THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: All part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer. This story is not closely related to anything in the saga. Maybe some details, including past events, legends, rules of the pack, and personality of few characters, had been changed during the continuity of this story.

.

WARNING: This part is practically safe so you can rated T…

.


.

Tiga puluh sembilan- Mabal

Monday, January 14, 2013

4:11 AM

.


.

Korra belakangan sering kabur sebelum jam pelajaran usai, demikian Collin menyimpulkan.

Meski berbeda tingkat, ada beberapa pelajaran yang seharusnya ia lalui bersama gadis itu. Salah satunya berada di jam terakhir, pelajaran Sejarah. Tahun sebelumnya ia tidak lulus, dan karena seharusnya ia lulus sekolah tahun ini, pihak sekolah mengijinkannya mengambil kelas itu. Dan beberapa minggu ini Korra tidak pernah masuk pada pelajaran itu. Padahal Korra termasuk salah satu murid teladan di kelasnya.

"Kau tahu kemana Coraline Gerrard?" tanya Mrs. Potts, guru mereka padanya. Semua orang, termasuk para guru, tahu bahwa mereka sahabat baik. Collin menggeleng. Dan di dalam hatinya ia merasa sangat buruk.

Sangat, sangat buruk.

Tidak hanya ia tidak perhatian dengan sepupu dan calon serigala yang seharusnya ia awasi, tapi ia juga tidak tahu keberadaan gadis yang ia cintai. Itu lebih buruk dari apapun. Bagaimana mungkin ia bisa mengklaim cintanya, walau mungkin itu tidak bisa dan tidak akan terwujud, jika ia tidak menaruh perhatian pada gadis itu?

Membuatnya bertekad untuk lebih serius mengawasi Korra.

Namun masalahnya, beberapa hari ini, memang rasanya Korra agak menjauh darinya. Tepatnya setelah peristiwa pemanggilan Collin ke sidang Dewan Suku atas kasus yang dituduhkan pada Jacob. Kasus itu berakhir dengan baik, tentu. Tidak seperti yang ia inginkan, tetapi segalanya berjalan cukup normal sesudahnya. Akan tetapi, setelah itu, ia memang merasa, ada sedikit hal yang berbeda dengan gadis itu.

.


.

Ia ingat hari terakhir ketika ia bertemu dengan Korra. Beberapa hari sebelum acara kamping. Tepatnya sekitar dua atau tiga hari sesudah ia dipanggil ke acara sidang Jacob atas tuduhan Korra.

Gadis itu seperti biasanya melewati waktu makan siang bersamanya di bawah pohon. Hari itu kedua anak pertukaran pelajar dari Asia itu membolos, katanya perlu mengurus sesuatu di kadubesnya masing-masing, yang artinya harus pergi ke Washington D.C. Sedangkan teman-teman sekelas Korra sibuk membicarakan prom night yang sebentar lagi menjelang. Korra sendiri tampak tidak terlalu tertarik, dan memilih meninggalkan kelompoknya untuk mojok bersama Brady dan Collin.

"Selama ini sebenarnya kau kabur kemana?" tanya Collin seraya menerima kotak bekal yang dibawa Korra. Sejak mereka bersahabat, Korra selalu membawa bekal untuk mereka bertiga. Berbagai macam resep masakan dari berbagai penjuru dunia spesialisasi Korra telah ia coba. Kali ini Korra membawa masakan Jepang: tempura, ebi furai, ekkado, chicken roll, dan tentu saja nasi.

Gadis itu tidak menjawab, sibuk mencari-cari sumpit di ranselnya.

"Ayolah Korra," Collin berusaha tenang, meredakan ketegangan hatinya bahwa mungkin Korra menyembunyikan pacar baru atau semacamnya darinya. Menyembunyikan Seth, tepatnya. "Kau bisa cerita padaku apapun... Mrs. Potts menanyai aku tentangmu, tahu..."

Korra akhirnya menemukan sumpit yang ia cari dan membagikannya pada kedua sahabatnya. "Aku belakangan ada urusan sedikit, kau tahu..." katanya, tetap riang seperti biasa.

"Apa kau punya pacar?" tanya Collin hati-hati.

Gadis itu tertawa. "Tentu tidak, Cole... Bagaimana mungkin kau berpikir begitu?" dendangnya seraya memukul bahu Collin. Ia menyumpit ekkadonya dengan riang, sesekali mencuri-curi salad yang bertumpuk tak tersentuh di kotak bekal Collin.

Yeah, karena orang yang berbagi pikiran denganku berhasil mencuri sedikit adegan dari kepala cowok yang kaucium...

Tapi tidak mungkin ia bisa mengatakan hal seperti itu.

"Yeah, aku..." Collin berusaha mencari jawaban yang lebih masuk akal. Brady menggigil di sampingnya. "Yah... aku menebak saja... aku peduli padamu, tahu..."

"Kenapa kau harus peduli?" Korra masih tertawa, jelas menganggapnya tidak serius.

"Karena kau sahabatku! Dan sepupuku! Itu wajar kan?"

Gadis itu tiba-tiba berhenti menyumpit, dan melipat tangannya begitu rupa di pangkuan. Matanya menatap tajam Collin.

"Memangnya jadi sahabat memberimu hak untuk tahu seluruh urusan pribadiku?"

"Ayolah, Korra..." Collin menggodanya dengan menyorongkan tempura di sumpitnya ke bibir Korra, yang disambut dengan agak manyun. "Kau tahu, aku, kami, sayang padamu..."

Gadis itu mengunyah makanannya dengan pandangan tajam diarahkan pada Collin, lalu kembali ke kotak bekalnya sendiri. "Aku tidak apa-apa, Collin, aku sudah besar... Jangan bersikap overprotektif..."

"Aku tidak protektif padamu... aku, aku hanya khawatir..."

"Mengapa?" Korra kembali berhenti makan.

"Apa?"

"Mengapa kau harus khawatir padaku?"

Collin tidak tahu harus menjawab apa, dan dengan bodohnya ia menjawab, "Karena kakakmu menyuruhku menjagamu."

Tak diduga Korra mendadak terlihat kesal. Wajahnya berubah masam. Ia terdiam beberapa lama sebelum akhirnya berkata, agak sinis, "Oh ya, tentu saja kalian harus menuruti semua perintah Jake..." dan sesaat kemudian mendengus, bergumam menambahkan, "Kalian kawanan menyedihkan..." tidak cukup pelan untuk tak bisa didengar telinga sensitif Collin dan Brady.

