THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Rated M... Read on your own guard…
.
.
Limapuluh Sembilan – Persephone: Part 2 (Stynx -3-)
Monday, April 08, 2013
2:10 PM
.
.
"Kenapa kau?" Rachel menyentak lamunannya. Membuatnya gagap sesaat.
"Kenapa apa?"
"Luka-lukamu..."
"Oh, semalam terjadi pertem..."
"Paling-paling ia jatuh dari motor, Kak," potong Korra cepat. Jacob mendelik ke arahnya, melongo. Untuk apa Korra menyembunyikan sesuatu dari Rachel? Toh Rachel tahu semuanya. "Lagipula, semalam ada gempa besar," Korra melanjutkan. "Aku takkan heran kalau Jacob ngebut di jalan malam-malam dan tiba-tiba terlontar begitu merasakan gempa."
Mendapat aduan adik tiri barunya, Rachel mengalihkan pandangan padanya, kelihatan tak percaya.
"Benar begitu, Jake?" tanyanya dengan mata memicing.
Jacob memandang dari Rachel ke Korra. Dilihatnya gadis itu hanya diam, memainkan ujung-ujung taplak meja makan. Pandangan matanya terfokus pada hiasan renda. Atau mungkin tidak terfokus sama sekali.
"Tentu tidak," kata Jacob. "Semalam ada se..."
"Omong-omong, Kak," Korra kembali memotong. "Aku dengar, kau sekarang kerja di Unicef?"
Jacob melotot pada adiknya. Korra ingin tak membicarakan masalah pertempuran? Apa ia begitu tak ingin identitasnya diketahui sekarang?
Tapi Rachel kelihatannya juga tidak mempermasalahkan upaya Korra yang kentara sekali ingin kabur dari topik itu. Ia malah langsung menyambar topik baru Korra.
"Ya. Sejak tiga tahun lalu, sebenarnya. Itu resminya, karena sebenarnya waktu kuliah aku sukarelawan. Saat itu juga aku aktivis lingkungan hidup."
"Wow! Kau pernah di Greenpeace? Yang benar?!" Korra kelihatan antusias. Melihat anggukan Rachel, ia semakin bersemangat. "Sama denganku, Kak. Yeah, walau pastinya aku tidak selevel denganmu. Tapi aku tak terikat. Cuma ikut-ikutan. Aku sering menggerek Cole dan Brady ikut serta kalau ada demo anti-penebangan liar."
Heh? Jadi itu yang dilakukan Collin sementara ia melalaikan tugasnya mem-bully Korra? Mengintili Korra bagai anak anjing yang manis, dengan segala obsesi green-lover-nya?
Oke, memang toh nyatanya Korra tak perlu di-bully untuk bisa berubah.
Korra masih melanjutkan. "Kemarin juga, waktu ada demo anti-perburuan di kota, setelah ada serigala kabur dari hutan dan mengamuk di Port Angeles, aku ikut serta."
"Ada serigala kabur dan mengamuk di Port Angeles?" Rachel langsung menelengkan wajahnya ke arah sang adik. "Benar begitu, Jake?"
"Eh, oh, ehm..." Jacob langsung tak bisa bicara.
"Oh, memang populasi serigala di sini lumayan mencengangkan kan, Kak?" Korra tidak mempedulikan adegan aneh di hadapannya dan masih saja berceloteh dengan riang. "Aku takkan heran, deh, kalau nanti pemerintah membuat semacam cagar alam di sini. Suaka margasatwa. Itu pasti pendapatan yang bagus untuk pemerintah daerah, menarik turis... Bayangkan, spesies Greywolf raksasa yang hanya ditemukan di sini. Besar-besar, dan banyak... Semalam mereka melolong-lolong ribut, sampai aku susah tidur."
Rachel makin tajam memelototi Jacob, sementara Jacob hanya menganga menatap Korra.
Apa sebenarnya motif gadis ini?
Tapi Korra kelihatannya tidak mempedulikannya. "Omong-omong," ia mengganti topik, "jadi apa yang kaulakukan tiga tahun ini, Kak?" tanyanya manis.
Rachel tersenyum senang, kelihatan lega tak usah berurusan dengan topik serigala lagi, dan dengan riang berceloteh tentang pengalamannya selama beberapa tahun ini. Bahkan sebelum menikah, ia mendapat pekerjaan di Unicef, mengurusi anak-anak kurang beruntung di desa-desa terpencil. Saking sibuknya hingga ketika Thanksgiving dan Natal pun, ia tidak pulang. Pekerjaannya menuntutnya berpindah-pindah negeri, hampir seperti Korra dan ibunya dulu. Paul mengikutinya selama itu. Untungnya, walau tidak terikat dengan organisasi pemerintah maupun NGO manapun, dan tampaknya tidak terlalu tertarik dengan agenda Rachel dengan anak-anak malang itu, Paul segera menemukan jiwanya sebagai pecinta alam. Di manapun Rachel singgah, ia segera merambah alam liar, dalam wujud manusia tentu, walau Jacob sedikit meragukan hal ini. Gunung dan laut telah ia selusuri. Mulai dari climbing, hiking, snorkel, diving, hingga sky diving menjadi agendanya beberapa tahun terakhir. Dan Rachel juga, walau tidak seekstrem Paul, sesekali ikut serta di sela-sela waktunya.
