THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: All part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer. This story is not closely related to anything in the saga. Maybe some details, including past events, legends, rules of the pack, and personality of few characters, had been changed during the continuity of this story.

.

WARNING: Some part may contain blatant violence so to be safe, you can rate as T+ or M.

.


.

Empat puluh tiga- Liang Kelinci (Jurang -2)

Wednesday, January 30, 2013

6:11 AM

.


.

"Jadi bagaimana kita bisa keluar dari sini?" tanya Collin kemudian, bangkit dan menengadah memandang bibir jurang. "Kapan luka-lukamu sembuh? Kita harus memanjat..."

Seth menatapnya seakan Collin benar-benar hilang akal. "Tidak seperti dirimu, Cole... Hanya memikirkan satu saja jalan keluar?"

Pemuda itu mengernyit ketika balas memandangnya, berpikir.

"Ah, ya, benar!" seru Collin riang. "Kita harus mencari jalan memutar! Jurang ini dipenuhi tumbuhan. Pasti tebing ini mengarah ke tempat landai di suatu tempat... Dan tidak salah lagi pasti Jake sedang berusaha mencari kita sekarang ini."

Seth mengangguk.

"Tapi kau harus hati-hati untuk tidak mendekati Forks atau Port Angeles... Kau tahu ada Kepanikan Serigala Siaga 1 di sana. Jangan sampai kau tertembak senapan bius," nasehatnya.

"Yang benar saja, Seth! Memangnya itu mempan?"

"Kau tidak boleh meremehkan pemburu, Cole..." Seth mengingatkan Beta-nya untuk tidak jumawa. "Ingat apa yang terjadi pada Brady!"

Ya. Collin memang sudah lupa. Rasanya sudah lama sekali itu terjadi, walau nyatanya baru seminggu lebih. Brady bahkan sebentar lagi juga akan kembali ke sekolah. Caleb sudah bilang, sekitar dua-tiga hari ini Brady sudah bisa kembali bertugas.

"Oke. Aku pergi sekarang. Kau sudah bisa jalan, Seth?"

Seth menggeleng, menunjuk pergelangan kakinya. Tulang itu terlepas dari sendi. Dan baik tulang betis maupun telapak kaki Seth bengkok dengan wujud yang aneh.

"Jaringannya sudah saling mengikat lagi tapi posisinya salah. Aku hanya akan menghambatmu," katanya.

Dengan sangat terpaksa Collin meninggalkannya. Itu sama sekali tak bisa dihindari. Seth sama sekali buta soal orthopaedi. Terakhir kali ia mencoba membetulkan kembali posisi tulang-tulangnya, ia berubah dalam keadaan bentuk tulang-tulang kaki yang sangat aneh hingga tak bisa bergerak tanpa kesakitan. Dan baik Adam maupun Caleb kesulitan sekali mengembalikan posisi tulang-tulangnya ke bentuk semula karena begitu ia berubah balik, seluruh sendi engselnya lepas.

.


.

Menjauh dari tempat itu, Collin agak-agak terhanyut dalam pikirannya soal kecurigaan mereka tentang Korra hingga lupa berubah. Namun ketika ia sadar, sekitar 500 meter dari tempatnya meninggalkan Seth, ia mendapati sebuah celah sempit di antara dua dinding cadas menjulang tinggi.

Celah itu bukan hanya tidak mungkin bisa dimasuki serigala, dimasuki manusia pun pas-pasan. Akhirnya Collin terpaksa harus menahan keinginannya untuk berubah sementara melintasi celah sempit itu.

Jujur saja, melalui celah seperti ini membuat insting serigalanya merasa tidak nyaman. Serigala manapun, jadi-jadian atau bukan, tidak pernah suka rela melewati jalan sempit tertutup yang membuat inderanya tak bisa menilai sekeliling dengan leluasa. Rasanya seperti tidak hanya seluruh panca inderamu terikat, instingmu juga menumpul. Ada bagian dari dirinya yang terus berteriak, tidak diragukan lagi naluri defensifnya, untuk segera pergi karena jelas tempat seperti itu berbahaya baginya. Ia bisa mudah diserang tanpa kesempatan membalas atau kabur. Pendek kata jadi mangsa empuk bagi apapun. Kepalamu berdenging oleh pantulan getaran udara yang bergaung di sekitarmu. Dan kemampuan pendengaran ultra-sensorik membuat segalanya lebih parah.

Ia berusaha tidak memedulikan semua itu dan terus berjalan. Secepat yang ia bisa. Sesekali memanjat kala jalan terhalang cadas atau berusaha memampatkan diri setipis mungkin kala jalan menyempit.

Dengan kondisinya saat ini, Seth mungkin takkan bisa melalui rute ini, pikir Collin. Setelah sekitar 500 meter, mungkin lebih, ia melalui jalan itu, ia tak kunjung jua menemukan tanda-tanda jalan itu membaik. Mungkin sebaiknya ia kembali dan mencari rute lain.

