THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: All part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer. This story is not closely related to anything in the saga. Maybe some details, including past events, legends, rules of the pack, and personality of few characters, had been changed during the continuity of this story.
.
WARNING: This part is practically safe so you can rated T…
.
.
Empat puluh lima - Morning Sickness
Wednesday, January 30, 2013
6:11 AM
.
.
Dering telepon di pagi itu menghentak Jacob dari tidurnya.
Ia baru tidur selama sekitar dua jam setelah pulang patroli, tentu. Urusan Collin dan Seth dua malam lalu membuatnya tegang selama malam patroli. Bahkan begitu mereka berdua muncul dini hari, ketegangan itu makin meraja menyadari mereka memasang tembok mental. Ia merasa frustasi tidak bisa mengetahui apapun yang terjadi di antara mereka. Dan lebih frustasi kala menyadari apapun itu, pastinya bukan hal remeh, melihat sikap keduanya. Kemarin sepulang patroli ia tidak bisa tidur. Dan kini saat ia akhirnya bisa memejamkan mata, tahu-tahu dering telepon mengganggunya.
"Halo?" katanya malas, tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Jake, aku perlu bicara," terdengar suara di ujung sana yang tidak disangka-sangkanya.
"Huh? Collin?" ia tidak menduga sepupunya mau mengontaknya. Sama sekali tidak biasa. "Kau sudah bicara... Ada apa?"
"Maksudku bertemu. Aku ke rumahmu."
"Hmmm... Aku masih mengantuk, Cole..." ia menguap lebar.
"Tidak bisa menunggu. Ini penting. Aku ke rumahmu sekarang juga."
Dengan itu Collin menutup telepon bahkan tanpa memberi salam. Dengan kesal Jacob melempar ponselnya ke sisi tempat tidur asal saja. Menyurukkan kembali kepalanya ke bantal untuk melanjutkan tidur.
Dasar tidak sopan! gerutunya. Kalau ada masalah penting kenapa dia tidak bilang semalam waktu patroli?
.
Langkah-langkah berat di tangga membangunkannya. Korra seperti biasa sudah bangun. Ia menarik bantal, menutupi kepalanya. Berusaha menutup telinga.
Korra memang selalu bangun pagi, mandi dan membuat sarapan sambil bersiul-siul, lalu dengan ceria mengobrol dengan ayahnya di meja makan sebelum berangkat sekolah. Jacob makan waktu lama untuk menyesuaikan diri, tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa dan bisa bersikap tidak peduli. Tetap tidur, walau seribut apapun Korra membuat gaduh paginya yang seharusnya tenang. Tapi hari ini entah mengapa ada yang membuatnya tidak bisa secuek biasanya.
Apa karena telepon Collin? Atau karena Korra menapaki tangga dengan berat, padahal biasanya langkahnya ringan. Ceria, ya, tapi ringan.
Detik berikutnya ia mendengar tempo derit tangga terinjak semakin cepat sementara tapak-tapak kaki bergerak memburu, berlari. Kemudian suara pintu kamar mandi dibanting. Detik yang sama ia mendengar suara Korra terbatuk-batuk dan muntah-muntah sebelum suara air mengguyur menimpa.
Ia langsung membuka mata, buru-buru keluar kamar.
"Korra?" tanyanya khawatir di depan pintu kamar mandi. Pagi itu Billy tidak ada, dari semalam menginap di rumah keluarga Clearwater atas undangan Charlie dan Sue. Jadi tidak ada yang bisa menolong Korra selain dirinya. "Kau tidak apa-apa?"
Suara air masih mengalir selama dua detik sebelum berhenti. Terdengar suara kunci dibuka. Lantas wajah pucat Korra muncul di balik pintu.
"Tidak apa-apa, Jake..." ujarnya lemah. "Mungkin keracunan..."
"Kau keracunan makanan?" Jacob mengernyit, menyentuh dahi adiknya. Dingin. Aneh. "Kau kenapa?"
Adiknya hanya menggeleng lemah sebelum bersandar pada ambang pintu, mendesah. "Aku tidak tahu kalau aku begini lemah... Apa mungkin aku tidak sesuai..." ujarnya pelan, hampir bergumam, bagai bicara pada dirinya sendiri. Tapi lantas ia memandang Jacob, tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh makan."
"Ya, tentu..." Jacob agak bingung dengan kata 'tidak sesuai' itu, tapi ia mencoba menahan diri untuk tidak bertanya. "Akan kubuatkan sarapan. Kau ingin apa?"
Adiknya agak ragu sesaat, tapi lantas katanya, "Bisa kaubuatkan aku steak, Jake? Ada daging di kulkas, sudah kurendam marinade. Panggang setengah matang saja..."
"Steak? Pagi begini?"
"Setengah matang..." ujar Korra tak jelas, bergerak limbung dari toilet ke dapur. Secara instingtif Jacob mengulurkan tangan, tapi Korra menampiknya dengan halus. Jacob mundur, melangkah ke dapur, walau sambil mencuri-curi pandang khawatir. Korra sepertinya tipe anak yang mandiri, pikirnya. Tentu akan melukai perasaannya jika ia terpaksa harus bergantung pada orang lain.
Ia membuka kulkas, mengambil daging yang disebutkan Korra, sebelum memanaskan penggorengan dan mengucurkan minyak, sembari matanya terus mengawasi Korra. Gadis itu terlihat berusaha keras tampak wajar, menarik gelas dan karton jus jeruk yang dini hari tadi ditinggalkan Jacob di meja, menuang isinya. Ia bahkan tidak peduli untuk minum dari gelas bekas kakaknya.
"Kau jangan minum jeruk tanpa mengisi perut, kau bisa kena maag," peringat Jacob di dapur sambil memanggang daging. Korra hanya tersenyum mendengarnya.
