THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.

.

Warning: Rated M... Read on your own guard…

.


.

Limapuluh Sembilan – Persephone: Part 1 (Stynx -2-)

Monday, April 08, 2013

2:10 PM

.


.

"Ingat. Apapun yang terjadi, perhatikan kesehatanmu," Adam memperingatkan begitu mobilnya memasuki halaman rumah Jacob. Diparkirkannya mobilnya di depan garasi, sementara tak henti lidahnya mengutarakan hal yang sama yang diulang-ulangnya entah untuk yang kesekian kali sejak mereka meninggalkan rumah Cullen. "Itu artinya kau harus menghindari emosi berlebihan, melakukan tindakan apapun yang bisa memancing amarah dan memicu detak jantungmu lebih cepat, dan terutama..."

"Jangan sampai bersinggungan dengan Korra, ya kan?" Jacob memotongnya. Adam sudah bicara hal yang sama sekitar seratus kali selama perjalanan dari Forks ke La Push. Padahal perjalanan hanya ditempuh dalam waktu kurang dari sejam. "Apapun yang sekiranya bisa membuat aku gagal jantung. Ya, ya, aku tahu..."

Adam yang sok-dewasa itu, padahal usianya masih di bawah Seth, menghela napas. "Aku bilang begini tidak hanya demimu, Jake. Ini juga demi kawanan. Kawanan tetap butuh kau. Jadi kuminta kau menghindari emosi atau berubah setidaknya tiga atau lima hari ini. Aku tak ingin ambil resiko."

Jacob memutar bola matanya. "Ya, tentu, tentu," katanya sambil menguap.

"Jake, aku serius..."

Tanpa bicara lagi Jacob membuka pintu mobil dan turun. Dilihatnya Adam menurunkan jendela dan menatapnya dengan mata khawatir.

"Tenanglah, Adam. Aku cuma pulang ke rumahku sendiri. Korra bukan musuh. Dia adikku. Dia takkan berusaha menyakitiku."

"Aku tidak khawatir dengan Korra. Aku khawatir justru kau yang menyakiti dirimu sendiri."

"Tentu, tentu," oceh Jacob tanpa berbalik lagi.

Didengarnya Adam berteriak, "Aku tak mau tanggung jawab kalau kau sampai gagal jantung, Alfa!" Ia hanya terkekeh sementara mobil Adam mundur dan meluncur kembali di jalan setapak, menjauh dari rumahnya.

.


.

Rumah sepi ketika Jacob mendekat. Tak ada tanda-tanda kehadiran ayahnya. Hanya ada bau lemah yang ia kenali sebagai Korra, di tengah bau beragam makanan.

Makanan?

Bau kalkun panggang dan lasagna andalan Korra sudah menyeruak bahkan sebelum ia mencapai beranda. Pikirannya penuh keheranan tatkala ia mendapati pintu rumah tak terkunci, namun tak ada siapapun di ruang tengah. Di meja makan di dapur, dilihatnya beragam makanan sudah terhidang, dalam kuantitas maupun variasi jenis yang mengagumkan. Tak kurang dari empat ekor kalkun panggang, setumpuk ikan goreng, tiga wadah puree kentang, sepiring bistik lidah sapi, ditambah aneka buah-buahan dan salad. Dari bau yang tersisa, sudah jelas Korra menyimpan lasagna dan pudding di kulkas.

Hei, memangnya siapa yang mau mengadakan pesta? Hanya menyambut kedatangan Rachel dan Paul? Jelas ayahnya dan Korra berlebihan...

Tapi di mana mereka berdua?

Bau Korra dari lantai atas menunjukkan bahwa gadis itu ada di kamarnya, tapi Billy tak terasa. Ia baru akan mengecek ke kamar ayahnya ketika tiba-tiba terdengar suara rintihan pelan dari kamar adiknya.

Rintihan?

Segera Jacob meluncur menuju tangga. Kondisi tubuhnya masih sangat lelah akibat pertarungan semalam, ditambah masih lemah akibat operasi, sehingga gerakannya jauh lebih lambat daripada biasanya. Tangan dan rusuknya masih terasa sakit. Perban yang dibebatkan Adam membuat lengan kanannya tergantung dengan penyangga, terlipat di depan tubuhnya, namun ia memaksakan diri melompati tangga dua-dua.

Suara itu datang dari kamar Korra. Pelan dan penuh sirat perih. Diingatnya lagi pertarungan semalam. Si serigala hitam, Korra, memblokade serangan untuk menyelamatkannya, dan beroleh luka cakaran mengerikan di sepanjang punggungnya. Mungkin malah lebih dari itu, ia tak tahu, karena si serigala hitam menghalau si penyerang ke balik pepohonan dan pertarungan yang terjadi setelah itu ada di luar jangkauan penglihatan maupun pendengarannya. Tumpukan makanan di meja memang menunjukkan bahwa Korra memang tampak baik-baik saja. Tapi saat ini, entah mengapa, ia merasa sangat khawatir dengan keadaan adiknya.

Suara rintihan itu menghilang ketika ia tiba di depan kamar itu. Tapi diketuknya juga pintu kamar sang adik.

"Korra," ucapnya, "kau tak apa-apa?"

Jeda waktu cukup lama hingga akhirnya Korra menjawab, suaranya ceria seperti biasa, "Tidak apa, Jake..."

