THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Depressing, melancholic inner-thought, drabbles, Rated M... Read on your own guard…
.
Alerts: no matter how much I would love it, unfortunately, it's NOT shounen-ai story (sorry)
.
.
Enampuluh Tiga - Phallanx (Styx -5-)
Monday, April 08, 2013
2:10 PM
.
.
Perang memakan korban, itu sudah jelas. Luka-luka yang diderita kawanan, termasuk yang diderita Alfa mereka, adalah satu dari sekian derita yang harus disandang suku setelah pertempuran Sabtu dini hari di jurang itu. Efek samping dari perang itu jauh lebih parah. Tidak hanya kekisruhan yang tampak di permukaan, di dalam, kawanan tidak hanya bagai anak ayam kehilangan induk, tapi juga dicekam kebingungan akan apa yang sebenarnya terjadi, serta kengerian akan masa depan yang menanti.
Setelah mengalami gagal jantung dan terpaksa rehat, Jacob belum juga kembali ke kawanan. Tiadanya Seth maupun Collin membuat kepemimpinan sementara diambil alih Embry, dengan Brady sebagai pejabat Beta sementara dan Quil menggantikan posisi Embry. Kawanan agak khawatir dengan kondisi ini, tapi tak ada hal lain yang bisa dilakukan, karena Quil jelas-jelas menolak jadi Alfa. Semua orang berharap pergantian ini hanya sementara, bagaimanapun Jacob sudah ditangani orang yang tepat dan masa cuti total beberapa hari akan baik bagi pemulihannya, begitu kata Adam. Tapi entah mengapa, mereka terus dibayangi ketakutan. Jika dulu awalnya tidak ada yang benar-benar menanggapi ramalan Alice dengan serius selain Jacob sendiri, setelah beberapa kali Jacob di ambang kematian, perlahan kengerian itu merebak di seantero kawanan, hingga taraf yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Entah apa yang akhirnya akan merenggut nyawa Sang Alfa, yang jelas kematiannya hampir pasti. Akan tiba masa ketika pemimpin mereka pergi.
Embry berupaya sekuat tenaga untuk membangkitkan moral kawanan. Setidaknya kawanan yang sudah bisa kembali bertugas. Brady, Ben, Quil, dan Josh. Kawanan yang aktif kini hanya lima orang ini, karena Adam dan Caleb tetap tidak bisa meninggalkan posnya. Clark, Pete, dan Harry masih belum sadar hingga sekarang. Dan Jacob terus-terusan berada dalam situasi kritis karena sebentar-sebentar akan muncul salah satu anak buahnya, entah siapa, mengajaknya bicara topik-topik berat dan ia kembali jatuh. Atau tidak begitu pun, seperti biasa pikirannya yang kelewat aktif membuat emosinya kacau, dan akhirnya mengacaukan semua prosedur pemulihan yang diupayakan Adam dan Caleb. Hingga akhirnya Adam menegaskan tidak ada seorang pun selain dirinya dan Caleb yang boleh menjenguk Jacob. Bahkan tidak juga Sam, yang belakangan, jelas sekali, menimbulkan semacam reaksi aneh di diri Jacob tiap kali sang Wakil Ketua Dewan Suku itu menjenguk.
Ketakutan akan masa depan sang Alfa, atau masa depan La Push, masih tidak berada di puncak tumpukan mimpi buruk yang mencengkeram kawanan. Setidaknya di benak sebagian orang. Tentu saja, ada masalah lain yang jelas di depan mata. Kemungkinan mereka akan kehilangan satu anggota, yang makin pasti dalam setiap detik waktu berjalan. Kemungkinan mereka takkan pernah lagi melihat sang Beta, Collin Littlesea.
Anggota geng Gossip Guys, atau minimal yang tersisa dari geng itu, adalah yang paling kacau semenjak kejadian Collin. Brady hampir seperti mayat hidup. Setiap kali berubah, di kepalanya hanya muncul potongan-potongan adegan detik-detik terakhir menjelang kematian Collin, beserta rekaan alternatif-alternatif kejadian lain yang seharusnya terjadi. Kejadian yang bisa mengubah segalanya. Butterfly Effect.
Bagaimana jika satu, satu saja, kejadian dari rentetan ketidakberuntungan itu tidak terjadi? Bagaimana jika hari itu Cole tidak mengejar Korra? Bagaimana jika hari itu Cole tidak berkelahi dengan Seth? Bagaimana jika hari itu Seth membalas, dan tidak membiarkan Cole menjadikannya bubur? Bagaimana jika hari itu Cole tidak menemukan liang kelinci? Bagaimana jika hari itu Cole tidak bertemu dengan Noah? Bagaimana jika hari itu Cole tidak ke rumah Jacob? Bagaimana jika hari itu mereka tidak bicara dengan si Alfa Putih? Bagaimana jika hari itu Jacob tidak memerintahkan penyerangan? Bagaimana jika hari itu Jacob sendiri yang memimpin penyerangan, dan bukan Collin? Bagaimana jika hari itu kawanan tidak perlu dibagi tiga? Bagaimana jika alih-alih memutuskan taktik bunuh diri itu, Collin justru berlari ke arah yang sebaliknya, berusaha membawa kawanannya keluar dari dasar jurang?
