THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: All part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer. This story is not closely related to anything in the saga. Maybe some details, including past events, legends, rules of the pack, and personality of few characters, had been changed during the continuity of this story.
.
WARNING: This part is practically safe so you can rated T…
.
.
Empat puluh dua- Induktif (Jurang -1-)
Wednesday, January 16, 2013
5:00 AM
.
.
"Aku memang tidak bisa melawanmu, Seth…" ujar Collin lemah seraya menyurukkan kepalanya di antara kedua kakinya yang terlipat. Mereka berdua sudah berubah, dan Seth meminjamkan jeans panjangnya pada Collin. Ia sendiri terbaring di dasar jurang, luka-luka di sekujur tubuhnya akibat serangan tanpa henti Collin masih membuatnya tidak bisa bergerak.
Seth tersenyum, dengan lemah menunjuk pada dirinya sendiri. "Kau yang menghantamku tanpa ampun."
"Yeah, kau sih martir…" lawannya mendengus. "Tapi jauh lebih menyenangkan berkelahi dengan Jake. Kalau dengannya, aku takkan berhenti hingga salah satu dari kami pingsan atau mati. Denganmu, yah, entah mengapa justru aku yang merasa kalah…"
"Jadi itu alasanmu selalu ribut dengan Jake?" kekeh Seth. "Tidak kau tidak Korra… Kalian darah Black akan habis kalau para kandidat Alfa selalu bertarung satu sama lain, tahu..."
"Siapa bilang itu insting persaingan Alfa? Ini lebih karena karakter Jake saja yang menyebalkan… Buktinya aku tidak masalah dengan Korra..."
"Yeah, dia kan belum menjabat sekarang… Pernah dengar ungkapan 'the enemy of my enemy is my friend'?"
"Hentikan, Seth! Aku mencintai Korra… Tulus! Jangan membuatnya seolah itu merupakan insting konspiratif untuk menggulingkan Jake…"
"Tentu, tentu… Maaf, Cole…"
"Kau sendiri apa?" ia balas melotot pada sosok lemah itu. "Kau juga punya darah Black. Dan kau kan no.2 di kawanan… Harusnya kau yang punya insting persaingan dengan Jake."
"Oh tidak, terima kasih… " tolak Seth sambil tersenyum. "Aku selamanya Beta. Aku tetap di posisiku bahkan jika Jake pergi. Aku akan sukarela berada di bawahmu."
Cole mendengus. "Seolah aku mau… Aku lebih pilih Brady…"
"Wah, kau kejam, Cole… Aku bersumpah selama ini sudah memperlakukanmu dengan baik sejak kau jadi Betaku… Sekarang kau mau mendepakku demi Brady tercinta? Ck, ck...Tak kusangka… Padahal kukira ada hubungan spesial di antara kita. Terus terang aku cemburu..."
Sungguh itu membuat Collin tertawa. Tak menduga Seth mau ikut-ikutan bercanda seperti gengnya.
Walau jurang itu gelap, tak urung Seth menyadari keberadaan tato segel, yang sama seperti yang ia miliki, di dada Collin, tapi dalam ukuran yang lebih kecil. Tanpa sadar ia terkekeh.
"Apa?" tanya Collin dengan mata memicing.
"Tidak… aku cuma berpikir, agak ironis bahwa aku terikat padamu, Cole…"
Kelopak mata Collin langsung membuka sebesar bola golf.
"Jangan teruskan gurauanmu, Seth…"
Seth masih terkekeh. "Aku serius, aku tidak bercanda…"
Collin menggeram kesal, tapi memutuskan untuk mengikuti alur pembicaraan-tidak-jelas ini seperti biasa. Dengan santai, namun dengan suara dibuat-buat ia berkata, "Well, aku tidak menduga Anda menyatakan cinta padaku begitu setelah Anda mengklaim gadis yang kucintai, Mr. Seth Clearwater… Tapi maaf karena aku tidak bisa menerima perasaan Anda."
Ucapan Collin benar-benar membuat Seth tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa hingga mengaduh rusuknya sakit.