Namun baru saja niat itu hinggap di kepalanya, tiba-tiba ia mencium bau sesuatu. Bukan vampir. Sama sekali bukan vampir. Ini bau lain. Bau manusia bercampur dengan bau tanah lembab, bebatuan, pohon basah, berselimut bau khas karnivora. Bau serigala, tepatnya. Dan itu jelas membuatnya bingung. Seperti tadi ia sebut dalam kepalanya, tidak ada serigala yang mau senang hati menginjakkan kaki di tempat seperti itu. Apalagi serigala sungguhan.

Meski ya, untuk serigala jadi-jadian, memang ada beberapa insting alami yang bisa dilanggar jika bertabrakan dengan pertimbangan akal. Atau keterpaksaan.

Seperti yang ia lakukan saat ini.

Mati-matian ia berusaha melawan instingnya yang berusaha memberi peringatan, menyuruhnya segera hengkang. Pastinya itu butuh dari sekadar determinasi, karena itu berarti melepaskan diri dari segala yang ia berusaha latih bertahun-tahun ini.

Jantungnya berdetak lebih keras dan cepat dari biasanya, yang memang sudah cepat. Aliran darahnya menderas dan adrenalin memburu. Telinganya berdenging memekakkan. Berbagai suara yang ia sadari bukan karena koneksi intra-kawanan, melainkan suara alam bawah sadar, super-ego, berteriak panik. Ini sudah jelas peringatan bahaya.

Ia berusaha menarik napas. Membiarkan egonya mengontrol.

Tapi napas pun makin sulit ia lakukan kini. Bukan cuma karena fisiknya bereaksi terhadap naluri dan psikis-nya. Ini lebih karena memang materi yang ia butuhkan untuk bernapas jauh lebih sulit didapat di sini. Jalan kecil itu menurun perlahan, yang artinya ia makin turun ke perut bumi. Tekanan meningkat, oksigen menipis. Hukum standar. Dan kini cadas yang semula mengapit dinding kiri dan kanannya mulai menyatu di atas kepalanya. Ia sudah memasuki semacam gua. Lorong, terowongan panjang yang hanya muat satu orang. Dan terowongan itu makin sempit, hingga ia terpaksa merunduk, berlutut, beringsut, hingga merayap melewatinya.

Ia seakan memasuki liang kelinci. Satu-satunya cara keluar adalah melaluinya.

Tentu saja ada jalan lain: merayap mundur kembali ke jalan ia masuk. Semoga tidak ada batu besar atau semacamnya memblokade titik itu. Karena ia jelas tak mau mati konyol bagai cacing kehabisan oksigen di sini karena alasan yang bahkan tidak ada.

Yup, tidak ada sama sekali.

Apa itu instingnya menyuruhnya masuk? Jelas tidak, karena instingnya tegas menyuruhnya keluar.

Bahkan kini pertimbangan logisnya pun meneriakkan kata-kata yang sama.

Satu-satunya penuntunnya kini hanya bau itu. Bau serigala. Makin ia masuk terasa makin kuat.

Apakah rasa penasaran yang membuatnya mau bunuh diri?

Bagaimana kalau itu jebakan, Collin? bisik satu suara dalam batinnya.

Lagi-lagi ia mengabaikan, masuk lebih dalam. Jika ia menemui jalan buntu, ia tinggal mundur, demikian sisi lain batinnya—yang berupaya mencari pembenaran—mengumandangkan optimisme palsu.

Ya, karena siapa yang berani menjamin jalan masuk tadi aman? Jika ini jebakan, bisa jadi seseorang atau sesuatu telah menutupi lubang itu. Bahkan bisa jadi karena sebab alami, gempa bumi atau runtuhnya atap gua seperti biasa terjadi. Boleh jadi justru kini jalan di belakangnya sudah dipenuhi musuh-musuhnya—entah vampir atau werewolf—yang menyadari ada mangsa bodoh masuk dengan senang hati ke jebakan tolol mereka.

.

Bau itu makin kuat ketika ia memasuki semacam persimpangan. Ruang bagi tubuhnya agak besar di situ, dan ia melihat ada tiga lorong lain, kecil dan hanya muat satu tubuh. Berbagai bau lain menyeruak, berasal dari lorong-lorong itu. Dan dari salah satu bau itu, ia mengenali, bau Korra...

Oke, ini aneh. Ini benar-benar aneh.

Bau Korra bercampur dengan bau serigala.

Bagus sekali. Seth akan suka ini, ia membatin miris. Ini sudah hampir konfirmasi total!

Ia mengendus lagi. Ya, bahkan bau-bau lain pun agaknya familiar. Pernah ia cium sebelumnya. Walau ia tidak bisa mengenali bau itu.

Sarang kawanan lain. Kawanan dengan Korra sebagai salah satu anggotanya, ia memunculkan sebuah praduga. Prematur, mungkin. Tapi seberapapun mentahnya, praduga itu tetap sebuah hipotesis. Dan hipotesis butuh pembuktian.

Ia memutuskan untuk masuk ke salah satu lorong. Yang paling kuat diselimuti bau Korra.

Lorong itu bahkan lebih kecil daripada lorong yang baru ia lewati. Tentu saja, jika lorong ini memang diperuntukkan untuk dilewati Korra, toh ia tidak butuh ruang besar. Tubuhnya kecil, standar anak perempuan usia 16 tahun. Jika memang Korra serigala, ia bersyukur serigala betina tidak mengalami perubahan fisik yang melibatkan kemunculan otot seperti para jantan. Ia tidak bisa membayangkan Korra tiba-tiba tampak bak binaragawati dengan otot-otot melingkar nan liat.

