THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: All part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer. This story is not closely related to anything in the saga. Maybe some details, including past events, legends, rules of the pack, and personality of few characters, had been changed during the continuity of this story.
.
WARNING: Some part of this story contain violence, so to be safe you can rate T+…
.
.
Empat puluh empat - Harga (Jurang -3-)
Wednesday, January 30, 2013
6:11 AM
.
.
Seth mengawasi kepergian Collin dan kembali merebahkan dirinya di dasar jurang itu. Luka-lukanya sudah membaik, tampaknya. Bekas cakaran dan gigitan Collin sudah separuh sembuh. Satu-satunya yang menahannya untuk ikut pergi adalah tulang kakinya yang terlepas dari sendi. Ia tidak terlalu tahu teknik untuk mengembalikan tulang ke posisinya semula, yang jelas jika ia melakukannya serampangan, itu mungkin hanya akan memberi kerjaan yang lebih parah pada Adam. Dan jika ia ikut dengan Collin tanpa tahu ke mana mereka akan menuju, tentu saja ia takut memberatkan Collin.
Ia melewatkan waktu sekian lama dengan berdiam diri, memikirkan banyak hal yang belakangan melingkupinya.
Apakah keputusannya untuk berhubungan dengan Korra, ternyata salah?
Ia tidak punya banyak waktu untuk benar-benar mempertimbangkan hal itu karena mendadak ia mendengar bunyi berkeresak semak-semak terinjak dan tersibak tidak jauh darinya. Di arah yang berlawanan dengan arah kepergian Collin. Bau yang asing, namun anehnya familiar, menyentuh inderanya. Seth berusaha menilai, mengintip ke arah sumber suara, sekaligus menyembunyikan tubuhnya hati-hati di kerimbunan dedaunan di sekitarnya.
Sosok seekor serigala hitam muncul di balik pepohonan dan semak-semak di dasar jurang itu. Sebagian besar memang tertutup belukar, tapi Seth tak mungkin tidak mengenali sosok itu. Rupanya, tubuhnya, gerakannya...
Hanya saja sosok itu tidak tampak seperkasa dulu. Langkahnya masih tegap dan berwibawa. Tetapi belum lama sosok itu berdiri, Seth mendengar suara aneh mendengking-dengking yang ia kenali sebagai batuk. Dan dalam kengeriannya, ia melihat darah membuncah dari mulut itu.
Serigala itu tampak berusaha menguatkan diri, bersikap tidak peduli. Ia mundar-mandir sekian lama, duduk dan bangun. Kelihatan agak tegang.
Tidak lama kemudian di udara muncul tanda keberadaan yang lain. Semak sekali lagi tersibak dan muncul beberapa sosok. Seth tidak bisa melihat jelas, tapi setidaknya, ia bisa memastikan tiga sosok. Manusia. Jenis kelamin tidak diketahui. Terhalang banyak pohon, semak,dedaunan, dan dibalut kegelapan.
"Selamat malam," ujar salah satu dari ketiga sosok manusia itu. Suara itu jelas dalam malam yang sepi, berdengung di telinga Seth. Ia mengenalinya. Serigala Alfa putih.
Kawanan asing dalam wujud manusia! Jacob akan suka ini...
Seth berusaha keras menggeser tubuhnya, tapi tubuhnya masih belum bisa bergerak. Dengan tanpa harapan ia mencoba menjulurkan kepala, melihat lebih jelas. Setidaknya sedikit saja petunjuk. Tiada yang ia lihat selain sekilas tubuh. Kelihatannya dua perempuan dan satu laki-laki. Bukan kemajuan sama sekali.
"Kau tidak perlu terus mempertahankan wujud itu, Sam. Kau tahu kami takkan menyerangmu. Kami juga tahu batas tubuhmu."
Batas tubuh apa? Apa Sam sakit? Bagaimana mungkin Sam bisa sakit?
Terdengar dengking pelan Sam dan kemudian sosok serigala hitam itu menghilang. Sekilas Seth melihat satu sosok bangkit berdiri, sama sekali tidak jelas dalam kegelapan dan keterbatasan penglihatannya. Tapi jelas itu tidak mungkin Sam lain. Itu Sam Uley.
"Maaf aku mungkin tidak bisa tampil lebih layak, Alfa..." ujar Sam.
Tapi sosok lawan bicaranya hanya tertawa. "Aku tidak keberatan, Sam. Tenang saja, aku sudah terbiasa."
Sam kelihatannya menunggu si Alfa bicara bahkan ketika giliran melempar dadu telah sampai ke mejanya.
