THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Rated M... Read on your own guard…
.
.
Limapuluh Tiga - Perahu (Stynx -1-)
Sunday, February 24, 2013
10:35 PM
.
.
Sampai di rumah setelah mengantar Korra pulang, Seth langsung masuk ke kamar, menguncinya dari dalam. Membanting tubuhnya ke kasur, yang terbaring dalam kondisi acak-acakan di tengah bangkai ranjangnya yang rusak oleh Korra, dan menyurukkan kepalanya ke bantal. Kehilangan kendali untuk pertama kali dalam sekian tahun itu. Berteriak kuat-kuat dengan bantal sebagai peredam suaranya.
Sepanjang jalan, ia mencoba mencerna situasinya. Sangat beruntung ia malam itu Jacob berinisiatif patroli menggantikannya, sehingga ia tak perlu memutar otak menghindari pertanyaan Jacob. Ia jelas tidak siap menjelaskan hubungannya dengan Korra, dulu mungkin ya tapi kini tidak, terlebih setelah kini Korra membuka topengnya. Tapi Billy jelas menatapnya dengan pandangan bertanya dan penuh curiga. Walau ia sama sekali tidak mengemukakannya dalam kata-kata.
Sungguh ia tidak percaya ini. Korra ... mengandung? Ia akan jadi ayah?
Reaksi pertama Seth begitu mendengar berita ini tentu saja penyangkalan. Korra mengatakannya di saat yang sangat tepat ketika gadis itu baru saja memaksakan kehendaknya, dan mereka berada dalam adu argumen paling tidak jelas soal Collin dan identitas Korra, yang berujung pada kemungkinan mereka putus. Atau memang ya, mereka sudah putus. Mungkinkah semua hanya skema Korra untuk mem-blackmail Seth? Bahwa kenyataannya ia tidak pernah mengandung atau apapun? Entah apa tujuannya dengan kebohongan itu, jika memang benar itu bohong... Agar Seth tidak meninggalkannya? Karena ia mencintai Seth dan panik mendapati bagaimanapun Seth takkan menerima bahwa ia adalah serigala yang akan menyakiti sang Alfa junjungannya? Atau agar Seth tidak mengatakan identitasnya pada Jake? Agar ia bisa melancarkan entah apapun rencana busuknya pada kawanan?
Kemungkinan kedua jauh lebih masuk akal. Bagaimanapun perih Seth mengakuinya, mungkin Korra bahkan tidak pernah mencintainya sekali pun. Sedari awal, maupun kini ketika hubungan mereka berkembang. Semua hanya urusan bisnis. Kepura-puraan. Skema untuk menjebaknya dan mencari tahu tentang kawanan.
Ia langsung bangkit, menggapai kalender mejanya, menelusuri angka-angka, menghitung. Berusaha mencari kesesuaian antara memorinya, kenyataan, dan teori apapun yang pernah ia dengar tentang ovulasi. Berapa lama sudah hubungan mereka? Sejak kapan hubungan mereka melangkah ke tahap yang lebih tinggi? Kapan pertama kali mereka melakukan itu? Berapa kali sudah mereka melakukannya? Kapan mereka melakukannya tanpa pengaman? Kapan jadwal menstruasi Korra? Kapan seharusnya ia ovulasi? Kapan mereka melakukannya di saat yang tidak tepat, dan tanpa perlindungan?
Ia terhentak begitu menyadari bahwa ia tidak tahu pasti jawaban semua pertanyaan. Terutama pertanyaan-pertanyaan akhir.
Ia melempar kalender itu sembarang. Sekali lagi kehilangan kontrol atas emosinya. Bundel kertas kaku itu melayang, membentur pintu lemari dengan suara keras sebelum jatuh di lantai, dengan posisi sebagian besar halamannya tertekuk, sebagian bahkan terobek dari jilid ringnya. Sue memanggil khawatir dari dapur, membuatnya buru-buru berteriak minta maaf, menyatakan tidak ada apa-apa. Dalam hati ia mengutuk, keras-keras memaki dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin ia demikian ceroboh?
