THE ANOTHER BLACK
Discaimer: I do not own characters and backgrounds for this fanfic, all belong to Stephenie Meyer... Excluding Korra and few minors...
.
Catatan:
chapter ini menceritakan adegan sehari-hari di rumah keluarga Black. Bagian awal mengisahkan sedikit kejadian sebelum rapat kawanan di chapter 25. Sengaja aku taruh di sini supaya agak memberi gambaran lengkap (walau ngga) mengenai kekisruhan mood Jake hari itu. Bagian kedua menceritakan pertentangan kedua saudara dan kedudukan Billy (keberpihakannya, sebenarnya) dalam pertentangan itu, serta sedikit kemarahan sang ayah mengenai keputusan 'bully' anaknya
.
Dua puluh enam - Keluarga
Tuesday, January 8, 2012
09:10 AM
.
Bagaimana tepatnya ia harus memancing amarah adiknya, hanya itu yang memenuhi kepala Jacob sejak rapat kecil kawanan hari itu akhirnya selesai dan mereka bubar. Aneh sekali mengetahui bahwa ketika ia ingin berusaha membuat keadaan lebih baik di dalam keluarga mereka, keadaan justru bergerak ke arah sebaliknya. Dan kini ketika ia ingin merusaknya, justru ia tidak punya ide bagaimana melakukannya.
Korra masih belum pulang hingga petang nanti dari acara memancingnya bersama Billy, Sue, dan Charlie. Ia senang sekali ketika ayahnya mengajaknya memancing pagi itu, dan langsung berceloteh dengan riang mengenai pengalamannya memancing dengan berbagai jenis umpan dan teknik tradisional di berbagai belahan dunia. Entah mana yang benar dan mana yang khayalan, toh Jacob juga tidak benar-benar peduli.
Bagaimanapun ini hari Minggu. Dan karena Jacob sudah berencana mengadakan rapat kawanan di rumahnya pagi itu, ia senang mereka cepat pergi ke acara memancing atau piknik atau acara-keluarga-bersama-ayah-tercinta atau apapun itu. Ia bahkan tidak peduli jika hari itu Korra akan dan pasti memonopoli ayahnya, toh memang ia sendiri yang menolak ikut ketika mereka mengajak.
"Kenapa?" Korra bertanya dengan nada manisnya yang biasa ketika ia menyatakan penolakannya. Mereka sedang sarapan pagi itu, dengan Korra yang mendengungkan lagi-dan-lagi rencana memancingnya yang membuat Jacob pusing. "Pasti akan sangat menyenangkan! Aku akan membuat banyak sandwich! Dad bilang Sue akan membawabanyak kukis dan cupcake buatannya sendiri," rayu gadis itu sok imut sambil membulatkan matanya pagi itu."
"Maaf, Korra, tapi aku sudah janji dengan Embry dll. Kami ada sedikit, uhm, acara anak laki-laki dan sebagainya."
"'Acara anak laki-laki'?" Korra mengernyit. "Apa kalian akan menonton film biru dan pergi ke klub striptease?" tanyanya polos, namun dengan nada menyelidik yang membuat Billy tersedak.
"Jacob…" sang ayah memperingatkan.
Jacob melotot pada adiknya. Sulit dipercaya Korra akan mengatakan hal sebodoh itu tepat di hadapan ayahnya.
"Dad, kau tahu aku takkan melakukan hal seperti itu…" belanya. "Sungguh, ini cuma acara kumpul-kumpul biasa dengan Embry, Quil, Seth, dan anak-anak lain…" ia berusaha memberikan petunjuk pada ayahnya di hadapan Korra yang pastinya—walau ia tidak terlalu yakin—tidak tahu apa-apa. "Kau bahkan tidak perlu khawatir sofamu akan kotor atau tercabik-cabik…"
Yang benar saja! Film biru dan klub striptease? Huh, seandainya saja masa mudanya bisa se-'normal' itu… Film biru apa yang bisa ia tonton di hutan, memangnya? Episode kawinnya rusa? Disiarkan langsung, live, di depan matanya tanpa perlu memutar channel Animal Planet… Huh… Tetapi tentu saja ia mungkin akan ke klub stripping, secara teknis ia berada di antaranya selama hampir tujuh tahun, dengan anak-anak emosional yang tidak tahan jika tidak merobek bajunya sendiri minimal tiga kali dari sepuluh kesempatan berubah. Yeah, minus unsur 'teasing'-nya tentu.
