THE ANOTHER BLACK
Discaimer: I do not own characters and backgrounds for this fanfic, all belong to Stephenie Meyer... Excluding Korra and few minors...
.
Catatan:
maaf, adegan Sidang Jacob tidak diceritakan... Adegan ini berlangsung sehari setelah sidang Jacob. Mengenai usaha kedua sahabatnya untuk menghibur Jake yang sedang kena tahanan rumah
.
Dua puluh tujuh - Sahabat
Monday, January 14, 2013
4:12 AM
.
Tidak ada yang lebih menghibur Embry, dan tentu saja membahagiakan Quil, selain kenyataan bahwa sahabat mereka, tidak lain tidak bukan The Almighty Alfa, Jacob Black The Great, mendapat hukuman kurungan rumah selama seminggu karena memelototi ayahnya.
"Tidak lucu sama sekali, Quil!" sentak Jacob ketika sahabatnya itu lagi-lagi berguling-guling di lantai, saking gelinya hingga tidak bisa bersuara, setelah mendengar berita itu langsung dari mulut Jacob sendiri.
"Maaf," cericit Quil, ketika ia akhirnya bisa bersuara karena nafasnya jelas habis oleh sesi tawa-hingga-berguling-guling itu. Tapi ia tak bisa menahan diri lagi, dan kembali tertawa. Jacob sampai benar-benar harus menahan diri untuk tidak menurunkan Titah Alfa menyuruhnya diam.
Namun Embry bersikap lebih bijaksana. Walau jelas berusaha keras menahan tawa, ia berhasil menempatkan diri di posisi Jake, berusaha bersimpati, dan kini sedang menepuk-nepuk pundak sahabatnya, memintanya tenang.
"Tidak apa-apa, Jake… Kalau Billy bersikeras kau tidak boleh keluar bahkan untuk urusan kawanan, kau kan masih punya kami… Seth juga bisa menggantikan tugasmu mengawasi patroli anak-anak… Kami bertiga bisa menggilir pasangan untuk mengawasi wilayah Cullen dan Quileute, seperti waktu kau koma…"
"Tapi itu membuatku frustasi!" teriak Jacob, menggerung.
"Mungkin kalau kau bersikap baik, Billy akan meringankan hukumanmu…" kata Embry lagi.
"Masalahnya definisi bersikap baik menurut Billy adalah bersikap manis di depan Korra!"
"Lalu apa masalahnya?"
"Masalahnya dia itu setan licik mengerikan!"
Dan Jacob memang punya seribu satu alasan untuk makin merasa kesal dengan gadis itu. Sesudah aduan, atau lebih tepatnya fitnah tidak jelas Korra bahwa dirinya membuat kawanan menjadi pengedar narkoba dan bully, esoknya para Triad plus Collin terpaksa menghadiri Rapat Dewan pagi-pagi sekali. Seth dan Embry baru pulang patroli dan mereka masih sangat mengantuk untuk bisa benar-benar membelanya. Sedangkan Collin, tentu saja, dengan sigap menentang soal rencana bully itu, yang memang menjadi tuduhan utama yang dialamatkan padanya.
"Kalian takkan percaya ini… Dia mengataiku bully, oke… Masalahnya dia memfitnahku pengedar narkoba! Bayangkan!"
"Itu konyol, Jake… Memangnya siapa yang akan percaya?" Quil berhenti tertawa dan bergabung bersama Embry di sisi Jacob di sofa.
"Itu dia! Embry ada di sana! Tanya dia! Ia lihat sendiri! Billy percaya!"
Tentu saja Sam tidak menganggap berat tuduhan gembong narkoba itu, dan berhasil meyakinkan Billy dan Sue, dengan kesaksian dan sumpah mati ketiga anggota kawanan tentu, bahwa apapun yang dilakukan kawanan, tidak mungkin mereka menghisap ganja di hutan karena itu bahkan tidak ada gunanya. Dan mengedarkan pil? Track record mereka dalam membasmi peredaran narkoba di La Push, atas contoh Sam dulu, sudah cukup menjadi saksi.