Ha-ha...

Sempat-sempatnya pikirannya melayang ke mana-mana di saat seperti ini. Karena yang berikutnya tampak di hadapannya lebih mencengangkan.

Lorong itu akhirnya berubah menjadi semacam ruang kecil berdinding cadas. Collin turun dari lubang yang ternyata berada sekitar semeter dari permukaan tanah, atau tepatnya batu, di ruang serupa relung gua itu. Melangkah hati-hati. Ruangan itu begitu gelap hingga sel-sel kerucut matanya pun butuh waktu lebih lama ketimbang biasanya untuk menyesuaikan diri. Dan ketika akhirnya ia bisa membedakan satu bentuk dari bentuk lain, ia bisa melihat.

Ruangan itu mungkin hanya seluas sembilan meter persegi. Dinding cadas melingkupinya, sehingga bentuk ruangan itu tak mungkin kotak sempurna. Permukaannya dinding itu tidak rata, sebagian tajam, dan lembab. Sebagian malah basah. Telinganya menangkap tetesan air dari ujung stalaktit—atau stalagmit, ia tak begitu tahu bedanya—yang menggantung di langit-langit. Dan jelas ada banyak lubang di dinding, mungkin semacam lorong yang menghubungkan ke tempat-tempat lain.

Ia bisa mencium bau lain. Tak kurang dari bau tiga atau empat sosok lain selain bau Korra. Dan yang amat membuatnya terperanjat sekaligus ngeri, bau salah satunya, meski samar, tercium seperti bau manis vampir.

Apa itu berarti ada vampir habis datang ke sini, mengendus seperti dirinya, dan mendapati tempat ini sebagai semacam markas serigala?

Ya, itu pasti markas. Tidak salah lagi. Apa lagi kemungkinan lain? Lebih tepatnya lagi markas kawanan si Alfa Putih itu.

Dan keberadaan bau Korra di antara bau-bau lain di tempat itu hanya konfirmasi satu hal. Hipotesisnya dan Seth benar.

Ia mengelilingi ruangan itu, berusaha mencari bukti lain. Di pojokan ia menangkap bau samar sesuatu. Bau yang campur aduk. Dari sebuah tumpukan di dalam semacam kotak kayu.

Ia merunduk untuk mengetahui tumpukan apa itu. Dan apa yang ia temukan sungguh membuatnya hampir mati di tempat.

Tumpukan itu adalah tumpukan berbagai barang sembarang. Jaket, jam tangan, celana, tali kulit yang sepertinya kalung, T shirt, bahkan beberapa cabikan pakaian tidak berbentuk. Baunya bermacam-macam. Tapi tidak acak.

Tidak acak sama sekali.

Collin mengendus, berusaha mengidentifikasi. Dan ya, ia mengenali betul bau-bau itu. Seratus persen yakin.

Tumpukan itu terdiri atas celana dan jaket Jacob, kaos polo Seth, tali kalung kulit dengan ujung liontin kerang milik Embry yang sudah putus, gelang makrame Quil, T-shirt compang camping Brady, kemeja sobek-sobek Ben, wrist-band Pete, bandana Josh, secarik sobekan baju Clark, sebelah sepatu Harry, jam tangan Adam, sapu tangan Caleb... Pendek kata barang-barang milik kawanan, kebanyakan sudah hancur, tanda siapapun yang mengambilnya, memperolehnya dari lantai hutan setelah kawanan lagi-lagi kehilangan kendali dan berubah. Hanya ada tiga helaiyang utuh. Dua helai pakaian Jacob dan satu helai pakaian Seth. Kalau memang Korra mencurinya, ia bisa dengan mudah mengambil dari lemari kakak atau pacarnya. Anggota kawanan takkan peduli jika ada pakaiannya yang hilang. Mereka akan menganggapnya hancur dalam salah satu kesempatan ketika mereka tak sengaja berubah. Yang paling mengagetkan, di antaranya ia menemukan sebuah jaket tanpa lengan. Jaket yang sangat kental dengan bau Sam.

Sam? Apa kawanan ini juga menyelidiki Sam?

Ia masih mencari-cari satu item yang tidak ada. Yang berhubungan dengan dirinya.

Matanya menangkap satu bentuk mencuat dari balik kotak itu. Seperti sesuatu yang terjepit. Ia menarik kotak itu, dan menemukan seonggok kain lain. Ia mengangkatnya, mengenalinya sebagai sebuah jaket panjang. Jaket yang tak hanya dari baunya, tapi juga dari modelnya, ia kenali sebagai jaket Korra.

Apa maksudnya benda ini ada di sini? Apakah memang Korra meninggalkannya, atau memang ia merupakan salah satu sasaran juga?

Tidak. Korra tidak mungkin sasaran. Baunya ada di mana-mana di ruangan ini... Ia jelas salah satu dari mereka.

Kecuali, jika Korra juga sepertinya. Menyelidiki mereka.

Kalau begitu, Korra bagian dari kawanan siapa?

