THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: all part of Twilight you can recognized belong to Stephenie Meyer...


.

Tigapuluh dua - Jejak - Kemping -5-

Thursday, January 17, 2013

7:40 AM


.

Kengerian membasuh wajah Jake ketika ia meminggirkan Korra dan berlari ke arah lolongan. Cukup jauh. Di luar Zona Radius 1 km. Apa Korra memang memasang perangkap sejauh itu?

Ia menambah kecepatan begitu agak jauh dari Korra. Melucuti kemejanya sembari berlari. Berhenti sebentar di suatu tempat gelap, sudah akan melucuti celananya, ketika didengarnya suara tapak lari seseorang di belakangnya. Korra.

"Jacob!" teriak Korra nyaring, bergema di sekitar hutan. "Tunggu!"

Brengsek, bagaimana mungkin gadis itu bisa menyusul kecepatan larinya?

Ia menggemeretakkan gigi. Di suatu tempat di luar sana ia bisa merasakan seseorang terluka. Anak buahnya, ya. Ia bisa mencium bau samar darah. Brady. Entah karena apa ia tidak tahu. Ia harus segera ke sana. Berubah dan mengecek ke arah lolongan itu. Tapi tidak jauh darinya ada Korra. Korra akan tahu mengenainya pada detik ia berubah. Mungkin Korra akan melontarkan panah-panah setengah jadi di gendongannya tapi ia tidak yakin panah itu sanggup melukainya. Tapi tetap saja Korra akan melihat seekor serigala merah muncul entah dari mana, dan ia mungkin akan ketakutan.

Ketakutan. Panic attack. Mungkin memang itu bisa memicu Korra menjadi serigala.

Dan pada detik itu ia tidak perlu berahasia apapun.

"Jacob!" teriak Korra lagi, makin mendekat.

Tapi mendadak perkataan Billy mengiang di kepalanya.

Kami berusaha menahan ini selama mungkin. Dan para Tetua juga berbeda pandangan soal ini. Tapi kami curiga… Jika Korra berubah, kekuasaan Korra...

"Jacob!" Korra tidak sampai seratus meter darinya.

Oh, ia pasti akan menyesali keputusan ini.

Ia keluar dari kegelapan rimbun pepohonan yang mengurungnya, menampakkan diri di hadapan Korra.

"Astaga, Jacob!" ia tampak terkejut kakaknya muncul begitu saja dari balik pepohonan. "Kenapa kau tiba-tiba lari?" Namun sesaat ia mengerjap. "Tunggu… Kenapa kau tidak pakai baju?"

Jacob sejenak ragu, tapi ia bergerak mendekat. Meraih tangan gadis itu. Satu tangan lainnya menyentuh pipinya. Merasakannya.

Dingin.

Tidak sedingin tangan vampir, tentu. Tapi lebih dingin daripada dirinya. Normal.

Korra masih belum masuk ke tahap pertama perubahan fisik menjadi serigala.

"Jacob!" mata gadis itu membelalak, mulutnya terbuka. Ia menghela tangannya hingga terlepas dari genggaman Jacob dan mundur selangkah. Wajahnya membeku.

Oh, sial! Jacob baru menyadari apa yang mungkin melintas di pikiran Korra. Ia tidak berbusana, dan tiba-tiba menarik tangan adik tirinya tanpa pemberitahuan lebih dulu. Itu pastinya mengerikan.

Korra menggelengkan kepala sesaat dengan ekspresi horor. Itu merupakan konfirmasi bahwa ketakutannya benar. Sedetik kemudian gadis itu berbalik, lari ke arah tenda.

"Korra, tunggu!" teriak Jacob, segera menyusulnya. Tidak sampai beberapa langkah ia bimbang, menatap ke arah suara lolongan tadi. Bau Brady bergerak. Masih berdarah, tampaknya. Apapun yang terjadi, di luar sana ada Seth, Collin, dan Adam. Mereka harusnya bisa menangani. Seharusnya. Dan kemudian ia berpaling ke arah larinya Korra. Masalah baru menunggunya di sana.

Ya, tunggu hingga Korra membuat fitnah lagi.

Haruskah ia mengejar Korra? Atau mencari tahu yang terjadi dengan Brady?

Ia tahu bahkan saat ini, keputusannya akan membuatnya menyesal.

.

"Tunggu, Korra!"

Sedikit melebihi batas lari manusia normal yang biasanya selalu berusaha ia pertahankan, Jacob akhirnya berhasil menyusul Korra, menghadangnya, menarik tangannya.

"Lepaskan aku, Jake!" Korra tampak panik.

"Korra, kumohon, itu salah paham…"

"Lepaskan atau aku bilang pada Billy!"

"Korra, aku tidak bermaksud…"

Korra rupanya benar-benar ketakutan karena ia tiba-tiba berteriak, "DAAAAADDD! TO..."