Satu saja, jika satu saja berubah, jika satu saja berbeda, apakah hasilnya takkan seperti ini? Apakah jika begitu, kini Jacob masih akan tertawa-tawa, atau bertengkar untuk urusan konyol dengan Collin seperti biasa? Mengomeli kawanan dan main perintah sana-sini dengan sikapnya yang menyebalkan, tapi tetap penuh semangat? Apakah Clark dan Harry masih akan bersikap sinis, sesinis yang mereka bisa, tapi tak kurang suatu apa? Apakah Pete akan seperti biasa, ribut menggosip bersama Ben? Jika satu saja kejadian tidak terjadi, jika satu saja keputusan berbeda diambil, apakah semuanya akan tetap normal?
Ia merindukan itu. Sungguh. Keusilan Pete dan Ben. Kekonyolan Embry dan Quil. Jacob yang main perintah. Collin yang menggosip penuh semangat. Jacob dan Collin, yang ujung-ujungnya selalu ribut sendiri bagai anjing dan kucing jika berada dalam ruangan yang sama, bertengkar atau saling komplain tentang satu sama lain. Clark dan Harry yang memandang jijik kelakuan mereka berdua. Caleb dan Adam yang mengawasi dari kejauhan, berusaha keras tidak terlibat. Dan tentu saja Seth, dengan sikap sok-lelahnya yang khas melihat sikap mereka yang kekanak-kanakan. Dan mungkin Embry akan berusaha melerai siapapun yang bertengkar, dan sebagai balasannya malah mendapat hardikan dari kedua belah pihak.
Situasi biasa. Situasi tenang. Ribut, memang, tapi itu adalah definisi dari 'tenang'. Normal.
Ya, pastinya itu jauh lebih baik dari situasi mencekam yang merebak belakangan.
Bukan berarti tak ada yang melakukan sesuatu seputar kasus Collin. Brady sudah dua kali dipanggil ke hadapan Dewan Suku, dimintai keterangan. Sam jelas memerintahkan Embry dan kawanan untuk melakukan pencarian. Brady juga turut serta, mencari dengan panik. Tapi hingga kini tak ada hasil yang jelas.
Dan entah mengapa, Brady merasa, ada sesuatu yang sepenuhnya aneh. Sangat. Sam memerintahkan pencarian, tapi pencarian di jurang hanya boleh dilakukan siang hari secara berkelompok. Berbahaya, demikian menurutnya. Siapapun tahu vampir tidak bisa mati dan kapan saja bisa bangkit dari timbunan itu, menyerang. Ditambah lagi, ia memberlakukan batasan bagi anggota yang belum pulih benar, seperti Brady dan Ben. Dewan Suku tak bisa meresikokan kawanan diserang lagi, atau luka yang mereka dapat, yang belum sembuh benar, kembali terbuka, karena mungkin kerugian yang harus mereka tanggung kali ini lebih besar. Tiadanya Alfa dan kemungkinan kematian Collin sudah membuat segalanya parah, tidak perlu ditambah kematian anggota yang tersisa.
Tapi seharusnya Sam tahu, jika pencarian hanya separuh-separuh seperti ini, kemungkinan Collin selamat justru sangat minim. Sekuat apapun serigala, bagaimanapun mereka dianggap abadi, serigala tetap bisa lemah dan mati. Jantung mereka berdetak dan mereka butuh bernapas, tidak seperti vampir. Jika luka yang diderita terlalu parah, mereka bisa mati kehabisan darah, terlebih jika luka itu adalah luka vital yang tidak bisa dikoreksi sistem penyembuhan mereka. Artinya, Collin bisa saja masih hidup sesudah serangan, tapi detik demi detik berlalu, ia bisa makin lemah dan mati kapan saja.
Kapan saja.
.
.
Kehebohan terjadi ketika keputusan itu diambil. Pada hari ketiga sesudah perang dini hari itu di jurang, Senin itu, para Tetua memutuskan untuk menghentikan pencarian tertutup oleh kawanan dan membuka peristiwa kematian Collin ke publik. Dan kabar itu harus disampaikan pada kedua orangtua Collin: Kevin dan Connie Littlesea.
Billy memilih tidak menceritakan seluruh kebenaran pada adiknya sendiri, sehingga versi amanlah yang disebarkan. Brady yang diminta bersaksi. Siapapun yang tahu hubungan di antara mereka, entah yang sebenarnya maupun versi lain yang dikembangkan gosip-gosip tak bertanggungjawab, percaya atau terpaksa percaya bahwa kesaksian Brady pasti bisa dipertanggungjawabkan. Jadi muncullah cerita itu: mereka berdua mengendap-endap keluar untuk main kebut-kebutan sepeda motor, lalu terjadi gempa bumi. Collin jatuh ke jurang dan kemungkinan tertimbun longsor. Cerita yang buruk, memang, dan tampak sama sekali tidak hormat, terutama setelah apa yang Cole lakukan di detik-detik terakhir hidupnya. Tapi tidak ada ide lain yang lebih aman daripada itu.
