THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: read on your own guard…
.
.
Curiga
Tuesday, February 05, 2013
8:21 AM
.
.
"Hanya ada satu cara untuk mengetahui apa yang terjadi, tentang Noah dan tentang liang kelinci itu," ujar Jacob akhirnya, sementara ketegangan merambati wajah Collin dalam tiap detik berjalan. "Kita datangi sarang Alfa putih yang kaukatakan untuk melihat langsung!"
Bukan ketegangan atas keputusan Jake, tapi harapan, yang muncul di mata Collin. Sungguhkah Jake mempercayainya?
"Jangan salah sangka, Cole... Aku hanya ingin mengecek. Jika nyata bahwa kau mengarang-ngarang cerita entah untuk alasan apa, kau akan kuminta pertanggungjawaban."
"Aku yakin apa yang aku lihat, Jake," tegas Collin, bangkit dari sofa. Kesungguhan yang ada dalam binar matanya menyaputi tiap kata yang keluar dari lidahnya. "Aku berani bersumpah!"
Mata Jacob ragu, tapi ia mengangguk juga seakan memberi kepercayaannya. Menepuk lututnya keras-keras, ia bangkit juga dan melangkah menuju pintu.
"Tunggu, Jake... Apa perlu aku menghubungi kawanan lain sebagai back-up?" tanya Collin, jelas mempertimbangkan tindakan menyelidiki ke sarang musuh, berdua saja, adalah tindakan gegabah dengan taruhan nyawa.
"Tidak. Yang akan kita lakukan hanya pengecekan. Kita takkan mengundang pertarungan apapun. Cukup kau beri tahu jalan dan aku akan mengikuti."
Ini sama artinya Jacob tidak mempercayainya sepenuhnya. Siapa memang orang bodoh yang mau mendatangi sarang musuh hanya berdua saja? Bahkan tanpa memberi tahu yang lain?
"Aku akan meng-sms Brady, setidaknya ia tahu kita akan ke mana," ucap Collin yang disambut anggukan Jake. Collin melanjutkan, agak antisipatif. "Untuk berjaga-jaga saja seandainya kita tidak kembali hingga sore..."
Yah, sebaiknya ia tidak berharap mereka tidak kembali sore nanti. Karena kalau begitu, kemungkinan terburuk sudah pasti terjadi.
Mereka melangkah ke balik tudung pepohonan dan berubah tidak sampai lima detik begitu mencapai batas hutan.
.
.
"Selamat siang, Alfa..." suara si Alfa putih langsung menyapa begitu Jacob berubah.
Sambutan yang tidak diduga-duga itu membuat Jacob langsung menggeram marah. Tubuhnya langsung bersiaga dan matanya nyalang mencari-cari. Tidak ada tanda keberadaan si Putih di mana pun. Hanya di pikirannya.
Apa lagi yang si Alfa musuh sialan itu lakukan saat ini? Menunggunya berubah untuk bisa mengadakan kontak, menghina dan memprovokasi lagi?
Tanpa menghiraukan etika lagi, ia langsung membentak, "Apa maumu, Alfa?"
"Tenang, Alfa..." suara si Putih, seperti biasa, lembut dan tanpa emosi. Tak tergoyahkan."Kami datang dalam damai... Tiada yang kami inginkan selain hubungan baik..."
"Ya. Katakan itu pada yang percaya, Alfa. Cukup semua omong kosong ini. Kami tahu kau mengawasi kami. Kami takkan membiarkan kawanan kalian bertindak seenaknya. Meski kami pernah berhutang nyawa pada kalian, kami takkan biarkan kawanan asing menginjak-injak harga diri kami di tanah kami sendiri."
Suara Jacob begitu emosional, tapi juga penuh tekanan dan wibawa, sekaligus, sehingga ia yakin bahkan di balik topeng ketenangan yang menyaputi suara si Alfa putih, wanita itu pun sempat tertegun sejenak.
"Kami mengerti, Alfa. Rupanya bagi Anda, memang tidak ada masa depan kerjasama bagi kedua kawanan," ujar si Putih. Di balik kata-katanya yang datar dan tenang, entah mengapa Jake merasakan adanya ancaman. Tapi ia takkan jatuh.