Kemungkinan terakhir itu hampir mustahil. Yang termudah adalah menganggap Korra bagian dari mereka, dan meninggalkan jaketnya di sini.

Ia masih bingung ketika menemukan saku jaket itu berat, seakan menyimpan sesuatu. Ia mengibaskannya, dan sesuatu jatuh membentur dasar kotak kayu tempat penyimpanan tumpukan itu. Terdengar suara benda pecah. Collin membungkuk, memungutnya. Dan ia menemukan tak lain tak bukan, bros bunga matahari yang ia berikan pada Korra.

Kenyataan bahwa kawanan lain menyimpan barang-barang mereka, yang jelas untuk keperluan identifikasi bau kawanannya, bukan hal utama yang mengguncangnya. Ia merasa itu wajar. Tapi ada hal lain.

Perasaan kecewa, kesal, menumpuk begitu cepat di hatinya. Perasaan marah dan terkhianati. Sedih karena dicampakkan.

Ia membuat sendiri bros itu. Dari tanah liat. Memilin tiap bagiannya. Membakarnya di kelas keramik, sendiri. Membuat banyak sekali desain untuk kemudian ia pilih satu yang paling sempurna. Mengecat dan memberi glasir. Menambahkan detail rumit...

Dan dalam tiap detail kecil yang ia buat, langkah demi langkah yang ia lakukan, ia selalu menggumamkan, "Korra, Korra, Korra..." Laksana doa, kata itu memberi kekuatan. Dan ia menitipkan tiap butir cinta dalam tiap sentuhan tangannya kala membentuk bros itu.

Dan di situ bros itu kini: di dasar kotak, pecah.

Korra jelas tidak peduli jika ia membuatnya atau apa yang ia rasakan kala membuatnya. Semua tak berharga bagi gadis itu. Bagi Korra itulah nilai brosnya: benda yang dari baunya dapat mengidentifikasi pemiliknya. Alat.

Sebagaimana juga dirinya.

Pikirannya melayang pada ucapan Seth di jurang tadi. Bahwa ia takut Korra hanya memanfaatkannya. Bahwa Korra bahkan tidak pernah memastikan hubungan mereka.

Jika Seth saja, pacar Korra, merasa tidak aman dalam hubungan mereka, bagaimana dengan dirinya?

Apa bagi Korra, Seth juga alat?

Apa arti ciuman Korra, kalau begitu? Padanya? Pada Seth?

Ketika ia mendapati bahwa Seth memang berpacaran dengan gadis yang ia sukai, memang dunianya hancur. Tapi setidaknya ia berharap bahwa ada tempat di hati Korra untuknya. Bahwa, setidaknya, ketika gadis itu menerima pemberiannya, meski tidak cintanya, gadis itu menerima ketulusannya.

Memang tidak ada apapun di dunia ini yang tanpa pamrih. Khususnya kini ia menyadarinya, pamrih yang masih ia pendam.

Yang hancur oleh kenyataan bahwa Korra sama sekali tidak peduli perasaannya. Atau bahkan perasaan Seth.

Apakah Korra ini? Serigala macam apa dia?

Jika ia adalah serigala hitam yang menolong mereka, lalu kenapa ia menyakiti perasaan mereka?

Collin tidak tahu lagi. Kepalanya berat.

Ia mengembalikan barang-barang itu kembali ke kotak. Asal saja. Toh ia memang tak bisa berpura-pura tidak ada orang yang menyelinap ke sini. Setiap inci ruangan itu sudah dipenuhi bau Collin.

Masa bodoh.

Kawanan lain itu akan tahu kapanpun mereka masuk kembali ke sarang kelinci mereka. Ini bisa jadi peringatan. Agar jangan main-main dengan kawanan La Push.

Dengan kesal Collin menyelipkan bros patah Korra ke saku salah satu pakaian, entah yang mana. Tidak penting baginya. Ia bersiap hendak merayap ke salah satu lubang, bukan lubang tempatnya masuk tapi lubang lain, ketika ia mencium bau kuat dari dalamnya. Suara tubuh diseret dan gerutuan pelan terdengar. Jelas ada seseorang di dalam lubang itu.

Tanpa pikir panjang Collin segera mencari lubang lain, memanjat masuk.

.

Gerutuan terdengar makin keras dan kemudian satu sosok menuruni lubang. Sosok tinggi besar. Bau yang familiar.

Dan Collin mati-matian menahan napasnya. Ia mengenalnya. Itu Noah. Noah Peterson.

Bagaimana mungkin Noah ada di sana? Noah bagian dari kawanan lain? Sejak kapan?

Noah salah satu calon serigala. Josh menguntitnya. Hingga detik ini tidak ada sekali pun pikiran Noah terhubung dengan mereka. Tanda Noah belum berubah. Tapi Noah di sana, di dalam lubang kelinci kawanan lain.

Bagaimana mungkin?

Collin makin mundur ke dalam lubang. Menegakkan kepala sebaik mungkin di posisi telungkupnya dengan kepala lebih dekat pada lubang. Mengintai.

Noah tampak mendadak awas. Melihat sekeliling dengan tegang.

Oh, brengsek!

