THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.

.

Warning: Rated M... Read on your own guard…

.


.

Enampuluh Satu - Hades (Stynx -4-)

Tuesday, April 09, 2013

7:42 PM

.


.

"Bisa tolong keluar sebentar, Sweetheart?"

Dengan enggan Seth beranjak. Meskipun usianya kepala dua, ibunya masih saja memanggilnya dengan sebutan seperti itu, seakan ia anak usia 12. Tapi yah, bagaimanapun ia anak bungsu... Kesayangan seorang ibu yang telah kehilangan sang ayah bertahun-tahun. Yang seperti itu tak terhindarkan.

Sepulang dari pondok Sam, Seth berusaha tak mempedulikan apapun di sekitarnya. Gemerisik dedaunan yang ribut, lolongan serigala, gempa bumi, instingnya yang terus berteriak bahwa ada sesuatu yang terjadi di luar sana. Instingnya yang menyuruhnya untuk berubah, mencari tahu apa yang terjadi. Tidak. Ia mengabaikan semua. Ia menumpulkan semua. Bahkan juga perasaannya.

Tentang Korra.

Tentang kawanan.

Tentang Jacob.

Tentang Sam.

Sudah tidak ada lagi urusan antara ia dengan semua itu.

Ia keluar, susah payah berusaha menghalangi pandangan Sue dari situasi kamarnya. Dalam hati ia mencatat untuk segera membereskan kamarnya dan segera memesan tempat tidur baru secara online, mengusahakannya datang selagi Sue bekerja. Mungkin Sue sempat menduga-duga ada yang tidak beres kemarin hanya dengan kehadiran Korra. Tapi itu cuma terkaan. Membayangkan beda halnya dengan melihat buktinya langsung.

"Ada apa, Mom?" Seth berusaha tersenyum, memasang tampang manis yang biasa di depan ibunya.

Sue memandangnya dari ujung kaki sampai ujung rambut, berusaha menilainya. Seth bersyukur ia sudah mandi sebersih-bersihnya dan membuang semua perbannya tadi pagi. Luka yang ditimbulkan Collin maupun Korra sudah tinggal bekas-bekasnya kini. Ia memasang tampang polos. Biasanya selalu berhasil kalau ibunya mencurigainya melakukan suatu kesalahan.

Yah, kesalahan remaja level anak mama, sebenarnya... Apapun hal buruk yang ia lakukan selama ini tidak pernah melibatkan kata 'mengkhianati kawanan'... Atau 'menghamili anak orang'... Koreksi, 'menghamili adik Sang Alfa yang ternyata serigala musuh'... Nah, itu yang paling parah... Selama ini semua orang mengenalnya sebagai anak manis, terlalu manis malah. Rokok, ganja, dan minuman keras, bagian tak terpisahkan dari masa pemberontakan remaja, tidak pernah mampir di kamusnya. Jangan kata drop-out, seumur hidup ia tak pernah bolos sekolah, selain karena urusan kawanan. Bahkan walau sibuk patroli dan perang, PR-nya pun selalu mendapat pujian... Ia hampir dapat beasiswa, jika saja para Tetua tidak melarangnya pergi karena harus mendampingi Jake, dan membuatnya terpaksa ikut program Universitas Terbuka.

Mengapa sekali ia melakukan kesalahan, itu adalah yang terberat? Bahkan Josh pun tak pernah sampai ke level ini...

"Aku mau pergi ke pondok Sam..." ujar ibunya setelah puas menilai dan kelihatannya tidak menemukan, atau mungkin menemukan tapi berusaha tidak mengungkit, apapun kesalahan anaknya. "Mungkin hingga sore nanti. Kau di rumah seharian?"

Itu pertanyaan, bukan permintaan apalagi perintah. Dan nadanya agak heran.

"Ya..." jawab Seth ragu. Bukan karena ia bingung ibunya malah pergi ke rapat Dewan saat seharusnya ia menghabiskan Sabtu pagi bersama Charlie. Belakangan ibunya bulak-balik terus ke pondok Sam, kadang sejak subuh hingga malam, tanpa mau mengatakan apapun alasannya padanya. Urusan Tetua memang agak mencurigakan belakangan, tapi ia sedang tidak mood untuk mempermasalahkan hal itu. Kebingungannya kali ini lebih karena ibunya menanyainya apa ia akan di rumah. "Mengapa?"

"Tidak ke rumah Black?" ujar ibunya dalam nada 'yang lain sedang kumpul di sana, sedang apa kau di sini dan bukannya ikut kumpul bersama mereka?'

"Tidak," ujar Seth datar. Memorinya mengambang pada ucapan Korra bahwa Rachel akan datang hari ini. Tentunya Paul ikut. Dan pasti anak-anak tak sabar ingin bertemu mantan senior mereka. Mungkin seisi kawanan sedang berpesta di rumah Black sekarang. Bisa jadi Rapat Tetua juga intinya karena mereka ingin bertemu Paul...

Tunggu. Untuk apa mereka ingin bertemu Paul? Secara terpisah, di pondok Sam Uley?

Sebentar. Kapan memang ibunya bilang ia ingin bertemu Paul di pondok Uley?

Seth menghantam dirinya sendiri. Tepatnya otaknya sendiri. Masalah kawanan bukan masalahnya saat ini. Tidak, mulai sekarang dan seterusnya bukan lagi masalahnya...

Ia ingin mengatakan, 'Perintah Alfa, Mom. Dilarang mendekat sementara waktu', atau 'Aku sudah bukan bagian dari mereka lagi. Mereka mungkin sudah memecatku dan mengganti posisiku dengan Collin', atau bahkan 'Karena terikat Sumpah dengan si bodoh Jake dan urusan anak si setan jalang Korra, aku terpaksa pindah kawanan, Mom ...' Huh, seolah ibunya tidak tahu masalah itu ... Setidaknya dua yang pertama. Masalah kawanan selalu diinformasikan pada Tetua setiap hari. Setidaknya Sam selalu ingin tahu, dan tidak ada rahasia di antara para Tetua.

Akhirnya tidak ada yang keluar selain, "Aku akan ke sana jika waktunya sudah tepat..."

Apa ia salah bicara? Karena ibunya sesaat memperlihatkan ekspresi pedih. Khawatir? Prihatin? Tapi lantas wajah itu tersenyum lembut, dan katanya, "Kau tetap harus datang, Nak... Kau tahu Jacob luka parah? Adam dan Caleb habis mengoperasinya tadi, tapi melihat perkembangan pesatnya, sebentar lagi juga ia pulang. Embry dan Brady tergigit. Clark dan Harry jelas sekarat. Pete dan Ben sampai sekarang masih di dasar jurang. Dan yang lain juga tidak kembali tanpa goresan ... Patah tulang atau minimal retak..."

Kening Seth berkerut. "Apa maksud Mom?"

"Kau tidak tahu, Seth? Kawanan dijebak di jurang dan diserang segerombolan vampir... Yang balas dendam karena urusan pembantaian di hutan sebelumnya."

"Di jurang?"

"Tentu Collin sudah cerita padamu. Ia menemukan jaringan terowongan yang ia kira sarang musuh. Ternyata itu sarang vampir yang ditinggalkan. Para vampir menganggap kawanan yang mengacak-acak sarang mereka. Mereka membuat kawanan terjebak, dan menyerang secara membabi buta. Untungnya kawanan selamat. Para vampir kalah dengan bantuan kawanan serigala lain. Tapi sebagian besar anak-anak luka parah."

Perang? Semalam? Dan ia tidak tahu?

Korra bahkan tidak mengatakan apapun... Apa ini juga rencananya? Agar ia tidak sadar dan tidak ikut membantu?

Semalam... ia mengantar Korra menjelang tengah malam... Jake tidak ada... Apa Jake bukan berinisiatif menggantikannya patroli, melainkan sedang mengatur persiapan tempur atau bahkan terlibat dalam kancah peperangan?

