THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Rated M... Read on your own guard…
.
.
Selamat Tinggal (Serigala vs Kelinci -3-)
Wednesday, February 20, 2013
1:04 PM
.
.
Makhluk-makhluk penghisap darah itu melontarkan diri satu demi satu ke dasar jurang, langsung menunggangi tubuh mereka, mencoba mematahkan tulang dan menghujamkan gigi setajam silet ke daging mereka.
Collin mengibas kasar ketika dua ekor lintah mencengkeramkan tangan-tangan mereka ke tubuhnya. Beberapa tulangnya terasa berderak remuk. Kepalanya mulai melayang ketika para lintah itu mengincar tenggorokkannya, memutus aliran napasnya. Tapi kesadarannya masih bertahan. Kesadaran yang memaksanya bertahan, menyadari anak buahnya juga mengalami kesulitan yang sama.
Kesulitan yang ia timbulkan.
Kematian Clark...
Bahkan mungkin Embry, Quil, Harry...
Ya. Mereka sudah tak lagi terdengar. Kemungkinannya hanya dua: mereka ditudungi bakat vampir, atau malah sudah mati...
Dengan marah, Collin menubrukkan diri ke dinding cadas. Gerakannya begitu tiba-tiba hingga tubuh-tubuh dingin yang menunggangi tubuhnya tak bisa menghindar. Satu vampir terjepit di antara tubuhnya dan dinding cadas, membuatnya dapat melakukan manuver untuk mempereteli kaki si makhluk dingin. Tapi satu vampir berhasil menghindar.
Namun keadaan tidak berpihak padanya. Getaran akibat benturannya merambati dinding cadas, dan dengan bunyi retakan keras, bongkahan batu-batu terlepas dari ikatannya, menghujaninya.
Collin berhasil menghindar ketika sebongkah batu besar dan runcing meluncur jatuh dengan kecepatan tak terduga. Namun vampir tadi tidak terlalu beruntung. Seharusnya ia bisa menghindar dengan kecepatannya, tapi Collin yang membuntungi kakinya membuatnya tak mampu kabur. Desisan marahnya masih terdengar ketika batu itu menghujam ke arahnya, menghantarkannya ke kegelapan.
Collin, kau tak apa? seru Brady.
Jangan pikirkan aku. Konsentrasi, Brad! teriak Collin memperingatkan ketika dilihatnya satu vampir menerjang Brady. Dan hindari dinding cadas! Konstruksinya sangat rapuh!
Tak ada waktu bagi Collin untuk memperhatikan bagaimana Brady, Ben, dan Pete berjuang mengatasi serangan atas diri mereka masing-masing, karena kini ia pun kembali diserang.
Tentu saja tidak ada batu manapun di dunia ini yang dapat menyakiti, lebih lagi membunuh vampir. Tapi soal membuat marah, oh, itu lain lagi. Timbunan batu yang menggunduk mengubur vampir tadi hancur, batu berhamburan, sebagian mengenai tubuh Collin, ketika vampir tadi bangkit dan mendesis penuh amarah pada Collin.
Cih, dasar makhluk dingin sensitif! maki Collin dalam hati, ketika vampir itu berteriak lantang dan menerjang ke arahnya. Collin menghindar, namun lagi-lagi tubuh besarnya menabrak dinding cadas. Bebatuan kembali berguguran.
Sadar tempat itu tak memberinya ruang yang cukup untuk pertempuran, Collin memaksakan diri menerobos, melompati kawanannya. Si vampir berkaki buntung dan temannya dengan suka hati mengejar, tampak kian bertekad membunuh dalam tiap gerakan yang ia lakukan. Collin akhirnya menemukan ruang yang agak leluasa di dasar jurang itu, berhenti berlari dan berbalik menghadap si vampir, yang tampaknya kian bernafsu menghabisinya.
.
"Berhenti!" teriakan seseorang tiba-tiba menggema dari atas jurang. Mendadak semua vampir itu berhenti menyerang. Mereka melepaskan diri dari tubuh para serigala, melompat menjauh, menjaga jarak sekitar 5 meter dari mereka.
Collin mendongak. Seorang wanita tampak di bibir jurang. Rambutnya panjang hitam, terurai, melayang ditiup angin. Ia mengenakan jaket, tapi sebelah lengan jaketnya menggantung dengan aneh, agak berkibar. Seketika Collin tahu.
Vampir berlengan buntung yang ia lepaskan dulu waktu di hutan.
Akhirnya mereka bertemu lagi.
Wanita itu juga kelihatannya mengenali Collin karena ia mengumandangkan tawa aneh. Merdu, tapi menyakitkan telinga.
"Takdir menghantarkanku bertemu lagi denganmu, rupanya... Bagus sekali..."
Collin menggonggong marah.
"Aku ingin bicara dengan pemimpin kalian! Tunjukkan pemimpin kalian!"
Sayangnya Jacob tak ada di tempat... Tapi kalaupun ia ada, memangnya bagaimana mereka bisa bicara? Apa ada pembaca pikiran di antara vampir itu? Seperti salah satu si lintah Cullen itu? Atau si vampir buntung itu pembaca pikiran?
"Aku tahu kalian manusia. Berubah balik, aku ingin bicara dengan pemimpin kalian!" vampir itu memerintah lagi.
Pete langsung mendengus kesal dan Collin tahu alasannya. Apa-apaan ada vampir merasa dirinya berhak seenaknya menyuruh-nyuruh kawanan?
Tapi sekali ini Collin berhasil menundukkan harga diri dan keangkuhannya. Menarik kemarahannya, ia berusaha mengalirkan gelombang ketenangan menjalari tubuhnya. Ada banyak penolakan yang mencegahnya berubah balik. Berada di dasar jurang. Dikelilingi vampir. Terekspos sepenuhnya bagai babi panggang. Sama sekali bukan kondisi yang mendukungnya kembali pada wujud manusia. Tapi kali ini kepalanya melampaui instingnya. Lama sekali waktu dirasanya berlalu, lebih lama ketimbang biasanya, sebelum akhirnya getaran itu terasa, tanda bahwa ia bisa kembali berubah balik.
