THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.

.

Warning: Blatant violence, profanities, psychotic acts... Rated M... Read on your own guard…

.


.

Limapuluh tujuh - Rumah Sakit Cullen

Friday, March 29, 2013

5:16 PM

.


.

Rumah Cullen telah diubah menjadi semacam barak pengobatan, atau lebih tepatnya lagi rumah sakit khusus kawanan, ketika Jacob tiba di tempat itu. Kain-kain putih penutup sofa telah dilepas, sementara sofa-sofa di ruang tengah itu berubah menjadi tempat tidur bagi yang terluka. Dari balik jendela, dilihatnya Adam dan Caleb simpang siur di sana, memberi pengobatan bagi sosok-sosok yang tidak bisa ia tangkap dengan baik tapi ia tahu siapa mereka. Embry, Harry, Clark, dan Brady. Melintasi ruang makan, dilihatnya meja kaca kebanggaan Esme telah disingkirkan, digantikan deretan beberapa meja kayu yang jelas diambil dari perpustakaan. Kain putih berlumur darah yang masih tersampir di atasnya jelas menunjukkan meja itu telah beralih fungsi sebagai meja operasi dadakan, dan bahwa baru saja sebuah operasi telah berlangsung di sana.

Quil menyambut Josh dan Jacob di halaman. Cengiran lega tampak di wajahnya, walau sirat lelah dan tegang masih belum sepenuhnya hilang.

"Syukurlah kau selamat, Man," ujarnya seraya menurunkan Jacob dari punggung Josh, sementara Josh mundur untuk berubah balik. "Aku tak mendapat koneksi apapun darimu sejak kau bertemu si serigala hitam. Dan begitu aku bisa merasakan pikiranmu, kau tengah sekarat. Kau bisa bayangkan betapa tegangnya aku, sementara aku juga tidak tahu bagaimana menolong Embry,"seraya membopong Jacob masuk, Quil terus saja berceloteh. "Untung saja Sam dan Josh datang."

"Menurutmu Josh mata-mata Sam?" tanya Jacob tiba-tiba, lirih.

Sungguh Jacob tidak bisa menahan pertanyaan itu. Diintipnya Josh yang akhirnya masuk. Tapi berbeda dengan Quil, yang membawa Jacob terus ke dalam, Josh berbelok menuju ke ruang tengah. Sudah jelas apa yang akan ia lakukan di sana. Jacob tidak bisa melihat apa yang terjadi di ruang tengah yang sudah diubah jadi barak pengobatan itu dari tempatnya berada, tapi ia tahu di sana ada satu orang yang diam-diam selalu dikhawatirkan Josh. Ya, Josh pastinya ingin menunggui sepupunya, Brady.

Quil menegang sejenak, tapi lantas ia tersenyum. "Aku tidak tahu. Tapi jika memang ya, aku takkan menyalahkannya. Ia menolong kita semua, kau tahu? Aku mendapat pertolongan dari si serigala emas, ia juga yang menunjukkanku jalan ke tempat Clark dan Harry. Tapi aku sama sekali tidak punya koneksi apapun dengan anak-anak lain. Ternyata setelah kau menyeberang, Adam dan Caleb juga dikepung. Untungnya Sam dan Josh hadir tepat waktu untuk menolong mereka, lantas mereka berempat menyeberang untuk menolong anak-anak yang tumbang. Begitu mereka tiba, sebelum aku, memang racun Clark dan Harry sudah hilang, tapi tetap saja, jika mereka tak datang tepat waktu, pastinya Clark dan Harry sudah mati kehabisan darah. Terutama Clark, dia bisa dibilang sudah kering kerontang…. Racunnya pasti sudah sangat menyebar sebelum dihisap dan …"

Eh? Apa tadi Quil bilang?

"Racun di tubuh Clark dan Harry hilang?"

"Ya. Ajaib, bukan? Lagi-lagi ada penolong misterius…. Sama seperti waktu kejadian dengan kau, lalu Seth dan Embry…."

Bayangan itu kembali muncul dalam benaknya. Rasa dingin yang pernah ia rasakan sebelumnya. Sentuhan itu. Dan halusinasi suara Korra.

Atau … itu bukan halusinasi?

Korra, Korra sungguhan, yang menolongnya?

Korra yang menolongnya, Seth, dan Embry, sebelumnya?

Korra yang menolong Clark dan Harry?

Tapi tunggu. Korra bersamanya, menyaksikannya melawan Ariana. Lantas mengejar makhluk itu. Sebelum kembali padanya, menolongnya, menghisap racunnya. Tepat sebelum Sam dan Josh datang.

Tidak ada jeda waktu bagi Korra untuk pergi ke tempat Clark dan Harry, menolong mereka. Jadi kemungkinannya hanya satu di antara dua ini: penolong Clark dan Harry bukan Korra, atau serigala hitam itu yang bukan Korra. Bagaimanapun pilihan pertama lebih mungkin. Selain si serigala hitam aka Korra yang bersamanya, dan serigala emas yang bersama Quil, masih ada si Alfa Putih. Suaranya tak terdengar lagi sejak pertarungan. Mungkin ia sibuk. Mungkin si Alfa Putih yang menolong Clark dan Harry.

Kecuali jika setelah mengejar Ariana, entah membunuhnya atau hanya mengusirnya, Korra terlebih dahulu menolong Clark dan Harry sebelum menolongnya. Ya, hanya itu satu-satunya penjelasan yang bisa menghubungkan antara serigala hitam dan Korra. Jika yang ada di kepalanya saat itu bukan halusinasi.

Astaga, berapa lama sebenarnya ia tidak sadar, kalau begitu? Berapa lama sebenarnya racun itu berada dalam aliran darahnya?

Dan terlalu banyak 'jika' dalam setiap kemungkinan. Itu sama saja jalan buntu.

Brengsek!

Dan keberadaan Sam di sana, setelah kehadiran Korra…. Tambah lagi, Korra bilang, ia memanggil bantuan, memanggil Sam.

Dan lagi, soal Sam….

"Kau tahu, siapa kawanan Sam?"

Quil mengernyit. "Kawanan Sam?"

"Sam bilang 'kami' akan membantu mengeluarkan Pete dan Ben dari dasar jurang. Dan mungkin mencari Collin. Tapi semua kawanan, selain Pete dan Ben, tentu, ada di sini, termasuk Josh. Jadi siapa kawanan Sam?" tanya Jacob lagi.

"Entahlah, Jake," Quil hanya bisa mengangkat bahu. "Mungkin Seth."

"Seth?"

"Sam tidak bilang 'kawanannya'. Ia hanya bilang 'kami'. Mungkin ia menghubungi Seth. Atau bisa jadi Korra dan kawanannya."

"Korra?"

"Ya. Kau tahu, aneh sekali Sam bisa tahu soal ini, karena jelas sumbernya bukan Josh. Josh mendapat kabar dari Sam. Tadinya kupikir, pastinya Cole bocor sana-sini seperti biasa. Kau tahu, ia main ponsel terus sejak siang dan aku yakin ia menghubungi Seth. Tapi jika Seth tahu dan memutuskan menghubungi Sam, tidak mungkin ia tidak ikut berubah. Dan kalau begitu, pasti terjadi koneksi denganku kan?"

"Entah soal itu. Seth, kau tahu, bisa menudungi pikiran dengan sangat baik…"

"Tapi tak ada gunanya menudungi pikiran di saat begini, kan? Jadi kupikir, pasti sumbernya bukan Cole atau Seth. Sam pastinya tahu dari sumber lain. Aku hanya bisa berpikir satu kemungkinan."

"Kawanan lain…"

"Ya. Sarang vampir itu, adalah sarang yang mereka serang sebelumnya. Jadi pastinya mereka melakukan kontrol, pengawasan berkala, berjaga seandainya sewaktu-waktu para lintah itu kembali. Tidak pun, pastinya mereka menyadari serangan sebesar itu, dan lantas menghubungi Sam."