"Oh ya, aku hampir lupa," Rachel melintasi ruangan ke kamar Jacob, sudah jelas menggapai kopornya yang diparkirkan di sana, sebelum keluar dengan satu pak oleh-oleh di tangan. "Ini rumput laut kering yang aku beli di Bunaken. Paul memaksa ingin snorkel di sana pulang dari Papua, jadi sekalian saja aku beli."
"Wow!" Korra tampak terpukau. "Kau snorkel di sana, Kak? Menyenangkan sekali! Aku selalu ingin jalan-jalan ke sana, sayangnya belum sempat!"
"Oh, memang kau suka snorkel?" mata Rachel berbinar.
"Tidak, belum pernah coba. Aku agak takut dengan laut," jawab Korra malu-malu. "Aku pernah naik banana boat di Hawaii dan jatuh ke laut, hampir tenggelam, waktu usiaku 12. Trauma sejak saat itu."
Rahang Jacob langsung jatuh lima senti. Korra, si bocah sok kuat, juga bisa punya trauma?
Tapi kelihatannya Rachel justru tertarik dengan hal lain. "Oh, kau pernah ke Hawaii?"
"Pernah, tentu!" Korra tersenyum lebar. Seperti biasa, dia mulai menyombongkan diri mengenai petualangannya di Lautan Pasifik, yang sebenarnya sulit disebut sombong karena intinya tak jauh-jauh dari pengalaman memalukan ketiban kelapa saat sedang tidur siang di ayunan, atau hampir disengat ubur-ubur yang terdampar, merogoh-rogoh batu karang mencari kepiting dan tangannya tercapit, atau seenaknya membakar ikan dan hampir keracunan. Rupanya si Korra ini memang senang sekali memperbodoh dirinya sendiri.
"Tapi tak ada pengalaman yang lebih menarik ketimbang hampir tenggelam gara-gara banana boat. Aku kan memang tidak bisa berenang, saking paniknya, aku dengan bodohnya malah menarik tali pengikat pelampungku hingga terlepas. Untungnya ada orang baik menolongku waktu itu. Surfer, atau penjaga pantai, entahlah. Oh ya, aku punya foto yang diambil sesudahnya." Seakan teringat, ia langsung menyambar ponsel, mulai sibuk mengutak-atik mencari foto-foto lama. "Lihat," katanya sejurus kemudian, mengacungkan Sony Erricsson-nya, memperlihatkan foto enam orang tertawa dengan latar belakang laut.
"Mana, lihat..." Rachel menyambar ponsel itu. Tapi sesaat kemudian tawa di wajahnya berubah menjadi keterkejutan.
Jacob mau tak mau ikut melongok dari balik bahu kakaknya yang membeku. Dan memang, tak sampai sedetik kemudian, rahangnya sekali lagi jatuh.
"Hei... ini kan Bex dan suaminya, Kino, si surfer Samoa itu..." ia menunjuk dua orang di foto. "Kau kenal dengan Bex, Korra?"
"Bex?" kening Korra berkerut, dan ia juga melongok ke layar ponselnya di genggaman tangan Rachel. "Oh, kalau kulihat-lihat," keningnya ikut berkerut. "Cewek ini mirip denganmu, Rachel!" serunya.
"Tentu saja mirip. Mereka kan kembar!" dengus Jacob.
"Oh, oh, jadi perempuan ini kakakku Rebecca?"
Ekspresi girang Korra, bagaimanapun, terasa aneh. Ya. Korra menghabiskan hampir seluruh waktu luangnya bersama Billy, jadi mana mungkin ayahnya tidak meributkan soal para putri kebanggaannya, membongkar album-album lama mereka dan mengoceh ngalor-ngidul? Tidak pun, mana mungkin Korra tidak berusaha menggali soal keluarganya? Mana mungkin Korra tidak peduli?
Kecuali, bahwa selama ini pembicaraan mereka tak pernah mengungkit-ngungkit si kembar.
Yang mustahil terjadi!
