THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: Any part of this fanfiction you can recognized based on Twilight Saga belong to Stephenie Meyer. Any other else belong to me


.

Tiga puluh tiga - Pertemuan (Kamping -6-)

Tuesday, January 15, 2013

2:25 PM


Alternatif: Tawaran atau Ancaman


.

Pikiran Seth dan Collin bingung. Tidak mengerti. Jelas tidak bisa menangkap maksud di balik perintah Sang Alfa.

Korra berusaha membuat salah satu dari kalian masuk ke dalam perangkap hewan yang ia pasang di mana-mana, jelas Jacob. Kalian tahu kemampuannya. Siang tadi Brady jatuh.

Jake, kami tidak akan mungkin masuk perangkap hewan! Masa kau tidak percaya hal seremeh itu? Collin jelas merasa tersinggung.

Aku tahu kalian takkan mungkin bisa masuk perangkap. Tapi Korra sangat keras kepala. Ia merencanakan perburuan, pencarian jejak, apapun.

Ia mengirimkan memori yang tadi ia dapatkan di TKP jatuhnya Brady. Beserta setumpuk ketakutannya bahwa mungkin Korra sudah mengendus ada yang tidak beres dengan jejak silang serigala-manusia di daerah itu.

Jelas? Aku cuma tidak ingin selintas pun bayangan kalian, jejak kalian, tertangkap.

Kau sendiri berubah di dalam Zona Radius 1 km! protes Collin.

Aku berhati-hati, Cole… Aku berusaha agar bauku tidak tertangkap dan aku berdiri di atas batu. Tidak ada jejak. Tersembunyi. Karenanya kalian mundur cepat karena aku tidak bisa lama-lama begini. Mumpung Billy sedang menyibukkan Korra.

Terdengar dengung protes Collin lagi, jelas mengkhawatirkan keselamatan Korra dan Billy. Tapi Seth berhasil memaksanya diam.

Baik, Jake… Kami mundur…

Terdengar gerutuan Collin sebelum pikirannya hilang. Tapi Seth masih di sana.

Ada lagi, Jake? Kami akan mencari lokasi pos yang lebih aman, lebih jauh dari jangkauan. Dan salah satu dari kami akan tetap berjaga dalam wujud serigala, kalau-kalau kalian butuh bantuan.

Ya, bagus.

Seth sudah akan berubah balik ketika tiba-tiba Jacob merasakan gelombang pikiran lain memasuki benaknya. Sesuatu yang asing.

Ia merasakannya: Alfa.

.

"Selamat sore, Alfa…" suara itu menerpanya. Suara merdu, tenang, lembut, berwibawa.

Alfa betina.

Seth terdengar panik di ujung sana, jelas mendengarnya juga dari pikiran Jacob.

Alfa lain, Jake? Mengadakan kontak?

Jacob tidak menggubris maupun menyuruh Seth berubah balik. Jika memang ada Alfa lain mengadakan kontak dengannya, pikiran Jacob setidaknya harus terhubung dengan orang lain dalam kawanan.

"Selamat sore juga, Alfa…" Jacob membalas. Ini kontak yang sejak lama ia tunggu-tunggu. Alfa kawanan lain. Dan dalam hati ia merasakan sebersit lega menyadari bahwa siapapun itu, Alfa ini bukanlah Sam.

Ia berusaha menajamkan indera, berkonsentrasi. Jauh di sana, samar-samar ia bisa mendengar teriakan Korra di sungai, gembira bermain ditingkah suara cipratan air. Mungkin masih aman jika ia mempertahankan wujud ini sebentar lagi.

"Maaf karena kami memasuki wilayah Anda tanpa izin," suara itu terdengar sopan sekaligus berkharisma. Hampir seperti Carlisle. "Kami kawanan serigala nomad. Kami tidak bermaksud buruk."

Sesaat Jacob terhentak. Jadi benar ada serigala nomad…

"Kawanan kalian telah berkali-kali membantu kami," ujar Jacob, berusaha sebisa mungkin terdengar sopan. "Kami mengucapkan terima kasih."

"Tidak apa-apa. Kami hanya berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat."

Huh, berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat apanya? Jacob menggerutu dalam hati. Tapi ia berusaha meredam pikiran itu, dan kembali mencari kata-kata untuk bicara pada si Alfa betina.

Jauh di sungai, suara ribut Korra sedikit memudar. Lantas terdengar suara Korra, sayup-sayup, "Mana Jake?" Jacob merasa ia tidak bisa berlama-lama bicara. Ia harus segera masuk ke intinya, menyudahi basa-basi ini dan kembali ke wujud manusia sebelum Korra mencarinya.

"Kami tidak ingin bersikap kasar. Tapi kami perlu tahu ada urusan apa kawanan kalian berada di teritori kami. Kalian sudah di sini selama tiga bulan, dan itu menimbulkan keresahan pada sebagian kawanan."

Hening sesaat sebelum si Alfa betina kembali bicara.

"Maafkan kami, Alfa. Sungguh kami tidak berniat buruk. Memang kami ada sedikit urusan di tanah kalian, tapi itu tidak bisa kami jelaskan sekarang."

Suaranya agak sedikit menekan, tapi tetap tenang, ketika ia melanjutkan.

"Sebenarnya jika Anda berkenan, Alfa… Kami ingin bicara, bertemu langsung dengan Anda."

"Bertemu langsung?"

