THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.

.

Warning: Rated M... Read on your own guard…

.


.

Limapuluh Enam - Putri (Serigala vs Kelinci - Final-)

Friday, March 29, 2013

5:16 PM

.


.

Pertarungan itu adalah apapun yang bisa diharapkan dari pertarungan dua pemimpin, ketat dan sulit. Bahkan setelah lewat sepuluh menit, Jacob masih tak mampu menggoreskan satu ujung cakar pun di tubuh makhluk itu. Ia mengerahkan segenap kemampuan dan instingnya untuk membaca gerak dan menyerang, namun si vampir masih juga tak tergoyahkan. Pertahanan makhluk itu bisa dikatakan sempurna. Gerakannya lincah dan anggun, sama sekali tiada manuver yang sia-sia.

Jacob mendengus ketika untuk kesekian kalinya, serangannya hanya mengenai angin. Mengumpat kasar, ia melompat mundur, menjaga jarak sementara memperhitungkan gerakan. Ia tahu ke mana pertarungan ini mengarah. Musuhnya lebih banyak bertahan ketimbang menyerang, jelas sekali setiap gerakannya ditujukan untuk menghabiskan energi lawan, dan kala Jacob sudah kelelahan, mudah baginya untuk menyudahi pertarungan.

Ini memang situasi tak menguntungkan. Tidak karena peta pertarungan sudah berat sebelah sejak awal. Ia sudah mengenali karakter pertarungan Jacob sejak awal, sudah mengawasi, menganalisa berbulan-bulan. Itu jelas menutupi kekurangan fisiknya. Sedangkan Jacob, walau tempo lalu pernah hampir memojokkan si makhluk, performanya kali ini tidak terlalu baik. Jelas, kondisi mentalnya jauh terpuruk karena banyak hal: mulai dari kehilangan anggota kawanan hingga urusan harus bertempur melawan ibu Korra di depan sang putri.

Jacob tahu tak seharusnya masalah kedua mengganggunya, tapi itu tak terelakkan. Bahkan ketika ia mengumpulkan seluruh tekad untuk kembali menyerang, ia sadari pikiran dan perasaannya terbelah. Satu sisi dirinya, yang tak bisa dibohongi oleh kalimat seperti 'tidak ada pilihan lain' atau 'setan itu yang bertanggungjawab atas seluruh kekacauan di La Push tiga bulan terakhir' tak urung terus berpegangan pada satu kalimat lemah, sangat lemah, 'selalu ada jalan...'

Ya.

Ada jalan yang lain. Menghentikan semua ini. Apapun yang terjadi di masa lalu toh sudah lewat. Tak bisa ia terus membenci Ariana atas nama ibunya. Mungkin ia bisa menyudahi saja semua perkara di masa lalu, tidak hanya mentolerir tapi juga menerima masa lalu itu kembali hadir di masa kini. Nyatanya ibunya sudah lama tiada, Billy sudah belasan tahun menduda, dan Korra tetap butuh seorang ibu, tak peduli apapun wujud sang ibu sekarang. Jika Carlisle bisa meyakinkan Ariana dan seluruh balatentaranya untuk mengubah haluan, jika mereka bisa tak lagi mengancam Semenanjung Olympic... Tidak, bukan Carlisle. Jika Korra bisa meyakinkan ibunya ... Carlisle pasti akan sudi memberikan arahan.

Mungkin sudah terlambat untuk itu sekarang. Ketika satu-satunya cara untuk membuat Ariana bisa tetap hidup adalah berusaha tidak membunuhnya. Tapi mana bisa ia tidak berusaha membunuh, saat nyawanya jelas terancam?

Huh, seolah bukan dia yang berada di ujung tombak saat ini. Angin kemenangan, sialnya, tampak berpihak pada lawan.

Jacob menahan jeritan ketika tahu-tahu Ariana memanfaatkan kelengahannya untuk menyarangkan cakar tajamnya ke tubuh serigala merah itu. Cakar Ariana meninggalkan luka sepanjang 60cm di sisi kanan tubuhnya, cukup dalam sehingga pemulihan alaminya tidak langsung dapat menutup luka itu.

Ia melompat mundur, menjaga jarak. Sesungging senyum kemenangan tampak di wajah wanita itu. Menghiasi wajah cantiknya dengan semacam ilusi yang sedetik membuatnya terguncang.

