THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Rated M... Read on your own guard…
.
.
Adu Domba
Wednesday, February 05, 2013
8:21 AM
.
.
Seharusnya masalah Korra tertutup bagi prajurit level rendah seperti Josh. Bahkan di level Sectad, selain para Triad dan Collin, tidak ada serigala lain yang tahu ketegangan yang melanda perihal misteri Korra. Tidak juga atasan Josh, Brady. Tapi tiba-tiba Jacob memutuskan untuk membukanya di hadapan Josh, serigala yang hampir tidak ada sangkut pautnya selama ini. Tentu saja itu mengherankan bahkan bagi Collin. Lebih lagi Josh. Setiap menit berlalu, pada tiap akhir kalimat, dia hanya menghela napas, atau menahan napas, atau bahkan mengeluarkan jerit pelan.
Josh sudah mendirikan lagi sofa yang terjungkal saat ia diserang Collin dan kini sedang duduk di sana. Untung saja sofa itu tidak rusak, sebab kalau tidak, mungkin Billy akan tega memaksa Collin membayar biaya perbaikan dengan menyuruh keponakannya itu memotong rumput setiap akhir pekan atau menemaninya memancing. Collin paling benci memancing.
Dan kini, Jacob sedang mengungkap rahasia Korra, dengan Josh yang duduk tegang di sofa. Ini berlawanan dengan rencana awal yang ia harapkan. Dipikirnya Jake akan menginterogasi Josh dengan kejam, menekan dan sebagainya. Tapi tidak. Nyatanya mereka hanya berbincang-bincang. Jacob hanya bercerita, sesekali mengungkapkan curhat colongan. Dan Collin memperhatikan dari tempatnya di sisi Jacob dengan wajah memberengut.
Sumpah, Collin tidak tahu apa alasan atau bahkan rencana Jacob ketika membeberkan rahasia ini. Rahangnya jatuh ketika Jacob menceritakan hal-hal yang makin tidak masuk akal. Baru ketika Jacob menghubungkan salah satu fakta mengenai Korra dengan teori paling absurd yang pernah ia dengar, sebagian kecil batinnya mengangguk paham. Dan ia mengalihkan perhatiannya pada Josh, berusaha menangkap reaksinya.
Jadi ini tugas Beta pertamanya. Menilai dan menganalisa ciri fisik serigala yang dituduh sebagai pengkhianat, yang kini sedang duduk di hadapannya. Kondisi emosional. Kondisi psikologis. Ciri fisik yang tampak di permukaan. Kecepatan napas. Tarikan napas. Detak jantung. Ekspresi wajah. Gestur. Gerak mata. Menemukan anomali yang bisa menunjukkan kebohongan atau kepura-puraan. Apapun.
Yang benar saja! Memangnya dia psikiater?
Kalau mau jujur, ialah yang perlu telaah psikologis saat ini. Ia masih berada dalam kondisi shock mendapati dirinya ketiban beban mendadak. Masalah itu masih nomor dua, sebenarnya, karena yang nomor satu justru reaksi Seth. Menimbang sifat Seth, mungkin ia akan tertawa saja dan membiarkan Collin mendepaknya ke level ketiga. Lagipula seharusnya itu memang sudah hak Collin sejak lahir, sebagai Alfa kedua dalam hierarki.
Tapi semua itu jelas lebih mudah dikatakan ketimbang dilaksanakan. Seth tidak berada di posisi Collin. Collinlah yang harus menanggung semua rasa bersalah. Tak hanya ia membuat Seth jadi perkedel. 'Mumi', kalau mengutip ucapan Korra. Tanpa sengaja ia juga sudah menggeser Seth. Dan apa nanti kata kawanan jika mereka tahu? Ancaman terkudeta sudah jelas membayang di depan mata. Ia jelas bukan favorit utama untuk menjadi kandidat pemimpin selama ini, hingga bahkan gengnya pun tak mendukungnya. Kalau mereka semua sepakat, sekali ia melakukan kesalahan, bisa-bisa ia langsung ditendang keluar wilayah Quileute saat itu juga.
Dan bahkan Seth pun tak pernah ada di posisinya sekarang. Kapan kawanan pernah menghadapi tuduhan pengkhianatan salah satu anggota dan ia harus menganalisa kondisi fasad sebelumnya? Tidak pernah.
Tidak begitu pun, ia memang butuh bimbingan psikologis. Menurut Adam, setidaknya. Ia tahu Adam diam-diam sudah membuat analisa prematur mengenai kondisi kejiwaan kawanan. Dan ia didiagnosis dengan rentetan istilah aneh terbanyak kedua sesudah Jacob, mulai dari kecenderungan agresif hingga Ultraman dan Cyclops-apalah-itu—entah ia yang salah dengar atau memang si Adam yang melindur saat menghapal isi buku teks kedokterannya, profesor bodoh mana yang membuat istilah psikologi dari kosakata superhero, memangnya? Bahkan Jake pun sudah dibuatnya kecewa pada menit-menit pertama ia menyandang status Beta. Manalah sanggup ia meniru segala kualitas Seth, mendampingi dan menjadi pelengkap Jake? Menutupi segala kekurangan Jake di lapangan dan mengendalikan agresivitas sang Alfa? Seolah ia sendiri tak butuh dikendalikan!
Bayangkan, orang seperti dia, berbanding terbalik 180 derajat dari Mr. Clearwater, harus menjadi Beta?
Mengutip Jake, neraka pasti sudah membeku.
Ya, Neraka pasti membeku sejak sang Raja Dunia Bawah, Seth Hades Clearwater, jatuh cinta pada Korra Persephone Black. Itu awal mulanya ia sampai ikut-ikutan ketiban sial. Tak hanya tampil sebagai pecundang konyol dalam skema bodoh cinta segitiga yang bahkan tak memberinya kesempatan untuk unjuk gigi, tapi juga ujung-ujungnya tersangkut di posisi sebagai peran antagonis melawan tokoh utama.
Hentikan, Cole! Stop mengkomplain dan mulai lakukan tugasmu! Jangan lebih mempersulit Seth! Nantinya dia yang harus membereskan kekacauan yang kautimbulkan kalau kau tidak melakukan tugasmu dengan benar! Satu saat toh kau pasti mengembalikan jabatan ini padanya...
Demikian satu suara dalam kepalanya memberikan alasan yang masuk akal mengenai mengapa ia harus melakukan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab Seth. Ia menghembuskan napas berat, dan kembali mendaratkan perhatiannya pada ekspresi Josh.
Josh, kalau boleh dibilang, menunjukkan ekspresi yang wajar. Sesekali ia mengejit, meringis, atau bahkan menaikkan alis ketika cerita Jacob agak tidak masuk akal. Tapi itu wajar, terlalu wajar hingga kalau ia bertindak sebaliknya, justru itulah yang dinamakan mencurigakan.
Akhirnya Jacob menyudahi juga penjelasannya yang ketara sekali 50% mengarang indah, dan kini menatap Josh tajam, siap memulai interogasinya.
"Jadi..." katanya memulai. Entah mengapa akhirnya hampir semua orang tertular wabah awalan-Sam. "Sekarang kauceritakan apa yang terjadi ketika Korra menundukkan Noah."
Josh mengerjap. "Menundukkan?" bisiknya bingung.