"Ya. Ada tebing di dekat bukit, di sebelah timur laut sungai. Sekitar dua setengah kilometer dari Crescent Lake. Jika Anda berkenan, Anda bisa menemui kami di situ. Hanya ada saya dan Orang Kedua saya. Anda bisa membawa Orang Kedua Anda atau beberapa anak buah jika merasa perlu berjaga-jaga. Tapi kami datang dengan maksud baik, Anda sama sekali tidak perlu merasa terancam. Jadi kami harap tidak akan ada pertempuran."

"Kapan?"

"Malam ini, sekitar pukul 9?"

Jacob menimbang. "Mungkin tengah malam, kalau begitu…"

"Baik, tengah malam."

"Kami akan datang," janji Jake.

"Terima kasih, Alfa. Selamat sore…"

Dan dengan itu pikiran mereka terputus.

.

Jacob berusaha mendengarkan pikiran Seth, menilai reaksinya. Kepala sang Beta penuh dengan pertimbangan, analisa, pikiran acak, potongan-potongan memori. Kepalanya sendiri berusaha menempatkan pikiran-pikiran itu pada kotak dan jalur yang tepat, untuk mencari jawaban. Menemukan permasalahan dan berbagai kemungkinan solusinya. Tetapi pikiran itu selalu menemui jalan buntu.

Seth, panggil Jacob. Hentikan dulu analisamu. Aku butuh dampingan malam ini.

Pertimbangan Seth berpusing di kepalanya sebelum Seth akhirnya menjawab, Baik. Tengah malam?

Sebelum tengah malam kutunggu kau di sisi tenggara sungai, 700 meter di barat daya tempat pertemuan, ia mengirimkan gambar tempat itu pada Seth. Sedapat mungkin kalian ke sana melewati sungai. Kalian berjalanlah berlawanan arah dengan aliran air, agar jejak ke perkemahan tidak terdeteksi. Setelah itu baru kita ke tempat pertemuan.

Ia bisa merasakan keraguan dan kebimbangan Seth, khususnya mengenai hilangnya antisipasi mengenai apa yang sedang dan akan terjadi.

Perlu aku membawa Cole atau Adam, Jake?

Jacob menimbang sejenak. Tidak. Kuharap mereka mau berjaga di pos. Brady butuh Adam. Mungkin sesekali aku butuh Cole mengitari area kamping. Mereka akan memberi tahu kita jika ada apa-apa. Tapi peringatkan dia untuk lebih berhati-hati, aku tidak ingin ada yang jatuh lagi dalam jebakan Korra.

Baik.

Sesaat kemudian Seth kembali bicara.

Jake, aku perlu mengatakan sesuatu. Berkenaan dengan kawanan lain. Selama ini aku tidak memberitahumu, karena kurasa tidak penting. Tapi dengan situasi sekarang ini, kurasa kau berhak tahu.

Ada apa, Seth?

Selama kau menjadi tahanan rumah, sebenarnya, aktivitas kawanan lain meningkat.

Maksudnya?

Mereka lebih sering menampakkan diri. Muncul begitu saja dan pergi. Kurasa mereka mencari atau menyelidiki sesuatu.

Meski agak merinding dalam berbagai kemungkinan alasan di balik pemunculan para serigala asing ini, Jacob merasakan sedikit lega bahwa apapun itu, Seth tidak merasakan adanya ancaman. Mungkin memang kemunculan mereka yang membuat Seth memaksakan semua skema penjagaan ini. Tapi memang selama seminggu ia tidak bertugas, tidak ada serangan sama sekali. Dan jika para serigala ini mau mengadakan kontak, selain kesempatan untuk mengakhiri misteri yang selama ini melingkupi mereka, ia berharap keberadaan mereka bisa menjadi sekutu baginya. Mungkin dengan demikian, bahkan batalion serigala tidak lagi dibutuhkan.

Seth agak khawatir dengan pertimbangan itu, tapi Jacob tidak begitu mempedulikannya. Jauh di sana, ia merasakan Korra keluar dari air, mulai mencari-cari keberadaannya, dan Billy pun kelihatannya tidak bisa menahannya lebih jauh. Setelah memberikan instruksi singkat terakhir pada Seth tentang rencana pertemuan nanti malam dan mungkin penjagaan yang harus dilakukan Collin dan Adam di luar Zona Radius 1 km, ia pun kembali ke wujud manusia dan buru-buru mengenakan pakaiannya, kembali ke sungai.

Di jalan, ia menyempatkan diri mengangkut segendongan penuh ranting kering sebagai alasan jika Korra menanyainya kemana ia pergi selama itu.

.


.

Malam menjelang bagai tabir panggung turun terurai. Gelap menyelimuti hutan. Malam itu tak berbulan. Dan bahkan bintang pun menghilang. Entah mengapa hutan begitu sepi. Angin tak bertiup sehingga dedaunan tak bergemerisik. Hewan-hewan entah mengapa tiada yang bersuara. Jacob tidak tahu mengapa malam itu begitu kelam. Mungkin Roh Alam Semesta Yang Agung berkenan memberi suasana sendu yang sesuai dengan hatinya. Yang begitu galau hingga bahkan binatang-binatang hutan pun tak berani mengusiknya.

Ia menghitung menit demi menit berlalu setelah acara makan malam hari itu selesai. Korra, untungnya, tidak berulah lagi dengan menceritakan atau melakukan hal-hal aneh. Ia memang menghindari Jacob sejak siang itu, dan masih berlanjut hingga malamnya. Billy sudah menjanjikan putranya untuk mencoba bicara dengan Korra, agar kesalahpahaman ini tidak terus berlanjut. Tapi Jacob sungguh ragu Korra mau mendengar. Sesore itu Korra praktis berjalan bersama pisau berburunya, bahkan bukan lagi pisau lipat yang biasa ia kantungi. Dan setiap Jacob mendekat, ia tak segan untuk mengacungkan benda mengerikan itu lagi di depan hidungnya.