Oh, pantas saja Korra memaksa pulang, kalau begitu. Pastinya ia juga ikut bertempur di pihak kawanan asing. Dan ia bertemu Korra, bersama Sam... Membantu kawanan Quileute, kata sang ibu? Tentunya itu cuma trik agar mereka berhutang nyawa lagi... Atau karena vampir, bagaimanapun, adalah musuh bersama.

Korra ... bertempur ... dalam keadaan hamil muda. Para vampir itu mungkin menyerangnya berkelompok. Menjadikannya bulan-bulanan seperti dulu mereka menjadikan Jake dan Seth mainan. Ia tahu kekuatan si kawanan asing itu, lebih lagi si serigala hitam. Tapi tak menutup kemungkinan ia tergigit. Dan kalau pun tidak, terlalu banyak gerakan bisa membuat Korra keguguran...

Astaga, hentikan, Seth! Jangan berpikir yang bukan-bukan! Korra bahkan belum tentu benar-benar hamil!

Ya, dan kalaupun memang ia keguguran, lantas kenapa? Syukur kalau dia mati sekalian dengan jabang bayi iblisnya, suara setan, atau malaikat ... entahlah ... kembali memasuki kepalanya. Mengutarakan hal-hal sama lagi dan lagi.

Ya, masalah Korra bukan kekhawatirannya. Seharusnya tidak menjadi kekhawatirannya.

Sama sekali bukan...

"Kata Mom, Jake habis dioperasi?" ia akhirnya bertanya, menekan keinginannya untuk menyebut nama Korra.

"Ya, tapi kurasa sudah tidak apa-apa. Edward Cullen membantu operasi, kata Adam."

"Edward?"

"Semua anak dibawa ke rumah Cullen. Dia membantu secara online."

Ia menghembus lega, meski tidak benar-benar lega. Kalau urusannya tidak hanya ditangani Adam dan Caleb, tapi juga Edward, artinya tidak apa-apa. Ia tahu di balik ketegangan standar antara Edward dan Jacob, si vampir melankolis pemegang dua sertifikat kedokteran, satu di bidang biologi, dan baru-baru ini satu lagi di bidang kimia itu takkan mungkin membiarkan siapapun sekutu mereka terluka tanpa pertolongan. Meski dulunya tidak peduli, seabad berada di bawah pengaruh Carlisle, ditambah rasa hutang budinya dalam perkara Renesmee pasti mengajarinya sesuatu.

Ketimbang urusan kawanan, ada hal lain yang lebih mengganggunya. Lisannya gatal untuk menanyakan keadaan Korra.

"Collin?" lidahnya mencari-cari kata lain.

Ibunya tampak ragu dan kali itulah ia tahu ada yang salah.

"Apa yang terjadi dengan Cole, Mom?"

"Collin...," ibunya memulai, "belum ditemukan."

"Apa maksudmu belum ditemukan?"

"Ada sedikit masalah, karenanya kami menggelar rapat. Sebaiknya kau datang, Nak... Sekalian mengucapkan salam pada Rachel..."

Seth mengangguk lamat-lamat. Si ibu pun kelihatannya tidak berniat lama-lama, dan segera keluar rumah. Tak lama Seth mendengar deru mobil, sebelum melihat Volvo putihnya meluncur keluar pekarangan, dengan tangan sang ibu melambai dari balik kaca pengemudi.

Ia kembali ke kamarnya, menyalakan laptop dan mulai mengecek bursa Wallstreet dan Hanseng sembari pikirannya entah ke mana. Beberapa jam dihabiskannya dengan melakukan analisa, menjual dan membeli, berusaha berkonsentrasi pada hubungan antara index saham dan berita standar soal kebijakan pemerintah terkait kondisi ekonomi. Kelihatannya ia menang besar dari fluktuasi harga saham minggu lalu, tapi itu tak lantas membuat pikirannya tenang.

Bagaimana keadaan kawanan sekarang? Jake, Cole, anak-anak...

Tidak, jangan pikirkan itu... Ada perang dan kau bukan hanya tak dilibatkan, tapi bahkan tak diberi tahu? Bahkan ibumu tahu... Dan kau diberi tahu lewat ibumu. Dari Tetua? Ini jelas-jelas bukti bahwa kawanan tidak mengakuimu lagi. Jangan kata sebagai Beta, mereka sudah tidak menganggapmu sebagai anggota mereka...

Aneh karena ia tak menemukan alasan, bahkan juga sisi positifnya, untuk membantah suara itu.

Tapi bagaimana dengan Korra?

Tidak, tidak... ia menggeleng keras. Jangan pikirkan Korra, Seth!

Ya, Korra bukan kekhawatirannya. Sama sekali bukan.

Ya, untuk apa ia khawatir pada serigala hitam jahat? Serigala musuh yang licik dan licin itu?

Collin... Collin sekarang jauh lebih patut dikhawatirkan. Apa yang ibunya maksud tadi? Belum ditemukan? Tapi mengapa ibunya bersikap begitu mendua, seolah di satu sisi ia harus tahu, tapi di sisi lain pun bersikap seolah ia harus tenang dan membiarkan semuanya saja sebagaimana adanya.

Astaga. Apa yang terjadi? Mengapa perasaannya tak enak?

Bahkan tanpa benar-benar disadari, ia menggapai ponselnya. Mengirim sms dan menelepon Collin berkali-kali.

Tak ada jawaban.

Tentu saja. Jika Collin berubah jadi serigala dan bahkan belum pulang, mana mungkin ia bisa mengangkat teleponnya? Dan lagi, dengan adanya sesuatu yang jelas seperti ini: ia diblokade dari kawanan, apa ia masih berharap Collin akan mau mengangkat teleponnya?

Dan pergi ke rumah Jake? Mengambil resiko diusir?

Oh, tidak, terima kasih! Sebelum Jacob mengangkat Titahnya, ia takkan berani mendekat dalam jarak 500 meter dari sang Alfa. Mantan Alfanya, mungkin, ia tidak tahu. Dan lagi, siapapun tahu betapa sensitifnya Jacob jika Titahnya berani dilanggar, oleh siapapun. Sejauh ini yang berani melanggar cuma Collin. Tapi ia juga takkan meresikokan Collin kena amuk Jacob gara-gara dirinya, karena Jacob menuduh Cole berkomplot dengannya atau apapun.

Astaga. Apa yang baru saja ia pikirkan? Mengapa Jacob harus menuduh mereka berkomplot?

Ia tidak salah apapun. Ia tidak melakukan apapun yang mengancam keselamatan kawanan. Ia tak boleh bersikap seakan dirinya tertuduh, penjahat, apapun... Ia harus berani menegakkan kepalanya dan menyatakan dengan tegas dan penuh harga diri, bahwa ia tidak bersalah.

Ya, ia tidak melakukan kesalahan apapun.

Kecuali yang berhubungan dengan Korra.

Oh, astaga!

Seth menjedukkan kepalanya ke meja berkali-kali, memaki dirinya. Ya, ia sudah bertindak bodoh. Dan kini apa? Pengecut? Astaga! Pantas saja Collin merebut kedudukan Beta, kalau begitu.

Berani, Seth!

Ia menarik napas berkali-kali, mengutak-atik ponselnya. Ia harus menghubungi seseorang. Siapa yang mungkin? Orang yang tidak ada dalam kawanan, tapi bisa memberi jawaban.

Korra?

Ya. Korra sempurna. Ia adik Jake. Dan ia ada dalam serangan. Ia pasti tahu soal Cole.

Ia sudah akan memencet tombol call ketika menyadari yang ini malah lebih bodoh.