Tanpa pikir panjang Jacob maju, membekap mulutnya. Sungguh itu tindakan yang sangat bodoh, yang disesalinya saat itu juga. Karena Korra makin panik, memberontak namun tak bisa apa-apa di dalam bekapan dan pitingannya di tubuh gadis itu. Sebelum ia sadar betul, ia sudah merasakan perih dan dingin di pergelangan tangannya. Secara refleks ia mengaduh dan menarik tangannya dari mulut Korra. Ada selintang guratan luka sayat di sana. Cukup dalam. Dan Korra menggenggam erat pisau lipat di tangannya. Matanya masih tampak ketakutan, tapi penuh tekad.

"Kau menjauh dariku, Jacob!" ancamnya, mengacungkan pisau ke wajah Jacob. Gerakan tangannya mantap walau kentara sekali ia gemetar.

Ia tahu tidak ada gunanya melawan gadis yang merasa terancam. Luka itu mungkin langsung pulih sesegera itu juga. Tapi bukan kemungkinan adiknya melukainya lebih jauh yang membuatnya mundur, mengangkat tangan dengan sikap menyerah. Bagaimanapun kesalahpahaman ini harus diluruskan sebelum kreativitas Korra berkembang terlalu jauh.

"Kumohon, Korra… Kau tahu aku tidak bermaksud begitu. Kau salah paham!"

Korra menatapnya tajam, mundur penuh perhitungan. Namun kini getaran mulai menjalar di tangan dan kakinya. Makin lama makin hebat. Dan sesaat kemudian ekspresi aneh muncul di matanya. Kesakitan. Pisau itu terlepas dari tangannya pada detik Korra berteriak perih, dan jatuh berlutut di tanah.

Jacob mengenali gemetar itu, gejala itu. Korra di ambang perubahannya.

Itu mungkin yang ia tunggu-tunggu. Tapi tidak sekarang. Korra berubah di depannya dalam keadaan sepenuhnya salah paham takkan berdampak baik apapun. Ia bisa terkena serangan dari serigala baru emosional yang mengalami panic attack. Serigala yang juga punya darah Alfa, tak kurang. Entah seperti apa kekuatannya, yang jelas bukan lawan yang bisa dengan mudah ia kalahkan. Dan dalam taraf itu, tidak ada pikiran rasional apapun yang akan dapat menjangkau Korra, menjelaskan semua yang terjadi. Lebih lagi pikirannya.

Korra bisa kabur, hilang berminggu-minggu di hutan, dalam wujud serigala tanpa ada siapapun yang bisa menenangkannya. Tak pelak lagi Billy pasti akan membunuhnya.

"Aku mundur, Korra… Kumohon, tenangkan dirimu…" ia memilih jalan aman.

Ia menunggu hingga gemetar di tubuh Korra reda. Tapi gadis itu masih tersuruk di tanah. Meringkuk. Jelas masih ketakutan. Jacob mengenali gerakan patah-patah di bahunya. Ia mulai menangis.

"Korra…" insting ingin melindungi sang adik muncul, dan ia mendekat, berusaha menempatkan tangannya di bahu gadis itu. Namun Korra menjengit, membuat Jacob menarik tangannya. Gadis itu jatuh terduduk, mundur dengan sikap defensif. Matanya memandang nanar pada Jacob.

"Kau mau apa, Jake?" cicitnya lirih, ketakutan.

"Korra, aku tidak akan melakukan apapun yang buruk…" Jacob mengulurkan tangan lagi, berusaha menenangkan adiknya.

"Singkirkan tanganmu!" teriak Korra lagi. Tangannya menggapai-gapai, dan akhirnya berhasil menemukan pisaunya. Mengarahkannya lagi ke muka Jacob.

Jacob mundur, mengangkat tangannya. "Sudah, Korra. Oke. Aku takkan menyentuhmu. Tapi tenangkan dirimu."

Adiknya mendesis mengancam. Perlahan anak itu kembali berlutut, mencoba bangkit, tapi limbung dan jatuh lagi ke tanah. Refleks Jacob mendekat, sebelum pisau Korra kembali terarah padanya. Ia mundur selangkah lagi, berusaha sebisa mungkin tampak tenang.

Tapi melihat Korra yang begitu dramatis lama-lama membuatnya kesal. "Oh, berhenti bersikap defensif!" teriaknya. Ia mungkin tidak sengaja melepaskan Titah karena tiba-tiba Korra terdiam, menelan ludah. Bola matanya bergerak-gerak panik.

Tunggu. Melepas Titah? Pada serigala yang bahkan belum berubah?

"Korra..." ia berusaha menjaga suaranya selembut mungkin. Berjongkok di hadapan Korra. Menjaga matanya berada pada ketinggian yang sama dengan mata Korra. Mungkin aman jika ia berasumsi insting serigala Korra terpicu. Dan satu-satunya cara menenangkan serigala adalah dengan membuat dirinya, sebagai lawan, lebih kecil, agar ia tidak merasakan ancaman. Jacob yakin pernah melihatnya di salah satu adegan Animal Planet. Bahkan jika Korra bukan serigala pun, itu pendekatan yang aman.

"Aku tidak akan bilang pada Billy…" Korra mencericit ketika akhirnya menemukan suaranya.

"—Hah?"

"Aku tidak akan melapor. Kumohon jangan sentuh aku..."

Jacob mendesah. Ingin segera kabur dari situasi bodoh ini. Tapi tak ada gunanya, ia harus menenangkan adiknya kini.