Apa-apaan sih si gadis bodoh itu? Dia pikir aku tidak bakal berani memiting lengannya lagi kalau ia coba-coba menggoreskan mainan tajamnya di tanganku? sebagian pikiran Jacob mulai memendam dendam.

Jangan begitu, Jake… Nah, ini dia suara malaikat dalam dirinya. Ia melakukan semua itu murni sebagai pembelaan diri.

Pembelaan diri apanya! Reaksinya kelewat berlebihan!

Ia terbiasa hidup hanya berdua ibunya, dan melanglang buana, sering berada di hutan dan sebagainya… Instingnya bertahan hidup memang membentuknya seperti itu… suara malaikat itu kembali mengajaknya berpikir rasional. Sepertinya lama-lama ia mendengar suara itu menyerupai Seth.

Jangan-jangan memang benar Seth…

Seth? ia mencoba memanggil. Dan merasa bodoh sedetik kemudian.

Tentu saja itu bukan Seth. Itu murni suara dalam pikirannya sendiri. Seth tidak bisa bertukar pikiran dengannya dalam wujud manusia, tentu saja.

Mungkin sekian tahun berbagi pikiran dengan lebih dari sepuluh orang lama-lama membuatnya gila. Ia bahkan tidak tahu apa ia bicara dengan sisi lain dirinya sendiri atau bicara betulan dengan orang lain.

.

"Aku tidur cepat, Dad…" ucap Korra, turut membangunkan Jacob dari pikiran kacaunya seperti biasa. Dilihatnya Korra bangkit, mengecup pipi Billy. Dan tentu saja, seperti diharapkan, memandang tajam penuh ancaman pada Jacob. Seakan mengatakan, 'Awas kau kalau berani mendekatiku waktu aku tidur.' Bahkan kini Jacob bisa mendengar geraman Korra.

Tunggu. Geraman Korra?

Wah, sudah sah kalau begitu.

Yep. Sebentar lagi Korra berubah! Dan ia bisa bebas dari segala predikat buruk 'Raja Bully', 'Gembong Narkoba', dan 'Pemerkosa Incest'.

Ugh! ia bergidik pada yang terakhir. Seolah dia cukup menarik! Di dunia ini hanya Collin seorang yang cukup buta lahir batin untuk bisa jatuh cinta pada adiknya.

Wo-hoooo!

Tidak diduga baru kali ini ia bisa sedemikian bahagia dengan kemungkinan bertambahnya satu werewolf lagi dalam kawanannya.

Tentu saja kau harus bahagia, Jacob, sapa satu suara dalam kepalanya yang anehnya mirip suara Josh. Ini saatnya kau bisa menindas dan menginjak-injak si tukang fitnah mengerikan itu.

Tanpa sadar air liurnya menetes dalam bisikan setan itu.

Cukup, Jake! Berhenti merencanakan hal-hal buruk tentang adikmu! Nah, yang ini malah mirip suara Sam. Lengkap dengan gaung Titah Alfa segala.

Kenapa kau harus menahan? Sudah cukup kau terus ditindas oleh cewek freak itu. Kalau aku jadi kau, akan kubuat hidupnya menderita setiap detiknya. Tiba-tiba suara menyerupai-Leah mampir.

Ia segera menghalau pikiran itu jauh-jauh. Hush, hush!

.

Rupanya memang perang batinnya terlalu terbaca pada wajahnya, atau tanpa sadar ia mulai membuat gestur aneh, karena Billy mendadak membangunkannya, agak menghentak malah.

"Kenapa Jake? Ada banyak lalat?"

Ia mengerjap, memandang ayahnya. Yang tadi itu betulan ayahnya bicara atau salah satu suara dalam pikirannya lagi?

Oke, sekarang ia mulai menderita skizofrenia. Mungkin ia harus mempertimbangkan pergi ke psikiater.

"Jake?" bisik ayahnya lagi, khawatir.

"Oh, maaf Dad…" ia berusaha mempertahankan pikirannya tetap pada tempatnya. "Aku agak linglung belakangan ini."

"Ya, memang sudah terlihat…"

"Masalah lagi bertubi-tubi. Aku tidak yakin aku kuat," tanpa disadari ia mulai curhat.

Ia bisa melihat bayang kekhawatiran, dan simpati, pada wajah ayahnya.

"Maaf Jake, kau harus ikut menanggung semua ini…"

Apa? Apa ia salah dengar? Atau lagi-lagi itu suara dalam pikirannya? Karena baru saja rasanya ia mendengar Billy minta maaf karena ia menanggung sesuatu…

Ia bangkit, berjalan mendekati ayahnya, dan kemudian duduk di sisinya. Bersama Billy memandang api. Tangan sang ayah tiba-tiba menepuk bahunya. Tepukan yang lembut dan menenangkan. Dan ia seakan merasa separuh bebannya terangkat. Ia memejamkan mata, bersandar ke kursi pantai ayahnya.

"Kau kuat, Jake…" hanya itu kalimat yang diucapkan sang ayah sambil mengguncang bahunya. Dan tanpa disadari ia tersenyum.

"Dad…" bisik Jacob. Pikirannya melayang sementara memandang ujung-ujung dedaunan yang menyentuh langit abu-abu gelap nun di sana. "Kauingat kita pernah kamping seperti ini, dulu, sewaktu Mom masih hidup?"