Apa yang baru Korra lakukan kemarin? Apa ia akan membiarkan itu begitu saja? Mereka sudah putus! Baru saja putus! Ia mau bertanya pada Korra soal Collin? Sementara sudah jelas Korra menganggap urusan Collin sebagai biang keladi masalah di antara mereka kedua. Itu bagai menyiram bensin ke dekat-dekat api...

Dan lagi, ia baru saja bilang kalau ia takkan mengkhawatirkan Korra.

Lama ia berusaha mengenyahkan pikirannya dari Korra dan Collin, berusaha membuang semua perasaan buruknya. Tapi tak bisa.

Ia masih menimbang-nimbang siapa yang akan ia hubungi ketika ponselnya berdering. Ia meraih ponsel itu tanpa semangat, tapi matanya langsung melotot begitu dilihatnya nama sang penelepon. Collin.

Collin menghubunginya balik?

Apa dia baik-baik saja?

Perasaannya begitu bungah oleh harapan sehingga ia tak menunggu dering itu berkepanjangan untuk mengangkatnya.

"Collin! Kau baik-baik saja?" serunya.

Tak ada jawaban.

"Halo? Cole?"

Masih tak ada jawaban.

"Cole?" ia mulai khawatir. "Kau tidak apa-apa?"

Apa yang terjadi? Sue bilang Cole hilang... Apa mungkin Cole mengalami masalah? Meneleponnya minta pertolongan tapi tak bisa bicara? Apa ia terluka?

"Cole, jika kau tidak bisa bicara tolong beri aku tanda apapun..." ia mulai mencari-cari dalam kepalanya, ide apapun. "Morse," katanya, merasakan adanya harapan. "Kau tahu kode morse kan? Kau bisa mengetuk?"

Masih tak ada jawaban.

"Cole, kumohon..." bisiknya putus asa.

Rasanya waktu berjalan begitu lambat. Ketika ada suara, itu adalah suara isak. Sangat pelan. Dan bukan suara Collin.

Perempuan ...

"Oh, Seth...," akhirnya suara itu terdengar. Berbisik lirih. Membuatnya terbelalak.

Bagaimana mungkin?

"Ko, Korra?"

Mengapa Korra menelepon dari ponsel Collin? Apa Korra sedang bersama Collin? Atau ponsel Collin tertinggal di rumah Black? Kemungkinan kedua jelas lebih mungkin, karena kalau memang Cole berangkat untuk pertempuran semalam dari rumah sang Alfa, sangat besar kesempatannya untuk meninggalkan seluruh pakaian dan gadget-nya di sana. Tapi bisa jadi kemungkinannya jauh dari itu. Collin hilang... Apa mungkin Korra, entah bagaimana, menyembunyikan Collin? Dan jika Korra mengetahuinya menelepon Collin, menimbang yang kemarin... Kecemburuan Korra...

Tidak. Tadi didengarnya suara isakan.

Apa ia salah dengar?

Firasatnya tidak enak.

"Ada apa, Korra? Apa yang..."

Tapi ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, demi didengarnya lagi isakan Korra.

Korra ... benar-benar ... menangis?

"Kau terluka, Korra?" tak bisa ia menahan kekhawatiran itu. Sue bilang serigala hitam terluka waktu melindungi Jake...

"Tidak...," terdengar lagi isak gadis itu.

"Apa bayimu?"

Gadis itu makin terisak. Mungkinkah ... memang...

Ia membeku saat itu, tak tahu harus berkata apa. Jadi benarkah Korra mengandung? Dan apapun yang terjadi dalam perang semalam, ketika si serigala hitam melindungi Jake ... telah membuatnya ... keguguran? Anak Korra ... anaknya ... tewas?

Namun Korra berbisik, di tengah isaknya, "Oh, Seth... Cole ... Cole ... dia..."

Collin?

Ia kembali sadar. Ya, ini pasti ada hubungannya dengan Cole.

"Ada apa, Korra? Apa yang terjadi dengan Collin?"

"Cole tewas..."

Seharusnya ia bisa memprediksi ini. Ya. Hanya ini satu-satunya alasan dari semua keanehan itu. Telepon Korra dari nomor Collin, dan tangis Korra... Tapi mendengarnya langsung, tak bisa dicegahnya cekam kengerian mencengkeram dadanya.

"Cole ... tewas?"

"Dia terkubur hidup-hidup, tertimbun gua bawah tanah ... sarang yang mereka serang semalam ..."

Entah reaksi apa yang seharusnya ia keluarkan, atau katakan. Ia tak bisa bicara apapun.

Suara Korra masih berbayang isakan, tapi kini lebih memburu. Memaksa. "Kumohon, Seth. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."

Apa?

"Hubungi Phat ... demi Cole ..."

"Tunggu, Korra. Siapa Phat?"

Korra tidak menjawab apapun. Samar di belakang Korra, Seth bisa mendengar suara seseorang, tidak jelas siapa, "Korra ... siapa di telepon? Apa Seth?"

"Ummm ... Bukan, ini pacar Cole ..." teriak Korra. Lalu ia kembali ke Seth, merendahkan suara. "Kumohon, Seth. Kawanan berpikir Collin sudah tewas. Tapi seandainya saja, ada sedikit saja, sedikit saja kemungkinan ... apapun ..."

Suara Korra kembali hilang. Sayup ia mendengar kembali tangis itu. Dan kemudian bunyi 'klik' tanda telepon ditutup.

"Tunggu, Korra ... Ini ... Hei ..."

Tapi tak ada suara selain tut-tut-tut di ujung sana.

Seth berusaha menelepon balik. Tak ada jawaban. Dalam usahanya yang keempat, diketahuinya ponsel itu sudah di luar jangkauan. Mati.

Apa tadi? Korra terbuka padanya? Menyuruhnya menemui Phat? Siapa itu Phat? Apa anggota kawanan Korra yang lain?

Apa mungkin maksudnya Phat Chulalongkorn?

Sahabat Korra?

Dan mengapa Korra berbohong? Apakah apapun yang Korra ingin lakukan, masih tersembunyi dari yang lain, siapapun itu? Apakah Korra masih belum membuka diri sepenuhnya?

Apapun itu, jika memang Korra membutuhkannya melakukan sesuatu, dan itu ada hubungannya dengan anggota kawanannya, apalagi Collin, tidak ada alasan baginya untuk menolak.

.


.

Lama ia menunggu di sana, pondok terbengkalai di perbatasan antara tanah Quileute dan Makah. Pondok yang selalu dihindari semua orang. Pondok yang selalu dibilang berhantu dan dijadikan alasan bagi orangtua untuk menakut-nakuti anaknya, supaya mereka menjauh dari hutan dan jangan berani-beraninya main di rumah reyot yang hampir rubuh itu. Pondok yang dikenal sebagai Gubuk Penyihir.

Ia tidak tahu mengapa Korra, lewat sms, menyuruhnya datang ke sana. Mungkin ia ingin bertemu di tempat yang tersembunyi, jauh dari pandangan orang-orang ataupun kawanan. Ya, rute patroli kawanan tak pernah melalui daerah itu. Mereka biasanya fokus pada daerah-daerah perbatasan. Meski tempat itu ada di perbatasan wilayah Quileute dan Makah, karena tanah yang mereka jaga termasuk tanah Makah dan Hoh, mereka menganggap gubuk itu berada di dalam wilayah patroli, bukan di perbatasan, sehingga jarang diperhatikan. Lagipula, entah mengapa, insting bawah sadar mereka selalu menghindari tempat itu. Entah karena ajaran sejak kecil terpatri dalam superego mereka, atau apa, gubuk itu membangkitkan sesuatu yang aneh dalam diri mereka. Perasaan angker, yang membuat mereka ingin menjauh.

Angker, huh?

Yang benar saja!