Ya, berkat itu sekarang ia 22 dan coba tebak? Ia bahkan masih perjaka! Setelah Quil, ia pasti kandidat cowok berdarah panas paling bermoral di seluruh reservasi. Bukan, koreksi itu. Di seluruh Amerika Serikat! Cowok alim yang bisa mempertahankan kesuciannya selama mungkin. Ia bahkan bisa menyandang predikat Mr. World's Most Saintly Innocent Chaste Bachelor jika keluarga Cullen bertekad mengurung Renesmee di biara selama setidaknya 400 tahun sebelum mengizinkan mereka berdua bersama. Ya, tentu saja dengan tidak mengikutsertakan Mr. Edward Anthony Masen Cullen, bachelor teralim sepanjang sejarah, yang pastinya harus didiskualifikasi jika kontes semacam itu memang ada. Bukan hanya karena dia tidak berdarah panas, darahnya bahkan tidak mengalir, secara literal.
Dan dengan kemungkinan ia mati sebentar lagi, tampaknya ia akan mati dalam kondisi masih perjaka.
Diam-diam ia mengerang memikirkan kemungkinan itu.
"Oh…" gumam Billy sejurus kemudian. Jacob lega ayahnya mengerti sebelum pikirannya jadi makin liar, tidak terkendali, frustasi, dan tampak menyedihkan.
Tentu saja sang ayah harus mengerti. Memangnya berkat siapa ia harus memilih hutan, dan bukan sejenis klub malam, sebagai tempat nongkrong selama ini?
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalau begitu, heh?" kata ayahnya ringan, menepuk pundak anaknya.
"Ya Dad… Terima kasih atas pengertian dan kepercayaanmu…" gumam Jacob sinis.
Entah mengapa ia selalu berakhir dengan mood yang buruk setiap kali sarapan dengan keluarganya. Billy dan Korra. Atau Sam. Atau Tetua. Atau siapapun! Oh ya, ayahnya kan salah satu dari para Tetua 'yang-selalu-merusak-jam-sarapan-dengan pembicaraan-yang-entah-mengapa-selalu-membuat-emosi' itu…
"Dan terima kasih juga atas perhatianmu, Korra," ia menaikkan suaranya sedikit seraya mendelik pada adiknya.
Korra membuang muka dan tidak berkomentar, entah karena apa. Mungkin ia menyesal telah lagi-lagi merusak mood sarapan, walau Jacob agak meragukan ketepatan alasan ini. Yang lebih mungkin adalah ia kecewa karena ayahnya begitu mudah mempercayai kakaknya, cowok kepala dua yang jelas-jelas ada di puncak perayaan kematangan kejantanannya dan dengan demikian tidak bisa dipercaya. Jacob tidak mau tahu.
Mereka berdua menghindari pembicaraan satu sama lain sesudahnya, hanya menjawab jika Billy bertanya. Sesudah acara sarapan selesai, mereka sibuk masing-masing. Korra masih di dapur untuk membuat setumpuk sandwich. Billy ke gudang untuk menyiapkan peralatan memancingnya. Jacob sendiri menyibukkan diri dengan mencuci baju keluarganya yang sudah menumpuk seminggu dan mengkilapkan Rabbit kesayangannya. Dua kali.
