THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: All part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer. This story is not closely related to anything in the saga. Maybe some details, including past events, legends, rules of the pack, and personality of few characters, had been changed during the continuity of this story.

.

WARNING: Maybe rated T+ for some details like alcohol using… But not so blatant so I guess it's okay… And even the romantic scene is NOT highly romantic…

.


.

Tiga puluh enam - Pulang

Friday, January 25, 2013

4:54 AM

.


.

Baru saja Jacob mengantar Billy dan Collin, tahu-tahu mereka sudah mencium bau lain. Mendadak. Begitu dekat.

"Vampir?" bisik Seth tidak percaya.

Apa ada vampir yang lolos dari pembantaian besar-besaran ini?

Karena jujur saja, skala ini sungguh mengerikan. Bahkan bisa dikatakan seimbang dengan serangan vampir baru enam tahun lalu. Dan kali ini, hanya ada tiga serigala yang bertarung. Dua yunior. Satu serigala asing. Tanpa bantuan satu pun senior. Meski ujung-ujungnya adiknya, yang seharusnya mereka lindungi, hilang tak tentu rimba, sebenarnya diam-diam, mau tak mau, Jacob kagum juga dengan kemampuan Collin.

Seth tidak memberi waktu Jacob untuk banyak berpikir. Tanpa menunggu perintah, ia langsung saja berlari menuju sumber bau. Jujur saja, kalau menyangkut pekerjaan, Seth agak suka memaksakan diri.

"Astaga, apa kita tidak bisa istirahat barang sejenak?" gerutu Jacob seraya memaksakan kakinya mengikuti langkah Seth.

Mereka terperanjat menyadari sumber bau itu. Tenda Korra. Namun lantas jejaknya menghilang. Hingga mereka mencium bau yang sama tiba-tiba muncul tidak jauh dari perkemahan. Dari baunya yang mendadak hilang, dan muncul sedikit di dekat tenda, jelas si lintah itu bisa menutupi baunya. Dan ada sesuatu di perkemahan yang menarik minatnya.

Jacob mengikuti Seth berubah, mengejar ke arah bau. Si vampir tampaknya menyadari keberadaan mereka, karena kini baunya bergerak. Menjauh. Jacob dan Seth segera menyusul.

Tidak butuh dua untuk mengejar yang seperti ini, Seth... Kau sana pergi menyusul Collin. Cari Korra.

Kita tidak tahu apa dia benar sendirian, Jake... Bisa jadi ia hanya umpan. Menggiring kita ke teman-temannya yang mau balas dendam.

Patut diakui Seth ada benarnya. Jadi Jacob diam dan kembali konsentrasi dalam pengejaran.

Si vampir berputar di dekat cadas sebelum akhirnya Jacob, lagi-lagi, merasa baunya menghilang.

Jacob mulai panik. Tapi Seth lebih tenang.

Ia takkan jauh, Jake. Kita coba memutari cadas ini. Berpencar.

Inilah untungnya punya Beta berkepala dingin. Dan yang tak terlalu mudah besar kepala kalau dipuji. Bayangkan kalau Collin yang menjadi Betanya. Setinggi apapun posisi Collin di hierarki Alfa, sudah jelas dalam urusan kepemimpinan kawanan, akan ada bencana besar jika ia ditakdirkan berpasangan dengan Collin.

Kau memikirkan apa di tengah pengejaran sih, Jake? Fokus!

Ah, tapi Beta yang sok disiplin dan cerewet. Dan kelewat banyak pertimbangan juga. Ini memang kelemahan Seth. Atau kelebihan, ya?

Tak ada gading yang tak retak, kalau kubilang. Sudah Jake, fokus!

Ya, kau saja yang jadi Alfa deh, Seth!

Jangan mulai, Jake... Ayo kita selesaikan ini secepatnya. Aku mau mencari Korra!

Seth yang mengingatkan soal Korra membuat Jacob sadar bahwa pengejaran ini, walau mungkin ringan, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Lagipula ini mungkin vampir sial yang kabur dari pembantaian tadi. Bahkan boleh jadi yang bertanggungjawab menghilangkan bau para penyerang mereka selama tiga bulan ini.

Dengan pikiran itu di kepala, Jacob memacu larinya. Memang benar bau vampir itu tak terdeteksi, tapi memang ia tak mungkin jauh.

Tak lama ketika ia melihat sesuatu. Selembar kain tergantung di dahan sebuah pohon. Dan kian nanar ia ketika menyadari apa itu.

Syal Korra! teriak Seth yang mengintip apa yang dilihat Jake dalam kepalanya. Itu syal Korra! Apa artinya, Jake?

Beribu kemungkinan saat itu juga menyerang dari kepala Seth. Tidak ada satu pun yang bagus.

Hentikan hujaman kemungkinanmu, Seth! Astaga, kau lebih parah dari Collin.