Dengan mundurnya pencarian oleh kawanan, tim resmi yang dipimpin Charlie mengambil alih. Tentunya ini hanya dilakukan sebagai topeng, untuk membodohi masyarakat. Charlie sudah tahu dari awal, Collin tidak mungkin bisa ditemukan. Tidak mungkin bisa selamat. Jika para serigala saja tidak bisa menemukannya, mana mungkin manusia, walau dengan bantuan anjing, bisa melakukannya?
Anak-anak di sekolah berbisik-bisik mengenai versi lainnya di balik punggung Brady sepanjang waktu, tidak cuma satu, tapi banyak, dan tak ada satu pun yang baik. Tapi Brady berusaha menulikan telinga. Semenjak ia dinilai sembuh, ia meninggalkan posnya di posko perawatan, maksudnya rumah sakit khusus werewolf di kediaman Cullen, dan menerima tugas untuk datang ke sekolah, pada hari Senin. Seseorang harus menyebarkan berita itu walau bagaimanapun juga. Dan karena hanya Brady yang kondisinya cukup baik untuk kembali ke sekolah, setelah Ben kembali rubuh setelah memaksakan diri melakukan pencarian selama 32 jam non-stop, hanya ia yang bisa melakukannya.
Tentu saja penerimaan orang luar terhadap berita itu tak cukup baik. Dua hari ini kedatangannya di sekolah selalu berbuntut tatapan sinis. Meski sejauh ini tak ada yang secara frontal mengkonfrontasinya, tapi ia bisa merasakan: seluruh kesalahan menyangkut Collin ditimpakan padanya.
Ia mendengar bisik-bisik itu langsung, Selasa itu, sehari setelah ia kembali ke sekolah. Sekelompok anak di kafetaria menyalahkannya atas alasan bodoh kenakalan remaja yang mereka perbuat. Itu masih bagus, karena artinya mereka percaya alasan itu. Tapi kemudian mereka mulai memunculkan kemungkinan lain: Collin tentunya teler dalam pengaruh alkohol atau narkoba ketika peristiwa itu terjadi. Sungguh ia ingin melompat menerjang mereka, agar mereka berhenti menggosip yang buruk-buruk soal almarhum sahabatnya. Tapi disadarinya itu gosip yang wajar, itu hanya kepanjangan dari gosip yang selama ini beredar mengenai para anggota Rez Boys. Tak perlu ia memikirkan gosip sampah semacam itu. Brady sudah hendak menyingkir ketika telinga sensitifnya mendengar kalimat lain.
"Katanya Brady, anak senior, bersama Collin waktu itu?" ia mendengar seorang cowok bicara.
"Brady Fuller? Bukannya itu sahabat Collin?"
"Taruhan, Man... Si Brady ini pasti ada di balik kematian Collin. Katanya dia yang mengajak Collin nge-trek di jalanan curam itu kan? Sebelum ia terlontar ke jurang karena ada gempa bumi?"
"Itu cuma alasan Brady. Kalau dia sampai mengemukakan alasan yang parah dan merugikan dirinya begitu, menurutku alasan sebenarnya pasti lebih parah."
"Lebih parah bagaimana?"
"Kau tahu belakangan di antara mereka berdua ada cewek baru, kan?"
"Ya. Korra Black, kalau tak salah."
"Nah, bagaimana kalau mereka berdua berebut gadis ini?"
"Maksudmu Brady berusaha menyingkirkan Collin untuk mendapatkan Korra?"
"Serius, Man... Masa iya Brady mau melakukan hal sekeji itu? Apa kau tidak pernah lihat Brady? Sumpah, dia itu kebalikannya Collin yang emosional itu. Tidak ada potongannya dia akan melakukan kejahatan pidana. Apalagi terhadap Collin. Mereka sahabat baik, kan?"
"Entahlah, Man... Yang namanya cemburu bisa membuat siapapun gelap mata."
"Atau menurutmu, benar tidak yang dikatakan Roxanne Chamberlain kemarin? Dia kan mantan Brady, dan dia sekelas dengan Collin dan Brady di pelajaran Kimia. Menurutnya, Brady mungkin merasa cemburu, karena ... yah, kau tahu, gosipnya kan mereka pacaran..."
"Brady dan Korra?"
"Astaga. Masa kau tak tahu? Ke mana saja kau selama ini? Tentu saja Brady dan Collin."
"Ya. Aku pernah dengar itu…"
"Dan belakangan, aku dengar gosip, Collin menempel terus pada Korra."
