THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Rated M... Read on your own guard…
.
.
Penjagalan (Serigala vs Kelinci -2- )
Monday, February 18, 2013
3:56 PM
.
.
Suara Collin dan Jacob dalam kepalanya memudar setelah mereka mendengar ucapan Jacob mengenai hal yang tidak bisa dibagi di depan kawanan itu, dan Quil memaki keras ketika menyadari alasannya: Collin sudah pasti memasang tembok mental bodohnya itu lagi.
Kenapa bocah-bocah itu mendadak bisa membangun selubung pikiran? kutuknya. Si Seth, okelah... Dia sudah keseringan berlatih menutup pikiran dari si Edward Cullen waktu kecil dulu, dan pastinya dia meniru-niru perisai Bella. Tapi Tuan Gosip Collin Littlesea? Yang biasanya tidak puas kalau tidak mengacaukan isi kepala kita tiap saat dengan siaran langsung gosip-gosip panas? Dia sama sekali tak punya potongan untuk mampu membentengi pikiran!
Pikiran Quil sebenarnya mewakili pikiran siapapun bahkan sejak mereka mendapati bakat istimewa Collin. Tentu saja mereka sebenarnya tak pernah benar-benar terkejut. Bocah itu bisa dikatakan menghabiskan masa puncak perkembangan kreativitasnya bersama kawanan dan sejak itu, dengan naluri bermain khas anak kecil, telah mengembangkan kemampuan yang tidak terpikir oleh mereka yang lebih dewasa.
Pertama Collin menunjukkan keunikannya adalah sewaktu ia masih ada di kawanan Sam, sekitar setengah tahun setelah ia berubah. Quil masih ada di kawanan Sam waktu itu. Ia menjadi saksi ketika Cole mampu memunculkan bayangan grafis murni dari imajinasi. Awalnya itu adalah semacam substitusi game konsol, untuk membunuh waktu sementara ia disuruh Sam patroli di hutan yang itu-itu juga. Semula bayangan itu lemah, namun makin lama makin kuat. Cole melakukannya sembunyi-sembunyi, kalau tak ada Sam. Anggota kawanan lain seperti Jared dan Paul menutup-nutupinya dari Sam, karena mereka diam-diam menganggapnya adik bungsu di kawanan. Lama-lama game yang bersifat personal itu mulai interaktif, setelah Cole remaja menularkan kemampuannya pada bocah-bocah seusianya di kawanan, anak-anak kecil usia 12-14 tahun yang berubah saat serangan Volturi. Yang termuda, Josh, malah baru 11 tahun ketika serangan itu terjadi. Quil sudah tak lagi ada di kawanan Sam saat itu, tapi ia bisa membayangkan. Kawanan Sam kemungkinan besar agak terpecah dua, dibatasi jurang usia: bocah-bocah yang jelas punya dunia sendiri, dan para atasan mereka, Triad Sam-Jared-Paul, yang hidup dalam dunia dewasa yang sama sekali berbeda. Tanpa jembatan, karena Quil dan Embry memilih hengkang ke kawanan Jacob. Dengan jurang usia di antara mereka, wajar jika gerombolan cilik itu lebih menerima duet Cole-Brad sebagai pemimpin tidak resmi. Itu jauh lebih mudah ketimbang menerima Sam.
Untungnya Cole patuh pada Sam, dan sifat pemberontaknya yang kadang-kadang muncul bisa ditekan oleh Brady yang setengah tahun lebih tua darinya, atau Caleb dan Adam yang lebih tua setahun. Karena kalau tidak, Sam tahu, bisa-bisa ia digusur oleh seorang Black cilik yang saat itu usianya baru 14 tahun. Meski demikian, Quil pernah mendengar Jared mengeluh, Sam sempat mempertimbangkan untuk meletakkan beban kepemimpinan kawanan di pundak Collin, jika Jake memang tak pernah mau kembali ke kawanan resmi La Push. Sam berusaha mempersiapkan Collin, tapi masalahnya bocah itu sedang nakal-nakalnya dan susah betul diurus. Malah ia yang mempelopori pemberontakan remaja seperti mangkir patroli atau main-main saat bertugas.
Begitu Sam pensiun, Jacob menyetujui penggabungan dua kawanan. Inilah keberuntungan yang membuat Collin terhindar dari beban menjadi pemimpin saat ia masih belum matang.
Namun Jacob dan Collin jadi seperti anjing dan kucing, atau setidaknya dua serigala yang selalu saling menerkam.
Sebagian dari mereka jelas masih memendam dendam, menganggap Jacob musuh yang pernah mengkhianati kawanan, dengan menyeberang ke kubu vampir dan membuat mereka harus bertarung melawan Volturi. Tentu saja mereka lebih kesal saat Jacob malah kembali jadi pemimpin mereka. Collin, terutama, yang mengidolakan Sam, mengibarkan bendera permusuhan setinggi-tingginya pada sepupunya.