"Korra, kau tahu aku takkan melakukan apapun. Buang pikiranmu. Aku tidak tertarik padamu. Aku bukan kakak seperti itu, tahu!" tanpa diduga suara yang keluar dari tenggorokannya bukan suara lemah lembut yang ia niatkan.

"Lalu kenapa kau ada di hutan, mendadak menyergapku, tanpa busana?" tuntut Korra.

Jacob tidak bisa menjawab.

Gadis itu menggelengkan kepala, lalu perlahan bangkit. Ia agak terhuyung sedikit, tapi akhirnya bisa mengumpulkan kesadarannya.

"Aku takkan mengadukanmu pada siapapun. Tapi kumohon jangan dekati aku lagi," katanya. Dan ia berbalik, lari ke arah tenda. Meninggalkan Jacob yang masih terpana di lantai hutan, bingung apa yang harus ia lakukan, atau penjelasan yang harus ia berikan pada gadis itu.

"Itu jelas salah paham, Korra!" teriaknya frustasi pada punggung Korra yang lenyap di balik pepohonan.

.


.

Korra jelas-jelas berusaha menghindarinya begitu ia kembali ke kemah. Melihat selintas bayangan Jacob muncul di batas hutan, ia segera kabur ke arah berlawanan. Dan Jacob tidak berusaha mengejar. Ia mendekati ayahnya, duduk di sisinya, menyurukkan wajah ke lutut.

"Kemana bajumu, Jake?" tanya Billy, jelas khawatir. "Hey, kau berdarah!" tunjuknya, melihat darah kering di tubuh dan celana putranya. Yang bersangkutan hanya melambaikan tangan, tidak mempedulikan hal itu. Pasti luka di tangannya tadi sempat mengeluarkan darah. Ia bahkan tidak merasakan sakit.

Jacob tidak berbaju dengan darah di tubuhnya hanya berarti satu hal: ia habis berubah. Dan berubah di tengah acara kamping dengan penjagaan ketat kawanan di luar sana jelas bukan sesuatu yang bagus.

Dan memang ia tadi sempat berubah. Setelah merasa sia-sia berusaha meyakinkan Korra, Jacob kembali mencari tempat aman untuk mengadakan kontak dengan para pengawalnya. Brady memang secara tidak sengaja masuk ke dalam salah satu jebakan Korra. Ia kurang awas selagi melihat bayangan serigala lain dan membiarkan dirinya jatuh ke lubang yang di dalamnya diisi berbagai benda tajam—pasak-pasak kayu dan batu runcing. Tentu saja lukanya tidak parah dan segera pulih setelah ia berhasil keluar dari lubang. Meski begitu, kakinya bengkok ke arah yang salah. Seth dan Collin akhirnya terpaksa mengambil alih shift mereka, karena Adam perlu mencabut serpih-serpih kayu yang masih tertinggal di tubuh Brady dan membetulkan posisi tempurung lututnya.

Tapi bukan Brady yang dikhawatirkan Jacob. Ada masalah yang lebih penting. Pertama serigala yang dilihat Brady. Dan kedua, Korra.

Serigala di luar adalah bagian dari kawanan lain itu. Apa tujuan serigala itu di sini, di Crescent Lake saat mereka kamping? Apa memang ia benar memata-matai Korra? Atau dirinya? Untuk apa? Jika mereka mau mengadakan kontak, ia dengan senang hati menyambut. Mereka sudah menolong kawanannya walau bagaimanapun.

Dan soal Korra, itu benar-benar membuat otaknya berhenti.

Semua tentang Korra membuatnya frustasi, memang. Ini hanya tambahan dari tumpukan permasalahan yang memperparah segalanya. Ia tidak mengerti bagaimana bisa semua kesalahpahaman ini terjadi. Apa yang dipikir adiknya tentangnya kini? Bully, pengedar narkoba… Itu sudah jelas. Hingga sekarang pun adiknya masih belum mendapat penjelasan yang bisa menangkis tuduhan itu. Dan kini apa? Pemerkosa incest? Itu bahkan lebih menjijikkan! Tidak pernah ada selintas pun pikiran semacam itu di kepalanya. Oh, sungguh semua ini membuatnya lebih frustasi. Karena ia bahkan tidak bisa menjelaskan alasan tindakannya yang jelas membuat Korra salah tafsir dan ketakutan setengah mati. Alasan di balik mengapa ia tiba-tiba membuka bajunya ataupun tindakannya menyentuh gadis itu.

Sungguh Jacob menyesal telah menenangkan Korra. Seharusnya tadi ia biarkan saja gadis itu berubah.

Karena penjelasan akan langsung didapat Korra setelah ia menjadi bagian dari dunia mistis Quileute. Segera.

"Dad, jika Korra belum boleh berubah, kumohon setidaknya biarkan aku mengatakan semua…" bisik Jacob, tekanan selama ini membuatnya hampir hancur.

Ayahnya mengangkat sebelah alis. "Apa itu ada hubungannya dengan Korra yang tiba-tiba lari ke kemah dengan wajah ketakutan, dan menangis selama setengah jam?"

