THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Rated M... Read on your own guard…
.
.
Enampuluh Empat - Menyeberang (Styx -6-)
Monday, April 08, 2013
2:10 PM
.
.
Nama Collin yang dibawa-bawa membuat Brady berang. Tahu-tahu ia menarik kerah baju Noah. Seketika posisi berbalik, ketika Brady dengan cekatan dan tanpa aba-aba memutar tubuh mereka berdua, dan menekan tubuh Noah ke dinding.
"Jangan ucapkan nama Almarhum Cole dengan mulut kotormu itu, kau Pengkhianat Busuk!" bisiknya tepat di depan wajah Noah. Tiap katanya tajam beracun.
Mata Noah mengembang sejenak dan napasnya tertahan dalam kata-kata itu. Terasa oleh Brady, kemarahan dan ketersinggungan pemuda itu, serta gelap matanya yang sesaat membayang. Sesaat Brady menegang, mengantisipasi pertarungan. Noah adalah serigala baru walau bagaimanapun juga, ditambah memang pada dasarnya juga ia agak temperamental. Namun sedetik kemudian Noah menggelengkan kepala keras-keras, mengenyahkan emosi buruknya. Gemetar tubuhnya lenyap bahkan sebelum getaran itu sempat mengambil wujud.
Brady terpana, di batinnya diam-diam timbul rasa takjub sekaligus kagum. Tak biasanya seorang serigala muda mampu menguasai emosinya sebaik itu.
"Kau tahu aku bukan pengkhianat, Brads... Tidak pernah kutahu, tidak pernah kuniatkan sedikitpun...," ujar Noah pelan. Sesaat ada nada aneh di suaranya, campuran antara getar sedih, kesepian, namun juga hampa, yang membuat Brady terhenyak. Tanpa disadari ia melepaskan cengkeramannya atas kerah kemeja pemuda itu.
Dalam hati ia membenarkan. Memang, itu sama sekali bukan salah Noah. Noah sama sekali tidak tahu. Tradisi suku sudah secara tegas menggarisbawahi hal ini sejak awal: tidak ada seorang pun, bahkan calon shifter yang bersangkutan, yang boleh tahu mengenai rahasia suku sebelum ia menjadi bagian dari rahasia itu. Ya, itu tindakan yang terbukti tepat hingga saat ini, tindakan preventif yang perlu dilakukan. Nyata bahwa pertambahan populasi serigala berbanding lurus dengan para vampir, namun jumlah pasti musuh alami mereka itu tak pernah dapat dipastikan, sehingga para penyandang gen serigala belum tentu akan berubah. Lagipula melihat contoh kasus Paul, Embry, Leah, dan Seth, tak pernah dapat dipastikan siapa yang akan berubah hanya dengan melihat hierarki darah dan usia. Paul sebaya dengan Jacob dan Quil, dan darahnya pun tidak tinggi jika dibandingkan para Clearwater, tapi ia lebih dahulu berubah. Jika saja kawanan tetap terdiri dari tiga orang seperti tradisi yang sudah-sudah, bahkan Jacob pun bisa lewat dari penjaringan. Jadi bisa disimpulkan itu tindakan yang aman untuk menjaga agar sesedikit mungkin orang yang tahu mengenai rahasia suku.
Namun ketentuan itu tidak mempertimbangkan satu hal: kemungkinan pencurian calon anggota oleh kawanan lain, karena memang selama ini, bahkan ketika kawanan terpisah dua, tak pernah ada ceritanya siapapun memperebutkan anggota kawanan. Siapapun yang berubah akan secara otomatis menjadi bagian kawanan resmi, saat itu kawanan Sam. Terang saja, bahkan Jacob sudah sangat keberatan dengan kawanan lima orang, karena awalnya ia berharap cuma ada dirinya sendiri di luar kawanan Sam, jadi mana mungkin ia mau ada penambahan kuantitas segala.
Suku memang kelihatannya tetap dengan ketat memegang tradisi itu, tak berminat mengubah ketentuannya apapun yang terjadi. Bahkan keputusan Jacob untuk mempercepat rekruitmen anggota baru berdampak buruk, walau sudah jelas ia punya Sam sebagai backing, jika tidak bisa dikatakan Sam yang merencanakan semua.
Ya, kasus berpindahnya kepemilikan Noah sudah pasti bukan salah Noah. Berbeda dengan Korra yang berubah dan dimenangkan tanpa sepengetahuan ataupun tanpa pernah diprediksikan siapapun, Noah bisa dikatakan diculik tepat di depan hidung mereka. Itu adalah salah kawanan. Lebih persis lagi salah Brady. Walau Josh penanggung jawab Noah, Brady-lah yang bertindak sebagai koordinator penanggungjawab pengawasan, tapi ia melewatkan semua tanda-tanda perubahan Noah.
Selama ini, Brady terlalu larut dalam segala keributan Collin soal Korra. Dalam prediksi mereka, Korra-lah target utama, sehingga menggantikan Cole yang ogah-ogahan mem-bully Korra, ia tak pernah luput memperhatikan tanda-tanda perubahan gadis itu. Tidak mem-bully, tentu, hanya mengawasi. Terbayang bagaimana marahnya Collin jika tahu sahabatnya mem-bully gadis yang ia cintai. Dan Brady cukup tahu diri untuk menghindari amukan Collin.