Baik Collin maupun Brady melotot, rahang mereka jatuh 5 cm. "A... apa?" bisik Collin terbata-bata.

Korra mendelik, dan berujar dengan agak sebal. "Ayolah, Cole... Aku tahu kakakku pemimpin geng kalian... Kalian kawanan berandalan dan bully... Anak-anak nakal La Push... Apa sebutan kalian di kota? Rez Boys? Apa dia menjual narkoba juga pada kalian?" tuduh gadis itu dengan mata menyipit. "Kalian harus bersyukur aku tidak mengadukannya pada Charlie," ia menambahkan dengan sedikit nada mengancam.

Brady dan Collin berpandangan, bingung.

"Oh, jangan pura-pura... Aku tahu pasti yang seperti kalian... Kakakku setiap malam tidak pernah ada di rumah, pulang pagi, berputar-putar dengan motor besarnya, kumpul dengan kalian bocah-bocah setengah telanjang di hutan, kaupikir aku tidak tahu? Pastinya kalian melakukan yang buruk kan? Ngobat atau mabuk atau teler dan semacamnya?" ia mendengus lagi, "Dan di sekolah gerombolan kalian menguntit anak-anak, apa kalian mencoba menjual pil pada mereka? Belum lagi belakangan kalian jelas mencoba mem-bully mereka!"

Sungguh itu membuat baik Brady maupun Collin tak bisa berkata-kata. Ataupun memiliki nafsu untuk kembali makan.

"Korra, mana mungkin kau tega berpikir begitu tentang kakakmu sendiri?"

"Tapi aku benar kan?"

"Tidak, Korra..."

"Lalu apa yang kalian lakukan di hutan?"

Tiada yang bisa menjawab.

"Aku bilang ini pada Billy, dan kupikir ia mendukungku. Ia bilang pada Jake ini dan itu seolah kakakku akan mendapat hukuman atas kelakuannya. Tapi apa yang kulihat? Jake hanya dapat hukuman seminggu! Seminggu! Billy rupanya tidak tega menegakkan hukum untuk anaknya sendiri…"

Collin menghela napas. Ia sudah memprediksikan suatu saat Korra akan menceritakan unek-uneknya seputar perselisihannya dengan sang kakak ini padanya. Bukannya ia tidak tahu soal tuduhan Korra pada Jacob. Ia ada di sana, berdiri bersaksi di pagi buta memberatkan Jacob karena satu kasus dan membelanya mati-matian karena kasus lain. Dan jujur saja ia masih bingung, bagaimana bisa Korra sampai pada kesimpulan seaneh ini? Dan anehnya lagi, Billy cukup serius menanggapinya.

Korra masih mencerocos.

"… Dan bahkan untuk mem-bully pun kalian tak cukup ahli... Menyedihkan... Aku heran Seth membiarkan kalian melakukan ini..." Korra meletakkan sumpitnya, tampak tidak berniat meneruskan makan siang juga.

Nama Seth yang disebut tiba-tiba membuat Collin membentak, "Kenapa Seth harus diungkit-ungkit?"

"Ia bagian dari kalian kan?" Korra balas melotot padanya. "Padahal kukira ia sosok yang baik..." tiba-tiba kata-kata yang ia ucapkan berikutnya terdengar agak menerawang, "Ia kelihatan begitu pengertian, simpatik, lembut, manis, dan ramah... Caranya tertawa dan bicara... Tetapi ia penuh pertimbangan, dan pikirannya sangat tajam..." ia menghela napas, tampak hanyut dalam pikirannya sendiri.

Cara Korra mendaftar sifat-sifat baik Seth setelah mengutarakan praduga buruknya tentang kawanan membuat Collin berang. Pemuda itu mendengus kesal, dan tanpa tertahankan lagi menghardik, "Ya, memang kami semua tidak ada bandingannya dibanding pacarmu itu!"

"Cole," desis Brady memperingatkan.

"Kenapa kaubilang Seth pacarku?" tanya Korra dengan dahi berkerut.

"Itu jelas kan? Kau kelihatan suka Seth!"

"Kenapa? Apa kau tidak suka kalau aku suka Seth?"

Collin tak bisa menjawab.

"Kenapa? Kau cemburu?"

Collin mengeluarkan keringat dingin.

"Kau memang cemburu!"

Collin tak bisa menjawab ataupun bereaksi apa-apa selain menghela napas, menunduk kalah.

Mungkin memang tak ada jalan lain. Ia tersudut. Ia memang harus menyatakan ini.

Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian. Dan menatap mata Korra.

"Korra..." bisiknya. "Aku tahu aku… sepupumu… Mungkin kau hanya memandangku sebagai sahabat. Tapi…" ia mengeluarkan keringat dingin, tidak tahu apa yang harus ia katakan atau waktunya tepat untuk mengatakan ini.

"Apa?" Korra tidak bertanya, ia membentak. Matanya mendelik, kelihatan kesal.

Mata Collin bergerak-gerak panik. Memandang Brady seakan minta bantuan. Sahabatnya jelas kelihatan gelisah, seolah berada di tempat dan waktu yang salah. Tampak ingin segera kabur dari adegan mendadak itu. Atau memaki Collin habis-habisan.

Collin jelas memilih waktu dan tempat yang salah total untuk nembak cewek. Bagaimana mungkin ungkapan pernyataan cinta yang tiba-tiba di bawah pohon pada acara makan siang bersama, bertiga, dalam keadaan memangku kotak bekal, bisa dikatakan romantis?

"Korra, sebenarnya…" Collin menelan ludah. "Aku tidak tahu bagaimana mengatakan ini…"

"Katakan saja, Cole!"

Nada bicara Korra yang masih gusar membuat Collin makin gugup.

Ia menarik napas sekali lagi, berusaha membuat kata-kata yang terkumpul di ujung lidahnya tidak kembali tertelan.

"Korra, sebenarnya selama ini… aku…" bisiknya terbata-bata. "Aku..."

Ia kembali menelan ludah.

"Ko, Korra, aku su... suka..."

"Apa kau suka Seth?"

"Hah?"

Collin mengerjap. Tidak merasa yakin ia menangkap kata-kata Korra dengan benar.