Syal ini bisa menunjukkan keberadaan Korra atau jebakan. Jacob mendekat dan mengendus. Bau Korra dan bau vampir tadi menguar darinya. Jadi memang syal ini sempat disentuh si vampir, dan dibawa ke tempat ini.

Jebakan, Jake! Hati-hati! peringat Seth.

Namun peringatan itu mungkin terlambat, karena pada detik yang sama Seth menutup kalimatnya dengan tanda seru, detik itu pula seekor vampir menyerang dari sisi Jacob, membuatnya terpelanting dan berguling sekitar 50 meter dari titik awal.

Jake! teriak Seth.

Oh, tenang, Seth! Jangan membesar-besarkan masalah!

Benar, ia hanya melawan satu vampir di sini. Jauh di bawah standar yang tadi dicapai Collin dan Adam. Masa iya ia kalah hanya oleh satu vampir?

Meski begitu vampir ini berbeda. Ia punya kekuatan yang lebih dari vampir biasa. Tidak diragukan lagi ia pemimpin penyerangan tadi.

Jacob akhirnya berhasil melepaskan diri dari pitingan si vampir dan memisahkan diri sekitar 10 meter. Mereka saling menatap sambil bergerak, membentuk formasi berputar, saling mempertimbangkan gerakan satu sama lain.

Vampir perempuan dan bertangan buntung. Kalah dari yang ini, Jacob tidak punya muka lagi untuk memimpin kawanan.

Satu celah muncul dalam gerakan si vampir dan Jacob segera menyambar kesempatan itu. Ia menyerang bagai kilat, menyeruduk si vampir ke tanah. Memang benar kata Seth, musuh satu ini bukan sembarangan. Ia tak semudah itu takluk dalam taring Jacob. Ia punya seribu cara menghindar, menyerang, melawan balik, menghantam.

Mereka bergerak saling menyerang begitu cepat hingga tak terbaca. Berpusing dan bergulat hingga tak kurang lima pohon tumbang, dan tanah tempat mereka berpijak hancur bekas dilunyah.

Hingga Jacob berhasil memojokkan si vampir di tembok cadas, cakarnya menahan tubuh itu begitu rupa, taringnya tidak sampai tiga puluh senti dari leher musuhnya.

Tapi sesuatu menahan Jacob seketika itu juga. Wajah itu. Tubuh itu. Warna kulit itu.

Dan mendadak Jacob mengingatnya. Pemilik wajah itu.

Bukan cuma sosok dalam foto yang segera hancur jadi serpihan saat lembaran itu sampai ke tangannya. Bukan cuma sosok dalam layar yang segera ia banting ketika ia menyadari siapa sosok itu.

Ia mengenalinya. Dari masa lalunya.

.

Ia ingat ketika ia masih kecil, mungkin sekitar usia 4 tahun. Ayahnya menitipkannya pada sosok perempuan cantik berambut panjang dengan senyum lebar di wajah. Roknya berbunga-bunga tertiup angin ketika ia mengejar topinya yang terbang. Debur ombak di latar belakang. Dan rasany sosok itu sama sekali tidak asing baginya, seseorang yang sudah lama ia kenal. Ia memanggilnya dengan sebutan 'Auntie'. Dan dengan senang mengikutinya mencari batu-batuan warna-warni atau kepiting di antara pasir dan karang.

Ia ingat ketika usianya sekitar 5 tahun. Perempuan itu sering datang pada sore hari ketika ibunya pergi. Membawa banyak kue dan permen. Membelikannya banyak mainan. Buku-buku. Baju. Ia suka dengan perempuan itu, senyumnya begitu indah dan tawanya begitu cerah. Laksana malaikat. Sesekali ketika perempuan itu datang, ayahnya akan membawanya ke rumah Clearwater. Ia bermain dengan Seth sementara sang ayah pergi bersama perempuan itu. Ia menginap di rumah Seth, seminggu penuh. Selama waktu itu menunggu kapan ayahnya akan menjemputnya. Dan ayahnya akan kembali dengan lebih banyak mainan dan kue-kue, berkata itu adalah dari si perempuan itu, memintanya jangan bilang ke ibunya. Tapi ia tidak berpikir soal si ibu, hanya soal si malaikat dan kue-kue. Dan diam-diam ia selalu berharap, kapan lagi sang malaikat akan datang dan menghujaninya lagi dengan beragam hadiah.

Ia ingat pada tahun yang sama, malaikat itu kembali datang. Ayahnya menyuruhnya keluar, tapi ia mengintip dan menguping. Ia melihat ayahnya dan perempuan itu ribut besar, saling menunjuk. Dan malaikat itu pergi sambil menangis. Mengapa malaikat bisa menangis? Ia tidak tahu mengapa ayahnya bisa sedemikian marah. Ia berusaha mendekati ayahnya, memeluknya. Sang ayah biasanya senang jika ia memeluknya, segala amarahnya selalu lenyap. Tapi kini tidak. Ayahnya menyuruhnya pergi, mengatakan sesuatu bahwa ia adalah beban bagi keputusan sang ayah atau semacamnya. Mengatakan lebih baik jika dia tidak pernah dilahirkan ke dunia. Tak terkira sakit di dadanya. Ia lari dan menangis. Sampai malam di pinggir pantai, hingga kakinya lecet karena begitu lama berlari tanpa alas kaki dan lututnya terluka oleh bebatuan. Hingga kakaknya mencarinya dan menggendongnya pulang.