"Memangnya kau punya keberatan apa denganku?" tanyanya di sela-sela tawanya.
"Aku punya alasan tidak menginginkanmu. Urusan Korra masih nomor dua. Nomor satu itu sifatmu. Pasivitasmu mengerikan sekali, tahu!" Sekadar menambahkan aksentuasi pada ucapannya, Collin bergidik.
"Yeah… Aku belajar dari Carlisle," aku Seth sambil tertawa lemah. "Pasif berarti kontrol penuh atas kalian makhluk-makhluk emosional. Kau dan Jake, terutama."
"Jadi itu alasanmu sama sekali tidak melawanku barusan?" Collin melotot.
"Memangnya aku bisa menang? Melawan serigala agresif yang marah sepertimu?"
"Huh, memangnya aku tidak tahu kekuatanmu? Cih! Seorang serigala Beta, yang pengalaman tempurnya begitu mengerikan, hingga pernah mengalahkan pemimpin kelompok vampir sendirian waktu usianya 13 tahun, membiarkanku menghajarnya habis-habisan tanpa melawan sekali pun… Ugh!" dengusnya. "Kau meremehkanku, ya? Pastinya kau jauh lebih baik dari itu…"
"Kekuatan kan tidak harus diobral…" ujar Seth tenang. "Lagipula aku tidak sendiri. Edward membantuku. Lagipula dia bukan pemimpin, hanya wakilnya. Dan usiaku sudah 14 tahun waktu itu. Hampir 15."
"Tapi bukan berarti kau bisa diam saja! Bisa jadi aku kehilangan kendali dan membunuhmu!"
"Bisa dibilang menahan diri itu memang keahlianku… Aku percaya kau toh akan langsung kehilangan keinginan untuk membunuhku jika aku tidak melawan. Aku mengenalmu lebih baik dari yang kaukira, Cole. Patut kukatakan menanganimu tidak jauh beda dengan Jake."
Collin menggerutu. "Dasar Beta mengerikan..." gumamnya.
"Mengendalikan sang Alfa adalah tugas seorang Beta, kau tahu?"
"Kalau begitu harusnya aku bisa mengendalikanmu, Seth…"
"Yah, patut kubilang kau Beta gagal, Cole…" Seth berdecak. "Jangan tersinggung," lanjutnya buru-buru, melihat Collin melotot dan mengacungkan tinju, siap memukulnya.
Collin memilih tidak memedulikan ejekan Seth.
"Seth, boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kau akan tetap jadi Beta misalnya… kau tahu… Korra jadi Alfa?"
"Aku sudah jadi Betanya, kok…" entah mengapa Collin benci sekali dengan senyum Seth. "Pada praktiknya…"
"Tidak dalam konteks itu!"
Melihat cengiran Seth dan matanya yang menerawang, Collin tahu Seth sudah memulai imajinasi 'rating-perlu-disensor'-nya bersama sang kekasih. Tanpa berpikir, ia memukul bahu Seth.
"Auch! Hati-hati, Cole! Kau masih mau menyerangku lagi?" secara refleks Seth meringkuk defensif, yang membuatnya makin mengaduh karena gerakannya membuat lukanya yang belum sembuh benar sobek lagi.
Collin tidak peduli dan malah memelototinya. "Stop mimpi di siang bolong, Seth! Aku masih di sini, tahu!"
"Ya tidak perlu memukulku juga!"
"Jadi itu ya yang kaulakukan selama ini kalau kau memasang selimut pikiran, sibuk berimajinasi sendiri?"
"Hah? Kok kau bisa tahu?" Seth tampak terkejut setengah mati hingga Collin menggeram.
Jawaban bagi Seth cukup bogem Collin yang teracung padanya lagi.
Merasakan kecemburuan dan aura membunuh dari pemuda itu, Seth tertawa lemah. "Maaf, Cole… Yah, aku yakin kau pasti bisa jadi Beta Korra yang baik juga…"
"Lebih baik darimu, tahu!"
"Ya… tentu, tentu..." senandung Seth santai.
