THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: all part of Twilight you can recognized belong to Stephenie Meyer...


.

Tiga puluh satu - Perangkap (Kamping -4-)

Monday, January 14, 2013

11:17 AM


.

"Kau berlebihan, Korra, kau tahu?" ujar Jacob agak khawatir. Matanya memperhatikan Korra yang sedang menarik ranting-ranting kayu penuh dedaunan, menutupinya sedemikian rupa di atas jebakan entah ke-berapa yang ia buat mengitari perkemahan mereka.

Ia sudah mengikuti Korra bahkan sejak ia membuka mata. Pagi-pagi sekali Korra sudah ada ke sungai, ketika Jacob mendapatinya. Jacob hanya duduk diam sementara adiknya memasang perangkap ikan-entah-apa dari susunan ranting-ranting di sana. Lantas mengekorinya merambah wilayah seputar tenda, berkeliling dalam radius satu kilometer. Memicingkan mata ketika Korra berusaha mengendus bau dan menganalisa jejak apapun yang ditemuinya. Mengawasinya membuat jebakan.

Korra sama sekali tidak menjawab. Masih memasang tampang serius, ia berjalan lagi. Tangannya mempermainkan sebatang ranting, menajamkan ujungnya dengan pisau lipat.

"Siapapun akan tahu ada jebakan kalau kau menajamkan ranting sambil berjalan begitu, Korra… Serpihannya kan berjatuhan…"

Adiknya mengernyit seolah Jacob adalah spesies paling bodoh di muka bumi.

"Hewan tidak akan bisa membedakan serpihan bekas kikisan pisau dari sampah organik lain, Jake…"

"Tentu saja mereka bisa. Itu jelas terlihat."

"Baunya tetap sama: bau kayu dan daun."

Jelas itu berbeda. Ia tahu karena ia bisa mengendusnya. Selain dari bentuk serpih yang berceceran, jelas bukan hasil kerja alam, ia juga bisa merasakan sedikit bau sisa sentuhan manusia.

Jelas bagian itu tidak bisa ia katakan.

"Kau bersikap seolah kita menghadapi manusia, Jake… Kita menghadapi indra penciuman hewan di sini…" kata Korra santai, masih menyayati ranting sambil berjalan. "Atau…"

Dan tiba-tiba ia berhenti. Menatap Jake.

"Atau kau punya alasan mengapa kita perlu memperlakukan mereka seolah mereka manusia?" tanyanya curiga.

Jacob bergidik. Adiknya bisa sangat mengerikan kalau ia mau.

"Tidak…" ujarnya buru-buru.

Ia menyaksikan ketika kerutan di antara kedua alis adiknya memudar dan wajahnya kembali ceria. Batinnya terasa terpelintir ketika ia berusaha keras mempertahankan janji yang ia ucapkan dalam diam pada Billy semalam. Janji bahwa, bagaimanapun, belum saatnya ia membongkar topengnya di hadapan Korra.

Ini dia masalah yang bisa mendorong pada kesalahpahaman, jujur saja.

"Kau mau mengatakan sesuatu, Jake?" tanya Korra tiba-tiba.

"A, apa?" insting Jacob mulai awas.

Korra menyunggingkan senyum aneh, tidak menjawab. Lantas ia melempar ranting yang baru ia tajamkan ke tumpukan panah primitif di gendongan di punggungnya. Mengambil sebatang ranting berukuran tebal sejempol dan mulai menyayat lagi. Kembali pada dunianya. Serius.

Sejak mereka datang ke perkemahan, adiknya terus memasang tampang serius dan entah mengapa itu membuat hatinya ketar-ketir. Sebenarnya bukan sejak itu, sejak seminggu yang lalu malah. Dan ekspresi itu hanya dimunculkan di depan Jacob. Di depan ayahnya, Jacob memperhatikan, jika ia sedang tidak ada, Korra menjadi monster penjilat yang biasa-ceria dan selalu tertawa. Tapi di depannya? Jangan kata selintas tawa lepas, ujung kedua alisnya terus bertaut. Matanya terus memandang tajam dan entah mengapa ada aura mengintimidasi menguar dari sekelilingnya.

Bisa jadi Korra masih memendam pikiran buruk berkaitan dengan insiden minggu lalu. Atau memang ia sedang dalam mode serius kala berada di alam liar. Tapi entah bagaimana Jacob merasa tidak hanya itu.

Insting serigala Jacob mengatakan bahwa adiknya memang memiliki sesuatu yang berbeda. Darah Black yang mengalir di nadi Korra merupakan janji bahwa adiknya memiliki hak Alfa, itu sudah pasti. Mungkin itu menjelaskan aura intimidasi gadis itu. Entah bagaimana itu menggiring pada aura persaingan. Perselisihan. Saling membunuh jika perlu. Mungkin juga itu menjelaskan mengapa perasaannya tidak enak setiap berdekatan dengan adiknya. Ini adalah masalah selain urusan Ariana dan Oedipus-complex Jacob yang entah mengapa justru berpusat pada sang ayah, sebagai kompensasi ketiadaan ibunya. Di luar unsur kecemburuan.

