THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: All part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer. This story is not closely related to anything in the saga. Maybe some details, including past events, legends, rules of the pack, and personality of few characters, had been changed during the continuity of this story.
.
WARNING!
I personally rated this story for T+. But just in case, maybe from this point, you may seriously consider to rated this part of story to M for some blatant violence (like never!), abusive behaviour, and sexual context… I try to restrain myself and do some personal restriction, of course… I already warned you guys… You may read in your own guard (and risk…)
.
.
Tiga puluh tujuh - 16+ Education
Thursday, December 20, 2012
5:12 PM
.
.
Sejak pulang dari acara kamping keluarga, satu pertanyaan terus mengganggunya. Bukan tentang siapa Korra atau apakah adiknya benar-benar sudah menjadi anggota kawanan. Itu urusan belakangan. Yang ini lebih penting baginya.
Tentang bisakah ia menerima Korra?
Semua ini mungkin berlawanan dengan perkiraannya. Mungkin memang ia tidak seharusnya berpikir begitu negatif tentang adiknya. Memang benar kata Seth dulu, apapun yang terjadi, adiknya sama sekali tidak bersalah. Ia harus belajar untuk memaafkan dan menerima. Hidup dengan itu.
Billy memang telah melakukan kesalahan, tetapi siapa yang sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan? Ia sempat berpikir, bagaimana seandainya Sarah tahu tentang hal ini sebelum kematiannya? Mengenai penerimaan atau penolakan sang ibu. Ia selalu mengira-ngira apa yang terjadi seandainya ibunya meninggalkan ayahnya saat itu. Mungkinkah hidupnya akan sama sekali berbeda? Mungkinkah ibunya membawanya pergi jauh dari La Push? Membuatnya berada jauh dari semua legenda yang membelit hidupnya selama ini? Atau mungkinkah ia akan mengalami hal terburuk dari sebuah keluarga yang berantakan: masa kecil yang kesepian, penuh kekalutan, dan tiadanya senyum kedua orangtuanya?
Dan kemudian kenyataan bahwa semua ketakutannya itu sempat hampir terwujud. Ibunya memang mengetahui. Dan menolak. Dan pergi. Semua bayangan masa kecil terburuk sudah hampir muncul di hadapannya, sebelum kecelakaan itu.
Lantas ia berpikir bahwa sudah bukan saatnya lagi ia memikirkan apa yang sudah terjadi di masa lampau. Mungkin segalanya berjalan karena memang seharusnya begitu. Nyatanya sang ayah lebih memilih ibunya ketimbang Ariana. Rasa kesepian yang mungkin akan ia rasakan seandainya kedua orangtuanya berpisah sebenarnya sudah dirasakan oleh Korra. Dan itulah titik baliknya, ketika ia merasakan simpati sekaligus empati pada gadis itu. Dan itu hanya membangkitkan sisi protektifnya.
.
Setelah menghilang selama lima hari, akhirnya Korra kembali. Sam mengantarnya. Bilang selama ini Korra tinggal di pondoknya. Gadis itu kabur ketakutan setelah apa yang dilihatnya di hutan. Tidak pelak lagi, serigala. Mimpi buruknya. Menurut pengakuan Sam, ia menemukan Korra di jalanan, sendirian dan kalut. Adiknya menolak untuk diantar kembali ke rumah Black atau menelepon Billy dan Jacob, dan lebih memilih menenangkan diri di pondok Sam. Tentu saja ia merasa tidak yakin untuk percaya 100% pada Sam. Tapi semua itu ia kesampingkan. Ia senang, lega, sangat bersyukur adiknya kembali.
Dan pagi itu, setelah sibuk menimbang-nimbang semalaman, akhirnya ia melakukan hal yang terlarang: rekonsiliasi dengan sang adik.
