THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: All part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer. This story is not closely related to anything in the saga. Maybe some details, including past events, legends, rules of the pack, and personality of few characters, had been changed during the continuity of this story.
.
WARNING: This part is contain some blatant violence and SM scene, so obviously it will be rated M… I already did some personal restriction. Read on your own guard
.
.
Empat puluh tujuh - Topeng
Wednesday, January 30, 2013
6:11 AM
.
.
"Kau harus lebih hati-hati saat naik motor, Seth..." ujar Korra pelan. Jemarinya menelusuri sebentuk garis maya di sepanjang balutan di kaki, dada, dan tangan Seth.
Tentu saja luka-luka Seth yang didapat setelah pertarungannya dengan Collin sudah sembuh. Begitu mereka berhasil mencari jalan keluar, Collin langsung membopong Seth menemui Adam untuk mengobati luka-luka dan membetulkan tulang kakinya yang terlepas dari sendi. Bagian tulang itu memang butuh penyembuhan agak lama, tapi seharusnya sudah sembuh hari ini. Tapi meski sudah sembuh, cakaran Collin dan taring si serigala emas masih menyisakan bekas. Walaupun sudah menetapkan bahwa ia akan memaksa Korra melepas topengnya walau harus bertaruh nyawa, Seth merasa belum yakin untuk mengungkap semua tentang dirinya pada Korra.
Ya, ini saatnya pertaruhan.
Sms Collin sejak pagi tadi mengungkap semuanya. Bahkan Jacob sudah tak lagi percaya seratus persen padanya. Posisinya sudah digantikan dan ia diblokir dari kawanan karena loyalitasnya dipertanyakan. Atas dasar apa? Hanya satu jawabannya. Tidak, bukan karena Jake tahu soal hubungannya dan Korra, dan mencurigainya kelepasan mengungkap rahasia kawanan, seperti kata Collin. Ini karena Sumpah Darah sial, yang bekasnya tertoreh di tangannya.
Jadi pada Jumat pagi, tahu Korra pasti akan mampir ke rumahnya pada sore hari—seperti yang selalu ia lakukan setiap Jumat sepulang sekolah, meski hari ini Seth yang mengundang—Seth khusus meminta Adam untuk memeriksa dan membalut ulang semua lukanya. Tentu saja tanpa memberitahukan alasan sebenarnya. Adam cukup tahu bahwa Seth butuh pertolongan atas luka-luka yang ia derita. Walau Kamis kemarin ia sudah mengobati semua luka dan patah tulang Seth, Adam toh tidak mampu menolak perintah berselubung permintaan manis Sang Beta. Seth bahkan menyempatkan diri untuk mengutil segulung perban dari tas kerja Adam, untuk membebat telapak tangannya menutupi rajah Segel Sumpah yang ia buat dengan Jacob. Karena setelah melihat tanda itu ada di dada Collin, ia semakin yakin dengan asumsinya bahwa Sumpah mengikat para pelakunya sekaligus juga orang yang terlibat. Ia bahkan kini menduga-duga bahwa mungkin rajah yang sama juga muncul di dada Korra.
Namun kenyataan bahwa selama ini ia tidak pernah mendengar Korra meributkan rajah itu atau melihat langsung di permukaan kulit gadis itu sejak acara kamping membuatnya bingung. Korra harusnya sadar akan kemunculan tanda yang begitu mencolok. Jika ia orang biasa, reaksi wajar yang mungkin adalah panik. Dan ia adalah orang pertama yang seharusnya mendapat konfirmasi itu. Reaksi Korra seharusnya lebih hebat ketimbang Collin.
Kesantaian reaksi Collin mungkin terasa wajar. Ia adalah bagian dari dunia mistis Quileute dan mungkin sudah terbiasa oleh kehadiran suatu tanda mendadak seperti tato. Nyatanya, Collin sendiri panik pada hari pertama ia menyadari tato itu, di hari perubahan pertama kembalinya ia menjadi serigala pada hari kepulangan Korra. Collin menanyai Seth habis-habisan di Volvo dalam perjalanan ke rumah Jake, lalu beberapa hari sibuk meneror Jake. Jake dan Seth sepakat membohonginya dengan menyatakan bahwa itu mungkin simbol darah Alfa terkait dengan hierarki dan bla-bla-bla. Collin tak percaya, jelas, sibuk membandingkan diri dengan orang lain yang ia tahu punya darah yang sama: Quil dan mungkin Embry. Tapi ujung-ujungnya ia menerima. Menerima bahwa kedua pemimpinnya membuat tebakan ngawur dan bahkan tidak tahu jawabannya, tepatnya.
Tapi Korra? Seseorang yang seharusnya bahkan belum berubah? Sama sekali tak menunjukkan reaksi apapun? Itu aneh.
Dan Seth baru sadar bahwa sekian lama itu ia tidak pernah benar-benar melihat tanda apapun di tubuh Korra. Korra selalu hati-hati menutupi beberapa bagian tubuhnya setelah kamping. Melarang Seth menyentuhnya di area tertentu walau ia sendiri selalu merasa memiliki akses tanpa batasan atas setiap inci tubuh Seth. Tentu saja ini mencurigakan.
Seth memang berhati-hati, sebenarnya. Sejak kamping, ia selalu membalut telapak tangannya. Bilang ia habis kena luka bakar gara-gara menyentuh pemanggang barbeque sewaktu mengadakan pesta kecil bersama keluarganya. Dan Korra percaya.
Namun kini ketika memikirkan semuanya, Seth jadi curiga bahwa Korra bukannya percaya, tapi gadis itu sengaja menampakkan kesan bahwa ia percaya. Karena ia sendiri menutupi sesuatu. Jika ia memang serigala hitam seperti yang Collin katakan, ia pastinya tahu tanda apa itu. Atau minimal curiga. Dan ia tidak menyinggung Seth karena ia sendiri tak mau disinggung.
Intinya, Seth sampai pada kesimpulan bahwa mungkin ia dan Korra sama-sama saling tahu satu sama lain, tapi berusaha saling menutupi. Saling menjaga jarak. Memasang topeng. Menilai musuhnya satu sama lain. Mengukur. Mengintai.
Satu sisi dirinya menjerit. Ia tak seharusnya melakukan itu pada Korra, gadis yang ia cintai. Tulus.
Tapi ia harus. Jika Korra benar si serigala hitam, dan gadis itu mengintai dan menilai selagi memainkan kartunya, maka ia harus memainkan kartunya dengan baik juga.