Ia mengangguk.

"Ada hubungan denganmu yang kehilangan kemejamu?"

Ia mengangguk lagi.

"Dan mungkin luka setengah pulih di lenganmu itu?" tanya sang ayah lagi, menunjuk pada luka panjang di lengan bawah Jacob yang disebabkan oleh pisau Korra. Luka itu sudah tak lagi mengeluarkan darah, dan tak lagi terasa sakit. Tetapi tetap saja ia merasakan sedikit gatal dan denyut pedih ketika mekanisme tubuhnya berusaha menutup luka itu.

Jacob mendesah sebelum mengangguk.

Billy tertawa hebat. Jelas ia sudah bisa menduga. "Maaf Nak, permohonan izin ditolak. Bertahanlah sebentar lagi hingga waktunya tepat."

"Nama baikku dipertaruhkan, Dad…" bisiknya di antara tempurung lutut.

Agak mengejit ketika ia merasakan tangan ayahnya menepuk pundaknya. Perasaan tenang membasuh dirinya perlahan. Ayahnya mengerti. Ayahnya takkan berpikir buruk tentangnya. Setidaknya, jikapun kali ini Korra bicara macam-macam, ayahnya takkan percaya. Ayahnya pasti membelanya. Bahka ia percaya ayahnya pasti akan bicara pada Korra, menjelaskan kesalahpahaman ini.

"Maaf Nak…" bisik sang ayah.

Itu jelas bukan simpati. Ayahnya tidak berusaha menarik beban dari hatinya, dari pundaknya. Itu jelas permintaan maaf. Dan tiba-tiba ia menyadari sesuatu.

"Kau punya alasan, ya kan Dad? Mengapa kau tidak ingin aku mengungkapnya pada Korra? Sesuatu yang berhubungan dengan rencana para Tetua, mungkin?"

Ayahnya tersenyum, namun terlihat pedih.

Ya, ayahnya bagian dari Tetua. Dan mereka jelas memang merencanakan sesuatu tentang adiknya. Ayahnya sudah pasti terlibat.

"Dan kau bicara tentang kekuasaan Korra. Apa ini soal Alfa? Atau sesuatu yang lebih dari sekadar jika ia berubah, maka ia akan mengambil alih posisiku? Karena jelas aku tidak keberatan kalau cuma itu."

"Ya dan tidak, Nak… Maaf aku tidak bisa menjawabnya. Banyak pertanyaan yang kami belum tahu."

"Katakan yang kautahu, kalau begitu."

Billy terdiam dan entah mengapa itu membuat Jacob berang.

"Apa Sam memerintahkanmu untuk tutup mulut? Bahkan dariku?"

Ayahnya diam dan itu sudah merupakan konfirmasi yang lebih dari cukup.

Jacob mengerang. "Apa rencana si Kepalanya Kepala Suku Sam? Memang siapa dia? Sejak kapan ia punya kuasa bahkan untuk memerintah para Tetua?"

Ia merasa terperangkap dalam jaring yang tidak terlihat. Berat menekannya ke tanah. Tidak bisa bergerak. Ia tahu jawabannya ada di depan matanya. Tapi ia tidak bisa meraih. Bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk membebaskan diri.

Billy tertawa. "Jake, sudahlah… Jangan bawa-bawa urusan kawanan sekarang. Bagaimana kalau kita nikmati acara kamping ini saja? Anggap sebagai liburan, pengusir stress…"

"Jangan mengalihkan perhatian, Dad!" Jacob mendelik.

"Tidak," kata Billy tenang. "Aku memang tidak sedang mood bicara hal berat-berat sekarang. Apalagi denganmu."

Putranya menggeram kala memandangnya, tampangnya lebih kusut dari biasanya. Tapi sinar matanya penuh tekad.

"Lihat saja, Dad. Suatu saat akan aku buat si Zordon Uley itu menundukkan kepala besarnya…"

Kalimat itu sepertinya tidak mengguncang Billy, karena ia berkata tenang, "Tentu. Selama kau tidak melakukan hal yang akan kausesali seumur hidup…"

Ucapan Billy itu menghentak Jacob. Dan ia tidak bisa menahan munculnya kerutan di antara dua alisnya dan getaran di dadanya, kecurigaan yang menumpuk, kala ia bertanya, "Apa maksudnya, Dad?"

Tapi Billy tidak sempat menjawab, karena tahu-tahu Korra sudah berlari ke arahnya, berteriak, "Aku menemukan jejak darah!"

.


.

Korra menemukan jejak darah? Apa itu darah Brady?

Jacob berdiri, segera mendapati adiknya. Ia butuh informasi.

"Darah apa, Korra?"

Korra memandangnya jijik, setengah ketakutan, menghindari mengitarinya sambil menjaga jarak, lantas berlari ke dalam tenda. Ia keluar beberapa saat kemudian, menenteng ranselnya. Ia membongkar isinya di depan tenda, melakukan pengecekan. Dan Jacob bisa melihat senter, pisau berburu berukuran sedang, jaring, dan sebuah busur horizontal.

"Wohoooo… Korra! Kau mau apa?"