"Wah, mau dikutak-katik bagaimana juga, artinya memang Brady mencurigakan, ya kan?"
"Ya. Bisa jadi memang ia sejak awal berencana membunuh Collin."
"Ya. Memang harus diakui kesaksiannya aneh. Kematian Cole mungkin bukan kecelakaan biasa, bisa jadi itu disengaja."
"Wah... Itu menjelaskan mengapa ia tidak langsung memanggil bala bantuan setelah gempa bumi terjadi, kalau begitu. Padahal jelas-jelas ia menyaksikan langsung Collin jatuh. Padahal kalau Collin langsung ditolong, bisa jadi ia selamat kan?"
"Ya. Pencarian baru dilakukan Senin, padahal kejadiannya Sabtu. Bahkan jika mereka menemukan Collin, mereka hanya akan menemukan mayat. Taruhan deh, besok juga mereka menyerah."
Brady tak berkehendak lagi mendengar apa kelanjutannya. Tanpa banyak bicara ia meletakkan kembali roti yang tadinya ingin ia beli, langsung meninggalkan tempat itu. Tapi pergi rupanya tidak menyelesaikan masalah. Sepanjang koridor, terus ia mendengar kata-kata umpatan serupa. Tiada yang berani melontarkannya di depan wajahnya langsung, tentu. Tapi itu lebih buruk.
"Huh! Beraninya si Brady itu menampakkan batang hidungnya di sini..."
"Hei, kenapa bocah itu tidak ditahan? Sudah jelas ia yang membunuh Collin, kan?"
"Mungkin jadi anggota Rez Boys punya keuntungan tersendiri. Pastinya ia termasuk mereka yang kebal hukum..."
"Menjijikkan... Tidak kuduga di balik sikap lembutnya, ia bisa melakukan hal sekeji itu..."
Sekali itu ia sungguh mengutuk indra pendengaran sensitifnya.
Brady mendesah berat, lelah dengan semua stigma negatif yang ditujukan padanya seharian ini. Sejak berita tentang Collin menyebar, praktis ia terkucil di pojok, sendirian. Di setiap kelas, bahkan guru-guru pun seakan mengabaikannya, mencoba berpura-pura ia tak ada. Sungguh, itu hukuman yang lebih buruk dari apapun. Rasanya, ia seakan menerima hukuman pengucilan, pembuangan.
Meski yah, kini ia bisa menerima apapun. Bahkan jika memang semua orang berkehendak menuntutnya ke penjara dan hakim memutuskan hukuman mati, serta tak ada yang bisa dilakukan Dewan Suku untuk membelanya, ia akan menerima. Toh batinnya sudah tumpul. Ia sudah tidak bisa merasakan apapun lagi.
Ia mayat hidup sekarang.
.
Gosip yang beredar tak bertambah baik, malah kian buruk pada hari ketiga ia sekolah. Saking buruknya hingga ia malas beranjak dari kursi begitu jam pelajaran kedua berakhir dan waktu istirahat masuk. Ketika jam berikutnya datang, dengan gontai ia melangkah ke kelas berikutnya, berusaha menulikan telinga, walau gagal, atas apapun gosip, tudingan, serta bisik-bisik yang diarahkan padanya.
Bahkan tanpa gossip pun, ini sudah hari yang buruk. Hari ini, pencarian resmi tim Charlie, yang memang sejak awal juga cuma formalitas, dihentikan. Ini sama saja hari kematian Collin. Ini sama saja hari pemakaman sahabatnya.
Dan juga hari kematian Brady. Kematian jiwanya.
Dengan lelah disurukkannya wajahnya di meja, berusaha berkonsentrasi pada satu-satunya bayangan yang bisa menabahkan hatinya. Orang-orang ini tak tahu apapun, demikian ia mencoba menghibur diri. Apapun hal buruk yang mereka katakan takkan melukainya. Tidak karena orang-orang ini hampir takkan bersentuhan lagi dengannya di dunia nyata.
Ya, dunia nyata baginya adalah kawanan. Dunia mistis Quileute yang disaputi rahasia. Bukan mereka. Bukan masyarakat awam La Push. Bukan topeng ini.
Ya. Ini hanya topeng. Sandiwara. Dan apa pentingnya ia sakit hati untuk sebuah sandiwara? Ia aktor. Biar saja mereka menghujatnya, karena ia tahu di sisi sana, ia patut mendapat pujian. Ia toh hanya menjalankan bagiannya. Skenario yang dipaksakan, tapi penting untuk menjaga sesuatu yang lebih besar.
Benar. Semua hanya sandiwara. Sakit ini bisa ia tanggung.
Ia masih berusaha mengulang kalimat itu bagai mantra, ketika inderanya menangkap sesuatu melayang ke arah kepalanya.