Cole menggunakan bakatnya untuk mengganggu Jacob, dan Jacob tak segan menggunakan wewenangnya untuk menghukum anak badung itu. Tapi di sisi lain, persaingannya dengan Jacob membuat Collin lebih mantap mengasah diri. Kemampuannya memunculkan adegan grafis kian berkembang ketika ia masuk SMU dan entah mengapa geng game-nya berkembang menjadi geng gosip. Adegan grafis itu jadi kian realistis, dan sebagian besar digunakan untuk memancing amarah Jacob.
Si nakal itu tak berhenti sampai di situ. Ia mulai bermain-main dengan pikiran dan memori anggota kawanan lain. Anggota gengnya malah mengembangkannya ke level yang lebih tinggi, hingga perlahan kata seperti 'pencucian otak' dan 'perubahan memori' menjadi bagian dari kosakata kemampuan pikiran serigala. Jake agak marah dengan kedua hal ini, tentu, dan menetapkan batas-batas tegas sampai titik mana itu boleh dilakukan. Seth begitu merasa terganggu, hingga, terinspirasi bakat para vampir, ia mengembangkan kemampuan defensif memasang selubung pikiran. Jacob sering marah karena Seth mengurung diri, dan mulai mengembangkan teknik menghancurkan tembok mental. Di sisi lain, Seth kadang merasa kesal dengan teknik pikiran berlapis yang dikembangkan kawanan Collin untuk menutupi banyak pikiran remeh. Alasan mereka mangkir patroli, misalnya, atau rencana mereka melakukan sesuatu untuk membuat Jake kesal. Belajar dari pengalaman sekian tahun, ia pun mulai mengembangkan kemampuan penetrasi pikiran yang lebih tinggi ketimbang sekadar 'membaca pikiran di permukaan'.
Namun meski awalnya kucing-kucingan terus dengan Seth, entah sejak kapan Collin mulai menaruh hormat dan menjadi benar-benar takluk pada sang Beta. Di bawah bimbingan Seth, kemampuan Collin makin terasah. Mulai dari yang lumayan serius seperti mempermainkan logika dan menyusun strategi—meski lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil—hingga mengembangkan sesuatu yang tak berguna seperti gosip, dari yang sangat jelas hingga yang sama sekali tak logis.
Sialnya lagi, Collin tak memendam semua bakatnya sendiri, tapi membaginya dengan gengnya. Dan mereka semua ikut ambil bagian untuk mengembangkan bakat itu. Level kawanan dalam mengembangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicapai oleh kemampuan telepati mereka, entah bagaimana, jadi meningkat.
Ini semua karena satu orang. Si berandal badung. The Mastermind Collin Littlesea.
Ya, melihat pencapaian Collin dan anak buahnya dengan 'perluasan batas kemampuan pikiran' mereka, Quil takkan pernah kaget jika satu saat bocah itu menemukan teknik baru. Mendeteksi kebohongan, misalnya, atau membuat proyeksi astral yang bisa melawan vampir. Atau mungkin malah si Collin bisa jadi pengganti Aro, membaca pikiran dari orang yang bukan anggota kawanan.
Tapi biar bagaimanapun, Quil sama sekali tak pernah membayangkan seorang ekstrovert seperti Collin mampu membuat tembok pikiran.
Hahaha, Quil, kau cuma iri... Embry terkekeh di salah satu sudut hutan di dekat tebing itu, mendengar rentetan pikiran Quil. Kurasa wajar kalau Seth dan Collin punya kemampuan lebih dibanding kita semua. Dia Putra Mahkota Collin Black, biar bagaimana juga...
Quil, lebih lagi Clark dan Harry, langsung meringis mendengar sebutan itu. Tapi di sisi lain tebing dan di dasar jurang, para pendukung Collin malah tertawa.
'Putra Mahkota Collin Black' gundulmu! maki Clark yang membuat Embry kembali terkekeh.
Sudahlah Quil, intinya sih kau memang cemburu... suara Ben terdengar. Darahmu kan selevel dengan Seth, tapi kemampuanmu kalah jauh...
Siapa bilang kemampuanku kalah jauh?! teriak Quil. Asal tahu saja, Seth yang lembek itu kalah terus kalau adu gulat denganku!
Tapi dia yang Beta... keusilan Ben mulai kumat.
Itu cuma karena darahnya! Dan memang dia bisa menenangkan Jake...
Kalau begitu seharusnya kau jadi Gamma, dong... Pete ikut-ikutan memprovokasi.