"Boleh aku masuk?"

"Sebentar, Jake, aku berpakaian dulu," terdengar suara Korra dari dalam. Beberapa menit berlalu sebelum Korra kembali bicara, "Ya, masuklah, Jake..."

Jacob membuka pintu kamar Korra dan dengan ragu melongok ke dalam. Korra tersenyum padanya, duduk di sisi tempat tidur.

"Ada apa, Jake?" tanyanya.

Sang kakak masuk, hati-hati duduk pinggir tempat tidur di sisi adiknya. "Kau tidak apa-apa, Korra?" suaranya khawatir. "Aku mendengar rintihan dan...," dilihatnya mata Korra agak sembap. Tanpa disadarinya, ia sudah menyentuh pipi gadis itu. "Kau menangis?"

Korra memaksakan diri tersenyum, menggeleng. "Maaf, tiba-tiba aku teringat Mom..."

Jake tak tahu harus bereaksi bagaimana. Tentu saja, topik itu adalah topik yang mengerikan. Gadis ini mungkin memaksakan diri tampak kuat dan tegar, bersikap biasa-biasa saja, tapi pastinya ia menahan rasa sakitnya. Tentu saja, dengan serangan seperti itu... Dan lebih lagi, bagaimana bisa ia harus terpaksa bertarung dengan ibunya sendiri? Apa yang terjadi sesudah itu? Apa Korra membunuh ibunya?

Ya. Ia bisa merasakan bagaimana perasaan Korra kini. Situasi mereka sama. Ia dan Korra sama-sama tidak beribu. Hanya saja, mungkin, ia jauh lebih beruntung. Ibunya meninggal dalam kecelakaan. Selamanya ia bisa membayangkan ibunya dalam citra yang indah dan agung. Sosok penyelamat nyawanya. Memeluknya untuk melindunginya dari luka yang lebih parah saat mereka terguling-guling sekian puluh meter menuruni jurang terjal. Tapi Korra?

Ibunya berubah jadi sosok vampir. Peneror tanahnya sendiri. Dan Korra, tak lain tak bukan, yang akhirnya harus menghadapinya. Ibunya, satu-satunya keluarga Korra di dunia ini, yang dikenalnya seumur hidup sebelum ia kembali ke La Push. Ibu yang dianggapnya sudah tewas. Apa yang ada di benak Korra sekarang? Hancurnya bayangan akan sosok ibu selama belasan tahun ini? Kemarahan? Pada siapa? Pada ibunyakah? Atau justru pada dirinya sendiri? Karena ialah yang mungkin memberikan pukulan terakhir yang menghabisi nyawa sang ibu.

Bahkan walaupun ibu Korra vampir, seharusnya ada kesempatan kedua. Seandainya ibu Korra mengenal dunia vampir yang lain, dunia vampir vegetarian... Seandainya ia mengenal Carlisle...

Tapi tidak. Dia mencari pembalasan dendam. Dia monster. Dan dia gila.

ragisnya lagi, bagaimana keadaan Korra kini? Tidak hanya secara psikis, namun juga secara fisik. Ia ingat pagi kemarin ketika Korra sakit. Apa benar ia mengalami morning sickness? Lalu setelah pertarungan dini hari tadi, apa yang terjadi padanya? Pada tubuhnya? Jika ia memang benar hamil, apakah mungkin ia ... keguguran?

Bisakah ia menanyakan itu, langsung?

Tanpa benar-benar disadarinya, ia sudah mendekat, menarik Korra ke dalam pelukannya. Adiknya menggigit bibir, dan langsung menyandarkan diri di dadanya. Tangan gadis itu melingkari pinggangnya. Dari eratnya pelukan Korra, dan matanya yang terpejam erat, ia tahu Korra berusaha menahan kepedihannya. Ia merangkul bahu Korra, berusaha memberi ketenteraman. Berhati-hati untuk tidak menyentuh punggungnya. Yah, kalau-kalau luka itu masih ada di sana.

Selintas ia merasakan bau tajam dari rambut Korra, tapi ia tak peduli. Itu bukan masalahnya kali ini.

"Kau bisa cerita padaku, kau tahu...," entah mengapa ia mengatakan itu. "Apa yang kau hadapi ... aku tahu adalah hal yang berat, dan mungkin aku pun tak bisa mengerti sepenuhnya. Tapi jika ada yang bisa kubantu untuk meringankan perasaanmu, atau rasa sakitmu, atau apapun ... Yeah, bagaimanapun kau sudah menolongku semalam, kau tahu ..."

Korra terhentak. Melepaskan pelukan dari pinggangnya, gadis itu kembali menegakkan diri, memasang wajah bingung. "Menolongmu semalam?"

"Korra," Jacob menghela napas atas usaha payah Korra dalam berakting pura-pura tidak tahu apa-apa. "Kau tahu aku tahu ... tentang semua ini. Kau tak perlu lagi menyembunyikan dariku ..."

Belum selesai Jacob berkata, Korra sudah memotongnya, "Sungguh aku tak tahu apa yang kaubicarakan, Jake."

Wajah Korra mengeras dan sesaat hal itu membuat Jacob terdiam. Ditiliknya baik-baik wajah adiknya. Ekspresi apa yang ada di sana?