"Maksudku ketika Korra mengalahkan Noah. Collin bilang kalian sempat bersitegang di sekolah dan Korra membabat habis kawanan, maksudku kelompok bully Noah."
"Ya, tapi..." Josh melirik sekilas pada Collin. "Kau pasti sudah dengar cerita lengkapnya dari Collin. Apa lagi yang harus kuceritakan?"
"Aku tidak butuh fakta-fakta obyektif. Aku butuh sesuatu yang sifatnya subyektif."
"Ma, maksudmu?" Josh terbata-bata, jelas tidak yakin dan takut salah tangkap.
"Bagaimana perasaanmu sendiri atas semua kejadian itu? Aku butuh cerita dari sudut pandangmu."
Josh tampak berpikir-pikir sejenak. Lalu katanya, "Korra di luar yang aku pernah bayangkan. Ia menjatuhkan Noah dengan kecepatan yang mengagumkan untuk ukuran manusia normal. Setelah menjatuhkan seluruh anak buah Noah, ia menuju ke arahku dan memepetku ke dinding."
Jacob menunggu kelanjutannya.
"Ia bilang sesuatu soal masih menghormati kau dan Sam... Bahwa ia takkan menundukkanku hari itu... Lalu Noah bangkit menyerangnya lagi dan ia melepaskanku. Menjatuhkan Noah untuk kedua kalinya. Menduduki perut Noah dan membisikkan sesuatu di wajahnya. Sesaat aku mengira seolah ia akan menghisap Noah."
Jacob tidak yakin akan apa yang ia dengar. "Menghisap?" tanyanya bingung.
"Korra mencondongkan tubuh begitu rupa dan wajahnya hanya sekian senti dari telinga Noah," jelas Josh. "Aku sempat berpikir ia mengincar leher Noah, kau tahu, seperti vampir..."
Jacob mengernyit dan mulai memberi gestur seolah ia ingin Josh mengatakan sesuatu yang lebih rasional. "Yang benar saja, Josh..." ujarnya. "Kau tahu ia calon serigala dan bukan vampir..."
"Kaubilang tadi kau ingin pandangan subyektifku!" protes Josh.
"Oh, ya... Maaf, teruskan..."
Josh menerawang, berusaha mengumpulkan kembali ingatannya.
"Aku yakin aku melihat Noah mulai bergetar. Saat itu aku sungguh berpikir dia akan meledak di lorong sekolah. Aku mengalihkan pandangan pada Cole dan Brad, memohon bantuan. Mereka seharusnya bisa menarik Korra dari tubuh Noah dan menghalau Noah pergi sebelum ia berubah. Syukur-syukur kalau mereka bisa menghentikan proses Noah. Memang kita menginginkan Noah berubah dan itu tugasku untuk memastikan perubahannya, tapi tidak di lorong yang padat. Siswa-siswa banyak yang menonton saat itu. Cole dan Brad kelihatannya sudah tahu bahkan sebelum aku memberi kode. Mereka sudah melangkah ke arah Korra. Untuk menariknya, kuharap. Lalu tiba-tiba mereka berhenti. Dan aku... Aku benar-benar aku tidak yakin apa yang kutangkap jika aku tidak melihat dan mendengar langsung..."
Sampai situ Josh berhenti. Nadanya terdengar tidak yakin ketika ia melanjutkan.
"Aku tahu kau takkan mempercayaiku, Jake. Tapi rasanya… aku mendengar Titah Alfa."
Jujur saja bagian ini tidak terlalu mengagetkan Jacob. Akibatnya justru Josh yang balik merasa kaget melihat reaksi tenang sang Alfa. Tapi tak sampai sedetik, karena ia langsung paham. Jacob tentunya sudah mendengar soal ini sebelumnya dari Collin. Dan ia tertawa hambar. Kurang lebih ia tahu, karena Collin muncul lebih dahulu, ceritanya hanya dibutuhkan untuk melengkapi sudut pandang dan tidak memberi informasi yang baru sama sekali.
"Ceritakan saja apa yang terjadi setelah Korra menyuruh Noah pergi," ujar Jacob melihat kepahitan dalam wajah Josh.
Josh mengangguk ragu. "Korra menyuruhku mengejar Noah dalam nada aneh. Tidak mengikat, tapi memburu. Kelihatannya dia mengkhawatirkan sesuatu. Entah mengapa aku curiga ia memberitahuku untuk melindungi Noah dari perubahannya sendiri. Ia memang tidak mengatakannya langsung, dan saat itu aku merasa tak masuk akal, tapi aku merasa kekhawatirannya benar. Maka aku pergi mengejar Noah. Aku menemukannya di halaman sekolah, dalam keadaan gemetar hebat, dirubungi teman-temannya. Aku langsung membubarkan mereka dan menyeret Noah, sebisa mungkin menjauh dari sekolah," sampai situ Josh berhenti. Ia membuang muka, seolah tidak ingin mengatakan hal yang harus ia katakan.
"Lantas apa?" tuntut Jacob.
Josh menerawang menatap langit-langit kala melanjutkan, "Noah gemetar. Tubuhnya sangat panas. Lebih panas dari kita karena aku bisa merasakan panasnya. Gemetarnya makin lama makin hebat, sangat, tapi ia tidak kunjung berubah. Ia mulai mencakar-cakar tubuhnya dan berteriak-teriak kesakitan. Darah mulai keluar tidak hanya dari bekas luka cakaran di tubuhnya, tapi juga dari hidung dan telinganya. Putih matanya memerah. Ia panik, berteriak-teriak memohon agar rasa sakit itu dihilangkan. Sorot matanya aneh. Ketakutan, ngeri, aku tak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Aku tak bisa melakukan apapun selain menahan tubuhnya, menjaga agar ia tak lebih menyakiti tubuhnya sendiri. Tapi ia terus meronta. Kekuatannya mengerikan karena aku pun sampai kewalahan. Tapi yang lebih kutakutkan adalah ia mati karena tak bisa mengendalikan diri. Akhirnya tidak ada yang bisa kulakukan selain menghajarnya agar pingsan dan membawanya ke poliklinik sekolah."
Jacob membelalak mendengar cerita itu. Begitu juga Collin. Ia malah sudah lupa tugasnya untuk mengawasi tanda-tanda fasad Josh dan kini sudah memasang perhatian totalnya pada isi cerita, bukan pada gestur dan ekspresi sang pencerita. Tapi itu tak tertahankan. Mereka tidak pernah mendengar ada kasus seorang serigala tidak bisa berubah dan menyiksa dirinya sendiri.
"Apa kau melebih-lebihkan?" tanya Jacob, setengah ngeri setengah skeptis, yang disambut gelengan Josh.
"Aku juga berharap aku hanya mendramatisasi. Tapi itu yang kulihat, Jake," ujarnya sungguh-sungguh.
"Apa itu efek dari Titah Korra?" bisik Collin, tiba-tiba ikut ambil bagian, yang membuat baik Josh maupun Jake menoleh padanya.
"Apa maksudmu Titah Korra?" tanya Jacob dengan kening berkerut. Mungkin jika Jacob tidak lebih dahulu menanyakannya, Josh juga kelihatannya ingin bertanya hal yang sama.
