THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.

.

Warning: Rated M... Read on your own guard…

.


.

Limapuluh Empat – Titik Balik (Serigala vs Kelinci -4-)

Sunday, February 24, 2013

10:35 PM

.


.

Daerah itu ditudungi vampir, tidak salah lagi. Semacam perisai yang bisa memutus tidak hanya koneksi antarkelompok dalam kawanan, tapi juga Titah Alfa.

Bagaimana itu mungkin?

Ia tahu bakat seperti perisai memang ada. Bella sudah membuktikannya. Tapi setahunya, bahkan Bella tak bisa memutus koneksi pikiran kawanan. Telepati para serigala berada di luar jangkauan pengaruh para lintah. Terlebih Titah. Tapi dua kali sudah ia merasakan ini. Ketika Collin diserang di wilayah Cullen. Dan hari ini.

Mengapa?

Disadarinya juga selubung ini bersifat lokal. Hanya pikiran kelompok Collin yang tak bisa ia jangkau. Sayap Embry bisa ia dengar jelas dari tempatnya berada kini. Tapi tidak kelompok Collin. Tidak bahkan ketika ia menyeberang dari sayapnya ke sayap Embry. Sempat dilihatnya sosok serigala coklat kemerahan itu di dasar jurang sana. Bersama ketiga serigala lain. Mereka jelas terdesak. Tapi ia tak bisa turun. Tidak ketika Embry butuh bantuan.

Ini posisi sulit. Ia harus memilih antara Embry dan Collin. Turun ke jurang berarti kematian. Tapi menyeberang ke sini, sama saja.

Ia tidak memilih karena ia menganggap nyawanya lebih berharga daripada Collin dan kelompoknya. Ia tidak memilih satu yang lebih mudah dari dua. Satu yang lebih tak beresiko. Ia memilih karena ia percaya.

Ya, ia percaya.

Collin sudah membuktikan bahwa dirinya selalu bisa mengatasi kesulitan. Berkali-kali. Ketika ia dikeroyok sendirian di wilayah Cullen. Ketika ia memimpin pertahanan di dekat Crescent Lake. Bahkan jauh sebelumnya, mungkin, sejak ia masih di kawanan Sam. Bocah itu mungkin nekad, ceroboh, tidak berpikir panjang, selalu membuat manuver yang menempatkan dirinya dalam bahaya, tapi ia tangguh. Keputusannya punya pertimbangan tersendiri. Soal itu ia tidak sangsi sedikit pun.

Ya, Cole si bocah badung itu pasti bisa mengatasinya. Ia pasti bisa mencari jalan keluar dari lubang jarum.

Apakah ia menempatkan harapannya terlalu tinggi? Karena kini, entah mengapa, ia merasa firasatnya tidak enak.

Dihalaunya perasaan itu sementara ia berlari, berusaha mengendus bau Embry. Embry terdesak, itu sudah pasti. Pikirannya makin lemah. Embry ksatria yang tangguh dan berpengalaman, tapi ia lemah pada serangan dari belakang. Dan sepertinya makhluk-makhluk ini, setan yang bangkit dari neraka ini, sudah bisa menilai hal itu sejak awal serangan. Dan bukan hanya Embry. Itu dilakukannya pada seluruh kawanan. Clark diserang mendadak. Dibuntungi indranya dan diblokade dari kawanan. Quil terus didesak dengan teknik keroyokan. Ia kini mati-matian bertahan, terpojok di sudut sempit dinding cadas. Dan Harry, begitu penuh emosi hingga tak bisa menilai gerakannya sendiri. Berkali-kali ia melakukan manuver yang membahayakan dirinya sendiri.

Bukan saatnya ia mempertimbangkan untuk memilih siapa yang harus ia bantu. Tidak karena semua pilihan sama berat. Tidak ketika memilih satu mungkin mengorbankan yang lain. Tidak ketika ia tak punya waktu untuk menimbang. Tidak ketika ia sendiri harus mati-matian menghindar dari serangan.

Quil! teriaknya, menghindari serangan seraya melarikan kakinya ke cadas tempat Quil dikeroyok. Tempat itu yang paling dekat dengan tempatnya berada kini.

Jake! terdengar suara si serigala coklat. Aku tidak apa-apa! Bantu Harry!