Itu karena si Embry ini pastinya Black juga...
Omongan asal-asalan Quil membuat Embry berhenti berlari dan mengirimkan gambar dirinya melotot marah pada Quil.
Apa tadi kaubilang, Ateara?
Quil mengirimkan gambar sinis dirinya yang menyembah-nyembah. Oh, ampun, Yang Mulia Paduka Gamma, Sir Embry Black...
Anak-anak tertawa.
Embry kelihatannya tidak terpengaruh oleh kesinisan Quil. Ia kembali cuek, berlari-lari ringan. Kalau aku Black, saat ini aku sudah jadi Alfa, Quil... ujarnya santai. Aku, bagaimanapun, lebih tua daripada Jacob...
Quil terdengar berpikir-pikir. Oh ya, benar... ujarnya berikutnya yang disambut senyum Embry. Namun belum sedetik, ia sudah mencetuskan ide lain. Ah, kalau begitu kau pasti Embry Uley.
Embry langsung menggonggong.
Mana ada kaulihat kemiripanku dengan Sam? Aku ini sudah jelas ribuan kali lebih manis, lebih tampan, lebih menawan daripada Tuan Medusa Uley mengerikan... Hiiih! ia bergidik untuk sekadar memberi aksentuasi pada ucapannya. Kalau bukan karena imprint, tidak bakal ada cewek mau sama dia... ia menambahkan.
Anak-anak cuma tertawa. Jelas Embry cemburu pada Sam. Semua orang bilang ia yang paling manis di antara seluruh senior, tapi malah ia yang sampai sekarang masih jomblo.
Leah mau... tunjuk Ben, mengoreksi ucapan Embry. Cinta mati, malah...
Itu kan Leah. Dia sih sudah tidak normal dari awal...
Hati-hati ngomong tentang Leah, Embry. Jangan sampai didengar Collin, peringat Brady. Dulu dia sempat diam-diam naksir Leah...
Ya, ya, ya... siapa juga tahu... Harry bersenandung muram.
Selera Cole memang tidak ada yang beres, Clark ikut-ikutan bergumam. Dulu Leah, serigala betina paling mengerikan di La Push. Sekarang Korra, tersangka serigala betina yang ada di pihak musuh...
Itu kan belum tentu, Clark. Lagipula itu cuma teori asal-asalan Cole dan Seth. Siapa juga tahu mereka berebut Korra... Brady menunjuk poin-poin yang jelas. Dan Seth kan dari dulu naksir si Hitam, jadi mungkin dia memaksakan teori untuk menghubungkan Korra dengan si Hitam...
Astaga. Memang cinta segitiga yang rumit... Pete mendesah.
Benar, Ben seiya-sekata dengan anggota gengnya. Korra dan Seth, Korra dan Collin, lalu Seth dan Collin...
Frase terakhir membuat semua anggota kawanan berjengit.
Heh, apa?!
Ben nyengir, tampak senang umpannya termakan.
Yeah, Collin tidak tahu mengapa kelihatan aneh kalau menyangkut Seth. Ia mengidolakan Seth... Dan reaksi terpukulnya kelewat berlebihan, ketika tahu ia tanpa sengaja menggeser Seth...
Itu wajar, Brady membela Beta atasannya sekaligus sahabatnya. Kedua Beta, maksudnya. Seth kan selama ini bisa dibilang mentornya Collin. Ia yang selalu membela Cole dari kemarahan Jake. Ingat waktu di hutan? Waktu Korra hilang?
Justru itu. Masa iya Cole tega menyakiti mentornya sendiri... Bersaing dalam urusan Korra? Melukainya demi mendapatkan posisi? Ben kembali bicara.
Cole itu sudah naksir Korra... Dan dia tuh memang agak-agak tidak bisa menahan emosi... ujar Brady lagi, yang membuat Ben mendengus.
Agak-agak apanya... Sangat, kalau boleh dibilang.
Tunggu. Sebenarnya kau mau bilang apa sih, Ben? Pete menginterupsi, tampak agak penasaran...
Yah, mungkin saja... Ben tampak girang diberi kesempatan mengemukakan teorinya. Jangan-jangan Cole itu selain naksir Korra, diam-diam juga naksir Seth... Makanya dia marah besar karena ternyata Korra dan Seth pacaran di belakangnya. Dia bisa meledak seperti itu karena cemburunya berlipat ganda.
Ya ampun, Ben... Brady menyundul bagian sisi tubuh Ben. Kau bisa membuat gosip sebodoh itu? Kau memalukan geng kita saja!
Tapi itu masuk akal, lho, Brady... Ben bersikukuh.
Hah, ketahuan bodohnya... Harry mencela. Dengar dirimu sendiri. Kalau memang Cole naksir Seth, mana mungkin ia tega menyakiti Seth? Merebut kedudukannya, bahkan?