Tapi masalah bully, itu lain lagi.
Meski Sam jelas tidak keberatan, bahkan terang-terangan memuji kebijakan itu, Billy dan Sue menganggap sistem perekrutan mereka menyalahi aturan moral. Mengulang kata-kata Collin, mereka menegaskan bahwa mereka tidak ingin kawanan menjadi semacam geng mafia, dan menyimpulkan bahwa lebih baik usaha perekrutan ditunda dulu sebelum mereka menemukan cara lain yang lebih bermoral. Hal ini membuat Sam mati-matian memutar otak mengutarakan seribu satu alasan mendukungnya, seolah-olah memang ia sendiri yang memunculkan ide itu, tetapi tetap saja ia kalah jumlah. 1 banding 2.
Huh, bermoral? Memangnya sejak kapan berubah jadi binatang terikat pada aturan-aturan moral?
Billy, mengabaikan dengung protes Sue dan Sam, jelas mempertimbangkan penggantian Jacob. Namun baik Seth, Embry, maupun Collin menolak untuk naik pangkat, sehingga kedudukan Alfanya tetap tidak terusik. Karena calon kuatnya belum berubah, tidak ada jalan lain selain membiarkannya tetap jadi Alfa.
Huh! Yang benar saja!
Memangnya sejak kapan para Tetua berhak dan bisa ikut campur dalam urusan suksesi kawanan? Posisi Alfa tidak pernah ditentukan melalui pemilihan, itu adalah hak lahir. Dan ini jelas, kecuali jika Jacob memerintahkan orang lain menggantikannya atau ia mati, ia akan tetap bertengger di posisi puncak. Bahkan jika Korra Black berubah.
Akhirnya sidang berakhir dengan vonis ia bersalah. Namun hukumannya hanya bahwa dirinya harus melapor pada Sam tentang keputusan apapun menyangkut kawanan, dan mencabut kebijakan bully. Meski demikian, setelah sidang itu berakhir, Sam diam-diam mendekati Jacob, menyatakan dukungannya dan janjinya mencari cara agar para Tetua mengubah keputusan mereka. Mengatakan bahwa ia mendukung sistem itu, dan berkeinginan melihat hasilnya dalam beberapa bulan ke depan.
Artinya Sam menginginkan Jacob tetap menjalankan rekruitmen walau secara diam-diam.
Dasar Sam! bukan hanya Jacob yang berpikir begitu.
"Aku tidak mengerti kenapa justru Billy yang paling menginginkan aku turun. Maksudku, dia ayahku!" teriak Jacob, masih frustasi karena sidang hari sebelumnya.
"Mungkin ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia tetap bersikap adil, Man… Itu sindrom biasa pada pengambilan keputusan jika yang terlibat adalah orang yang memiliki hubungan darah. Ia justru akan lebih keras padamu ketimbang, misalnya, aku menjadi Alfa…" kata Embry.
Jacob mengerang menyadari bahwa Embry mungkin benar.
"Tapi Billy jelas memihak! Dia tidak bersikap adil dalam hal ini! Dia memihak Korra," gerutu Jacob yang membuat Embry mendesah.
Bukan keprihatinannya, tapi rasa putus asanya yang membuat Embry berkata, "Mungkin ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Korra, kau tahu… Masa-masa yang hilang… Mungkin itu yang membuatnya bersikap terlalu lembek…"
Ugh!
Jacob mendengus, melempar tubuhnya ke sandaran sofa.
"Mengapa aku harus punya adik dia?" keluhnya. "Aku jelas lebih senang kalau kau jadi saudaraku, Em…"
Embry terkekeh. "Maaf, Man… Bukan maksudku menolak, tapi aku lebih senang tidak menjadi saudaramu…"
"Yeah," Jacob berguling di sofanya. "Lagipula kalau kau memang saudaraku, pastinya sekarang ini kau Alfa, bukan aku. Dan mungkin Billy takkan susah-susah mengundang Korra si Biang Masalah ke sini kalau dia cuma ingin penggantiku."
