THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: All part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer. This story is not closely related to anything in the saga. Maybe some details, including past events, legends, rules of the pack, and personality of few characters, had been changed during the continuity of this story.

.

WARNING: This part is practically safe so you can rated T…

.


.

Empat puluh satu- Pasif (Seth vs Collin)

Monday, January 14, 2013

4:12 AM

.


.

Kepanikan serigala di Port Angeles sama sekali tidak bagus. Orang-orang mulai berkumpul di tepi hutan, sebagian bahkan sudah masuk. Polisi mulai berdatangan, memberi penjagaan pagar betis dan mulai memasang garis polisi agar masyarakat tidak masuk lebih dalam. Tepian jalan-jalan di sekitar Port Angeles jelas bukan pilihan untuk masuk ke hutan saat ini.

Ponsel Seth segera berdering begitu Seth selesai menghubungi Jacob. Seth mengerang. Charlie.

"Ya, Chief?" sapa Seth, berusaha terdengar setenang mungkin.

"Seth, siapa itu yang berubah di kota?" seperti biasa Charlie selalu langsung pada intinya, menuntut pertanggungjawabannya sebagai wakil ketua kawanannya. Dan memang seharusnya, di saat seperti ini.

"Maaf, Chief. Tampaknya itu Collin. Ada sedikit masalah. Kami segera tangani. Jake sudah masuk."

"Jake sudah masuk? Pantas aku tidak bisa menghubunginya."

"Ya. Ehm, Charlie, aku minta tolong."

"Ya?" calon ayah tirinya itu bertanya.

"Aku di Port Angeles. Butuh masuk hutan sekarang juga. Mohon beri jalan."

"Itu akan agak sulit sekarang, Seth... Orang-orang mulai berkumpul di sekitar sana," Charlie kelihatan menghela napas berat. "Divisi Penangkaran Hewan sudah dipanggil."

"Oleh karena itu aku mohon bantuan. Ini salahku. Bagaimanapun aku yang harus menyelesaikan ini."

"Oh..." jeda sebentar sebelum Charlie kembali masuk. "Oke, aku akan membersihkan area masuk di jalan raya 108."

"Terima kasih, Chief. Aku berhutang banyak padamu."

"Sama-sama, Nak."

Jadi inilah pentingnya punya koneksi di kepolisian. Sejak Jacob membagi pengetahuan mengenai kawanan kepada sang kepala polisi, ditambah kini Charlie menjadi calon ayah tirinya, otomatis Charlie sama tahunya dengan para Tetua mengenai hewan-hewan raksasa yang berkeliaran di hutan. Mereka bisa dibilang perpanjangan tangan otoritas resmi, maksudnya kepolisian, dalam menjaga keamanan, sehingga tentu saja beban Charlie berkurang. Tapi ada saat-saat tertentu ketika Kepala Polisi Swan justru direpotkan oleh masalah hewan liar yang lepas kendali karena masalah remaja, misalnya di saat seperti ini.

.


.

Begitu Seth akhirnya mampu mencari hutan yang cukup aman untuknya berubah, ia langsung dihujani pertanyaan dari kawanan.

Tidak sekarang. Kalian berubah balik sekarang juga, biar aku dan Jake tangani ini. Hutan tidak aman. Banyak orang dan polisi, ia membagi ingatannya tentang yang terjadi di Port Angeles dan percakapannya dengan Charlie di telepon.

Mengabaikan dengung protes anggota kawanan yang dipaksa berubah balik di bawah Titah Beta, Seth memacu kakinya masuk lebih dalam. Jacob sedang mengamuk di salah satu sudut hutan, berusaha mendobrak tembok mental Collin untuk memaksanya berubah balik, atau setidaknya mengetahui di mana keberadaan anak itu kini. Ia sama khawatirnya dengan yang lain bahwa sekali lagi Collin terlibat masalah kala tak seorang pun tahu keberadaannya.

Collin Littlesea, angkat tembokmu! Jacob terdengar sangat-sangat murka. Collin pastinya memperkuat tembok mental bodoh itu lagi. Dan Jacob pastinya tak ingin meresikokan sepupunya tambah marah hanya karena ia menurunkan Titah agar Collin mengangkat temboknya.