"Ya…"

"Rachel dan Rebecca sibuk mempersiapkan semua detail kamping. Mereka merencanakan semua acara mencari jejak dan petak umpet dan lain sebagainya. Kita membawa bakaran barbeque. Mom memasak banyak sekali sepanjang makan malam. Dan kita juga pergi memancing bersama. Aku berenang dan hampir hanyut."

"Ya," kekeh Billy sambil mengingat-ingat. "Kau sombong sekali baru bisa berenang, dan pergi ke bagian sungai yang arusnya deras, menolak ketika Rachel memaksamu pakai pelampung… Kau terseret arus sekitar 500 meter. Untung saja kau tersangkut di akar pohon yang menjulur. Kau pingsan karena panik dan minum banyak sekali air. Kami bahkan berhasil mengeluarkan dua ikan yang masuk ke kerongkonganmu."

"Aku tidak ingat bagian itu…"

"Jelas kau tak ingat. Kau kan pingsan."

"Dan Rebecca gatal-gatal karena berry beracun…" ingat Jacob lagi. "Merah-merahnya bahkan tidak hilang sampai seminggu setelah kita pulang ke rumah. Makin diperparah dengan Rachel yang sok tahu dan membubuhkan daun-entah-apa yang katanya dia kenali sebagai obat dari suatu buku."

"Yang ternyata justru membuat seluruh tubuhnya bengkak…" Billy tertawa.

"Aku belum bilang hingga sekarang, Dad. Tapi sejujurnya aku yang mengolesi getah berry itu di baju Bex."

Billy mengernyit padanya, tampak marah. "Jake!"

"Itu salah Bex sendiri," belanya. "Dia yang sebelumnya mengolesi jaketku dengan racun kodok buntat."

"Jake, kau tidak melakukan hal seburuk itu pada kakakmu sendiri… Pulang nanti kau terpaksa akan kudetensi selama seminggu."

"Ayolah, Dad… Masa kau akan mendetensiku untuk sesuatu yang kulakukan 15 tahun lalu?"

"Tetap saja, Jake…"

"Kau sendiri waktu itu menyelundupkan bir! Dengan mengganti labelnya dengan label jus. Padahal Mom sudah menyuruhmu berhenti minum. Dan sewaktu Mom memergoki, kau langsung menyodokkan kaleng itu ke mulutku. Alhasil aku mabuk tak sadarkan diri sepanjang sisa kamping."

Kening ayahnya tampak berkerut. "Memang kulakukan itu?"

"Ayolah, Dad…" ringan ia menyikut bahu ayahnya.

Ekspresi Billy tampak melembut dan ia tertawa.

"Kita tidak pernah kamping lagi sejak Sarah pergi…" katanya kemudian, agak menerawang.

Jacob menelan ludah. "Ya, memang…"

"Kadang aku merindukannya…" bisik Billy.

Ia menatap wajah tua ayahnya dan melihat bayang kesengsaraan selama sekian belas tahun menjelma di wajah berkeriput itu. Dan tanpa sadar ia berucap, "Ya, aku juga…"

Mereka memandang tarian api, larut dalam buncahan pikiran dan perasaan masing-masing. Kini ketika telapak tangan sang ayah tersampir di bahu Jacob dan ia bersandar pada ayahnya, entah mengapa ia merasakan hal yang sekian tahun tidak pernah ia rasakan. Perasaan tenang, aman, terlindung. Itu perasaan yang hilang sejak pertama ia menginjakkan diri di dunia mistis Quileute. Hidupnya tak pernah aman sejak saat itu, dan ia harus mengerahkan semua tekadnya untuk menjadi tegar,untuk dapat melindungi orang lain. Ia adalah Sang Alfa, yang terkuat dan yang tidak boleh menunjukkan kelemahan. Namun kini di pelukan ayahnya, sesaat ia melepaskan semua itu, membiarkan seluruh kedigjayaannya hilang, meleleh ditelan api. Dan sesaat ia merasa ringan, begitu damai.

.

Malam kian larut dan tanpa terasa kedua ayah dan anak itu terlibat dalam percakapan yang, patut Jacob akui, terindah dalam bulan-bulan terakhir hidupnya. Mungkin memang keputusan ayahnya untuk kamping adalah keputusan yang bagus. Sempurna bahkan. Ia sadar sudah sekian lama ia tidak pernah menghabiskan waktu benar-benar untuk keluarganya. Sarapan bersama mereka selalu berubah menjadi bencana dan ia pun selalu menghindar dari acara memancing akhir pekan, lebih karena keberadaan Korra. Kini, saat adiknya tidur, dan ia berdua saja dengan Billy, membicarakan topik acak nan ringan, entah mengapa semua kegalauannya selama sekian bulan sirna dalam tiap patah kata dan canda yang ia bagi bersama sang ayah.

Mungkin ayahnya menaruh mantra-mantra aneh untuk menghilangkan kekusutan hatinya, pikirnya sambil tertawa.

"Dad, omong-omong aku minta bantuan lagi malam ini," ujar Jacob kemudian.

"Apa?"

"Aku dan Seth mungkin akan pergi keluar. Tidak lama. Cole akan berjaga."

Kening tua itu berkerut, tampak khawatir. "Apa ada masalah?"

"Kuharap tidak. Hanya…" ia tidak tahu apa ia harus mengatakan ini pada ayahnya. "Ada yang ingin bertemu, bukan masalah besar."

Sang ayah kelihatan menyipit curiga.

"Tenang, Dad. Kalau kau mau, aku bisa minta Cole berjaga benar-benar di sini. Di depan api unggun."

"Itu tidak perlu, Jake. Yang kukhawatirkan justru kau. Kau tidak bertemu dengan para lintah kan?"

