THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Rated M... Read on your own guard…
.
.
Limapuluh Lima – Ibu
Wednesday, March 06, 2013
02:35 PM
.
.
Sosok itu menjelma di hadapannya. Si serigala hitam.
Korra.
Tak bisa ditahan lagi ia menyalak, meraung. Di kepalanya bergema teriakan, "Teganya kau, Korra! Apa sebenarnya maksudmu?!"
Serigala itu sama sekali tak bereaksi atas teriakannya. Tentu saja. Ia tak bisa mendengar apapun selain salakannya. Ia berdiri dengan tenang, memandangnya. Sesaat pikiran Jacob kosong, sebelum kembali suara si Putih memasuki kesadarannya. Suara yang tegas dan berwibawa seperti biasa, hanya saja kehilangan ketenangannya.
"Alfa, aku tahu kau tidak bisa mengendus bau kawananmu karena indera kalian ditudungi. Mohon kau ikuti anak buahku!"
Dengan itu si serigala hitam mendadak berbalik. Memberi gestur agar Jacob mengikuti. Tapi Jacob tidak langsung mengikutinya. Pikirannya masih ditujukan pada si Alfa Putih.
"Aku menuntut penjelasan!" ia menggeram.
"Tentu," terdengar suara tegas dari arah sana. "Tapi tidak sekarang. Kau harus yakin bahwa kami tidak berada di pihak mereka. Sekarang kumohon, ikuti dia!"
"Dari mana aku tahu bahwa kau tidak berusaha menjebakku? Hanya karena kau mengutus adikku, belum tentu aku akan begitu saja mengikutinya."
"Karena aku tidak menjebakmu, Jake!" suara itu meraung setengah frustasi dalam kesadaran Jacob. Membuatnya terhentak.
Alfa putih memanggilnya 'Jake'. Itu wajar. Pastinya mereka sudah menyelidiki tentangnya. Jika mereka sampai tahu siapa Collin dan apa pangkatnya, tidak ada alasan mereka tidak tahu mengenai Jacob.
Tapi suara itu….
Nada itu….
Tidak mungkin.
Bahkan kata itu tak bisa terlepas dari lisan Jacob. Kata yang mendadak muncul di kepalanya. Satu nama.
Korra…
Korra … si Alfa putih?
Ia tak tahu apa yang harus ia pikirkan lagi. Detik itu otaknya benar-benar berhenti berpikir.
Kecurigaan Seth, kecurigaan Collin … salah?
"Jangan diam terus, Alfa! Anak buahmu dalam kesulitan!" suara itu kembali meraung. Tapi bukan lagi suara yang ia kenal sebagai suara adiknya. Suara si Alfa Putih yang berat namun tenang, suara yang dewasa. Kini memburu. Dan belum lagi disadarinya, ia sudah menghentakkan kakinya. Melesat mengikuti si serigala hitam. Sementara pikirannya benar-benar kacau.
Apa itu tadi?
Sesaat ia mendengar suara Korra, dan kemudian ia mendengar suara Alfa Putih yang biasa? Bagaimana bisa?
Ataukah … ini berhubungan dengan peran Alfa sebagai medium kawanan? Begitukah? Hanya begitu saja? Karena Korra memang salah satu dari mereka, dan Alfa putih bertindak sebagai corong Korra?
Kalau begitu … memang benar Korra bagian dari mereka.
Dan karena hanya ada satu betina lain di kawanan mereka selain si Putih, maka … serigala di hadapannya … benar-benar … Korra?
Sesuai kesimpulan Collin, tak ada kata lain.
Ia mempercepat larinya, berusaha merendengi tubuh hitam itu. Betulkah ia benar-benar adiknya? Betulkah si hitam ini adalah Korra? Anak buah si Alfa putih yang ingin mengambil alih kekuasaannya?
Kepalanya benar-benar kusut hingga ia bahkan tak tahu apa yang harus ia pikirkan.
Dan mungkin malah ia tidak perlu berpikir sama sekali.
Karena nyata memang si Hitam menuntunnya ke tempat itu. Tempat Embry diserang.
Tak ada jebakan sama sekali.
.
Dilihatnya padang yang hancur. Pepohonan tumbang dan pecah, tanah yang tak lagi berwujud, potongan-potongan tubuh beku termutilasi bertebaran. Kepala, tangan, kaki, tubuh tak berbentuk …
Tapi yang membuat jantungnya berhenti berdetak adalah kerumunan di ujung semua kehancuran itu. Entah berapa vampir, menumpukkan diri mengeroyok tubuh seekor serigala abu-abu. Tubuh yang sudah terbaring di tanah, tak bergerak.
Embry.
Dengan teriakan nyalang Jacob menyerbu. Dan di sisinya, si serigala hitam turut menyerang tanpa suara. Berperang bersamanya.
Embry masih hidup, demikian ia terus berharap. Embry bahkan masih sadar. Jika ia masih bisa mempertahankan tubuh serigalanya, masih ada sebersit kesadaran. Masih ada harapan. Ia bisa menarik, menghisap racun Embry. Ya, ia bisa melakukannya. Ia pasti bisa melakukannya.
Embry pernah diserang sebelumnya. Ia pernah digigit. Dan ia selamat. Embry akan melakukannya lagi. Keajaiban akan terjadi. Embry pasti masih bisa selamat.
Sahabatnya….
Sekilas ia melirik tubuh itu. Ujung-ujung cakarnya bergetar. Pikirannya tak terdengar sama sekali. Mata Embry masih mengerjap sejenak, sebelum bayang kehidupan hilang. Lenyap dari mata yang kini beku. Dan hanya dua detik, dua detik waktu yang dibutuhkan ketika tubuh besar berbulu itu lenyap, digantikan tubuh telanjang penuh cabikan dan bekas gigitan yang dibalut warna merah.
Embry! teriaknya histeris.
Hampir ia berlari ke arah tubuh itu, namun terkaman satu vampir menghalanginya. Jacob sama sekali tidak berpikir. Dengan kasar ia menghantam, mencabik. Tidak, tidak ada yang bisa menghalanginya. Tidak ada yang bisa melumatkannya kini, ketika ia merasa dunianya runtuh. Kawanannya hancur. Dan kini hanya ada pembalasan dendam.