Anehnya Korra tampak puas, senang sekali. "Ha! Aku benar kan! Kau memang cemburu!" Namun kemudian ia menatap Brady yang salah tingkah di samping Collin, tampak agak pucat. "Oh, oh, maaf Brady... aku, aku... itu tadi salahku... Tentu saja Collin tak mungkin serius naksir Seth, bodohnya aku. Tidak mungkin Cole mengkhianatimu. Maafkan aku Brad..."

Huh?

"Apa maksudmu, Korra?" kedua sahabatnya mengerutkan kening.

Korra tampak bingung. "Oh, memangnya kalian... bukan..." Korra menunjuk pada keduanya. "Memang kalian bukan pasangan?

Collin menyipit. "Apa maksudmu 'pasangan'?"

"Yeah, kau tahu... 'Bersama'..."

Collin dan Brady saling berpandangan, agak terpana, dan detik berikutnya mereka menggeleng bersamaan.

"Tentu saja tidak, Korra!" jerit Collin. "Dari mana kau bisa berpikir begitu?"

"Uhm, maaf, Guys... kupikir kalian selalu bersama dan... aku tidak berpikiran sempit, kau tahu..." ia mengendikkan bahu dengan sikap kasual, tapi jelas kelihatan tampak malu. Ia kembali mengangkat sumpitnya dan menyuap sebongkah tempura sambil menunduk.

Cole mendengus dan melotot pada Korra. "Kalau begitu maaf seandainya aku menghancurkan mimpi siang bolongmu yang indah dan mengecewakanmu, Korra, tapi sejauh ini aku merasa kalau aku straight."

"Yeah, bagian itu memang sudah jelas," gumam Brady.

Anehnya Korra langsung bereaksi pada kalimat itu. Ia mengangkat kepalanya. Matanya membulat tak percaya. "Sungguh? Yang benar?"

Keduanya balas menatap tajam Korra.

"Yah... maaf Guys, maksudku, aku cuma mau bilang kalau aku berpikiran terbuka dan tak menghakimi, kau tahu..."

"Kau memang sangat baik, Korra, tapi..." Brady menggantungkan kalimatnya. Collin segera menyambar sebelum Brady membuat Korra salah menangkap maksud perkataannya.

"Tapi tidak, kami tidak seperti itu," katanya yang langsung disambut anggukan keras Brady. Korra menggigit bibir, meringis.

"Yeah... Maaf, Guys..." hanya itu katanya, lagi.

.

Justru pada saat itu bel masuk berdering. Agak terburu-buru, mereka merapikan makan siang yang bahkan belum habis ke ransel Korra. Biasanya Collin memasukkan semua sisa makanan ke perutnya, tapi entah mengapa hari itu ia tidak terlalu bernafsu.

Mereka berjalan melintasi halaman menuju ruang loker ketika tiba-tiba Korra, yang berjalan terlalu bersemangat hingga nyaris melompat-lompat sambil berbalik untuk mengobrol dengan mereka , bertabrakan dengan satu tubuh tinggi-besar-gempal.

"Korra!" teriak Collin refleks, bergegas mendatangi gadis itu, membantunya bangun. Dan ia menggeram begitu menyadari siapa yang sepupunya tabrak.

Noah Peterson bangkit dengan dibantu dua orang dari geng bully-nya. Di belakangnya Josh dan dua orang anggota geng lain yang tidak ia kenal namanya berdiri tenang, menatap ketiganya.

Collin berusaha menangkap mata Josh, menggeleng kecil dan bibirnya membentuk huruf O membisikkan kata tidak, namun Josh hanya mendengus dan berpaling. Seringai kecil tampak di bibirnya.

Oh, si bajingan brengsek itu...

"Ouch..." Noah menegakkan diri seraya membetulkan tulang hidungnya yang mungkin patah karena terjeduk kepala Korra. Atau membentur lantai. Atau pinggiran loker. Entahlah. Darah menetes dari hidungnya.

Matanya membelalak begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya...

"Well, well, well..." katanya dengan nada diulur-ulur khas bully bodoh manapun. "Siapa ini? Tak kurang pasangan cowok berotot paling payah di sekolah, ColeBrad..." ia mendengus pada mereka berdua. "Dan Nona Gerrard-Black..." katanya menyebalkan seraya sok memberi hormat ala bangsawan Prancis era Rococo.

Korra tampak mendelik padanya. Ia paling tidak suka dipanggil dengan nama Black di antara teman-teman sekolahnya. Apalagi jika nama itu disebut dengan nada mencela, dan ia tahu cuma ada satu alasannya. Pasti berhubungan dengan gosip miring yang beredar soal kedudukannya di keluarga salah satu Tetua. Karenanya ia lebih suka disebut Gerrard, demikian ia selalu menekankan namanya. Bahkan ketika Billy mendaftarkannya di sekolah dan menawarinya menggunakan nama sang ayah, secara resmi dengan surat-surat tentu, ia menolak dan tetap memakai nama keluarga sang ibu.

"Menjauhlah, Noah..." desis Collin, berusaha memberi kode mundur pada Josh.

Sejujurnya, ia tak keberatan jika harus menghantam Noah dan gengnya, membuat si calon serigala itu berubah saat itu juga malah. Tapi tidak di depan loker di lorong yang sempit, dan di depan Korra beserta segerombolan anak lain pula. Kerumunan orang makin banyak menyadari apa yang akan terjadi: persinggungan geng Noah vs Collin dkk.

Siapapun di reservasi kecil mereka tahu untuk tidak berurusan dengan dua kelompok: geng bully Noah Peterson dan geng yang lebih besar, kelompok Rez Boys pimpinan sang putra Tetua, Jacob Black. Geng bully Noah mungkin jauh lebih kecil, hanya 5 orang anak SMA, tapi koneksinya bagus, tidak kurang dari lima geng lain siap menjadi backing. Sedangkan geng Rez Boys terdiri atas 13 anak elite yang tidak ketahuan sistem perekrutannya, selalu berkeliaran dengan menjadikan hutan sebagai markas besar mereka. Beberapa anggotanya, seperti kelompok Collin dan kelompok Josh, seringkali membantu menangani persoalan kecil di sana sini, seperti sering campur tangan dalam mengatasi peredaran narkoba, masalah remaja, atau menolong ketika terjadi kecelakaan. Hal-hal semacam itu. Kedua kelompok ini mungkin berlawanan, tetapi persitegangan antara keduanya bersifat perang dingin. Mereka tidak saling berkelahi secara terbuka atau bahkan saling mengusik satu sama lain. Tapi belakangan, salah satu anggota mereka, Josh, masuk ke kelompok Noah. Dan beberapa anggota Rez Boys di SMU juga mulai mem-bully beberapa anak tertentu entah dengan alasan apa.