Serta merta Brady menggeser tubuhnya ke sisi, menghindar. Ia tak perlu mengangkat kepalanya untuk tahu apa yang diarahkan padanya tadi. Bagus, sekarang bukan cuma ia menjadi sasaran hujatan dan gosip tak bertanggung jawab, kekerasan verbal, tapi juga sasaran bully. Sudah jelas seseorang yang membencinya, mungkin pecinta fanatik Collin yang selama ini diam-diam menginginkannya enyah dari sisi Collin, makin meradang mendengar berita kematian Collin, dan memutuskan melampiaskannya secara fisik. Kecurigaannya terbukti ketika tak hanya sekali itu, tapi berkali-kali sesuatu terlontar ke arahnya. Hingga akhirnya Brady berhenti bereaksi dan membiarkan saja benda itu mengenai tubuhnya.
Sesuatu yang kecil dan bertepian tajam mengenai punggungnya, membuat Brady kembali mendesah. Berusaha menekan frustasinya ke level terendah dan memilih tidak peduli. Ini cuma dilempari bola kertas. Atau sampah. Apapun. Tidak ada apa-apanya. Yang menunggu setelah ini mungkin akan lebih buruk.
Ia tahu selama ini yang berani mem-bully mereka hanya geng Noah. Kini setelah Collin tiada dan ia disalahkan atas kematian Collin, atau minimal keterlambatan penyelamatannya, bukan tak mungkin seisi sekolah akan merasa punya hak untuk menerornya.
Ya. Bisa jadi seluruh skema bully akan terarah padanya.
Bagaimanapun takkan ada apapun skema bully remaja yang akan menyakitinya, tentu, dan sebentar lagi juga ujian akhir sehingga ia bisa segera hengkang dari tempat itu. Tapi tetap saja Brady harus menanggung beban moral. Semua anak satu sekolah itu adalah bagian dari satu suku, walau bagaimanapun, dan jika citra baik dirinya terhapus, mungkin malah citra buruk itu akan terus melekat pada dirinya seterusnya.
Sekali ini Brady bersyukur menjadi anggota kawanan. Bagaimanapun masih ada yang tahu kejadian sebenarnya dan ia harap masih percaya padanya. Mengenai yang lain, apapun pandangan buruk mereka padanya, toh itu tak terlalu penting. Dan lagi, siapa tahu, lepas SMA, atau mungkin nanti setelah seluruh urusan peperangan selesai, ia bisa segera enyah dari tempat ini.
Ya, La Push sekarang jelas bukan tempat pilihan nomor satu untuk meneruskan hidup. Bagaimanapun tempat itu terlalu penuh bau dan jejak Collin. Pastinya ada tempat lain di dunia ini yang bisa membuatnya melupakan Cole.
Ia tertawa sendiri atas kemungkinan itu. Adakah tempat, atau sesuatu, apapun, di dunia ini yang bisa membuatnya melupakan sahabatnya?
Ia mengutuk hari itu. Ketika ia membiarkan Cole melangkah dalam rencana bunuh dirinya. Seharusnya ia bisa menghentikan Cole. Atau paling tidak ia mendampingi Cole. Apapun yang dihadapi Cole di dalam lorong kelinci itu, seharusnya mereka hadapi bersama. Tidak pun, seharusnya ia bisa segera menyusul Cole saat itu juga. Ia sudah melontarkan diri dalam pertempuran bunuh dirinya sendiri, tapi brengsek si Josh, mendadak muncul dan melepaskannya dari cengkeraman vampir yang tengah mengeringkan tubuhnya. Tak ingat lagi ia apa yang terjadi setelah dilihatnya bayangan seekor serigala meluncur ke arahnya di ujung mata sekaratnya.
Bodohnya ia tersenyum saat itu. Bodohnya ia merasakan seutas kelegaan melihat bayangan itu. Bodohnya ia mengira itu Collin, roh Collin, menjemputnya. Bodohnya ia mengira dirinya sudah menyeberang. Bodohnya, karena kenyataannya jauh dari itu.
Karena ketika akhirnya ia membuka mata, ia sadari dirinya berada di tempat itu lagi. Sofa di rumah Cullen, dengan Adam berkata lembut padanya, bahwa ia selamat. Bersyukur bahwa ia masih hidup. Ia tersenyum lemah, walau hatinya mengutuk. Apa yang selamat? Ia sudah mati. Astaga, ini bahkan lebih buruk dari kematian.
Bayangan yang malam itu mendatanginya ternyata bukan Collin, apalagi rohnya. Dan lebih buruk lagi, itu Josh. Josh, sepupunya sekaligus musuh utamanya. Perusak kebahagiaannya.
Heran sungguh ia, apa Josh takkan berhenti mengganggunya hingga ia membusuk di neraka? Si brengsek itu pernah menghancurkannya dengan menggoda Roxanne, padahal gadis itu sempat dipikirnya sebagai cinta matinya, gadis yang kepadanya ia serahkan tak hanya keperjakaannya, tapi juga ia titipkan hatinya dan harapan untuk hidup bersama di masa depan. Dan kini, ketika seharusnya ia bisa menyusul Collin, Josh memutus kemungkinan itu? Brady kadang curiga, jika ia mati dan masuk surga, jangan-jangan Josh akan sengaja mengipasi api neraka agar bertiup ke arahnya.