Serigala di dalam dirinya mungkin merasakan ancaman.

Ya. Teori itu mungkin juga menjelaskan mengapa ia dan Collin tidak akur. Seperti juga ia dan Sam. Mungkin karena urusan 'hanya ada satu Alfa' ini, mereka yang menjadi kandidat kuat tidak pernah bisa meninggalkan hasrat persaingan. Jika pada Collin saja ia merasakan gejolak yang sedemikian kuat, pada Korra pastinya ia merasakan sesuatu yang lebih.

Untungnya hasrat itu hanya berujung pada insting untuk saling menjaga jarak saat ini.

Yang benar saja! pikir Jacob, menggelengkan kepala keras-keras, berusaha mengenyahkan pikiran itu. Bahkan semenyebalkan apapun adiknya, ia tidak mungkin mau bertarung dengannya memperebutkan posisi Alfa. Korra adalah adiknya walau bagaimanapun. Dan Korra bahkan belum berubah.

Bahkan jika itu terjadi, semua mungkin malah menyenangkan. Ia bisa meninggalkan posisinya dan pergi bersama Nessie.

Ah… Masa depan yang tidak terlalu jauh…

.

"Matahari sudah naik…" gumam Korra, melepaskan Jacob dari mimpi di siang bolong. Tiba-tiba ia bergegas, mempercepat langkahnya.

"Kau mau kemana?"

"Ke sungai," jawab Korra pendek.

"Kau mau mandi?"

Korra tidak menjawab. Alih-alih ia justru menggumamkan sesuatu dalam bahasa panjang yang tidak terlalu bisa Jacob tangkap. Ia berjalan makin cepat, hingga Jacob merasa perlu berlari kecil mengikutinya.

Mereka tiba kembali di bagian sungai yang pertama mereka datangi pagi itu. Bagian sungai yang jernih, dangkal. Letaknya agak lebih rendah dari bagian yang dipenuhi batu-batuan besar. Air yang melewati batu-batuan besar mengucur ke sana, bagai air terjun kecil. Menimbulkan cipratan kecil kala meningkah menerpa batu-batuan kecil di bawahnya. Meski tidak punya pengalaman apapun soal memancing, Jacob tahu bahwa bagian sungai seperti itu-jernih, dangkal, penuh cahaya matahari dan oksigen, adalah tempat yang disukai ikan-ikan.

Korra memasang perangkap kayu di sana, seperti karamba. Jacob tidak terlalu tahu sistem teknisnya, tapi yang jelas, pagi tadi mereka meninggalkan kurungan kayu itu kosong. Dan kini bagian dalamnya penuh dengan ikan-ikan. Tidak terlalu besar memang, tapi lumayan. Lebih banyak daripada ikan yang semalam ditangkap Korra.

Dengan riang Korra menghampiri karambanya, mengecek jumlah ikan. Tawa lebar dan keceriaan menguar darinya ketika ia membungkuk, berusaha melakukan sesuatu dengan mekanisme karamba agar aman baginya mengangkat rangka itu tanpa melepas mangsa. Jacob memperhatikannya dari tepi sungai, duduk santai di atas sebongkah batu besar.

"Aku penasaran…" ujar Jacob tiba-tiba.

Korra bangkit dari posisinya, memandang Jacob.

"Kenapa?"

Pemuda itu agak ragu, tapi mengatakannya juga. "Kemarin sore… Kau mencari ikan kan? Dan kau pastinya belum memasang perangkap apapun. Kau juga tidak membawa pancing. Bagaimana kau mendapatkan ikan?"

Ya. Itu pertanyaan yang ada di benaknya semalam, ketika Korra kembali dengan tak kurang dari enam ikan, tanpa pancing. Dan entah mengapa ia tidak bisa melenyapkan bayangan adiknya dalam wujud serigala hitam, berdiri di sungai. Moncongnya menerkam memangsa ikan-ikan yang berseliweran satu demi satu sebelum melemparkan mereka ke bebatuan di pinggir sungai.

Anehnya gadis itu tertawa. "Kau tidak tahu cara menangkap ikan, Jake?"

Kata-kata itu jelas ditujukan sebagai sindiran.