Mereka pergi begitu Sue dan Charlie menjemput dengan truk biru baru yang mereka beli belum lama ini sebagai perayaan anniversary pertunangan mereka entah yang ke-berapa. Entah kapan mereka berniat benar-benar menikah dan Jacob tidak mau peduli juga. Sambil memaksakan senyum terbaiknya seindah mungkin, Jacob mengantar sampai pintu, melambai. Intinya memainkan peran sebagai anggota keluarga yang baik sesempurna mungkin.
Tentu saja, ia senang menikmati hari libur jauh dari Korra, berharap kawanannya akan member laporan baik mengenai kemajuan tugas mereka dua minggu ini. Mood-nya agak membaik dalam harapan itu.
Sebelum ternyata ia mendapati hasilnya jauh dari yang ia harapkan.
.
.
-adegan Chapter 25: Bully—
.
.
Sekali lagi harapannya mengkhianatinya.
Mood Jacob yang sejak pagi memang tidak terlalu baik akhirnya berubah menjadi benar-benar buruk setelah acara rapat menyedihkan itu. Tidak hanya ia mendapat laporan bahwa semua upaya kawanan berakhir dengan kegagalan yang menyedihkan, ia juga mendapati bahwa antusiasme kawanan soal bully itu sama sekali nol, dan bahkan kini mereka mempertanyakan kemampuannya sendiri untuk melakukan skema yang sama pada adiknya. Pastinya memang ia yang harus melakukan itu, karena Collin sama sekali tidak bisa diharapkan.
Billy dan Korra akhirnya pulang setelah malam tiba, dengan setumpuk ikan di kotak pendingin, ribut membicarakan pengalaman memancing yang bahkan jauh dari menegangkan untuk membuatnya antusias mendengarkan setiap patah katanya.
"… Dan aku mendapatkan ikan trout sebesar ini," Korra merentangkan tangannya, jelas membesar-besarkan pencapaiannya, "Tapi sewaktu aku menarik kailnya, ikan itu meronta-ronta. Kuat sekali, hingga aku tak bisa terus menahan kailku, dan akhirnya ikan itu kabur membawa kailku dan pancingannya sekalian…"
Jadi ujung-ujungnya dia menceritakan kegagalannya memancing? Sungguh mengecewakan dan sama sekali tidak sebanding dengan antusiasmenya di awal… Jacob berpikir dengan muram.
Tentu saja itu sama saja dengannya dan skema per-bully-an itu.
"Itu pasti menjadikannya trout berkumis pertama yang pernah ada!" seru Billy, tampak senang menanggapi putrinya. "Kalau nanti pancing itu menyangkut di suatu tempat, kau bisa melihat trout itu seperti layang-layang atau ikan yang ada di perayaan festival anak laki-laki di Jepang itu, mengapung di air dengan tetap tertambat di ujung kail…"
Jacob mendengus mendengarnya.
Ayolah, Dad… Mana ada trout sebodoh itu… Pastinya ia sudah berhasil meronta lepas dari kail pada detik anakmu Korra yang bodoh itu melepas pancingnya…
"Oh, maksudnya Kodomo no Hi? Aku pernah melihat festival itu! Menyenangkan! Koinobori sungguh pemandangan yang indah... Tapi yang mengapung itu koi, bukan trout…" seru Korra riang, menghentikan ceritanya dan meraih ponsel di sakunya.
Sedetik kemudian ia sibuk mengutak-atik Sony Ericsson yang sekarang sudah tidak diproduksi lagi itu, mengakses akun Facebooknya. Dan kemudian memperlihatkan foto itu. Dia dalam usia yang lebih muda, tertawa ceria di samping seorang perempuan berambut hitam. Di latar belakangnya, tampak ikan-ikan kertas yang mengambang bagai bendera dalam berbagai ukuran dan warna.
Billy meraih ponsel itu, menatapnya sesaat. Ekspresinya agak sendu sebelum mengembalikannya pada Korra.
"Cantik sekali, Nak…" hanya itu yang ia ucapkan.