Atau memang tembok Collin begitu kuat hingga Titah pun tidak mempan.

Jake, biar aku yang ambil alih mulai dari sini, Seth berusaha menenangkan Jacob. Tidak ada artinya membujuk serigala yang marah dengan kekerasan.

Yang tidak ada gunanya itu jika kau yang turun tangan, Seth. Jelas pemicu amarahnya adalah kamu.

Karena itu, Jacob, biar aku yang tangani. Kau tenang dulu.

Jika dobrakan Jacob tidak mempan, maka satu-satunya harapan adalah kemampuan penetrasi Seth.

Sejujurnya Jacob tidak tahu sejak kapan dan bagaimana bisa Seth mengembangkan kemampuan ini. Ketimbang memperlakukan pikiran anggota kawanan laksana selapis tudung yang pekat, Seth melihat pikiran sebagai lapis demi lapis serat-serat penyusun pokok pohon atau tabir demi tabir kain, selalu memiliki celah untuk ditembus. Bahkan tembok mental pun memiliki pori-pori, walau super-kecil, berukuran mikron mungkin, celah yang memungkinkan benang-benang pikirannya menyelusup masuk. Mungkin itu juga alasannya ia memiliki kemampuan membuat tembok mental yang lebih kuat dari siapapun, karena ia bisa mengenali dan memproteksi lapis demi lapis pikirannya sendiri lebih dari yang lain.

Mungkin bergaul dengan para pembaca pikiran sejak kecil membuatnya lebih mampu beradaptasi dan membangun kemampuan yang berguna bagi dirinya sendiri.

.


.

Collin... Seth berusaha menyelusup.

Pergi kau Seth!

Collin langsung memblokir celah masuknya pikiran Seth. Tapi memang Seth selalu begitu keras kepala. Ia mencari celah lagi, menyelusup tak hanya dari satu lubang, tetapi banyak, memenuhi kepala Collin, mengepung dari berbagai arah. Benang demi benang, lapis demi lapis pikiran Seth menyelubungi Collin, menyelusup, menerobos, mengikat, dan mencengkeram tembok itu sedemikian rupa hingga akhirnya tembok itu runtuh.

Collin berusaha membangun temboknya lagi. Tapi sia-sia. Seth sudah ada di dalam.

Itu artinya mengurung pikiranku bersama pikiranmu Collin, tidak apa... Itu lebih baik bagiku.

Brengsek Seth! Aku paling tidak ingin bicara denganmu saat ini.

Aku tahu. Karenanya aku minta maaf. Biarkan aku menjelaskan, dan Seth berusaha memasukkan ingatannya pada kepala Collin, yang langsung ia tendang jauh.

Jangan berani-berani memasukkan memorimu ke kepalaku, Seth!

Cole, kumohon, aku hanya ingin menjelaskan...

Pergi kau Seth, sudah cukup penjelasan bagiku... dan semua bayangan perasaan, memori, praduga Collin membuncah bagai banjir mengalir masuk ke kepala Seth.

Namun Seth tetap tenang. Kau di mana sekarang?

Bukan urusanmu, Seth! Jangan berharap aku mau bilang!

Dan teori itu benar: pada detik ketika kau berpikir kau tidak ingin memikirkan sesuatu, dengan sendirinya bayangan tentang sesuatu itu melayang di kepalamu. Bayangan tentang di mana ia berada kini terlepas dari jaring pikiran yang berusaha dilindunginya, melayang masuk ke kepala Seth. Terlambat ketika Collin menyadari maksud Seth yang sebenarnya. Dan ia bisa membayangkan Seth menyunggingkan senyum simpul yang menyebalkan.

Awwww... Aku tersanjung, Cole... Aku tidak pernah sadar kalau senyumku bisa begitu menawan...

Collin mengerang hebat.

Di dunia ini hanya Korra seorang yang cukup bodoh menganggap senyummu menawan!

Dan ia menyesal bahkan karena pikiran itu melayang di benaknya. Itu membuat dadanya sakit.

