THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Rated M... Read on your own guard…
.
.
Enampuluh Lima - Jalur Setan (Styx -7-)
Monday, March 18, 2013
8:47 AM
.
.
Perjalanan itu dilakukan dalam diam. Seth tak berkata apa-apa sementara menyetir, membawa mobil dalam kecepatan sedikit di atas rata-rata, menyusuri kelokan jalan begitu melewati area sekolah. Sesekali ia mengintip Brady yang duduk di jok belakang lewat spion tengah, tetapi buru-buru mengalihkan pandangan begitu Brady balas menatapnya dari kaca yang sama. Di sisi Seth, Phat duduk santai, sesekali menunjukkan jalan kala mereka menemui persimpangan. Ketiga orang dalam Volvo putih itu terlihat muram. Satu-satunya yang agak riang, terlihat dari rona wajahnya dan senandung kecil bagai gumaman yang melewati bibirnya, hanya Noah.
"Jadi," kata Brady berusaha memecah kebekuan setelah sekitar lima belas menit mereka berkendara, "bagaimana kemajuan pencarian Collin?"
Pertanyaannya tidak jelas ditujukan pada siapa, tapi Phat yang menjawab.
"Tidak terlalu baik. Kami sudah menyusuri Zona 1 dan 2. Menghantam beberapa zombie. Tapi belum ada tanda-tanda keberadaan Collin."
"Zona 1 dan 2? Zombie?" kebingungan Brady tak bisa ditahan.
"Itu sebutanku untuk vampir gila yang bisa keluar dari reruntuhan maut. Kau tahu, tempat mereka dikubur hidup-hidup," jelas Noah, agak tertawa. "Kami membagi jaringan terowongan dalam 11 zona, sejumlah jalan masuk plus satu yang merupakan titik persimpangan," lanjutnya. "Itu baru jaringan yang berhasil kami ungkap, sih... Zona 1 adalah pusatnya, kau tahu, tempat waktu itu Collin menghajarku."
Nada suara Brady langsung menajam. "Maksudmu tempat Collin mengorbankan diri?"
"Tempat Collin bunuh diri, kalau menurut Korra," koreksi Noah yang membuat Brady menggeram.
"Cole tidak bunuh diri, Noah!" entah mengapa kekesalan Brady menggumpal begitu cepat. Selama lima hari ini ia terus mendengar kata yang sama. Tidak Jacob, tidak kawanan, tidak para Tetua, tidak Sam... Dan kini kawanan asing itu juga... Tidak ada satu pun yang menghormati mendiang Collin. Koreksi, hanya 'Collin', kini saat mereka punya harapan Cole masih hidup, ia harus berhenti memberi imbuhan 'almarhum' di depan nama sahabatnya.
Ya, tidak ada yang menghargai apapun tindakan heroik Collin. Semua orang memandangnya sebagai tindakan gegabah yang tidak perlu. Tolol, tanpa pertimbangan, bunuh diri, dan serangkaian kata merendahkan lain. Bahkan setelah Brady dan Ben menjelaskan apa yang ada di pikiran Collin sebelumnya, Jacob tetap menyimpulkan bahwa itu hanya didasarkan pada rasa bersalah dan keputusasaan, semacam jalan singkat dan pengecut untuk menyudahi semuanya.
Tidak ada yang melihat dari sudut pandang Collin, atau bahkan sudut pandang Brady sesudahnya. Tak ada juga yang menghargai fakta bahwa dengan tindakannya, Collin membawa pergi lebih dari seperempat kekuatan para lintah. Bahwa karena itulah, liang kelinci itu menjadi liang lahat bagi mereka.
Collin, di manapun ia berada, apapun kedudukannya, apapun yang ia lakukan, semua orang tetap memandangnya sebelah mata. Selamanya ia menjadi domba hitam kawanan. Bahkan setelah ia dianggap tiada.
Oh ya, bahkan Jacob dan Embry menyerah. Setelah pencarian selama tiga hari, mereka tunduk pada keputusan para Tetua, dan bahkan tidak mengemukakan argumen yang cukup untuk melawan keputusan itu. Memang kondisi sebagian besar kawanan tidak cukup baik untuk melanjutkan pencarian. Jacob bahkan tak pulang-pulang dari rumah Cullen untuk mengurusi jantungnya yang tak kunjung membaik itu, atau lebih tepatnya membaik lantas memburuk lagi saking banyaknya situasi berat yang harus ia tanggung. Tapi seharusnya Jacob bisa melakukan sesuatu. Ia seharusnya tidak menyerah hanya karena kondisi tubuhnya tak memungkinkan. Ia seharusnya tak mendengarkan perintah 'Dokter' Adam yang kelewat protektif itu. Paling tidak, seharusnya ia bisa memikirkan sesuatu. Dan tak ada yang mendengarkan rentetan protes Brady.
Kadang bahkan, memandang sikap Jacob dan kawanan, sebuah pikiran hitam melintas di kepala Brady. Bahwa kawanan selalu memandang rendah Collin. Tidak, bukan memandang rendah, tapi memandangnya dalam pandangan miring, tak suka, menganggapnya berandal badung menyebalkan. Pengkhianat haus kekuasaan yang sudah mendepak Seth, Beta yang mereka semua cintai. Jacob mungkin takkan pernah keberatan jika sepupunya, anak yang selalu menentangnya itu, hilang dari permukaan bumi. Malah mungkin ia lega. Toh bukan sekali Brady memergoki selintas kekhawatiran Jacob bahwa pada suatu hari Collin akan mengkudetanya.
Apakah mungkin kekecewaan Brady pada Jacob, yang membuatnya menerima tawaran ini? Menyeberang?