Jujur saja, ekspresi Billy membuat Jacob penasaran. Ia menjulurkan tangan meminta ponsel Korra, yang diberikannya dengan tampang bingung, dan terpana melihat wajah itu sesaat untuk kemudian menggeram marah.
Tentu saja… Itu Ariana Gerrard, ibu Korra.
Entah apa yang dimaksud Billy dengan cantik. Korra, latar belakang pemandangannya, atau Ariana. Dan kemungkinan ketiga membuat Jacob kesal.
Huh, bahkan ibunya sendiri jauh, jauh, jauh lebih cantik.
Jujur ia tidak tahu apa alasan Billy berselingkuh, yang membuatnya mendapatkan gadis bodoh ini sebagai anaknya. Sarah Black jauh lebih cantik. Binar matanya lebih hidup, sepanjang ingatan Jacob yang singkat mengenai ibunya. Ia begitu ceria, tawanya begitu menawan. Selalu memasakkan Jacob kecil makanan-makanan istimewa yang bahkan tidak bisa ditandingi Emily. Mengajaknya ke pantai dan bermain perahu hingga sore tiba. Tangannya begitu lembut kala merawat Jacob sewaktu ia kena cacar air dulu. Dan suaranya begitu merdu. Setiap malam menjelang Jacob tidur, ibunya selalu menyanyikan nina bobo yang bahkan tidak bisa ditandingi suara denting lonceng Esme. Mungkin hanya kemerduan gemerisik dedaunan Nessie yang bisa menandingi keindahan suara ibunya.
Tapi ayahnya menggadaikan cinta ibunya—demi seorang Ariana?
.
Jacob tidak tahan lagi. Ia melempar ponsel Korra ke sofa dan bangkit.
"Hei!" protes Korra saat ponselnya jatuh. Untungnya memang tidak membentur benda keras—bahkan Jacob pun takkan begitu bodoh merusakkan ponsel adiknya di depan ayahnya. Bisa-bisa ia disuruh mengganti, padahal sudah jelas bulan ini ia tidak dapat gaji. Dan Korra agak pilih-pilih soal merek. Ia benci sekali ketika Sony Ericsson tutup dan bertekad tidak akan mengganti ponselnya seumur hidup.
"Jacob!" ayahnya memperingatkan. "Kau sudah 22. Jangan berkelakuan seperti anak umur 9 tahun!"
Oh ya, tentu saja ia berkelakuan seperti anak usia 9 tahun! Itu usianya ketika ibunya meninggal, dan kini ia sedang berkubang dalam kenangan mengenai ibunya!
Apa Billy mengingat ibunya ketika ia memutuskan membawa putri dari perempuan lain ke rumah ini?
Oh tidak, mungkin ia hanya memikirkan ingin punya kehidupan yang menyenangkan di hari tua. Atau memimpikan masa-masa indah bersama Ariana dan anaknya yang tidak pernah ia lalui. Dan menjadikan perkara Sam dan batalion bodohnya sebagai alasan.
Bukankah seharusnya Billy berusaha membuat Korra marah sekarang ini, dan bukannya dirinya?
"Maaf, Dad… Korra…" ia membungkuk memberi salam hormat dengan sinis, dan berbalik untuk menuju kamarnya.
"Jacob, ke sini!" perintah ayahnya. Nadanya tampak tidak senang.
Oh, bagus!
Ayolah, Dad… Apa kau mau menghukumku di depan adik tiriku? Aku sudah 22, demi Tuhan!
Tapi memang kelakuannya tidak mencerminkan usianya, kalau ia mau jujur.
Ia berbalik dan menghembuskan napas, agak kesal.
