THE ANOTHER BLACK
Discaimer: I do not own characters and backgrounds for this fanfic, all belong to Stephenie Meyer... Excluding Korra and few minors...
.
Dua puluh sembilan - Kamping -2-
Monday, January 14, 2013
4:12 AM
.
Billy muncul di ambang pintu, memanggil Jacob untuk memasukkan semua alat kampingnya ke truk, ketika Seth baru saja akan pamit meninggalkan rumah Black.
"Oh hai, Billy..." sapa Seth sambil tersenyum lebar. "Perlu kubantu?"
"Hai Seth..." Billy juga memamerkan gigi putihnya. "Kudengar tadi ada suara motor datang. Aku tidak mengira itu kau. Maaf aku agak sibuk di garasi tadi."
"Santai saja Billy..." ujar Seth kasual, seraya melangkah ringan keluar rumah, diikuti Jacob yang masih memasang tampang masam. "Jadi mana alat-alatnya?"
Mereka berjalan ke garasi untuk mengangkuti alat-alat kamping. Billy terus mengobrol riang dengan Seth, kebanyakan soal rencana kamping dan pujian soal motor baru Seth yang Oh-Tuhan-sungguh-mahal- bin-keren-gila-buanget itu. Sebagian melibatkan celaan tentang anaknya sendiri sehingga Jacob memilih tutup telinga dan mendendangkan lagu favoritnya sambil membayangkan Nessie. Seth hanya nyengir, tampak tidak nyaman juga, sebelum dengan lancarnya menggulirkan topik ke soal sepele pemandangan Crescent Lake.
Jacob sama sekali tidak mendengarkan, menyibukkan diri mengangkut perkakas—yang sudah disortir Billy ke dalam tas-tas yang menggembung besar—ke bagian belakang truk, sebelum menutupinya dengan terpal. Beberapa minggu ini sudah masuk awal musim panas dan hujan bisa datang setiap saat. Seth membantunya, tampak senang bisa punya alasan untuk kabur dari obrolan ngalor-ngidul Billy.
Ketika semua barang sudah masuk, termasuk kotak berisi makanan yang distok Billy plus alat pancing, Seth juga yang membantu Billy naik ke mobil, melipat kursi rodanya dan menyelipkannya di jok belakang. Jacob memanjat ke kursi pengemudi, sementara Billy masih berceloteh riang entah-apa. Hujan mulai gerimis ketika ia menstarter mobil dan meninggalkan pekarangan rumah, diiringi motor Seth, yang kemudian berpisah arah tidak sampai setengah kilometer dari rumahnya.
.
.
"Dia anak yang baik, ya..." Billy masih tampak terpukau dengan Seth. "Laki-laki yang baik..." ia mengoreksi.
Jacob merasa agak aneh Billy memuji Seth di saat seperti ini. Bagaimanapun ayahnya sudah kenal anak itu sejak masih kecil dan memang tidak pernah menganggapnya cacat, kecuali sewaktu Seth disuruh Jacob mencuri kue Natal waktu usianya 6 tahun dan menyembunyikannya di rumah pohon. Billy dan Sarah marah besar dan melaporkannya pada Sue, membuat Sue menghukum Seth selama seminggu. Namun ketika tahu siapa otak di balik semua ini, mereka berpaling pada Jacob dan menghukumnya selama dua minggu, memutus uang sakunya dan melarangnya bermain dengan siapapun, termasuk Quil dan Embry.
Tapi ayahnya, mendadak mengoreksi kata 'anak' dengan 'laki-laki', memang sedikit mencurigakan.
"Kau tahu, Jake... Soal Seth... Menurutmu bagaimana hubungannya dengan... ehm, Korra?" Billy terdengar hati-hati, namun antusias.
Jacob mengernyit. "Memangnya Seth ada hubungan apa dengan Korra?"
Ayahnya mengangkat bahu. "Yeah... aku hanya menduga-duga... kau tahu, Seth adalah orang pertama dari kawanan yang bertemu Korra... ia menjemput Korra di bandara..." suaranya penuh harapan, membuat anaknya mendelik.
"Dad, jangan bilang kau berharap terjadi imprint..."