Bodohnya, ia tak pernah sadar Korra bukannya belum dan hampir berubah, melainkan sudah berubah. Ia tak pernah melihat perubahan Korra, tentu, tapi malam tadi Quil menayangkan adegan ketika Korra menjatuhkannya dan mengancam Jacob. Dan benaknya kembali membandingkan adegan itu dengan adegan ketika Korra menjatuhkan Noah dan Josh.
Ya. Tidak mungkin dengan kekuatan seperti itu, ia bukan serigala.
Target kedua, Brady memperkirakan Benjamin Adamair, sepupu Jacob, putra dari adik bungsu Billy, Emmie Black. Sejauh ini Ben Two sama sekali tak memperlihatkan tanda-tanda perubahan, tapi siapa tahu? Jika berubah, hierarki darah si nerd itu ada langsung di bawah Collin. Kini setelah Cole tiada, Ben Two adalah calon kuat pengganti Cole. Orang kedua dalam hierarki, dengan menimbang dicoretnya Korra dari daftar. Bahkan jika Jacob akan mati seperti prediksi beberapa orang belakangan ini, Ben Two akan langsung jadi Alfa. Tapi mana dia?
Pete sebagai penanggungjawab Ben Two selalu menyatakan bahwa Ben sangat mungkin tidak punya gen yang cukup untuk berubah. Ia resesif, demikian menurut Pete. Dan memang siapapun yang kenal Ben pasti berkesimpulan begitu. Ia sama sekali tidak punya potongan serigala. Tubuhnya kurus kerempeng dan fisiknya begitu lemah. Penyakitan dengan kacamata minus 7 yang mengerikan. Stereotip anak pintar kutu buku yang tidak akan pernah terbayangkan akan berlari memburu vampir. Tentu saja, Ben One selalu menggosipkan Ben Two sebagai imprint-nya Pete, memberi landasan mengapa Pete yakin benar dengan sifat resesif gen dalam tubuh Ben Two. Jika benar begitu, masih menurut Ben One dengan mengembangkan teori Seth seenaknya, Ben Two takkan berubah.
Entah masalah imprint ini benar entah tidak, yang jelas Pete selalu menentang. Dan Brady yakin satu hal: jika memang Pete mengimprint, untuk apa ia sengaja menutup-nutupinya? Pete jelas bukan homofobia, karena ia selalu asyik menggosipi hubungan Brady dengan Collin, walau yang terakhir itu lebih mungkin cuma sekadar iseng dan mencari sensasi ketimbang benar-benar menganggap begitu. Dan entah apa soal imprint ini bahkan mungkin terjadi, yang jelas alasan itu bisa jadi alibi utama atas apapun stigma buruk kawanan.
Sedangkan Noah? Well, katakan saja, sejak awal pun tak ada yang benar-benar mengharapkannya memasuki kawanan. Noah memang bertubuh besar, kuat, lebih mungkin daripada Ben Two untuk menjadi serigala, tapi citra bully-nya itu terlalu mengkhawatirkan.
Dan soal darah...
"Aku selalu berharap kita bisa kembali lagi seperti dulu, Brads. Sungguh," suara Noah, anehnya, terdengar lembut dan lirih, menggetarkan ujung-ujung syaraf Brady. Entah mengapa ucapan itu seakan membangkitkan nostalgia nan melankolis, menariknya untuk memeluk Noah. Namun ditahannya kuat-kuat keinginan itu.
Ia menggeleng. "Bukan aku yang bersalah mengapa semua ini terjadi, Noah," tunjuknya. "Kau yang selalu bersikap keras, mengganggu kami, melawan keinginan kami supaya kita bisa seperti dulu lagi."
"Waktu itu aku tidak tahu, Brads. Kalian meninggalkanku, dan waktu itu aku tidak tahu alasannya."
Brady tertawa masam. "Dan itu memberimu alasan untuk mem-bully kami?"
"Ya, kuakui aku bodoh. Aku selalu berpikir itu sebagai balas dendam. Kalian menjauhiku selama tiga tahun penuh, ingat?"
Brady menghela napas, kini bergeser untuk bersandar di dinding di sebelah Noah. Matanya menerawang menatap langit-langit. "Kau tahu alasannya, Noah. Setidaknya kini kau tahu."
"Ya, aku tahu," itu jawaban Noah sebelum ia meniru Brady menatap langit-langit. Waktu berlalu lama sementara mereka berdua berkubang dalam kediaman, sibuk dalam pikiran masing-masing, sebelum akhirnya Noah berujar, pelan, "Ironis, bukan? Saat kini seharusnya kita saling mengerti, setidaknya aku akhirnya bisa mengerti, ternyata kita tak lagi bisa mengulang masa lalu?"
"Masa lalu takkan kembali, Noah... Karena itu disebut masa lalu," bisik Brady. "Kita bertiga: aku, kau, dan Cole ... saat-saat seperti itu tidak mungkin bisa terulang lagi."
Noah menelengkan kepala, menatap Brady. Dan Brady balas menatap matanya. Sungguh, mata itu bukan mata yang dilihatnya selama tiga tahun ini. Bukan mata penuh kebencian dan rasa perih akibat pengkhianatan, yang berusaha diredam dalam balutan kekerasan dan sikap kejam.