Collin menggeram. "Jangan merasa menang sekarang, Seth… Pokoknya sekali kulihat kau membuat Korra menangis, pasti langsung kurebut dia darimu. Kali itu aku takkan ragu menghajarmu habis-habisan, mengoyak-ngoyakmu dan mengumpankanmu pada rusa di tanah Cullen."
"Kau akan merusak rantai makanan…" tanggap Seth dengan tenang.
"Kaupikir aku peduli!"
"Protektif dan agresif seperti biasa, Cole… Apa memang semua darah Black begitu?"
"Jangan menyama-nyamakan aku dengan Jake!"
"Tidak. Itu kenyataan."
Collin tahu ia tidak akan menang melawan Seth dalam adu mulut. Hanya akan membuatnya merasa lebih kesal. Jadi dia diam, menerawang, bersandar di samping Seth. Dilihatnya Seth agak meringis merasakan luka di perutnya.
"Masih sakit?" tanyanya.
Tak diduganya ia merasa peduli. Sedikit rasa bersalah menyelinap di hatinya melihat kondisi Seth. Tubuh pemuda itu jelas penuh luka cakaran dan koyakan. Di beberapa bagian tubuhnya ada luka dalam dan daging yang terbuka, jelas bekas hujaman taring Collin. Entah bagian mana tulang-tulangnya yang patah. Tapi jelas sendi tangan dan kakinya agak terlepas. Tempurung lututnya agak miring. Mungkin rusuknya remuk lagi.
Ya, Mungkin memang ia terlalu berlebihan.
"Tenang. Sebentar lagi juga pulih…" sahut Seth tenang.
Entah mengapa ketenangan Seth justru membuat Collin sebal.
"Tunggu sampai kau berhasil keluar dari sini. Mungkin malah kau langsung habis dicincang Jake."
"Mengancam, Cole?"
"Tidak… Cuma memikirkan kemungkinan…"
"Yeah… Mungkin seharusnya aku berharap tadi itu kau membunuhku. Jake takkan berhenti hingga berhasil mengulitiku hidup-hidup karena menyentuh adiknya."
"Kuserahkan padamu untuk mengendalikan agresi sang Alfa. Itu kan memang tugasmu…"
Seth tertawa lagi tahu Collin membalik perkataannya sebelumnya. "Kali ini mungkin itu tugas yang sulit…"
Mau tak mau Collin tertawa, walau suram.
"Apapun rencanamu, pastikan kau tidak mati di tangan Jake. Kawanan akan sedih kalau tidak ada lagi Beta yang bisa mengendalikan ketidakstabilan emosi dan kesimpangsiuran logika Jake."
"Ada Embry…"
"Tetap tidak ada yang sebaik kamu…"
"Wah, kalau aku tidak tahu benar, mungkin aku akan berasumsi kalau kau memang peduli padaku," lagi-lagi Seth menggodanya.
"Yeah…" Collin membuang muka.
Seth entah mengapa merasa bersyukur jurang itu gelap. Karena bagaimanapun sepertinya ia merasakan darah berdesir di wajah Collin ketika ia mengucapkan kata yang lebih serupa gumaman itu. Tanpa sadar ia terkekeh gugup, tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri, lantas merebahkan kepalanya di alas batu ceper. Berusaha mengalihkan perhatiannya pada tautan ranting dan dedaunan yang membayang di atas jurang. Memandang langit yang mengintip di baliknya.
.
"Kau tahu," Collin memulai lagi, kelihatannya ingin kabur dari topik tidak jelas itu. "Soal Korra, kau tidak benar-benar berpikir kalau ia mungkin bukan si serigala idamanmu, kan?"
"Kenapa?"
Seth berusaha menelengkan sedikit kepalanya, mendapatkan gambaran lebih baik atas ekspresi Collin tanpa menggerakkan bahunya terlalu ekstrem. Ia yakin setidaknya Collin berhasil melepaskan tulang lengan atasnya dari sendi waktu mereka berguling-guling tadi. Dalam hati ia bertanya-tanya kapan kemampuan penyembuhannya membuatnya cukup kuat untuk bangkit mencari jalan keluar dari jurang ini. Sudah jelas ia butuh bantuan Adam atau Caleb untuk menempatkan kembali tulang-tulang pada posisinya.