"Bangsa Quileute di masa lalu dikenal sebagai nelayan, dan penangkap ikan yang ulung…" ujar Korra bagai mendongeng. Namun nada sinis jelas tertangkap dari tiap kata. "Mustahil generasi sekarang bahkan tidak tahu cara menangkap ikan tanpa pancing…"

Kakaknya menatapnya tajam, jelas tersinggung. "Kau sendiri kehilangan ikan sekaligus pancingmu minggu lalu…"

"Yeah, aku memang tidak terlalu ahli dengan pancing…" Korra mengangkat bahu. Tapi kemudian senyum lebar, jelas senyuman pongah, terpampang di wajahnya ketika ia beranjak dari karamba itu, menuju bagian lain sungai yang juga jernih. Aliran airnya tidak terlalu deras, tapi tidak terlalu jauh dari batu-batu besar. "Ikan tidak banyak berkumpul di siang begini, tapi perhatikan," katanya.

Ia berdiri di sana, matanya terpejam. Lama ia berdiri, tenang. Lalu ia membuka mata, agak menundukkan kepala. Jacob menyaksikan dengan terpesona ketika ikan-ikan mulai berdatangan, berseliweran di antara kedua kaki Korra.

Dan dengan gerakan ringkas, gesit, namun pasti, tiba-tiba Korra membungkuk. Begitu cepat. Tangannya terjulur menembus batas air. Terdengar debur dan kecipak, cipratan air membuncah ke udara. Dan seketika Korra kembali berdiri. Satu ikan menggelepar-gelepar di cengkeramannya.

Ia tertawa seraya melemparkan ikan itu ke arah Jacob. Meneriakkan satu kalimat panjang dengan kata yang sambung-menyambung tanpa jeda dan penuh tarian lidah yang rumit. Kalimat yang tidak Jacob kenali artinya. Tapi bisa ia tangkap dari mana.

"Astaga, Korra!" Keterkejutan Jacob, jelas disaputi nada takjub, tidak hanya berdasar pada kemampuan Korra menangkap ikan dengan tangan kosong, tetapi juga dari kalimat yang meluncur dari lidahnya. "Kau bisa bahasa Quileute!"

Gadis itu memutar bola mata. "Tentu saja! Memang kau tidak?"

Bahasa Quileute berbeda dengan bahasa-bahasa populer lain. Eksklusif. Seperti bahasa suku kecil manapun. Sebagaimanapun bahasa itu memiliki akar dari rumpun bahasa lain, tetap saja ada kekhasan, sistem yang unik. Tidak dipelajari begitu saja oleh orang luar, tidak ada lembaga kursus manapun yang mengajarkan. Seandainya ya pun, memangnya untuk apa orang luar mau mempelajari bahasa yang hampir punah? Jelas-jelas tidak digunakan. Dan bahkan di La Push sendiri, sangat sedikit orang yang benar-benar bisa melafalkannya. Kenyataan bahwa adiknya yang sekian belas tahun tidak tinggal di Amerika Serikat, lebih lagi menginjakkan kaki di La Push, bisa melafalkannya dengan lancar, membuatnya terpana.

Jacob mengerjap. Kagum, ya, namun wajahnya menyiratkan hal lain: kalah.

Giliran Korra yang mengerjap membaca ekspresi Jacob. "Serius, Jake? Kau tidak bisa?"

"Yeah… sedikit…"

"Yang benar saja! Aku selalu bicara Quileute dengan Mom!" ujarnya yang membuat Jacob melotot, melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap defensif.

"Yah, mungkin aku tidak sepatriotik ibumu! Ia kan memang giat mempromosikan kebudayaan Native di sana-sini!" Jacob mengingat pembicaraan ayahnya tiga bulan silam. "Apa dia? Ahli etnolinguistik? Sarjana antropologi?"

"Sebenarnya dia doktor…" Korra berkata datar. "Keahliannya di bidang etnografi dan legenda…"

"Pantas…" gumam kakaknya kesal.

Rupanya Ariana doktor. Perempuan dengan pencapaian akademis yang tinggi. Mungkin hampir sama seperti Rachel. Ia agak bingung di taraf ini, dan sekaligus cemburu juga. Namun lebih dari itu,sebersit kecurigaan melintas di hatinya tanpa bisa ia bendung.

Tunggu, jangan-jangan Rachel yang pintar dapat turunan otak dari Ariana…

Ia buru-buru menggelengkan kepala dengan kasar. Itu tidak mungkin. Rachel dan Rebecca jelas sekali saudari sekandungnya. Putri ibunya, Sarah. Mereka memang punya wajah ayahnya, tapi jelas hidung dan mata mereka turunan sang ibu. Dan tidak mungkin ibunya mau mengurus anak perempuan lain. Tidak kalau ia berasumsi bahwa ibunya memang tidak tahu-menahu tentang perselingkuhan ayahnya selama ini.

Dan Rachel tidak pintar-pintar amat kalau dia sampai menerima Paul jadi suaminya, imprint atau tidak...