"Yah, Dad memang selalu cerita soal Bex dan Rachel," Korra mengakui malu-malu. "Dan menunjukkanku banyak foto. Tapi aku memang lemah mengenali orang lewat foto. Lagipula foto ini sudah lama, aku bahkan sudah lupa rupa mereka. Aku hanya bertemu mereka sekali-dua kali dan itu empat tahun lalu, aku tak pernah berhubungan lagi dengan mereka. Ingatanku kan pendek. Dan kau tahu, rupa orang di foto dan aslinya tidak selalu sama."
Jacob mendengus. "Yeah, mana mungkin kau bicara begitu? Kau kan langsung mengenali aku dan Seth di bandara waktu pertama kita bertemu."
Wajah Korra mendadak pias. Membuat Jacob, entah mengapa, merasa ada sesuatu yang salah.
Ingatannya langsung meluncur ke hari pertama pertemuan mereka. Korra yang begitu saja membelah kerumunan, langsung melompat memeluknya. Mengenalinya dengan benar sebagai Jacob, padahal ada Seth di sisinya. Dan insting aneh yang terus berdenging di kepalanya...
Oh, oh...
Tidak mungkin.
Pertama Korra bertemu dengannya, dan mengenali, pasti bukan karena Billy mengiriminya foto kan? Karena hal lain... Sesuatu yang pernah dikatakan salah satu temannya Carlisle waktu itu, vampir mata merah, entah siapa. Aura Alfa, mungkin?
Artinya sejak awal pun Korra sudah mengenalinya sebagai Alfa? Bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu, sedangkan ia tak pernah menyadari aura Alfa atau aura serigala atau apapun dari sekitarnya?
Tapi ada yang lain yang lebih penting. Kedatangan Korra di La Push, pasti bukan semata hanya karena alasan yang ia katakan. Kawanannya pasti sudah tiba lebih dulu, menyelidiki. Dan Korra, ditanamkan ... dengan sengaja ... untuk suatu tujuan.
Tujuan apa?
Tujuan apapun, itu tidak penting. Seluruh hal soal keluarga selama ini hanya omong kosong!
Jacob langsung menempeleng dirinya sendiri, secara mental, tentu.
Astaga, apa lagi yang melintas di kepalanya? Ia di sana, lagi-lagi mencurigai adiknya? Setelah apa yang adiknya lakukan semalam? Oke, mungkin Korra anggota kawanan lain. Mungkin kawanan mereka memang menyelidiki, lantas kenapa? Jelas mereka tidak datang dengan maksud buruk. Mengambil alih kawanan, mungkin itu satu ancaman, tapi bisa juga kebalikannya. Itu tak pernah terjadi, kan? Semalam, saat ada banyak kesempatan untuk membunuhnya, membiarkan para vampir menghabisi mereka, menghancurkan kawanan, Alfa putih itu malah memerintahkan anggotanya menolong. Dan Korra pun berkorban banyak. Melawan ibunya sendiri.
Bagaimana mungkin ia masih meragukan Korra?
Itu adiknya, Demi Tuhan!
Ia memutuskan untuk menghindar sebelum pikiran kacaunya mulai merambah ke hal-hal berbahaya lagi.
"Coba kesinikan, Sis," ujarnya pada Rachel, mengulurkan tangan, meminta pak rumput laut kering itu, yang justru terabaikan gara-gara topik petualangan Korra di Lautan Teduh. "Bagaimana cara makannya?" ia menggaruk-garuk kepala, membolak-balik pak itu. Sama sekali tidak ada petunjuk di bungkusnya. "Apa ini semacam nori Jepang? Dimakan kering?
"Bodoh! Kau harus merebusnya!" setelah membeku sejak Korra menunjukkan foto di ponselnya, Rachel kembali ke sikap cerianya dan tertawa. Lantas ia memerintah setengah memaksa, "Panaskan, Jake!"
"Oh, kalau begitu, kita bisa campurkan dengan puding yang kubuat! Dicampur sirup dan potongan buah, kelihatannya enak!" Korra langsung girang. Kalau soal resep makanan, dia itu nomor satu. Tanpa banyak bicara ia mengikuti Jacob ke konter dapur, mengeluarkan puding dan sirup dari kulkas. Di belakangnya, Rachel menyusul.
Rachel kelihatannya dengan mudah beradaptasi dengan adik barunya, demikian pikir Jacob seraya menurunkan panci dari gantungan di dinding dan mengisinya dengan air. Sejenak perhatiannya teralih oleh denting microwave, tanda lasagna yang sejak tadi dipanaskan sudah siap. Dengan satu tangan, kikuk ia berusaha mengeluarkan loyang itu. Korra melihat kakaknya kesulitan, dan tanpa banyak bicara mengambil alih pekerjaan Jacob, mengusirnya dari tempatnya di depan microwave, sementara mulutnya masih sibuk berceloteh riang dengan Rachel.
