THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: All part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer. This story is not closely related to anything in the saga. Maybe some details, including past events, legends, rules of the pack, and personality of few characters, had been changed during the continuity of this story.
.
WARNING: Just in case, some part of this story maybe contain some sexual content. Not explicit, of course… so you can rated T+…
.
.
Empat puluh- Seth x Korra x Collin (!)
Monday, January 14, 2013
4:12 AM
.
.
Berusaha keras mengendus bau Korra dan Seth, yang agak tertutupi bau knalpot motor dan bercampur dengan bau jalanan, Collin mengikuti keduanya. Secepat mungkin dalam wujud manusia. Ia tahu ia kehilangan jejak keduanya, tapi ia tidak peduli. Ia harus menemukan mereka.
Tiba di Port Angeles, matanya langsung nyalang mencari-cari. Bau Seth dan Korra makin samar, tertutupi macam-macam bau. Ia mencoba mencari dengan cara manual. Tempat apapun yang memungkinkan untuk kencan. Kedai kopi. Rumah makan. Taman ria dihindarinya, karena ia tidak punya uang untuk membayar tiket. Tapi selintas pun bau Korra ataupun Seth tidak dirasanya di pintu masuk, sehingga ia berkesimpulan bahwa mereka bahkan tidak mencapai tempat itu.
Ia hampir menyerah dan hendak berisitirahat, ketika tanpa sengaja dilihatnya motor yang tadi dipakai cowok yang menjemput Korra di tempat parkir kecil di dekat taman. Kemudian dirasanya bau itu. Ia mengendus, mengikuti sumber bau.
Dan ia melihat mereka. Tersangka-Seth dan Korra.
Collin mendekat namun menjaga jarak. Bersembunyi di balik pohon besar, tempat yang cukup tersembunyi namun memungkinkannya leluasa mengawasi. Dan ia memasang konsentrasi, berusaha mendengarkan setiap kata percakapan dan melihat setiap gerakan.
Korra dan tersangka-Seth sedang duduk berdua di rerumputan di bawah pohon besar. Pemuda itu bersandar ke pokok pohon besar, berselonjor dengan santai. Tangan kirinya menopang tubuhnya di tanah. Sementara Korra di sisi kirinya, berbaring dengan kepala di pangkuannya. Jaket cowok itu tersampir di tubuhnya. Dan Collin harus benar-benar menahan kesabaran, mendapati bahwa insting serigalanya hampir memaksanya menyerang kedua merpati itu, begitu melihat tangan kanan si cowok di kepala gadis yang ia cintai, mengusap-usap rambutnya.
Tangan itu berbalut perban. Sepasang sarung tangan kulit terlihat tersampir di atas helm yang bertengger tak jauh dari keduanya.
Sang gadis terlihat menyadari tangan berperban itu. Ia mengangkat tangan itu dari kepalanya, mengamatinya dengan seksama.
"Lukamu masih belum sembuh? Bekas terkena pemanggang barbeque Sabtu lalu? Sudah berapa hari ini?"
Oh, dia 90% memang Korra! Suaranya pun mirip!
Mungkin pemuda itu bukan Seth. Seth tidak pernah terkena pemanggang barbeque manapun, apalagi hari Sabtu. Seth sedang lari-lari di hutan dengannya hari itu.
Pemuda itu agak gugup. Tapi jawabnya, "Tidak apa. Sebentar lagi juga sembuh."
Collin bisa menangkap kebohongan dan mendadak ia ingat sesuatu. Sejak acara kamping berakhir, Seth selalu menyembunyikan telapak tangan kanannya. Dan ia ingat memergoki suatu tanda muncul di telapak tangan Seth sejak itu. Jadi bisa jadi memang, kalau pemuda itu Seth, ia menyembunyikan sesuatu dengan berpura-pura kena luka bakar.
Dan yang membuat napasnya menghilang, gadis itu menarik telapak tangan si cowok ke bibirnya, lantas mendaratkan kecupan ringan.
A—apa itu?
Si cowok juga kelihatannya terperanjat, tapi gadis itu tersenyum manis dan berkata, "Ciuman supaya kau lekas sembuh."
Ini tidak bisa dibiarkan!
Dengan geram Collin membuka ponselnya, mengirim sms.
Conversation with Coraline Have-I-A-Future Littlesea
Cole The Great Red Ranger (02.43 PM)
Dimana kau Korra? Aku tahu kau mabal.
.
Ia melihat gadis itu membuka ponselnya, mungkin sekali mengecek smsnya.
Oke, 100% Korra, kalau begitu!
Dan dengan tegang ditunggunya reaksi si gadis. Sesaat kemudian ia menghela napas, berat, langsung menutup kembali ponsel tanpa membalas.