"Kalian cukup mengerti. Sekarang cepat kalian enyah dari tanah kami!" ia mempertahankan wibawanya.
Tapi jawaban si Alfa putih, jauh dari memuaskan. Atau malah dengan mudah dapat diprediksi, jika menimbang kecenderungan hingga detik ini.
"Maaf, Alfa. Tapi perintah itu terpaksa tidak bisa kami laksanakan," tolak si Putih datar yang membuat Jacob membentak dengan suara Alfanya.
"Apa lagi maumu?" teriaknya.
"Kami sudah katakan kami datang dalam damai. Kami menawarkan kerjasama, tapi Anda menolak. Kami masih berbesar hati dan menunggu Anda mempertimbangkan Tawaran. Kami berusaha bersikap baik di tanah Anda. Mengedepankan keselamatan kedua kawanan. Menghormati Anda. Menjadi tamu yang baik..."
Entah mengapa amarah bertumpuk begitu cepat di dada Jacob."Tamu baik apanya?!" teriak Jacob, bahkan sebelum kalimat itu usai.
Jelas si Putih sama sekali tidak terpengaruh. Bahkan ia tidak memberi respon atas kekasaran Jacob.
"Tapi sayangnya," wanita itu melanjutkan dengan nada monoton yang sama, "pihak kawanan Anda sendiri yang menampik niat baik kami dan bahkan menginjak-injak ketulusan kami."
"Kau sudah dengar aku. Kami tidak menerima kalian di sini. Aku sudah dengan tegas..."
"Kami tidak mengatakan ini mengenai Anda, Alfa," potong si Putih. Entah mengapa Jacob merasakan suatu firasat buruk. "Maksud kami, anggota kawanan Anda. Salah satu anak buah Anda."
"Apa maksudmu?" desisnya.
"Kamis dini hari, lewat tengah malam, salah satu anak buah Anda menyerang anggota kawanan kami. Dari yang kami peroleh, dia menyerang membabi buta tanpa peringatan. Perlu kami ingatkan, serangan pada anggota kawanan lain, adalah tantangan perang..."
Pikiran Collin langsung panik sementara Jacob susah payah mempertahankan kewarasannya untuk tak langsung menantang si Putih bertarung satu lawan satu.
"Maksudmu kau meniatkan perang dengan kami?" amarah memuncak di dada Jacob dalam pengaruh kata-kata itu. "Jujur saja, Alfa. Memang itu yang kauincar sejak dulu, kan? Ada atau tidak adanya serangan..."
"Tidak, Alfa..." bantah si Putih."Kami selalu mengedepankan perdamaian. Hanya kami tidak bisa tinggal diam ketika salah satu anggota kami diserang."
Itu jelas bohong. Alasan. Pembenaran. Apapun.
"Lantas apa maumu?" ujar Jacob kemudian, pahit.
"Kami harap Anda sudi menyerahkan anggota Anda yang bersalah, agar kami bisa menegakkan keadilan..."
Jika menuruti kehendak hatinya, jujur Jacob ingin sekali menendang salah satu pohon di sekitarnya hingga patah dan menghancurkannya hingga jadi bubuk. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan jika tak menuruti nalurinya untuk langsung mengoyak-ngoyak tenggorokan si Alfa putih.
Menyerahkan anak buahnya... Hinaan macam apa itu?
"Kami tidak akan menyerahkan siapapun!" tekannya."Kami memiliki segala hak untuk menyerang kawananmu! Kalian bertindak mencurigakan di tanah kami!"
"Maaf, Alfa... Kami harap penilaian Anda tidak bias... Kami hanya ingin keadilan. Tolong serahkan Pejabat Pertama Tingkat Tiga, Komandan Keempat, Beta Level Dua, Collin Littlesea, dan kami akan tetap menjunjung tinggi sikap saling menghormati antarkawanan."
Jake... Collin jelas menggigil ketakutan di sisinya.
Kau tenang, Collin, aku yang atasi ini, ujar Jacob tegas, berusaha menyembunyikan perasaannya sendiri atas kata-kata si Putih.