Selama ini diam-diam ia sudah menjanjikan kesetiaannya pada Collin. Akan bersamanya, mendampinginya, mendukungnya, selamanya. Sebagai saudara, sebagai rekan, sebagai sahabat. Tidak terpisahkan. Tapi apa sekarang? Collin pergi ke alam lain dan ia tidak? Astaga. Kesetiaan macam apa itu? Takkan heran jika di alam sana Collin mengutuknya.
Bisakah ia memperbaiki ini?
Ia pernah membaca bahwa di zaman dulu, beberapa suku purba pernah mempraktikkan penguburan seorang raja atau jenderal secara besar-besaran, dengan cara yang mungkin bisa dibilang barbar. Kuburan yang menjadi rumah terakhirnya adalah semacam gua. Tubuh sang raja dikebumikan dalam sebuah peti mati bertakhtakan hiasan. Berbagai benda berharga ikut dikubur bersamanya. Dan tentu saja, ikut mengiringi, para pembantu dan orang-orang yang bersumpah setia padanya. Dikubur hidup-hidup bersama junjungan mereka.
Collin selalu bergidik tiap ia menyebutkan kisah seperti itu. Atau kisah 'bela' lain yang ada di seluruh dunia. Istri yang ikut membakar diri bersama mayat suaminya. Para pelayan yang menikam perutnya atau tenggorokannya ketika junjungannya terbunuh. Para bushi yang ikut seppuku ketika jenderalnya mati. Memang, itu mengerikan jika memandangnya sebagai suatu keharusan. Tapi kini, Brady tidak tahu lagi.
Ia mulai mempertimbangkan alasan-alasan mereka. Mungkin sebagian latar belakang yang mendasari praktik kejam itu. Tidak, itu tidak kejam jika melihat dari sudut pandang berbeda. Semua akhirnya kembali pada urusan perspektif.
Karena kini, jika boleh memilih, ia akan lebih suka menghabisi dirinya sendiri. Collin mati artinya tak ada yang tersisa. Semua sudah hancur. Apa yang patut ia ikuti, dan apa yang patut ia lindungi, apa arti keberadaannya kini, ketika jenderalnya sudah tak lagi ada di bumi yang ia pijak? Benar, baginya, bukan Sam atau Jacob-lah jenderalnya, tapi Collin. Mereka sudah melewati seluruh usia bersama, hampir tak terpisahkan bahkan sejak mereka belum bisa bicara. Dulu sewaktu kecil, di luar waktu kumpulnya dengan keluarganya sendiri, bermain dengan para sepupunya yang usianya lebih tua, Collin praktis menghabiskan seluruh waktunya dengan Brady. Tidak hanya di sekolah dan di luar sekolah, bahkan takdir pun seakan mengikat mereka, sejak mereka berubah bersamaan enam tahun silam.
Jadi apa yang bisa ia harapkan kini? Setelah Collin pergi? Akan jadi apa ia? Selongsong tanpa jiwa? Tanpa ada yang bisa, butuh ia junjung? Ia lindungi?
Tentu saja ada suku. Ada kawanan. Ada keluarganya. Tapi semua itu berbeda, tentu.
Hubungannya dengan Collin mungkin bukan sesuatu yang bisa dideskripsikan dengan satu kata. Jelas, itu jauh dari gosip bodoh anak-anak atau skema ejekan Noah di sekolah, yang juga menyebar di seluruh reservasi. Ini lebih dari itu. Konsep konkritnya tak bisa ia tangkap jelas. Ia bahkan tidak menemukan istilah yang tepat. Yang jelas satu hal: tak ada yang bisa terus hidup ketika yang lainnya mati.
Atau mungkin, ada jalan yang lebih baik. Perang belum selesai, pemimpin pasukan vampir itu kabur dan pastinya merencanakan balas dendam. Mungkin ada perang yang menunggu di depan mata. Tak lama lagi. Dan mungkin saat itu gilirannya menyeberang ke alam sana.
Ya, Collin mungkin masih berdiri di tepian sungai di ujung sana, belum lagi menyeberang. Sesuai janji, menunggu kedatangannya. Rasanya ia bisa melihat bayangan itu. Bening mata Collin dan senyumannya kala mengulurkan tangan padanya. Dan ia akan dengan senang hati menggapai tangan Collin. Keduanya akan berjalan bersisian menyeberangi jembatan yang terbentang di atas sungai arwah, lantas menaiki perahu menuju dunia para roh, melangkah bersama memasuki gerbang keabadian, bergabung bersama mereka yang telah mendahului...
Ya, mungkin waktunya takkan lama lagi.
Apakah karena harapan yang terlalu penuh? Ataukah bagaimanapun kepengecutannya dan keterikatannya pada dunia masih bercokol di entah sisi mana batinnya? Karena alih-alih merasa ringan oleh harapan, entah mengapa justru dadanya terasa sesak.