Ia tidak pernah menduga Korra membawa semua itu. Dan itu adalah ransel yang dibawa Korra ke sekolah kemarin. Artinya, adiknya membawa-bawa barang aneh itu ke sekolah? Apa itu bahkan legal?

Apa adiknya memang se-freak ini?

Korra tidak menjawab, menyeletingkan ranselnya dan menentengnya di punggung. Ia agak mendelik ketika melewati Jacob. Billy memandangnya dengan wajah khawatir, tapi tidak berkata apapun atau berusaha menahannya.

"Tunggu Korra!" Jacob berlari mengikutinya. Tapi belum sampai ia mendekat dua meter, Korra sudah berbalik, mengacungkan pisau berburu di depan wajahnya. Yang keempat kali hari ini, kali ini bahkan dengan pisau yang lebih besar.

Jacob langsung mengangkat tangan, mundur selangkah.

"Kubilang jangan dekati aku atau akan kupotong 'anu'-mu!" desis Korra, sebelum berbalik dan berlari ke balik pepohonan.

"Kan sudah kubilang itu salah paham, bocah bodoh!" teriak Jacob. "Dasar cewek freak mengerikan!" ia melampiaskan kekesalan dengan menendang batang pohon terdekat. "Aku mengkhawatirkanmu, tahu!"

Tidak ada jawaban dari dalam hutan. Meski ia yakin Korra belum terlalu jauh.

"Jacob…" ayahnya memanggil. Jacob berpaling, tampangnya kesal.

"Apa Dad? Kau tidak tahu di balik sikap sok perkasanya itu, tadi dia begitu rapuh dan ketakutan setengah mati? Bisa-bisa dia melukai dirinya sendiri dalam keadaan emosional begitu!"

Billy mendesah. "Mungkin adikmu merasa terancam kalau kau setengah telanjang begitu, Jake... Sana pakai baju dan kejar dia!"

Sang anak menggeram, tapi sadar bahwa ayahnya mungkin benar. Menggerutu keras-keras, ia pergi ke tenda, menarik selembar kaos asal saja dari tas, dan memakainya sambil berlari.

.


.

Ia berlari seraya mengidentifikasi arah bau adiknya. Rupanya memang Korra pergi ke arah lolongan tadi. Ke arah Brady jatuh ke dalam jebakannya. Ia mengikuti bau itu, sebisa mungkin menjaga jarak dari Korra. Korra berlari dengan kecepatan biasa, analisanya. Lebih cepat daripada standar manusia, tetapi jelas bukan kecepatan para werewolf, bahkan dalam wujud manusia. Sesekali gadis itu berhenti. Mungkin mengecek jejak atau bau di sekitarnya. Makin Jacob menajamkan konsentrasi, ia bisa mendengar sibakan semak dan suara tapak kaki ketika Korra berlari. Perubahan kecil pada getaran di udara ketika gadis itu berhenti, mengubah arah, atau mempercepat larinya. Detak jantung gadis itu. Bahkan selintas emosi yang ia rasakan.

Tunggu, apa itu? Ia bisa merasakan emosi Korra?

Bagus, tunggu sampai Jasper tahu ini. Ia bisa merasakan emosi orang yang bukan anggota kawanannya?

Tunggu, tidak 'bukan' tapi 'belum'. Dan mungkin karena ia tadi melihat Korra hampir berubah, tinggal satu langkah lagi menuju perubahannya, apa itu artinya Korra telah menjadi anggota kawanannya?

Mungkin ya. Jelas tadi Korra merasakan efek Titah.

Ia tidak punya kesempatan untuk benar-benar memikirkan itu karena Korra kini berhenti. Agak lama. Jacob berhenti berlari dan mulai mengindik-indik, menyelusup tanpa suara di antara pepohonan, mendekat. Hampir seperti mengintai. Hingga ia menangkap bayangan tubuh Korra.

Gadis itu berjongkok di tanah, jelas di samping sebuah lubang besar yang sebagian ditutupi cabang pohon dan dedaunan. Tangan Korra menelusuri serangkaian garis, mengikuti jejak darah di atas dedaunan dan tanah. Jacob juga merasakan itu. Bau darah yang kuat. Bau serigala. Memang benar, bau Brady.

Ia menguntit Korra menelusuri jejak darah Brady. Bau itu bercampur dengan bau lain sekitar setengah kilometer kemudian, jelas bau Adam. Ia menyaksikan dengan was-was ketika Korra tiba-tiba terpekur sambil berjongkok menghadap tanah, lalu bangun dengan ekspresi bingung di wajahnya. Kemudian ia memandang berkeliling, tampak mencari-cari atau menganalisa sesuatu. Jacob berbalik hati-hati, menyembunyikan tubuhnya di balik pohon. Jangan sampai Korra melihatnya menguntit atau ia mungkin akan berpikir yang lebih tidak-tidak lagi mengenainya.

.

Tiba-tiba ia mencium bau serigala lain dan berpaling, kembali ke arah padang kecil tempat Korra tengah menginspeksi jejak. Ia melihat apapun yang disadarinya ada, juga disadari Korra. Karena gadis itu berdiri dengan tegang, namun diam. Punggungnya menghadap Jacob. Pandangannya diarahkan ke seberangnya, ke balik semak-semak. Jacob mengikuti arah pandangan Korra dan melihatnya.