Kelihatannya Noah menangkap kekesalan Brady, karena mendadak suaranya simpatik ketika ia berujar, "Maaf, Brad. Bodohnya aku. Tentu saja Collin takkan mungkin bunuh diri. Dia bocah paling keras kepala, pantang menyerah, yang pernah kita kenal, ya kan? Ingat waktu kau digigit ular waktu kita kecil dulu? Ia mati-matian berusaha menyelamatkanmu, menghisap racunnya dan bergantian denganku membopongmu, berusaha mencari pertolongan. Tentu saja bodoh karena jadinya ia ikut terpapar racun juga. Tapi ia tidak menyerah, walau ia sendiri sudah tidak kuat. Orang seperti dia adalah orang terakhir yang mungkin akan bunuh diri."
"Atau justru orang pertama," Brady entah mengapa terkekeh mendengar cerita itu. Jujur saja, aneh sekali Noah yang bicara seperti itu. Tapi itu tak urung membuat ingatan Brady melayang pada masa sepuluh tahun silam. Ketika mereka bertiga sering merambah hutan melakukan hal-hal paling tidak bertanggung jawab, yang di mata mereka adalah petualangan paling seru. "Mungkin memang benar kata semua orang, dia manusia paling bodoh dan gegabah di seluruh dunia," tambahnya masam.
"Tidak," tak diduga ucapan itu keluar dari Seth, yang sedari tadi diam. "Cole memang selalu terlihat serampangan, tapi aku percaya dia punya pertimbangan. Dia cuma berani mengambil keputusan yang merugikan dirinya sendiri," ia tersenyum sementara matanya menerawang. "Orang seperti dia, yang selalu melihat banyak kemungkinan, aku yakin tidak akan melakukan sesuatu tanpa berpikir."
Seth mengatakannya dengan nada hormat, yang entah kenapa terkesan jujur. Sumpah, itu aneh. Seth seharusnya yang paling membenci Collin. Bukankah seluruh kawanan membenci Cole karena mereka membela Seth?
Jujur saja, Seth tidak pernah benar-benar akrab dengan mereka berdua, meski Seth adalah atasan mereka langsung. Mereka menghormati Seth, tentu saja, bahkan Collin lebih menghormati Seth ketimbang Jacob. Tapi disadarinya hubungan mereka selalu berjarak, sebagai atasan-bawahan, bukan sebagai teman. Seth terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Jacob dan kawan-kawan, bisa dibilang ada di kubu yang berbeda dengan mereka. Bahkan ketika usia mereka jauh lebih muda, Seth tidak pernah benar-benar bergaul dengan anak-anak yang sebaya dengannya di kawanan, padahal usianya hanya terpaut setahun lebih sedikit dengan Brady. Ini bukan karena Seth tidak pandai bergaul. Dulu ia manis dan ceria, tipe yang disukai semua orang dan pastinya mudah menarik siapapun untuk menyukainya. Tapi tidak di kawanan. Kawanan Sam sepeninggal Jacob, minimal. Kadang Brady merasa, mungkin keputusan Seth untuk menyeberang ke kubu para lintah Cullen-lah alasannya. Anak-anak sempat memandangnya sebelah mata ketika akhirnya ia kembali. Ia, sama dengan Jacob, adalah pengkhianat.
Namun kemudian, Brady memperhatikan, sifat Seth, dan cara mereka memandangnya, berubah secara gradual dalam lima tahun terakhir ini. Seth yang agak konyol, ceria, dan kekanak-kanakan tergantikan oleh sosok yang tenang dan bijak. Mungkin satu-satunya yang tersisa, yang menjadi kelebihan utamanya, adalah sifat dasarnya yang penuh kasih. Entah itu sebenarnya kelebihan atau bukan, karena nyata itulah yang menjadikannya kelewat pasif dan menahan diri di tengah kumpulan serigala temperamental. Berbeda dengan Jacob si Raja Bully, Seth selalu berada di tengah, berusaha meredakan amarah Jacob dan membela anak-anak. Ia jadi jauh lebih tua dari usianya, tidak secara fisik tapi dari sifat. Sifat sanguin-nya perlahan hilang, atau minimal melebur, sementara sifat plegmatisnya mendominasi.
Meski kadang Quil dengan ributnya menyesali dan mempertanyakan ke mana Seth yang manis itu pergi, Brady tak bisa tidak merasa justru itu bukan harga yang harus dibayar, melainkan tiket yang memastikan Seth diterima total di kawanan yang pernah mengutuknya. Meraih hati anak-anak di satu sisi, dan menarik hati Jacob di sisi lain dengan logikanya dan kemampuannya untuk meredakan emosi Jacob. Terutama dalam persitegangan abadi Jacob vs Collin. Seth sang Penengah, demikian anak-anak menjulukinya. Entah sejak kapan, orang yang pernah mereka gelari Pengkhianat tiba-tiba menjadi Beta yang mereka semua cintai. Jacob jelas tergantung pada Seth dalam banyak hal, mulai dari mengendalikan anak-anak, memastikan Titahnya diterjemahkan dan dilaksanakan, mengatur jadwal patroli, hingga meminta pertimbangan-pertimbangannya dalam berbagai keputusan menyangkut kawanan. Saking mampunya Seth mengendalikan Jacob, terkadang anak-anak bingung sendiri siapa sebenarnya Alfa mereka: Jacob atau Seth.
"Aku tidak tahu persis apa yang terjadi," lanjut Seth lagi, "Tapi kalau menyangkut Cole, aku yakin ia takkan melakukan tindakan bodoh seperti masuk sarang singa kalau tak memikirkan jalan keluar dari sarang itu."
Brady melirik lagi Seth dari spion. Wajah lembut dan tenang Seth yang biasa, yang tadi tampak kaku, kini dihiasi senyuman kecil. Ada sinar aneh di sana yang membuat Brady bingung. Apa Seth sedang memikirkan Cole seperti dirinya?
Brady tersenyum sinis pada mantan atasannya itu. "Memang menurutmu ada jalan keluar?"
Seth mengendikkan bahunya sedikit. "Kau tahu apa bakat alami Collin?"
"Mencari masalah?"