Ia ingat ibunya dan ayahnya bertengkar. Ibunya menarik semua mainan dan buku hadiah dari perempuan itu dari rak Jacob. Meneror Jake dengan pertanyaan yang ia tidak tahu jawabannya. Mengaduk album foto dan membuang semua foto perempuan itu, membakarnya di halaman belakang. Menangis berhari-hari. Ayahnya tidak pulang selama dua minggu lebih. Dan ibunya tiba-tiba pergi di hari hujan. Ia menangis meraung-raung, tak henti menanyakan apakah semua salahnya ketika ayah dan ibunya pergi. Rumah berantakan tanpa ibu dan ayahnya. Semua masakan Rachel selalu gosong. Rebecca selalu salah menyetel mesin cuci. Dan ia menangis karena mereka akan memarahinya jika ia meminta makan atau menanyakan di mana orangtuanya. Aunt Connie, Aunt Emmie, dan Aunt Sue sesekali datang untuk membawakan makanan atau membersihkan rumah, membawa sepupu-sepupu kecil mereka untuk menemaninya bermain. Tapi mereka tiga bersaudara jelas tidak terurus. Setiap malam ia menangis, mimpi buruk. Rachel dan Rebecca berusaha menghentikan tangisnya, bergantian memeluk dan meninabobokan Jacob hingga ia lelah menangis dan tertidur.

Hari ketika sang ayah pulang dan ibunya kembali ada dalam pelukannya. Jake merasa sikap keduanya berbeda, tapi apa yang ia mengerti soal orangtua? Ia merasakan segala keindahan dalam hidupnya kembali. Tapi kini ketika ia mengingatnya lagi, ia tahu mereka berdua berusaha keras menghadirkan kembali cinta dalam keluarga mereka. Piknik. Jalan-jalan. Dan tidak pernah sekali pun perempuan itu muncul. Dan ia melupakannya begitu saja.

Hingga hari itu, ketika usianya 9 tahun. Ia dan ibunya pulang dari supermarket dan mendapati perempuan itu di ruang keluarga, berbincang dengan ayahnya. Di pangkuan perempuan itu ada seorang anak kecil. Mungkin usia dua atau tiga tahun, ia tidak tahu. Ia segera mendekat, ingin mengajaknya bermain. Ia selalu suka anak kecil. Tapi ibunya menariknya. Berteriak marah pada mereka berdua dan memaksanya masuk mobil. Mengendara dengan mengebut sambil terus menangis. Ia ketakutan, tapi tak berani bicara apa-apa.

Hingga mereka mencapai tikungan dan melihat sebuah truk melaju dari arah berbeda. Terlambat ketika ibunya menyadari dan membanting setir kuat-kuat. Mobil menabrak pembatas jalan. Ia merasakan sensasi aneh ketika mobil terbang meluncur dan kemudian berguling-guling tanpa henti di jurang. Ibunya memeluknya erat, menggumamkan ribuan maaf sementara pecahan-pecahan kaca, plastik keras, dan logam terus menggores tubuhnya. Darah sang ibu menyiprati wajah dan tangannya.

Dan ia terus memendam kutukan pada perempuan itu, sang malaikat yang selalu membuatnya menderita. Ia tidak ingat apapun sejak itu.

Hari terakhir ia melihat perempuan itu adalah di hari pemakaman ibunya. Ia memaksakan diri hadir dengan tubuh dibalut bagai mumi dan duduk di kursi roda. Perempuan itu menggumamkan maaf, tapi ia tak mau mendengar. Ayahnya memohon maaf, tapi ia hanya menangis. Ia tidak ingin lagi melihat perempuan itu, ataupun mengingatnya. Tidak lagi.

Ya, ia mengingatnya kini.

Wajah itu, wajah yang berusaha dihapus dari memorinya selama 13 tahun terakhir.

Itu Ariana…

Korra benar. Ibunya memang berubah jadi salah satu vampir...

.

JAKE! panggilan Seth, teriakan malah, di kepalanya membuatnya tersadar. Ia mengerjap. Ia masih di sana, cakarnya masih terpancang mencengkeram tubuh Ariana.