"Kau telah melihat mereka sesuai keinginanmu," ia mendengar suara berwibawa perempuan itu. "Kawananku."
Ia berusaha melihat lebih jelas. Masih tidak bisa.
"Jadi tanda bukti itikad baik di antara kita sudah tercapai," kata Sam. "Sekarang kita langsung pada bisnis."
"Baik. Katakan hargamu," ia mendengar perempuan itu berkata.
Harga?
Jeda sebentar sebelum Sam berujar, lemah, "Aku sudah mengutarakan hargaku."
"Aku minta maaf, Sam, tapi aku tidak bisa menggenapi permintaanmu itu."
Sam kelihatan bimbang. Tapi kemudian ia menarik napas panjang, dan berkata, makin lirih, "Kalau begitu aku tidak punya harga lain."
"Aku bisa menawarkan, kalau begitu..." ujar si perempuan. "Jika aku mengambil alih kawanan, aku bisa menempatkanmu sebagai Alfa."
Seth membelalak, tapi ia berhasil menutup mulutnya untuk tak mengeluarkan apapun, bahkan desah napas tertahan.
"Kau tahu itu tidak mungkin... Aku sudah terpisah dari kawanan asalku. Kecuali kau mau memenangkan kawananku juga."
Apa? Sam punya kawanan? Siapa?
"Ya, itu bisa saja, Sam. Aku berhak menempatkan siapa yang kumau atau menggabungkan kawanan yang sudah kutaklukkan. Katakan saja apa yang kauinginkan."
"Apa kau bisa mencegah… kau tahu, 'itu' terjadi?"
'Itu'?
Ia mendengar perempuan itu terkekeh pelan. "Aku berharap aku bisa. Tapi tentunya aku tidak bisa, Sam. Itu di luar wewenangku."
"Kalau begitu apa kau bisa menjadikanku bagian dari kalian sebelumnya?"
"Kau tahu apa artinya, Sam."
"Aku tahu. Jika itu berarti Penaklukan, tidak masalah untukku."
Penaklukan? Sam merelakan dirinya takluk?
"Kuharap aku bisa menaklukkanmu sekarang, Sam," suara si Alfa putih terdengar prihatin. "Sayangnya jawabannya tetap tidak."
"Mengapa? Kautahu tubuhku sudah..." Seth berusaha menajamkan pendengarannya, tapi ia tak bisa menangkap kata-kata Sam.
"Ya. Tapi selama kau masih terikat pada suku ini, kami tidak bisa menaklukkanmu tanpa menaklukkan Jacob lebih dahulu. Katakan harga lainnya."
Seth bergidik mendengar si Putih membicarakan nama Jacob dengan begitu tenang, dan Sam yang menanggapinya tanpa terkejut sama sekali. Ia dan Jacob tidak pernah menyebutkan nama mereka. Sekarang kawanan itu bertindak seolah seluruh identitas mereka sudah terungkap? Apa Sam memang sudah membocorkan semuanya pada kawanan lain itu?
Ia berusaha menahan debaran jantungnya yang kian meningkat, berusaha memasang telinganya kembali.
"Apa kau akan benar-benar melakukan penaklukan total?" Ia mendengar Sam bertanya hati-hati.
"Kami sudah menawarkan Perjanjian, tapi ia menolaknya. Tidak ada cara lain, penaklukan adalah langkah terakhir. Rencanaku tetap harus berjalan."
"Dia takkan semudah itu menyerah."
"Bukan masalah. Aku punya cara tersendiri."
Diam lama sebelum Sam kembali bertanya, datar, "Apa caramu?"
"Seperti biasa, tentu."
Apa yang biasa?
Suara Sam tampak ragu ketika menyatakan, "Apa darah Black cukup... untuk Perjanjian ini?"
Seth membeliak.
Da, darah Black?
Apa maksudnya? Untuk Perjanjian?
Apa yang Sam lakukan?
"Tentu, Sam. Kami takkan mundur. Kami akan memberi yang kalian butuhkan. Pertukaran ini adalah bagian dari Perjanjian kita dan kami akan menghormati itu."
"Bagaimana dengan Jacob?"
"Selalu ada harga untuk setiap hal, Sam. Kau pastinya yang paling tahu hal ini."
Harga? Perjanjian? Pertukaran?
"Aku meresikokan segalanya di sini," ujar Sam kemudian. "Tidak ada jalan kembali untukku. Setidaknya aku berharap tujuanku akan tercapai."