Tapi memang itu yang dirasa Seth ketika ia mendekati tempat itu. Suasana sunyi yang aneh, yang melingkupi daerah sekitar gubuk, sungguh menekan. Insting serigalanya merasakan peringatan, seakan ia tidak boleh memasukinya. Tekanan berat yang ia rasakan begitu mendekat dalam radius dua kilometer dari gubuk itu kian menekan dalam tiap langkah. Seakan ia harus berjuang, mengerahkan tiap tenaganya, berusaha mengabaikan insting dan peringatan untuk berbalik pergi. Tanpa tahu mengapa dering alarm itu terus berbunyi di kepalanya.

Lama ia menunggu, sendirian dalam keresahan batin yang kian menekan, ketika akhirnya senja turun. Ia sudah akan menyerah, mengira Korra mungkin tak jadi datang, dan sudah akan pergi dari sana, ketika tiba-tiba telinganya menangkap derak ranting terinjak dari arah barat.

Ia segera keluar, memasang telinga sekaligus juga penjagaan. Ya. Di sini, yang datang belum tentu kawan...

Suara gesekan daun dan ranting kian jelas di balik desau angin, dan akhirnya, semak-semak tinggi di sebelah barat tersibak, menampakkan sesosok bayangan tinggi besar. Seth menahan napas, jantungnya berdegup kencang, hatinya, bagaimanapun, bungah dan tegang oleh harapan. Bahwa sosok itu adalah seekor serigala betina hitam. Kekasihnya, atau setidaknya mantan kekasihnya. Korra. Namun harapan itu segera berubah menjadi kekecewaan ketika sosok itu melangkah keluar dari rimbun pepohonan dan menampakkan wujud sejatinya.

Seekor serigala jantan, dengan bulu oranye keemasan bagai singa. Tubuhnya memang lebih pendek ketimbang rata-rata serigala Quileute, tetapi ia berjalan penuh kemegahan. Aura yang ada di sekitarnya begitu agung, memaksa siapapun untuk menunduk hormat. Sekitar 300 meter dari Seth, ia menunduk, memberi hormat, sebelum berbalik kembali ke balik pepohonan. Tak lama ia kembali keluar, kali ini dalam wujud manusianya. Wujud yang tak asing bagi Seth.

"Selamat sore, Clearwater," sapanya dalam aksen yang canggung. "Maaf menunggu lama. Kami ada sedikit masalah tadi."

Seth berusaha membalas salam itu serileks mungkin. "Hai, Phat," katanya, melambai. "Jadi kau ya si serigala emas? Sudah kuduga. Jadi siapa Alfamu, Kuroi Kanna?"

Lelaki Asia berperawakan sedang dan berkulit coklat dengan rambut ikal itu, Phat Chulalongkorn, sahabat Korra yang pernah dikenalkan padanya, hanya tersenyum. Ia melangkah mendekat, kerut di antara kedua matanya tampak jelas ketika ia memprotes, "Hei. Ini pertemuan resmi pertama kita. Bersikaplah sedikit formal, Clearwater!"

"'Seth'," koreksinya. "Kau kan memang sudah pernah dikenalkan padaku waktu di Port Angeles. Kita juga sudah pernah double date, dua kali malah. Tidak usah pakai resmi-resmian."

Phat tertawa, mendekat dan mengalengkan lengannya dengan gaya bersahabat ke bahu Seth. Seth lebih tinggi dan lebih kekar berotot, khas para serigala Quileute, tentu, tapi Phat tetap terlihat tangguh dengan caranya sendiri. "Ya. Tapi kan saat itu aku tidak memperkenalkan diri sebagai kawanan pacarmu."

Seth hanya tersenyum masam. "Yah, sekarang juga kau tetap tidak bisa dibilang kawanan 'pacarku' sih..."

Pemuda Asia itu mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Yeah, aku dan Korra ... kami..."

Belum selesai Seth bicara, tahu-tahu Phat mengerang dan mengatakan beberapa patah kata yang tidak Seth mengerti. Dari intonasi dan cara ia mengucapkan, kelihatannya itu kata-kata umpatan. Dalam bahasa Thailand, mungkin.

"Ada apa?" tanya Seth khawatir, sekaligus juga awas. Ia sudah tahu bahwa si serigala emas kawanan asing ini punya indera pelacak yang kuat. Kalau Phat merasakan adanya bahaya, tepatnya keberadaan vampir, di dekat mereka...

Phat kembali mengumpat, jika itu memang umpatan.

"Kenapa?" Seth makin bingung.

Kerutan di antara kedua alis Phat kian jelas. Matanya terpejam. Jelas ia berkonsentrasi melakukan atau memikirkan sesuatu. Tak lama kerutan itu menghilang, dan ia membuka mata. Desahan lelah keluar dari dadanya.

"Korra bertengkar lagi dengan sang Alfa," ujar Phat, jelas agak kesal.

"Bertengkar?" 'Lagi', katanya?

"Sudah beberapa bulan ini, sebenarnya, mereka agak tegang. Selalu berselisih paham."

"Soal apa?"

"Macam-macam. Yang paling utama soal ayahnya. Soal Jacob. Soal Sam. Yang terakhir ini, Alfa menyalahkan Korra karena ia hampir meledak di depan Jacob tadi pagi."

Seth terkesiap. "Apa yang terjadi?"

"Ponsel Cole tertinggal di rumah Jake. Ia membaca sms dari kau dan Brady. Sms Brady agak…. Yeah, intinya dia mengetahui ada sesuatu yang salah dengan Cole. Ia mengkonfrontasi Jacob, mengancamnya..."

"Me, mengancam?"

"Yeah, dia 'terlalu mengeluarkan ekor', kalau menurut Alfa. Alfa tidak suka. Dia sedang dihukum sekarang."

"Di, dihukum?"

"Biasalah Korra. Tidak aneh. Bulan ini saja entah sudah berapa kali ia kena hukuman."

"Hukuman apa?"

"Tenang... Bukan hukuman yang membahayakan. Tapi biasalah, anak nakal itu. Teriak-teriak memprotes. Pikirannya kacau sekarang, membuat kepalaku sakit. Anak kecil pemberontak, menurutku. Oh, kuharap Alfa mengurungnya, dia benar-benar mengganggu kepala seluruh kawanan!" ujung-ujungnya ia menggerutu frustasi.

Phat memukul-mukul kepalanya sendiri, seakan hendak mengenyahkan sesuatu yang buruk dari sana. Sementara Seth hanya mengawasi sembari menelan ludah.

"Kita langsung saja?" setelah berhenti memukuli kepalanya, Phat memberi saran.

Seth mengangguk, menyadari hari sudah gelap. Bukan ia khawatir akan gelap, kegelapan bisa dibilang sama sekali tidak punya pengaruh padanya, sebagaimana juga ia yakin tidak punya pengaruh pada Phat. Namun, dalam tiap detik waktu berjalan, ia yakin Collin juga di sana, sekarat, tiap detik mendekati kematian. Atau malah sudah mati sekarang. Manapun pilihannya, tidak ingin ia biarkan tubuh Collin, atau jenazah Collin, dibiarkan di luar sana. Telanjang. Terlantar. Tertimbun tanpa pemakaman yang layak.

"Aku tahu kau tidak, maksudku belum bisa mendengarku dalam wujud serigala," ujar Phat. "Jadi tak apa, jika kita jalan kaki?" sarannya yang hanya dibalas anggukan Seth lagi. Tersenyum, si pemuda serigala emas itu langsung mendahului Seth, menunjukkan jalan.

'Belum', katanya?

Jika berubah, ia tak bisa mendengar suara Phat?

Apa itu artinya ia belum diklaim sebagai anggota kawanan Korra?

Sekian langkah di belakang Phat, Seth menimbang-nimbang. "Berubah juga tak masalah, sebenarnya. Aku tinggal mengikutimu saja, kan?"

Tapi Phat menggeleng. "Terus terang, berhubung ini hari Sabtu, banyak pendaki gunung atau semacamnya di sekitar sini. Repot kalau sampai mereka melihat kita."