Bagaimana mungkin Collin melupakan hal sepenting itu? Baunya ada di mana-mana. Sudah jelas Noah menangkap baunya. Tinggal tunggu waktu hingga Noah menyeretnya turun.

Pilihannya adalah menunggu di lubang hingga Noah menemukannya atau mundur kabur ke belakang.

Atau, tentu saja ada pilihan ketiga.

Collin menunggu hingga tubuh Noah mendekati lubangnya, dan mengintip ke dalam lubang.

Sambil menggeram ia mengarahkan tinjunya pada wajah Noah. Noah terhuyung mundur, tidak menduga serangan itu. Kesempatan itu dimanfaatkan Collin untuk meluncur maju, turun dari lubang.

"Li... Litsey?" cicit Noah terbata-bata tatkala menyadari siapa yang mendadak muncul di hadapannya. "Se... sedang apa kau?"

"Aku yang harusnya tanya kau sedang apa di sini!" seru Collin. Suaranya bergema dalam lorong-lorong gua.

"Itu bukan urusanmu, Litsey!" bentak Noah. Tapi kemudian ekspresinya berubah, dan ia mulai mengendus. "Tunggu... Mengapa..." ia mengendus lagi. "Baumu... baumu mirip..."

Serigai muncul di wajah kaku Collin. "Mirip serigala? Sama denganmu, Noah!"

Wajah Noah membeku. Namun hanya sedetik, karena berikutnya ia menerjang, menghantamkan tinjunya ke wajah Collin. Collin berusaha bertahan. Menangkis. Melawan. Dan Noah sama sekali tidak punya kesempatan melawan petarung yang lebih berpengalaman. Ia mungkin kuat di sekolah, tapi di dunia nyata, bagaimanapun, darah dan kemampuannya jauh di bawah lawannya. Collin di atas angin. Tak berapa lama mereka mulai bergelut di dasar lantai gua yang dingin, dan akhirnya Collin berhasil memiting, menduduki Noah.

"Rasakan! Ini balasan karena kau terus mem-bully-ku di sekolah!" teriak Collin, benar-benar termakan emosi dan dendam, mendaratkan pukulan demi pukulan lagi di rahang lawannya.

Makan waktu sekitar lima menit sebelum akhirnya ia tersadar. Ada kewajiban lain menantinya sebagai anggota kawanan. Agak miris hatinya ketika ia menarik tinju dari wajah pemuda itu. Noah sudah hampir jadi bubur.

Collin, bagaimanapun, tetap menahan emosinya. "Sekarang jawab mengapa kau ada di sini, Noah!" perintahnya.

Noah kelihatan ingin berkata sesuatu, tapi tak ada yang keluar dari mulutnya selain gumaman tidak jelas dan batuk-batuk darah. Jelas hajaran tanpa henti Collin berefek pada saluran pernapasannya. Remaja itu mulai panik. Tiba-tiba Collin merasa tubuh Noah bergetar, makin lama makin hebat. Tak terkendali.

Ini gawat. Noah akan berubah.

Collin melompat menjauh. Detik ketika Noah meledak, ia pun berubah, langsung menghantam Noah ke dinding.

Jujur saja ruang kecil itu bahkan tidak muat untuk dua serigala raksasa dapat berdiri dalam jarak yang cukup satu sama lain, terlebih lagi untuk seluruh adegan perkelahian. Detik ketika Collin menghimpit Noah ke dinding, sekuat apapun Noah berusaha melawan, ia tidak dapat mendorong Collin. Dan ruangan sempit itu sama sekali tidak membantu.

Kau memang serigala bodoh! maki Collin. Taring-taringnya hanya berjarak sekian senti dari leher Noah. Siapa suruh kau berubah di tempat sempit! Memangnya kau tidak...

Namun ia menyadari sesuatu saat itu juga.

Remaja itu menggeram marah di bawahnya. Tapi Collin tidak bisa mendengar apapun. Sama sekali. Pikirannya sama sekali tidak terkoneksi dengan Noah. Membuatnya menyadari sesuatu.

Ya, benar, apapun alasan Noah ada di sini, sudah jelas ini bukan kali pertama ia berubah.

Brengsek, kau, dasar pengkhianat! amarah melanda Collin, membuatnya makin gencar menyerang Noah. Beraninya kau bergabung dengan kawanan musuh!

Dan dengan itu ia mendaratkan taringnya di leher Noah. Cakarnya mencabik-cabik tubuh serigala Noah. Auman kesakitan Noah bergema di dasar gua, sebelum akhirnya ia pingsan.

Detik Noah kehilangan kesadaran, ia tak bisa mempertahankan wujud serigalanya. Ia kembali menjadi manusia, tergolek lunglai di bawah tindihan cakar-cakar Collin. Seketika Collin sadar, amarahnya surut. Ia pastinya membuat kesalahan dengan menghajar Noah habis-habisan. Tidak hanya ia tidak bisa mengorek apapun, jangan-jangan ia malah sudah membunuh Noah...

Ia menyundul Noah dengan moncongnya. Masih tak bergerak. Collin segera bangkit dari tubuh tak berdaya itu dan berubah. Menepuk-nepuk pipinya. Memberi CPR dengan berat hati. Sama sekali tak ada perubahan. Dan diam-diam pikiran Collin mulai mempertimbangkan untuk melakukan hal terburuk yang ia lakukan hari itu: kabur.