"Aku bisa pastikan rencanamu aman di tanganku, Sam."
Tujuan? Rencana?
Kesadaran mendadak menerpa. Membuat batin Seth seakan teremas perih sebelum direnggut dari tempatnya berada, dikoyak-koyak hingga tiada bersisa.
Ia sungguh berharap ia salah. Karena ini tidak mungkin.
Apa Sam menjual Jacob?
Itukah harga yang ditawarkan Sam atas apapun Perjanjian yang ia lakukan? Memastikan rencana dan tujuannya terlaksana? Darah Black? Apa yang ia maksud nyawa Jacob?
Apa rencana Sam? Apa tujuannya?
Seth kembali mendengarkan. Mereka bicara makin berbisik hingga pendengaran Seth pun tidak dapat menangkapnya. Atau mungkin memang dengan kondisinya sekarang, segala kemampuan fisiknya melemah. Namun sesaat mendadak Seth merasakan perubahan yang aneh di udara. Dan lantas ketika si Alfa itu kembali bicara, suaranya terdengar diulur-ulur dan berbahaya.
"Aku akan sangat senang membicarakan detail ini denganmu, Sam. Tapi sayangnya pembicaraan kita harus terinterupsi oleh kehadiran satu anjing penguntit..."
Gawat! Apa ia ketahuan?
Terdengar suara endusan, dan lantas kekehan singkat si Alfa Putih.
"Well, well, well... Tampaknya itu Mr. Seth Clearwater, tidak salah lagi..."
Mengapa si Putih bahkan bisa mengidentifikasi bau dan namanya?
Oh, seharusnya ia tidak terkejut. Tidak sama sekali.
Kemudian ia merasakan perubahan di udara ketika salah seorang dari mereka berubah. Ngeri yang melanda menunggu milidetik demi milidetik berlalu, keinginan untuk kabur namun tiada yang bisa ia lakukan. Kemudian semak yang menutupinya tersibak, bulu oranye keemasan muncul menggesek dedaunan, dan kemudian wajah seekor serigala besar muncul di hadapannya.
Ia jelas tahu ia ditarik, diseret ke hadapan pemimpin mereka. Tapi ia tidak bisa mengingat apapun. Detik ketika ia merasakan taring si serigala di pundaknya, detik itu pula ia merasa sensasi yang aneh. Seakan ingatannya akan kejadian sesudah itu terhapus sepenuhnya.
.
.
Hal berikutnya yang ia ingat adalah ia terbaring di lantai hutan, lagi-lagi sendirian. 200 meter dari tempatnya terbaring sebelumnya. Dan luka baru mengoyak pundaknya. Sudah jelas bekas taring serigala.
Apa yang baru ia saksikan tadi? Episode bukti jelas pengkhianatan Sam? Sam menjual Jacob, demi Perjanjian-entah-apa untuk memastikan rencana-entah-apanya terlaksana?
Tidak diragukan lagi kawanan lain itu tahu tentang mereka. Jacob dan Seth, mungkin juga yang lain. Sam pasti telah mengatakan semuanya. Jelas Sam sudah menjual informasi tentang seluruh kawanan. Rahasia suku.
Inikah yang selama ini dikhawatirkan Jacob? Inikah alasannya Alice melihat Jacob dan dirinya mati? Karena pengkhianatan Sam?
Tapi kalau begitu untuk apa semua yang dilakukan Sam selama ini? Untuk apa Sam memerintahkan banyak hal selama ini? Yang katanya demi suku?
Dan ia melihat, tadi, Sam bukan Sam yang biasa. Ia sakit.
Bagaimana mungkin Sam bisa sakit? Apakah rencana dan Pertukaran yang ia katakan berhubungan dengan yang ia derita?
Dan mengapa ia tak bisa mengingat banyak hal? Tidak satu pun setelah serigala emas itu menangkap keberadaannya dan menariknya?
Perih yang menyayat tubuhnya terasa pula di dadanya.
Haruskah ia mengatakan semua pada kawanan? Pada Jacob? Pada Collin? Apa yang akan dilakukan Jacob jika ia tahu semua ini? Jika tadi Sam menyatakan akan menjadikan darah Black sebagai harga, berarti bukan cuma Jacob yang dipertaruhkan. Ini bisa berarti seluruh darah Black. Jacob, Korra, Collin, bahkan juga dirinya dan Quil. Mungkin juga Embry.
Ya, ia tahu kemana artinya ini.
