THE ANOTHER BLACK
Discaimer: I do not own characters and backgrounds for this fanfic, all belong to Stephenie Meyer... Excluding Korra and few minors...
.
Tiga puluh - Kamping -3-
Monday, January 14, 2013
4:12 AM
.
"Serius, Dad? Kau mau menyuruhku makan sampah?"
Mereka sudah sampai di tempat perkemahan di dekat Crescent Lake. Malam hampir menjelang dan mereka berkumpul mengelilingi api unggun yang dibuat Billy di depan tenda. Jacob tidak begitu paham soal kamping selain membuat api dengan batu dan mendirikan tenda. Jadi setelah mengurusi tenda sendirian, ia hanya duduk diam sementara Korra membongkar peralatan dan mempersiapkan penyangga untuk memasak makan malam. Gadis itu mencari-cari pisau lipatnya, siap menyiangi ikan atau semacamnya yang dikiranya dipersiapkan Billy, ketika Billy justru mengeluarkan makanan kaleng.
Itu bahkan bukan junk food dalam pengertian populer. Itu hanya makanan yang dikalengkan. Salah satu teknik pengawetan makanan. Yang tidak hanya sudah berusia ratusan tahun, tapi juga sudah disetujui WHO.
Tapi Korra terlihat tidak terlalu senang dengan keberadaan makanan kaleng sebagai makan malam mereka. Memang, ia tidak suka semua jenis makanan awetan. Di rumah, ia selalu meributkan soal bahan pengawet dan bahan makanan sehat dan lain sebagainya. Karena belakangan ia yang bertanggung jawab terhadap asupan gizi keluarga, Billy membiarkannya mengubah jenis stok makanan di dapur mereka. Makanan kaleng dan makanan kemasan cepat saji berubah menjadi tumpukan daging mentah, ikan, buah, dan sayur mayur.
Tapi sungguh Jacob tidak mengira sikap anti Korra yang ekstrem terhadap makanan kaleng berlanjut hingga ke acara kamping. Baru saja Billy mengeluarkan kaleng sarden, sosis, kacang polong, dan kornet dari kotak penyimpanan persediaan makanan mereka, ia langsung bereaksi.
"Mau ke mana, Korra?" tanya Billy begitu putrinya bangkit, jelas-jelas siap beranjak dari tempat itu.
"Mencari bahan makanan lain," ujarnya yang membuat Jacob mengernyit. Bahan makanan lain? Memang apa yang ia simpan? Atau apa yang bisa ia dapat?
"Sudah menjelang malam, Korra... Kau mau mencari ke mana? Terlalu jauh menyetir ke Port Angeles sore begini... Kita akan segera makan."
"Dad, masa iya aku mau membeli bahan makanan? Ini kan di tengah acara kamping..."
"Lalu?"
"Aku akan mencari," dan tanpa banyak basa-basi ia berbalik dan berlari ke antara kerimbunan pohon, sebelum akhirnya menghilang di baliknya.
Billy mengawasi kepergian putrinya lantas terkekeh sambil bergumam, "Dasar pecinta green-life," dan ia mengembalikan kaleng-kaleng itu ke kotak, tampak tidak begitu berminat memasaknya lagi. Ia malah mencari-cari kaleng bir, dan mulai menyeruput isinya dengan santai seolah tidak ada yang terjadi.
Jacob tidak menduga ayahnya begitu santai menanggapi kepergian putri kesayangannya, saat hari menjelang malam, di hutan yang jelas-jelas habis terjadi serangan vampir.
"Dad! Anakmu pergi sendirian entah kemana!"
"Oh jangan protektif begitu Jake... Dia bisa jaga diri!"
"Jaga diri apanya! Kalau putri kesayanganmu pulang sudah jadi vampir dan kami harus memburunya baru kau menangis, Pak Tua!" dan Jacob langsung bangkit, sudah akan berlari mengejar Korra, ketika panggilan sang ayah menghentikannya.