Collin, aku minta maaf…

Aku tidak butuh maafmu!

Aku tahu aku menyakitimu…

Kalau kau tahu mengapa kau lakukan?

Kau tahu aku tidak bisa menolak, Collin…

Tidak bisa menolak apanya? Kau bahkan tidak mengimprint dia!

Pikiran Seth sesaat tak terbaca dan itu membuat Collin berang.

Kau tahu? Kau memang brengsek, Seth! Kau ingin aku membuka kepalaku untukmu tapi kau sendiri memasang selimut pikiran?

Maaf, Cole… Tidak sengaja...

Tidak sengaja apanya! Sudah jelas kau sengaja menutupinya!

Cole...

Apa kau sengaja menyembunyikannya dari Jake? Takut ia membunuhmu? Oh, tidak perlu, Seth! Karena aku sendiri yang akan melakukannya!

Cole...

Lagipula kenapa kau punya kemampuan menutupi pikiran sebaik itu? Jelas kau menirunya dari si Nyonya Lintah! Ini tidak adil!

Collin, kumohon...

Dua bulan, Seth! Selama itu kami terus percaya padamu! Apa yang kaurencanakan di belakang kami? Apa kau juga punya rencana konspiratif?

Aku tidak merencanakan apapun, Cole... Demi Tuhan...

Buktikan!

Bagaimana?

Aku butuh kejujuran!

Pikiran Seth kembali tak terbaca. Collin mengerang hebat.

Seth! Jangan berani-beraninya...

Maaf... Aku takut ini terlalu berat bagimu saat ini.

Aku tidak butuh selusin maafmu! Tidak ada yang lebih berat bagiku sekarang, toh semua sudah hancur!

Kalau kau mau berjanji menerimanya dengan kepala dingin, aku akan membagi semua padamu.

Brengsek, Seth! Ini bukan tempatmu untuk mengajukan syarat padaku!

Diam sejenak. Tapi lantas terdengar pikiran Seth lagi, masih terproteksi.

Ya, kau benar, Collin…

.

Dan bentuk pikiran Seth pun berubah. Bukan kalimat-kalimat yang jelas terdengar, menutupi lapis demi lapis pikiran di baliknya, tapi bagai gelombang menerpa Collin. Lapis demi lapis, benang demi benang, serat demi serat. Menerjang, membelit. Memenuhi pikiran Collin. Memenuhi perasaannya sendiri. Memenuhi batinnya, bahkan.

Logika. Praduga. Penyangkalan. Rencana. Hasrat. Keinginan.

Bayangan. Ingatan. Perasaan. Emosi. Pikiran.

Ia melihat semua. Dari sudut pandang Seth.

.

Debaran dan buncahan perasaan Seth ketika anak-anak memulai gosip mereka tentang si serigala hitam. Ingatan dan pertimbangannya sendiri yang saling tarik menarik dan saling berkonfrontrasi tentang Korra.

Kebimbangan, namun juga antusiasme yang tak diduga berkelibat, ketika Korra meneleponnya, mengajaknya bertemu di Port Angeles.

Entah bagaimana kegembiraannya ketika menatap mata Korra, dan perasaan yang tiba-tiba tumbuh di hatinya, ketika gadis itu berceloteh riang pada kencan pertama mereka.

Kekalutannya ketika Jacob mendadak menelepon di tengah kencannya dengan Korra.

Telepon dan sms yang ia bagi dengan gadis itu sejak kencan pertama mereka. Hiburan di tengah kondisinya yang lagi-lagi tidak bisa bergerak. Oasis bagi semua ketegangan tidak jelas selama ini. Perasaannya membuncah bahagia dan tanpa terasa, ia menanti-nanti kesempatan berikutnya.

Antusiasme yang berkembang jauh melebihi yang ia perkirakan, ketika Korra setuju bertemu dengannya lagi di Port Angeles.

Kencan kedua. Tidak jauh berbeda dengan kencan pertama. Hanya makan siang, mengobrol, berjalan-jalan di kota... Dan tangan Korra yang sedikit mengejit merasakan panas tangannya ketika ia memberanikan diri menggenggam tangan gadis itu. Dan Korra mencium pipinya ketika mereka berpisah.