Korra adalah pengalaman pertama baginya. Ia mungkin terlalu terbawa suasana dan tak berdaya menampik Korra, tapi seharusnya ia dapat menunjukkan sedikit pengendalian diri... Ia laki-laki. Walau nyata selama ini Korra lebih banyak memegang kontrol, secara kultural ia diharapkan lebih bertanggung jawab. Demi Tuhan, dia bukan anak usia 14 tahun yang baru puber dan sama sekali tidak pernah mendapatkan pendidikan seks! Ia tahu batas aman dan tidak, langkah pencegahan, dan bermacam teori bla-bla-bla... Bagaimana mungkin begitu sampai pada praktik, ia kecolongan?
Ia terduduk di sisi kasur di atas tempat tidurnya yang hancur, menumpukan siku ke lutut dan menimbun kepalanya dalam-dalam ke kedua telapak tangannya. Pikirannya saling bertarung.
Tidak, Seth, satu suara dalam kepalanya berteriak. Ini mungkin akal bulus Korra. Bisa jadi ia tidak hamil. Berpikirlah rasional!
Benar, Seth... suara lain memaksanya menghentakkan kepala. Berapa kali memang kalian melakukannya? Bisa dihitung jari kan? Kalian toh tidak sesering itu bertemu... Hanya ketika jadwal kawanan memungkinkan salah satu dari kalian untuk menginap saat kau tidak harus patroli bareng Jake, kan?
Ya. Tapi ada juga kesempatan ketika Korra datang sebelum jadwal patroli datang, dan...
Tetap saja kesempatannya tidak terlalu banyak! Ingat, kau telah melakukan pencegahan semaksimal mungkin...
Ya. Tapi tetap ada juga kesempatan ketika ia kelepasan...
Berapa persen memang kesempatan seperti itu?
Ya. Soal pembuahan mungkin dihitung berdasarkan kemungkinan terbesar secara statistika. Tapi dengan adanya satu variabel yang ia tidak ketahui, yakni jadwal ovulasi Korra, waktu yang aman tidak bisa ia prediksi begitu mudah... Bahkan mungkin itu semua kebetulan. Tindakan yang tepat di waktu yang tepat dan situasi yang tepat... atau mungkin salah sepenuhnya... dan voila! Jalan yang mendukung proses menuju terbentuknya Clearwater Jr. membentang begitu saja.
Jangan terbawa emosi, Seth! Dua bulan tetap waktu yang terlalu singkat untuk tahu...
Namun tetap tidak mengubah kemungkinan bahwa kondisi supranatural mereka memiliki andil dalam urusan ini. Korra sudah pasti bukan manusia biasa. Jika ia hamil, ia tidak butuh alat-alat untuk mengetahui kondisi tubuhnya sendiri. Jika tidak begitu pun, bisa jadi ia sudah melakukan pengetesan mandiri. Alat uji kehamilan mudah didapat dimana-mana. Dan kemarin pagi Collin bilang Korra tidak enak badan. Morning sickness...
Pastinya ia tahu apa artinya itu.
Astaga! Apa yang sudah ia lakukan?
Jake pasti akan membunuhnya... Sekarang pun ia sudah diblokade dari kawanan. Entah apa alasan Jake, tapi Collin merasa itu ada hubungannya dengan Korra, dan Seth tahu meski tidak tepat, bocah itu benar. Meski tiada yang pernah ia lakukan yang mengkhianati kawanan secara sengaja hingga detik ini, misalnya membocorkan rahasia kawanan, ia tahu ia sudah merugikan mereka. Jake tahu ia tak mungkin bisa mempertahankan kesetiaannya, tidak karena Jake sendiri yang membuatnya mengucapkan sumpah yang ternyata beralih menjadi kartu bunuh diri untuk mengakhianati sang Alfa. Collin bilang ia mendadak sudah menjadi Beta. Entah di mana posisi Seth sekarang. Mungkin Jake memang sudah kehilangan seluruh kepercayaan padanya. Jika sang Alfa sampai tahu ia menghamili sang adik, bukan hanya diusir dari kawanan, ia bahkan mungkin diusir dari tanah Quileute. Itu masih kemungkinan terbaik. Pilihan kedua adalah menjatuhkan dekrit hukuman mati. Mencincangnya. Atau mengumpankan tubuhnya hidup-hidup kepada binatang buas, atau bahkan vampir. Tidak, ia bahkan takkan diberi kesempatan untuk bertanggung jawab, menikahi Korra...
Tak urung kemungkinan itu menyelinap di benaknya. Menikahi Korra ... membangun keluarga bersama Clearwater Jr ...