Oh, betapa ia merindukan senyuman itu. Senyuman yang sama yang hadir dari masa lalu. Senyum dan binar mata yang sama, kala wanita itu menceritakan banyak kisah. Legenda-legenda. Senyum yang penuh semangat. Dan juga senyum yang penuh rasa sayang, kala ia, Jacob, menceritakan mimpi-mimpinya di pangkuan wanita itu. Kala ia menceritakan apa yang ia capai di sekolah, petualangan terbarunya, atau apa yang akan ia lakukan di festival suku, dan wanita itu mendengarkan dengan sirat bangga menyala di matanya.

Tapi senyum itu sekarang berbeda. Tidak ada rona kemerahan menjalar di pipi yang masih segar itu. Kilat di matanya masih menyala, tapi kehangatan yang berpijar darinya telah menghilang, berganti kebekuan dan dingin yang memerindingkan bulu roma.

Dia bukan Ariana! teriak Jacob dalam hati. Dia bukan Ariana. Jangan tertipu lagi. Ariana yang itu tidak akan pernah kembali.

Sudah mati, tiga belas tahun lalu.

Ia tahu. Karena ia sendiri yang sudah membunuh Ariana. Wanita itu, wanita yang ia sayangi. Wanita yang telah mengajarinya banyak hal.

Auntie Ars….

.


.

Ya, ia membunuh Ariana. Membunuh senyum di wajah itu, senyum yang selalu ia sukai, ia rindukan.

Senyum itu hilang selamanya pada hari itu. Setelah ibunya meninggal. Hari ketika ibunya dimakamkan. Ketika ia menyalahkan Ariana karena berani-beraninya kembali, menghancurkan apapun kehidupan yang ia punya bersama keluarganya. Ayah, ibu, dan kakaknya. Ketika ia berteriak pada Ariana untuk mengembalikan ibunya. Ketika ia menampik permohonan maaf wanita itu, bahkan ketika wanita itu berlutut di hadapannya. Ketika ia dengan kasar berpaling pada ayahnya, memohon, menjerit, memerintah, agar ayahnya mengusir wanita itu dan putri kecilnya. Di hadapan seluruh suku, di upacara pemakaman ibunya.

Ia ingat kini, ketika wanita itu berlutut, menangis, mengiba. Dan semua mata memandang pada wanita itu, penuh cacian. Penuh tuduhan.

"Jakey, kumohon... Aku tidak membunuh ibumu. Itu murni kecelakaan."

"Diam kau, wanita kotor! Ibuku mati dan itu salahmu! Jika kau tak ada di sini, ia masih ada. Aku tidak ingin melihatmu lagi! Seumur hidup aku takkan memaafkanmu!"

"Ingat apa yang pernah kita lalui bersama, Jakey... Aku bibimu. Aku merawatmu, menjagamu, mengajarimu banyak hal..."

"Kau tidak pernah sungguh-sungguh menyayangiku! Kau benci ibuku! Aku benci kau! Kembalikan ibuku!" teriaknya keras, menangis, meraung.

Dan semua bisik-bisik itu. Ariana, demi mendapatkan apa yang bukan haknya, bertekad melenyapkan satu-satunya penghalang. Mengerjai mobil Sarah. Membunuhnya.

Ia ingat wanita itu berpaling pada ayahnya, memohon.

"Tolong, Billy, kumohon... Kau tahu itu tidak benar. Aku tidak mengerjai mobil istrimu... Kau tahu itu. Aku di sana denganmu ketika Sarah pergi, aku bersamamu seharian penuh. Kapan aku punya kesempatan untuk melakukan itu?"

"Bohong!" teriak Jacob. "Aku di dalam mobil ketika tabrakan itu terjadi! Remnya blong! Remnya tidak blong sebelumnya! Kami baru pulang belanja dan sebelumnya rem itu baik-baik saja. Rem mobil itu blong setelah Mom tiba di rumah dan bertemu denganmu!"

"Tapi itu bukan ulahku. Kau tahu itu, Bill... Itu mobil tua dan Sarah menyetir dalam keadaan emosi... Paramedis bilang mereka menemukan kadar alkohol dosis tinggi dalam..."

"Mom tidak mabuk! Mom tidak mabuk!" ia menjerit. Batinnya sakit, tidak terima atas penghinaan itu. Di sana ibunya baru saja pergi, dan perempuan pembunuh itu menodai kenangan tentang ibunya. "Daddy, katakan itu!" ia menghela-hela tangan ayahnya, meminta dukungan. "Katakan Mommy tidak mungkin mabuk, Dad!"

Tapi wanita itu tak hanya telah merampas ibunya darinya, ia juga berusaha merebut ayahnya, satu-satunya yang ia punya sekarang.