Acara api unggun. Diam-diam ia memperhatikan Korra dari balik api. Kecemburuannya pada Collin, yang berhasil ia sembunyikan di balik tawa riang dan candanya dengan Nessie. Diam-diam ia mengawasi reaksi Korra, berharap gadis itu cemburu. Kekecewaannya melihat Korra tampak tidak peduli. Ketidakmengertiannya melihat skema tatap-menatap antara Nessie dan Korra, segala praduga bahwa itu berhubungan dengan Jacob atau Collin. Kekagetannya melihat reaksi Nessie yang tak diduga, sekaligus sebersit harapan bahwa itu ada hubungannya dengannya.

Kegalauannya mendapati bahwa setelah acara api unggun itu, ia sulit menghubungi Korra.

Namun kemudian Korra menghubunginya duluan. Tak terperi buncahan perasaan dalam hatinya. Dan ia sama sekali tidak tahu dimana ia berada, entah di langit atau bahkan sudah tidak berada di manapun, ketika Korra menarik tubuhnya untuk menciumnya, di bawah pohon di taman di Port Angeles.

Pertemuan mereka yang makin intens. Semua kencan mereka. Makan siang, jalan-jalan di Port Angeles, duduk-duduk di taman, ke taman ria, ke danau. Mendaki untuk melihat matahari terbit dari puncak tebing. Berbaring di atas rumput di malam hari, menatap bintang, dengan mengendap-endap menghindari rute patroli kawanan jika ia sedang libur patroli.

Korra yang menekankan, "Jangan sampai Jacob atau satu pun teman-temanmu tahu hubungan ini, bahkan juga selintas petunjuk apapun."

Kegundahannya kala menyadari bahwa perasaan itu bukan miliknya sendiri. Collin jauh lebih terbuka dengan perasaannya. Ketidakamanan yang ia rasakan mendapati Collin lebih dekat dengan kekasihnya. Hubungan dan ikatan yang mereka bagi mungkin tidak begitu intim, tapi jelas Korra jauh lebih percaya Collin ketimbang dirinya.

Ia berusaha menanyakannya pada Korra. Berusaha tetap tenang. Bahwa jika memang Korra lebih menghendaki Collin ketimbang dirinya, ia akan mundur. Tapi Korra hanya tertawa.

Dan ketika ia tunduk di hadapan pesona Korra. Ketika Korra memilikinya, atau ia memiliki Korra, tidak ada bedanya kini. Buncahan beragam perasaan yang melandanya. Bahagia, ya. Harapan akan masa depan, ya. Tapi Korra sendiri tidak pernah memastikan hubungan mereka. Dan ada ketakutan, kekalutan, kebimbangan menghadapi apa yang mungkin terjadi. Anehnya, ada kepastian yang perlahan tumbuh di hatinya. Bahwa ia akan mengatasi semua. Cintanya akan mengatasi semua, suatu saat nanti.

Dan kebimbangan Jacob mengenai situasi belakangan. Pertimbangan dan logikanya sendiri atas semua hanya berujung pada satu kesimpulan: serigala hitam itu besar kemungkinan bukan Korra. Obsesinya dan gadis yang ia cintai adalah orang yang berbeda. Tapi tak urung itu membuatnya tetap berharap, jika satu keajaiban terjadi, dan serigala hitam itu adalah Korra...

Tapi jika benar begitu, bagaimana ia harus menempatkan diri? Karena itu hanya berarti Korra tidak berada di pihaknya, di kawanan Jake.

Dan bayangan bahwa suatu saat Korra atau dirinya harus memutuskan hubungan menghantuinya sejak saat itu.

Namun tidak ada kesempatan baginya untuk pergi sebelum hubungan itu berkembang lebih dalam lagi. Karena ia merasakan kebutuhan itu: berada dalam kontrol, kuasa Korra. Dan bukan berarti ia keberatan. Ia menyukainya, ketergantungan bahkan. Segala yang ada pada dirinya sudah menyerah, tunduk dengan rela, memberikan semua pada gadis itu. Meski Korra bukan Alfanya.

