THE ANOTHER BLACK
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon… During the continuity of this story, some changes like details of past events, legends, characterization of some person, or even addition of new characters and laws, may occurred.
.
Warning: Rated M... Read on your own guard…
.
.
Enampuluh Enam - Tanah Larangan (Styx -8-)
Wednesday, May 1, 2013
8:47 AM
.
.
Phat membawa Volvo Seth keluar jalur mobil-melewati jalan setapak yang hanya pas mobil di antara pepohonan, melintasi padang rumput, lantas menerobos semak. Brady menangkap ekspresi Seth yang agak shock. Ulah Phat ini tentunya meninggalkan jejak baret-baret pada mobil kesayangannya, tapi ia tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya berpegangan erat dengan wajah meringis, ketika Phat membawa mobilnya melintasi jalanan berpermukaan tidak rata. Brady takkan kaget kalau sepulang dari sini, Seth harus mengeluarkan ongkos perbaikan lebih dari harga ia membeli mobil ini dari Edward. Dan juga takkan kaget jika Seth langsung kena serangan jantung kala melihat tagihannya.
Walau ya, ia yakin harus menganggap Seth lebih tinggi dari itu. Seth, bagaimanapun, bisa dibilang cowok paling mapan di kawanan sekarang. Tentu saja jika dibandingkan dengan cowok-cowok sengsara lain, yang jika bukan pelajar tak berduit seperti separuh anggota, calon mahasiswa magang tanpa penghasilan seperti Adam dan Caleb, atau bahkan pengangguran bokek yang masih ikut orangtua seperti sang Alfa, paling-paling hanya pegawai kecil yang selalu berhutang sana-sini seperti Quil dan Embry. Begitu menyedihkannya mereka, sampai-sampai selama ini Seth yang selalu ketiban pulung. Tiap kali ada anggota yang butuh uang, Seth yang terpaksa jadi bank perkreditan kawanan. Malang bagi Seth, jangan kata dia dapat bunga, yang ada kawanan terus minta perpanjangan waktu, hingga ujung-ujungnya memohon-mohon agar Seth menganggap lunas hutang itu. Dan Seth, dengan sifatnya itu, terang saja hanya tertawa dan meluluskan permohonan apapun.
Seth pemuda yang baik, kalau soal satu ini, semua orang juga setuju. Ia tak berhak menerima semua ini: diperlakukan bak pengkhianat dan seolah diusir dari kawanan. Brady tahu tak ada anggota yang percaya, bahkan walau Jacob telah mengemukakan alasannya.
Tapi kini, di sini, melihat langsung Seth seolah bagian dari mereka, Brady benar-benar tak tahu bagaimana ia harus memandang mantan Betanya.
Mungkin Seth sepertinya, hanya berusaha mendapatkan kembali Collin. Mungkin ia juga direkrut. Seth mungkin tak hanya mencari Cole, ia mungkin berusaha mendapatkan kembali kepercayaan Jacob, dengan mendapatkan Cole sekaligus mempenetrasi kawanan asing. Tapi apa artinya kerjasama ini bagi masa depan kawanan? Jacob menjanjikan kesetiaan Seth pada Korra. Apa yang akan dilakukan Seth jika semua ini berakhir, jika Cole ditemukan? Apa ia akan kembali pada Jacob, apa Jacob akan menerimanya kembali? Atau ia justru memihak Korra?
Tapi, omong-omong, ke mana Phat membawa mereka?
"Kita berhenti di sini," kata Phat tiba-tiba, menginjak rem, memindahkan persneling, dan mengunci rem tangan. "Kita tak bisa lanjut dengan mobil."
Brady mengedarkan pandang ke sekeliling. Memang benar, sudah tak ada jalan yang bisa dilewati mobil di hadapan mereka, bahkan walau memaksa.
Mengikuti Phat, ketiga pemuda itu turun dari mobil. Begitu Phat menginjak tanah, mendadak terdengar dering ponsel, jelas bukan milik Brady ataupun Seth. Terlihat Phat menarik ponsel dari sakunya, lantas mengutuk. Tanpa ba-bi-bu ia menjauh, sepertinya mengangkat telepon. Tapi ia bicara dalam suara yang pelan, sangat pelan, dan cepat, hingga bahkan pendengaran Brady pun tak bisa menangkap apapun.
"Ada masalah, Phat?" tanya Seth sembari keluar dari mobil, kala Phat kembali tak lama kemudian dengan wajah kusut.