Poker-face memang menyebalkan. Tapi itu tak terelakkan.
.
Jadi hari itu, Jumat sore, ia terbaring di kamarnya. Berpura-pura jadi mumi setelah mendapat kecelakaan motor. Sehingga Korra takkan bisa melihat bekas-bekas luka di tubuhnya. Entah Korra serigala atau tidak, jika Korra tidak membuka kartunya, ia juga tidak akan membuka kartunya semudah itu.
Rumahnya sepi. Sue belum pulang dan belum akan pulang hingga jam 9 malam nanti, sehingga ia punya waktu cukup panjang untuk menjalankan rencananya. Rencana tanpa persiapan matang, tanpa perhitungan menyeluruh, tentu saja. Dan kemungkinan besar malah berbalik menghantam dirinya. Tapi ini tetap harus dilakukan. Tak bisa terus membiarkan kesetiaannya pada kawanan terus dipertanyakan, hanya karena satu halangan. Korra.
"Ya, Korey... Aku memang tampaknya harus mengandangkan motorku sementara waktu..." katanya akhirnya, menjawab ucapan Korra soal luka-luka yang ia dapat.
Korra tersenyum. Entah itu palsu atau bukan.
"Kau sendiri bagaimana? Cole bilang tadi pagi kau sakit…"
"Ah, itu Cole saja berlebihan… Aku segar bugar begini…" ia membusungkan dada dan tertawa, membuat Seth sedikit menyunggingkan senyum.
"Syukurlah kalau kau tidak apa-apa. Cole bilang Jake takut kau keracunan atau apa…"
"Dia serius mengira aku bakal keracunan? Perutku kan kuat!"
Ah ya, tentu saja…
"Masalahnya bukan aku, tapi kamu, Sethie…," Korra mencondongkan tubuh padanya, memberengut seraya menunjuk perban-perban yang membelit tubuhnya. "Lihat, karena kau luka-luka begini, semalam kau tidak jadi ke tempatku," katanya muram.
"Ya. Maaf, Korey… Kau tahu yang seperti ini bukan mauku."
"Ya, tentu… Ugh, padahal kupikir hari ini kita bisa jalan-jalan sedikit di luar," gadis itu memasang ekspresi kecewa. Tapi kemudian ia kembali tersenyum. "Ah, ya! Bagaimanapun ini hari Jumat. Mungkin aku bisa minta izin menginap, bilang akan tinggal di tempat Kuroi..."
Seth mengenali nada berharap dalam ucapan Korra, dan seketika ia merasa awas.
"Aku minta maaf, Korra... Tapi ini malam Sabtu, biasanya Charlie akan menginap. Semalam Billy sudah menginap, tapi bisa jadi ia akan menginap lagi. Aku cuma tidak yakin, yeah, kau tahu... Charlie mungkin akan bilang pada Jake. Dan Billy mungkin..."
"Tapi biasanya kau sendiri yang selalu bilang ingin segera mengatakannya pada Jake!" potong Korra, merengut.
Sesaat Seth mengernyit. Ada apa dengan Korra? Biasanya gadis itu yang selalu ribut mencegahnya cerita pada Jacob. Kini ia manyun saat Seth balas mendukungnya? Apa ia mendadak setuju untuk tidak lagi merahasiakan hubungan mereka? Atau itu hanya caranya untuk menginap malam ini, mungkin merencanakan sesuatu?
Jika memang Korra musuhnya, mungkin lebih aman menimbang kemungkinan kedua.
Seth menarik napas sebelum menjawab. Meringankan gejolak karena apapun yang ingin ia lakukan bertentangan dengan hatinya. "Bukankah kau yang selalu bilang belum saatnya? Katamu kau tidak ingin hubungan backstreet kita ketahuan..."
"Ya, tapi..." Korra memasang muka kecewa, naik ke tempat tidur dan berbaring di sisi Seth, membuatnya bergeser sedikit. "Aneh saja mendengar kau seakan mengusirku..."
Jantung Seth seakan berhenti. Ia mencegah seutas napas tertahan keluar dari mulutnya sementara mencoba mengatur kata-kata agar tampak sekasual, atau tepatnya semanis mungkin.
"Aku tidak mengusirmu, Korey... Atau mengubah pendirianku. Aku hanya mencoba untuk mempertimbangkan keinginanmu sebaik mungkin."
"Ah, ya...," Korra tampak sangat kecewa.
Sesaat batin Seth goyah. Apa Korra benar-benar kecewa?
Namun kemudian gadis kembali ceria, tampak ingin segera mengalihkan pembicaraan ke tempat lain. "Omong-omong kau pastinya senang dengan berita ini, Seth," katanya riang. "Jake akan mengajakku nonton Minggu ini."
"Nonton?"
"Perasaan aku pernah cerita padamu, deh…" ujarnya seraya mengedip manja. "Sebenarnya dia mengajakku dari minggu kemarin. Dan aku selalu mempertimbangkan perkataanmu, untuk memberi kesempatan pada Jake. Menjadi keluarga... Jadi aku menerima ajakannya."
Kini, entah Seth lega atau malah merasa bersalah atas usahanya mendekatkan kedua bersaudara ini. Korra bisa menyerang Jacob kapan saja. Di jalan atau di dalam Rabbit... Saat Jacob sedang melepaskan penjagaan diri...
Atau, menimbang sisi lain, malah ia bisa menggunakan ikatan yang baru berkembang di antara kedua saudara itu untuk mencegah Korra lebih lanjut melakukan apapun rencana buruknya.
Kemungkinan kedua ini kelihatannya cukup positif.
"Baguslah, Korra... Seperti itu seharusnya hubungan dua saudara... Akrab," ia memaksakan satu senyum lebar.
"Yeah... Berharap saja Jake tidak menyerangku di bioskop yang gelap."
Seth tertawa miris.
"Masih mempertimbangkan hal seperti itu? Mana mungkin Jake menyerang adiknya sendiri?" Yang ada malah sebaliknya... "Dia sudah punya tunangan, kau pasti sudah dengar ini dari Collin."
"Yeah, memang…" Korra tampak mengingat-ngingat. Mungkin berhubungan dengan kejadian waktu di api unggun, satu-satunya kesempatan ia bertemu muka dengan Nessie. Entah mengapa Seth bergidik, mengingat hal yang tidak mengenakkan. "Dia cantik, ya…" ujarnya menerawang. "Dan dekat sekali denganmu, membuatku cemburu saja…"
Ucapan Korra membuat Seth terpana. Cemburu? Itukah alasan persitegangan kedua gadis itu? Tapi Nessie yang menyerang, bukan, bergerak hampir menyerang Korra duluan… Tapi tunggu, apa waktu itu benar-benar Nessie yang menyerang atau Korra, entah bagaimana, memprovokasi Nessie untuk menyerang?