Serigala merah kecoklatan itu mengamuk. Tak lagi mempertimbangkan gerak efektif, atau apapun. Membunuh dan mencabik adalah tujuannya. Dan ia tak lagi peduli apapun. Cakarnya mengoyak lawannya. Rahangnya melumat tangan dan kaki, mencabik-cabik hingga tak berbentuk. Kakinya menghantam sisa tubuh itu hingga hancur jadi serpihan.
Dan ketika ia berdiri, di atas padang tak berwujud itu, dengan kemenangan tergenggam di tangannya, ia merasa kosong. Melompong. Semua yang dikenalnya musnah tak berwujud. Kawanannya porak poranda. Embry tewas. Apa lagi yang tersisa?
Ia tak lagi mempedulikan apapun ketika menarik paksa panas dari tubuhnya, memaksa tubuhnya kembali ke wujud manusia. Berlari mendapatkan tubuh Embry.
"Embry," ia menepuk-nepuk pipi sahabatnya. "Embry, bangun … kumohon…."
Ia menguatkan diri untuk menyentuh nadi di leher Embry. Untung, ia masih dapat meraba sedikit detak jantung, walau lemah. Namun detak jantung itu mungkin takkan bertahan lama. Nanar mata Jacob memindai tubuh sahabatnya. Banyak luka gigitan. Terlalu banyak luka gigitan.
Tanpa berpikir ia mendaratkan bibirnya ke salah satu luka itu. Berusaha menghisap darahnya. Membuang darah yang terkontaminasi. Lalu berpindah ke luka lainnya. Mengulangi prosedur yang sama. Apakah upaya ini cukup? Apakah dengan membuang darah itu, ia bisa melawan hancurnya sistem tubuh Embry? Bisakah ia menghisap habis semua racun? Masih adakah yang tersisa? Berapa batas maksimal racun yang bisa ditoleransi oleh tubuh serigala? Belum pernah seumur hidupnya ia menghisap racun vampir sekali pun, sehingga jujur ia tak punya ukuran pasti. Bisakah Embry selamat? Ataukah semua sudah terlambat?
Darah Embry terasa aneh di bibirnya. Asin, asam, kecut dan berasa seperti karat, tapi juga ada rasa pahit yang aneh, dan rasa manis yang mengancam. Seolah lidahnya terbakar kala ia menghisap darah itu, dan bibirnya meleleh kala ia meludahkannya ke tanah. Diarasanya tetes yang terlepas dari mulut membakar kerongkongannya. Tapi ia tak peduli. Ia tak peduli jika ia yang akhirnya terpapar racun itu. Embry harus selamat.
Si serigala hitam itu berputar dari posisinya sekian belas meter dari dirinya dan Embry, setelah berhasil mencabik korban terakhirnya. Jacob sekilas memandangnya. Tubuh itu berdiri anggun, menatapnya dalam, lantas bergerak dengan kecantikan yang mempesona, berputar mengelilinginya dan mengendus pepohonan, udara, apapun di sekitar mereka seakan memastikan tak ada vampir yang masih tersisa. Dari gerakannya, ia tahu serigala itu berjaga. Agar tak ada ancaman lain datang sementara ia berusaha menyelamatkan Embry. Dan sesaat pikiran Jacob teralihkan. Ia tak pernah menduga, mengira, bahkan berimajinasi, bahwa wujud serigala adiknya akan mungkin secantik ini. Seanggun dan setenang ini.
Sudah lama ia membayangkan adiknya dalam wujud serigala, sejak ia mendapatkan daftar nama itu dari Sam. Jika ia berpikir tentang wujud serigala Korra—apapun warnanya, bahkan warna hitam sekalipun—di kepalanya selalu muncul bayangan serigala kecil yang hiperaktif, berlari sesukanya, melompat-lompat tak karuan. Melakukan banyak gerakan tidak penting. Ia lebih mudah membayangkan dirinya bertengkar dan berkelahi dengan Korra dalam wujud serigala, saling memaki, tetapi juga saling bercanda, ketimbang bersisian dalam diam, dalam ketenangan dan keheningan yang aneh. Rasanya seperti menghadapi Korra yang lain, yang tidak ia kenal.
Atau memang dia bukan Korra?
Tapi mungkin tak seperti itu. Korra adalah bagian kawanan asing. Kawanan yang lain. Kawanan dengan Alfa yang tenang dan berwibawa, begitu anggun dan sopan, tak peduli seperti apa sifat asli di baliknya. Kehidupan yang tidak ia kenal. Itu pastinya membentuknya dengan cara yang berbeda. Dan Korra yang selama ini ia kenal, Korra yang ceria dan menyimpan naluri pemberontak, itu mungkin samaran…
Ia tidak tahu.
Korra mendekat. Ujung moncongnya menyundul bahu Jacob. Ia tak bisa mendengar suara pikiran Korra, tapi ia tahu gadis itu, atau serigala betina itu, khawatir pada Embry. Ia tak bisa tidak mengangkat tangannya, menyentuh moncong serigala itu. Mengusapnya dan menepuk-nepuknya lembut.
.
Mendadak udara di sekitarnya sekali lagi berubah. Korra bangkit, gesturnya mengejang. Jelas ia menangkap sesuatu yang berbeda di udara. Dan benar saja, tak sampai beberapa detik kemudian, satu sosok melayang melompat dari ujung pohon ke ujung pohon lain, lantas mendaratkan kaki dihadapannya.
"Wah wah wah… Rupanya masih ada anjing yang tersisa," terdengar suara manis itu.
Jacob sudah berdiri dan menjauh dari tubuh Embry, siap akan berubah, ketika dikenalinya suara itu, wajah itu, tubuh itu…
Tak mungkin salah.
Si vampir bertangan buntung.
Ariana.
Ibu Korra.
Diliriknya Korra. Serigala hitam itu memandang tenang, sama sekali tidak menampakkan ekspresi mata terkejut, atau bahkan menggeram. Hanya menatap dengan sikap tubuh siap menyerang. Matanya lekat pada si vampir, memperhitungkan tiap gerakannya.