Mata itu adalah mata yang penuh sorot kerinduan, dan rasa sayang. Mata yang mengingatkannya pada masa lalu, sewaktu mereka bertiga menghabiskan sepanjang pagi hingga sore bersama, pulang sekolah melakukan hal standar seperti main bola, layang-layang, atau hanya berkejaran dan berlomba memanjat pohon. Mencari sarang kelinci, mencoba menangkap serangga. Saat mereka mencuri-curi bolos sekolah dan bermain di sungai atau di tepi danau ketika cuaca hangat, menyelam mengganggu ikan-ikan, bertaruh siapa yang bisa menahan napas paling lama. Atau ketika mereka bertiga sekadar menghabiskan waktu tidur-tiduran di padang rumput, memandang awan-gemawan, menebak-nebak bentuk gumpalan kapas di angkasa. Mereka-reka banyak hal, mulai dari hal serius seperti ramalan cuaca besok pagi atau membiarkan imajinasi mereka melayang tinggi menembus batas angkasa. Mereka bertiga: Noah, Brady, dan Collin, geng anak-anak kecil berandal tukang bolos. Dengan segala petualangan kecil menyenangkan, sebelum seluruh omong kosong tentang serigala merenggut mereka dari masa kecil yang indah nan innocent, memisahkan seorang teman akrab dari keseharian mereka, mengasingkan sahabat dari persaudaraan mereka.
Saudara jauhnya, Noah. Sahabatnya.
.
Ia ingat sorot mata kesepian itu, ketika Noah berulang kali mendatanginya di depan rumah, ketika ia sering membolos, setelah ia dan Collin berubah atas ancaman serangan para vampir baru, enam tahun silam. Awalnya mereka pergi karena alasan sakit, dan setiap hari Noah datang untuk menjenguk, hanya untuk mendapati penolakan dari Jared atau Paul, yang diminta menjadi babysitter gadungan untuk 'menjaga' Cole dan Brad sementara orangtua mereka bekerja. Tentu saja Jared dan Paul berbohong, mengatakan mereka sakit, padahal nyatanya justru keduanya yang menyelundupkan Cole dan Brad ke hutan ketika orangtua mereka tidak di rumah atau tidur.
Setelah dua bulan berlalu, baik Cole maupun Brady tak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, malah keluar resmi dari sekolah dan mulai homeschooling. Noah makin curiga, tapi tiada yang bisa ia lakukan karena sang Tetua Billy Black sendiri, atas nama Dewan Suku, demikian penuturan Aunt Connie, yang meminta izin pada orangtua mereka, untuk mengambil alih pendidikan Cole dan Brady dengan beragam alasan yang ia tidak tahu. Ia menyesali keputusan lemah orangtua Brady dan Collin yang begitu saja melepaskan pendidikan resmi bagi anak mereka, tapi apa yang bisa ia lakukan?
Tambah lagi, setelah itu, Noah tak hanya kehilangan kedua sahabatnya di sekolah, ia juga kehilangan kedua sahabat sepermainannya. Collin dan Brady menjadi sosok yang lain, menjauhinya untuk berkumpul bersama geng Rez Boys yang usianya jauh lebih tua daripada mereka, melakukan hal-hal yang tidak pernah ia ketahui. Setiap hari selama enam bulan Noah selalu mampir sepulang sekolah ke rumah Brady dan Collin. Namun kedua sahabatnya jarang ada di rumah. Ia melakukan beragam cara mendekati mereka, mulai dari menggedor pintu rumah mereka, mengetuk-ngetuk jendela kamar mereka, menyelipkan surat di daun jendela, hingga meminta tolong ibu atau siapapun saudara mereka untuk menitipkan pesan. Meski berat rasanya melakukan ini, akhirnya ia terpaksa menguntit dan lantas melaporkan kelakuan Brady dan Collin, masuk ke hutan bersama geng anak-anak yang lebih tua, lantas menghilang, pada ibu mereka. Sayangnya ia tak pernah tahu kelanjutan laporannya. Ia juga yang hampir setiap akhir pekan menggedor pintu rumah sang Tetua, melaporkan kelakuan aneh Cole dan Brad serta para Rez Boys, mengutarakan kekhawatiran bahwa kedua sahabatnya terlibat sesuatu yang aneh dan mengerikan. Tapi Billy atau putranya, Jacob, yang selalu membukakan pintu, mengabaikan laporannya, mengatakan semua baik-baik saja. Tentu saja, pikirnya, Jacob pasti bagian dari mereka. Di akhir tahun itu, ia bertekad melakukan langkah lain: melapor pada pihak berwenang. Tapi Charlie Swan, kepala polisi daerah situ, ia tahu, juga merupakan sahabat sang Tetua, jadi mana mungkin ia mau menanggapi laporan tanpa dasar anak usia 12 tahun yang aneh?
