THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Rated T+ to M... Read on your own guard…
.
.
Limapuluh delapan - Rumor
Wednesday, April 03, 2013
7:53 PM
.
Jacob sungguh tidak mengerti apa yang diocehkan Quil. Kenapa dia tiba-tiba menyebut nama-nama yang dia tidak pernah ketahui? Yang seluruhnya bermarga Black?
Siapa itu?
Keluarganya? Mengapa ia tidak tahu?
"Oke, aku akui aku tidak paham soal silsilah keluargaku. Tapi aku tahu pasti, Ephraim hanya punya tiga anak. Kakekku William, dan dua putri kembar Mary dan Jane. Tidak ada Korey."
Tapi ketegasan, dan kepastiannya, anehnya, hanya membuat Quil, Caleb, dan Adam berpandangan.
"Oke, ada apa ini? Apa yang kalian tahu dan aku tidak tahu?"
"Ya, itu memang resminya… " Quil bicara lamat-lamat. "Tapi di luar, ada rumor…"
"Rumor?"
"Mengenai Korey dan Ariana Black…"
"Ariana Black…" gumamnya tidak yakin. Kepalanya berputar. Apakah ini masih pengaruh obat entah apa yang disuntikkan Caleb? Dipandangnya sahabatnya, kebingungan jelas tertera di matanya. Dan sebaliknya, Quil juga memandangnya dengan tatapan bingung yang sama.
Adalah Caleb yang kemudian merentetkan kalimat yang makin membuatnya bingung.
"Yeah, sebenarnya tidak bisa dikatakan Black juga sih, maksudnya, kita tidak pernah tahu siapa ayah Ariana. Tapi jelas dia bukan Gerrard. Itu kan nama suami kedua ibunya. Tapi nama gadis ibunya Black, jadi..."
"Tunggu, tunggu," Jacob memotong. "Ibu Ariana?" tuntutnya, berkerut minta penjelasan.
Giliran kening Quil yang berkerut. "Hei Jake, kau tidak tahu? Kau ... benar-benar tidak ingat?"
"Tidak ingat apa?"
"Ariana Black ... adalah ... sepupu ayahmu."
Sungguh Jacob tidak tahu soal ini. Apa maksudnya? Ia ingat, Ariana dekat padanya waktu kecil. Ia memanggilnya Auntie Ars. Tapi ini … Ariana dan Billy … adalah saudara sepupu?
"Maksudmu seperti ... Korra dan ... Cole?"
Sejak ia tahu soal perasaan Cole, ia jelas yang paling menentang. Apalagi Korra kelihatannya memberi angin. Walau semua orang bergosip Korra ada hubungan dengan Seth, Collin kelihatan sekali menempatkan dirinya di tengah-tengah mereka berdua. Terus terang, jika boleh memilih, ia lebih memilih Seth ketimbang Collin. Ini bukan cuma karena antipatinya pada karakter Cole. Ini lebih karena masalah ... ehm ... oh, ia bahkan tak bisa mengatakannya tanpa bergidik.
'Incest'.
Seth sudah meluruskan arti kata itu berulang kali, berkata hubungan Collin dan Korra sama sekali bukan incest, tapi tetap ia tidak bisa menerima. Baginya, mengetahui bahwa dua orang dengan kaitan darah yang dekat, memiliki hubungan cinta … sungguh bukan sesuatu yang mudah masuk ke otaknya. Lagipula apa urusannya Seth membela Collin? Bukannya mereka saingan?
Cih, ia benci pikirannya yang sempit.
Tapi kini, yang sudah jelas ... ibu Korra dan ayahnya ... sama...
Kekosongan di wajah Jacob, jelas karena shock, membuat Quil lebih shock lagi.
"Hei Man, kau sungguh-sungguh tidak paham dengan silsilah keluargamu sendiri?"
"Kenapa aku harus memperhatikan silsilah keluargaku? Itu kan urusan Cole!" bela Jacob, yang kontan mendapat gelengan kepala Quil. Jelas Quil agak kecewa dengan sang Alfa. Sebagai pemimpin a.k.a penjaga warisan sejarah dan budaya leluhur, setidaknya anggota kawanan berharap ia lebih memperhatikan detail seperti itu. Gen serigala mereka, bagaimanapun, ditentukan oleh darah. Silsilah menjadi penting karena menentukan tak hanya keanggotaan kawanan, tapi juga hierarki calon Alfa.
"Tadi Quil sudah bilang. Ariana adalah putri Korey Black, Korey Ateara, Korey Fox, entah apalah nama yang dia pakai," ucap Caleb. "Yang jelas, Korey adalah, kau tahu, putri sulung Ephraim. Dia ..."
Penjelasan Caleb makin membuat Jacob bingung. "Hei!" serunya memotong, memprotes. "Kupikir anak sulung Ephraim adalah William Sr., kakekku, ayah Billy? Dan apa maksudmu dengan Korey Ateara atau Korey Fox? Apa dia nenek Quil juga?"
"Kau jangan memotong dulu dan biarkan aku menjelaskan," Quil yang mengambil alih di tengah kebingungan Jacob. Selang sekian lama, ketika Jacob terlihat lebih tenang, ia melanjutkan. "Ya. Memang Ephraim hanya punya tiga anak. Tapi itu dari istri sahnya, Martha Young, kau tahu. Tapi sebelum itu, ia pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Aku tidak tahu siapa, tidak ada yang tahu. Kurasa itu semacam, yeah… rahasia. Entahlah," Quil berhenti sekilas untuk melihat perubahan warna wajah Jacob. Matanya yang mengembang dan mulutnya yang terbuka menunjukkan bahwa sang Alfa tak pernah tahu gosip seputaran keluarganya sendiri. Ia menghela napas sebelum melanjutkan, "Yang jelas tampaknya perempuan ini diusir, atau mungkin meninggal, entahlah. Mungkin hubungan mereka menjadi semacam skandal."
"Oh ya, itu memang skandal!" Jacob setengah berteriak. Mendadak ia merasakan kebencian, sekaligus ketidakpercayaan pada leluhurnya. "Apa memang yang ada di kepala Ephraim? Kupikir ia mengimprint nenek buyutku..."
"Ya. Memang ia mengimprint. Perempuan ini, mungkin, hadir sebelum ia berubah. Kau tahulah, dari kasus Sam..." Quil tidak tega melanjutkan. Tapi Jacob sudah tahu intinya. Ada perempuan lain, yang ditinggalkan setelah Ephraim menemukan belahan jiwanya. Tambah lagi, ia sudah punya anak. Skema terburuk.
"Oke. Lalu bagaimana soal Korey?"
Kata-kata Quil selanjutnya agak ragu. "Dari cerita yang beredar, sih, Korey hampir selalu dikucilkan," ia melompati urusan Ephraim dan fokus pada kisah Korey. "Dia kabur waktu menjelang dewasa, dan begitu kembali, yah, dia sudah mengandung Ariana. Tidak tahu siapa ayahnya, tapi ... ya, memang ada semacam rumor."
"Lagi?"