Jujur Seth tidak melihat alasan yang tepat di balik argumen itu. "Tapi ini sudah senja. Jarang ada manusia yang berkeliaran di hutan malam hari. Dan indera penciuman kita lebih baik dalam wujud serigala, kan?"

Phat terkekeh. "Itu kan kau. Dalam wujud apapun, inderaku bagus, kok. Kau tenang saja, aku pasti bisa mencium jejak Collin." Tanpa menghiraukan rona skeptis di wajah Seth, ia terus berjalan, sesekali berhenti untuk membaui udara di sekitarnya. "Omong-omong, kau tahu, jaringan terowongan yang dibangun para vampir itu sangat luas, meliputi hampir separuh tanah Quileute?" tanyanya sembari menyisir jalan setapak di hadapannya, menyelusup di antara jaringan rapat pepohonan. "Tanah di bawah kita ini mungkin termasuk salah satu cabangnya. Jika Collin berhasil menemukan jalan keluar, bisa saja ia keluar dari salah satu lubang."

Seth terhenyak atas informasi itu. "Lubang masuk jaringan terowongan, memangnya ada banyak?"

"Yah, sejauh ini kami baru berhasil mengidentifikasi sepuluh. Lubang di sana itu," ia menunjuk salah satu titik di dalam hutan dekat gubuk, "adalah salah satunya. Lima kami temukan di kawasan Crescent Lake. Satu di dasar jurang. Tiga lain tersebar di mana-mana."

Menurut Collin, satu lubang ia temukan di hutan di belakang pondok Sam. Lubang yang tersebar di seluruh kawasan Quileute… Ia hanya bisa menelan ludah membayangkan di mana saja lubang itu, dan apa yang para lintah itu lakukan dengannya.

Jaringan lintah di bawah tanah Quileute…. Serangan…. Dan pasukan lintah menyerang…. Astaga. Mengapa tidak ada satu pun target mereka yang berubah selama ini?

"Jadi bagaimana tepatnya rute pencarian kita?" tanya Seth, tak mau memperpanjang ketakutan di balik pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di dadanya.

"Korra menyuruh kita menyisir rute ini, lalu langsung ke Zona 1," jawab Phat. "Sebaiknya kau bersiap-siap, Seth. Di sana kita tidak hanya harus menggali puing-puing untuk mencari Collin. Atau jenazah Collin, yang mana pun. Mungkin juga kita harus berhadapan dengan zombie."

"Zombie?"

.


.

Seth berjalan dalam diam. Ia praktis hanya mengikuti Phat, sementara pemuda di hadapannya sesekali berjongkok, membaui tanah, atau menempelkan jemari di pokok pohon. Entah apa yang ia cari, apa yang ia cium. Karena terus terang, Seth tidak mencium apapun. Baik serigala maupun vampir.

Apa memang indera Phat jauh lebih maju ketimbang inderanya?

Sementara mengawasi dan mengikuti Phat, pikirannya melayang. Phat yang membaui jejak di sekitarnya membuatnya mengingat bayangan seseorang. Korra. Atau setidaknya Korra dalam bayangan yang didapatnya dari kepala Jacob waktu acara kamping tempo lalu. Korra yang sibuk mengendus jejak di dalam hutan. Korra yang begitu serius, tangkas, kuat, dan penuh kendali. Jauh berlawanan dengan Korra dalam keseharian yang ia, atau siapapun, kenal.

Korra, sedang apa dia kini?

'Dihukum', kata Phat? Tepatnya, apa yang sedang dihadapi Korra saat ini? Apa ia baik-baik saja? Phat bilang itu bukan hukuman yang membahayakan. Tapi apa definisi membahayakan di sini? Mematikan? Atau kehilangan anggota tubuh? Atau meninggalkan bekas luka permanen?

Seth pernah melihat bekas luka panjang di punggung Korra. Gadis itu selalu hati-hati menunjukkan tubuhnya di hadapan Seth. Terutama, tak sekali pun, ia benar-benar mengizinkan Seth melihat punggungnya dalam keadaan terbuka sepenuhnya. Ini berlaku dalam kesempatan apapun, termasuk dalam momen-momen intim mereka. Karena Korra selalu dominan dalam hubungan mereka, Seth pun tak pernah berani, atau tepatnya sampai hati, untuk menggugat.

Tapi pernah secara tak sengaja, ia menyentuh permukaan kulit yang tidak rata di punggung gadis itu, membuatnya bertanya, agak menuntut, dan tidak ada pilihan bagi Korra selain menunjukkannya. Bekas luka panjang miring, tiga garis sejajar, dari bahu kanan atas ke pinggang kiri. Jelas luka cakar.

Korra bilang itu luka yang didapatnya di hutan Sumatera, ketika ia dan ibunya diserang macan kumbang. Luka yang didapat pada saat yang sama ketika ibunya kehilangan sebelah lengannya. Tapi kini Seth tahu, lebih dari apapun, itu jelas bohong. Luka apapun takkan meninggalkan jejak permanen pada tubuh seorang serigala berkat kemampuan penyembuhannya, baik yang didapat sebelum atau sesudah perubahan pertama. Ia sudah membuktikan itu. Ia pernah mendapat luka sepanjang 5 cm di lengannya, gara-gara jatuh dari rumah pohon dan ada potongan kayu menancap di lengannya, waktu usianya 5 tahun. Luka itu tetap ada bahkan setelah ia 14 tahun. Tapi begitu berubah, luka itu hilang dengan sendirinya. Dan ia lebih dari tahu bahwa setelah berubah, bahkan, sistem penyembuhannya akan bekerja jauh lebih cepat.

Lalu apa yang bisa meninggalkan jejak luka seperti itu pada punggung Korra? Luka permanen?

Apa karena hukuman Alfanya?

Kalau memang benar, Alfa seperti apa yang bisa meninggalkan jejak luka seperti itu?

Atau yang lain?

Apa?

Tapi di situ, di bawah remang senja, ia juga melihat sebentuk luka yang serupa di dada Phat. Tiga luka sejajar, seperti luka cakaran, melintang horizontal dari sisi kanan ke kiri tubuh, bahkan sebagian lengan kiri atas Phat pun tergores. Luka itu terlihat sudah lama, tentu, menonjol dan sewarna dengan kulit. Sama seperti luka Korra.

Namun, mungkin saja itu luka yang berbeda dengan luka permanen di punggung Korra. Bisa jadi itu luka yang didapat Phat semalam, dan dengan kecepatan penyembuhannya, ia sudah akan sembuh total dalam beberapa jam ke depan.

Namun bagaimana, jika sama? Apa artinya?

Bahkan luka yang diakibatkan vampir pun akan hilang. Luka cabikan vampir-vampir gila sembuh sama cepat dengan luka cakar serigala, seperti ia pernah alami sendiri. Luka akibat gigitan tinggal lebih lama, mungkin karena kandungan racun vampir, namun tetap akan pudar pada akhirnya.

Lalu apa, siapa, yang bisa meninggalkan luka permanen di tubuh serigala?

Ia menggeleng keras pada bayangan mengerikan itu. Ditatapnya Phat. Di antara keseriusannya melacak jejak, sesekali pemuda itu sempat-sempatnya mencerocos, mengeluh panjang-lebar mengenai kenakalan dan kekeraskepalaan Korra. Ia sudah tahu pada pertemuan keduanya dengan si pemuda pertukaran pelajar itu, ketika ia dan Korra melakukan kencan ganda di Port Angeles bersama cowok itu dan Kuroi Kanna sebulan lalu, Phat termasuk orang yang banyak bicara. Tapi sungguh, image itu agak berbeda dengan image si serigala emas yang agung, atau image Phat di sekolah, yang menurut anak-anak lumayan pendiam. Jadi terus terang saja, agak susah menyatukan kedua image itu dalam satu bingkai, seperti saat ini.