"Karena kalau ia bukan si serigala hitam, kau mungkin akan meninggalkannya, kan?" Collin menyatakan lanjutannya, yang membuat Seth mengejang.
Ia terdiam.
"Seth!"
"Kau masih mengungkit itu lagi? Kau kan sudah mengetahui semua perasaanku…"
"Kau tidak akan melakukan itu pada Korra, Seth!"
"Yeah…" kata yang diucapkan Seth agak menerawang.
"Kau sudah berjanji padaku!"
"Cole…" pemuda itu menatap mata Collin, terlihat bersungguh-sungguh. "Perasaanku pada si serigala hitam, mungkin memang tidak terhapus semua, tapi… Mungkin aku merasa itu hanya sekadar kekaguman. Kau tahu, karena ia menyelamatkanku dan sebagainya. Entahlah… Tapi terhadap Korra, apa yang kurasakan… Itu adalah sebuah ikatan yang nyata."
"Tetap saja…"
Collin tidak mampu menatap mata Seth lagi. Ia mengalihkan perhatiannya ke langit, memandang rembang malam yang menjelang di balik tudung dedaunan yang kini hanya tampak bagai siluet hitam. Hingga kapan mereka harus terjebak di sini? Membicarakan hal-hal yang ujung-ujungnya tetap bergerak pada hal yang menyedihkan?
Sesaat kemudian Seth kembali bersuara.
"Kau tahu, aku menghabiskan banyak waktu berpikir dan menimbang, dan…"
Seth terdiam lagi.
"Apa?" tuntut Collin tak sabar.
"Semua kesimpulan memang mengarah pada ketidakmungkinan Korra adalah serigala hitam. Tapi kau tahu, aku mencoba membalik logika. Berpikir induktif. Dan…"
"Dan apa?"
"Satu-satunya kemungkinan jika Korra memang serigala hitam… Jika kita harus menghubungkan Korra dengan si serigala hitam, adalah…"
Ia berhenti lagi dalam jeda yang panjang, tampak berpikir.
"Apa?" tuntut Collin lagi.
"Kau tahu, Cole…" Seth mencoba menatap mata Collin. "Korra berada lama di mancanegara."
"Lalu?"
"Kawanan serigala asing itu adalah kawanan nomaden. Tidak terikat pada tanah atau suku."
"Ya. Lalu?"
"Mengapa seorang serigala bisa menjadi nomaden?" Seth mengajukan pertanyaan.
Jika Collin tidak tahu Seth, mungkin ia akan kesal akan kuis dadakan itu. Tapi ia Beta Seth. Ia tahu Seth takkan mengajukan pertanyaan tanpa dasar. Dan ia berpikir, mencari kemungkinan.
"Mungkin karena diusir… " ia menimbang lamat-lamat. "Atau kabur. Atau memisahkan diri dari kawanannya, seperti Jacob dulu… Atau…" ia terkesiap. "Dia berubah jauh dari rumah! Yang menyebabkannya tidak punya akses untuk melakukan ikatan yang seharusnya dengan kawanannya sendiri! Dia tidak punya tanah karena tidak terikat dengan sukunya!"
"Persis!"
"Jadi menurutmu Korra sudah berubah sebelum menginjak La Push?" kejar Collin.
"Itu hanya satu hipotesis, Cole…"
"Lalu apa hubungannya dengan kawanan itu?"
"Kau tahu kemungkinan itu. Mereka bisa jadi adalah kawanan campuran, dari berbagai suku."
"Aku tahu itu. Apa hubungannya?"
"Pikir ini, Cole… Jika Korra memang sudah berubah jadi serigala, dan ia berada di luar La Push…"
Collin membelalak. Ia tahu kemana hipotesis Seth menuju.
"Korra sudah bergabung dengan kawanan lain sebelum ia menginjak La Push," ia tidak menduga kemana kesimpulan itu membawanya. "Itu membuat kemungkinannya melakukan ikatan dengan kawanan kita terputus sama sekali."