Astaga. Apa-apaan mereka? Tidak bisakah mereka berhenti mempingpong niatnya dan bersyukur saja bantuan datang untuk diri mereka?

Quil mengumandangkan tawa kering, tapi tak lama pikirannya kembali larut dalam pertarungannya sendiri.

Kau meninggalkan sayapmu? dalam kekisruhannya sendiri ia masih sempat mempertanyakan tindakan Jacob. Bagaimana Adam dan Caleb? tanyanya, demi disadarinya sejak awal pertarungan, Quil merasa pikirannya dengan Adam dan Caleb terputus.

Mereka baik-baik saja, jawab Jacob. Terakhir kutahu, mereka bertarung bersisian, dan penyerang di sisi sana tidak banyak. Bagaimana keadaanmu?

Quil tidak menjawab, mengirimkan gambar situasi sekitarnya pada Jacob.

Sama sekali tidak bagus. Ia memang tidak digigit, dan kegesitannya membuatnya cukup untuk memblokade serangan apapun pada tenggorokannya. Tapi kepungan itu membuatnya jelas kepayahan, dan beberapa kali serangan licik mereka membuatnya membenturkan dirinya sendiri ke cadas.

Sudah kubilang kau harus belajar membaca gerak pancingan, Quil... Jangan termakan emosi, pertahankan konsentrasimu! nasihat Jake, yang justru membuat Quil tambah berang.

Mudah kau bicara! Kau tidak menghadapi sendiri mereka!

Jika bisa mungkin Jacob akan memutar bola mata. Quil termasuk salah satu anggota yang mudah mendidih. Bertahanlah, aku kesana secepatnya, katanya.

Tak lama dilihatnya cadas tempat Quil terjebak, dan tubuh serigala coklat gelap itu. Oh ya, memang benar kata Quil, skala ancaman yang menyerangnya memang lumayan. Tujuh, tak kurang.

Mungkin untuk satu orang, itu masalah besar. Untuk dua, lain lagi.

Kau ingat trik Cole di cadas waktu di hutan, Quil? Ayo coba itu! seru Jacob antusias, langsung mengambil posisi Adam saat itu. Tapi Quil malah menggerung.

Kenapa sih dari tadi kalian terus Cole-Cole-Cole melulu... Apa memang bagusnya si badung itu? Aku bukan Yang Mulia Putra Mahkota Cole Litsey, Jake!

'Yang Mulia Putra Mahkota Cole'... Apa-apaan sih, kamu? Jacob bukannya bingung dengan keantipatian Quil yang mendadak pada Collin, malah langsung mengamuk. Si Quil itu, sudah di ambang kematian masih saja bicara tak jelas. Ambil posisi, Quil! Kalau kau tak mau pakai cara Cole, pakai saja caramu sendiri!

Quil menggeram, namun langsung bereaksi. Kehadiran Jacob jelas memberinya suntikan semangat. Dengan sigap ia, yang semula bingung harus menyerang yang mana dalam kepungan itu, karena menyerang ke satu sisi artinya mengekspos punggungnya ke sisi lain, kini langsung mengarahkan cakarnya ke sisi kanan. Jacob menyerang dari luar lingkaran di sisi kirinya, memaksa kerumunan vampir itu terpecah dua.

Tiga lawan satu di pihak Quil dan empat lawan satu di pihak Jacob. Dihadapkan pada situasi seperti ini setahun lalu, atau setidaknya empat bulan lalu sebelum semua serangan ini bermula, mereka takkan punya kesempatan. Tapi tidak kali ini. Setelah beberapa detik saja, Quil dan Jacob sudah berhasil membuntungi korban pertama mereka.

Wohooo! Quil berteriak senang. Rasakan itu, Lintah!

Jangan senang dulu, Quil, Jacob memperingatkan, melihat serigala itu sudah melonjak-lonjak tak jelas sementara dua lawannya kelihatan lebih awas menilai gerakannya. Jangan meleng! Masih ada dua lawanmu, dan berdasarkan pola yang selama ini terjadi, mereka selalu mengorbankan yang lemah terlebih dahulu.

Oh, ya? Itu berdasarkan teori siapa, Prof?

Teori Seth, tentu saja.

Ah, ya... Pastinya Seth, siapa lagi, memang?