"Yeah, maksudku... Seth... lelaki yang baik... dan... bertanggung jawab... Kita kenal dia dari kecil. Asal usul keturunannya bagus. Dan mungkin jika Korra terikat pada salah satu orang Quileute, dia akan tinggal di sini."
Jadi itu maksud ayahnya? Jika Korra terikat pada Seth, maka Korra akan lebih lama tinggal di La Push, bahkan mungkin menetap permanen. Menikah. Berkeluarga. Tinggal di sisi Billy. Sebagai keluarga. Selamanya.
"Sayangnya itu tidak terjadi, Dad..." kata Jacob muram. Kesal tapi walau bagaimanapun tak bisa menyembunyikan seutas kelegaannya. "Tidak ada anggota kawanan yang mengimprint Korra."
Ayahnya tampak kecewa.
"Benarkah?" katanya.
"Yep..."
"Bahkan tidak Seth?"
"Terutama tidak Seth."
"Kau yakin?"
"Seratus persen, Dad..."
Ia kelihatan makin kecewa.
"Tapi seandainya Seth dan Korra bersama, apa kau setuju?" tanya Billy lagi, berusaha mencari celah.
"Dad, masa kau mau menjodohkan mereka? Sudah abad berapa ini?"
Billy terkekeh. "Memangnya kau ada keberatan dengan Seth? Ia kan sahabatmu, orang kepercayaanmu, bahkan..."
Memang...
"Dan ia belum mengimprint siapapun, kan?"
Nah, masalah itu memang agak rumit.
"Kalau kau mengharapkan ada benih-benih cinta tumbuh di antara kawanan terhadap putrimu, mungkin kau harus mempertimbangkan Collin, Pak Tua..."
Billy mengerjap. "Collin Littlesea?"
"Memang ada berapa Collin yang kaukenal?"
"Memang sepupumu Coley mengimprint adikmu?"
—Heh? Coley? Jacob agak menahan senyum mendengar panggilan kecil anak itu.
Kapan terakhir kali ia mendengar nama itu? Coley Litsey, sepupu favoritnya yang mengikutinya ke mana-mana. Anak kecil yang, bersama Seth, selalu dikerjainya dan tunduk pada perintahnya untuk mencuri kue-kue atau mengusili kakak-kakak mereka kalau seisi keluarga besar sedang kumpul untuk Thanksgiving atau Natal. Coley Litsey yang cengeng namun manis, yang sering dituntunnya, menarik-narik tangannya. Yang selalu takut dengan bayangannya sendiri saat didandani untuk Halloween dan bersembunyi di balik Jacob, memegangi bajunya, setiap kali mengetuk pintu-pintu rumah tetangga untuk Trick or Treat.
Sayangnya dia sekarang bukan si kecil Coley Litsey usia 5 tahun yang imut lagi... Yang berlari-lari waktu Thanksgiving dan dengan manisnya memberi Jake kado mobil-mobilan yang dibuatnya sendiri dari tanah liat yang dijemur. Yang dicat dengan warna merah-biru dan pinggirnya ditulisi 'Tu bear may dest kowsin Jakey' dengan tulisan cakar ayamnya. Sampai sekarang pun mobil itu masih bertengger di rak bukunya, kenangan tak terpisahkan dari masa lalunya yang menyenangkan sebelum semua omong kosong serigala ini muncul. Coley Litsey yang tidak bisa mengeja kata-kata. Yang bahkan tidak bisa membedakan huruf 'b' dan 'd'.
Sekarang dia bocah badung menyusahkan yang keras kepala, serigala pengacau yang suka membantah, dan tukang gosip yang sangat menyebalkan...
"Tidak," Jacob menggeleng, lebih karena ingin mengenyahkan memori manis tentang anak badung itu. "Tapi jelas ia naksir berat pada Korra. Sahabat terdekatnya di sekolah juga."
"Dan Korra? Apa dia tahu?"
"Mungkin..."
"Apa dia membalas perasaan Coley?"
"Entahlah Dad..."
"Apa dia juga mencintai Coley?"
"Entahlah Dad..."
"Apa ada cowok lain yang dekat dengannya?"
"Entahlah Dad..."
Setelah dua jawaban 'mungkin' dan tiga jawaban 'entahlah', tiba-tiba nada bicara Billy berubah, agak menuduh."Kau mungkin harus sedikit lebih perhatian pada adikmu, Jake..."