Heh—apa itu?
Diam-diam Collin mengendap-endap mendekat, mencari spot lain yang bisa memberinya akses untuk lebih jelas mengintai sekaligus terlindung.
Pemuda yang bersama Korra, jelas sekali dari sudut baru ini, sudah pasti, positif, 100% Seth, menyunggingkan senyum layu, dan katanya, "Cole lagi?"
"Ya..." bisik Korra, nadanya terdengar agak letih. "Tadi juga ia me-missed-call. Kurasa ia tahu aku membolos kelas terakhir."
"Yeah... Tahu dia, jangan-jangan dia sedang mengikutimu sekarang, bersembunyi di balik salah satu pohon dan mengawasi kita," kata Seth sambil tertawa. Jantung Collin berhenti, dan ia menarik diri ke balik pohon. Apa Seth tahu? Apa Seth mencium keberadaannya?
Tapi melihat ketenangan Seth, tampaknya tidak.
"Kau jahat, tahu, Seth... Dia takkan melakukan itu. Aku percaya Cole. Tidak mungkin ia menguntitku!" Korra bangkit dari pangkuannya dan meninju bahunya, berpura-pura ngambek.
Seth hanya tertawa.
Huff, asal ia tahu saja...
"Lagipula kau tidak berhak melarangku menerima sms Cole ketika kau sibuk sms-an dengan kakakku."
"Hei, ia hanya menanyaiku dimana. Mengajak kumpul dan sebagainya. Kubilang saja aku sibuk."
"Memangnya kau bisa menolak perintah Jake?"
"Korra, aku tahu pandanganmu tentang kakakmu dan sikapnya yang sok nge-boss. Memang benar. Hanya saja aku tahu pasti ia tidak akan memaksakan sesuatu hal padaku hanya karena ia bisa... Ia sahabat terbaikku, kau tahu..."
"Kau masih begitu loyal pada Jake…" Korra terdengar tidak senang. Tapi ia kembali menyurukkan kepalanya ke pangkuan Seth. Jemarinya menggulung-gulung ujung kerah kaos polo Seth.
"Korra, aku sudah bilang, semua pikiran burukmu soal Jake cuma salah paham. Kau tahu sendiri, bahkan Collin pun membela Jake…"
"Seth, aku sudah cerita ini padamu. Dia bukan cuma pengedar narkoba dan bully, dia juga hampir memperkosa aku di hutan!"
A, apa?
"Korra…" suara Seth terdengar lembut, tapi lelah. "Sudah kubilang seratus kali dia tidak mungkin melakukan itu. Aku kenal Jake. Dan kau dengar, kan? Sam dan Billy juga membela Jake."
Korra berdecak sebal. "Entahlah…"
"Apa kau melakukan yang kuminta, Korra? Apa kau memberi kesempatan agar kalian berdua bisa rukun? Karena aku yakin semua yang terjadi di antara kalian cuma salah paham…"
"Yeah, sudah kucoba…" Korra terlihat bermain-main dengan kancing-kancing Seth. Pandangannya menerawang. "Aku sudah menerima ajakannya nonton Minggu ini."
"Bagus itu!" seru Seth senang.
"Tapi aku tidak menjamin kami bisa menjadi keluarga seperti yang kauinginkan atau tidak…"
"Kau pasti bisa…" ujar Seth menguatkan.
Korra mengendikkan bahu, melepas tangannya dari baju Seth dan kini meraih selembar daun yang jatuh, menyapukannya sedikit pada wajah Seth hingga Seth kegelian. Mereka tertawa sejenak.
Oh, sungguh kemesraan kecil yang membuat Collin ingin mendekat, menghajar Seth, membuat Seth jadi bubur.
Ia mengutuk serampangan pada daun yang jatuh tadi sebagai pelampiasan. Apa-apaan ada daun berani-beraninya jatuh di awal musim panas begini? Menambah bahan pendukung untuk adegan romantis yang bagai duri di matanya saja!
Ia berusaha mengendalikan napasnya, kembali menguping.
Seth kembali mengusap rambut Korra, memandang jauh ke langit. "Kau tahu, ia sangat menyukaimu, Korey..."
—Hah? Korey?
Korra terlihat bingung. "Siapa maksudmu?"
"Cole..."
Seth menyatakan itu dengan pahit seraya menunjuk syal hijau limau yang dipakai Korra. Syal yang diberikan Collin di hari kepulangan Korra, dan sejak itu tak pernah beranjak dari lehernya.
Collin menajamkan pendengaran, sadar dirinya disebut-sebut.