Tidak ada yang pernah memanggil Collin beserta seluruh rentetan embel-embel jabatan lengkapnya, sehingga itu terkesan konyol. Untuk Jacob, yang juga membuatnya tak hanya mengejit, tapi juga ikut menggigil bersama Collin, bukan hanya nama lengkap itu. Atau karena ternyata si Putih tahu banyak, sangat banyak, hingga tak hanya mengungkap nama, bahkan juga jabatan mereka, yang berarti pula susunan hierarki kawanan.
Susunan hierarki yang sekarang digunakan adalah sistem bertingkat yang didesain Seth dan Embry, dikembangkan dari sistem segitiga dua kaki Alfa-Beta-Gamma, dengan meniru sistem multi level marketing. Setiap petinggi hingga tingkat ketiga, sesuai jumlah anggota mereka, memiliki dua bawahan langsung. Lantai teratas piramida kawanan diisi Jacob, tentu, dengan Seth dan Embry di tingkat berikutnya. Sang Beta dan Gamma membawahi masing-masing Beta dan Gamma Level Kedua, para Komandan Tingkat Tiga yang bertanggung jawab langsung dalam patroli. Seth memiliki Collin dan Brady, sedangkan Embry mendudukkan Quil dan Adam. Ketujuh pejabat eselon ini, yakni ketiga Triad dan empat komandan tingkat tiga, lazim disebut Sectad. Tiap komandan membawahi maksimal dua anggota. Collin atas Ben dan Pete, Brady atas Josh, Quil atas Harry dan Clark, serta Adam atas Caleb. Sistem jaringan komando ini tadinya diniatkan untuk mempermudah jadwal patroli, jaringan informasi, dan pengawasan kinerja kawanan. Pendek kata, seharusnya sistem itu yang melandasi seluruh kinerja kawanan. Tapi pada praktiknya, karena berbagai alasan—misalnya masalah perkembangan geng dalam kawanan, jadwal patroli yang seringkali harus menyesuaikan jadwal kehidupan pribadi anggota, pro dan kontra seputar urusan pengintaian calon werewolf, hingga fakta bahwa Quil lebih sering menyangkutkan diri dengan para Triad ketimbang anak buahnya—selain pada jaringan Collin dan Adam, nyata bahwa sistem ini tidak terlalu bekerja.
Jujur saja, sistem ini memang tidak orisinal. Tapi setahu Jacob hingga detik ini, tidak semua kawanan shape-shifter menggunakan pola yang sama, sehingga tidak bisa menggeneralisasi pola tersebut pada semua kawanan. Mereka bahkan baru menggunakannya setelah penggabungan dua kawanan pasca-lengsernya Sam. Sebelum itu, jumlah anggota selalu cukup sedikit untuk dapat mengakomodasi sistem Triad dengan tambahan beberapa anggota di level ketiga.
Intinya, tanpa pengamatan khusus, dengan kata lain pengintaian, tak mungkin mereka mampu langsung mengidentifikasi sistem dan hierarki kawanan. Bahkan jika pun memang si serigala putih itu punya banyak pengalaman bersinggungan dengan berbagai kawanan. Menaklukkan mereka, bahkan.
Kecuali jika mereka mendapatkan bocoran dari orang dalam. Dan jika memang begitu, Jacob sudah bisa menebak siapa sang tersangka. Tidak, bukan hanya satu. Dua, mungkin tiga sekarang.
Masalah ada pengintaian, atau pengkhianatan, atau bahkan infiltrasi ke dalam kawanan sebenarnya masih nomor sekian. Yang dikhawatirkan Jacob sebenarnya lebih ada di permukaan. Karena jelas, bagaimanapun, Alfa ini mengincar leher Collin untuk apapun tuduhan yang ia lontarkan.
Jadi itulah yang ada di dalam kepalanya, ketika ia menggeram dan berseru, "Apa yang kalian ingin lakukan pada anak buahku?"
"Kami sudah bilang, keadilan..."
"Apa yang kalian maksud dengan keadilan?"
"Mata dibayar mata, Alfa..." ujar si Putih datar yang membuat Jacob makin berang.
"Kalian mau menyakiti Beta Level Dua-ku?" teriaknya agak histeris."Kalian boleh berharap, tapi kami akan melindungi anggota kawanan kami walau bagaimanapun," tegasnya.