Kebingungan untuk menempatkan diri berwujud ketika insiden kesalahpahaman Korra terhadap Jacob muncul. Korra bercerita semua padanya, ketakutan dan kecurigaannya. Ia ingin menjelaskan, tapi tidak tahu bagaimana memulainya. Ia hanya berhenti pada upaya meyakinkan Korra bahwa Jacob adalah orang terbaik yang ia kenal, dan meminta Korra berjanji untuk memberi kesempatan pada sang kakak. Bagaimana seharusnya ia meringankan tegangan yang makin intens antara Jacob dan Korra?

Ketakutannya ketika Korra bilang bahwa ayahnya memaksanya dan Jacob ikut kamping. Ia harus merancang seribu cara untuk meyakinkan Jacob dan Collin agar mau membantunya melindungi Korra.

Insiden yang terjadi pada kamping, bagaimana itu menghancurkan jiwanya dari dalam.

Serigala hitam itu akhirnya muncul kembali di sisi si Putih. Si Hitam jelas bertindak sebagai Beta kawanan lain, sedangkan Korra ada di kemah. Korra bukan si Hitam. Dan ia masih merasakan obsesi, ketertarikan yang masih sama dengan si Hitam. Padahal jelas kini si Hitam adalah musuh mereka. Apakah ia telah berkhianat? Pada dua pihak sekaligus? Pada Korra dan pada kawanannya?

Ketika Korra menghilang, ia merasa dunianya hancur. Ia bisa mengerti perasaan Collin juga sama dengannya. Meski secara teknis mereka saingan, ia bisa bertenggang rasa. Berbagai kemungkinan buruk meneror kepalanya, dari pikiran Cole dan dari pikirannya sendiri. Dan ia sama berharapnya dengan Collin, tidak satu pun kemungkinan-kemungkinan itu terjadi. Bahwa Korra akan segera ditemukan...

Kelegaannya ketika Korra kembali, walau sebersit curiga melingkupi ketika tahu Sam mengetahui sesuatu tentang Korra yang ia tidak tahu. Tapi ia diam, tidak bicara pada Korra, Jacob, maupun Sam. Ia juga berusaha mendamaikan gejolak kecemburuan yang melandanya mendapati bahwa Collin mungkin punya hubungan lebih dengan Korra di luar hubungan sahabat dan cinta bertepuk sebelah tangan. Mendapati bahwa dengan sukarela Korra berciuman dengan Collin di depan mata seluruh kawanan, tak peduli keberadaannya. Mendapati bahwa sejak saat itu, syal Collin terus bertengger di leher Korra. Tapi ia berusaha mengabaikan semua. Menjadi pendamping Korra sebisa mungkin. Mendengarkan jika ia bercerita. Menjelaskan sejauh yang ia bisa. Namun perih menggerogotinya tahu bahwa ia tidak bisa menjelaskan lebih. Dan terpaksa harus berbohong...

Dan ketika Korra berhasil membujuknya, menariknya, memaksanya bahkan, untuk datang ke rumahnya ketika Billy tidak ada dan Jacob patroli. Ketika ia dan Korra, untuk kesekian kali…

.

Sudah cukup Seth! Aku tidak mau mendengar apapun lagi! Apalagi melihat!

Maaf, Cole...

Apa kamu harus selalu begitu? Bersikap sok tenang, sok lembut, sok mengalah... Bersikap pasif dan akhirnya memenangkan segalanya?

Itu bukan maksudku, Cole...

Siapa yang mengajarimu, hah? Bahwa menjadi pasif berarti penuh kontrol atas apapun? Apa kau belajar dari para lintah busuk Cullen?

Cole...

Kau serigala berbulu domba!

Tepat ketika kerimbunan semak di sisi Collin tersibak, dan sosok serigala berbulu coklat pasir muncul dari balik keremangan hutan. Collin menggeram, sedikit menyeringai, memamerkan taringnya pada Seth dengan nada mengancam, sebelum akhirnya berbalik dan lari menjauh.