"Wah, Collin Littlesea..." Noah jelas mengabaikan perang dingin kedua geng dengan berniat mengganggu Collin. Dia agak jumawa belakangan mendapati dirinya berhasil membujuk pemuda eks-Rez Boys, Josh, berubah haluan dan memasuki gengnya. "Dan sang kekasih, Brady Fuller... Ada apa, Litsey? Meninggalkan cowokmu, Miss Fully, untuk terlibat incest dengan putri bangsat keluarga Black? Atau kalian threesome sekarang? Sungguh khas kamu, Dear Miss Litsey... Selalu penuh skandal," ia nyengir mengejek. Di belakangnya, anggota gengnya tertawa. Bahkan Josh pun sedikit menyeringai.

"Jangan berani-beraninya, Peterson..." kata-kata itu, anehnya, tidak keluar dari Collin, melainkan Korra. Nadanya tajam dan pahit, mengancam.

"Oh, Nona Black marah... Tolong... Mungkin ia akan lari melapor pada kakaknya..." Noah sesaat memperlihatkan roman menyebalkan pura-pura ketakutan sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, lantas berbalik untuk berbagi tawa dengan teman-temannya, kecuali Josh, yang masih mengawasi dengan bersandar pada salah satu pintu loker. "Bawa saja, Black... kami tidak takut," katanya sedetik kemudian, nadanya sudah sama sekali berubah.

"Aku tidak perlu memanggil siapapun. Aku sendiri sudah cukup untuk menjatuhkan kalian semua."

"Owww, aku mendengar ancaman di sini," ia menyunggingkan seringai aneh. Wajahnya mendekat pada Korra, menatapnya tajam. "Asal kau tahu saja, Nona, hari ini tak ada dua bodyguard Asiamu. Mungkin saja ada pasangan banci berototmu di sana," ia menunjuk Collin dan Brady, "tapi tetap saja kau kalah jumlah dibanding kami."

Korra tetap tenang, dan bicara dengan tatapan tajam menusuk. "Apa kau tuli, Peterson? Kubilang aku bisa menghajar kalian seorang diri, dasar kalian kawanan anjing kampung liar..."

Mata Noah membelalak. Cuping hidungnya mengembang dan mukanya jauh lebih merah dari biasanya. Ia menggemeretakkan gigi dan mendesis marah, "Kau, anak bangsat, berani mengataiku anjing liar? Kaupikir aku tak tahu siapa kau? Anak sundal dari pelacur murahan yang merayu Tetua kesepian William Black!"

"Kuperingatkan kau jangan bicara jelek tentang ibuku, Anjing!"

"Atau apa?" Noah mendekatkan wajahnya pada wajah Korra, yang tetap tidak mundur, "Apa kau akan mencakari punggungku selagi menunggangiku dan menghisapku keluar, hei Cewek Jalang?"

Oke, ini sudah keterlaluan.

Collin sudah akan maju untuk menghajar cowok itu ketika tangan Korra terentang menghadangnya.

"Mundur, Cole! Ini urusanku!" entah perubahan tiba-tiba dalam nada suara Korra yang mendadak begitu memegang kendali, atau getar samar di dalamnya, yang membuat Collin terpaku. Matanya nanar memandang sosok Korra. Rasanya seolah ia terkena Titah Alfa.

Di hadapannya tiba-tiba menjelma Korra yang tidak biasa. Korra yang mendadak begitu kuat, teguh, dan penuh wibawa. Korra yang lain. Putri Black.

Dan Korra kembali memandang penuh tatapan membunuh pada Noah. "Kuperingatkan sekali lagi, Noah... Atau aku akan membuatmu mencakar-cakar tubuhmu sendiri dan menghisap jiwamu keluar sebelum kau sempat menunggangi ekor kotormu sendiri kabur dari tempat ini."

"Oh ya, Babe? Ck, ck, ck... Betapa tidak sabarannya... Aku suka cewek agresif, kau tahu," katanya seraya menjulurkan tangannya, mencoba menyentuh dagu Korra.

Hal berikutnya terjadi begitu cepat hingga Collin yakin tak satu pun orang tanpa kemampuan penglihatan super yang bisa menangkapnya.

Korra tiba-tiba menarik tangan itu, memitingnya ke belakang sembari dengan lincah berputar mengitari tubuh Noah. Satu kakinya mengibas menyapu kaki Noah. Manuvernya membuat pemuda itu jatuh terjerembab ke lantai dengan posisi tengkurap. Korra masih memiting sebelah tangannya, dan kini menekankan sebelah lututnya di atas punggung Noah, merunduk di atas tubuhnya.

"Maaf, ternyata aku memang menunggangimu," bisiknya tajam.

Keempat kawan Noah rupanya tidak terima dengan perlakuan Korra pada bos mereka, karena mendadak mereka mengeluarkan teriakan, dan menyerang dengan tinju bahkan tanpa mempedulikan bahwa lawan yang mereka hadapi secara keroyokan adalah seorang perempuan.

Karena yang ini memang bukan perempuan lemah, sama sekali.

Korra dengan tenang bergerak lincah. Manuvernya begitu mantap, terukur, dan penuh perhitungan ketika ia menahan serangan, menangkis, menyikut, memuntir tangan mereka, menyapu kaki mereka, membuat satu per satu dari mereka jatuh mencium tanah. Kemudian tanpa pemberitahuan, tiba-tiba ia bangkit dari tubuh korban terakhirnya, menerjang Josh yang hanya diam bersandar di ujung loker, menarik bagian depan kemejanya. Collin dan Brady menyaksikan dengan ngeri sekaligus terpana ketika Korra menggeser tubuh itu dari depan loker dan kemudian menghantamkan tubuh Josh yang masih shock ke dinding, menekannya hingga tak dapat bergerak.