"Kalau begitu Anda tentu tahu apa artinya, Alfa..."
Tentunya ini hanya berarti ancaman lain.
"Kalian tidak berhak tawar-menawar di tanah kami sendiri," ia berseru marah."Perlu kalian ingat, kalian telah mencuri salah satu anggota kawanan kami. Kamilah yang perlu membuat perhitungan dengan kalian. Noah Isaac Peterson yang kaubilang anggota kawananmu adalah orang Quileute!"
"Ia memasuki kawananku melalui prosedur yang sah," jawab si Putih tenang."Ia berubah di luar wilayah Quileute dan karenanya menjadi serigala tidak bertuan. Dan bahkan sebelumnya ia telah ditundukkan oleh salah satu anggota kawanan kami."
Ingatan Collin mendadak melayang ke insiden kecil antara Korra dan Noah di sekolah. Sungguh pun itu terjadi di dalam wilayah Quileute dan pastinya bukan adegan penundukan serigala, entah mengapa pemikiran itu mempengaruhi Jacob.
"Apa itu Korra Black?" tanpa bisa ditahannya ia menyuarakan pikiran itu pada si Alfa. "Apa Korra Black-lah anggota kawananmu yang menundukkan Noah?"
Tidak ada jawaban.
Jacob menggemeretakkan gigi pada ketiadaan jawaban itu. Seakan itu merupakan konfirmasi.
"Korra Black adalah putri Quileute yang sah!" tekannya."Dengan sendirinya ia tidak terlahir untuk menjadi anggota kawanan kalian! Jika Korra yang menaklukkan Noah, sama saja itu berarti tidak ada satu pun yang memutus ikatan mereka dengan suku. Keduanya tetap anggota kawanan kami!"
Didengarnya pikiran si Putih melantunkan satu kekehan pelan."Anda rupanya tidak mengerti sistem perekrutan kawanan, Alfa..." ejeknya."Sayang sekali..."
Ejekan itu membuat Jacob tergelincir dari posisinya di ujung tebing kesabarannya, yang bahkan sudah dirasanya sejak awal ia bicara dengan si Putih.
"Ini tanahku dan kata-kataku adalah hukum!" suaranya bergetar hebat ketika kata-kata itu meluncur bahkan tanpa ia sadari."Aku menetapkan bahwa keanggotaan kawanan Quileute adalah berdasarkan darah, dan bukan berdasarkan tempat kelahiran atau tempat pertama kali ia berubah!"
Namun reaksi si Putih sangat tenang, terlalu tenang malah."Sayang sekali, Alfa..." ia mengulur-ulur kalimat."Sudah terlambat jika Anda harus menetapkan dekrit itu di saat seperti ini... Anda tetap tidak bisa mengubah yang telah terjadi... Noah Peterson tetap anggota kami."
Tanpa bisa ditahannya, Collin menghubungkan kata-kata si Alfa dengan pembicaraannya dan Seth di dasar jurang. Mengenai penundukan serigala tidak bertuan... Noah adalah bukti nyata bahwa memang kepemilikan serigala bisa dimenangkan. Ini membuka kemungkinan bahwa jika Korra memang sudah berubah, ia bisa jadi telah bergabung dengan kawanan lain, atau telah dimenangkan di luar wilayah Quileute dan menjadi bagian dari kawanan itu...
Ia begitu terhanyut dalam pikirannya sendiri hingga lupa menutup koneksinya dengan Jacob. Ketika didengarnya geraman marah Jacob, ia sadar bahwa ia baru saja melanggar janjinya pada Seth untuk merahasiakan hal itu. Dirasanya Jacob menggeram untuk kedua kalinya, dan ia membelalak lagi, sadar bahwa mungkin ia mengungkap lebih banyak dari yang seharusnya. Jacob pasti akan mengamuk tahu bahwa ia dan Seth menyembunyikan sesuatu yang serius darinya. Ia menunggu Jacob membentaknya, mendetensinya bahkan, tapi tiada yang keluar dari kepala sang Alfa selain kemarahan yang kian membludak pada si Alfa putih itu.
"Jadi intinya kau memiliki Korra?" Jacob lebih memilih menyerukan kebimbangan Collin. "Aku tidak peduli dengan Noah. Tapi lepaskan Korra!"