Collin bangkit dalam wujud manusianya, memandang pada vampir wanita yang menyunggingkan senyum di tepi tebing di atas sana.
"Oh," ia kembali tertawa. "Jadi kau pemimpin mereka... Bagus sekali... Takdir memang senang mempermainkan kita..."
Collin tersenyum. "Kuharap kau tidak keberatan dengan kekurangsopananku, Ma'am..." ia agak membungkuk memberi salam, sinis.
Si vampir itu mendengus. "Dalam wujud hewan atau bukan, anjing tetap anjing. Aku bukan tipe pecinta anjing yang suka memakaikan kostum pada peliharaannya... Sayang sekali."
Tentu saja Collin langsung panas dengan hinaan ini. "Oke. Cukup basa-basinya. Tidak usah bicara ngawur!" bentaknya. "Apa maumu dari kami?"
Si vampir menjawab dengan suara yang penuh wibawa. "Aku yang harus bertanya, apa yang kalian lakukan di sarang kami?"
Collin mengerjap.
"Sarang... kalian?"
"Kalian telah memporakporandakan sarang kami dan membunuh banyak di antara kami... Tidak hanya sekali, bahkan. Di sini, di hutan... Dan kalian kembali... Manis sekali... "
'Kembali'? Apa maksudnya 'kembali'?
Tapi Collin tak mau memperpanjang urusan. Ada yang lebih penting dari itu. Vampir-vampir sialan peneror La Push ini... apa mau mereka selama ini?
"Kalian menyeberang batas!" tekannya. "Di sini wilayah Quileute. Kami bahkan sudah membuat pakta dengan pemimpin kalian, bangsawan Volturi!"
Vampir itu agak mengernyit dengan kata itu.
"Volturi?"
Collin terhentak. Apa ini? Dia tidak kenal nama itu? Atau ia tak menduga bahwa mereka tahu nama itu?
Tapi itu bukan masalah.
"Di sini kalian tidak diterima!" teriak Collin lagi. "Semua vampir yang menyeberang memasuki teritori Quileute harus dibunuh!"
Derai tawa bagai denting lonceng bergemerincing di jurang itu.
"Oh, benarkah?" tanya vampir itu manis.
Entah mengapa Collin merasakan ada sesuatu yang aneh dari nada bicara wanita ini.
"Oh, Jakey kecil yang manis sudah tumbuh jadi pemberani sekarang rupanya... Pembenci lintah, huh? Manis sekali Jakey..."
Jake?
Rasanya seluruh kelompoknya pun menjengit. Apa yang terjadi? Mengapa ia menyebut nama Jacob?
"Apa maksudmu?" geram Collin.
"Huh, jangan kaupikir aku tak tahu siapa kau... Pemimpin serigala Quileute, huh? Siapa lagi kalau bukan putra William Black Jr., Jacob Black II kecil yang manis? Kutukan yang tidak menimpa Billy akhirnya menimpa putranya, heh? Rupanya memang tidak cukup hanya seorang... Manis sekali..."
Apa ini? Apa vampir ini telah menyelidiki mereka? Salah mengiranya sebagai Jake karena warna bulu mereka yang mirip? Dan kini karena ia bertindak sebagai pemimpin kelompok kecil mereka, makin meyakinkan si vampir bahwa ialah Alfa?
Tapi dia tahu Billy... Tahu nama lengkap Jake... Dan dari gaya bahasanya... seolah ia kenal...
Collin mendesis.
"Siapa kau?" tanyanya tajam.
Vampir itu kembali tertawa. "Tidak mungkin kau tidak ingat, Jakey..."
"Kuberi kesempatan sekali lagi. Sebutkan namamu!" suara Collin bergaung berat.
"Oh astaga, begitu menyedihkannya... Selama ini aku terus mengingatmu, Jake sayang... Dan kau begitu mudah melupakanku... Sungguh menyedihkan... Inilah rasanya yang namanya kasih ibu sepanjang hayat, kasih anak sepanjang galah..."
Seisi kawanan mengejit.
"Siapa sebenarnya kau?"
"Oh Jake... Kau benar-benar tak ingat? Tak ingat sama sekali denganku?"
"Aku bukan Jacob!"
"Oh, sungguhkah? Astaga, aku yakin aku sudah mendidikmu dengan baik selama ini... Apa yang kubilang soal berbohong, Jakey?"
"Aku tak kenal kamu!"
"Oh ya? Astaga, Jakey... Aku yang mengurusmu sementara ibumu sibuk dengan dirinya sendiri... Aku yang menemanimu sementara ayahmu sibuk dengan ibumu... Aku yang mengajarimu hampir semua yang kautahu..." ia tersenyum sinis. Dan suaranya mendadak makin tajam, menusuk. "Dan bagaimana kau membalasnya, Jake? Setelah mengusirku, membuatku berada dalam penderitaan bertahun-tahun, membuatku kehilangan segalanya, kini kau bilang kau tidak ingat padaku? Kau bilang ingin membunuhku? Ketika aku punya kesempatan kedua? Bagus sekali, Jake..."
Astaga. Apa yang terjadi? Apa yang telah Jacob lakukan?
"Apa sebenarnya yang kauinginkan?" bentak Collin keras.
Wanita itu tertawa. "Pembalasan dendam? Hahaha... Mungkin terlalu klise. Tidak. Aku tidak mendendam padamu. Ayahmu. Keluargamu. Sukumu. Legendamu. Kisahmu. Tidak. Aku hanya ingin semua berakhir, Jake..."
"Apa?"
"Tidak ada lagi legenda. Kalian semua hancur. Shifter. Darah serigala. Gen kalian. Aku takkan membiarkan di masa depan, orang-orang merasakan kepahitan yang kurasakan. Kami rasakan. Tidak ada suku Quileute di muka bumi artinya tidak ada lagi shifter, anak yang terenggut dari ibunya. Takdir yang terenggut dari hidupnya. Keluarganya. Semua."
"Apa maksudmu?"