"Sebenarnya ada sedikit gosip yang beredar seputar latar belakang Ariana. Aku memilih tidak percaya, sebenarnya, tapi ..."
Quil terdengar ragu.
"Rumor apa?"
"Aku tidak begitu paham, sebenarnya, Jake..."
"Katakan rumor apa itu!"
Quil menelan ludah. "Kalau ... sebenarnya ... ayah Ariana yang sebenarnya adalah ... William Sr."
Rahang Jacob jatuh.
"Maksudmu ... Ariana dan Billy ... mereka ..."
Ia bahkan tidak bisa mengucapkan kata itu. Dan tidak ada seorang pun di sana yang bisa.
Tidak ada yang berani bicara. Caleb dan Adam berpandangan kikuk, sementara Quil jelas-jelas berusaha menghindari pandangan Jacob.
"Katakan, Quil!"
Quil menghela napas berat. "Entahlah, Jake. Kau tahu, aku bukan orang yang benar-benar memahami skema gosip di suku ini," ia menghindar.
"Ya. Tapi Raja di Raja Gosip, Coley Litsey, sudah pindah ke dunia lain. Jadi kecuali kau ingin aku mengkonfirmasi langsung padanya dengan ikut menyeberang, atau kau bisa melakukan upacara pemanggilan roh untuk menggosip dengannya, sebaiknya kau jawab aku, Quil! Oh, atau aku punya ide lebih baik. Bagaimana kalau kau coba panggil langsung roh Korey atau Ariana, supaya kau bisa langsung cek dan ricek beritanya dari orang pertama."
Jacob jelas di ambang batas kesabarannya dan tiga anggota kawanannya, yang tahu seberapa tipis kesabaran sang Alfa, jelas merasa tersudut. Mereka berada di persimpangan, menempuh jalan manapun pasti salah. Belok kiri, menutupinya dari Jacob, salah. Belok kanan, mengatakan kebenaran, jelas lebih salah lagi. Jika selama ini Jacob saja berusaha keras melupakan Ariana, yang di matanya bertanggung jawab atas kematian Sarah, mengabaikan hubungan dekat mereka yang siapa juga tahu, mana mungkin ia mau mendengar apapun latar belakang Ariana?
Tapi ada yang harus mengatakan sesuatu.
"Kau tahu, tak ada gosip yang bisa benar-benar dipercaya, Jake," Quil memulai, mencoba meyakinkan Jacob dalam upayanya yang payah bahwa ia sendiri juga tidak percaya. "Tadi kubilang Korey akhirnya pergi. Ephraim sudah menikahi Martha saat itu, dan bahkan sudah punya beberapa anak. Tapi Korey dan adik-adiknya bisa dibilang tak pernah benar-benar tumbuh bersama, jadi tak benar-benar saling kenal."
"Hah? Kok bisa?"
"Begini, Jake. Ibu Korey entah ke mana waktu Korey masih balita. Kabarnya dia mati, entah sakit atau dibunuh, bahkan ada gosip yang bilang ia diusir langsung oleh Ephraim dan bunuh diri, entah kenapa. Yang jelas Korey diabaikan, tidak dirawat langsung oleh ayahnya sendiri. Ephraim jelas membencinya, tidak mau mengakuinya sebagai anak dan sebagainya. Buyutku, Quil II dan Lucy Fox, mengambil alih pengasuhan, walau tak pernah mengadopsinya secara resmi. Tapi katanya sih, begitu dia menginjak belasan, dia memilih tinggal sendiri di pondok tempat ibunya dulu tinggal waktu masih muda. Pondok yang dikenal sebagai Gubuk Penyihir."
Jacob tahu tempat yang disebut Gubuk Penyihir itu. Ada di perbatasan, dekat wilayah Makah. Anak-anak kecil selalu dilarang mendekati tempat itu. Rumah reyot yang berbahaya karena tiang-tiang penyangganya dan atapnya separuh hancur dimakan usia. Alang-alang tinggi menutupi bagian luarnya, dan bagian dalamnya juga dipenuhi sawang dan debu tebal. Perabotan di sana jelas sudah hancur. Rumah yang katanya berhantu. Dulu ia dan Cole sering main ke sana waktu kecil, menantang Seth dan anak-anak kecil lain untuk uji keberanian. Seth pasti terngompol-ngompol dan se-sok berani apapun Collin, ia akan pulang dalam keadaan menangis, bilang melihat penampakan atau semacamnya. Jacob sendiri kapok pergi ke sana setelah pada kesempatan terakhir, ia membuat Collin tak sengaja jatuh dari tangga kayu yang sudah lapuk dan membuat anak itu patah tulang hingga harus dirawat sebulan.
Sekarang setelah dipikir-pikir, rasanya ia banyak sekali menimbulkan kemalangan pada sepupunya. Sejak kecil, malah. Geger otak, patah tulang, dan ujung-ujungnya kemarin, Collin mati karena seekor vampir busuk salah mengenalinya sebagai dirinya. Sama sekali bukan hal aneh bahwa setelah ini, roh Collin akan menerornya dan membawanya ke neraka.
Mungkin setelah ini ia harus mencari tahu bagaimana caranya mengadakan upacara penenangan roh. Huh, seolah memang benar ada upacara semacam itu...
Tapi sekarang ini ada hal yang lebih penting yang harus ia pikirkan ketimbang urusan hantu penasaran Collin. Ya, soal Korey.
Rumah reyot itu ... jadi itu dulu rumah neneknya Korra?
"Rumah itu dulu tak seburuk itu, kata nenekku," lanjut Quil, seakan memahami yang ada di pikiran Jacob. "Pondok kecil, tapi terawat. Hanya saja memang sejak awal rumah itu dijauhi siapapun. Orang bilang, ibu Korey, perempuan yang disukai Ephraim itu, adalah keturunan penyihir. Keturunan iblis."
"Tunggu. Itu betulan? Maksudku, jika Korey keturunan iblis, jadi Korra juga, keturunan iblis?"
Quil mendesah. "Kau tahu seperti apa pikiran picik masyarakat zaman dahulu, Jake. Itu pastinya tidak benar. Mungkin keluarga mereka pernah melakukan sesuatu yang membuat mereka dikucilkan. Atau perlakuan yang mereka terima itu murni karena stigma negatif. Tidak mungkin Ephraim jatuh cinta pada seorang perempuan iblis betulan kan? Maksudku, ia Sang Alfa legendaris, walau bagaimanapun. Aku yakin ia kasihan pada perempuan itu, selalu dijauhi dan sebagainya. Dan akhirnya mereka jatuh cinta."
"Tapi pada akhirnya ia membenci dan mengabaikan Korey juga, kan? Dan bagaimana soal ibu Korey? Apa alasannya diusir? Karena hubungannya dengan Ephraim?"
"Itu tidak ada yang tahu, Jake. Tadi sudah kubilang, tidak ada yang tahu siapa dia dan tidak ada yang tahu bagaimana akhirnya kisah Ephraim dan perempuan itu. Mungkin memang ia meninggal."