Kebekuan melanda sesaat. Ini titiknya. Ketika mereka harus mendapatkan jawaban. Kenyataan. Apa Korra ya atau tidak merupakan anggota mereka.
Tapi ia bisa merasakan senyum singkat si Putih sebelum ia menjawab, atau tepatnya lagi membalik pertanyaan,"Apa Anda benar-benar menyangka salah satu dari kami adalah orang yang Anda maksud, siapapun ia?"
"Ya," Jacob menjawab tegas walau Collin tak yakin ia benar-benar percaya."Jadi lepaskan dia!"
"Bagaimana jika jawabanku adalah tidak?"
"'Tidak'?" suara Jacob meninggi."Tadi kau menginginkan Collin dan sekarang kau bilang kau tidak akan melepaskan Korra dan Noah? Apa kau ingin menjadikan mereka tawanan?"
Ya. Itu mungkin saja terjadi. Jika mereka memang menyelidiki kawanan, mereka bisa memanfaatkan Korra sebagai senjata untuk melawan Jacob. Mereka mungkin berpikir sang Alfa akan dengan mudah memilih tunduk jika terpojok pada kemungkinan melawan kawanan adiknya sendiri.
Cara kotor? Ya. Tapi itu mungkin.
"Tawanan?" suara si Putih pun terdengar terkejut, entah itu asli atau dibuat-buat."Tentu saja tidak, Anda salah paham... Bukan begitu maksudku..."
"Jangan berbelit-belit!"
"Anda salah paham, Alfa. Yang kumaksud adalah bagaimana jika aku tidak memiliki anak buah bernama Korra Black saat ini?"
Collin terhentak. Apa tadi... si Putih baru saja menyangkal bahwa Korra adalah anggotanya?
Apa itu berarti Korra bukan si serigala hitam?
Anehnya, justru Jake yang kini bersikukuh.
"Jangan berbohong! Kami tahu ia Beta kalian. Ia si serigala hitam!"
Tawa merdu Si Putih berkumandang, membuat amarah Jacob kembali mendidih.
"Kau mencoba memprovokasi kami!" amuknya. "Tidak usah berputar-putar! Kembalikan Korra Black pada kami sekarang, Alfa!"
"Oke, taruhlah memang seperti yang Anda bilang, kami memiliki si Korra ini, siapapun ia. Lalu bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana? Tentu saja kami ingin ia kembali!"
"Oh, tenang Alfa... Tepatnya apa yang ingin Anda lakukan? Tentunya kami takkan melakukan atau memberikan sesuatu dengan cuma-cuma..."
Jacob kembali awas."Apa lagi maksudmu?" desisnya.
"Langsung saja, Alfa... Apa Anda hendak menawarkan pertukaran sekarang? Korra Black untuk Collin Littlesea?"
Collin membelalak tak percaya. Tak menduga arah ini. Shock pada detik itu juga, memandang sosok Jacob dan wajahnya yang keras. Ketakutan mencengkeram hatinya. Ini bukan masalah penyangkalan si Putih tentang Korra. Ini tentang dirinya. Apakah mungkin Jacob akan menukar dirinya dengan Korra? Jika ada kesempatan bagi kawanan untuk mendapatkan kembali Korra, apakah Jacob akan melepaskan dirinya?
Itu sangat mungkin. Korra adalah adik Jake. Dulu mungkin mereka tak akur tapi kini Jake tampaknya sudah membuang segala pikiran buruknya tentang si adik. Sedangkan Collin... sebut saja ia memang tidak berada dalam daftar favorit Jake. Tidak pernah sekalipun sejak ia memasuki kawanan. Bahkan tidak juga di nomor terakhir, sepanjang apapun daftar itu.
Karenanya ia tak mempercayai kepalanya sendiri kala mendengar Jacob berkata, tegas, "Tidak ada satu pun pemuda Quileute yang akan jatuh ke tangan kalian lagi. Terutama tidak salah satu dari pewaris utamaku!"
Benarkah Jacob, yang menempatkannya pada daftar sepuluh besar orang yang paling dibenci, bicara seperti itu?
Dan bicara tentangnya sebagai pewaris utama...