Bagaimana caranya? Mereka jelas hanya saling tatap dari balik api…
"Gadis yang sangat cantik, terlalu cantik malah," lanjut Korra dengan nada kagum, membangunkan Seth dari kesimpang-siuran pikirannya. "Seperti keluar dari buku dongeng. Legenda yang nyata, bayangkan! Ia memang masih sangat muda, tapi tetap saja... Sukar dibayangkan gadis seperti itu bisa benar-benar ada. Agak sedikit melawan hukum alam, mungkin?"
Apa ucapan Korra ini bisa ditafsirkan berbeda? Apa Korra serius menyatakan kata-kata seperti 'dongeng', 'legenda nyata', 'muda', dan 'melawan hukum alam' karena tahu latar belakangnya? Atau hanya merujuk pada 'kecantikan'?
Seth memutuskan untuk bermain lebih jauh. Mengambil inisiatif.
"Omong-omong, Korra...," Seth mencoba mengetes air sebelum menyelam lebih dalam. "Collin akan datang malam ini."
Kening Korra berkerut.
"Collin sepupuku?"
"Memang ada berapa Collin yang kaukenal?"
"Banyak sebetulnya... Tapi tak ada yang di sini," ia tertawa menggoda. "Memang ada apa Collin mau datang ke sini? Kupikir kalian tidak sedekat itu..."
"Kata siapa, Korey? Kami dekat kok. Banyak hal yang kami bagi bersama," Seth berusaha menekankan pada frase terakhir tanpa kelihatan begitu jelas.
Korra, sayangnya, tampak tidak terlalu menangkap maksudnya. Atau memang ia aktris yang sangat baik. Kemungkinan terakhir tampaknya lebih tepat.
"Masa kau ingin mengusirku karena Cole akan datang, Seth?"
"Siapa bilang begitu?"
"Oh Seth...," Korra berguling hingga berbaring miring. Satu tangannya menopang kepalanya. Jemarinya iseng menari di dada Seth. "Jangan bilang Collin berusaha mendekatimu juga."
"Mendekati apanya?"
"Yah, maksudku, mungkin setelah ia putus dengan Brady..."
Seth tak bisa tidak memutar bola matanya. "Ayolah, Korra... Gosip itu lagi? Siapa juga tahu yang ada di hati Collin hanya kau..."
"Bukan berarti dia tidak akan menyerah atasku juga akhirnya kan? Dia mungkin malah mengejarmu, kau tahu, untuk membalas dendam padaku karena aku tidak membalas cintanya," Ya, di bagian ini Korra separuh benar separuh salah. Collin memang tidak menyerah, tetapi ia menerima. Dan 'mengejar Seth untuk balas dendam'? Nyatanya pemuda itu tidak sekadar 'mengejar', tapi 'membuat jadi bubur'. Tanpa sadar Seth terkekeh pelan.
Korra memicing curiga. Atau pura-pura curiga, ia tidak tahu.
"Jangan bilang, Seth... kau yang tertarik pada Collin."
—Hah? Mengapa arahnya jadi ke sana?
Apakah ia salah tangkap? Jangan-jangan arti kata 'mengejar' Korra tadi…
"Hei, jangan mulai...," Refleks pertama Seth jelas menolak, tapi kemudian ia melembutkan suara, sadar ia bisa memanfaatkan hal ini. "Walau ya," katanya sok misterius, "kami memang memiliki ikatan tertentu."
Tanpa diundang, bahkan tanpa pemicu apapun, bayangan Korra dan Collin yang hampir berciuman di pekarangan rumah Jake mendadak bermain di kepalanya. Lagi-lagi ketakutan yang terus meneror sejak jauh sebelumnya mencekam perasaannya. Korra mungkin mencintai Collin juga…
Hentikan, Seth! Jangan berpikir macam-macam! Fokus!
Ia bisa merasa Korra mempertajam pandangannya.
"Ikatan yang lebih dari sekadar urusan profesionalisme? Sesuatu di luar urusan pekerjaan, mungkin?"
Pekerjaan apapun yang dimaksudkan Korra pastinya bukan urusan 'pekerjaan' biasa. Korra tahu pekerjaan normalnya adalah di depan komputer bermain saham, atau mengerjakan tugas kuliah online dengan statusnya sebagai mahasiswa Universitas Terbuka. Dan Collin jelas bukan tipe yang akan tertarik pada hal seperti itu.
"Mungkin bisa dibilang begitu...," Seth membiarkan kalimatnya menggantung.
"Apa hubungan itu ada kaitannya dengan alasan ia akan datang ke sini?"
Apa Korra cemburu? Atau ia memang aktris yang sangat baik? Apa ia meniatkan urusan cemburu ini untuk mengalihkan Seth dari pokok pembicaraan? Tidak, ia tidak boleh kalah. Ia harus lebih licin dari Korra.
"Yeah, dia memang ada urusan sedikit," jawab Seth setelah menimbang kartu yang akan ia lempar.
"Urusan apa, jika boleh aku bertanya?"
"Dia menemukan syalmu di hutan," Seth berusaha menilai reaksi Korra. Gadis itu tetap tenang. Bagus. Konfirmasi pertama sudah didapatkan. "Cole akan mengembalikan padamu langsung, tapi ia merasa mengembalikan padaku lebih tepat. Mungkin menanyakan mengapa kau meninggalkan syal pemberiannya di hutan."
"Apa penting ia menanyakan alasannya? Padamu?" Korra bergerak lamat-lamat, bangkit duduk di sisi Seth, menatap Seth dengan intens.
Seth menelan ludah.
"Mungkin, ya..."
"Apa kau tahu alasannya?"
"Pasti," ia makin awas menilai reaksi Korra.
Ketenangan Korra masih tak tergoyahkan. "Boleh kutahu apa itu?"
"Kau pastinya tahu, Korra..."
Seth jelas meniatkan ucapannya itu untuk memojokkan Korra. Dan memang Korra sedikit membeku di bawah kalimat itu. Tapi itu hanya bertahan kurang dari dua detik, karena pada detik ketiga Korra tertawa renyah.