"Tidak, Dad, tenang…"

Mereka terdiam sesaat sebelum kemudian ayahnya bertanya, " Jadi kau mau minta bantuan apa?"

"Yeah…" Jacob mengendikkan bahu. "Kau tahu, sama seperti tadi siang."

Ayahnya mengangguk, mengerti. Intinya putranya ingin supaya ia memastikan Korra aman di kemah, tidak kemana-mana, sementara Jacob pergi.

Jacob memandang langit yang gelap dan kemudian meraih sakunya, mencari ponsel. Agak melotot memandang angka-angka besar di layar.

"Oh, sial! Aku terlalu larut!" kutuknya melihat jam digital itu menunjukkan angka 12.54 PM. "Aku harus pergi sekarang, Dad," ujarnya seraya bangkit. Dan entah mengapa, mungkin agak terpengaruh Korra, tiba-tiba ia mengecup pipi ayahnya, mengucapkan sampai jumpa.

Keterpanaan muncul di wajah ayahnya, tapi ia tersenyum sambil menepuk pundak putranya. "Hati-hati, Nak…"

"Ya. Jaga diri juga, Dad."

.


.

Seth sudah menunggu di tempat perjanjian mereka, duduk di sebuah batu besar, dengan Collin di sisinya. Si Ranger Merah itu tampak bulak-balik berjalan tidak sabar mengitari area kecil di depan sungai, ketika Jacob datang.

"Kau telat, Jake!" Collin tampak marah.

Jacob buru-buru berubah balik sebelum membentak sepupunya.

"Apa yang kaulakukan di sini? Kau kan seharusnya menjaga perkemahan!"

"Memangnya aku mau membiarkan Seth menunggu sendirian di sini? Bagaimana kalau dia diserang? Kau saja terlambat satu jam lebih!" bentak Collin balik.

"Lalu kau mau membiarkan Korra diserang di sana?" pelotot Jake tidak percaya.

"Aku menyuruh Adam berjaga."

"Kalau begitu lekas sana temani Adam! Jangan sampai 'Dokter' kita ikut jatuh ke jebakannya si Cewek Freak!"

"Kau bilang Korra 'freak'?!"

Keduanya tampak sudah akan berubah dan saling bertarung ketika Seth turun tangan dan akhirnya berhasil memisahkan keduanya.

"Guys! Tolong, kita punya masalah yang lebih penting di sini!" tegasnya.

Sang Alfa kawanan dan Betanya mengumpat sejadi-jadinya, tapi dapat juga menahan diri, dan melampiaskan kekesalan mereka dengan memelototi Seth.

"Ya Tuhan…" Seth tampak lelah. "Hentikan, kalian berdua!"

Ia berpaling menghadap Collin.

"Kau berubah balik dan lakukan perintah Jake, Cole!" Dan lantas katanya pada Jacob, "Kita harus buru-buru ke sana sekarang juga."

Keduanya mengangguk. Tidak mempertanyakan mengapa dalam hal ini mendadak Seth jadi lebih dominan.

Collin berubah dan sudah berlari sekitar 200 meter ketika Jake memanggilnya. Seketika serigala itu berbalik, sikapnya antisipatif, menggeram.

"Apa perlunya geraman itu?" protes Jacob.

"Jake!" peringat Seth.

"Aku cuma mau bilang kau boleh berjaga lebih dekat ke kemah, Cole! Di dekat api unggun. Daerah dekat tenda lebih aman karena Korra justru tidak memasang jebakan di sana. Dan kau juga bisa lebih baik mengawasi keadaan. Tentu saja selama Korra dan Billy tidur. Jangan sampai mereka memergokimu."

Serigala Collin tampak terbelalak tidak percaya tapi akhirnya memasang seringai yang merupakan senyuman, sebelum berbalik dan berlari kembali ke arah perkemahan. Jelas langkahnya terdengar senang.

"Astaga anak itu…" keluh Jacob. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Seth, tampak agak marah. "Dan kaubilang dia prajurit yang paling bisa dipercaya untuk melindungi Korra!"

Seth menggulirkan bola matanya berputar. "Cukup, Jake!" jelas ia agak kesal. Jujur Jacob terkejut, jarang-jarang ia mendapati Seth seperti ini. "Sekarang kita punya masalah lain!" tekannya.

Menyetujui hal itu, Jacob segera berubah, diikuti Seth. Tepat pada saat ia berubah, suara si serigala Alfa itu menyapanya.

.

"Selamat malam, Alfa…"

Jacob diam-diam menggeram. Ia belum siap. Ia bahkan belum sampai di tempat perjanjiannya dengan kawanan lain itu.

"Selamat malam… Maaf kami terlambat. Kami akan segera ke sana."

"Tidak apa-apa. Kami saja yang akan ke sana. Kami akan mencapai tempat itu sebentar lagi."

Jacob dan Seth bertukar pikiran dengan bingung. Bagaimana mungkin si serigala Alfa itu tahu dimana keberadaan mereka?

Tapi memang insting serigala, lebih lagi terhadap kawanan lain, ternyata bekerja lebih tajam dari yang ia pikirkan.

.


.

Mereka tidak menunggu lama. Tidak sampai lima menit kemudian, semak-semak di sebelah utara mereka tersibak dan sosok dua ekor serigala muncul.

Lima menit sebenarnya waktu yang terlalu lama untuk menempuh jarak 700 meter. Tapi Jacob bisa memahami. Mereka berjalan lambat, untuk menunjukkan niat baik, tanpa agresi. Dan mungkin juga mereka memang mengawasi, apakah Jacob membawa jumlah anggota yang cukup yang bisa memicu terjadinya pertempuran. Dan ia bersyukur hanya membawa Seth, sesuai perjanjian.