"Ya. Memang itu salah satunya. Tapi para pencari masalah juga, entah mengapa, biasanya selalu punya kemampuan untuk lolos dari lubang jarum. Untuk Cole, aku perlu tambahkan, ia selalu bisa menemukan jalan memutar dari apapun. Jika Titah Alfa saja bisa ia pelintir, aku yakin dia bisa lolos dari Kematian. Itu sudah bakat turun-temurun, bagaimanapun."
Brady tahu Seth lagi-lagi menyama-nyamakan Collin dengan Jacob. Semua orang selalu menganggap mereka kembar luar dalam, cuma dipisahkan oleh sel telur, sel sperma, ayah, dan ibu yang berbeda. Hingga sifat sampai sikap. Mereka hanya berbeda di sisi-sisi yang dibangun dalam konstruksi kesadaran mereka. Jacob suka otomotif, Collin mati-matian menjauhi mobil. Rambut gaya apapun yang disandang Jacob pasti dihindari Collin. Jacob sok-macho, Collin sok-manis sampai taraf yang menurut anak-anak menjijikkan dan tak sesuai dengan tampang sangarnya. Jacob mati-matian berusaha agar urusan pribadi tetap jadi urusan pribadi, Collin malah ribut menggosip. Jacob, seperti sewajarnya semua cowok maskulin lain, mengutuk cowok-cowok manis dan dunia pop penuh kilau yang digandrungi gadis-gadis remaja yang mereka bawa, Collin justru jadi fans berat Justin Bieber yang menghabiskan seluruh uang tabungannya untuk nonton konser. Tapi tetap saja sederet penampakan luar yang berbeda 180 derajat itu tak bisa membohongi apa yang ada di dalam. Adam bilang, Collin berusaha melakukan diferensiasi identitas, apapun, sadar atau tidak, akan dia lakukan untuk menyatakan bahwa ia berbeda.
Tapi soal keberuntungan? Oh, Seth bodoh kalau menyamakan keberuntungan si Alfa mencurangi Kematian dengan Collin. Nyata-nyata, Cole sampai tertimpa masalah kemarin itu gara-gara jadi kopiannya Jacob. Sampai Brady mengira, mungkin di kehidupan sebelumnya mereka sebenarnya kembar, tapi jika Jacob diikuti Dewi Fortuna, Collin dibayangi Dewa Kemalangan.
Itu yang membuat Brady mendengus. "Jangan terlalu berharap, Seth."
"Memang tidak," sahut Seth santai. "Hanya menghibur diri sendiri. Tapi tak ada salahnya sedikit memberi kepercayaan padanya, kan?"
Dari posisinya di jok belakang, memandang bayangan Seth dari spion tengah, Brady bisa melihat Seth meliriknya. Melihat cekung hitam di bawah mata Seth, ia tahu pemuda itu sudah beberapa hari tak tidur. Gurat lelah memenuhi wajahnya, tapi ia kelihatan berbinar-binar. Oleh harapan-kah? Benarkah mereka begitu tinggi menggantungkan harapan, kepercayaan, bahwa Collin selamat?
"Kalian tahu," Noah memecah kediaman. "Kalau kita membawa ekskavator ke reruntuhan, langsung membongkarnya, mungkin kita bisa lebih mudah menemukan Cole?"
Jujur ini sudah pertanyaan Brady dari awal. Mengapa mereka tidak menyewa alat berat, mengeruk tanah dan bebatuan longsor yang menimbun gua bawah tanah? Alat itu terbukti efektif dalam mengevakuasi korban bencana alam. Minimal mengangkut mayat mereka keluar dari reruntuhan. Mereka juga seharusnya bisa meminta bantuan para profesional. Tim SAR. Tapi tak ada yang melakukan itu. Dewan Suku terlalu takut jika ada vampir lolos yang menyerang para penolong, karena jelas tak ada anggota kawanan yang mampu mengoperasikan alat berat. Mereka lebih mementingkan rahasia suku dan nyawa para manusia, yang bahkan belum tentu terancam, ketimbang Cole.
"Aku sudah menjelaskan alasannya berulang kali, Noah," Phat agak terdengar kurang sabar. "Selain masalah zombie, aku takut getarannya akan meruntuhkan jaringan lebih dari yang sudah terjadi. Kau tahu betapa rentannya konstruksi batuan di sana. Jika begitu, bahkan walaupun tadinya Collin hidup, atau keajaiban terjadi dan ia terlindung dari reruntuhan, atau entah bagaimana kondisi lukanya tak cukup parah, ia takkan bisa selamat jika tertimpa reruntuhan baru."
"Cih," Noah memaki. "Kenapa para lintah bodoh itu membangun sarang di tempat jelek begitu? Salah-salah mereka bisa tertimbun semua kan? Kalau ada gempa bumi betulan, misalnya."
"Kurasa itu bukan 'sarang', kalau definisinya adalah tempat bermukim permanen, tempat bersembunyi dari kita," Seth mengutarakan pandangannya. "Menurutku itu hanya semacam jaringan, untuk menyatukan satu tempat dengan tempat lain. Sarana transportasi. Mempermudah mereka mengawasi kita, berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa terendus."
"Mereka punya vampir yang bisa menutupi jejak, Seth. Menurutku itu tidak perlu," tukas Brady muram.
"Yeah, memang... Tapi setelah beberapa kejadian, penjagaan diperketat, kan? Aku yakin mereka tak hanya bersembunyi dari kami, tapi juga dari kawanan kalian. Menurutku markas mereka tetap di luar tanah Quileute. Sebab jika tidak, itu sama saja mengekspos suku pada ancaman vampir. Jika memang begitu, pastinya sudah banyak target kita yang berubah hingga saat ini."
Itu benar, tentu saja. Tapi entah mengapa Brady merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Sesuatu yang salah, sesuatu yang berbeda.
"Omong-omong, bagaimana sekarang anak-anak, Brad?" tanya Seth dari bangku kemudi. "Terakhir kali aku menelepon Embry, katanya Jacob jatuh lagi?"