Tak lama mereka mulai meributkan petualangan Rachel dan Paul, ditambah Jared dan Kim. Dua orang yang sejak meninggalkan La Push tiga tahun lalu itu pergi entah ke mana, sekitar dua bulan lalu ikut liburan bersama mereka di Pegunungan Jayawijaya dan sekitarnya. Mereka asyik menggosipi Kim, yang baru seminggu di sana saja sudah mengeluh kulitnya makin menghitam, ketika sekitar satu jam kemudian, kembali terdengar denting lonceng di pintu masuk.
"Nah, itu pasti Paul," seru Rachel ceria, menghentikan obrolannya dengan Korra soal burung cenderawasih yang mereka temukan di habitat aslinya. Tanpa menunggu Jacob yang masih kerepotan sendiri berusaha mengutak-atik kenop kompor gas dengan tangan kiri, ia buru-buru meluncur ke arah pintu, membuka pintu depan untuk mempersilakan Paul masuk. Korra sudah siap-siap menyambut kakak iparnya, keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi puding dan sirup yang baru dikeluarkan dari kulkas, membawanya ke meja makan.
Paul dengan ribut masuk, mengeluh panjang lebar soal delay penerbangan dan lalu lintas Seattle yang sudah diungkapkan Rachel sekitar setengah jam yang lalu. Rachel dengan santai menariknya masuk, menutup pintu di belakangnya, memberi sedikit ciuman singkat, lalu menarik tangan sang suami melintasi ruang tengah untuk memperkenalkannya pada anggota keluarga baru mereka.
"Korra, ini kakak iparmu, Paul...," ujar Rachel. Tapi reaksi yang muncul sama sekali tidak diduga.
Seketika udara di sekeliling mereka berubah, penuh dengan aura yang aneh. Dan mendadak terdengar suara denting keras ketika nampan yang dipegang Korra jatuh ke lantai. Tangan Korra mengenai sepoci sirup yang baru ia buat dan baru diletakkan di meja makan, membuatnya jatuh dan isinya tumpah. Jacob buru-buru keluar dari dapur, menjulurkan kepalanya dari balik sekat untuk mengetahui yang terjadi. Di ruang tengah, Josh dan Quil kelihatannya sadar akan apa yang terjadi, dan sudah bangkit dari sofanya, memandang mereka dengan tatapan bingung.
Yang dilihatnya adalah hal yang paling tidak dimengertinya seumur hidup.
Korra membeku. Menatap Paul dengan mata membelalak. Seakan melihat hantu. Dan Paul tampak sangat, sangat, sangat kikuk. Seolah lebih baik berada di neraka ketimbang di sini.
Apa yang terjadi?
Imprint?
Lagi?
Tidak mungkin. Paul sudah mengimprint Rachel. Bahkan walau Korra serigala, tidak mungkin Korra bisa mengimprintnya. Dan lagi, udara yang berubah di sekeliling mereka kali ini tidak bergerak dalam efek yang sama ketika terjadi imprint. Udara kali ini lebih mengancam. Memaksa kehadiran keheningan yang mendadak, menekan.
"Oh, Korra," tiba-tiba keheningan itu dipecahkan oleh Rachel. Suaranya gemetar, tapi terlihat sekali ia berusaha menjaga nadanya tetap tenang dan bersahabat. "Kulihat kau sudah pernah bertemu suamiku, Paul, rupanya... Pasti sangat menyenangkan sekali ... karena kita sekarang ... ehm, satu ... keluarga ...," ia bahkan tidak bisa menyusun kalimatnya dengan benar, "jadi ... kurasa ... akan sangat menyenangkan ... memilikimu sebagai ... sebagai..."
Kegugupan Rachel akhirnya berhenti ketika perlahan, namun tetap tiba-tiba, ekspresi Korra berubah. Matanya menjadi teduh, seulas senyum muncul di wajahnya, dan nada bicaranya mendadak sangat, sangat, sangat tenang.
"Tentu, Rachel... Oh, ya, hai Paul... Aku baru ingat. Ya, rasanya aku memang pernah bertemu denganmu. Kudengar kau climber, ya? Pernah ke Kilimanjaro? Atau Nepal, mungkin? Anne Machen? Everest? Kudengar kau habis dari Jayawijaya?"
Paul tampak seperti nyaris lupa bernapas. Namun akhirnya ia bisa mengontrol diri. Setelah beberapa detik, ia menjawab, sangat lirih hingga suaranya nyaris tercekik, "Ya. Aku pernah ke Nepal, setengah tahun lalu."
Korra tersenyum, lantas menghadap Rachel, "Suamimu ini pernah menolongku waktu aku di Nepal, Kak... Aku sangat berterima kasih padanya, namun tak pernah sempat mengucapkannya dengan layak. Aku berutang nyawa. Jika tidak karena dia, pastinya aku takkan hidup hingga saat ini."