Tapi lantas Korra berpaling, menghindari pandangannya. Didengarnya gadis itu bicara lirih, "Maafkan aku, Jake..."

Maaf?

Mengapa ia perlu minta maaf?

Ia ingin menatap wajah adiknya, membaca air mukanya. Oh, sungguh saat ini ia berharap ia memiliki kemampuan Edward, atau lebih lagi Aro. Semua yang Korra sembunyikan, semua alasannya, semua latar belakangnya, semua kepedihannya, jika saja ia memiliki akses untuk mengetahuinya. Jika saja ia bisa mengerti.

Ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk suatu pertanyaan, apapun itu. Tapi di sini, setelah apa yang terjadi semalam. Setidaknya, sepotong saja... Ia tahu Korra tertekan. Jika saja Korra mau bicara padanya, jika saja Korra mau terbuka, maka mungkin ia bisa meringankan perasaan adiknya...

Haruskah ia bertanya?

Atau ia harus menunggu saat lain?

Tapi melihat mata sembap Korra, dan kondisinya yang pastinya rapuh...

Korra butuh seseorang. Untuk menenangkannya, mengusap punggungnya, memberinya ketenteraman. Untuk mengerti.

Dan ia kakak Korra. Keluarganya. Siapapun Korra, ia butuh keluarganya.

"Korra," bisik Jacob, menelan ludah. "Aku ingin berterima kasih ... dan ... aku memang punya banyak pertanyaan. Kau tahu, mengenai ka..."

Lagi-lagi Korra memotongnya. "Aku tidak mengerti apa maksudmu, Jake," ia menggeleng keras, masih tak mau menatap langsung mata Jacob. Nadanya defensif.

Oh, ini sungguh membuat frustasi. Di sana ia berusaha membuka diri, dan Korra ... meski sudah begini tersingkap ... masih menutup diri?

Atau Korra mengira ia menginterogasinya, menyudutkannya?

Oh, ya, tentu. Pastinya begitu dengan pertanyaan seperti itu.

Jacob menghela napas lagi. Berusaha mencari pertanyaan yang lebih tepat.

"Bukan maksudku menginterogasi, Korra," katanya langsung. "Hanya saja, maksudku, kau bisa percaya padaku. Kau bisa cerita padaku akan kesulitanmu atau apapun. Sekarang ini sudah bisa dibilang sudah tidak ada rahasia lagi. Aku tahu kalau ..."

"Maaf, kau tahu aku tidak bisa, Jake," seakan bisa membaca pikirannya, Korra mengutarakan kalimat itu, memotongnya lagi. Dan ia mengenalnya. Kalimat itu. Cara mengucapkannya.

Ya. Ia tahu.

Persis ketika ia ingin mengatakan pada Bella, tapi ia tak bisa. Persis ketika Embry ingin mengatakan pada Sam, tapi ia tidak bisa. Lidah mereka terkunci.

Titah Alfa.

Ya, jika memang benar ia dimiliki kawanan lain, Alfa itu tentu bisa mengikatnya. Rahasia kawanan yang tidak boleh diucapkan apapun yang terjadi. Ia tahu tidak ada serigala yang bisa menentang Titah. Tidak di kawanannya, dan pastinya tidak pula di kawanan lain.

Jacob menghela napas.

"Kau bisa mencari jalan keluar dari apapun yang ia paksakan, kau tahu, Korra... Kau tahu sistem semantika bahasa," entah mengapa ia bicara seperti itu. Tapi apapun, jika ia bisa membantu ... jika ia bisa ada untuk apapun yang dihadapi adiknya ... Korra adalah adiknya, tidak peduli siapa dia. Ikatan ini lebih besar daripada permusuhan, kecurigaan, apapun yang terjadi di antara kedua kawanan. Lebih lagi kini saat ia tidak tahu apa permusuhan itu masih ada. Setelah kemarin jelas-jelas mereka membantu. Dan si Alfa terus bilang mereka datang dalam damai.

Apakah memang semua sejak awal kesalahpahaman? Kesalahannya? Ia yang terlalu dini salah mengartikan ucapan Alfa yang belum dikenalnya, ia yang begitu mudah memberi label 'ancaman' pada apapun yang memasuki wilayahnya... Apakah ini semata karena insting defensif, atau mungkin protektifnya, yang berlebihan?

Astaga. Mengapa hubungannya dengan Korra selalu sesulit ini? Sejak awal ia tak bisa menerima Korra, dan begitu ia bisa menerimanya, mengapa ia harus berkabung dalam kecurigaan akan identitas Korra dan permusuhan dengan kawanan asing? Tidak bisakah ia menerima adiknya dengan mudah? Tidak bisakah mereka menjadi keluarga yang normal?

"Percayalah padaku, Korra," ujarnya lembut. "Katakan jika kau ada kesulitan. Aku pasti bisa membantumu, melindungimu."

Korra memandang matanya sesaat, tapi lantas menurunkan pandangannya. "Aku yang seharusnya mengatakan itu, Jake. Kaulah yang tak pernah percaya padaku."

Entah mengapa ia merasa ucapan itu menghentak. Tepat pada sasaran.

Benar. Ia tidak percaya, ia tidak pernah percaya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak bisakah ia mempercayai Korra?

Karena ia menyayangi anak itu. Sungguh. Ia menyadarinya belakangan. Ada rasa memiliki dan kasih sayang. Tapi satu hal: mengapa ia tak bisa mempercayai Korra?