Jadi Seth berhubungan dengan Embry? Dan Embry sama sekali tak berkata apapun? Brady entah mengapa tak bisa menahan diri untuk bersikap sinis.
"Kenapa kau tak tanya saja pada Embry lagi, kalau begitu?"
Brady aslinya bukan orang yang sevokal Collin. Sebaliknya, ia selalu bisa menahan diri. Kawanan selalu memandangnya sebagai sahabat setia yang mengikuti Cole ke mana-mana, sekaligus buffer bagi segala naik-turun emosi remaja itu. Di antara The Gossip Guys, ia yang paling pendiam sekaligus paling bisa diandalkan. Jelas, ia jadi bagian geng gosip bukan karena ia bakat penggosipnya seperti Ben dan Pete, tetapi lebih karena loyalitasnya pada sahabat. Tapi ada saat-saat tertentu ketika kesabarannya mencapai batas, misalnya karena stress menumpuk, dan ia tak ragu untuk menyentak. Seperti ketika ia ditekan kanan kiri oleh Collin dan Jacob perkara pengawasan dan rekruitmen serigala baru.
Dan kini, saat Collin tak ketahuan nasibnya, pasti adalah salah satu saat penuh tekanan bagi Brady, Seth tahu benar itu. Karenanya ia tidak mempedulikan kekasaran Brady dan lebih fokus pada isinya.
"Aku ingin. Tapi kautahulah, sejak Sabtu aku terus di hutan, tak ada sinyal. Aku baru pulang tadi pagi, mengambil mobil untuk menjemputmu. Ponselku kutinggal di rumah, dicas."
Jadi Seth sudah lima hari di hutan... Pastinya dia tak berubah, karena kalau ya, pastinya Embry dkk sudah menangkap pikirannya. Tapi menudungi pikiran adalah spesialisasi Seth, dia takkan bisa dideteksi kecuali dia ingin dideteksi. Tapi kalau begitu, untuk apa Seth bersembunyi dari mereka? Kecuali ... dia sudah benar-benar menyeberang.
Seolah bisa membaca kegalauannya, Seth mendadak tertawa.
"Aku yakin kau bertanya-tanya kenapa kalian tak bisa menangkap pikiranku. Jawabannya adalah karena aku belum sekali pun berubah dalam seminggu ini."
"Eh?"
"Kami menyusuri lorong. Kau tahu, jaringan bawah tanah terangkai dari lorong-lorong kecil yang jangan kata dilalui serigala, dilalui manusia pun sulit. Beberapa bagian bahkan tak bisa ditembus indera penciuman Phat, entah masih ada tudung vampir yang bekerja atau karena memang terlalu jauh di bawah bumi. Jika Cole punya kesempatan keluar, mungkin ia menyusuri salah satu lorong. Kami takut ia jatuh kelelahan atau kurang oksigen di salah satu lorong, dan membongkar lorong dari atas dengan alat berat ditakutkan akan meruntuhkan jaringan dan menimpa tubuh Cole, jadi kami menyusuri lorong itu satu demi satu. Menemukan banyak juga lorong-lorong yang belum teridentifikasi sebelumnya."
Penjelasan Seth membuat Brady melongo. Ya, Noah sudah mengatakan ini sebelumnya. Sepuluh lubang masuk, katanya. Tapi Seth menyatakan ada lorong-lorong lain?
"Hei, tunggu," bukan Brady yang menolak, tapi Noah. "Lorong lain? Berapa lorong memang yang kautemukan? Kenapa aku tidak tahu?"
"Phat menemukan tiga, aku dua. Kedua lorong yang kutemukan tembus ke tanah Cullen. Aku baru menemukan semalam. Bersambung dengan lorong di Zona 3. Mungkin kau tak tahu karena kita kan bekerja di zona berbeda. Kau harus merevisi peta jaringanmu, Noah," Seth melirik sebentar ke belakang, mengedip pada pemuda itu.
Keakraban Seth dengan Noah, dan juga kesantaiannya kala menyebut nama Phat, entah mengapa, membuat Brady merinding. Rasanya seakan ia tidak menghadapi Seth yang ia kenal. Seth ini bukan Betanya. Ia bahkan seakan bukan bagian dari kawanannya. Ia bagian dari kawanan asing.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Brady," Seth kembali menariknya dalam pembicaraan, agak membuat Brady terlonjak. "Jadi bagaimana kabar anak-anak?"
"Hmmm," Brady tertegun sesaat. Apa yang harus ia katakan? Di sini, di depan dua anggota kawanan lain dan satu yang tidak jelas ada di mana. "Mereka sudah membaik," ia memutuskan memberi jawaban aman. "Kawanan sudah kembali beroperasi."
"Jacob? Kudengar ia menghadapi masa kritis setelah operasi?"
Ya. Kalau boleh ditambahkan, itu gara-gara ulah pacarmu, Seth, pikir Brady. Tapi tentu saja ia takkan mengatakan itu.
"Ia sudah membaik. Caleb dan Adam menerapkan perawatan ketat, bahkan pembatasan jadwal kunjungan. Kecepatan penyembuhannya meningkat berkat serum temuan Profesor Cullen, jadi kurasa dia sudah pulih total selagi kita bicara."
Seth tertawa pada nama Profesor Cullen. "Kurasa Daddie Eddie layak dapat Nobel dengan penemuannya, heh? Senyawa racun vampir derivatif untuk penyembuhan... Akhirnya ada gunanya juga para makhluk beku itu. Siapa sangka, coba? Selama ini kita berpikir racun itu hanya merusak sistem tubuh, terutama bagi kita para serigala. Tapi ternyata dengan manipulasi struktur kimia dan pengembangan antigen..."
"Tunggu," sela Brady curiga. "Dari mana kau tahu dia mengutak-atik senyawa vampir untuk menolong Jacob?"
"Oh, siapa juga bisa menebak itu, Brad," senyum Seth. "Lagipula kaupikir siapa aku? Tentu saja aku tahu apa yang ia lakukan di Alaska selama tiga tahun terakhir!"
"Apa memang?"