"Kau harus belajar lebih hormat pada orang lain, Jacob!" omel ayahnya. Di belakangnya, Korra tampak senang dan mulai menjulurkan lidah seperti setan cilik umur 6 tahun. "Aku tidak mendidikmu untuk bersikap seperti ini. Ini bukan cuma masalah kau melempar barang yang belum tentu bisa kaugantikan dengan uang tabunganmu yang saldonya hampir nol. Ini masalah penghormatanmu pada sesuatu yang dianggap penting oleh orang lain. Itu foto yang berharga untuk Korra. Kenangan yang berharga untuknya."
Oh, benarkah? Kenangan yang berharga untuk Korra atau untuk-mu, Orang Tua?
Tapi Jacob merasa tak ada gunanya ribut dengan ayahnya hanya karena urusan sepele soal foto, sebagaimanapun ia merasa berat tentang ibunya. Jadi ia hanya membungkuk lagi, dan berkata, "Maaf, Dad… Aku menyesal… Maaf, Korra… Jadi boleh aku ke kamar sekarang?"
Ia baru akan berbalik ketika ayahnya mendesah, dan kemudian menekannya, "Tidak secepat itu, Anak Muda…"
Jacob memandang ayahnya dengan tampang putus asa.
"Aku tahu kalian dua bersaudara masih belum bisa membentuk ikatan yang seharusnya. Mungkin ini kesalahanku juga. Jadi aku merencanakan sebuah acara kemping. Bertiga. Supaya kita bisa bersama seperti keluarga."
Baik Korra maupun Jacob langsung berteriak tak setuju.
"Kemping?!"
"Bersama si bocah cilik sok imut menyebalkan pemancing-amarah ini?!"
"Bersama cowok penggerutu pemarah yang tidak bisa tersenyum ini?!"
"Dad!" mereka protes bersamaan.
Ayahnya menarik napas berat, jelas menahan kekesalannya.
"Kalian berdua harus belajar bertindak sesuai usia kalian. Jacob, kau sudah 22 dan tidak seharusnya bersikap seperti bocah kecil pencemburu. Apa salahnya bersikap manis pada adikmu, ia jelas berusaha keras menjadi bagian keluarga kita. Dan kau Korra, kumohon beri kesempatan pada kakakmu. Ia menghadapi hal berat belakangan ini."
Tentu saja ia mengalami hal berat. Tapi yang terberat memang ini. Bocah kecil mengerikan.
"Tapi Dad," Korra merajuk. "Kau tahu aku selalu memberi kesempatan… Aku tahu Jake benci aku. Tentu saja siapa aku dan latar belakangku pasti berat baginya. Dan aku tidak pernah marah padanya…"
Jacob mendelik.
"Seolah aku pernah benar-benar marah padamu saja!" bentaknya.
"Kau memang tidak marah secara langsung tapi aku tahu kau marah! Sejak awal! Lari pada hari pertama aku datang ke sini! Selalu memasang tampang menyebalkan di depanku! Aku berusaha sabar, Jake!"
"Kaupikir kamu yang berusaha sabar! Aku yang berusaha sabar menghadapimu!"
"Aku berusaha menjadi adik yang baik! Aku berusaha keras agar kau menerimaku!"
Jacob kini memandang tajam adiknya, jelas sangat marah.
"Oh ya? Katakan apa yang kaucoba agar aku bisa menerimamu! Berusaha memikat Dad? Pura-pura jadi Daddy's Prissy Little Princess? Kaupikir aku tidak tahu apa yang kaulakukan di luar!"
"Kaupikir aku juga tidak tahu apa yang kaulakukan di luar! Kau mau aku mengatakannya pada Dad?"
"Oh ya, coba saja! Dan kalau kaupikir aku takkan mengadukan pada Dad apa yang kaulakukan…"
"Hentikan!" teriak Billy. Ia agak membentak ketika mengucapkan, "Coba katakan: hal buruk apa yang kalian lakukan?"
Mereka berteriak pada saat yang bersamaan, saling menuding.
"Dia mabal sekolah!"
"Dia pengedar narkoba!"
Dan kemudian keduanya saling memandang tajam, menggeram marah.