"Bersyukurlah aku masih memandang Jake dan Sam, karena kalau tidak, aku akan menundukkanmu di sini saat ini juga," bisiknya penuh ancaman, sangat rendah hingga bahkan selain Josh, tidak satu pun telinga yang mampu menangkapnya. Kecuali tentu saja Brady dan Collin.

Sementara itu Noah bangun dari posisinya di lantai dan bangkit lagi menyerang Korra seraya berteriak penuh amarah. Korra melepas Josh, yang langsung lemas dan jatuh terduduk saking shock-nya, dan berbalik untuk menghalau serangan Noah. Kali ini ia sedikit melakukan manuver cantik di udara, ringan bagai lesatan panah, memutar tubuh Noah bersamanya dan membuatnya jatuh lagi ke lantai, kali ini telentang. Kedua tangannya menahan kedua tangan musuhnya di lantai, dan lagi-lagi ia menduduki perut Noah, mengunci gerakannya.

Korra membungkukkan tubuhnya dan dan mengarahkan kepalanya begitu cepat ke leher Noah laksana vampir mengincar mangsa, dan berhenti hanya lima senti dari telinganya. Noah bergetar hebat saking kalut dan ketakutannya.

"Tunduk kau anjing liar lemah!" bisiknya berbahaya. "Berpikir sekali lagi sebelum kaupikir bisa mengalahkanku. Aku akan membuat sisa hidupmu menderita kalau kau berani-berani meledak dan bertingkah di depanku!"

Ia menjauhkan kepalanya dari Noah hanya untuk menyadari gemetar Noah makin parah. Collin dan Brady menyadari hal itu: Noah mungkin akan berubah. Di lorong. Di depan sekian puluh anak-anak. Dengan Korra mendudukinya. Ini gawat. Dan mereka berlari menghampiri Korra, hendak berusaha menarik gadis itu dan entah bagaimana menyingkirkan Noah dari tempat itu.

Tapi Korra justru melepas kedua tangannya dari tangan Noah, tanpa diduga menarik bagian depan bajunya untuk mengangkatnya dan membantingnya lagi ke lantai, kali ini dengan ekspresi jijik pada wajahnya.

"Hentikan!" mereka mendengar lagi ancaman Korra, lebih serupa perintah. "Cepat pergi dari sini dan kularang kau meledak!" Dan dalam keterkejutan, mata Josh, Brady, dan Collin membelalak dan jantung mereka terhenti kala seakan mendengar gaung samar Titah Alfa dari bibir Korra.

Keterpanaan yang melanda mereka makin menjadi ketika perlahan mereka melihat gemetar tubuh Noah mereda. Matanya masih membelalak shock. Korra masih menahannya hingga gemetar itu reda, dan akhirnya bangkit dari tubuh remaja itu.

Noah pun bangkit setelah beberapa lama, masih ketakutan dan tubuhnya masih gemetar, dan dengan sorot mata kalah, ia berbalik dan kabur keluar sekolah, diikuti keempat anak buahnya.

"Josh, cepat kejar bosmu dan lindungi dia sebelum meledak!" perintah Korra. Dan kemudian ia berbalik menyadari Josh yang masih shock dan masih terduduk di lantai di dinding belakangnya. "Sekarang!"

Josh mengerjap, tapi akhirnya ia bangkit juga dan lari mengikuti, atau lebih tepatnya mengejar, kelima anggota lain gengnya.

.

Korra tampak berusaha menenangkan diri sesaat, lalu memutar tubuh menghadap Collin dan Brady yang masih membeku dengan mulut menganga dan mata membelalak. "Itu dia yang namanya bully!" katanya bangga seraya menepuk kedua tangannya. Suaranya kembali sama seperti biasanya, riang, dengan sedikit nada bangga tersirat.

Tanpa mempedulikan ekspresi kedua sahabatnya, Korra berjalan santai melintasi ruangan menuju tempatnya tadi menjatuhkan tasnya di dekat loker-loker. Para siswa yang menonton menyingkir memberi jalan. Jelas mereka takjub sekaligus takut dan hormat pada gadis itu. Dengan tenang Korra mengambil tasnya, berputar, lalu berjalan dengan riang, agak melompat-lompat seperti biasa, sembari bersenandung pelan, melewati Collin dan Brady.

"Ayo pergi! Nanti kita terlambat masuk kelas," ujarnya ceria sambil menepuk pundak kedua sahabatnya.

Collin dan Brady menelan ludah, dan agak bersyukur bahwa selama ini mereka menolak melakukan perintah Jacob.

Jelas, kesalahan besar jika berani mem-bully Korra.

.


.

Hari itu Rabu siang. Pekan sesudah Korra kembali. Dan yang namanya Rabu selalu membosankan: tengah pekan, saat siapapun sedang malas-malasnya belajar.

Jam-jam pelajaran hari itu diisi oleh Collin dengan melamun, memikirkan segala hal mengenai Korra. Adegan heroik Korra yang belum lama terjadi memang agak mengguncang di sekolah, tapi ia dan Brady tahu bahwa ada hal lain yang lebih jauh daripada yang digosipkan. Bukan sekadar Korra menghabisi geng Noah. Tidak, itu hanya bagian kecilnya. Yang ada di belakangnya mungkin lebih buruk, atau lebih baik, ia tidak tahu pasti.

Berhari-hari ia, Brady, dan Josh berkubang dalam kenangan itu. Josh jelas masih shock, dan ia tak sengaja membeberkannya pada kawanan pada hari tugas patroli mereka sesudah kejadian itu. Seth sedang menjadi pengawas mereka, dan ia memerintahkan tak seorang pun yang boleh menceritakan kejadian hari itu, tidak juga pada Jacob. Dan perintah Beta sama kuat dengan Titah Alfa dalam hal ini, karena Jacob sedang tidak ada di tempat. Masih dalam tahanan rumah karena kasusnya dengan Billy.

Tapi Collin tahu: ia harus lebih memperhatikan Korra. Mengawasi. Seperti memang tugasnya.

Setelah acara kamping yang berubah jadi mengerikan itu, ia tidak pernah seintens dahulu menghabiskan waktu bersama Korra maupun Brady di sekolah. Brady masih dalam tahap pemulihan akibat jatuh ke jebakan Korra, dan walaupun akhirnya ia kembali sembuh, Collin sendiri yang memintanya memperpanjang masa istirahat karena takut sahabatnya memaksakan diri.