Quil terlihat agak kesal, dan emosinya tergambar jelas pada ekspresi dan gesturnya. Kedua vampir tampaknya mengira inilah titik lemah dalam gerakan lawannya, dan menyerang pada saat yang tepat, langsung mengincar leher Quil.

Quil! teriak Jacob. Dengan ekor matanya dilihatnya Quil hanya berkonsentrasi menghalau satu serangan, membiarkan punggungnya terekspos. Lintah lawannya kelihatannya menyadari ini, karena ia membiarkan dirinya hancur di bawah cakar-cakar Quil, sementara lintah lainnya memanfaatkan momen itu untuk menyerang punggung Quil. Dengan geraman penuh, Jacob menyerang salah satu pengepungnya, menciptakan celah agar bisa kabur dari mereka bertiga, dan langsung memblokade serangan yang ditujukan pada punggung terbuka sahabatnya.

Terima kasih, Jake, ujar Quil, bangkit dari mayat beku tak berbentuk makhluk yang baru saja dihabisinya, menoleh sedetik pada Jacob.

Apa kubilang? Jangan meleng, Quil! Jacob menyalak padanya, kini berdiri si sisi Quil. Pandangannya tak lepas dari keempat vampir yang tersisa, mengambil posisi mengepung dengan mata merah membara.

Jangan tertipu, Jake, mata merah itu bukan karena mereka marah. Tapi memang dasarnya saja merah. 'Red is the new Black'. Trend fashion tahun ini, mungkin.

Jacob tertawa pada canda tidak penting dan tidak lucu sahabatnya di saat seperti ini atas fakta yang sudah diketahui bersama itu, tapi konsentrasinya tak tergoyahkan.

Lekas selesaikan ini dan tolong yang lain! perintahnya, sebelum ambil ancang-ancang menyerang makhluk di sisi kirinya.

Siap! seru Quil, mengikuti pionir Jacob dan mengincar kepala vampir yang menyerang padanya dengan sorot kehausan.

.

Lewat sekian menit, nyata bahwa aliansi dua serigala berdarah panas bukanlah tandingan para vampir. Jacob dan Quil jelas di atas angin. Akhir pertempuran di cadas itu berakhir gemilang, dengan manuver penyelamatan cantik Quil di detik-detik terakhir ketika seekor lintah yang tersisa, yang melihat kawan-kawannya sudah hancur jadi potongan tak berbentuk, dengan putus asanya mengincar leher Jacob. Quil langsung menyambar tubuh si vampir, dibarengi dengan kerjasama manis Jacob yang langsung menyambut kepala si vampir ketika rahang Quil mencengkeram kakinya. Seketika tubuh si lintah terakhir itu robek menjadi tiga: sebelah kaki, tubuh buntung, dan kepala yang menggelinding bagai butiran nyiur. Maka sahlah aliansi itu keluar sebagai pemenang. Di sini, tentu saja.

Quil melonjak sementara mengirimkan gambaran dirinya melontarkan tos kemenangan ke kepala Jacob, jelas sangat bangga dengan tingkat pencapaian mereka berdua.

Patut kuakui metoda pelatihan Seth lumayan, Jake, ujar Quil begitu bangkit dari histerianya. Menghadapi serangan keroyokan, heh? Kita bahkan tidak mencapai kemajuan seperti ini waktu dilatih Jasper, ia menunjuk pada persiapan menghadapi para vampir baru sekitar enam tahun silam. Kalau Seth kembali nanti, kita semua harus lebih menghormatinya. Dia jelas bukan bocah cilik Seth yang dulu lagi.

Jacob hanya tertawa. Siapa juga tahu itu, Quil! Satu-satunya yang masih memandang Seth anak kecil di sini paling cuma kamu.

Ucapan Jacob membuat Quil menyalakkan protesnya, tapi Jacob mengabaikannya.

Jangan senang dulu, Quil. Kita makan terlalu banyak waktu di sini. Kau berubah dan bakar mayat mereka! perintah Jacob, dan belum apa-apa ia sudah melesat duluan.

Quil menggerutu, tapi melaksanakan juga perintah itu. Berubah balik, diraihnya dua bongkah batu dan sebuah ranting kering. Dengan keterampilan yang sangat terlatih, dibuatnya percikan api tak sampai lima kali benturan kedua batu api di tangannya. Percikan api itu jatuh pada ranting, mengubahnya jadi obor.