"Sudah, Ars..." tiba-tiba seseorang, bukan, seekor vampir lain muncul di sisi vampir bertangan buntung itu, meletakkan tangan di pundaknya. Perempuan. "Tidak ada gunanya membuang-buang kata pada makhluk yang sebentar lagi melayang ke neraka."
Vampir bertangan buntung itu menunduk pada vampir baru itu. "Ya, Ibu... Maaf..."
Ibu?
Collin memperhatikan vampir yang baru datang itu. Rambutnya juga sama, panjang. Wajahnya? Entahlah… Para vampir itu bagai siluet di atas sana, berdiri membelakangi langit yang memang sudah kelam. Tapi bukan ciri fisik yang ia perhatikan.
Apa ialah tuan, sang pencipta makhluk bertangan buntung tadi?
Tidak. Bukan...
Makhluk itu punya cahaya vampir, jelas... Tapi berbeda. Bahkan di malam hari pun, saat tak ada cahaya matahari pun, di mata para serigala, vampir mengeluarkan cahaya yang khas. Namun vampir ini berbeda... Cahayanya lebih lemah. Begitu redup hingga mencegahnya untuk mampu menilai semua ciri fisik, berbeda dari yang bisa ia tangkap dari si tangan buntung. Dan begitu angin berhembus, ia mengeluarkan sesuatu bau yang unik... menghentak hidung Collin.
Bau serigala.
Bagaimana mungkin?
Dan ketenangannya, keanggunannya... Ia seakan pernah melihatnya... Keserupaannya... Dengan sesuatu yang ia ketahui tapi tak ia lihat langsung...
Dari ingatan seseorang yang lain...
Dari ingatan Jacob.
Tidak mungkin...
"Kau... serigala putih?" bisik Collin, terperanjat.
Seisi kawanan riuh di belakangnya.
Serigala putih... adalah salah satu dari mereka? Dari para vampir?
Namun wanita itu tertawa. Tawanya bergemerincing. Mengerikan.
"Apa lagi yang kau ingin katakan?" desis si vampir wanita bertangan buntung. Tapi si wanita di sebelahnya, si serigala putih itu, menghentikannya.
"Sudahlah, Ars... Kita tahu tak ada gunanya bicara dengan keturunan Ephraim. Kita tahu siapa mereka. Hanya gerombolan anjing bodoh dan kasar, sama sekali tidak punya hati, persis seperti moyangnya..."
Nama Ephraim Black yang disebut-sebut oleh makhluk kotor itu, yang telah membuat semua kekacauan di La Push sekian lama, yang telah membuat Clark terbunuh, dengan cara menghina, membuat Collin murka.
"Jangan menyebut nama buyutku dengan cara tak hormat, kau lintah memuakkan!"
"Oh..." makhluk itu tertawa mengejek. "Kau tak tahu siapa Ephraim rupanya... Serigala jahat yang tega melakukan semua hal yang tak pernah berani dipikirkan seluruh manusia, bukan, seluruh makhluk, bahkan... Ya. Bahkan vampir pun takkan pernah mau melakukan semua hal keji yang pernah ia lakukan pada keluarganya, darah dagingnya sendiri... Dan kau memandangnya begitu agung..." ia menyunggingkan senyum sinis sebelum kembali tertawa. Ia memandang dingin pada Collin, lantas menoleh pada makhluk bertangan buntung di sisinya. "Tak ada gunanya bicara pada mereka, lagi, Ars... Habisi mereka. Pastikan seluruh darah Black musnah tak bersisa."
"Ya, Ibu..." sahut si vampir bertangan buntung, menunduk memberi hormat.
Berbalik, seketika itu juga wanita itu melayang pergi. Tak sedetik pun menoleh pada kawanan di dasar jurang, yang dicekam kebingungan, kemarahan, sekaligus kengerian.
Si vampir bertangan buntung itu menatap mereka dengan sorot mata dingin, mencekam.
"Sampaikan salamku pada ayahmu Bill, Jakey... Dan seluruh keluargamu... Di neraka... Tenang saja, aku akan pastikan mereka cepat menyusulmu dan ibumu di alam sana. Supaya kalian keluarga bajingan bisa berkumpul bagai keluarga besar bahagia sejahtera, dalam keabadian..." ia menyunggingkan senyum mengerikan.
Collin menggeram. Mereka tak hanya berniat menghabisi kawanan. Tapi juga Billy... Seluruh darah Black...
"Oh, jangan menangis, Jakey sayang... Kau bisa anggap apa yang kulakukan ini perbuatan baik. Aku akan melepaskanmu dari kutukan yang membelenggumu... Kita semua, akhirnya, akan bahagia seperti seharusnya." dan ia berpaling pada para vampir di dasar jurang. "Kalian dengar apa yang Ibu katakan. Habisi mereka, Anak-anak..."
.
.
Collin menggeram marah ketika makhluk-makhluk dingin itu kembali bergerak. Kembali menyerang. Dan kali ini, jauh, jauh, jauh lebih ganas dari yang sebelumnya.
Seluruh ucapan aneh dua vampir tadi membuat kawanan kalut. Tidak hanya karena misteri yang makin menganga, tapi juga ancaman yang jelas: pemusnahan mereka dan seluruh keluarga Black. Bahkan mungkin seluruh suku. Dan kedua vampir itu menyalahkannya pada dua orang: Jacob... Dan mendiang Ephraim Black.
Apa yang mereka lakukan? Apa kesalahan Jake dan nenek moyang mereka sehingga seluruh suku harus menanggung akibatnya?
Jangan berpikir yang tidak-tidak, Guys! teriak Collin ketika disadarinya semua itu mempengaruhi mental kawanan. Konsentrasi pada pertarungan!
Tapi terlambat. Anak-anak sudah begitu teralihkan, hingga kali ini, kemampuan tempur mereka merosot tajam dibanding sewaktu di awal. Collin berusaha keras mempertahankan semangatnya di titik tertinggi, tapi nyatanya ia sendirilah yang paling jatuh.
Hingga tiba-tiba, di ruangan matanya, dari perasaan Brady, tiba-tiba ia menyadari satu mimpi buruknya menjelma. Seekor vampir yang menunggangi tubuh Brady menghujamkan giginya merobek tubuh Brady.