Jacob maju, masih dalam wujud manusia, memberi kode pada Korra untuk mundur. Serigala betina itu mengibaskan ekornya dengan kasar, tapi mundur juga dua langkah.
"Mengapa kau menyerang kami?" teriak Jacob.
Wanita itu tertawa. "Dan memang siapa kau, berpikir kau butuh penjelasan? Semua suku ini harus musnah!"
"Apa Volturi mengirim kalian?" serunya.
"Apa hubungannya dengan Volturi?" ia mendengus, lantas bicara dengan nada berayun yang dibuat-buat. "Hei Nak, kau membuatku teringat pada anak-anak kecil di dasar jurang tadi. Meributkan Volturi dan sebagainya. Sungguh berani mereka, hanya berempat melawan berlusin-lusin kami. Sayang sekali mereka tentunya sudah pindah ke alam lain."
'Anak-anak di dasar jurang'?
'Pindah ke alam lain'?
"Apa yang kaulakukan pada mereka?!" geram Jacob.
"Oh, tentu saja aku mengirimnya ke ibunya di neraka. Dan setelah ini aku akan mengirim ayahnya juga … Dan semua keluarga Black. Manis sekali … Kekuasaan tirani keluarga Black akan berakhir selamanya…."
Mata Jacob mengembang. "Keluarga Black?!"
Ia menyebut 'kekuasaan tirani'?
"Oh, apa itu bukan nama pemimpinmu, Jacob Black II, putra William Black Sr.?" ia mengumandangkan tawa mengerikan. "Ya, Nak, pemimpinmu sudah mati. Serigala merah bodoh… Bunuh diri dengan membiarkan dirinya tertimbun gua bawah tanah. Mungkin dia pikir dia bisa membunuh vampir dengan manuvernya itu. Entah mereka memang benar-benar bisa mati atau tidak, tapi toh yang manapun tidak masalah untukku, tak peduli berapa banyak yang ikut ke alam sana bersamanya. Mereka toh hanya pion tak berguna untukku, yang mudah kugantikan."
Makhluk itu kembali tersenyum, dingin dan beku. Membuatnya menggigil.
"Sayang sekali aku tak berkesempatan menghisap darahnya," ia mendengar lagi suara itu. Gemerincing lonceng yang membuat telinganya sakit. "Darah Black selalu membuat klan kami lebih kuat, jika dongeng itu bisa dipercaya."
Dongeng?
"Kau berilusi, Lintah!" seru Jacob dengan seringai di bibirnya. "Tidak ada darah shifter yang mampu memberi kekuatan apapun. Darah kami sama beracunnya bagi kalian para vampir seperti venom kalian pada kami."
Tapi si vampir perempuan itu tak bergeming. "Oh benarkah?" ia tersenyum sinis. "Kau yakin pada mitos bodoh itu?"
Sesaat Jacob terkesiap, seringainya hilang. Ia tidak tahu harus bereaksi apa di hadapan senyum dingin makhluk itu.
Tentu saja ia percaya. Itu yang dikatakan Carlisle dan Edward. Pastinya begitu, kalau tidak mengapa para bangsawan Volturi itu takut pada mereka? Berkehendak tidak menyentuh mereka? Sampai membuat pakta gencetan senjata segala?
Tapi setelah ia pikir-pikir, seluruh kejadian sekian bulan ini. Ia digigit, Embry juga, dan semua yang terjadi hari ini. Kalau darah mereka memang beracun, tak mungkin para vampir itu bisa lolos.
"Itu cuma mitos, tentu saja," perempuan itu mengibaskan tangannya dengan santai. "Darah busuk kalian memang tidak enak, tapi itu penyedia kekuatan yang sangat besar. Tapi aku tak butuh darah makhluk keji seperti kalian. Tidak Black, atau satu pun dari kalian para Quileute busuk," lanjutnya. "Tapi tak apa. Aku ke sini hanya ingin menghancurkan, bukan makan…"
'Hanya ingin menghancurkan'…
'Pemimpin'…
'Serigala merah'…
'Bunuh diri'…
Astaga.
"Kau membunuh Collin?!"
Vampir itu menyipitkan mata. "Apa maksudmu dengan 'Collin'?"
Berusaha keras menahan darahnya yang sudah mendidih, Jacob berusaha menghubungi salah satu anak buahnya, siapapun. Tapi tak kunjung ada jawaban hadir dari sisi lain. Kepalanya hanya diisi pikirannya sendiri.
Tapi memang tak perlu koneksi dengan anak buahnya, atau bahkan memori langsung dari kepala Brady, Ben, atau Pete, untuk tahu yang terjadi.
Ya. Wanita ini, Ariana, pastinya datang kembali ke tanah ini, salah menganggap Collin sebagai dirinya karena warna bulu mereka yang serupa, dan membunuhnya.
Berarti sejak awal pun memang ialah incaran mereka.
Jacob membiarkan seiris senyuman kejam tampak di bibirnya, sementara matanya berkilat menyala-nyala oleh api dendam.
"Kau bilang kau telah membunuh seekor serigala merah ya? Alfa serigala Quileute?" ia mengepalkan tinju kuat-kuat. "Aku tak peduli siapa kau, atau apa aku akan membunuhmu tepat di depan putrimu!" serunya. "Sekarang akan kuperlihatkan dendam serigala merah yang bangkit dari kuburnya!"
Dan tanpa banyak basa-basi, seketika itu juga ia melompat. Tubuhnya hanya sedetik menerjang dalam wujud manusia, sebelum kemudian meledak di udara, menerkam dalam wujud serigala. Moncongnya mengarah pada kepala si vampir, langsung bertekad membuntunginya.
Mata si vampir membelalak sesaat, namun ia bergerak tepat waktu menghindar. Melompat menjauh dan berhenti sekitar sepuluh meter dari Jacob, menatapnya nanar.
"Kau…" ia tak bisa menahan getar kebingungan dan ketidakpastian dalam suaranya. "Jacob?"