"Sebelum Noah pergi, Korra sempat mengancam Noah untuk jangan bertingkah di depannya… Dan juga melarangnya meledak…"
"Melarangnya meledak?" tanya Jacob dengan kening berkerut.
"Bukankah itu jelas? Korra menyuruh Noah untuk tidak berubah menjadi serigala…" Collin merenung, menumpukan siku tangan kanannya di punggung tangan kiri yang terlipat di depan dada, dengan jemari tangan kanan menyentuh dagu dalam pose berpikir ala Sherlock Holmes. "Hanya itu yang memungkinkan semua reaksi itu. Perubahan yang tertahan mungkin akan seperti ketika kau tidak bisa menyalurkan emosimu. Bagi serigala, apalagi yang belum pernah berubah, itu membakar tubuhnya, menyakitinya dari dalam."
"Benarkah?" tanya Jacob, agak terpesona oleh dugaan Collin.
"Ya," Collin mengangguk. "Aku pernah mengalaminya waktu aku dihukum kurungan rumah oleh ibuku. Aku marah tapi aku tak bisa keluar, tak mau menyalurkan amarahku dengan berubah. Aku merasa sangat kesakitan, tapi tentunya tidak sampai tahap menyakiti diriku sendiri..."
Mendengar penuturan Collin, tentu saja reaksi pertama Jacob adalah menyepelekan. Itu Collin yang bicara, walau bagaimanapun. Tapi ekspresinya tak bertahan lama ketika Josh ikut ambil bagian.
"Aku pernah mengalaminya," terdengar Josh bicara lamat-lamat, agak ragu. "Sewaktu kau memberiku detensi dengan melarangku berubah…" ia menoleh pada Jacob. "Aku lupa apa pemicunya, yang jelas terjadi sepulang sekolah. Aku sangat marah dan tubuhku terasa sangat panas, aku bergetar hebat. Ruangan mataku berubah merah dan aku merasa seakan aku dibakar dari dalam. Aku menunggu perubahan itu, tapi tak ada yang terjadi. Tampaknya aku sempat pingsan karena begitu aku sadar, tahu-tahu hari sudah gelap. Ada banyak bekas luka cakaran di tubuhku yang sudah separuh sembuh. Dan kuku-kukuku kotor oleh darah beku dan serpihan kulit yang tampaknya milikku sendiri."
Kengerian mengguncang Jacob selama sekian detik sebelum akhirnya ia bisa menyusun kata. Sebuah penyangkalan. "Aku pernah melakukan itu?"
Josh mendesah sebelum menjawab, kelihatannya agak malas mengungkit-ngungkit. Tapi akhirnya ia bicara dengan nada kasual. "Ya, Jake. Aku tak yakin kau tahu akibatnya tapi kau memang pernah melarangku berubah. Kau ingat? Sewaktu Brady berubah jadi serigala di kota… Sekitar setengah tahun lalu?"
Ya. Ia ingat itu. "Tapi apa hubungannya denganmu?"
"Tentu saja karena akulah penyebab Brady hilang kendali..." Josh menjawab dengan nada seolah memberi tahu tadi pagi turun hujan atau kemarin ia makan waffle untuk sarapan. Standar. Santai. Biasa. "Karena ia menguntit pacarnya dan memergoki cewek itu memberiku sedikit servis XXX di toilet umum di Port Angeles..."
Mulut Collin dan Jake langsung menganga.
"Kau... tidur dengan Roxanne? Mantan cewek Brady?" tanya Collin tak percaya. Dalam hati ia bingung. Kenapa ia tak tahu hal ini? Bagaimana mungkin ia melewatkan sesuatu seperti ini dari kepala Brady dan Josh?
Josh mengedikkan bahu dengan santai, sama sekali tidak merasa bersalah. "Oh, jadi namanya Roxanne..." ujarnya ringan. "Tidak tidur, sebenarnya, hanya servis kecil-kecilan. Aku tidak menyesali bagian itu, kalau mau jujur… Cewek murahan itu sama sekali tidak layak untuk cinta murni Brads… Hanya kugoda sedikit, ia sudah melemparkan dirinya begitu saja. Maksudku, itu toilet umum di taman kota, pada siang bolong hari Minggu, saat taman sedang ramai-ramainya, dan bahkan pintunya tidak dikunci...Dan bukan sekali..."
"Oke, Josh. Cukup. Terlalu banyak informasi!" potong Collin, berteriak sambil menutup telinganya, tak mau membayangkan mantan pacar sahabat setianya bersama playboy terparah di La Push.
"Maaf, aku lupa kalian berdua masih perjaka..." gumam Josh, agak sedikit salah tingkah di bawah tatapan ganas Collin dan deheman masam Jacob.
"Ini bukan masalah perjaka atau tidak, Josh! Ini masalah prinsip! Loyalitas pada sahabat!" tekan Collin yang disambut cibiran sinis Josh. Dan Collin tahu apa alasannya: ia sendiri berebut cewek dengan atasannya. Josh pastinya sedikit banyak bisa menebak, atau terinformasi oleh gosip kawanan, walau ia tak tahu sejauh mana kebenaran gosip yang dikembangkan Ben dan Pete setelah sesi pertarungannya dengan Seth. Tapi kali ini ia tak mau ambil peduli dengan apapun sikap sinis si Mr. Gigolo.
Josh boleh jadi memang anggota termuda. Usianya baru 16 lewat, lebih muda beberapa bulan dibanding Korra. Ia setingkat dengan Korra dan Pete di sekolah. Tapi predikatnya sebagai womanizer tidak ada yang menyaingi. Ia bahkan punya pengalaman jauh lebih banyak daripada seisi kawanan digabungkan, yang hanya mampu dikalahkan oleh aliansi kekuatan dua Don Juan terbesar sepanjang sejarah kawanan: Paul dan Jared. Di sekolah, reputasinya hanya dikalahkan oleh sepupu Jared, Kenneth Cameron, lebih karena Ken lebih tua dan punya jam terbang lebih banyak. Tapi itu di sekolah. Di luar sekolah beda lagi. Josh berganti pacar sama seringnya dengan membeli baju. Untuk perumpamaan werewolf, itu artinya melebihi standar normal. Masih di bawah Alice dan para Cullen, tentu, tapi tetap di atas rata-rata. Dan semua pencapaian spektakulernya didapat dalam jangka waktu tidak sampai tiga tahun semenjak ia kehilangan keperjakaan menjelang ulang tahun ke-14. Sesuatu yang selalu membuat para perjaka karatan seperti Jacob dan Quil, atau jomblo bapuk seperti Collin dan Ben, iri setengah mampus. Tentu saja dalam kasus lain yang tidak yang menyangkut urusan 'teman makan teman'. Atau, dalam kasus Brady, 'atasan langsung'. Atau lebih tepatnya lagi, 'sepupu sendiri'.