Sosok pertama yang muncul adalah si serigala hitam yang berkali-kali telah mereka lihat. Anggun dan tampak kian pekat dalam keremangan hutan yang tanpa bulan. Ia melangkah hampir tanpa suara keluar dari belukar, menampakkan diri sepenuhnya melintasi sungai kecil di tempat pertemuan mereka. Ia mengangguk hormat pada Jacob dan Seth, lantas berdiri dengan anggun tidak sampai 100 meter dari mereka.

Jacob merasa Seth agak membeku di sisinya dengan kemunculan si serigala hitam. Pikirannya agak kosong sejenak. Melayang.

Fokus, Seth! hardik Jacob. Ia tidak menduga harus menggunakan kata itu pada seorang Seth Clearwater.

Seth mengerjap, dan kembali ke bumi.

Sosok kedua bahkan lebih mengagumkan. Tubuhnya lebih besar dari si serigala hitam, walau jelas lebih ramping ketimbang serigala jantan Quileute. Bulu-bulunya lebih tebal. Warna bulunya putih, dan Jacob menangkap kesan bahwa mungkin jika bulan bersinar cerah, bulu-bulu itu akan sedikit berkilau keperakan. Selintas warna abu-abu muda menyelusup di leher dan kedua kaki depannya. Ia berjalan anggun dan megah, kemudian menempatkan diri di sebelah kiri serigala hitam, agak lebih di depannya sedikit. Wibawa menguar darinya. Jelas ini adalah si Alfa.

Serigala betina itu tidak hanya menganggukkan kepalanya, tetapi agak membungkukkan tubuh bagian depan, ketika memberi salam. Gerak-geriknya sopan dan terukur, yang entah mengapa mengingatkan Jacob pada Carlisle.

"Halo, Alfa…" sapanya.

Jacob tidak membalas, masih terpesona. Tapi ia mengangguk.

"Maaf kami memanggil Anda tengah malam begini kemari. Ada hal yang ingin kami diskusikan dengan kawanan Anda."

"Sebelumnya aku perlu tahu siapa kalian dan darimana kalian, serta ada keperluan apa kalian berlama-lama di tanah kami." Rentetan kalimat itu mungkin tidak cukup terdengar sopan, tapi sungguh Jacob tidak ingin berbasa-basi. Perasaannya tidak enak bahkan sejak ia meninggalkan Korra dan Billy. Ia ingin lekas menyudahi pertemuan ini dan kembali ke kemah.

"Kami kawanan serigala nomaden. Itu berarti kami tidak punya tanah, jadi kami tidak bisa menyebut satu tempat sebagai asal kami. Kami tidak bisa mengatakan keperluan kami, tapi kami bisa menjanjikan bahwa kami tidak memiliki niat buruk."

"Kami butuh nama," tuntut Jacob.

"Maafkan kami. Tapi nama tidak penting, Alfa…"

"Kami tidak bisa tetap memanggil kalian dengan sebutan Alfa Putih dan Si Hitam." bahkan saat ini pun ia merasa kesopanannya sudah turun ke level terendah. Ia bisa merasakan Seth mengejit di sisinya, berusaha memperingatkan. Tapi ia mengabaikannya.

"Kalau begitu Anda bisa menyebut kami Shironui dan Kuronui, atau Shi'pa dan Ka'ba'tlah, 'Tlisuk dan Tupkuk, apa saja yang Anda inginkan."

Jacob mengejang. Ia rasanya pernah mendengar nama Shi'pa… Bukan dari artinya, tapi dari suatu tempat.

"Kalau Anda tidak ingin menyebutkan nama Anda, maka kami tidak bisa menyebutkan nama kami," ucapnya.

"Cukup adil, Alfa."

Rupanya memang si serigala ini tidak ingin menjalin hubungan penuh kepercayaan, tidak peduli betapa sopan sikapnya. Ia jelas menutup diri, menyimpan rahasia dan rencana. Kalau begitu tidak ada gunanya ia berbasa-basi.

"Kalau begitu katakan apa yang ingin kalian diskusikan dengan kawanan!" kali ini kata-kata Jacob lebih berupa perintah, agak kasar dan terburu-buru. Seth lagi-lagi memperingatkannya, dan kali ini ia tidak cukup sabar hingga menurunkan Titah agar Betanya tak lagi mengganggunya dengan hal-hal tidak penting semacam itu.

"Kami ingin mengajukan tawaran kerja sama."

"Tawaran kerja sama?"

"Anda tahu. Kita semua, para kawanan shape-shifter, tidak peduli wujud apa yang diambil, memiliki satu musuh bersama."

"Musuh bersama?"

"Anda tahu. Para Makhluk Dingin berdarah biru."

Apa maksudnya? Kerjasama berkaitan dengan bangsawan vampir? Volturi? Atau bangsawan yang lain?

"Maksud kalian Volturi?" Jacob langsung tembak. Tidak ada gunanya berputar-putar.

"Ya. Dan masih banyak yang lain."

"Kami memiliki perjanjian teritorial dengan Volturi di sini. Begitu juga dengan beberapa klan vampir. Mereka takkan menginjak tanah Quileute," Jacob berusaha memancing dengan kalimat yang bisa ditafsirkan ganda. Kalau ia menerima saja akan kerjasama tanpa menyelidiki siapa mereka, ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Penafsiran mereka terhadap isi kalimatnya bisa menunjukkan niat mereka. Dan baik juga misalnya ia memberi tahu bahwa kalau kawanan serigala itu berani macam-macam, ia punya backing dari musuh mereka.