Ya, itu terlarang karena itu setidaknya melanggar beberapa hal dalam catatan yang telah ia buat dengan dirinya sendiri sehubungan dengan sang adik. Pertama, karena itu artinya ia telah menerima masa lalu Billy dan pengkhianatan sang ayah atas ibunya. Kedua, karena itu artinya ia telah menerima kemungkinan sang ayah mencintai anak yang lahir dari pengkhianatan itu. Ketiga, sehubungan dengan no.2, karenanya ia juga mungkin mencintai adiknya, menganggapnya keluarga. Keempat, karena itu berarti dia menerima kemungkinan adiknya sebagai orang yang berpotensi sebagai serigala, karena dengan mengakui poin no.1 dan 3, artinya ia mengakui semua hubungannya dengan sang adik, terutama hubungan darah. Dan kelima, karena semua itu berarti ia melanggar perintahnya sendiri untuk membangkitkan amarah Korra.
Tapi ia akan melewatkan kesempatan apapun untuk bisa memberi kebahagiaan dan arti memiliki keluarga bagi anak itu.
.
.
Jadi pagi itu ia melangkah dengan ringan, untuk pertama kalinya menaiki tangga menuju kamar Korra di loteng lantai atas. Billy membangun kamar itu sejak beberapa tahun silam untuk gudang. Namun sejak Korra masuk ke keluarga itu, adiknya menempati kamar tersebut. Sekarang begitu tahu Billy sudah berencana mengundang Korra tinggal bersama mereka sejak tiga tahun lalu, ia mulai bertanya-tanya apa sejak awal memang ayahnya meniatkan kamar itu untuk adiknya. Tapi pertanyaan itu ia tinggalkan di belakang. Tidak ada gunanya.
Ia mengetuk pintu kamar Korra. Tidak ada jawaban.
Ia tidak melihat ataupun merasakan adiknya di manapun di rumah itu. Itu agak aneh sebenarnya, karena biasanya Korra bangun pagi dan berseliweran di sekitar rumah. Ini Sabtu dan ia tidak bilang apapun soal pergi jalan-jalan atau semacamnya.
Jacob berusaha mendengarkan. Kamar Korra sepi, mungkin memang adiknya pergi. Billy juga tidak ada di rumah. Sekarang memang baru jam 7. Tapi mungkin mereka pergi berdua sebelum ia bangun. Mungkin ke pantai untuk melihat matahari terbit atau semacamnya.
Ke pantai melihat matahari terbit? Ayolah, pantai itu di barat, teriaknya pada dirinya sendiri. Bodoh!
Ia berbalik dan tiba-tiba kakinya menabrak tong sampah. Tong sampah itu terguling dan isinya berhamburan. Penuh memang, Korra mungkin lupa membuangnya beberapa minggu. Matanya langsung memindai sekeliling. Sikat karpet, sapu, vacuum cleaner, semua alat kebersihan ditaruh di lemari peralatan di bawah. Dan ia malas turun untuk mengambilnya untuk kemudian naik lagi. Dan membiarkan sampah-sampah itu berserakan jelas bukan pilihan. Billy bisa membunuhnya kalau tahu.
Agak kesal, Jacob berjongkok untuk memunguti sampah-sampah itu. Dan agak mengernyit jijik juga.
Jorok, pikir Jacob. Anak itu perlu ditatar sedikit untuk membuang sampahnya setiap hari.
Sambil menggerutu ia memunguti sampah-sampah itu. Sampah Korra standar seperti sampah anak perempuan manapun-seolah ia tahu saja sampah anak perempuan seperti apa. Beberapa gumpalan kertas kusut, selongsong pulpen, kaleng jus, bungkus keripik kentang, bungkus camilan, wadah kosong pelembab wajah, wadah body scrub, botol penyok air mineral, lipbalm kadaluwarsa, kotak kondom...
—Hah! Kondom?
Jacob mengernyit dan dadanya berdebar keras. Apa ini? Adiknya punya sampah kotak kondom di tong sampahnya? Apa yang bocah itu lakukan di luar sana? Atau jangan-jangan di dalam rumah ketika ia dan Billy tidak ada?
Tunggu, kalau di dalam rumah seharusnya ia tahu... Dan Billy memang belakangan ini sering tidak di rumah, tapi adiknya juga jarang di rumah... Jadi kapan? Pikirannya merambah panik.