Rahang Jacob turun lima senti dan alisnya bertaut.
Perhatian? Pada si monster cilik? Tukang fitnah itu?
"Entahlah Dad..." ia menambah skor 'entahlah' itu, yang jelas membuat Billy tidak senang.
Ayolah, memangnya ia harus ikut campur urusan cinta adiknya?
"Kalau kau bersikap lebih baik padanya, mungkin kesalahpahaman minggu lalu itu takkan terjadi."
Tunggu. Ayahnya menyalahkannya karena Korra memfitnahnya?
"Dad!"
"Itu benar, Jake... Kalian berdua kurang membangun komunikasi yang baik. Kau jelas tidak menerimanya. Dan ia jelas merasa tidak nyaman dengan itu, merasa semua usahanya sia-sia. Ditambah ia setiap hari melihatmu melakukan hal yang mencurigakan bersama kawanan..."
Oke. Sudah cukup. Ia tak ingin lagi mendengar ucapan Seth diulang oleh Billy. Itu lebih buruk, bahkan.
"Ya. Aku sudah dengar itu dari Seth, Dad," potong Jacob, melampiaskan kekesalannya dengan membanting setir ke kiri ketika menemui belokan. Truk berputar dengan kasar, dan Billy memaki keras.
"Astaga, Jacob! Apa yang ada di pikiranmu?!"
Jacob menggumamkan maaf dengan sebal.
"Ya Tuhan..." Billy menghela napas, tampak berusaha menguasai amarahnya juga. "Kau tidak bisa bersikap seperti ini terus menerus, Jake..."
"Seperti apa?"
"Seperti anak pencemburu usia 9 tahun!"
Ia menghela napas. "Kau tahu alasannya, Dad..."
Billy tahu. Tidak mungkin ia tidak tahu. Sekian lama bersama anaknya, berdua saja, membuatnya mengenal anaknya luar dalam. Tak mungkin anaknya bisa membenci seseorang begitu dalam jika tanpa sebab.
Ia mendesah, memutuskan untuk mengangkat masalah yang bagai bisul selama ini, yang berusaha keras tidak mereka ungkit walau bagaimanapun.
"Tidak bisakah kita sudahi saja semua ini?" bisiknya. "Tidak bisakah kau menerimanya? Sudah tiga bulan, Jake..."
Jacob mendengus, tak menjawab.
"Aku minta maaf, Jacob... Soal Ariana..."
"Kau sudah bilang itu sekian ratus kali, Dad..."
"Tapi kau tetap tidak bisa memaafkanku, kan?"
Ia diam.
"Aku tidak mendidikmu jadi begini pendendam, Jake... Jika Sarah mengetahui ini..."
Nama ibunya yang mendadak disebut-sebut membuat Jacob berang. "Kenapa Mom dibawa-bawa?" suaranya naik dua oktaf. "Jujur saja, Dad, jika Mom mengetahui kau berkhianat padanya..." ia tak sanggup menyelesaikan. Tubuhnya bergetar hebat.
Menggerutu, dihentikannya truk itu di pinggir jalan. Disurukkannya kepalanya ke setir, mencoba mengatur napas, menenangkan diri.
Entah Billy menyadari kemarahan putranya atau masih terpana dengan ucapan sang anak mengenai 'mengkhianati mendiang istrinya' itu, ia hanya diam sementara Jacob berusaha keras tidak meledak di hadapan ayahnya.
"Dad..." bisik Jacob lirih, wajahnya masih tersuruk di setir. "Mengapa...?"
Billy tahu pertanyaan lengkap Jacob bahkan walau ia tidak mengatakannya. Ada lebih dari selusin variasi pertanyaan. "Mengapa kau tega melakukan semua ini?", "Mengapa kau berkhianat pada Mom?", "Mengapa kau memilih perempuan itu?", "Mengapa kau tidak pernah cerita sebelumnya?", "Mengapa kau membawa anak perempuan lain ke keluarga kita?", "Mengapa kau mencintai anak itu?", dan lain sebagainya. Yang hanya berpusat pada empat orang: dirinya, Sarah, Ariana, dan Korra.
Dan ia tidak tahu. Itu jawaban dari semua pertanyaan. Ia tidak tahu.
