THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Rated M... Read on your own guard…
.
.
Enampuluh Dua - Kegelapan
Wednesday, April 10, 2013
12:01 PM
.
.
Lagi-lagi ia membuka mata di tempat yang penuh cahaya. Dengan, tak lain, Caleb, merunduk begitu dekat di depan wajahnya hingga ia berteriak kaget.
"WHOOAAAA! CALEB! APA YANG KAULAKUKAN?!"
"Astaga Jacob!" teriak Caleb, ikut kaget dengan reaksi sang Alfa. "Ya ampun, apa pentingnya kau teriak-teriak begitu?!"
"NGAPAIN MUKAMU DUA SENTI DARI MUKAKU?!"
"AKU SEDANG MEMERIKSAMU, BODOH!"
"APA PENTINGNYA MEMERIKSAKU SAMPAI SEDEKAT ITU?!"
"Ya Tuhan, Jacob," terdengar suara lain dari seberang ruangan. Jacob tak perlu menoleh untuk melihat siapa itu, tapi ia menoleh juga, dan seketika mengerang.
Adam, lagi-lagi dengan stetoskop mengalungi lehernya. Celana wol dan kemeja warna terang yang kelihatannya bermerk membalut tubuhnya, jelas dicomotnya tanpa permisi dari koleksi baju Emmet yang ditinggalkan, karena pastinya baju Carlisle tidak bakal muat di tubuhnya. Memang, di antara kawanan mereka yang menganggap lebih praktis kemana-mana hanya dengan celana pendek, atau maksimal ditambah kaos tipis, dari segi penampilan, Adam adalah yang gayanya paling profesional. Ia tidak akan keluar rumah tanpa celana panjang dan kemejanya. Serius, dengan gayanya itu, lama-kelamaan dia bisa dikira versi Quileute dari Carlisle. Yah, dalam versi yang lebih urakan, tentu, dan pastinya lebih cerewet.
"Aku senang kau sadar," katanya. "Tapi kau tak perlu membangunkan seisi Forks juga..."
Jacob mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Lagi-lagi, rupanya, ia terbangun di sofa di ruang tengah keluarga Cullen yang bermandikan cahaya. Daerah sekitarnya terang, namun warna sinar yang masuk bukan putih keperakan, melainkan oranye keemasan. Garis-garis sinar matahari datang dari jendela yang berseberangan dengan arah masuk berkas cahaya matahari ketika ia terbangun di sofa yang sama sebelumnya. Hari sudah rembang petang, demikian simpulnya.
"Berapa jam aku pingsan?" tanyanya.
"Berapa jam?!" Caleb jelas masih kaget sehingga suaranya setengah oktaf lebih tinggi ketimbang biasanya. "Kaubilang berapa jam?! Kau pingsan sehari semalam lebih!"
Mata Jacob membelalak. Dia pingsan sehari semalam? Bagaimana bisa...
"Astaga, Caleb, reaksimu berlebihan," ujar Adam dengan sikap mencela sementara ia mendekat untuk memeriksa denyut jantung Jacob. "Dan kau juga sama saja, Jake, pantas saja kau pingsan lagi. Sudah kubilang aku tak mau tanggung jawab kalau kau gagal jantung."
Adam menyudahi sesi pemeriksaan fisiknya dan kini menyibukkan diri dengan selang-selang di tangan Jacob. Lengannya, Jacob baru sadar, kembali terhubung dengan sebentuk kantong cairan infus yang tergantung di tiang vertikal di atasnya,bergoyang-goyang pelan dalam tiap gerakan Adam. Dilihatnya Caleb pergi sambil merutuk, menenteng tong sampah logam yang hanya ia dan Tuhan yang tahu apa isinya.
"Oh Tuhan…," ia mengerang.
Jacob memejamkan mata sesaat, mengingat-ngingat yang terjadi sebelum ia pingsan. Ia pulang diantar Adam, menemui adiknya yang menangis di lantai atas. Rachel datang. Ketiga saudara berbincang ceria di dapur. Paul datang dan mendadak Korra bersikap aneh. Ponsel Collin berdering. Korra membuka sms Collin dan bereaksi aneh. Menerjangnya, menjatuhkan Josh dan Quil, mengancamnya...
"Korra...," bisiknya, sarat kengerian. Dialihkannya pandangannya pada Adam. "Ada apa? Apa Korra...," ia bahkan tak bisa menyatakannya langsung. "Apa Korra ... mengalahkanku ... mengklaim Alfa?"
Senyum Adam tampak aneh.
"Benar begitu, kan? Ia menjatuhkanku, memaksaku menjawab. Pasti dia menurunkan Titah..."
Kengerian itu menjalari syarafnya ketika bayangan itu kembali melintasi pikirannya. Suara Korra yang berbeda. Aneh, bergetar, penuh kuasa. Lidahnya yang entah mengapa bergerak sendiri, menjawab pertanyaan Korra. Kekuatannya, wibawanya. Auranya yang penuh ancaman….
Ia sudah siap menerima anggukan Adam, tapi yang dilihat hanya gelengan si dokter cabutan itu. "Sayangnya tidak, Alfa. Betapapun kau gatal ingin cepat-cepat cabut dari La Push, atau betapa inginnya kami lepas dari Alfa tolol sepertimu yang tidak peduli kesehatan sendiri, sayang sekali, adikmu belum mendepakmu."
Entah ia harus kecewa, senang, atau justru marah dengan sindiran dan kekurangajaran Adam. Tapi ia rasa Adam ada benarnya. Adam jarang-jarang bicara menyebalkan seperti itu, jadi ketika ia menyatakannya, ia tahu Adam kesal. Pasti.
"Maaf," katanya.
"Tidak menyalahkanmu, Alfa," Adam menghembuskan napas berat. "Ini salahku. Tahu sifatmu dan kondisi antara kau dan Korra, seharusnya aku bisa memprediksi hal-hal seperti ini pasti terjadi, entah dengan cara apa. Seharusnya aku memaksamu tinggal, bedrest seminggu, kalau perlu mengikatmu di meja. Memberimu sedatif dosis tinggi yang membuatmu tidak bisa bangun. Mengurungmu di dalam kamar yang dindingnya seluruhnya dilapisi logam terkeras di dunia sehingga kau tidak bisa mendobrak keluar."
Stress dan kekesalan Adam jelas terpancar, tapi itu hanya membuat Jacob tertawa, hampir tidak peduli. Ya, tentu saja Adam stress. Dia dan Caleb yang bertanggungjawab atas nyawa seisi kawanan, lebih lagi nyawa sang Alfa. Tapi hanya beberapa jam setelah ia menandatangani izin keluar Jacob dari pengawasannya, dan lebih lagi ia sendiri yang mengantar Jacob pulang, sang Alfa sudah kembali lagi dalam keadaan hampir mati. Pastinya dia yang disalahkan.
"Santailah, Adam," ujar Jacob sambil lalu. "Toh aku kan sudah hidup lagi."
"Hidup lagi apa?" sahut Adam ketus. Nah, kalau begini, keluar sifat asli Adam yang pastinya 180 derajat berbeda dari Carlisle, sebagaimanapun tinggi Adam memujanya dan berusaha mengkopi sang vampir idolanya itu. "Kau itu sudah di ambang kematian, tahu! Lagi! Entah ada berapa nyawamu. Tapi kalau kaupikir kau bisa terus-terusan beruntung mengibuli Kematian dan merasa bisa seenaknya bermain-main dengan nyawamu sendiri…."
Jacob tidak menunggu kalimat Adam selesai untuk memotongnya. "Omong-omong, ke mana yang lain?" tanyanya, mendapati sofa, alias tempat tidur pasien, di sekitarnya kosong.
Adam mendengus kesal, tapi menjawab juga. "Brady dan Embry sudah bangun kemarin, setelah kau pergi. Clark dan Harry dipindahkan ke lantai atas. Pete juga di atas, ruangan perpustakaan kini diubah jadi barak, supaya mereka bisa istirahat lebih tenang. Ben juga sudah bangun tadi pagi, sekarang dia dan Brady dipanggil ke Pondok Sam untuk..."
"Tunggu. Tadi kau menyebut Pete dan Ben?"
"Ya."
"Mereka sudah berhasil naik?"
