THE ANOTHER BLACK
Discaimer: I do not own characters and backgrounds for this fanfic, all belong to Stephenie Meyer... Excluding Korra and few minors...
.
Dua puluh delapan - Kamping -1-
Monday, January 14, 2013
4:12 AM
.
"Jadi kapan Billy berencana mengajak kalian kamping?" tanya Quil, menjauh dari masalah emosi tak stabil Jacob dan berusaha mencari topik yang lebih aman.
Tapi rupanya niatnya itu mengkhianatinya, karena Jacob jelas sama sekali tidak merasa begitu. Mendengus seolah diingatkan pada masalah yang di depan mata, ia berujar kesal, "Akhir pekan ini."
Acara kamping di saat seperti ini memang masalah.
.
.
Jacob sudah mengutarakan hal ini lusinan kali pada ayahnya. Ini bukan urusan si Biang Kerok Korra dan perasaan pribadinya pada cewek mengerikan itu. Bagaimanapun Billy sudah membuatnya bersumpah untuk tidak lagi mengungkit-ngungkit masalah fitnah Korra dan ia malas memperpanjangnya terus. Setidaknya di depan ayahnya.
Tidak, ini sesuatu yang lebih obyektif. Jelas-jelas Billy tahu semua soal serangan vampir dan lain sebagainya, tapi ia malah bersikukuh dengan rencana kamping keluarga itu. Membuat Jacob ketar-ketir memikirkan selusin kemungkinan dan berbagai upaya pencegahan.
"Ayolah... aku pergi bersama anakku sang kepala serigala. Bisa dibilang makhluk paling berbahaya di hutan. Memangnya apa yang bisa terjadi?" ujar Billy santai ketika untuk keseratus kalinya Jacob mengemukakan lagi keinginannya agar ayahnya menunda rencana itu, dan sekitar kesembilan puluh kalinya bilang ada ancaman mengintai di luar sana.
"Itu masalahnya, Dad! Anakmu si kepala serigala ini terbukti telah dipecundangi mereka! Beserta separuh anggota kawanan juga..."
"Ayolah Jake... bahkan keledai pun takkan jatuh ke lubang yang sama dua kali..."
"Sekadar mengingatkan, Dad, Seth jatuh ke lubang yang sama dua kali," Jake menunjuk masam. Seth adalah anggota kawanan paling cerdas yang ayahnya akui, jadi kalau ayahnya sampai menyetarakan Seth di bawah keledai, apa sebutan bagi yang lain?
Tapi ayahnya hanya tertawa, dan menggelindingkan kursi rodanya ke dapur, meninggalkan Jake yang meliriknya dengan tampang sebal.
Kadang-kadang kemampuan Billy bersikap keras kepala jika menginginkan sesuatu dengan menutup mata pada bukti-bukti yang jelas di terpampang di depan mata membuatnya putus asa.
Korra juga sebenarnya sama tidak antusiasnya seperti dirinya. Ia mengutarakan berbagai alasan, mulai dari rencana tugas kelompok (yang dijawab Billy dengan "Itu bisa menunggu setelah selesai kamping"), ia harus belajar menghadapi ujian matematika ("Bawa saja bukumu, lagipula aku yakin kau cukup cerdas untuk bisa mendapat 100 tanpa belajar"), rencana ulang tahun teman ("Ayolah Korra, aku kenal semua anak di reservasi dan tidak ada yang ulang tahun minggu ini"), hingga sakit ("Kau baik-baik saja kulihat!"). Namun Billy dengan mudahnya mengelakkan semua alasan. Ia bahkan tidak peduli bahwa mungkin saja, seandainya pun ketiga alasan lain bohong, alasan keempat bisa jadi benar. Korra adalah calon serigala walau bagaimanapun juga. Dan jika benar begitu, ia mungkin mengalami sindrom demam yang semua serigala alami.
Kecuali bahwa, yah, Billy benar, Korra hanya mencari-cari alasan.
Ia sendiri bingung mengapa Korra belum mengatakan alasan yang terakhir, yang pasti membuat Billy tak berkutik: "Dad, ada serigala dan vampir di hutan." Mungkin kalau dengar dari mulut Korra dan bukan darinya, ayahnya akan mau berpikir ulang.
Ya, tentu saja Korra takkan mengatakan alasan itu. Ia tak tahu menahu. Hingga saat ini, paling tidak.
.
.
Akhir pekan datang begitu cepat bahkan tanpa Jacob sadari. Hukuman kurungannya yang menjemukan sebentar lagi berakhir, tinggal selesaikan satu urusan ini saja.