"Persis."
"Memangnya itu mungkin?" Collin mengernyit.
"Kau sama tidak tahunya denganku tentang sistem mereka. Ini hanya sekadar hipotesis."
"Tapi itu aneh! Mengapa Sam memberi kita daftar calon serigala dengan nama Korra berada paling atas jika ia tahu Korra sudah berubah jadi serigala? Dan menjadi bagian kawanan lain?"
"Mungkin Sam tidak tahu. Entah sesudah Korra menginjak La Push dia tahu atau tidak, yang jelas awalnya dia tidak tahu. Daftar itu hanya menunjukkan siapa saja anggota suku yang berpotensi. Ia tidak menunjukkan jika Korra sudah berubah atau belum, atau ia sudah dimiliki kawanan lain. Kalau kita mengabaikan unsur 'Sam', semua jadi lebih mudah."
Collin mengerjap.
"Korra tahu banyak tentang kita, Cole…" ujar Seth lagi. "Ia bahkan tahu warna bulumu."
"Buluku?"
"Ia memberimu nickname 'Reddish Brown' di contact list ponselnya."
Apa Seth bercanda?
"Dan kau? Apa ia memberimu nama 'Sandy'?" goda Collin.
"Ia menyebutku 'Sethie'… Bagaimanapun itu tetap terdengar selafal dengan 'Sandy'…"
Sudah diduganya Collin akan tertawa.
"Tidak logis? Aku juga berpikir itu terlalu memaksa…" ujar Seth pelan.
Diam sesaat sebelum mendadak Collin menjentikkan jari. Tampak bersemangat.
"Tidak, tidak, Seth… Itu masuk akal!" seru Collin. "Itu menjelaskan banyak hal!"
Seth memandangnya bingung.
"Korra sangat kuat. Ia menjatuhkan Noah. Dan Josh. Dan di hutan, ia bahkan menjatuhkan Brady."
"Brady jatuh ke dalam jebakan, Cole…"
"Tapi itu jebakan Korra! Dan waktu itu juga aku berpikir. Mengapa Jake sampai terpaksa menarik kita mundur?"
"Karena ia takut kita jatuh dalam jebakan Korra…"
"Persis!" Collin menjentikkan jari lagi.
Seth mulai kembali mempertimbangkan hipotesisnya barusan, yang tadinya ia pikir tidak masuk akal.
"Intinya Korra memaksa Jacob untuk menarik kita mundur…" gumam Seth.
"Ya. Karena ia merasa ancaman tidak datang dari luar, tapi dari dalam!"
"Kawanan serigala itu merencanakan ini. Mereka ingin kita menghentikan patroli, agar mereka bisa menghubungi Jacob. Agar Jacob bisa berubah untuk menghubungi kita dan si Alfa putih itu bisa mengadakan kontak dengan Jake…" Seth menimbang. "Oh, Collin, kau jenius!"
"Sungguh pujian tertinggi kalimat itu datang darimu, Seth!"
"Jangan melayang, tapi aku memang selalu menganggapmu jenius…"
Collin tersenyum sesaat, lalu ia melanjutkan. "Kau lihat ini dari pikiran Jacob. Saat Korra menginspeksi jejak Brady. Ia melihat si serigala emas. Mereka bertatapan lama. Jacob mengira Korra berdiri diam karena itu merupakan reaksi alami, entah shock atau menganggap lebih aman diam ketimbang kabur, karena mungkin si serigala bisa mengejarnya. Tapi kenyataannya tidak begitu."
Seth menyadari kemana pikiran Collin menuju. "Korra melakukan kontak dengan kawanannya…"
"Ya. Korra mungkin bisa melakukan telepati dalam standar yang lebih tinggi dari kita. Mungkin ia memang bisa melakukan kontak bahkan dalam wujud manusia."
"Jadi menurutmu ia mendapat perintah untuk memaksa Jake menarik mundur kita?"
"Ya."
Seth masih tampak ragu.