"Nah, itu dia maksudku!" seru Embry riang.
"Yeah…" Quil menimpali. "Lagipula nama 'Embry Black' tidak terlalu bagus. Tidak terlalu menjual di mata cewek…"
"Seolah nama 'Embry Call' menjual…" dengus Jacob.
Tanpa sadar ia terseret dalam canda kedua sahabatnya. Ini menyenangkannya punya sahabat Quil dan Embry. Mereka tahu bagaimana cara membuat segalanya kembali normal. Entah bagaimana, kekesalannya pun perlahan lenyap.
"Itu menjual!" tangkis Embry, dan dengan santainya mulai bergosip sambil meraup kacang di toples Billy. "Kalian tahu Karen Colloughby, cewek teman kerjaku di konter cenderamata, sudah beberapa kali ini mengajakku kencan?"
"Bohong!" teriak keduanya.
Embry tampak agak terluka dengan ketidakpercayaan kedua sahabatnya. "Ia terus terang bilang aku tampan, manis, dan lain sebagainya! Dan mengajakku menemaninya belanja!"
Quil terkikik sampai tercekik. "Ia bilang apa?" katanya di sela-sela tawanya.
"Tampan, manis, senyumku menawan…" Embry agak menerawang. Mungkin membayangkan bagaimana pandangan cewek-cewek terhadap dirinya sendiri. Agak narsis, memang…
Quil tampak susah payah menahan diri untuk tidak muntah.
"Itu sulit disebut ia benar-benar naksir, Em! Apalagi mengajakmu menemaninya belanja…"
"Ya!" Jacob ikut nimbrung. "Cuma ada dua alasan cewek mengajak cowok belanja…"
"No.1, minta dibayari…" sambut Quil.
"Dan no.2, ia menganggap cowok itu gay…" sambung Jacob sambil tertawa sebelum tos dengan Quil.
"Diamond maybe not the girl's best friend, but gay guy is…" Quil menambahkan quote yang entah ia cuplik dari film drama komedi-romantis mana. Agak tumben ia nonton film drama, sebenarnya, karena setahu Jacob ia cuma nonton film animasi pendidikan dan film fantasi rating Bimbingan Orangtua bersama Claire. Mungkin setelah Claire pergi dan tidak ada yang bisa diajak nonton selain Embry dan para Gossipers, ia jadi ketularan.
Sahabat mereka merengut. "Hentikan! Ia menembakku, tahu!" katanya pongah.
Rahang kedua sahabatnya turun lima senti. "Yang benar?!" ujar keduanya bersamaan, hampir berteriak.
Embry mengangguk, agak terlihat bangga.
"Lalu kauterima?"
Ia tampak ragu sejenak, lalu katanya, "Tidak…"
"Mengapa?" Jacob mengernyit.
"Memangnya ia jelek?" tanya Quil sok polos.
"Tidak. Sangat cantik malah. Manis, kalau kubilang." Ia tidak perlu mendeskripsikan kelanjutannya, karena baik Jacob maupun Quil tahu tipe standar cewek yang kerja di konter-konter sepanjang pantai, walau tidak tahu yang mana Karen Colloughby. Tinggi, ramping, kaki panjang dengan betis bagai lilin dituang, kulit coklat sempurna, rambut hitam panjang...
"Bodoh?" usul Jacob.
"Tidak, kok. Dia cukup smart."
"Tidak stylish?" Quil menyumbang ide.
"Aku tidak peduli dia stylish atau tidak."
"Tidak cukup seksi?"
"Jacob! Memangnya kaupikir aku tipe cowok seperti itu?" Embry melotot.
"Lalu kenapa?"
Embry tampak menimbang-nimbang sesaat. "Yeah, kau tahu…"
Ya, Jacob dan Quil tahu. Cuma ada satu alasannya.