Rencananya mereka akan kamping tidak jauh dari Crescent Lake, masih dalam wilayah Quileute. Billy sudah mempersiapkan segalanya sejak malam sebelumnya-tenda dan segala macam tetek bengek peralatan bertahan diri di alam liar lain. Termasuk seabrek makanan. Mereka akan berangkat setelah menjemput Korra dari sekolahnya nanti sore.
Meski menurut Billy tidak perlu, Seth dan kawanan merasa harus melakukan pengamanan ekstra. Memastikan daerah sekitar situ aman, jauh dari vampir dan juga para serigala. Jadi setelah meyakinkan Jacob, hari itu ia datang untuk mendiskusikan sedikit detail.
Seth datang dengan motor barunya tak lama setelah Jacob meng-sms. Ia untung besar dari permainan saham yang ia lakukan diam-diam, dan baru-baru ini membeli sesuatu yang membuat Jacob ngiler setengah mampus. Ducati, tak kurang. Jujur saja motor itu, atau motor apapun, tidak cocok dengan kepribadian Seth. Jelas ia membeli motor itu untuk pamer di hadapan cewek.
Tapi bukan masalah itu yang membuat Jacob sebal. Urusan main saham dengan bantuan Alice adalah idenya, tapi malah Seth yang melakukannya diam-diam dan dapat untung besar dari sana. Sementara ia harus terancam tidak dapat melanjutkan hidup karena Mr. Peterson jelas akan memecatnya akhir bulan ini.
"Aku tidak minta bantuan Alice, Jake... Sedikit, aku akui, tapi tidak selalu... Dan aku memang tidak mencuri ide itu darimu. Aku sudah melakukannya lebih dari setahun sekarang."
Jacob terhenyak. Ia tidak pernah tahu yang ini. Seth sama sekali tidak pernah memikirkannya saat patroli bersama atau membicarakan hal ini dengannya.
Itulah Seth, man of action. Tanpa banyak ribut langsung melakukan hal yang ia rencanakan, yang harus ia lakukan.
Tapi itu salah. Seharusnya Seth man of plan. Dan ialah man of action. Tapi rasanya belakangan ini ia jatuh hanya menjadi man of continously irritating mumble grumble. Sama sekali tidak keren. Dalam hati Jacob mengumpat.
"Itu tidak benar, Jake... Aku tidak menyembunyikan apapun," bela Seth ketika Jacob mendengus dan mengeluh mengapa belakangan semua orang berahasia darinya. "Aku yakin aku pernah terlepas memikirkannya sekali atau dua kali. Tanya Collin atau Embry. Mereka tahu aku main saham. Mungkin kau saja yang kurang perhatian."
Ya, mungkin dia saja yang kurang perhatian.
Berusaha menjauhkan diri dari masalah yang hanya akan membuatnya kesal, Jacob buru-buru menelan kembali sederet pikiran yang langsung menerornya pada detik Seth mengatakan 'tidak menyembunyikan apapun'. Ia harus menjangkarkan kembali topik pada masalah penting saat ini sebelum jadi entah-ke-mana.
"Jadi," Jacob tidak tahu mengapa tiba-tiba ia meniru awalan Sam, "daerah situ sudah bersih?"
Seth mengangguk. "Aku sudah mengecek dua kali, sekali lagi nanti sebelum kalian sampai. Aku sendiri, dan satu serigala lain, yang akan patroli mengitari wilayah itu, memastikan tidak ada lintah masuk."
Jacob mengernyit.
"Tentu saja kami takkan menampakkan diri dalam radius satu kilometer," tambah Seth buru-buru.
"Gandakan jarak itu," kata Jacob muram. Melihat bayang kekhawatiran dan protes di wajah Seth, ia menjelaskan, "Kita tidak tahu jika Billy merencanakan hiking atau mencari jejak atau apa. Aku tidak ingin Korra bertemu kalian. Aku juga tidak bisa berubah di dekat Korra, dan kau juga tidak mungkin bawa ponsel."
Tanpa banyak bertanya Seth mengangguk.
"Lalu, siapa yang menemanimu?" tanya Jacob, agak heran mengapa Seth belum melaporkan ini.
Seth tampak agak ragu, tapi lalu katanya, "Collin."
Pantas saja Seth tidak langsung mengatakan ini padanya.
"Kau gila, Seth? Menyuruh si Ranger Pelamun patroli di sana? Kau ingin kami mati?"