Gadisnya menghela napas, lalu katanya, "Ya, aku tahu…"
"Dan aku melihat kalian di rumah Jake…" Seth terdengar hati-hati.
"Oh, itu…" suara Korra lambat dan menerawang, tapi seolah tidak peduli.
"Aku tahu Cole memendam perasaannya padamu sejak lama. Jadi sebenarnya aku tidak terlalu kaget…" Seth kembali bicara. Nadanya tenang.
Collin merasa gemas mereka tidak sampai-sampai ke intinya.
Kenapa sih bicaranya Seth harus selalu berputar-putar? Seharusnya langsung tembak saja, "Korra, aku benci melihatmu mencium Collin Littlesea tanpa peduli aku dan kawananku menonton kalian dan memasang taruhan!".
Memangya Seth harus selalu sekalem itu, ya? Dia jauh lebih terus terang dulu waktu usianya lebih muda. Sekarang dia terlalu menyebalkan!
Tapi Korra tertawa.
"Kalau aku tidak tahu benar, Seth, aku mungkin mengira kau cemburu."
Terdengar helaan napas Seth. "Mungkin memang aku cemburu…" ia berujar lamat-lamat. "Kau tahu, Korra, jika kau mencintai Cole juga, aku…"
"Ssssst…" ujung jemari Korra menempel di bibir Seth. "Mau berapa kali kau bilang begitu terus? Capek aku mendengar keluhan yang sama berhari-hari…"
Seth terdiam bahkan ketika jemari Korra beranjak dari bibirnya. Korra kembali mempermainkan selembar daun lain.
"Aku tahu Cole mencintaiku," ujar Korra lagi. "Entahlah… Aku hanya merasa aku tak bisa membalas perasaannya... Jake akan membunuhnya jika memang begitu."
Seth berhenti memandang langit, menunduk menatap gadis itu. "Kau terdengar seperti memikirkan Cole. Sangat..."
"Ia sepupuku, tahu! Dan sahabat terbaikku di dunia."
Hah! Makan itu, Seth!
Pemuda itu hanya tersenyum saat menjawab, "Ya, memang..."
"Dan kau teman istimewaku, Sethie..."
Sethie? Ugh!
Collin hampir meledak melihat hal yang terjadi sesudahnya. Tahu-tahu Korra bangkit sedikit, dan Seth agak merunduk. Wajah mereka mendekat, dan keduanya berciuman. Di bibir! Jika saja adegan itu terjadi di La Push atau di hutan dan bukan di Port Angeles, sudah pasti Collin akan langsung berubah dan menarik kepala Seth dari wajah gadis yang ia cintai, jika perlu sampai putus.
Ia membuang muka dari adegan itu, berusaha meredakan getaran yang sudah mengambil wujud di tangan dan kakinya.
"Jadi..." kata Seth setelah sekitar lima menit berlalu dan berhasil menjauhkan wajahnya dari gadis itu. Ia mulai membuka topik lain dengan hati-hati. "Kapan kau berniat mengizinkanku mengatakannya pada kakakmu?"
Jadi Seth memang masih merahasiakannya pada Jacob. Pantas saja dia masih hidup... Selimut pikiran sialan!
"Mengatakan apa?"
"Hubungan kita..."
Korra tertawa. "Apa harus?"
"Kadang susah menyembunyikan semua dari semua orang, kau tahu..."
"Oh yeah, pastinya..." dan gadis itu kembali tertawa.
"Korey, aku serius..."
Korra kelihatannya tidak terlalu terpesona oleh kata 'serius' itu. Nadanya masih kasual ketika berkata, "Kupikir anak cowok biasanya cuma akan bilang kalau sudah masuk taraf benar-benar serius..."
"Aku memang benar-benar serius, Korey..."
"Sethie..." Korra menghela napas lelah, "kita baru menjalaninya sekitar... dua bulan?"
Dua bulan? Brengsek!
Itu berarti sejak api unggun... Collin panik mencari-cari dalam memorinya. Seth tidak pernah membocorkan apapun. Korra tidak pernah mengatakan apapun. Apa ia kehilangan sesuatu? Suatu tanda, entah apa? Apapun yang seharusnya bisa ia lihat, ia baca... Seth bahkan tahu perasaannya pada gadis itu, melihat semua imajinasi liarnya bermain di kepalanya selama ini dan pemuda itu tak pernah bereaksi apa-apa. Mengapa? Apa selama ini mereka menertawakannya di belakang?
Menarik napas menenangkan diri, ia kembali berusaha mendengarkan.
"Ya, tapi itu tidak berarti aku main-main..." ia mendengar Seth berkata.
Apa? Apa yang ia lewatkan?
"Tapi aku baru akan menginjak 17, Seth... Kau juga baru 20. Kau tahu apa yang dimaksud dengan 'serius'..."