"Hmmm, kau tahu, penelitian Ed itu sudah berlangsung lama. Awalnya ia tidak meniatkan untuk mengembangkan senyawa untuk menolong kita, kau tahu. Motifnya dulu sederhana. Kau tahu kan, ia khawatir jika Jacob dan Renesmee menikah, mungkin anak mereka akan sangat lemah karena ada dua gen yang saling bertentangan bertarung. Karenanya ia membuat simulasi, berusaha membangun jembatan antara vampir dan serigala, dengan menjadikan serigala kutub sebagai bahan percobaan. Tapi malah di tengah perjalanan, terjadi keajaiban. Dan voila! Ia menemukan mata rantai!"
Rahang Brady langsung jatuh saking kagetnya. Bukan informasi soal Seth tahu apa yang dikerjakan si calon mertua Alfa mereka yang membuatnya bingung. Ia sudah tahu bagaimana kedudukan Seth di keluarga itu, yang selalu dipandang dengan tatapan sinis oleh para mantan anak buah Sam, terutama Collin, Josh, Harry, dan Clark. Berbeda dengan Jacob yang separuh-separuh diterima, dan Leah yang memang sejak awal menjaga jarak dan hanya menolerir Esme, Seth sudah bagai adik kecil kesayangan mereka saja. Hingga kadang, Quil dan Embry mengejek bahwa pastinya suatu saat Seth akan dijadikan anak adopsi, dan memanggilnya dengan nama Seth Cullen. Itu, dan ditambah kedekatan Seth yang luar biasa dengan Renesmee, sering dijadikan sumber gosip tidak jelas kawanan, yang ujung-ujungnya membuat Jacob cemburu berat sampai keluar asap dari telinganya, dan tentunya membuat Collin puas hingga tertawa terpingkal-pingkal.
Tidak, bukan itu. Yang membuatnya bingung adalah ...
"Ed dan Ness membuat kemajuan besar belakangan," Seth tidak memberi waktu bagi Brady untuk mengutarakan pertanyaannya, "waktu mereka menemukan titik temu antara vampir dan serigala. Yang salah satunya, mereka jadi bisa mengembangkan senyawa dari racun vampir yang aman di tubuh serigala, tapi memiliki karakteristik tertentu yang bisa membantu proses tertentu seperti operasi dan penyembuhan. Mereka cerita lumayan detail padaku, tentu, mereka pikir aku akan tertarik. Sudah lama Ed mengiming-imingi beasiswa agar aku nantinya mau jadi partner lab-nya. Tapi tentu saja, kau tahu, aku tak terlalu tertarik dengan kimia terapan atau biologi atau apapunlah itu. Jadilah aku menawari Harry. Kelihatannya dia cukup cerdas. Tapi entah apa ia mau bekerjasama dengan vampir. Kau tahulah Harry..."
"Tunggu, Seth," Brady menyela sebelum Seth meluncur lebih jauh lagi. Agak aneh Seth mencerocos terus begitu, rasanya seperti melihat Seth yang dulu. Beberapa tahun belakangan sejak jadi Beta, ia berubah jadi lebih hemat omong, walau tak bisa dibilang pendiam juga. "Tadi katamu Ed dan Ness menemukan titik temu antara vampir dan serigala?" tanyanya.
Seth tampak agak ragu ketika menjawab, "Ya..."
"Apa tepatnya itu?"
"Wah, aku tidak begitu paham..." Seth jelas mengulur kata-katanya. Brady tak tahan lagi.
"Tadi kaubilang mereka cerita detail!" paksanya.
Kembali menghembuskan napas, Seth tampak lebih hati-hati ketika akhirnya bersuara, "Semacam simpul yang bisa menyatukan DNA vampir dan serigala..."
"Maksudmu seperti dalam kasus Kierra?"
Mendadak suasana dalam mobil terasa aneh. Mencekam. Dingin, dan pastinya itu bukan karena AC di mobil yang disetel terlalu kencang. Terlihat gestur Phat dan Noah lebih kaku, dan Seth keras-keras mencengkeram kemudi.
Kierra adalah satu-satunya dalam sejarah mereka yang merupakan contoh sukses penggabungan gen vampir dan serigala. Ya, tentu, diam-diam Brady mencurigai ada yang lain, ia bahkan pernah bersua langsung dan mengendus baunya. Lebih lagi, mengetahui seperti apa makhluk yang dihasilkan oleh persilangan itu, dan apa akibatnya bagi suku. Tapi ia tak berani berspekulasi. Kelewat riskan. Lebih lagi kalau ternyata spekulasinya benar, itu mendorong pada kemungkinan berikutnya. Sesuatu, yang terus terang saja, sama sekali bukan kemungkinan menyenangkan.
Selang beberapa saat, Seth kembali bicara. Nada suaranya agak tenang kali ini. "Kierra, ya, memang, ia contoh yang tepat. Tapi masalahnya, pada kasusnya, jika aku tidak salah mendengar ucapan Old Quil, ibunyalah keturunan serigala, sedangkan ayahnya vampir? Itu jelas berlawanan dengan Ness dan Jacob. Tambah lagi, ia agak bertanya-tanya, jika Ness berhenti tumbuh, apa ia juga akan masuk ke dalam kondisi setara dengan vampir perempuan lain? Tak bisa mengandung, misalnya..."
Brady menganga.
"Lho, itu kan tidak mungkin, Seth! Siapapun tahu Ness tidak beku. Ia tumbuh..."
"Hingga detik ketika ia mencapai titik kedewasaan dan tubuhnya berhenti tumbuh. Ya, aku tahu. Tapi justru itu yang membuat Edward ragu. Kau tahu, seluruh saudari Nahuel tidak memiliki keturunan. Jika memang ada kemungkinan Ness juga takkan bisa mengandung setelah mencapai kedewasaan, ia berniat memberitahu Jacob, hanya agar ia bersiap-siap."
Brady mengernyit.