"Jika aku tidak tahu benar, aku bisa bilang bahwa kau cemburu," katanya seraya memasang tampang manyun. "Katakan, Seth, apa menurutmu aku diam-diam bertemu Collin di hutan dan tak sengaja meninggalkan syalku?"
Sungguh Seth tak menyangka arah permainan Korra. Tapi ia harus tetap mengikuti. Tenang. Sabar.
"Aku tidak tahu itu, Korey..."
"Apa kau cemburu pada Collin, atau padaku?"
Senyum Korra jelas bukan karena ia meniatkan apa yang ia ucapkan di bibirnya. Senyum itu, dan mata itu terlalu intens. Dalam. Tenang. Menilai.
"Kenapa kau bersikap seolah kau cemburu pada Collin? Bukankah aku yang seharusnya cemburu pada Collin?" ia memilih memainkan kartu aman. "Dengan ciuman kalian di rumah Jake dan syal dan lainnya..."
"Oh, Seth...," Korra mendesah. "Jangan membalik pertanyaanku..."
Seth tidak bisa bereaksi balik. Jujur ia tidak tahu bagaimana mengendalikan kata-katanya di saat seperti ini.
Karena Korra lamat-lamat menaiki tubuhnya. Duduk di pinggangnya. Menatapnya menggoda.
Tidak, itu bukan menggoda. Korra menaiki tubuhnya di saat dia seharusnya berhati-hati dengan segala perban di tubuhnya jelas bukan sesuatu yang normal.
Korra, tidak salah lagi, tahu bahwa sakitnya hanya pura-pura.
Apa ia sudah ketahuan? Tidak, Korra sudah dari dulu tahu. Jika ia harus benar-benar melepas topengnya di hadapan Korra, setidaknya ia harus membuat Korra juga melepas topengnya.
"Katakan, Seth... Apa yang Collin rencanakan denganmu selain mengembalikan syalku?"
Seth menelan ludah.
"Kami ... mungkin akan ... mendiskusikan beberapa hal..."
"Oh, 'diskusi'...," Korra berujar lambat, memberi tekanan pada kata 'diskusi' dengan menggerakan jemarinya membentuk tanda kutip. Jemarinya menelusuri kemeja Seth. Membuka kancingnya satu per satu. "Katakan, apa diskusimu dan Collin akan seperti yang kaudiskusikan denganku?"
Pikiran Seth langsung panik.
Tunggu sebentar. Apa yang Korra maksud dengan diskusi? Atau tepatnya, yang mana?
Ia berusaha tetap tenang. Berusaha menimbang bahwa apapun yang dimaksud Korra, tidak mungkin ada hubungannya dengan apa yang gadis itu lakukan sekarang.
"Mungkin, ya..." ujarnya.
Korra tersenyum. Menatapnya tajam.
"Kau jujur sekali, Sethie," ujarnya. Jemarinya bergerak lambat dari dada, lantas menelusuri lengan kanan Seth. "Kau berubah, tahu, Seth ... semenjak kau mengejar Collin...," tangannya membalik tangan Seth hingga telapak tangan pemuda itu menghadap ke atas, lantas jemarinya kembali menelusuri tangan itu, membuat pola melingkar. "Aku tak tahu apa yang kalian bicarakan. Tapi kau tahu, ikatan di antara kita..." ia berhenti di telapak tangan Seth yang penuh dibalut perban, menautkan jari-jemarinya dengan jari-jemari Seth, "... takkan mudah diputuskan begitu saja. Tidak oleh Collin. Bahkan tidak oleh Jake."
Dengan itu ia meremas telapak tangan itu. Dalam keterkejutan Seth merasa tulang telapak tangannya hancur. Tetapi ia berusaha menelan jeritnya, atau rona perih sekaligus takut yang mungkin menjalar di wajahnya. Mempertahankan topeng tenang, tak terbaca.
Senyum Korra kini bukan senyum biasa, ia sadar. Seringai kemenangan.
"Kau tahu kau cuma milikku seorang, Sethie..."
Korra merenggut kemeja Seth hingga sobek lantas melukar bajunya sendiri, mencampakkannya ke lantai. Dalam nanar Seth melihatnya. Di dada Korra yang terbuka. Tato segel sama seperti yang ia dan Jacob miliki di telapak tangan. Yang juga Collin miliki di dadanya.
Melihat perubahan mendadak suara dan sikap Korra, sudah jelas bukan hanya menyadari keberadaan tanda itu, Korra juga tahu apa artinya.
Harusnya ia sudah tahu ini.
"Bukankah kau bersumpah kau akan selalu mencintaiku? Mengikutiku?" ujar Korra tajam sebelum merunduk, bergerak mencium bibir Seth. Seth agak berpaling, membiarkan bibir Korra meleset.
Dan Korra menggeram. Benar-benar menggeram marah.
Tiba-tiba tangan kanannya melayang menampar Seth. Seth membelalak ketika menyadari rahangnya retak oleh hantaman Korra. Dan tidak cukup sampai situ, ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Seth, memitingnya di atas kepalanya dengan satu tangan, sebelum tangan lainnya menyentakkan dan menghempaskan kembali tubuh Seth ke kasur, melesakkannya lebih dalam. Derit kayu pada lantai terdengar sebelum kaki ranjang itu berderak dan patah oleh tenaga hantaman Korra.
Hal semacam itu sudah diduga sehingga Seth tidak terlalu kaget. Korra juga kelihatannya tidak peduli bahwa kini mereka terbaring dengan posisi kasur yang tidak imbang. Mungkin malah ia berniat akan merusakkan seluruh tempat tidur sekalian.
"Jangan melawan, Seth!" ia memerintah tepat di depan wajah pemuda itu, demi ia sadari Seth meronta dalam pitingannya. "Kau lebih tahu dari siapapun bahwa kau tak bisa menentangku."
Ia menarik tangan Seth yang remuk, menguliti perbannya dengan paksa, menyingkap tanda segel itu. Sambil menyeringai, ia meletakkan telapak tangan Seth di dadanya, menyentuh rajah sama yang tertoreh di permukaan kulit itu.
"Kesetiaan tertinggimu ada padaku..." ujarnya tajam sebelum membungkuk sekali lagi di atas tubuh Seth, melumat bibirnya dengan kasar.
Oh ya, Korra sudah melepas topengnya.
Ini seharusnya kemenangan baginya.
.
.