Astaga, adiknya bahkan baru 16! Ia saja sudah 22, dan sejauh ini adegan berbahaya nan agak-agak menjurus yang ia lakukan hanya tidur di samping Bella di tengah badai salju—dengan mata kejam Edward mengawasi, yang bahkan membuatnya tidak bisa berfantasi dengan tenang tanpa diusik oleh si parasit-pembaca-pikiran itu—dan mengecup Nessie di kening di bawah teropong besarnya. Ia bahkan ragu yang terakhir itu, bahkan yang pertama pun, masuk rating 18+! Maksudnya, ia mengecup calon pasangan hidup selamanya di kening. Di kening! Dan itu juga berakhir dengan detensi omelan Embry langsung ke kepalanya selama semalaman patroli.
Itu bahkan tindakan yang bisa dibilang innocent!
Dan kondom di tong sampah adiknya?
Astaga!
Ia tahu seperti apa sebenarnya pergaulan remaja di luar sana. Itu memang wajar bagi sebagian besar orang. Ia berada di kepala enam belas orang selama ini. Sam, Leah, Jared, Paul, Adam, Harry, Caleb, Brady, Clark... Josh bahkan sudah melakukannya sejak usianya 14. Dengan gadis yang usianya empat tahun di atasnya! Bahkan terus berganti-ganti setiap sekian bulan sekali sejak saat itu. Dan jika waktu itu Bella lebih memilih dirinya ketimbang Edward, mungkin ia juga...
Ugh, hentikan pikiran itu! teriak sebagian kesadarannya.
Tapi dengan adiknya, ini berbeda. Itu adiknya, walau bagaimanapun juga. Bocah kecil yang baru tiga bulan bersama mereka. Bocah kecil yang sok innocent, kekanak-kanakan, manja...
Dengan kotak kondom di tong sampahnya?
Tunggu, tenang Jacob... Bernapas, bernapas... Kau tidak boleh berubah di dalam rumah...
Dengan siapa? pikiran itu menyelusup panik.
Apa Collin? nama itu pertama kali muncul begitu saja.
Collin Littlesea. Bocah badung itu paling gencar mendekati adiknya. Memikirkannya selalu. Kadang disertai fantasi-fantasi yang membuatnya ingin mengoyak-ngoyak tubuh serigala berbulu coklat kemerahan itu saat itu juga. Bahkan menurut kesaksian pikiran Brady dan Pete, bocah itu mengakui bahwa dia jatuh cinta pada sepupunya sendiri dan tengah galau dengan pikirannya sewaktu ia diserang bulan lalu.
Tunggu. Kalau Collin seharusnya ia tahu. Bocah itu toh tak terlalu pandai menyembunyikan pikirannya. Dan sudah lewat beberapa minggu ia dibolehkan kembali berubah, dan bahkan sekitar 2-3 kali mereka patroli bersama.
Atau Brady?
Brady Fuller sudah berpengalaman soal perempuan. Dan sudah setengah tahun ia dicampakkan kekasihnya. Ia juga termasuk gerombolan berandal yang dekat dengan Korra.
Sama saja. Kalau Brady seharusnya ia tahu. Dan selama ini ia masih memikirkan cewek yang tempo lalu memutuskannya. Dan anak-anak bahkan bergosip bahwa Brady mungkin ada hubungan lebih-dalam-dari-sekadar-sahabat dengan Collin. Collin yang sama yang berpotensi incest dengan adiknya... yang juga berpotensi punya hubungan gay dengan Brady...
Bagus, sekarang ia mulai termakan gosip bocah-bocah di kawanan. Tentu saja, mereka menyuntikkan hal semacam itu semalaman penuh, lima hingga enam hari dalam sepekan, langsung ke kepalanya. Itu jelas pencucian otak!Bahkan walaupun ia bertekad tak akan mendengarkan lagi gosip murahan itu, tapi tetap saja...
Hentikan Jacob, jangan pikirkan seseorang yang ada dalam kawanan!
Ben? Pete?