"'Diangkat'," koreksi Adam. "Sam mengantar mereka, tepat sebelum kau diangkut lagi ke sini. Sam marah sekali tahu kau gagal jantung. Aku habis dimarahi, dibilang tidak becus menjagamu dan lain-lain..."
Oh, jadi itu rupanya alasan kekesalan Adam. Bukan cuma urusan tanggung jawab moral sebagai dokter. Sam sendiri, sang mantan Alfa yang dihormati Adam, seperti biasa menempelkan hidungnya di urusan intern kawanan. Meski Jacob merasa tindakan Sam benar, tetap saja mendengarnya, rasa kesal muncul dalam dadanya. Apa urusannya Sam merasa berhak memarahi serigala yang bukan lagi anak buahnya? Baiklah, Sam memang Tetua dan kedudukan Tetua ada di atas kawanan. Tetapi dengan adanya Jacob sebagai Alfa, semua tindakan anak buahnya adalah tanggung jawabnya. Sam tidak berhak turut campur, bahkan walau itu demi membelanya. Apalagi setelah jelas-jelas Sam, menilai apa yang terjadi selama ini, melangkahi wewenangnya….
"Tunggu. Katamu Sam ke sini?"
"Ya. Jelas dia tidak senang. Kali ini aku disuruh mengawasimu 24 jam hingga kau benar-benar pulih. Billy juga marah di telepon. Pastinya..."
Tapi Jacob tidak terlalu mempedulikan ocehan, jika tak mau dikatakan omelan, Adam. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal. Sam.
Sam dan Paul.
Paul dan Korra...
"Hei Ads," ia memotong celotehan Adam. Adam berhenti bicara, tampak sebal, sadar dari tadi dicueki. "Apa Paul kesini juga?"
Ia mengernyit, agak bingung. "Paul?"
"Apa Sam dan Paul yang menolong Pete dan Ben?"
"Tidak," geleng Adam. Tapi sesaat kemudian ia mengoreksi ucapannya sendiri. "Tidak tahu. Sam membawa mereka sendiri ke sini."
"Dalam wujud serigala?"
Adam menghela napas. "Tentu tidak, Jake. Kan ia sudah pensiun. Ia membawa mereka dengan truk."
"Tapi kan kau sendiri yang bilang, Sam dan Josh membantu kalian malam itu."
Ya. Malam itu, walau sekilas, ia melihat kelebatan serigala hitam saat ia berada di punggung Josh. Serigala yang dari posturnya, meski tak jelas, ia yakin bukan serigala betina yang bertarung bersamanya. Serigala yang muncul setelah ia bertemu Sam. Sudah pasti itu Sam, tak mungkin ia bisa salah mengenali mantan Alfanya, kan? Tambah lagi, tidak mungkin Sam campur tangan jika tidak dengan wujud serigala.
"Ya. Tapi itu kan karena memang situasinya saja genting," timpal Adam. "Aku yakin kalau cuma untuk membawa anak-anak saja, Sam tidak perlu berubah. Lagipula, lebih mudah membawa mereka dengan truk, kau tahu."
Meski tak sepenuhnya sependapat, Jacob mengangguk.
Dipandangnya Adam. Entah karena loyalitas Adam pada Sam, atau memang ia bisa berpikir lebih logis dibanding dirinya, Adam terlihat tidak terlalu terganggu dengan fakta bahwa Sam berubah. Bahkan ia seakan yakin perubahan Sam itu hanya karena kejadian semalam. Diam-diam ia menduga-duga. Apa Adam, dan mungkin anak-anak lain, tidak tahu bahwa Sam, selama ini….
"Ads," tanyanya hati-hati. "Waktu semalam kau bertempur di sisi Sam kan?" Ditunggunya Adam mengangguk sebelum melanjutkan, "Apa kau mendengar suara Sam?"
Adam mengernyit. "Suara Sam?"
"Yeah, kau tahu, apa kau bisa mendengar pikirannya, perintahnya, apapun?"
Gelengan kepala Adam sudah ia prediksi. Ia bahkan tidak merasa kaget.
"Jadi rupanya benar," gumamnya, yang dibalas pandangan curiga Adam.
"Benar apa?"
"Sam mengkhianatiku…"
Tapi berlawanan dengan dugaannya, Adam justru menghembuskan napas lelah.
"Aku tahu apa yang kalian para Triad curigai. Tapi itu tidak benar, Jake. Sam sudah tidak berubah lagi. Dia tidak membentuk kawanan, dia tidak mengkhianatimu."
Jacob tidak tahu mengapa Adam merasa begitu yakin. Percaya pada Sam.
"Dia kan dulu Alfa, Jake," Adam mengutarakan hal yang semua orang juga tahu. "Lebih lagi ia Tetua, dan kau meletakkan posisi Tetua di atas kita. Bahkan belakangan ini aku mendapat kesan Billy mendelegasikan posisi Ketua Dewan Suku pada Sam. Aku yakin jika tanpa sengaja berubah, ia takkan berada di bawahmu atau di manapun di dalam kawanan."
Bukan teori yang pernah dikatakan Seth, tapi nada suara Adam saat mengucapkannya, yang entah mengapa mengganggunya. Berbeda dengan Seth dan Embry yang terlihat lebih mudah menerima kemungkinan Sam membentuk kawanan lain, dari caranya bicara, jelas kepercayaan Adam pada Sam bulat dan tak terusik. Ia tidak mempertanyakan Sam sedikitpun. Tapi setelah ia berpikir dua kali, ia merasa itu wajar. Adam, sebagaimana dua per tiga anggota kawanannya, adalah mantan anak buah Sam, yang ia tahu hingga kini masih berpikir bahwa kepemimpinan Sam lebih baik ketimbang dirinya. Ia mungkin memimpin karena haknya, karena darahnya, tapi Sam memimpin karena kemampuannya, karena takdir dan amanat yang diberikan padanya. Jika bukan karena Sam pensiun, mereka takkan sukarela mengikutinya. Bahkan ide Sam menjadi anak buah Jacob adalah ide yang mengerikan, yang takkan mungkin sampai di kepala mereka. Mereka terlihat lebih menerima ide bahwa jika Sam berubah, sengaja atau tidak, secara otomatis Sam berdiri terpisah dari kawanan Jacob. Ya, mereka sama sekali tidak peduli soal darah. Mungkin saja jika saat ini mereka semua diberi pilihan, antara tetap di kawanannya atau menyeberang ke kawanan Sam, mereka akan suka hati memilih Sam.
Oh ya, bahkan Collin waktu itu mengatakannya. Lantang. Di depan seluruh kawanan.
"Aku selalu lebih suka dia dibanding kamu. Kau menyebalkan, Black."
Itu Collin yang bicara. Collin. Sepupunya. Seorang Black. Tak lain, calon terkuat penggantinya. Yang darahnya jauh lebih tinggi daripada Sam. Yang pernah direncanakan Sam untuk memimpin kawanan jika Jacob tidak kembali ke kawanan La Push.
Collin, anak buah Sam yang paling loyal.
Yang pastinya akan memilih Sam ketimbang dirinya, sepupunya sendiri.
Jika Collin saja bisa sampai sebegitu loyal, bagaimana dengan yang lain? Ia sudah tahu pandangan Adam. Caleb sepupu Paul, dan pastinya sama seperti Paul, akan memilih Sam. Brady, Ben, dan Pete jelas akan mengikuti Collin ke manapun. Bahkan setelah kepergian Collin, tak mungkin mereka takkan bertindak seakan Collin sendiri yang memintanya. Dari kejadian semalam, sudah jelas Josh di sisi Sam. Bisa jadi bahkan selama ini ia menjadi mata-mata Sam. Jika tidak begitu, mana mungkin ia bisa memilih tempat lain selain tempat yang ada Brady? Seburuk apapun hubungan keduanya kini, Jacob tahu Josh akan lebih terima dikucilkan sepupunya, dianggap tidak ada, ketimbang tak punya ikatan sama sekali dengannya. Bahkan tanpa mempertimbangkan Paul dan Jared, yang jelas-jelas kawanan Sam, jika kawanan sampai terpecah dua lagi, yang akan mengikutinya paling-paling hanya kedua sahabatnya, Quil dan Embry. Itu pun tidak bisa dijamin.
Dan bahkan Seth juga harus dipertanyakan.