Ia memandang ayahnya dengan aneh, sementara ayahnya santai saja menusuk marshmallow ke satu ranting dan membakarnya di api unggun.
"Kau tidak perlu khawatir. Masa kau tidak percaya pada Seth?"
Jacob mengerjap. Dari mana ayahnya tahu Seth berjaga di luar sana?
"Tentu saja aku tahu, anak bodoh! Memangnya aku begitu bodohnya, tidak bisa menduga apa yang kalian rencanakan waktu Seth datang tadi pagi?"
"Tapi ancaman datang tidak cuma dari vampir, Dad... Bisa jadi ia diserang binatang buas."
"Mana ada? Binatang buas di wilayah Quileute itu kan cuma kalian!"
"Kata siapa?"
"Jangan berusaha menakut-nakuti orang tua, Jake... Setidaknya di Crescent Lake aman."
"Tapi ia bisa tersesat!"
Ayahnya tertawa. "Dia takkan tersesat..." katanya santai.
Oh ya, tentu saja...
"Dia belum berubah sekarang, Pak Tua..." tanpa sadar Jacob menyuarakan kata-kata dalam pikirannya. Dan kata-kata itu memang bereaksi terhadap Billy. Ia berhenti tertawa, memandang anaknya.
"Dia bertahun-tahun ada di alam liar bersama ibunya, Jake. Dia tahu lebih dari cukup untuk bertahan hidup, apalagi kalau cuma mencari jalan pulang."
Jacob masih memandangnya tak percaya.
"Ada kemampuan tertentu yang bahkan bisa melebihi kekuatan serigala, Jake... Jadi santailah. Tidak lama lagi juga Korra kembali. Kalau ia membawa pisau lipatnya, tidak ada masalah sama sekali."
Entah kepercayaan Billy, atau instingnya yang memang menyatakan bahwa tidak masalah ia mempercayai kata-kata itu, yang membuatnya kembali ke dekat api unggun dan duduk di samping ayahnya.
"Dia memang bukan cewek biasa, kan?" gumamnya, agak terlalu keras untuk bisa didengar Billy, sambil meraih sebatang ranting dan menusukkan marshmallow.
"Siapa?"
"Korra, tentu saja!"
Billy tertawa. "Putriku, calon serigala di daftar Sam, mungkin bahkan calon pengganti putraku yang bodoh... Tentu saja dia bukan cewek biasa."
Jacob mengerang.
"Kalau ia mati sebelum berubah, tidak akan ada penggantiku, Dad... Kalau itu tujuanmu membawanya ke La Push..."
Lelaki tua itu hanya mengibaskan tangan tak peduli. "Jangan bodoh, Jake... Siapa bilang dia bakal mati sebelum berubah?"
Dan sesaat Jacob terkesiap.
"Itu rencanamu dengan seluruh agenda kamping ini, ya? Mengubahnya dengan mengeksposnya pada bahaya?" ia tak percaya kesimpulannya sendiri. "Astaga Dad, kau mengerikan!" dan ia sudah akan bangkit ketika tangan Billy menahannya.
"Protektif seperti biasa, Jake..." Berbeda dengan biasanya, kali ini tidak ada tawa di wajah Billy. Ia serius. "Kau duduklah. Dia tak lama lagi juga kembali. Hanya mencari makanan tidak akan mengeksposnya pada bahaya apapun."
Jacob jelas akan membantah, tapi ia tak bisa bicara apapun di bawah perintah ayahnya. Ia kembali duduk, namun kini lebih gelisah ketimbang sebelumnya.
.
Tapi benar kata Billy, memang tak ada yang perlu dikhawatirkan. Korra datang tidak sampai dua puluh menit kemudian, membawa sekitar lima atau enam ekor ikan yang tertusuk di ujung ranting. Dalam keadaan sudah disiangi.
Billy menyambutnya, tampak sangat bangga sementara mata Jacob memicing curiga. Tanpa banyak bicara, gadis itu membakar ikan-ikan itu di atas api unggun, sesekali berhenti untuk mengolesi ikannya dengan garam dan air jeruk lemon.