Bahkan makhluk itu tak perlu memiliki kemampuan telepati antarserigala dalam kawanan, atau bisa bicara bahasa serigala, atau bisa membaca bahasa tubuh hewan, untuk dapat menangkap seringai konfirmasi Jacob.
"Lalu siapa serigala di dasar jurang itu?" tanyanya, lebih pada diri sendiri.
Itu sepupuku, Bodoh! teriak Jacob, tapi tak ada yang keluar dari lisannya selain gonggongan. Tapi rasanya itu pun sudah lebih dari cukup, karena kini sesungging senyum kembali tampak di wajah makhluk beku itu.
"Siapapun tak masalah," ujarnya datar, mengabaikan topik itu begitu saja. "Cuma satu remah tambahan tak berguna…"
Brengsek, apa maksudmu remah tambahan tak berguna?! Satu di antara setumpuk korbanmu? Sialan, dia Betaku, Bajingan! Jacob kembali menyalak penuh amarah. Lisannya penuh kata-kata makian, dadanya menyala oleh bara dendam, hatinya sesak oleh rasa kehilangan, batinnya frustasi oleh kebimbangan.
Ya, bimbang. Bukan deminya. Tapi demi Korra.
Korra di sana, menyaksikannya menghadapi ibunya sendiri.
Apa kelak reaksi Korra? Memilihnya? Menolongnya? Atau memilih ibunya?
Tapi kemudian Jacob menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Bimbang? Melawan setan ini? Tidak.
Dengan satu auman nyalang, dibuangnya perasaan yang menguasai hatinya dan kembali diserangnya makhluk itu. Kali ini pertarungan berjalan lebih lama, lebih penuh determinasi ketika kedua pihak bertekad tidak kalah. Tepat ketika makhluk itu menghindari serangannya, Jacob berbalik begitu mendadak, langsung menerkam. Makhluk itu kembali melompat, tapi Jacob tak kenal kata menyerah. Satu cakaran dialamatkan pada punggung lintah itu, tapi lintah itu jelas lebih lincah. Satu manuver cantik, dan kemudian satu terkaman si vampir mampir di tubuh Jacob.
Jacob meringis, merasakan perih sensasi dingin racun yang mengalir melalui luka itu. Untung ia segera berontak, melepaskan diri dari taring si lintah. Pandangannya berkunang. Tapi diarahkannya cakarnya sendiri ke luka itu, membuat sayatan panjang, guna memberi celah bagi darahnya sendiri yang terkontaminasi untuk mengalir keluar. Tak jelas itu berguna atau tidak, tapi yang jelas ia tak boleh berhenti berharap.
Si vampir tertawa.
"Agresif, Jakey? Rupanya kau memang tidak berubah... Bukankah dulu pernah kubilang agar kau lebih hati-hati, perhitungan dengan gerakanmu sendiri? Ck. Seharusnya kau dengar perkataan Auntie Ars-mu dulu, Jakey Sayang…."
Ia tersenyum indah, namun anehnya senyum itu terasa aneh. Kejam. Tidak seperti senyum yang ia kenal.
Mengapa alam bawah sadarnya berusaha mengaitkan senyum itu dengan senyum sosok lain?
.
.
Senyum wanita itu.
Ariana, sosok lembut di bawah sinar matahari. Gaun musim panas yang ringan berkibar-kibar. Topi jerami lebar. Rambut hitam nan ringan melambai. Debur ombak di latar belakang. Langkah-langkah bagai tarian. Suara lembutnya kala memanggil, "Jakey Sayang, jangan terlalu jauh masuk ke dalam air. Nanti kau terbawa ombak…."
Apa yang ia lakukan di pantai hari itu? Mengejar kepiting yang terselip di antara bebatuan karang? Oh ya, itu si makhluk berkaki delapan itu, menyelinap di celah sempit di antara dua batu karang besar di bibir air. Jacob mengejarnya, berusaha menjulurkan tangannya sepanjang mungkin guna meraih kepiting itu. Sayangnya si kepiting menghindar. Jacob mencari-cari, menemukan celah lain yang lebih besar, namun terletak di tempat yang airnya lebih dalam. Tanpa ragu ia melangkah ke sana.
Ariana menyerukan sesuatu, suaranya tetap lembut, namun tak lagi tenang. Mengejarnya mendekat, berseru khawatir, "Jake! Kubilang jangan masuk ke sana! Bahaya!"
Dan sosok seseorang lain di belakangnya. Laki-laki. Tertawa di kejauhan sambil duduk di sebuah tunggul pohon tumbang, di hadapan selembar tikar piknik kotak-kotak. Keranjang bekal tertata di atasnya.
Ayahnya?
Dan lantas ia yang menggeleng bandel, malah melangkah dengan tetap berusaha menyeimbangkan diri di atas karang berlumut, memasuki area berbahaya. Ia berpegangan pada salah satu sisi penuh tonjolan karang besar itu, berusaha menjangkau sekaligus memojokkan si kepiting. Kepiting yang dikejarnya berhasil dipojokkan, dan senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Namun ketika ia menjulurkan tangan menggapai kepiting itu, tak diduga capit kepiting itu melukai tangannya. Ia terkejut, bukan rasa sakit tapi reaksi alamiahnya membuatnya menarik tangan itu secepat kilat. Sayangnya ia jadi kehilangan pegangan atas karang itu, telapak tangannya tergores, dan kakinya terselip karang licin berlumut. Ia jatuh menembus air, megap-megap kehabisan napas. Darah mengalir dari luka di tangannya, perih oleh asinnya air.
Kemudian tangan yang menggapai pinggangnya, mengangkatnya dari dalam air.
"Apa tadi kubilang, Jakey? Astaga, kau harus lebih hati-hati …. Pikirkan dan perhitungkan apa yang akan kaulakukan sebelum kau bertindak. Oh Tuhan, Sarah akan membunuhku karena ini…."