Seth memandangi punggung Korra yang membelakanginya, duduk di sisi tempat tidurnya yang hancur. Mengawasi sementara gadis itu memunguti pakaiannya yang berserakan dan memakainya dengan ritme sangat, sangat, sangat lambat.
"Kau tahu, pada dasarnya yang tadi itu pemerkosaan, Korra..." ujarnya pelan.
Namun Korra hanya mendengus dan terkekeh.
Ia menelengkan wajahnya, berputar menghadap Seth. "Serius, Seth? Di sana kau akan menempatkan dirimu? Pemuda sangar bertubuh besar nan lugu, yang diperkosa cewek bertampang innocent, namun menyimpan kepribadian kejam tersembunyi? Sepertiku?" Ia kembali berbalik memunggungi Seth sambil tertawa ironis. "Jujur saja, Seth... Siapa yang mau percaya? Charlie? Billy? Oh, bahkan kakak tiriku yang jahat pun tidak..."
"Tetap saja, Korra..."
"Ck, kau dasar martir, Sethie..."
Seth membuang muka, menggemeretakkan gigi.
"Oh, jangan muram begitu, Sethie Sayang...," Korra kembali menghadapnya setelah selesai mengenakan baju dan mengancingkan jeansnya. "Kukira aku memberimu servis yang memuaskan barusan?"
"Ya. Dengan meremukkan lagi tanganku dan menghajar wajahku... Pastinya itu sangat memuaskan, Korra..." Seth menjawab sinis, merasakan asin di sudut bibirnya yang sobek. Dan memang ia tidak melebih-lebihkan. Selain bekas luka yang didapatnya dari Collin dan si serigala emas, luka-luka baru muncul di sana. Biru-biru memar, kebanyakan. Dan ditambah sedikit cakaran dan luka lama yang terbuka kembali.
"Jangan cengeng, Seth. Cuma begitu sih, tidak sampai tiga jam lagi juga sembuh."
Seth tak bisa menahan senyum tersungging di wajahnya, menyadari bahwa Korra jelas merujuk pada kemampuan penyembuhan alami serigala. "Ah, kau akhirnya membuka topengmu," tunjuknya.
Korra terkekeh. "Yeah...," katanya lambat, seolah tak peduli. "Semoga itu memuaskanmu, Seth... Aku tahu permainanmu sejak awal. Kau memang merencanakan semua. Kau ingin aku melakukan itu, kan? Memancingku dengan Cole?"
Ia mengatakannya dengan begitu dingin hingga Seth merinding.
"Oh lihat sekarang, mana Mr. Litsey-mu, yang katanya mau 'mendiskusikan' sesuatu denganmu? Apa ia urung datang karena tahu sekarang giliranku mengklaim dirimu?" lanjut Korra lagi sambil tersenyum sinis, mempereteli kebohongan Seth dalam rencananya untuk membuka topeng Korra.
Benarkah keputusannya untuk menyudutkan Korra? Atau justru ini titik balik yang buruk di pihaknya?
"Jadi...," lanjut gadis itu, mengubah intonasi menjadi sok-profesional. "Apa Anda puas, Mr. Clearwater? Atau ada keluhan? Apa aku kurang memberi sentuhan personal untuk memuaskan dahaga masokis Anda, mungkin?"
Seth menatapnya sementara Korra menyeringai menggoda. "Oh ya, kau memang sadis, Korra," ujarnya sinis. "Sangat profesional, jika boleh kubilang."
Korra tidak terpengaruh oleh kesinisan kata-kata Seth. "Lalu, apa aku cukup bagus untuk fantasi sadomasokismu?" ia mencondongkan tubuh, sementara jemarinya menapaki jejak luka setengah tertutup yang kini terbuka lagi di dada Seth. Sebagian besar belitan perban di tubuh Seth memang terbuka, menyingkap banyak carut marut cakaran panjang Collin. Seth menjengit merasakan perih seiring sentuhan Korra. Terutama karena Korra jelas tidak menyentuh, tapi menekan. Dengan ujung kuku dan bukan hanya jemarinya.
Korra tersenyum melihat reaksi Seth.
"Atau…," ia mengulur-ulur kalimat, "apa aku masih kalah jauh dibanding Mr. Coley Litsey favoritmu?" lanjutnya tajam.
Seth mulai awas. Ini bukan lagi permainan jika menyangkut salah satu anggota kawanannya. "Kau tidak akan bermain seakan semua ini ada hubungannya dengan Collin."
"Oh, mengapa tidak? Bukankah memang ada hubungannya dengan Cole? Aku bisa mencium bau Cole dari seluruh tubuhmu," tudingnya seraya menatap tajam Seth. "Katakan, Seth! Cole yang membuatmu mendapat semua luka-luka dan perban itu kan? Hingga membungkusmu bagai mumi… Sungguh level yang mencengangkan..."
Seth mendengus sebelum menyunggingkan senyum konfirmatif.
"Sudah kubilang... Aku memang selalu benar," Korra mengubah intonasinya lagi, menegakkan punggung. "Wah, aku tidak bisa membiarkan daerah teritoriku dijamah serigala lain, kalau begitu," ujarnya kemudian dengan nada kejam.
Seth membelalak. "Kau takkan berpura-pura seolah semua ini terjadi hanya karena kau cemburu pada Collin, Korra!"
"Oh, kenapa?"
"Karena ... karena..." ia kehilangan kata-kata.
"Kenapa, Seth? Kau mau bilang karena begitu bodoh jika aku membuka topengku hanya karena Collin?" gadis itu tertawa. Renyah. "Atau itu cuma alasanmu untuk mencegahku menyakiti Collin?"
Ia melihat binar ketakutan di mata Seth yang diyakininya sebagai jawaban. Seketika ia semakin berang.
"Begitu protektifnya kau pada Collin? Apa tidak wajar jika aku cemburu?"
"Karena kau bahkan tidak punya alasan untuk cemburu padanya!" Seth hampir berteriak. Tahu apa yang bisa Korra lakukan kini, ia harus mencegah Korra melakukan hal yang lebih buruk. Sudah cukup buruk dengan kemungkinan Korra akan membunuh kakaknya sendiri, tidak perlu ditambah dengan membunuh sahabat terbaiknya.
"Oh, tentu aku takkan menyentuh Cole... Tidak mungkin aku melukai sepupuku yang tersayang..."
Korra mengatakannya dengan senyum aneh yang entah mengapa membuat insting Seth merasakan adanya ancaman.