Kesempatan Peter Lollanger hampir nol. Mati dia kalau berani-beraninya mendekati cewek yang jelas-jelas diincar Collin. Kalau Collin tidak bisa menyentuh sepupunya, dia akan memastikan siapapun tidak bisa menyentuhnya, apalagi anggota gengnya. Ditambah lagi anak-anak menggosipkan dia dengan Benjamin Adamair, calon werewolf yang jadi tanggung jawabnya.
Benjamin Cattermole? Ben juga sama...
Tapi Ben sempat terbaring selama dua minggu lebih dan ia baru berubah seminggu ini. Ia bahkan belum pernah berkesempatan patroli bersama Jacob.
Tapi jika itu Ben, seharusnya ia tahu dari pikiran salah satu bocah, siapapun. Jangan pikirkan salah satu kawanan! Kemungkinannya mendekati nol!
Astaga. Joseph Copper?!
Josh yang paling berpengalaman soal perempuan. Bajingan kecil penakluk wanita. Ia tidak pernah pandang bulu untuk urusan cewek, siapa saja digaetnya. Di antara kawanan yang agak-agak alim itu, ia yang paling tidak peduli soal urusan 'menunggu imprint' dan sebagainya. Jelas ia yang paling senang karena tidak mengimprint siapapun, karena dengan begitu ia bebas jalan dengan cewek mana saja. Dan Josh, selain Pete, setingkat dengan Korra... Mereka punya banyak kelas bareng...
Tidak. Kalau Josh punya kesempatan dekat dengan Korra, Collin takkan tinggal diam. Ia jelas akan mempengaruhi Brady dan mereka berdua pasti akan menghajar Josh sebelum bocah itu menyentuh Korra. Lagipula Josh juga bukan tipe yang bisa memendam pikiran.
Oke, Jake, berhenti! Jangan pikirkan salah satu kawanan!
Tunggu. Seth?!
Di antara kawanan, Seth yang paling bisa menyembunyikan pikirannya. Ia sudah terlatih sejak awal. Sejak bersama Leah. Ia juga yang paling bisa menyelusup ke pikiran orang tanpa terdeteksi dan bisa mengetahui bahkan jika orang lain berusaha menyembunyikan pikiran.
Seth? Tidak mungkin!
Dan ingatan tentang Seth yang pergi ke Port Angeles bersama Korra bermain di benaknya. Sampai kini ia masih belum sempat bertanya tentang apa yang mereka lakukan hari itu. Seth yang memuja si serigala hitam.
Seth terang-terangan memuja serigala hitam!
Dan semua orang sempat berpikir bahwa Korra-lah serigala hitam.
Tapi Korra bukan serigala hitam! Dan bayangan kesaksian Sam muncul di benaknya.
Bagaimana jika Sam berbohong? Toh bukan sekali itu ia mendapati bahwa Sam pasti punya andil dalam keberadaan kawanan lain di tanahnya.
Tidak masalah Korra serigala hitam atau tidak, masalahnya apa benar Seth dan Korra... Korra dan Seth...
Dalam kepanikan ia kembali mencari-cari dalam tumpukan sampah yang masih berserakan. Mencari bukti lain. Matanya makin awas mengamati tiap benda. Gantungan kunci patah, stik es krim, bungkus coklat, bungkus permen karet dengan sisa permen karet menempel di dalamnya—... iiihhh! Kotak softlens, kotak pewarna rambut...
Hah! Untuk apa adiknya butuh softlens dan pewarna rambut? Dan banyak! Matanya nanar melihat kotak-kotak softlens kosong yang berserakan di kakinya. Adiknya selalu tampil biasa di depannya. Rambut hitam, mata coklat... Tidak pernah ia bergaya aneh-aneh... Atau adiknya nakal di luar tanpa sepengetahuannya?
Ya. Bagian itu mungkin benar... Buktinya ada di tangannya sekarang.
Oke, kenapa sekarang ia jadi konservatif begini?
Ini pasti pengaruh Edward! Dasar makhluk kuno menyebalkan!
