua kaki, tangan kiri, dan dadanya, ia kelihatan sama menyedihkan dengan mumi yang muncul di serial Scooby-Doo.
"Kenneth? Kau saja, Man, aku tidak mau lantas dihujat dan diserang gerombolan cewek pengagumnya itu..." Josh jelas-jelas merasa tidak pede.
"Benjamin sudah cukup di-bully selama ini dan aku pembela utamanya. Mengapa sekarang aku harus mem-bully dia juga?" Pete tampak stress.
"Sampai sekarang aku tidak mengerti apa urusannya Benjamin ada di daftar itu. Tidak peduli jika ia sepupu Jacob atau bukan! Ia kutu buku! Nerd! Ia bahkan tidak punya potongan untuk jadi serigala!" Josh tampak setuju dengan Pete.
"Kita tidak butuh dua Benjamin dalam kawanan… Dan yang satunya hampir tidak berguna. Bukan berarti yang satunya berguna juga, sih..." gumam Pete yang disambut pelototan Ben.
"Oh Tuhan, aku naksir Frida... Aku tidak mau membuatnya membenciku..." Clark ribut dengan dirinya sendiri.
Protes kawanan berkembang jadi dengungan yang membuat pening kepala.
"Diam!" teriak Jacob. "Kalian diperintahkan untuk mem-bully mereka dan kalian akan melakukannya. Aku tidak segan menurunkan Titah Alfa kalau aku perlu," ancamnya. Ia merasakan kepahitan dalam tiap katanya.
Jika kau mau menghentikanku sekarang, hentikan aku, Cole, Seth... bisik hatinya pelan pada diri sendiri. Gunakan hak kalian, klaim posisiku sekarang... Ubah arah kawanan sebelum mereka menjadi geng mafia.
"Mengapa?" tuntut Collin. Suaranya bergetar hebat.
"Untuk mengekspos mereka pada amarah," sangat tidak diduganya, kalimat itu tidak keluar dari mulutnya, tetapi dari Seth. Nadanya takzim, penuh pertimbangan. Jacob membeku. Ia tidak yakin pada pendengarannya. Dan kawanan juga. Seth membelanya?
"Mengekspos pada amarah?!" tuntut Collin lagi. Wajahnya makin merah.
"Kalian akan terpicu untuk berubah oleh amarah. Dan kita butuh anak-anak itu berubah dalam waktu dekat. Mereka harus dilatih, tidak berubah mendadak begitu ancaman di depan mata seperti kalian dulu," lanjut Seth, agak merenung, matanya menerawang. Tapi kemudian matanya beralih pada Jacob, pandangannya pasti. "Bukan begitu, Jake?"
"Kau dan Jake merencanakan ini?!" teriak Collin tidak percaya.
"Bukan. Hanya aku," jawab Jacob langsung. Jika sampai Collin meledak, ia harus memastikan Seth tidak tersentuh urusan ini. Semua akan menjadi tanggung jawabnya.
"Jangan main-main, Black!" Collin bangkit sekarang, maju ke muka, jelas-jelas menantang Jacob. "Apa kami terlihat seperti geng berandal nakal? Bully? Mafia? Anggota Triad? Hooligan? Calon pengedar narkoba?"
Apa hubungannya narkoba dengan semua ini?
"Aku menyuruhmu untuk mengganggu, membuat mereka marah. Bukan menjual pil pada mereka," tangkis Jacob kalem.
"Aku tidak mau dan tidak akan menjadi bully! Aku bukan kamu!" teriak Collin lagi. "Kau harus memaksakan Titah Alfa pada semua kawanan! Aku yakin tidak ada satupun dari mereka yang mau melakukannya!"
Dan kemudian apa kau akan berupaya bangkit untuk melihat apa kau bisa mengungguliku? Menggulingkanku? Membangkitkan darah Alfa-mu? Menggunakan pengaruh Alfa padaku? pikir Jacob.
Tidak. Bahkan jika ia bisa pun, kemungkinan Collin melawannya cukup kecil. Collin memang berdarah Black, tapi tetap saja ia bukan dari galur utama. Tingkatan Jacob tetap lebih tinggi secara sah dalam hierarki. Kedudukannya takkan terancam, bahkan jika Korra berubah jadi serigala sekalipun.