"Tidak, Korra... Tidak mungkin...," ia menggeleng penuh horor ketika ia menyadari kartu apa yang sedang dimainkan Korra. "Kau tidak mungkin merencanakan sesuatu pada Collin!"
Korra hanya mengendikkan bahu dan membuang muka dengan sikap tidak peduli.
"Kenapa kau begitu kejam, Korra? Dia tulus mencintaimu!"
"Oh, berpura-pura lebih peduli pada Coley Litsey sekarang? Atau memang ya kau lebih peduli perasaannya ketimbang aku?
Serius Seth tidak tahu lagi. Apa Korra benar-benar cemburu?
"Aku hanya menyatakan hal yang sebenarnya. Jujur saja Korra, apa kau pernah peduli perasaanku? Atau perasaan Collin?"
Korra mendengus, membuang muka.
"Korra, Collin rela mati demi melindungimu..."
"Oh ya, dan kau tidak?"
"Kau tahu aku mencintaimu...," suara Seth bagai tercekik. "Tapi sekarang... aku tidak tahu lagi..."
Korra tertawa. Pahit.
"Oh... Apa kau ingin putus sekarang? Sudah kubilang kau akan meninggalkanku tanpa berpikir dua kali, Sethie..."
"Aku tidak mengatakan ini atas keinginanku sendiri."
"Lalu kenapa?" tanya Korra.
"Kenapa apanya?"
"Alasanmu mencampakkanku pasti bukan hanya karena kau merasa terluka aku memaksakan kehendakku, kan? Atau karena aku cemburu berlebihan?"
Seth mendengus, memalingkan muka.
"Atau...," ia mengerling sedikit dengan manja, dan berkata, "kau ingin bilang, alasanmu adalah karena aku adalah serigala jahat yang ingin mengklaim kedudukan atas kawananmu?"
Ucapan itu membuat Seth terbelalak, tapi Korra bangkit dengan santai, merenggangkan tubuh.
"Kau tidak menduga aku membuka topengku begitu mudah?" Korra bertanya dengan senyum licik. "Mungkin alasannya adalah karena aku tidak merasa perlu menyembunyikannya lagi... Padamu terutama..."
"Karena aku budakmu?" geram Seth.
"Ya. Karena kau budakku… Bagaimanapun bisa dibilang aku Alfamu, Seth, bukan lagi Jake!"
Pemuda itu tampak terpukul. "A, apa maksudmu?" katanya dengan suara terbata-bata.
"Yah, kau tahu..." ujar Korra santai, menatap ujung-ujung kukunya dengan sikap tak peduli. "Kulihat kau melakukan Sumpah," ia menunjuk tato di tangan Seth, "dan aku bisa menebak apa isi Sumpah itu."
Tentu... Kesetiaan tertinggi...
Rasanya ia tidak perlu kaget atau bertanya-tanya lagi mengapa dan bagaimana Korra bisa tahu banyak mengenai hal yang bahkan sebagian besar anggota kawanannya pun tidak tahu. Bagaimanapun apa yang ia lihat di jurang sudah lebih dari segalanya. Sam, sebagai Tetua, sudah jelas punya pengetahuan lebih dan kemungkinan besar ia tidak segan berbagi dengan sekutu barunya. Monster kejam yang kini menjelma di hadapannya.
"Dan kalau mau jujur," Korra melanjutkan dengan nada ringan yang sama. "Bagaimanapun satu saat aku pasti mengklaim kedudukannya."
Ucapan itu membuat darah menghilang dari wajah Seth. "Teganya kau...," desisnya. "Dia kakakmu sendiri!"
"Kau tahu itu tidak terhindarkan. Kau dengar di jurang. Sam mendukungku."
Jadi sekarang gadis itu mau beralih dari hanya mengancam Collin jadi mengancam Jake dan seluruh kawanan…
Ya, bagus sekali usahamu untuk mendapatkan konfirmasi, Seth! Cerdik betul!
Ia mengingat sms Collin.
'Apa kau mau bunuh diri? Jangan bertindak gegabah!'
Ah ya, ini bukan hanya bunuh diri namanya. Perbuatan gegabahnya malah mencelakakan tidak hanya dirinya, tapi juga seluruh kawanan.
"Aku takkan semudah itu melakukan klaim jika aku jadi kau, Korra," ujarnya dengan beribu emosi berkecamuk. "Karena aku akan melakukan pencegahan apapun yang bisa kulakukan. Jake mendengarkanku. Aku akan memperingatkannya."
"Mungkin kaupikir kau masih punya pengaruh, tapi tidak. Jake menyayangiku sekarang, aku adiknya yang manis," Korra berdendang. "Kan aku sudah melakukan semua permintaanmu, menjadi keluarganya … dan ia menerimaku! Itu kan apa yang kauinginkan?"
"Aku bisa mengatakan pada Jake seperti apa kau yang sebenarnya," tekan Seth, menggemeretakkan gigi.
Ya. Ia harus mengatakan pada Jake. Meyakinkannya bahwa musuh utama mereka ada di dalam rumahnya sendiri.
"Oh, benarkah, Seth? Apa kau bisa? Menempatkan diriku dalam bahaya sebelum aku sempat mencelakai Alfamu? Aku? Gadis yang kaubilang kaucintai seumur hidup? Huh… Kata-katamu ternyata omong kosong, Sethie..."
"Aku tidak kenal kamu. Gadis yang aku cintai adalah Korey. Gadis yang ceria dan tulus, bukan serigala jahat sepertimu."
"Ah, kau tidak bilang begitu waktu aku di atasmu tadi... Tubuhmu, paling tidak...," Korra terkekeh.
"Hentikan, Korra!"
"Kenapa, Sethie? Biasanya kau menyukai sedikit obrolan ringan sesudah seks..."
"Itu dulu!"
"Dan sekarang berbeda? Oh, rupanya kau memang benar-benar mencampakkanku setelah kau tahu siapa aku. Bahwa ternyata aku bukan gadis manis seperti yang kauinginkan. Oh, sumpahmu bahkan tidak bertahan tiga hari, Sethie... Sungguh mengecewakan."
"Kau bisa berharap, Korra... Karena aku mungkin mencabik-cabikmu duluan untuk memastikan kau tidak menyakiti lebih banyak orang, sebelum itu terjadi..."
"Oh, apa itu ancaman? Agresif sekali, Seth... Sangat tidak sepertimu, patut kubilang. Apa itu pengaruh Jake? Atau Cole?"
Ia membungkuk untuk mengusap pipi Seth dengan ujung jemarinya, yang segera ditepis Seth. Reaksi kasar Seth membuat Korra tertawa.