Imprint bodoh…
Embry sama saja seperti cowok-cowok lain dalam kawanan mereka. Terhipnotis oleh segala takhyul soal 'imprint', 'belahan jiwa', dan lain sebagainya. Menunggu datangnya sang cinta sejati. Persis cewek umur 14 tahun. Jacob pikir semua ide romantis itu sudah berakhir dengan ketiadaan imprint baru selama sekitar empat tahun, dan anak-anak yunior mulai mencoba peruntungan mereka di tempat lain dengan berkencan secara normal. Yah, setidaknya Josh dan Brady mencoba mendekati cewek dan pacaran, walau selalu putus. Josh kelihatan tidak peduli dengan predikatnya sebagai 'womanizer', sebenarnya, tapi Brady tampak kebalikannya. Ia terlalu terguncang setelah cintanya kandas beberapa bulan silam, dan tidak pernah mendekati cewek lagi sejak itu. Namun semenjak Clark dan Caleb mendapatkan imprint mereka baru-baru ini, tampaknya harapan romantis itu kembali mekar di benak kawanan.
"Dasar Damsel in Distress…" ejek Jacob, yang disambut cekikikan Quil.
"Sudahlah, Em… Jangan menunggu. Kau bisa mati perjaka, tahu!" kata Quil di sela-sela tawanya.
Pemuda itu melotot dan menggerutu, "Seolah kalian tidak…"
"Aku sudah punya Nessie!" tukas Jacob. Pada saat yang sama Quil menggerutu pelan, "Aku sudah punya Claire!"
"Ya. Ness pastinya akan dikurung Edward di menara tinggi suatu biara selama 400 tahun sebelum diizinkan menikah denganmu. Kau sendiri kan yang bilang begitu?"
Quil kembali cekikikan.
"Dan kau juga Quil… Bagaimana jika setelah kau menunggu belasan tahun, Claire tahu-tahu jatuh cinta sama cowok lain yang seumuran dengannya? Sekarang pun ia sudah digerek orangtuanya jauh darimu. Tak dinyana lagi mereka pasti sudah mengendus niat pedofilmu."
Kali ini Jacob yang terkekeh.
Quil, kebalikannya, tampak benar-benar kesal.
"Sudahlah Em! Kau tidak tahu yang namanya imprint! Kalau suatu hari kau mengimprint nenek-nenek, atau bahkan lintah, aku takkan ada di belakangmu!"
"Wah, kau mengancam, Quil?"
"Untuk apa aku mengancammu?" balas Quil santai. "Lihat saja siapa yang jadi imprint Embry nanti... Toh yang namanya imprint tidak selalu normal. Seringkali jadi skandal, malah..."
Rupanya ia sendiri mengakui kasusnya merupakan skandal. Dalam hati Jacob terkekeh.
"Enak saja!" tukas Embry. "Belakangan ini tidak begitu kok. Clark jelas mulus-mulus saja. Dan Caleb juga, setelah imprint itu otomatis dia masuk ke dalam lingkaran elite dokter. Ayahnya Serena senang sekali anaknya pacaran dengan anak Quileute, orang yang ia akui kemampuannya pula, dan Caleb langsung ditawari beasiswa yang dia incar. Mungkin tujuh atau delapan tahun lagi kita akan punya dr. Caleb Lahote di La Push."
Quil tampak mengumpat.
"Dan aku stuck sebagai agen asuransi," ia menerawang muram. "Seharusnya aku seperti Seth, kerja di depan laptop, diam-diam dapat duit banyak..." Tapi sedetik kemudian ia menggeleng keras-keras. "Tapi tidak, kalau aku ikut-ikutan, bisa-bisa aku bangkrut dalam sepersekian detik..."
"Sudahlah Quil... bakat orang macam-macam... Seth itu memang pengecualian. Otaknya pastinya sudah direkayasa Carlisle waktu kecil dulu," cengir Embry.
"Padahal kau ikut tawaran Charlie masuk akademi kepolisian, Quil..." tawar Jacob. "Dia sudah berkali-kali menawari kawanan kalau-kalau ada yang berminat. Katanya kita berbakat jadi penegak hukum. "
"Memangnya Charlie itu bodoh ya?" gumam Quil muram.