Karena Korra adalah putri dari kekasih lain ayahnya? Atau lebih karena ia adalah anggota kawanan lain, tidak peduli ia kawan atau lawan? Atau seperti kata Quil, ini semua karena masalah insting persaingan antar-Alfa?

"Jake...," bisik Korra lirih. "Aku tahu kau tak bisa mempercayaiku sepenuhnya, dan memang aku tak bisa melepaskan diri dari masa lalu dan masa kini, semua tanggung jawabku, tapi...," ia menarik napas berat. "Tapi aku ingin kau tahu ... bahwa aku ... selalu menyayangi Dad. Apapun yang pernah terjadi, sedang, atau akan terjadi, semua aku lakukan hanya ... karena ... aku hanya ingin Dad selamat ..."

Eh, apa?

Apa yang telah, sedang atau akan terjadi?

Apa yang ia maksud?

"Korra?" ia meraih tubuh adiknya, mengguncangnya. "Ada apa, Korra? Apa yang kau tahu? Apa yang akan terjadi?"

Gadis itu kembali menggeleng, lantas menyurukkan diri di dadanya. Jacob tahu ia tak bisa bertanya, karena apapun yang ia tanyakan hanya akan berakhir pada kebekuan. Jika Korra ada dalam pengaruh Titah Alfanya, apalah yang ia bisa lakukan untuk mendobrak Titah itu? Tentu, ia bisa menebak, seperti dulu Bella lakukan ketika ia menentang perintah Sam. Tapi apa itu takkan membawa Korra pada kesulitan lain? Dan yang harus menghadapi kesulitan itu adalah Korra, bukan dirinya. Jadi kali itu ditahannya rasa ingin tahu itu, ditekannya dalam-dalam. Ia menarik napas panjang sebelum kembali merengkuh bahu gadis itu, mengusap rambutnya, dan berbisik pelan di sana.

"Korra, kau tahu, bukan hanya Dad, tapi kami semua menyayangimu. Mungkin selama ini aku bersikap kasar, tapi aku ... entahlah ... di sini banyak yang menyayangimu, Korra. Kita semua adalah satu keluarga."

Ia tahu ketika ia mengatakannya, kali itu, ia tulus. Sangat. Dan mungkin Korra juga merasakannya, karena ia mengetatkan pelukan di pinggangnya. Entah mengapa pelukan itu membangkitkan insting protektif dalam dirinya, dan menit-menit berlalu dalam diam. Tak lama kemudian ia merasa dadanya agak basah.

Korra ... menangis?

"Korra?" bisiknya, berusaha mengangkat wajah adiknya. Tapi Korra menggeleng kasar, dan makin menyurukkan diri di pelukannya.

"Kumohon, biarkan semua seperti ini, Jake," kata-kata gadis itu bergetar. "Percayalah, apapun yang terjadi, aku takkan membiarkan siapapun menyakiti Dad..."

Janji Korra, bisakah ia mempercayainya?

Tapi janji itu hanya meliputi satu orang: sang ayah. Itu berarti, apapun yang akan terjadi, entah apa, mungkin ia sendiri takkan selamat. Entah bagaimana, bayangan ramalan Alice kembali mendengung dalam kepalanya. Nisan bertuliskan namanya...

Jacob menelan ludah. Tapi belum lagi ia berucap apapun, tahu-tahu dering telepon di lantai bawah sudah merampok perhatiannya.

Ia sudah akan mengabaikan saja telepon itu, tapi Korra menunjuk, "Telepon," sementara menggigiti bibirnya. Wajahnya penuh harap agar mereka menyudahi saja pembicaraan kaku dan serba salah itu.

Dengan berat hati Jacob mengangguk. Ia bangkit meninggalkan Korra yang masih terlihat aneh. Tapi baru sekitar tiga atau empat langkah dari tempat tidur, Korra sudah memanggilnya kembali.

Eh, apa? Korra batal menyimpan rahasianya dan memutuskan untuk cerita?

Tapi begitu ia berbalik, bukan Korra yang tadi yang dilihatnya. Melainkan Korra yang ceria, tersenyum lebar.

"Jika kau ke bawah, boleh aku minta kau sekalian memanaskan lasagna di kulkas, Jake?"

Ia masih agak terpesona oleh perubahan mood Korra yang mendadak itu, tapi ia mengangguk, memaksakan satu senyum juga di bibirnya.

"Tentu, Korra."

.

Jacob menuruni tangga dengan perasaan dan pikiran yang berkecamuk.

Ia merasa Korra aneh. Itu sudah jelas. Gadis itu menyimpan rahasia, itu juga sudah jelas. Tapi ini lebih dari soal dia serigala hitam. Itu sudah hampir 90% benar dalam soal ini. Tapi ada yang lain, yang tidak selesai hanya dengan jawaban Korra adalah serigala hitam dan bagian dari kawanan lain.

Perubahan mood Korra yang mendadak, perubahan sikapnya, semuanya. Korra yang naif dan kekanakan. Korra yang selalu memegang kendali, penuh kontrol atas segalanya. Korra yang melankolis. Korra yang ceria, atau memaksakan diri terlihat ceria. Sosok serigala hitam yang kuat dan tenang. Serigala yang taktis dan penuh perhitungan. Rasanya ia selalu melihat pribadi yang berbeda tiap kali berusaha memandang melewati mata Korra. Seolah-olah adiknya di satu saat, dan seolah ia bukan dirinya di saat yang lain.