"Kau tahu para bangsawan vampir selalu punya cara untuk membatalkan perjanjian, Alfa."

Ia tahu, tapi ia tidak bereaksi.

"Banyak shape-shifter lain di luar sana yang sudah dihancurkan," lanjut si Alfa putih itu lagi.

"Langsung saja pada intinya," Jacob mulai tidak sabar.

"Kami ingin kawanan Quileute menjadi sekutu kami."

Ia merasakan di sisinya Seth mulai menganalisa. Gestur, nada ucapan si serigala putih, rupanya, sosoknya, garis-garis tulangnya yang seakan mirip serigala Quileute tapi sekaligus juga tidak. Kemungkinan kebohongan dan berbagai maksud yang ia niatkan. Lalu perhatiannya beralih pada si serigala hitam. Ketenangannya, gerakannya, gestur berdirinya, keanggunannya, siluetnya, matanya yang bagai bulan sabit… Keindahan sosoknya yang misterius sekaligus berkesan begitu dalam, damai… Warna bulunya yang begitu sempurna…

Seth! Bukan saatnya kagum! Fokus!

Maaf, Jake…

Tapi di kepalanya masih simpang siur segala pikiran dan perasaan tentang si Hitam.

Kau fokus sekarang atau aku terpaksa menurunkan Titah!

Ia tidak menduga Seth, dibanding siapapun dalam kawanannya, bisa sedemikian teralihkan perhatiannya oleh salah satu serigala lawan dalam pertemuan penting seperti ini. Maksudnya, ini Seth! Oh, semua memang kesalahannya. Seharusnya ia mengajak anggota kawanannya yang lain. Ia sudah tahu sang Beta terkasihnya jatuh cinta pada si serigala hitam. Tapi siapa yang sangka si serigala hitam itulah sang Beta kawanan lain?

"Jadi bagaimana jawaban Anda, Alfa?" tanya si Alfa putih itu lagi.

Jacob agak mengerjap. Sadar bahwa mereka memang ada dalam pembicaraan penting menyangkut masa depan kawanan. Tanpa terasa ia malah terseret dalam pikirannya tentang si bodoh Seth yang asyik mengagumi si Hitam di saat seperti ini.

Maaf, Jake…

Kalau kau masih mau mengagumi dia, selubungi pikiranmu!

Ia berusaha kembali fokus.

"Jelaskan dahulu apa yang dimaksud dengan sekutu!"

"Jika salah satu kawanan kami atau tanah salah satu dari mereka diserang, maka kawanan Quileute akan ikut membantu menghalau serangan. Demikian pula jika tanah Quileute terancam, maka kami akan membantu."

Tak urung Jacob merasa curiga.

"Apa maksudnya 'salah satu kawanan kalian atau tanah salah satu dari mereka'? Bukankah kalian kawanan serigala nomaden? Kalian bilang kalian tidak punya tanah… Apa perjanjian ini akan mengikat banyak kawanan serigala lain?"

"Jangan salah paham, Alfa. Kawanan di sini adalah kawanan shape-shifter. Kami tidak membatasi pada kawanan serigala."

Jacob dan Seth merasa bagai ditiban palu godam. Tapi Jacob mengingat kata-kata Korra tentang legenda di banyak suku di dunia. Mungkin kawanan shape-shifter lain. Macan tutul, harimau, babi hutan…

"Bagaimana bisa perjanjian ini mengikat banyak kawanan yang berbeda? Apa akan banyak shape-shifter lain yang akan datang untuk kesepakatan ini?"

"Tidak. Suku Anda cukup melakukan kontrak dengan kami."

Seth terdengar gelisah di sisinya. Jacob juga merasakan sesuatu yang tidak enak.

"Katakan maksudmu langsung!"

"Kami memang serigala nomaden. Tapi kami memiliki beberapa kawanan taklukan yang mempunyai teritori sendiri. Itu secara otomatis menjadikan kami semacam aliansi atau persemakmuran. Jika suku Anda mengadakan perjanjian dengan kami, berarti suku Anda mengadakan perjanjian dengan seluruh kawanan di bawah kawanan kami."

Pikiran Seth makin gelisah. Jacob berusaha mengecilkan volume pertimbangan-pertimbangan Seth.

"Maksudmu, jika kita mengadakan perjanjian, kami akan menjadi bagian aliansi?"

"Menjadi sekutu, ya."

"Dan jika kami menolak?"

"Pertama-tama Anda perlu mengetahui ini, Alfa. Kami tidak meniatkan kerjasama yang merugikan salah satu pihak. Ketika kami datang, kami menempatkan keselamatan dan kepentingan suku Anda di atas segalanya."

"Langsung pada intinya!" seru Jacob tidak sabar.

"Kami membutuhkan kerjasama ini. Jadi jika Anda menolak, dengan sangat menyesal kami akan tetap memasukkan suku Anda ke dalam aliansi dengan paksa."

"Apa maksudnya itu?" Tanpa sadar Jacob mulai agak menggeram. Seth menghentaknya, menyadarkannya. Ia berusaha kembali bersikap tenang.

"Jika Anda menyetujui hal ini, suku Anda akan berada sejajar dengan kami. Sebagai sekutu. Tapi jika Anda menolak, kami terpaksa menundukkan Anda. Singkatnya menempatkan kawanan Anda sebagai taklukan."

Jacob menggeram, marah. Dan kali ini Seth tidak menahannya.

"Intinya kau menawarkan dua pilihan: Kerjasama atau Penjajahan?"