"Tidak apa. Aku tidak punya maag," katanya.
Steak pesanan Korra siap tak sampai lima menit kemudian, bagian tengahnya masih merah. Jacob sengaja membuatkan dua. Selagi Korra makan, ia mengawasi dengan tampang khawatir. Satu pertanyaan, bukan, kemungkinan menyelinap di benaknya, namun ia ragu mengatakannya.
Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya memutuskan melontarkannya saja.
"Korra," ujarnya hati-hati. "Kau tahu aku berusaha tidak menjadi kakak yang usil, ikut campur urusan pribadimu, tapi..." ia tidak melanjutkan, memandang adiknya penuh pertimbangan.
"Kenapa, Jake?" tanya Korra setelah menelan seiris besar steaknya.
"Mmmm..." Jacob menelan ludah. "Aku tahu ini urusanmu, tapi... apa Seth, atau Collin, melakukan sesuatu padamu?"
Korra mengernyit. "Kenapa memang Seth dan Collin? Mereka baik-baik saja padaku..."
"Bukan, maksudku..." ia tidak tahu bagaimana mengatakannya. "Maksudku, siapapun pacarmu... apa mereka... kau tahu... ehm..."
"Tidak, Jake!" jawab Korra tegas, entah dia mengerti atau tidak arah pembicaraan Jacob. "Kau tahu tidak ada apa-apa denganku. Jadi..."
Dilihat dari caranya bicara, kemungkinan besar memang Korra tidak menangkap maksud sang kakak. Jacob menarik napas,menenangkan dirinya sendiri, sebelum melanjutkan.
"Korra. Aku akan terus terang. Maksudku... Apa mungkin kau..."
.
Pembicaraan mereka terhenti ketika terdengar dering bel, disusul suara panggilan Collin di ambang pintu depan. Dengan berat hati Jacob membukanya, melontarkan pandangan kesal dan terganggu.
"Kalau kau mau menjemput adikku, jawabannya tidak, Collin!" ujar Jacob agak kasar sambil memelototi tamu itu.
Ia sudah hampir kembali menutup pintu ketika tangan Collin menghalanginya.
"Siapa yang mau? Kau kan tahu aku mau datang untuk bicara denganmu. Aku kan sudah menelepon," Collin balas melotot. "Lagipula memangnya aku pacar Korra? Minta saja adikmu dijemput pacarnya."
"Tunggu, Cole..." Entah mengapa Jacob curiga dengan ketidakpedulian Collin tentang Korra. Bocah ini biasanya paling depan menyambar kesempatan apapun yang berhubungan dengan Korra. "Kau tahu siapa pacar Korra, kan?"
Collin mengangkat bahu sambil menyunggingkan senyum separuh, jelas menyembunyikan sesuatu. Tanpa mempedulikannya atau bahkan tanpa dipersilakan, Collin masuk, langsung menuju dapur. Ia agak membeku sesaat melihat Korra di meja makan.
"Oh, hai Cole..." ujar Korra sambil menyuap. "Kau mau ikut makan bareng?" ia menunjuk seporsi steak lain. Jacob melotot tidak setuju, tapi adiknya tampak tidak peduli.
"Tidak, terima kasih," ujar Collin ketika berhasil mengumpulkan ketenangannya. "Aku mau makan sereal saja..." dan membuka pintu kulkas, mengambil karton susu, sebelum mencari-cari kotak sereal di lemari dapur.
"Pintu no.2 dari kiri, Cole..." arah Korra.
"Oh, ya..." Kotak itu menampakkan wujud. Dengan kasual Collin mengambil mangkuk, menuang sereal dan susu. "Kau mau, Jake?"
Jacob melongo. Apa-apaan si Collin seenaknya merambah dapur dan menawarinya sarapan dari kotak serealnya sendiri? Memangnya siapa tuan rumah di sini?
"Kau mau menjemputku, Cole?" tanya Korra manis sementara Collin mengambil tempat di hadapannya dan Jacob di sisi lain meja, mengawasi dengan pandangan mematikan. Collin adalah salah satu tersangka pacar adiknya dan jika ia menangkap satu tanda saja mereka benar-benar menyembunyikan hubungan mereka darinya, yah... Jangan harap Collin bisa kembali ke rumah dengan anggota tubuh utuh.
"Tidak, maaf..." ujar Collin santai sambil menyuap sereal. "Aku niat bolos hari ini."
"Bolos?" Korra mengernyit. Matanya tampak tak setuju.
"Ya..." Collin menjawab, tapi kelihatan bingung mau memberi alasan apa. "Aku ada..." ia menoleh pada Jacob mohon dukungan.
Jacob memicing kesal dan membersihkan tenggorokan sebelum menjawab, "Dia ada urusan keluarga hari ini, Korra..." Melihat Korra ber-o panjang, ia menambahkan, "Dan kau juga tidak akan masuk sekolah hari ini, Korra... Kau kan tidak enak badan."
Ekspresi Collin terkejut, bukan khawatir.
"Kau sakit, Korra?" tanyanya seraya menautkan kedua alis. Jelas ia bingung.
"Tidak. Jake saja berlebihan."
"Tidak! Tadi pagi dia batuk-batuk dan muntah. Badannya dingin dan wajahnya pucat."
Korra mendelik pada kakaknya, mendorong piring. Steaknya baru habis separuh. "Oh, terima kasih Jake, kau sudah merusak nafsu makanku..."
"Memang apa yang kulakukan?"
"Lain kali jaga ucapanmu di meja makan saat orang lain sedang makan, Tuan Muda!" ujar Korra ketus.
"Ayolah, Korra... Aku tidak tahu kau begitu gampang jijik..."
Adiknya melotot, lalu bangkit dan berjalan ke tangga. Hendak meraih ransel yang tadi dijatuhkannya. Tapi belum setengah perjalanan ia limbung. Untungnya Jacob datang tepat waktu, menopangnya.