Hingga akhirnya ia berhenti berusaha mendekati mereka, berpikir bahwa tentunya mereka sudah punya sahabat baru dan menjauhinya karena berpikir ia tak layak. Makin benci ia kala melihat Collin dan Brady berkumpul dengan anak-anak lain seusia mereka. Jelas kini kedudukannya tergantikan, oleh tiga sahabat baru para mantan sahabatnya, Benjamin Cattermole dan Peter Lollanger, dan kemudian sepupu Brady, Joseph Copper, yang usia mereka berpaut satu hingga tiga tahun dari keduanya. Mereka kadang berpapasan di jalan tapi berpura-pura tak melihat. Atau buru-buru menjauh begitu melihatnya di kejauhan.
Ya, mereka pasti sudah tak mau berteman dengannya.
Lantas Noah berusaha melupakan mereka, membentuk geng lain. Cassidy Clarke, Bruno Pelletier, Frederick Casey, dan Thomas Jordan terbukti tak hanya menjadi teman-teman barunya, tapi juga sahabat yang setia. Pengikutnya, jika boleh dibilang. Walau usia beberapa di antara mereka di bawahnya, mereka bisa mengerti, bahkan berempati dengannya. Fred dan Tom adalah mantan sahabat Ben. Mereka juga merasa sama terkhianati dan tersisihkannya sejak Ben memilih meninggalkan mereka untuk bergabung dengan Cole dan Brady.
Collin akhirnya menyudahi masa homeschooling-nya dan masuk SMA ketika Noah masih kelas tiga SMP. Ketika ia juga masuk SMA, alangkah bencinya ia melihat Collin di sana, lagi-lagi bersama Brady. Namun sikap Cole dan Brad berubah. Mereka kembali berusaha mendekatinya. Tapi ia masih benci, masih kesal, masih mendendam oleh pengkhianatan mereka bertahun-tahun. Mana mau ia menyambut tangan Collin dan Brady, membalas sapaan dan ajakan mereka untuk kembali berteman? Alih-alih, ia justru bersikap kasar. Sengaja berusaha menyakiti kedua mantan sahabatnya. Ia memang tidak bisa menyakiti mereka secara fisik, tapi secara verbal, ia selalu berusaha memancing keributan. Sahabat-sahabat barunya, gengnya, juga bersikap sama pada mereka berdua. Brady memang selalu berusaha mengalah, itu bisa dibilang sudah sifatnya sejak awal, tapi tidak dengan Collin, yang bersikap mendua. Berbeda dengan di depan siapapun anggota geng Noah yang lain, entah mengapa Cole agak menahan diri di depannya. Tatapan matanya terkadang sendu dan menyesal, tapi itu membuatnya makin benci.
Apa itu, Cole menyesal setelah tiga tahun penuh menghindarinya dan ingin kembali menjadi temannya? Apa ia begitu menyedihkannya? Dia jelas bisa mendapatkan teman-teman yang lebih baik, lebih loyal, lebih dekat dan lebih bisa berbagi segalanya ketimbang si duo pengkhianat ColeBrad.
Itu membuatnya makin gencar mem-bully si duo itu. Atau siapapuan yang berkaitan dengan mereka. Terkadang gengnya juga mem-bully anak-anak lain, tapi tidak sekeras yang mereka lakukan karena kebencian pada geng Collin. Ben dan Pete, anggota geng baru mereka. Lalu Josh, sepupu Brady. Lalu Little Ben, sepupu Collin yang selalu menempel pada Pete. Dan yang terakhir, Korra, sepupu Collin yang jelas sekali ditaksir bocah itu. Ketika akhirnya Josh menyeberang ke kubunya, terbayang betapa senangnya ia. Akhirnya ia bisa benar-benar membalas dendam, mencuri salah satu teman dekat Collin dan Brady. Berharap mereka merasakan yang ia rasakan lima tahun, hampir enam tahun ini.
Sayangnya, seluruh skema bully yang ia lakukan, murni untuk balas dendam, akhirnya berakhir seperti ini.
Ya, akhirnya ia mengerti. Alasan Collin dan Brady meninggalkannya, menyisihkannya, membuang persahabatan mereka yang dijalin semenjak masih sangat kecil. Dan yang lebih menyedihkan lagi, ia tahu alasan Josh mendekatinya. Semua karena satu hal: legenda bodoh.
Semua yang berhubungan dengan suku adalah rentetan kebohongan yang menekan.
Ya. Mereka meninggalkannya dulu bukan karena mereka membencinya, malah karena mereka sangat menyayanginya. Karena mereka dilarang melakukannya. Kedua sahabatnya berubah dalam usia yang terlalu muda, demikian yang ia dapat dari pengetahuan kolektif kawanannya, mereka sama sekali tidak bisa menahan emosi. Sedangkan ia, dengan tingkatan darah yang rendah, sama sekali tidak diharapkan untuk berubah. Tidak hingga saat-saat terakhir.
Dan Josh, yang ia kira telah berhasil ia gaet, yang diduganya ia menangkan untuk balas dendamnya, ternyata memang sejak awal diimplantasi untuk mengawasinya. Apa lagi yang lebih kejam dari itu?
Namun setidaknya ada hal lain. Kini saat nyata bahwa ia juga menjadi bagian dari para elite di suku mereka, sedikit harapan mencuat, tahu bahwa ia bisa berada dalam dunia yang sama dengan dua sahabat lamanya. Namun, itu tak terjadi. Itu tak bisa terjadi. Tidak ketika ia ternyata ada di pihak yang berbeda. Karena ia tidak terikat di tiang yang sama dengan mereka. Karena ia dimenangkan, dan lantas dimiliki oleh orang lain. Kawanan lain.