"Bill, kau harus percaya padaku," tutur wanita itu yang membuatnya marah. "Kau mengenalku, Bill…. Kita sudah bersama lebih lama dari siapapun. Kau kenal aku luar dalam. Kau tahu aku takkan mungkin melakukan itu."

Oh, apa lagi muslihat perempuan ini? Tidak, takkan ia biarkan pembunuh ini menggapai apapun tujuannya.

"Daddy, kumohon!"

"Bill, kumohon..."

Dan ayahnya yang hanya diam, membuang muka. Wajahnya perih. Beribu emosi bercampur jadi satu.

"Jacob," ketika akhirnya ayahnya bicara, suaranya sarat kepedihan. "Hentikan. Jangan bikin ribut di pemakaman ibumu..."

"Aku tidak peduli!" ia tak bisa berhenti meraung."Aku takkan diam hingga dia pergi! Aku yakin Mommy juga tak mau dia ada di sini. Mommy membencinya! Aku membencinya!"

Dan akhirnya, teriakan itu.

"Usir dia, Dad! Kau pemimpin suku ini! Usir dia! Buat dia pergi sejauh-jauhnya! Aku tidak mau melihat wajahnya lagi! Ia pembunuh Mom! Usir mereka! Aku tidak mau melihat selintas pun bayangan wajahnya atau anaknya di tanah ini! Sampai kapanpun!"

Terdengar gumam persetujuan di sekeliling mereka, dan Ariana yang pucat pasi menjatuhkan dirinya di kaki Billy, membawa putrinya dalam gendongannya.

"Billy, tolonglah...," suaranya bergetar. "Jika bukan demi aku, lakukan demi Korra. Korra putri kandungmu... Kumohon, jangan lakukan ini pada kami... Jangan lakukan kesalahan sama seperti yang kakekmu lakukan."

Tapi ayahnya tak bereaksi, dan Jacob masih menjerit-jerit histeris.

"Aku tidak peduli dia siapa! Anak itu bukan adikku! Aku tidak kenal dia! Aku takkan pernah mengakui dia! Usir mereka, Dad! Usir mereka! Kalau kau tak mau mengusirnya, aku yang akan pergi!"

Kalimat itulah yang mengubah segalanya. Karena ayahnya meninggalkan Ariana, berpaling padanya, memeluknya.

"Jake, jangan katakan itu lagi. Kumohon. Kau putraku satu-satunya. Aku takkan pernah membiarkanmu pergi."

Sesaat ia tersenyum dalam hati. Ayahnya telah memilih. Dan ayahnya memilihnya. Dia. Bukan wanita pembunuh itu.

Ia melihat sirat keterpanaan dalam wajah wanita itu. Yang sesaat kemudian berubah menjadi semacam sorot pengertian, yang sarat kesedihan. Putri kecilnya menggelayuti lengan sang ibu, memandang ibunya dan Jacob bergantian, bingung dan tak mengerti dengan situasi di sekelilingnya. Mungkin juga takut, entahlah. Lantas gadis itu menarik-narik ujung lengan baju ibunya, menatapnya dengan pandangan khawatir.

Sempat dilihatnya Ariana berjongkok, mendekap putrinya. Berbisik lembut, namun pedih, "Tidak apa, Korra, kau masih punya aku. Kita akan menghadapi ini bersama. Di dunia ini aku hanya punya kamu..."

Oh, persetan. Benci sungguh ia dengan gadis kecil itu. Dia masih punya ibunya. Dan Jacob? Ia sudah tidak punya ibu lagi. Direnggut paksa, begitu mendadak, oleh ibu si kecil itu.

Tangisannya makin keras.

Masa bodoh segalanya. Ia sudah kehilangan seorang ibu. Dunianya gelap gulita sekarang. Dan ia tak butuh lagi mereka: penyebab hancurnya dunia yang ia tempati.

Dan ketika tangisan itu berhenti, ia melihat Ariana dan balita itu pergi. Wajah wanita itu hampa. Wanita itu berusaha menggapainya, mengucapkan salam perpisahan, tapi ia menepis tangan itu dengan kasar. Pergi tertatih dengan kruk menopang kakinya yang patah. Enggan melihat kepergian Ariana. Atau putri kecil Ariana, yang masih menatapnya dengan sorot mata aneh, campuran ketidakmengertian dan ketakutan. Atau ayahnya, yang terus berwajah kosong berbulan-bulan setelah kejadian itu.

Ya, Ariana sudah mati sejak saat itu. Berbulan-bulan, dengan sengaja ia menghindari bicara apapun soal Ariana, dan siapapun di dekatnya tahu untuk tak mengungkit nama itu lagi. Ia bertekad takkan pernah mengingatnya, dan alam bawah sadarnya mengubur kenangan itu. Di tempat terdalam. Tak pernah terungkit lagi.