Tapi bukan urusan penaklukan Josh atas cewek-cinta-mati Brady yang membuat Jacob mengerjap tak percaya. Jacob terkesima karena dua hal. Pertama, ketidakpeduliannya kala mengakui bahwa ialah penyebab langsung depresi Brady selama berbulan-bulan. Brady pun tak pernah membicarakan Josh, atau bahkan memikirkannya. Karena kalau ya, Collin pasti tahu, dan gosip itu akan lebih marak ketimbang gosip Seth dan serigala hitam. Kedua, ketidakpedulian Josh yang sama yang ia tunjukkan ketika menceritakan penderitaannya sendiri seolah itu bukan hal besar. Itu aneh karena kini justru Jake yang merasa bersalah karena telah menyebabkan penderitaan itu pada salah satu anak buahnya. Josh tidak pernah menceritakan atau mengungkap apapun sejak kejadian yang mungkin lebih dari empat atau lima bulan itu. Josh memang selalu sibuk dengan cewek dan kerja paruh waktu dan sebagainya, tapi taraf kecuekannya sudah keterlaluan.
"Yeah... yang jelas Brads marah besar..." lanjut Josh lagi. "Terus menyumpah akan membunuhku. Kupikir kau tahu permasalahannya, karena kau mendetensi Brads patroli 16 jam per hari selama entah-berapa-minggu gara-gara ia berubah di kota, dan kau melarangku berubah selama Brads patroli. Aku bisa mengerti bagian itu, sebenarnya. Bagaimanapun ia atasanku langsung dan kalau ia ingin aku mati, yeah, aku pasti mati…" cerita Josh sambil lalu.
Jacob membeku. Bagian itu agak diingatnya, tapi memang tidak jelas.
"Benarkah?" ia mengernyit.
Josh menyipit kala memandangnya. "Aku yakin kau lupa, Jake… Sudahlah, bukan masalah besar..."
Jacob baru menyadari satu hal. Mungkin inilah latar belakang mengapa Brady tidak terlalu dekat dengan anak buahnya, padahal Josh sepupunya sendiri, dan malah selalu menempel pada geng Collin. Memang Cole dan Brad sahabat sejak awal, pasangan tak terpisahkan bahkan sebelum keduanya mengalami inisiasi dini masuk kawanan saat usia mereka sekitar 13 tahun. Tapi rasa-rasanya Josh pun pernah dekat dengan Brady, setidaknya pada tahun-tahun awal setelah Josh—yang waktu itu baru berusia 11 tahun—berubah sebagai efek ancaman Volturi. Itu sebelum Josh mendadak mengasingkan diri dari pergaulan kawanan begitu masuk SMA. Rupanya itulah alasannya: masalah cewek. Kini setelah dipikir-pikir, mungkin selama ini Jacob tak terlalu memperhatikan masalah-masalah kecil anak buahnya.
Pembicaraan yang sudah ke mana-mana membuat Collin berdehem. "Jadi," katanya, "intinya memang seseorang mungkin mengalami penderitaan, hingga taraf menyakiti diri sendiri bahkan, jika perubahannya tertahan karena Titah Alfa…" tekurnya. "Atau Titah Beta, mungkin…" ia menambahkan buru-buru, menyadari Jacob sudah mulai terlihat merasa bersalah.
"Demi Tuhan aku tidak tahu soal itu, Josh…" gumam Jacob pelan. Dalam hati Collin mengeluh. Oke, sudah mulai lagi sesi melankolis sang Alfa.
"Yeah... Seolah kau memang punya kesempatan untuk merasakannya langsung, Alfa… Bahkan Sam pun takkan berani menahanmu berubah…" Josh bicara dengan santai walau Jake tak mungkin tidak mengenali nada pahit dalam suaranya. "Bisa dibilang merasakan pengalaman satu itu adalah hak istimewa serigala rendahan sepertiku..." tambahnya.
"Dan setelah itu, apa yang terjadi?" Collin berusaha menyeret masalah kembali ke akarnya. "Setelah insiden Noah itu, aku sadari Noah sempat beberapa hari tidak masuk sekolah..."
Josh menatap Collin tajam. Jelas Collin sedang berusaha mengalihkan pembicaraan dari urusan persitegangan antara Josh dan Brady, atau bahkan berusaha mengalihkan Jacob dari perasaan inferioritasnya yang biasa kalau sudah menyangkut urusan ketidakmampuannya menjadi pemimpin yang baik. Tak urung ia merasa kesal. Tapi ia tahu apa yang dilakukan Collin memang hal yang tepat. Mengendalikan pokok pembicaraan agar tak merambah ke mana-mana termasuk tugas Beta.
"Ya, benar. Aku memang sempat hilang kontak dengannya," Josh menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan Collin. "Aku juga tak tahu pasti. Setelah membawa Noah ke poliklinik, aku meninggalkannya. Dan begitu sekolah berakhir, aku menjemputnya untuk mengantarnya pulang. Aku yakin, kalaupun ia siuman, ia takkan sanggup menyetir sendiri ke rumahnya karena tekanan hari itu. Tapi..." ia menggantung kalimatnya, terdengar ragu.
"Apa?" tuntut Jacob.
"Noah menghilang..."
"Menghilang? Dari poliklinik?"
Josh mengangguk. "Aku berusaha menelepon ke ponselnya, tapi tak ada jawaban. Aku menelepon ke rumahnya, barangkali ia sudah pulang. Tapi tak ada jawaban juga. Jadi aku langsung berubah dan menunggu di hutan, barangkali ia berubah dan butuh bantuan. Tapi tak ada koneksi sama sekali dari pikiran Noah. Jadi aku menyimpulkan ia belum berubah."
Sejauh ini Josh terlihat jujur.
"Kejadian itu hari Rabu, kalau tak salah. Dua hari Noah tidak masuk sekolah," lanjut Josh sambil menghitung-hitung. "Kemudian ia muncul kembali di sekolah hari Jumat sore. Ia masih membolos pada paginya tapi ia menunggu di lapangan parkir sepulang sekolah."
Jacob mengingat-ingat hari itu. Jumat setelah acara sidangnya. Hari itu ia melihat geng Noah di lapangan parkir sekolah, dengan Josh juga, pada sore ketika ia menjemput Korra. Noah duduk di kap mobil dikelilingi anggota gengnya, memandang tajam pada keluarga Black dengan tatapan jijik. Korra dan Noah bertukar pandangan saling membunuh.
Korra dan Noah lama bertukar pandang, dalam diam...
Apa itu artinya?
Josh kembali melanjutkan ceritanya, tapi kini lebih berhati-hati, seolah ada yang ia pikirkan. "Memang kuakui ada yang berbeda dengannya hari itu, tapi aku tidak bisa menyimpulkan apa ia sudah berubah atau belum. Dia pergi entah ke mana selama seminggu, sama sekali tidak masuk sekolah, dan baru muncul Senin pekan selanjutnya. Selama itu juga aku tidak terlalu menaruh perhatian padanya, karena aku sibuk dengan urusan Brady."
Ya. Minggu itu memang Josh, beberapa kali menggantikan Harry, ikut mendampingi Caleb untuk merawat Brady di rumah Cullen, setelah insiden yang menimpa Brady di lokasi kamping: jatuh ke jebakan Korra. Bahkan setelah Adam turun tangan pun, Josh sesekali datang ke rumah Cullen dengan alasan mendampingi Caleb atau disuruh-suruh ini dan itu. Atau itu cuma alasan karena yang sesungguhnya, ia mungkin khawatir juga pada Brady. Meski mereka punya masalah, mereka bersaudara dekat walau bagaimanapun juga.