Serigala oranye keemasan itu. Separuh tubuhnya muncul di balik semak. Berdiri tenang menghadap Korra.

Jacob merasakan dorongan untuk berubah dan melindungi Korra. Atau memanggilnya supaya Korra berbalik dan lari dari hadapan serigala itu, berlindung padanya. Tapi ia tidak melakukan keduanya. Keduanya opsi yang buruk. Dan Korra juga kelihatannya tahu apa yang ia lakukan. Ia berdiri tak bergerak bukan karena shock. Itu adalah reaksi pertahanan diri. Jika ia berbalik kabur, mungkin sekali serigala itu akan menerkamnya saat itu juga.

Tapi serigala itu juga tidak melakukan apapun. Hanya diam. Beberapa menit berlalu sebelum ia akhirnya mundur teratur, masih menghadap Korra, sebelum akhirnya berbalik dan menghilang di balik pepohonan.

.

Kelegaan membasuh Jacob dan Korra bersamaan. Korra terlihat lebih tegar menghadapi hewan ketimbang menghadapinya tadi siang. Ia sama sekali tidak jatuh terpuruk atau kabur sambil menangis menjerit-jerit ketakutan. Sekilas ada perasaan bangga di dada Jacob pada adiknya. Tapi jujur itu membuat Jacob bingung, bagaimana mungkin seseorang lebih takut pada serangan cowok, yang jelas-jelas kakaknya, ketimbang kemungkinan dimakan hewan buas?

Tapi itu mungkin wajar saja. Ia memang kakak Korra, tapi ia sama sekali asing bagi anak itu. Mereka tumbuh terpisah, baru kenal beberapa bulan, dan memang ia hampir tidak memberi kesempatan Korra untuk benar-benar mengenalnya.

Seth dan Billy benar. Semua kesalahpahaman adalah buah kelakuannya sendiri.

Tapi tidak ada waktu untuk memikirkan masalah itu saat ini. Korra sudah kembali bergerak, tapi kali ini terlihat lebih waspada. Ia tampak mencari-cari jejak lagi. Namun kemudian ia bangkit. Jacob bisa merasakan ia menggemeretakkan gigi, kesal. Dan tiba-tiba ia berbalik, berlari kembali menuju perkemahan.

.

Jacob mundur, merapat pada pohon, ketika Korra mengarah padanya. Untung saja Korra mencari rute pulang yang agak jauh darinya. Tapi tak urung sepertinya gadis itu mencium keberadaannya, karena ia mengendus dan matanya memindai sekeliling. Jacob makin merapat, mencari sudut tergelap, memastikan dirinya tidak terlihat. Korra kelihatan kecewa, dan kembali meneruskan larinya.

Apa Korra menyerah? Apa ia benar-benar pulang?

Setelah Korra menjauh, ia masih menunggu sekian menit lagi untuk memastikan gadis itu takkan kembali dan menangkap basah dirinya menguntit. Barulah ia berjalan keluar dari tempat persembunyiannya. Pertama-tama ia harus mengecek jejak yang tadi dilihat Korra, putusnya.

Ia berjalan mendekat sambil terus mengawasi hutan. Dan kemudian iamendapati apa yang ia takutkan di padang kecil itu. Bekas-bekas terjatuhnya Brady. Semua ternyata lebih parah daripada yang ia perkirakan. Ia sudah dengar, bahkan melihat gambaran mentalnya di kepala kawanan, tapi ia tidak menduga kenyataannya lebih mengerikan. Cabang pohon yang patah melintang di atas sebuah lubang besar. Ranting-ranting yang berserakan, daun-daun yang menumpuk di sekitar tempat itu jelas menunjukkan bahwa awalnya lubang itu adalah semacam jebakan, dan sesuatu—seseorang, tepatnya—telah menginjaknya dan jatuh ke dalamnya. Dan ia makin ngeri begitu melihat ke dalam. Lubang itu cukup dalam, sekitar dua meter mungkin. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Korra membuat semua itu sendirian. Ini pastinya jebakan yang ia buat sebelum Jacob mengikutinya, karena setahunya Korra bahkan tidak membuat jebakan di sini. Atau mungkin jebakan ini sudah ada sebelumnya. Meski tidak ada bahan tajam di bawahnya, sudah pasti siapapun akan patah kaki kalau sampai terperosok. Dan yang lebih parah, memang ada banyak barang berbahaya di dasarnya: pasak-pasak tajam dan batu-batu runcing. Sebagian besar pasak sudah hancur, jelas habis tertindih sesuatu yang besar dan berat. Tidak bisa tidak, sebagian pasak itu pasti menancap dalam di tubuh siapapun yang menimpanya. Dan darah menutupi seluruh dasar lubang, sebagian menempel di ujung-ujung pasak dan batu yang sudah tidak karuan bentuknya. Tidak seluruhnya sudah mengering, karena sekarang lalat-lalat sudah mulai mengerubungi. Darah juga mengguyur salah satu sisi dinding lubang.