Apa kau belum pernah dengar ungkapan 'cemburu itu bisa membutakan', Harry? Ben masih ngotot mempertahankan teorinya.
Seisi kawanan, kecuali Pete tentu, memutar bola mata mereka.
Dan kalian penasaran tidak sih, apa yang dibicarakan Cole dan Seth di hutan? Maksudku, mereka jelas saling berkelahi, Cole mendapatkan jabatan Beta tanpa luka segores pun, dan mereka pulang berangkulan? Apa tidak aneh?
Seth kan memang pemaaf... Dan dia itu termasuk yang menentang 'pertarungan dalam kawanan sendiri'. Pasifnya minta ampun kalau soal berkelahi dengan sesama teman. Dia bisa jadi tidak melawan sama sekali... ujar Brady.
Ayolah Brad, kreatif sedikit...
Kreatif apanya?
Ben langsung menayangkan adegan grafis yang membuat seisi kawanan, termasuk Brady, mengutuk dan mengamuk-ngamuk tak karuan.
Ben, please! Itu tidak mungkin terjadi! kata-kata Brady mewakili kata hati seisi kawanan.
Ayolah, Brad... Itu kan satu kemungkinan...
Benar, Pete mendukungnya. Kurasa Korra juga sadar soal itu. Dia memang mengira Cole naksir Seth kan? Kau sendiri yang bilang begitu, kan Brad? Waktu Cole mau nembak si Korra di sekolah, malah si Korra membuatnya tak berkutik dengan bilang Cole cemburu padanya, karena berani bicara hal-hal bagus soal Seth.
Pete, jangan ikut-ikutan... Brady menatap tajam mata serigala Pete. Itu sih si Korra saja yang dengan bodohnya salah paham.
Eh, kenapa Brad, kamu cemburu ya? Ben kembali nyengir, memamerkan gigi-gigi tajamnya namun dengan mata antusias. Karena pacarmu ternyata tipe cowok buaya yang kecengannya di mana-mana?
Oh Tuhan...
Sumpah. Baru kali ini dalam seumur hidup Brady menyesal menjadi bagian dari The Gossip Guys, maksudnya The Wolf Rangers—istilah agak keren untuk geng mereka yang diciptakan Collin belakangan. Ia baru saja akan menyerang secara fisik kedua anggota gengnya ketika terdengar hardikan Embry.
Hei, kalian para biang gosip, jangan mulai ngomong ngawur!
Tapi Ben tak terpengaruh, malah nyengir jahil.
Astaga, Embry Clearwater ngamuk... Pasti dia marah adiknya ikut-ikutan digosipkan, cibirnya bandel.
Tidak hanya Embry, seisi kawanan ikut membelalak tak percaya.
Hah? Embry Clearwater?
Oh, kau tidak senang ya, Em? Ben mulai lagi dengan aksinya. Atau kau lebih suka dianggap Embry Ateara, kalau begitu?
Aku yang tidak senang! malah Quil yang bereaksi. Untung kalian bukan bawahanku langsung. Kalau tidak sudah kucincang kalian!
Kok malah kau tidak senang, Quil? Kukira kau sahabat baik Embry... Pete berkomentar.
Jelas dia tidak senang, Pete... Kalau begitu kan, malah jadi dia punya hubungan incest dengan saudara tirinya...
Gosip asal-asalan Ben kembali membuat seisi kawanan memutar bola mata.
Oh Tuhan! Quil berteriak frustasi.
Astaga. Kapan para atasan mereka selesai dengan pembicaraan-rahasia-entah-apa itu? Ia sudah tidak tahan dengan si Murid Biang Gosip Ben. Semenjak Sang Guru Biang Gosip Collin naik takhta dan mendadak jadi serius, tampaknya Ben tak hanya mengambil alih posisi Beta Tingkat Dua yang semula diisi Collin, tapi juga mengisi posisi Alfa Geng The Gossip Guys sekalian.
Oh Seth, kembalilah dan letakkan sistem alam semesta kembali pada posisinya... Buat ketenteraman dunia kembali terjaga... Amin, doa Quil yang disambut rentetan tawa Ben dan Pete.
Sudah, kalian! Kalian berani-berani meracau saat kedua pemimpin sedang berada dalam pembicaraan serius? Caleb yang sejak semula diam akhirnya tidak tahan lagi dan menghardik kedua pengacau itu.
Ah, mana bisa kau menutup mulut kami, Cals? Kau kan setingkat dengan kami... Ben menyepelekannya.
Ya. Bahkan bisa dibilang, kau itu yang posisinya paling rendah sekarang... sambung Pete menyebalkan, membuat Caleb menggeram marah.