"Hei!" Collin berseru. "Kau benar-benar sakit!" Ia tampak terkejut. "Bagaimana mungkin kau bisa sakit?"
Jacob tidak menggubrisnya. Pandangannya diarahkan pada Korra. "Kau harus istirahat di rumah," perintahnya.
"Aku tidak apa-apa, Jake... Jika di rumah terus aku bisa makin parah... Lagipula di sekolah ada klinik. Dan aku tak mau ketinggalan pelajaran. Aku ada ulangan Matematika dan presentasi makalah Bahasa Inggris hari ini."
"Ijin saja."
"Tidak, Jake. Kau tahu Mr. White seketat apa... Lagipula di sekolah ada klinik. Kau tenang saja. Ini mungkin semacam morning sickness. Siang nanti juga aku sembuh."
Morning sickness?
Jacob menelan ludah.
"Kalau begitu aku antar kau ke dokter... Kita harus memastikan..."
"Jake!" bantah Korra keras kepala. "Kubilang aku tidak apa-apa!"
Jacob menyerah. "Oke. Tapi setidaknya kau akan membiarkanku mengantarmu ke sekolah." Ia tidak menunggu persetujuan Korra, langsung menarik kunci di kapstok. "Tunggu," katanya tegas sambil berlari ke pintu. Sesaat ia seakan mengingat sesuatu, berbalik menghadap Collin. "Kau tunggu saja di sini, Cole, aku tidak lama!"
.
Collin mengangguk, mengawasi Jacob menjauh, lalu menurunkan suaranya, berbisik pada Korra. "Serius, Korra?"
Korra menelengkan kepala. "Serius apa?"
"Kau dan aku tahu bahwa kau tidak mungkin sakit..."
"Ada apa dengan kalian berdua? Aku capek bilang aku tidak sakit!, " Korra bersikukuh, terdengar frustasi. "Aku cuma..." ia terdiam, lantas tersenyum sambil mengerling pada Collin. "Lapar, mungkin..."
Entah mengapa suara dan tatapan Korra yang aneh mampu membuat bulu roma Collin merinding.
"Aneh sekali padahal belum sampai dua minggu..." Korra seakan bicara pada diri sendiri. "Ini belum lagi tujuh bulan... Ternyata aku begitu tidak cocok..."
Collin hampir menanyakan apa yang dimaksud dengan 'tidak cocok' ketika deru motor terdengar di depan pintu dan suara Jacob memanggil, "Korra! Naik!"
Korra mengambil ranselnya dan berjalan ke pintu, kelihatan berusaha mempertahankan langkahnya tetap tegak. Collin mengikuti sekitar dua langkah di belakangnya. Tahu Korra, gadis itu pasti bakal mencak-mencak lagi kalau ia terang-terangan membantu. Cara termudah melindungi Korra adalah menjaga jarak yang cukup aman di belakangnya.
Melewati ambang pintu, Korra agak limbung. Untung Collin ada dan langsung menopangnya. Jacob kelihatan hampir melempar motornya saat itu juga, tapi ia menahan diri begitu melihat Korra langsung kembali bangkit.
"Kau yakin kau tidak apa-apa?" tanya Collin, kali ini benar-benar khawatir. "Badanmu dingin," tunjuknya. Ya, bukan dinginnya manusia normal. Bukan sedingin vampir. Tapi memang dingin.
"Sudahlah, Cole!" Korra mulai tak sabaran. "Kalian saja yang kelewat panas."
"Oke, tapi kau telepon Jake atau aku atau Seth kalau ada apa-apa." Bisa dilihatnya Jacob agak memicing mendengar kata 'Seth'.
"Hahaha... Seth saja sedang terbaring gara-gara kecelakaan motor, kok..."
Collin mengernyit. "Seth kecelakaan motor?"
"Ya. Dia sms aku semalam. Katanya dia tidak bisa bangkit dari tempat tidur, jadi mumi." Ia mengedip singkat pada Collin, menambahkan, "Masa kau tidak tahu?"
Sebersit perasaan lega mendadak muncul di hati Collin mengetahui Seth tidak jadi menemui Korra semalam. Tapi ada perasaan tidak aman melandanya. Ucapan dan kedipan Korra padanya, seakan ia tahu bahwa Seth berbohong. Dan bahwa kebohongan Seth ada hubungannya dengannya.
Ia mengingat ucapan Seth di dasar jurang.
"Korra tahu banyak tentang kita... Ia memberimu 'nickname' Reddish Brown..."
Mungkin memang tak ada gunanya menyembunyikan apapun dari Korra. Tidak ketika mereka memang sudah saling tahu.
"Kalian bisa cepat tidak?" gerutu Jacob tidak sabar dari atas motornya. Korra buru-buru mendekat, nyengir sok-kuat seraya menerima helm dari tangan Jacob.
Collin menimbang-nimbang sementara mengawasi Korra naik ke boncengan Jacob dan memeluk pinggang kakaknya. Mungkin ini saatnya melangkah, pikirnya.
"Oh, Korra... tunggu..." ia menuruni tangga beranda depan, mendekat.
Korra membalikkan badan menghadapnya. Jantung Collin berdetak keras, kepalanya berteriak memprotes, tapi ia merasa tak ada jalan lain. Ia mengodok sakunya. Mengeluarkan sebuah bros keramik yang kelihatannya baru ditambal ulang.
"Jangan meninggalkannya di sembarang tempat. Aku susah payah membuatnya."
Korra memandang matanya. Sesaat ada binar keterkejutan, hanya sedetik, yang segera hilang digantikan oleh ketenangan yang dalam, namun mengancam. Lantas ia mengulurkan tangan, mengambil bros bunga matahari itu.