Tapi Jacob merasakan ada sesuatu yang aneh dari cerita Josh. Bukan masalah Josh berbohong. Nyatanya ia tidak menangkap sedikitpun getar kebohongan, setidaknya secara fisik. Sesuatu yang perlu penjabaran lebih lanjut.
"Tunggu," potongnya ketika Josh hendak melanjutkan cerita. "Tadi kaubilang ada yang berbeda dengan Noah. Definisikan apa yang dimaksud dengan berbeda!"
"Noah... agak menarik diri. Ia tidak begitu banyak bicara. Aku berusaha mencari tanda-tanda perubahan seperti panas tubuh dan sebagainya. Sejauh yang kurasa memang tubuhnya tidak sedingin biasanya, namun memang lebih dingin dariku. Aku tidak bisa mengukur detail karena memang kami jarang melakukan kontak tubuh. Detak jantungnya agak cepat, tapi masih lebih normal dibanding kita. Kupikir itu tanda awal proses perubahan, tapi aku sangsi ia bahkan sudah berubah saat itu, karena kalau ya kita pasti tahu."
Jacob dan Collin berpandangan. Ya, ini dia. Ini seharusnya titik yang menentukan dalam perubahan Noah. Titik yang luput dari perhatian karena asumsi 'jika ada serigala baru berubah, kawanan pasti tahu'. Karena tidak ada yang menyangka bahwa serigala baru itu dimenangkan kawanan lain pada perubahan pertamanya.
"Lalu," ujar Jacob dengan nada suara hampir tersedak, berusaha menahan agar suaranya tidak berupa tuntutan atau amukan murka, "apa kau melaporkannya?"
Josh menggeleng. "Aku hampir tidak punya kesempatan. Sebelum Brady jatuh, kami nyaris tidak pernah bertegur sapa. Dan setelah acara kamping kalian, lebih tidak mungkin melapor pada Brady, karena kondisi kesehatannya. Dan karena kebijakan bully sudah dicabut, aku bahkan tidak yakin untuk melapor pada Embry. Lagipula Embry jarang sekali ada sejak ia patroli terus-menerus di tanah para lintah."
Di sini Jacob mengangguk. Selama masa kurungan rumahnya, karena kekurangan orang, Embry dan Quil bisa dibilang patroli non-stop di wilayah Cullen. Sesekali memang mereka menggilir pasangan dengan Seth, tapi seminggu itu, hanya sekali Embry dan Quil patroli di wilayah Quileute. Seluruh jadwal Jacob, baik di wilayah Quileute maupun Cullen, diambil alih Seth. Terutama selama seminggu setelah acara kamping, mereka nyaris tidak pernah pulang.
"Tunggu, tunggu..." Jacob menekur. "Kau juga kan pernah tukar shift dengan Harry, menjadi asisten Caleb. Ikut menginap di wilayah Cullen setelah kamping... Seharusnya kau punya banyak kesempatan untuk bicara pada Embry."
"Ya, memang... Tapi mana aku ingat, Jake! Pikiranku fokus pada Brads saat itu. Embry dan yang lain pun banyak urusan. Terutama karena Korra hilang."
Jacob mengangguk. Ya, memang minggu itu adalah minggu yang aneh dan hectic. Semua orang panik, tak mungkin Josh berani menempatkan urusan kecurigaan tanpa bukti soal serigala baru di atas urusan gawat soal Brady dan Korra. Tiada orang yang berpikir lurus yang mampu melakukan itu. Apalagi, bagi Jake sendiri, ada ancaman baru dari si kawanan asing. Belum lagi urusan perang di area kamping itu. Satu vampir kabur. Ancaman serangan balasan.
"Tapi ya..." beberapa detik kemudian Josh bicara pelan, sambil mengingat-ingat, "kurasa aku memang sempat mengatakannya pada Seth."
"Seth?" Jacob mengerutkan kening. "Kenapa Seth? Ia angkat tangan soal rekruitmen. Dan aku sudah bilang agar ia jangan diganggu soal masalah batalion. Ia agak sensitif dengan kemungkinan adanya werewolf baru."
Entah mengapa mata Josh membelalak. Seolah ia terlepas mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan. Dan itu tak luput dari perhatian Jacob.
"Sebentar, Josh," ucapnya curiga. "Kapan kau bicara pada Seth?"
Josh kelihatan ragu.
"Aku... tidak ingat..." itu jawabnya. Tapi entah mengapa insting Jacob mengatakan ada sesuatu yang tidak beres di sini.
Ia makin tajam menatap Josh. "Katakan. Siapa yang ada di hutan saat itu?"
Alis Josh bertaut, balas memandang sang Alfa. "Kapan?" tanyanya bingung.
"Hari ketika insiden Korra menjatuhkan Noah. Kau langsung berubah untuk mencari tahu apa Noah sudah berubah kan? Siapa yang patroli hari itu? Siapa yang sudah ada di hutan sebelum kau patroli?"
"Tidak ada," jawab Josh.
"Tidak ada?"
"Hari itu jadwalku patroli. Shift pertama."
"Kau bukannya berpasangan dengan Brady?"
"Tidak, Jake. Aku tidak punya pasangan patroli. Brady berpasangan dengan Cole. Jadwal shift mereka malam itu tepat setelah jadwalku. Aku kebagian shift sore, mulai dari sepulang sekolah hingga tengah malam. Mereka menggantikanku mulai jam 12 hingga pagi. Jadi biasanya aku hanya patroli bersama salah satu pengawas."
"Lalu siapa pengawas kalian malam itu?" kejar Jacob. Tapi ia sudah bisa menduga. Dan berharap dugaannya salah.
"Seth."
"Benar-benar Seth?!"
Josh mengernyit melihat reaksi Jacob, tapi menjawab singkat, "Ya."
"Lalu apa Seth sudah ada di hutan ketika kau berubah?"
"Tidak. Seth memulai jadwalnya setelah matahari terbenam."
Jacob menekur, dan ini tak luput dari perhatian Josh.
"Memangnya ada apa dengan Seth?" tanyanya.
Jacob tidak menjawab, berpaling ke Collin untuk minta konfirmasi. Collin mengangguk. Ya, malam itu memang Seth yang mengawasi patroli para yunior di wilayah Quileute. Memang sudah lama sekali hingga Jacob tidak ingat. Jika Seth mendapat tugas di wilayah Quileute, artinya malam itu jadwal Quil dan Embry di wilayah Cullen. Menurut penuturan Collin, insiden menyangkut Noah dan Korra berlangsung ketika Jacob sedang dikenai masa tahanan rumah. Quil dan Embry pastinya berubah telat, setelah Seth lebih dahulu menangkap pikiran Josh. Seth mungkin menurunkan Titah untuk menenangkan Josh. Mungkin bahkan menyuruh Josh tutup mulut, bukan, tutup pikiran tentang urusan ini. Karena kalau tidak begitu, seharusnya Jacob mendapat laporan kalau ada serigala baru yang berubah atau Josh meributkan kemungkinan serigala baru berubah. Toh walaupun terpisah jauh, koneksi pikiran kawanan tetap terhubung.
Tapi itu hanya berarti satu yang lain: Seth menutup-nutupi masalah ini.
"Apa kau cerita masalah ini pada Seth?"
Ia kelihatan ragu, tapi akhirnya menjawab, "Mana mungkin tidak? Pastinya ia menangkap pikiranku bahkan sebelum aku cerita."