Tentu saja Sam sudah mengajarkan cara yang paling efektif dalam pelenyapan sisa-sisa vampir, karena sudah pasti dalam pertempuran mereka tak membawa geretan atau korek api. Bukan dengan membakar, melainkan dengan melumat kepala atau tubuh mereka hingga hancur jadi serpihan dalam sekali injakan. Namun Seth selalu menentang cara barbar itu, menyebutnya tindakan tidak manusiawi, beralasan ini itu soal para vampir juga dulunya manusia, bahwa mereka mungkin tidak melakukannya dengan keinginan mereka sendiri, dan lain sebagainya. Meski argumen Seth lemah jika dihadapkan pada fakta bahwa mereka berusaha melindungi suku dari para pemangsa, dan Hak Asasi Manusia atau Hukum Tawanan Perang jelas tidak berlaku bagi vampir, bagaimanapun seluruh anggota kawanan terpengaruh. Bagaimana tidak, pikiran Seth akan sangat masygul dan penuh rasa bersalah berhari-hari, meratapi nasib sang makhluk dingin yang malang, jika ia mendapati mereka bertarung dengan penuh kekerasan berlebihan yang menurutnya tidak perlu. Sejak Seth jadi Beta, tak ada yang berani melakukan teknik tanpa belas kasih itu. Kecuali jika mereka bertarung di tengah hujan atau tanah tertutup salju, hingga tak ada sedikit pun ranting dan kayu kering yang bisa dipakai.

Dengan kayu yang sudah menyala itu, disulutnya anggota tubuh terbesar yang pertama ditemukannya, lantas ia berubah buru-buru, mengumpulkan potongan-potongan tubuh yang berserakan dengan moncongnya, menumpukkan balok-balok dingin itu pada api unggun kecil yang pertama dibuatnya. Dengan segera api berubah besar demi mendapatkan bahan bakar yang mudah dilalapnya. Dan sesegera itu hutan dipenuhi bau manis yang aneh, seiring api melahap potongan-potongan tanpa bentuk itu dalam warna ungu yang mistis, sementara asap keperakan membumbung tinggi.

Memang aneh Jacob menyuruhnya membakar sisa pertarungan di situ, kala pertempuran yang sebenarnya bahkan belum berakhir. Tapi ia tahu alasannya. Dua, sebenarnya. Pertama, mencegah dibangkitkannya kembali setan-setan itu lagi oleh siapapun teman mereka setelah Jacob dan Quil pergi. Dan kedua, mendeklarasikan kemenangan mereka, baik pada para lintah maupun anggota kawanan mereka sendiri. memberi peringatan pada para lintah itu bahwa satu pertempuran telah mereka menangkan. Itu merupakan pukulan telak bagi para lintah, pastinya, sebuah titik balik, dengan adanya sejak awal mereka pasti merasa di atas angin. Di sisi lain, hal itu juga bisa mendongkrak moral kawanan, yang memang sudah terpuruk sejak Clark hilang.

Dan kepergian Jake, entah ke tempat Embry atau Harry, pastinya untuk segera memastikan titik balik itu menjadi awal lompatan yang baik. Memastikan takdir berpihak pada mereka. Tidak hanya sebuah perubahan kecil yang hanya akan kembali pada jalur awal: kekalahan telak bagi kawanan dan pemusnahan total. Ya, titik balik ini akan menjelma menjadi sebuah kemenangan bagi mereka.

Semoga.

Bumbungan asap makin tinggi. Api ungu berkobar dalam jilatan tarian yang mistis, melalap seinci demi seinci bahan bakar itu: tubuh-tubuh yang kini sudah separuh lebih berubah menjadi debu. Derak mengerikan terdengar tiap kali api membuat anggota tubuh itu retak dan rapuh, bagai kayu bakar, dan kemudian api yang sama mengubah susunan partikel itu dari luar. Granit yang keras berubah jadi selembut abu, melayang dalam kelam malam.

Melodi menghanyutkan tarian api yang mencengkeram jiwa itu mendadak buyar, ketika tiba-tiba Quil merasakan udara di sekitarnya berubah. Kehadiran makhluk lain, bukan anggota kawanannya, tak sampai dua ratus meter dari tempatnya berdiri.