Huh. Tapi Sam menjadi Alfa, membentuk kawanan … bagaimanapun terasa 'tepat'-nya itu, jujur saja, itu ide yang aneh. Sungguh. Sam hanya seorang Uley. Dulu memang Levi Uley adalah Beta, tapi itu terjadi karena mereka hanya bertiga dan tingkatan darahnya lebih tinggi daripada Quil Ateara II. Tapi ketika kawanan begitu besar seperti saat ini, dengan munculnya anak-anak yang memiliki tingkatan darah lebih tinggi dari seorang Uley -seperti Collin, misalnya- apa kedudukan Sam tetap begitu tinggi? Bahkan jika Sam tetap ada di kawanan, apa ia akan tetap menyandang posisi Beta? Ataukah kedudukan itu berada di tangan Collin?
Jadi apa yang membuat Sam bisa memiliki otoritas itu? Membentuk kawanan?
Pikirannya langsung melayang pada Jared. Jared Cameron memang bukan keturunan Ephraim, tapi ia memiliki tetesan darah Black. Ia ingat Collin pernah mempertanyakan hal ini. Pola kepemimpinan kawanan jelas tidak semudah 'Alfa: Black, Beta: Uley, Gamma: Ateara', terlebih karena silsilah sangat berpengaruh. Garis-garis silsilah di kawanan La Push begitu rumit dan saling silang, hingga kadang ia mempertanyakan bagaimana bisa seseorang dengan mudah ditempatkan di dalam skema hierarki. Di suku yang menganut pola patriarki seperti Quileute, dengan mudah garis darah seseorang ditarik langsung dari sang ayah. Tapi siapapun tahu, gen serigala tidak hanya diturunkan lewat ayah, tapi juga dari ibu. Dan di sinilah segala kekusutan garis darah dan hak atas otoritas itu bermula.
Sam mungkin adalah yang pertama berubah, tapi Jared adalah keturunan Jacob Black I, kakek Ephraim sekaligus Alfa jantan dari generasi sebelum Ephraim. Moyang Jared adalah putri pertama Jacob Black I. Dengan kata lain, seharusnya, ketika baru tiga senior itu berubah sebelum hadirnya Jacob, bukankah lebih wajar jika Jared-lah yang seharusnya menjadi Alfa, bukan Sam? Tentu saja argumen aneh Collin ini sangat mudah dipertanyakan. Bagaimanapun Jared adalah serigala pertama di garis keturunan Joanna Black. Ataukah ini karena urusan pola patriarki di suku mereka, karena darah Black di nadi Jared didapat dari putri Jacob Black I, dan bukan dari garis keturunan laki-laki? Karena kakek atau nenek buyut Jared tidak berada dalam kawanan Ephraim, sedangkan kakek buyut Sam adalah Beta? Karena itukah, darah Jared menjadi rendah, lebih rendah dari Sam?
Dan apakah itu juga menjadikan darah Seth dan Leah rendah, karena darah Black di nadi mereka didapat dari garis keturunan perempuan? Di mana posisi mereka? Apa lebih tinggi dari Sam? Atau sejajar dengan Sam, karena darah Uley juga ada di nadi mereka? Ataukah justru lebih rendah?
Di mana pun posisi yang lain, hanya ada satu hal yang nyata: Sam sama sekali tidak punya otoritas itu. Bahkan bisa dibilang hampir tidak ada orang di kawanannya yang benar-benar memiliki hak itu. Kecuali jika darah Black di nadi Jared diakui. Yang artinya Jared-lah yang membentuk kawanan, lantas memberi mandat pada Sam.
Jared, atau … Leah.
Entah mengapa nama itu mendadak menyelusup dalam kepalanya. Leah. Pemilik darah Black, Uley, dan Ateara sekaligus.
Leah bilang ia kuliah di California. Sibuk. Tidak pernah pulang, jarang menghubungi. Seth saja sampai kesal dengan kakaknya gara-gara sudah dua Natal ia tidak pulang. Nomornya tidak diketahui. E-mailnya tidak pernahdibalas. Akun Facebook dan Skype-nya tidak aktif. Ke mana Leah?
Begitu kebetulan, begitu berbarengan. Sam pensiun. Jared menikah, Paul menikah. Leah pergi. Meninggalkan La Push. Tiga tahun lalu. Dan tak pernah ketahuan kabar beritanya. Oke, yang terakhir tidak sepenuhnya benar. Rachel terus mengiriminya kartu pos, menceritakan kabar petualangan dirinya dan Paul. Tapi apa yang ia dengar dari dua serigala lain itu? Tidak ada.
Apakah … selain Paul dan Jared, Leah juga….
Leah memiliki tiga darah kuat sekaligus. Kedudukannya sejajar, atau mungkin lebih daripada Jared. Jared mungkin tidak sekuat itu untuk membentuk kawanan sendiri, tapi jika ia bersama Leah…. Jika mereka menggalang kekuatan…. Maka separuh otoritas yang mereka punya, digabungkan….
Dan lebih lagi, jika Sam meminta…. Jika Sam, satu-satunya pria yang ia tahu terus dicintai Leah, memintanya, apakah Leah akan menolak?
Buru-buru ia menggeleng keras-keras atas kemungkinan itu. Jared dan Paul mungkin saja menjadi kawanan Sam, tapi Leah tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin. Leah pernah memilih menjadi bagian dari kawanannya untuk menghindari Sam. Jadi mana mungkin Leah mau menjadi kawanan Sam lagi? Menjadi Beta-nya, atau mungkin Gamma-nya? Atau mungkin malah dengan darahnya, Leah yang jadi Alfa, lantas memberi mandat pada Sam?
Tidak, tidak. Itu sama sekali tidak mungkin!
Lebih lagi, Leah mantan Beta-nya. Dan kakak Seth. Hubungan mereka, ia yakin, lebih daripada apa yang terlihat di permukaan. Leah takkan mungkin mengkhianatinya. Bahkan jika itu demi Sam.
Benarkah begitu?
Lagi-lagi Jacob menempeleng wajahnya sendiri. Tidak, tidak mungkin ia mencurigai Leah. Bagaimana bisa pikiran itu bahkan melintas di kepalanya?
Ugh, rupanya memang benar. Ia menderita skizofrenia. Berhalusinasi. Membayangkan yang tidak-tidak….
Jika Sam membangun kawanan, jauh lebih mudah dan logis bahwa otoritasnya itu datang dari kedudukannya sebagai mantan Alfa, dan Wakil Ketua -kalau tidak bisa dibilang Ketua- Dewan Suku. Walau kedua kedudukan itu diperolehnya bukan dari darah, tapi dari mandat.
Dari mandat….
Sam sebagai Ketua Dewan Suku.
Mandat Dewan Suku….
Mustahil!
Ayahnya, Billy Black, juga punya andil dalam hal ini?
.
.
"Jacob… JACOB!" suara Adam menghentaknya. Ia mengerjap, memandang mata si dokter cabutan. Adam kelihatan mengernyit, curiga dengan rentetan pikiran berbalut kengerian yang ada di kepalanya. Atau mungkin ketakutan-ketakutan itu terlihat jelas di wajahnya. Disadarinya wajahnya kaku, tegang. Sama sekali tak aneh jika bahkan tanpa disadarinya, sedari tadi ia bergumam sendiri atau menahan napas.
Adam berdecak. Tampak lelah.
"Kau sebaiknya berhenti berpikir yang tidak-tidak. Apapun itu. Setidaknya hingga kau pulih benar, istirahatlah yang cukup. Terutama jangan berpikir hal-hal yang sekiranya membuat detak jantungmu menderas," katanya sambil menarik stetoskop dari dadanya.
Baru disadarinya, ketika Adam mengucapkan itu, jantungnya berdetak dalam cara yang aneh. Cepat, ya, tapi aneh. Semoga ini bukan efek dari pikiran acaknya.
"Maaf," ucap Jacob lirih.
"Aku akan memberimu obat penenang supaya kau tidur," ujar Adam lagi. Tak lama ia sudah bangkit dan pergi. Meninggalkan Jacob, dengan egonya yang berusaha menundukkan isi kepalanya sendiri.
Jangan berpikir aneh-aneh.
Jangan berpikir aneh-aneh.
Ingat, tidak boleh mencurigai kawanan. Mereka saudaramu. Kalian keluarga, beribu bisikan berupaya memperteguhnya.