Korra rupanya mengira kekisruhan yang selintas tampak di wajah Jacob masih berurusan dengan kemampuannya berbahasa Quileute. Karena jelas tidak bisa menahan cengiran pada wajahnya.

"Serius, Jake? Maksudku, Sam dan Old Quil selalu mengajakku bicara Quileute… Dan Dad bilang para Tetua menyusun buku kurikulum pembelajaran bahasa dan lain sebagainya… Jadi kuasumsikan kalian memang mendapat pelajarannya di sekolah…"

"Yeah, memang… Tapi tidak banyak anak muda seusiaku yang benar-benar mempraktikkannya sekarang…" Jacob mengakui, agak malu.

Tapi tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Matanya membelalak.

"Tunggu, Korra…" nadanya berubah, menyelidik. "Katamu Sam dan Old Quil selalu mengajakmu bicara?"

"Ya…"

Jacob makin memicingkan mata. "Tepatnya apa yang mereka bicarakan?"

"Kebanyakan soal legenda… Hal-hal mengenai kepercayaan, asal muasal, warisan suku dan semacamnya…" ia berujar santai. "Mereka tentu berpikir karena pengaruh Mom, aku pasti tertarik pada semua itu."

"Legenda?"

"Yeah, bukan sesuatu yang aku tidak tahu sebelumnya, sih… Aku sudah dengar sebagian besar dari Mom…"

"Dari Ariana?"

Korra menghembuskan napas, terlihat agak lelah. "Kan kubilang spesialisasinya legenda. Legenda oral Native, sebenarnya."

Jacob menunggu.

Satu menit dan tidak ada kelanjutan apa-apa.

"Jadi?" tanyanya tidak sabar.

"Jadi apa?"

"Jadi apa yang kautahu?"

"Ya semua hal standar tentu saja!" Korra menjawab seakan sudah jelas. "Kano, legenda penciptaan, prajurit roh, leluhur serigala, Taha Aki, Kierra… Soal serigala itu agak menarik, sebenarnya..."

Tanpa sadar Jacob membiarkan seutas tarikan napas meluncur dari mulutnya.

"Mereka mengatakan itu?" bisiknya tak percaya.

"Jadi kenapa?" Korra mengangkat bahu dengan kasual. "Aku kan diundang pada malam api unggun, Jake… Tentu saja aku tahu."

Tahu? Sejauh mana dia tahu?

Tampaknya wajah Jacob bagaikan buku yang begitu mudah terbaca karena kini Korra jelas menduga bahwa apapun yang diceritakan Sam, mungkin menurut kakaknya tidak pantas diketahuinya. Dan itu membuat Korra kelihatan bingung.

"Memangnya itu rahasia? Semua suku kan memang punya legenda seperti itu… Totemisme, animalisme, dinamisme… itu kan bagian standar kepercayaan primordial. Kau tahu banyak suku di Samudera Pasifik punya legenda serupa soal masuknya roh manusia ke tubuh hewan. Dan jenisnya bermacam-macam, lagi. Macan tutul, macan kumbang, harimau… Di Jepang ada cerita rubah berekor sembilan. Di Indonesia bahkan ada cerita soal babi hutan jadi-jadian yang dipakai untuk mengeruk uang. Dan di Afrika juga ada legenda soal singa… Belum lagi soal elang..."

"Macan? Rubah? Babi? Singa? Elang?"

Entah mengapa bayangan kawanan shape-shifter lain, dalam wujud macan tutul, babi hutan, dan singa, bermain di benak Jacob.

"Itu legenda, bagaimanapun juga…" Korra menambahkan, datar.

Jadi Korra menganggap semua itu cuma legenda. Dalam hati Jacob sedikit bersyukur.

"Kalau begitu kau memang mengada-ada soal cerita semalam kan?" tanpa sadar ia berharap.

Ia mengawasi Korra, menanti reaksinya. Entah mengapa ia justru berharap Korra akan kembali memasang tampang serius, namun perih, dan berusaha meyakinkannya bahwa ia jujur. Bahwa ia tidak gila. Bahwa ia tidak sedemikian bodoh bermimpi melihat serigala dalam keadaan mata terbuka dan berhalusinasi bahwa vampir benar-benar ada.

Namun reaksi Korra berlawanan dengan harapannya. Korra pastinya menyangka sang kakak benar-benar termakan cerita-seram-perkemahan-musim-panasnya karena ia tertawa. Mengakak sampai terbungkuk-bungkuk.

"Ayolah Jake… aku tidak menduga kau begitu penakut…"

Jacob menganga, lalu mendengus dan melambai tak peduli. Dalam hati ia kesal setengah mampus.

Dia sudah ditipu!

Apa maksudnya? Jadi benar kata Billy, Korra hanya membual? Tapi semua detail itu. Serigala. Vampir. Bagian mana yang adiknya benar-benar tahu dan bagian mana yang ia karang-karang?