"Kalau begitu…."

"Ya, Jake. Hanya itu kesimpulanku."

Bahkan Quil tidak mengatakannya. Tidak berani mengatakannya. Tapi Jacob tahu, ke mana arah pikiran Quil menuju.

Sam bagian dari mereka.

Sam telah menyeberang.

Tapi, itu mustahil, kan? Sam … seorang Sammenyeberang?

Lain halnya jika ia ditaklukkan.

Tapi ia tidak seperti Noah. Ia bukan serigala terbuang, dan juga bukan serigala terasing. Ia ada di tanah Quileute sepanjang waktu. Dan ia sudah pensiun.

Meski setelah melihat beberapa kali penampakan serigala Sam, Jacob sendiri tidak yakin mengenai semua alasan itu.

"Masih ada kemungkinan lain," kata Quil sambil tersenyum, meletakkan tubuh Jacob di atas meja ruang makan. "Kita terlalu ribut, dan Sam mendengarnya. Lantas ia mengecek…"

"Tetap tidak menjelaskan siapa kawanan Sam, Quil," tunjuk Jacob masam.

Ya. Jika Sam memang punya kawanan lain, atau ia bergabung dengan kawanan lain. Jika Sam kembali bangkit sebagai Alfa di tanah Quileute. Menjadi Alfa yang lain…. Dan tanpa sepengetahuan Jacob, membangun kawanan…. Jika memang begitu keadaannya….

"Apa menurutmu, mungkin, kawanan lain itu dan Sam… bekerjasama?" bisiknya penuh kengerian.

Quil hanya tertawa hambar melihat perubahan warna wajah Jacob. "Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan itu, bukan, Alfa? Sam toh menolong kita. Kawanan itu juga menolong kita. Jadi bisa kita tunda masalah itu? Sekarang ini dirimu lebih penting."

.


.

Jacob tak bisa lama-lama memikirkan Korra karena Quil sudah membawanya ke ruang makan. Membaringkannya di meja makan yang entah sejak kapan alas kain putih berlumuran darahnya sudah diganti. Penerangan yang kelewat terang dan terfokus padanya di ruangan itu membuat Jacob sedikit memicing. Rupanya di sana, ia tidak hanya berdua dengan Quil. Di salah satu ujung meja makan, Adam dan Caleb, yang sudah menarik diri dari ruang tengah, menunggui Quil selesai meluruskan tangan dan kaki Jacob. Seringai aneh tampak di wajah mereka.

Belum habis kebingungan Jacob atas ekspresi aneh mereka, Quil sudah menarik sesuatu dari pojok, benda tinggi yang ditutupi kain.

"Kau siap, Jake?" tanya Adam yang sesaat, entah mengapa, membuat Jacob ngeri. Dilihatnya Caleb mendekat, lantas menarik sesuatu dari sisi kanan dan kirinya. Tali-tali pengikat dari bahan elastik, yang pastinya seratus kali lebih kuat dari tali kulit seperti yang ia lihat di film-film penyiksaan klasik yang kelewat tidak realistis. Bahkan tanpa menghiraukan protes Jacob, dengan tangkas ia mengikatkannya ke kaki dan tangan Jacob. Kuat-kuat. Itu saja sudah sangat mengerikan. Ditambah lagi sewaktu Quil menyingkap kain yang menutupi benda yang tadi ditariknya.

"Astaga! Apa itu?!" teriak Jacob, demi melihat benda yang kini menjelma di sisi pembaringan. Benda aneh mengerikan, dengan tabung, selang-selang, dan entah apa lagi. Dan ikatan di lengan dan kakinya….

Satu hal mendadak melintas di kepalanya. Sungguh, sama sekali bukan bayangan yang indah….

"Alat penyedot darah," jawab Caleb tenang, mengonfirmasi kengeriannya. "Penemuan Edward, baru saja dipaketkan beberapa hari lalu. Sepertinya Alice mencium masalah, dan memaksa Edward melakukan sesuatu. Akhirnya ia membuat alat ini, berjaga-jaga seandainya ada salah satu dari kita yang terpapar racun vampir dan racunnya menyebar sebelum sempat disedot. Keren, ya?"

Brengsek! Apa-apaan Edward membuat alat mengerikan seperti itu? Penyedot darah, katanya? Apa itu artinya darahnya akan dikeringkan hingga habis? Oh, sungguh penemuan yang sangat khas vampir. Apa Edward sudah berubah jadi maniak sekarang? Apa ia, entah bagaimana, sudah terpengaruh Caleb dan Adam, yang sejak peristiwa Ben jelas sudah berubah menjadi calon-calon psikopat besar masa depan? Atau justru Caleb dan Adam jadi begitu gara-gara kebanyakan bergaul dengan Carlisle, dan selama ini diam-diam menjalin hubungan dengan Edward?

"Oh, tenang, Jake…," ujar Caleb santai. "Kami hanya akan mengganti darahmu. Ini seperti cuci darah, kok. Cuma memang sepertinya akan menyakitkan. Sebaiknya kau tenang. Karena ini baru pertama kalinya kami mencoba ini. Tapi kami punya manual," Caleb mengacungkan buku di tangannya. "Dan Edward siap membantu operasionalnya lewat Skype."

Quil menggeser laptop di pojokan. Entah sejak kapan koneksi internet di sana terhubung, yang jelas sekarang bisa dilihatnya wajah Edward di layar, menyeringai.

"Hai, Menantu," sapa Edward di layar. "Siap dikeringkan?"

"Siap dikeringkan gundulmu!" jerit Jacob, meronta-ronta dalam ikatan hingga Quil dan Caleb terpaksa memegangi kaki dan tangannya. Mencengkeramnya kuat-kuat. Tapi itu tak menghentikannya untuk terus memaki. "Awas kalau sampai aku mati, hei Ilmuwan Sinting! Aku tidak tahu apa yang merasuki otak bekumu itu sampai bisa-bisanya mencuatkan ide maniak seperti ini! Dasar Psikopat! Bilang pada Alice si Peramal Sableng itu, rohku akan menghantui kalian sepanjang eksistansi! Kalian bahkan tak perlu mengkhawatirkan Volturi karena aku akan meneror kalian hingga kau menjerit-jerit minta dibunuh…"

Edward hanya terkekeh di seberang sana, membuat Jacob merapal makian acak bagai mantra.

"Dasar Lintah Tolol, Ilmuwan Gila, Dokter Sinting, Siluman Otak Miring…."

"Ya ampun, Jacob…. Apa perlu kami memplaster mulutmu?" saran Caleb yang membuat Jacob membelalak marah.

"Plaster saja itu kepala si Ilmuwan Sinting! Aku yakin suhu Alaska membuat otak bekunya makin beku hingga gerigi mesin di kepalanya tidak bergerak! Atau malah otaknya yang mendadak dipaksa bekerja, setelah ratusan tahun tidak dipakai, jadi konslet dan pikirannya kacau! Pasti racun merkuri dalam darah singa laut membuatnya gila! Kalian anjing-anjing tolol mau-maunya menjadi kaki tangan Si Dr. Jekyll-Wannabe itu! Lepaskan aku sekarang!"

"Dia tidak meniatkan perintah itu, Cals," bisik Quil. "Dia tidak menurunkan Titah, jadi teruskan saja."

Kengerian mencengkeram Jacob ketika dilihatnya Quil menghidupkan alat itu. Dengung mesin yang mengerikan membuat jantung Jacob berdetak begitu cepat hingga seakan tercabik, dan ada derit aneh di dadanya yang memutus perhatiannya pada apapun selain ketakutannya sendiri, tapi ia bisa mendengar Edward bicara.