Seperti pemilik kepribadian ganda.

Multiple personality, begitukah?

Atau memang ia hanya sangat pintar menyembunyikan perasaannya?

Ataukah ia memang dikendalikan Alfanya? Semua perilakunya? Atau ada yang lain?

Jika memang ia dikendalikan, sampai sejauh mana? Apa semua yang ia lakukan, sejak detik ia menginjakkan kaki di La Push, semua memiliki maksud lain? Apa tujuan sebenarnya Korra di sini? Sungguhkah semata karena ia tidak punya siapa-siapa lagi selain sang ayah? Tidak, alasan itu sudah jelas tidak valid sekarang. Korra bagian dari kawanan lain dan sudah pasti bertindak atas kepentingan mereka.

Kepentingan apa?

Ataukah memang ada hubungannya dengan semua misteri belakangan ini? Sam dan para Tetua? Setelah semalam jelas-jelas Korra menyebutkan Sam...

Astaga, apakah benar ia skizofrenia? Membayangkan hal yang bukan-bukan seperti kata Adam? Kini ia tidak hanya menghubungkan Korra dengan kawanan lain, tapi juga dengan Sam?

Tentu, tentu saja Korra memiliki kepribadian ganda. Siapapun akan begitu jika ditempatkan di posisi gadis itu.

Mungkin ia hanya berusaha menempatkan diri di posisi yang tepat. Berusaha menekan perasaannya sendiri.

Jacob menggeleng keras, berusaha mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya. Langkahnya kian cepat menuruni tangga, menuju ruang tengah.

.

Nah, siapa tadi yang menelepon?

Begitu ia turun, tentu saja dering telepon tadi sudah berhenti. Telepon rumahnya sudah tua, tidak dilengkapi fasilitas Caller ID, jadi tentu saja ia tak tahu siapa yang menelepon. Tapi ia tak begitu ambil peduli. Jika penting, sang penelepon pasti akan menghubungi lagi.

Dan memang, tidak sampai dua menit, telepon kembali berdering. Ia buru-buru mendekat ke meja pojok di samping sofa. Mengangkatnya sebelum mati lagi.

"Halo?" sapanya.

"Oh, Jake?" suara renyah Rachel terdengar di seberang sana.

"Kakak!" dengan gembira Jacob membalas. Suara Rachel sungguh oase yang menyegarkan dalam segala kekisruhan belakangan ini. Rachel dan rencana kedatangannya, hari ini. Setelah bertahun-tahun ia tak kembali. "Ke mana saja kau?" tanyanya riang, agak menuntut. "Kami sudah menunggu dari pagi..."

"Maaf, Jake... Ada delay pesawat. Tapi kami sudah sampai di Seattle sekarang."

"Oh... Lalu kau sudah bertemu dengan penjemputmu?"

"Oh, ada?"

Rachel terdengar agak terkejut, membuat Jacob menggerutu.

"Aku kan sudah meng-sms..."

"Maaf aku belum mengecek hp. Kumatikan selama penerbangan," ia diam sejenak, mungkin menyalakan ponsel. "Ah, sial... lowbat!" katanya akhirnya. "Jadi siapa penjemputku? Seth?"

"Bukan. Josh ... dan Quil."

Tadi memang sebelum ke sini, ia sempat menyuruh Josh. Meski Josh kelihatan enggan meninggalkan Brady, ditambah lagi ia masih mengantuk, dengan limbung akhirnya ia pergi juga. Quil akhirnya berinisiatif menemaninya. Toh tak banyak lagi yang harus dilakukan dengan kawanan yang masih tergeletak tak sadarkan diri itu. Dan nasib Pete dan Ben pun masih belum jelas.

Dalam pikiran buruk mengenai nasib Pete dan Ben, mungkin mengalami akhir yang sama seperti Collin, Jacob merasa dadanya sakit. Jantungnya seakan tercerabut. Ia meringis, memegang dadanya. Berusaha menenangkan diri, ingat kata-kata Adam. Jangan sampai ia gagal jantung...

Rachel terdengar agak curiga di seberang sana."Oh? Tumben... Memang kemana Seth? Atau Embry?" tanyanya.

Memang wajar. Biasanya Seth yang selalu kebagian tugas jemput-menjemput bila Rachel dan Paul bertandang. Paul, sebaik apapun kemajuannya berkat sesi pengendalian-amarah di bawah bimbingan Rachel sang psikolog cabutan, masih mudah terpancing emosi. Orang-orang yang hampir setipe dengan Jacob sang musuh bebuyutan, misalnya Quil, baik dalam wujud perseorangan maupun kombinasi EmQuil, Josh, pasangan Ben-Pete, atau Clark, lebih lagi Collin, pendek kata seluruh kawanan selain Seth atau mungkin Embry dalam wujud perseorangan, tidak terlalu aman untuk Paul. Ya, Embry memang berbeda ketika sendiri atau sedang bersama Quil. Embry yang sendirian jauh lebih kalem dan manis, bahkan saking kalemnya Embry, Jacob pribadi hampir menyangsikan kemungkinan sahabatnya sebagai adik tiri Sam. Tapi ketika bersama Quil, sifat usilnya kambuh. Tapi Embry tetap pilihan no.2, pilihan utama yang aman untuk Paul hanya Seth. Dan Paul bagaimanapun tidak terlalu dekat dengan para 'anggota baru' seperti Adam dan Caleb, walau mereka sempat bersamanya selama sekitar 2 tahun. Jelas saja dengan absennya Seth, apalagi digantikan Josh dan bukan Embry, Rachel menduga ada yang tak wajar. Seth dan Embry terluka parah, misalnya.