Rachel dan Paul, anehnya, tercekat dalam kalimat yang diucapkan dalam nada sangat, sangat, sangat sopan itu. Ketika bicara, Rachel terdengar gemetar, "Kau ... terlalu berlebihan, Korra ... mungkin Paul ... hanya kebetulan ada ..."
"Di saat yang tepat dan waktu yang tepat," Korra tersenyum dan lantas menunduk memberi hormat, menekuk lututnya dengan sangat anggun.
Jacob tak mungkin tidak curiga dengan adegan yang tampak di hadapannya. Korra yang mendadak berubah menjadi tuan putri nan sopan. Paul yang mendadak bisu. Dan Rachel yang seakan lebih suka ditelan paus bulat-bulat.
"Kalau ... boleh tahu...," Jake menyela keanehan aura di sekitarnya, "apa yang terjadi setengah tahun lalu di Nepal?"
Korra beralih memandang Jacob. "Paul menolongku dari hewan buas, Jake...," jelasnya tenang.
"Hewan ... buas?"
"Oh, hal biasa, Jake ... kalau tak salah aku pernah cerita padamu waktu di perkemahan, ingat? Soal ke mana-mana aku selalu diikuti, atau tanpa sengaja bertemu hewan buas?" Korra mengalihkan pandangan dari Jacob kembali ke arah Rachel dan Paul. "Dan waktu di Nepal, aku hampir tewas karena kejadian yang disebabkan dua ekor serigala." Kemudian seringai senyum tampak di bibirnya, dalam cara yang membuat siapapun merinding, ketika ia menambahkan, "Coklat ... dan ... abu-abu gelap, kurasa."
Coklat ... dan ... abu-abu gelap?
Abu-abu gelap. Perak keabuan.
Warna bulu Paul!
Astaga! Apakah Korra tahu?
Bagaimana mungkin?
Tapi setengah tahun lalu...
Bukankah Paul sudah berhenti berubah sejak tiga tahun silam? Sejak ia memilih menikah dan ... mengikuti Rachel... melakukan hobinya menjelajah alam liar dan mendaki gunung sementara sang istri terlibat dalam kegiatan kemanusiaan bersama Unicef. Ke Guatemala, Afrika, Papua Nugini ...
Saat itu mendadak suara lain, suara Korra, dalam memorinya yang telah lama hilang berputar ulang.
.
Suatu memori pada hari pertama ia bertemu Korra.
.
Suatu memori pada hari ia, Korra, dan Billy berkemah di hutan.
.
Memori ketika Korra memasak, atau kapanpun ketika ia menceritakan pengalamannya berkeliling dunia.
Guatemala, Bangkok, Jepang, Indonesia, Nepal...
.
Dan kartu-kartu pos yang dikirim Rachel.
Prancis, Jepang, Guatemala, Papua Nugini, Jawa, Sumatera, Thailand, Nepal...
.
Astaga.
Mungkinkah itu semua kebetulan?
Atau...
Tidak mungkin!
Paul mengikuti Korra, mengawasi Korra selama ini?
Untuk apa?
Tidak, tidak, Jacob menggelengkan kepalanya keras-keras. Ini cuma kebetulan. Ini pasti kebetulan. Paul dan Jared, itu yang ia tangkap dari frase 'coklat gelap' berubah ... tak sengaja bertemu Korra ... menolongnya, seperti yang Korra bilang.
Korra kelihatannya tak mempermasalahkan itu lagi. Ia mengambil nampan yang tergeletak di lantai, dan buru-buru pergi ke dapur.
"Korra, ada apa?" Jacob menggamit lengan adiknya ketika Korra berjalan melewatinya. Apa ini perasaannya saja? Karena suhu tubuh Korra ... tidak sedingin biasanya.
"Tidak ada apa-apa," sahut Korra singkat, melepaskan diri dari kakaknya dengan sikap acuh, menarik lap dari ujung konter dan kembali ke meja makan untuk mengelap tumpahan sirup di lantai dan meja. Ia kembali menjadi Korra yang ceria ketika menawari semua orang makan, memotong-motong puding dan membaginya ke piring-piring kecil. Rachel dan Paul mendekati meja makan dengan ragu-ragu, diikuti Quil dan Josh. Mata mereka masih lekat pada sosok Korra. Jelas, kebingungan dan kecurigaan terpancar di sana, walau mereka berusaha keras untuk meredamnya.
Namun mendadak suasana yang kembali agak tenang berubah ketika satu suara muncul dari sebuah sudut di sofa ruang tengah.
I know you love me... I know you care...
Korra kembali membeku. Matanya merembang ke ruang tengah.
"Itu dering sms Collin..." bisiknya.
Justin Bieber berteriak-teriak setengah jalan sebelum akhirnya padam. Jeda sejenak sebelum muncul lagu lain, hanya sebentar, dan kemudian berhenti.