Laporan Seth menyatakan bahwa Brady baik-baik saja. Tapi Brady tidak mungkin baik-baik saja. Bekas kejadian di TKP separah ini jelas menunjukkan bahwa Brady hampir sekarat.

Jacob tidak habis pikir membayangkan bagaimana usaha Brady untuk bisa naik. Pastinya ia tidak bisa dengan tubuh serigala, apalagi setelah terluka seperti itu. Pastinya ia berubah balik, dan dengan lemah memanjat ke atas. Sendirian. Karena ia tidak mencium bau Adam di sekitar lubang. Atau Seth dan Collin.

Menahan pedih yang tiba-tiba merayapi perutnya, Jacob mengikuti yang dilakukan Korra barusan: menelusuri jejak darah di dedaunan kering, rerumputan, dan tanah. Sebagian besar jejak itu bagai jejak diseret, tubuh yang diseret, tepatnya. Hanya menambah kegalauan Jacob bahwa setelah insiden itu, Brady bahkan tidak cukup kuat untuk bergerak. Mungkin bahkan Brady melakukan semua itu tanpa berpikir, hanya berdasarkan insting. Mungkin bahkan memang kesadarannya menipis, karena memori Brady yang dikirimkan padanya oleh Seth jelas tidak bercerita sebanyak bukti yang ia saksikan sekarang. Jejak darah itu berakhir di batas serangkaian barisan pohon yang saling terjalin rapat. Berlanjut dengan jejak tetesan darah memanjang, makin lama makin hilang, ke barisan pohon di utaranya.

Tapi yang membuat ngeri Jacob bukan hanya itu. Jelas ini tempat tadi Korra terpekur. Dan ia tahu alasannya. Jejak yang berubah hanya berarti satu: ada yang menolong Brady. Sesuatu mengangkat tubuh Brady yang bahkan tidak bisa menapak, menggendongnya. Itu adalah kelegaan baginya, tahu bahwa mungkin Adam, atau Collin dan Seth, telah menemukan Brady dan menyelamatkannya. Tapi kini Jacob berusaha melihat dari sudut pandang Korra, dan jelas itu adalah sesuatu yang salah.

Pikiran bahwa seekor serigala bisa keluar dari lubang jebakan adalah sesuatu yang aneh. Seekor serigala mau menyeret tubuhnya sejauh itu adalah sesuatu yang aneh juga, karena secara normal, hewan apapun tidak akan berusaha mencari pertolongan jika ia mengalami kecelakaan sendirian. Terlebih jejak darah itu terlalu kecil, dan dalam kengerian Jacob, ia sempat mendapati jejak tangan. Darah membentuk lima garis kecil panjang serupa jemari. Tangan manusia. Dan kemudian, memangnya siapa yang mau mengangkat tubuh serigala terluka? Jelas tidak ada jejak sepatu boots yang menunjukkan ada kelompok pemburu atau penyayang binatang di sekitar situ.

Ia makin ngeri ketika di batas itu, ia melihat jejak yang lebih buruk lagi.

Jejak kaki serigala, sebagian sudah terhapus. Dan tidak jauh darinya, jejak separuh kaki manusia.

Ya, ini bencana.

.


.

Tak kuduga cewek ini memang benar-benar freak, pikir Jacob ketika kembali ke perkemahan.

Korra sudah ada di sana, begitu bersemangat menceritakan 'pencapaian'-nya dengan jebakan yang melukai anggota kawanannya di hadapan Billy. Ia bercerita seolah itu hal yang begitu bagus dan menyenangkan, sama seperti ia menceritakan petualangan memancingnya. Billy berusaha memasang tampang tertarik, tapi jelas ia bahkan tidak ingin ada di sana. Billy seharusnya sekarang sudah tahu bahwa jebakan Korra mengenai salah satu prajurit suku. Apa yang ia rasakan adalah apa yang Jacob rasakan. Ngeri. Pedih. Dan itu pasti lebih parah bagi Billy, karena ia tidak tahu siapa yang jatuh. Bisa jadi Seth yang ia hormati. Atau Collin, keponakannya. Dan bahkan seluruh anggota kawanan memang memiliki hubungan darah dengannya.

Keberadaan Jacob yang tertangkap Korra membuat ekspresi gadis itu berubah. Keceriaannya mendadak hilang, dan ia pergi ketika Jacob mendekati Billy. Billy mungkin akan kesal mendapati hal ini dalam situasi lain, tapi entah mengapa, saat ini kehadiran Jacob dan perginya Korra justru terlihat melegakan orang tua itu.

"Siapa?" bisik Billy begitu Korra sudah jauh.

"Brad," jawab Jacob singkat.

"Fuller?" mata Billy membelalak tidak percaya. Dan Jacob mengerti ironinya bahkan walau tidak diucapkan.

Apa Korra tahu kalau dia sudah mencelakai salah satu sahabatnya sendiri?

"Nak," kata Billy hati-hati ketika sudah berhasil meredakan kengeriannya. "Kau harus melakukan sesuatu tentang ini. Jangan sampai Seth atau Collin jatuh."