Jacob hanya tertawa lemah, sinis, atas kebekuan ayahnya. Ia merasa perih. Sakit yang ia rasakan dari serangan vampir atau bahkan insiden hampir seminggu lalu, ketika ia hampir diusir, bahkan tidak seberapa dibanding ini. Ketika ia berpikir tentang ibunya dan rahasia yang disimpan ayahnya. Entah simpati yang ia rasakan pada sang ibu, atau mungkin cinta, ia tidak tahu.
Apa yang akan dilakukan Sarah jika ia mengetahui hal ini sebelum kematiannya? Bila ia tahu bahwa suami yang dipikirnya mencintainya ternyata juga mencintai orang lain?
"Kau mencintai Mom, Dad?" bisik Jacob, masih tak kuasa memandang wajah ayahnya.
"Sangat..." jawab Billy, namun suaranya tercekik.
"Lebih dari Ariana?"
Billy tak langsung menjawab. Matanya memejam, seakan menelan seribu kepahitan dalam dadanya. Lidahnya begitu kelu ketika ia memaksakan diri menjawab, "Lebih dari diriku sendiri..."
Jujur itu tidak menjawab pertanyaan Jacob dan ia pun tidak berusaha mengejarnya. Ia sudah tahu. Ia bisa membacanya. Ayahnya mungkin mencintai ibunya, dan lebih memilihnya ketika Ariana datang untuk memberi tahu ia mengandung Korra. Tapi Billy juga tidak bisa memungkiri bahwa sebagian hatinya, entah yang mana, juga mencintai Ariana.
Dan kenyataan itu mengiris hati Jacob, lebih nyeri daripada ketika taring vampir mengoyak tubuhnya. Dingin. Perih. Tajam. Ia merasa dirinya benar-benar teracuni, berubah dari akar, membusuk dari dalam. Dan hatinya kini lebih beku, lebih tak berjiwa, lebih tak bernyawa ketimbang vampir.
Ia menggigit bibir dan memejamkan mata. Berusaha mencari pegangan.
"Seth bilang aku harus menerima anak itu, menyayanginya bagai adikku sendiri..." bisiknya lirih, mengangkat kepalanya, tapi tak berani menatap mata ayahnya.
Billy diam.
"Apakah begitu, Dad? Haruskah aku menerimanya?"
Billy masih diam.
"Haruskah aku menerima-mu, Dad?"
Itu sebenarnya ini pertanyaannya. Ini bukan masalah Korra. Ini masalah dirinya. Masalah ayahnya. Masalah ibunya.
Korra hanyalah satu objek yang entah kebetulan atau tidak, ada di sana. Ia bisa siapa saja. Bisa seseorang seimut Alice atau selembut Carlisle atau seringan Embry atau seusil Quil atau semanis Seth atau sekeras Sam atau semenyebalkan Collin. Gender sama sekali tak masalah. Sifat tidak masalah. Bisa siapa saja. Seperti apapun. Dan reaksi Jacob tetap sama. Buah hasil pengkhianatan ayahnya atas ibu yang ia cintai. Ibu yang bahkan tidak bisa ia sentuh.
.
Ketiadaan sang ibu membuatnya menempatkan ibunya di ranah imajinasi, hampir begitu teridealisasi, begitu sempurna. Kenangan Jacob tentang ibunya hampir tiada, sebenarnya, hanya kenangan-kenangan singkat dalam jangka waktu 9 tahun hidup masa kecilnya. Tapi itu menjadikannya tak ternodai, tak terjamah masa-masa pemberontakan remaja atau pikiran buruk atau apapun. Ia hanya ingat serpihan kecil masa-masa bahagianya bersama sang ibu, dan kenangan yang buruk pun segera hilang seiring dengan masa Oedipus Complex-nya.
Ia mencintai ibunya, memujanya bagaikan bidadari. Ibunya yang sempurna. Yang memiliki kelembutan, kasih sayang, dan kekuatan untuk melindunginya pada saat bersamaan. Perlindungan ibunya pada kecelakaan yang merenggut nyawa sang ibu, dan pada saat yang sama menyelamatkan nyawanyalah yang menjadikannya menempatkan ibunya di tempat tertinggi. Lebih dari malaikat. Dewi.