"Maaf, Noah... Ini bagian dari resiko prajurit," katanya pahit, sebelum berjalan menuju kotak tadi dan menarik satu-satunya celana yang masih utuh, memakainya. Ia juga mengambil jaket, ingat Seth ditinggalkan tanpa busana sehelai pun di dasar jurang. Sayang memang tak ada celana sama sekali di situ.

Dengan memberontak pada rasa bersalahnya, Collin memanjat salah satu lubang asal saja. Meninggalkan tubuh Noah yang masih tak sadarkan diri di relung gua tadi. Berusaha tidak khawatir. Salah satu anggota kawanan si Putih pasti akan kembali. Noah pasti salah satu dari mereka. Mereka akan menolong Noah. Tidak pun, Noah serigala. Ia pasti pulih... Sama sekali tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Lagipula bukan kesalahannya Noah pingsan. Siapa sangka ia selemah itu? Lagipula Noah yang berubah duluan. Ia hanya membela diri.

Tapi ia yang membuat Noah jadi bubur tanpa membiarkan pemuda itu menjelaskan sama sekali. Ia juga yang memulai pertarungan dengan menonjok Noah. Dan ia pula yang kehilangan kontrol di tengah insiden itu, menghajar Noah karena dendam dan emosi, bukan semata demi kepentingan suku. Ia adalah serigala yang jauh punya pengalaman dibanding Noah, seharusnya ia tahu bagaimana reaksi serigala muda kala terpojok. Jika pun Noah musuh, seharusnya ia lebih taktis. Serigala mati takkan bisa memberi keterangan apapun.

Bagaimana jika Noah benar-benar sekarat? Bagaimana jika apa yang ia lakukan lebih serius dari kelihatannya? Bagaimana jika kawanannya tidak datang dan pemulihannya lebih lambat dari yang disangkanya? Bagaimana jika ada suatu luka dalam yang justru berbalik menimbulkan efek buruk pasca-proses pemulihan? Bagaimana jika Noah mati?

Bagian dari kawanan lain atau bukan, Noah adalah anggota sukunya sendiri. Saudaranya.

Dengan pikiran itu, Collin merayap mundur. Kembali ke ruangan tadi.

"Noah, kuputuskan kau ikut..." ia berbalik. Dan kalimatnya terhenti.

Noah tidak ada.

.

Agak memaki dirinya sendiri, Collin berusaha mengendus. Mencari jejak Noah. Dan ia mendapati tidak hanya bau Noah berselimut di udara, tapi juga bau serigala lain. Yang berbeda dari bau-bau yang sudah ada di sana.

Astaga, apa lagi ini?

Collin mengendus lubang satu per satu. Lubang tak jauh dari tempat pingsannya Noah tadi menguarkan bau yang tadi diciumnya. Ia melongok hati-hati, memasang penjagaan kuat, takut akan berlakunya hukum karma. Aman. Ia menarik napas lega, dan berusaha mendengarkan lebih baik.

Di dalam ada suara tubuh diseret. Dan bau keberadaan dua orang. Noah, jelas, bau serigala bercampur bau darah yang sangat menyengat. Serta bau lain, jelas serigala juga, yang seakan familiar tapi tidak.

Collin mencoba mengukur jarak. Menunggu hingga mereka cukup jauh.

Dan lantas ia mengikuti. Berusaha sepelan mungkin merayap, tidak menimbulkan suara. Namun kelihatannya siapapun yang di sana menyadari keberadaannya, karena ia bergerak makin cepat.

Collin tidak merasa perlu terburu-buru. Makin ia cepat bergerak, makin besar kemungkinan orang yang diikutinya malah berbalik melawannya. Meski itu sama sekali bukan taktik yang bagus. Pertarungan di lubang kelinci jelas tak punya keuntungan apapun bagi kedua belah pihak.

Setelah sekitar 500 meter, lagi-lagi ia menemui sebuah persimpangan. Bau itu agak terbelah di sana. Bisa dibilang malah tercium dari hampir semua lubang. Jelas siapapun yang ia ikuti berusaha mengecohnya.

Bagus, Cole... Sekarang pikirkan suatu cara!

Mengikuti bau darah? Mengikuti bau orang itu? Keduanya mungkin jebakan... atau pengalihan...

Kali ini ia menyerahkan diri pada insting.

Ia memasuki satu lubang asal saja. Mengikuti tarikan dalam batinnya.

Lewat sekitar 400 meter ia merasakan bahwa instingnya benar. Bau itu memang sangat intens di lubang ini. Tapi ia juga merasakan tak hanya bahaya secara fisik, namun juga bahaya yang mengancam secara mental. Seakan ia tak ingin lagi mengikuti. Seakan ia tak boleh mengikuti.