Perempuan itu membawanya dalam gendongannya, melintasi pantai berbatu dan menaruhnya di pangkuan sang ayah. Ia berontak, mengaduh dan menangis karena luka bekas capitan dan goresan karang di tangannya, namun sang ayah dengan lembut mengecup keningnya, lantas membasuh semua luka itu dengan air hangat dari termos. Pelukan sang ayah membuatnya diam, mampu menahan sakit, hanya meringis sesekali sementara jemarinya mempermainkan rambut panjang pria itu. Sang ayah tertawa, lantas menatapnya dan wanita itu bergantian, sorot matanya penuh rasa sayang.
"Kau harus dengar perkataan Auntie Ars, Jakey…," ujarnya.
Lantas ia kembali memandang wanita itu, yang kini duduk di sisinya, membuka kotak makan. Tawa riang perempuan itu berderai ringan ketika satu lengan lain sang ayah, yang tidak memeluk pinggang anaknya, menariknya mendekat, dan akhirnya mencium bibirnya.
Auntie Ars….
.
.
Ariana….
Jacob menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan bayangan itu dari kepalanya. Bayangan yang berusaha diblokade dari kepalanya selama sekian tahun. Tidak akan ia biarkan bayangan itu kembali menguasainya. Terutama tidak kini, ketika ia kembali dalam wujud yang sama sekali berbeda.
Siapapun itu, itu bukan Ariana.
Sosok itu telah mati, di hatinya, tiga belas tahun lalu.
Sosok itu telah mati, di Bangkok, empat bulan lalu.
Sosok itu takkan mungkin hidup lagi, bahkan walau raga yang sama muncul kembali di hadapannya.
Mundur jelas bukan pilihan. Ariana di hadapannya, Korra di belakangnya, tapi tampaknya bahkan Korra pun tak peduli jika ia harus menyaksikan ibunya tewas di depannya. Tentu gadis itu menekan perasaannya sendiri, berusaha tampak tegar dan berani. Dengan kehadiran kawanan lain selama ini, bukan tidak mungkin Korra memang sudah mengetahui hal ini sejak lama, dan mempersiapkan diri untuk pertarungan ini.
Pasti begitu. Jika memang ini adalah sarang mereka, para vampir. Dan kawanan asing itu memporakporandakan sarang mereka, artinya ini bukan kesempatan pertama Korra mengetahui bahwa ibunya adalah bagian dari mereka. Kemungkinan pertarungan menghadapi ibunya sendiri. Pasti itu menjelaskan kericuhan sikap Korra belakangan, selalu berada dalam mood yang aneh dan melompat-lompat. Dan sikap tenangnya kini, pasti itu karena akalnya, rasionalitasnya, telah menang atas emosinya selama ini. Pertarungan ini bukan antara ibu dan anak. Ini adalah antara serigala dan vampir.
Tugas.
Tapi bagaimanapun, ia takkan biarkan Korra turun tangan kali ini. Ia tahu kekuatan Korra, pernah ditolong dan pernah pula bertempur bersamanya. Ia tahu gadis itu lebih dari mampu untuk melawan, lebih lagi menjatuhkan seekor vampir buntung. Tapi ia tak mungkin membiarkan hal segila itu terjadi. Ia mungkin tak pernah benar-benar peduli pada kedua ibu dan anak itu tapi ia tahu, mereka tak mungkin bertarung. Tak boleh bertarung. Takkan ia biarkan mereka bertarung.
Ia memberi kode pada Korra sekali lagi agar serigala hitam itu pergi, tapi Korra tak beranjak. Matanya masih terpaku pada mereka, memandangnya dengan tenang.
Terserah jika kau ingin menyaksikan pertarungan ini, Korra. Tapi jangan salahkan aku jika aku terpaksa membunuh ibumu! seru Jacob, walau ia tahu kata-katanya takkan sampai pada si serigala hitam.
Jika ia diberi pilihan, mungkin ia lebih suka tidak membunuh Ariana. Selalu ada kesempatan kedua, demikian ajaran Carlisle. Ariana bisa memiliki pilihan lain. Vegetarian. Dan dengan begitu juga, seluruh hubungannya dengan Korra yang rusak, memiliki kesempatan untuk pulih.
Tapi pilihan itu tidak ada sekarang. Sekarang, setelah seluruh kawanan hancur. Setelah Ariana jelas hadir sebagai pemimpin yang mengorganisasi serangan itu. Setelah mereka membunuh Collin. Setelah ia sendiri mendeklarasikan untuk menghabisi keluarga Black.
Clark, Embry, Collin….
Oh ya, memang tak ada pilihan untuk mundur. Atau penyelesaian damai.
Ia menabahkan diri, berusaha lebih fokus pada pertarungannya sendiri. Tapi kali ini ia berusaha menjaga kepalanya tetap dingin. Ibu Korra atau bukan, pemimpin mereka atau bukan, vampir ini jelas bukan sembarangan. Gerakan lintah itu hati-hati. Tadi saja satu serangannya bisa dielakkan dengan mudah. Dan mengingat selama ini, mereka selalu mengawasi kawanan, menyerang dengan taktis, mereka pasti telah mempelajari gerakan kawanan, memperhitungkan.
Ya, seperti kata Sam. Vampire Putty Patrollers yang diutus hanya untuk menyelidiki, pion pengukur kekuatan. Dan kini sang jenderal sendiri yang muncul di hadapannya.
Brengsek.
"Entah mengapa takdir mempertemukan kita dengan cara yang aneh, Jakey," wanita itu kembali bicara sementara matanya tak lepas darinya, mengukur gerakannya dengan hati-hati, menilai. "Dan serigala di dasar jurang tadi? Aku salah mengenali, dan kini serigala yang serupa muncul lagi di hadapanku. Huh, anggap saja itu goresan takdir. Anggap saja aku berhutang satu penjelasan mengapa aku patut mengambil nyawanya. Toh kelak kau akan bergabung juga dengannya di neraka, dan mungkin kau bisa menyampaikan salamku pada roh penasarannya."
Jacob menggeram. Bisa-bisanya makhluk ini bicara begitu tenang….
"Kurasa kau tahu jawabannya, Jakey. Tiga belas tahun lalu, apa yang kaulakukan padaku. Apa yang membuatku tertuntun pada takdir ini. Apa yang telah kaulakukan pada adikmu sendiri…"
Apa yang ia lakukan pada Korra?