"Apa yang harus kulakukan, Dad? Aku tidak bisa mengendus semua perangkap Korra dan merusaknya."

"Kalau begitu perintahkan mereka mundur."

Jacob tertawa sinis. "Kalau aku bisa melakukan itu, sudah kulakukan."

"Kau tidak akan meresikokan kawananmu untuk jatuh di jebakan adikmu kan?"

"Masalahnya mereka tidak akan mendengar, Dad! Mereka lebih khawatir pada ancaman luar!"

"Jelas ancamannya dari dalam. Mereka sudah tahu apa yang bisa Korra lakukan pada Brad."

Ya, ia tahu itu.

"Oleh karena itu, Dad…" Jacob memohon. "Biarkan aku cerita semua pada Korra. Ia harus segera menarik semua jebakannya."

"Aku tidak bisa melakukan itu, Jake…"

Jacob tahu apa kekhawatiran ayahnya. "Biar soal Sam aku yang urus…" janjinya.

Tapi ayahnya tetap menggeleng. "Maaf, Jake…"

Diam sesaat. Tapi ini bukan waktunya diam tanpa solusi. Satu keputusan tetap harus diambil.

"Korra merencanakan perburuan. Ia merencanakan siang ini, tapi aku akan berusaha meyakinkannya untuk menunda. Kuharap ia setuju melakukannya besok pagi," ujar Billy. "Ia benar-benar bersemangat dan aku tidak bisa mencegahnya dengan alasan khawatir pada keselamatannya."

Ya, memang dengan adanya hewan—Brady, tepatnya—yang masuk jebakannya, Korra sudah membuktikan kemampuannya.

Itu hanya tambahan masalah.

Dan hingga besok pagi itu, ia bahkan tidak yakin anggota kawanannya sepenuhnya aman.

"Kalau begitu tidak ada pilihan lain, ya?" geram Jacob. Ia sungguh tidak ingin melakukan salah satu dari kedua pilihan itu: menyelamatkan kawanannya yang berarti membuka pertahanannya, atau membiarkan mereka berjaga yang mungkin akan merugikan kawanannya.

Billy juga bersikap getir. Ya, saat ini memang tidak ada pilihan lain.

"Kalau begitu aku minta tolong, Dad," bisik Jacob. "Alihkan perhatian Korra sementara aku berusaha menghubungi kawanan."

Billy mengangguk.

"Dan secepat mungkin."

Ya, memang apapun bisa terjadi bahkan kala mereka bicara.

.


.

Jacob mengawasi dengan tegang sementara Billy berusaha meyakinkan Korra untuk menunda agenda perburuannya. Akhirnya, alasan bahwa sore itu ayahnya ingin bermain di sungai-lah yang berhasil meyakinkan Korra. Ia tidak ingin melewatkan waktu untuk ikut memancing atau melakukan entah acara keluarga apa di sungai. Lebih karena ia yakin daerahnya aman. Tentu saja, ia memang sudah memasang banyak sekali jebakan seharian ini.

Billy memberi putranya kedipan kemenangan sementara mereka berdua berangkat. Billy membawa pancing sementara Korra membawa pisau lipatnya seperti biasa. Karamba pagi tadi juga dibawanya. Jelas ia ingin makan ikan lagi untuk makan malam. Jacob mengikutinya hingga seperempat jalan, kemudian memisahkan diri dengan alasan ingin 'melakukan hal pribadi'. Billy hanya tertawa sementara Korra bersikap ketus dibalut jijik. Jelas ia masih memendam perasaan buruk sehubungan dengan kesalahpahaman mereka.

Jacob melakukan hal pertama yang bisa ia lakukan: menelepon.

Sejak tiba di Crescent Lake, ia sama sekali tidak bisa menghubungi kawanannya. Di tempat perkemahan jelas tidak ada sinyal. Di dekat sungai tidak, di hutan apalagi. Mungkin malah tempat bersinyal terdekat yang bisa ia capai adalah di daerah pos, karena jelas Brady nisa mengirim sms padanya sebelum mencapai lokasi perkemahan.

Ketika ia memisahkan diri itu, ia berusaha melebarkan jangkauan penerimaan sinyal provider ponselnya. Tapi hasilnya tetap. Tidak ada sinyal.

Ternyata memang tidak ada cara lain.

Menggemeretakkan gigi, Jacob berbalik. Mencari bagian hutan yang agak gelap. Jauh dari adik dan ayahnya. Dan ia mulai melucuti baju, berubah.

Pikiran bingung Seth dan Collin menerpanya ketika menyadari Jacob telah berubah. Jacob menghentikan gelombang pertanyaan mereka bahkan sebelum mereka berani memikirkan pertanyaan itu dalam kalimat lengkap.

Mundur, perintahnya. Berhenti patroli sekarang juga. Kembali ke pos.

.


.

catatan:

heyya Korra that little b***h!

sok, berlebihan, dramatis... bermuka ganda...

Brady benar-benar jatuh... dan Jacob terpaksa menarik para pengawalnya mundur...

apa cewek itu beneran ga sadar apa yang dia lakuin?

hmmmm...

.

ko aku jadi ngutarain perasaan pribadi sih?

.

anyway read and review please...