Cole, kumohon... Aku ingin bicara... Biarkan aku menjelaskan!

Kau sudah banyak bicara dari tadi!

Sebagai manusia, kumohon?

Apa pentingnya?

Jangan lari dariku, Collin...

Kau sudah memenuhi pikiranku. Aku tidak perlu melihat wajahmu langsung! Aku muak! Membuatku ingin mengoyak-ngoyakmu!

Kalau begitu lakukan saja, Cole... Lebih baik kau mengkonfrontasiku langsung daripada kau terus kabur dan makin membenciku!

Dalam pengaruh kata-kata itu Collin berbalik, dan pada saat yang sama Seth muncul di hadapannya, di tepi sebuah tebing. Berdiri tenang. Gesturnya pasrah. Mengaum keras, Collin menerjangnya, mendorong Seth dan dirinya jatuh ke jurang yang menganga di bawah.

.


.

Mereka terbang sekian puluh meter jauhnya sebelum akhirnya menghantam tanah, dan berguling-guling sepanjang ngarai curam. Bebatuan tajam menggesek kulit mereka. Jika mereka dalam wujud manusia, mereka pastinya mati saat itu juga.

Tapi tidak. Bebatuan itu hanya sedikit melukai tubuh mereka. Sayatan dalam yang menggores tubuh Seth bukan berasal dari ujung tajam bebatuan, tetapi dari cakaran Collin.

Bahkan ketika gravitasi sudah berhenti menarik mereka terus lebih dalam, dan tubuh mereka berhenti meluncur bagai bola di sudut sempit di dasar jurang itu, hanya kekuatan Collin yang masih terus menghantam Seth, menariknya, membuat mereka terus berguling. Collin sama sekali tidak menahan kekuatannya. Ia tak henti menyerang Seth, bergulat dan mencakar. Tapi tak sekali pun Seth balas menyerang. Atau berusaha mempertahankan diri.

Lawan aku, Seth! teriak Collin, frustasi atas sikap pasif Seth.

Itu hanya akan memberimu tambahan dosis adrenalin, Cole...

Itu benar! Aku ingin kau melawanku!

Seth sama sekali tak bereaksi bahkan ketika taring Collin merobek pundaknya, membuat auman kesakitannya menggaung di dasar jurang.

Brengsek Seth! Tingkatan darahku lebih tinggi darimu. Kau akan melawanku jika aku memerintahkan!

Tidak mempan, Cole... Rankingku masih di atasmu dalam kawanan.

Itu menjadikanmu harus melawanku jika aku menantangmu! Lawan aku! Lawan demi kedudukanmu! Lawan demi Korra!

Seth masih tak bereaksi.

Apa kau begitu ingin mati, Seth?

Seth diam, dan itu membuat amarah Collin sampai puncaknya.

Berdoalah karena aku akan mengembalikanmu ke neraka, hai Raja Setan!

Ia tidak menemukan sesuatu apa pun, keinginan untuk berhenti, ketika ia mengambil ancang-ancang, mengangkat cakarnya tinggi-tinggi, siap menghujamkannya ke jantung Seth. Serigala di depannya memejamkan mata, pasrah.

Aku mencintai Korra...

Kata-kata itu, yang keluar dari Seth, menghentikan serangannya. Mendadak ia merasakan itu. Seluruh keinginannya untuk membunuh Seth hilang lenyap. Hanya dalam satu kalimat itu.

Ia mundur, bangkit dari tubuh hancur Seth.

Kau bilang sendiri kau tidak yakin jika ia serigala hitam atau bukan, Seth!

Ya...

Kau bahkan tidak mengimprint...

Benar…

Dan ia bilang kalau suatu saat kau akan meninggalkannya, dan saat itu terjadi kau takkan berpikir dua kali...

Ia bisa merasakan sedetik ketika jantung Seth berhenti berdetak.

Itu akan terjadi! Detik kau bertemu imprintmu atau si serigala hitam, kau akan meninggalkannya! Pernahkah kau berpikir saat kau mendekati Korra? Mungkin itu alasan mengapa ia tidak pernah memastikan hubungan kalian! Karena ia tak mau mempercayai kesetiaanmu! Kau akan menyakiti Korra!