"Kau tahu aku tidak menjual narkoba, Korra…" desis Jacob.
"Kaupikir aku tidak tahu apa yang kaulakukan? Aku sudah sering lihat yang seperti itu, tahu!"
"Dan apa yang kaulihat memangnya? Kapan kaulihat aku sakaw?"
Oh yeah, seolah-olah aku bisa saja sakaw…
Korra tetap bersikukuh. "Pengedar narkoba tidak pernah teler! Mereka hanya menjual! Memaksa anak-anak!"
"Oh yeah? Kapan kaulihat aku menjual narkoba pada anak-anak?"
"Memangnya aku tidak tahu apa yang kaulakukan di sekolahku? Dan kau kepala geng anak berandal yang mem-bully anak-anak…"
"Jacob!" seru Billy, menghentikan perdebatan kecil kedua anaknya yang mulai tidak jelas arahnya. "Apa benar yang dikatakan Korra? Kau menjual narkoba dan mem-bully?"
Jacob mengerang, agak menggeram. "Tentu tidak Dad! Kau tahu apa yang kulakukan, ini urusan…" ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini di depan Tetua tanpa membocorkan apapun di depan adiknya, entah Korra calon serigala atau bukan, "kau tahu… Collin dkk."
Tapi adiknya salah tangkap. "Kau menjual narkoba pada Collin?!"
"Aku tidak menjual narkoba, anak bodoh!"
"Lalu kenapa kau tidak bisa menjelaskan?"
Jacob terdiam.
"Oh ya!" Korra terdengar senang karena merasa menang. "Kau lihat itu, Dad! Ia mengaku! Ia memang menjual narkoba!"
Rasanya Jacob ingin benar-benar menghancur-lumatkan bocah ini sebelum si tukang ngadu, tepatnya tukang fitnah, mengerikan itu bisa benar-benar berubah jadi serigala.
Hah! Tunggu saja hingga kau berubah, akan kusiksa kau di kawanan! Akan kubuat hari-harimu menderita! Kuperintahkan kau lari 48 jam non-stop hingga kau mengerang minta ampun! Bagaimanapun kau di bawah kakiku nanti!
Dirinya sendiri agak terhentak oleh pikiran yang tiba-tiba melintas di kepalanya itu.
Tapi ayahnya kelihatannya agak mengerti apa yang Jacob maksud, karena kemudian ia berujar, agak tenang, tetapi tetap tajam, "Apa ini urusan teman-temanmu, Jake?"
Jacob mendesah, mengangguk.
"Kau menjual narkoba pada kawanan?!" suara Billy naik satu oktaf.
Jacob melongo. Ayahnya serius mengira seperti itu?
"Dad, yang benar saja! Kau tahu mereka bahkan tidak mungkin bisa teler! Untuk apa aku menjual narkoba pada mereka!" tak sengaja mungkin ia kelepasan bicara sesuatu yang tidak seharusnya ia lontarkan di depan Korra. Ia merasa tatapan ayahnya makin menusuk.
"Dia tidak cuma pengedar, Dad! Dia juga mem-bully anak-anak!" tuduh Korra lagi.
"Mem-bully? Kapan aku mem-bully?"
Tentu saja jawabannya 'sering'. Collin selalu mengatainya bully. Dan Korra memang sahabat si badung. Apa mungkin Collin bercerita pada Korra hal jelek-jelek tentangnya di hadapan sang adik?
Tapi tampaknya tuduhan Korra adalah buah dari kesimpulannya sendiri.
"Kau pemimpin geng bully! Aku tahu! Anak-anak cowok bodoh berotot, teman-teman Jake," ia menekankan pada kata 'teman-teman Jake', yang membuat sang ayah memicing tidak senang, "beberapa hari lalu mengganggu anak pendiam dan nerd teman sekelasku, Benjamin Adamair. Tiga cowok kekar tinggi besar memojokkan satu cowok lemah yang bahkan tidak bisa sprint 100 meter tanpa pingsan sesudahnya! Aku sendiri sampai repot berusaha menarik Ben dari situ! Dan aku sempat memergoki mereka, mendengar dengan telingaku sendiri, mereka berbisik-bisik bilang itu perintah Jacob Black!"