Korra menyibak kerumunan tanpa suara, buru-buru menggapai sofa. Di sana, baru Jacob menyadari, masih tertinggal onggokan kemeja kotak-kotak merah Collin, yang ia lepaskan sebelum berubah semalam.
"Astaga. Dasar Cole ceroboh. Mengapa ia meninggalkan ponselnya di sini?" Korra menggerutu. Ia menepuk-nepuk saku kemeja itu, kemudian mengeluarkan Samsung Collin.
Terdengar dering sms lagi, dan Korra mengutak-atik tuts ponsel seenaknya. Matanya membelalak kala menatap layar, napasnya tertahan. Dan mendadak, sangat mendadak, pandangannya beralih dari ponsel ke kerumunan orang di hadapannya. Langsung menatap Jacob.
Jacob benar-benar tak mengerti apa yang terjadi ketika terdengar geraman rendah, dan tahu-tahu Korra beranjak, setengah berlari, menyerbu ke arahnya. Napasnya memburu. Dan dilihatnya di sudut matanya, Paul meninggalkan posisinya di sisi Rachel, melayang menghadang Korra.
"Korra, tenang," ia mendengar suara rendah Paul, berusaha meredam Korra, tapi Korra meronta-ronta di pitingannya. Instingtif, Josh dan Quil langsung meluncur ke depan Jacob, membarikadenya.
"Kau brengsek! Apa yang kaulakukan pada Collin?!" teriak Korra di pitingan Paul. "Lepaskan aku! Aku mau buat perhitungan dengan si Tolol itu!"
Jacob mengerjap, sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Di hadapannya, Josh dan Quil memasang posisi defensif, menggeram rendah.
"Apa yang terjadi pada Collin?!" teriak Korra lagi. "Apa yang terjadi padanya?!" sejenak matanya liar mencari-cari, seakan ia ada di sana tapi tak ada di sana. Tubuhnya mendadak kaku sesaat, pandangannya kosong, sebelum ia kembali menggeram, memandang Jacob dengan mata mengancam.
Hanya butuh tak kurang dari lima detik ketika tahu-tahu semua itu terjadi. Korra melepaskan diri dari Paul, melintasi jarak antara ruang tengah ke meja makan, menyerbu ke arahnya. Quil dan Josh berusaha menghadang, tapi Korra tanpa kesulitan melakukan manuver gesit untuk menjatuhkan mereka satu-satu. Mata Jacob nanar ketika Korra bangkit dari tubuh Quil yang terjerembap di lantai, langsung menyerangnya. Otaknya tak bisa berpikir, ia bahkan tak sempat bereaksi apapun, jantungnya seakan berhenti berdetak, ketika tangan Korra menjambak bagian depan kemejanya dan serta-merta memutar tubuhnya. Menghempas dan menekan tubuhnya ke dinding.
"Korra! Apa-apaan...," Jacob memprotes, tapi belum apa-apa Korra sudah menariknya dan kembali menghempaskannya ke dinding. Terdengar derak di tembok di belakangnya kala punggungnya menghantam dinding dan ia mengeluarkan erang pelan. Dadanya mendadak terasa perih. Tapi Korra kelihatannya tak peduli dan terus menekannya. Wajahnya kaku. Pandangan matanya aneh, tajam. Ia seperti bukan Korra. Gadis itu bukan lagi adiknya.
"Jawab aku!" teriak Korra di wajahnya. Suaranya aneh, berat, penuh tekanan. "Katakan apa yang terjadi pada Collin!"
Entah apa yang menarik lidah Jacob, ia bahkan tidak mengenali suaranya sendiri ketika mengatakan kalimat itu, lirih, "Collin ... bunuh diri ... terjebak di reruntuhan liang kelinci..."
"Apa kaubilang?!" beban suara Korra menyakiti tak hanya telinganya, tapi juga seluruh syaraf di tubuhnya. "Kau bertanggung jawab atas Collin. Kau seharusnya melindunginya! Kenapa kau tidak menolongnya?!" tuntut gadis itu. Suaranya bergetar hebat.
Jacob tak menemukan apapun pada dirinya untuk menjawab, lebih lagi membela diri. Kepalanya sungguh-sungguh berhenti bekerja.
"Jawab aku!" tuntut Korra lagi. "Kenapa kau tidak melindungi Collin?!"
Ia hampir tak dapat bernapas. Jantungnya seakan dicengkeram sesuatu yang aneh. Hampir sulit baginya bahkan untuk berdetak. Perih. Mencekam.
Ia ingat apa yang dikatakan Adam tadi. Diulangnya hampir seribu kali.
Jauhi konfrontasi dengan Korra.
Hindari situasi emosional.
Jangan sampai kau gagal jantung.