Sikap Collin ketika ia mengetahui ini di liang vampir menyatakan hal yang paling ia takuti: kedua kawanan tidak seiring sejalan. Waktu itu ia datang karena perintah Alfanya, untuk melakukan pengecekan dan patroli rutin atas sarang lintah yang sudah mereka obrak-abrik. Memastikan tak ada lintah yang kembali. Ya, memang tak ada lintah. Yang ada justru serigala. Tak lain tak bukan, Collin. Meski sudah tahu sebelumnya, tak urung ia terpesona mendapati kenyataan tentang topeng Collin, dan sedikit kenangan masa lalu membuatnya lemah. Tapi Collin rupanya malah terbutakan kebencian. Berbeda dengan sikap menahan diri yang selalu ia tunjukkan, kali itu Collin malah menghajarnya habis-habisan. Mungkin juga selama ini ia memendam dendam, namun tak berani melampiaskannya pada manusia, dan kini setelah musuhnya nyata bukan manusia biasa nan lemah, ia merasa punya hak untuk membalas.
Itu, jujur saja, membuat Noah sedikit miris. Cole juga memendam dendam... Ia tak menginginkan masa lalu itu kembali. Alasannya menahan diri selama ini adalah karena takut menyakiti, bukan karena ia juga berkubang dalam penyesalan atas yang ia lakukan pada Noah, tiga tahun penuh.
Ya. Masa lalu yang indah memang takkan mungkin kembali.
.
"Jika saja aku bagian dari kalian...," entah mengapa Noah menerawang. "Jika itu terjadi, apa mungkin semua akan seperti dulu lagi? Kita bertiga?"
Brady memutus kontak mata, memejam. Ekspresinya perih. "Tidak, Noah," ia menggigit bibir. "Bahkan jika aku sangat ingin persahabatan kita kembali, tapi semua takkan sama lagi."
Selembut apapun kalimat itu dinyatakan, tetap bagai duri rasanya.
Noah tertawa kering. "Begitu?" mungkin perih di hatinya tercermin dalam suaranya, tapi ia tak peduli. Bukan tempatnya memikirkan soal martabat sekarang. "Ternyata kalian memang menganggapku sebagai pengkhianat kotor, meski aku tak pernah sengaja melakukan apapun untuk mendapat titel itu." Ia mendengus, lantas tersenyum masam. "Hanya saja kukira, bahkan walaupun kita berbeda kawanan, setidaknya kita bertiga tetap bisa..."
"Tidak ada kita bertiga, Noah!" Brady hampir berteriak. "Tidak karena Collin sudah pergi!"
Saat menyatakan itu, kata yang selalu ia berusaha hindari berhari-hari, walau berulang kali kata yang sama melintas di kepalanya, pertahanan Brady jebol. Terlalu lembek untuknya, mungkin, tapi ia tak tahan. Dipejamkannya matanya kuat-kuat, dikepalkannya tinjunya sementara dibantingnya kepalanya ke tembok, berusaha keras menahan perasaan itu. Ketika akhirnya ia berhasil menguasai diri dan membuka mata, dilihatnya Noah menatapnya. Mata itu sendu, ya, prihatin, tapi juga ada bersit tekad di sana.
Tekad?
"Kami belum menyerah, Brad," ujarnya. Penuh tekanan. "Mungkin kalian sudah. Tapi kami belum. Korra percaya dia masih hidup."
Brady membelalak.
Korra percaya Cole masih hidup?
Sedetik dirasanya harapan itu terbit di dadanya. Cole masih hidup ... Cole selamat. Entah bagaimana caranya, Cole masih bertahan. Mungkin ia luka, terjebak, tapi ia masih bernapas. Masih berdetak. Masih ada di dunia yang sama dengannya. Mereka masih bisa bertemu, bersama...
Tapi lantas logikanya sendiri memutus rentetan harapan itu, memaksanya terhempas kembali ke bumi.
"Itu bodoh, Noah," ia menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan bayangan itu. Ia tahu, harapan terlalu menyakitkan kala kenyataan berkata sebaliknya. Skeptis adalah bentuk pertahanan terbaik. "Kau tidak melihat skalanya. Runtuhnya seluruh jaringan bawah tanah. Kau lebih tahu dariku, yang hanya melihat dari memori Collin. Kau pastinya tahu betapa besar liang itu... Bahkan untuk ukuran Cole, ia takkan sanggup..."
"Tapi selalu ada harapan, Brad," mata Noah berbinar saat menatapnya. "Kau tidak tanya Alfamu? Seharusnya seorang Alfa tahu jika ada anggotanya yang tewas…. Dan jika Jacob bisa merasakannya, seharusnya kalian semua juga bisa."
Jacob? Bagaimana mungkin Noah tahu tentang Jacob?
Hah! Seolah ia perlu bertanya!
"Bagaimana bisa Jacob tahu?" tak bisa dibendungnya rasa penasaran itu.