.


.

"Semua akan selesai sekarang, Jakey," suara lembut itu menghentaknya. Ariana, dengan senyuman yang membuatnya bergidik, bergerak bersamanya dalam formasi melingkar, saling menjaga jarak. "Kau akan kupertemukan kembali dengan ibumu di alam sana. Kau harus berterima kasih padaku."

Kali itu Ariana yang mengambil inisiatif menyerang. Tapi belum sampai serangannya menjangkau tubuh Jacob, tiba-tiba perhatiannya teralih. Ia mendarat, menunda serangan. Matanya lurus memandang melintasi Jacob.

Jacob tahu ke mana arah pandangan itu menuju. Si serigala hitam. Korra. Putrinya.

Ekspresi makhluk itu mendadak berubah. Ariana mendesis hebat sementara matanya berkilat-kilat. Ada pandangan jijik di sana, itu wajar. Marah, itu juga masih bisa dimengerti. Tapi yang tidak Jacob mengerti adalah sorot penuh tuduhan, dan kebencian. Dan tiadanya satu kata: kerinduan.

"Kau ... kau bersama mereka," desisnya. Jelas ditujukan pada si serigala hitam. "Kau yang membawanya..."

'Membawanya'?

Dalam sedetik, Ariana berubah haluan. Bergerak menerjang. Tapi sasarannya bukan lagi Jacob. Tapi si serigala hitam.

"Kembalikan dia!" teriak Ariana nyalang. "Kembalikan putriku!"

Oh, dia pastinya sudah gila.

Korra terlihat siaga, sama sekali tak gentar bahkan kala ibunya berusaha menerkamnya. Dengan sigap ia berkelit ke sisi, namun Ariana tak melepaskan mangsanya begitu saja. Dengan kelincahan yang sama ia kembali menerjang, namun kali ini Jacob melompat di antara mereka.

"Giliranmu nanti, Jakey!" ujar Ariana dingin. "Aku harus menyelesaikan urusan dengan si Bajingan ini dulu!"

Tidak! Jacob menyalak. Kau wanita gila! Takkan kubiarkan kau menyakiti putrimu sendiri!

Ariana tidak menghiraukannya, lagi-lagi berusaha menghindari Jacob, menerjang si serigala hitam. Kali ini si serigala hitam membalas. Beberapa waktu mereka saling adu jurus, menyerang dan berkelit, lantas balas menyerang balik, sebelum akhirnya satu cakaran mampir di dada si vampir.

Cakaran itu membuat Ariana membelalak, tapi justru itu menjadi sumber bahan bakar yang menyalakan amarahnya. Lagi-lagi ia menerjang, kali ini kian bertenaga. Teriakannya kian nyalang, gerakannya kian membabi buta. Tapi Korra sama sekali tidak terprovokasi. Gerakannya mantap dan anggun, dan setiap kali, sasarannya hanya dua: dada, atau leher.

Sudah jelas, ia tidak berniat menghentikan ibunya. Ia berniat membunuhnya.

Jacob tidak bisa membiarkan ini.

Segera ia turun tangan. Melompat di antara mereka berdua. Menyerang Ariana, sengaja membarikade Korra dan memblokade semua serangan Ariana.

Ariana mendesis kasar. "Kau sungguh-sungguh ingin cepat mati, Jakey?" serunya. Jacob hanya melotot padanya dalam posisi menantang, masih memproteksi Korra. Balas menggeram.

Di belakang Jacob, Korra ikut-ikutan menggeram. Bukan pada Ariana, tapi pada Jacob. Sesuatu yang Jacob pahami sebagai, 'Menyingkir dan jangan ikut campur!'

Jacob memalingkan kepala dengan cepat padanya. Kau yang menyingkir sekarang! salaknya penuh tuntutan. Ini pertarunganku!

Korra memandangnya dengan tatapan aneh, agak terperangah. Seolah bisa mengerti apa yang ia teriakkan. Tapi akhirnya ia mengangguk, dan mundur. Jacob mengembalikan perhatiannya kembali pada Ariana, melontarkan tantangan. Vampir buntung itu sekilas memandang mundurnya Korra dengan tatapan tidak rela dan kelihatan sekali memperhitungkan serangan bary, tapi Jacob menyalak keras, membuatnya kembali memandang Jacob, menatapnya tajam.

"Kau benar-benar ingin mati sekarang, ya? Ingin cepat bertemu ibumu di alam sana?" dengusnya. "Baik, akan kukabulkan permohonanmu. Dia toh bisa menunggu," tunjuknya pada Korra, tersenyum kejam.