Namun entah apa yang menghentikannya untuk membuntungi Ariana. Karena jelas ia membencinya. Sangat kini. Perempuan ini tidak hanya mencuri cinta sang ayah dari ibunya. Ia menghancurkan keluarga mereka. Membunuh ibunya. Dan masa pengkhianatan Billy ternyata lebih lama dari yang ia kira selama ini. Ditambah lagi ia kini hadir sebagai vampir mata merah. Pemimpin rombongan yang menyerang keluarganya. Ia memiliki lebih dari seribu satu alasan untuk membunuhnya.

Ya, karena memang ada yang menghentikannya. Ia tidak memiliki niat lagi untuk menghabisi Ariana.

Apakah itu karena jaket Korra yang kini tergantung di bahu Ariana? Atau syal Korra yang jelas tadi habis diambil perempuan itu dari tenda? Ataukah karena sebuah loket, menjulur dari leher Ariana, menunjukkan dengan jelas keberadaan selembar foto. Foto Korra dan ibunya. Terbuka, tanda Ariana baru saja memperhatikannya sebelum menyerang Jacob.

Dan bayangan itu tampak di ruangan matanya.

Ariana yang mencium bau Korra dalam pertempuran. Ariana yang menyelinap ke tenda Korra. Ariana yang mengendusi pakaian Korra dan mengeluarkan loketnya, memeluk pakaian Korra. Ekspresi sedih di wajahnya. Sebelum Jacob menyadari keberadaannya dan mengejarnya.

Tanpa sadar ia melepas cengkeramannya.

Ariana mendesis, tapi ia tahu tidak ada kesempatan baginya untuk menang dalam pertarungan ini. Dan ia kabur.

Mungkin ini memang yang diinginkan Jacob, karena ia tidak mengejar. Bahkan ketika Ariana menoleh memandangnya dengan wajah bingung. Jacob hanya menatapnya. Wajah yang sangat dibencinya itu menjauh.

Jake! panggil Seth lagi, suaranya terdengar antara kebingungan dan peringatan.

Tapi ia tidak mempedulikan panggilan Seth. Ataupun mengkhawatirkan mungkin Seth akan menggantikannya membunuh Ariana. Ia tidak peduli jika Ariana terbunuh, entah oleh siapapun dalam kawanannya. Mungkin ia sendiri juga akan membunuh Ariana jika ia bertemu dengannya lagi.

Tapi tidak hari ini.

.


.

Lima hari itu, Seth dan Collin tidak pernah kembali ke rumah, tanpa henti menyisiri hutan.

Pada hari kedua, Billy menggelar pertemuan tertutup para Tetua di rumah Sam. Pertemuannya kelihatan berat, karena Billy pulang dengan wajah pucat dan sama sekali tidak menjawab tatkala Jacob bertanya. Ia bulak-balik ke pondok Sam sejak saat itu, kadang dua kali sehari, selalu Sam yang menjemput dan mengantar. Ia juga dengan tegas melarang Jacob untuk datang ke pondok Sam. Mengancam tidak akan pernah pulang lagi ke rumah jika Jacob memaksa, bahkan.

Tentu saja ini mencurigakan, tapi Jacob tidak berani membantah.

Pada hari kelima, barulah ia tahu alasan sikap aneh Billy ini.

Kamis sore itu, tiba-tiba truk Sam memasuki halamannya lebih awal ketimbang biasanya. Sam biasanya mengantar Billy larut, kadang lebih dari jam 9, tapi hari itu, sebelum senja menjelang, ia sudah tiba. Jacob baru selesai menggelar pertemuan kawanan untuk membahas kemajuan pencarian Korra. Hanya dengan Ben, Pete, Josh, dan Adam, tentu, karena Seth menolak meninggalkan pencariannya. Ia sudah akan membubarkan mereka, ketika mendengar suara Sam. Suara Billy. Dan suara Korra.

Ia buru-buru meluncur ke luar rumah, hampir terbang malah. Disusul anggota kawanan lain. Dan melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Korra turun dari truk Sam, kelihatan ceria dan tidak kurang suatu apa.

Tanpa diperintah dua kali, Ben langsung hengkang. Sudah jelas ia ingin memberi tahu kabar baik ini pada Collin dan Seth. Mereka praktis tidak pernah meninggalkan hutan semenjak Korra hilang.

Tanpa sadar Jacob mendekat. Meneliti wajah gadis itu. Bersyukur bahwa matanya tidak merah. Bersyukur bahwa suaranya tidak berubah. Dan tidak terduga, seolah ada tali yang mengendalikannya, tiba-tiba ia memeluk adiknya. Pertama kali mengambil inisiatif memeluk duluan. Dan kali ini Korra membalas pelukannya. Tanpa ketakutan atau pisau menari di depan matanya. Hanya memeluk hangat.

"Aku sudah pulang, Kak," katanya ceria. Dan entah mengapa Jacob benar-benar merasa bebannya lenyap.

Korra dengan santainya tertawa-tawa dan memberi salam pada semua orang. Seolah lima hari ini ia tidak membuang linglung siapapun. Karena ya, nyatanya ia memang membuat linglung semua orang. Collin, Seth, Jacob, Billy... Tapi sekarang melihat Billy, dan sikapnya yang gugup di bawah tatapan tajam sang putra, Jacob tiba-tiba menyadari sesuatu.