"Kalau begitu mengapa Ephraim membenci Korey?"
"Aku tidak tahu juga... Sudah kubilang masyarakat punya stigma negatif terhadap keluarganya."
"Makanya aku bingung," kening Jacob berkerut. "Ephraim awalnya mencintai wanita itu, lantas begitu punya anak, ia berbalik membencinya?"
"Waduh. Sudah kubilang aku bukan Raja Gosip. Tidak tahu semua detail, Jake," Quil jelas berusaha menghindar.
Jacob menghela napas, berusaha menenangkan diri. Gosip ini terlalu berlebihan untuk otaknya, simpang siur dan tidak jelas. Tapi saat ini cuma Quil sumber yang bisa ia dapat. Para Gossip Guys yang tersisa masih di antah berantah. Dan jangan harap Caleb atau Adam lebih paham dari Quil soal beginian. Buktinya, sejak tadi mereka diam seribu basa.
"Oke," katanya kemudian. "Jadi soal Korey dan William ini, bagaimana?"
"Tadi sudah kubilang. Korey akhirnya tidak tahan dengan perlakuan masyarakat, dan kabur ke kota. Tidak ada yang tahu ia ke mana. Begitu William dewasa, ia juga pergi. Ia sempat kembali, dan kakek buyutmu menjodohkannya dengan seorang perempuan suku Makah, Judith Peterson. Semacam perkawinan politik, mungkin. Yeah, kau tahulah bagaimana ia. Ia sang kepala suku, dan mungkin menganggap bahwa pernikahan antara putra dan putri dua kepala suku dibutuhkan demi perdamaian. Lagipula, dengan situasi politik saat itu …"
"Fokus, Quil!" bentak Jacob, tidak sabar dengan cerita Quil yang ngalor-ngidul dan terus-terusan melantur. "Apa yang terjadi dengan kakekku?"
Quil mengerjap sesaat sebelum melanjutkan, "Kakek dan nenekmu punya seorang anak perempuan. Namun tak lama ia kembali pergi, ketika istrinya sedang hamil anak kedua. Ayahmu. Ketika ia pulang, semua orang bingung karena ia membawa Korey, yang saat itu sedang hamil besar."
"Tunggu. Itu artinya mereka ... 'bersama'? Kakekku berselingkuh di luar?"
"Maka dari itu jadi beredar rumor macam-macam. Korey dan William sendiri tak pernah mengkonfirmasi apapun. Jelas, mereka bertemu saat sudah dewasa di kota, tidak saling mengenal. Korey mengaku berasal dari suku Makah. Ia memalsukan identitasnya di luar reservasi, mengaku dengan nama-nama keluarga yang berbeda-beda. Tapi ia tak pernah memakai nama Black. Sejauh-jauhnya, ia cuma mau memakai nama Ateara atau nama keluarga nenek buyutku semasa gadis, Fox. Orang bilang bahkan sebelum William menikah, ia sudah menjalin hubungan dengan Korey, dan kembali ke kota karena tidak bahagia dengan pernikahannya yang diatur itu. Jadi bayangkan ketika mereka pulang, dan Ephraim mengenali Korey. Orang tua itu murka, sangat. Orang bilang ia memisahkan mereka berdua. Korey akhirnya menikah lagi, dengan orang kulit putih bernama Gerrard, dan William kembali pada istrinya. Korey pergi dengan suaminya, tapi putrinya dirawat oleh William. William hanya mengakuinya sebagai keponakannya, bilang ia tak pernah punya hubungan apapun dengan Korey selain bahwa mereka tak sengaja bertemu di kota, dan bersahabat karena merasa berasal dari kampung yang berdekatan, tapi orang-orang tetap mengembangkan rumor macam-macam."
Sial. Telenovela apa ini?
"Tapi kalau memang Ariana putri dari William dan Korey, artinya Ariana dan ayahku... incest? Incest betulan?'"
"Itu tetap rumor, walau bagaimanapun."
"Tapi tak ada asap tanpa ada api."
"Kau tahu skema gosip, Jake. Apalagi memang tak pernah ada yang tahu ceritanya dari orang pertama. Bahkan hingga akhir hidupnya, William terus membantah."
"Lalu apa ayahku ... tahu?"
"Ayahmu sama sepertimu, Jake. Ia tak pernah peduli soal gosip miring yang beredar. Ia percaya pada ayahnya. Ariana dan Billy bisa dikatakan tumbuh bersama, dalam status sebagai saudara sepupu. Ia selalu protektif pada Ariana, hubungan mereka sangat dekat. Jadi menurutku wajar bahwa ketika mereka tumbuh remaja, mereka saling jatuh cinta."
"Mereka tumbuh bersama, dan ketika remaja ... jatuh cinta?"
Apa itu artinya ... Billy tak pernah mencintai ibunya? Tak pernah mencintai Sarah?
"Tapi kata Billy, ia bertemu Ariana... tujuh belas tahun lalu..."
"Ariana memang pernah pergi, Man. Kabarnya dia pintar sekali waktu SMA, selalu menonjol. Yeah, meski ia tidak punya teman, dan seluruh suku memandangnya miring terkait dengan asal-usulnya. Akhirnya ia dapat beasiswa kuliah. Ayahmu, bagaimanapun, tetap tinggal di sini, dan akhirnya menikah. Ketika ia sudah menikah itu, Ariana kembali."
"Lalu?"
"Aku tidak tahu persis. Hei, kenapa kau tidak tanya Billy?"
"Yang benar saja, Quil! Aku harus tanya ayahku? Apa yang harus kutanyakan? 'Hei, Dad, apa selama kau bersama ibuku, selama itu pula kau berselingkuh?' Oh ya, jawabannya pasti 'ya'. Atau harus kutanyakan, 'Mengapa kau malah menikahi ibuku kalau kau memang mencintai wanita itu?' Atau malah harus kutanyakan, 'Mengapa kau nekad berpacaran dengan Ariana kalau kau sendiri tidak yakin ia hanya sepupumu atau malah saudari tirimu?' Oh, aku bahkan tidak mau dengar jawabannya!"
Jacob rungsing sendiri dan kekesalannya itu jelas terpancar di aura sekelilingnya. Wajar, selama ini ia selalu menganggap keluarganya adalah keluarga ideal. Seluruh kawanan, seluruh suku bahkan, menganggap tinggi darah birunya.
"Cih!" gerutunya. "Pantas saja si vampir lengan buntung itu bersemangat sekali ingin membunuhku. Membunuh Collin… Darah Black brengsek!"
Cih, 'tidak setia' ada pula dalam darahnya. Apa itu juga akan dilakukannya kelak? Menyakiti Nessie?