"Aku menemukan jejak karnivora," kata gadis itu santai sementara menikmati ikannya, setelah membagi sama rata ke ayah dan kakaknya. "Tidak sampai setengah hari lalu mereka habis dari sekitar sini, berputar-putar. Aku juga bisa mengendus baunya. Kurasa lebih dari seekor, mungkin dua atau tiga. Dalam radius sekitar 2 km."
Jacob mengejang. Billy juga tampak membeku di tempatnya.
Karnivora?
"Anjing besar, tepatnya," Korra menekankan. "Mungkin serigala."
Jacob tersedak.
"Aku akan memasang jebakan segera setelah makan malam," putus Korra.
Pikiran Jacob langsung panik.
"U, untuk apa?" ia gemetar.
"Tentu saja untuk perlindungan..." ujar Korra santai.
"Memangnya kau yakin itu jejak serigala? Mungkin itu cuma jejak anjing liar atau anjing pemburu..."
"Tetap saja karnivora, Jake..."
"Api sudah cukup perlindungan bagi kita. Hewan manapun tidak akan mendekati api," tegas Jacob, ingat salah satu episode Discovery Channel. Tentu saja serigala kawanannya tidak takut api. Tapi dalam hal ini ia harus bermain cantik. Bermain bodoh, maksudnya.
"Ya. Tapi kita tetap butuh benteng. Api tidak bisa melindungi kita selamanya. Kalau kau butuh jauh untuk buang hajat, misalnya. Atau kalau hujan turun."
"Memangnya kau bisa buat jebakan apa?" tanya Jacob sangsi.
"Oh, aku tahu banyak jebakan, Jake... Aku pernah membunuh macan kumbang dulu."
Jacob melotot.
"Aku tidak melebih-lebihkan..." gumam Korra lagi, jelas bangga.
Kali ini kepanikan kembali menyelusup ke sel-sel syaraf Jacob.
"Ta, tapi kau tidak bisa membunuh serigala... Mereka binatang yang dilindungi," Jacob berusaha mencari sejuta alasan. Entah apa jebakan yang berusaha dipersiapkan Korra. Entah jika bahkan itu efektif. Tapi kalau Billy sampai begitu percaya putrinya, siapa tahu memang dia cukup kompeten bahkan untuk melukai kawanannya. Atau yang lebih ditakutkan Jacob, justru upaya menyedihkan Korra itu justru berbalik melukai dirinya sendiri.
Tidak boleh meresikokan apapun.
Korra memandangnya dengan tatapan mencela. "Sejak kapan kau jadi penyayang binatang?"
"Korra, ada hukum yang membatasi perburuan! Ini Amerika Serikat! Dan di sini hutan lindung!"
"Bilang itu kalau kau sudah jadi onggokan tulang tanpa daging, Jake... Kita tidak akan berburu, hanya melindungi diri."
"Ya. Bilang itu kalau jebakanmu malah melukai orang tidak bersalah."
Pandangan Korra berubah jadi menyipit curiga. "Apa maksudnya itu?"
Perubahan intonasi itu membuat Jacob bekeringat dingin. "Ma, maksudnya... Kau tahu, Korra!" ia membentak. "Bukan cuma kita yang berkemah di sekitar sini!"
"Malam ini memang cuma kita..." balas Korra datar. "Aku sudah mengecek lingkungan sekitar. Tidak ada bau ataupun tanda kehadiran manusia dalam radius sekitar setengah hingga satu kilometer. Aku takkan memasang perangkap jauh-jauh. Dan kita akan membereskannya pagi-pagi sekali sebelum kita pulang."
Jacob tidak mempertanyakan bagaimana tepatnya Korra bisa mengendus ketiadaan manusia hingga jarak 500 meter. Tapi jika memang Korra berpengalaman mengenali jejak dan hidup di alam liar, ia cukup dengan asumsi bahwa itu bisa membuat gadis itu bisa mengendus hal seremeh itu. Atau mungkin memang insting Korra menajam.