Percaya.
Ya. Tidak ada siapapun yang ingin melakukan hal buruk. Padanya. Pada suku….
.
.
Malam datang tanpa bisa ditahannya. Dan kini, setelah Adam kembali untuk menidurkannya, ia kembali terbangun, dalam keadaan kegelapan melingkungi seluruhnya. Bulan pucat pasi terlihat di balik awan, mengintip separuh dari balik jendela.
Suasana rumah sepi, hanya terdengar dengkuran dari lantai atas. Adam dan Caleb tidak ada di sekitarnya. Tepatnya, tak ada siapapun di sekitarnya. Kosong. Dari luar, terdengar suara hewan-hewan malam di antara gemerisik dedaunan. Sepi. Tenang. Lengang. Membuatnya ingin kembali menutup mata.
Itu sebelum terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, kemudian suara seseorang dari arah dapur, agak ribut. Membuka dan menutup pintu kulkas. Menyalakan kompor. Terdengar denting piring, atau cangkir, entahlah.
Jacob kembali membuka mata. Seseorang jelas di dapur. Terbangun dan mendadak lapar, ingin membuat makan malam, atau camilan, mungkin. Ia tahu ia tidak perlu peduli. Ia ingin kembali tidur, sebelum tiba-tiba dirasanya dorongan alam, tuntutan pelepasan diri.
Ia bangkit hati-hati, berusaha melawan rasa pusing di kepalanya. Adam tidak memasang kateter, jadi pastinya ia diperbolehkan untuk berjalan-jalan. Menahan kepalanya yang berat dan berteriak supaya ia kembali tidur, ia berjalan perlahan, yang paling pelan dalam waktu enam tahun terakhir, mendorong tiang infusan. Tujuannya sudah jelas: toilet.
Tapi baru beberapa langkah saja, tahu-tahu ia sudah terantuk roda tiang infusan. Sesuatu yang dalam keadaan normal takkan berpengaruh apapun baginya, dalam situasi segelap atau selimbung apapun ketika ia masih setengah sadar. Tapi kali itu, ya: ia terantuk dan tidak bisa menyeimbangkan diri. Lututnya sudah hampir membentur lantai ketika tiba-tiba terdengar seruan, "Hei, Jacob!" dan kemudian seseorang melesat ke arahnya, menahan tubuhnya.
"Uhm, trims … Em," bisik Jacob kala menyadari siapa yang menahannya. Embry.
"Sama-sama," sahut Embry. "Mau ke mana kau?"
"Toilet," jawab Jacob pendek.
"Oh, memang Adam tidak memasang kateter?" Embry terdengar agak bingung. "Ya sudah, mau kubopong atau semacamnya?"
"Kurasa aku bisa. Santai saja."
Tapi baru dua langkah, tahu-tahu ia sudah terantuk lagi. Embry kembali melesat, menahannya.
"Hei, kau tak apa, Man?"
"Tidak, cuma agak pusing."
"Ya sudah. Sini kubopong."
Ia memprotes tapi Embry tampak tidak peduli.
Ugh. Benci sungguh ia dengan kelemahan dirinya saat ini. Masa ia tak bisa ke toilet dengan normal dan harus dibopong Embry? Huh, lihat saja jika bocah-bocah penggosip itu melihat ini. Untung mereka semua tumbang. Brady dan Ben, yang katanya sudah pulih, pun sedang tidak di sini.
Oh, omong-omong sudah pulih….
"Kulihat kau sudah sembuh total, Em," ujar Jacob ketika Embry menurunkan kantung infus dari tiang, menaruhnya di dada Jacob, sebelum meraup bagian belakang lutut Jacob dan menggendongnya. Tanpa kesulitan.
"Tentu," Embry nyengir dengan bangga. "Kudengar sahabat terbaikku menghisap racun dari tubuhku sebelum sempat benar-benar menyebar."
Jacob tertawa dengan gombalan Embry. "Sama-sama," katanya, menjawab kata terima kasih yang tak terucap.
"Omong-omong," katanya. "Dengar-dengar kau habis dikerjai Daddie Eddie, ya?"
Oke. Kambuh lagi sifat usil Embry. Padahal tidak ada Quil….
Mendengar dengusan Jacob, Embry tertawa. "Sayang betul aku pingsan. Coba aku sadar. Jadi ketinggalan bagian serunya, deh…."
"Apa? Waktu jantungku direnggut keluar?" bentak Jacob.
Embry terkekeh. "Ya. Waktu jantungmu direnggut keluar."
"Kau pastinya tidak bakal bisa membayangkan rasanya…"
"Lho? Kan Adam memberimu morfin? Omong-omong, kau itu yang paling sering diberi morfin deh, kayaknya. Korra tidak salah-salah amat waktu bilang kau pakai narkoba. Jangan-jangan kau kecelakaan melulu itu idemu supaya bisa terus-terusan ngobat?"
Jacob langsung melotot. "Apa-apaan itu!"
"Bercanda, Jake…. Astaga, sensitif sekali kau…."
"Yeah. Aku kan kena sindrom mood jelek pasca-digigit vampir," sahut Jacob setengah menggerutu, ingat kejadian beberapa bulan lalu, ketika ia dan Embry terbaring di tempat yang sama, setelah Embry dan Seth diserang di tanah Cullen.
Embry tertawa.
"Nah, sekarang kau mau turun atau tidak? Apa kau begitu senang kugendong?" katanya akhirnya, menambahkan sedikit kedipan dan senyuman usil yang jauh dari menggoda. Jacob agak mengernyit, sebelum memandang ke sisi lain dan mendapati dirinya sudah berada di depan toilet.
"Huh, maumu saja…," gerutu Jacob tidak jelas, yang hanya dibalas kekehan Embry kala ia menurunkan sahabatnya hati-hati. Sedikit limbung ia memasuki toilet, seraya memegang kantong infusnya tinggi-tinggi. Menutup pintu di belakangnya.
Begitu ia selesai, Embry masih di depan pintu, menunggunya. Tanpa banyak bicara, meraup lagi lututnya dan membopongnya ke sofa.
"Kau tahu, kalau Ben lihat ini, dia bisa bikin gosip aneh," kekeh Jacob sementara Embry meletakkannya hati-hati di sofa yang sudah berubah jadi tempat tidur pasien.
Embry ikut tertawa sambil mengembalikan kantung cairan infus ke tempatnya dan memelintir-melintir selang, mengembalikan darah Jacob yang sebagian masuk ke selang infus. "Apa? Yang Mulia Alfa yang depresi karena harus menunggu 400 tahun hingga bisa meminang sang imprint yang ditawan ayah vampirnya yang jahat di menara tinggi, akhirnya bosan dan jatuh ke pelukan jomblo sundal Embry Call yang tak kunjung mendapat imprint, tanpa sadar terjebak dalam kemungkinan skema incest? Yeah, kreatif sekali, Jake…. Aku tahu mereka sudah bikin gosip serupa soal aku dan Quil, atau malah aku dan Sam, pendek kata mereka sudah memasangkanku dengan hampir setengah cowok di kawanan, jadi aku tidak merasa aneh sama sekali."
Jacob bersiul. "Wah, jadi di mata anak-anak, kau itu playboy, ya?"
"Masih lebih mending daripada kalian dua perjaka karatan…," dengus Embry.
"Sayangnya, jangan kata playboy, aslinya kau itu memang jomblo bapuk yang tidak laku-laku…. Kau boleh sombong sana-sini, bilang kau sudah pengalaman dengan cewek, tapi aku tahu kau juga masih perjaka…. Lagipula, memang kapan terakhir kali kau mencium cewek? Pacar betulan, maksudku, bukan Karen Colloughby yang cuma nempel padamu karena mengira kau gay. Waktu umurmu 14? Itu kan sudah delapan tahun lalu, jadi kau sama saja karatannya dengan kami…."
Embry memutar bola mata dengan sikap tak acuh.
"Sudahlah, Em," Jacob tertawa, "berhenti menunggu imprint. Kau seharusnya meniru bocah-bocah itu. Brady, Josh…."