"Dad, selama ini kau tahu di mana Korra, ya kan?" Jacob langsung memicing pada ayahnya. Yang ditanya hanya menghindar, dan tanpa banyak bicara membongkar persediaan bir dan camilannya di hadapan anak-anak dan Sam. Dia bahkan menawari anak-anak minum!

Pete, Josh, dan Sam terang saja menyambar kesempatan pertama akses atas persediaan bir Billy. Sam tentu saja tidak masalah. Tapi Jacob terpaksa memelototi Josh dan Pete. Kedua anak itu masih di bawah umur. Meski Pete akhirnya menghentikan minumnya dan nyengir kuda sok-imut pada Jacob, Josh santai saja. Ia bahkan asyik menemani Sam nonton teve sambil mengobrol simpang siur soal campuran macam-macam cocktail dan rencana kerja paruh waktunya sebagai bartender. Jacob terkesima. Sudah jelas soal minuman beralkohol, bocah ini bahkan punya pengalaman yang jauh lebih profesional ketimbang Sam dan Billy.

Jacob jelas marah, kesal, merasa dikhianati... sebut saja. Pada dua orang di dunia ini. Billy dan Sam. Mereka jelas mengetahui keberadaan Korra selama ini. Bukan mustahil mereka memang menyembunyikan Korra. Dan mereka tahu kawanan kelimpungan mencari Korra. Jacob sendiri berulang kali menelepon Sam, dan jawaban Sam selalu 'tidak tahu'.

"Maaf, Jake..." Sam akhirnya menghampiri Jacob yang bersandar di tiang bar dapur, setelah sekitar satu jam Jacob jelas-jelas memasang tampang masam dan memandangnya dengan tatapan membunuh. "Aku ingin bilang, tapi Korra melarang."

"Korra melarang?" kata Jacob sinis. "Apa ia menurunkan Titah Alfa kalau begitu, Sam?"

Sam tampak salah tingkah sejenak sebelum berkata, agak merana, "Kumohon, Jake... Dia sangat ketakutan."

Jacob mengernyit. "Ketakutan?"

"Aku kebetulan bertemu dia di pinggir jalan. Dia terlihat sangat shock. Dia bilang melihat banyak serigala di hutan, dan mungkin serigala-serigala itu mengincarnya karena ia melukai salah satu di antara mereka. Aku menawarinya tumpangan pulang. Tapi ia menolak, bilang tidak mau bertemu denganmu karena alasan ini dan itu. Dan akhirnya ia menginap di rumahku sementara."

Jacob mengerang.

"Memangnya dia bilang apa soal aku?"

Tak usah dikatakan pun dia sudah tahu jawabannya.

"Tenang saja, Jake... Kami sudah menjelaskan semuanya. Sudah tidak ada masalah lagi," ujar Sam langsung ke inti, tanpa menjawab pertanyaannya.

Tanpa sadar ia menghembuskan napas lega.

"Jangan sampai terjadi kesalahpahaman lagi," ujar Sam dingin, yang membuat Jacob kembali mendelik padanya.

"Sungguh simpatik, Sam," balas Jacob sinis sebelum melangkah pergi, jelas-jelas tak ingin bersinggungan dengan Sam ataupun Billy sepanjang sisa hari itu.

Namun tiba-tiba Sam menarik tangannya.

"Tunggu, Jake..." ujarnya. "Ada yang ingin kubicarakan."

Pemuda itu memutar bola mata. "Apa?" pandangan tajam Jacob sudah merupakan konfirmasi bahwa ia tak ingin diganggu.

Sam tampak gugup. Ini aneh. Sam tidak pernah gugup.

Jacob makin menyipit.

"Ehm," Sam membersihkan kerongkongannya dan menghindari tatapan Jacob. Ini makin aneh. "Jadi," ia memulai, "Billy bilang kau membuat Sumpah Darah dengan Seth?"

Mata Jacob melotot. Apa-apaan ayahnya pakai mengadu segala pada Sam?

"Bukan urusanmu, Sam!"

Kekasaran jawaban Jacob membuat Sam kembali pada sikap standarnya. Menekan. Sok kuasa. Penuh determinasi.

"Tentu itu urusanku kalau menyangkut masa depan suku," tegasnya.

"Cuma urusan sepele. Tenang sajalah," Jacob mengibaskan tangannya, yang justru membuat Sam menggeram tidak suka.

"Jacob..." Sam memandangnya dengan tatapan Medusa yang biasa. Tapi kali ini Jacob berusaha melawannya.

"Sam..." tirunya, berupaya mengerahkan segala kekuatannya untuk membalas tatapan supranatural Sam.