Caleb benar, Ben, Pete... Bagaimana kalau kita lebih berkonsentrasi pada penjagaan? Adam menggunakan wewenang Sectad-nya dengan cara persuasif, sebelum Caleb nekad meluncur turun ke dasar jurang dan mengoyak tenggorokan Ben dan Pete. Itu mempengaruhi Pete, tapi tidak Ben.
Kau sih bisa bicara begitu, Adam... Kau kan ada di tempat luas... Kami di sini, terkurung di dasar jurang...
Astaga! Caleb tak tahan lagi. Embry! Lakukan sesuatu!
Lakukan apa? Embry dengan bodohnya terdengar bingung.
Apa saja! Bungkam mereka! Kau kan Gamma!
Oh, Tuhan... Embry mengeluh. Ia paling tidak suka menggunakan wewenangnya untuk menurunkan Titah. Oke, diam kalian bertiga! perintahnya enggan pada si tiga biang kerok: Brady, Ben, dan Pete.
Keheningan melanda ketika gaung suara Embry menggelayuti udara, memaksa ketiganya bungkam. Tapi itu hanya sementara, karena beberapa menit kemudian, kembali terdengar gerutuan dan ocehan bocah-bocah itu.
Kok aku ikut-ikutan disalahkan? Brady memprotes.
Jelas kau tak bisa membungkam kami kalau kau melakukannya setengah hati, Em... Pete menyediakan alternatif jawaban atas pertanyaan sekaligus keheranan Embry, yang mendapati bahwa Titahnya begitu mudah didobrak. Hanya bertahan lima menit setelah dijatuhkan, bayangkan!
Ha! Sudah jelas sekarang! Dia Clearwater! Lembeknya sama dengan Seth! Ben berteriak girang, bahkan sampai melompat-lompat di dasar jurang, yang membuat Brady menatapnya tajam dengan pandangan memperingatkan.
Aku tidak lembek! bantah Embry. Aku cuma tidak tega memberi Titah pada kalian... Kalian bisa sebut itu 'baik hati' dan 'mulia', bukan lembek...
Ben bersenandung mengejek. Lemmm-beeeekkkk...
Diam kalian semua!
Terdengar gaung berat memenuhi udara, membuat The Gossip Guys tak bisa berkutik lagi. Tak hanya mereka, selama sekian detik kawanan dicekam kebekuan ketika Titah Gamma itu turut mempengaruhi mereka. Dalam diam mereka berusaha menganalisa, mencerna. Embry akhirnya tidak tahan lagi, berhasil menghalau keengganannya, dan mampu merapal Titah yang selalu ia hindari dengan baik dan benar?
Tapi tidak. Itu bukan suara Embry. Aura yang menekan itu bahkan bukan aura Embry.
Astaga.
Quil?
Quil sendiri mengerjap. Tidak menduga bahwa ia bisa melontarkan Titah.
Selang sekian lama ketika anak-anak bisa mencerna situasi mereka, dan baik Embry maupun Quil sudah cukup tenang untuk menilai posisi mereka, akhirnya terdengar suara Embry.
Kau mengklaim posisi Gamma, Quil?
Itu bukan kemarahan. Atau tindakan defensif karena jelas anak buahnya seakan mengajukan tantangan, atau malah memang sudah memenangkan pertarungan yang bahkan belum terjadi. Itu adalah pertanyaan hati-hati. Tawaran... Konfirmasi, bahkan.
Quil tampak tidak tahu harus menjawab apa. Kawanan pun menahan napas, menunggu jawaban Quil. Karena kalau ya, sekali lagi ada perubahan posisi pejabat eselon. Dan lagi anak-anak, sejujurnya, jadi merasa lebih pesimis dengan skema formasi Triad yang baru. Jacob-Collin-Quil tampaknya akan menjadi formasi orang-orang berdarah panas yang agak-agak mengkhawatirkan...
Tidak, ujar Quil akhirnya yang membuat anak-anak bisa kembali bernapas.
Tapi kelihatannya memang kau bisa melakukannya, Embry menunjuk. Mungkin memang sebaiknya aku mundur sebelum benar-benar terjadi pertumpahan darah.
Apa maksudmu? Aku tak mau bertarung menantangmu untuk memperebutkan posisi, Em.
Tapi...
Sudah, jangan bicara lagi. Kau tetap di posisimu, Em, tegas Quil.
Jujur di sini tidak jelas siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah. Siapa atasan dan siapa bawahan. Apa Quil memerintah Embry? Memberi mandat, misalnya?