Langkahi dulu mayatku! mungkin klise, tapi hanya itu yang ada di pikiran Jacob ketika ia mengaum kencang. Tak menunggu lagi, ia menyerbu.

.


.

Jika sebelumnya pun pertarungan sudah tidak imbang, di pertarungan ronde berikutnya, tampak jelas Jacob dipecundangi. Ariana tampak lebih ganas, lebih bertekad untukmenang, dan lebih dari apapun, ia bertekad membuat Jacob menderita. Semua gerakannya tidak hanya bertujuan demi kemenangan, tetapi juga untuk membingungkan, menyiksa perlahan. Cakarnya begitu sering tertuju pada titik-titik vital, dan meski Jacob berusaha keras menebak arah serangan Ariana dan berkelit tepat waktu, tetap saja Ariana selalu berhasil menipu, dan menghujamkan cakarnya ke bagian tubuh lain. Darah tertumpah begitu mudah. Dan kelelahan mulai menjelma di tubuh serigala merah itu.

Jacob berusaha bertahan sebisa mungkin, menjaga sisi-sisi tubuhnya. Tapi gerakan gesit dan lincah Ariana membingungkannya. Sekian jurus, tahu-tahu, tanpa ia sadari benar-benar, ia masuk ke dalam perangkap makhluk buntung itu. Tepat ketika ia melihat celah dalam serangan Ariana, yang membiarkan leher wanita itu terekspos, ia mengarahkan rahangnya ke tengkuk wanita itu. Tapi seketika Ariana berbalik, dan sesaat begitu melihat mata itu, rasa ragu melandanya. Ariana mendadak tersenyum. Hanya sepersekian detik waktu yang ia butuhkan, memanfaatkan keraguan Jacob, untuk melentingkan tubuh. Lesatan tubuh Ariana tak diduganya, bergerak dalam kurva sempurna, balas mengincar lehernya. Secara instingtif Jacob menghindar, tapi justru saat itulah Ariana mendadak memeluk tubuhnya dari belakang. Cakarnya mantap mendarat di leher Jacob. Mengincar tenggorokannya. Jacob mengibas kasar. Cakar itu meleset seinci, namun berhasil mengoyak leher hingga bahunya secara hampir horizontal.

Jacob merasakan dingin merayapi tubuhnya kala disadarinya cakaran itu memotong nadinya. Darah menyembur dari nadi di lehernya, membuat pandangannya berkunang. Tapi Ariana rupanya bertekad takkan berhenti sampai situ. Belum lagi penyembuhan Jacob bekerja sempurna, ia sudah kembali menyerang. Kali ini, Jacob menyerah pada insting. Sigap dihindarinya cakaran selanjutnya Ariana, yang jelas kembali mengincar titik-titik lemah tubuhnya. Tapi ia sudah kehilangan banyak darah, dan pandangannya yang berkunang, sebagian tertutup darah beku, tak membantu sama sekali. Entah apa yang terjadi, setelah ia berusaha menghindari serangan Ariana yang lagi-lagi berusaha menungganginya, Ariana melakukan manuver tak terduga yang membuatnya salah perhitungan mengukur jarak antarserangan. Tubuhnya berputar sementara sendinya tak mengakomodasi gerakan itu, dan tahu-tahu ia merasa kakinya terkilir. Ariana memanfaatkan kondisi itu untuk menyerang, menerkam. Keduanya saling gulat, saling guling dalam persingan ketat, sama-sama mengincar tenggorokan. Jacob berhasil menghindari gigi Ariana pada saat yang tepat, tapi tak bisa memprediksi serangan selanjutnya, jelas memanfaatkan pergulatan itu untuk menambah sayatan dalam di perutnya.

Rasa sakit ketika cakar Ariana mengoyak perutnya membuat Jacob melolong perih. Kesadarannya menipis ketika rasa sakit itu membuat pandangannya berkunang. Bisa dirasanya darah mengalir dari lukanya, dan Ariana yang tak berhenti untuk terus menancapkan kuku-kukunya di tubuhnya. Makhluk itu kembali mengincar tenggorokannya, dan kali ini berhasil mendaratkan giginya di sana. Rasa dingin melanda, berpusat dari tenggorokannya, menyebar mengikuti aliran nadinya.

Ramalan Alice kembali terngiang.

Inikah saatnya? Ketika ia harus mati? Atas kesalahan yang pernah ia lakukan? Ketika ia, dalam kemarahan dan kesedihannya, memberatkan tuduhan yang dialamatkan pada orang yang mungkin nomor dua paling ia sayangi semasa kecilnya?