"Oh, Jake memang tidak akan mengeluarkan Titah, ya kan Jake? Yeah, tentunya itu kalau ia ingin selamat," sambut Edward, suaranya entah mengapa agak ceria. Mungkin ia menyukai kesempatan yang muncul mendadak untuk mencoba alat penyiksa Steampunk barunya pada calon menantu yang dikutuknya habis-habisan itu. "Pastinya ia tak ingin kalian mendadak berhenti saat aliran darahnya dibalik, atau tubuhnya dibelek dan jantungnya dikeluarkan, sementara lukanya belum sempat dijahit… karena itu akan…"

"Oh sialan, Edward! Tidak usah jelaskan prosesnya padaku, kau Psikopat Mengerikan! Hentikan ini dan lepaskan aku!"

"Oh, Jacob … jangan kasar. Nyawamu ini sekarang di tanganku…" ia tersenyum penuh kemenangan. "Dan hentikan histeriamu itu. Sungguh tidak pantas seorang Paduka Yang Mulia Alfa berteriak-teriak begitu," ejek Edward di layar yang membuat Jacob kian keras memaki. "Aku serius. Jantungmu bisa memicu racun menyebar lebih cepat," tambahnya logis, yang meski isi pembicaraannya serius, tetap bicara santai.

Rasa sakit di pergelangan tangannya yang mendadak membuat Jacob mengalihkan perhatiannya dari wajah Edward di layar, memandang tangannya. Beberapa selang dan pengikat tambahan sudah dipasang di sana. Rupanya ini semua memang direncanakan. Edward pastinya sengaja mengajaknya ribut untuk mengalihkan perhatiannya atas apa yang dilakukan tiga makhluk itu pada tubuhnya. Caleb dan Adam, ia tahu, mungkin memang dengan mudah bersekongkol, setelah Carlisle jelas menjanjikan beasiswa pada mereka. Tapi Quil … Quil sahabatnya….

"Lepaskan aku sekarang, Quil! Ini perintah!" teriaknya sambil memberontak keras-keras. Gaung Alfa mewarnai suaranya, yang anehnya, begitu lemah.

"Astaga Jacob, kau mau menggunakan otoritasmu sekarang? Coba saja, aku mau tahu yang mana yang lebih kuat: Titah Alfa atau Titah Mertua."

"A, apa maksudmu?"

"Quil benar, Jacob. Kalau kau terus ribut, Nak, aku bisa melarangmu bertemu putriku selama keabadian."

Heh? Apa itu? Edward mengancam … menggunakan Nessie?

"Kau tidak bisa melarangku bertemu imprintku!"

"Oh ya? Coba saja kalau kau berani, nanti kugempur sukumu."

"Apa-apaan kau?! Itu blackmail! ADUH!" Jacob berteriak kala lagi-lagi rasa ngilu yang aneh menyerang pergelangan tangan satunya. Caleb, entah sejak kapan, sudah menusukkan suntikan entah apa, menginjeksikan cairan aneh ke tubuhnya. "Astaga, apa yang kaumasukkan?" ia tak bisa menahan horror dalam suaranya.

"Oh, prosedur standar, Alfa. Tenanglah," Quil yang menjawab. "Ada di halaman 32 Manual C Step 5: Langkah Penanganan Alfa Berisik yang Panik dan Histeris. Maaf Jake, Titah Mertua tingkatannya lebih tinggi. Suku dalam taruhan."

"Oh brengsek kau, Quil!" maki Jacob lagi, yang anehnya hanya disambut dengung tawa Quil. Tawa mengerikan, sinting, kalau mau dibilang. Di layar, Edward ikut-ikutan tertawa, membuatnya melompat dari ujung tebing amarahnya. "Jangan senang dulu, kau makhluk dingin!" bentaknya kasar. "Tunggu hingga istrimu tahu kau membuat alat untuk menyiksaku! Pastinya ia akan melemparmu ke lubang di poros bumi yang bersambung ke Dunia Bawah!"

"Apa itu? Jules Verne? 'Journey to The Centre of The Earth'? Aku sungguh berharap sesuatu yang lebih orisinal, Jake…" Edward jelas cekikikan di sana, dengan latar belakang ruangan laboratoriumnya yang lengang di Alaska. Jacob yakin sekali Edward telah menipu Bella supaya keluar di saat ia mengadakan sambungan ini, agar Bella tidak tahu menahu suami kesayangannya menyiksa … ehm, calon menantunya. Bella pastinya mengamuk kalau tahu ini. Jacob yakin betul.

Karenanya ia benar-benar tak percaya, ketika satu suara muncul di latar belakang sambungan telepon di sana. "Bagaimana, Sayang? Berhasil?"

Bella.

Wajah Bella tidak muncul di belakang Edward, tapi ada siluet tubuh seseorang muncul di celah yang mendadak merekah di latar belakang. Bella hanya berdiri di ambang pintu laboratorium Edward, mengintip ke dalam, jelas tahu yang terjadi, namun tak sedikitpun mendekat untuk menyaksikan langsung.

Perasaan tersakiti dan terkhianati mendadak menumpuk dalam dadanya ketika ia berteriak, "Bella! Teganya kau! Kau tahu dan kau tak menghentikan Edward?! Kukira kau sahabatku!"

"Oh, dari jeritannya, kelihatannya bahkan mereka belum berhasil menidurkannya…," suara Bella lebih terdengar seperti keluhan kekecewaan ketimbang prihatin. Terlalu tenang. Dingin. "Aku keluar dulu kalau begitu," dan entah mengapa Jacob serasa mendengar kelanjutan ucapan Bella dalam kepalanya, 'Panggil aku kalau sudah sampai ke bagian serunya. Aku tak ingin ketinggalan adegan ketika jantung Jacob dicabut keluar.'

Oh, brengsek. Ia mulai berhalusinasi. Ini pasti efek morfin, atau cairan apapun yang dimasukkan Caleb.

"Oh, oke, Sayang….," balas Edward tenang. Dan dengan itu, terlihat bayangan tubuh Bella bergerak pergi.

Astaga, mengapa Bella tidak menghentikan Edward? Edward jelas sudah berubah jadi ilmuwan sinting mengerikan dalam fiksi Gothic Victorian. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Oh, jangan katakan Bella terlalu buta karena cinta sehingga tak berdaya melawan apapun keinginan suaminya. Atau mungkin pikirannya sudah diracuni. Ya, Edward pastinya sudah melakukan sesuatu untuk mengembangkan bakat kekuatan pikirannya, berhasil menembus bakat Bella dan … mencuci otaknya.

"Aku mengutuk jiwamu, Edward Psychollen!" teriaknya hingga seluruh kaca bergetar. "Semoga kau membusuk di Neraka!"

"Bicara apa kau, Nak? Aku kan tidak punya jiwa," kekeh Edward lagi.

"Ehm, Edward," suara Caleb menyela. "Kurasa ada masalah di sini. Tampaknya cairan itu tidak bekerja. Aliran darahnya tidak bisa dibalik."

Suasana mendadak berubah mencekam. Terdengar gumam pelan ketika tiga makhluk di sekitarnya menelan ludah. Jelas mereka tak bisa mempertahankan suasana ringan yang berusaha mereka paksakan sejak awal. Mata Jacob mengembang ketika ia menyadari apa arti semua itu.

Oh, jadi itu yang sejak tadi mereka berusaha lakukan sementara Edward berusaha mengalihkan perhatiannya? Menginjeksinya dengan cairan aneh dan berusaha membalik aliran darahnya? Rupanya ini bukan sekadar cuci darah seperti kata Caleb tadi. Ia tak tahu prosedur cuci darah tapi ia yakin prosedur itu bahkan tak ada hubungannya dengan 'pembalikan aliran' segala. Bahkan ini tidak selesai hanya dengan menyedot habis darahnya.

Tambah lagi, apa itu pembalikan aliran darah? Apa maksudnya darahnya yang mengalir ke jantung ditahan? Tapi itu kan berarti….

"Maka dari itu sudah kubilang, Daddy. Kita tidak mungkin bisa menyedot seluruh racun di tubuh Jake hanya dengan membalik aliran darahnya. Ya, itu bisa mencegah racunnya mencapai jantung, tapi salah-salah bisa membuatnya lumpuh total atau membunuhnya bahkan sebelum racunnya membunuh sistemnya. Dan kita tak bisa menjamin jantungnya benar-benar tak terkontaminasi," terdengar suara lain.