Jacob memilih untuk memberi jawaban netral. "Mereka sedang mengurus sesuatu, Sis..." Itu tidak bohong, walau bagaimanapun. "Tenang saja, mereka baik-baik saja, kok..."

Rachel diam sejenak, sebelum berseru penuh semangat,"Oh, itu Paul! Kelihatannya ia sudah bertemu Josh. Oke, sampai ketemu, Jake..."

"Bye, Sis..."

Rachel menutup teleponnya buru-buru. Selain karena Paul sudah bertemu dengan para penjemput, kelihatannya ia baru sadar sudah menelepon terlalu lama. Itu telepon umum bandara, walau bagaimanapun. Mahal. Dan Rachel termasuk tipe wanita hemat. Lebih lagi sekarang setelah jadi istri.

Diam-diam Jake membayangkan Paul diatur ini-itu urusan pengeluaran rumah tangga. Terutama soal makanan. Kasihan Paul….

Oh, bicara soal makanan….

Tadi Korra menyuruhnya memanaskan lasagna, kan?

Ia buru-buru menuju kulkas. Membuka pintunya, matanya agak terbelalak melihat tumpukan lasagna di rak kulkas. Satu, dua ... ia menghitung. Total enam loyang! Masih ditambah tiga loyang puding karamel, dua loyang puding susu, dan satu mangkuk besar berisi koktail buah. Kapan adiknya menyiapkan semua ini? Ia harusnya kelelahan akibat pertempuran sampai menjelang dini hari tadi.

Ya, itu jika ia memang ikut bertempur...

Diam-diam Jacob mulai menyangsikan teori Korra sebagai serigala hitam. Dengan semua masakan ini? Tidak bisa dibayangkan seseorang mampu bertempur sekaligus memasak sendirian dalam waktu berdekatan. Ya. Karena kemarin, tengah malam tadi tepatnya, ia tidak melihat semua masakan ini. Mungkin saja setelah pertempuran, Korra langsung pulang dan masak. Tapi apa itu mungkin? Apa dia tidak lelah dan terluka? Dan sekarang bahkan baru jam 10...

Bukan waktunya memikirkan itu.

Rachel akan datang. Ya, Rachel dengan segala logikanya dan pengetahuan psikologinya yang lebih bisa diandalkan ketimbang Adam. Dan ia tahu semua tentang kawanan. Jika memang Korra memiliki multiple personality, Rachel tentu bisa dijadikan tempatnya bertanya. Jika tidak pun, setidaknya, mungkin Rachel bisa memberikan sedikit pertimbangan.

Dan Paul. Paul sahabat Sam. Sahabat kedua sesudah Jared, tepatnya, tapi ia termasuk lingkaran dalam Sam. Paul tentunya bisa dimintanya mencari tahu tentang Sam. Apa yang disembunyikan Sam.

Ya. Pastinya ia bisa berharap lebih dari kunjungan mereka.

Pasti.

.


.

Tak ada yang pernah menduga, ketika Rachel datang, ia tidak disambut oleh senyum kawanan, tapi oleh makhluk setengah mumi yang menunggunya di pintu depan rumah.

Rachel, bagaimanapun, malah tertawa, menganggap ini semua candaan anak-anak. Kejutan garing. "Apa yang aku tidak tahu? Kalian mengadakan pesta Halloween sebelum waktunya? Ini pasti ide si pasangan usil ColeBrad kan? Atau para manusia-tidak-pernah-dewasa EmQuil?"

Ia berusaha melongok ke dalam, berharap melihat beberapa makhluk lain mirip mumi bertebaran di ruang tengah rumah keluarga Black. Tidak ada satu pun ia lihat di sana, tapi ia sudah mempersiapkan diri, berharap akan adanya satu kejutan.

Jacob, yang menyambut kakaknya di pintu depan, hanya tersenyum kering. "Sini kubawakan tasmu, Sis..." katanya. Ia berusaha mengangkat kopor Rachel dengan satu tangannya yang tak berperban, tapi Josh dan Quil lebih cekatan. Mereka menyelinap di antara Jacob dan Rachel, mengangkuti kopor-kopor ke kamar Jacob.

Di rumah itu memang hanya ada tiga kamar: kamar Billy dan kamar Jacob di lantai satu, serta kamar Korra di lantai dua, yang tadinya bekas gudang. Tapi siapapun tahu hukum dasar itu: kalau kakaknya datang, Jacob akan mengalah dan tidur di sofa ruang tengah atau mengungsi ke rumah Clearwater.

Menyadari pandangan memicing Rachel yang menuntut penjelasan, Jacob buru-buru berusaha melihat ke arah lain, tidak mau menatap wajah kakaknya.