Ia tahu hukum standar zaman purba itu, bahwa kepala suku boleh memperistri lebih dari satu perempuan. Ada stereotip miring yang cenderung menggeneralisasi, bahwa semua kepala suku manapun adalah buaya darat. Tapi ia besar dalam anggapan bahwa di sukunya hal tersebut tidak berlaku. Setidaknya ia tak pernah membayangkan Ephraim, atau William Sr., atau bahkan Billy… Oh, tidak, Billy jelas membuktikan bahwa ia tidak seagung yang ia sangka selama bertahun-tahun. Empat bulan waktu yang cukup untuknya bisa berdamai dengan urusan ini. Tapi sekarang apa? Setelah ia harus menerima bahwa ayahnya punya wanita lain, ia juga harus menerima bahwa seluruh laki-laki di garis keturunan langsung di atas ayahnya juga punya skandal?
Apa pesan moral di balik semua itu? Bahwa hubungan dengan lebih dari satu perempuan selalu membawa masalah? Tidak. Ada yang lebih penting dari itu. Bahwa semua laki-laki keluarga Black mata keranjang?
Tidak, tidak. Bahkan jika potensi itu diwariskan, ia takkan biarkan hal seperti itu terjadi. Lebih dari urusan membawa daur kutukan turun-temurun kembali terulang, ini bisa berarti perang dengan klan vampir! Pemusnahan massal! Seluruh suku dalam bahaya.
Bah! Seolah yang terjadi hingga saat ini tidak mengundang bahaya. Ariana jelas mendendam, dan kini saat Jacob tahu latar belakangnya, entah mengapa ia bisa memahami motif Ariana. Wajar, jika ia di posisi Ariana, ia mungkin akan melakukannya juga. Menyalahkan keluarga Black, juga seluruh suku. Apa dendam Ariana juga dibawa Korra? Ya. Korra pastinya tahu. Ariana pasti cerita, dan jika tidak pun, Collin pasti cerita. Apa gosip yang bisa diketahui Quil yang tidak bisa diketahui Cole? Tambah lagi, tak mungkin si biang gosip itu bisa menutup mulut.
Tapi Korra menolongnya... Melawan ibunya sendiri...
Astaga. Bagaimana perasaan Korra kini?
"Jake, kau tahu," Quil bicara hati-hati, berusaha mencari kata-kata yang tepat, melihat sahabatnya sudah di ambang batas kesabaran. "Aku tahu soal Ariana yang mengincar suku. Tapi ada satu hal yang membuatku bingung…"
"Apa?" bentak Jacob, merasa sama sekali tidak nyaman.
"Kau tahu, setelah Collin mati, aku sempat mendengar sekilas dari kepala Brady. Sekilas, tidak jelas sama sekali. Pikirannya sangat kacau waktu itu, dan yang ia pikirkan hanya bagaimana menyusul Collin, membawa sebanyak-banyaknya lintah bersamanya…," ia menelan ludah. "Tapi ia sempat mengungkap … sebuah nama …"
"Nama?"
"Seseorang yang disebut 'Sang Ibu'. Collin dan Brady beranggapan ialah si Alfa putih, ia yang bertanggung jawab di balik semua penyerangan. Ia yang membuat mereka bertarung melawan kita. Tapi aku tahu, kau tahu juga, bahwa Alfa Putih dan kawanannya berusaha menolong kita. Jadi ia, siapapun itu, pastinya bukan si makhluk itu."
Jacob tahu itu. Ada seseorang lain selain Ariana di balik semua ini. Yang juga memendam dendam pada keluarga Black. Mengorganisasi pasukan vampir…
"Siapapun itu, ia pastinya sudah mati. Mereka sudah kalah," ucap Jacob tegas. Tapi anehnya, ketika ia menatap ketiga anak buahnya, di mata mereka masih membayang ketakutan itu. Kengerian itu.
Astaga. Apa lagi yang ia tidak tahu?
"Jangan katakan … mereka belum kalah…"
Adam menghela napas berat sebelum berujar, " Ya, Jake. Mereka kabur. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Ariana. Tapi aku sempat melihat beberapa dari mereka melarikan diri, dan kami tidak bisa mengejar."
Ini belum berakhir…
Mata Jacob mengembang kala ingatan mengenai kejadian dini hari tadi kembali bermain di benaknya. Ariana, menyebutkan nama 'Sang Ibu'. Makhluk kuno, sangat kuat...
"Menurutmu, apa mungkin dia juga … salah seorang dari masa lalu?" bisik Caleb.
"Ya. Aku tahu siapa dia. Kierra..." Jacob berbisik dalam kengerian yang sama. "Sang iblis dalam legenda. Hibrida vampir dan serigala. Kepala suku Quileute di masa lalu."
"Tapi Jake, jika Ariana memanggilnya 'Ibu', apa itu berarti ... ada kemungkinan ... dia Korey?"
Adam mengemukakan pertanyaan itu dalam nada yang sarat ketegangan. Tapia pa yang dia utarakan hanyalah apa yang ada di benak mereka semua saat itu. Kemungkinan yang aneh … dan mengerikan.
"Maksudmu selain Ariana, ibunya juga diubah menjadi … vampir?"
Tapi itu sendiri saja sudah aneh. Dari cerita Old Quil saat itu, tidak ada keturunan suku Quileute, pembawa gen serigala, baik ia serigala atau carrier, yang bisa berubah jadi vampir. Dan Korey adalah putri Ephraim. Putri langsung seorang serigala. Nyata-nyata cucunya, Korra, juga mendapat darah itu. Tidak hanya dari ayahnya tapi juga dari ibunya. Korey tidak mungkin bisa berubah menjadi vampir.
"Itu tidak mungkin," Jacob menggeleng keras.
"Aku juga beranggapan itu tidak mungkin, Jake. Tapi ada satu kondisi yang memungkinkan itu terjadi," Adam mengemukakan pertimbangannya. "Jika Korey tidak hanya memiliki darah serigala, tapi juga darah …" ia berhenti, tapi Jacob tahu apa yang ingin ia utarakan.
"Vampir…" ia melanjutkan, yang disambut anggukan Adam.
Mungkinkah seperti itu? Korey adalah putri vampir? Hibrida? Seperti Renesmee?
Tapi itu tidak mungkin. Laki-laki di sini adalah kakek buyutnya, seorang serigala. Dan vampir perempuan tak bisa mengandung, menghasilkan anak. Itu sesuatu yang pasti.
"Mungkin tidak seekstrem itu, Jake. Mungkin sesuatu yang lebih dekat. Kau tahu kan, ibu Korey adalah seorang perempuan misterius. Dan ia menghilang, tidak tahu bagaimana nasibnya. Dan Ephraim sangat membenci Korey…"
"Lantas?"
"Aku hanya menerka-nerka. Sama sekali tanpa bukti. Tapi aku jadi menduga-duga … bahwa … sebenarnya …"
Adam kembali terhenti.
"Sebenarnya apa?" tuntut Jacob.
"Janji padaku kau takkan marah. Tertawa, boleh, tapi jangan marah. Ini hanya dugaan."
"Oke, apa?"
"Mungkinkah … ibunya adalah … hibrida?"
Jacob menganga pada kemungkinan ini. Ibu Korey adalah putri vampir? Dari mana munculnya dugaan itu?