Apa yang ia lakukan, tiga belas tahun lalu?
"Kau mengusirku, Jake. Manis sekali, kau mengusirku. Membuat suku mengusirku. Dengan sepatah kata. Aneh sekali Billy begitu mudahnya mengikuti keinginanmu. Atau mungkin memang ia sudah tak lagi peduli padaku setelah ia menganggapku bertanggungjawab atas kematian istrinya. Istri yang bahkan tak kusentuh. Yang mati atas kesalahannya sendiri."
Mengusir?
"Aku tak peduli jika aku hidup jauh dari suku busuk ini, Jake. Hanya tempat muram yang tidak memberi janji apapun. Aku jelas bisa hidup di luar, membuktikan diriku mampu. Tapi lantas kutukan itu mampir pada adikmu. Dan itu karena kau mengusir kami!"
Apa maksudnya?
"Ya, Jakey. Ia tidak seharusnya berubah. Sekian ratus tahun gen itu hanya aktif pada anak-anak lelaki. Aku tahu, Billy bercerita bagaimana orangtuanya mempersiapkannya selama ia muda. Aku tahu, Billy bercerita bagaimana ia berencana mempersiapkanmu. Adikmu tak seharusnya mengalami semua ini, jika ia ada di rumah. Jika ia tidak ada di tempat dan waktu yang salah, menjadi satu-satunya pemilik gen serigala di tempat itu, dan gennya terpaksa mengalami reaksi paparan langsung menghadapi ancaman vampir. Itu salahmu, dan itu salah suku kalian, yang menurunkan gen itu."
Jacob menggeram, menahan gejolak batinnya.
Astaga. Bagaimana mungkin Ariana menyalahkannya untuk sesuatu seperti itu?
Mitos itu jelas salah. Jenis kelamin sama sekali tak berhubungan dengan aktivasi gen. Leah sudah membuktikannya. Jika Korra berubah, itu sama sekali tidak aneh. Tidak sepatutnya Jacob disalahkan karena itu. Korra bisa tetap ada di La Push dan ia tetap punya kesempatan yang sama untuk berubah. Dia jelas bukan pilihan terakhir hanya karena ialah satu-satunya pemilik gen serigala di suatu tempat.
Pastinya Ariana tidak tahu soal itu.
Atau perempuan itu gila. Dia tidak berpikir lurus.
Bagai menduga jalan pikirannya, perempuan itu tertawa. "Kau berpikir betapa bodohnya alasanku itu? Betapa tidak rasionalnya? Oh Jakey, kau akan tahu ketika kau menghadapinya, batas antara rasionalitas dan irasionalitas sepenuhnya buyar jika kau ada di posisiku."
Oh, ya, dia memang gila.
"Bertahun-tahun aku ada dalam kehampaan begitu putriku berubah. Kau tidak tahu bagaimana rasanya, ketika satu-satunya alasan bagimu menjalani hidup tidak lagi menjadi seseorang yang kaukenal. Dan lebih lagi ketika ia terenggut darimu. Lepas dari tanganmu. Mati, tak pernah bisa kaulihat lagi."
Detak jantung Jacob berhenti.
'Mati'? 'Tidak terlihat lagi'?
"Tapi takdir buruk tak henti menggayutiku. Seolah mimpi. Tiba-tiba muncul serangan mendadak pada suatu malam. Aku sudah yakin dan bersiap akan kematianku, setidaknya itu akan menjadi akhir yang bagus. Tapi tidak, aku terbangun dalam wujud yang sama sekali berbeda. Kutukan lain. Darah yang dingin. Harapan memang tidak pernah seindah kenyataan."
Ia tertawa sinis dan Jacob tahu betapa ironis dan buruk horor itu.
"Kau tahu betapa buruk hal ini. Ah, tidak, kau tidak mungkin tahu. Kau tak pernah dan takkan pernah mengalaminya. Terjebak dalam lingkaran takdir yang aneh. Komedi tragis. Aku, ibu seorang shifter, orang yang mengajari putriku semua yang seharusnya ia tahu, berakhir menjadi musuh mereka, mangsa mereka. Tapi tak harus aku berkubang dalam neraka itu. Lagipula, putriku sudah mati. Siapapun ia, ia bukan lagi Korra. Ia sudah mati sejak awal, sejak detik ia berkembang di rahimku. Sejak detik gen bodoh kalian meracuni darahnya."
Mereka masih saling tatap, bergerak dalam formasi melingkar, saling memperhitungkan jarak.
"Namun kurasa masih ada juga suatu takdir baik di nasib burukku," ia tersenyum aneh. "Suatu makhluk, kuno, sangat kuat, mendatangiku. Entah ia sengaja melacakku atau memang takdir mempertemukan kami. Yang jelas ia dan aku mempunyai kesamaan: kebencian kami pada kalian, suku ini, darah Black."
"Kami memiliki dendam yang sama. Nasibnya bahkan lebih buruk dan lebih tragis dari siapapun. Moyang kalian, yang kalian puja-puja setinggi langit, makhluk keji dalam balutan status sebagai Alfa dan gelar pahlawan. Orang yang sama yang telah menghancurkan keluarganya, dalam kebencian tidak berdasar. Pembunuh berdarah dingin, lebih dingin daripada vampir. Tega menumpahkan darah keturunannya sendiri di ladang pembantaian untuk alasan yang seharusnya adalah kesalahannya sendiri. Tidak hanya mengusir, tapi juga memburu mereka di tanah mereka sendiri, tanpa berpikir dua kali."
Mata Jacob membelalak.
Makhluk berstatus Alfa? Moyang mereka?
Selama sekian generasi, hanya ada satu keluarga Alfa di suku Quileute. Dan ia sudah menyebutkannya sebelumnya.
Dendam pada darah Black, ini sudah jelas.
Siapa? Siapa nenek moyangnya yang menyebabkan semua rantai dendam ini?