Tidak lama hingga lubang itu membesar. Ia makin memperketat penjagaan, tapi rasanya itu tak perlu. Siapapun yang diikutinya jelas sudah pergi. Menolong Noah jelas prioritas utamanya. Ia masih berjalan sekitar satu setengah kilometer lagi sebelum akhirnya ia keluar dari lubang, sepenuhnya menghadap dunia luar. Hutan dengan tudung dedaunan rapat menghalangi langit. Bau serigala tercium kuat, tapi menjauh. Tidak ada tanda apapun akan keberadaan sesuatu mengintai dari balik pepohonan, menunggu untuk menyerang.

Collin masih berjalan, mengikuti jejak bau itu. Perasaan aneh melandanya.

Bagian hutan ini, entah mengapa familiar. Meski ia masih belum bisa menyebut secara pasti dimana ia berada.

Ia melewati beberapa baris pepohonan dan memanjat tebing pendek. Hingga ia melihat satu cahaya di ujung sana, di balik pepohonan, memperhatikan baik-baik lingkungan di sekitarnya, mengenali, dan akhirnya menyadari apa yang menyebabkan perasaannya aneh sejak tadi.

Ia ada di hutan dekat pondok Sam.

.


.

Ia mendekat, berusaha melihat tanpa membiarkan dirinya ketahuan. Walau ya, mungkin saja baunya tercium, tapi ia tidak terlalu peduli. Ia butuh tahu. Ia harus tahu.

Emily jelas masih bangun. Wanita itu berputar-putar di dalam rumah, terlihat jelas dari jendela yang terbuka. Seseorang tampak terbaring di sofa, satu tangannya yang lunglai menjuntai ke sisi sofa. Collin tidak bisa melihat jelas karena terhalang tembok kayu pondok Sam. Emily menghampiri sofa dengan baskom besar di tangan dan handuk kecil di pergelangan tangannya. Ia duduk di sisi sofa, handuk itu berpindah dari pergelangan tangannya ke baskom, lantas ke tubuh di sofa itu. Tampak darah dan air menyatu, mengucur dari handuk, ketika wanita itu memeras handuk ke baskom dan mengelap tubuh itu lagi.

"Siapa yang melakukan ini?" bisik Emily perih pada sosok tak terlihat. Dan Collin menyadarinya. Ada orang lain di sana, di suatu tempat, mungkin di dekat Emily. Collin makin merapat ke balik bayang-bayang.

Siapa yang ada di sana? Sam? Atau orang lain?

Tidak ada suara Sam. Atau siapapun.

Seseorang tampak mendekat ke jendela. Namun tidak diketahui siapa karena Collin hanya melihat bagian bahunya. Kelihatannya laki-laki.

Apa Sam?

Detik Collin berusaha mengenali lebih jelas, detik itu pula ia bergerak mendekati jendela, lantas meraih tirai dan menutupi jendela dari pandangan, membuat Collin tak bisa melihat yang terjadi di dalam. Ada bayangan hitam bergerak di balik tirai itu, tapi tak ada suara percakapan apapun.

Gawat! Apa ia sudah ketahuan?

Tiba-tiba ia merasakan keberadaan seseorang di belakangnya. Belum sempat ia memasang penjagaan, orang tersebut sudah menarik tubuhnya, lantas memutarnya sedemikian rupa dan memitingnya ke pohon.

Ia tak lagi terkejut kala menyadari siapa sosok itu.

Sam, tentu. Siapa lagi memang?

"Apa yang kaulakukan mengendap-endap di belakang rumahku?" bisik Sam dengan nada mengancam.

"Sa, Sam?" Collin berusaha meronta. Sam akhirnya melepaskan pitingannya. Walau tetap tidak melepaskan pandangan dari Collin. Namun Collin berupaya menghirup sedikit aroma Sam. Dalam hati ia bersyukur, bau Sam sama sekali bukan bau yang ia cium di dalam liang kelinci tadi.

"Apa yang kaulakukan di tanahku, Cole?" tuntut Sam lagi. "Apa Jake menyuruhku memata-mataiku?"

"Ti, tidak..." suara Collin terdengar bergetar hingga Sam menyurukkannya lagi ke pohon. "Su, sudah, Sam... Lagipula untuk apa Jake menyuruhku memata-mataimu?"

Sam berdecak, lantas menurunkan kembali tangannya dan membuang muka. Ia terlihat seakan menggumamkan sesuatu, namun Collin tidak dapat menangkap kalimatnya sama sekali.

Meski sebagian dirinya ingin langsung berteriak pada Sam, melaporkan hal yang baru saja dilihatnya, entah mengapa ada sisi lain dirinya yang menahannya. Menyuruhnya memperhatikan dan menilai ekspresi Sam.

Kelihatannya Sam sadar dirinya diperhatikan. Dia balas menatap Collin, kali ini lebih intens dari sebelumnya.

"Ada sesuatu yang ingin kaukatakan, Cole?" ujarnya tajam seperti biasa.

Mungkin ia memang harus mengatakannya. Ia bisa menilai reaksi Sam.

"Aku menemukan sarang serigala di dasar jurang, Sam," ujar Collin lancar.

"Sarang serigala?"

Ekspresi Sam terlihat terkejut, tapi penuh pertimbangan seperti biasa. Sama sekali tidak ada ekspresi yang mencurigakan.