Eh? Jangan bilang Seth akan melamar Korra!
Di sini? Dengan aku menjadi saksi? Oh, ini mimpi buruk!
"Maaf kalau kaupikir aku terlalu memaksa, Korra. Kau benar, tidak usah terburu-buru. Hanya saja..." Seth entah mengapa tampak ragu. "Jika kaupikir aku akan melakukan semua itu hanya untuk bermain-main denganmu..."
Hah? Melakukan apa? Bermain-main apa? Apa yang sudah mereka lakukan?
Dan Korra tertawa.
"Kau tahu, Jake hampir memergokiku soal itu."
"J, Jake?"
Jake?
"Ya, dia menemukan bukti..."
Bukti? Bukti apa?
Korra terlihat melirik Seth, kilat di matanya agak berbahaya. Mereka seakan bertukar telepati sesaat sebelum Seth terlihat membeku.
Jangan katakan... bukti 'itu'...
"Bukti... jangan katakan..." Seth seakan mengulang pikirannya. Namun sesaat berikutnya gestur Seth mendadak kembali terlihat aneh. Tegang, kaku, dan sesaat kemudian ia berteriak ngeri seraya menekankan kedua tangan ke kepala. "Oh tidak... jangan bukti itu... Mampuslah aku, Jake akan membunuhku!"
Dari tempatnya mengintip, Collin menggeram.
Tidak, jika memang bukti itu adalah 'itu', pasti akan kukoyak-koyak kau sebelum Jake sempat menyentuhmu!
Anehnya Korra hanya tertawa.
"Tidak. Dia takkan berani menyentuhmu. Aku sudah bilang padanya untuk tidak ikut campur urusanku. Lagipula aku bukan anak kecil. Hanya karena dia belum melakukannya bukan berarti aku tidak boleh melakukannya."
Hanya ada satu hal di dunia ini yang Jake belum lakukan dan masuk ke dalam konteks pembicaraan itu. Dan itu membuat Collin menggeram marah.
Oh, bangsat! Bajingan jahanam itu...
"A, apa kalian... kau tahu, membicarakan... 'itu'?" Seth terdengar tidak nyaman.
"Oh, 'The Talk'? Ya..." Korra tertawa, agak terlalu santai malah. "Aneh rasanya bahwa seorang kakak, yang bahkan tidak menganggapku adiknya, yang membicarakan hal itu padaku."
Jadi memang benar!
Collin harus susah payah berusaha menahan amarahnya untuk tetap mempertahankan konsentrasinya pada isi pembicaraan.
"Dia sayang padamu, Korey..." terdengar suara lembut Seth.
"Entah soal itu. Aku ragu."
"Ya, dia sayang padamu. Aku tahu Jake. Aku mengenalnya sejak lama, tumbuh bersamanya. Walau mungkin sikapnya masih kasar, tapi ia sudah menganggapmu adiknya. Jake khawatir padamu, Korra... Takut kau salah langkah. Takut kau jatuh ke tangan bajingan jahat tak bertanggungjawab."
"Apa kau begitu?" tanya Korra tiba-tiba.
"Apa?"
"Apa kau bajingan tidak bertanggung jawab?"
"Korey, kau tahu aku..."
"Ya, aku tahu..." Korra mengatakan dengan nada pasti di suaranya. "Hanya saja... kadang aku berpikir bahwa suatu saat aku akan kehilangan kau, Seth..."
Tidak biasanya Korra bersikap sedemikian melankolis sehingga baik Seth maupun Collin yang menguping 200 meter jauhnya merasa batinnya teriris.
"Apa kau akan pergi?" tanya Seth hati-hati, suaranya terdengar penuh antisipasi, tapi juga sendu.
Pergi? Pergi kemana?
"Yeah, aku tidak akan selamanya di sini, kau tahu..."
Hah? Apa?
"Tetap kau tidak akan kehilangan aku. Aku akan mengikutimu ke manapun, Korey..." deklarasi Seth pasti. Dan Collin merasa dunianya benar-benar hancur.
Seth mencintai Korra. Benar-benar mencintainya. Seth bukan tipe pria gombal dan ia tahu itu. Ia menghormati Seth. Lelaki jujur, simpatik, penuh perhatian, dan pastinya takkan begitu mudah merayu perempuan. Apalagi jika hanya untuk mengambil kesempatan, bersenang-senang sesaat lantas meninggalkannya. Seth pria yang bisa dipercaya, ia yakin itu. Dan ia takkan punya kesempatan jika Seth memang mencintai gadis yang ia cintai. Bahkan ia mungkin akan menyerah dan memberi restu, melepasnya begitu saja. Walau pastinya terpaksa.