Setelah sekitar lima menit saling melotot dengan intens, dan Jacob sudah mulai merasa matanya pedih, tiba-tiba Sam memutus kontak mata. "Oke, oke... Aku menyerah..." katanya. Nah, ini lebih aneh. Sam menyerah? "Terserah apa maumu dengan Sang Beta. Bukan urusanku."

"Memang dari awal masalah kawanan bukan urusanmu..." gumam Jacob kesal.

"Yang jelas kalau satu saat ternyata tindakanmu itu merugikan suku, kau yang kutuntut tanggung jawab!" ancam Sam. Ia menekankan sambil menusuk dada Jacob dengan ujung jarinya. Dan bahkan tanpa menunggu jawaban atau bahkan protes Jacob, ia langsung berbalik. Berhenti sebentar di ruang keluarga untuk bicara dengan Billy, dan kemudian pergi. Tanpa menoleh ke belakang.

Ini membuat Jacob sangat, sangat, sangat kesal.

"Ayolah, Sam!" teriaknya yang membuat seluruh isi ruangan menoleh padanya dengan tampang khawatir. "Mau sampai kapan kau terus nge-boss?"

Sam sama sekali tidak terpengaruh. Tidak sampai sepuluh detik setelah punggungnya menghilang di balik pintu, Jacob mendengar bunyi derum mobil tanda truk Sam mulai distarter.

Mati-matian ia berusaha menelan balik kekesalannya. Tidak ada gunanya marah pada Sam. Yang ada malah dia yang tambah kesal.

Sabar, Jake, sabar…

.

"Kenapa, Jake? Kau seperti habis menelan truk..." sapa suatu suara sambil menelekan tangan di bahunya.

"Oh ya, Quil... Biasa Sam The Zordon bikin ulah... Aku..." tiba-tiba Jacob sadar. "Quil!" ia menolehkan kepala begitu cepat hingga rasanya lehernya mau patah. "Aku tidak dengar kau datang. Kapan kau tiba?"

Quil nyengir. "Tadi waktu kau teriak-teriak pada Sam, lagi. Aku datang dengan Harry."

"Oh?" Jacob baru sadar sudah hampir seminggu ini kelima anggotanya: Harry, Caleb, Brady, Quil, dan Embry menginap di rumah kosong keluarga Cullen. Kadang-kadang Josh ikut-ikutan menggantikan Harry. Mungkin itu semacam trespassing. Karena jelas tidak ada yang minta izin. Bahkan sebagai pemimpin mereka, ia juga tidak. "Memang kemana Embry?"

"Masih patroli... Besok gantian aku..."

Sejak Jacob kamping dan Seth bebas tugas patroli di wilayah Cullen karena urusan pencarian Korra, hanya Quil dan Embry yang patroli siang-malam di wilayah Cullen. Agak kasihan memang, mereka sudah hampir kurang tidur belakangan.

"Bagaimana kabar Brady?" Jacob mencari topik lain. Dalam hati ia berjanji akan menggantikan patroli Embry malam ini.

"Operasinya sukses," Quil terlihat cerah. "Dia sudah bisa jalan-jalan sekarang. Meski Caleb masih melarangnya berubah hingga batas waktu yang belum ditentukan. Tapi patut kuakui Caleb dan Adam makin mahir."

Jacob setuju.

"Kemampuan mereka juga dilirik pihak lain. Caleb sudah mendapat persetujuan beasiswa dari rumah sakit. Dan Carlisle berjanji akan membantu beasiswa Adam juga..." lapor Quil lagi, jelas terdengar iri.

Tapi bukan urusan akademik Caleb dan Adam yang menarik perhatian Jacob.

"Heh? Kapan kau dengar dari Carlisle?"

"Ia menelepon kemarin. Katanya mungkin dalam waktu dekat ia akan datang. Ia tidak bisa menghubungimu karena teleponmu terus tak ada sinyal dan beberapa hari lalu mati."

Oh, ya... Jacob baru ingat. Ponselnya tidak ada sinyal sejak ia di hutan dan setelah pulang, ia begitu jarang di rumah sehingga lupa mengecas.

"Bella sudah khawatir lagi sesuatu terjadi padamu. Mereka sedang di Salisbury atau Manchester atau apalah sekarang, mengurus pendaftaran sekolah Nessie," lanjut Quil.

"Pendaftaran sekarang? Bukannya masih tahun depan?"

"Jake, kau lupa? September ini Ness 6 tahun..."

Ya, dia benar-benar lupa!

"Jadi mereka akan datang sekitar dua atau tiga minggu lagi, kalau tidak salah... Ness ingin bertemu sebelum... yah... masuk asrama..." tiba-tiba suara Quil memudar dan Jacob tahu alasannya. Claire masuk asrama sejak usianya 6 tahun dan sejak itu Quil tidak pernah bertemu dengannya.

Jacob memberinya tepukan simpatik di bahu.