Tidak, Seth! Luruskan pikiranmu! Menikahi Korra? Dia musuh!
Musuh atau tidak, Korra tetap kekasihnya... Jika menerima berita itu, konfirmasi identitas Korra, dalam cara yang salah, Jake mungkin akan melakukan tindakan bodoh. Melukai adiknya sendiri. Atau tanpa sengaja melukai anak Seth dalam kandungan Korra, misalnya. Seperti ancaman Korra...
Kalau memang begitu, lantas kenapa? Takkan ada yang berubah bahkan jika Korra mengandung anakmu! Kau tidak akan menjual kesetiaanmu pada Jake! Entah Jake mencurigaimu atau tidak, kau takkan mengkhianati kawanan!
Tapi bagaimana jika Korra serius menjalankan ancamannya? Jika ia menggugurkan kandungan, misalnya...
Apa kau perlu peduli, Seth? Jika memang begitu, biarkan saja ia menggugurkan kandungan. Itu malah bagus. Kau tak perlu terikat pada penyihir itu selamanya. Atau sekalian saja ia mati dalam proses itu. Dengan demikian satu musuh tumbang.
Benar, Seth, suara kedua muncul. Lagipula masih ada kemungkinan ia berbohong soal anak. Dan kalaupun ia benar, anak seperti apa yang kauharapkan lahir dari serigala kejam seperti dia?
Astaga! Apa yang ia pikirkan?
Jangan berpikir lagi, Seth! suara itu kembali muncul.
Apakah itu suara setan? Atau suara yang membimbingnya pada kebenaran?
Tinggalkan Korra, tunjukkan pada Jake kesetiaanmu! Hancurkan Korra sebelum ia benar-benar mengancam keselamatan kawanan!
Ya. Itu tugasnya. Itu tanggung jawabnya. Beta atau tidak, keselamatan kawanan ada di pundaknya. Ia tak bisa lepas hanya karena ia mencintai Korra. Mencintai musuh.
Oh, ya, Korra yang bahkan belum tentu mencintainya. Mendekatinya untuk mengorek sesuatu tentang kawanan. Membuatnya mengkhianati kawanan.
Tapi...
Kau harus memilih, Seth! Korra atau kawanan! Dan kau harus memilih kawanan di atas segalanya! Hancurkan Korra!
Tapi itu tidak benar... Entah benar Korra mengandung anaknya atau tidak ... entah Korra mengancam kawanannya atau tidak ... ia tidak bisa pergi begitu saja. Mengabaikan Korra, lepas dari tanggung jawab...
Tapi bagaimana dengan kawanan? Pikirkan kawanan!
Seth berteriak frustasi, kembali menghantamkan tubuh ke kasur. Kepalanya pening.
"Seth?" suara Sue yang membarengi suara ketukan singkat terdengar di pintu. Nadanya khawatir. "Ada masalah?"
"Tidak, Mom..." balas Seth, berusaha keras menstabilkan suaranya.
"Sudah malam, Seth, kumohon jangan terlalu ribut," ucap Sue lagi, yang membuat Seth agak mendengus kesal. Ini jarang sekali dilakukannya, dan biasanya ibunya akan marah jika ia merasa anaknya bertindak tidak sopan. Tapi kali ini ibunya tidak banyak berkomentar. Terdengar suara desahan berat wanita itu ketika suara Charlie menyapa, mengatakan untuk memberikan ruang bagi Seth atau semacamnya, tapi ia tak ambil peduli. Tidak juga ketika akhirnya terdengar tapak-tapak kaki menjauh. Charlie maupun Sue rupanya tidak ingin ikut campur lebih jauh.
Tentu saja. Mereka pastinya tahu ia punya masalah. Besar kemungkinan, jika mereka memang menguping apa yang ia bicarakan dengan Korra tadi, mereka bahkan tahu permasalahan itu. Charlie pasti berusaha memahami.
Dan itu hanya membuat dirinya mengerang frustasi.
Dengan kesal, tak bisa mengontrol lagi pikiran maupun perasaannya, Seth keluar kamar. Menarik kunci Volvo dari kapstok di ruang tengah dan segera menuju garasi.
.
.
Pintu kayu itu terbuka dan seraut wajah muncul dari baliknya, untuk kemudian tertutup buru-buru begitu si empunya rumah menyadari siapa tamu yang membangunkannya malam-malam, atau lebih tepatnya dini hari begini.