Ia baru menyusun sekitar setengah lusin bait sumpah serapah pada Edward ketika instingnya merasakan sesuatu mendekat.
.
Tiba-tiba terdengar suara debum pelan dari kamar adiknya dan kemudian ia merasakan keberadaan seseorang. Itu aneh!
"Jake?" terdengar suara dari dalam kamar adiknya.
Oh, sial! Ia buru-buru memasukkan sampah-sampah yang tersisa ke tong.
Adiknya tiba-tiba ada? Dari tadi ia tidak mendengar apapun, merasakan apapun...
Apa memang insting serigalanya sudah menumpul?
Terdengar langkah kaki dan kemudian derit pintu dibuka. Adiknya muncul dari kamar, berpakaian lengkap. Rapi.
Oh, brengsek.
"Jake?" Korra agak mengernyit melihat kakaknya di depan kamarnya, berjongkok di depan tong sampah yang isinya hanya tinggal separuh. Sampah berserakan di kakinya.
Dan kotak kondom di tangannya.
"Astaga, Jake! Kau membongkar tong sampahku?!"
Jacob panik, baru menyadari kotak sialan itu masih di tangan kirinya. Tapi tidak ada jalan kabur. Dia tidak salah. Dia berhak melakukan ini. Korra adiknya walau bagaimanapun.
Ia bangkit, berusaha tampak menguasai keadaan. Harusnya tidak sulit. Ia sudah menjadi Alfa selama 5 tahun lebih hingga saat ini, hampir 6 tahun malah.
Tidak apa-apa, Jacob, perintahnya pada diri sendiri. Kau kakaknya, hakmu untuk bertanya, menuntut tanggung jawab! Tenang dan tanyakan! Usahakan seprofesional dan sedewasa mungkin! Kau sudah belajar ini dari Billy dulu waktu ia menanyaimu soal Bella. Atau dari pikiran anak-anak waktu orangtua mereka memberi 'The Talk'. Kau pasti bisa!
Tapi tidak diduga ia gemetar juga.
"Kau melakukan seks, Korra?" tanyanya, berusaha keras tidak menuding, tidak gemetar dan tidak juga marah.
Di dalam dirinya bertarung.
Ingat, Jacob, itu hak asasi manusia.
Tapi pendidikan seks penting, ia tak mau adiknya terjebak oleh berandalan tak bertanggung jawab, hamil sebelum waktunya...
Kemungkinan besar berandalan itu Seth!
Seth pasti bisa bertanggung jawab. Seth yang penyayang, penyabar, tidak pernah mementingkan diri sendiri. Tangan kanannya, orang yang paling ia percaya...
Belum tentu itu Seth, bisa jadi Collin! Collin malah lebih parah! Dan bahkan banyak kemungkinan itu orang di luar kawanan, orang yang tidak dikenal sama sekali.
Tapi adiknya sudah besar...
Diam, diam, diam! Fokus! Dia berteriak pada dirinya sendiri.
Dia harus tampak penuh kontrol di sini. Ini hak dan juga kewajibannya. Ia harus melindungi keluarganya.
Adiknya mengerjap, tampak kehilangan kata-kata, lalu beberapa detik kemudian balas menatap mata kakaknya, terlihat berani, "Itu bukan urusanmu, Jacob!"
Keberanian adiknya, dan juga nada suaranya yang tegas, memberi kekuatan pada Jacob. Ia harus melakukan ini.
"Siapa?" tanyanya, agak menuduh. "Apa Collin? Brady, Ben, Pete? Apa Seth?"
Adiknya tampak terkejut, tapi juga marah. "Apa hubungannya teman-temanmu denganku? Bukan hakmu untuk mengurusi kehidupan pribadiku, Jacob!"
Caranya mempertahankan diri sudah merupakan konfirmasi. Jacob terpana. Tapi ia segera meneguhkan diri.
"Itu hakku! Kewajibanku untuk melindungi keluargaku!" bentak Jacob.
"Seolah kamu benar-benar menganggapku keluargamu!" bentak Korra balik.
Jacob mengerjap, mundur selangkah ke belakang.
"A-apa?"