"Itu pengertian yang terlalu kasar, Alfa. Kami tidak menjajah. Menempatkan satu kawanan sebagai kawanan taklukan tidak menjadikan kawanan tersebut sebagai budak. Kami semua adalah sebuah persemakmuran besar. Serikat. Seperti keluarga, kami saling melindungi. Sama seperti menempatkan seseorang sebagai serigala taklukan, mungkin."

"Serigala taklukan?"

Jacob tidak pernah mendengar istilah itu. Lebih lagi mengetahui artinya.

Rasanya sang lawan mengerti karena kalimat berikutnya yang ia tanyakan terdengar sangat hati-hati.

"Apa Anda pernah menjadikan serigala luar sebagai anak buah Anda, Alfa? Dari kawanan lain mungkin? Atau salah satu serigala nomad? Atau serigala buangan?"

Jawabannya tidak. Tapi bahkan walau ia tidak mengatakannya, si Alfa putih itu tampaknya sudah tahu.

"Ah, begitu…" suaranya yang diulur-ulur membuat Jacob kesal. "Rupanya kawanan Anda adalah kawanan turunan."

"Kawanan turunan?"

"Kawanan darah murni. Tidak ada percampuran dengan kawanan lain atau mengangkat serigala dari kawanan lain. Jika begitu, mungkin ide mengenai kawanan taklukan terlalu abstrak bagi Anda. Kalau begitu biar kami berikan salah satu contoh yang mudah. Apa pernah ada lebih dari satu calon Alfa dalam kawanan? Atau kawanan terpecah dan terjadi perebutan otoritas antara dua Alfa? Dan kemudian salah satu Alfa mengalahkan Alfa lain dan kemudian mengklaim kawanannya?"

Jacob mengerti. Ya, ini memang masalah otoritas.

"Aku sudah mengerti intinya bahkan walau kau tidak mengatakannya, Alfa."

"Anda tentunya tahu, dalam kasus manapun, tidak ada pihak yang dirugikan. Kami tentunya akan menghindari pertumpahan darah semaksimal mungkin."

"Kalau begitu jawabannya tidak, terima kasih."

"Aku ingin Anda mempertimbangkan lagi, Alfa," ujar si Putih lagi, tampak tenang tidak terpengaruh oleh penolakan serigala merah di hadapannya.

Jacob mendengus.

"Oke. Jadi intinya yang kau bicarakan adalah ini. Tawaran atau Ancaman. Betul kan?"

"Lagi-lagi itu pengertian yang kasar, Alfa."

"Kau camkan ini sekarang. Kami serigala Quileute tidak akan membiarkan siapapun menjajah kami. Kami independen! Jika kau berpikir kau bisa mengancam kami, sebaiknya segera pergi dari sini sebelum kami mendepak kalian!"

Si Putih tetap tenang.

"Anda perlu tahu bahwa kami tidak mengancam. Pada awalnya kami mengajukan penawaran. Kita memiliki musuh bersama. Dan kita lebih kuat jika melawannya bersama-sama ketimbang sendirian."

"Aku juga menolak mengikat perjanjian dengan orang yang menganggap wajar untuk menjajah orang lain! Jawaban ini final! Sebaiknya kalian segera enyah dari tanah kami!"

"Sayangnya Anda tidak bisa mengusir kami, Alfa. Kami memiliki ikatan dengan Quileute. Kami sama berhak untuk tinggal di sini seperti kawanan Anda."

"Apa maksudnya?" geram Jacob. "Kalian nomad! Kalian tidak punya hak di sini!"

"Anda cukup perlu mengerti bahwa kami tidak akan pergi." Alfa putih itu tetap bersikukuh, namun nadanya tidak berubah.

"Kami akan menghalau kalian! Memerangi kalian jika perlu!"

"Itu artinya pertempuran, Alfa. Dan kami akan dengan mudah menaklukkan Anda dan memenangkan seluruh kawanan kalau itu terjadi."

Jacob membeku. Apa ini, ancaman lain?

"Kami permisi kalau begitu, Alfa… Dan patut Anda ingat, tawaran kami tetap berlaku..."

Serigala putih itu berbalik, diikuti serigala hitam, hampir akan meninggalkan mereka begitu saja sebelum Jacob tiba-tiba menggeram keras, dan melompat tinggi. Ia menapak tepat di hadapan si Alfa putih, menghadangnya. Kaki-kakinya terentang dalam posisi siaga, cakarnya mencengkeram tanah. Kepalanya sejajar dengan punggung, giginya menyeringai mengancam. Bulu-bulu di sekitar lehernya berdiri menegang. Penuh amarah. Siap tempur.

"Jangan berpikir kalian bisa seenaknya memasuki teritorialku, lalu mengajukan tawaran gila, mengancam, dan pergi begitu saja seolah kalian tidak menganggap kami ada…"

Ia siap mengoyak-ngoyak kedua serigala itu saat itu juga. Peduli setan tawaran mereka untuk bersekutu melawan Volturi. Masa bodoh mereka pernah menolongnya dan kawanannya dari maut. Persetan Seth jatuh cinta pada salah satu di antaranya. Mereka bisa menelan ancaman mereka kembali. Tidak akan ia biarkan serigala luar seenaknya merendahkan harga dirinya, melecehkan martabat sukunya seperti itu.

Justru pada saat itu satu lolongan lagi-lagi membelah udara. Lolongan Collin.

.


.

catatan:

yak, akhirnya si kawanan serigala asing muncul!

hak-hak-hak-hak...

tolong baca ya,

read, review... kalo bisa difave... hahaha... :D