Kaki Seth yang segera terulur mengganjal pintu membuat Sam terpaksa membuka pintunya lagi.
"Sudah malam, Seth. Pagi nanti saja kau kembali," ujar Sam kasar, menghalau kaki Seth dari ambang pintunya dan hendak menutup lembaran kayu itu lagi.
Seth memang tidak biasanya keras kepala untuk urusan semacam ini. Tapi kali ini berbeda. Lagi-lagi ia menyurukkan kakinya, kini bahkan tangannya terentang di pintu Sam, menahan Sam menutupnya lagi.
Sepulang dari rumah Black, Seth praktis tidak bisa tidur. Dan setelah sibuk menimbang tanpa kesimpulan yang memuaskan, akhirnya malam itu juga ia memberanikan diri menyelinap pergi. Langsung menemui satu-satunya orang yang ia yakin bisa memberi penjelasan. Sam.
Tidak peduli jika jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tidak juga ia ingin menunggu waktu beberapa jam ke depan, ketika pagi menyingsing. Rasa frustasinya mencegahnya untuk memikirkan segalanya dengan kepala dingin. Tidak. Ia butuh jawaban, bukan teori dan hipotesis tidak jelas dari kepalanya, dan kali ini ia tak bisa menunggu. Ia menginginkannya sekarang.
Apalagi, terus terang saja, ketimbang urusan hubungannya dengan Korra, Seth mulai mempertanyakan hal lain.
Sam mendadak menyadari sesuatu yang berbeda dengan bau Seth. Dan seketika matanya jelalatan ke luar, memindai sekeliling.
"Mencari siapa, Sam?" Seth bertanya muram.
"Tidak... anu..." Sam tampak bingung.
"Apa kau mencari Korra?"
Sam tampak gugup.
"Kalau kau mencari Korra, dia tidak ikut bersamaku. Aku kesini sendiri."
Wajah Sam kembali bingung sebelum akhirnya binar mengerti menyelusup di sana. "Oh... benar..." ia menggaruk kepalanya dengan kikuk. "Tentu saja bau Korra menyelimutimu, Seth... Betapa bodohnya aku... Maaf..."
"Bisa tolong kita lompati saja topik itu?" Seth agak kesal menyadari bahwa walau hubungannya dengan Korra adalah rahasia di kawanan, rupanya itu bukan rahasia di antara para Tetua. Pandangan mata Billy sebelumnya, sewaktu ia mengantar Korra, sudah merupakan konfirmasi bahwa ia lebih tahu ketimbang Jacob. "Aku kesini untuk bicara denganmu empat mata, Sam. Ini penting. Kalau kau tidak mau membangunkan Emily, kuharap kau mau mengikutiku."
Menuruti Seth, Sam berjalan sekitar 500 meter ke hutan yang diselubungi kegelapan pekat. Di hadapan Seth, ia tak perlu berpura-pura bahwa ia sudah pensiun atau tidak memiliki kemampuan fisik serigala lagi. Seth toh sudah mengetahui semuanya.
"Jadi," Sam memulai percakapan ketika Seth kelihatan sudah tidak mau menariknya lebih jauh lagi, "apa yang ingin kau bicarakan?"
"Kau sudah tahu apa yang ingin kubicarakan, Sam..." ujar Seth, menyandarkan tubuhnya di sebatang pohon, menghela napas panjang dan berat.
"Aku tahu banyak yang kau ingin tanyakan. Dan aku tidak punya begitu banyak hak untuk menjawab semua itu," elak Sam yang membuat Seth melontarkan pandangan tajam.
"Kita berada di perahu yang sama, Sam..."
Sam membelalak. Tapi ia segera sadar dan berusaha bersikap lebih hati-hati. "Apa maksudmu, Seth?"
"Kau tahu pasti apa yang kumaksud. Aku mendengar pembicaraanmu dan kawanan lain di jurang. Kawanan si Alfa putih dan Korra."
Seth menyatakannya langsung dan Sam mengerti.
"Rupanya Korra sudah membuka topengnya padamu..." ujarnya seraya menyeringai sinis, membuang muka. "Sudah kuduga..."
"Aku tidak mengungkapkannya pada Jake, Sam. Belum, tepatnya."
"Aku yakin walau kau mencoba, kau tidak akan bisa mengatakannya, Seth."