Inikah hukuman yang harus ia dapat? Karena menjadi penyebab langsung penderitaan dua orang itu? Ariana dan Korra?

Karena itukah ia harus mati?

Dengan cara itukah?

Di taring Ariana? Dan ... di bawah tatapan mata Korra...

Dan Korra tidak turun tangan. Tidak. ia hanya menyaksikan. Ketika ia bergulat dengan ibunya. Ketika ia bertaruhkan nyawa. Ketika ia jelas dipecundangi. Ketika ia di ambang kematian.

Jadi itukah pembalasan dendam Korra?

Susah-payah, dan dengan kesadarannya yang menipis, ia berusaha melirik ke tempat si serigala hitam itu berdiri. Tubuh itu sudah tak ada di sana.

Tentu. Korra pastinya sudah pergi. Ibunya sudah menang. Ia sudah kalah, tinggal menanti ajal. Menunggu darahnya habis dikeringkan, atau racun itu menjalar dan menghancurkan seluruh syarafnya. Korra tak perlu melihat akhir itu.

Dendam gadis itu sudah terbalas.

Panas menjalari tubuhnya. Dan kesadarannya memudar.

.


.

Mimpikah ini? Halusinasi? Angan yang terlalu indah untuk berwujud di dunia nyata, kini hadir dalam kepalanya?

Seakan ia dihadapkan pada sesuatu yang sulit ia percayai.

Karena ia melihat kelebatan gerak, dan lantas tubuh Ariana yang menindih tubuhnya menghilang. Kelebatan lagi, diiringi lolong kesakitan seekor serigala, dan lantas gerakan-gerakan yang tak dapat ia tangkap, sebelum akhirnya sosok itu, si vampir buntung melesat menjauh darinya, yang segera dikejar oleh si serigala hitam. Ia terluka, itu sudah pasti. Sempat Jacob melihat goresan merah yang panjang dan dalam, mengucurkan darah, di sisi tubuh serigala itu.

Korra … melindunginya?

Ia tidak berusaha membalas dendam padanya?

Bukan rasa senang, tapi perih melanda hatinya. Karena dua hal sekaligus. Dua hal yang berusaha ia lindungi.

Ia ingin melindungi Korra. Ia ingin menjauhkan apapun kemungkinan Korra bertarung dengan ibunya sendiri. Tapi tak mampu ia hindari, apa yang ia takutkan terjadi akhirnya berwujud pula. Pertarungan ini, pastinya hanya mengundang luka pada adiknya, setelah semua yang selama ini ia hadapi, ia derita. Oh, betapa ia tak ingin Korra menambah satu, tidak, dua luka lagi, baik luka fisik yang sudah jelas ia dapatkan, atau lebih lagi, luka psikis. Satu luka tertoreh, artinya luka lain juga menganga di sana.

Ia masih bisa mendengarnya, teriakan dan auman dari balik hutan. Dua makhluk itu bertarung. Ibu dan anak.

Ia berusaha menggeliat. Setidaknya ia harus campur tangan. Lebih baik Ariana mati di tangannya, dan selamanya Korra memendam dendam padanya, ketimbang gadis itu yang menghabisi ibunya sendiri. Atau justru Korra yang dihabisi.

Tapi ia tak mampu bergerak. Tubuhnya yang tadi dialiri panas kini terasa kaku. Ia tak merasa dingin ataupun panas. Atau merasakan apapun. Bahkan tak ada sakit, tak ada perih. Seakan mati rasa.

Kesadarannya memudar dan memudar. Hingga akhirnya lenyap.

.


.

Bagai deja-vu, rasa dingin itu kembali muncul. Dingin yang mengalir, membekukan syaraf, menggantikan panas yang membakar dan merontokkan tiap sel darahnya.

Ia tahu tubuhnya berperang. Dingin melawan panas. Keduanya menyakitkan. Keduanya sama menyiksa.

"Jake..." lamat ia bisa mendengar suara itu. Sayup, pelan, tapi terasa dekat.

Ia mengenal suara itu.

Korra?

"Jake, kau masih bisa mendengarku? Kumohon, bertahanlah. Bantuan akan segera datang. Kau dengar? Bertahanlah sedikit lagi."

Korra? Tapi tadi gadis itu, serigala itu ...

Bahkan otaknya tak bisa berpikir. Seluruh kejadian ini tak bisa ia mengerti. Korra yang diam memperhatikan ibunya menghabisi Jacob... Korra yang menjauhkan Ariana dari tubuh Jacob…. Korra yang mengejar Ariana hingga ke hutan, bertarung…. Dan kini suara Korra, menenangkannya, berusaha membuatnya bertahan, mengatakan bantuan akan datang...