Dan hubungannya dengan Korra tidak lebih baik. Setelah menghilangnya Korra selama lima hari itu dan adegan manis di halaman belakang rumah Black, ia berharap situasi hubungannya dengan Korra akan meningkat. Tapi nyatanya tidak. Korra jelas tidak terlalu mempedulikannya lagi. Kadang mereka ber-sms atau bertemu di tangga sekolah, tapi tidak pernah menghabiskan seluruh waktu istirahat bersama atau pulang bareng. Satu-satunya kelas yang memungkinkan Korra bersama Collin ada di jam terakhir, dan Korra masih suka mabal.

Sungguh Collin merindukan Korra.

Ia dan Korra tidak punya kelas sama apapun sesudah jam istirahat, dan ia berusaha sedapat mungkin duduk di bangku dekat jendela yang menghadap ke arah lorong utama atau pekarangan sekolah, memaksa bertukar tempat duduk jika perlu, agar bisa melihat keluar. Sejak Korra kembali bersekolah, sudah sehari di pekan kemarin dan dua hari di pekan ini ia melakukan itu: mengawasi tanda-tanda keberadaan Korra. Ini hari ketiga pengawasannya di pekan ini. Jika Korra kabur sebelum sekolah selesai, ia harus tahu. Ia harus menguntit Korra.

Ada sesuatu yang salah dengan gadis itu. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang ia sembunyikan, lebih daripada urusan Seth.

Ya, ia yakin, Korra pastinya berkencan dengan Seth.

Itu pasti menjelaskan alasannya tiba-tiba kabur dari topik Seth dengan membicarakan hubungan antara Collin dan Brady. Pada saat ia sudah hampir menyatakan cinta pada gadis itu! Ugh! Jika memang ia curiga mereka berdua ada hubungan tertentu, hubungan asmara terutama, ia seharusnya menanyakannya sejak dulu. Toh mereka sahabatnya. Atau Seth yang ikut-ikutan tegang waktu Korra hilang sampai menawarinya bantuan penuh mencari Korra segala. Si Beta memang melakukannya dengan tenang, tapi Collin tahu ia panik. Atau Seth yang mendadak menghancurkan keran air di rumah Jacob waktu ia hendak mencium Korra.

Ini lebih dari itu. Semua yang diucapkan Korra. Di halaman. Di lorong. Kata-kata konstan yang berhubungan dengan kawanan. 'Kawanan', 'anjing', 'meledak', 'ekor', 'cakar', 'bully', 'Jake dan Sam'. Apakah itu memang gaya Korra, mengatakan semua itu sebagai bagian kosa kata bahasa prokem ancamannya? Ataukah memang ia tahu sesuatu?

Apa Seth membocorkan masalah kawanan pada Korra?

Jika memang Seth pacaran dengan Korra setelah mengimprintnya, itu menjadikan Korra bagian tak terpisahkan dari kehidupan kawanan. Ia berhak untuk tahu segala detail tentang kawanan, para werewolf, dan rahasia suku kecil mereka. Semua.

Tapi itu tidak menjelaskan apa yang terjadi. Korra sendirian melawan seluruh geng bully, itu wajar. Salah satu temannya, anak cewek yang kelihatannya lemah dan nerd saja mampu mematahkan jari cowok tinggi besar, wajar jika Korra diam-diam menguasai ilmu bela diri. Collin tahu beberapa kali Korra menolong Ben Two dari skema per-bully-an kawanannya atau dari geng Noah, ketika Pete hanya diam kala terjebak antara tugas atau instingnya melindungi Ben Two. Bahkan ia mengajak Collin ikut melindungi Ben. Itu kian menjadi setelah Korra tahu bahwa Ben adalah sepupu mereka.

Jujur saja, mereka tak tahu menahu kehidupan Korra sebelum tiba di La Push. Tapi bahkan jika Seth mengimprint Korra pun...

Tunggu—apa Collin baru mengasumsikan Seth mengimprint Korra?

Aaaaarrrgh!

Tapi gadis itu memang bukan sembarangan. Tidak jika ia bahkan mampu membuat dua orang tak berkutik. Satu serigala dan satu calon serigala, tak kurang. Noah jelas sudah mendapatkan berkah awal kemampuan serigalanya, jika melihat kekuatan dan ukuran fisiknya. Itu menjadikannya hampir sama kuat dengan serigala manapun. Walaupun jika Noah benar-benar menjadi serigala, kedudukannya dalam hierarki takkan begitu tinggi, tetap saja kekuatannya bukan hal yang begitu sepele hingga bisa dikalahkan oleh manusia biasa.

Dan selain kekuatan Korra, ia merasakan sesuatu yang lain. Ketenangan dan kepastian kata-kata maupun gerakannya. Wibawa dalam ancamannya. Gaung Titah Alfa. Apa karena ia Black, jadi ia memiliki darah itu? Kemampuan itu? Bahkan sebelum ia berubah pun, sebagai calon pengganti utama Jacob, ia memiliki semua bakat itu?

Tapi kalau begitu, bagaimana bisa ia menjadi imprint Seth?

Atau Seth memang tidak mengimprint?

Ya, Seth pastinya tidak mengimprint. Ia harusnya tahu kalau itu terjadi. Sepandai-pandainya Seth memasang tembok mental, ia takkan bisa menutupi reaksi imprint. Dan ia tidak perlu juga. Itu alasan utama yang bisa membendung semua kemarahan Jacob jika ia mendapati adiknya didekati salah satu cowok dalam kawanan, bahkan jika itu sang Beta.

Tapi kalau memang Seth mengimprint, untuk apa ia masih harus menguntit Korra seakan gadis itu mungkin serigala?

Atau memang teori Seth soal perempuan gene-carrier dan gene-bearer salah?

Dan kemungkinan-kemungkinan lain menyegapnya bertubi-tubi.

Mungkinkah Korra memang secara diam-diam, tanpa diketahuinya, telah menjadi serigala?

Tapi itu mustahil. Ia menyentuh Korra sebelum insiden kecil itu. Suhu tubuhnya masih normal. Di bawah suhu tubuh rata-rata serigala. Kondisi emosinya selalu stabil, selalu ceria maksudnya. Kecuali tadi, tentu. Tapi itu pun tergolong tenang. Sangat, malah. Sama sekali tidak emosional. Tubuhnya tak menunjukkan tanda-tanda perubahan.