"Ya. Tapi kau tahu sistem semantika bahasa. Jika aku bisa menghindar dengan mencari jalan memutar dari Titah Alfa, tidak ada alasannya aku tidak bisa mencari jalan memutar hanya karena terikat Sumpah. Jake dan Collin sudah membuktikannya dan kini giliranku untuk mencoba."
Sam menyadarinya. Seth pastinya ingin memanfaatkan kondisi setengah tahunya untuk sesuatu. Mengancam, tepatnya.
"Oke. Jadi apa yang kauinginkan?" tanyanya langsung ke sasaran.
"Penjelasan."
"Penjelasan untuk apa?"
"Rencanamu."
Sam mendesah. "Itu tidak bisa kukatakan, Seth."
"Aku tidak butuh rencana lengkap. Aku hanya butuh jawaban atas beberapa pertanyaan."
Sam menatapnya, curiga. "Mengapa kau perlu tahu?"
"Aku perlu menilai situasiku sendiri sebelum aku berpindah loyalitas."
Jawaban tenang Seth, anehnya, membuat Sam menggeram. "Kau tidak akan berpindah loyalitas, Seth."
Seth mengulurkan tangannya, menunjukkan tato segel itu. "Ini sumpah yang kubuat dengan Jake. Dan kau tahu sumpah apa yang kunyatakan. Sumpah yang menggadaikan loyalitasku tidak lain tidak bukan pada serigala terburuk yang pernah kukenal. Serigala hitam jahat."
Didengarnya Sam terkekeh pada julukan itu. Mungkin merasa ikut tersindir. Tapi ia tak peduli.
"Kau tahu seperti apa perasaanku saat ini. Aku bukan pengkhianat, Sam. Aku tidak seharusnya mengkhianati Alfaku sendiri."
"Maka jangan," ucap Sam singkat.
"Tapi aku harus!" Seth setengah berteriak, untuk kemudian sadar bahwa ia harus tenang. Berkepala dingin. Tenang. Ia menarik napas dan meneruskan, dengan suara pelan, hampir miris. "Sumpah bodoh ini menempatkanku di sisi dilematis," katanya sesak. Ia menimbang perlukah ia mengatakan semua, tapi akhirnya memutuskan bahwa itu tak terhindarkan. Ia berusaha menghindari tatapan Sam saat mengucapkan,"Dan Korra menyatakan kemungkinan bahwa ia mengandung anakku. Jika itu memang terjadi, aku khawatir aku tidak punya pilihan selain mengkhianati Jake."
Pria itu terlihat berusaha mencerna sebelum kemudian bicara dengan nada tenang, "Korra tidak mungkin mengandung anakmu, Seth..."
"Aku juga berpikir begitu. Tapi bagaimana jika memang ya?"
Sam terdiam.
Seth berbalik menghadap Sam.
"Sam, tolong, setidaknya katakan. Apa yang serigala putih itu rencanakan terhadap Jacob? Apa ia memang ingin membunuh Jake dan mengambil alih kawanan? Menempatkan Korra sebagai Alfa boneka?"
Tak diduganya Sam mengernyit.
"Apa maksudmu Korra sebagai Alfa boneka?"
Seth mengerjap. "Bukan?"
Gestur Sam mendadak kikuk seperti telah kelepasan omong.
"Apa ini Sam? Kau tahu sesuatu? Katakan padaku!"
Tidak ada jawaban. Sam justru membuang muka.
"Ada sesuatu yang penting di sana kan? Dalam sesuatu yang kalian katakan malam itu di jurang? Sesuatu yang kalian hapus dari memoriku? Aku tidak tahu kekuatan apa yang kalian pakai, tapi aku tahu kalian melakukan sesuatu pada kepalaku."
Sam masih diam.
"Sam, kumohon... Jika kau memang mendukung rencana mereka, kau pasti punya alasan. Setidaknya tolong katakan alasanmu. Aku mungkin bisa mengerti. Bukan, aku pasti berusaha mengerti."
Pria itu akhirnya bereaksi. Ia menggeleng pelan sebelum menjawab, "Aku tidak bisa melibatkanmu, Seth."
"Mengapa?"
"Aku tidak bisa menjawabnya."
Seth tampak berpikir sejenak untuk kemudian bertanya lagi, kali ini ragu. Walau ada nada prihatin di sana.