"Tentu Cole, maafkan aku," ucapnya sambil tersenyum. Matanya terus menatap mata Collin. Entah mengapa lagi-lagi Collin merasa dingin merambati tengkuknya.
"Jaga dirimu..." ucapnya ketika motor Jacob melaju. Dibalasnya lambaian tangan Korra, dan dirasanya cintanya melayang pergi.
.
.
Jacob datang tak sampai sejam kemudian, ketika Collin sedang sibuk mengirim sms dengan kening berkerut.
"Kau tahu siapa pacar Korra, jadi segera ceritakan padaku!" Jacob langsung tembak begitu melewati pintu depan.
"Hah?"
"Kau ke sini untuk melapor soal pacar Korra kan?"
Sungguh Collin tidak menduga arah pembicaraan ini. Ia tidak datang ke sini untuk itu, sama sekali.
"Ti, tidak…" jawabnya terbata-bata.
"Tapi kau pastinya tahu!" tekan Jacob.
"Kenapa aku harus tahu? Aku tidak mengurusi urusan orang lain!" kilah Collin.
"Ha! Kau, biang gosip bermulut besar, bilang tidak mengurusi urusan orang lain? Neraka pasti sudah membeku! Oke, ini cuma berarti kau kenal dengan pacar Korra. Mungkin kau sendiri pacar Korra… Tunggu, itu tidak mungkin, aku lihat sendiri pandanganmu pada Korra tadi. Tidak seperti biasanya. Jelas kau sudah tidak lagi terobsesi padanya, bahkan mungkin kau mendukung hubungan Korra. Itu aneh!"
Tanpa sadar Collin menelan ludah. Dan kelihatannya Jacob juga menyadari.
Ia menyeringai, seakan mendapat konfirmasi. "Berarti kemungkinan besar kau tahu cowok itu. Bukan cuma tahu, tapi kenal. Dekat. Mungkin kau disogok, atau malah diancam untuk tidak mengatakan padaku. Tunggu, bukan diancam tapi di-blackmail! Pastinya kau melakukan sesuatu yang buruk dan orang itu tahu kan? Kau toh tidak pernah mempan ancaman!"
Wow. Ia tak pernah menduga Jacob cukup tajam dalam hal ini. Yah, memang secara teknis Seth tidak mengancam. Tapi blackmail, itu mungkin benar.
Collin menarik napas, berusaha tenang. "Kenapa penting untukmu tahu siapa pacar Korra?"
"Ini menyangkut keluargaku, Cole! Kalau kau juga sayang pada sepupumu, harusnya kau mendukungku!"
Hah? Apa itu? Jacob menyuruhnya mendukungnya dengan alasan rasa sayangnya pada Korra?
Ia jelas menampilkan keheranan di wajahnya karena Jacob melanjutkan, "Kau harus membantuku menghajar orang itu! Kalau Korra sampai hamil oleh bajingan brengsek tidak bertanggung jawab…"
Hah? Apa?
"Apa maksudmu Korra hamil?"
"Kau lihat barusan!" suara Jacob meninggi tak sabaran. "Dia muntah-muntah dan bilang dia kena morning sickness! Memangnya aku tidak tahu apa artinya?"
"Tapi, tapi..." Collin tidak tahu bagaimana mengemukakan alasannya.
"Masa iya dia bisa sakit? Dia calon serigala!" teriak Jacob.
Bukan calon. Sudah, malah.
"Kalau begitu sama tidak mungkinnya dia hamil, Jake! Kau tahu dari Leah, serigala betina tidak mungkin hamil karena setelah ia berubah, tubuhnya berhenti tumbuh! Kalau ia tidak bisa mengeluarkan ovum, bagaimana ia bisa hamil?"
"Kata siapa ia tidak bisa melakukan skema reproduksi?"
"Leah bilang dia tidak bisa menstruasi!"
"Tidak menstruasi kan tidak berarti memasuki tahap menopause. Bisa kemampuan penyembuhan serigalanya membuat luka di dinding rahim langsung menutup, tapi ia sebenarnya memang mengalami ovulasi."
Collin agak mengerjap, sama sekali tidak menduga Jacob bisa tahu banyak soal istilah biologi. Apalagi soal mekanisme reproduksi werewolf.
"Kau dengar teori itu dari mana memang? Carlisle?" ia tidak bisa membendung keingintahuannya.
"Bukan. Dari Renesmee."
"Oh…" itu memang cukup menjelaskan. "Tapi ingat teori Seth soal gene-bearer dan gene-carrier," Collin masih mencoba berargumen.
"Tapi itu kan cuma sekadar teori! Banyak bolongnya, lagi! Dan sama sekali tidak menjelaskan soal ketidakmampuan reproduksi."
"Teori Ness juga cuma teori."
"Tapi itu masuk akal."
"Ayolah, Jake! Bahkan soal Korra calon serigala juga cuma teori!"
Tidak, yang ini nyata. Tapi apapun harus dilakukan untuk menghindarkan Seth dari pembantaian akibat emosi Jacob.
Tapi Jacob kelihatannya justru senang Collin mengeluarkan kalimat itu, yang sama sekali tidak dipikirkannya.
"Kalau itu cuma teori artinya kau membuka kemungkinan Korra memang bisa hamil, Cole!"
Sial! Dia terjebak skema pemutarbalikan wacana Jake!
Ia tak tahu harus bicara apa, tanpa terasa mulai gemetar ketakutan bagai anak ayam.
Habislah sudah.