Penaklukan seluruh kawanan. Dan pembantaian semua yang menghalangi klaim sang serigala putih. Seperti dalam legenda yang diceritakan Old Quil. Serigala terkejam dalam sejarah Quileute. Kierra. Serigala setengah-vampir yang membantai para serigala keturunan Taha Aki, para saudaranya sendiri, dan menjadikan dirinya kepala suku.
Dan seketika kesadaran lain menyergapnya.
Kierra, apa sebutan Old Quil baginya? Iblis Perasuk Raga?
Kierra sama seperti para pejuang roh di awal legenda mereka. Ia adalah Kepala Suku Roh.
Roh Kierra bisa menyelusup ke raga lain dan menjadikannya serigala yang sama dengan dirinya. Itu artinya ia bisa saja abadi. Itu artinya ia bisa saja masih hidup sampai detik ini.
Kierra mendendam pada suku karena pengusirannya.
Kierra bisa saja menyelusup ke raga seseorang di luar sana dan kembali ke sini. Untuk membalas dendam.
Kierra kepala suku kejam yang bahkan rela membunuh keluarganya sendiri. Mungkin awalnya ia memang tidak mengetahuinya, tapi setelah ia menjabat Kepala Suku, mana mungkin ia tidak menyadari kemiripan dirinya dengan para serigala dari suku yang ia taklukkan? Mana mungkin ia tidak menghubungkan dirinya dengan mereka?
Dan Kierra haus kekuasaan. Penakluk yang menjajah suku lain, menjadikan kaum kulit putih sebagai budak.
Serigala Alfa putih itu bilang ia punya banyak kawanan taklukan di luar sana.
Serigala Alfa putih memberi dua pilihan: Tawaran atau Penaklukan. Dan jelas karena Jacob menolak Tawaran, ia memilih Penaklukan.
Kierra adalah serigala putih.
Alfa kawanan lain itu adalah serigala putih.
Ini tidak seperti yang ia pikirkan, kan?
Serigala putih itu... apakah dia Kierra?
Kalau itu terjadi, berarti memang ya: mereka dalam bahaya. Ancaman bagi mereka bukan hanya vampir. Dua ancaman lain, yang lebih dekat bahkan, mencuat ke permukaan.
Kierra dan Sam.
Berbagai suara dalam pikirannya saling menyerang. Pertimbangannya sendiri.
Tunggu, Seth... Jangan terburu-buru. Kau harus memikirkan semuanya sekali lagi. Kau tidak bisa menilai semuanya dan mengambil kesimpulan prematur. Pertimbangkan efek prasangkamu pada seluruh kawanan. Mereka percaya penilaianmu. Jacob percaya penilaianmu, bisik satu suara dalam hatinya.
Ya. Tapi apa lagi yang bisa ia pikirkan? Apa lagi dalam situasi seperti ini?
Dinginkan kepalamu, Seth!
Seth mencoba bergerak. Luka bekas cakaran Collin di perutnya sudah agak menutup. Kakinya jelas bengkok ke arah yang salah tapi pastinya ia bisa merayap jika ia perlu. Ia harus segera keluar dari tempat ini. Mendiskusikan segalanya dengan Jacob.
Tunggu, Seth. Apa bijak membicarakannya tanpa kau sendiri mengerti seluruh situasi sekarang? Jacob mungkin akan terlalu emosional untuk dapat memikirkan segalanya dengan kepala dingin.
Tapi ia juga tidak bisa berpikir dengan kepala dingin sekarang ini.
Tidak, kau bisa. Tenangkan dirimu, Seth!
Tapi tidak ada gunanya berada di sini terus. Ia harus bergerak.
Tapi kau harus menunggu Collin. Ia akan kembali ke sini.
Tapi entah kapan Collin akan kembali. Bahkan ia tidak tahu waktu sekarang. Apa sudah tengah malam? Atau bahkan menjelang fajar?
Tapi memang entah ia ingin pergi atau tidak, kenyataannya adalah ia tidak bisa bergerak jauh.
Ia berusaha menguatkan dirinya. Bangkit dan melangkah dengan berpegangan pada apapun di sekitarnya. Pohon. Cabang. Dinding cadas. Batuan. Apapun. Tapi itu tak bertahan lama. Sekejap saja kakinya yang bengkok itu mengkhianatinya, dan ia kembali tersuruk ke tanah.
.
.
Ia mendengar dedaunan tersibak lagi dan sudah akan memasang posisi defensif, walau dalam keadaan ini pastinya tak ada yang bisa ia lakukan untuk melindungi diri. Namun kemudian ia sadar, merasa amat bersyukur, bahwa itu tidak perlu.