"Baiklah kalau begitu," terdengar suara si Putih lagi."Anda telah menolak permintaan kami, maka kami pun menolak permintaan Anda."
"Jadi apa benar? Apa benar Korra adalah salah satu dari kalian?" tuntut Jacob, demi ia sadari tak satu pun kalimat si Putih yang benar-benar berisi pembenaran atau penyangkalan.
"Mengapa Anda harus terus berputar-putar dan tidak bisa menangkap ucapan yang tersirat? Ataukah memang rupanya Anda tidak bisa menerima kata tidak, Alfa?" suara si Putih agak lelah. Jeda sebentar sebelum ia melanjutkan, "Sayangnya kami ada urusan lain. Maaf kami tidak bisa terus membicarakan ini. Kendati demikian kami tetap bersikeras keadilan harus ditegakkan. Kami akan menghubungi Anda lagi untuk merundingkan hal ini. Selamat siang, Alfa."
Suara si Putih menghilang. Tapi cuma sesaat. Karena belum lagi Jacob mendiskusikan masalah yang jelas tampak pada Collin, tiba-tiba suara merdu si Putih kembali menyelusup.
"Ada apa lagi?" bentak Jacob kasar. Sama sekali tak ada niat untuk bersopan santun pada makhluk yang lebih mengancam ketimbang lintah ini.
"Tenang, Alfa... Kami hanya ingin memperingatkan bahwa Anda sebaiknya tidak mendekati jaringan bawah tanah tempat anak buah Anda menyerang anak buah kami."
"Maksud kalian 'sarang' kalian?" ujar Jacob sinis."Apa kalian mengakui bahwa selama ini kalian bersembunyi tepat di depan hidung kami dan mengawasi kawanan?"
"'Sarang'?" si Putih membalas dengan nada meremehkan. "Jujur saja, Alfa, apa Anda benar-benar serius mempertimbangkan kemungkinan itu? Menurut Anda apa mungkin kawanan serigala akan mau bersembunyi sekian ratus meter di bawah tanah, tepatnya bahkan di bawah permukaan air laut? Tidakkah itu sedikit 'melawan insting', jika boleh dibilang?"
"Aha! Tepat begitu! Kalian memanfaatkan hal itu," seruJacob."Pemutarbalikan logika! Tidak ada yang akan mengira satu kawanan penuh selama ini bersembunyi jauh di dalam lorong-lorong tikus di dasar jurang. Membangun jaringan terowongan untuk mengawasi kami. Nyatanya memang begitulah kehadiran kalian selama ini, muncul dan pergi begitu mendadak entah dari mana. Kalian memanfaatkan lubang-lubang yang kalian tebar di entah di mana untuk keluar masuk dan bersembunyi tanpa terdeteksi, menghubungkan tempat-tempat yang hanya Tuhan dan kalian yang tahu. Takkan ada yang cukup gila untuk mengikuti dan mengendus kalian hingga ke tempat seperti itu."
Tepatnya itu pikiran Collin. Jacob hanya menyuarakannya bahkan tanpa mempertimbangkan dua kali. Ini rupanya yang disebut peran Alfa sebagai medium antarkawanan.
Jujur saja, hanya ada satu yang tidak waras dan cukup gila untuk melakukan semua yang dikatakan Jake. Collin. Namun nyatanya, jika bukan karena kebetulan, dan ia menentang instingnya sendiri, bahkan Collin pun takkan pernah berhasil mengungkap keberadaan jaringan liang bawah tanah itu.
Si Alfa putih sama sekali tidak terpengaruh. Suaranya tidak gemetar dan Jacob tidak menangkap sedikit pun getar ketidakamanan ketika ia bicara, "Kami tidak menyebutnya begitu... Ataupun menyatakan satu pun tuduhan Anda benar..."
Apa ia memang tidak ada hubungannya dengan jaringan lorong bawah tanah itu? Atau ia adalah aktris yang sangat hebat?
Kemungkinan kedua jauh lebih masuk akal.
Jacob memutuskan untuk tidak mundur. "Jadi beri alasan mengapa kami harus melakukan permintaan kalian!" tekannya.
"Maaf, kami tidak bisa... Ini peringatan serius, Alfa, bukan permintaan.."