Nessie.

Nessie ada di sana?

"Ya. Tapi aku tak bisa menjalankan Rencana B," tekur Edward.

"Kita toh harus memastikan jantungnya sepenuhnya bersih," suara Nessie agak tegang. "Tak ada cara lain. Kita harus mengeluarkan jantungnya dan melakukan netralisasi."

Astaga. Apa itu?

Nessie? Membicarakan soal 'mengeluarkan jantung dan melakukan pembersihan menyeluruh'? Apa maksudnya?

Deheman berat Edward di layar terdengar. Jacob melayangkan pandangan ke sekelilingnya. Dilihatnya Caleb dan Adam sudah siap, seorang dengan pisau bedah di tangan dan seorang lagi dengan suntikan lain, sementara jemari Quil siaga di tombol-tombol mesin. Jacob merasa jantungnya sudah berhenti bahkan sebelum Edward memerintah, kelewat bersemangat untuk ukuran situasi saat itu, "Oke, kita mulai saja, Anak-anak. Lakukan Prosedur D. Tambahkan morfin banyak-banyak dan …"

Jacob tidak mendengar kelanjutannya. Suara Edward lenyap ditelan teriakan makian kasarnya. Itu sebelum entah siapa itu, salah satu dari tiga kaki tangan si Ilmuwan Psikopat itu, lagi-lagi menghujamkan suntikan besar berujung jarum titanium ke kulitnya, memasukkan morfin dosis tinggi yang entah dicampur apa. Membuat tubuhnya terasa begitu aneh. Kelopak matanya mendadak berat, sangat berat.

Ya, pasti morfin ini juga sudah diotak-atik Edward. Si makhluk yang isi kepalanya sudah jadi es ratusan tahun itu entah kerasukan setan apa sekarang, mendadak jadi sok pintar dan keranjingan membuat penemuan-penemuan aneh dari laboratoriumnya di Alaska. Jarum titanium, alat penyedot darah, dan kini morfin hasil rekayasa…. Entah apa lagi kelak penemuan sinting Edward. Jelas dia menjadikan kawanan sebagai kelinci percobaan. Bahkan si Dokter Obsesif Carlisle pun tak pernah menyuntikkan morfin yang membuat tubuhnya bereaksi seperti ini. Kuat, terlalu kuat….

Seketika kesadarannya menipis. Jatuh. Begitu cepat. Terlalu cepat.

Ini pasti mimpi. Tak mungkin ia ada di dalam situasi seaneh ini. Edward dan alat steampunk-nya. Duo psikopat yang mendadak menjadi trio dengan tambahan sahabat terbaiknya. Bella dan Nessie, ikut ambil bagian….

Ya. Ini tentunya halusinasi. Semua ini tidak nyata. Ini tidak mungkin nyata. Ia pastinya masih ada di hutan. Korra tengah menolongnya saat ini, menyedot racunnya.

Lantas dirasanya rasa perih itu, ketika bahkan tanpa menunggunya benar-benar tertidur, bagian tajam skalpel di tangan Caleb menyayat dadanya. Ia bahkan tak bisa lagi berteriak.

Dan segalanya lenyap.

.


.

Ketika ia sadar, ia sudah terbaring di sofa ruang tengah. Yang pertama dilihatnya adalah wajah Quil, tersenyum begitu melihatnya sadar.

"Hei, Alfa…. Sadar juga kau."

Jacob mengerjap. Diedarkannya pandangannya ke sekeliling. Bukan hanya dirinya dan Quil di sana. Pasien-pasien lain terbaring di sofa yang dideretkan. Clark, Harry, Brady. Tubuh mereka disambungkan dengan selang infus. Sesosok tubuh tampak tertidur dalam posisi duduk di lantai, membungkuk di sisi Brady, kepalanya tersangga oleh tangannya yang bertumpu pada sisi sofa. Sudah jelas itu Josh. Bahkan walau Josh tetap selalu menjauh dari geng Brady dan bersikap cuek, tak diragukan lagi ia yang paling memperhatikan Brady. Bahkan dulu waktu Brady terluka akibat jatuh ke jebakan Korra, Josh bulak-balik ke rumah Cullen, menunggui sepupunya. Tanpa sepengetahuan Brady, tentu. Bagaimanapun Brady masih menunjukkan permusuhan terkait dengan insiden Roxanne, dan kelihatannya Josh terlalu tinggi hati untuk mau meminta maaf dan menunjukkan perhatiannya secara langsung di depan orangnya kala ia sadar.

Agak tersenyum dengan skema kisah remaja yang jelas bermain di hadapannya, Jacob mengalihkan pandangannya ke luar. Langit masih gelap di luar kala ia mengintip dari jendela, meski ada semburat merah di sana, tanda fajar menjelang.

"Astaga. Berapa hari aku tak sadarkan diri?"

Terakhir kali ia pingsan setelah dihajar vampir, ia pingsan selama lima hari. Sekarang, setelah bukan hanya melawan pemimpin vampir, tapi juga menghadapi penyiksaan dengan alat steampunk temuan si Ilmuwan Lintah Gila, tak heran jika ia baru sadar setelah koma minimal sebulan.

"Oh, jangan hiperbolis, Jake. Kau baru saja tidur dua jam," ujar Quil santai, nyengir. Ekspresinya tak ternilai ketika dilihatnya Jacob menganga tak percaya.

"Dua jam?!"

"Sepertinya dengan menyedot darahmu dan menggantinya dengan darah bersih, proses pemulihanmu meningkat pesat. Untung saja Caleb dan Adam menginvestasi darah kita di sini, untuk jaga-jaga. Karena berdasarkan pengalaman, darah manusia normal tidak bisa masuk ke tubuh kita, karena pasti sistem kita yang kelewat protektif itu menganggapnya benda asing dan memeranginya."

Tidak begitu mengerti apa gerangan yang diocehkan Quil, Jacob hanya berkomentar 'oh' singkat dan berusaha mengangkat tubuh. Tubuhnya terasa masih sangat lemah. Dengan kesal dihempaskannya lagi tubuhnya ke sofa. Sesuatu terasa mengganjal di lengannya. Ketika ia mengangkat lengan dan memperhatikan sekeliling, barulah ia sadar. Satu lengannya digips, dan satunya lagi disambungkan dengan semacam infus. Tabung darah menggantung dari tiang vertikal di atasnya.

"Aku mendapat transfusi darah?" bisiknya tak percaya.

"Ya. Makanya jangan terlalu banyak gerak, atau bicara. Kau mungkin cepat pulih, tapi jelas belum pulih benar."

Meski sudah dibilang jangan bicara, gerutuan Jacob jelas terdengar. Bagaimana tidak, ia jelas merasa berhak untuk kesal. Terakhir kali ia mendapat transfusi adalah sewaktu ia mendapat kecelakaan gara-gara mencoba sepeda motor bersama Quil dan Embry, ketika mereka kelas tiga SMP. Sejak ia berubah, tak pernah sekalipun ia begitu kehabisan darah sehingga perlu ditransfusi dan harus merasa setakberdaya ini. Ya, tentu saja, tak pernah darahnya disedot hingga habis seperti saat ini. Tambah lagi, bukan oleh vampir, tapi oleh mesin tolol buatan vampir sinting….

"Oh, brengsek si Edward Lunatic Psychollen itu," gerutunya. "Ketemu nanti, akan kurebus kepalanya…. Mungkin dengan begitu otak-batu-esnya bisa mencair dan ia bisa berpikir normal…"

Quil terkekeh. "Kau harusnya berterima kasih padanya. Kau selamat itu berkat penemuannya. Memang penolong misteriusmu menyumbat aliran darahmu sebelum kau dibawa kemari, untuk mencegahnya mencapai jantung, tapi kau sih, kebanyakan bicara dan bergerak, jadi racunnya menyebar. Dengan kondisi lukamu, seharusnya kau sudah mati sekarang. Ia juga yang menemukan jarum titanium yang digunakan untuk mentransfusi darahmu, beserta seluruh peralatan khusus operasi. Dilapisi senyawa khusus yang bisa menghentikan pembekuan darah alami, jadi lubang di kulitmu bisa tetap terbuka, sehingga darah atau cairan apapun bisa masuk ke sistem kita. Lumayan oke untuk makhluk yang otaknya terbuat dari batu es, kau tahu."