"... Dan Alfa agak terlalu lembek padanya," Phat masih curhat. "Tidak terlalu bisa mengontrolnya. Tadi saja, waktu ia mengancam kakaknya, jika bukan karena si cowok Lahote itu..."

"La, Lahote?"

Ada dua Lahote yang mungkin di sini. Caleb atau Paul. Tapi Caleb, kata ibunya, sedang bertindak sebagai Palang Merah di rumah Cullen. Tadi pagi juga ibunya bilang Jacob sudah baikan dan hampir pulang. Tahu Jacob, dia tak mungkin menunda-nunda kepulangannya bahkan jika ia belum sembuh 100%, apalagi jika kakaknya akan datang. Jadi Lahote yang mungkin bersinggungan dengan Jacob ... mungkin di rumah Black, adalah ... Paul?

Ada hubungan apa Paul dengan Korra?

Mendadak Phat terdiam. Gesturnya kaku dan matanya membelalak sementara pupilnya membesar, bola matanya bergerak-gerak panik. Reaksinya mirip Embry saat terkena Titah Jacob di depan Sam, membuat Seth yakin Phat terkena Titah juga, entah bagaimana caranya.

Lewat sekian detik, Phat kembali ke kondisi normal. Ia memejamkan mata, menarik napas berkali-kali. Begitu membuka mata, kelihatan jelas matanya agak tak terfokus.

"Phat?" panggil Seth ragu. "Kau tak apa?" tanyanya khawatir.

Phat beberapa kali mengerjap. "Oh ... ya, tak apa."

"Barusan ... Alfamu memarahimu karena kau kelepasan?"

Ia tampak agak kikuk. "Yeah..."

Sudah Seth duga. Kawanan lain ini memang memiliki kemampuan untuk saling terhubung dan berkomunikasi dalam tingkatan yang lebih tinggi daripada kawanan mereka. Mereka bisa bertelepati dalam wujud manusia, bahkan walau terpisah jauh. Berarti sudah jelas, yang waktu itu terjadi di perkemahan. Dugaannya dan Collin benar. Korra mendapat perintah, untuk mengendalikan reaksi Jacob... Dan siapa tahu juga, selama ini...

"Kalau begitu, tak apa jika kau tak usah bicara apapun padaku," katanya. "Tak mau membuat kau kena masalah."

Phat menyeringai. "Tidak apa-apa. Aku sudah mengantongi izin untuk bicara padamu. Bagaimanapun kau pasangan Korra," Seth agak mengejit mendengar kata 'pasangan',"…jadi tentu saja kau berhak tahu. Nanti kalau ada hal yang tak boleh kukatakan, juga takkan bisa kukatakan. Toh Alfa terus mengawasi pikiranku 7x24 jam."

Tanpa sadar Seth bergidik.

"Ehm, kalau begitu aku boleh tanya?"

"Apa?"

"Bekas lukamu itu," tunjuknya ke dada Phat. "Aku pernah melihat yang serupa di punggung Korra. Apa itu?"

Phat terlihat ragu. Jemarinya menyentuh luka itu.

"Kalau kau tak mau bilang, tak apa," Seth buru-buru menambahkan, tersenyum.

"Oh, tidak... Ini cuma luka standar," ujar Path. "Korra juga punya. Ini luka penaklukan."

"Luka ... penaklukan?"

"Ya, sayangnya kami tidak punya tato keren seperti yang kalian kawanan Quileute punya," terkekeh santai, pemuda itu menunjuk lengan kanan atas Seth. "Jadi cuma luka ini yang menunjukkan kami satu kawanan. Semacam identitas…. Hahaha, kami jadi serasa seperti mafia…."

Ia mengucapkannya sambil lalu, tapi mau tak mau Seth merasakan horor di balik kalimat itu. Luka penaklukan, katanya? Apa itu artinya luka yang didapat pada saat Alfa mereka 'memenangkan serigala'? Begitukah?

"Aku tahu apa yang kaupikirkan," kata Phat. "Kau menganggap ini mengerikan, kan?"

Walau enggan, Seth mengangguk.

"Ini masih mending. Letaknya di tubuh, minimal. Bisa ditutupi. Kawanan kami di Sahara punya luka menyilang di wajah. Membuatnya mirip perompak." Phat terkekeh, sementara Seth menelan ludah.

Entah mengapa ia membayangkan Korra dengan luka diagonal di wajah, seperti Emily. Membuatnya bergidik ngeri.

"Kalau boleh tahu," hati-hati ia bertanya, "kapan Korra bergabung dengan kalian?"

Phat tampak tak peduli, walaupun bagi Seth, pertanyaan itu berat. Sangat. "Tiga tahun lalu," jawabnya santai.

"Tiga tahun?"

"Sebenarnya, kau mau bertanya kapan ia berubah, kan?" Phat terlihat santai. "Jawabannya: sudah empat tahun lebih. Ia sempat merambah hutan sendiri, berdua ibunya sebenarnya, sebelum ditaklukkan."

Mau tak mau bayangan mengerikan itu muncul di kepalanya. Astaga, betapa salah mereka selama ini, menunggu-nunggu kapan perubahan itu akan terjadi. Namun pada kenyataannya, Korra sudah berubah sejak usianya 12 tahun. Ia tidak terlalu heran dengan usia muda Korra ketika berubah. Itu hampir seusia dengan anak-anak seperti Pete dan Ben, waktu berubah akibat ancaman Volturi. Josh malah berubah waktu usianya 11 tahun. Tapi yang membuatnya ngeri adalah apa yang dihadapi Korra di luar sana. Berubah sendirian, tanpa kawanan yang melindunginya. Dan ditaklukkan setahun kemudian.

Tepatnya, seperti apa proses penaklukan itu, hingga meninggalkan luka mengerikan yang permanen seperti itu? Ya, keanggotaan kawanan nomaden mereka berbeda dengan kawanan Quileute, yang berlaku otomatis, sehingga detik seorang serigala berubah, detik itu pula ia menjadi bagian kawanan. Menurut si Alfa Putih, keanggotaan serigala nomaden dapat dimenangkan, diperebutkan. Kelihatannya proses bergabungnya Korra ke dalam kawanan nomaden ini tak semudah kelihatannya, tak sekadar Korra bertemu sekelompok serigala, lantas mengucapkan sumpah setia untuk menjadi bagian dari mereka. Pastinya tidak semudah ketika ia melompat dari kawanan Sam ke kawanan Jacob, begitu saja.

Tak bisa tidak, ia membayangkan pertarungan. Bayangan Korra, serigala hitam kecil usia 13 atau 14 tahun, sangat tidak berpengalaman, bertarung dengan seekor serigala putih yang jelas sangat kuat, muncul di ruangan matanya. Sudah jelas itu pertarungan yang sama sekali tak imbang, dan si serigala kecil jadi bulan-bulanan sebelum ... 'ditandai' ... oleh cakaran besar sang Alfa Putih.

Tak urung ia gemetar oleh bayangan mengerikan itu. Gemetar karena dua hal: ngeri, sekaligus juga marah. Betapa tidak, penaklukan itu merebut kemerdekaan gadis yang ia cintai. Di usia yang sangat muda. Membuatnya jauh dari takdirnya yang seharusnya: bergabung dengan kawanan La Push, saudara-saudaranya, keluarganya. Belum lagi itu meninggalkan luka permanen di tubuhnya, cacat yang harus ia sandang selamanya.

Namun di sisi lain, ia merasakan sekelumit perasaan aneh. Perasaan ... syukur, mungkin? Penaklukan itu, seburuk apapun kelihatannya, memberi Korra sebuah kawanan. Kelompok. Perlindungan.