Korra tampak benar-benar kesal. "Jangan bersikap sok protektif seperti seorang kakak, Jake! Kau bahkan tidak benar-benar menerima aku sebagai adikmu!"
Jacob tak bisa berkata-kata. Adiknya menohok pada tempat yang tepat. Selama ini ia bertingkah seolah ia tidak menerima adiknya, dan memang ia tidak menerima adiknya. Pikirannya masih bertarung.
Melihat Jacob membeku membuat Korra tambah kesal. Ia memaki, dan akhirnya membanting pintu di mukanya.
Suara bantingan itu membuat Jacob tersadar. "Tunggu hingga Billy mengetahui ini," desisnya, yang langsung disesalinya saat itu juga.
Astaga! Mengapa ia menjadi menyebalkan begini?
Pintu kembali terbuka. Wajah Korra muncul di baliknya, tampak benar-benar terganggu.
"Kau tidak akan bilang pada Dad!" tekannya berbahaya. Matanya mendelik tajam.
Jacob sudah merasa tak ada jalan mundur. Ia menegakkan diri, membusung.
"Mungkin akan kukatakan!"
Adiknya mengerang. "Jacob Black! Itu hak asasi manusia! Kau tidak berhak mengaturku!"
"Dengar Coraline Black, ini rumahku dan kau adikku!" tekan Jacob.
"Aku bukan Korra Black, aku Korra Gerrard! Kau bahkan tidak menganggapku adikmu!"
Jacob tiba-tiba kehilangan kata-kata.
"Kau sendiri punya tunangan! Jangan bersikap sok suci!"
Jacob melotot. Tidak mungkin Korra membawa-bawa Renesmee dalam urusan ini. Hubungannya dengan Nessie bahkan tidak seperti itu. Belum seperti itu.
"Aku tidak seperti itu!" tangkisnya.
"Jangan kaupikir aku tidak tahu, Jacob! 'Tunangan', heh? Memangnya aku tidak tahu bagaimana ceritanya, prosesnya, hingga seorang cowok zaman sekarang mau menyebut seorang cewek sebagai tunangannya? Jangan-jangan memang dia sudah hamil..." Korra mendengus.
Huh, dia tidak tahu saja soal Edward...
"Korra Black! Kuingatkan kau, jangan berpikir yang bukan-bukan tentang aku dan Ness!"
"Oh please Jake! Aku tahu yang namanya cowok! Dan kau mau meributkan kehidupan pribadiku? Sementara kamu punya kehidupan sendiri! Dan dia... dia... " anehnya Korra tampak kehilangan kata-kata. "Dan dia masih sangat muda!"
Apa maksudnya 'sangat muda'? Tidak mungkin Korra tahu... Tidak mungkin Collin mengatakan segala hal soal pedofilia dan semacamnya. Pikirannya melayang pada malam api unggun itu.
Tidak mungkin!
Tapi kemudian ia sadar, walau Korra tidak bermaksud mengatakan ia pacaran dengan anak usia 5 tahun, bagaimanapun Nessie masih terlihat seperti remaja berusia 14-15 tahun. Dan itu tetap usia yang muda, jika dibandingkan dengannya. Dia sudah terlihat seperti usia 25 sekarang.
Kehidupan pribadinya dan hubungannya dengan Renesmee, yang memang belakangan membuat frustasi, diungkit-ungkit oleh adiknya, yang-jelas-jelas-bersalah, membuatnya kesal. Jacob menggemeretakkan gigi. Dan ia menumpahkan energi kekesalannya pada adiknya.
"Jangan berusaha membandingkan dirimu denganku! Kau 6 tahun di bawahku! Dan aku bahkan masih perjaka, Korra! Kau belum pantas melakukan ini!"
Anehnya Korra mengerjap. Ekspresinya sukar ditebak, antara tidak percaya tapi juga menganggap itu sangat menarik. "Yang benar?"
Jacob mendesah, tampaknya ia melakukan langkah salah. "Ya, aku memang masih perjaka..." akunya lemah.