Noah mengerjap, memandangnya. Kelihatannya tidak bisa menangkap arah pertanyaan Brady.
"Maksudku, bagaimana caranya Jacob bisa mengetahui jika ada anggotanya yang tewas?" ulang Brady, kali ini dalam kalimat yang lebih lengkap. Tapi Noah masih memandangnya bingung.
"Kau tidak tahu, Brad? Memangnya belum pernah ada anggota kawananmu yang mati?"
Jujur itu pertanyaan yang mengerikan. Tapi mendengar Noah mengatakannya, dengan begitu tenang, seolah itu wajar saja….
Sedetik kemudian ada sedikit rona paham di wajahnya, yang bercampur dengan rasa pedih. Tentu saja. Noah baru berubah beberapa minggu. Tapi jika ia sudah pernah merasakan kematian anggota kawanannya, sesuatu yang belum pernah Brady rasakan walaupun sudah berubah bertahun-tahun, pastinya pengalaman Noah terlalu berat untuk ditanggungnya.
"Kematian anggota itu seperti … kaurasakan jiwamu tercerabut," jelas Noah. "Rasa sakitnya terasa di kepalamu, di dadamu, tapi bisa kaurasakan secara fisik juga. Sakit yang dirasakan anggotamu ketika maut menjemputnya adalah pengalaman yang juga kaurasakan. Dan karena Alfa bisa merasakan itu, dalam kapasitasnya sebagai medium, sesaat ia akan kehilangan kendali sehingga perasaan itu tertransfer pada semua anggota. Prinsip seluruh kawanan adalah satu tubuh, ingat?"
Brady menganga. Bahkan kalimat itu terdengar mengerikan, dan ia tak berani membayangkan kenyataannya, bagaimana jika ia benar-benar merasakan itu.
"Dalam beban yang sama?" tanyanya penuh horor.
Tentu saja, terkadang muncul koneksi rasa sakit ketika salah satu anggota terluka. Tapi itu hanya sedikit, hanya di pikiran, tak ada efek seakan sakit itu terasa olehnya langsung secara fisik.
"Tentu," Noah menjawab pertanyaannya. "Yang dirasakan orang yang mati akan sama dengan yang kaurasakan. Oke, mungkin takkan benar-benar sama. Mungkin hanya separuhnya. Tapi jujur, aku tidak ingin mengalami hal seperti itu lagi. Karenanya kawanan harus terus saling melindungi. Kami tak ingin ada yang merasakan sakit, karena itu akan terasa oleh seluruh kawanan."
"Apa kau pernah merasakannya?" bisik Brady lagi.
"Ya," Noah menjawab muram. "Kawanan taklukan Alfaku, di Galia, diserang beberapa hari lalu. Dari sekian orang, hanya satu yang selamat."
Brady bergidik. Ia tidak mempermasalahkan soal keberadaan kawanan taklukan di Galia, di manapun itu. Dari pikiran Collin dan Jake waktu itu, ia sudah tahu bahwa kawanan lain yang merambah La Push memang memiliki sifat semacam kekaisaran. Kemaharajaan. Taklukan di mana-mana. Yang membuatnya merinding adalah bayangan ketika Noah merasakan orang lain, dan bukan hanya satu, tewas karena serangan. Dalam pertempuran beberapa hari lalu, memang koneksi pikiran mereka tertudungi hingga ia tak bisa merasakan ketika Clark dan yang lain di sayap Embry jatuh. Tapi ia merasakan dari kacamata Pete ketika pemuda itu jatuh. Itu mengerikan, sungguh. Dan Pete bahkan tidak tewas.
Tapi tak urung itu membuatnya berpikir ke arah lain.
"Kalau aku tidak merasakan apapun ketika Collin tertimbun, artinya ia tidak mati?" ada nada harap dalam suaranya.
"Itu yang aku berusaha katakan padamu dari tadi, Brad..." ujar Noah tenang yang membuat Brady mengangkat sebelah alis. Tak menunggu pertanyaan Brady, Noah sudah merogoh sakunya dan lantas mengeluarkan sesuatu. Segumpal kertas. "Aku berusaha menghubungimu seharian ini. Aku tak tahu nomor ponselmu. Di kelas waktu kita ada pelajaran bareng, aku berusaha menyampaikan ini, menarik perhatianmu. Tapi kau terus bersikap tak peduli."
Sambil mengernyit, Brady meraih gumpalan kertas itu dari tangan Noah. Tak ragu lagi, itu gumpalan kertas yang menghujaninya sepanjang jam pelajaran tadi. Ya, ia baru sadar, di kelas Biologi tadi Noah duduk beberapa bangku di belakangnya.
Dan ia mengira ia di-bully! Ia bahkan tak sadar Noah yang melakukannya.
Lamat-lamat dibukanya gumpalan kertas itu. Sebaris kalimat dengan tulisan cakar ayam Noah tertera di sana.
Cole masih hidup. Jangan putus harapan, Brad. Kita akan menemukannya.
Angan Brady melambung lagi. Tapi seperti biasa, logikanya yang bodoh lagi-lagi menghempaskannya ke bumi.