"Siap-siap apa? Apa dipikirnya kalau Ness tidak mungkin hamil, Jacob akan menolak imprint?"
"Yeah, memang aku tahu Jacob takkan mungkin menuntut, tapi ia hanya ingin memastikan. Kau tahu, Ed sangat protektif. Ia tak ingin ada masalah di kemudian hari, misalnya, kau tahu, Jacob menginginkan anak. Bagaimanapun ia Alfa, dan mungkin instingnya akan menuntunnya untuk menghasilkan Alfa penerus. Termasuk ia ingin memastikan, jika memang mereka bisa menghasilkan keturunan, bayi seperti apa yang akan lahir."
"Maksudmu Ed tidak yakin jika mereka jadi menikah nanti, makhluk yang mereka hasilkan akan 'aman' atau jadi monster?"
"Yeah, tidak seekstrem itu sih... Tapi beberapa kejadian belakangan, yang, kau tahu, berhubungan dengan suatu jenis vampir yang aneh, membuat Ed menduga-duga soal persilangan dan resiko pembuahan..."
Ucapan tentang kandungan mendadak membuat Seth muram. Kelihatan sekali ia tak ingin meneruskan, larut dalam pikirannya sendiri, dan itu tak luput dari perhatian Brady. Dalam hati ia tahu ada yang salah dengan Seth, dan mungkin menduga-duga penyebabnya. Tapi ia tak bisa menunjuk satu alasan pasti.
Brady menimbang sesaat. Haruskah ia menyatakannya? Di sini? Di depan kawanan asing yang masih belum jelas kawan atau lawan, dan di depan mantan Beta yang tidak ketahuan berdiri di pihak mana.
"Kalian tahu?" ia mencoba bicara setelah sekian waktu berada dalam diam, namun segera terhenti. Ia tidak merasa nyaman. Ini bukan kawanannya. Ia tak seharusnya bicara apapun yang sifatnya terlalu krusial dengan mereka. Tapi mereka adalah yang terdekat dengan kebenaran yang ia punya.
Seolah membaca pikirannya, Seth bangkit dari kediamannya, lagi-lagi menatapnya dari spion tengah. "Kau bisa katakan apa saja," katanya. "Aku percaya pada mereka."
Seth percaya pada mereka.
Haruskah ia ... percaya?
Brady menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Omonganmu soal mata rantai itu membuatku ingat sesuatu. Sebelum serangan itu, di sisi Ariana, ada seseorang yang dipanggil Sang Ibu."
Ketiga pemuda di mobil itu sontak melirik padanya. Termasuk Seth, agak memalingkan perhatiannya dari jalanan. Tapi tahu Seth, dan kemampuan multi-tasking-nya yang hanya ditandingi Ben kalau sedang asyik bergosip di tengah patroli, Brady tidak merasa khawatir.
"Sang Ibu?" Noah menampakkan rona terkejut.
"Ya. Dan anehnya, aku entah mengapa merasa, dia bukan vampir. Dia punya sedikit ... kau tahu, bau serigala."
"Oh, maksudmu hibrida Quileute itu?"
Brady agak tertegun. 'Hibrida Quileute', dia bilang?
"Korra pernah bersinggungan dengannya di tanah Cullen," jelas Noah singkat, yang sejujurnya tidak menjelaskan apapun. "Pemimpin para vampir."
Brady mengangguk, meski di kepalanya langsung berseliweran beribu pertanyaan. Pertama mereka menyebut kata 'hibrida Quileute', 'pemimpin para vampir', dan juga 'tanah Cullen'. Apa yang kawanan ini tahu dan mereka tidak?
Ia menekan keingintahuannya hingga level terendah dan memutuskan bermain cantik. Jika ia punya kesempatan untuk bersinggungan dengan kawanan ini, dan masuk menjadi bagian dari mereka, ia akan gunakan kesempatan ini untuk mengorek sedalam-dalamnya. Ya, pasti itu juga yang ada di pikiran Seth saat ini. Ia tak percaya apapun yang ada di benak Embry dan Quil, mengganggu mereka berhari-hari dalam keputusasaan dan kebimbangan, juga kekecewaan, bahwa Seth memang telah menyeberang.
Brady kembali menarik napas. Langkah berikut akan menentukan apa nasibnya, dan nasib kawanan selanjutnya.
"Cole ... beranggapan bahwa ...," ia meneguk ludah, "Sang Ibu adalah ... Kierra."
"SETH, AWAS!"
Bersamaan dengan peringatan Phat, terdengar decit keras dan mobil oleng, berputar hampir 720 derajat di jalanan. Mata Brady mengembang, tangannya berpegangan keras pada jok hingga mungkin akan mencabiknya. Seth menginjak rem kuat-kuat, bertarung melawan daya sentripetal, mati-matian berusaha mengendalikan setir dan menarik tuas persneling. Ketika putaran itu akhirnya berhenti, di bawah kutukan keempat makhluk di dalam Volvo itu, kebekuan mencekam sementara keempatnya mati-matian menarik napas, berusaha meredakan getar kengerian dalam dada mereka.
Bagus, Brady. Langkah yang sangat tepat untuk bermain cantik.
"Apa-apaan kau, Seth?!" kutuk Noah dalam teriakan yang pastinya bisa membuat Gunung Vesuvius meletus lagi. "Kau mau membunuh kita semua?!"
"Maaf," Seth adalah yang terlihat paling kacau. Mati-matian ia menggeleng kuat-kuat, meredakan gemetar di sekujur tubuhnya.
"Aku yang menggantikanmu menyetir," ujar Phat cepat, setengah memerintah. Seth menarik napas, mengangguk. Masih butuh beberapa menit baginya hingga akhirnya ia benar-benar membuka pintu penumpang, menukar posisinya dengan Phat.
"Brengsek, Seth," Noah masih mengutuk ketika Phat menstarter mobil, mengambil alih kemudi dan kembali menjalankan mobil menempuh jalur lengang di jalanan yang bahkan jauh dari licin. Napasnya masih naik turun. "Aku tahu kau stress, tapi tak perlu membawa kami bunuh diri juga..."