Brad! teriak Collin kalut, seketika melepaskan tubuhnya dari jeratan vampir. Tak lagi ia peduli apakah mereka mengejarnya, bahkan tak lagi ia masih punya semangat untuk mempereteli tubuh mereka. Segera ia berlari, hampir melayang ke tempat Brady.
Brady masih berdiri, meski jelas ia hampir limbung. Vampir yang tadi mengoyak bahunya sudah hancur jadi potongan, terbaring tanpa bentuk di lantai jurang. Tapi kesadaran Brady tidak lama, karena begitu Collin tiba di sisinya, detik itu pula tubuh serigalanya bergerak oleng.
Collin segera menopang tubuh itu, mengaum pada siapapun makhluk yang berani mendekati mereka.
Berapa lama waktuku, Cole? Brady berusaha menyembunyikan ketakutan dalam pikirannya, meski gagal. Rasa dingin mulai menyebar. Perasaan Brady yang ditangkap Cole membuat serigala itu ikut bergidik.
Cole melirik ke arah tubuh Brady yang bersandar padanya, memperhatikan luka koyakan itu. Tidak dalam, tapi siapapun tahu tak ada serigala bisa bertahan dari setetes pun racun vampir.
Tiga, empat jam jika kau terus bangun, katanya, merapal pengetahuan yang didapatnya dari Sam dulu waktu penataran persiapan tempur melawan Volturi. Bertahanlah, Brad. Jika kau pingsan, racunnya lebih cepat menyebar...
Bayangan tubuh Clark, terbaring lemah dan beku di dasar hutan, kembali menghantuinya. Hal yang sama akan terjadi pada Brady...
Apalah ia, Beta seperti apakah ia? Menggiring kawanannya ke ladang pembantaian?
Jangan menyalahkan dirimu, Cole... suara tenang Brady seperti biasa memasuki sarafnya. Kami selalu sedia mengiringimu... Aku, paling tidak...
Moncong Brady menyundul lemah bahu Cole, membuat hatinya serasa diremas hingga hancur saking perihnya. Merobek jalinan ototnya dan menghancurkan seluruh urat di tubuhnya, membiarkan semua kepedihan, yang menggerogoti nadinya bagai racun vampir, ikut larut bersama aliran darah yang...
Merobek nadi, memutus aliran...
Mendadak satu ide melintas di kepalanya. Brady tampak ngeri, tapi seketika itu juga ia mengangguk.
Lakukan, Cole...
Tak ada waktu bagi Collin untuk mempertimbangkan resiko ide itu. Brady berpacu dengan waktu.
Rendahkan bahumu, Brad, katanya sambil menjauhkan kepala, mengambil ancang-ancang. Dan disurukkannya taringnya ke bekas luka cabikan gigi vampir di tubuh Brady. Ia tak bisa menghisap, tapi ia membuat koyakan luka panjang, membuat darah mengalir dari bekas luka itu. Bersama racunnya, kalau bisa.
Semoga ini efektif... Brady berusaha memberinya harapan. Tapi ia tahu bahkan Brady pun tak menaruh harapannya setinggi itu.
Tapi setidaknya itu membuat Brady kembali sadar. Rasa perih oleh cabikan Collin akan membuatnya mampu melawan dingin dan dorongan untuk hilang kesadaran yang diakibatkan oleh racun.
Brady bangkit, memaksakan diri. Setidaknya, jika ia harus mati, ia bertekad membawa sebanyak mungkin lintah bersamanya.
Ya, untung saja hanya satu, tidak, baru satu lintah berhasil mendaratkan taring di tubuhnya. Karena ia tak bisa membayangkan apa yang harus ia tanggung jika Collin terpaksa harus mengeluarkan racun yang mengotori darahnya dengan cara yang sama, berkali-kali. Itu pun dengan kemungkinan berhasil yang sangat tipis. Jangan-jangan malah ia mati bukan karena racun, tapi kehabisan darah.
Setidaknya ia punya harapan.
Namun anggota kawanan lainnya tidak seberuntung itu.
Pete! didengarnya suara kalut Ben. Collin mengalihkan perhatian kembali pada kesadaran komunal kawanan, dan kian panik ketika dirasanya kesadaran Pete menyusut dalam kepalanya. Ia berusaha berputar, melihat Pete dengan ekor matanya. Tubuh serigala Pete dirubungi sekitar tiga vampir. Kakinya sudah bengkok ke sisi lain. Cekikan di lehernya membuat napasnya menghilang. Dan tak lama kemudian, di depan matanya, tubuh itu tumbang. Pertama kedua kakinya yang tertekuk, lantas tubuhnya. Seiring dengan kelopak mata Pete yang berkedip-kedip dan bola matanya yang berputar ke atas, kesadaran Pete makin menipis sebelum benar-benar lenyap. Dan tubuh itu tersuruk tak berdaya di lantai jurang.
Tidak! Pete! teriak Ben histeris.
Auman nyalang Ben memenuhi jurang ketika ia menyerbu.
.
.
Pete tumbang?
Yang benar saja! Pete?!
Setelah Clark, dan mungkin seluruh kelompok Embry, lalu Brady, dan kini Pete?
Tidak cukupkah kerugian yang harus ia sebabkan? Karena apa? Semua keputusan prematurnya untuk menyerang liang kelinci itu?
Oh ya, serigala versus kelinci... Jelas kelincilah yang menang...
Setidaknya begitu yang ia tahu di buku Hobbit J.R.R. Tolkien, kisah klasik yang dipaksakan ibunya sebagai dongeng sebelum tidur waktu ia kecil dulu.
Tidak diduganya kisah itu ternyata benar-benar ada di dunia nyata. Ironis betul. Ya, seharusnya ia lebih memperhatikan apapun dongeng pengantar tidur yang diceritakan ibunya dulu. Karena semua itu jelas punya pesan moral. Tidak, ini bukan hanya soal pesan tersirat klise 'jangan merasa jumawa terhadap kekuatan sendiri hingga meremehkan kemampuan makhluk lain yang lebih kecil dan lemah, karena mereka bisa punya kelebihan yang bisa mengalahkanmu'.