Segala pikiran tentang imprint dan ketidaksetiaan seorang serigala menerpa Seth. Mengenai kakaknya dan mantan kekasihnya. Tapi ia tahu ia takkan seperti itu. Ia sudah bertekad sejak ia tahu bagaimana perih yang dirasa kakaknya, bahwa ia tidak akan pernah menempuh jalan yang sama. Pada siapapun hatinya tertambat, imprint atau tidak, tidak akan pernah dibiarkannya dirinya sendiri mengkhianati kepercayaan orang yang mencintainya.

Apa kaupikir kau sendiri takkan menyakiti dia? entah mengapa ia menanyakan hal itu.

Pertanyaan itu menghentak Collin. Ya, itu pertanyaan yang tepat sasaran.

Aku takkan mungkin menyakiti Korra! tekan Collin marah.

Kau sendiri tidak mengimprint dia.

Lantas kenapa?

Kedudukanmu sama denganku dalam hal ini...tunjuk Seth yang membuat Collin makin berang.

Lalu apa kaupikir kau akan lebih baik dariku?! teriak Collin.

Tidak. Tapi jika kau merasa bisa lebih baik dariku, aku akan menyerah.

Kau akan menyerah begitu saja?!

Seth tidak menjawab. Di benaknya berputar berjuta kemungkinan. Satu tidak lebih baik dari yang lain.

Collin menerjang Seth lagi, menyurukkannya ke dinding batu berlumut.

Kau takkan meninggalkan Korra! jerit Collin. Dan ia tahu ketika ia meneriakkan itu, ia tidak mengancam. Ia memerintah.

Seth lama terdiam, menatap mata Collin. Merasakan aura intimidasi dan ancaman. Kemarahan. Kecemburuan. Tapi jauh di dalamnya ia merasakan yang lain. Cinta. Hasrat untuk melindungi.

Collin sama dengannya.

Dan ia mengucapkannya, lirih.

Ya, aku takkan meninggalkannya…

Seth menyatakannya. Dan itu cukup bagi Collin.

Kau akan mencintainya, selamanya!

Aku memang sudah mencintainya...

Kau akan berjanji bersamanya, melindunginya seumur hidup!

Aku berjanji…

Kalau kau meninggalkannya, aku akan mencabik-cabikmu sampai tiada bersisa!

Ya, Cole…

Collin melepaskan cakarnya dari pitingannya pada tubuh Seth di dasar jurang itu. Ia mundur beberapa langkah, dan menjatuhkan dirinya ke tanah. Jika ia bisa, mungkin air matanya akan jatuh.

Aku masih mencintainya… bisiknya perih.

Seth berguling bangkit, namun kemudian melipat keempat kakinya dan melandaikan perutnya di tanah di samping Collin, menyundul sisi kepala Collin dengan ujung moncongnya.

Aku tahu… katanya lembut.

Collin menolehkan kepalanya sedikit, menatap mata Seth. Berusaha mencari kejujuran di sana. Tekad dan kesungguhan. Dan ia memang menemukannya. Seth, orang yang paling ia yakini bisa ia percaya.

Seth, Korra menyuruhmu besok menemuinya kan?

Seth tampak bingung, tidak tahu harus menjawab apa.

Tidak apa. Kalau kau bertemu dia, tolong sampaikan bahwa aku sangat mencintainya.

Ia bisa merasa kalau Seth tersenyum. Ya, Cole...

Pedih menguasai hatinya. Tapi ketika ia menyatakan ini, ia tahu ia juga tersenyum. Untuk Korra.

Dan bahwa aku akan melakukan apapun agar ia bahagia… bisiknya lemah.

.


.

catatan:

seperti judulnya, Pasif, adegan perkelahian ini sengaja dibuat untuk menunjukkan kontras sikap Collin dan Seth... setidaknya versi Seth dalam kepala aku...

jadi yang ga suka Seth digambarin begitu, jangan marah ya...

dia punya alasan, ko...

ha-ha-ha :D