Alfa terakhir yang ia tahu adalah Ephraim Black, dan itu sudah 70 tahun yang lalu. Sebelumnya, salah satu di antara ayah Ephraim, Joseph Black, atau kakeknya, Jacob Black I. Entahlah, ia lupa. Ia tak tahu lagi yang di atasnya.
Dan apa maksudnya dengan 'menumpahkan darah keturunannya sendiri'? 'Tanah mereka sendiri'? 'Alasan yang seharusnya kesalahannya sendiri'?
Mengapa dendam itu mengambil bentuknya kini? Di saat ia menjadi Alfa? Mengapa dendam itu tak lagi ditujukan hanya pada keluarga Black, tapi juga seluruh Quileute?
Brengsek. Seharusnya ia lebih memperhatikan urusan silsilah atau sejarah keluarga yang diceritakan Billy dan Old Quil. Jujur saja, bukan cuma rumit, topik itu memang membosankan. Ia agak malas memperhatikan, karena ujung-ujungnya selalu mendarat pada soal bodoh 'dirinya adalah keturunan Kepala Suku terakhir dan bla-bla-bla', semua hal menyangkut darah dan hierarki dan segala formalitas yang membuatnya tidak nyaman. Sejauh ini hanya Collin yang tahan mengutak-atik pohon silsilah. Motif anak itu sudah jelas: mencari-cari gosip panas seputaran keluarga, sama sekali tidak menaruh hormat pada nenek moyang mereka yang sudah meninggal.
Tidak, sekarang sudah jelas bahwa Collin ada benarnya. Jika saja ia lebih memperhatikan soal ini, mungkin ia bisa melakukan sedikit tindakan preventif. Memperbaiki kesalahan nenek moyang mereka di masa lalu, misalnya, jika itu bisa dilakukan. Setidaknya dengan mengetahuinya, mungkin ia bisa mencegah hal seperti ini terjadi. Atau minimal mengerti motif mereka, atau ke mana arah pembicaraan ini. Walau mengerti pastinya berbeda dengan memahami, apalagi bertoleransi.
Mungkin ia seharusnya tak bisa memandang sebelah mata pada Collin, setelah jelas bahwa semua hal bodoh yang si badung itu lakukan ternyata punya sisi baik. Ya, ia patut sedikit menaruh hormat pada sepupunya itu. Bagaimanapun ia harus. Collin sudah menjadi bagian dari 'roh para nenek moyang yang mengawasi mereka dari atas sana' sekarang.
Hahaha, ironis. Mengapa ia justru memberi perhatian kini, setelah semua begitu terlambat?
"Intinya, aku punya alasan kuat," lanjut Ariana. "Dan kehadiran 'Sang Ibu' tak hanya menguatkan alasanku, menguatkan tekadku, tapi juga memperkokoh kekuatan kami. Hingga datangnya hari ini."
Sang Ibu?
Iakah yang ada di balik seluruh penyerangan ini? Aliansi Ariana dan 'Sang Ibu', semua detail yang mereka rencanakan, menggiring pada pembalasan dendam ini? Iakah yang dikatakan 'makhluk kuat, kuno' itu? Seekor vampirkah?
Atau….
Entah mengapa pikiran Jacob menjelajah mengingat sesuatu yang sudah lama ia lupakan. Sesuatu dalam memorinya yang pernah singgah namun segera lenyap begitu saja.
Sekian bulan lalu. Acara api unggun. Cerita Old Quil.
Makhluk kuno…
Kierra…
.
Ya. Kierra memiliki dendam. Pada suku Quileute yang mengusirnya. Pada Suku Quileute yang membentuknya. Pada Suku Quileute yang mengabaikan ibunya dan dirinya. Secara spesifik bahkan pada keluarga Shi'pa, leluhur keluarga Black. Memang bukan mereka yang secara langsung menggulingkannya dari takhta dan membuangnya. Tapi Kaliso, serigala yang mengkudeta Kierra, sudah jelas terkait dengan mereka. Bukan tak mungkin mereka merencanakan semua dengan Kaliso, namun pada akhirnya balik mengkhianati Kaliso, begitu ternyata kepemimpinan Kaliso tidak lebih baik.
Ya. Kierra mungkin dianggap mati. Tapi tidak. Ia hanya diusir. Tepatnya, rohnya yang diusir. Tapi Kierra abadi. Rohnya bisa memasuki makhluk hidup lain. Menggerakkannya bagai boneka.
Kierra adalah Alfa. Ia pastinya mengerti tentang para werewolf. Kekuatan mereka, kelemahan mereka….
Kierra memiliki dendam dan datang kembali. Mempengaruhi, mengipas-ngipasi Ariana. Dan dengan bantuannya, mengubah segerombolan vampir….
Oh ya, Sang Ibu itu sudah pasti Kierra.
Astaga, mengapa ia tak pernah memikirkannya? Jawaban tentang semua ini sudah hadir di depan matanya berbulan-bulan!
Itu pastinya yang menjelaskan mengapa para vampir yang menyerang mereka punya karakteristik yang tidak normal, berbeda dengan vampir lain. Cakar tajam, serangan berkelompok, gerombolan liar yang lebih serupa binatang yang dikendalikan insting ketimbang para vampir beradab lain… Kierra setengah-vampir, dan Ariana memiliki darah Quileute, darah serigala. Mereka pasti dapat menciptakan vampir dengan jenis yang berbeda, sentuhan karakteristik serigala dalam wujud makhluk-makhluk beku.
Ya, masih untung ia tidak benar-benar menciptakan werewolf sungguhan. Anak-anak Bulan. Makhluk yang dikatakan Aro….
Dan soal 'darah Black' yang menguatkan mereka tadi, yang disebutkan Ariana…. Tentu saja, jika makhluk ini adalah jenis yang lain, diciptakan oleh racun yang mengandung darah serigala di dalamnya, pastinya darahnya adalah makanan menggiurkan bagi mereka.
Sudah berapa vampir yang dua makhluk ini ciptakan selama ini? Empat bulan ini? Lebih dari lima puluh, mungkin malah seratusan. Bagaimana bisa jumlah sebesar itu bisa lewat begitu saja dari pengawasan Volturi? Bagaimana mungkin para bangsawan sok-kuasa itu membiarkan begitu saja pertumbuhan vampir baru, mengacau di kawasan Semenanjung Olympic?