"Yeah," Embry kembali mendengus masam. "Aku tidak lihat ada yang bagus dari kisah cinta bocah-bocah itu. Brady jelas tidak beruntung. Josh jadi bajingan tengik sekarang. Collin, ck, sok romantis sih sok romantis ... tapi ujung-ujungnya malah berebut cewek dengan Seth…"
Penyebutan nama kedua orang itu membuat Jacob menegang. Collin dan Seth … memperebutkan Korra….
"Jadi, itu benar?" bisik Jacob, suaranya langsung berubah mencekam.
Embry baru sadar ia salah omong. Ia langsung diam, pura-pura sibuk memelintir-melintir selang.
"Aku tahu Cole tidak berpacaran dengan adikku. Ia memang mengejar-ngejarnya, tapi jelas adikku tidak jalan dengannya. Ia hanya menganggapnya sahabat," Jacob bicara dengan wajah bak orang habis ditampar. "Jadi apa memang benar, Seth-lah yang berpacaran dengan Korra?"
"Itu cuma gosip…," ujar Embry ragu. Tapi samar, ia melihat gerak bola mata Embry yang seolah mengkonfirmasi kecurigaannya. Yang langsung dibalas erangan Jacob.
Astaga. Cerita apa ini? Seth, orang kepercayaannya, yang selalu dibilang punya hati yang bersih, pikiran yang tak ternoda…. Ke mana Seth yang itu?
Ia mengutuk habis-habisan. Seandainya tidak ingat peringatan Adam, tentunya ia sudah berteriak. Jika ia tidak jadi begini lemah, mungkin ia sudah menyambar tiang infus, melemparnya ke jendela biar pecah berkeping-keping.
"Jadi aku harus menerima seorang bangsawan Quileute terhormat, Sir Seth Clearwater, adalah bajingan tengik, yang menghamili adikku yang masih di bawah umur?!" suaranya meninggi.
Mendengar kutukan Jacob, Embry langsung tersedak. "A, apa maksudmu? Seth menghamili Korra?"
Jacob masih mengerang, tapi dijawabnya juga pertanyaan Embry. "Korra muntah-muntah kemarin." Singkat. "Dan aku pernah menemukan sampah kondom di keranjang sampahnya," ia menambahkan.
Mata Embry membelalak sementara mulutnya megap-megap bagai ikan kekurangan air.
"Kuperingatkan, Em," suara Jacob mendadak berubah tajam. "Jangan bicara pada yang lain soal ini. Terutama Ben. Tidak satu kata pun. Kau tahu sekarang ia berkembang jadi Alfa Biang Gosip yang bahkan lebih parah daripada Collin."
"Tapi, tapi," Embry akhirnya berhasil keluar dari shock-nya. "I, itu … bukan berarti … dia hamil, kan? Ia bisa jadi keracunan makanan, atau sakit…."
"Collin juga bilang begitu. Tapi aku tidak tahu. Ya Tuhan, Embry, aku sungguh tidak tahu…."
Embry menangkap kefrustasian Jacob, dan beranjak untuk duduk di lantai di sisi Jacob, tanpa suara menepuk-nepuk lengannya dengan sikap menenteramkan.
"Dan setelah pertempuran kemarin," Jacob masih melanjutkan, "aku juga harus menerima kemungkinan bahwa … adikku … keguguran atau semacamnya. Dan saat ini aku bahkan tidak tahu di mana dia atau apa yang dilakukan Paul, atau Sam, atau Alfanya padanya."
Hening.
Embry tahu Jacob khawatir. Sikap permusuhannya dengan Korra sudah hilang sejak Korra menghilang di hutan pada waktu kamping. Tapi bahkan sebelum itu, meski selalu menampakkan diri sebagai kakak tiri pencemburu, tak diragukan lagi insting protektif Jacob selalu mendominasi tiap berurusan dengan sang adik. Tapi jika insting ini bekerja pada Seth…. Sungguh, itu bencana. Kalau Jacob menghadapi Collin, mungkin ia takkan terlalu khawatir. Collin pasti akan membela diri, dan nyata bahwa ia cukup tangguh untuk bisa mengimbangi Jacob. Meski itu malah parah, karena bisa jadi insting persaingan mereka menguasai dan ujung-ujungnya mereka bertarung memperebutkan otoritas. Tapi setidaknya, ia takkan khawatir pertarungan menjadi berat sebelah. Tapi jika itu terjadi pada Seth, dengan sikap Seth yang luar biasa pasif dalam menghadapi pertarungan dalam kawanan sendiri, yah, sudah terbayang bagaimana jalannya pertarungan. Meski tak ada yang meragukan kekuatan sejati Seth, tahu Seth, ia mungkin akan diam saja, menunggu kemarahan Jacob mereda dan ia berhenti sendiri, seperti waktu Collin mencabik-cabiknya.
Namun kali ini mungkin Seth takkan seberuntung itu.
Sungguh. Ia tak bisa membayangkan seorang Seth yang lembut dan penuh kasih harus berakhir dalam kondisi tercabik-cabik di bawah cakar sang Alfa pemarah, yang mengamuk karena si mantan Beta telah menodai adiknya.
Dan lebih lagi, bahkan Embry tidak yakin kejadiannya betul-betul seperti itu.
"Tunggu, Jake. Mungkin kesimpulanmu terlalu terburu-buru," ia mencoba bersikap skeptis. Berargumen. Membuat Jacob berpikir ulang. Melihat kenyataan. Kemungkinan lain. "Aku masih tidak bisa percaya bahwa Seth…."
"Tapi kau tahu, Em," Jacob hampir mengerang. "Aku sudah bilang padamu. Suara Korra di telepon waktu Seth di Port Angeles. Ingatan Brady. Kilasan yang ia tangkap dari Seth…"
"Kita sudah membicarakan ini, Jake…."
"Tapi…"
"Dengar, Jacob," Embry mendadak mengalihkan pembicaraan. "Aku mendapat sms dari Seth kemarin siang."
Mata Jacob langsung mengembang. "Kau menghubungi Seth?"
"Seth yang menghubungi aku. Dia menanyakan tentang Collin."
"Lalu apa kaubilang?"
"Yang sebenarnya. Apa lagi yang harus kukatakan?"
"Lalu bagaimana reaksinya?"
"Panik, ya. Tapi aku mendapat kesan dia sudah tahu. Dia agak kesal. Pastinya. Jika dia mendengar dari ibunya…."
"Atau dia mendengar dari Korra…," kata-kata Jacob terdengar mengambang. Embry langsung memicing padanya. Jacob masih larut dalam pikirannya tentang Seth dan Korra, dan mulai mengasumsikan bahwa apapun yang dilakukan Seth pasti ada hubungannya dengan Korra.
Apakah mungkin, memang sejak awal Jacob mencurigai Seth, dan karenanya ia memblokade Seth dari kawanan? Sebagai bentuk hukuman? Apakah Jacob telah mengusir Seth? Permanen?
Embry langsung menggelengkan kepala pada kemungkinan itu. Ia tahu bagaimana emosi sang Alfa, kecurigaannya belakangan pada hampir semua orang, dan reaksinya yang bisa dibilang kelewat berlebihan. Tapi ia tak pernah percaya bahkan Jacob akan melakukan hal sebodoh itu. Tidak percaya pada sahabat, saudara mereka sendiri?
"Dari mana kau berkesimpulan dia mendengar dari Korra?" tanyanya.
"Siapa lagi memang? Korra kelihatan aneh waktu membuka sms di ponsel Cole. Jika mereka punya hubungan, tidak mungkin Korra tidak menghubungi Seth."
"Jacob, serius. Kita bahkan tidak tahu apa memang benar Korra pacaran dengan Seth. Seth juga sama seperti semua orang, menunggu-nunggu imprint. Dan kita tahu tidak ada yang mengimprint Korra."
"Tapi ia tergila-gila pada si serigala hitam. Dia bersamaku waktu kami bertemu dengan si Putih di tebing. Mata dan pikirannya tak jauh-jauh dari kekaguman pada si Hitam itu."
Embry menghembuskan napas, lelah. "Kita sudah membicarakan ini, Jake. Tidak bisa yakin 100% bahwa Korra adalah serigala hitam."
"Tapi…."
"Kau tahu, Jake, aku punya teori. Mengenai identitas si serigala hitam," potong Embry. Meski ia mengucapkannya tanpa jeda yang cukup, kentara sekali ia ragu.
Jacob menegang.