Seth kembali menggumamkan maaf, memejamkan matanya kuat-kuat, membanting kepalanya ke jok.
Adegan itu tentunya tak luput dari perhatian Brady. Ketika akhirnya mobil kembali meluncur tenang di jalanan berliku, ia kembali bertanya, kali ini lebih hati-hati.
"Serigala putih Alfa kalian itu, ia benar Kierra, kan?"
Tiada yang menjawab.
"Jadi apa benar dugaan Cole, dia yang berada di balik semua penyerangan? 'Sang Ibu'?"
"Kau tahu, itu bukan pertanyaan yang tepat saat ini, Brads," tukas Noah cepat, tak sabaran. "Jika itu idemu untuk membunuh kami, meminta tanggung jawab atas kematian Cole, lakukan di padang terbuka, dalam pertarungan satu lawan satu."
Nada suara Noah tak lagi bersahabat. Namun alih-alih membuat Brady gentar, itu justru membuatnya curiga.
"Alfamu benar-benar Kierra, ya kan?" bahkan Brady tak percaya ia begini memaksakan keberuntungannya. Sama sekali tidak ada yang cantik dalam manuvernya. "Apa ia juga Sang Ibu? Dalang di balik semua ini? Menempatkan kami langsung di bawah ancaman para lintah? Mengorganisasi mereka..."
"Asal kau tahu, Brady, duet Black itu: Alfamu dan Litsey, yang selalu dengan bodoh menempatkan kawanan kalian dalam bahaya karena ketidaktahuan mereka! Harus berapa kali kami katakan, kami bukan musuh dan tidak bertanggung jawab atas serangan di jurang! Korra tidak pernah..."
"Noah!"
Noah mendadak diam di ujung peringatan Phat. Merutuk lagi, ia membanting tubuhnya ke jok di sisi Brady, memejamkan mata kuat-kuat dan kembali menggumamkan makian tanpa ujung pangkal.
"Korra?" Brady menemukan ruang untuk mencecarnya. "Apa peran Korra di sini? Ia Beta kalian kan? Si serigala hitam?"
Noah melotot pada sahabat masa kecilnya itu. Ekspresinya seakan berkata, 'Itu hal yang tak boleh diungkit!', namun itu tak berefek apapun pada Brady, selain bersit paham yang merebak di hatinya.
Rasanya ia bisa menempatkan segalanya dalam semesta itu. Korra si serigala hitam. Phat si serigala emas. Noah, entah serigala warna apa dia, walau baru direkrut, jelas sudah menjadi salah satu ksatria mereka. Dan Kierra si serigala putih.
Tapi Kierra adalah roh. Ia harus menempati tubuh seseorang bahkan hanya untuk bisa bernapas. Setidaknya itu yang ia tangkap dari cerita Old Quil.
"Oke. Jika ia bukan Sang Ibu, aku punya kemungkinan lain. Kierra ... apakah ia ... Kuroi Kanna?"
Dilihatnya Noah membeku di ujung matanya. Pandangannya agak panik. Mata Phat berulang kali mencuri-curi menatapnya dari spion tengah. Seth terhentak oleh kalimatnya, menoleh sesaat pada Brady dengan pandangan yang aneh, sebelum kembali menatap jalanan. Ekspresinya lebih menderita ketimbang sebelumnya.
"Maaf, tak ada pertanyaan lagi, Fuller," Phat bicara dari kemudi. "Perintah langsung Alfa. Kami tak bisa menjawab apapun."
Brady langsung menganga. Selangkah lagi dan ia bilang ia tak bisa mengatakan apapun?
Wah, itu sama saja dengan konfirmasi!
"Aku akan bersikap pintar jika aku jadi kau, Fuller," Phat kembali bicara, membuat Brady mengernyit. Sambil mempertahankan kontak mata lewat spion, pemuda itu berujar, "Sekarang ini kau punya kesempatan untuk menolong sahabatmu, sekaligus juga mengenal kami lebih jauh. Apakah kami sahabat atau musuh. Kalau aku di posisimu, aku akan diam dan mengikuti aliran air."
Meski sulit mengakuinya, Brady tahu pemuda itu benar.
Sekali lagi kebekuan menyelimuti atmosfer ketika tidak ada lagi yang bicara, atau berusaha bicara. Brady masih gatal ingin mengorek, tapi tahu takkan ada gunanya jika ia mengucapkannya sekarang. Mereka bisa saja menendangnya. Sekarang, saat ia membutuhkan mereka untuk menyelamatkan Collin. Jadi diikutinya teladan Seth, apapun yang ada di benak pemuda itu sekarang, duduk diam dan memperhatikan sekeliling. Meski Seth kelihatannya lebih disibukkan oleh pikirannya sendiri. Noah dan Phat juga diam, tapi Brady tak ingin tertipu oleh kebekuan itu. Cole sudah berulang kali menduga bahwa mereka bisa bertelepati dalam wujud manusia, sehingga mungkin saat ini, di balik kediaman itu, mereka tengah membicarakan sesuatu. Rencana terhadapnya, misalnya.
Tetap awas, Brads, tekannya pada diri sendiri.
Melewati jalur berkelok-kelok, mereka sampai di jalur landai yang merupakan jalan penghubung antara La Push dengan reservasi Makah. Tiba-tiba Phat terlihat kaku barang lima detik, lantas memutar setir, begitu mendadak hingga lagi-lagi Noah mengutuk.
"Apa-apaan sih, Phat?" protesnya, yang sebenarnya hanya mengutarakan apa yang ada di benak Seth dan Brady.
"Maaf, Guys," Phat meluruskan mobil, membawanya kembali melintasi jalan yang tadi mereka lewati. "Ada perubahan rencana. Kita langsung ke markas."
"Ada apa?" suara Seth terdengar khawatir.
"Serangan di Zona 1. Kuroi terluka. Korra memerintahkan kita mundur."