Seth mencoba membuatnya menimbang keadaan. "Jacob, dia yang terkuat di antara para yunior. Kau tahu sendiri dia mengalahkan tiga vampir sendirian waktu itu. Embry dan Quil bagaimanapun harus patroli di wilayah Cullen."
Itu rasional, benar. Tapi entah mengapa Jacob tidak langsung bisa menerimanya.
"Tapi kau tahu Collin, Seth..."
"Dia mengajukan diri, Jake... Dia khawatir pada kalian..."
"Justru itu! Dia hanya khawatir pada Korra!"
"Dan itu menjadikannya yang paling bisa diharapkan menjaga Korra. Dia akan melindungi Korra dengan nyawanya."
Perkataan itu membuat Jacob menghadang mata Seth, mendesis tidak percaya.
"Kau mendukung perasaan Collin pada Korra? Itu incest, Seth!"
"Jacob, itu bukan definisi incest," suara Seth terdengar sabar, hampir seperti Carlisle. "Collin cuma sepupu Korra, mereka tidak berhubungan darah langsung."
Jacob berdecak, kesal karena Seth jelas tidak mendukungnya. "Tapi tetap saja..." ia melengos.
"Coba kau pikirkan ini saja, Jake... Orang no.2 di hierarki Alfa, di atasku. Menjadi Betaku menjadikannya orang keempat di kawanan. Dan yang memiliki ikatan batin dengan Korra. Itu akan menjadikan Collin pelindung Korra yang paling bisa kau andalkan."
Ia mendengus, agak tidak percaya Seth sampai pada kesimpulan itu. Kepala sang Beta benar-benar dingin di sini. Seth bahkan tidak mempertimbangkan Collin sebagai saingannya.
Bagus, ia mulai lagi. Sekarang ia mengasumsikan Seth juga punya maksud tertentu pada adiknya. Seharusnya ia tidak mendengarkan gosip para bocah itu.
Seth mengemukakan sedikit lagi pengaturan seperti jadwal shift penjagaan dan lainnya. Karena Jacob, Billy, dan Korra akan kamping selama dua malam dua hari hingga Minggu siang, tidak mungkin Seth dan Collin menjagai mereka hampir 48 jam tanpa istirahat. Jadi mereka hanya akan menjaga Jumat malam dan Sabtu malam hingga siang, membiarkan pengawasan Sabtu pagi hingga sore menjadi tugas serigala lain. Brady dan Adam.
"Kami takkan terlalu jauh. Jika ada sesuatu, mereka akan melolong," imbuh Seth. Tampaknya ia dan Collin juga berencana ikut kamping di dekat-dekat situ dua hari ini.
Jacob menggerutu kesal. Mengapa harus serepot ini gara-gara urusan kamping? Gara-gara foto Ariana, sebenarnya. Billy benar-benar memilih waktu yang buruk untuk kamping. Sekarang ia merasa menjadi anggota keluarga bangsawan, harus menempatkan penjagaan ekstra segala hanya karena keluarganya akan bermalam di hutan, tidur di bawah bintang.
"Maaf, Seth. Membuatmu repot," katanya. Dan itu bukan basa-basi.
Seth nyengir. "Tidak apa. Aku jadi punya alasan untuk tidur dua malam di luar dan tidak pulang Sabtu pagi. Agak menyebalkan kalau Charlie ada di rumah hari Sabtu, kau tahu..."
Obrolan santai Seth membuat Jacob tersenyum. Tentu saja ia tahu bagaimanapun penerimaan Seth terhadap calon ayah tirinya itu, tetap tidak menyenangkan berada serumah dengan laki-laki lain yang bukan ayahnya, bersanding dengan ibunya. Bermesraan. Berdua. Ia mungkin merasakannya sendiri. Tiap melihat Korra, ia selalu membayangkan Ariana bersama ayahnya, melakukan hal yang tidak-tidak.
Ugh, hentikan pikiran itu!
"Aku tahu kau masih kesal dengan adikmu soal kasus kemarin..." Seth tiba-tiba bicara dengan nada simpatik yang membuat Jacob langsung jengah. "Tapi kuharap kau mau memaafkan dia... Dia tidak meniatkannya, sengaja untuk membuatmu kena masalah, kau tahu... Dia hanya mengatakan dari kacamatanya yang memang tidak tahu apa-apa."
Jacob memicingkan mata. "Kau memang tahu apa soal Korra hingga kau membelanya?"