Tapi anehnya Korra hanya tertawa seolah menganggap semua itu bualan.
"Yeah, yang benar saja..." katanya. Dan Collin bisa membayangkan gadis itu mengatakannya sambil memutar mata.
"Aku serius, Korey..."
"Tapi aku ragu kau akan menepati janji itu. Jadi jangan berjanji, Seth."
Hening sejenak sebelum Seth berkata, agak terluka, "Mengapa kau bilang begitu?"
Dan Korra pun diam sesaat sebelum akhirnya berujar lirih, hampir sedih, "Aku mungkin bukan gadis yang selama ini kauimpikan..."
Mustahil! Siapapun dalam kawanannya tahu Seth bertekuk lutut kaki di kepala, kepala di kaki dengan si serigala hitam. Dan tadi ia sudah bilang akan mengikuti Korra ke mana saja. Mana mungkin Seth tidak mengatakan itu pada Korra? Bahwa ia tahu Korra serigala hitam dan mencintainya sejak awal si misterius itu melindunginya?
Ya, pada taraf ini Seth pasti sudah yakin kalau Korra serigala hitam. Entah apa logika yang dimainkannya tapi tak pelak lagi ia yakin. Tak mungkin ia mendekati adik Jake, meresikokan nyawanya, kalau ia tak yakin bahwa Korra-lah gadis yang selama ini dirindukannya.
Kecuali...
"Ya, kau gadis yang kuinginkan, Korra," ia mendengar nada pasti dalam suara Seth.
"Kau mungkin akan meninggalkanku pada detik kau mengetahui semua tentangku," bisik Korra.
"Apa kau ragu bahwa aku mencintaimu?"
Jantung Collin berhenti berdetak saat itu juga.
"Ya, aku mencintaimu, Korey…" ulang Seth.
"Aku tahu."
Korra tidak menjawab bahwa ia mencintai Seth balik, dan Collin merasakannya. Kekecewaan dalam wajah Seth, dalam gesturnya. Dan sejujurnya, itu membuatnya bingung. Apa memang Seth tidak pernah mendapatkan kepastian perasaan Korra?
Dilihatnya Korra bergerak canggung di tempatnya, dan ia bangkit dari pangkuan Seth, duduk di sisinya, menghadap langit.
"Tapi cinta bukan sesuatu yang pasti, Seth... Detik ketika kau siap memiliki seseorang, detik itu pula kau siap untuk kehilangan dirinya," dan ia berpaling pada Seth, melanjutkan dengan nada sendu, "Mungkin memang benar kau yang akan meninggalkanku, Seth..."
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Korey... Aku bersumpah."
"Kau tidak perlu bersumpah. Aku yakin kau takkan berpikir dua kali ketika hal itu terjadi."
Seth kelihatan sudah akan berbicara lagi ketika Korra mengulurkan satu jari menutup mulutnya. Hening membelit mereka cukup lama ketika akhirnya Korra yang memecah kebekuan. Kata-katanya campuran antara sendu dan perih, namun ia berhasil menutupinya dengan semacam nada riang dan pasti.
"Aku ingin kau tahu bahwa jika itu terjadi, aku akan siap. Aku tidak akan menangis, Seth. Aku akan melepasmu."
"Korey..."
Dan Korra membungkam Seth lagi.
"Kau tidak akan membantahku, Sethie... Aku Alfamu, kau tahu?"
Baik Collin maupun Seth tampak membeku di bawah kata itu.
Korra adalah Alfa Seth. Apa maksudnya?
Tawa Korra kembali berderai, agak manis dan manja.
"Aku suka mengucapkan kata itu. Senang sekali melihat reaksimu," katanya.
Collin mendengar Seth agak menelan ludah sebelum mengumpulkan kesadaran dan bicara, "Kau mengerikan, kau tahu? Selalu ingin memegang kendali atas segalanya..."
"Apa kau keberatan jika aku memegang kendali atasmu, Sethie?" entah mengapa Korra kembali menjadi Korra yang dikenalnya. Yang manja, manis, riang, dan agak memaksakan kehendak.
"Tidak, sama sekali..." ujar Seth dan Collin tahu ia tersenyum. "Cintaku padamu terlalu besar untuk peduli soal otoritas..." katanya. Dan entah mengapa Collin merasa ia bisa mendengar lanjutan kalimat Seth dalam imajinasinya, "Aku akan rela menjadi Beta-mu atau bahkan serigala taklukanmu, budakmu malah, jika kau menginginkanku. Tinggal katakan saja..."
"Kalau begitu kau akan datang jika aku meminta, kan?" tanya Korra tiba-tiba, terdengar berharap. Collin makin menajamkan pendengarannya.