"Seth, pikirkan ini. Jika Korra adalah bagian dari kawanan asing, hanya ada dua kemungkinan. Ia adalah si hitam atau si Alfa putih. Dan kau tahu satu kemungkinan sudah gugur sejak awal."
Seth mengangguk. Memang benar. Ketika bicara dengan sang Alfa, Korra sedang bersama Billy di sungai. Bahkan Jacob terus mengawasi keberadaan Korra, tidak pernah lepas dari konsentrasinya mendengarkan apapun yang terjadi di sana. Seth ikut mendengarkan dari kepala Jacob, yang berarti saksinya ada dua. Lagipula, suara Alfa putih yang didengarnya jelas bukan suara Korra. Lebih berat, lebih berwibawa.
"Tapi Collin… Kalau kita mengasumsikan itu, secara otomatis kita mengasumsikan Korra sudah tahu bahwa Jacob adalah Alfa dan lain sebagainya..."
"Kalau dia tahu soal aku dan kau, Seth, pastinya dia tahu soal kawanan."
"Kalau begitu mengapa ia selalu bersikeras dengan segala tuduhannya seolah-olah ia tidak tahu menahu tentang dunia mistis Quileute?"
"Tapi di sisi lain dia memang tahu, Seth! Kau tahu itu!" Collin bersikukuh. Dan memang benar, bukan sekali ia mendapati Korra mencoba menyentil urusan kawanan di mukanya.
Mereka kembali terdiam.
"Seth, bisa jadi tuduhan itu kesengajaan!" Collin lagi-lagi menjentikkan jari. " Jika begitu, maka itu menjelaskan banyak hal! Termasuk upaya Korra yang aneh untuk membuat marah Jake dan membuat Jake didetensi selama seminggu."
"Maksudmu?" Seth agak tidak bisa menangkap arah pembicaraan Collin.
"Kau tidak merasakan ini? Semua fitnah yang dibuat Korra, mungkin memiliki tujuan. Kau tahu, setelah Jacob tidak patroli, aktivitas serigala di La Push meningkat. Alfa adalah medium antarkawanan. Yang berarti jika pun mereka menarik Alfa mereka masuk saat itu, mereka tidak akan bisa berhubungan dengan kita karena ketiadaan Jake."
Ucapan Collin membuat Seth terkesiap. "Maksudmu mereka merencanakan semua hal itu? Jebakan dan lain sebagainya? Masa absennya Jake mereka gunakan untuk mempersiapkan semua. Semua plot yang tujuannya adalah untuk mengadakan kontak dengan Jake…"
"Ya. Kau pasti merasa aneh. Brady bisa jatuh dalam jebakan yang jelas tidak mungkin dibuat Korra dalam waktu sebentar."
"Tapi kalau begitu, Cole, untuk apa? Kontak bisa mudah dilakukan kapan saja, tidak perlu mengorbankan salah satu serigala segala… Bisa jadi memang Brady tidak sengaja jatuh ke dalam jebakan yang dipasang orang lain. Pemburu, misalnya. Dan kamping di situ bahkan bukan ide Korra, itu ide Billy. Jika kau berasumsi Korra sudah mengetahui hal ini untuk mempersiapkan sesuatu, artinya kau membuka kemungkinan bahwa Billy sengaja ambil bagian dalam fitnah Korra, agar Dewan Suku bisa menghukum Jake. Atau setidaknya sengaja memancing amarah Jake agar bisa mendetensinya. Itu berarti Billy, atau bahkan para Tetua, berkomplot dengan para serigala asing. Dan jika begitu, untuk apa?"
"Entahlah… aku juga tidak mengerti bagian itu…" ujar Collin menerawang.
"Tapi aku setuju satu hal," ucap Seth pasti. "Entah itu disengaja atau tidak, memang bisa jadi mereka menggunakan masa absennya Jake untuk sesuatu…"
"Ya. Mungkin menyelidiki sesuatu yang kita tidak ketahui…"
Mereka kembali diam.