Yah, itu memang benar... Tapi ada pesan lain. Yang lebih tanpa tedeng aling-aling, bahkan.
Ya. Sudah dua kali ia mengalaminya, tiga kali bahkan, jika petualangannya waktu kecil dengan Jake dihitung.
Pesan moral: jangan main-main dengan liang kelinci.
Oh yeah, apalagi kalau mereka adalah kelinci setan yang bisa melompat dan menyerang dalam kelincahan mengerikan. Yang punya racun yang bisa menumbangkan serigala. Yang menyerang keroyokan. Dan lebih parah: yang diorganisasi seekor serigala putih, Alfa kawanan yang selama ini meneror mereka... Yang dipanggil Ibu! Oleh pemimpin kelinci vampir bertangan buntung itu!
Ck!
Ini sarang mereka... Sarang para vampir... Mengapa Collin tidak menyadarinya waktu itu? Waktu ia menyelusup ke liang-liangnya? Tidak, ia tak bisa menyadari... Mereka menyelimuti jejak mereka, bau mereka. Hanya ada bau serigala di sana, sehingga membuatnya mengira itu sarang kawanan lain. Pakaian kawanan di dalam itu mungkin memang cara untuk mengidentifikasi kawanannya. Tapi setelah dipikir lagi, siapa tahu semua itu memang sengaja dipasang sebagai jebakan... Agar Collin, atau siapapun yang akhirnya kebetulan menemukan liang itu mengira itu adalah liang serigala.
Tidak, bukan kebetulan... Mereka membuat banyak jaringan. Tidak ada yang tahu dimana lorong-lorong itu berujung. Siapapun akan 'kebetulan' menemukannya. Mungkin Sam, lorong itu ada di belakang rumahnya... Mungkin juga yang lain, siapa saja...
Tak akan ada yang menyangka itu sarang vampir.
Tapi setelah dipikir lagi sekarang, tentu saja itu sarang vampir!
Membuat sarang jelas melawan insting alami serigala. Bodohnya ia mengira kawanan lain itu membuat logika terbalik... Karena awalnya tidak. Sejak awal itu sarang vampir. Mereka bisa hidup di gorong-gorong gelap dan sempit, jika cerita Jacob mengenai kisah hidup Carlisle dulu bisa dipercaya. Mereka tahan hidup di bawah tanah nan lembab tanpa cahaya matahari. Mereka punya kemampuan menutupi keberadaan mereka. Dan semua pemunculan vampir begitu saja, di tengah wilayah Quileute, muncul dan menghilang tanpa jejak, sementara mereka terus berjaga di perbatasan...
Oh ya, tidak ada yang mengira selama ini para vampir tidak datang dari luar. Mereka menyelinap, ada di dalam. Di bawah tanah Quileute.
Entah sejak kapan mereka membangun sarang. Mungkin sewaktu kawanan lengah, berjaga asal-asalan. Diam-diam. Sekian lama menggalang kekuatan. Menutupi bau dan kehadiran mereka...
Astaga. Kenapa tidak ada satu pun werewolf baru yang berubah kalau begitu? Ancaman tidak ada di depan mata! Mereka ada di bawah tanah Quileute!
Astaga. Mengapa sama sekali kemungkinan itu tidak terpikirkan?
Tadi, ketika ia menyadari keterlibatan Alfa Putih, atau ia mendengar si vampir buntung bilang itu adalah sarang vampir, ia langsung sampai pada skema ini: Alfa Putih dan kawanannya menimbang kemungkinan-kemungkinan yang ada dengan kehadiran vampir di tanah itu, menyelidiki, menemukan, lantas mengobrak-abrik sarang vampir. Kemudian ia menjebak kawanan untuk datang ke sana, agar para vampir mengira kawanan Quileute-lah yang patut disalahkan soal itu. Dan inilah titiknya: saat mereka terjebak dalam skema itu. Pertarungan langsung, besar-besaran, tanpa persiapan memadai.
Tidak masalah siapa yang menang. Ini skema penghancuran bermata ganda. Jika vampir menang, kawanan Quileute musnah dan mereka bisa bebas merebut klaim atas tanah Quileute. Jika para vampir kalah, yah itu juga bukan suatu kerugian. Dengan skala sebesar ini, tidak mungkin tidak ada kerugian apapun di pihak kawanan. Mereka bisa mereduksi kekuatan kawanan Quileute. Dan memang berhasil, sejauh ini.
Sekali lempar batu, kena dua burung.
Huh!
Tapi sekarang, setelah kehadiran 'Ibu' tadi, ia malah memikirkan skema lain: mereka sejak awal bekerja sama.
Apa maksudnya? Serigala itu, kata Jacob, meminta persetujuan untuk semacam kerjasama melawan vampir... Tapi ia sendiri yang menggalang vampir?
Ya ampun. Ada apa ini?
Apapun, ia tak bisa menampik kemungkinan keterlibatan satu orang. Korra.
Tidak, bukan mungkin tapi pasti.
Oh Tuhan, Korra terlibat...
Dalam penghancuran kakaknya sendiri... Seluruh kawanan... Seluruh Black, bahkan... Tidak. Seluruh suku...
Mata-mata yang ditanamkan sejak awal...
Ia tahu diam-diam Korra membenci keluarganya. Korra benci nama Black, ia begitu bersikukuh memakai nama Gerrard. Siapapun tahu apa yang terjadi di masa lalu antara Billy, Ariana, dan Sarah... Itu sudah jadi rahasia suku. Dan apa yang mungkin terjadi dengan Ariana dan putrinya Korra di luar sana selama belasan tahun, hidup begitu jauh dari suku dalam status buruk itu? Tanpa keluarga yang utuh? Tanpa ayah? Ia bahkan tak bisa membayangkan. Semua kesulitan, pengasingan, caci maki... Kesepian, kerinduan tanpa harapan, tanpa kasih sayang... Upaya keras untuk bertahan...