Dan selama ini ia mengidealisasikan keluarganya sedemikian rupa. Ibu yang sempurna dan penuh kasih. Cinta yang sempurna. Ayah yang mencintai ibunya. Memujanya di tempat tertinggi. Orangtua yang mencintai anak-anaknya. Keluarga yang saling mencintai. Sempurna.
Tapi ternyata kenyataannya tidak seperti itu.
Ia hidup hingga usia ini, 13 tahun setelah kematian ibunya, untuk tahu bahwa idealisasinya hanya sekadar idealisasi yang bahkan tidak mendekati kenyataan. Beberapa tahun sebelum kematian ibunya, sang ayah menggadaikan cinta itu. Apa yang ada di pikiran sang ayah ketika ibunya pergi? Apakah ia benar-benar masih mencintainya saat itu? Apakah ia kehilangan istrinya? Ataukah ia justru lega Sarah hilang dari gambar besar hidupnya yang melibatkan kisah cinta segitiga itu?
Apakah ia tidak pernah menyesali keputusannya memilih Sarah ketimbang Ariana? Apakah dalam sekian tahun yang singkat sebelum kematian ibunya, ayahnya tidak mengangankan hidup yang berbeda bersama Ariana? Apakah masa-masa menjelang kematian ibunya diisi dengan cinta yang palsu? Jika tidak ada Rachel, Rebecca, dan Jacob, apa ia akan mengejar Ariana, membentuk keluarga yang bahagia bersama Korra?
Jika ia tidak terjebak dalam perannya sebagai Tetua dan mungkin harus mengawal masa depan putranya, apakah ia akan meninggalkan mereka, mengejar Ariana?
Ya, jika Jacob tidak ada, apakah ayahnya akan lebih memilih kehidupannya bersama Ariana?
Semua pertanyaan itu masuk secara tiba-tiba di kepalanya, satu pertanyaan menggiring pada pertanyaan lainnya, makin lama makin menekan, makin lama makin menyesakkan.
Berbulan-bulan ia berkubang dalam pertanyaan-pertanyaan itu, rasa sesak itu. Rasa terkhianati itu. Dan tanpa sadar ia melampiaskannya pada Korra. Obyek afeksi ayahnya yang menjadikannya obyek kecemburuannya. Korra adalah perwujudan Ariana, keduanya pencuri cinta ayahnya, darinya dan dari ibunya.
Tanpa sadar ia bersikap keras pada Korra. Bersikap buruk. Sementara Korra berusaha keras agar dirinya diterima. Mungkin monste cilik itu terlihat terlalu menjilat sang ayah, tapi mungkin itu usahanya untuk menjadi keluarga. Mungkin benar kata Seth dan ayahnya, jika ia lebih menerima adiknya dan tidak bersikap seolah mengusirnya jauh, Korra pun tak akan menimbulkan semua masalah ini. Kasus tidak jelas yang terjadi minggu lalu. Fitnah itu.
Jacob tidak butuh jawaban ayahnya. Tidak butuh jawaban apakah ayahnya mencintai ibunya atau Ariana. Tidak butuh jawaban apakah ia mendambakan hidup bersama Ariana dan Korra atau tidal. Karena apapun, jawaban itu tidak penting. Tidak lagi penting.
Jawaban atas permasalahannya ada pada dirinya. Hanya satu.
Penerimaan.
Ya, seperti kata Seth. Menerima dan mencintainya bagai adiknya sendiri. Dan memang: itu adiknya.
Seperti kata Billy: menerimanya, berjalan bersamanya.
Solusi sederhana dan final, yang logikanya terus menerus meneriakkan hal yang sama. Ia tahu itu jawabannya.
Tapi perasaannya tidak tahu. Perasaannya masih berpegang pada satu sosok, satu tali yang erat menggenggamnya. Bayangan ibunya. Cinta ibunya.
Mengapa begitu sulit melepaskannya ketika semua logika hanya mengarah pada satu hal itu?
.
"Dad..." bisiknya seraya menolehkan kepala pada sang ayah, menatap ke kedalaman matanya.
Ayahnya memandang balik padanya dalam ekspresi yang tidak ia kenal. Apakah itu simpati? Menyesal? Maaf?