Senyawa khusus?

"Kalau itu senyawa yang diturunkan dari racun vampir, akan kubunuh dia!" geram Jacob.

Didengarnya Quil menelan ludah, dan itu membuatnya murka.

"Ha! Aku benar, kan? Ia main-main dengan struktur kimia racun vampir! Dan mengujicobanya pada kita! Coba kalau Carlisle tahu, pasti dia diusir dari klan! Oh tidak, aku punya ide lebih bagus. Aku akan pastikan Carlisle melapor pada Aro, biar kepala si sinting itu diremukkan sekalian!"

"Jake, sudahlah…. Apapun yang dilakukan Ed, jelas ia menolongmu!"

"Dengan barang uji coba! Prototip setengah jadi yang belum ketahuan aman atau tidak!"

"Dari mana kau bisa berkesimpulan itu prototip setengah jadi?"

"Oh, ayolah, Quil! Masa iya dia bisa menguji coba pada tikus? Gen kita unik! Aku tidak yakin ada werewolf tolol yang mau-maunya dia bayar untuk jadi anjing percobaan, jadi pastinya dia belum pernah mencoba alat-alat ini sebelumnya. Entah apa efek sampingnya nanti…. Kuharap aku tidak menjadi semacam hibrida vampir-serigala mutan. Sial aku kalau separuh otakku ikut beku seperti otaknya."

"Nah, kau kan tidak perlu khawatir. Separuhnya kan memang bahkan sudah beku sejak awal," Quil mencoba bercanda, tapi salah tempat.

"Kau mau bilang aku tolol?!" teriak Jacob keras. Yang mendadak membuatnya mengaduh-aduh bilang dadanya sakit.

Quil memutar bola matanya. "Kau itu baru menjalani operasi, Bodoh! Aliran darahmu baru dikembalikan, jadi cobalah untuk tenang. Oke?"

"Ya, lagipula kau bisa membangunkan anak-anak lain," sambut Caleb di tepi foyer. "Aku baru saja menambah suntikan obat penenang supaya mereka bisa tidur. Mereka semua bangun waktu kau berteriak-teriak saat operasi tadi, tahu!"

Jacob memicing ke arah sumber suara, mendengus kesal. "Hei, kau kaki tangan lintah, berapa memang Edward menyogokmu agar kau mau melakukan semua ini?"

"Kata siapa Edward menyogokku?" Caleb berusaha santai, tapi jelas terlihat ia bergerak tidak nyaman.

"Ha! Aku tahu Ed memang menyogokmu!" seru Jacob. "Jadi jawab jujur sebelum aku menurunkan Titah!"

Mata Caleb mengembang. "Kau takkan menelurkan Titah sembarangan karena alasan tolol!"

"Oh ya? Siapa bilang? Tanya Embry di sana, atau Josh… atau siapapunlah… Mungkin kau bisa tanya Almarhum Collin di alam sana nanti kalau aku menurunkan Titah agar kau bunuh diri. Dia yang paling sering mendapat Titah karena alasan bodoh…."

Pembicaraan yang tiba-tiba melayang pada Collin membuat Jacob mendadak terdiam. Collin … apa yang terjadi dengannya sekarang? Apa Sam berhasil menolongnya? Atau menarik ke atas mayatnya? Astaga, apa Sam bahkan tahu ia ada di sana? Kata Ariana ia ada di dasar jurang, tertimbun…

"Tapi kan tidak untuk urusan ini!" Caleb masih memperpanjang keributan. "Aku baru saja menyelamatkan nyawamu!" tunjuknya.

Jacob mendengus kesal pada kekeraskepalaan bocah ini. Oke, ia bukan Collin, tapi ia sama menyebalkannya. Benar-benar replika Paul, mentang-mentang Caleb sepupunya.

"Oh, kau mau bermain 'hutang budi' sekarang? Coba hitung berapa kali aku menyelamatkanmu kalau ada serangan! Jadi berhenti bicara berputar-putar dan jawab pertanyaanku!"

Entah Jacob tak sengaja menurunkan Titah, atau memang Caleb saja yang sensitif terhadap apapun tanda seru di kalimat Jacob, ia langsung menjawab, "Oke. Memang dia menyogokku. Beasiswa. Untukku dan Adam."

"Dasar materialistis!" teriak Jacob berang. "Kaugadaikan keselamatan Alfamu demi beasiswa?! Lagipula untuk apa kau butuh beasiswa? Kau kan sudah dapat dari calon mertuamu di rumah sakit itu, ayahnya Serena!"

"Itu kan beasiswa kuliah," tukas Caleb. "Yang akan kudapat dari Ed ini uang saku dan uang buku selama aku kuliah nanti. Ditambah lagi kesempatan magang di rumah sakit keren di Washington." Ia tersenyum lemah. "Maaf, Jake, kau tahulah keadaan keuangan keluarga Lahote belakangan."

Jacob menggerutu soal rendahnya harga diri kedua serigala itu, serta maraknya nepotisme di dunia pendidikan, sebelum tahu-tahu Adam keluar dari dapur. Di tangannya ada setumpuk sandwich.

"Oh, sudahlah, Jacob…. Kau itu menggerutu terus, mana bisa kau cepat sembuh?"

"Brengsek, Adam! Kau itu sama saja dengan Caleb! Apalagi kau, sogokannya saja ganda! Carlisle juga memberimu beasiswa kuliah kan?"

"Memang kenapa kalau begitu? Aku kan mendapatkannya karena Carlisle bilang ia kagum dengan pekerjaan kami selama ini…. Jadi ini bukan sekadar nepotisme, kan?"

"Ya. Tapi tetap saja…"

Adam menghela napas lelah, duduk di pinggir sofa seraya menggigit sandwich-nya. "Jacob, sebagai doktermu, aku harus memerintahkanmu untuk istirahat. Berhenti menggerutu dan jangan bicara yang aneh-aneh lagi, atau aku terpaksa memberimu obat tidur dosis tinggi."

"Oh, kau merasa bisa memerintahku sekarang? Sebagai Alfamu, aku memerintahkanmu tutup mulut!"

Tapi Adam hanya tertawa. Jelas tak ada gaung apapun dari ucapan Jacob barusan, tanda ia tak sungguh-sungguh mengucapkannya. Tambah lagi, di mana-mana juga, Titah Alfa melawan Titah Dokter, selalu Titah Dokter yang menang. Bahkan Titah Alfa kalah melawan Titah Mertua, sebagaimana dibuktikan Edward di meja operasi barusan.

Ehm, 'Mertua', katanya?

Oke, memang Quil yang memakai istilah itu. Tapi Edward menanggapinya dengan santai. Berbeda dengan biasanya ketika ia mendesis atau melontarkan ketidaksukaannya ketika salah seorang dari dua keluarga yang mengitari mereka mengolok-olok dengan sebutan 'Daddie Eddie' atau 'Calon Mertua Anjing', kali itu bahkan ia menyebut Jacob 'Nak'.

Oh, bahkan sebelumnya, ia bilang, 'Halo, Menantu…'

Oh, apa Edward sudah menerimanya? Sepenuhnya?

Tunggu, tunggu. Semua ini aneh. Edward memanggilnya 'menantu', lalu mengujicoba alat steampunk-nya. Bella dan Nessie menonton pertunjukan ia disayat-sayat di tangan tiga serigala gila. Ini pasti halusinasi.

Tapi halusinasi pun tidak apa-apa. 'Menantu', kata Edward….