Oh ya, Korra pasti sangat membenci keluarganya.
Tapi membayangkan Korra kembali... untuk membalas dendam...
Selama ini dipikirnya Korra berusaha mengatasi semua. Rekonsiliasi. Memberi kesempatan kedua. Menginginkan keluarga yang tak pernah didapatnya selama ini. Korra selalu tampak bahagia jika bicara tentang Billy, apa yang sudah mereka capai... Korra berusaha sekuat tenaga menjadi putri sempurna Billy. Billy juga sama. Dan Korra bersahabat dengannya di sekolah. Berpacaran dengan Seth...
Apa itu hanya ilusi? Jebakan? Rencana?
Ya... Korra bisa jadi hanya memanfaatkan mereka semua. Takkan ada yang tahu jika ia hanya mengalihkan mereka dari perhatian terhadap sisi jahatnya, menutupi sisi jahat itu, dengan bersikap ceria dan kekanak-kanakan... Takkan ada yang tahu sifat asli Korra. Jake mungkin punya insting, tapi ia pun tak pernah benar-benar mencurigai adiknya sekeji itu. Sekejam itu... Dan ia mendekati Collin dan Seth, mencari tahu tentang suku... Tentang kawanan...
Ya. Ia juga dimanfaatkan. Ia ingat ketika ia dengan senang hati menggambarkan silsilah keluarga Black untuk Korra, menceritakan banyak hal... Mungkin bahkan tanpa sengaja bercerita terlalu banyak. Menggosipkan sifat-sifat buruk Jake... Tanpa sengaja menunjukkan bahwa kawanan tidak pernah benar-benar utuh.
Bukan Seth yang sudah membocorkan masalah suku. Bukan Seth ancaman bagi kawanan. Tapi dia. Collin.
Dan ia yang menjatuhkan Seth. Membuatnya tersingkir hingga... apa? Mungkin Seth diklaim? Ia juga yang menggiring kawanan ke ladang pembantaian...
Astaga. Apa yang ia lakukan? Ialah penyebab utama semua ini... Ialah senjata utama Korra, untuk menghancurkan kawanan dari dalam... Corong informasi sekaligus boneka yang mudah dimanfaatkan untuk semua kepentingan kawanan lain. Tanpa tahu menahu...
Ialah sang pengkhianat.
Bodoh!
Korra... Mengapa ia begitu tega? Kejam? Licik, licin, selama ini...
Tidak. Korra pasti dimanfaatkan. Ia jelas dimanfaatkan. Korra juga boneka. Serigala putih brengsek itu, ialah yang harus disalahkan. Alfa kawanan lain itu, yang berdiri di antara para vampir dan kawanan lain... Ia pasti memprovokasi Korra. Memanfaatkan posisi Korra di suku, masa lalunya... Dendamnya... Untuk sebuah kekuasaan.
Oh, sialan!
.
.
Dirasakannya Ben dan Brady terpaku shock dalam rentetan pikirannya. Itu wajar. Ia juga akan bereaksi sama jika berada di posisi mereka. Bukan berarti ia tidak merasakannya kini, tapi pastinya mereka bereaksi sangat keras padanya ketika mereka mengetahui ini.
Dan sudah seharusnya.
Serigala di sisi merekalah sang pengkhianat selama ini.
Orang yang mereka anggap sahabat... Tapi ternyata adalah pembawa kehancuran.
Ia takkan lolos dari ini. Lolos dari vampir, amukan Brady dan Ben siap mengoyak-ngoyaknya di dasar jurang. Tidak pun, kawanan takkan membiarkannya hidup. Harry akan senang hati membalas dendam untuk Clark, menghabisinya dengan cakarnya sendiri. Josh akan senang menonton eksekusi kematiannya. Caleb dan Adam takkan membelanya. Oh, Embry dan Quil mungkin sudah mati hingga tak bisa membela. Bahkan jika mereka masih hidup pun, mereka akan diam, mungkin malah mendukung Harry. Jake bahkan akan suka hati menurunkan dekrit hukuman matinya.
Mungkin hukuman mati terlalu ringan. Ia berhak mendapatkan lebih dari itu. Ia mengharapkan lebih dari itu. Disiksa perlahan, merasakan semua perih sebagai akibat dari dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Sakit tak tertahankan hingga ia sendiri yang memohon-mohon agar ia dibebaskan dari semua itu, agar Jake sudi melumatkan kepalanya, merenggut jantungnya, mencabut nyawanya...
Dan itu pun belum cukup...
Apa yang bisa membayar semua ini?
Apapun yang akan mereka lakukan, ia akan menerima. Ia harus menerima. Rongga perih di dalam hatinya terlalu besar untuk bisa hidup dengan semua beban itu. Kesalahan itu. Dosa itu.
Tapi ia memang pengecut.
Ia berhenti melawan. Berhenti bertempur. Berhenti membela dirinya sendiri.
Mati di dasar jurang ini lebih mudah...
Dua ekor vampir menyerangnya dari arah yang berlawanan, dan ia tak menghindar. Memasang tubuh. Menutup mata. Kematian akan datang cepat, dan tak terasa...
Namun kematian itu tak kunjung datang. Tiba-tiba terdengar lesatan angin, auman, jerit para vampir, dan lantas suara koyakan. Cole membuka mata untuk tahu apa yang terjadi. Brady di sisinya. Membelanya.
Apa yang kaulakukan, Brad? ia menuntut. Aku pantas mati!
Brady menggeleng keras-keras. Tubuhnya limbung oleh luka besar di satu bahunya tapi ia tak gentar. Ia menolehkan kepala besarnya pada Collin, menatap matanya dalam-dalam. Tidak, Cole, kumohon... Jangan berpikir begitu. Aku takkan menyalahkanmu, aku percaya padamu...
Kau tahu siapa aku, apa yang sudah kulakukan... batin Cole menjerit. Aku yang menyebabkan semua ini!
Tidak, Cole... Kau yang kutahu tak mungkin begitu. Dan memang tidak. Jika ada yang bisa disalahkan, itu si Alfa Putih!