"Kenapa?"
"Mana mungkin ada anggota kawanan yang bisa jadi polisi? Kita jelas tidak bisa melewati tahap pemeriksaan fisik dengan panas tubuh dan lain-lain. Belum lagi bisa meledak mendadak di akademi. Dan tunggu hingga kita jadi polisi betulan, suatu saat terjebak dalam kasus tembak-menembak dengan mafia atau kesal setengah mati waktu terjebak lalu lintas macet dalam pengejaran. Bisa ada kasus Kepanikan Serigala Siaga 1 lagi di kota."
Alasan konyol. Tapi mau tak mau Jacob membenarkan.
Tepatnya, ia pernah mengalami situasi serupa. Hampir meledak waktu terjebak macet di Seattle, menjemput Korra.
Memang ia tidak marah-marah karena kemacetan, tapi tak urung memang itu menambah kadar stress yang menumpuk karena kasus lain. Jika waktu itu tidak ada Seth, mungkin memang ia sudah berubah di dalam Rabbit. Atau kalau tidak, berubah dan membuat ringsek mobil-mobil di jalanan. Menggencet Korra di dalamnya sekalian. Mungkin dengan begitu si Biang Kerok itu tidak perlu menginjak La Push sama sekali.
Ugh, hentikan berpikir tentang Korra!
"Mungkin kau bisa buka usaha penitipan bayi di kota. Kau kan bagus bersosialisasi dengan anak kecil," usul Jacob lagi, berusaha kembali masuk dalam candaan ringan. Quil hanya mendelik, tahu kemana ini akan menuju.
"Jangan, Jake... Claire bisa cemburu nanti tahu Quil dekat-dekat anak lain..." kikik Embry yang lantas disambut timpukan kulit kacang.
"Oh yeah... aku lupa betapa posesifnya monster cilik itu... Protektif, malah..." Jacob ikut menggoda. "Ingat waktu kita menggerek Quil untuk patroli saat dia sedang jadi baby sitter Claire?" ia bangkit untuk meniru gerakan standar dan lidah cadel Clair. "'Jake, jangan ganggu Qwil-ku!' Atau waktu kita mengerjai Quil dengan menaruh berry hutan yang membuatnya gatal-gatal di celananya? 'Kalian cemua jangan jahat cama Qwil-ku!' Atau sewaktu Claire pamitan pergi ke Eropa, kau pasti tidak percaya... Bocah kecil itu mengancamku, coba! Dia bilang, 'Awas kalau kau membuat nangis Qwil-ku, Jake! Aku pasti meninjumu!' Dan ia memang meninjuku! Ugh, aku sampai masuk Unit Gawat Darurat..." ia melebih-lebihkan, tersuruk kembali ke sofa, memasang gerakan berkelojotan seakan sekarat.
Quil kelihatan tidak senang.
"Yang posesif itu jelas anak-anak kecil yang mengelilingimu, Jake..." balas Quil, pura-pura marah.
"Anak kecil mana?"
"Oh yeah..." Embry tampak ingat sesuatu. "Ness dan Korra."
"Ya. Ingat waktu api unggun?" sambut Quil, tampak bahagia umpannya termakan.
"Yup! Jelas-jelas ada yang hampir bertarung... " ekspresi Embry bermula sebagai candaan. Tapi tiba-tiba ia berubah serius, menekur. "Heran juga bagaimana Ness bisa bereaksi seperti itu... Padahal Korra ada di seberang Jake..."
"Masa iya dia cemburu Korra dekat-dekat Collin?" Quil tertawa.
—Hah? Apa?
"Yang benar?!" suara Jake naik tiga oktaf.
Kedua sahabatnya mengerjap. Sadar tanpa sengaja menyentuh topik terlarang. Dan merusak usaha mereka memperbaiki mood Jacob dari tadi.
"Hei, tenang Jake..."