"Yeah, paling tidak kau bisa bertemu Ness lebih cepat..." bisik Quil sambil mengalihkan perhatiannya ke luar.

"Mana kutahu? Kan kau dengar apa kata Embry... Mungkin Edward berencana menempatkan Nessie di biara selama 400 tahun..."

Quil terkekeh. Tapi lalu matanya membesar, perhatiannya jelas tertuju ke luar. Seringai riang muncul di wajahnya.

"Mungkin ketimbang memikirkan Ness, kau lebih baik mengawasi adikmu..." kikik Quil sambil menunjuk keluar jendela dapur, ke arah halaman belakang. Dan Jacob berdecak keras begitu menyadari yang terjadi di luar.

.

Collin, tidak salah lagi, baru saja tiba. Jelas ia mempersiapkan kedatangannya kali ini. Ia sudah mandi, setelah lima hari di hutan, dan kemeja kotak-kotak merahnya jelas masih baru. Dan, yang membuat Jacob melotot, ia membawa kado.

Acara Collin menyerahkan kado pada Korra menjadi perhatian utama kawanan. Langsung saja mereka meninggalkan pos masing-masing, memadati jendela atau ambang pintu, tanpa malu-malu mengintip keluar. Bahkan sampai Seth pun ikut-ikutan mepet di sisi Jacob, mengintip dari jendela.

Hah? Seth?

"Kapan kau pulang?" bisik Jacob.

"'Datang'," koreksi Seth. "Aku datang bareng Cole, kok..." ia menunjuk ke depan garasi. Memang terlihat bagian ujung Volvo putih bekas-Edward, yang tadinya hitam, terparkir di sana. Keluarga Clearwater membelinya dengan harga murah tiga tahun lalu, sebelum keluarga Cullen pindah. Seth tentu saja tak berpikir dua kali untuk mengganti catnya. Ia bahkan menambahkan sedikit stiker di bodi mobil, yang membuat mobil berkesan serius itu lebih cocok dengan kepribadiannya.

"Sssssttt!" anak-anak membungkam mereka. "Diam kalian berdua, baru mau seru, nih!"

Jacob hampir menggeram, tapi Pete melotot padanya. Menyerah, ia pun ikut menyurukkan kepala bersama mereka di celah bukaan jendela yang sempit. Mengintip.

Tidak bisa dibilang mengintip, sebenarnya, karena pastinya Collin tahu kalau ia sedang ditonton. Tapi ia tidak peduli.

"Aku senang kau pulang," ia mendengar suara Collin. "Kami semua panik karena kau hilang."

"Maaf, Cole..." suara Korra terdengar. "Aku tidak sadar kalau kalian semua perhatian..." Korra bersikap sok-manis seperti biasa. Cole pastinya lebih dari tahu kalau sifat asli Korra tidak seimut itu, tapi kelihatan ia menutup mata dari fakta yang sudah jelas itu. Atau tepatnya lagi, dia memang sudah buta.

Collin kelihatannya sangat senang Korra tersenyum. Atau lebih tepat dikatakan hampir mati saking bahagianya. Ia jelas mulai gugup sekarang. Tangannya agak gemetar sewaktu ia mengulurkan sebuah kotak dibungkus kertas hijau bermotif vintage emboss, yang dibalut pita kertas kuning-putih nan manis.

"Kado untuk perayaan kembalinya kamu," ujarnya dengan suara bergetar.

Jacob mengawasi dengan geraman keras memenuhi dadanya kala Collin menyerahkan kado itu, dan lebih geram lagi ketika Korra membukanya. Sebuah syal warna hijau limau yang cerah, dengan bagian ujung bermotif bunga-bunga matahari warna kuning tua berdaun hijau di kedua sisinya, berpindah dari dalam kotak ke tangan Korra.

"Aku merajutnya sendiri," ia menangkap Collin bicara.

Sungguh tak terbayangkan seorang Collin Littlesea, si Ranger Merah, bocah berandal paling bandel, serigala pembangkang, komandan sok jago yang selalu antusias berada di garis depan dalam pertempuran manapun, merajut sebuah syal warna hijau limau bermotif bunga-bunga. Memangnya dia apa? Cewek umur 14 tahun yang lagi mabuk kasmaran?

Bagian 'mabuk kasmaran'-nya sih betul...

Serius, Cole? Itu idemu untuk memikat cewek?

Tampaknya seluruh kawanan setuju bahwa Collin perlu mendapat penataran '1001 Cara Memikat Cewek Tanpa Memberi Image sebagai Cowok Cengeng', karena sedetik mereka terpana, untuk kemudian berubah menjadi kikikan sembunyi-sembunyi. Di luar Collin kelihatannya menyadari reaksi kawanannya, karena ia mulai bergerak-gerak gelisah seolah tindakannya salah.

Tapi sebaliknya, Korra kelihatan kagum.

"Terima kasih, Cole... Kau perhatian sekali, tahu aku suka warna hijau..."