"Tapi kalau memang Korra serigala hitam, itu bisa menjelaskan banyak hal," optimisme dan semangat Collin yang meluap-luap kembali muncul. Selalu begitu tiap ia menelurkan kemungkinan-kemungkinan baru. Seth selalu merasa ia dan Collin klop dalam urusan ini. "Kemunculan serigala di hutan sewaktu Jake diserang, setelah sebelumnya Korra juga muncul di tempat yang sama. Korra yang menghilang pada saat serangan di tempat kamping. Kita tahu si serigala hitam adalah Beta si Alfa putih. Ia juga ada pada pertemuan di pinggir sungai."
"Ya, " sambut Seth. "Mungkin Korra memang menyelinap keluar perkemahan, karena jelas kita tidak menjaga Zona Radius 1 km sesaat sebelum pertemuan itu."
"Dan setelahnya mungkin ia tidak bisa kembali, karena kita menyadari ketiadaannya pada saat serangan, dan terlalu aneh jika ia mendadak muncul di tenda setelahnya. Jadi ia berpura-pura kabur ketakutan melihat serigala, dan kebetulan bertemu Sam," sambung Collin.
Seth mengangguk.
"Dan kemampuan indera maupun fisik Korra yang di atas rata-rata manusia biasa..." Collin mengingat-ingat berbagai kesempatan ketika ia melihat Korra dalam kepala Jake maupun melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri.
"Korra tahu soal jadwal kawanan. Pastinya mereka menyelidiki, mengawasi..."
"Korra mengajakmu bertemu di Port Angeles sesaat sebelum penyeranganmu yang kedua…" ucap Collin tanpa berpikir.
"Dan Korra mendekatiku… Mungkin itu karena ia ingin mengorek sesuatu tentang kawanan…" imbuh Seth, dan sesaat kata-katanya tampak muram.
Collin tidak mungkin tidak menyadari perubahan dalam intonasi bicara Seth. "Oh, Seth… Maafkan aku… aku tidak bermaksud..."
Tapi Seth tersenyum. "Tidak apa-apa. Jikapun memang begitu, tidak apa-apa. Aku mencintai Korra tanpa mempertimbangkan jika ia benar-benar mencintaiku atau memang hanya memanfaatkanku. Toh ia memang tidak pernah benar-benar memastikan hubungan kami. Buatku itu tidak masalah."
Mereka terdiam sesaat dalam jeda yang panjang, sebelum akhirnya Collin memecah kebekuan. "Serigala hitam itu selalu ada saat kau diserang. Aku yakin ia memperhatikanmu, Seth… Dan kurasa walau entah apa niat awalnya, yang jelas memang Korra menyukaimu juga… Aku melihatnya. Aku mengawasi kalian waktu di taman."
Seth tersenyum. "Terima kasih, Cole. Aku tahu itu pasti berat bagimu."
"Tidak apa-apa. Aku cukup bahagia karena tahu kau yang bersamanya. Aku bisa percaya padamu."
"Terima kasih, Cole…"
.
Kebekuan dan kekikukan melanda sesudahnya. Seth tahu Collin masih merasa berat untuk sepenuh hati menerima hubungannya dengan Korra. Dan memang ia tidak mengharapkan lebih. Dan di sana, bahkan di balik kemungkinan bahwa Korra hanya memanfaatkan Seth, Collin harus menerima bahwa bagaimanapun sebenarnya perasaan gadis yang ia cintai, Seth tidak berpaling. Kemungkinan itu berat bagi keduanya.
"Lalu Sam?" tanya Collin, berusaha mengangkat topik yang kali ini tidak berpusat pada Korra. Apa hubungan Sam dengan semua ini? Apa kau punya teori?"
"Tidak selain teori yang dikemukakan Jacob. Bahwa mungkin Sam ingin menghubungi kawanan serigala lain itu, karenanya ia membutuhkan kekuasaan Alfa."
Collin membelalak. "Sam membutuhkan kekuasaan Alfa?"
Seth baru sadar bahwa bagian ini adalah hal yang seharusnya ia sembunyikan.
"Apa Sam menjadi Alfa lagi, Seth? Terpisah dari kawanan?"
Entah mengapa bayangan kejadian lampau menerpa Collin kembali. Sewaktu Jacob tanpa sadar meneriakinya untuk masuk saja ke kawanan Sam.