Tapi Quil tak memedulikan kebingungan kawanan. Dan lagi aku tak mau mengambil alih tugas Seth, lanjutnya. Tugas itu sudah tepat di tanganmu. Aku tak mau jadi penengah, bukan, orang ketiga di antara kedua Alfa dan Beta kita yang sama-sama keras kepala itu.
Embry nyengir. Yah, kalau itu maumu...
Jangan 'kalau itu maumu'! bentak Quil tak sabar. Makanya Ben mengataimu lembek. Tunjukkan sedikit kedigjayaan, apa susahnya, sih, Em? Kau itu kan sudah lebih berpengalaman dibanding aku! Dibanding Jake, malah.
Hehe, itu bukti kalau Embry sama sekali tak punya darah Black atau Uley... Mereka kan para makhluk arogan... Ben mulai lagi kasak-kusuk. Tapi kini tak ada yang mempedulikannya. Termasuk Pete.
Karena tiba-tiba mereka merasakan sesuatu yang aneh.
Tunggu, Embry berusaha menilai sekeliling. Mana Clark?
.
.
Daerah sekitarnya hening ketika anak-anak mencoba mendeteksi keberadaan salah satu anggotanya. Clark tidak terdengar... Dan tadi pun, tiba-tiba Clark tidak ikut nimbrung dalam pembicaraan aneh mereka. Tak ada yang curiga dengan menghilangnya suara Clark... Tapi kini, bahkan kehadirannya pun tak terasa. Di mana pun. Dan seharusnya, jika kawanan mencari begini, jika Clark ada, minimal ia akan menjawab.
Apa dia berubah balik?
Tapi untuk apa?
Mana Clark, Harry? Embry menanyai sepupu sekaligus sahabat dekat Clark.
Tidak tahu... Harry ikut bingung.
Mana Clark, Quil? Pertanyaan itu jatuh pada atasan Clark. Tapi Quil juga tak bisa menjawab.
Menggeram, Embry berputar. Berusaha mengendus keberadaan Clark. Mencari jejaknya.
Apa perlu aku bilang pada Jake, Em? Adam sudah bersiap menyusul Jacob ke pinggir tebing.
Nanti dulu. Kalau bisa kita atasi ini, kita atasi ini sendiri. Jake dan Cole sedang dalam pembicaraan penting.
Embry langsung meluncur. Dari titik lain, Quil dan Harry juga ikut mengendus.
Astaga, bagaimana mungkin mereka bisa sampai kehilangan Clark tepat di depan hidung mereka? Bagaimana mungkin pikiran mereka terlalu diributkan oleh hal remeh, hingga tak tahu Clark lenyap? Dan bahkan, setelah mereka berputar-putar, kini bukan hanya pikiran Clark, baunya juga tak terdeteksi.
Apa mungkin ada vampir yang menudungi bau dan pikiran Clark, Em? Brady mengemukakan kemungkinannya, mengingat situasi sewaktu Collin diserang di tanah Cullen.
Bisa jadi. Kalian bersiaga. Tapi jangan ganggu Jake dan Cole hingga kuperintahkan.
Jarang-jarang Embry begini menuntut. Tapi Brady tak mempertanyakan. Embry ada di pucuk pimpinan sekarang.
Baik, sahutnya.
Embry tak membuang waktu lagi. Mereka mulai membagi tugas menyisir daerah di sekitar tempat bau Clark terakhir kali ditemukan. Dan Harry menjengit begitu mendapati jejak darah, yang jelas-jelas darah Clark. Dan begitu ia mengikuti, ia menemukan hal yang mengerikan, yang membuat seluruh kawanan dicekam horor yang sama ketika mereka melihatnya dari kepala Harry.
Tubuh manusia Clark terbujur di tanah, kotor berbalut lumpur tak jauh dari padang yang hancur bekas dilunyah. Kaki dan tangannya tertekuk dalam posisi yang aneh. Dua lintah merunduk di atasnya, jelas sedang menyantapnya, memandang pada Harry dengan mata merah. Gigi yang dibalut darah, darah Clark, terpampang ketika mereka mendesis mengancam.
Tanpa pikir panjang Harry menyerang.
Bangunkan Jake dan Cole! perintah Embry sebelum meluncur ke tempat pertarungan Harry, disusul Quil.
Tapi belum sampai ia di sana, dilihatnya vampir-vampir lain bermunculan di daerah sekelilingnya, dari balik pepohonan dan cadas. Dan tak jauh dari sana, ia juga melihat aliran vampir lain bergerak menuju arah tebing yang membatasi jurang tempat kelompok Cole berada.
Oh, tidak...
Mereka sudah mati.
Tidak ada harapan.
.
.
Ladang pembantaian adalah istilah yang tepat untuk semua ini.
Clark jatuh. Tidak ada lagi harapan untuknya ketika dua lintah jelas-jelas memangsanya. Biarpun darah Clark tidak disedot habis, racun pada taring mereka akan membunuh Clark.