"Apa?"
"Kau akan menginap di rumahku lagi besok malam kan?" tanya Korra lagi. Collin masih merasa bahwa dirinya mengejit pada kalimat itu.
"Eh? Apa? Besok malam?"
"Toh besok malam kau libur kan? Dan Jake juga malam ini tidak ada di rumah..."
Kata-kata Korra menampar Collin sebagaimana juga, ia lihat, menampar Seth.
Bagaimana mungkin Korra tahu jadwal kawanan?
Jadwal patroli kawanan disusun oleh Embry dan Seth, memang, yang berlaku sejak peristiwa penyerangan Collin dkk. Cakupan wilayahnya adalah daerah Quileute dan Cullen. Para yunior patroli berpasangan di Quileute, dua pasang per hari, sedangkan para senior patroli di wilayah Cullen, sepasang per hari dengan menggilir pasangan, sehingga ada enam kemungkinan pasangan. Namun, setiap hari salah seorang dari senior yang tidak patroli di wilayah Cullen akan ikut patroli di wilayah Quileute. Dalam jadwal itu, masing-masing senior kebagian jadwal patroli tiga kali di wilayah Cullen, dan sekali di wilayah Quileute dalam enam hari. Kecuali kedua pemimpin, Jacob dan Seth tentu, yang mengajukan diri patroli dua kali di wilayah Quileute untuk mengawasi anak-anak selain jadwal resminya yang tiga kali di wilayah Cullen.
Kelihatannya bukan Seth yang membocorkannya karena ia terdengar gemetar kala bertanya, "Da, dari mana kau tahu?"
"Kuperhatikan kau selalu pergi seperti Jake selama lima malam dalam enam hari. Tapi, hanya ada satu dalam enam hari ketika kau ada dan Jake pergi."
Glek!
"Jadi kau bisa datang besok malam. Toh Billy sudah bilang ia akan menginap di rumahmu karena Charlie mengundangnya entah-untuk-apa. Jadi bisa dibilang besok malam kau juga tidak punya rumah," dan ia terkekeh lagi.
"Aku tidak yakin, Korey. Jake..."
"Ssssttt... Jangan membantah. Katamu kau akan membiarkanku memegang kendali..." Korra mendekat untuk mengecup singkat bibir Seth. "Aku takkan melakukan kesalahan kali ini. Jake takkan memergoki apapun. Biasanya juga ia pulang sekitar fajar dan langsung tidur hingga jam 11."
"Korey..."
Gadis itu tidak mempedulikan protes Seth, dan menatap matanya. Nada suaranya berubah jadi sedikit lebih manja, namun juga lebih provokatif. "Aku kangen tahu, Seth... Sudah beberapa minggu sejak kau terakhir kali menginap. Dan aku tidak suka di kamarmu. Kamarmu mungkin rapi, tapi tetap saja kamar cowok. Dan kasurnya keras."
"Korey, aku..."
"Jika pilihannya kasurku atau kasurmu, aku lebih pilih kasurku. Dan jangan membantah, Seth. Keputusanku final," katanya dalam nada akhir yang tegas seperti Jake, atau Sam. Mungkin memang sudah ada dalam darahnya.
Dan Seth terdiam. Butuh waktu lama sebelum akhirnya ia menghela napas dan berkata, tampak menyerah, "Mana bisa aku menolakmu?"
Korra tersenyum, kini kembali bersandar di bahu Seth.
"Kau tahu, kadang melihatmu seperti itu, aku berpikir mungkin kau memang mengimprintku..."
Seth tampak terkejut. "A, apa?"
"Aku tahu beberapa legenda, Seth... Dari almarhumah ibuku dan Dad, tentu... Dan Sam juga, ia pencerita yang baik..." ia tertawa. "Banyak hal tentang legenda Quileute. Dan tentu saja soal ikatan batin itu. Cinta pada pandangan pertama."
Tidak terdengar apa-apa.
"Dan kadang aku berharap itu benar-benar terjadi," suaranya terdengar menerawang. "Semua itu, legenda itu... Dan kau mengimprintku. Aku ingin kau mengimprintku."
Jeda sejenak sebelum terdengar suara lemah Seth. "Ya, aku juga..."
Dan Korra berbalik, menatap kekasihnya. "Apa kau begitu, Seth Clearwater? Apa kau mengimprintku?"
.
Collin tak perlu mendengar kelanjutan pembicaraan ini ataupun jawaban Seth. Ia sudah tahu. Ia sudah mendengar lebih dari cukup. Dan ia segera pergi dari tempat itu. Berusaha menulikan telinga dari pembicaraan mereka.