Menarik napas berat dan panjang, Embry melanjutkan. "Kau tahu, aku terus memikirkan satu hal sejak aku mendadak berubah jadi serigala. Kau tahu, ini mengenai ayahku."
Jacob langsung bergerak tidak nyaman. Siapapun tahu ini termasuk topik terlarang yang tidak boleh dibicarakan. Tentu saja setelah bertahun-tahun, dan terutama setelah kepergian Leah, tidak ada lagi yang begitu usil mempertanyakan siapa ayah Embry. Embry telah menjadi saudara mereka, tidak peduli siapa ayahnya. Tentu saja bocah-bocah Gossipers badung itu sesekali menyentil urusan ini, tapi mereka melakukannya sambil bercanda dan Embry pun tak pernah mau ambil serius. Tapi kali ini, melihat raut wajah Embry, dan nada bicaranya, jelas ia tidak sedang bercanda. Ini pembicaraan serius. Atmosfer menekan yang pastinya membuat siapapun tidak nyaman.
"Diam-diam aku selalu berusaha mengaitkan diriku dengan salah satu dari kalian. Tentu saja aku masih belum mendapat satu petunjuk pun. Hampir semua orang menganggap aku adalah saudara tiri Sam, tapi, kau tahu, aku … tidak yakin. Meski yah, bukan berarti aku tidak mempertimbangkannya juga."
Jacob mengalihkan pandangannya pada pola marmer di lantai, tidak kuasa menatap mata Embry.
Embry tertawa. "Kau pasti bingung, apa hubungannya hal ini dengan Korra. Biar aku jelaskan," ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Jacob, pernahkah kau melakukan analisa terhadap pola bulu kita?"
Kepala Jacob langsung mendongak, begitu cepat hingga lehernya hampir sakit.
"Pola bulu?"
Embry menyunggingkan senyum tidak yakin. "Ini pastinya konyol. Ini cuma sekadar pikiran acakku, jadi terserah jika kau mau mempertimbangkannya atau tidak. Kau tahu, ada berapa kecenderungan warna bulu kita?"
Meski tidak yakin ke mana arah pembicaraan Embry, Jacob menghitung juga. Warna bulu ketujuhbelas serigala yang ada sangat beragam, hampir tak ada serigala dengan warna bulu benar-benar persis. Hitamnya bulu Sam jelas yang paling menonjol di antara semuanya, tak ada yang memiliki warna bulu sepekat dan sesempurna itu. Warna merah kecoklatan miliknya dan Collin, yang begitu serupa, yang juga membuat mereka jatuh dalam masalah dengan para vampir kemarin. Warna muda dan terang milik keluarga Clearwater: abu-abu Leah dan coklat pasir Seth. Abu-abu berbercak hitam milik Embry yang menjadikannya unik, tak ada serigala lain dengan motif serupa. Coklat gelap milik Quil, serupa warna cokelat batangan, yang membuatnya selalu dikatai Sam 'manis'. Warna coklat yang lebih terang milik Jared. Abu-abu gelap mendekati perak milik Paul. Warna gelap, coklat keabuan milik Brady. Hingga warna anak-anak yang muncul belakangan: duet Harry dan Clark Browne dalam warna coklat keabuan yang hanya sedikit lebih terang daripada Brady. Caleb Lahote dengan warna abu-abu bergradasi, gelap di bagian punggungnya namun terang di bagian kaki. Adam White dengan warna paduan coklat keabuan di bagian punggung, menggelap di bagian bawah tubuh. Josh Copper dengan warna tembaga gelap, sesuai namanya. Ben dengan warna tembaga yang lebih terang. Pete dengan warna gading.
"Aku tidak melihat apapun…," kata Jacob kemudian. Apa sesungguhnya yang ingin dikatakan Embry?
"Kau tahu dari mana warna-warna bulu itu berasal?" tanya Embry lagi.
"Billy bilang warna bulu itu merepresentasikan sifat pemiliknya, jiwa serigala di dalamnya… Karakter…"
"Oh, ya, itu menjelaskan mengapa warnamu dan Cole merah, karena kalian berdua serigala emosional yang gegabah dan langsung melompat ke pertempuran pada kesempatan pertama tanpa berpikir terlebih dahulu…," ujar Embry, hampir bergumam, tapi Jacob bisa menangkapnya.
"Hati-hati ucapanmu, Embry…"
"Tenang, Jake. Aku cuma mau bilang, aku tidak percaya dengan asumsi seperti itu. Aku punya asumsi lain. Katakan aku menganut paham materialistis. Asumsi ini juga cuma sekadar asumsi, tentu. Aku tidak bisa bilang aku yakin ini benar."
Kening Jacob berkerut. "Apa maksudmu?"
"Pola warna, Jake," Embry kembali menekankan. "Maksudku, pola warna keluarga."
Jacob masih mengernyit.
"Kau tidak melihatnya? Biar kukatakan. Sam, Paul, Caleb, apa yang menghubungkan mereka? Aku, Leah, Pete, Seth… Harry, Clark, Brady, Quil… Kau, Collin, Jared, Ben One…"
Jacob masih menggeleng. "Aku masih tidak mengerti apapun…"
"Coba kaubayangkan kami secara berkelompok, berdiri bersisian berdasarkan gradasi warna. Apa yang kaulihat?"
Jacob berusaha mengumpulkan konsentrasinya. Membayangkan persis seperti yang dikatakan Embry. Dan mendadak kesadaran itu menghentaknya.
"Oh Tuhan… kau berusaha menghubungkan warna bulu dengan darah!"
Embry tersenyum. "Persis," katanya. "Abu-abu gelap hingga hitam untuk klan Uley. Coklat hingga coklat gelap untuk klan Ateara. Coklat yang lebih terang, semburat warna merah, untuk klan Black."
Tak bisa tidak Jacob tertawa. "Embry, kau lupa, Seth dan Leah memiliki warna yang berbeda. Warna abu-abu Leah membuatnya bisa dikelompokkan ke Uley, sedangkan warna coklat pasir Seth…"
"Kau tahu sistem breeding. Jika dua anjing atau kucing dengan warna bulu berbeda dikawinkan, ada tiga kemungkinan. Mengikuti ayahnya, mengikuti ibunya, atau campuran keduanya. Menurutku itu dikarenakan darah campuran dalam keluarga Clearwater, karenanya bulu mereka berwarna muda…"
Jacob melongo mendengar penuturan Embry. Sepenuhnya tidak percaya. Oke, Embry sahabatnya dan sebagainya. Tapi jelas ia mabuk kalau bisa-bisanya mengemukakan teori seaneh itu. Ia kenal Embry. Mereka sekelas terus dari SD hingga SMU. Oke, Embry memang, berbeda dengannya, sempat lulus SMU, tapi seumur-umur, tidak pernah ada ceritanya yang judulnya Embry jago Biologi. Dia tertidur melulu di kelas dan selalu dapat teguran karena nilai ulangannya takkan lebih dari C.
"Warna bulu muda harusnya datang dari sesuatu, Em…," tunjuknya masam. "Tidak ada ceritanya coklat dan hitam dikawinkan, lantas anaknya mendadak jadi putih. Apa kau mau bilang Seth dan Leah albino?"
"Ya. Di sanalah aku stuck. Aku tidak mengerti sama sekali dengan asal-usul pola warna para Clearwater, tapi memang ada empat kecenderungan warna di sini. Hitam, coklat, coklat kemerahan, dan warna muda."
Jacob kembali menekur. Secara global teori itu memang mengada-ada, tapi ia tidak bisa tidak melihat kemungkinan itu. Pengelompokan warna.
"Kalau begitu, seharusnya warna Brady lebih muda, dong…," ia mengemukakan bantahan yang jelas. "Brady adalah sepupu tingkat kedua Seth! Josh Copper sepupu Brady, kenapa warnanya tembaga?"
"Dari segi darah, Brady lebih dekat ke Quil. Ia tidak punya darah Black ataupun Uley dalam nadinya," Embry masih bersikukuh. "Soal Josh, yeah... mungkin ibunya punya darah Black juga… Kita toh tahu di suku kita, setiap orang punya hubungan darah..."
"Maksudmu warna anak-anak yang coklat keabuan itu, karena mereka memiliki darah campuran?"
"Itu cuma teoriku, Jake…"
Jacob merasa kepalanya pening.