"Kumohon Dad, beri aku waktu..."
Dan ayahnya mengangguk, tampak sabar sekaligus prihatin seperti dahulu. Seperti ketika ia masih merasa cinta ayahnya yang tak terbelah.
Ia tahu waktu telah banyak diberikan padanya. Dan Billy mungkin akan memberikan seluruh waktu di dunia. Hingga perasaannya, dirinya sendiri, bisa mengatasi semua itu.
Tapi ia tak punya waktu begitu banyak.
.
.
Korra duduk di tangga sekolah, dengan wajah ceria sembari seperti biasa dikelilingi geng teman-temannya, ketika Billy dan Jacob datang.
Hari ini tidak ada Brady dan Collin menempel, pikir Jacob, agak lega. Tentu saja Collin pastinya sudah digerek Seth, kalau tidak ia sudah begitu bersemangat turun gunung duluan, merambah hutan untuk melakukan pengecekan keamanan terakhir di lokasi kamping. Itu yang dijanjikan Seth tadi siang. Dan mana mungkin Collin melewatkan kesempatan untuk melindungi gadis yang ia cintai? Ia bahkan sudah melakukan klaim sepihak belakangan di pikirannya, menurut Embry, menyebut Korra sebagai 'gadisku'. Sedangkan Brady pastinya mengikuti Collin ke manapun.
Melihat truk biru ayahnya muncul di pekarangan sekolah, Korra langsung bangkit dan bicara singkat dengan teman-temannya, sebelum melambai dan bergegas mendatangi keluarganya. Empat orang, hitung Jacob. Tiga di antaranya sudah ia lihat sebelumnya sewaktu ia mengantarkan daftar Sam pada Collin. Dua anak reservasi, satu perempuan berambut sebahu dan satu laki-laki berkacamata bertubuh kurus, serta seorang gadis Asia. Gadis itu berkulit putih kekuningan, setidaknya bagian yang terlihat dari tubuhnya yang hampir seluruhnya tertutup baju, syal, jaket, dan entah apa lagi. Mungkin ini yang disebut-sebut sebagai anak pertukaran pelajar itu. Benar kata Brady, dia anak yang pemalu dan rikuh. Tubuhnya sedikit lebih jangkung daripada Korra, namun lebih kurus dan kelihatan disenggol-sedikit-saja-jatuh. Terus menunduk, menyembunyikan matanya di balik poni panjangnya dan sebagian wajahnya di balik syal panjang yang membelit lehernya. Di sisinya ada cowok Asia bertubuh sedang dengan warna kulit kecoklatan, matanya lebih lebar, memandang truk Jacob dengan pandangan ingin tahu.
"Itu teman-temanmu?" tanya Billy riang begitu Korra menghampirinya. "Kau bisa mengenalkan mereka pada kami," katanya.
Korra memandang mereka sejenak, tapi lantas kembali pada ayahnya. "Mereka akan malu kalau dikenalkan di sekolah, Dad... Nanti saja kubawa mereka ke rumah..."
Ia hendak memanjat ke jok belakang truk mereka, ketika tiba-tiba tubuhnya membeku, dan memandang ke arah kanan. Wajahnya mendadak pahit. Agak kaget dengan perubahan wajah adiknya, Jacob mengikuti arah pandangan matanya.
Geng Noah rupanya, memperhatikan mereka dari seberang lapangan parkir. Noah duduk di kap mobilnya, berlagak seperti raja, dikelilingi empat anak buahnya, dan tentu saja ditambah Josh. Melihat kehadiran Billy dan Jacob, tentu saja mereka tidak berani mendekat, tapi mereka melontarkan pandangan aneh, yang kentara sekali pandangan jijik. Noah bahkan meludah, membuat Korra mendesis mengancam. Wajahnya tampak keras.
"Naik, Korra!" perintah Jacob, menyadarkan gadis itu dari sikap anehnya. Korra mengerjap, tapi diputuskannya juga kontak matanya dari Noah, dan ia memanjat naik ke jok belakang.
Jacob memandang Noah sebelum ia memundurkan truk dan memarkir berputar, sedikit menambahkan tatapan mengancam, berusaha sekuat mungkin terlihat kejam. Noah mungkin salah satu calon serigala, tapi kalau ia berani macam-macam menyentuh adiknya, yah, lihat saja apa yang akan terjadi nanti...