Ia tahu serigala secara alamiah hidup berkelompok, dan betapa sulitnya jika serigala hidup sendiri. Ia tahu dari kepala Sam, memori Sam, ketika ia sendirian. Padahal Sam berubah di dalam tanah Quileute, dengan bimbingan dan perlindungan para Tetua. Dengan janji kemunculan anggota kawanan lain. Tapi apa yang bisa terjadi dengan anggota yang berubah sendiri di luar wilayah Quileute?

Semula ia berpikir itu tak mungkin. Para serigala muncul untuk melindungi tanah mereka, rakyat mereka, jadi bagaimana bisa seseorang berubah jika tak ada rakyat yang harus ia lindungi? Tapi lantas pikirannya beralih pada seseorang. Ibu Korra. Korra punya darah yang sangat kuat, putri Black. Jika saat itu ibunya, atau orang yang ia sayangi, terancam oleh kehadiran vampir, bisa jadi itu membangkitkan reaksi dalam darahnya.

Berubah karena terekspos pada vampir adalah hal yang mengerikan. Yang bahkan ditolak Jacob, yang membuatnya lebih memilih sistem bully untuk memicu perubahan.

Tapi Korra, di luar sana, telah menghadapi semua yang terburuk...

"Hei, kenapa kau?"

Seth mengerjap, berusaha meluruskan pikirannya. Dipandangnya Phat. Pemuda itu tampak khawatir.

Ia menarik napas sebelum bicara. "Boleh ... aku bertanya?"

"Soal apa?"

"Ehm, sejak kapan kau ... eh, bersama Alfamu?"

Pemuda di hadapannya tertawa. "Sungguh kau ingin menanyakan itu?"

"Eh, i, iya…"

"Aku ditaklukkan pada era Perang Dunia I, tapi baru bergabung dengan kawanan inti sekitar era Perang Vietnam, setelah aku kehilangan seluruh anggotaku," jawabnya sambil lalu, seraya menyusuri jejak entah-apa di udara.

Rahang Seth langsung turun.

"Me, memang berapa usiamu?"

Ia menggaruk-garuk kepalanya. "Wah, berapa ya? Kau tahu, tidak sopan bertanya usia orang."

"Maaf..."

"Hahaha. Aku cuma bercanda. Aku lahir 27 Juni 1878, kalau kau bersikeras bertanya."

"Yang benar!"

"Untuk apa aku bohong?"

"Ehm, kaubilang siapa namamu? Phat Chulalongkorn?"

"Yep."

"Aku jadi penasaran..."

"Hubunganku dengan Pangeran Chulalongkorn, putra Raja Mongkut yang di film Anna and The King? Oh, itu ayahku..."

Rahang Seth kembali jatuh.

"Yeah, 'kakek' yang kumaksud bukan Chow Yun Fat, tentu..."

"Kau ... betul-betul ... pangeran Thailand?"

"Siam," koreksi Phat. "Nama asliku Maha Vajirunhis. Aku memang anak keduapuluh, putra kesembilan. Tapi aku Sayam Makutrajakuman, Putra Mahkota Dinasti Chakri."

"Serius?"

"Yeah, aku sudah jadi Wakil Raja sebenarnya, tahun 1886…"

"Tunggu. Kalau kedudukanmu setinggi itu, artinya…"

"Ya, aku dulu Jenderal para theriomorph. Kurang lebih seperti Alfa, begitulah…."

Seth sudah lupa bagaimana caranya mengatupkan mulut, sementara sambil meneruskan langkahnya, Phat melanjutkan dengan bangga.

"Kawananku dulu kawanan campuran, tidak hanya mengambil satu bentuk. Gajah, serigala, macan, monyet, babi hutan…. Secara turun-temurun raja-raja Siam mengambil selir dari suku-suku shifter, berharap menghasilkan keturunan yang memiliki kekuatan theriomorfik, untuk membentuk pasukan pelindung pribadi. Kami menyebut diri kami Avesa, kata Hindi untuk menyebut orang-orang terpilih yang mendapat berkah kekuatan dewa. Orang menyebut kami Thaeph, yang berarti makhluk suci, atau A Maawn, yang artinya makhluk imortal. Yeah, kami ini semacam tentara yang berada di balik kegelapan, menjaga takhta. Karena kamilah, Siam tak pernah sampai benar-benar jatuh ke tangan orang kulit putih."

Sesaat dia diam, namun kemudian sorot matanya menajam.

"Tapi justru karena perubahan sial ini, aku malah didepak waktu usiaku hampir 17."

"Lho? Kenapa?"

"Ini semua gara-gara pamanku, si tua Bovorn Vichaichan. Dia jelas-jelas menggariskan para theriomorph hanya boleh ada di balik layar, tidak boleh memerintah. Biasanya memang tak pernah ada shifter yang menjadi raja atau putra mahkota. Para putri suku-suku shifter dipilih hati-hati untuk dijadikan selir, tapi tak pernah menjadi ratu. Entah mereka tak menduga bahwa ibuku, Savang Vadhana, memiliki darah shifter, atau mereka mengabaikannya, yang jelas mereka sungguh tak menduga gen itu sampai padaku. Makanya mereka kelimpungan waktu tahu aku berubah. Kau bisa cek di Wikipedia, mereka bilang aku tewas karena tipus, menggelikan betul!" Phat berdecak marah. "Akhirnya adikku, Vajiravudh, Pangeran Dwarawati, yang jadi Rama VI. Huh! Menurutku itu kudeta! Lebih buruk lagi, otomatis karena tadinya aku Putra Mahkota, begitu didepak, aku harus menjadi Jenderal Bayangan. Mendukung mereka yang mendepakku. Menyebalkan!"

Seth masih melongo, membuat Phat menggerutu kesal.

"Kenapa? Kau mau bilang, aku berdarah biru dan tua, jelas sangat berpengalaman, namun entah bagaimana malah tunduk di bawah kaki si bocah kecil pembangkang Korra Black? Bocah badung yang bahkan tidak bisa menang melawan vampir-vampir mata emas yang tidak berbahaya itu, kalau tidak dengan cara licik pura-pura menangis? Ya, jujur saja, di situ letak ironinya. Aku juga bingung."

"Tunggu. Apa tadi kaubilang?"

"Apa? Usiaku 134?"

"Bukan. Korra melawan vampir mata emas?"

"Salah paham. Mereka menyerang duluan, menganggapnya pencuri... Padahal dia tidak meniatkan itu. Lagipula kotak itu..."

"Pencuri?"

"Mungkin kau sudah dengar dari mereka..."

"Tunggu. Bagaimana bisa aku dengar dari mereka?"

Phat tampak bingung. "Bukannya kau adik salah satu dari mereka?"

"Adik siapa?"

"Pemilik rumah besar di hutan Forks..."

Seth langsung berhenti.

"Kalian ... bersinggungan dengan ... para Cullen?"

"Hanya Korra."

Mata Seth meremang. Korra bersinggungan dengan para Cullen? Bagaimana? Kapan? Mengapa tak ada satu pun dari mereka yang membicarakan itu dengan kawanan?

Lebih dari itu: apa efek dari persinggungan itu?

"Lantas? Apa yang terjadi?" tanyanya.

Phat tampak ragu. Lantas katanya, "Maaf, Seth. Aku tidak bisa mengatakan itu."

Beberapa detik Seth mengerjap. Ia tinggal selangkah lagi untuk tahu, tapi Phat tidak bisa mengatakannya?

Agak lama, barulah ia bisa menguasai emosinya dan menjawab lirih, "Ya, tak apa. Aku mengerti."

"Omong-omong, kau mau terus ngobrol atau melanjutkan pencarian?" Phat mengalihkan pandangan darinya, kembali ke pepohonan, berjalan kian cepat. "Aku tidak keberatan, tapi Korra terus mencerocos, meributkan Collin, membuatku pusing."

"Oh ya, tentu. Maaf."

Jeda cukup lama sebelum tiba-tiba Phat berhenti dan menatap matanya. "Kau mau bilang pertanyaan apa yang sebenarnya ada di kepalamu?"