Tanpa disadarinya ia mengeluarkan tawa aneh. "Itu tidak mungkin, Adam," katanya langsung. Dirasanya kekesalan menumpuk cepat dalam dadanya dalam bayangan aneh tentang leluhurnya menjalin hubungan dengan hibrida, sesuatu yang nyaris mustahil. "Kau tahu tidak banyak hibrida di dunia ini. Kalau di zaman dahulu pernah ada persinggungan antara suku ini dengan hibrida, tentunya masalah seputar kelahiran Ness waktu itu tidak akan jadi masalah besar, dan kita tidak perlu repot-repot beranggapan ini-itu karena memang sudah ada catatan sejarah soal itu," tunjuknya. "Dan aku tak perlu bersitegang dengan Sam hingga membuatku terdampar di posisi Alfa seperti sekarang ini," ujung-ujungnya ia menambahkan alasan egois.
Tapi ia tahu, ada lubang besar dalam argumennya itu. Bukan cuma karena argumennya berdasarkan pada sesuatu yang sifatnya sangat pribadi, super-bodoh, dan egois. Ini mengenai sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia tidak yakini, sesuatu yang sama sekali tidak ia ketahui … Sesuatu di masa lalu. Rahasia yang tertutup yang tidak ada seorang pun yang tahu.
Dan ucapan Ariana di hutan.
"Suatu makhluk, kuno, sangat kuat ... mendatangiku..."
"Kami memiliki dendam yang sama..."
"Moyang kalian ... telah menghancurkan keluarganya, dalam kebencian tidak berdasar ... mengusir ... memburu mereka di tanah mereka sendiri..."
Apa memang makhluk itu ... Memang bukan Kierra ... tapi seseorang yang lebih dekat? Korey?
Korey Black?
Astaga. Apa lagi ini?
"Itu hanya kemungkinan, Man," ujar Adam lagi, lirih. "Anggapan tanpa dasar. Maaf."
Jacob tak tahu mengapa Adam harus meminta maaf. Separuh pikirannya bahkan sudah termakan oleh ide itu. Tapi ia tak bisa menahan diri untuk berdecak kesal. "Ya. Kalau begitu jangan katakan dugaan aneh-aneh kalau kau bahkan tidak tahu bagaimana ide tersebut bisa muncul ke otakmu, Adam!" gerutunya. "Aku sudah cukup mendengar dugaan-dugaan aneh dari Collin dan Seth dan tidak satu pun menyelesaikan masalah."
"Tapi pada taraf tertentu kemungkinan itu logis, Man," sambung Quil, tampak serius mempertimbangkan ucapan Adam. "Kau tahu, Ephraim jatuh cinta pada wanita misterius. Seseorang yang dikucilkan dan dianggap sebagai penyihir … Rumahnya disebut Gubuk Penyihir. Dan jika Korey bisa berubah…"
"Logis apanya?! Kalau itu benar, itu menjadikan adikku adalah keturunan vampir!" Jacob hampir berteriak. "Dan itu sama sekali tidak mungkin. Korra mungkin serigala. Tidak, ia memang serigala. Tapi ia keturunan hibrida? Aku pastinya tahu jika adikku sendiri hibrida. Kau tahu betapa tinggi suhu tubuh Renesmee dan aku pernah menyentuh Korra. Suhu tubuhnya normal. Senormal Billy."
Tapi seketika sesuatu yang aneh menghentaknya. Korra si serigala hitam … Korra anggota kawanan lain … Tapi kalau ia memang si serigala hitam, yang artinya sudah berubah bahkan sebelum menginjak La Push, suhu tubuhnya seharusnya sudah mengungkap siapa dirinya sejak awal. Tapi Korra berbeda. Suhu tubuhnya rendah. Dan ia bisa sakit….
Ia bisa sakit.
Dan kata-kata Korra di hutan.
"Mereka tidak boleh melihatku dalam keadaan seperti ini. Mereka akan salah paham…"
Astaga. Apa yang ia maksud? Keadaan seperti apa? Salah paham bagaimana?
"Ada kemungkinan ini, Jake. Ephraim jatuh cinta sebelum ia berubah. Dan begitu berubah, ia menyadari bahwa kekasihnya bukan manusia biasa. Lebih lagi, bagian dari mereka yang seharusnya ia musnahkan. Itu bisa jadi alasannya, mengapa ia membenci Korey. Ia membenci dirinya sendiri," ungkap Quil yang membuat Jacob tertawa. Getir, kalau mau ia akui.
Itu mungkin. Ya. Tapi…
Tapi Ephraim? Membenci hibrida?
"Astaga, Quil! Apa yang ada di otak kalian? Dia itu orang yang sangat berpandangan terbuka! Kalau tidak, mana mungkin ia mau membuat perjanjian dengan para Cullen itu?"
Ya. Mana mungkin ia mau-maunya menerima segerombolan vampir di tanahnya tapi mengusir kekasih dan anaknya sendiri? Itu jelas mustahil!
Lagi-lagi jalan buntu. Rasa frustasi akan beribu pertanyaan menghentak Jacob. Kini setelah pertanyaan tentang para Putty Patrollers terjawab, walau belum sepenuhnya, sudah muncul lagi pertanyaan lain? Tentang Korra?
Bagaimana caranya semua itu bisa berhubungan?
Jeda lama sebelum akhirnya Adam berujar, ragu, "Jake, aku boleh tanya?"
"Apa?" bentak Jacob.
"Apa yang ingin kaulakukan setelah ini?" ujarmya kemudian, hati-hati.
Sungguh Jacob tak menduga pertanyaan ini.
"Lakukan? Apa maksudmu dengan 'lakukan'?"
"Mengenai Korra…"
Apa yang ingin ia lakukan?
Apa yang harus ia lakukan?
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan," Jacob menggelengkan kepalanya. "Yang jelas aku tahu satu hal," katanya kemudian dengan nada pasti. "Jika ada pelajaran yang bisa kuambil dari pertempuran kemarin dan semua ceritamu, hanya ada satu: kita tak boleh meremehkan masalah keluarga. Ya, sesuatu harus dilakukan untuk memperbaiki yang sudah-sudah. Sekarang memang sudah terlambat tapi lebih baik ketimbang tidak sama sekali."
Mereka bertiga memandangnya, bingung.
"Tidak masalah Korra siapa sekarang, " lanjut Jacob. "Tidak masalah jika ia anggota kawanan lain atau jika ia calon Alfa yang mengancam kekuasaanku, bahkan nyawaku. Bahkan tidak masalah jika ia keturunan hibrida seperti yang kaukatakan, Quil. Ia adikku. Ikatan darah selalu lebih kuat dari segalanya."
"Maksudmu kau ingin berusaha berbaikan dengan Korra?"
Ucapan Quil membuat Jacob miris. Rupanya begitu selama ini Quil melihat sikapnya terhadap Korra. Bukan hanya Quil, tapi besar kemungkinan seisi kawanan. Seolah Jacob tidak menyukai adiknya, dan menunjukkan permusuhan, dalam apapun kapasitasnya, mulai dari kakak tiri yang jahat, anak yang pencemburu, hingga Alfa yang merasa terancam. Tidak ada satu pun yang salah, sebenarnya.