"Dimana Paul?" tanyanya, demi dilihatnya si kakak ipar itu tak ada bersama kakaknya.

"Oh, Paul tadi ketemu Sam di jalan ... Dia langsung turun dari mobil. Mungkin mereka sedang ngobrol sekarang entah di pojokan hutan mana ..." jawab si kakak santai sambil terkekeh.

Tak urung Jake curiga. Paul bertemu Sam? Apa yang mereka lakukan? Apa Sam menunggu kedatangan Paul, entah untuk tujuan apa?

Tapi memang pada dasarnya, mereka itu sahabat ... Dan sekarang sudah bapak-bapak pula. Wajar kalau begitu bertemu, mereka langsung menggosip. Ya, bapak-bapak malah bisa menggosip lebih parah daripada ibu-ibu. Kalau sudah kumpul, Billy suka membela-belakan diri menginap di tempat Charlie, sejak dulu bahkan. Sama juga kebalikannya. Ia tak pernah ingat Sue keasyikan ngobrol dengan ibunya sampai menginap di rumahnya, misalnya.

Tapi mereka mengobrol di saat seperti ini ... Apa Sam memberi tahu Paul tentang kondisi kawanan sekarang? Apa Paul digerek ke Rapat Dewan? Ya, pastinya ada rapat di pondok Sam, karena memang sejak pagi ayahnya menghilang. Sudah jelas, setelah apa yang terjadi semalam, tak mungkin mereka tak mengadakan semacam rapat darurat, pastinya.

Ya. Pasti ada yang menginformasikan hal ini pada Sam. Sejak dulu juga ia merasa ada mata-mata Sam di kawanan. Ia selalu berpikir itu Cole, Josh, atau Clark. Mereka yang paling loyal pada Sam. Tapi dengan adanya ketiganya tak mungkin melaporkan apapun ... dengan situasi mereka saat itu... Bahkan Josh pun sedang tak ada di kawanan, dan kata Quil, Sam yang menghubungi Josh.

Astaga, apa yang ia pikirkan?

Jacob merasa dirinya mulai tidak rasional. Lagipula apa kepentingannya Paul dibawa ke rapat, coba? Memangnya dia masih di kawanan? Huh.

Tunggu. Tadi Rachel bilang, 'di salah satu sudut hutan' ...

"Apa Paul belakangan berubah lagi, Sis?" tak bisa dibendungnya lagi keingintahuan itu.

Rachel membeku sejenak, sebelum menjawab, agak tergesa, "Tidak, tidak pernah."

Tak urung Jacob merasa curiga. Tapi belum lagi ia mencecar kakaknya, tahu-tahu Korra sudah menghampiri mereka. Matanya sembap tapi senyum lebar terpampang di wajahnya ketika ia mendekati Rachel sambil bercerocos, ceria seperti biasa.

"Ini pasti kakakku, Rachel..." katanya.

Rachel balas tersenyum, merentangkan tangan berinisiatif memberi pelukan. "Hai Korra," katanya, yang disambut pelukan gadis itu. "Betah di sini?"

"Ya, tentu. Ayah dan Jake baik padaku..." jawab Korra, membuat Jacob tak bisa tidak memutar bola matanya.

Baik apanya? Tiga bulan ini ia terus-terusan bersikap kasar. Entah ini kelihatannya Korra memang bukan tipe cewek pengadu, atau ia sedang berusaha menggaet hati kakaknya.

Rachel juga kelihatannya tidak percaya. "Kau tidak bilang begitu karena kakakmu yang jahat ini menekanmu, kan?" ia menunjuk Jacob dengan sikap ingin membela si adik tiri kecilnya. "Kalau ya, bilang saja, Korra, nanti akan kubalaskan dendammu," katanya yang membuat Korra tersenyum dan Jacob mengeluarkan tawa masam.

Hah. Dendam. Andai saja Rachel tahu...

"Tentu tidak, Kak..." senandung Korra. "Ayo sini, aku membuat banyak lasagna untuk menyambut kalian..."

Gadis itu sudah melompat ke dapur sebelum Rachel sempat mengatakan apapun.

Rachel beralih dari memandang punggung Korra ke sekeliling ruangan yang sepi dan lengang.

"Mana yang lain?" tanyanya yang hanya dibalas endikan bahu Jacob.

Tentu saja tidak ada siapapun di situ. Hanya Jacob. Serta tentu saja Quil dan Josh, yang sudah selesai mengangkuti barang dan kini asyik duduk-duduk di sofa, menyalakan televisi.

Mereka memang merencanakan semacam pesta menyambut kepulangan Rachel, tapi mana mungkin itu bisa dilakukan sekarang? Setelah pertempuran semalam, sangat beruntung mereka bisa lolos dengan hanya koma.

Adam sangat bersyukur bahwa ternyata mitos yang selama ini berkembang, bahwa setetes saja darah vampir bisa membunuh mereka, terbukti salah. Karena dari kasus Brady, jelas-jelas hanya dari gigitan Collin untuk membuang darah yang terkontaminasi saja, yang pastinya tidak membuang seluruh racun, Brady bisa melewati 3 jam masa kritisnya dan tetap hidup. Sungguh beruntung usaha bunuh dirinya tidak benar-benar membuatnya menyusul Collin, berkat Josh yang langsung tiba di TKP untuk membantunya. Meski begitu, kecepatan penyembuhannya memang berkurang drastis akibat luka-luka yang didapatnya dalam pertarungan, tapi tidak sampai ke tingkat yang membuatnya terancam mati. Rupanya memang tetap butuh racun dalam jumlah yang cukup untuk membunuh serigala. Mungkin lebih besar dari jumlah yang dibutuhkan untuk mengubah manusia, demikian simpul Jacob.