"Apa karena kau sakit?"
Sam menjengit, tatapannya mendadak berubah khawatir.
"Kau memang sakit kan? Apa penyakitmu? Apa itu yang membuatmu menjual Jacob?"
Anehnya Sam terkekeh sebelum menjawab, "Alasan sangat personal yang kauutarakan, Seth... Terus terang aku kecewa begitu rendah kau menilaiku..."
"Kalau begitu kau punya alasan lain?"
Bibir Sam mengerucut tapi ia menutup mulutnya rapat-rapat. Matanya getir.
"Kumohon, Sam. Karena jika aku terpaksa mengkhianati Jake dan menjual kesetiaanku, aku butuh alasan kuat. Dan alasan itu harus lebih kuat dari sekadar sumpah darah bodoh yang kubuat bersama kakak yang sama sekali tidak mengerti situasinya saat sumpah itu dibuat. Atau jabang bayi yang belum lahir yang bahkan tidak kutahu ada atau tidak."
"Kalau kau memang merasa berat melakukan ini, maka jangan, Seth. Hanya itu yang bisa kukatakan."
"Maksudmu, kau tak ingin aku mendukungmu? Untuk Perjanjianmu dengan kawanan Korra?"
Mata Sam penuh tatapan menusuk. "Itu urusanku, Seth. Tidak usah ikut campur."
"Tapi Korra..."
"Tanya nuranimu, Seth. Bahkan jika memang ia mengandung anakmu, apa kau memang akan menjual kesetiaanmu pada Alfamu? Terutama ketika kau tidak tahu mengapa kau harus melakukannya?"
Seth diam. Lamat-lamat ia menggeleng. Dan Sam terlihat menunggu gelengan itu, karena kini ia menyeringai. Tampak agak puas dengan diri sendiri.
"Kau tidak bisa berada di perahuku kala kau masih ragu, Seth. Lebih lagi karena kau menaikinya hanya karena alasan selemah itu. Kau hanya akan membuat perahuku oleng. Aku tidak butuh kelasi yang setengah hati."
"Jadi kau menolak memberiku alasan? Bahkan ketika aku menawarimu tanganku? Dukunganku?"
"Aku tidak butuh."
"Kalau kau tidak memberiku alasan yang cukup, kau tahu di mana aku akan berpihak. Aku akan tetap mendukung Jacob. Meski aku harus melawan Sumpah atau mengkhianati anakku sendiri, aku akan tetap berada di pihak Jake!"
"Maka lakukan."
Ketegasan Sam membuat Seth terpana. Lamat-lamat ia menggelengkan kepala.
"Sam, kau tahu apa akibat dari semua ini. Kekeraskepalaanmu takkan membawamu ke mana pun. Semua hanya akan berbalik menyerangmu. Jika kau tidak punya pendukung, kelasi, apapun itu, kau tidak bisa terus. Perahumu akan hancur diterjang badai. Dan kau bahkan tidak punya sekoci penyelamat untuk melanjutkan perjalanan."
Sam, anehnya, hanya tersenyum pahit.
"Jika memang begitu, biar aku yang mati dalam badai. Itu lebih baik ketimbang aku menarik salah seorang dari kalian untuk ikut mati bersamaku."
Dan ia berbalik pergi bahkan tanpa menghiraukan panggilan Seth.
.
.
Sepeninggal Sam, Seth masih berdiri di kegelapan hutan.
Apa maksud Sam?
Kini setelah ia menilai semua situasinya, ia makin merasa tidak mengerti. Seharusnya setelah ia bisa mengkonfirmasi keterlibatan Korra, atau Sam, ia bisa merasa lebih ringan. Namun nyatanya tidak. Fakta yang terungkap dari misteri keberadaan si serigala dan pengkhianatan Sam hanya menimbulkan masalah baru.
Baginya, terutama.
Terutama karena fakta itu baru terungkap separuh.
Ia memutuskan untuk mengejar Sam lagi. Bagaimanapun ia harus memaksa Sam menjelaskan. Ini tidak semudah kelihatannya. Ia tak bisa berdiri di atas dua perahu yang bergerak ke arah berlawanan. Ia akan tercabik, atau bahkan tenggelam.