Namun kemudian ia sadar. Pada titik tertentu, cerita semacam ini cuma mungkin dua hal: benar-benar mengarang atau benar-benar jujur. Tidak ada mengarang tapi sebagiannya jujur jika tanpa maksud. Tapi kalau begitu, untuk apa Korra mengarang-ngarang cerita?

Kesadaran bahwa adiknya mungkin meniatkan sesuatu membuatnya mencatat dalam hati bahwa ia harus bergerak lebih hati-hati. Kebodohannya semalam yang hampir saja mengungkapkan rahasia suku mungkin memang harus dihindari. Memejamkan mata, berusaha menenangkan diri, ia menetapkan untuk sebisa mungkin mengikuti perintah Billy. Bermain cantik. Bermain bodoh.

"Sudahi tawamu, Korra! Kau mau bantuanku membawa karamba ini atau tidak?"

Ia berusaha memasang tampang kesal dan terganggu sementara mengawasi Korra tertawa. Korra terlihat lepas, begitu alami. Tawanya tampak tidak dibuat-buat. Tapi ia tidak yakin.

Sepanjang ada permainan, tidak peduli siapa yang bermain, maka ia pun akan bermain.

.


.

"Pagi kalian menyenangkan?" tanya Billy ketika Korra dan Jacob kembali ke tenda. Tawa lebar tersungging di wajahnya ketika ia menyambut kedua anaknya, berpaling sedikit dari majalah Fishing Alert yang dibacanya. Billy sudah meminta Jacob memasang kursi pantai sejak tahu kedua anaknya akan berkeliling hutan, dan kini dengan santai bertelentang sambil membaca majalah, minum bir, dan makan camilan-entah-apa.

Korra tersenyum, mengangguk. Kemudian ia mengambil alih perangkap ikan dari tangan Jacob dan pergi ke salah satu titik lahan kamping mereka untuk menyiangi ikan.

Mata Billy mengekor Korra sementara gadis itu membongkar pisau lipatnya dan mulai mengambil ikan satu demi satu dari karamba, membersihkannya sebelum mencelupkannya ke tong penampungan berisi air sungai yang mereka angkut tadi pagi. Ekspresi Billy tampak bangga.

"Jadi," Billy berpaling pada putranya. "Sudah berakrab ria dengan adikmu?"

"Yeah… Sudah lebih mengenalnya sekarang. Pemasang jebakan mengerikan."

Ia tidak yakin ayahnya menangkap maksudnya, karena Billy malah tertawa bangga. "Itulah putriku. Bertahan hidup di alam liar, heh? Jelas bukan sesuatu yang bisa disepelekan…"

Yeah, tentu saja tidak bisa disepelekan.

"Tunggu saja hingga aku sendiri yang masuk perangkap Korra. Bukan berarti dia tidak sudah menebarnya sejak awal…" entah mengapa ia mengucapkan itu.

"Apa maksudmu, Jake?" nada suara Billy jelas mencemooh.

Jacob hanya menggeleng, tidak tahu kemana pikirannya menuju. Ia mendekati ayahnya, duduk di atas sebuah batu ceper di sisinya.

"Dad," Jacob berkata hati-hati. Berusaha bicara serendah mungkin. "Kau tahu Sam dan Old Quil bercerita pada Korra? Soal legenda suku?"

"Ya, tentu…" ayahnya bersikap kasual. "Aku juga kadang suka bercerita padanya."

Jacob melotot. "Untuk apa, Dad?"

"Persiapan…" jawab Billy datar. "Dan ia lebih matang dalam menyikapi legenda. Lebih menghormatinya. Tidak akan seperti anakku yang bodoh…"

Jacob memilih mengabaikan urusan 'bodoh' itu dan tetap fokus pada intinya.

"Jadi sampai mana ia tahu, Dad?"

"Tahu apa?"

"Yah, kau tahu… Tentang suku. Kaudengar ia semalam. Bicara soal..." ia mengintip Korra dari balik kursi roda ayahnya. Adiknya masih asyik menyiangi ikan, earphone tampak menjuntai dari telinganya. "Kau tahu, anjing dan lintah."

"Dia tahu banyak legenda serupa, Jake. Mungkin ia memang mengada-ada."

"Dia tidak akan mengada-ada kalau ia sampai menyebutkan tiga warna bulu dengan tepat, Dad…"

"Mungkin memang kalian kurang berhati-hati."

"Dad! Warna bulu yang ia sebutkan bukan yang sembarangan."

Ayahnya mendesah menyadari maksud anaknya. Ya, Jacob mungkin takkan merasa seterancam ini jika yang disebutkan adalah warna bulu yang lebih acak, Brady dan Caleb misalnya.

"Kau terlalu ketakutan, Jake… Patut diakui, bagaimanapun, ia tinggal di rumah kita."