Bukan vampir.

Serigala lain?

.

Dengan segera Quil berbalik dan berubah seketika itu juga, langsung berlari ke arah asal bau itu. Dan hampir seketika itu juga dilihatnya: tubuh keemasan serigala oranye yang sewarna singa, berdiri di bawah latar belakang kelamnya hutan. Bola matanya hitam, dan tubuhnya entah bagaimana tampak menyala dalam malam yang hitam.

Kawanan lain.

Dan menurut Embry, kawanan yang bertanggung jawab atas serangan besar-besaran vampir di jurang itu.

Kawanan yang menjebak mereka langsung berhadapan dengan para vampir.

Kawanan pembunuh Clark.

Tanpa basa-basi, tanpa berpikir, ia langsung menerjang.

Serigala emas itu jelas lawan yang tangguh. Ia dengan mudah mengindari serangan Quil, melakukan manuver-manuver yang membuat Quil kelimpungan. Makin lama serangan Quil makin membabi buta, tanpa arah yang jelas, dan ini membuat si serigala emas makin mudah menghalau serangannya. Tapi sekali pun ia tak pernah berusaha membalas atau menyerang balik. Hanya bertahan, memblokade, menghindar. Menjadikan Quil bulan-bulanan. Dan ini makin membuat Quil hilang kesabaran. Ia merasa diremehkan. Dan dengan teriakan keras membahana, diambilnya ancang-ancang dan dikerahkannya segenap kemampuannya, ketika ia menyerbu kasar secara frontal, menyeruduk tubuh si serigala emas.

Serigala itu menghindar, tapi justru saat itulah Quil langsung melakukan manuver tidak diduga. Ia melompat sekaligus berputar sekaligus dalam busur yang indah, langsung menyerang tengkuk si serigala emas. Serigala itu tidak punya kesempatan menghindar, dan satu terkaman mampir di bahunya.

Lenguhan keras membahana memenuhi udara, ketika Quil dengan serta-merta mengoyak bahu itu. Serigala itu mengibas kasar, berusaha membebaskan diri, namun itu hanya membuat Quil bereaksi makin kasar. Ketika ia akhirnya berhasil memisahkan dirinya dari terkaman Quil, jelas geram kemarahan dan ekspresi kesakitan muncul di wajahnya. Sebagian kulit dan dagingnya terenggut dalam cabikan moncong Quil.

Quil melompat mundur, dengan cabikan kulit si serigala emas masih bertengger di ujung taringnya. Ia melepeh dengan sorot puas di matanya. Sesungging senyum mengerikan di ujung moncongnya.

Rasakan itu, hei pembunuh! teriaknya menyalak, walau tahu kalimat itu takkan mampir ke kepala musuhnya. Di sisi sana, Jacob yang awas akan pertarungannya terdengar bangga, menyemangati sementara ia sendiri tengah terlibat pertarungan entah di mana.

Di sisi lain, Embry juga tengah bertarung. Menggemakan tuntunan dan perintah-perintah pendek pada Harry, sementara ia sendiri sibuk dengan dua vampir yang terus berusaha mencengkeramnya dari belakang. Ia jelas agak tersudut. Harry tidak lebih baik.

Ia harus segera menyelesaikan ini, kemudian menolong Harry dan Embry.

.

Ia sudah mengambil ancang-ancang akan menyerang lagi, ketika tiba-tiba satu suara bergema dalam kepalanya.

"Tolong hentikan!"

Suara itu ... suara berwibawa si Alfa Putih.

Bagaimana mungkin seorang Alfa lain bisa bicara padanya?

Ia berhenti, tapi mengeluarkan geraman mengerikan, memandang tajam pada si serigala emas. Serigala itu bangkit dan kemudian berdiri dengan tenang, sementara suara itu masih bergaung dalam kepalanya.

"Tolong hentikan pertarungan antarkawanan, Alfa, aku mohon…"

'Alfa', katanya?

Dan kemudian ia sadar. Bukan cuma ia yang mendengar, tapi Jacob juga, atau siapapun yang terkoneksi dengan pikiran Jacob. Tentu saja. Alfa adalah medium antarkawanan. Jika ia bicara dengan Jacob, jika Jacob tidak menyelubungi pikirannya dari kawanan, mereka adakan mendengar isi pembicaraan itu dari kepala Jacob.