Ini pasti halusinasi. Halusinasi menjelang kematiannya. Alam bawah sadarnya menciptakan bayangan yang ia harapkan. Bayangan adiknya di sana, menolongnya, padahal kenyataannya pasti adiknya adalah orang yang paling menginginkan kematiannya.

Sudah dua kali bayangan itu muncul sekarang. Keduanya sama sekali tak masuk akal.

"Oh, Jake, maafkan keterlambatanku," bayangan suara Korra kembali mengiang di kepalanya. "Tapi aku tahu kau akan pulih," janji suara itu. "Kumohon, bertahanlah, Jake. Aku sudah menghubungi mereka. Sam segera datang."

Dirasakannya sentuhan itu di ujung kulitnya. Dingin.

Hei. Ia bisa merasa? Bukankah tadi ia sudah merasa kulitnya mati rasa?

Matanya berat. Kelopak matanya enggan membuka. Tapi ia berusaha keras membuka mata. Menggerakkan ujung-ujung jarinya yang serasa lumpuh.

"Jangan berusaha bergerak, Jake. Aku sudah menghentikan perdarahan. Menghisap keluar racun. Tapi aku tidak bisa total mengeluarkannya, racunnya sudah separuh menyebar. Aku terpaksa mengunci aliran darahmu," jelas suara itu. "Sam akan membereskan ini. Kau cukup pertahankan kesadaranmu, tapi jangan bergerak."

Sam?

Halusinasi yang aneh. Bahkan alam bawah sadarnya berusaha membuat kaitan yang membingungkan.

Korra dan Sam?

Sayup ia mendengar Korra meneriakkan beberapa kata dalam bahasa asing yang tak ia kenal. Dan mendadak tekanan suara itu kembali berubah. Tetap menenangkan, tapi terburu-buru.

"Oh, mereka akan datang. Aku harus pergi sekarang. Mereka tidak boleh melihatku dalam keadaan seperti ini. Mereka akan salah paham."

Ia merasakan sentuhan itu lagi, dan pelan didengarnya gesekan udara ketika gadis itu pergi. Lantas didengarnya suara lain. Lolongan yang sambung menyambung. Lantas sentuhan lain di tubuhnya. Lebih hangat. Dan kasar.

"Jacob, kau dengar aku?" suara lain, yang juga dikenalnya, terdengar di sisinya.

Apa ia tak salah dengar?

Sam?

"Tenang dan jangan bergerak, Jake... Kami akan membawamu pulang."

"S, Sam...?"

"Jangan bicara lagi. Semua sudah berakhir. Para lintah itu sudah hancur. Pemimpin mereka kabur."

Kabur?

Akhirnya ditemukannya kekuatan itu. Untuk membuka mata. Samar dilihatnya bayangan tubuh Sam.

Itu benar-benar Sam!

Jacob berusaha menggerakkan lidahnya. Lidahnya kelu. Sekian kali ia berusaha berbicara, yang keluar hanya gumaman tidak jelas. Baru setelah sekitar sepuluh kali ia mencoba, lidahnya mampu membentuk kata-kata.

"Em ... bry...? C, Clark?" itu kata yang pertama keluar dari lisannya. Ya, lebih daripada apapun, tak ada yang lebih membuatnya takut selain nasib buruk yang menimpa anak buahnya.

Sam juga sepertinya memahami kedudukan dan kekisruhan hatinya karena ia langsung menjawab cepat.

"Quil sedang membawa Em ke rumah Cullen. Harry dan Clark sudah lebih dahulu dibawa. Adam dan Caleb sudah menangani mereka. Sekarang kami sedang berusaha menjangkau Pete dan Ben di bawah," jelas Sam, hampir seperti laporan.

"Co ... Cole?" tanya Jacob lagi.

"Kami belum bisa menjangkau Cole. Brady masih pingsan, jadi kami belum bisa mendapat keterangan."

Apa?

"Bra … dy?"

Ada apa dengan Brady? Apa ia termasuk yang tidak selamat setelah pertarungan di dasar jurang?

"Ya, ia tumbang setelah mati-matian bertarung setelah Collin … mungkin kau lebih tahu apa yang terjadi padanya, karena aku hanya dengar dari Quil. Tapi tenang, sekarang ia sudah diungsikan ke rumah Cullen. Sekarang jangan bicara lagi. Tenanglah," suara Sam masih sama seperti dulu, dengan nada titik yang tegas dan final. Yang anehnya membuat Jacob merasa tenang.