Dia sudah dengar teori Seth di jurang kemarin. Bahkan tanpa Seth dan Jacob mengatakannya pun, ia sudah tahu. Jacob mungkin menganggapnya bodoh, tapi siapa yang bisa ditipu oleh sesuatu yang begitu jelas? Ia sudah membentuk teorinya sendiri, tanpa sepengetahuan siapapun, mengenai latar belakang mereka dan apa yang mereka rencanakan. Kawanan serigala asing itu sudah jelas menginginkan otoritas. Klaim atas kawanan. Atas tanah Quileute. Dan kesimpulannya atas situasi terkini hanya satu: Seth kunci dari keselamatan kawanan sekarang. Kalau dia bisa meyakinkan Korra untuk mengurungkan niat kawanannya meneror kawanan La Push… Bukan hanya nyawa Jacob, nyawanya sendiri, juga nyawa setengah anggota kawanan yang masih berhubungan darah dengan Black, bisa diselamatkan.
Jika Seth sampai dibunuh Jacob, bukan hanya mereka akan dengan mudah membantai kawanan hanya karena menginginkan klaim atas tanah Quileute. Bisa jadi mereka akan menemukan alasan membalas dendam karena Jacob membunuh Seth. Bagaimanapun Seth kekasih Korra si serigala hitam sekarang.
.
"Cole… Cole?" suara Jacob terdengar khawatir. "Cole, tenangkan dirimu!"
Ia mengerjap, sadar. Jacob pastinya salah mengartikan gemetarnya sebagai kemarahan. Itu wajar saja. Siapapun tahu ia naksir Korra. Pastinya berita kehamilan Korra oleh cowok lain adalah hal yang paling bisa membuatnya marah. Walau nyatanya tidak. Sekarang ini ada hal yang lebih penting daripada sekadar urusan pacar Korra. Atau bahkan kehamilan. Yang terjadi di baliknya tak terelakkan.
"Jake, aku ke sini untuk membicarakan hal lain," kata Collin buru-buru.
Jacob mengernyit. Jelas bingung karena apapun yang ingin dibicarakan Collin, jelas bukan masalah Korra. Agak aneh, sebenarnya, karena masalah Korra pun tidak bisa mengalihkan perhatian remaja itu.
"Jadi apa yang mau kaubicarakan?" ujarnya curiga
Collin merasa tak ada gunanya berputar-putar.
"Aku menemukan sarang kelinci," katanya mantap.
Jacob melongo.
"Apa pentingnya bagiku tahu kau menemukan sarang kelinci atau sarang ular atau sarang tawon atau sarang laba-laba?!" teriaknya murka.
Yang benar saja! Collin membangunkannya pagi buta dan membela-belakan diri bolos sekolah untuk melaporkan penemuan sarang kelinci? Apa dia sudah gila? Memangnya mereka anak umur 6 tahun!
Bayangan ketika ia berusia 8 tahun dan Collin 4 tahun kembali muncul di benaknya. Mereka menyelinap ke hutan bergaya sok penjelajah karena Collin bilang ia menemukan sarang kelinci, mengabaikan si lembek Seth yang ketakutan. Sarang yang ia katakan ternyata lubang ular. Collin dan Jacob lari terbirit-birit mendengar desisan ular hingga Jacob terjatuh karena terkait akar pohon. Collin tersandung tubuh Jacob dan jatuh terperosok ke lubang kelinci betulan. Kepalanya membentur batu begitu rupa hingga darah membanjiri lubang kecil itu. Untung saja Seth melaporkan petualangan kecil mereka pada orangtuanya, karena kalau tidak, Collin pasti mati. Jacob tersesat tidak tahu jalan pulang sementara menggendong Collin, yang kepalanya bocor dan sudah tak sadarkan diri, selama lima jam sebelum akhirnya ditemukan oleh tim pencari. Bocah itu akhirnya kena 10 jahitan, dan sempat koma sebulan karena mengalami geger otak.
Mungkin geger otak bukan termasuk penyakit atau kelemahan fisik yang bisa dikoreksi oleh kemampuan penyembuhan serigala. Pastinya itu menjelaskan mengapa Collin sering hilang akal.
"Apa kamu mau geger otak lagi, Collin?" Jacob melotot. "Karena kali ini kau tidak perlu terperosok masuk ke sarang kelinci hingga terbentur batu segala. Cukup aku yang menjedukkan tengkorak tipismu dengan tengkorak bajaku di sini," katanya sambil mengetuk-ngetuk dahinya.
"Kau bicara apa sih, Jake?" Collin memandangnya seakan sepupunya itu yang mengalami geger otak.
"Kau yang bicara apa! Apa-apaan kau pakai lapor menemukan sarang hewan? Memangnya kau reporter Animal Planet?"
Collin tampak baru sadar kesalahannya. Ini jelas bukan awal yang bagus untuk memulai satu percakapan serius. Jacob termasuk orang yang percaya kesan-pada-pandangan-pertama. "Maksudku sarang serigala, Jake..." ia berusaha tampak sungguh-sungguh. "Dan memang seperti sarang kelinci."
"Ha! Makin aneh! Serigala tidak bersarang! Sudah, Cole, aku ngantuk..." sambil menguap Jacob melintasi Collin, membuat pemuda itu menggerutu dan lantas menarik tangannya.
"Jacob, aku serius! Aku menemukan sarang kawanan lain!"
Jacob berputar padanya begitu mendadak hingga Collin agak kaget mendapati wajah Jake mendadak hanya dua senti dari wajahnya. Matanya memicing curiga, jelas tidak percaya.
"Kau mau bikin lelucon apa lagi sekarang?" ujarnya dalam nada dingin.
Collin bersikukuh. "Aku tidak bercanda. Aku benar-benar serius. Aku menemukan sarang si Alfa putih. Di dasar jurang."
"Katamu kau menemukan sarang di dasar jurang?!" seru Jacob.
Anggukan cepat Collin terlihat pasti.
"Oke," kata Jacob setelah menimbang-nimbang. "Ceritakan padaku selengkapnya."