Tentu saja tidak ada ekspresi yang mencurigakan. Bagaimana mungkin kau sampai termakan omongan Seth soal apa yang dicurigai Jake tentang Sam? Siapapun tahu Sam adalah orang yang paling tidak mungkin mengkhianati suku! satu suara dalam kepalanya berkata.

Tapi lorong itu mengarah ke sini. Ke hutan di belakang rumah Sam. Mungkin saja itu lorong yang menghubungkan kawanan mereka.

Bisa jadi justru sebaliknya. Kau tidak memikirkan adanya baju Sam di tumpukan? Jelas Sam juga diincar. Lorong itu terbentuk untuk mempermudah mereka mengawasi Sam.

Tapi apa perlu ia mengatakannya pada Sam? Sebelum ia mengatakan apapun pada Jake?

Dia adalah salah satu Tetua! Bahkan Jake akan melapor padanya. Tentu saja ia berhak tahu! suara lain itu kembali membimbing.

Collin memutuskan untuk melanjutkan.

"Belakangan ada kawanan asing berkeliaran di sini dan kami curiga mereka musuh. Aku kebetulan memasuki sebuah celah di dasar jurang dan menemukan lorong panjang. Lorong itu akhirnya mengarah pada suatu liang, atau gua, atau apalah itu. Ada banyak cabang lorong di sana. Salah satunya mengarah ke sini. Aku juga menemukan tumpukan pakaian milik kawanan di dalam. Jelas mereka berusaha mengendus dan mengawasi kita."

"Kita?"

"Pakaianmu juga salah satu di antaranya, Sam..."

Ekspresi Sam tampak sangat terperanjat. Namun ia kembali tenang, berujar, "Dari mana kau menyimpulkan itu sarang kawanan lain hanya dari bukti itu?"

"Aku mencium bau mereka, Sam. Hanya bau mereka. Dan bau seekor vampir... Juga..."

Ia melirik ke arah rumah Sam. Jendelanya masih tertutup tirai.

"Siapa yang di dalam, Sam?" tanyanya.

Wajah Sam tetap tenang. "Saudaraku diserang sesuatu di dalam hutan."

"Saudaramu?"

Siapapun tahu Sam anak tunggal. Ayahnya pergi ketika ia masih kecil dan sejak itu ibunya tidak pernah menikah lagi. Dan di reservasi mereka, penggunaan kata 'saudara', lebih lagi dalam kawanan, adalah kata yang tidak dibatasi oleh ikatan darah keluarga batih.

"Apa maksudmu 'saudara kawanan'-mu?"

Collin tidak menduga betapa lambannya otaknya berpikir. Ia ke sini mengikuti jejak Noah dan siapapun yang menolongnya, dan itu mengarah ke sini. Kemudian sosok orang terluka di dalam... Dan Sam di luar... Emily bicara dengan seseorang yang lain...

Tentu saja.

"Apakah itu Noah Peterson?"

Sam tidak menjawab pertanyaan itu, justru menanyakan hal lain, "Bagaimana kau bisa sampai di sana, Cole?"

"Hah?"

"Bagaimana bisa kau menemukan sarang kawanan lain itu?"

Collin mengerjap. Benar. Ia lupa. Ada hal lain yang perlu ia lakukan. Sangat penting.

"Seth terluka di dasar jurang... Ia tidak bisa bergerak..."

Wajah Sam agak terperangah sesaat sebelum menjawab. Reaksinya cepat tanggap seperti biasa.

"Baik. Aku akan mencari bantuan. Kau kembalilah pada Seth dan bawa dia keluar dari sana. Ke tempat yang lebih mudah diakses."

Collin mengangguk. Sedikit merasa bersalah. Bagaimana mungkin ia meninggalkan Seth, melupakannya sepenuhnya, saat Seth jelas sangat butuh bantuannya? Ia malah terlibat hal-hal tidak jelas... Ini sama sekali bukan tindakan yang bertanggungjawab.

Sam kelihatan akan segera berbalik ke rumahnya. Namun baru dua langkah ia kembali. Collin bersiap-siap akan kelanjutan amarah Sam. Atau mungkin perintahnya yang lain. Tapi Sam hanya memandang tajam pada Collin, dan katanya, "Apa kau sudah mengatakan ini pada kawananmu?"

"Apa?"

"Soal sarang kawanan lain."

"Belum."

Sam mendengus. "Kau memang calon Alfa bodoh... Lebih bodoh dari Jake..."

Collin menelan ludah. Entah mengapa ia merasa tidak enak.

Mantan Alfanya itu memandang ke balik pepohonan, ke arah rumahnya. Sikap dan suaranya tenang kala bicara, "Tapi mungkin kau harus berpikir ulang untuk mengatakan semua pada Jake, Cole..."

"A, apa?"

"Apapun yang kaulihat di dasar jurang itu... Jika kau nekat menceritakan pada Jake seperti kau menceritakannya padaku... Tanpa pertimbangan dan penilaian lebih dalam... Kau akan mengarahkan kawanan pada ladang pembantaian yang tidak perlu hanya akibat prasangka prematur."

Dengan itu ia melintasi Collin, menembus pepohonan, langsung ke rumahnya. Meninggalkan Collin yang membeku.

Ya, Collin merasakannya.

Itu bukan saran.

Itu ancaman.