"Mustahil, Noah," lagi-lagi ia menggeleng putus asa. "Ini sudah hari keberapa? Apa masih ada kemungkinan ia selamat? Jake dan Dewan Suku sudah menyerah dan aku tak tahu bagaimana meyakinkan mereka untuk memulai lagi pencarian Cole. Pemakaman Cole sudah dipersiapkan, akhir minggu ini. Bahkan jika kau sudah berubah jadi serigala, aku tak yakin hanya kita berdua sanggup menyisir daerah itu, menyelamatkan Cole tepat waktu..."
"Siapa bilang cuma kita berdua, Brad?"
"Eh?"
"Apa tadi aku kurang jelas menyebutkan? Korra tak percaya Cole sudah tewas. Sejak ia tahu Cole masih tertimbun, kami terus mencari."
Kalau Korra masuk, artinya kawanan lain ikut serta dalam pencarian Collin. Tiga orang, bukan, empat orang dengan Noah. Jika Brady ikut, artinya lima orang.
"Kalau begitu, kau berusaha menghubungiku untuk merekrutku?" gumam Brady.
Noah terlihat berbinar-binar, itu mungkin sudah semacam konfirmasi.
"Jadi apa lagi yang kita tunggu?" tentu saja tanpa diminta pun, Brady siap mengajukan diri. Tak ada ceritanya di dunia ini ia akan melewatkan sedikit saja kesempatan untuk bisa bertemu lagi dengan Collin. Ditambah lagi, ini sudah lima hari. Jika lima hari kawanan Noah mencari dan belum juga ada titik temu, dan berusaha merekrut Brady, artinya mereka pun menganggap ini saat genting.
Benar. Jikapun Collin selamat, setelah lima hari tertimbun, skema terburuk bisa saja terjadi. Ia terluka, tanpa nutrisi, makanan atau minuman sama sekali. Dan itu masih belum mempertimbangkan kemungkinan tidak bisa bernapas... Sekarang ini, tiap detik berharga.
"Mereka sedang mencari sementara kita bicara, Brad. Dan lagi, ada kejutan untukmu. Kita bukan cuma berlima."
"Eh?"
Noah tak bicara lagi, beranjak dan memberi kode pada Brady untuk mengikuti. Langkahnya lebar-lebar, agak terburu, tapi jelas ada keriangan dalam tiap tapak kakinya.
"Aku belum menguasai teknik koneksi pikiran dalam kawananku," katanya sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memencet serangkaian tombol. "Jadi maaf karena aku tak bisa melaporkan padamu sampai sejauh mana kemajuan Korra saat ini. Tapi rencananya sih, memang hari ini kami akan menjemputmu. Kuharap dia sudah sampai."
Noah tak memberi Brady kesempatan untuk bertanya siapa yang dimaksud dengan 'dia', karena itu jelas bukan Korra. Sedetik kemudian ia sudah menunggu seseorang di sana mengangkat teleponnya.
"Hei Phat," katanya. "Kalian sudah sampai?"
Phat? Phat Chulalongkorn si anak pertukaran pelajar dari Thailand?
Pikiran Brady melayang pada satu-satunya serigala jantan di kawanan asing itu. Serigala berbulu oranye keemasan. Yang pernah menolong Collin, dan kemudian menolong Quil.
Diakah anggota kawanan Korra?
Korra si hitam. Phat si emas. Lalu yang satu lagi, sang Alfa, siapa? Benarkah si makhluk yang bersama vampir yang menyerang mereka malam itu, 'Sang Ibu', seperti kata Collin? Atau yang lain?
Ya. Mungkin sekali mereka salah paham. Kawanan itu sama sekali bukan musuh.
Lantas siapa sang Alfa?
Tanpa disadari pikiran Brady langsung melayang pada seseorang lain. Sahabat Korra. Yang selalu mendampingi Phat Chulalongkorn. Siswa pertukaran pelajar dari Jepang itu. Si pendiam Kuroi Kanna.
Diakah sang Alfa Putih?
Si lemah kutu buku itu?
Tapi dia tidak lemah. Pete sudah bersaksi. Di balik fisiknya yang tampak seakan sakit-sakitan, dicolek sedikit saja jatuh, cewek itu bisa jutsu. Dia meretakkan tangan Noah ketika Noah ingin mem-bully Ben Two. Tunggu. Mungkin itu bahkan bukan jutsu. Siapa tahu itu memang kekuatan serigala.
Alfa terkuat, penakluk dan pemimpin banyak kawanan di seluruh penjuru dunia... Alfa yang begitu mengerikan dan mengintimidasi, mampu menyudutkan Jacob hingga ia memutuskan melakukan Sumpah Darah untuk melindungi kawanan, yang akhirnya malah berbalik menjatuhkan Seth... Alfa yang katanya ingin menaklukkan kawanan Quileute...
—Si kurus kering Kuroi Kanna?
Selama ini ia terbiasa dengan stereotip bahwa Alfa harus selalu yang paling sangar, paling kuat, yang ukuran fisiknya paling besar. Sam dan Jacob adalah contoh tak terbantahkan. Setelah Cole menjadi Beta, ia juga menyadari bahwa sosok serigala Collin berubah. Membesar. Sebesar Seth, bukan, lebih besar, mungkin hampir sebesar Jake. Pada malam pertempuran itu, Cole memang sempat mengambil wujud manusia, tapi ia tak punya kesempatan mengukur. Tidak diragukan lagi jika Cole saat ini ada di sisinya, Cole pasti tumbuh lebih tinggi dan lebih gempal dibanding dirinya.