Dan Collin bercerita. Tentang ia dan Seth terperosok ke jurang, kemudian ia mencari jalan keluar yang malah mengantarkannya ke jaringan terowongan bawah tanah aneh. Yang menembus ke hutan di belakang pondok Sam. Tentu saja ia tidak menceritakan teori Seth tentang Korra. Belum, tepatnya.
Tapi cerita itu hanya membuat Jacob makin meremehkan.
"Aku tidak pernah dengar ada serigala mau membuat sarang bawah tanah, Cole. Apalagi ukurannya hanya muat sepas tubuhmu. Serigala betulan jelas takkan mau membuatnya. Kelinci terlalu kecil. Dan serigala jadi-jadian? Bagaimana ceritanya tubuh sebesar itu muat ke lubang sekecil itu? Dan manusia jelas tidak bisa membangunnya tanpa alat…"
"Tapi aku jujur, Jake! Kau bisa membaca ingatan penuhku kalau tidak percaya," Collin sudah siap-siap mau membuka bajunya dan meluncur ke luar. Ke hutan, tepatnya. Namun Jacob menahannya.
"Apapun itu aku tetap tidak percaya. Siapapun di kawanan tahu kau punya imajinasi yang hebat dan bisa memanipulasi memori ataupun memunculkan gambaran grafis yang meyakinkan murni dari kepalamu. Sesuatu yang bahkan tak bisa ditandingi Renesmee."
"Jake!" desis Collin, jelas merasa tersinggung.
"Kenapa? Itu kan seharusnya sanjungan…"
"Tapi aku jujur, Jake!"
Jacob kelihatan lelah dan bosan. "Rupanya aku kurang memberimu detensi kemarin, Cole! Atau memang kau sengaja membuat skema ini untuk membalas dendam, karena aku menyuruhmu lari 5 plus 18 jam semalam?"
Setelah mengantar Seth kemarin, melihat kondisi sang Beta, bahkan tanpa menghiraukan pembelaan pemuda itu, Jacob langsung menghukum si Ranger Merah. Patroli kemarin bukan jadwal Collin, tentu, apalagi ia harus berlari sejak dini hari setelah ia mengantar Seth kepada Adam hingga masuk jam sekolah, lantas dilanjutkan sejak pulang sekolah hingga waktu sekolah keesokan harinya. Hari ini, tepatnya. Yang ternyata Collin malah membolos. Kelihatannya Jacob lumayan tenggang rasa dengan membiarkan sepupunya bolos sekolah hari ini, dan malah mangkal di rumahnya.
Collin menggerutu hebat mendengar komentar sang Alfa.
Astaga! Kemarin lusa ia mengungkapkan pada orang yang salah, pada Sam, dan Sam begitu mudah menerima ceritanya. Kini ia mengemukakan pada orang yang tepat, yang seharusnya, Alfanya sendiri, dan Jacob sepenuhnya susah diyakinkan?
"Aku mencium bau serigala, " tekannya sungguh-sungguh. Tidak ada jalan lain. Ia tetap harus menceritakannya. "Tidak hanya satu. Dan salah satunya..." ia menarik napas panjang. "Korra..." lanjutnya lirih.
"Korra?!"
"Aku yakin itu Korra," ujar Collin pasti.
Meski mendengar tanda titik di kalimat pendek Collin, Jacob tidak bisa menampik adanya sedikit rasa sedih, kecewa, dibalut kemarahan, dalam suara Collin. Perlahan ia mulai mempertimbangkan. Collin takkan melibatkan perasaan pribadi kalau memang hanya bercanda.
"Tunggu, Cole. Kau mau bilang Korra adalah anggota kawanan lain?"
"Aku dan Seth berpikir begitu," Collin berusaha menelan semua perasaan pribadinya dan bersikap profesional.
Ini tidak mungkin. Oke, Jacob memang mempertimbangkan juga kemungkinan itu. Ia tahu semua gosip kawanan dan lain sebagainya. Tapi, Korra adalah adiknya. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa menerimanya, menyayanginya. Kawanan lain adalah musuhnya. Bagaimanapun, ia tak ingin berharap kemungkinan itu adalah kenyataan.
Seth mungkin menelurkan ide itu atas pengaruh Collin. Tapi Collin mencintai Korra. Mengapa ia menelurkan ide itu? Apa ia tahu artinya?
"Tidak mungkin..." Jacob menggeleng. "Kau merasakan sendiri tadi. Apa suhu tubuh Korra panas? Tidak, kan? Dan dia sakit... Dia bahkan belum jadi serigala! Oke, mungkin waktu itu aku bilang ia mengalami gemetar dan sebagainya... Tapi itu artinya dia di ambang perubahan, bukan sudah berubah!"
"Aku tidak tahu soal itu, Jake... Tapi sebagian besar hipotesis aku dan Seth masuk akal... Dan yang aku rasakan di lapangan, di liang kelinci itu, tak salah lagi memang bau Korra!"
Jacob mengepalkan tinju. Pikirannya kusut
"Kalau begitu suruh Seth kemari!" perintahnya. "Aku butuh bicara dengannya!"
"Dia tidak bisa ke sini..."
"Kenapa tidak?"
"Dia bersama Adam," jawab Collin singkat dan Jacob mengerti.
Mereka akhirnya berhasil pulang dini hari itu. Atas petunjuk Seth yang memberi arah sebaliknya dari yang ditempuh Collin, ia akhirnya menemukan bagian jurang yang agak lebar. Sempit, tapi cukup untuk leluasa dilalui tubuhnya. Collin berubah saat itu, menaikkan Seth ke punggungnya. Lantas langsung meluncur menemui kawanan. Di ujung daerah terisolasi itu, tidak sampai 15 menit perjalanan dalam bentuk serigala, tebing yang mengapit mereka agak melandai dan jurang itu melebar membentuk sebuah ngarai. Memang Sam menepati janji. Bala bantuan, khususnya Adam, sudah menunggu di sana.