Apa ini? Cole menunggunya di alam sana dan ia masih masih saja ingin memperpanjang masa hidupnya di dunia?
Bagaimana bisa ia menjadi pengkhianat seperti ini?
Merasa muak pada dirinya sendiri, Brady bangkit dari tempat duduknya, meminta izin ke toilet.
Setidaknya ia butuh waktu untuk dirinya sendiri.
.
Keluar dari toilet, tahu-tahu ia dihadapkan pada hal terakhir yang ingin ia hadapi di dunia ini, setidaknya di saat seperti ini. Tak lain tak bukan, Noah Peterson, sudah berdiri bersandar di tembok di depan toilet, seakan menunggunya. Reaksi pertama Brady adalah menghindar, pura-pura tidak melihat. Lagipula belum tentu Noah benar-benar menunggunya. Siapa tahu Noah mau masuk toilet, tapi melihatnya di dalam, ia memilih menunggu, malas berkonfrontasi. Tentu saja menahan diri adalah hal paling ajaib yang akan dilakukan Noah. Tahu Noah, jauh lebih mungkin ia akan masuk untuk mem-bully seperti biasa. Tapi kali itu Brady tak mau ambil peduli. Ia sudah memalingkan wajah dan berjalan melewati Noah dengan berpura-pura santai, tanpa melihat sedetik pun sosok Noah yang tertunduk dengan kedua tangan bersidekap di depan dada, punggungnya bersandar di tembok luar sementara kakinya bersilang pura-pura santai, sebelum tahu-tahu pemuda itu memanggilnya.
"Brads," ucap pemuda itu. Suaranya ringan bagai semilir angin, berbeda dengan suara penuh durinya yang biasa.
Mendengar namanya dipanggil dengan nada kasual nan akrab, 'Brads,' dan bukan 'Miss Fully' atau 'Brady Brats' atau 'Big Birdie Brats', tak urung membuatnya terhentak. Anehnya bukan hentakan menyakitkan, tapi hentakan yang membuat sebagian batinnya melonjak penuh rasa bahagia. Rasanya seperti mengembalikan memori lama yang entah sejak kapan tertimbun. Ia sudah hampir jatuh pada kenangan itu, hatinya sudah membuncah ingin balas memanggil Noah dengan riang, namun ditahannya reaksi itu.
Melihat Brady melenggang begitu saja, Noah mengejarnya, benar-benar mengejar, berusaha merendengi langkah panjang-panjang Brady.
"Tunggu, Brads. Aku ingin bicara," katanya. Brady tidak mempedulikannya, berjalan makin cepat. Tapi Noah keras kepala, maju ke muka mencegat Brady. Brady terang-terangan menepis Noah ke sisi, berusaha menjauhi Noah. Entah apa yang merasuki Noah, tahu-tahu pemuda itu menarik Brady, dan menghempaskannya ke tembok. Brady agak terhenyak, sama sekali tak menduga tenaga Noah, apalagi begitu ia berusaha membebaskan diri, nyata ia tak bisa dengan mudah lepas dari belenggu Noah.
Brady bukan termasuk orang yang suka mengutuk, setidaknya tidak sesering anggota kawanan lain, tapi kali itu ia lakukan.
"Maaf, Brad," ujar Noah tajam. "Kumohon kau dengar aku."
Bukan tekanan Noah, tapi kata maaf itu, yang kontradiktif dengan sikap kerasnya, yang membuat Brady menghela napas, lelah.
Melihat itu, tatapan Noah mendadak terlihat menyesal. Ia agak melonggarkan pitingannya, kesempatan yang dimanfaatkan Brady untuk meronta melepaskan diri. Tapi belum lagi ia sempat benar-benar lepas, Noah sudah mengetatkan cengkeramannya dan sekali lagi membenturkan tubuh Brady ke tembok, kali ini cukup keras hingga terdengar derak retak kecil di sana. Untung saja saat itu jam pelajaran dan tak ada murid berkeliaran di dekat-dekat situ.
Brady menahan jeritan, atau bahkan geramannya, berusaha meredam reaksi alamiahnya: marah.
"Mau apa kau, Noah?" ia langsung memasang sikap defensif. Setajam apapun sikap Brady, ia punya alasan. Noah, bagaimanapun, tak pernah ada di pihaknya. Entah sebagai kepala geng bully yang terang-terangan menjadikan dirinya dan Cole sebagai target utama, atau calon anggota kawanan yang mendadak menyeberang, Noah selalu berada di sisi yang memaksanya tak bisa memasang sikap manis. Ditambah lagi sekarang, tatkala Brady jelas-jelas terpojok di bawah pitingan serigala baru tukang paksa yang tidak tahu arti sikap 'tidak'.
"Aku tahu kau benci aku, tapi setidaknya dengarkan aku sekarang," suara Noah penuh tekanan, yang anehnya membuat Brady tertawa kering.