Tentu saja itu kelihatan benar. Korra sehari-hari memang selalu memberi sentuhan hijau pada busananya. Apapun warna busana totalnya, pasti setidaknya ia mengenakan kaos atau syal atau apapun yang bernuansa hijau sebagai aksen. Kalau cuma hal kecil begitu sih Jacob juga bisa menebak.

Collin tersenyum, kelihatan melayang sampai ke langit ketujuh. Lalu tangannya bergerak ke syal yang ia berikan, dan katanya, "Mau kupakaikan?"

Seluruh kawanan menyaksikan dengan mata membelalak lebar ketika Korra mengangguk, dan Collin dengan kikuk melilitkan syal itu di leher Korra. Kemudian ia meraih ke dalam sakunya, mengeluarkan sesuatu, dan menyematkan benda tersebut di atas syal itu.

Sebuah bros rupanya.

"Kau suka sekali dengan bunga matahari..." ujar Korra sambil memperhatikan brosnya.

"Itu image-mu, Korra..." ujar Collin lembut.

"Oh ya? Siapa bilang?"

"Menurutku, kau memang seperti matahari... Cerah dan selalu bersinar..."

Anak-anak sekali lagi memaki. Dengan gombalan Collin yang super bodoh dan payah itu, cewek mana yang mau terayu? Tapi, sekali lagi, kenyataan di lapangan bertentangan dengan teori 'Menjadi Cowok Keren di Mata Cewek Tanpa Kehilangan Martabat', karena jelas Korra lagi-lagi tersipu. Dan mereka mengawasi dengan berdebar-debar ketika mendadak jarak keduanya kian dekat, dan dekat, dan dekat...

"Hei, itu adikku!" geram Jacob tidak percaya. Ia hampir meluncur ke luar, berencana mematahkan leher Collin, sebelum Pete menarik tangannya, melotot sekali lagi, dan menangkupkan tangan ke mulutnya.

"Diam, sedang seru ini!"

Seisi kawanan punya reaksi berbeda terhadap adegan ini. Sebagian besar jelas menanti-nanti dengan antusias. Sebagian, yang juga menaruh minat pada Korra, memaki Collin habis-habisan, walau tetap menahan diri dan memperhatikan dengan mata terbuka lebar. Jacob jelas marah, tapi tak kuasa bertindak di bawah tekanan anak buahnya yang mayoritas mendukung Collin. Dan Seth mengeluarkan tawa gugup, sebelum mengangkat kepala dari titik yang sudah ia carter di bingkai jendela, lantas berjalan ke konter dapur.

"Hahaha... Cinta masa muda..." gumamnya sambil meraih gelas dan membuka keran.

Sementara itu anak-anak makin heboh berbisik-bisik.

"Ayo, Cole... Cium... Cium..." bisik Ben memberi semangat.

"Bodoh, Cole... Jangan pejamkan mata! Tatap cewekmu sebelum ia memejamkan mata duluan!" Pete mengarahkan sok tahu, seolah-olah dia sendiri pernah mencium cewek.

"Jangan langsung tembak! Peluk dulu dia atau arahkan dagunya, kecup kilat bibirnya, sebelum kau benar-benar menyerang lidahnya!" Josh The Incredible Womanizer memberi saran profesional, membuat Jacob hampir membuatnya jadi perkedel.

"Ah, Korra memejamkan mata! Ini saatnya, Cole!" girang Ben.

"Ayo, Cole! Tiga senti lagi!" Pete memberi semangat.

"Ya... Ya..." Ben menghitung sementara wajah Korra dan Collin makin dekat senti demi senti.

Dan tiba-tiba terdengar deras air memancar seiring dengan derak besi patah. Terhentak sadar, Korra dan Collin saling melepaskan diri, menjauh satu sama lain, tampak gugup dan malu. Sementara anak-anak menoleh ke sumber suara dengan ekspresi jelas-jelas kesal. Memandang tidak lain tidak bukan, Mr. Seth Clearwater, yang dengan gugup berusaha menghentikan air yang memancar keluar dari keran Billy yang patah dengan lap dapur.

Di tengah kutukan dan sumpah serapah anak-anak karena Seth menginterupsi momen berharga itu, Jacob sempat melihat setidaknya tiga keanehan. Ben dan Pete saling bertukar pandangan mengerti. Billy menatap Seth diam-diam dengan sorot prihatin. Dan tentu saja roman Seth dengan tubuh yang basah kuyup, yang sesaat terlihat getir sementara ia memandang Korra dan Collin yang berdiri malu-malu, saling mencuri pandang, di luar jendela. Kegetiran itu hanya sedetik terlihat, sebelum berganti menjadi sosok Seth yang biasa, berkali-kali minta maaf pada Jacob karena merusak kerannya dan pada anak-anak yang menatapnya marah.

Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.

Oh, tidak... Ini pastinya tidak seperti yang ia pikirkan, kan?

.