Quil tersenyum. "Itu yang kuharapkan," ujarnya.
Tapi berlawanan dengan Quil yang terlihat cerah, Adam dan Caleb justru berpandangan. Kekhawatiran jelas terpancar dari wajah mereka.
"Kenapa?" sikap mereka tak urung membuat Jacob kesal. "Kalian tidak setuju jika aku berbaikan dengan adikku sendiri?!"
Adam menelan ludah, berusaha mencari kata-kata yang tepat.
"Jake, pikirkan ini. Ia bisa jadi masih menyimpan dendam. Berada di bawah kontrol mereka... Ia bisa jadi merencanakan sesuatu!" Adam mencoba bersikap rasional, meski Jacob merasa itu kelewat dipaksakan.
"Justru itu menjadikan masalah berbaikan dengan Korra jauh lebih penting, ya kan?" ia berargumen. "Ini bukan hanya urusan aku dan keluargaku, ini jadi urusan suku. Dendam atau apapun di masa lalu, jika memang ada, aku harus menghapusnya."
"Ya. Tapi ... kau tahu, aku masih punya … firasat buruk tentang Korra …"
Jacob memandangnya tajam. "Soal apa? Soal serigala atau soal Ariana?"
"Yah, dua-duanya..."
Jacob menutup mata. Apakah ia masih memendam perasaan buruk pada adiknya? Jawabannya 'tidak'. Ia sudah bisa menerima semua itu. Masa lalu Ariana dan Billy, soal Korra adalah serigala hitam... Tapi kini setelah fakta-fakta baru bermunculan, dan nyata bahwa persoalannya lebih rumit dari apapun yang pernah ia duga sebelumnya...
"Aku tidak tahu, Man...," akhirnya itu responnya. "Aku sungguh tidak tahu."
Jeda sekian waktu sebelum akhirnya Quil kembali berujar, lirih. "Kalau begitu jangan, Man... Jangan memendam perasaan buruk apapun padanya. Apapun itu, Korra tidak bersalah atas masa lalu orangtuanya. Ia juga tidak memilih untuk menjadi bagian dari kawanan asing. Kalau aku tidak salah tangkap dari semua pembicaraan kau dan Cole semalam, ia dimenangkan oleh kawanan lain, ya kan? Ia berubah di luar, seperti Noah, dan bergabung dengan kawanan yang memberinya perlindungan. Bagaimanapun serigala adalah makhluk berkelompok. Serigala tetap butuh kawanan."
"Itu masih teori."
"Tapi kau yakin, kan?"
Lamat-lamat Jacob mengangguk.
"Dan mereka bukan musuh," tunjuk Quil. "Mereka menolong kita."
Enggan, tapi Jacob kembali mengangguk.
"Lalu, apa kau ingin merebut Korra kembali?"
Pertanyaan Quil membuat Jacob terhentak.
"Kenapa aku harus merebut Korra kembali?"
Quil, anehnya, hanya ternganga mendengar pertanyaan Jacob.
"Kau tak ingin mendapatkan Korra lagi?"
"Itu artinya aku harus melawan si Alfa Putih kan? Dan tadi kaubilang mereka bukan musuh. Lalu mengapa aku harus membuka permusuhan lagi dengannya?"
Lama Quil terdiam. Lalu ketika ia bicara lagi, anehnya, suaranya agak menuduh.
"Jacob ... jangan bilang, kau takut."
"Pada si Alfa Putih?"
"Bukan. Tapi pada Korra."
"Kenapa aku harus takut pada adikku? Karena ia mungkin keturunan hibrida? Oh, itu bahkan jauh dari mungkin! Atau karena ia sangat kuat? Aku memang melihat bagaimana ia bertarung, dan memang ia sangat ... mempesona. Tapi aku tak berpikir ... maksudku, jika memang ia bagian dari kawanan lain dan mereka tak punya maksud buruk, kurasa daripada bermusuhan, lebih baik aku mempertimbangkan tawaran kerjasama."
"Tidak. Aku tidak membicarakan itu. Maksudku, berkaitan dengan latar belakang Korra."
"Ya. Kenapa memang soal itu?"
"Astaga, Jacob! Masa kau tidak mengerti juga?"
"Mengerti apanya?"
"Posisi Korra!"
"Soal ia seharusnya calon Alfa sesudahku?"
"Bukan, Jake! Ia lebih kuat dari itu. Ia bukan calon Alfa sesudahmu. Posisi kalian setara. Atau kalau patut aku tambahkan, ia lebih kuat darimu."
"Apa?"
"Kau pertimbangkan ini. Kau mungkin lebih tua dari Korra, tapi neneknya putri pertama Ephraim. Jika memang ayahnya adalah William Sr., mungkin ibunya memiliki darah Black dari kedua sisi. Korra jelas punya darah Black dari Ariana dan Billy."
Jacob masih tidak melihat apa masalahnya.
"Lantas?" tanyanya bingung.
"Aku sudah bilang ini sebelumnya. Darahnya murni. Artinya darahnya lebih kuat darimu," tunjuk Quil tegang. Dan kalimat ini, ditambah ketegangan Quil, membuat sesuatu 'klik' di pikiran Jacob.
"Kau mau bilang, seharusnya Korra, dan bukan aku, yang jadi Alfa?"
Dahi Quil berkerut. "Kau tidak pernah mempertanyakan itu?"
Jujur, jawabannya adalah 'tidak'. Lepas dari apapun, Jacob tidak pernah sungguh-sungguh memikirkan soal pola suksesi.
"Jadi kau bukannya enggan merebut Korra karena kau takut jika Korra menjadi bagian dari kita, dia akan merebut posisimu?"
"Quil!" bentak Jacob. "Apa kau menilai aku seperti itu? Haus kekuasaan?"
"Tidak, Jake. Aku cuma ... mempertimbangkan ... mungkin ada semacam insting persaingan antara kalian berdua. Kau tahu, seperti antara kau dan Collin, atau begitulah yang kutangkap selama ini."
Jacob membelalak. Insting persaingan antara ia dan Collin?
"Sungguh aku tidak pernah mempertimbangkan itu, Quil! Kau tahu aku tidak pernah menginginkan jabatan ini, apalagi berusaha merebutnya atau mempertahankannya. Semua bergerak sesuai urutan. Aku sudah mempertimbangkan menempatkan Collin sebagai Alfa sesudah aku pergi, jika ia sudah cukup dewasa dan bijak untuk memimpin. Oke, aku menempatkan Seth, dan bukan Cole, di posisi Beta. Tapi itu bukan karena aku berniat menjauhkan Cole dari kedudukan Alfa. Alasannya hanya karena ia belum matang, dan aku merasa aku lebih bisa bekerjasama dengan Seth daripada Cole. Sama sekali aku tidak punya pikiran buruk tentangnya dalam hal ini. Selama ini aku bertindak keras pada Cole hanya karena aku tidak suka dengan sifat biang gosip dan kekeraskepalaannya. Lalu jika Korra memang lebih berhak dariku, untuk apa aku bertahan? Toh aku memang akan pergi kan? Pergi, atau ... mati."