Dan tiba-tiba ia merasa kalah. Ia bahkan tidak punya semangat lagi untuk melanjutkan tema 'Pendidikan Seks untuk Remaja di bawah Umur' ini.
"Kau tahu, Korra," ia melemparkan tangan ke udara dengan sikap menyerah, mundur. "Kau benar. Ini kehidupanmu, hak asasimu, aku tidak berhak campur tangan. Cukup..." ia mendesah. "Kau tahu, aku mohon kau bisa bertanggung jawab," katanya akhirnya.
Ia tidak percaya ini. Ia seharusnya menghukum adiknya. Ia berhak menghukum adiknya. Adiknya jelas-jelas bersalah. Tapi ia cuma bilang 'kumohon kau bisa bertanggung jawab'?
Hah! Alfa payah! bentaknya pada diri sendiri.
Adiknya tampak menggigit bibir, memalingkan wajah sesaat. Kelihatannya ia kembali tenang.
Jadi ini dia, pikirnya. Korra hampir sama dengan dirinya. Ia mudah terpancing emosi jika orang di sekitarnya marah. Lebih lagi jika ia harus membela diri. Insting pembelaan dirinya cepat bekerja. Memasang tameng penuh duri yang siap menusuk. Tapi ia mudah pula ditenangkan jika lawannya berusaha tenang.
Tunggu, apa maksudnya ini? Dia sedang menganalisa amarah Korra?
"Kau tahu, Jake..." katanya memulai setelah perjuangan batinnya yang panjang. Ia menengadah menatap kakaknya. "Kau tidak perlu khawatir padaku. Aku bisa menjaga diri. Aku bisa bertanggung jawab dengan hidupku. Kau harus percaya padaku."
Jacob tertawa sinis. "Oh ya?"
"Kotak di tanganmu itu buktinya..." tunjuk Korra.
Jacob tidak tahu harus berkata apa.
"Percayalah padaku, Jake..." katanya bersungguh-sungguh, menatap mata Jacob. "Aku tahu kau peduli padaku, dan aku berterima kasih karena kau peduli. Aku senang. Tapi kau juga harus percaya padaku. Aku bukan anak usia 14, kau tahu... Tidak sampai dua bulan lagi aku 17."
Jacob membelalak. "Yang benar!"
Korra mengangguk, tersenyum lebar.
"Apa kau mau berencana membuat pesta sweet seventeen untukku, Kak?" katanya riang, kembali jadi Korra yang biasa.
.
.
Mungkin ini tak terlalu jelek juga. Adik perempuan. Huh, membayangkannya saja ia tidak pernah. Apalagi memiliki seseorang yang seperti itu. Ia lahir sebagai anak lelaki bungsu. Dengan dua kakak perempuan yang bahkan sudah cukup besar dan punya kehidupan sendiri ketika ia memasuki usia puber. Ia tak pernah berkesempatan ada untuk kakaknya. Menjadi pelindung kakaknya dari cowok manapun.
Tentang Paul, ia bahkan tidak tahu harus bilang apa soal Paul. Rachel sudah dewasa ketika Paul masuk ke kehidupannya. Ia bahkan tidak punya hak melarang atau apapun. Perannya selalu sebagai adik kecil yang bodoh, yang ribut sendiri ketika kakaknya berkencan dengan laki-laki manapun yang mendekatinya. Mau melindungi, tapi sudah pasti tak dianggap. Kakak perempuan manapun tak pernah menganggap adik kecilnya tumbuh dewasa dan bisa melindunginya, bahkan tak mempedulikan berapa usianya atau berapa besar tubuh dan kekuatannya. Ia tahu. Hampir sama dengan Seth kalau bicara soal Leah. Adik kecil selamanya adik kecil.
Oke, bukan pertama kalinya ia berperan sebagai kakak laki-laki. Nessie jelas menganggapnya kakak hingga saat ini. Tapi Nessie berbeda. Ia tidak ingin melindungi gadis itu. Tidak dalam konteks ini. Jujur saja, ialah ancaman terbesar bagi gadis itu. Terutama kini, saat Ness beranjak menampakkan ciri-ciri kedewasaan dan ia sendiri sudah cukup umur untuk menuju tahap berikut dalam kehidupannya. Menikah. Jadi bagaimana mungkin ia bisa jadi kakak, pelindung Nessie, pada saat bersamaan ia ingin menjadi 'ancaman' bagi gadis itu? Dalam tanda kutip, tentu.