"Bersikaplah getir sesukamu, Sethie... Tapi aku yakin satu hal. Kau takkan melukaiku. Kau bisa melukai bayimu juga, tahu..." ia menyeringai nakal lantas mengusap-usap perutnya. Suaranya merendah hingga taraf suara bayi. "Oh, anak-anak anjing yang malang ... disakiti oleh ayahnya sendiri..."
Seth membelalak sesaat. Tapi kemudian berhasil menguasai diri. "Apa lagi permainanmu sekarang? Kau tidak mungkin mengandung anakku."
"Oh, mengapa tidak?"
"Karena itu tidak mungkin!"
"Katakan mengapa itu tidak mungkin..."
"Kita bahkan baru dua bulan bersama. Terlalu cepat untuk tahu hal seperti itu ketika usia kandunganmu paling tua hanya sebulan lebih."
"Oh, seolah kau tidak mempertimbangkan kemungkinan aku mengandung anak anjing dan bukan anak manusia..."
"Itu bukan alasan, Korra!" tekan Seth berang.
"Oh, dan apa alasanmu yang lebih kuat untuk menolak kemungkinan itu? Karena kita melakukan semua prosedur yang aman selama dua bulan ini? Oh, please...," ia memutar bola mata lantas mengibas-ngibaskan telapak tangan dengan sikap mengejek. "Atau karena kau yakin berdasarkan statistika, kemungkinan serigala betina mengandung adalah mendekati nol? Kau takkan begitu bodoh percaya hal seperti itu hanya karena satu contoh kasus Leah Clearwater kan?"
Leah? Bagaimana mungkin Korra tahu tentang Leah?
Ya, ia memang seringkali bicara tentang Leah pada gadis itu. Tapi tak pernah rasanya ia kelepasan mengatakan bahwa Leah serigala, atau lebih lagi, bahwa Leah tidak bisa mengandung.
Dan nyatanya, memang serigala betina tidak mungkin bisa mengandung, kan?
Sms Collin tadi pagi tiba-tiba membayang di kepalanya.
'Korra sakit. Morning sickness, katanya. Apa yang sudah kaulakukan, Seth?'
Seth menggeram marah.
"Jadi kita mencapai kesepakatan. Kau, Mr. Seth Clearwater, takkan melakukan apapun untuk menyakitiku atau mengatakan apapun pada kawananmu. Setuju?" Korra menyatakan dengan seringai kemenangan terpampang jelas di wajahnya. "Karena aku jelas tidak akan keberatan kalau aku harus membunuh anak-anak anjingmu di sini...," ia mengusap perutnya lagi. "Atau mungkin malah kakakku si serigala Alfa besar jahat itu akan tidak sengaja membunuh mereka kalau ia tahu semua ini sebelum saatnya tiba. Yah, memberiku alasan untuk menjalankan rencana itu lebih cepat padanya, sebenarnya… "
Seth menatap nanar ketika arti kalimat terakhir Korra dimengertinya.
"Itu blackmail, Korra!"
"Aku mem-blackmail-mu? Untuk apa? Kau pasti akan melakukan apa yang kuperintahkan walau bagaimanapun..."
Pandangan benci sekaligus terkhianati jelas tampak di mata Seth.
"Oh, Sethie... Hentikan itu. Kau tidak akan menjadikanku pihak yang jahat. Kau yang memprovokasiku, ingat? Kau yang membuatku melakukan semua ini..."
Seth merasakan kemarahan yang sangat. Tapi akhirnya ia menyadari, kemarahannya menghadapi Korra, di saat seperti ini, tidak akan berdampak baik apapun. Maka ia menarik napas panjang, berusaha menilai situasinya sendiri. Menenangkan diri.
Korra tersenyum. "Kulihat kau sudah tahu situasimu. Jadi kuharap kau tidak bertindak macam-macam," ujarnya.
"Kau masih belum bisa memegang kendali total atasku dan kau tahu itu, Korra. Kau bukan Alfaku," ujar Seth, kali ini tenang.
"Ya, memang bukan... Tapi kesetiaanmu ada padaku, kan? Dan masalah Alfa hanya tinggal menunggu waktu..."
Seth menatap Korra tajam. "Apa tepatnya yang kaurencanakan?"
"Oh, tentu saja itu rahasia, Sethie Sayang..."
"Oh ya, tentu saja," ia mendengus. "Tak perlu kaukatakan pun aku bisa menduga."
"Tentu, tentu…," ujar Korra santai, membeo Jacob, membuat Seth ingin menggeram, menerjang mengoyak-ngoyak gadis itu. Tapi ia berhasil menahan diri sebelum benar-benar kehilangan kendali. Terlalu beresiko untuk berubah dan menantang Korra di kamarnya sendiri.
Seth bergidik, namun tidak bisa menolak, ketika Korra merunduk untuk mencium bibirnya. Gadis itu merasakan kebekuan Seth dan bibir yang terkunci rapat-rapat, sehingga ia menyerah untuk memaksakan ciuman lebih lanjut. Ia bangkit sambil menderaikan tawanya, lantas melangkah menuju pintu dengan santai.
"Aku bergantung padamu, Sethie...," seringainya sebelum membuka pintu dan lenyap di baliknya.
.
.
Astaga, memang sudah berapa lama waktu berlalu sejak Korra datang? Apa ia sempat tertidur tadi? Mungkin di antara salah satu sesi maraton pemaksaan Korra?
Rumahnya jelas tak lagi sepi, ia baru sadar. Charlie dan Sue sudah ada, entah sejak kapan. Ia segera melirik ke jam dinding. Pukul 11.15 malam…
Ia bisa mendengar suara Charlie yang aneh, berpura-pura kaget ketika berakting baru menyadari keberadaan Korra di kamar Seth sedari tadi sore. Ia bahkan bisa merasakan kepanikan si kepala polisi itu ketika menduga-duga apa yang terjadi antara calon anak tirinya dengan adik tiri Jacob. Atau Sue yang jelas curiga dengan bisik-bisik tegang dari kamar Seth sejak tadi. Mereka mungkin terbangun, atau malah memang belum tidur sejak awal dan menguping. Sue bahkan kini sedang berusaha meyakinkan Korra untuk menginap, karena hari sudah hampir tengah malam.
Ia bersyukur karena tidak merasakan keberadaan Billy di manapun.