Mendung mendadak menggayuti mereka ketika kata itu terlepas. Rasanya aneh.
"Jake," Caleb bersuara, memecah kebekuan, meski ketara sekali ia sendiri kikuk, "kau masih saja memikirkan itu? Kami sudah tahu soal ramalan Alice, tapi kau sudah membuktikan sekian kali, kau tidak kunjung mati..."
"Tapi bukan berarti ancaman tidak sepenuhnya hilang kan?" Jacob berujar muram. "Seperti Final Destination, aku hanya mencurangi kematian dan ia akan terus mengejarku."
"Kau bodoh kalau begitu," ucap Adam kalem. "Kau akan mendapatkan persis seperti apa yang kaupercayai, Jake."
"Benar," Quil mengamini Gamma-nya. "Tapi kalau kau masih bersikukuh percaya soal roh kematian itu, lebih baik kau percaya juga bahwa setiap kali dia datang, kau akan terus bisa mencuranginya."
Mau tak mau Jacob terkekeh, dan langsung saja mengaduh-aduh kesakitan. Caleb segera menghampirinya, membetulkan posisi Jacob, memberi tambahan beberapa penyangga untuk memperbaiki aliran darahnya, dan mengecek aliran transfusi.
Jacob memperhatikan pekerjaan Caleb dalam diam. "Terima kasih," ucapnya lirih.
Ucapan itu, jujur saja, membuat Caleb mengerjap. Seumur hidup, sekian kali mengurus kondisi kawanan setelah pertarungan apapun, baru kali ini ia mendengar kata itu keluar dari mulut si Alfa yang terkenal kasar, emosional, arogan, mau menang sendiri, dan takkan mau tunduk pada siapapun itu. Terutama jika itu ditujukan padanya, anggota terbawah dalam kawanan, yang meski telah terbukti jasanya bagi kawanan, selalu dipandang sebelah mata. Sikap Ben dan Pete semalam jelas bukti bagaimana bocah-bocah itu memandangnya. Dan kini, sang Alfa mengucapkan 'terima kasih'? Huh, pastinya ia bermimpi. Atau neraka memang sudah membeku. Tanpa sadar ia terkekeh, membuat Jacob menatapnya dengan pandangan aneh.
"Apa ada yang salah?" tanyanya.
"Tidak, hanya saja, aku jarang mendengar itu darimu, Jake."
Jawaban jujur Caleb membuat Jacob cemberut, "Apa kau berniat bilang aku makhluk arogan yang tidak tahu terima kasih?"
"Bagaimana, ya?" senandung Caleb. "Oh, tadi itu momen yang sangat indah. Bisa kauulangi lagi, Jake? Aku ingin merekamnya supaya bisa terus mengingatnya, terutama saat kau mulai menyebalkan. Jadi aku bisa terus ingat bahwa bahkan kau pun punya sisi manis."
Ucapan konyol Caleb membuat Quil terkekeh. "Sekalian saja, Cals. Jadikan itu ringtone sms, jadi kapan-kapan Jacob mengganggu kita dengan sms Titah menyebalkannya yang di-'send all' itu, kita akan merasa lebih ringan saat membukanya."
"Ya. Ide bagus," sambut Adam ikut-ikutan. "Tampaknya itu juga bagus untuk lagu pengantar tidur. Mungkin aku jadi bisa mimpi indah," ia menguap dengan mata merah. "Aku kurang tidur belakangan."
Sudah jelas mereka hanya menggoda. Tapi tak urung itu membuat Jacob membentak. "Sekalian saja kalian unggah ke YouTube! Kasih judul 'Alfa Arogan Akhirnya Menundukkan Kepala Besarnya dan Mengucapkan Terima Kasih'," katanya yang tak mendapat reaksi selain tawa penuh cemooh. "Hei, tunggu," lanjutnya kemudian sambil berpikir-pikir, "rasanya itu lebih tepat ditujukan pada Sam daripada aku. Pasti menyenangkan melihat Yang Mulia Zordon Medusa Uley bilang terima kasih. Lain kali aku bertemu dengannya, aku mau bawa kamera video, supaya tak ketinggalan momen berharga. Siapa tahu, kan?"
Quil memicing mengejek pada Jacob yang tengah senyum-senyum sendiri, pastinya memikirkan adegan konyol Sam berlutut menyembahnya. Jake tidak pernah membukanya, tapi ia tahu sahabatnya itu punya impian, kalau tak mau dibilang obsesi terpendam yang aneh, berkaitan dengan ketertundukan si mantan Alfa yang terkenal tak pernah mau tunduk pada siapapun.
"Hentikan bayangan sakit itu, Jake, please," ia mengerang, memegangi kepalanya dengan sikap frustasi, membuat Jacob membeliak.
"Hei, apa? Memangnya kau bisa melihat pikiranku dalam wujud manusia?!" ketakutan merayapi wajahnya. Ia tak tahu sampai batas mana kemampuan telepati kawanan ini bisa berkembang. Jelas kini ia bisa menurunkan Titah dalam wujud manusia, dan Cole bilang, Seth curiga kawanan asing (baca: Korra) bisa juga melakukan telepati dalam wujud manusia. Jadi siapa yang bisa menjamin satu saat, kawanannya sendiri akan mendapati pikiran mereka takkan pernah bisa aman?
"Tidak," geleng Quil cepat yang kontan membuatnya lega. "Tapi apa yang kau pikirkan terbaca jelas di wajahmu. Serius, deh, Jake, aku tidak tahan. Seakan aku melihat sendiri bayangan Sam ... menyembah-nyembah ... ugh! Itu mengerikan!"
"Mengerikan apanya?!"
"Maksudku, dia itu Sam! Sam Sang Raja di Raja, Dewa Tertinggi Seantero Jagat Raya! Aku yakin bahkan Roh Penguasa Alam Semesta pun tunduk pada kemauannya. Kalau ia sampai menjatuhkan diri begitu, sudah dipastikan bumi tergelincir dari porosnya."
Tak tertahankan lagi Jacob mendengus. Quil adalah orang terakhir yang ia harapkan menunjukkan pemujaan pada taraf itu pada Sam. Kalau itu Collin, atau sekarang ditambah Josh, mungkin, okelah... Tapi Quil? Sahabatnya?
"Kurasa, kali ini, justru kau yang harusnya menunjukkan hormat, berterima kasih pada Sam, Jake," ujar Adam terus terang yang membuat Jacob menoleh padanya begitu cepat hingga mengaduh-aduh lagi lehernya sakit.
"Karena ia Mahadewa Penguasa Alam Semesta? Alfa Sejati dari kawanan dan para Tetua yang Titahnya harus ditaati semua makhluk?" Jacob mendengus sinis.
"Karena ia yang menolong kita semua semalam," tunjuk Adam tepat sasaran. "Jika tak ada Sam, kau sudah mati."