Ha-ha... Membayangkan dirinya dan Ness menikah... Usia 22 dan 5 tahun!
Edward akan membunuhnya kalau ia tertangkap basah punya pikiran begini. Ia tak akan ragu mengulitinya, mencincang dagingnya, mengumpankan pada binatang di hutan... Menjadikan kulitnya sebagai hadiah untuk Bella... Atau bahkan Rosalie... Rosalie pasti suka menjadikan kulitnya sebagai mantel bulu.
Mantel bulu Rosalie!
Ugh!
Embry benar, dia menjijikkan...
Tapi ia punya adik perempuan ini. Korra. Adik yang mendadak datang, dan ia tidak suka, tidak pernah suka. Tapi memang Korra selalu berusaha untuk menjadi adiknya. Bagian dari keluarga. Ia selalu bangun pagi, membuatkan sarapan dengan riang. Kadang ia masak masakan oriental kegemarannya. Dari berbagai negara yang ia pernah kunjungi. Jacob dan ayahnya, yang jarang-jarang makan masakan aneh-aneh, akhirnya bisa merasakan Sup Tom Yam, atau yakiniku, atau sushi, atau capcay, atau mie tek tek, atau terong sambal balado atau apalah sebutannya itu yang membuat ayahnya sakit perut. Kemudian ia dan Korra akan menertawai ayahnya sementara si tua itu mengeluh kepedasan atau keasaman atau keasinan, ekspresi aneh seperti melotot dan menjulurkan lidah sambil mengipas-ngipas dengan panik muncul di wajah Billy, namun ia tetap menghabiskan masakan putrinya dengan bangga. Ya, sesuatu seperti itu. Ia akhirnya merasakannya. Sebuah keluarga. Lagi.
Kapan terakhir kali ia merasakannya? Sebelum Rachel dan Rebecca pergi? Sebelum ibunya pergi? Sarapan bersama. Makan malam bersama. Tertawa. Bertengkar. Saling membenci. Tapi juga saling melindungi.
Tanpa sadar ia sudah melakukan itu selama ini. Menjadi keluarga. Ia mungkin selalu kesal dan akhirnya kabur sesudah sarapan dengan adiknya itu. Atau merasa tidak nyaman dengan berbagai omongan Billy tentang adiknya. Tapi ia tak bisa membantah, ada bagian dirinya yang memang sudah benar-benar menganggap Korra adik. Sisi protektifnya. Ketika ia bertarung dengan vampir itu. Atau dalam obrolan-obrolan waktu sarapan. Atau ketika ia menangkap basah Seth sedang bersama Korra—cuma Tuhan yang tahu mereka sedang apa waktu itu dan kalau Seth tak mau cerita, ia bertekad tidak akan menanyakannya lagi. Atau ketika, yah, tadi itu...
Ia memang menganggap Korra benar-benar adiknya.
Dan ketika ia akhirnya memberanikan diri untuk benar-benar menjadi kakak, ia tahu ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Rasa memiliki. Rasa benar-benar menyayangi. Dan penerimaan diri.
Penerimaan diri, penerimaan akan keberadaan dan peran orang-orang di sekelilingnya. Penerimaan akan kesalahan masa lalu dan berjalan dengannya. Seperti kata Billy dulu.
Menjadi keluarga. Mungkin ada hal kecil yang perlu ia lakukan untuk memulainya.
.
.
Jadi ia memberanikan diri tersenyum pada Korra, dan bertanya, "Kau mau nonton film? Minggu sore? Pekan depan mungkin?"
Dan ia begitu, begitu, begitu senang ketika tawa lebar mengembang di wajah Korra, dan ia menjawab dengan ceria, "Tentu, Kak!"
.