Kasus Embry, Clark, Harry, dan Pete memang tidak seringan Brady. Sungguh ajaib mereka bisa tetap hidup setelah jelas-jelas dimangsa. Tapi siapapun yang menolong mereka dengan menghisap racun itu, tampaknya punya kemampuan dan pengetahuan yang cukup tentang penyelamatan serigala yang terkontaminasi racun vampir. Karena bukan hanya racun itu lenyap, luka-luka di tubuh mereka pun tertutup, jauh lebih cepat dari yang diharapkan dari kemampuan penyembuhan alami mereka. Tak urung ia mempertimbangkan bahwa makhluk inilah, entah serigala lain atau bahkan mungkin vampir, atau sangat besar kemungkinan Korra, yang entah bagaimana memberi kontribusi pada kecepatan penyembuhan itu.

Tapi bahkan walau begitu pun, darah mereka sangat minim sehingga Caleb menegaskan bahwa mereka butuh transfusi, jika tak ingin mati kehabisan darah. Cerita Adam, awalnya mereka ingin membawa para korban ke pondok Sam, yang lebih dekat dengan TKP. Namun dengan saran Carlisle di telepon, mereka langsung mentransfer kawanan ke rumah sakit khusus kawanan, rumah Cullen. Di sana, menurut Carlisle, ada jarum titanium khusus hasil pengembangan Edward, yang bisa menembus nadi tubuh mereka tanpa mengaktifkan sistem penyembuhan alami yang mencegah lubang kecil itu menutup, sementara mereka memasukkan darah dan cairan infus lain untuk mendongkrak sistem pemulihan tubuh. Lagipula, Caleb dan Adam selama ini sudah menstok banyak persediaan darah kawanan di sana untuk berjaga-jaga seandainya hal seperti ini terjadi. Tindakan preventif Caleb dan Adam itu terbukti sangat cerdas, sungguh. Karena berdasarkan pengalaman, ternyata darah donor manusia biasa tidak bisa bekerja sejalan dengan sistem mereka yang kelewat protektif, yang selalu membabat habis apapun zat asing yang masuk.

Jujur saja ada dua hal aneh seputar ini. Pertama Josh dan Sam.

Josh entah mengapa bisa sampai di TKP sesaat ketika semua berakhir. Ia jelas mendapat informasi, tapi dari mana? Ia bilang ia ditelepon Emily atas perintah Sam, karena Sam bilang suatu hal buruk terjadi di jurang dan kawanan butuh bantuan. Tapi itu dia masalahnya. Dari mana Sam tahu? Jacob tidak bilang apapun soal penyerangan itu padanya, tidak juga pada satu pun Tetua. Memang itu kesalahannya, tapi itu karena ia tak menganggap semua akan sampai pada skala ini. Ia hanya mengharapkan datang ke sarang Alfa putih untuk mengkonfirmasi. Siapa yang tahu mereka akan berkonfrontasi langsung dengan para vampir?

Dan yang kedua, Korra.

Ia sudah hampir menerima teori Collin yang diteriakkan Brady sesudah insiden bunuh diri Collin di gua bawah tanah itu. Bahwa para serigala asing ada di balik semua penyerangan. Si serigala putih bekerjasama dengan vampir. Bahwa Korra terlibat. Tapi lantas kawanan lain itu menolongnya. Serigala hitam terluka ketika menjadikan dirinya benteng dari serangan terhadap Jacob. Perasaan Jake kacau saat itu.

Ya. Adiknya melindunginya.

Ia sudah bersiap menerima semua itu: Collin bunuh diri. Adiknya terluka parah. Tapi begitu ia kembali, apa yang ia lihat?

Korra memang terlihat tidak seceria biasanya, agak melankolis bahkan. Tapi ia baik-baik saja. Dan di situ ia sekarang: asyik berbincang dengan Rachel di meja makan. Senyum mengembang lebar di wajahnya. Sesekali ia mengikik tanpa malu-malu. Suaranya manis, kecil melengking, centil bak anak usia 12 tahun. Terkadang ia menunjukkan roman muka imut dan kekanak-kanakan. Ceria. Manis. Entah itu pura-pura atau tidak. Yang jelas jauh dari kesan anggun dan tenang serigala hitam tadi malam. Atau bahkan sosok sendu di lantai atas tadi.

Mungkin ya, keceriaannya hanya pura-pura. Jelas ia ingin memikat kakak tirinya seperti ia memikat Billy.

Korra, bagaimanapun, selama ini, selalu bermuka dua.

.


.

Catatan:

Maaf, bagian ini aku potong dua. Emang berhentinya ga asyik banget, tapi aku udah janji sama diriku sendiri ga akan nulis satu chapter lebih dari 5000 kata karena repot bacanya. Jadi langsung baca sambungannya ya… hehehe…

Semoga yang baca ga malah puyeng

Pleeeeaaaaaseee… banget kasi review buat yang baca… Oke? Oke?