"Maaf Cole, seharusnya aku tidak memberitahu ini…" Seth akhirnya berujar lirih, seakan merasa bersalah. "Kami mengetahuinya sudah lama. Embry dan Jake memergoki Sam di hutan, dalam wujud serigala."
"Tapi Sam tidak mengkhianati kawanan, kan?"
"Kita semua kenal Sam. Tentu saja ia tidak mengkhianati suku. Ia melakukannya karena ia harus."
"Tapi jika Jake menganggapnya berkhianat dengan menjadi Alfa di luar sepengetahuannya… Kemungkinan terburuknya, Jake mungkin akan..." Collin terkesiap, menelan ludah. Ia bahkan tidak ingin memikirkan hal ini.
Jacob mungkin akan mengusir Sam.
"Jake percaya Sam, aku yakin. Jake akan mengerti," ucap Seth. Namun ia sendiri tampak tidak yakin.
"Jadi menurutmu itu alasan Sam berbohong? Karena ia ingin menyelidiki diam-diam tentang Korra?" Ia tahu karena itu satu-satunya dasar yang menggugurkan semua hipotesis mengenai hubungan antara serigala hitam dan Korra. Kesaksian Sam, jika dinyatakan tidak valid, akan langsung menggiring semua hipotesis itu pada kesimpulan final.
"Mungkin memang Sam memiliki rencana cadangan… Selain batalion werewolf."
"Rencana apa?"
"Entahlah…"
Jeda sebentar sebelum Collin kembali mengajukan pertanyaan lain. "Kalau memang Korra anggota kawanan lain, kau ada perkiraan siapa kedua anggota yang lain?"
"Tentu, Cole. Aku yakin kau kenal."
"Sahabat Korra yang selalu bersama Korra… Meg Colloughby dan Ryan Watson."
Seth tidak bereaksi.
"Tapi Meg dan Ryan bahkan tidak ada di daftar Sam!" bantah Collin kemudian, menggugurkan kemungkinannya sendiri.
"Tidak, Cole, kurasa memang bukan. Aku yakin kedua serigala lain bukan orang Quileute."
"Kalau begitu…" Collin melebarkan mata. "Tidak mungkin!"
"Ya. Anak-anak pertukaran pelajar…"
"Kuroi dan Phat!"
Seth mengangguk.
"Tapi, tapi…" Collin tidak bisa tidak mengungkapkan keraguan di dasar hatinya. "Mereka sama sekali tidak punya potongan menjadi serigala! Kuroi mungkin jago beladiri, tapi fisiknya sangat lemah. Tidak mungkin dia Alfa. Suaranya juga jauh berbeda. Dan Phat… Oke, dia mungkin kelihatan lebih sehat, tapi dia jelas tidak berotot seperti kita."
"Kalau begitu aku tidak punya tebakan lain."
"Mungkin malah mereka orang yang sama sekali tidak kita kenal. Banyak orang di La Push yang bukan berasal dari sini. Mungkin bahkan mereka tidak tinggal di La Push. Mungkin di Port Angeles, jelas Korra bulak balik ke sana. Mungkin ia punya alasan lain ke sana selain kencan denganmu. Mungkin juga di Forks. Mereka, bagaimanapun, serigala nomad."
Seth tampak serius mempertimbangkan ucapan Collin. "Ya, Cole… Itu juga mungkin…" ujarnya kemudian.
Collin menghela napas, kembali menyandarkan tubuhnya di dinding jurang. "Artinya sama saja kita menemui jalan buntu... "
"Tidak, Cole… Semua asumsi dan hipotesis selalu membawa pada sesuatu."
"Ya. Setidaknya kita tahu bahwa kemungkinan Korra adalah serigala hitam memang ada."
Seth tersenyum, senyum paling bahagia di hari yang berat itu.
"Terima kasih sekali lagi, Cole…"
.
.
catatan:
gimana teori Seth dan Collin? Masuk akal?
Atau ada kemungkinan lain? sesuatu yang belum mereka pertimbangkan?
hmmmm...