Ia baru berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah Sam, ketika dua bayangan di balik tirai tipis yang menutupi jendela besar di ruang tengah keluarga menghentikan gerakannya. Sam, kelihatannya, duduk di sofa. Ada pula bayang seseorang lain, perempuan, tampaknya, tidak mungkin tidak pasti Emily, duduk di sisinya.
"Aku tidak bisa membiarkan ini," ia mendengar suara Sam. "Ini melenceng jauh dari perkiraanku. Semua bergerak di luar kendaliku. Ini semua salahku."
"Tidak, Sam," terdengar suara lembut Emily. "Kau melakukan yang terbaik. Semua demi suku. Mereka akan mengerti…."
"Tidak," suara lemah dan putus asa Sam berkumandang. Seth mengejit. Ia tak pernah mendengar Sam semenderita ini sebelumnya. "Aku membawa kehancuran bagi suku ini bahkan sebelum kehancuran yang lebih besar, yang selalu kuantisipasi, tiba…. Aku berharap aku bisa melawan singa dengan mengundang harimau menjaga domba-domba. Tapi bukan harimau yang menghancurkan peternakan, melainkan para domba sendiri. Domba yang ketakutan dan tidak tahu apapun, yang mengira harimau datang untuk memangsa mereka…. Mereka menciptakan jalan bagi kehancuran mereka sendiri. Dan ini semua karena aku…."
"Oh, Sam…." Emily mendesah lirih.
"Semua bergerak ke arah yang salah, Em…. Terlalu banyak kemungkinan yang tak bisa kuduga. Jika satu saja hal tak bisa kuprediksi, jika satu hal saja salah lagi, aku tak hanya membuat kehancuran datang lebih cepat … tapi juga membuat kehancuran datang dalam skala yang lebih besar!" Sam terdengar sangat frustasi. "Astaga, apa yang kulakukan, Emily? Mengapa aku menguatkan Billy? Mengapa aku bahkan memberinya ide itu? Ia tak seharusnya datang dari awal…."
Seth membelalak.
Korra. Tak salah lagi, mereka membicarakan Korra.
"Aku akan mengorbankan semua yang kujunjung selama ini, Emily…. Aku sudah menggadaikan semuanya. Seluruh yang berusaha kulindungi. Semua. Diriku sendiri. Dirimu. Jacob…. Semua akan jadi martir."
"Sam," suara Emily menenangkannya. Namun entah bagaimana terdengar tegar, kuat. "Ingat, Sam. Kesetiaan tertinggimu ada pada siapa. Bukan pada dirimu, bukan padaku, bahkan juga bukan pada Jake."
"Lalu bagaimana jika itu pun hancur, Em? Apa yang kulakukan selama ini, memperjuangkannya … apa artinya jika itu pun hancur?"
"Oh, Sam…."
Tiba-tiba terdengar dering telepon, menginterupsi pembicaraan ini. Tapak kaki kecil Emily meningkahi bunyi-bunyian lain, suara Emily berbisik di kejauhan. Terdengar tapak kaki lagi, dan kemudian suara Sam lagi, "Halo?"
Sam dalam pembicaraan telepon … di tengah malam … dengan siapa?
Tak terdengar apapun selama sekitar sekian detik sebelum akhirnya Sam kembali berbisik, namun kali ini nadanya lebih menekan, "Apa kau bertanggung jawab dalam hal ini?"
Kembali tak terdengar apapun, kini dalam jeda waktu yang lebih panjang, sebelum akhirnya terdengar bunyi benda dibanting. Telepon, kemungkinan besar. Dan lantas suara Sam, mengumpat keras.
"Panggil Josh, Em. Beri tahu, kita harus tiba di sana tepat waktu."
Josh?
Seth buru-buru kabur dari tempatnya bertengger, mencari tempat persembunyian lain. Untungnya ia pergi pada waktu yang tepat, karena tidak berapa lama kemudian, Sam sudah meluncur dari pintu depan. Seth mengawasi dalam diam di kegelapan ketika tubuh manusia Sam menghilang, dan sebagai gantinya muncul sosok itu. Seekor serigala hitam, yang pernah dikenalnya, yang selalu dikenalnya selama bertahun-tahun, yang disangkanya sudah tak ada lagi, menjelma dalam pekatnya malam, tertutupi sempurna oleh tabir kegelapan. Ia sudah tak punya sisa apapun lagi dalam dirinya untuk merasa terkejut. Tidak juga ketika seekor serigala lain, dengan bulu hitam pekat yang sama, namun dengan garis putih di punggung, keluar dari balik pepohonan. Mereka saling bertatapan sekian lama sebelum si serigala hitam bergaris putih berbalik, dan berlari menembus pepohonan, diikuti oleh Sam.