"Seth jarang sekali berubah dekat rumah, Dad…"

Billy mendesah. "Kebetulan tidak dihitung berdasarkan derajat kesempatan, Jake… Takdir ada di luar urusan statistika."

Jeda sebentar sebelum Jacob menarik topik lain.

"Soal Ariana, menurutmu Korra jujur?"

Wajah Billy langsung muram. Jelas ngeri. Tapi ia bisa menghalau perasaan itu dan berkata, "Mungkin itu hanya karangan, Jacob…" Namun entah mengapa Jacob merasa ucapan Billy hanya sekadar upaya menyedihkan untuk menenangkan, menipu dirinya sendiri.

"Aku tidak yakin. Dia benar waktu bilang ada vampir menyerang kami."

"Mungkin ia benar saat itu. Tapi kita tidak punya bukti Ariana berubah jadi salah satunya. Dan kalau itu benar…"

Jacob tidak perlu mendengar kelanjutannya untuk tahu apa yang ayahnya khawatirkan.

"Tenang Dad, hingga saat ini, aku yakin kami belum pernah membunuh siapapun yang kelihatannya mirip orang Native…"

Billy menggeleng, tampak berusaha membuang perasaan dan pikiran yang meneror kepalanya. Jacob mendengus, membuang muka.

"Jujur saja, Dad… Kalau kau memang ingin mempersiapkan dia, seharusnya kaubiarkan saja aku menceritakan semua padanya."

"Maksudmu sebelum ia berubah?"

"Aku bisa segera membuatnya berubah!"

"Jacob, aku sudah dengar soal rencana bully itu dan aku tidak setuju. Kau sudah dengar pendapat para Tetua."

"Kau sudah dengar pendapat Sam, Dad."

Ia memperhatikan ketika ekspresi ayahnya berubah aneh, tampak mencibir. Dan Jacob menyadari sesuatu.

"Astaga, Dad! Kau sendiri tidak ingin Korra berubah!"

"Yeah…" Billy terdengar ragu. "Aku tidak pernah ingin siapapun berubah…" akunya. "Dan kau juga sama."

"Ya, tapi…" Jacob mendadak kehilangan kata-kata. "Kau membuatku berubah, Dad. Dan kini kau ingin memperpanjang apapun kebahagiaan, kehidupan menyenangkan bersama putri kecilmu? Di saat kita sadar ancaman di depan mata? Apa tujuanmu membuatnya ke sini memangnya? Benar-benar hanya menginginkan sebuah keluarga harmonis?"

Ekspresi malu di wajah Billy sudah merupakan konfirmasi.

Jacob tidak percaya kemarin ia benar-benar menganggap ayahnya mengatur semua skema kamping di alam terbuka ini untuk mengekspos putrinya pada bahaya. Jujur saja, sekarang ini ia tidak mengerti apapun. Sikap Billy terlalu penuh kontradiksi.

"Jacob…" Billy memulai hati-hati. "Kau tahu, alasan aku tidak menginginkan Korra berubah sekarang, sebenarnya…" ia berhenti, kelihatan benar-benar ragu.

"Apa?"

Ayahnya masih diam.

"Apa Dad?"

Pria tua itu mendesah. Tiba-tiba terlihat jauh lebih tua dari usianya. "Jika aku bisa… menjauhkan selama mungkin… Kekacauan yang mungkin akan terjadi…"

Jacob memandang ayahnya, bingung.

"Bagaimanapun Korra adalah Black, Jake… Dan dia… mungkin…"

Putranya memotong. "Calon Alfa?"

Samar ia melihat ayahnya mengangguk.

"Dad, justru itu yang kutunggu! Dan memang ini yang kaunantikan kan? Penggantiku?"

"Kau tidak melihat yang kulihat, Jake…"

"Apa memangnya? Kautahu jika memang ada kandidat lain, aku akan sukarela memberikan jabatanku… Aku tidak akan bertarung memperebutkan jabatan dengan adik kecilku yang manis, kalau itu yang kaukhawatirkan."

"Sekarang kau bilang begitu…"

"Jawabanku tetap sama apapun yang akan terjadi!"

Ayahnya mendadak serius. Ia agak membungkuk, berusaha menangkap mata Jacob. "Jake, kau perlu tahu. Kami berusaha menahan ini selama mungkin, karena kami perlu menyelidiki lebih jelas. Dan para Tetua juga berbeda pandangan soal ini. Tapi kami curiga… Jika Korra berubah, kekuasaan Korra…"

Ia mendadak terdiam. Dan Jacob tahu penyebabnya. Dengan ekor matanya ia melihat Korra sudah selesai dengan pekerjaannya, dan kini mendekati mereka dengan senyum lebar terpampang di wajahnya. Ia membawa satu panci besar yang pastinya berisi ikan.