Tetap saja itu berbahaya untuk kawanannya.
"Kau bisa mengawasiku membuat jebakan kalau kau mau..." tawar Korra datar. "Mungkin bisa meyakinkanmu kalau jebakanku takkan melukai orang?"
Entah mengapa Jacob merinding. Satu kilometer adalah jarak yang diusulkan Seth. Meski ia sudah memerintahkan menggandakan jarak itu, tahu sifat Collin dan Seth, belum tentu mereka benar-benar mendengarkan.
Dan bayangan Collin terperangkap dalam jebakan-entah-apa yang dipersiapkan adiknya tiba-tiba membayang dalam ruangan matanya.
Ia tidak menduga ancaman ada di sini, di dalam. Bukan cuma ancaman dari luar.
"Aku tidak ingin meresikokan apapun," ujar Korra lagi, agak mengulang suara dalam pikiran Jacob meski konteksnya berbeda. "Ibuku pernah diserang dan aku tidak bisa melakukan apapun waktu tangan kirinya tercabik," ia berhenti. Jelas-jelas menahan ekspresi aneh di matanya yang Jacob tangkap sebagai pedih. "Pastinya aku tidak ingin itu terjadi pada ayah dan kakakku."
Billy mengejang.
"Ariana kehilangan tangan kirinya?" bisiknya penuh horor.
Korra menunduk.
"Hingga bahu," ujarnya pelan. "Macan tutul. Di Sumatera. Dua tahun, mungkin hampir tiga tahun lalu."
Keheningan yang suram melanda sebelum akhirnya Korra bicara lagi, kali ini terdengar lebih perih daripada sebelumnya.
"Serigala lebih parah. Aku menyaksikannya langsung. Serigala abu-abu. Menyerang Mom. Di punggung. Lukanya memanjang dari bahu kanan hingga pinggang kiri."
Bayangan sosok perempuan yang ia tidak kenal, yang ia benci, diserang seekor serigala bermain di benak Jacob.
"Karenanya aku benci serigala..." bisik Korra. "Mereka pembawa malapetaka. Di manapun aku berada."
Jacob terperanjat. Memandang Korra.
"Kau... sering bertemu serigala?" tanyanya nanar.
Korra mendengus, membuang muka, memandang menembus rimbun pepohonan. Ekspresi benci jelas terpampang di wajahnya, merah disinari tarian api.
"Hampir di setiap aku berpindah. Guatemala, Thailand, Jepang, Indonesia, India, Nepal, Mesir... Mereka ada di mana-mana..."
Wajah Billy menyiratkan ketegangan yang sama.
"Serigala besar. Buas. Sendiri atau berkelompok. Sebagian mengintai. Dan di sini juga. Aku sering melihat. Serigala merah kecoklatan. Pucat. Atau hitam. Di balik hutan."
Horor itu menyelimuti Jacob. Serigala merah itu mungkin dirinya, mungkin ia pernah tanpa sengaja membiarkan dirinya terlihat. Pucat, itu mungkin serigala coklat pasir, Seth. Dan hitam...
Apa itu si serigala misterius? Atau bahkan Sam?
Apa mereka juga mengawasi adiknya?
Sam mungkin. Tapi serigala hitam?
Untuk apa?
Tiba-tiba Korra mengumandangkan tawa pahit. Dan ia berpaling menatap Jake.
"Kau tahu, Jake? Hari ketika aku pergi bersama Kanna-chan ke reservasi Makah? Ketika aku bilang aku mau hiking?"
Jacob menelan ludah.
"Aku melihat serigala merah kecoklatan itu. Dan lalu serigala hitam. Mereka berkelahi. Dengan sesuatu yang lain. Dikeroyok."
Ketegangan merayapi Jacob ketika ia menunggu kelanjutan kata-kata Korra.
"Kau pasti menertawakanku. Tapi aku yakin apa yang aku lihat. Kanna melihatnya juga."
Ia tak ingin mendengar kelanjutannya.