Jacob membelalak. Jadi ini maksudnya, Korra tidak bisa diganggu. Selain urusan auranya berkilauan, adiknya sendiri merupakan penghalang utama anak buahnya sehingga mereka gagal memenuhi target rekruitmen.
"Kau mencoba bersikap sok pahlawan di sekolah?" ia mendesis.
"Itu seharusnya! Tunggu saja sampai aku sendiri yang meremukkan jari-jari anak buahmu kalau mereka berani-beraninya menyentuh Ben lagi!"
"Oh ya? Memangnya kau bisa apa?" tantang Jacob.
"Aku bisa mematahkan tangan mereka kalau aku mau, Jake!"
"Aku tidak percaya…"
"Oh ya? Memangnya kalau aku bisa kau mau apa?"
"Dengar ya! Mereka akan mematahkanmu tubuhmu jadi serpihan sebelum kau menyentuh mereka!" ancam Jacob.
"Aku tidak takut!" tantang Korra balik.
"Oh, kau anjing kecil menyebalkan…" Jacob menggeram gemas.
"Kau berani sebut aku anjing?!"
"Aku akan sebut dirimu dengan sebutan apapun yang aku mau, Miss Prissy!"
"Kau mau apa sebenarnya, heh, Grumpy?"
Jacob melotot. Apa sebenarnya mau adiknya, adu ejekan?
"Terserah! Yang jelas jauhkan tanganmu dari urusanku!"
"Urusanmu jadi urusanku kalau kau menyentuh temanku, Jake!"
Jacob menajamkan pandangan matanya, mendekatkan mukanya ke muka Korra, memandang penuh ancaman. "Dengar! Kau tidak akan jadi penghalang utamaku!"
"Oh ya? Apa salahku memangnya?" Korra berteriak melengking, bersikap defensif. "Kau memang mem-bully anak-anak kan?!"
"Cukup!" teriak Billy lagi. Pandangannya kini diarahkan pada Jacob, hanya pada Jacob. "Apa benar yang dikatakan adikmu, kau menyuruh kawanan mem-bully Ben?"
"Dad…" Jacob mengerang frustasi. "Itu bagian dari prosedur!"
"Tuh! Dengar sendiri kan, Dad? Dia mengakuinya!" tuding Korra tak mau kalah.
"Diam dulu, Korra! Aku bertanya pada kakakmu," dan ia kembali menatap tajam putranya. "Apa benar kau menyuruh kawanan memojokkan Benjamin Adamair, sepupumu sendiri? Keponakanku? Putra adikku Emmie?"
Wajah Korra siratan antara keterkejutan dan kengerian. Jelas selama ini ia tidak tahu bahwa cowok nerd yang dilindunginya itu adalah saudara dekatnya. Sepupu Collin juga.
Dan tentu saja: keponakan berharga Billy. Yang rela ditukarnya dengan anaknya sendiri, yang manapun. Apalagi dengan Jacob.
"Kau memerintahkan per-bully-an atas sepupumu, sepupu kita sendiri?!" desis Korra tak percaya.
Jacob kembali mengerang.
"Jacob!" ayahnya membentak. "Jawab aku! Apa benar kau mengubah kawanan jadi gerombolan pengedar narkoba dan bully?"
"Dad, ini bukan seperti kelihatannya… Aku bisa menjelaskan…" ia memohon, merana.
"Oh, coba saja jelaskan, Jake…" di sisinya adiknya mendesis, tampak jijik.
"Jawab aku, Jake!" perintah ayahnya lagi.