Mati-matian Jacob menahan perih di dadanya. Berusaha mengendalikan napasnya. Pikirannya berkonsentrasi. Otaknya terus memerintah tubuhnya bekerjasama. Jantungnya harus tetap bekerja. Harus tetap berdegup.
"Korra, tenang, kumohon..." bisikan seseorang mencuat dalam kesadarannya yang kian menipis. Paul.
Dirasanya cengkeraman Korra di bajunya melemah. Dalam kebingungan ditatapnya adegan di hadapannya. Paul di sisi Korra, menyentuh pundaknya. Matanya sarat permohonan.
Namun hal yang sama tidak terjadi pada Korra. Ia mendelik mengancam pada Paul. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Terdengar suara geraman sangat, sangat, sangat dalam, pada saat yang sama ketika Jacob melihat lengan Korra bergetar.
"Singkirkan tanganmu dariku, kau Anjing Kampung Sialan! Jangan kaupikir aku akan memaafkanmu setelah apa yang kaulakukan pada kawananku!"
Apa? Apa yang Paul lakukan? Kawanan Korra?
"Korra, kumohon, aku tidak..."
"Kau membiarkan mereka membantai kami! Kau hanya melihat sementara dia terbunuh!" kata-katanya makin lama makin tajam, melengking tinggi. Dari awalnya kasar penuh tuduhan hingga naik menjadi histeria. Korra setengah gila, matanya nyalang menatap Paul, ketika berteriak, menuduh, "Kau yang menyebabkan semua ini ... Gara-gara kau, aku..." kata-katanya berhenti ketika tubuhnya kian menggeletar.
Korra tidak menyentuh Paul. Sama sekali. Ia berteriak, seakan melawan dirinya sendiri. Kedua tangannya mendadak mencengkeram tubuhnya sendiri. Tubuhnya bergetar hebat. Giginya menggemeretak, matanya tak terfokus. Tapi ia menggelengkan kepala berulang kali. Jelas kelihatan ia sedang berusaha keras menguasai diri.
Ini kali keduanya ia melihat Korra di ambang perubahan.
Ini kali keduanya ia punya kesempatan untuk tahu siapa Korra sebenarnya.
Itu yang ada di kepalanya. Itu akal sehatnya bicara. Tapi bukan itu yang dilakukan tubuhnya. Ia bahkan hanya setengah sadar ketika tangannya terjulur, berusaha menyentuh bahu Korra.
"Korra, tenang...," bisiknya.
Korra terhentak. Memutuskan kontak mata dari Paul dan berpaling padanya. Ekspresinya sukar dilukiskan. Campuran antara kebingungan, ketakutan, kengerian ... dan ... rasanya ia mengenali di antara ribuan emosi yang muncul di sana, perasaan terkhianati.
Apa? Terkhianati?
Pupil mata Korra menyipit dalam bayang kengerian dan ketidakmengertian ketika ia menggeleng lamat-lamat. Menghela tangan Jacob dari bahunya. Ada tuduhan di situ, sekaligus penyangkalan. Wajahnya berubah hijau, dan bibirnya bergetar.
"Aku ... tidak ... sangka ... Kau selama ini bersama mereka, Jacob... Kau di balik semuanya!" tuduhnya. "Apa yang kauinginkan sebenarnya? Apa yang kauinginkan dariku?!"
Hah?
Apa ia tak salah dengar?
Itu seharusnya kalimatnya. Ia yang sama sekali tak mengerti apa yang terjadi di sini.
"Tidak, Korra. Kau salah paham," kata-kata ini tidak keluar darinya, tapi dari Paul. "Jacob sama sekali tidak ada sangkut pautnya."
Korra berbalik ke arahnya. "Apa yang harus kupercaya?! Apa yang harus kupercaya?!" ia berteriak, kalap, makin histeris. Lebih histeris ketika Paul, menempuh segala resiko, meraih tubuh Korra dalam rengkuhannya. Mengguncangnya. Matanya tajam berusaha menatap mata Korra.
"Tenangkan dirimu, Korra. Aku di pihakmu. Aku bukan musuh."
Hah? Apa?
"Aku akan menjelaskan, Korra. Tapi tidak di sini. Kumohon, Korra. Kendalikan dirimu dan panggil dia keluar. Dia akan mengerti."
Dia?
'Panggil dia keluar'?
"Kenapa aku harus mendengarkanmu?!" geram Korra di antara gigi-giginya yang terkatup rapat.
"Aku bersumpah aku di pihakmu," Paul masih melanjutkan, nadanya sungguh-sungguh. "Aku bersama Sam."
Sam?
Korra menggeram hebat. Perang tergambar di matanya. Tapi kata itu punya efek padanya lebih dari apapun. Perlahan matanya yang gelap menjernih ketika kata-kata Paul jelas dimengertinya. Getaran di tubuhnya perlahan menghilang, sebelum akhirnya ia mengangguk.