Billy menoleh memandang putrinya, kembali duduk tegak, dan memasang ekspresi tenangnya seperti biasa. Wajahnya dihiasi senyum lebar, yang entah mengapa kini Jacob rasa sebagai keterpaksaan.

"Sudah siap, Korra?" ujar Billy riang.

"Ya… sedikit lagi… Kalian ingin ikan bakar atau sayur?" ucap Korra, mendekat menuju api.

"Bakar saja…"

Korra berlutut seraya menusukkan ikan satu per satu ke ranting, menancapkan ranting itu ke dekat api. Menunggu ikannya matang, ia menatap Jacob, dan lantas Billy. Tiba-tiba gadis itu tersenyum jahil, lalu bicara panjang pada Billy, lagi-lagi dalam bahasa Quileute.

Ekspresi Billy makin melembut, dan tiba-tiba tertawa. Lantas membalas dengan bahasa Quileute juga.

Jacob mungkin tidak mahir, tapi ia bisa menangkap arti pembicaraan ini. Setengah menggerutu, ia membungkuk menjangkau ranting terdekat, mengambil ikannya yang masih setengah matang. Bicara pendek dalam bahasa yang sama.

Kedua orang si sisinya mendadak diam. Tertegun. Korra jelas bingung. Dan Billy, anehnya, kelihatan agak marah.

"Jacob! Itu bahasa slank! Dan bahkan itu bahasa kasar!" omel ayahnya.

"Maaf Dad, aku memang tidak dapat A+ dalam Sastra Quileute Tingkat Tinggi," sindir Jacob ketus.

Billy mendesah, tampak kecewa, sementara Korra mengikik sembunyi-sembunyi di sisinya. "Aku tidak menduga kau benar-benar tidak menghargai warisan leluhur…" katanya.

Memandang keduanya dengan sebal, Jacob berdecak. Ia tahu maksud ayahnya, lagi. Mana mungkin ada kepala suku terhormat yang bahkan tidak bisa menggunakan bahasa sukunya sendiri dengan baik, benar, dan sopan?

"Sudahlah, Dad…" ujar Jacob, menghabiskan ikannya dan menarik satu ranting ikan lagi dari api.

Ia kini benar-benar kesal. Tak urung mengingat hari ketika Billy bersikap subyektif dan memihak dalam persidangannya. Serta ancaman bahwa ia akan menurunkan Jacob.

Oke, kalau begitu. Kalau Billy menginginkan kepala suku yang mahir bahasa Quileute, si tua itu toh sudah mendapatkannya di sisinya. Anak yang benar-benar ia sayang dan banggakan, malah. Pastinya jauh lebih ia sayang ketimbang Jacob, yang selalu dibilang 'bodoh' dan 'tak berguna' dan 'bertingkah seperti anak kecil' dan 'ceroboh' dan entah apa lagi. Dengan kenyataan bahwa Sam dan Old Quil jelas sudah mempersiapkan Korra dengan berbagai legenda itu, rasanya memang mereka pun sudah menantikan perubahan bocah itu untuk segera mendepaknya dari posisi Alfa. Mungkin memang kepemimpinannya mengecewakan bagi kawanan dan para Tetua selama ini. Baguslah, toh ia memang tidak keberatan. Ia tidak perlu membujuk Seth menggantikannya atau merasa khawatir jika Collin suatu saat mengkudetanya, karena setidaknya sekarang ada calon yang lebih kuat. Mungkin bahkan setelah Korra jadi Alfa nanti, ia akan memberlakukan dekrit yang mewajibkan seluruh kawanan menggunakan bahasa Quileute. Itu akan melestarikan bahasa sesuai keinginan para Tetua. Pastinya itu akan membuat Billy senang. Dan ia bisa bebas.

Win-win solution, heh?

.

Ia menanti hingga Korra menyelesaikan makannya dan pergi untuk membuang tulang-tulang ikan yang menumpuk—karena bocah itu bilang bahwa ia tidak suka bau amis yang menguar jika melempar sisa ikan ke api—sebelum mencondongkan tubuh, bersandar pada sisi kursi pantai Billy.

"Kau tahu, Dad, kalau kau mau, aku bisa mundur sekarang juga."

Ayahnya menatapnya bingung.

"Kau bisa menjadikan Korra Alfa kapan saja."

Ia menunggu hingga bayang keterkejutan dan kebingungan di wajah sang ayah menghilang dan laki-laki tua itu tertawa.

"Serius, Jacob! Aku sudah bilang jangan bertindak seperti anak kecil!"

Betul, kan?

"Tidak. Kali ini aku sangat penuh pertimbangan."

"Kau mau pertimbangkan apa kalau ia bahkan belum berubah?"

"Itu masalah kecil…" dengus Jacob.

"Jacob!"