"Oh Tuhan, Embry…. Coba dengar dirimu sendiri. Itu sama sekali tak masuk akal! Aku tahu, kau berusaha menghubungkan dirimu dengan Sam…. Tapi…."
"Kalau aku murni hanya menghubungkan diriku dengan Sam, aku takkan membuat teori seperti ini. Jika aku adiknya, setidaknya aku akan berharap warnaku lebih gelap daripada Paul. Tapi tidak. Aku lebih terang darinya, jadi mungkin aku memang berada dalam cabang yang agak jauh dari galur keluarga Uley. Lebih dekat ke Clearwater, mungkin."
Jacob mengerjap.
"Kau berusaha menjauhkan dirimu dari Sam…."
Lagi-lagi Embry tersenyum masam. "Ya, dan tidak, Jake. Tapi bukan itu yang ingin kusampaikan. Apa yang ingin kukatakan, sebenarnya, adalah mengenai Korra."
"Korra?"
"Kaubilang dia si serigala hitam. Seth dan Cole juga berpikir dia si serigala hitam. Tapi aku tidak. Aku sangat ragu itu Korra. Tidak, menurutku, serigala hitam itu 100% tidak mungkin Korra."
"Apa maksudmu?" picing Jacob curiga.
"Apakah kau benar-benar yakin serigala hitam itu adikmu? Pernahkah kau ragu? Apa instingmu benar-benar menyatakan, tanpa bantahan, bahwa Korra adalah si Hitam?"
Mau tak mau Jacob merasakan kebenaran di balik kata-kata Embry. Serigala hitam adalah Korra adalah kemungkinan yang ditawarkan Collin dan geng gosipnya, bergaung di kepala mereka setiap saat hingga Seth pun percaya…. Tapi tak ada bukti. Tak pernah ada bukti. Ia pernah bertarung bersisian, dua kali, di sisi si Hitam. Auranya, pembawaannya, gesturnya, caranya bergerak dan bersikap…. Anggun, terlalu anggun. Kekuatannya yang mengintimidasi. Gerakannya yang penuh perhitungan, jelas menunjukkan pengalamannya bertahun-tahun, bahkan mungkin lebih…. Dibandingkan Korra, Korra yang sangat emosional, Korra yang sangat kekanak-kanakan…. Korra yang tak bisa menahan dirinya sendiri. Korra yang langsung menghantamnya pada detik ia tahu Collin mendapat masalah….
Apa mereka sungguh orang yang sama?
"Kau sendiri melihat seperti apa rupa si serigala hitam. Dari segi fisik, maksudku. Kau lihat seperti apa kita. Apa ia seperti serigala Quileute? Garis tubuhnya, bulunya, surai ekornya yang panjang…. Mereka kawanan yang berasal dari berbagai suku, Jake. Kita kenal satu serigala betina di suku ini, Leah. Apa ia bahkan serupa dengan Leah? Apa tidak mungkin si Hitam ini adalah serigala asing, seperti si Emas? Dan terutama, warnanya. Korra adalah Black, Jacob. Setidaknya aku berharap ia lebih mirip denganmu atau Collin, dan bukan Sam…."
Ucapan Embry membuat Jacob membelalak, berusaha menangkap mata sahabatnya.
"Embry. Katakan. Ketika kau pertama kali mencetuskan ide ini, apa yang ada di pikiranmu? Apa karena kau berusaha melihat kemiripanmu dengan yang lain, berusaha mencari asa-usulmu, atau karena kau melihat keserupaan yang sangat jelas antara aku dan Collin?"
Embry balas menatap matanya, lama. Lantas ia mendesah. "Ya," katanya. "Aku melihat keserupaan antara kau dan Collin. Sama sekali tak bisa kubantah."
"Itu karena sifat kami…."
"Apa menurutmu sifat Korra sama dengan Sam?" potong Embry cepat.
Apa sifat Korra sama dengan Sam? Jawabannya tidak. Sama sekali tidak.
Tapi….
"Jika memang begitu, Em…. Jika serigala hitam itu bukan Korra, lalu siapa dia? Kau tahu hanya ada dua betina di sana. Si Hitam dan si Putih. Korra bukan si Putih. Korra bukan Alfa mereka. Aku mendengar suara si Alfa. Aku di hutan, mendengar suara Korra bermain dengan Billy di sungai, ketika aku bicara dengan si Putih. Apa maksudmu ada anggota lain mereka yang kita belum ketahui? Korra, serigala keempat, yang belum pernah kita lihat?"
Embry mengendikkan bahu. "Aku tidak tahu, Jake…"
Jacob terhenyak. Menutup mata, berusaha meredam pikiran yang berkecamuk di dadanya.
"Kau berusaha menentang kemungkinan Korra adalah serigala hitam dengan teori yang sangat bisa diperdebatkan, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan…," tunjuknya.
"Ya. Aku tahu," Embry melontarkan kedua tangannya ke udara. "Ini tidak menjawab apapun, dan hanya menyisakan pertanyaan. Karenanya aku bilang, kau bisa sepenuhnya tak percaya. Aku juga tidak. Ini seperti, kau tahu, membuat segalanya makin rumit…."
Jacob mengangguk. Membuat segalanya makin rumit, itu benar.
Ingatan mengenai hari kemarin, ketika ia dan Collin mendengar si Alfa Putih di kepala mereka, meminta pertanggungjawaban Collin karena menyerang Noah, kembali bermain di kepalanya.
"Bagaimana jika aku tidak memiliki anak buah bernama Korra Black?"
Alfa Putih menyangkal keanggotaan Korra.
Tapi ia yakin Korra adalah serigala. Korra sudah berubah. Malam itu, Korra menyelamatkannya. Menghisap racunnya…. Untuk kedua kali, malah, bahkan mungkin juga untuk ketiga kalinya. Dan Korra di rumahnya, menjatuhkan dua serigala tepat di depan matanya. Menekannya dan mengancam….
"Tapi, ada satu hal lain," Embry memotong rentetan kebingungan di kepalanya. "Tentang si Putih. Kau tahu, sepanjang sejarah suku Quileute, hanya ada satu serigala putih yang kita tahu."
"Ya," Jacob mengangguk, meski kata ini begitu berat keluar dari lisannya. "Kierra…."
"Lalu?" tanya Embry.
"Lalu apa?"
"Apa dia Kierra?"
Jacob tak langsung menjawab. Dipejamkannya matanya selagi seluruh memori itu berpusing di kepalanya.
Ucapan Old Quil di acara api unggun.
"… Roh Kierra mengembara, dan ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan moyangnya, Taha Aki. Ia mengikat diri dengan makhluk indah pertama yang ia temukan: seekor serigala betina. Pengikatan itu mengubah si serigala selamanya. Gen Pria Dingin di tubuhnya bereaksi terhadap gen si serigala. Warna bulunya menjadi putih, keperakan di bawah sinar rembulan…."
Ucapan aneh si Putih di tepi sungai, pada pertemuan pertama mereka.
"Sayangnya Anda tidak bisa mengusir kami, Alfa. Kami memiliki ikatan dengan Quileute. Kami sama berhak untuk tinggal di sini seperti kawanan Anda."
"Kau sungguh-sungguh berpikir dia Kierra?" bisik Jacob. "Kau tahu, serigala putih mungkin bukan hanya Kierra di dunia ini. Bisa jadi dia berasal dari suku Arctic…. Serigala kutub…."
"Tapi kau sendiri yang bilang, dia penakluk. Kierra juga penakluk," tunjuk Embry. "Dan dia punya alasan jika ingin ke sini. Dia ingin membalas dendam."
"Tapi si Putih tidak datang untuk balas dendam, Em! Dia bisa melakukan itu, tapi tidak dia lakukan. Dia menolong kita!"
"Itu dia hal yang tak kumengerti," Embry mendesah lelah. "Tapi aneh sekali tiba-tiba Old Quil menceritakan legenda itu, padahal legenda itu rahasia besar yang selalu ditutup-tutupi. Suku ini jelas menganggapnya aib, sejarah hitam, yang seharusnya dihapus. Tapi mengapa ia menceritakannya? Dan lebih lagi, mengapa ia menceritakannya di depan Korra? Jelas-jelas saat itu, tidak ada yang tahu Korra serigala atau bukan. Ya, ia ada di daftar Sam. Tapi tidak ada yang menduga ia sudah berubah."