Embry dan Quil saling sikut di belakang punggung Jacob. Benar, di dunia ini ada setidaknya ada dua topik yang seharusnya tidak diungkit di hadapan Jacob kecuali dia mengangkatnya duluan. Urusan Nessie dan Korra. Apalagi kalau keduanya menyangkut si Ranger Merah.
Jacob, tampak benar-benar shock, menekur memegang kepalanya di antara kedua telapan tangan, dengan siku bertumpu pada lutut.
"Apa menurutmu Ness suka Collin?" bisiknya.
"Jacob, kau tahu aku cuma bercanda..." Embry tampak putus asa.
"Ya. Kalaupun iya, Collin takkan punya kesempatan. Masa iya dia sanggup melawan imprint? Lagipula kita semua tahu dia suka Korra," kata-kata Quil langsung ke sasaran.
"Ya. Dia cari mati kalau sudah cari masalah denganmu urusan Korra, masih ditambah perkara Nessie juga..."
"Ini bukan masalah Collin. Ini masalah Nessie!"
Pernyataan Jacob membuat kedua sahabatnya terdiam.
Tentu saja mereka tahu. Jacob merasa tidak aman. Perasaan itu sebenarnya sudah menyelinap sejak setelah acara api unggun dan Embry tahu. Ness sama sekali tidak tahu soal imprint, ditambah ia memang memiliki hak untuk menolak jika ia menghendakinya. Sedangkan Jake, dalam taraf sekarang ini, juga tidak tahu bagaimana mengatakan semuanya pada anak itu tanpa merusak perjanjian Koridor Bimbingan Orangtua dengan Edward. Kini, dengan jarak di antara mereka berdua, ditambah rencana Ness masuk asrama, rasanya angan-angan untuk bersama makin jauh terasa. Apalagi Jacob merasa waktunya kian pendek.
"Dia memang cuma menganggapku kakak selama ini..." bisik Jacob, mengutarakan kenyataan dan dengan begitu juga sedikit kekhawatiran di hatinya. "Bagaimana jika memang benar-benar suka Collin? Atau cowok lain?"
Quil menepuk punggungnya, dalam sekian tahun itu tiba-tiba bersikap bijak. "Jika memang begitu, kau kan tidak harus memiliki Nessie, Jake... Menjadi apa saja yang ia inginkan, ingat?"
Itu benar.
Tapi tetap saja...
"Sudahlah. Jangan murung terus," hibur Embry. "Begini saja, nanti kau ambil liburan ke Alaska. Menemui Ness. Atau menemaninya ke New Hampshire."
"Liburan? Yang benar saja! Dengan vampir berkeliaran di La Push?"
"Aku dan Seth bisa mengurus anak-anak, Jake..."
"Ya, benar... Dan Dad baru saja memberiku detensi seminggu karena fitnah Korra. Ya, aku tinggal kabur menemui Ness dan tunggu saja hingga ia benar-benar membuat Sam menyetujui pengusiranku..." Jacob menekur muram. Jeda sebentar sebelum ia menambahkan, makin muram. "Oh, ya, kau benar Embry... Kalau aku benar-benar diusir, aku bisa mengikuti Ness sekehendakku tanpa terikat dengan La Push... Ide yang bagus..."
Kemuraman Jacob membuat Embry menyetujui, "Ya. Kau benar... Itu ide buruk."
"Ya... Tapi kau bisa menjadikannya urusan kawanan, kau tahu..." binar licik muncul di mata Quil. "Kau tahu, kau bisa sekalian menanyai Alice macam-macam... Perkara masa depan La Push dan kematianmu dan yang lain."
Kedua sahabatnya mendelik padanya.
"Ya, tapi tetap harus menunggu hingga aku bebas dari tahanan rumah ini..." tunjuk Jacob. "Jika aku bahkan harus minta izin Billy dan Sam kalau keluar rumah, bahkan untuk urusan kawanan, aku tidak yakin pergi untuk menanyai Alice, yang jelas-jelas kelihatan sekali cuma alasan untuk menemui Nessie, akan lebih mudah..."
Ya, itu benar.