"Wah, asyik juga kalau begini," Caleb bersiul, mengganggunya yang sedang asyik melayang, menghempaskannya ke bumi. "Kapan lagi kita bisa memerintah Paduka Yang Mulia, The Almighty Alpha, Jacob Black II?" lanjutnya menyebalkan, yang dibalas pelototan Jacob. Namun ia tak peduli, dengan santai ikut menyambar sandwich di piring tanpa basa-basi, diikuti Quil.

Jacob juga bergerak bergulir menjangkau piring, tapi tentu saja ia tertahan selang dan kebas pada tubuhnya. Berbalik, menjatuhkan diri ke sofa, ia mengumpat.

"Hehehe, maaf, Alfa. Belum boleh makan makanan padat sekarang," kata Adam dari sofanya. "Nanti setelah sistem aliran darahmu kembali normal, baru kau bisa makan. Tunggulah sebentar. Dengan kecepatan kita, mungkin sekitar tiga-empat jam lagi."

Jacob mendelik sebal melihat ketiga cowok itu asyik makan di depannya, tidak mempedulikannya yang hanya bisa menelan ludah. Bahkan bisa dibilang mereka sengaja pamer. Sambil makan, mereka sibuk saling menggoda satu sama lain. Berceloteh riang dengan topik acak. Hingga sampai ke urusan membangga-banggakan tindakan heroik mereka menyelamatkan anggota kawanan hari ini. Termasuk apa yang mereka lakukan di meja operasi. Ia berusaha menulikan telinga ketika mereka membicarakan istilah-istilah medis yang tidak ia mengerti, tapi tiba-tiba ucapan seseorang menarik perhatiannya.

"Oh, tadi itu benar-benar menegangkan!" ia mendengar Caleb berseru di antara suapan-suapan sandwich-nya. "Sumpah, ini operasi paling mengerikan yang pernah kulakukan. Aku yakin tidak ada film Hollywood manapun yang menyetarainya!"

Bayangan itu mendadak muncul di kepala Jacob tanpa sempat ia hentikan. Tubuhnya yang tergolek tak berdaya di meja bedah dadakan yang bahkan jauh dari layak. Edward di layar, memandang dengan matanya yang hitam penuh dahaga. Mesin steampunk yang berdengung mengerikan, menyedot hingga kering darah di tubuhnya. Quil yang mengoperasikan mesin dengan sorot mata berbahaya. Kedua psikopat, Caleb dan Adam, yang memegang pisau bedah dengan kekehan tawa mengerikan dan mata berbinar-binar.

Ia menggeleng kasar, berupaya mengenyahkan bayangan itu. Caleb dan Adam mungkin hobi nonton film-film psikopat, tapi mereka menikmati detik-detik ketika harus mempertaruhkan nyawa Alfa mereka sendiri? Itu tak mungkin terjadi.

"Ya. Apalagi ketika ternyata rencana awal gagal dan kita harus lanjut ke rencana cadangan. Berpacu waktu...," Adam ikut menerawang.

"Oh, aku paling suka saat-saat itu! Menyenangkan!" seruan penuh semangat Caleb menghentaknya. 'Suka', katanya? "Waktu kita harus mematikan jantung Jacob. Saat kita memutus semua pembuluh dan menyambungkannya dengan selang dan kabel. Saat kita harus mengangkat jantungnya yang ada dalam keadaan mati suri, menggantinya dengan mesin…"

Bayangan itu kembali berlanjut. Kegagalan yang memaksa mereka untuk menempuh prosedur cadangan. Adam yang membelek dadanya dengan skalpel titanium, membuka lapis demi lapis daging, menyingkap rongga tempat jantungnya bersarang. Caleb, dengan instruksi Edward, yang mengerjai tiap vena dan aorta di sana, menyuntikkan beragam cairan yang tidak ia ketahui, berusaha memutus aliran darah ke jantungnya. Quil yang memindahkan denyut jantungnya ke mesin. Caleb yang mencabut jantung dari rongga dadanya. Tangan Caleb yang terangkat, mencengkeram jantung yang meneteskan darah segar, masih berdenyut, sementara darah membasahi baju hijau ketiganya. Tawa Caleb yang berkumandang mengerikan….

Aaaaaaarrrghhhh!

"Dan lebih tegang lagi waktu kita mengembalikan jantung Jacob ke rongganya, memutus kerja mesin pengganti, dan berusaha mengembalikan sistem kerja jantungnya. Salah-salah jantung Jake benar-benar tidak bisa berdenyut lagi."

Oh ya, jantung Jacob benar-benar berhenti berdenyut saat itu.

"Kalian mematikan jantungku?!" suaranya penuh horor.

"Tentu!" Caleb menepuk dada dengan bangga. "Edward bilang operasi jantung itu sangat rumit dan beresiko hingga dokter bedah sungguhan saja butuh sekolah spesialisasi dan pengalaman bertahun-tahun untuk bisa melakukannya. Fakta bahwa kami berhasil mengembalikan denyut jantungmu pada kali pertama kami mencoba…"

"Kalian baru pertama kali melakukannya dan sudah coba-coba mematikan jantungku?!" suara Jacob naik dua oktaf. Tapi Caleb tidak menyadari kengerian dalam suara Jacob dan balas menyambutnya dengan riang.

"Oh, sumpah itu benar-benar 'W-O-W', Jake!" senandungnya dengan mata berbinar, tak ubahnya anak lima tahun yang menceritakan pengalamannya naik roller-coaster. "Edward memuji kami, bilang kami sangat berbakat dan cepat tanggap. Oh, itu sungguh memicu adrenalin! Kita harus mencoba ini lagi kapan-kapan."

"MENCOBA KAPAN-KAPAN GUNDULMU! KAUPIKIR OPERASI JANTUNG ITU MAIN-MAIN?! SALAH-SALAH AKU BISA MATI, TAHU! DASAR AMATIR TOLOL! KAU ITU CALON DOKTER BEDAH ATAU PSIKOPAT, SIH?!"

Teriakan Jacob kontan membuat seisi ruangan diam. Caleb, yang baru sadar keriangannya salah tempat, membeku dengan bola mata bergerak-erak panik. Quil membelalak, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dan Adam hanya mendesah lelah.

Jelas saja, berkat teriakan Jacob, separuh anggota kawanan, yang tidak berada dalam kondisi cukup trance untuk tetap tidak sadarkan diri, mendadak bangun. Dalam kasus ini, hanya Harry, karena Clark jelas masih koma. Josh megap-megap, tanpa sengaha menjatuhkan tangan besarnya yang ia gunakan untuk menyangga kepalanya, ke dada Brady. Membuat Brady kontan terbangun dan batuk-batuk keras, memuntahkan darah.

Adam mendelik sebal pada Jacob, mendekati Brady dan Harry satu-satu. Tersenyum terpaksa, menenangkan dan mengecek kondisi mereka, lantas lagi-lagi memberi tambahan dosis obat tidur, yang segera membuat mereka kembali ke alam lain. Penyembuhan, menurut prinsipnya, jauh lebih efektif dalam kondisi tidur. Sedangkan Josh, yang jelas tak menderita luka sedikitpun, hanya mengantuk berat, menguap dan pergi dengan langkah terhuyung. Kelihatannya ia berniat mencari tempat lain yang lebih tenang untuk melanjutkan tidur.

Sebenrnya, korban histeria Jacob bukan hanya anggota kawanan. Jacob sendiri langsung mengaduh dadanya sakit. Membuat Caleb kelimpungan dan langsung mendekat, berusaha memperbaiki posisi tidur sang Alfa. Menambah pengganjal dan memperbaiki selang transfusi.

"Maafkan aku," bisik Caleb takut-takut di bawah tatapan berbahaya Jacob.

"Bukan salah Caleb," ujar Quil tanpa beranjak dari tempat duduknya di sandaran lengan di sisi sofa yang ditiduri Jacob. "Kau saja yang bereaksi kelewat berlebihan," tunjuknya.