Ia meronta membebaskan diri dari Paul, dan kali ini Paul tidak lagi menahannya. Gadis itu berpaling menghadap Jacob. Tidak mencengkeram bajunya lagi, tapi ujung jarinya menusuk dada Jacob. Kata-katanya, meski diucapkan tanpa getaran kalut yang tadi, terasa tajam menusuk. Pahit. Penuh ancaman.
"Kau dengar aku, Jake. Aku tidak peduli kau kakakku. Jika sesuatu terjadi pada Collin, bahkan jika ia kehilangan satu jari pun, aku takkan segan lagi. Tidak hanya menundukkanmu, aku pastinya akan mengoyak-ngoyakmu hingga tiada bersisa. Camkan itu, Alfa!" itu yang ia ucapkan, sebelum ia menarik tangannya, dan bergegas pergi, hampir terbang, meluncur keluar rumah.
"Korra!" Jacob sudah hampir mengejarnya, namun Paul menghentikannya.
"Ini tanggung jawabku, Jake, biar aku yang mengurus dia," katanya tegas.
Jacob menggeram. Sakit hati merobek dadanya. "Kau merahasiakan sesuatu, Paul. Kau dan Sam... Kalian...," dirasanya perih itu makin mengiris dalan tiap kata yang ia ucapkan. "Berani sekali ... kau ... kalian ... mengkhianatiku..."
Tapi Paul hanya tersenyum masam dalam tuduhan yang dialamatkan padanya. "Maaf, Alfa," katanya singkat, sebelum bergegas meluncur menyusul Korra.
Dipandangnya kakaknya, minta penjelasan. Tapi Rachel hanya menggeleng lemah, sebelum beranjak menyusul suaminya. Meninggalkan Jacob yang terhenyak di tempatnya berdiri. Tubuhnya lemas, dan dadanya sakit, sangat sakit, ketika kesadaran itu menerpanya bertubi-tubi.
Paul mengkhianatinya.
Paul dan Sam mengkhianatinya.
Dan siapa tahu? Dari cerita Korra tadi, tentang dua serigala yang mengikutinya, tidak hanya Paul. Tapi juga Jared...
Selama ini ia selalu bertanya-tanya. Mengapa Sam bisa kembali jadi Alfa. Siapa kawanan Sam. Dan kini jawaban itu terpentang lebar di hadapannya.
Kawanan Sam … Jared dan Paul.
Brengsek. Seharusnya ia tahu ini sejak awal. Tentu saja. Tak pernah sekalipun ia mendapat kesetiaan tiga veteran itu. Jared, Paul, Sam... Sam pernah jadi Alfa. Ia tentunya bisa membangun kawanan sendiri, meski ia tidak yakin bagaimana itu mungkin bisa terjadi. Walaupun jauh, ya, memang harus diakui, Jared Cameron punya tetesan darah Black. Mungkin ini alasannya Sam bisa mendapat otoritas membangun kawanan.
Ya, Sam jelas mengangkangi otoritasnya. Diam-diam membentuk kawanan tanpa sepengetahuannya.
Dan Paul bilang, ia ada di pihak Korra.
Kawanan Sam di pihak Korra.
Ini pengkhianatan, tak hanya padanya, tapi juga pada suku.
Dan bagaimana bisa Rachel, kakaknya sendiri, selama ini menutupi segalanya? Apa yang kakaknya tahu dan ia tidak tahu?
Brengsek!
Jacob memandang ke balik jendela dapur. Hanya bisa ditangkapnya sedikit bayangan di luar dari tempatnya berdiri kini, tapi bisa dilihatnya sosok Korra yang menghilang ke balik hutan. Lalu Paul, dalam wujud serigala, dengan Rachel di punggungnya. Jeda waktu beberapa saat berselang sebelum bayangan seekor serigala betina hitam keluar dari balik pepohonan dengan anggun. Tampak sadar ia memperhatikan, sosok itu mengangguk ke arah rumah sekilas, jelas padanya, sebelum kembali meluncur menembus pepohonan.
Korra...
Dadanya terasa semakin sakit. Jantungnya tak kuat lagi menahan beban. Ia merasa sulit bernapas. Jantungnya panas, seakan tercerabut, terkoyak. Begitu mendadak. Ia bisa mendengar, samar, Quil berteriak memanggil namanya sebelum segalanya pudar.
.
.
Catatan:
Yuppp, ini bagian 2 Persephone… ga kerasa udah 60 chapter... hahahaha :D
keasyikan sendiri...
Gimana tanggapan soal Korra? Dan multiple personality-nya?
Soal Paul, Jared, dan Sam?
Please tinggalin review… sedih deh kalo g ada review :(