Tapi Kuroi?
Apa karena ia betina? Tapi serigala putih itu, di ingatan Jacob, adalah yang paling besar di antara ketiga serigala asing. Tubuhnya feminin dan langsing, tapi tetap yang paling tinggi. Lebih besar dari Leah. Sedang Kanna, meski lebih tinggi sedikit dibanding Korra, paling-paling hanya 165 cm. Masih di bawah Leah yang mencapai 175 cm. Bahkan masih di bawah mantan Brady, Roxanne. Padahal Roxie bukan serigala.
Mungkin hukum menyangkut ukuran fisik agak berbeda kalau bicara tentang kawanan asing.
Huh, penampilan tidak merepresentasikan kekuatan di baliknya, rupanya.
Tersenyum-senyum sendiri, antara harapan menemukan Collin dan membayangkan si kerempeng Kuroi Kanna memimpin kawanan asing, Brady mengikuti Noah. Pemuda itu menyudahi pembicaraannya di telepon dan berjalan cepat, hampir berlari, melintasi lorong menuju pintu depan sekolah. Langkahnya bersemangat. Wajar saja. Dari sekilas pembicaraan mereka yang ditangkap Brady, Phat si anggota kawanannya yang lain itu sudah menunggunya di depan sekolah.
Noah melambai kuat-kuat begitu melewati gerbang depan, matanya mengarah ke satu titik di lapangan parkir. Brady mengikuti arah pandangan matanya. Yang dilihatnya, meski seharusnya bisa ia prediksi, tak urung membuatnya sedikit shock.
Tak hanya ia melihat Phat. Ia juga melihat sosok lain, yang dikenalnya, bersandar di sisi Phat di tubuh sebentuk mobil. Volvo putih.
Volvo Seth.
Ya, itu Seth, tak salah lagi.
Brady berusaha menahan geramannya. Rupanya benar prediksi Jacob. Tak hanya Noah, Seth juga sudah menyeberang.
Dan mungkin selanjutnya dirinya.
Apakah dengan ia bergabung dengan kawanan mereka, meski untuk mencari Collin, ia mengkhianati Jacob?
Tidak, tidak. Berbeda dengan kasus Seth yang terikat sumpah dengan Korra, ia hanya ingin menemukan Collin. Misinya sederhana. Seth boleh dibilang dijual oleh Jacob sendiri. Tapi Brady tidak terikat apapun.
Meski begitu, bisa jadi kawanan mereka akan menemukan cara untuk mendapatkannya juga. Memenangkannya. Jika itu mungkin.
Sedetik ia ragu, tertambat di tempatnya bahkan ketika Noah sudah melangkah menuruni tangga.
"Ada apa, Brad?" Noah berbalik ke arahnya, menyadari Brady yang berhenti di bordes paling atas. Brady masih membeku. Pandangannya terfokus pada Seth. Namun Seth hanya tersenyum masam, sebelum membalikkan badan, mengitari mobil menuju sisi pengemudi.
Benarkah yang ia lakukan ini? Benarkah keputusannya untuk bergabung dengan mereka? Tanpa sepengetahuan Jacob?
Tapi semua demi Collin. Menemukan Collin, menyelamatkan sahabatnya. Menempuh jalan yang seharusnya ia lakukan, sementara Jacob sudah menyerah.
Ya, Jacob sudah menyerah. Kawanan sudah menyerah. Suku sudah menyerah. Sementara mereka belum.
Dikuatkannya hatinya sementara ia menggeleng lamat-lamat pada Noah. "Tidak, tidak ada apa-apa," ia mencoba tersenyum, melangkah menuruni tangga.
Ya, ia rela menyerahkan segalanya demi Collin.
Bahkan kesetiaannya.
Jika ia juga harus berkhianat, menjual jiwanya, maka ke sanalah ia menuju.
.
.
Catatan:
Ya, setelah Seth, Brady menyeberang…
Bagian kedua dari chapter mengenai kekisruhan hati Brady. Di sini juga diungkap sedikit soal masa lalu Brady dan Collin, hubungan mereka dengan Noah si bully. Untuk yang mungkin bertanya-tanya, apa mungkin Josh juga ada di kawanan Korra, jawabannya tidak. Josh mungkin mata-mata Sam, tapi dia tidak tahu-menahu soal kawanan Korra. (ups, kelepasan)
Jujur aja bagian tengahnya tambahan, jadi yang ga suka hubungan Noah dengan Cole dan Brad, ga usah dibaca... hahahaha...
Dimohon reviewnya ya… Tetep stay tune (hehehe, emang radio)… Kalo ada yang mau kasih pendapat gimana baiknya episode selanjutnya, silakan… terbuka… hahaha… aku udah ngerencanain apa yg terjadi sama cole, tapi idenya ga bagus... serius... jadi kayanya aku bakal langsung aja...
btw, menurut kalian, mending mana ya? jake berantem sm alfa putih, jake nyerah, ato korra akhirnya kembali (ato mati)? aku udah bikin adegannya sih, tp ak g yakin...