Bagaimana mungkin ia bisa begini ceroboh? Larut dalam pembicaraan tidak jelas anak-anak, tidak sadar ketika salah satu anak buahnya mendadak menghilang? Dan begitu ditemukan, sudah menjadi mangsa vampir?
Astaga. Apa yang harus ia katakan pada keluarga Clark? Pada imprintnya, Frida? Pada Jake?
Tapi bukan saatnya mengkhawatirkan itu sekarang. Tidak ketika ia sendiri, dua anak buah lain, bahkan juga seluruh kawanannya di bawah Jake dan Cole, juga berada dalam bahaya. Mungkin juga mereka akan menyusul Clark, menjadi mangsa lintah...
Sial! Ini akibatnya kalau mendengarkan gosip bocah! teriak Quil, bergerak menghindari satu serangan dan menyerang dua vampir sekaligus.
Embry! panggil Collin.
Terlalu lama. Terlalu lama waktu yang mereka butuhkan untuk menurunkan tembok mental. Apa yang Brady lakukan? Kenapa begitu lama ia membangunkan Cole dan Jake?
Kau tidak apa-apa? Suara Collin kembali terdengar, panik. Mungkin ia sempat mencerna situasi mereka.
Buruk, Cole! Quil yang menjawab, menayangkan gambar-gambar yang mereka lihat dari sekitarnya sejak sekitar dua atau tiga menit yang lalu. Awas, Cole, kau berada di tempat paling genting. Kau babi panggang untuk mereka.
Clark? Bagaimana Clark?
Mati. Hanya itu jawaban Harry. Tapi itu wajar. Satu vampir jatuh, tapi satu lainnya menyerangnya lebih membabi-buta.
Pikiran Collin mendadak blank. Jelas ia shock.
Brengsek kau, Collin! raung Harry, terjebak di antara dua vampir yang tadi memangsa tubuh sepupunya. Kau yang membawa kami ke sini! Membunuh Clark! Tunggu hingga aku lolos dari sini, akan kupatahkan lehermu!
Ini bukan salah Collin! Embry berkelit dan pada saat yang sama menyurukkan satu lintah ke pohon, dengan susah payah menghindari terkamannya, dan akhirnya berhasil membuntungi makhluk itu.
Benarkah ia meyakini itu?
Entah. Ia sendiri tidak mengerti. Saat itu pikirannya buntu. Ia bahkan tak bisa berpikir.
Tidak ketika para lintah itu menyerbunya bagai setan kelaparan. Oh tidak, mereka bukan gerombolan lintah beradab seperti para Volturi dan balatentaranya waktu itu. Mereka tidak memperkenalkan diri, mereka tidak mengatakan alasan mereka menyerang. Tidak. Kawanan selama ini hanya bertahan, bertahan. Tidak tahu mengapa, tidak tahu bagaimana mereka dihadapkan pada situasi ini. Apa alasannya? Tidak ada alasan sama sekali.
Tidak. Apapun situasinya, tidak pernah sekalipun hewan di tempat penjagalan perlu tahu alasan mengapa mereka perlu dibantai.
Ladang pembantaian terlalu manusiawi. Rumah jagal lebih tepat. Bagi para lintah, itulah mereka. Hewan di tempat penjagalan.
Apa yang dikatakan Sam berbulan-bulan lalu? Musuh mereka, entah siapa, menyelidiki dan berusaha mencari kelemahan, merencanakan penyerangan? Pemusnahan massal? Inikah pemusnahan massal itu?
Tanpa mereka tahu... Tanpa mereka dapat mempersiapkan diri...
Tidak. Ini tidak tiba-tiba. Mereka tahu sejak lama. Tapi persiapan... Tak ada persiapan yang mereka lakukan. Tidak ada sama sekali.
Bodoh.
Ini kesalahan mereka sejak awal. Jika mereka dibantai di sini, jika mereka musnah di sini, jika suku mereka berakhir di sini... Maka semua yang mereka perjuangkan selama ini, pengorbanan selama ini, akan sia-sia.
Bagaimana mungkin mereka teralihkan oleh hal-hal lain? Serigala Alfa putih dan kawanannya... Rencana mereka untuk mengambil alih kawanan, menundukkan mereka…
Astaga.
Sesuatu mendadak mencengkeram pikirannya. Membuatnya berteriak dalam kesadaran yang menakutkan.
Ya.
Tentu saja.
Adam! teriak Embry pada bawahannya yang ada di sayap Jacob. Beritahu Jake untuk menghubungi si Alfa Putih! Kita perlu tahu apa mereka memang menjebak kita untuk berhadapan langsung dengan para vampir!