"Kau ingin mengancam kami lagi?!"
"Bisakah kita bicara dalam cara yang lebih beradab?" suara itu agak bernada menggurui. Tapi Jacob justru menyimpan senyum simpul dalam hati tahu bahwa ketenangan dan sikap penuh kontrol yang ditunjukkan musuh mereka bisa juga retak. "Perlu kami ingatkan bahwa kita takkan mencapai kesepakatan atau kerja sama di masa depan jika Anda terus berprasangka negatif tentang kami," lanjut si Putih.
"Katakan satu saja alasan aku tidak boleh berprasangka negatif, melihat tindak tanduk mencurigakan dan seluruh itikad buruk kalian..." ujar Jacob menahan emosi. "Dan seingatku kami sudah menolak bentuk kerjasama apapun... Bahkan berkali-kali kukatakan agar kalian cepat enyah."
"Berulang kali kami katakan kami datang dalam damai," si Putih jelas sudah kehabisan stok kalimat untuk meyakinkan Jacob, yang sama sekali tak terimpresi dalam kalimat yang terasa bagai deja-vu itu. "Yang jelas kami sudah memperingatkan, Alfa... Anda menanggung resiko di tangan Anda sendiri jika Anda bersikeras mengabaikan..." ada nada tegas nan memaksa, dan sedikit lepas dari kesopansantunan yang biasa, dalam kalimat itu yang bahkan membuat Jacob tertegun. Belum lagi ia mengumpulkan kesadaran untuk memprotes, si Alfa itu sudah mengucapkan salam dengan tergesa, "Selamat siang, Alfa..." dan suaranya pun segera menghilang.
Jacob menunggu beberapa saat. Mungkin si Alfa akan kembali mengganggunya lagi dengan ucapan 'Selamat siang' yang menyebalkan itu. Sungguhpun bahkan siang belum lagi menjelang. Sekarang bahkan belum lagi jam 10.
Tapi tidak ada apa-apa.
Apa-apaan si Putih brengsek itu?! teriaknya marah. Jika saja ia bisa mengendus si Putih, pasti ia akan menghampirinya dan menantangnya saat itu juga. Persetan semua hal soal pengalaman dan kekuatannya mungkin tidak bisa mengalahkan si Putih. Persetan soal kawanan sebagai taruhan. Dia takkan tahu siapa yang menang sebelum terjun langsung ke kancah pertempuran, kan?
Aku setuju, Jake, ujar Collin langsung. Ia juga sama merasa terhinanya dengan Jacob sejak awal. Dan sekarang kita tahu kemana harus mencari mereka. Kita tantang mereka langsung ke sarangnya. Tidak akan kita biarkan siapapun menghina kawanan Quileute!
Inilah perbedaan antara Collin dan Seth. Yang juga menjadi alasan mengapa bahkan setelah Collin cukup umur, Jacob tetap tidak memilih Cole sebagai Betanya langsung, meski jelas kekuatan, sifat kepemimpinan, dan darah Cole menyetarai Seth, jika tidak bisa dibilang melampauinya. Ini bukan cuma masalah perasaan antipati Jacob pada sifat penggosip Collin. Atau karena Collin tidak punya otak, karena jelas dalam banyak hal bahkan Seth mengakui kreativitas dan kecerdasan bocah itu, kalau tidak ia tidak mungkin mau menempatkan Collin sebagai tangan kanannya. Alasannya lebih karena karakter mereka yang sebelas-dua belas. Berbeda dengan Seth yang selalu dapat meredam Jake dan membuatnya berpikir dua kali tentang apapun keputusannya, Cole akan dengan mudah melompat dalam apapun reaksi spontan yang ia keluarkan. Faktanya, Cole bahkan sangat mungkin memunculkan reaksi yang sama. Sedangkan Seth bagaimanapun punya karakteristik tertentu yang bisa menggenapi, bahkan menutupi kekurangan Jacob.
Maaf, Jake... bisik Collin, kini merasa inferior sekaligus juga malu. Bukan maksudku mengomporimu atau membuatmu tak mempertimbangkan dua kali...
Tidak apa, Cole... Memang ada saatnya kita harus bertindak cepat. Kita memang harus menyerang sekarang. Benar katamu, tidak bisa membiarkan mereka menginjak-injak kita terus.