"Lalu apa yang dikatakan Seth?" kejar Jacob.
Josh kelihatan ragu.
"Katakan, Josh!" perintah Jacob.
Pemuda di hadapannya menimbang-nimbang sesaat. Tapi kemudian ketika ia terlihat memutuskan untuk mengatakannya, tak ada yang keluar selain suara gagap yang bahkan jelas sama sekali bukan kata.
Jacob memaki keras seraya meninjukan tangannya ke udara begitu menyadari apa artinya. Dugaannya benar. Seth pasti telah menurunkan Titah agar Josh tutup mulut.
"Oke, dengar Josh," katanya, menatap langsung mata Josh. "Apapun Titah yang Seth turunkan padamu, sekarang ini dia tidak di sini dan posisinya telah diambil alih Collin. Kalaupun tidak begitu, aku memiliki wewenang lebih tinggi darinya. Jadi kau akan mengatakan padaku apa yang kausembunyikan atau aku akan terpaksa menurunkan Titah juga. Titahku pasti akan menang, tapi tetap itu pilihanku yang terakhir. Kau tahu apa akibatnya jika kau mendapat dua Titah yang saling bertentangan."
Itu bukan ancaman, bagaimanapun tampaknya. Itu kenyataan dan semua yang ada di ruangan itu tahu.
Tapi Josh kelihatannya masih ragu. Bagaimanapun kenyataannya, di mata Josh, seorang prajurit rendah, semua yang ada di hadapannya kini hanya tampak seperti para petingginya saling berebut otoritas. Beta Level Dua mengambil alih kedudukan Beta Pertama dan kini sang Alfa pun berusaha memaksakan Titah untuk menentang validasi Titah Beta sebelumnya. Apa lagi memang kemungkinannya selain itu?
"Josh, dengar aku," Jacob kembali bicara. "Aku tahu bagaimana ini kelihatannya di matamu, tapi perlu aku tekankan sekali lagi, apapun Titah Seth, Titah itu sudah tidak valid lagi. Satu-satunya yang menghalangimu untuk menceritakan kebenaran padaku hanyalah loyalitasmu pada Seth. Kau bisa dan kau akan mendobrak Titah itu."
Josh masih bungkam.
"Kau akan memilih, Josh... Kuberi kau kesempatan untuk memilih."
Kata-kata Jacob menampar Josh.
"A, apa maksudmu memilih?" ujarnya bingung. Bayang ketidakmengertian dan kebingungan muncul di wajahnya.
Jacob menegakkan punggungnya.
"Kau perlu tahu mengapa kau dipanggil ke sini," ujarnya dengan wibawa yang berbeda. Lebih tenang dan penuh kontrol. "Ini menyangkut Noah. Ada sesuatu yang kaulewatkan. Noah telah berubah menjadi serigala."
"Noah?" Josh terlihat seperti habis dihantam palu godam. "Tidak mungkin! Aku penanggung jawab Noah, Jake! Aku harusnya tahu jika Noah berubah."
"Benar. Tapi Noah bukan cuma berubah. Ia telah menyeberang ke pihak lain. Pihak musuh, tepatnya."
"Pihak musuh?"
"Jake!" desis Collin, mencoba memperingatkan. Tapi Jacob mengabaikannya. Ia mendekati Josh, mencondongkan tubuh, menatap matanya dengan intens.
"Dengar. Aku hanya akan mengatakannya sekali dan ini merupakan rahasia sehingga kau tidak boleh menceritakannya pada yang lain," ia menekankan. "Ada kawanan lain di La Push yang mengancam otoritas kawanan ini," lanjutnya. "Noah telah menjadi bagian dari mereka. Dan kekaburan alasan mengapa hal itu bisa terjadi membuatku bertanya-tanya mengenai loyalitas beberapa anggota kawanan."
Mata Josh membelalak. "Ma, maksudmu... a, aku?"
"Jacob!" peringat Collin. "Kau tahu tidak bijak untuk..."
"Diam, Cole!" ia berpaling dari Josh, memaksa Collin tutup mulut. "Ini masalah penting dan aku perlu tahu karena aku perlu menyelesaikannya saat ini juga! Kau tahu aku tidak suka berada dalam zona gelap selamanya, meraba-raba dan mempertanyakan semua orang dalam kawanan!"
Collin terdiam dan Jacob kembali mengalihkan pandangannya pada Josh.
"Jadi kau mengerti sekarang, Josh. Kini aku perlu tahu di mana loyalitas beberapa orang berada. Terutama kau dan Seth. Kalian adalah orang yang tersangkut penuh dalam proses perubahan Noah. Karena kalian berdua menutupi sesuatu dariku, aku tidak bisa menjamin kepercayaanku pada kalian," dirasanya batinnya hancur dalam tiap kata yang ia ucapkan. Tapi tak ada jalan mundur sekarang. "Kau dengar itu, Josh," tekannya pahit, memperhatikan pupil Josh yang melebar dan napasnya yang tercekat. "Maka kau akan menceritakan apa tepatnya yang kau sembunyikan dariku, kalau kau ingin mendapatkan tempatmu dalam kawanan. Jika tidak, aku akan menganggapmu menutupi sesuatu dariku, mungkin malah terlibat dalam suatu skema menentang dan menusukku dari belakang. Menggunting dalam lipatan. Dan aku mungkin akan serius mempertimbangkan dirimu sebagai pengkhianat."
Jacob menegakkan punggung, membiarkan Josh yang tampak terpukul berusaha mencerna kata-katanya.
"Jadi kau akan memilih, Josh," lanjutnya. "Aku takkan menurunkan Titah agar kau bicara. Kau akan memilih untuk membongkar Titah Seth dan menceritakan semua padaku atau kau akan tetap merahasiakannya. Kau tahu konsekuensi kedua pilihan. Jika kau memilih yang pertama, kau akan mendapatkan kembali kepercayaanku. Dan jika kau memilih yang kedua, kau perlu tahu bahwa pengkhianat tidak diterima di kawananku lagi."
Awalnya hanya cicit pelan yang keluar dari bibir Josh. Tapi akhirnya ia menelan ludah, menguatkan diri sebelum menghadang mata Jacob. "Intinya... sekarang kau memperlakukan Seth seolah ia..." kata itu sulit keluar dari lisannya, "pe, pengkhianat?"
Jacob agak terhantam oleh kalimat itu, tapi ia menelan kepahitannya sendiri dan sebisa mungkin bicara dengan nada datar. "Aku tidak bicara begitu tapi memang ya, aku tidak menaruh kepercayaan penuh padanya saat ini."
Ucapan Jacob membuat Josh tercekat. "Jadi ini arti semua ini? Seth, Jake? Kau serius meragukan Seth?" tuntutnya, tak bisa menjaga ketenangan sama sekali.
Jacob mengangguk.
"Apa ini semua skema Collin? Apa ia mengadu domba kau dan Seth?"
Arah tudingan Josh membuat Collin menjengit. "Kenapa aku harus dibawa-bawa? Aku tidak membuat skema apapun!"
"Oh ya,"Josh memandangnya jijik. "Aku lihat kau sekarang ada di posisi yang seharusnya dipegang Seth! Menurutmu aku tidak logis jika aku tidak langsung menduga kau membuat skema untuk mengadu domba Jake dan Seth? Untuk kepentinganmu sendiri?"