"Oh, coba bilang yang mana yang berlebihan," dengus Jacob sinis. "Apa reaksiku berlebihan, menimbang nyawaku baru saja berada di ujung tanduk? Di tangan tiga dokter bedah gadungan, yang tak hanya belum pernah menerima pendidikan medis formal, tapi juga jelas menderita gangguan kejiwaan? Di bawah pengawasan vampir penderita psikosis yang berada ribuan mil dari sini? Dan ditonton imprintku sendiri?"

"Ehm, sebenarnya, Jacob…," Quil tampak ragu. "Ed hanya separuh mengawasi jalannya operasi."

"Kalian bekerja sendiri?!"

"Tidak juga. Sebenarnya, begitu Prosedur D dilaksanakan, Bella ikut mengawasi, tapi baru separuh jalan, ia ribut mual dan langsung pergi. Huh, seolah di perutnya ada isi yang bisa dikeluarkan saja," Quil mulai melantur, namun berhenti di bawah tatapan mengerikan Jacob. "Ehm," ia kembali ke pokok masalah, "Edward hanya bisa mempertahankan kewarasannya hingga kami selesai membuka rongga dada dan menyingkap jantungmu. Matanya sudah menggelap melihat darah. Padahal ia bilang ia sudah berburu dan sebenarnya ia kan tidak melihat atau mencium langsung baunya… Tambah lagi ia kan sudah pengalaman… Ia susah payah berusaha bertahan, memberi instruksi. Akhirnya setelah kami berhasil menghentikan jantungmu dan memasang substitutor, ia bilang ia tak tahan lagi dan pergi. Baru kembali ketika saatnya jantungmu dikembalikan untuk dibangkitkan. Lalu…," ia mulai salah tingkah. "Sisanya … ehm … operasi pengangkatan jantung, pembalikan aliran darah, dan netralisasi jantung dilakukan … di … ehm, di bawah pengawasan…," ia terlihat tak yakin untuk mengatakannya, tapi tatapan Jacob yang menuntut membuatnya tak punya pilihan lain. "Ehm… Renesmee," akhirnya kata itu keluar juga, lirih.

Jacob langsung tampak bagai hantu. Pucat pasi.

Astaga. Apa ia masih berhalusinasi? Semua ini masih tidak nyata?

Pasti.

Tapi ia merasakan sakit di dadanya, detak jantung lemahnya… Dan ngilu di pergelangan tangannya yang ditusuk jarum. Jarum itu jelas betulan. Sakit ini jelas nyata.

"Kalian menggantungkan operasiku di tangan anak usia lima tahun?!" desisnya tak percaya.

"Enam, Jake," koreksi Quil. "Dan Ness jenius."

"Tapi tetap saja ia di bawah umur! Apa yang kaulakukan, memangnya, ketika umurmu enam tahun? Apa kau bahkan mengoperasi kodok? Tidak! Kau sibuk mengejar kelinci dan ketakutan pada boogieman yang sembunyi di kolong tempat tidurmu, sampai-sampai tiap pagi kau kencing di celana! Dan kalian menyerahkan tanggung jawab jalannya operasi pada Nessie?!"

"Usia tidak lagi signifikan kalau bicara tentang Ness…"

"Aku tidak peduli kematangan mentalnya atau berapa banyak buku yang ia baca atau berapa IQ-nya! Ia tetap amatir! Bocah kecil! Dan lagi, oh Tuhan, Quil… Bisa-bisanya Edward membiarkan Ness melakukannya … melihat semua itu…. Horor betulan yang tayang langsung di depan matanya. Ness bukan vampir, ia harus tidur. Bayangkan mimpi buruk berbulan-bulan yang menghantuinya. Dan lagi, bayangkan pengaruhnya pada kondisi kejiwaannya. Bagaimana jika ia ikut-ikutan jadi psikopat seperti Adam dan Cals? Dan jika aku mati, bagaimana jika ia merasa terguncang? Merasa gagal? Setelah selama ini ia selalu percaya diri dengan segala pencapaiannya…. Bayangkan wajah lesunya, dan aku takkan ada untuk menghiburnya…. Jika itu jadi pukulan telak bagi kebanggaannya, lantas ia mulai mempertanyakan kemampuannya…."

Suara Jacob makin lama makin pilu dan menerawang, namun alasannya makin lama makin jauh dari konteks, membuat Quil ternganga. Lebih dari soal kemungkinan ia mati, Jacob lebih mengkhawatirkan efek operasi itu pada kondisi kejiwaan Nessie, dan satu lagi, luka pada harga diri Nessie. Padahal, belum lama, ia memaki-maki Edward karena menempatkannya pada ambang kematian, dengan mencoba standar iperasi yang belum pernah dilakukan dengan alat yang belum pernah masuk tahap uji coba. Astaga. Apa ini efek imprint?

Quil merasa itu wajar, sebenarnya. Mungkin ia juga akan bersikap begitu jika berada di posisi Jacob, dan Claire ada di posisi Ness. Ia pasti akan melindungi Claire apapun alasannya. Sebodoh dan sekonyol apapun kelihatannya. Bahkan jika ia sadar selama operasi berlangsung, mungkin ia akan terus mencandai gadis itu, berupaya menahan semua rasa sakit dan berusaha tampak biasa-biasa saja. Tapi itu tak mungkin. Tidak mungkin ia bisa tetap sadar ketika jantungmu dikeluarkan.

"Omong-omong," Jacob membuyarkan rentetan pikirannya. "Kenapa kalian pakai harus mengeluarkan jantungku segala?"

"Yeah, itu…" Quil menelan ludah. "Ness takut jika jantungmu tetap beroperasi normal, racunnya akan menyebar ke sana. Kami berusaha melemahkan jantungmu tapi rupanya itu tidak cukup. Tapi tak bisa memutus total aliran darah dan membaliknya karena itu akan mematikan jantungmu secara permanen. Membunuhmu. Jadi kami harus memakai substitutor. Memastikan kau tetap bisa hidup walau kami harus mengeringkanmu. Yah, kami tak bisa dibilang mengeringkanmu total sih, karena kami hanya menyedotnya dan langsung menggantinya dengan yang steril, tentu. Dan lagi, jantungmu perlu dinetralisasi, dibersihkan secara menyeluruh, memastikan tak ada racun tersisa," jelasnya.

"Netralisasi di luar?"

"Yeah, netralisasi di luar," angguk Quil lemah.

Jacob bahkan tidak perlu bertanya detail mengenai prosedurnya. Semua sudah membayang di kepalanya. Tidak, ia bahkan tak ingin memikirkannya.

"Tunggu," mendadak Jacob ingat sesuatu. "Tadi kalian bilang baru pertama kali melakukannya? Padaku? Kalian tidak melakukannya pada yang lain? Embry? Clark? Clark yang paling awal digigit. Racunnya pasti sudah mencapai jantung."

"Racun di tubuh Embry sudah kauhisap, dan racun di tubuh Harry mungkin belum terlalu menyebar sehingga mudah disedot. Namun penolongnya jelas tak ragu untuk menyedot habis racun Clark sekaligus darahnya, nyaris mengeringkannya. Kami mengira Clark sudah mati ketika sampai di sini. Jantungnya hampir tak berdetak. Untung saja itu hanya karena jantungnya dilumpuhkan, berada dalam batas minimal. Jadi Clark hanya mati suri, dan jantungnya kembali berdetak ketika kami berusaha membangkitkannya dan memberinya darah."

"Oke. Jadi intinya kalau itu bisa dilakukan, kenapa ia tidak melakukan hal sama denganku?"

"Itulah misterinya. Jujur aku bingung mengapa ia bahkan tidak total melumpuhkanmu. Padahal kalau ia melumpuhkanmu, jantungmu akan lebih mudah selamat. Kami bahkan tak perlu menetralisasinya. Kelihatannya ia enggan menyentuhmu lebih dari yang ia lakukan."

"Kenapa?"