"Dad, aku bisa menjelaskannya… Aku akan menjelaskannya… Tapi tidak di sini…"
Ayahnya mendesah. "Oke. Aku minta keteranganmu besok. Lengkap. Pagi-pagi sekali. Jam 7. Di tempat Sam." Ini bukan lagi ayahnya. Ini sang Tetua William Black.
Oh, brengsek!
"Dad, kumohon jangan Sam…" rintihnya menderita.
"Sam akan mendengar ini, Jake! Aku, kami tidak akan membiarkan jika kawanan berubah arah tanpa sepengetahuan kami!"
"Sam akan setuju denganku… Ia yang memerintahkan…" dan ia berhenti ketika menyadari bahwa di sisinya masih ada Korra, yang memicing padanya dengan tatapan menyelidiki.
"Memerintahkan apa?" ayahnya menuntut. "Aku tahu Sam tidak menyuruhmu mem-bully anak-anak…"
Oh, bagus!
Billy menekur sejenak, lalu katanya, "Apa Seth tahu soal ini?"
Adiknya terdengar mengeluarkan pekik tertahan ketika Billy menyebut nama Seth. Tentu saja, pikir Jacob. Pacar rahasia berhargamu itu juga ikut andil soal ini.
Agak menyengajakan, ia menjawab, "Ya…"
Itu hanya membuat Billy makin membelalak marah. "Kalau begitu aku minta kehadiran kau, Seth, Embry, dan Collin besok!"
Collin? Ini gawat!
"Dad, kenapa harus Collin?" ia menggugat.
"Karena aku butuh saksi! Dan kalau benar kau bersalah dan dua orang itu terlibat, aku bisa memerintahkan penggantianmu!"
Apa? Penggantian?
"Dad! Kau ingin menggantikanku dengan Collin Littlesea?!"
"Kalau aku harus!" ancam ayahnya.
Oke, ia memang agak memprediksikan hal ini. Kebijakan bully memang payah dan mungkin ada pihak-pihak yang akan menggugat keputusan tersebut. Dan sejujurnya ia tak terlalu keberatan jika memang kawanan menginginkannya. Pada dasarnya memang Collin memiliki hak, yang mungkin tidak sama besar, tapi memang ia berhak. Meski begitu, ancaman penggantian sebagai hukuman dari ayahnya sendiri karena ulah si badung kecil Korra Black adalah hal yang sama sekali tidak diprediksikannya. Dan terus terang ia keberatan, karenanya.
"Itu tidak mungkin, Dad! Kau tidak bisa melakukan itu! Kau tidak berhak!"
"Kita akan lihat aku berhak danbisa melakukan itu atau tidak besok!"
Jacob menggeram, memelototi ayahnya.
"Kau tidak menggeram dan memelototiku di rumahku sendiri, Jacob!" ayahnya makin marah. "Detensi sekarang! Seminggu dan kau tidak boleh keluar tanpa sepengetahuanku! Bahkan tidak untuk urusan kawanan!"
"Dad!" anaknya memprotes.
"Kau dengar aku, Jacob Black!"
"Kau tidak bisa menghukumku, Dad! Aku sudah 22!"
"Cukup! Ini rumahku dan di rumahku, kata-kataku adalah hukum!" seru Billy. Dan anaknya diam, tidak bisa bicara lagi. Ia bahkan tidak berani menggugat atau memelototi ayahnya lagi. Bahkan tanpa mempertanyakan keberanian ayahnya menyinggung masalah kawanan, meski tidak benar-benar terbuka, di hadapan sang adik. Di sisinya Korra secara terbuka menyunggingkan senyum puas, namun kembali menunduk ketika sadar ayahnya memelototinya juga.
Jacob akhirnya tahu dari mana ia mendapatkan bakat Alfa-nya.
.
Billy mendesah, tampak sangat-sangat-sangat tersiksa.
"Dan acara kemping kita tetap jadi…"
Kali ini tiada satu pun anaknya yang berani memprotes.