Dan jika benar seharusnya ia tahu. Jacob akan tahu, minimal. Dan seluruh kawanan akan tahu.

Mungkinkah memang Korra adalah serigala hitam seperti yang dulu mereka sangka?

Tidak. Teori Korra serigala hitam sudah seharusnya gugur karena jelas itu lahir dari gosipnya. Dan bahkan itu teori yang kontradiktif. Hal itu pun tidak menjelaskan pengetahuan Korra soal Jacob dan Sam, juga seandainya iya itu benar-benar yang ia tangkap, gaung Titah Alfa, karena si serigala hitam jelas bukan bagian kawanannya dan juga bukan Alfa.

Lantas apa?

Ia tidak tahu. Korra juga, seperti banyak orang lain di sekitarnya, menyimpan rahasia.

.


.

Kepala Collin melengut dan matanya memejam-terbuka-memejam lagi dalam jeda yang makin lama makin panjang, lelah dalam pikirannya yang tak berujung tentang Korra, ketika panggilan Mr. White, guru Matematikanya, membangunkannya.

"Collin, Collin, COLLIN LITTLESEA!"

Ia mengerjap, dan agak kaget melihat wajah Mr. White hanya sepuluh senti di sisinya. Roman mukanya sangat marah. Di belakangnya ia bisa melihat anak-anak cewek terkikik menertawakannya, dan beberapa anak cowok menunjukkan wajah bersimpati.

"Kau tidur di jam pelajaran lagi, Collin?" tuduh gurunya. Collin buru-buru membelalakkan mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya.

"Maaf, Sir... Takkan terjadi lagi..." gumamnya.

"Kalau begitu kerjakan soal no. 24 Latihan 2 Bab 7!"

"Eh..." remaja itu buru-buru membuka bukunya yang sedari tadi masih tertutup dan tertumpuk rapi di mejanya, sama sekali belum disentuh. Matanya nanar melihat soal itu.

Brengsek! Trigonometri sama sekali bukan keahliannya!

"Tidak bisa, Collin?" gurunya terdengar tidak sabar. Pastinya ia tak luput menyadari tidak hanya Collin tertidur di kelas dan tak mendengarkannya selama sejam ia mengajar, tapi juga bahkan belum menyentuh bukunya dan jelas tidak mengerjakan PR yang sedang mereka bahas.

Collin menggumam tak jelas, tertunduk.

"Kau tidak sadar kau sudah kelas tiga? Dan kau sudah mengulang kelas ini dua kali, ini kesempatan terakhirmu! Apa kau mau tinggal kelas? Usiamu sudah di atas yang lain-lain! Guru-guru lain juga mengeluh bahwa kau sering bolos dan tidak lulus beberapa pelajaran! Nilaimu benar-benar parah! Kau lebih baik memperhatikan pelajaran daripada terus berkeliaran dengan geng..." gurunya mulai mengomel. Collin menunduk putus asa, berusaha menulikan ucapan gurunya. Ia mencoba lebih berkonsentrasi pada suara-suara kecil di sekelilingnya. Isi ejekan yang dilontarkan anak-anak cewek yang cekikikan di sekitarnya. Keributan anak-anak di lapangan yang sedang ikut pelajaran olahraga. Bisik dedaunan. Deru motor di luar.

"... dan kau bahkan tidak mendengarkanku. Collin! COLLIN!"

Collin mengerjap.

"Y, ya Sir," katanya terbata-bata.

"Kau memang tidak mendengarkanku. CUCI MUKA SANA DAN CEPAT KEMBALI KEMARI!"

O-o... Kalau marah, Mr. White, guru matematika sekaligus ayah Adam sang Gamma-nya Embry ini, memang lebih menakutkan daripada Alfa Jacob maupun Alfa Sam. Bahkan Emily pun kalah.

"Si, siap Sir..." ujarnya.

Tanpa diperintah dua kali Collin bangkit dari kursinya dan langsung lari ke toilet.

"KALAU KAU TIDAK CEPAT KEMBALI KE SINI AKAN KUADUKAN KAU PADA IBUMU, COLLIN!"

Huh, ancaman paling parah di seluruh dunia!

.

Jacob mungkin mimpi buruk. Semua kawanan mungkin berpikir Leah Ratu Kegelapan, tapi tidak, baginya Leah adalah ratu bangsa Elf seperti di film Lord of The Ring. Emily-lah Sang Ratu Penyihir yang mampu memerintah kawanan melakukan apapun dengan makanannya, diam dengan tatapannya, atau hengkang hanya dengan teriakannya. Dan suaminya malah lebih parah, Sam Uley punya kekuatan Mata Medusa yang mampu mengubah siapapun jadi batu.

Tapi ibunya, Connie Black-Littlesea, adalah Ratu Segala Monster Neraka, Setan Pencabut Jiwa Manusia dan Seluruh Makhluk Supranatural yang bahkan Volturi pun patut bertekuk lutut padanya. Mengerikan Pangkat Sejuta Bilyun Quadrilyun! Dan Mr. White adalah... well, pembantu setianya. Selalu siap mengirimi wanita itu surat pemberitahuan yang bisa membuat Collin kena hukuman pemotongan uang saku selama minimal sebulan dan kurungan seumur hidup. Yang bahkan Titah Alfa pun tak sanggup membebaskannya.

Jujur saja, Jacob takut pada ibunya. Dear Auntie Connie yang mengerikan. Pernah waktu ia kelas 1 SMA, ia tidak masuk sekolah dan tidak mengerjakan PR selama sebulan karena urusan kawanan. Mr. White mengirimi ibunya surat pemberitahuan, membuat wanita itu marah besar. Meski adik Tetua Billy Black, sang ibu tidak tahu-menahu urusan tugas mulia anaknya, tentu, dan menganggapnya nakal di luar. Collin menderita karena harus diomeli tiga jam lebih, dilarang bermain game selama dua bulan, dan dikurung selama sebulan dengan pengawasan ketat. Jacob datang dengan seribu satu alasan, berusaha membebaskannya agar bisa ikut patroli, tapi apa jawaban ibunya?

"Kau tidak berhak ikut campur dalam caraku mendidik anak, Jacob. Sepupumu akan belajar dari kesalahannya dan kamu akan mendukungku supaya ia bisa jadi orang yang bisa membanggakan suku."