Brady terhenyak. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Kau tahu, kita tak sekadar menyisir hutan untuk mencari Collin," Phat bicara dengan nada tegang yang membuat Brady menelan ludah. "Sudah kubilang, Zona 1 penuh zombie yang ingin menuntut balas. Itu sebabnya Korra meminta agar pencarian Collin, baik oleh kawanan kalian ataupun oleh pihak berwenang, dihentikan. Kita tidak ingin jatuh korban terlalu luas."
Seth terlihat pucat. Dan Brady bisa menebak apa alasannya bahkan walau Seth tidak mengatakan apapun.
Ini bukan cuma urusan setan-setan dingin yang bangkit dari kubur bernama reruntuhan liang kelinci, dan berkehendak menuntut balas. Itu sudah pasti terjadi dan bisa mereka prediksi. Ini mengenai Korra. Korra meminta agar pencarian Collin dihentikan, katanya? Apa maksudnya?
Apapun, yang jelas, jika Korra bisa campur tangan dalam keputusan menyangkut pencarian Collin hanya berarti satu.
Kawanan asing itu telah mempenetrasi Dewan.
Ini seharusnya tidak aneh. Korra adalah putri kesayangan Billy, juga orang yang mereka selalu anggap sebagai calon pengganti Jake, yang kedudukannya lebih kuat dari Collin. Tapi jika Korra bisa menentukan keputusan Dewan, itu sama saja mengasumsikan bahwa Dewan tahu. Sejak kapan mereka tahu? Apa sejak penyerangan di jurang? Atau justru sebelumnya? Tapi jika selama ini Dewan tahu, mengapa mereka tidak mengatakan apapun? Apakah mereka (baca: Billy sebagai Ketua Dewan dan Sam, tentu) lebih memilih Korra ketimbang Jacob, Alfa yang sah? Jika benar, mengapa mereka menyembunyikan segalanya dari Jacob, tidak peduli jika Korra telah dimiliki kawanan asing dan mungkin bertindak demi kepentingan mereka? Apa mereka punya maksud tertentu? Apa mereka merencanakan sesuatu yang tidak seorangpun tahu?
Apa?
Hanya dari satu kalimat sederhana, 'Korra meminta penghentian pencarian Collin', segera mengantar pada satu kemungkinan. Satu asumsi, satu pertanyaan segera mengantar pada pertanyaan lain. Dan sungguh, Brady tidak siap untuk segala jawaban itu.
.
.
Catatan:
Halo semua… Maaf banget ya, baru sempet update lagi... aku udah bikin 3 chapter sekaligus, jadi mudah2an bisa aku posting satu per satu secara kilat. Beberapa chapter ini adalah chapter 'jawaban', beberapa aja memang, ga semuanya sekaligus, jadi walau memang membosankan (pastinya) silakan dicek… Pasti udah pada sebel kan dengan berhentinya yang ga enak banget? Hahaha, tolong cek lagi barang besok atau 2 hari ke depan, aku udah bakal update kynya. Masi edit sekarang. Dan kalau ada sesuatu yang aneh, silakan dikomen…
Makasih untuk yang review, baik banget deh, aku seneng… hehehe…
Bella: hehehe, maav maav… emang panjang n ngebosenin, aku tau… Maaf yah, abis emang aku ga bias motong isi kepala ni… hahahaha… tapi udah mendekati akhir kok, janji.
Rhie: eh, ada teori apalagi geto? Hmmm, aku seneng ada yang mikir kalo Kierra masuk ke jiwa Korra. Masalahnya, bener apa ngga tu? Hehehe, temukan jawabannya 3 chapter ke depan. Oya, chap selanjutnya bakal ngebuka soal Gubuk Penyihir, jadi tetep baca ya
Erkabur: hehehe, ai-shounen banget ya? Ga tau nih, pas aku nulis, ternyata ko jd agak2 menjurus geto? Tapi anggap Cuma chemistry… eh salah ya istilahnya? Yang jelas noah ga pacaran sama brady… hehehe… wah kalo soal pesan moral, itu sih silakan disimpulkan sendiri… hahaha… The Cullens, ya, akan muncul. Di TAB emang ga terlalu muncul, tapi di LoK bakal ada pemunculannya, aku janji deh. Terutama Carlisle dan Jasper.
Manik Padmaswari: hehehe… iya, tapi ternyata dia ga bener2 dibully kok… lagian dia sih udah biasa dibully bareng cole… makasih … btw apa tuh hestag?
Nabillaesa44: ni update lagi… aku juga udah ga sabar m skalian update 3 sekaligus, tapi apa boleh buat, harus diedit dulu… The Cullens jangan ditungguin deh, ntar pas udah waktunya muncul juga muncul
Skyesphantom: duh… iya aku juga sedih soal Brady. Aku gtw sebenernya, bisa ga nangkep emosinya. Btw I LOVE GRANTAIRE! Lho, kok Grantaire? Maksudnya Brady… Ga tau kenapa…
SelfQuill: ngga, ngga Jake ga bakalan nyerah ko, serius… Cuma yah, akhir tentang Jacob mungkin bakal bikin aku dibunuh kaya pas Kierra dibunuh Kaliso… Diiket pake tali tajam berlumur racun vampir, terus ditarik serigala n dibakar idup2… waaaaaggghhh…
RJR: apa korra separuh vampir? 'separuh' itu hampir mustahil. tapi sebagian jawabannya bisa ditemuin di chap selanjutnya. semoga masih ga bosen bacanya :)
Sekali lagi, thx all… yang masih aja ngikutin sampe sini, padahal ade n pacarku udah ribut bilang ga akan ada yang mau baca lg soalnya kepanjangan… waghwaghwaghh… maafin ya semua…
Aku masi nunggu review. Cuma mungkin aku minta maaf, aku masih mau bersikap egois sedikit lagi. Ada beberapa adegan keji (seolah selama ini belum pernah ada!) di beberapa chap mendatang. Oh, rasanya aku udah ketularan Adam& Caleb
Luv u all