"Kau pastinya lebih dari tahu mengapa aku, kami, membencimu, Noah...," dipandangnya tajam pemuda itu.
Noah mendesah. "Kumohon, Brads... Demi masa lalu, oke?"
Brady mengutuk. Beberapa kali ia berusaha mendorong Noah, yang tetap bergeming. Hingga akhirnya ia memejamkan mata, menyerah.
Noah melengkungkan punggung ke arahnya. Menekan tubuhnya ke tembok. Menghimpitnya.
Lantas didengarnya bisikan itu di telinganya. Lembut.
"Demi Cole..."
.
.
Catatan:
Ya, aku tahu… Brady terlalu melankolis, hahaha… Selama ini dia pendiam sih, ngintilin Cole ke mana-mana… aku cuma pengen nunjukin sisi lainnya aja.
Waktu aku nulis ini, aku agak2 terpengaruh lagu 'On My Own' Les Miserables. Entah kenapa aku kebayang Brady tuh Eponine, tapi lama2 aku jadi ngebayangin dia Grantaire, tentu aja minus masalah alkoholik-nya itu. Tapi kayaknya, Cole sama sekali ga punya potongan Enjolras… Hahaha…
Ada hubungan apa Noah, Brady, dan Collin? Langsung aja baca chapter berikutnya ya… Sebenernya awalnya ini satu chapter, tapi aku pisah dua soalnya kepanjangan…
Oya, untuk yang review, makasih beraaaaaat… masih ngikutin sampe sejauh ini, n nyempetin baca ocehanku yang ga jelas ujung pangkalnya… wkwkwkwkwkwk…
Nabillaesa44: Cullen pasti dateng, tenang aja… soalnya sekarang ini Ed lagi sibuk di lab, Bella lagi ngurusin Ness mau masuk asrama (ugh!) Tapi selain itu, emang ada alasan mengapa mereka ga langsung meluncur ke Forks untuk ngebantuin kawanan, bahkan terkesan angkat tangan. Ya, alasannya bakal keluar di LoK. Stay tune ya…
WineyErka: hehehe… Erka ni nama temennya? Hehehe… wah, sampe didiskusiin… diskusi apa aja tuh? Jadi penasaran… Hmmm… Kierra si Alfa Putih? Ibu Korra serigala hitam? Kalo Kierra si putih sih mungkin, tapi kalo ibu Korra si hitam, well, dia vampir kan? Tapi ya, memang ada satu kasus pengecualian… Hahaha… Soal identitas 'Ibu', nah itu juga masih nunggu, sabar ya…
Skyesphantom: welcome back! Yah, Jake ga muncul lagi deh di sini… beberapa episode mungkin bakal ngintip ke dalam kawanan Korra. Aku emang bikin Normal POV, tapi lumayan subyektif, jd apa yg ditulis cm yg dilihat ato dirasain kawanan… di sini seth n brady
Manik Padmaswari: aku Cuma nyari di Wiki n bbrp situs lain. Aku sendiri g ngerti… hahaha… smg g aneh deh… btw ak br tau kalo 'Phat' itu artinya 'mie'… wkwkwk…
RJR: thanx ud review n g jd silent reader lagi... hehehe... aku seneng dg tebakannya. hmmm kuroi memang 'hitam' ya? tapi 'black' juga 'hitam' kan? tapi kadang tebakan paling sederhana bisa saja benar... jadi tunggu aja ya...
Guest: yah, emang keadaan kawanan jg kacau sih... mungkin aku ga terlalu nunjukin ya, kematian cole emg belum jelas... hehehe... sama, ak jg g tw apa yg tjadi dg cole. menurut km apa?
Guest (sama juga ga ya): maaf ya, emg aku bikin semua orang puyeng dan frustasi... kalo begini sih, malah lebih kacau dari sinetron, wkwkwkwk... aku pengen aja langsung lompat ke bagian akhirnya, coz bagian tengahnya emg aku belum bikin... (jujur) tapi aku juga masih bingung. jujur, ada beberapa hal yg aku rencanain n ada yg ngga. kematian cole, itu ga direncanain, sebenernya. seluruh perang di jurang juga ngga. tadinya aku bikinnya abis dari cole ngerebut beta, langsung adegan korra n jake nonton... terus final deh... sekarang aku masih harus nyari jalan keluar dari urusan collin (hyah! parah!) #jujur banget siyyy...
aku juga sama frustasinya sama jacob sekarang... wkwkwkwkwkwk...
Have a nice day… tetep ditunggu reviewnya lho… Hehehe… mau review apa juga juga oke… aku seneng banget lho… aku seneng baca review, malah aku nunggu-nunggu… kali aja ada teori bagus…tapi ngga gitu juga, bahkan walo bilang 'eh, itu ceritanya konyol banget! Ga mungkin lah!' ato 'Parah banget karakterisasi tokoh2nya diobrak-abrik gitu' aku pasti nerima dengan seneng hati.