"Aku ingin kau mengimprintku…"
"Apa kau mengimprintku?"
Ia lari.
Mendekati jalan menuju La Push ia mendengar dering sms. Ia membukanya. Korra.
Conversation with Coraline I-Have-No-Future Clearwater
Coraline I-Have-No-Future- Clearwater (03.35 PM)
Sudah pulang sekolah? Mau mampir main ke tempatku nanti sore? Aku akan masak yakiniku.
.
Ia mendesah, menutup mata. Butuh lebih dari lima menit baginya untuk berusaha meredakan gemetar di jemarinya untuk mengetik balasan.
The Broken-Hearted Ranger (03.37 PM)
Sudah, Korra, cukup. Aku sudah tahu semua. Semoga kau bahagia dengan Seth. Kau akan bahagia. Kau pasti bahagia. Kau sudah bahagia.
.
Panas yang sedari tadi membakar tubuhnya sudah tak lagi mampu ia rasakan. Ia tak mampu merasakan apapun. Ia bahkan sudah tidak bisa merasakan tubuhnya lagi. Dan semua mendadak merah di matanya.
Ia bahkan belum mencapai hutan.
.
.
"Ada serigala di jalanan!"
Panik itu menyerang dari mulut ke mulut. Dan akhirnya sampai pada Seth dan Korra. Seth mendadak tegang.
"Kau harus pergi, Seth..." bisik Korra. Nadanya mendesak, hampir seperti perintah.
"Hah?"
"Cole butuh bantuanmu sekarang."
Ia menyorongkan ponselnya. Sms dari seseorang.
Reddish Brown (15.37)
Sudah, Korra, cukup. Aku sudah tahu semua. Semoga kau berbahagia dengan Seth. Kau akan bahagia. Kau pasti bahagia. Kau sudah bahagia.
-end-
"Ia pasti menguping kita," kata Korra lagi.
Seth tidak tahu mana yang menghantamnya lebih dulu. Kenyataan bahwa sedari tadi Collin mengupingnya di saat yang paling tidak tepat, rahasianya terbongkar di hadapan anggota yang kepadanya paling ia ingin rahasiakan di antara seluruh kawanan, atau serigala meledak di jalanan Port Angeles... Belum lagi Korra yang sepertinya tahu banyak, atau nama Reddish Brown untuk menyebut Collin—yang jelas merujuk pada warna bulu serigalanya—jelas menunjukkan bahwa ia tahu lebih, lebih, lebih dari yang seharusnya.
Tapi itu masalah kesekian. Atau setidaknya masalah itu bisa menunggu. Masalah utama yang harus ia hadapi sekarang, tepat di depan matanya, adalah Collin. Teror di jalanan Port Angeles.
Tanpa banyak bicara ia mengangguk, bangkit, dan berjalan menjauhi Korra. Ia meraih ponselnya sendiri, menjangkau bantuan pertama yang melintas di pikirannya. Ia bergetar oleh kebingungan, ketakutan, ngeri, dan rasa sesal. Dan semua kemungkinan terburuk menyerbu masuk otaknya saat itu juga.
"Halo?" terdengar suara Jacob.
"Jake, kumohon segera berubah dan tenangkan Collin..."
Ia harap si serigala coklat kemerahan itu cukup pintar untuk segera menjauhi kota atau jalanan dan lari ke hutan.
Begitu ia berbalik, Korra sudah lenyap.
.
.
Entah Korra serigala hitam atau tidak. Entah Korra calon werewolf atau tidak. Entah Korra adalah sepupunya yang ia cintai atau tidak. Itu tidak penting lagi.
Semua tidak penting lagi.
Apa yang ia saksikan sudah lebih dari cukup. Itu mungkin menyisakan banyak pertanyaan, itu mungkin malah memicu banyak pertanyaan. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Lebih dari apapun yang bisa ia tanggung.
Korra dan Seth...
Gadis yang ia cintai dan Seth...
Imprint atau tidak, keduanya jelas saling mencintai.
Persetan dengan teori Seth. Persetan teori Jacob. Persetan teori Embry. Persetan Sam.
Semua teori tidak membawanya ke mana-mana. Ini sudah final. Ini sudah hasil akhirnya.
Ia sudah kalah. Tidak ada kesempatan lagi.
Persetan Vampire Putty Patrollers. Persetan ancaman di depan mata. Persetan kawanan serigala misterius di teritori Quileute. Persetan Jacob dan Sam, lagi.
Ini lebih parah dari apapun.