Sesaat ia meraba-raba dan menekan titik-titik tertentu di tubuh Jacob. Keningnya mengernyit bak dokter sedang mendiagnosa pasien. Mungkin Jacob akan tertawa jika kondisinya tidak seserius ini, tidak melibatkannya sebagai korban. Atau mengaduh dan memprotes atas gerakan kasar Sam kala memeriksa kondisinya, yang justru membuat luka-luka yang didapatnya terasa lebih sakit. Tapi melihat Sam sekarang, ketelitiannya, perhatiannya, suara penuh tekanannya yang biasa, bahkan sekaligus juga kekasarannya yang membuat Jacob menggigit bibir menahan sakit, hanya membuatnya merasa bersyukur.

Setidaknya ia tahu ia benar-benar belum mati dan Sam yang ada di hadapannya adalah Sam betulan. Karena kalau ia sudah ada di dunia lain, atau Sam di depannya ini sekadar halusinasi yang diciptakan otaknya yang sekarat, tentunya Sam takkan berwujud seperti ini. Minimal ia akan tampil lebih lembut kala memeriksa tubuhnya, seperti Carlisle. Dan suaranya pun minimal akan seperti Jasper.

Tunggu. Sebenarnya, sedang apa Sam di sini?

"Ke, kenapa kau bisa…," belum selesai Jacob bertanya, Sam sudah menempelkan jarinya di ujung bibir Jacob, menyuruhnya diam.

"Aliran darahmu terkunci," ujarnya. "Jika kau memaksa bicara atau bergerak, kau bisa mendobraknya dan membuat racunnya menyebar." Tanpa menghiraukan kernyit di dahi Jacob, ia menoleh ke sisi lain. "Josh!" panggilnya.

Seekor serigala yang ia kenali sebagai Josh mendekat. Tubuhnya berlumuran darah, merah, sebagian membeku kehitaman, kontras dengan warna pirang bulunya. Sesaat itu menjadikannya serupa dengan gambaran anjing setan dari neraka. Tapi Jacob tahu, meski Josh tampak seakan tercelup warna merah, dari gerakannya yang segar bugar, darah itu tak berasal dari tubuhnya sendiri. Mungkin ia tampak seperti itu karena habis mengangkut Harry dan Clark.

"Sekarang aku akan menaikkanmu ke punggung Josh. Usahakan jangan membuat gerakan yang tidak perlu," perintah Sam. Jacob mengangguk, tak mempertanyakan dominasi Sam dalam urusan ini. Ia berusaha menahan tubuhnya, membuatnya seringan mungkin, menahan sakit yang terasa kala Sam menyentuh lukanya atau tak sengaja membuat tulangnya yang terpelintir bergerak. Hati-hati Sam membopongnya, meletakkannya dalam posisi telungkup di punggung Josh, yang bertelekan dalam posisi kaki terlipat untuk mempermudah pekerjaan Sam.

"Kau … tidak ikut?" tanya Jacob bingung, ketika Sam menepuk punggung Josh, menyuruhnya bangkit, tapi ia sendiri kelihatan tak hendak beranjak dari sana.

Sam hanya menggeleng. "Aku masih harus mengurus beberapa hal. Pete masih di dasar jurang," ujar Sam dalam nada 'jangan bertanya lagi'. Dilihatnya Sam mengangguk pada Josh, dan tanpa banyak bicara, serigala itu membawa pergi Jacob.

Mengetatkan pelukannya pada leher Josh, Jacob sempat melihat tubuh Sam sekilas di balik kerimbunan pepohonan, sebelum tubuh itu menghilang. Tak lama terlihat bayangan serigala hitam besar melintas di hutan kelam, melesat bagai panah, berlari di antara bayangan rapat batang-batang pohon.

"Masih Sang Alfa sejati kan, dia..." tak dapat disembunyikan getar kekaguman, juga rasa iri, dalam suara Jacob, kala ia mengawasi bayang tubuh serigala Sam menghilang. Didengarnya Josh terkekeh pelan, sebelum ia memacu kakinya lebih cepat melintasi batas tanah Quileute, menuju tanah para vampir.

.


.

Catatan:

Maaf banget, seri ini sempat lama tertunda. Akhirnya chapter terakhir Serigala vs Kelinci selesai juga. Memang, aku akuin, jelek banget. Aku ga bisa nangkep emosi pertarungan Ariana vs Jacob dg bagus. Malahan aku ngacoinnya di bagian serigala hitam. Hixxx… sedih…

Kalo sempet, aku coba deh perbaikin lagi