"Ya, pastinya," Jacob tak bisa menutupi nada tak suka dalam suaranya, yang anehnya membuat tiga anggota kawanannya tertawa.
Ketika tawa itu berakhir, keheningan yang kikuk melanda saat mereka terserap ke dalam pikiran masing-masing. Di luar, matahari pagi sudah menampakkan diri di balik kabut. Berkas-berkas sinar matahari menyelusup dalam garis-garis panjang, melewati sela-sela dedaunan rapat di luar jendela. Jacob menatap matahari yang meninggi. Sesuatu menyelusup ke dalam kepalanya, membuatnya tiba-tiba berusaha beranjak bangun.
"Hei!" protes Caleb, berusaha kembali menidurkan sang Alfa.
"Aku tidak apa-apa, Cals. Kurasa aku memang sudah baikan," ujar Jacob. Ya, memang ia merasa baikan. Begitu ia bergulir dan mengangkat dadanya, ia tak lagi merasakan sakit yang tadi. Masih agak sakit, tentu. Tapi tidak seperti sebelumnya.
Adam menghampirinya, menarik stetoskop yang tergulung di meja di dekat sofa dan berlagak memeriksa denyut jantung Jacob.
"Ya, kurasa memang ia sudah membaik," simpulnya kemudian, mengalungkan stetoskop itu di lehernya. Gayanya persis Carlisle.
Jacob kadang merasa, hubungan intens kedua serigala ini dengan Carlisle beberapa bulan ini membuat mereka jauh lebih dekat dengan para lintah ketimbang dirinya dan 'kawanan pengkhianat', kalau mengutip istilah Collin untuk para penyeberang: ia, Leah, Seth, Embry, dan Quil. Ya, tentu saja kedekatan Caleb dan Adam dengan mereka tak pernah bisa menandingi Seth, yang jelas-jelas menjadi adik kesayangan Jasper selama ini. Bahkan setelah Jasper pindah ke New Hampshire, Seth adalah satu-satunya yang masih sering kontak dengan mereka.
Itu jelas salah satu alasan mengapa Seth mendadak kaya belakangan, pikir Jacob. Sudah jelas ia meminta tolong Alice untuk meramal pasar saham. Ditambah Ducati miliknya… Huh, baru Jacob sadar di mana ia pernah melihat motor mewah itu. Di garasi Cullen. Milik Jasper. Jelas Seth tidak membeli baru. Jasper pasti akan senang menyerahkan motor itu, atau mungkin menjual murah pada Seth. Ya, setelah sebelumnya, Edward menjual Volvonya dengan harga setara dengan rongsokan Rabbit…
Baru Jacob sadari sekarang, posisi Seth. Dan sesuatu yang mungkin ia simpan selama ini.
Seth dan hubungannya dengan para Cullen.
Seth dan hubungannya dengan Korra.
Yang berarti, berhubungan kawanan lain.
Mungkinkah Seth … selama ini … entah bagaimana, menjadi penghubung mereka? Agen ganda?
Dan Sam…. Sikapnya yang aneh selama ini. Sam yang jelas-jelas disebutkan Korra di hutan. Sam yang dihungi oleh entah siapa untuk menolongnya, menolong anak-anak. Sam, dengan menggunakan Josh, yang membawa mereka semua ke sini.
Apa jaring yang mengaitkan mereka semua?
Oh, Tuhan. Mungkinkah …
Jacob menggeleng keras-keras atas satu kemungkinan yang mendadak menyelusup ke kepalanya.
Astaga. Apa lagi yang ia pikirkan?
"Hebat juga kau, Alfa. Penyembuhan instan," siul Quil riang sebagai reaksi atas diagnosa Adam. Tak lupa ia menderetkan sekian pujian, lagi-lagi pada alat steampunk mengerikanEdward dan senyawa-entah-apa yang dikembangkan si vampir gila yang digunakan dalam operasi, membuat Jacob kembali memaki makhluk itu.
"Pastinya begitu kalau ia sudah bisa memaki," cengir Adam.
"Atau menghabiskan waktu puluhan menit untuk menggosip," sambung Caleb, ikut nyengir.
"Sudah!" bentak Jacob. "Kalian berhenti ribut dan antar aku pulang!" perintahnya seraya berusaha bangkit. Ditariknya jarum dan selang infus dari tubuhnya. Darah di botol transfusi masih ada separuh, tapi ia yakin ia sudah tidak membutuhkannya lagi. Kepalanya agak pusing, dan jantungnya masih berdegup lemah ketika ia bangun, tetapi ia tahu perasaan itu tidak akan bertahan lama. Jelas penyembuhan alaminya sudah bekerja. Masalah pemulihan tinggal urusan waktu.
"Aku sungguh tidak merekomendasikan ini. Kau itu baru menjalani operasi jantung. Sepesat apapun penyembuhanmu, ini tetap beresiko. Kau bisa mengalami gagal jantung. Kau harus bedrest selama minimal seminggu," Adam berusaha menahan tubuhnya tetap di ranjang, tapi Jacob menghelanya.
"Aku tidak punya waktu seminggu!" erangnya. "Aku toh baik-baik saja! Aku harus segera pulang!"
"Astaga. Mengapa kau perlu terburu-buru?" Quil memberengut, menggerutu melihat gerakan Jacob membuat darah menyiprat dari ujung selang, menetesi lantai. Peraturan Esme sudah jelas dalam urusan peminjaman rumah Cullen sebagai barak tentara: dilarang mengotori rumah. Siapapun tahu betapapun lembutnya Esme, ia keras dalam urusan kebersihan. Sekian tahun bulak-balik main ke rumah Cullen dulu, ia dan Jacob yang paling sering diomeli gara-gara mengotori rumah. Sekarang memang mereka tidak ada, tapi Quil tetap merasa bertanggung jawab.
Ia beranjak untuk mengambil lap dari pojok, menggosok lantai tempat Jacob menumpahkan darah transfusi. Jacob hanya nyengir melihat sahabatnya membereskan bekas ulahnya, tapi tanpa merasa bersalah ia mengulang, "Aku harus segera pulang. Kau ingat hari ini hari apa?"
"Sabtu?"
"Bukan itu, Bodoh! Ini hari kepulangan Rachel!"
"Lalu?"
"Ada Rachel, berarti ada Paul! Dan aku penasaran, apa reaksi Paul tentang Sam," ujarnya bersemangat. "Lagipula …," ia menambahkan senyum riang, "sore nanti aku ada janji kencan dengan adik kesayanganku."
.
.
Catatan:
Halo semua!
Hehehe, chapter ini soal skandal… Pengennya sih yang ngebicarain ini Collin, tapi apa boleh buat? Mungkin beberapa hal yang ada di sini udah disebutin di Legendiary of Korra, tapi ada juga yang ga masuk di sana, aku masukin di sini…
Makasih untuk review kemaren, juga yg udah nyempetin baca… Aku tau ceritanya agak absurd n makin lama makin absurd, tapi memang ini yang aku rencanain soal Korra. Yang melihat sesuatu yang aneh, tolong kasi tau ya…
Feedback, please…