Tapi … si serigala putih, memohon?

Jacob masih berkonsentrasi pada pertempurannya melawan dua vampir, tapi ia tetap terhubung dengan si Alfa putih.

"Sebutkan alasan mengapa anak buahku tidak boleh membunuh anak buahmu, Alfa!" sahut Jacob, seraya dengan bernafsu merenggut leher seekor vampir. "Kau sendiri telah membunuh anak buahku! Kau menjebak kami!"

"Pertempuran ini bukan tanggung jawabku, Alfa…," ujar si Putih lagi

"Siapa bilang itu bukan tanggung jawabmu! Ini semua skemamu untuk menjebak kami! Kau memanipulasi kami dengan membuat kami datang ke sini, ke tempat kau sudah menyiapkan sekompi vampir untuk membantai kami!"

Quil terperangah. Jacob ternyata telah sampai ke kesimpulan ini pula. Kesimpulan sama yang diambil Embry. Atau mungkin juga memang Jacob telah mengakses pikiran Embry untuk tahu bahwa semua itu jebakan.

"Tidak ada yang menjebak siapapun, Alfa! Sejak awal ini bukan sarang kami, ini sarang vampir! Karenanya kami melarang kalian datang."

"Bohong!" teriak Jacob, merenggut kasar dan mengoyak-ngoyak vampir lain yang menjadi lawan terakhirnya. Quil merasakan kengerian ketika ia mengawasi dari kepalanya, Jacob mendekati tubuh vampir yang masih bergerak-gerak, dan dengan penuh amarah menginjak kepala si vampir hingga hancur manjadi debu.

Gambaran visual adegan itu pastinya dikirimkan ke kepala si Alfa, entah itu bisa dilakukan atau tidak, yang jelas si Alfa sempat membeku sejenak sebelum kembali menjawab.

"Kami datang dalam damai, Alfa. Kita semua punya musuh bersama. Hentikan kecurigaanmu pada kami."

"Tidak ada alasannya kami akan percaya pada kalian!" teriak Jacob, kini berlari menuju tempat lain. Sudah jelas dalam kepala Quil, Jacob tengah mengendus bau Embry.

Namun tiba-tiba langkah Jacob terhenti. Di hadapannya menjelma sosok lain. Hanya sesaat Quil mendengar Jacob berbisik, Korra… dan kemudian pikirannya menghilang.

Ia langsung panik. Berusaha menghubungi Jacob, tapi tak jua ada suara dari kepalanya. Tidak juga ia bisa mendengar si Alfa putih itu lagi.

Dua kemungkinan: Jacob memasuki wilayah yang ditudungi vampir, atau ia sendiri yang mengurung pikirannya bersama si Alfa putih itu.

Yang manapun itu, ia tidak suka dengan keadaan tanpa suara ini. Ketika ia hanya memiliki akses terbatas terhadap suara-suara anggota kawanannya.

Serigala emas di hadapannya tiba-tiba memberi gestur aneh. Kepalanya meneleng ke satu sisi, seakan memberinya arahan untuk mengikuti langkahnya, sebelum berlari ke arah lain. Ia tampak mengendus sesuatu sebelum melanjutkan larinya. Quil berusaha berpikir jernih, tidak ada gunanya ia mengikuti karena bisa jadi itu jebakan. Tapi kakinya tidak, tubuhnya tidak. Tanpa bisa ia tolak, tubuhnya sudah berlari mengikuti si serigala emas. Berhenti setiap kali si serigala itu berhenti untuk membaui udara di sekitarnya atau tanah di bawahnya, dan kembali mengikuti ketika si serigala emas itu kembali berlari.

Namun tiba-tiba terdengar suara keras dari bawah tanah. Seakan sesuatu runtuh dengan suara yang sangat keras membahana, bergema dan bergaung tanpa henti. Sumbernya seakan dari arah jurang, namun merambat ke mana-mana, hingga termasuk ke bumi tempatnya berpijak. Bumi seakan bergoyang. Tanah di hadapannya retak begitu saja dan membelah, memisahkannya dengan si serigala emas. Untungnya Quil sempat melompat menghindari retakan itu. Ketika seluruh gerung itu berhenti, ia melihat rekahan besar menjelma di hadapannya, selebar sekitar tiga meter, menghujam dalam secara vertikal entah hingga kedalaman berapa meter di bawahnya.