Baik. Kalau begitu kita butuh rencana dan persiapan lain. Aku akan mengumpulkan kawanan.
Collin sudah bersiap-siap akan melolong sebelum Jacob menghentikannya.
Kau berubah balik dan kumpulkan kawanan lewat sms atau telepon. Lolongan sama saja berarti mereka juga disiagakan dengan kedatangan kita.
Sama saja, Jake. Sekarang pun mereka pasti sudah siaga. Peringatan mereka tadi sudah jelas undangan.
Bukan mereka yang aku khawatirkan.
Dirasanya Collin mengernyit dalam kekhawatiran yang mendadak menyelusup dalam benaknya. Hanya sedetik, sebelum si pewaris keduanya itu berseru, agak nanar.
Serius, Jake! Apa ini? Kau menaruh kecurigaan pada orang dalam?!
Bukan curiga. Tapi berhati-hati, ia berusaha bersikap rasional sekaligus preventif, mencari landasan atas kecurigaan yang juga mengoyak batinnya seperti itu mengoyak Collin. Aku tidak ingin bersikap seperti ini, tapi aku tidak bisa menaruh resiko. Aku takut loyalitas beberapa orang di kawanan sekarang ini patut dipertanyakan.
Maksudmu Josh?
Jujur saja, bahkan Collin pun curiga pada Josh. Sangat aneh Noah bisa dimenangkan di depan hidung mereka, dengan Josh menjadi penanggung jawab Noah yang mengawasinya terus menerus. Josh bahkan menjadi anggota geng Noah. Jika Noah berubah dan dimenangkan, mengapa Josh bungkam selama ini?
Ya. Aku butuh keterangannya. Hubungi secara terpisah. Pastikan ia datang sebelum yang lain dan beri jeda waktu yang cukup. Aku ingin bicara empat mata. Namun sesaat kemudian ia mengoreksi. Tidak, enam mata, denganmu tentu.
Meski agak bingung dengan keharusannya campur tangan dalam apapun pembicaraan menyangkut Josh, Collin mengangguk cepat. Bagian kemungkinan keterlibatan Josh bisa ia mengerti. Karena mau tak mau kemungkinan itu juga hadir di depan matanya. Jika Josh bungkam, mungkin saja bukan hanya karena ia tidak tahu. Besar kemungkinan ia juga sudah dimenangkan dan sejak itu ditanamkan di dalam kawanan untuk memata-matai. Itu bisa jadi salah satu alasan mengapa kawanan musuh tahu banyak.
Jacob kelihatannya juga setuju karena ia sama sekali tidak mengemukakan argumen yang bersifat kontradiktif.
Tapi yang aku khawatirkan justru seorang lagi... Justru itu yang muncul di benak Jacob, dan tanpa sadar Collin mengejit, mengucapkan satu nama.
Sam?
Anehnya Jacob justru sama sekali tidak terkejut. Jelas hal itu sudah diduganya.
Sam tidak perlu dipertanyakan, ucap Jacob menerawang. Maksudku seseorang yang lain.
Pikiran Jake mendadak samar dan Collin pun tidak mau bertanya lagi. Sedikit banyak ia sudah tahu. Atau setidaknya bisa menebak. Berusaha tidak menggigit bibir dengan taringnya, ia berubah tanpa banyak bicara dan langsung menghubungi yang lain.
Cole The Red Ranger (09.57 AM)
Kumpul semua. Persiapan tempur. Rumah Black. Jam 12.
s.a
Pesan itu ia kirim ke semua orang. Semua anggota kawanan kecuali dua orang.
Josh... dan Seth.
.
.
Catatan:
Maaf banget aku lama baru mulai update lagi… ada banyak masalah di kampus nie… hwahahaha…
(jadi curhat)
Btw sori juga kalo bagian ini agak ga jelas n belum sampe ke intinya
Aku nulis di one note hp n ga sadar tnyata udah 27 halaman begitu dipindahin ke word, jadi terpaksa dibagi jadi beberapa chap…
Akhirnya penundaan lagi… hahhhh…
Btw tetep R&R ya…
Thx u/ yg ud nyempetin baca or nunggu kelanjutannya…