Dirasakannya seutas kelegaan ketika Korra menolak tawaran Sue. Tapi kelegaan itu segera berubah menjadi ketakutan ketika Korra menyatakan alasannya harus pulang malam itu juga. Karena Jacob menunggunya.
Ah, ya, benar. Hari ini jadwal Jacob libur! Sempurna sekali!
Tunggu saja hingga ia menanyai Korra habis dari mana dan mencium bau Seth di sekujur tubuh adiknya. Konfirmasi identitas Korra sudah didapat sehingga seharusnya ia bisa kembali ke kawanan. Lusa malam mereka patroli bareng dan mungkin Jacob akan langsung mencincang Seth. Atau mungkin ia malah tidak perlu menunggu hingga lusa. Titah Alfa dan dekrit hukuman matinya pasti akan datang besok, bahkan sebelum fajar menyingsing.
Oh ya, ia tak perlu repot-repot mempertanyakan kembalinya ia ke posisi Beta, atau bahkan ke kawanan, karena ia akan mati.
Sue menawarkan diri untuk mengantar Korra. Pastinya ia tidak ingin seorang perempuan di bawah umur keluyuran jalan kaki malam-malam sendirian. Sue mungkin Tetua dan tahu kemungkinan Korra serigala, tapi sepertinya Korra belum membuka topengnya di hadapan Sue. Atau mungkin sudah, tapi Sue hanya menunjukkan sikap protektif terhadap seseorang yang mungkin akan menjadi calon menantunya di masa depan, jika ia memang menangkap pembicaraan Korra dan Seth barusan. Jika ia tidak menguping pun, memangnya apa lagi kemungkinan lain yang ada di kepala orangtua mendapati seorang gadis keluar dari kamar anak lelakinya malam-malam begini, setelah mengurung diri berdua sepanjang sore? Tidak berarti mereka melakukannya tanpa suara sama sekali...
Seirama dengan calon istrinya, Charlie menawarkan untuk menelepon Billy, meminta Jacob untuk menjemput Korra…
Oke, jadi kemungkinannya Sue mengantar Korra, yang berarti Jacob tahu Korra habis bersama Seth hingga malam, atau Jacob sendiri yang datang menjemput Korra, yang artinya malah menghadapkan Seth langsung ke mulut harimau. Koreksi. Maksudnya serigala.
Atau tentu saja ada pilihan ketiga. Biarkan saja Korra lari pulang sendiri. Pastinya itu yang akan dipilih Korra. Untuk ini ia tak ragu. Lebih lagi khawatir.
Tapi rupanya Korra mengkhianati kepercayaannya, atau mungkin memang sengaja menyakitinya lebih jauh, karena ia kelihatannya menerima tawaran Charlie. Dan menambahkan alasan bahwa ia harus segera sampai sebelum fajar karena Sabtu itu Rachel dan Paul akan datang.
Mata Seth langsung membuka lebar.
Rachel dan Paul akan datang? Ia tidak pernah dengar yang seperti itu sebelumnya. Baik dari Billy, Jacob, maupun Korra sendiri.
Apa Korra mengarang-ngarang alasan?
Tapi untuk apa? Alasan seperti itu takkan mengubah apapun, dan siapapun akan tahu jika ia berbohong.
Oh, ini tak seharusnya jadi makin rumit…
.
Dengan kesal Seth memaksakan diri turun dari tempat tidur, berpakaian seadanya dan menarik Korra pergi dengan menahan nyeri di tubuhnya, sebelum Sue dan Charlie melangkah lebih jauh. Misalnya benar-benar menginterogasi Korra, sementara menunggu Jacob, sang algojo hukuman matinya, datang.
Lebih baik ia mendatangi mulut harimau ketimbang meminta harimau itu datang. Setidaknya ia bisa membuat kematiannya tampak lebih berwibawa.
"Kupikir kau tidak boleh turun dari tempat tidur sekarang, Sethie? Atau setidaknya kau ingin memunculkan kesan pada ibumu bahwa seharusnya aku tidak boleh tahu bahwa kau baik-baik saja?" ujar Korra sok manis ketika Seth membukakan pintu Volvo putihnya dan menyuruhnya masuk, agak lebih kasar dari sikap gentleman-nya yang biasa.
"Aku tidak ingin kau mencoba mendekati keluargaku sekarang," jawab Seth terus terang.
"Wah, jahat sekali kau, Sethie... Ia calon mertuaku dan nenek anakku, kan?"
"Aku takkan membuatmu menemukan cara untuk mengancamku lebih jauh, Korra. Sekarang pasang sabuk pengamanmu sebelum aku mencoba kemungkinan untuk membunuh kita berdua, sekalian dengan jabang bayi imajinatifmu."
Korra mengumandangkan tawa mengerikan.
"Oh, diam kau, serigala hitam jahat…" gumam Seth yang membuat Korra makin lantang tertawa.
"Serigala hitam jahat? The Evil Black Wolf, heh?" ia tampak terpesona sekaligus mencibir dalam julukan barunya. Yang membuat Seth juga ikut mendengus menimbang betapa tepat julukan itu padanya. "Kita saling mengenal dalam nama baru, kalau begitu, eh, Mr. Sandy?" dan sambil mencondongkan tubuh kepada Seth, ia berbisik pelan, "The Great Beta…" Namun sesaat ia memperdengarkan suara napas tertahan palsu, dan berujar dengan seringai licik, "Oh, atau lebih tepat kubilang Ex-Beta sekarang?"
Iringan tawa kembali menggema di dalam mobil.
Seth tidak menjawab, jelas sudah menduga hal ini sebelumnya. Memang benar pembicaraannya dengan Collin di dasar jurang itu, Korra memang mendekatinya untuk menyelidiki lebih detail tentang kawanan. Ya, jika bukan memang Sam yang membocorkan semuanya.
Tapi bahkan Korra tahu ia sudah didepak dari posisinya… Padahal itu baru terjadi tadi siang. Pengintaian mereka, atau bahkan mungkin penetrasi, terhadap kawanan ternyata lebih dalam dari yang ia sangka.
Ia memundurkan mobil dengan kasar, hampir menabrak pagar hidup rumah Clearwater, sebelum meluncurkannya menuju kediaman Black.
.
.
catatan:
maaf bagi para pembaca di bawah umur... chapter ini sudah diberi rating M...
tapi adegan ini penting untuk di-post... sayangnya aku ga bisa mikirin adegan lain yg lebih halus untuk menyingkap topengnya si korra...
R&R please...
(menggigit jari...)