"Seth!" teriak seseorang, berlari ke arahnya. Collin. Suaranya tegang. "Kau pasti tidak percaya apa yang baru saja kualami dan..."
Tidak, Cole... Kau yang pasti lebih tidak percaya apa yang aku alami...
Ia mendadak berhenti, menatap sosok Seth yang sudah tidak ada di tempatnya semula dan kelihatan susah payah berusaha berdiri.
"Astaga! Kau tidak apa-apa, Seth?" katanya setengah berlari, mendapati Seth dan berusaha menopang tubuhnya. "Kenapa kau berjalan sejauh itu? Kau masih belum pulih benar!"
Seth agak limbung, dan berpegangan erat ke bahu Collin. "Aku tidak apa-apa," katanya.
Collin berdecak kesal. "Sampai kapan kau mau jadi martir? Kau jelas bukannya tidak apa-apa!" omelnya.
Ia memapah Seth yang berjalan terseok-seok, ketika tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang basah di pundak Seth.
"Hei, aku yakin luka yang kusebabkan seharusnya sudah setengah pulih sekarang..." katanya curiga, berusaha menyentuh luka itu. Seth mengejit, perih. "Ini luka baru..." ia merasakan lubang pada luka Seth, membauinya sedikit. "Taring serigala..." ia menangkap mata Seth. "Ada apa, Seth? Katakan padaku!"
Seth menatapnya balik.
Haruskah ia mengatakan ini pada Collin?
Mungkin memang lebih baik mengutarakannya ketimbang menyimpannya. Collin juga sama terancamnya seperti Jacob.
"Tadi aku... bertemu... se... se..."
Seth berusaha mengucapkan kata itu. Tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Lidahnya terkunci.
Bagaimana bisa?
Kernyitan di dahi Collin menjadi-jadi, ketika disadarinya tatapan mata Seth berubah nanar.
Tapi tak lama pertanyaan itu segera pudar tertimpa pertanyaan lain yang lebih besar. Yang lebih menghentak.
Collin baru memapah Seth berjalan dua langkah lagi ketika tiba-tiba kakinya tersandung pokok pohon yang tercerabut. Untungnya refleksnya bekerja cepat, dan ia berhasil menyeimbangkan dirinya sebelum ia ikut membuat Seth kembali jatuh. Tapi kemudian ia menangkap suatu benda. Tersangkut di ujung ranting.
"Hei..." Collin menyambar benda yang tersampir di pokok pohon itu. Selembar kain panjang. Menelitinya. Membaui aromanya. Terpana kala sel-sel kerucut di matanya menangkap motif bunga matahari yang menghiasi ujung-ujungnya.
Ya. Itu syal milik Korra.
"Kenapa syal Korra ada di sini, Seth?" tuntutnya.
Gelengan kepala yang samar muncul di kepala Seth bukan karena ia tidak tahu. Tetapi lebih karena ia tidak percaya.
Kecurigaan bahwa Korra adalah salah satu dari kawanan lain itu terbukti sudah. Korra sang serigala hitam… Dan datang dengan kenyataan yang lebih pahit. Kawanan itu merencanakan pengambilalihan kawanannya, membunuh Jacob...
Ia mengingat kalimat si serigala putih.
"Aku bisa menempatkan siapapun yang kuinginkan..."
Apa ia akan menempatkan Korra sebagai pengganti Jacob?
Apa Korra tahu hal ini? Apakah ia tahu mereka akan membunuh kakaknya?
Tapi Korra salah satu dari mereka. Ia tidak mungkin tidak tahu ini. Dan ia membiarkan... Tidak. Besar kemungkinan malah ia sendiri ikut merencanakan semua ini.
Rencana Sam... Apa Korra juga boneka Sam? Atau malah pada saatnya, kawanan itu akan memutuskan menikam balik, mengkhianati apapun perjanjian mereka dengan Sam?
Tidak mungkin.
Karena kalau begitu, Korra sendiri-lah yang akan membunuh kakaknya.
Ia tahu alasannya kini. Mengapa ia tidak bisa mengatakan hal itu pada Collin.
"Kumohon... Rahasiakan ini... dari semua, Cole..." ucap Seth, setiap hurufnya penuh horor. "Jangan sampai siapapun tahu kau menemukan syal Korra di dasar jurang. Bahkan jangan katakan pada Korra. Lebih lagi Jacob."
"Kenapa?"