"Kenapa kau tidak segera lapor padaku setelah kalian menemukannya?!" tuntut Jacob murka.
"Maaf, Jake... Aku butuh waktu untuk mencerna semuanya. Aku sendiri tidak yakin," jawab Collin, agak bergumam.
Kalau mau jujur, tidak hanya Sam, tapi Seth juga memintanya untuk tidak menceritakan apapun pada Jacob. Mereka berusaha menggabungkan kedua fakta yang ditemukan semalam. Dan sampai pada kesimpulan aneh. Seth berusaha meyakinkan Collin untuk bungkam, khususnya soal Korra, hingga ia bisa mengungkap identitas gadis itu. Seth bahkan memaksanya membuat tembok mental, agar apapun yang baru mereka saksikan tidak bocor sembarangan ke kawanan. Tapi Collin tidak bisa menunggu.
Permasalahan seperti ini tidak bisa ditunda-tunda lagi. Ya atau tidak Korra adalah bagian dari kawanan lain itu. Ya atau tidak Korra adalah musuh mereka. Ia cuma butuh satu kepastian itu. Menunggu Seth dan rencana pendekatan halusnya, itu juga jika Seth punya, bisa makan waktu ribuan tahun. Apalagi dengan fakta bahwa Seth berpacaran dengan Korra sekarang, bisa jadi seluruh penilaian sang Beta terpengaruh perasaan pribadinya. Ia tidak yakin Seth akan bertindak begitu tanpa mempertimbangkan kepentingan suku, tapi tak boleh meresikokan apapun. Subjektivitas bisa muncul kapan saja, tanpa pandang bulu.
Seth memang harapan untuk membujuk Korra. Tapi bagaimana jika dia tidak bisa? Bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya? Justru Seth yang dibujuk...
Atau jangan-jangan Seth sendiri sudah berhasil ditundukkan Korra. Menyeberang. Seperti Noah.
Tunggu. Apa tadi ia bilang? Ditundukkan?
.
Sebuah ingatan kecil mengenai apa yang terjadi dengan Noah di sekolah sekitar hampir dua minggu lalu melayang di benaknya.
"Jake..." ujarnya lamat-lamat. Jake sedang terpekur di sofa dengan pandangan mata kosong, sibuk mencerna. Tapi kemudian ia menoleh, menatap Collin. Collin menghela napas berat.
"Apa?" tanya Jake tidak sabar setelah sekitar dua menit ia menunggu Collin bicara.
Collin menggigit bibir. Jelas kata-katanya begitu berat hingga perlu pertimbangan. Ini aneh, sejujurnya, karena Jake tahu sepupunya itu tidak pernah menahan-nahan ucapannya, apalagi perasaannya. Anak itu kelewat terbuka, malah.
Collin akhirnya menemukan lidahnya kembali. Kata-kata yang meluncur terdengar ragu.
"Kau tahu sesuatu tentang mekanisme menundukkan serigala?" tanyanya.
Jacob mengernyit. "Apa itu?"
Kalau seorang Alfa saja tidak tahu, apalagi dirinya?
"Entahlah..." Collin mengendikkan bahu. "Mungkin sesuatu semacam... yah... mencuri anggota kawanan lain, menjadikannya bagian dari kawanannya sendiri, hal-hal semacam itulah..."
Ucapan Collin membuat Jacob mengejit.
"Apa yang Seth katakan padamu?" tanyanya.
"Hah? Seth?"
Sungguh Collin tidak tahu apa maksud Jacob. Seth? Mengapa tiba-tiba Seth?
"Apa yang kauketahui tentang kawanan serigala lain?" tuntut Jacob lagi.
Collin berusaha mengumpulkan ingatan dan teorinya sendiri, semua tentang kawanan serigala lain. Mengutarakannya pada Jacob. Jacob kelihatan agak terpesona, menunjukkan bagian yang benar. Namun sesekali ia justru menggerutu, jelas bagian itu tidak diduganya atau mungkin salah sama sekali. Dan Collin tidak berhenti. Ia bahkan cerita soal Sam.
Wajah Jacob langsung menegang ketika Collin membicarakan Sam dan kawanan lain. Jelas Jake punya kecurigaan tersendiri soal si mantan Alfa. Atau fakta yang ia sembunyikan soal si serigala putih dan kawanannya. Dan Jacob yang masih juga menutupi hal itu darinya membuatnya mengerang frustasi.
"Jika kita mau menyatukan puzzle ini kita harus saling jujur, Jake! Tidak bisa kau menyimpan sebagian dariku dan sebagian lagi kauberikan padaku! Aku tidak bisa melihat gambar besarnya kalau begitu!"
"Dan apa pentingnya aku mengatakan semua padamu?"
"Jake, aku juga Black!"
Jake memelototinya. Jangan harap Collin berani-beraninya mau mengklaim posisi Alfa. Oke, ia mungkin pernah mempertimbangkan dengan serius kemungkinan ini. Bahkan ia memaksa Seth untuk mengikat Sumpah setia pada Korra dan Collin jika waktunya tiba. Tapi yang jelas tidak sekarang.
"Aku sudah memutuskan kedudukan Alfa tidak akan kuturunkan padamu, Cole. Tunggu hingga kau matang baru kau bisa ikut-ikutan dalam bursa kandidat."
"Itu bukan keinginanku!" bantah Collin. "Tapi ini penting, Jake! Jika kawanan lain ingin mengambil alih kedudukan Alfa kawanan, aku juga terancam sepertimu! Aku tahu aku tidak punya kemampuan memimpin, dan kekuatanku tidak seberapa, tapi justru itu titik buruk bagiku! Aku seperti… kandidat yang kedudukannya tinggi tapi kemampuannya paling lemah… Aku bisa dengan mudah digilas!"