Jujur saja sekarang ini ia lebih memilih diserang gerombolan vampir lagi. Mati, betul-betul mati. Mengapa waktu itu ia tak langsung mati saja sewaktu diserang di wilayah Cullen? Mengapa Jacob menemukannya? Mengapa ada bantuan serigala emas itu hingga kawanannya bisa menemukannya? Mengapa mereka menyelamatkannya? Mengapa vampir-vampir itu tak menggigitnya saja sekalian? Mengapa ia harus diberi kesempatan hidup lagi? Mengapa ia tak mati saat itu?
Tak ada bedanya toh langit sudah gulita baginya kini. Mataharinya sudah pergi.
Diculik tak lain tak bukan, Raja Setan Neraka bermuka dua, Seth Clearwater.
Dua bulan lamanya mereka menyembunyikan ini. Dari semua. Kawanan. Bahkan dari Jacob. Jika bukan Brady tak sengaja menangkap potongan-potongan tidak jelas itu. Jika tidak Brady membaginya dengannya, ia takkan pernah tahu. Ia takkan pernah bersiap-siap atas kemungkinan itu. Jika ia tidak menguntit Korra, ia takkan pernah tahu. Kenyataan yang ada. Jika ia tidak menguping, ia tidak akan pernah tahu kalau hubungan mereka ternyata serius. Sejauh itu.
Obsesi Seth ternyata bukan sekadar obsesi. Dan gosip yang mereka tebar ternyata bukan sekadar gosip. Itu berwujud. Seth telah membuatnya berwujud. Apa yang mereka tak tahu dan Seth tahu hingga ia mengambil keputusan itu? Mendekati Korra? Mendekati tersangka serigala hitam, bahkan walau kini ia tak yakin? Bahkan walau tak seorang pun yakin?
Persetan Seth dengan segala yang ia lakukan hingga kini. Tembok mental. Teori tentang gen-bearerdan gen-carrier. Segala keraguan tentang serigala hitam. Itu jelas pengalihan. Ia sengaja mengalihkan perhatian mereka. Agar tak ada yang berpikir, apalagi percaya, bahwa ia meretas jalannya sendiri mendekati Korra.
Ia masih bisa menahannya. Kenyataan hubungan mereka. Ketersembunyian hubungan mereka. Kebohongan yang harus ia tanggung, walau itu pedih.
Tapi kemungkinan imprint? Seth mengimprint gadis yang ia cinta?
Pasti itu yang terjadi jika Korra sampai bisa tahu sebanyak itu. Mengapa Seth menyembunyikannya? Mengapa ia merasa perlu menyembunyikannya?
Karena kalau tidak ada imprint terlibat, itu lebih buruk... Setidaknya imprint tak terhindarkan. Tapi jika tidak, artinya Seth mengkhianati kawanan.
Cole! Yang benar saja! Seth mengkhianati kita?
Cole! Apa itu benar? Seth menyembunyikan hubungannya dengan Korra?
Sialan! Ia lupa anak-anak pastinya sudah masuk shift sore sepulang sekolah. Ben dan Pete, tidak kurang tidak lebih. Pastinya mereka diam selama ini, atau baru masuk selagi ia sibuk dengan pikirannya dan tidak menyadari. Ini bisa gawat untuk kawanan, pikirnya. Dan ia dengan sengaja memasang tembok mental.
Ia bisa mendengar kekalutan dan kekesalan anak-anak, yang kian lama kian pudar, ketika ia memasang barrier itu di pikirannya. Setidaknya untuk hal satu ini ia ingin sendiri. Berpikir dengan kepalanya sendiri. Pikirannya sendiri.
Bahkan ketika dirasanya seseorang dengan kekuatan pikiran lebih besar memaksa mendobrak bentengnya. Jacob.
Collin, tenangkan dirimu atau aku akan terpaksa menurunkan Titah, serunya.
Turunkan saja atau bunuh aku, Alfa... Aku tidak peduli. Pergi dari pikiranku! Kau tak lihat ada tanda 'Jangan Ganggu' besar di tembokku?
Aku tidak ingin melakukan itu, Cole! Kau tidak lihat yang terjadi! Seth bilang ada kepanikan serigala Siaga 1 di Port Angeles.
Suruh Seth makan ucapannya sendiri, Jake! Aku tidak mau dengar apapun yang keluar dari mulut pengkhianat itu!
Collin, tenangkan dirimu dan kita bicarakan ini baik-baik. Aku yakin ada kesalahpahaman...
Salah paham apanya! Kau pastinya juga tidak tahu apa yang si Raja Setan itu sembunyikan! Lebih licin dari lintah, Jake! Kalau kau masih mau mendengarkan Seth, pergi dari bentengku dan tinggalkan aku sendiri!
Dan ia menguatkan temboknya lagi. Kini bahkan Jacob pun takkan sanggup menembusnya.