"Atau…," mata Jacob membelalak nanar. "Para Tetua sudah memprediksi ini. Perubahan Korra."
Sikap Sam yang aneh…. Paul, mendadak berkeliling dunia…. Sikap Korra yang aneh….
"Serigala lebih parah. Aku menyaksikannya langsung. Serigala abu-abu. Menyerang Mom. Di punggung. Lukanya memanjang dari bahu kanan hingga pinggang kiri."
"Karenanya aku benci serigala… Mereka pembawa malapetaka. Di manapun aku berada."
"Hampir di setiap aku berpindah. Guatemala, Thailand, Jepang, Indonesia, India, Nepal, Mesir... Mereka ada di mana-mana… Serigala besar. Buas. Sendiri atau berkelompok. Sebagian mengintai."
"Aku pernah cerita padamu waktu di perkemahan, ingat? Soal ke mana-mana aku selalu diikuti, atau tanpa sengaja bertemu hewan buas? Dan waktu di Nepal, aku hampir tewas karena kejadian yang disebabkan dua ekor serigala."
Mungkinkah … selama ini Paul tahu? Sam tahu? Mereka menguntit Korra diam-diam….
Dan juga….
Tidak, tidak. Itu sama saja ia menganggap adanya konspirasi. Tidak hanya kawanan Sam, tapi juga Tetua. Ayahnya.
"Apa dari awal para Tetua sudah memprediksi Korra dimenangkan oleh kawanan lain?"
Embry hanya menggeleng."Tidak tahu, Jake. Aku sangat-sangat benci mengatakan ini, tapi aku tidak tahu sama sekali."
Kierra yang telah menaklukkan Korra….
Adiknya, berada di tangan serigala terkejam sepanjang sejarah suku Quileute.
Dan Sam ... apakah ia juga sudah ditaklukkan?
Itukah arti ucapan Paul tentang 'bersama Sam'? Apakah karena Sam sudah ditaklukkan, karenanya kawanannya pun tunduk pada Kierra? Itukah yang membuat ia tak bisa mendengar Sam lagi?
Jika begitu, apa yang terjadi pada Seth? Ia sudah memberikan Seth pada Korra, memastikan kesetiaan Seth. Seth sudah dilukai serigala emas. Apakah benar Seth juga sudah ditaklukkan? Seperti Noah?
Sam, Seth, Noah, dan … Korra.
Bagaimana bisa orang-orang yang selama ini paling setia pada suku, Sam dan Seth, akhirnya berpaling? Menyeberang? Apakah ini saatnya, ketika kegelapan akhirnya menelan seluruh Quileute? Kegelapan tanpa akhir….
Bagaimana cara untuk mendapatkan mereka kembali, jika memang begitu kejadiannya?
Kembali ingatan mengenai ucapan Collin di jurang melayang dalam pikirannya.
"Kalau begitu ikat Korra pada suku. Dengan demikian kita juga mendapatkan Seth."
Karena ia tidak bisa memanipulasi Sumpah, atau tepatnya tidak tahu semantika yang tepat untuk mengikat Korra, hanya ada dua cara untuk mengembalikan Korra pada suku sekarang. Tiga, tepatnya.
Satu, bekerjasama dengan sang Alfa Putih.
Dua, menyerang si Alfa Putih untuk memperebutkan Korra. Ia bahkan tidak yakin tingkat keberhasilannya, atau tingkat kemenangannya. Amat sangat mungkin malah ia yang jatuh, dikalahkan dan menjadi budak si Putih.
Atau…
Tiga, menyerah…. Tunduk, takluk padanya.
Ia yakin sang Alfa Putih hanya penakluk, bukan penjajah dalam arti pengeksploitasi. Setelah ditaklukkan dan mengucapkan sumpah setia, mungkin ia akan kembali menduduki posisi Alfa. Korra, Seth, Sam, Noah akan kembali ke pangkuannya. Kawanan bisa kembali utuh. Mereka akan tetap melanjutkan hidup seperti biasa, namun dalam status sebagai kawanan taklukan, yang tetap memiliki otoritas. Seperti negara bagian yang memiliki otonomi sendiri, kedaulatan sendiri di bawah negara persemakmuran. Lebih lagi, mereka akan tergabung ke dalam suatu aliansi yang maha-besar, benteng kekuatan yang dapat melindungi mereka dari ancaman Volturi. Ia bahkan tak perlu memikirkan rencana tolol Sam soal batalion werewolf, karena sudah ada pengganti yang jauh lebih berpengalaman, jauh lebih kuat. Si Putih bilang seluruh kawanan taklukan bergerak seperti satu kesatuan, jika satu diserang, yang lainnya akan berjuang untuk melawan penyerang itu.
Mungkinkah … ia bisa melakukan itu?
Menjadi Alfa bawahan? Membiarkan kawanannya menjadi kawanan taklukan?
Kehilangan kemerdekaan? Meresikokan sukunya jatuh ke dalam kegelapan tak berujung?
Akankah ia menjual kemerdekaan sukunya demi hal itu: perlindungan, dan … Korra?
.
.
catatan:
chapter ini sebenernya muncul berdasarkan pertanyaan-pertanyaan aku sendiri waktu baca silsilah tiga keluarga di ensiklopedi Twilight (boleh download hahaha...) Pertanyaan standar nan bodoh: gimana bisa kedudukan Sam setinggi itu? tentu saja dia cucu buyutnya Levi Uley dan yang pertama berubah, tapi aku masih mikir kedudukan Jared lebih tinggi. Ya, tentu aja di alternate universe yang ini, kedudukan Jared jadi lebih tinggi daripada Sam, soalnya pola sukunya udah ga murni patriarkal lagi... wakakaka... semua berubah sejak negara api menyerang... ato tepatnya setelah Leah berubah, dan Korra berubah.
maaf untuk penggemar Sam. Aku juga penggemar dia kok, menurut aku Sam itu tipe pemimpin yang diberi mandat oleh seluruh anak buahnya, bukan cuma karena darahnya (lagi2 itu di AU ini)
oh, sekalian deh aku mau ngejawab pertanyaan di review kemaren... makasih untuk reviewnya, aku seneeeeenggg banget...
SelfQuill: ada apa sebenernya? wah, itu sih harus baca... (jawaban kejam!) inti cerita ini sebenernya sederhana: soal kekuasaan. maaf atas jarangnya romance, aku sama sekali ga ahli bikin suasana yang ngaduk2 emosi... hahaha...
Rhie: thanx kalo emg ceritaku bikin orang pd penasaran... jujur aku juga penasaran hehehe...
Winey: wowowoooo... review yg panjang... makasih berat... soal serigala hitam, ya, yang satu Sam. Yang satunya lagi itulah misterinya. semua punya teori soal siapa si hitam. Seth dan Collin nganggap itu Korra. Collin ngegosip di kepala semua orang dan semua orang mulai menganggap (meyakini) kalo itu Korra. Tapi embry punya teori sendiri. Siapa yang bener? yah... setiap teori pastinya punya kelemahan. logis nggaknya emg terbatas sama apa yg mereka tau. soalnya emg g ada yg tau seluruhnya, kan?
Dheadhea: thanx... mmm... aku ga bisa bilang kapan aku update, aku usahain 3 hr sekali tp g yakin juga, maafkan hamba m(-_-)m
asyik... syahrini...
Rhie: wow... review 2 x... thanx
collin n korra, sampe sekarang hubungan mereka cuma sahabat. collin jelas naksir korra abis2an, tp ud nyerah krn dy tau seth sm korra, tp gmn perkembangannya? well... maaf krn kyny aku ga akan bikin sesuatu yang manis. yg jelas g ada yg ngimprint korra. korra jg g bs ngeimprint krn dy udah terikat total sm alfanya, dan kesetiaan tertingginya sama si alfa. krn (lagi2 di AU ini) kesetiaan pd imprint bs ngelebihin kesetiaan pd suku n kawanan, korra ga bs ngeimprint. knp korra bs terikat begitu, nah itu hrus nunggu bbrp chap lagi d... (kejam)
maaf kalo ceritanya makin geje n ngeselin... bersabarlah padaku...
aku masih nunggu review, plis plis pliiiiiisssss...
luv u all...