"Sudah kubilang itu misteri, Jake. Kami tidak tahu."

Jacob menghela napas berat. Aneh. Benar-benar aneh.

"Bisakah kau berhenti berpikir dan membicarakan yang tidak-tidak?" Adam menghampirinya setelah selesai dengan Brady dan Harry. "Urusan pekerjaan tidak jauh lebih penting daripada kesehatanmu."

Jacob mendelik padanya. "Kalau masalah ini tidak cepat diungkap, ini pasti akan terjadi lagi. Siklus aneh brengsek. Aku pernah melalui ini sebelumnya, ingat? Waktu aku diserang dulu itu. Dia jelas tidak ragu menyedot racun di tubuhku."

"Ya. Dan kau tidak sadar selama lima hari. Lihat sekarang. Baru dua jam dan kau sudah siuman. Bandingkan dengan yang lain. Jelas, proses penyedotan alami punya kelemahan dibanding operasi. Dia mungkin mempertimbangkan itu. Dia mungkin ingin kau cepat sembuh."

"Oke. Jadi apa yang membuatnya yakin bahwa jika pun ia tidak menolongku, aku akan selamat? Dan itu masih tidak menjawab, mengapa ia melakukannya hanya padaku?"

Ya. Patut diakui memang itu aneh. Sangat.

Adam menempatkan diri di sisi Quil, tampak berpikir.

"Jake, penolongmu itu …," ia tampak ragu. "Korra, kan?"

Quil dan Caleb tampak agak menahan napas tapi Jacob tidak ingin bertanya mengapa Adam, atau mungkin ketiganya, sampai pada kesimpulan itu.

"Aku masih belum yakin. Tapi mungkin saja memang benar."

"Kalau begitu, apa menurutmu mereka berhubungan?"

"Mereka siapa?"

"Sam yang membawamu ke sini. Korra yang mungkin menolongmu. Dan Edward yang membuat alat itu."

Mata Jacob mengembang ketika ucapan Adam membuat sesuatu 'klik' di otaknya.

"Maksudmu mereka semua saling tahu dan … saling bekerjasama?"

"Itu hanya kemungkinan," ujar Adam lagi. Kini tampak makin tidak yakin. "Dan satu lagi, mungkin aku tahu alasan Korra tidak menghisap habis racunmu dengan bibirnya sendiri."

"Mengapa?"

"Karena ia menahan diri."

"Menahan diri? Mengapa?"

"Karena kau Alfa...," kali ini bukan Adam yang bicara, melainkan Quil. Suaranya entah mengapa agak tegang, dan matanya menerawang. Seakan suatu kesadaran menohoknya.

"Oke, semua juga tahu itu. Lalu apa hubungannya? Memangnya kalau aku Alfa, kenapa?"

"Kau tahu legenda itu, Jake," Quil menatapnya. "Yang dibilang kakekku. Soal Kierra."

"Lantas?"

"Kau ingat bagian ketika Kierra membunuh kepala suku sebelumnya? Dan ia menghisap habis darahnya?"

Ucapan Quil membuat ingatan Jacob melayang pada legenda itu. Lagi-lagi legenda itu. Tapi ia sungguh tidak mengerti. Apa hubungannya antara Kierra menghisap habis darah kepala suku dan Korra enggan menghisap racunnya?

"Itu sudah jelas, kan, Jake?" ucap Quil lagi, ketika Jacob masih memasang tampang bingung. "Jika memang ia pernah menolongmu sebelumnya, mungkin ia sudah merasakan efek dari darah seorang Alfa. Terus terang, kondisimu waktu itu hampir sama seperti Clark, kering kerontang. Dan ia tidak ingin melakukannya lagi. Karena itu akan membangkitkan instingnya untuk mengeringkanmu, yang berarti membunuhmu dan mengklaim kedudukanmu."

Jacob terpana pada kesimpulan aneh Quil, sebelum ia memperdengarkan tawa kecut. "Apa itu maksudnya, Quil? Kau mau bilang adikku sendiri punya naluri untuk membunuhku? Dia adikku, Quil! Ia telah menolongku! Meski ia kini ada di tangan si Alfa putih itu, para penjajah itu, aku yakin ia takkan mau sukarela membunuhku… Apalagi demi kedudukan."

Quil, anehnya menghela napas berat. "Ya Jake, memang benar, kalau ia mau, ia bahkan tidak perlu membunuhmu untuk mengklaim kedudukanmu. Ia bisa melakukannya kapan saja ia mau."

Nada bicara Quil pahit, sangat. Jelas sekali ia tidak menyukai Korra, dan entah mengapa itu membangkitkan suatu perasaan aneh dalam diri Jacob. Seolah ia ingin menampar Quil. Menyuruhnya bicara hati-hati.

"Oke. Aku mengerti ke mana arah pikiranmu," katanya masam. "Ini berhubungan dengan posisinya sebagai putri Billy dan hierarki bodoh, jadi kaupikir ia jadi punya insting persaingan denganku, seperti dulu aku dan Sam. Tapi kalau memang begitu, ia tak perlu susah payah mencoba menolongku, entah menyedot racunku atau menahan racun supaya tidak mengalir ke jantungku. Dengan posisinya sebagai nomor dua, ia tinggal membiarkan saja aku dimakan dan ia bisa …"

"Tidak, Jake," potong Quil. "Oh Tuhan, kau bahkan tidak tahu posisimu! Kau tidak tahu siapa dia?"

Quil bicara seolah menggarisbawahi kata, 'Dia saingan kuat yang akan merebut kedudukanmu', membuat Jacob mendesis marah. Sudah cukup segala omong kosong soal hierarki. Huh, mengapa semua orang menganggap itu penting?

"Dia adikku!" teriaknya penuh penekanan.

"Jacob," nada bicara Quil mendadak lebih hati-hati. "Dia bukan sekadar calon nomor dua. Dia lebih dari itu."

Ada sesuatu dalam ucapan Quil yang membuat Jacob merasa aneh.

"Apa maksudmu?" desisnya.

"Kau pastinya tahu darahnya. Ariana dan Billy… Ditambah Korey dan William… Darahnya terlalu murni untuk ditandingi siapapun juga. Termasuk kau."

"Tunggu, tunggu. Memang kenapa kalau ia putri Ariana? Dan siapa pula Korey? Mengapa ia menjadi terlalu murni? Termasuk aku? Apa maksudmu?"

Quil mengerjap. "Jake … jangan bilang … kau tidak tahu siapa Ariana?"

"Ibu Korra? Selingkuhan Billy?"

Ya. Apa lagi memang? Ada sesuatu yang lain dari perempuan itu selain bahwa ia vampir yang hampir saja membunuhnya?

"Jacob, ia Ariana Black!"

"Apa maksudmu Ariana Black?" mata Jacob memicing. "Ia belum, tidak secara resmi, menikahi ayahku, kan?"

"Astaga! Ia putri Granma Korey!" Quil terdengar frustasi, tapi Jacob hanya menatapnya dengan pandangan aneh. Yang membuat Quil menggeleng-gelengkan kepala, tampak lebih frustasi. "Jangan bilang kau tidak tahu juga tentang Korey Black…" katanya.

"Oke. Siapa itu Korey Black?"

Sahabatnya mendesah sebelum menjawab, berat dan enggan. "Nenekmu, Korey Black, adalah ibu Ariana … dan… putri pertama Ephraim."

.


.

Catatan:

Halo semua… Chapter baru jadi… Memang yang ini agak terlalu panjang, tapi aku ga tau dimana kudu motongnya. Malah sekarusnya ini nyambungs ama chap selanjutnya, tapi terpaksa aku bagi dua.

Makasih untuk yang baca n ngereview chap kemarin, termasuk yang lewat inbox… Hehehe… Makasih juga untuk doanya. Amin…

Chap ini agak error? Nggg… hahaha… :D Maaf untuk para penggemar Edward. Dia gak jadi psikopat, kok. Itu cuma di mata Jacob aja, yang panik n histeris.