Benar, Ben menambahkan di sisinya, melindungi Collin dari sisi lain. Kami selalu di sisimu Cole. Kita selalu saling mendukung dan melindungi apapun yang terjadi.
Kau tahu aku selalu setia padamu, Cole... suara Brady kembali menyelusup. Kami selalu setia padamu.
Kesetiaan kalian bukan pada pengkhianat sepertiku! teriak Collin.
Kau bukan pengkhianat, Cole! suara Brady masih terdengar lembut. Mengapa ia masih bisa menghadapinya dengan begitu lembut?
Ya, Brady benar. Kami takkan pernah menganggapmu pengkhianat, Ben ikut menyundulnya dari sisi lain. Dan jika kau bertanya mengapa kami takkan meninggalkanmu, maka jawabannya adalah karena kau bukan cuma atasan. Kau sahabat kami... Kita sudah dan akan selalu melewati segalanya bersama.
Jadi jangan hukum dirimu lagi, Cole... Kepala Brady kembali ke muka. Memandang penuh tekad dan ancaman pada para vampir yang kembali mendekati mereka, siap menyerang lagi. Kita harus hadapi yang di depan mata dulu sekarang.
Ya. Urusan lain biar diselesaikan belakangan! Ben terdengar sangat antusias. Untuk situasi seperti ini, paling tidak.
Kuatkan dirimu, Cole! Tanpa melepaskan pandangan dari para vampir, Brady menyundul bahu Collin. Kau pemimpin kami di sini. Jika kau lemah, kami pun lemah. Seperti kata Ben, kita akan melewati semua ini bersama. Kau, aku, Ben, seluruh kawanan. Kau harus tegar untuk melindungi kami!
Ya, benar. Bukan saatnya untuk menyerah sekarang. Hukuman matinya adalah oleh Harry, atau Jake... Bukan oleh para vampir. Dan ia juga harus berjuang untuk mengurangi kemungkinan dosa yang akan ia timbulkan jika mati di sini. Brady dan Ben... Kedua sahabat setianya. Mereka harus tetap hidup.
Ia menekankan cakarnya kuat-kuat ke tanah.
Baik, jangan lepaskan penjagaan, Guys... Collin melangkah ke muka. Sinar matanya kembali penuh tekad. Kita kalahkan mereka dan kita pulang...
.
.
Pertarungan tidak menjadi lebih baik di pihak mereka bahkan setelah sekitar sepuluh menit berlalu.
Kelompok vampir itu membuat Collin, Ben, dan Brady terkepung. Ketiga serigala saling memunggungi, beradu ekor dengan ekor, membentuk formasi melingkar. Tubuh mereka sudah penuh luka. Langkah mereka terseok-seok. Dengan miris Ben menatap tubuh Pete yang terkulai lemah di tanah, dikerubungi para vampir. Pete sudah tak punya kesempatan lagi... Mungkin malah Pete sudah mati... Kelompok sayap Embry juga sudah dihabisi... Embry, Quil, Clark, Harry...
Dan mereka pun akan segera menyusul...
Jangan pesimis, Ben! Collin meneguhkannya. Masih ada kesempatan. Kita masih bisa menang.
Bagaimana caranya? batin Ben menjerit panik. Kita tidak hanya dikepung dari sekeliling, tapi juga dari atas!
Ya. Collin juga menyadari ini. Mereka hampir bisa dibilang tak ada kesempatan. Sama sekali.
Tapi pasti ada jalan keluar. Ada. Selalu ada.
Pikirannya menelusuri seluruh memori tentang tempat itu. Pasti ada. Pasti ada celah untuknya dapat mengalahkan mereka... Pasti ada celah...
Celah?
Konstruksi batu di jurang yang rapuh...
Itu dia! Celah! teriak Collin mendadak ketika selintas ide mencuat di kepalanya.
Itu bunuh diri, Collin! Brady berteriak begitu benak Collin menayangkan reka adegan rencananya. Apa kau tidak pernah dengar seorang ahli strategi bilang kita tidak boleh pergi ke celah sempit di antara dua gunung, karena pasti kita jadi babi panggang!
Tepat! Kita akan menjadikan mereka babi panggang!
Itu sarang mereka, Cole! Kita yang akan jadi makanan empuk!
Cole tahu apa yang ada di benak Brady. Collin sendiri sudah putus asa, dan berpikir lebih baik mati ketimbang lolos dari sini dan menghadapi kutukan kawanan. Tapi Brady dan Ben tidak berhak menghadapi hal yang sama. Ia harus berjuang bersama mereka.
Itu mungkin bunuh diri... Tapi lebih baik daripada kita tidak melakukan apapun!
Tidak diduga ucapan itu datang dari Ben. Collin meliriknya sekilas.
Terima kasih, Ben.
Tidak apa, Cole. Toh kita sudah mati sekarang. Kita hanya mempercepat pertemuan kita dengan Pete di alam sana.
Ya, ujar Collin. Kalau nanti kalian ketemu Pete dan Clark di surga, sampaikan salamku padanya. Maaf, karena aku membuat kalian semua mengalami ini, namaku pastinya ada di daftar hitam dan masuk neraka...
Tenang saja. Kami tetap akan mengikutimu, Cole... bisik Brady.
Ya. Bahkan juga sampai neraka... tambah Ben.
Ya. Lagipula kelihatannya surga juga tidak akan seru kalau tidak ada kamu... Brady berusaha bercanda, menyundul bahu Collin dari satu sisi, tapi Collin tak bisa tidak merasakan ketegangan dalam pikiran pemuda itu.
Mau tak mau Collin tersenyum dalam hati. Tapi ia tak bisa memperpanjang lagi drama ini.
Baik. Kalian semua ikuti arahanku dan kita jebak mereka!
Tanpa basa-basi Collin sudah melesat. Menjadi umpan guna memancing para makhluk dingin itu. Tak perlu ia menoleh ke belakang untuk tahu Brady dan Ben pasti sudah melakukan bagian mereka.