Sekilas kegugupan tampak di wajah Seth sebelum ia berhasil menutupinya dan bicara dengan tenang, "Aku cuma berusaha melihat dari dua sisi, Jake... Patut diakui ia, yang berada serumah denganmu dan melihat tindak tanduk kita dari sudut pandang orang yang tidak tahu apa-apa, pasti melihat gerakan kita agak mencurigakan belakangan. Bagaimanapun kau selalu pergi malam pulang pagi, berkumpul dengan gerombolan anak-anak berotot yang mengganggu temannya di sekolah..."
"Seth!" hardik Jacob, menghentikan Betanya sebelum ia terlalu jauh bicara dari sudut pandang Korra. "Dia memfitnahku! Dia membuat Billy hampir mencopotku dan mungkin mengusirku dari suku!"
"Jacob..." Seth seperti biasa menggunakan ketenangannya sebagai bagian dari kemampuan persuasinya. "Kurasa tidak mungkin Billy benar-benar menganggapmu begitu."
"Ia memojokkanku, Seth! Mengancam akan mengusirku!"
"Ia mungkin hanya bersikap keras. Menggertak, menunjukkan ia akan melakukan itu jika memang tuduhan itu benar. Tapi di lubuk hatinya ia tidak benar-benar meragukanmu."
"Kau di sana, Seth..." bisik Jacob mendesis. Bahkan sesudah sidang itu, bayangan wajah Billy tetap menghantuinya. Setiap kata yang ia ucapkan, ketidakpercayaannya, tuduhan, tuntutan yang memberatkannya, datang dari ayahnya sendiri...
"Ia takkan benar-benar mengusirmu, Jake..."
"Tapi ia mempertimbangkannya! Serius mempertimbangkannya! Meminta Sue dan Sam mempertimbangkannya..."
"Itu tidak benar, Jake..."
"Itu benar!"
"Masalahnya ia tahu ia tidak bisa. Semua orang akan mencegahnya sebelum itu terjadi."
Jacob terhenyak oleh logika pemutarbalikan fakta Seth. Seth ada di sana, Seth melihat bagaimana ayahnya, dibanding yang lain, begitu bersemangat menyudutkannya...
"Lagipula ia tidak punya hak itu, Jake..." Seth melanjutkan. "Kau tetap kepala suku dan hak pengusiran hanya ada padamu, kecuali jika seluruh Tetua dan kawanan memutuskan kau bersalah. Dan kau tahu sendiri, kami semua, bahkan Collin, membelamu. Sue dan Sam tidak pernah meragukanmu."
"Tetap saja..." Jacob memejamkan mata, menahan perih yang menggerogoti hatinya.
Bayangan wajah Billy, amarahnya saat itu, kembali ke benaknya. Membuatnya terluka sekaligus kesal dan marah. Bagaimana bisa ayahnya begitu tidak percaya padanya? Hanya karena ucapan kecil tidak berdasar? Dari bocah yang belum sampai tiga bulan bersama mereka?
"Kau takkan hancur karena ini, Jake..." bisik Seth. "Tuduhan kecil tak berdasar takkan membunuhmu atau mengubahmu. Itu hanya salah paham, Jake... Kami semua percaya padamu."
Jacob mengerang. "Apa yang harus kulakukan pada anak itu?" ia mengulang pertanyaannya sekian bulan lalu, ketika ia dan Seth menjemput Korra di bandara.
Saat itu pun keadaannya sudah berat. Ia harus menerima seseorang yang tidak dikenalnya sebagai anggota keluarganya. Menerima masa lalu ayahnya. Pengkhianatan Billy. Tapi itu saja. Tidak ada fitnah yang mengancam kedudukannya. Tidak ada cinta dan kepercayaan ayahnya yang tergadaikan, terebut oleh monster kecil itu.
Bagaimana mungkin sesuatu yang semenekan itu, seperih itu, fitnah sekejam dan seburuk itu, bisa dengan ringannya disebut sebagai 'kesalahpahaman'?
Bagaimana ia bisa berjalan dengan ringan, dengan anak itu di sisinya, setelah semua ini?
Tapi jawaban Seth tetap sama. "Sudah jelas kan Jake? Menerimanya dan menyayanginya seperti adikmu sendiri..."
Dan seperti hari itu, Jacob menghembuskan napas berat.
"Kalian akan kamping selama dua malam... Hanya bertiga..." Seth kembali memulai, nadanya agak menerawang, tapi penuh harapan. Mungkin hampir seperti Billy. "Kalian pasti bisa melakukan sesuatu untuk memperbaiki ini semua. Kalian sebuah keluarga, bagaimanapun..."
Keluarga...
Memikirkannya pun sebenarnya Jacob tak ingin.