"Ayolah Dad, dengan semua lintah belakangan ini, memangnya butuh waktu berapa lama hingga 'calon Alfa yang dinanti-nantikan semua orang' itu benar-benar bisa berubah?" Oke, ia mungkin terlalu mendramatisasi. 'Semua orang' di sini mungkin hanya berarti ayahnya. Dan Collin. Atau juga Sam. Tidak, coret Sam. Sam pasti lebih suka Collin jadi Alfa. Setidaknya Collin sudah jelas tidak akan sering-sering menentang perintahnya.

Mungkin menyadari nada suara Jake yang getir, ayahnya kini berusaha menangkap matanya. Kali ini pandangannya simpatik. Membuat Jacob memalingkan muka, merasa jengah.

"Kau cemburu, Jake…"

"Tidak."

"Ya, kau cemburu. Terlihat jelas di wajahmu. Selalu setiap di dekat Korra."

Rasanya seperti deja-vu. Berapa kali ayahnya bicara hal seperti ini?

Ia mendengus.

"Anggap saja itu naluri persaingan. Bukan masalah besar."

"Justru itu yang kutakutkan."

"Taruh saja begini, Dad. Aku bisa tahan. Aku mundur dan pergi jauh, sejauh-jauhnya, dan tidak perlu lagi ada insting persaingan atau mempertahankan wilayah atau semua omong kosong soal Alfa lagi. Aku tahu semua soal aku sebagai Alfa yang berhak, tapi jelas tidak ada yang menginginkan begitu setelah semua kekacauan yang kusebabkan. Kau terutama. Dan kalau kaupikir aku jadi penghalang bagi putri berhargamu untuk mengklaim kedudukan itu, maka aku akan pergi. Mudah."

Ayahnya kini berputar di kursi pantai tempatnya duduk, menghadap Jacob sepenuhnya.

"Kumohon, Jake… Jangan pakai kartu 'menyerah sebagai ancaman'"

"Dad, kaupikir aku mengancam?"

"Jake, aku hidup lebih dari 50 tahun dan membesarkanmu lebih dari 20 tahun untuk tahu bagaimana sifatmu. Berusaha mendapatkan sesuatu dengan mengancam akan mundur, heh? Kau tahu bagaimana perasaanku soal semua ini…"

"Tidak, aku tidak melakukan hal sebodoh itu."

"Lalu apa yang kaulakukan sekarang?"

Ia mengangkat bahu. "Berusaha bersikap bijak?"

"Jacob, itu tidak bijak sama sekali…" ayahnya mendesah. "Jangan kaupikir aku buta. Aku tahu kau masih punya perasaan buruk tentang Korra. Masalah Alfa tetap bukan masalah utama kan? Ini semua soal aku dan Ariana."

"Aku sudah berjanji akan berusaha menghalau semua itu, Dad…"

"Jadi lakukan."

Kata-kata Billy, bagaimanapun, final.

Jacob menelan kembali semua argumen dan kekacauan hatinya, ikut tidur di rumput lembab di samping kursi Billy. Di ujung sana ia melihat sosok Korra menjauh, masuk ke hutan sambil membawa gendongan berisi ranting-ranting yang ia tajamkan. Mungkin ia berniat membuat jebakan lagi, pikir Jacob. Masa bodohlah. Memangnya kawanannya mungkin akan jatuh pada jebakan yang adiknya pasang? Mereka pastinya jauh lebih pintar dari itu. Ia mungkin khawatir macam-macam kemarin, tapi setelah ia pikir-pikir lagi dengan kepala dingin, yang lebih mungkin jatuh dalam jebakan justru Korra sendiri. Dan sekarang ia tidak peduli.

.


.

Matanya mulai terpejam. Ia sudah akan benar-benar tenggelam dalam tidur siangnya yang mungkin akan melenyapkan semua kegalauan, ketika tiba-tiba didengarnya sebuah lolongan. Perih.

Ia bangkit menyadari apa itu. Seth dan Collin sudah berganti shift sejak pagi tadi dan kini giliran Adam dan Brady. Keduanya cukup matang untuk tidak jatuh dalam jebakan. Apa mungkin ada serangan vampir lagi?

Di sisinya ayahnya juga bangun, tampak khawatir.

"Aku akan cek, Dad…" bisik Jacob, segera berlari ke balik pepohonan, siap berubah.

Tepat ketika Korra muncul di hadapannya. Sekilas senyum di wajahnya. Kilau kemenangan di matanya.

"Aku sudah bilang. Serigala jatuh dalam jebakan."

.


.

catatan:

yuppp... bagian ini panjang? banyak bicara tidak penting?

itu semua bagian dari sesuatu yang akan datang, jadi tahan... tenang...

huffff...

hahaha...

akhirnya Korra berhasil menjatuhkan satu serigala! hahaha :D

please R&R ya