Seth membeku, sama sekali tak menduga tindakan Phat.

"Eh? Apa?"

"Ayolah Seth, aku tahu kau sebenarnya tidak benar-benar cuma ingin berbincang-bincang denganku, berusaha mengenalku lebih dekat," sang pangeran muda itu menyunggingkan sesimpul senyum. Senyum yang tidak usil, memang, tapi mampu membuat Seth terhentak. Seolah bahkan walau mereka bukan kawanan, lebih lagi dalam wujud serigala, pemuda di hadapannya ini dapat membaca apa yang ada di benaknya.

Ia menimbang-nimbang, menggigit bibir. Haruskah ia menanyakannya? Tapi pertanyaan ini sudah bagai bisul, mengganggunya dan menyakitinya dalam detik demi detik berjalan, sejak ibunya menyebutkan itu tadi. Korra. Bertarung di jurang. Terluka.

"Bagaimana ... eh ...," ia menelan ludah, "keadaan ... ehm," kenapa sulit sekali menyebutkan nama itu? "... Ko, Korra kini?"

Menunggu datangnya jawaban dari Phat benar-benar membuatnya tegang. Jika bisa, mungkin ia sudah berkeringat dingin.

"Berandal itu sedang marah-marah tidak karuan, gara-gara Alfa menghukumnya," jawab Phat sambil lalu, yang membuat Seth melongo sesaat.

"Bukan itu maksudku," ia mengoreksi. "Maksudku setelah semalam. Kudengar ia terluka?"

Phat mengerjap. "Terluka? Ia tidak tersentuh sama sekali, kok."

"A, apa?"

"Hanya goresan kecil. Langsung sembuh saat itu juga. Sejujurnya, bisa dibilang, ia pesta besar semalam," tambah Phat sambil terkekeh.

'Pesta besar'?

Seth diam, memandang mega-mega. Pikirannya kacau.

Pemuda itu memandang Seth lama, sebelum akhirnya berujar, lembut, "Aku tahu kau khawatir padanya. Ini menyangkut putramu."

Lamat-lamat Seth mengangguk. Menunduk memandangi ujung kakinya.

Apa yang kawanan Korra tahu? Sampai sejauh mana mereka tahu? Pikiran mereka selalu saling terhubung, 7x24 jam, katanya? Apa semua yang Korra lakukan, ia dan Korra lakukan selama ini, juga tersingkap jelas, terbuka lebar, di kepala kawanan Korra?

Oh Tuhan, ini lebih buruk daripada koneksi pikiran kawanan….

Tapi lebih dari urusan itu … jadi benar? Korra mengandung?

"Kau bisa bilang aku tak berperasaan. Aku memang tidak punya kata-kata yang lebih tepat untuk menyatakannya. Tapi mungkin kau harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."

Kepala Seth langsung bergerak begitu cepat, hingga rasanya mau copot, berusaha menangkap mata Phat.

"Kemungkinan terburuk?"

Apa ini mengenai … eh, kandungan Korra?

Mendadak wajah Phat muram. Ia memandang Seth dengan tatapan aneh. Sedih? Prihatin?

"Maaf, Seth," hanya itu katanya.

Seth langsung merasa terguncang. "A, apa? Apa yang terjadi? Apa ia keguguran?"

"Aku tidak yakin aku bisa, atau berhak mengatakannya. Tapi jika ya pun, aku tidak tahu jawabannya. Tidak ada yang tahu."

"Apa maksudmu tidak tahu?"

"Kami memang tidak tahu. Hingga saat ini janin itu bertahan. Tapi tidak ada yang tahu hingga kapan. Mungkin besok, lusa ... pada akhirnya pastinya ia akan lenyap."

Kata-kata Phat ini seharusnya ditunggu-tunggunya. Dinantikannya dengan penuh semangat. Apapun yang terjadi pada Korra, apakah ia mengandung atau tidak, anak itu akan mati. Ini bisa membuatnya lepas dari apapun, dari keharusannya menjadi ayah dari anak yang lahir dari ibu setan mengerikan itu. Ia bisa lepas selamanya dari wanita keji yang sekian bulan ini menghancurkan kawanannya dari dalam, belum lagi nyata hanya memanfaatkannya.

Namun di sana, di bawah tatapan Phat, dalam sinar rembang petang, mendengar berita itu langsung dari sumber yang sejauh ini paling bisa dipercaya, entah mengapa berita itu justru menghentaknya. Merenggut jiwanya. Seakan ia menjadi selongsong tak bernyawa.

Anaknya ... darah dagingnya ... akan mati?

Selang sekian lama, keduanya berada dalam kebekuan, sebelum Phat kembali bicara.

"Sejujurnya, ada keributan di kawanan sejak Alfa tahu Korra mengandung. Ia berkali-kali berusaha mengenyahkan … eh, janinnya. Dan lagi, emosi Korra terus tidak stabil. Alfa sudah di ambang batas kesabarannya. Ia memaksa Korra tunduk, tapi entah mengapa Korra, ehm, entah apa istilahnya, 'tidak bisa melebur'. Kau tahu, mereka tidak selalu sejalan. Terus saja bertengkar, berselisih paham. Ia terus membuat keputusan yang berlawanan dengan sang Alfa. Membuat kami berada dalam dualisme kepemimpinan. Itu tidak baik bagi kondisi kawanan. Jadi diam-diam, Alfa sudah membuat keputusan."

"Keputusan apa?"

"Jika Korra masih terus berusaha bertahan, apapun alasannya, tidak ada cara lain. Pilihannya hanya dua. Ia akan melenyapkan Korra. Atau ia akan menendangnya dan menggantikannya dengan yang lain."

"Kalau … Alfamu menendang Korra, apa artinya ia diusir dari kawanan?"

Phat mengangguk. Dan entah mengapa, bukan rasa pilu, tapi sedikit pengharapan muncul di benak Seth.

"Jika ia menjadi serigala terbuang, apa artinya … ia bisa kembali dimenangkan oleh kawanan kami?"

Tapi Phat menggeleng. "Sayang sekali, Seth. Itu tidak mungkin terjadi."

"Kenapa?"

"Kau tahu, setelah ia dimenangkan, ia sudah membentuk semacam … yah, ikatan. Dan jika ikatan itu diputus, apa boleh buat, Korra akan mati."

.


.

Catatan:

Halo semua… Makasih buat yang baca n review chap kemaren…

Maafin di chapter ini ga ada kemunculan Jacob sama sekali, kalo ada yang nanya dia di mana, dia lagi ditangani Adam… hahahaha…

Chapter ini khusus didedikasikan untuk yang bertanya-tanya apa yang dilakuin Seth dan apa yang terjadi pada hubungan Korra dan Seth sesudah mereka 'putus'. Ya, dia separuh 'menyeberang', biar ga bisa dibilang begitu juga. Seth, terus terang, agak dilema sekarang (langsung ngebayangin Cherrybelle) Aku pengen bikin semacam 'irisan' antara LoK dan TAB, ngasi latar belakang siapa anggota kawanan Korra. Hmmm… jadi gimana ya baiknya?

aku nyari kata Thailand untuk Theriomorphic/Zoomorphic, n ga dapet... tadinya kau mau pake kata 'Phra-kha' (bagian depan nama Phra-ka-Naeht, sebutan buat Ganesha di Thai) atau 'Thaeph-pha-ya', 'Thaeph' (dewa, malaikat) atau 'A-Maawn' (makhluk imortal)... tapi takut salah terlalu berlebihan ga ya? Aku g tau kata Thai untuk 'avesa'... jadi tolong bantuannya...

Btw gmn tanggapan semua orang? Apa udah melayang ke mana-mana? OOC?

Show me love… show me love… yang nyempetin baca, tolong sempetin review juga yah….