Dan sesaat kemudian ia mengerjap.
Apa itu tadi? Ia bersikap protektif lagi? Pada Korra? Lagi?
Neraka memang sudah membeku.
.
.
Ponsel Jacob berdering tak lama sesudah ia keluar dari halaman sekolah. Ia membukanya dengan sebelah tangan sementara sebelah lainnya tetap di setir, membuat Billy mendelik padanya dengan tatapan memperingatkan. Ia nyengir sok-tidak-bersalah dan melirik isinya sekilas.
Conversation with Brady Stalker Fuller
Brady Stalker Fuller (04.21 PM)
Konfirmasi dari Seth dan Collin. Bersih. Siap di pos.
.
Jacob menutup sms dan melempar ponselnya ke atas dashboard, kembali memperhatikan jalan. Konfirmasi dari Seth dan Collin sudah datang. Mereka bertiga pasti berubah dengan Brady menunggu di suatu tempat yang dekat dengan tumpukan ransel, siap berubah balik dan menghubunginya. Pos yang disebutkan Brady mungkin semacam tenda kamping lain di dalam area patroli, toh memang rencananya empat orang itu akan berkemah di luar radius 2 km dari tendanya. Entah bagaimana teknik yang ditempuh Seth, tapi ini lumayan juga. Mungkin mereka tetap akan menggunakan cara ini agar tetap bisa berkomunikasi dengannya. Walau ia akui, teknik ini tidak begitu bagus jika benar-benar ada masalah, serangan vampir lain misalnya, sehingga serigala yang bertugas di pos tidak akan sempat menghubunginya karena pasti harus turun ke kancah pertempuran.
Tunggu, apa tadi ia bilang ia memprediksi serangan vampir lain?
Tidak, terima kasih.
Coret itu, wahai Roh Alam Semesta!
Billy terlihat tidak senang dan Jacob tidak tahu mengapa. Ia sama sekali tidak menyentuh Korra, maksudnya mencari ribut dengan adiknya, sejak gadis itu naik. Bahkan mereka saling menghormati di depan Billy. Tepatnya saling diam untuk mencegah keributan.
"Kau tidak boleh meletakkan ponsel di dashboard, Jake. Bisa meledak," kata Billy, merenggang meraih ponsel Jacob dan menaruhnya di tempat dudukan gelas di dekat tuas kopling.
"Dad, itu takhyul!" ujar Jacob, agak tertawa, memutar setir di tikungan menuju Crescent Lake.
"Itu panduan keselamatan dalam berkendara, Jake. Dan dilarang menerima sms sewaktu menyetir," nasehat ayahnya lagi.
Jacob agak menggerutu, tapi diucapkannya juga, "Ya, Dad..."
"Kalian anak muda selalu saja mengabaikan panduan keselamatan berlalu lintas..." ayahnya mulai mengomel. Jacob memilih berusaha tidak mendengarkan kali ini, ia sudah sering diceramahi sehingga hapal di luar kepala isinya. Ada sekitar sepuluh ribu kali mungkin, sejak ia pertama belajar menyetir. Billy takkan puas jika tidak menceramahi anaknya minimal tiga kali dalam lima kali kesempatan putranya menyupirinya.
Iseng ia melihat spion tengah, memperhatikan Korra yang sibuk memainkan seutas rambut dengan jemari sambil melamun memandang keluar jendela. Mungkin sadar dirinya diperhatikan, tiba-tiba Korra memalingkan wajah, menatap matanya lewat spion tengah. Tajam.
Entah mengapa Jacob merasakan sesuatu dari mata itu. Di balik ketajamannya. Seakan mata itu menyatakan sesuatu. Padanya.
Ancaman.
Kesadaran itu membuat Jacob terhenyak. Dan tanpa sadar ia mengerjap, memutuskan kontak mata. Selintas senyum aneh tampak di wajah Korra, sebelum ia memalingkan wajah lagi, kembali memandang keluar jendela.
Anak itu, patut Jacob akui, memang memiliki sesuatu. Sesuatu yang ia simpan. Dan sesuatu itu bukan sesuatu yang bagus.
Untuknya, paling tidak.