Itu tidak benar, tentu. Collin adalah nomor empat di kawanan, di atas para serigala yunior. Ia bahkan di atas Quil. Sifat dan karakter dasarnya memang menyebalkan, sama sekali tidak pantas sebagai pemimpin. Tapi Jake tahu sendiri seperti apa kekuatan Collin saat terdesak. Tahu juga bakat kepemimpinan terpendamnya. Selama ini, diam-diam ia merasa, mungkin ia keras pada Collin karena mengharapkannya. Tapi jangan sampai Collin tahu ia berpikir begitu. Bisa tambah besar kepala dia nanti.
Tapi mungkin Collin ada benarnya soal rahasia ini.
Jadi Jake pun membukanya. Mengenai kawanan lain dan rencana mereka. Tawaran atau Penaklukkan. Collin mengejit mendengarnya, tapi bagaimanapun ia sudah bisa menduga. Itu hanya merupakan konfirmasi bahwa ketakutannya benar. Ia memang salah satu yang terancam.
.
.
"Jake, aku curiga… Kawanan ini mencoba merekrut serigala dari suku kita," katanya akhirnya setelah jeda cukup panjang. "Noah bagian dari mereka sekarang!"
"Noah? Noah Peterson?"
"Ya."
"Oke. Apa yang kauketahui soal Noah Peterson?"
"Dia ada di dasar liang kelinci itu. Dia jelas memiliki kemampuan serigala. Dia bisa melihat tanpa bantuan senter di tempat gelap dan dia berubah."
"Berubah?"
"Aku tidak jelas dengan warnanya tapi tubuhnya tidak lebih besar dariku," jawab Collin.
"Aku tidak butuh detail itu, Cole. Apa yang kaulakukan hingga ia berubah?"
"Aku… Menghantamnya terus hingga ia kehilangan kendali," Collin mengakui dengan penuh rasa bersalah. Ia yang paling menentang kebijakan bully, tapi ia sendiri yang akhirnya melakukannya. "Ia berubah dan aku tidak bisa menangkap pikirannya."
"Kau tidak bisa menangkap pikirannya?"
"Sudah jelas ia bagian dari kawanan lain, Jake."
"Kawanan siapa?"
"Bukankah sudah jelas?" ujar Collin. "Kawanan asing itu."
Jake menekur.
"Tapi ini aneh, Jake… " ucap Collin lagi. "Bagaimana mungkin mereka bisa tahu Noah adalah serigala jika Noah belum berubah? Maksudku, jika mereka merebut Noah sesudah dia berubah, seharusnya pikiran Noah sempat terkoneksi dengan kita, kan?"
"Apa mungkin mengklaim serigala sebelum ia berubah?"
"Aku tidak mungkin tahu itu, Jake! Aku kan bertanya padamu!"
Keduanya kembali diam, berpikir. Sebelum akhirnya Collin mengingat sesuatu. Dan sebentuk ide langsung bertelur dari kepalanya.
"Jake, Korra menundukkan Noah di sekolah sebelum acara kamping."
Kedua alis Jacob bertaut. "Korra menundukkan Noah?"
"Mereka berkelahi. Korra memiting Noah dan aku sempat mendengarnya mengeluarkan perintah. Kukira dulu itu gaung Titah Alfa, dan berhubungan dengan darah Black. Tapi setelah kupikir sekarang, mungkin itu Titah Beta. Serigala hitam itu bagaimanapun adalah Beta kawanan lain."
"Apa seorang Beta bisa melakukan penundukan?"
Jujur saja Jacob meragukan hal ini. Ia tidak tahu persis, tapi mendengar apa yang dibicarakan si Alfa putih, ia mendapat kesan bahwa penundukan serigala hanya bisa dilakukan oleh Alfa. Tapi lagi, ia tidak tahu. Ia tidak tahu apapun.
Ia memandang Collin, meminta idenya. Collin mungkin bukan Seth, tapi idenya kadang malah lebih kreatif dan tak terduga. Tapi Collin hanya mengejit, terlalu berlebihan malah, di bawah tatapan penuh harap Jake.
"Mana mungkin aku tahu!" serunya.
Tidak ada harapan kalau begitu. Satu-satunya sumber yang bisa dipercaya hanya si Alfa putih dan jelas Jacob tidak mau berhubungan dengannya.
Tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
"Tunggu, Cole… Tadi kau mempertanyakan bagaimana mungkin kawanan asing bisa mengetahui Noah adalah serigala sebelum ia berubah?"
"Ya…"
"Menurutmu itu bukan ketidaksengajaan?"
Collin tampak berpikir-pikir. "Korra jelas tahu banyak…" ujarnya lamat-lamat. "Sepanjang pertarungan ia terus mengucapkan bahasa makian yang berhubungan dengan anjing."
"Maksudmu?"
"Yah, seperti 'ekor', 'cakar', 'taring'…"
"Itu bukan bagian dari bahasa prokem?"
"Aku juga ingin bicara begitu tapi jelas Korra tahu lebih dari yang seharusnya…"
Jacob mengangguk. "Berarti ada kemungkinan memang mereka tahu siapa saja yang memiliki darah serigala…"
"Ya," Collin menyetujui. "Mungkin mereka menyelidiki pohon silsilah Quileute atau…"
Mereka berdua menahan napas. Saling menatap dengan mata membelalak.
Ya, hanya ada dua kemungkinan selain itu. Satu, Korra, jika ia memang anggota kawanan lain, mencuri lembar kertas itu dari kakaknya atau dari Brady. Dan yang kedua, Sam sendiri yang menginformasikan daftar nama itu pada mereka.
.
.
catatan:
Collin dan Jake akhirnya bekerja sama...
hahaha... kaya nulis cerita dari sudut pandang dua orang yang sama...
aneh banget...