Seth tidak menjawab. Berusaha memendam sakit hati dan ketakutannya.
Ia diam memperhatikan penampilan baru Collin. Celana jeans panjang miliknya sudah hilang. Sebagai gantinya, Collin memakai celana pendek dan jaket.
"Kau sudah menemukan jalan pulang?" tanyanya berharap.
"Belum. Tapi aku sudah berhasil menghubungi Sam. Sam menyuruhku mencari tempat yang lebih mudah diakses. Ia akan menghubungi siapapun anggota kawanan," sesaat Collin diam, seakan menyadari sesuatu. Dan ia mulai memaki, "Oh, sial! Bodohnya aku! Mengapa aku tidak berubah dan menghubungi kawanan sendiri saat tadi di hutan belakang rumah Sam?"
"Hutan belakang rumah Sam?"
"Aku menemukan celah di dasar jurang di sebelah sana, mengarah ke sebuah liang. Dan tembus ke belakang rumah Sam."
"Liang?"
"Jaringan terowongan, lubang kelinci. Kurasa itu sarang kawanan lain."
"Sarang kawanan lain?"
"Nanti kuceritakan, Seth. Ruwet pokoknya."
Seth terdiam, tampak menyadari sesuatu. Berpikir.
"Cole, tadi katamu kau menghubungi Sam?," tanyanya.
"Ya."
"Apa kau bertemu Sam?"
"Ya."
Itu mustahil. Ia melihat Sam tadi, di sini. Entah kapan Collin melihat Sam. Tapi pastinya itu ada di antara jeda waktu sebelum Sam tiba di sini atau sesudah Sam pergi dan ia pingsan. Yang manapun itu, jelas waktu kepergian Collin, bahkan jika dibagi dua pun, jauh lebih panjang dari yang seharusnya.
"Lorong itu, lubang, liang, terowongan, apapun… Apa sangat panjang dan butuh waktu lama melintasinya?"
"Ya, tentu. Aku kembali ke sini melintasi lorong yang sama. Karena aku tidak tahu arah, mengapa aku bisa sampai ke sana. Aku takut jika aku mencoba jalan lain, aku akan tersesat. Jadi aku menelusuri jalan yang sama."
Senyum mendadak tersungging di bibir Seth. "Kalau begitu aku mungkin tahu jalan lain. Mungkin malah jalan pintas."
Ia mengarahkan Collin berbalik, menuju arah sebaliknya dari arah kedatangan Collin. Tepatnya, ke arah tadi ia melihat Sam bicara dengan para anggota kawanan lain. Arah kedatangan Sam.
Ia tak punya waktu untuk menimbang apa arah itu aman atau tidak. Ia harus segera kembali.
Ia harus meyakinkan Korra untuk membatalkan rencananya. Mungkin meyakinkannya untuk berpindah pihak. Korra tidak boleh sampai mengkonfrontasi Jacob. Melawannya. Merebut kawanannya. Apalagi membunuhnya. Bukan cuma karena alasan etis.
Sekali ini, sungguh ia menyesali keputusan Jacob membuatnya mengucapkan sumpah. Apa Jacob tahu kemana arah tindakannya itu menuju... Seandainya saja Jacob tahu bahwa itu hanya akan berbalik melawan dirinya... Karena walau ancaman besar bagi Jacob adalah si serigala putih dan Sam, ada yang lebih nyata dari semua itu. Adiknya sendiri.
Kekasih Seth juga.
Ya, ia tahu alasan mengapa ia tidak bisa mengatakan apa yang ia lihat pada Collin.
Karena jika semua skema pengambilalihan itu terjadi, dan ia terpaksa memilih, ia tidak punya pilihan. Ia harus mengkhianati Jacob. Karena ia terikat Sumpah. Karena Jacob sendiri sudah memastikan bahwa kesetiaan tertingginya adalah pada Korra.
Seth mendesah. Semua kini tergantung padanya. Ia harus mencegah semua itu terjadi. Ia harus punya rencana. Memperingatkan kawanan. Mempengaruhi Korra. Sebelum semua terlambat.
Ya, ia harus ikut bermain. Licin. Mulai detik ini ia tak bisa hanya ada di belakang.
Membuka topeng Korra adalah agenda utamanya sekarang.
.
.
catatan:
ahayyyy...
makin banyak pertanyaan atau ada beberapa yang sudah mulai terjawab?
apa kesimpulan seth dan collin soal korra si serigala hitam menjawab pertanyaan? atau malah menimbulkan masalah baru?
hmmmm...
R&R please...