Yang membuatnya sedikit pedih. Tidak ada jalan kembali kalau begitu. Kata-katanya tetap menjadi hukum tertinggi.
Alfa bukan yang tertinggi dalam kawanan. Tapi suku. Loyalitas pada suku.
Entah mengapa suara Sam tiba-tiba melayang kembali di ingatannya.
"Aku akan memaksa jika aku harus, Cole... Kau tahu cara kerjanya," katanya akhirnya. Kejam.
"Jacob, dia adikmu sendiri! Kau takkan serius menyuruh kami mengganggu adikmu!" pekik Collin, kini bersikap subjektif.
Tentu saja bukannya Jacob tidak tahu alasan sebenarnya atas keberatan Collin di balik alasan yang ia utarakan. Dan itu yang membuatnya menggeram, menatap tajam bocah itu, merendahkan suaranya sendiri, agak mendesis, agak mengancam. "Ya, dan dia calon Alfa bagi-mu, Cole..." ia merasa mata Collin agak membeliak ketika ia mengatakan itu. Jelas bocah di depannya itu tampak agak ngeri dengan penekanan yang ia ucapkan. "Tapi tidak ada urusannya Korra Black bisa jadi Alfa jika ia tidak berubah! Jadi berhenti beralasan! Kau tahu bagaimana pendapatku soal perasaanmu pada adikku. Tapi hal itu aku kesampingkan sekarang. Aku tidak peduli! Masa bodoh soal perasaan tololmu, yang jelas kau harus membuatnya berubah! Dan itu final!"
Collin masih membelalak ketika akhirnya Jacob mengalihkan pandangan darinya, memandang anggota kawanan yang lain, berusaha mati-matian mempertahankan roman muka kejam.
"Tunggu Jake," Embry berusaha terdengar tenang, mencoba bernegosiasi. "Mungkin ada pilihan lain. Mungkin kita bisa mempertimbangkan..."
"Seperti apa? Menggiring mereka ke hadapan vampir? Memaksa mereka berubah dengan meletakkan taring vampir di leher mereka?" ia mengingat pembicaraannya dengan Seth tempo lalu. Dilihatnya Seth bergidik ngeri di tempatnya berada kini.
Bukan cuma Seth. Semua anggota kawanan bereaksi sama.
"Ancaman sudah di depan mata. Dan mereka belum berubah," ia mengeluarkan kerisauannya. "Sam takkan menugaskan kita untuk sesuatu yang tanpa tujuan seperti pengawasan."
"Jangan bawa-bawa Sam untuk hal ini, Black! Aku yakin ia takkan mungkin menyuruh kami jadi bully, bahkan demi tujuan baik sekalipun."
Collin memang anak buah Sam yang paling loyal.
"Ya, kau benar. Tapi coba tebak? Sam memberiku daftar dan menyatakan ingin membuat batalion werewolf. Kalau kalian ada ide untuk memaksa mereka berubah, selain ide konyol mengekspos mereka pada vampir, tolong katakan."
Collin menggeram.
"Kau tidak puas, Cole? Mau pindah kawanan kalau begitu? Atau mendirikan kawanan baru?"
Collin mendesis. "Seandainya aku bisa..."
Jacob tertawa. "Coba tebak? Kau bisa! Ada kawanan lain di luar sana! Dan aku yakin Sam pasti akan dengan senang hati menerimamu sebagai kaki tangannya. Kau yang selama ini begitu loyal..."
"Sam?" tanya Collin bingung, terperangah. "Apa urusan Sam dengan kawanan lain dan semua itu?"
Brengsek! Ia kelepasan!
Seth terlihat pucat di ujung matanya. Ini gawat, ia harus mencari cara kabur dari masalah ini.
Bagaimanapun ia Alpha-Five. Ia harus memastikan kawanan Wolf Rangers ini menjalankan apapun yang diperintahkan Zordon.
Siap, Zordon… Ayayayayayyyy….
Dan sebagai Alpha-Five, dia harus menekan tombol yang tepat. Satu tombol saja, untuk memastikan Ranger Merah keras kepala satu ini benar-benar melaksanakan tugasnya. Bagaimanapun tidak sukanya ia, bocah pembangkang di hadapannya inilah yang bertanggungjawab atas perubahan orang no.1, yang artinya paling mereka harapkan, di daftar Sam The Zordon.