Gempa bumi?

Namun jelas retakan hanya selebar itu sama sekali bukan halangan baginya. Serigala emas di seberangnya berhenti, seakan menunggunya. Ia melompat menyeberang. Dan begitu ia mendaratkan kaki di tanah di seberangnya, saat itu pula pikiran anggota kawanannya berlapis-lapis menerpa.

Harry. Masih bertarung dengan gagah berani di salah satu sisi hutan.

Adam dan Caleb. Bertarung juga di sisi lain jurang. Kondisi mereka juga parah, tapi bisa bertahan.

Embry. Pikirannya melemah, beberapa vampir berhasil mendaratkan gigitan di tubuhnya.

Oh, tidak, Embry! teriaknya, buru-buru mencari tahu di mana Embry. Tapi Embry bukan satu-satunya yang terancam, atau tumbang, selain Clark.

Ben terus meneriakkan nama Pete dan Collin. Dan juga Brady, yang terus menggumamkan kata-kata sama 'serigala putih' … 'vampir' … 'jebakan' … 'Collin tewas' … lagi dan lagi bagai kaset rusak.

Apa?

Quil berusaha mencerna.

Embry tumbang. Pete tumbang.

Serigala putih bekerjasama dengan vampir memasang jebakan.

Ia sudah tahu itu, tapi Brady mengatakannya dengan cara berbeda.

Brady! teriaknya, berusaha menyadarkan serigala yang jelas tidak dapat mempertahankan setengah kewarasannya itu. Ada apa? Jelaskan padaku!

Brady langsung tersadar, kelihatannya lega karena bisa mendengar suara lain selain Ben. Seketika itu juga, tanpa pendahuluan apapun, pikiran, memori, dan perasaan Brady menerpa Quil. Mencengkeram dalam kesadaran yang mengentak.

Serigala putih, dalam wujud manusia, muncul di tepi jurang. Mengorganisasi vampir, sementara pemimpin mereka yang bertangan buntung memanggilnya dengan sebutan 'Ibu'.

Dan Collin … bunuh diri … tertimbun gua bawah tanah...

Yang tadi itu bukan gempa bumi, tapi keruntuhan seluruh jaringan besar lorong bawah tanah.

Collin tewas?

Clark, Pete, Embry, dan Collin.

Serigala putih … Sosok yang muncul di hadapan Jake….

Pikiran Quil langsung panik.

Oh, tidak … Jake….

.


.

Catatan:

Aku ngerencanain chapter ini lebih panjang, tapi gtw kenapa aku nge-hang. Aku udah bikin setengahnya dan isinya kacau banget, jadi stop dulu sampe sini. Mungkin ini chapter terpendek kali ya….

Terus terang aja aku agak bingung, sumpah! Cerita ini jadi panjang banget, dan rasanya aku banyak nulis hal2 yang ga perlu. Panjang per chapter yang awalnya cuma sekitar 1500 kata jadi berlipat dua hingga empat kalinya. Di awal aku bikin, aku cuma ngerencanain sekitar 15 chapter sampai adegan ketahuan siapa si Korra, tapi ini? Hah… Bukannya aku ga seneng, malahan aku jadi terserap nulis cerita ini… (curhat) tapi rasanya ada banyak ide dan aku ga yakin aku bisa nulisinnya dg baik… begini kayaknya kalo jadi keranjingan… hahaha… sampe pacarku pun marah. Maksudnya, dia yang memperkenalkan aku sama Twilight. Awalnya aku cuek aja, cuma gara2 dia maniak-Edward, aku secara otomatis ambil pihak Jacob, dan sekarang malah aku yang terserap ketika semua euphoria berakhir… Bodohnya aku! Hahaha… (curhat)

Anyway, pleasssseee review… (jarang yang review jadi sedih )… aku minta ditunjukin bolong2 dalam ceritaku, yang pasti banyak, teori yang mungkin… Tentunya aku udah bikin teori/plot besar untuk semuanya tapi aku ga yakin itu bisa meng-cover semua.

R&R please

.