Belum sempat Collin membela diri, Jacob sudah menghardik Josh.
"Hentikan! Ini tak ada hubungannya dengan Cole!"
"Jacob, tolong buka matamu!" mohon Josh, kini menatap sang Alfa dengan mata putus asa. "Tolong lihat kebenaran! Kau kenal Seth! Kau tahu ia seperti apa! Kau rela menggadaikan kepercayaanmu pada Seth atas tuduhan tak berdasar?"
"Aku tidak bisa mempercayai siapapun yang merahasiakan sesuatu dariku!"
"Kalau begitu kau juga tidak bisa mendapat kepercayaanku, Jake... Dan tidak juga dari kawanan... Kami tahu kau juga menyimpan rahasia..."
Jacob melotot mendapati anak buahnya, yang termuda pula, mengembalikan kata-kata yang mutlak haknya seorang, pada dirinya sendiri. Dan makin melotot mendapati bahwa sebagian dirinya menerima kata-kata itu sebagai kebenaran.
"Jadi itu jawabanmu?" ia menggemeretakkan gigi. "Jadi kau memilih Seth?"
Josh menantang matanya. "Aku tidak memilih siapapun tapi aku berdiri di pihak yang benar!" tegasnya. "Dan aku percaya Seth! Aku takkan mengambil posisi tapi aku mendukung Seth! Dan jika kau menentang Seth, maka aku akan membela Seth!"
"Bagaimana jika Seth menyeberang? Bagaimana jika Seth memihak kawanan lain?"
"Astaga, Jacob!" suara Josh penuh keputusasaan. "Bagaimana mungkin kau tidak mempercayai dia?"
Ada alasan yang membuat Jacob tidak bisa menaruh kepercayaan pada Seth seperti biasanya, seperti seharusnya. Itu merenggut jiwanya, mendapati bahwa ia meragukan seseorang yang seharusnya tak pernah ia ragukan. Ia kenal Seth dan tahu ketulusannya, kesetiaan, dan semua yang telah ia lakukan hingga detik ini. Seth tidak hanya berpegang pada kewajiban atau keharusan, ia juga berpegang pada nurani. Ia juga takkan mengkhianati kepercayaan, takkan menjilat ludahnya sendiri.
Dan justru karena itu pula Jacob tak bisa lagi percaya pada Seth. Pada kesetiaan Seth, sebagaimanapun kesetiaan itu terbukti selama ini. Karena loyalitas Seth bahkan sudah tidak ditentukan oleh keinginan Seth sendiri. Dan bahkan baik keinginan maupun loyalitas Seth bukan lagi miliknya. Karena Jacob sendiri yang telah memastikan bahwa kesetiaan Seth bukan lagi padanya.
Ini tidak diketahui Josh, tentu. Tapi dari justru dari mata orang yang tidak tahu menahu tentang alasannya, ia justru merasa sebagian besar batinnya setuju. Merasakan kedamaian dari kata-kata Josh. Bahwa sesungguhnya ia benar, benar, benar-benar ingin mempercayai Seth.
"Tapi aku tidak bisa, Josh... Bagaimanapun aku tak bisa," akhirnya pertimbangan rasionalnyalah yang menang. Dan ketika ia mengucapkan itu, ia merasa seluruh jiwanya hancur. Kata-kata yang keluar kehilangan seluruh nada tegas yang seharusnya ada, terasa bagai taring yang mengoyak seluruh tubuhnya. Hampir terasa letih dan putus asa, malah.
"Jake!" teriak Josh, matanya membelalak, menuntut. Dan begitu nelangsa perasaan Jacob, ketika ia harus menutup mata pada pendapat anak buahnya dan bahkan nuraninya sendiri, ketika ia terpaksa menegakkan badan, menatap Josh dengan pahit, dan menggeleng kejam.
Josh menggeleng tidak percaya. Ia menatap Collin sekilas, jelas mengungkapkan ketidaksukaannya, sebelum berbalik dan pergi.
"Tunggu, Josh! Kau mau ke mana?" teriak Collin, berusaha menghadang Josh.
Josh menggeram penuh kemarahan sebelum menjawab, "Ke mana pun selain di sini!"
"Kita ada agenda penting yang harus dibicarakan dengan seluruh kawanan, Josh!" tekan Collin. "Kau tidak boleh pergi!"
"Oya? Agenda apa? Kau yang naik pangkat setelah berhasil melakukan adu dombamu?"
"Josh," Collin melotot. "Sudah berapa kali kubilang aku..."
"Biarkan dia pergi, Cole..." suara Jake memutus perdebatan kecil mereka sebelum berkembang jadi sesuatu yang serius. "Ia sudah memilih. Ia jelas tidak memilih bersama kita."
Josh terlihat agak terpukul, tapi lantas ia menyuarakan dengusan tawa dan setengah berbalik menghadap Jacob. Senyum sinis di bibirnya. "Benar. Aku lebih baik diusir ketimbang harus memilih bersama Alfa yang tidak mempercayai anak buahnya sendiri."
Ia tidak menunggu Collin atau Jacob menghentikannya. Langsung keluar dari pintu depan ke arah hutan. Mereka mendengar bunyi keras sobekan dan tidak perlu melongok keluar jendela untuk tahu Josh berlari melampiaskan emosinya. Collin sudah hampir mengejar, berniat ikut berubah dan mengecek apakah koneksi pikiran Josh masih terhubung dengan mereka, ketika Jacob lagi-lagi menghentikannya.
"Kenapa?" tuntut Collin, menghela tangannya dari genggaman Jacob dan menghadap sepupunya dengan wajah frustasi.
"Aku tahu jalan pikiranmu. Tapi ia tak punya hak untuk membentuk kawanan sendiri. Jika ia desersi atas kemauannya sendiri, pilihannya adalah bergabung dengan kawanan lain yang ada. Itu sama saja mengembalikan mata-mata yang ditanamkan mereka di kawanan kita. Sama sekali bukan kerugian di pihakku."
"Jake!" hardik Collin. "Dengar dirimu! Kau tidak berpikir normal! Kau tadi meributkanku bertindak ceroboh? Bagaimana denganmu kini, hah? Sama sekali tidak logis dan tanpa pertimbangan! Kenapa kau tidak berpikir bahwa ia sama sekali bukan bagian dari mereka?"
"Ia langsung melompat pada kesempatan pertama ketika aku menyuruhnya memilih... Dan ia tidak memilihku. Itu bagus. Begitu mereka mendapat laporan darinya, mereka akan tahu bahwa kita tahu soal Korra dan Seth. Dan dengan dengan semua kebohongan, teori palsu yang aku ceritakan, sama saja memancing agar mereka menunjukkan ekornya..."
"Jacob Black!" teriak Collin, berang. "Berpikirlah lurus!"
Jacob menghentikan ucapan tak berpangkalnya, dan balas memandang sepupunya. "Kau pikir aku salah? Kau pikir aku tidak berpikir lurus?"
"Jelas! Kau tidak lihat reaksi Josh? Kau sadar dengan sikapmu itu, kau justru membuat Josh pergi?"
"Sebaiknya memang dia pergi! Aku tidak punya waktu untuk berurusan dengan mata-mata!"