Satu yang ia tahu dari serangan musuh mereka, dan memperbandingkannya dengan para vampir lain seperti Volturi dan keluarga Cullen, vampir-vampir ini tak berpikir. Hanya bergerak berdasarkan insting dan emosi. Cuma itu satu-satunya jalan. Cuma itu satu-satunya peluang mereka untuk menang.
.
.
Liang kelinci. Awal segalanya bermula. Ini pastinya tempat yang bagus untuk mengakhiri semuanya.
Sempurna sekali.
Jika memang ia berasumsi bahwa konstruksi batu di sini sama rapuhnya dengan di jurang tadi. Cuma itu satu-satunya harapan. Jika tidak, ia bunuh diri tanpa hasil apapun.
Tak ada waktu untuk mengetes asumsinya.
Collin berupaya sekuat tenaga menghalau rasa takut dan instingnya untuk melarikan diri. Ia menembus lebih dalam, terus dan terus, memaksakan tubuh besarnya menyelusup, hingga tak ada tempat lagi. Menggeram, ia memaksa tubuhnya berubah balik. Tak ada cara lain. Hanya ini satu-satunya cara.
Dalam wujud manusia, ia masuk lebih dalam. Seperti dulu. Berjalan hingga tak ada kemungkinan selain merunduk. Hingga tak ada kemungkinan selain merangkak. Hingga tak ada kemungkinan selain merayap.
Diketahuinya vampir-vampir sialan itu masih mengikutinya. Ha, bodoh. Mereka pastinya terbawa emosi. Benar dugaannya, mereka tidak punya pikiran. Mereka vampir yang belum matang. Cuma pion dari dua makhluk tadi.
Ia terus merayap. Sempat vampir itu meraih kakinya, tapi ia berhasil menendangnya, berusaha merayap lebih cepat.
Terus, terus...
"Tunggu, ini jebakan!" terdengar suara di belakangnya. "Mundur!"
Oh, brengsek!
Tapi tak ada jalan keluar. Ia tak bisa mengganti rencana di detik ini. Ia hanya bisa terus, dan berdoa. Berdoa semoga siapapun itu vampir pintar yang berteriak itu, atau siapapun yang masih punya otak di belakangnya, tak punya cara lain selain terus maju, terdorong oleh antrian di belakangnya.
Hahaha… Tak diduga ia bisa memikirkan hal sampah seperti itu.
Ini sungguh rencana yang buruk.
Ia akhirnya meraih persimpangan itu. Collin langsung mengambil jalan yang diingatnya, yang menuju ke ruang di tengah liang.
Ia meluncur turun. Tempat itu sepi. Lengang. Tapi tak lama. Karena kemudian satu, dua vampir turun dari lubang. Langsung menerjang tanpa basa basi.
Collin segera berubah. Balas menerjang. Membuntungi. Tak ada cara lain selain memprovokasi mereka untuk kian banyak mengalir ke dalam, tak lagi berpikir untuk kembali.
Saat yang ditunggu akhirnya datang.
Teman-teman... bisik Collin ketika dilihatnya para vampir sudah memasuki tempat itu, berdesakan di liang, berusaha menggapainya. Tampaknya aku pergi duluan…
Bayang senyuman Brady melintas di kepalanya. Kau tenanglah Collin, ucap sahabatnya. Kami segera menyusulmu.
Benar, Ben mengiyakan dari sisi lain. Kau tunggulah dulu di seberang sana, jangan berani-beraninya masuk gerbang neraka tanpa kami.
Mungkin jika ia manusia, ia akan tersenyum. Tapi memang dirasanya ujung-ujung bibir serigalanya tertarik ke belakang ketika dilihatnya mangsa, atau mungkin pemangsa mereka kian dalam memasuki celah sempit itu.
Terima kasih, teman-teman... bisiknya lagi ketika dilemparkannya tubuhnya ke dinding liang batu itu. Getaran yang ditimbulkan dari gerakan itu, seperti diduganya, langsung merambat hingga ke tudung batu yang menaunginya. Ia menunggu dalam kegelapan, berdoa. Jangan sampai vampir-vampir itu kabur, jangan sampai mereka kabur, atau sia-sialah semua usahanya.
Tapi Brady dan Ben takkan membiarkan mereka kabur. Tidak akan. Ia percaya hal ini.
Retakan mulai muncul di tudung batu di atasnya. Derak keras terdengar ketika bongkahan batu besar vertikal itu hancur, menghujam ke bawah. Pertama hujan debu menaungi penglihatannya, lalu batu-batu kecil. Makin lama, dalam milidetik yang bergerak sangat lamban, batu-batu kecil digantikan pecahan yang lebih besar.
Terdengar gaung dan gema keras panjang tanpa henti di ujung sana, memenuhi gua. Runtuhnya semua formasi terowongan. Brady dan Ben sudah melakukan tugasnya. Memastikan jalan keluar para vampir ini tertutup. Semoga.
Tak ada cara untuk memastikan itu. Tak ada cara memastikan rencananya berhasil 100%. Tapi ia akan melakukan yang ia bisa. Membawa makhluk-makhluk ini sebanyak yang ia bisa ke neraka.
Ya, karena jika semua runtuh, tak ada jalan keluar. Mereka mungkin abadi dan kuat, tapi terkubur hidup-hidup dalam formasi batu bukan cara yang bagus untuk menjalani keabadian. Entah siapa yang akan bertahan, atau bisa keluar... Mungkin lebih baik jika semuanya mati saja sekalian. Termasuk dirinya.
Collin menggunakan tenaga terakhirnya untuk menghantamkan dirinya ke dinding sekali lagi.
Bayangan semua yang pernah ia lalui… Sahabatnya… Keluarganya… Korra... Semua kembali melayang dalam kepalanya.
Selamat tinggal…
Itu yang dia ucapkan ketika sebongkah batu besar, dua kali lebih besar darinya, ikut jatuh dari langit-langit liang, menimpa tubuhnya.
.
.
Catatan:
In the memory of Collin Littlesea…
.
Panjang nih, sampe 18 halaman Word (dengan judul) 5602 kata
Semoga aku ga membuatnya kelihatan bodoh dengan bikin akhir hidup ky gitu…
R&R please…