Dan setelah itu ia lantas mengomeli Jacob selama hampir lima jam soal 'bahkan tidak lulus SMU', 'tidak punya pekerjaan tetap', 'sudah kepala dua tapi belum punya penghasilan mapan', 'sudah dewasa tapi masih menumpang pada orangtua'. Belum lagi soal 'menjadi kepala gerombolan anak-anak badung yang usianya jauh di bawahnya', 'selalu keluyuran malam pulang pagi', dan 'bahkan tidak ada perempuan yang mau pada laki-laki pengangguran dan bodoh'. Itu masih dilengkapi dengan 'bagaimana cara sang kakak Billy Black mengurus anak', 'mempermalukan keluarga Black', 'ayahmu orang yang dihormati seluruh suku', 'seharusnya jadi harapan seluruh suku', dan akhirnya 'entah bagaimana aku harus menghadapi almarhumah Sarah di alam sana'. Dan Jacob hanya tertunduk sedalam-dalamnya dengan tampang putus asa sepanjang omelan yang hampir tak berujung itu.

Ketika akhirnya Aunt Connie yang tercinta berkenan menghentikan omelannya karena jam makan malam hampir tiba dan ia harus memasak, Jacob hanya mencericit pelan, sangat pelan, "Maaf, Auntie...". Kemudian ia menghampiri Collin di kamarnya, yang masih tidak terima dengan hukuman ibunya, dan berujar, "Ibumu benar. Kau harus lebih memperhatikan sekolahmu," mengabaikan protes keras Collin.

Hah! Seolah bukan dia sendiri yang menyebabkan Collin harus menanggung hukuman itu!

Alfa payah!

Setelah Collin bebas dari penjaranya yang muram itu, masih marah dengan sepupunya, ia sengaja menumpahkan kekesalannya dengan membiarkan ingatannya tentang sore sesi-detensi-Jacob-dengan-Connie-Littlesea. Alhasil seluruh anggota kawanan menertawakan Jacob dan mengejeknya sepanjang patroli. Dan Sang Alfa yang murka menurunkan Titah agar mereka diam dan memperpanjang patroli selama tak kurang dari 8 jam.

Jacob Black memang Raja Segala Raja Bully yang paling parah dan menyedihkan! Senior yang bisanya cuma menekan anak buahnya dan bahkan tidak bisa mempertahankan diri dari omelan keluarganya sendiri.

Ugh!

.

Entah mengapa ia malah berkubang dalam kekesalannya pada Jacob ketika keluar dari toilet sesudah mencuci muka. Berusaha mengenyahkan rasa marah di dadanya yang mendadak membludak, ia memandang ke luar jendela lantai tiga tempatnya berada kini. Melihat langit dan ujung pokok dedaunan yang bergoyang lembut tertiup angin biasanya mampu membuat amarahnya lenyap. Dan biasanya ia mampu tertawa dari kejadian lucu apapun yang terjadi di lapangan olahraga dan halaman sekolah. Misalnya itu, ada anak cewek yang jatuh terjerembab di trek lari karena lupa menalikan tali sepatunya sendiri. Atau anak cowok yang karena sibuk memperhatikan cewek imut yang sedang perenggangan, malah teralihkan perhatiannya dari permainan soccer yang sedang mereka lakukan dan terkena tendangan bola. Atau anak-anak yang bolos kelas dan asyik memperhatikan cowok tampan yang nangkring di motor menunggu seseorang. Atau anak cewek yang jelas-jelas bolos kelas juga, lari menuju cowok itu. Kelihatannya memang mereka niat kabur sebelum jam pelajaran usai.

Tunggu.

Collin menajamkan pandangannya untuk melihat dua sosok itu.

Cewek itu Korra. Jelas itu sepupunya Korra. Cewek itu bahkan mengenakan syal hijau limau bermotif bunga matahari pemberiannya. Syal rajutan tangan yang hanya ada satu di dunia ini!

Dan cowok di motor itu...

Ia terkesiap. Collin tak percaya matanya ketika menyadari siapa cowok itu.

Seth. Itu memang benar-benar Seth Clearwater!

Sedang apa Seth di sana siang begini? Mengajak sepupunya bolos sekolah?

Berusaha menenangkan diri, Collin menyambar ponselnya dan menghubungi nomor Korra di contact list. Jemarinya bergetar ketika memencet tombol 'call' pada kontak 'Coraline My-Future-Wife Littlesea'. Ia harus berkepala dingin dan terlebih dahulu mengkonfirmasi segalanya. Jangan sampai ia salah mengenali orang.

Telepon berdering beberapa detik dan kemudian terdengar suara manis gadis itu.

"Halo Cole?"

Di pelataran, gadis yang bolos itu juga baru saja mengangkat ponselnya dan bicara dengan seseorang di telepon.

Ini benar!

Collin merasa dunianya ambruk ketika ia menutup telepon, dan mengawasi gadis itu melangkah mendekati cowok di motor. Mereka tertawa sejenak sebelum cowok itu, jelas Seth, memberinya helm, dan memasang helmnya sendiri. Kemudian gadis itu, jelas Korra, duduk dengan manis di jok belakang, tangannya mendekap pinggang Seth, tubuhnya menempel pada punggung Seth, dagunya bertumpu di bahu Seth. Dan keduanya melaju meninggalkan pelataran parkir sekolah.

Ia tak percaya yang dilihatnya. Seth menculik gadis impiannya, tepat di depan matanya, sebelum jam pulang sekolah!

Si Setan Seth berani menculik mataharinya di siang bolong. Dan kini dunianya langsung gelap gulita.

Ia takkan membiarkan ini. Beta Seth atau bukan, ia akan membuat Seth merasakan pembalasannya. Ia akan mencabik-cabik serigala coklat pasir itu karena berani menyentuh gadisnya. Mengulitinya dan menebarkan dagingnya yang sudah dicincang kecil-kecil sebagai makanan singa gunung. Bahkan sebelum Jacob sempat membunuh Seth karena membuat adiknya membolos.

Awas kau, Seth!

Dan dengan itu Collin segera lari menuruni tiga lantai, mengejar Seth dan Korra. Ia bahkan tidak mempedulikan Mr. White yang memanggilnya dan meneriakkan kata-kata ancaman lagi.

Jangan kabur kau, dasar Iblis Penculik Busuk!