"Astaga, Jake!" teriak Collin putus asa. "Kau tidak bisa membaca emosinya? Kalau ia mata-mata, ia takkan membela Seth! Ia akan melakukan apapun untuk ada di dalam kawanan, untuk terus melakukan apapun tugasnya…"
"Tapi ia melawanku, mengkhianatiku…"
"Apa kau tidak dengar alasanku barusan? Ia bukan pengkhianat!"
"Tapi ia lebih memilih Seth! Ia …"
"Astaga Jake! Seth juga bukan pengkhianat!"
Cuping hidung Jacob mengembang sementara ia memelototi Collin. "Kau... juga memihak Seth?!" ujarnya penuh amarah. "Bagus! Pergi saja sana!"
"Jacob! Apa-apaan kau?"
Sudah cukup. Jake sudah di ambang batasnya. Semua tekanan ini membuatnya gila.
"Kalian semua merahasiakan sesuatu dariku, berkomplot di belakangku," tanpa sadar ia meledakkan beban dalam dadanya, yang menekan selama tiga bulan ini. "Dengan semua arah yang terjadi sekarang, kaupikir aku salah? Tindakan dan pikiranku salah?"
Mata Collin mengembang. Ia terpana sejenak, dengan dada naik turun, mata membelalak, dan cuping hidung melebar, sebelum kehilangan tekadnya untuk menahan diri. Ia berteriak frustasi, dan mulai melampiaskan emosi dengan mengamuk di ruang tengah keluarga Black. Meninju udara dan mengutuk tidak jelas.
"Salah! Salah! Salah semuanya!" teriaknya. "Astaga! Kenapa aku harus ada di posisi ini? Kenapa kau menempatkanku di posisi ini?" ia ikut meledakkan beban di dadanya. "Di sini aku berusaha keras menahan diri, berusaha berpikir, bertindak seperti Seth. Kupikir kau bisa bersikap bijaksana… Tapi kau… kau…" mendadak ia kehilangan kata-kata. Berhenti mengamuk, ia berbalik penuh amarah, menghadang mata Jacob. "Tahukah kau bahwa dengan adanya kau mencurigai Seth, makin nyata bagi mereka bahwa akulah yang patut mereka salahkan? Aku yang mereka curigai sebagai dalang di balik semuanya!" racaunya. "Akulah sang kambing hitam, Jake! Selalu begitu! Aku bosan!"
Letupan emosi Collin terdengar subyektif dan egosentris, sangat. Namun itu mampu membuat Jake terpana, lantas diam membuang muka. Lewat beberapa waktu, amarah Collin akhirnya mereda. Masih bersungut-sungut, ia melangkah menuju sofa, membanting tubuhnya dengan wajah sangat putus asa.
Jacob kelihatan sama putus asa dengannya, mengikuti langkahnya dan duduk di sisi Collin, menyurukkan kepalanya ke lutut. Bagitu ia mengangkat kepala dan memandang sepupunya, Collin bisa melihatnya, di balik mata Jacob, kepedihan dan kehampaan yang membayang. Jauh di balik semua amarah, kecurigaan, dan perasaan terkhianati. Dan ia mendesah, lelah.
"Dinginkan kepalamu, Jake... Aku mohon..." bisiknya. Walau kalimat itu sebenarnya lebih patut ditujukan pada dirinya sendiri.
Jake hanya mendengus, sama sekali tidak berkomentar.
"Kau tahu… ini tujuan mereka. Mereka mengadu domba kita…"gumam Collin kemudian, hampir tak terdengar.
"Adu domba?" bisik Jacob tak percaya.
"Tepatnya ini yang dilakukan si Putih... Dengan semua yang terjadi… Kau meragukan Sam. Kau meragukan Tetua. Kau mempertanyakan Seth. Aku melawanmu. Aku melawan Seth. Josh melawanmu. Josh melawanku. Dan entah siapa lagi melawanku. Aku melawan seluruh kawanan. Ini yang diinginkan si Putih. Ia ingin kita semua terpecah belah."
Jacob menghentak ketika arti ucapan Collin dimengertinya. Ya. Itu yang ia rasakan sekarang. Ketidakpercayaan pada semua orang. Rasa curiga. Kebimbangan. Ketakutan. Pertanyaan. Mereka bukan lagi suatu keluarga, suatu kesatuan… Mereka hampir tak lagi mengenal satu sama lain.
"Kumohon, percayalah pada kami, Jake…" ujar Collin, matanya menerawang. "Percayalah pada Seth, dan Sam… Kau mengenal mereka bertahun-tahun… Mereka akan melakukan yang terbaik bahkan ketika dihadapkan pada kondisi tak ada jalan keluar…"
"Kau percaya hal senaif itu? Kau jelas tidak tahu hal yang kutahu, Cole…"
"Kalau tahu hal yang kautahu membuatku meragukan mereka, maka lebih baik aku tidak tahu…" ucap Collin, mengalihkan perhatian ke tempat lain, ke pintu yang terbuka. Bayangan anak-anak satu per satu muncul di seberang halaman. "Tapi seandainya aku tahu pun, seandainya aku jadi kau, aku takkan pernah meragukan mereka," dan ia berpaling menatap mata Jacob. "Karena apa? Karena kau juga tidak tahu seluruh kebenaran, Jake… Jika mereka punya alasan, maka itu pastinya demi kesetiaan mereka pada suku…"
"Pada suku, bukan padaku…"
Collin tidak mungkin salah mengenali kegetiran dalam ucapan Jacob, tapi ia memilih tidak luruh karenanya. "Ya," ujarnya. "Dan karenanya kita juga harus melakukan bagian kita…"
Jacob memandangnya lama, tapi akhirnya ia tersenyum. Terpaksa, memang. "Benar…" katanya kemudian. Ia ikut memandang ke luar. Brady mulai menapaki tangga beranda depan. Di belakangnya, Embry dan Quil saling tinju dan berjalan riang, sama sekali tidak tahu situasi.
Dan ia bangkit. Aura mendungnya lenyap, dan sorot matanya berubah menjadi penuh tekad.
"Baik. Masalah lain bisa kita tunda sejenak. Sekarang kita lakukan yang kita harus lakukan."
Ia berpaling menghadap Collin. Gestur dan intonasi suaranya mendadak penuh wibawa.
"Siagakan mereka, Cole. Kita butuh mereka nanti malam."
Collin bangkit. "Siap, Alfa!" balasnya tegas. Dan sambil tersenyum lebar, menyodok lengan Jake, ia menambahkan, "Itu yang aku suka darimu…"
.
.
Catatan:
Maaf jadi panjang… huaaaaggghhh… ga tau dimana harus nge-cutnya… 18 halaman Word… 6713 kata... hahaha…
Bagian yang mungkin dirasa ga perlu emang ada, tapi semua hadir karena alasan…
Hahahahaa….
OOC nih ujung2nya… N mungkin emosi Jake, Josh, dan Collin ga stabil… tapi emg di titik ini ga ada satu pun yang stabil… bahkan tidak juga Seth… hehehe…
.
I will take a break for a few days… don't wanna but have to… ARRRRGGHHH TESIS SIALAN! (jadi curhat) … huff… tenang, tenang…
.
R&R ya… please…