Huh, seolah ia patut mempertanyakan itu…. Volturi pasti senang kalau sukunya musnah. Suku musuh alami para vampir. Persetan pakta gencetan senjata, mereka bahkan tidak perlu turun tangan langsung. Sudah ada yang memusnahkan suku Quileute. Dan tidak diduga, justru musuh dari dalam. Anggota suku itu sendiri. Anggota yang terasing, tapi tetap saja pernah menjadi bagian dari mereka. Ariana dan Kierra.
Dan motifnya adalah dendam keluarga. Sial. Seharusnya ia tahu ini. Ibu tirinya, tidak lain, dan satu lagi nenek moyangnya, keturunan Taha Aki.
Tidak, Kierra mungkin keturunan Taha Aki, tapi sudah jelas bukan moyangnya. Seluruh keturunan Taha Aki musnah pada era pemerintahan Kierra, kecuali keluarga Shi'pa. Keluarga pemilik gen dari galur perempuan terakhir, karena semua pria shifter telah dibantai dalam pemberontakan melawan Kierra. Kaliso, satu-satunya pria yang tersisa, mati di tangan keluarga itu. Dan semua perempuan yang memiliki gen kuat menjadi inang Kierra, yang artinya mereka juga sudah mati tanpa keturunan. Gen keluarga Black yang mengalir di nadinya datang dari satu cabang yang tidak diperhitungkan. Yang mungkin kekuatannya paling lemah.
Brengsek. Artinya, bagaimanapun, darah Kierra lebih unggul darinya. Gen yang lebih kuat, darah yang lebih murni. Dan dia Alfa pada masanya. Membunuh sekian shifter, keturunan langsung Taha Aki, dengan mudah. Belum lagi ditambah bahwa ia adalah hibrida vampir dan serigala, satu-satunya di seluruh dunia.
Sial!
Entah mengapa syaraf Jacob mendadak tegang. Rasa dingin menjalari bulu tengkuknya.
Takut? Begitukah? Ia takut oleh kekuatan Kierra?
Ia, Jacob Black II, Alfa serigala Quileute, takut?
Tidak. Ia satu-satunya serigala keturunan Taha Aki, selain Kierra, sekarang. Koreksi, tentu itu salah. Pastinya dengan keluarga Shi'pa menjadi satu-satunya keturunan Taha Aki yang tersisa, seluruh gen werewolf yang ada sekarang, keluarga Black, Uley, Clearwater, dan Ateara, berasal dari cabang yang sama. Tapi tetap, di galur utama keluarga Black, hanya ia satu-satunya yang tersisa. Collin sudah tiada dan Korra sudah menjadi bagian kawanan lain. Tidak ada back-up jika ia tewas. Embry, bisa jadi, tapi selain kemungkinannya sangat tipis bahwa ia Black, sahabatnya itu, atau mungkin saudara tirinya yang lain, tengah terbaring di sana. Hanya benang tipis yang memisahkan Embry dari kematian…. Dan Seth….
Oh, brengsek! Seharusnya ia tidak memaksakan Sumpah itu pada Seth. Seth seharusnya ada di sini, mendukungnya. Dan jika tidak Collin secara bodoh mengklaim posisi Seth, atau jika ia tidak dengan tololnya mengambil tindakan pencegahan prematur yang tidak perlu, memblokade Seth dari kawanan, semua skema ini takkan terjadi. Setidaknya tidak malam ini.
Cih! Bukan saatnya menyesal atau gemetar ketakutan sekarang.
Ia harus bangkit. Berdiri dan mengumpulkan seluruh keberaniannya.
Yang dihadapinya sekarang bukan Kierra. Hanya Ariana.
Ya. Hanya vampir bertangan buntung.
Dan lagi Ariana bukan lagi ibu Korra. Ia vampir dan pembunuh. Sedangkan Kierra, oh brengsek, dia bahkan bukan nenek moyangnya langsung. Dia pembunuh di masa lalu. Dan ia pembunuh di masa kini.
Tidak ada ikatan apapun di antara mereka.
Jacob tak lagi berpikir. Dengan teriakan nyalang, ia menyerang.
.
.
Catatan:
Terima kasih untuk yang baca dan sengaja menyempatkan review selama ini… Makasih berat untuk saran-saran dan semangatnya. Skyesphantom, Nik, Manik (dua orang ini kayaknya orang yang sama deh ), Lookitsviola, Jinpohonpinus, Padmapadmaswari, Rhie, Winey, Zean's Malfoy, CttteLullaby, Cynocide, Alohomora... Makasih banget :)
.
Aku tahu cerita aku agak melantur, berputar-putar, twisted, dan panjang pula, jadi makasih buat yang masih ngikutin sampai detik ini. Untuk flashback, maaf aku ga nulis kata 'flashback' ataupun miringin tulisannya, selain kalimat langsung. Harap maklum :)
.
Memang, sejak awal, ada beberapa detail yang agak berubah dibanding kisah aslinya. Banyak OC, yah aku akuin... Dan buat yang nanya, Quil di sini emang punya sedikit darah Black. Di Twilight uv, Quil memang sepupu Jacob tapi ga punya darah Black (dia nyambung sama Jake gara-gara ibu Jake yg punya darah Ateara itu). Terus aku juga ga nyantumin nama Jared Cameron (dia juga punya darah Black sih, tapi jauuuuuuuhhhh…).
.
Oh ya, hehehe… aku ga tau gimana bisa ada salah sangka, tapi aku cewek… (terakhir kali aku cek, aku juga bukan intersex jadi kayaknya aku juga ga bisa atau berencana berubah, entah dalam waktu dekat atau malah dalam jangka waktu 'selamanya'. Maaf kalo ada salah-salah kata)
.
Tadinya aku mau nyelesein pertempuran di jurang di chapter ini, tapi kayaknya harus nunggu satu chapter lagi. Maafin ya…
.
Mohon tetep R&R… don't get frustrated on me…