"Aku melihat mereka. Manusia-manusia aneh. Menyerang bagai hewan buas."
Ia tahu kemana ini menuju.
"Para vampir..."
Jeda sebentar sebelum Jacob memaksakan satu tawa kering.
"Korra, vampir tidak ada..."
"Tapi mereka ada!" Korra bersikukuh. "Aku tahu mereka ada!"
Jacob mendengus, membuang muka. Berusaha keras menyembunyikan ekspresinya.
"Kalau begitu kau tidak seharusnya selalu berkeliaran di hutan..."
Korra memotong perkataannya. "Kau tidak mendengarkanku, Jake! Ini bukan ketakutanku! Aku sering melihat mereka. Berkali-kali..." ia terdiam sesaat, lalu melanjutkan, dengan suara pelan hampir bergumam, kali ini lebih pahit dari sebelumnya. "Ibuku salah satu dari mereka..."
"Ariana?" Billy tercekat.
"Ibumu sudah mati, Korra!" jerit Jacob.
"Mom tidak mati!" Jacob melihat kesungguhan dalam ekspresi Korra. "Di Bangkok... Ia menjadi... salah satu..." Korra tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Kengerian itu mencekam Jacob. Korra telah bersinggungan dengan serigala. Vampir. Ibunya sendiri menjadi salah satu dari mereka.
Tanpa sadar ia menggumamkan kata-kata dalam pikirannya. Sangat pelan. "Para lintah..."
Seharusnya itu tak bisa didengar Korra. Tapi ia menangkapnya. Dan ia terperanjat. Matanya bersirobok dengan mata Jacob, memandang nanar dari balik api.
"Kau menyebut mereka 'lintah'..." bisiknya.
Sejenak ia terperangah. Korra mengatakan semua itu dalam ekspresi menyudutkan, seakan mempertanyakan hal yang tidak ia ketahui, yang mereka sembunyikan darinya. Jacob tahu ekspresi itu, tahu bagaimana rasanya. Seperti yang ia rasakan selama ini ketika ada di hadapan Sam. Dan Korra memang pantas tahu. Jika ini menyangkut ibunya. Menyangkut keluarganya. Menyangkut masa depannya juga. Cepat atau lambat toh ia harus menerima.
Jacob merasa tak ada gunanya lagi menyembunyikan apapun.
"Korra, kau perlu tahu..." ucapnya hati-hati. "Para serigala, vampir... Kau tahu..." ia menelan ludah. "Aku... Seth..."
Tiba-tiba Billy menepuk lututnya. Tertawa terbahak-bahak, kedengaran sekali dibuat-buat.
"Bagus sekali, Korra!" katanya, tersenyum pada Korra. Tapi kemudian tatapannya diarahkan tajam pada Jacob, memaksanya diam. "Cerita seram di perkemahan awal musim panas! Lihat, kakakmu sampai ketakutan! Bagus sekali, Nak!"
Jacob memandang ayahnya tak percaya. Tapi Billy menggeleng pelan, dan dengan tenang menatap putrinya. Korra balas menyunggingkan seringai kecil padanya. Sesaat Jacob merasa pikirannya blank.
Semua ini ini betulan? Atau benar hanya bercanda?
"Kalau begitu waktunya tidur!" Billy memberi kode agar putranya membantunya kembali ke kursi roda.
"Aku akan membuat perangkap dulu, Dad..." ujar Korra pelan, tapi tak beranjak tempatnya. Matanya masih memandang tarian api.
"Itu bisa menunggu besok... Malam ini aku yakin kalaupun kau membuat perangkap, jangan-jangan malah kau yang masuk perangkapmu sendiri..." canda ayahnya. Korra tertawa masam.
Jacob memandang adiknya sebelum bangkit untuk membantu Billy. Samar, tapi ia bisa merasakan tatapan adiknya terarah padanya. Tajam.
Dan ia bisa membaca gerak bibir gadis itu.
"Kau tahu..."
.
Catatan:
ada sedikit perubahan dengan Korra? hahaha...
please review ya...