Seth mengikuti nalurinya untuk bergerak mengikuti, tanpa berubah, karena disadarinya mungkin Sam akan lebih mudah mengetahui bahwa ia dikuntit, jika Seth mengambil wujud serigala. Namun tak berapa lama, langkahnya terhenti.
Sosok seseorang, yang sangat dikenalnya, muncul tiba-tiba dari balik pohon terdekat, langsung menghadangnya.
"Mau apa kau di sini, Seth?" tanya sosok itu.
Tanpa disadarinya, Seth langsung mendengus. Matanya lekat memandang mata sosok itu, sosok gadis itu, tapi yang dipandang memandangnya balik dengan tatapan yang sukar dilukiskan.
"Korra…" sapanya dengan sungging senyum di bibir. Ia tak lagi punya kemampuan untuk merasa kaget. Atau emosi apapun. Semua sudah terenggut, terampas dari dirinya.
Korra, tentu saja. Siapa lagi? Dua serigala hitam. Sam dan Korra.
Hitam….
Hitam lambang keburukan. Kejahatan. Kegelapan.
Tapi apa ia sendiri?
Coklat pasir. Debu. Sesuatu yang kotor.
Pengkhianatan.
Huh.
"Pulanglah, Seth," perintah Korra datar. "Kau tidak ada urusannya di sini. Pulanglah!"
Tentu saja ia tidak ada urusan dengan mereka. Sam sang pengkhianat dan Korra sang serigala keji dari kawanan asing. Tentu saja ia tidak ada keperluan apapun dengan mereka. Tidak ketika ia juga bukan bagian dari kawanannya sendiri lagi.
Paria, itulah ia.
Kembali mendengus, dan dengan senyum masam, Seth berbalik. Tanpa melawan, tanpa membantah. Langsung menuju Volvonya dan meluncurkannya kembali ke rumah Clearwater. Sepanjang jalan, agak berbeda dengan biasanya, dinyalakannya stereo dan dimasukkannya CD lagu keras yang beberapa hari lalu ditinggalkan Quil. Diputarnya volume hingga batas maksimal dan ia ikut berteriak sepanjang lagu. Memaki sepanjang ada kesempatannya untuk memaki.
Dilihatnya bayangan-bayangan gelap meluncur di balik pepohonan, dan dirasakannya aura intens di sekitarnya, tapi ia tak peduli.
Sama sekali tak peduli.
Apapun yang terjadi, ia tidak yakin ia masih berada di antara mereka.
Tidak. Ia memang sudah bukan bagian dari mereka lagi.
Semua sudah selesai.
.
.
Catatan:
Stynx: nama sungai di dunia bawah tempat Hades bertakhta. Sekadar mengingatkan, berdasarkan penamaan Collin:
Seth : Hades Clearwater
Korra: Persephone Clearwater (soalnya dia udah putus asa aja deh soal si Korra, jadi udah ga ngasi nickname Korra Littlesea lagi)
Collin: Demeter (aslinya dewi padi, ibu Persephone, tapi di sini jd g ada Demeter... mungkin Collin jd Cerberus, penjaga dunia bawah, tp blm tau ...)
.
...sumpah ini bukan crossover...
.
Adegan ini berlangsungnya dalam waktu yang sama dengan pertempuran di jurang, jadi biar ga keganggu timelinenya bergerak maju mundur, jadi aku tempatin ini dulu… berikutnya adegan jurang lagi (yang terakhir, hope so… ihikkkk….)
Aku tau konfliknya kurang kerasa, ntar aku coba deh tambah2in lagi, ugh!
Read, review… pleasssssseeeeee…
Sungguh review para pembaca (aghyaaa… norak banget) bener2 berharga, banget! Flame accepted! Dan lagi, aku minta teori pembaca ato apapun yg tnyt ga sinkron dalam cerita ini. Apapun kecuali soal jadwal sekolah (hahaha… aku tuh ga ngerti2 amat soal sistem sekolah, jadi patokanku sama sistem kuliah sks aja… wkwkwkwkwk… error)