Karena kalau ya, ini sudah keterlaluan.
.
.
Mereka tak mendengar pikiran siapapun. Collin. Ben. Pete. Brady. Jake. Adam. Caleb.
Apa pikiran mereka ditudungi vampir?
Atau mungkin mereka sendiri terlibat pertempuran.
Atau, lebih buruk, sudah jadi babi panggang.
Littlesea! teriak Harry penuh amarah. Awas kalau kau mati! Pokoknya nanti harus aku sendiri yang membunuhmu!
Tanpa bisa ditahan Embry tertawa getir.
Ya. Bagaimana bisa mereka berpikir tentang 'nanti'. Mereka mungkin akan mati tidak sampai sepuluh menit ke depan.
Embry! suara Jacob memasuki kesadarannya. Akhirnya. Bagaimana keadaan di sana?
Embry langsung menayangkan adegan pertempuran. Tidak terlalu bagus. Quil sudah koyak-koyak, meski masih bertahan. Dia sendiri mengalami beberapa patah tulang. Harry bergerak begitu membabi-buta dalam bayangan kematian sepupunya. Tapi mereka berhasil membuntungi sekitar lima atau enam, meski yang mengepung mereka lebih banyak dari itu.
Tunggulah di sana. Kami akan menolong.
Tidak. Tolong kawanan Collin.
Embry tak bicara lagi, karena selesat ia melihat bayangan bergerak dari kepala Jacob. Jacob menyeberang. Ke sayap yang mereka jaga.
Kau cari mati, Jake…
Jacob tak menjawab. Meski tak terlihat Embry, tampaknya ia sendiri sudah berada dalam pertarungannya sendiri.
Kau sudah menghubungi si Putih? tanya Embry di sela pertarungannya, dan perintah-perintah pendek yang ia serukan pada anak buahnya. Tapi ia tak butuh jawaban.
Ya, Jacob sudah menghubungi. Berkali-kali malah. Tak ada jawaban.
Jelas. Dia yang berada di balik semua ini. Tak mungkin ia menjawab, geramnya sinis.
Ia agak terhanyut dalam kemarahannya dengan si Alfa Putih ketika tiba-tiba dirasakannya sesuatu yang ringan menggayuti punggungnya. Hah, bagus… Vampir berniat mengincar tenggorokannya lagi. Ia mengibas keras, berusaha mengenyahkan tubuh itu dari tubuhnya. Tapi makhluk yang ini kuat. Sangat kuat. Dan tiba-tiba ia merasa dingin.
Bau darah mengisi udara dan penciumannya seketika. Terpana kala ia menyadari bau apa itu. Darahnya. Mengalir dari luka yang dibuat si vampir…
Ia mengibas keras. Vampir itu jatuh. Pandangannya berkabut. Tapi ia berhasil memaksa kesadarannya tetap tinggal dan menyerang makhluk itu. Membuntunginya. Tapi semua tidak selesai di situ. Makhluk-makhluk lain menyerang ke arahnya. Mencengkeramnya dari berbagai arah. Hingga mengibas, meronta pun ia tak bisa. Tulang-tulangnya terasa berderak patah. Napasnya tercekat. Kakinya entah mengapa tak mampu lagi menopang tubuhnya.
Quil! diteriakkannya nama sahabatnya. Ia tak merasakan Quil.
Harry! Ia juga tidak merasakan Harry.
Apa Quil tumbang? Apa Harry juga tumbang?
Ataukah sensasinya yang mulai rusak?
Embry! sayup didengarnya suara tidak satu, banyak orang. Tapi ia tak bisa mengenali. Kesadarannya makin menipis.
Dirasanya sengatan dingin itu lagi. Tidak hanya dari satu sumber. Banyak. Kali ini dibarengi sensasi lain. Panas. Panas membakar seluruh tubuhnya. Ototnya. Nadinya. Aliran darahnya. Jantungnya tercerabut dari tempatnya bertengger.
Dan kesadarannya benar-benar lenyap.
.
.
Catatan:
Yup… perang perang perang…
Bagian awalnya geje, bagian akhirnya geje juga…
Terlalu lambat ga ritmenya? Aneh n ga perlu ya awalnya? Hahaha… ga tau, pengen aja nulis apa yang kawanan lakuin pas si jake n cole mengurung diri di tembok mental Collin…
Ga penting banget… anak2 pada ngegosip saat Jake n Cole ngomongin soal Seth… tapi kalo dibayangin, yah daripada mereka ngawasin si Jacob n si Cole saling tatap… sembari ga tau mereka ngomongin apaan…
Geje…
Wkwkwkwkwk…
.
Btw, apa bener si alfa putih menjebak mereka di sana?
.
R&R ya…
.