Jacob menarik napas.
Tenang, rasional, dan pegang kendali, Jacob!
"Kau tahu apa, Cole... " katanya, berusaha mempertahankan roman muka kejam. "Kau pasti lebih senang dia sebagai atasanmu, kan?"
Collin selalu mudah diprediksi. "Benar," katanya, agak kesal. "Aku selalu lebih suka dia dibanding kamu. Kau menyebalkan, Black."
"Kalau begitu kau tetap harus melakukan ini. Kutekankan sekali lagi. Kertas ini," Jacob mengibaskan daftar nama itu di muka Collin, "datang dari Zordon… maksudku Sam," ia meralat buru-buru, melihat sebelah alis Collin naik. Ia harus memakai nama Sam sebagai senjata kalau berhadapan dengan Collin. Bocah itu takkan berani menentang Sam. Jika Sam menyuruhnya terjun ke bara api, dia akan melakukannya dengan senang hati. "Ia yang memintaku melakukan pengawasan suka atau tidak. Dan sejak kalian memilikiku sebagai Alfa, aku menempatkan Tetua sebagai atasan kita, jadi kita akan melaksanakan pekerjaan kotor apapun yang diperintahkan Sam."
Yup, tombol 'Sam'!
Kelihatannya memang tombol ini menimbulkan sedikit efek. Tidak hanya pada Collin, tapi juga pada seluruh kawanan. Dalam hati Jacob tertawa, agak pahit.
Wajah Collin tegang. Kelihatannya ia sedang berperang dengan dirinya sendiri. "Perintah Sam hanya pengawasan, bukan jadi bully..." katanya akhirnya, mengemukakan alasan yang sama. Jacob tidak menunggu kalimatnya selesai untuk menghardiknya.
"Kalau begitu kau harus dengar alasan Seth barusan!" Jacob sudah di ambang sabarnya. "Aku ingin kau mengganggu, membuat marah, terserah apa sebutanmu. Aku ingin kau memancing perubahan mereka. Entah bagaimana caranya. Aku bosan mengatakan ini seribu kali. Karena perintah pengawasan Sam takkan membawa kita ke mana-mana jika kita tidak bertindak!" katanya akhirnya yang membuat Collin diam.
Seluruh kawanan diam. Mereka mengerti alasannya, berusaha mencerna. Tapi hati nurani mereka menolak. Hati nurani Jacob juga menolak.
"Man, kita akan dikeluarkan dari sekolah sebelum anak-anak itu berubah..." gumam Harry pelan, tampak sangat menderita. Siapapun tahu bahwa di antara kawanan pemalas mereka, ia yang paling peduli dengan sekolah. "Dan beberapa anak di sini sudah kelas tiga..."
Jacob hanya tersenyum masam. "Resiko pekerjaan," katanya.
"Tidak bisakah kita minta tolong keluarga Cullen dalam hal ini?" tanya Embry, masih berusaha mencari alternatif lain. "Pertambahan populasi vampir di La Push sama dengan mengekspos mereka pada vampir, kan?"
"Cullen sudah tidak lagi jadi ancaman semenjak aku terikat pada salah satu di antara mereka, Embry," Jacob mengingatkan. "Dan kau tahu soal ini. Edward takkan membiarkan Bella dan Nessie terbunuh di La Push. Tidak jika kematianku menjadi penyebab kematian mereka."
Terdengar gumam dan seru tertahan pelan di antara kawanan. Jacob sudah merasa tak mungkin lagi berbalik. Ia harus mengatakannya. Hal ini toh bisa mengingatkan kawanan betapa genting keadaan mereka sekarang.
"Alice memprediksikan kematianku. Dan juga pertempuran besar di La Push. Karena itu, kita benar-benar harus menjalankan rencana ini. Kita harus menyiapkan batalion werewolf sesegera mungkin."
Apapun itu, dikeluarkan dari sekolah tampaknya adalah resiko ringan...
.
catatan:
penggunaan istilah dari Mighty Morphin Power Rangers ©1993-1996, SABAN ENTERTAINMENT