"Tidak," Phat mencoba tersenyum, walau terlihat tegang. "Hanya sedikit urusan dengan salah satu kawanan taklukan. Itu urusan Korra nanti."
Jujur Brady ingin bertanya, tapi melihat Seth yang hanya mengangguk, ia pun diam. Noah, sebaliknya, langsung merendengi Phat.
"Tunggu. Aku mencoba menghubungi Korra," kata Phat singkat, sebelum kembali ke mode kaku. Wajahnya mendadak tampak penuh konsentrasi. Ia tidak pergi ke tempat tersembunyi, tidak berubah, tapi Brady yakin ia sedang berada dalam koneksi langsung dengan pikiran kawanannya.
Brady menghampiri Seth, yang kini tengah memutari Volvo kesayangannya, mengelus-elus bodi mobil itu dengan ekspresi sedih. Meski simpati, tapi ini bukan waktunya bagi Brady untuk ikut-ikutan meributkan baret-baret di mobil Seth.
"Jadi, Seth," Brady memelankan suaranya hingga taraf hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Sejauh apa kau tahu soal mereka?"
Seth mengalihkan perhatian dari bodi mobil padanya. Ekspresinya masih sedih, tapi suaranya penuh peringatan. "Jangan bertanya hal yang tak bisa kujawab, Brad."
Tak urung Brady curiga. "Apa ia juga memerintahkanmu tutup mulut?"
Seth hanya mengendikkan bahu, memutus kontak mata dan mengalihkan pandangan ke awan-awan.
"Kau bukan anggota mereka! Titah Alfa mereka tak berlaku padamu!" seru Brady, tapi kemudian ia sendiri tidak yakin dengan ucapannya. "Ya kan?" tanyanya ragu.
Seth kembali mengendikkan bahu.
"Seth!" tuntutnya.
Pemuda itu memejamkan mata dan mendesah, sebelum berujar, "Ya atau tidak, ia tetap punya semacam otoritas atasku. Jika ia bisa membuatku melupakan sebagian memoriku, aku tak yakin ia tak bisa..."
"Tunggu," Brady tak bisa menahan diri untuk tak menyela. "Bagaimana bisa ia menghapus memorimu? Apa yang terjadi?"
Seth memandang Brady dengan ekspresi aneh.
"Kau tahu, ini bukan kali pertama aku bertemu mereka. Di jurang, aku pernah dihadapkan pada pemimpin mereka," katanya seraya menarik napas panjang dan berat. Ia pastinya merujuk pada adegan yang pernah tak sengaja diungkapkan Collin. Yang katanya si emas melukai Seth setelah Collin habis memeretelinya. "Tapi memoriku tentang kejadian itu tak ada sama sekali. Aku yakin ia menghapusnya entah untuk alasan apa," lanjutnya yang membuat dahi Brady berkerut.
"Tapi mereka bukan vampir! Mana mungkin mereka punya bakat..."
"Itu yang tidak kutahu, Brad. Tapi aku yakin bahwa..."
Ucapan Seth, bagaimanapun, tidak sampai selesai atau memberi informasi apapun. Karena belum lagi ia selesai bicara, tahu-tahu Noah sudah mendekati mereka.
"Kuroi sekarang sudah ada di gubuk. Korra dalam perjalanan. Kita bisa masuk sekarang."
Gubuk?
Seth mengangguk. Tak bicara apapun lagi, ia mengikuti Noah, yang sudah menyusul Phat melintasi sela-sela pepohonan. Brady mengekor di belakang. Sekian ratus meter, baru ia menyadari di mana mereka kini.
"Hei," bisiknya pada Seth. "Ini jalan menuju Gubuk Penyihir, kan?"
Lamat-lamat dilihatnya Seth mengangguk. Wajahnya tegang.
"Untuk apa mereka ke sini? Hukum adat menyatakan ini tanah larangan! Tanah orang terbuang! Jangan kata orang asing, kita saja orang Quileute tidak boleh masuk."
Kata-kata Brady mendadak menghentak Seth. Memang ia tahu orang-orang tua melarang anak-anaknya memasuki tanah itu. Tapi hukum adat menyatakan tanah itu sebagai tanah orang terbuang?
Seth berhenti mendadak, ekspresinya bingung. Sesaat ia mengintip sosok Phat dan Noah yang menghilang di balik pepohonan. Begitu yakin mereka berada cukup jauh, ia kembali menatap Brady.
"Apa maksudmu?" tuntutnya.
Ganti Brady yang mengernyit. "Kau tidak tahu?"
Seth menggeleng.
"Collin pernah bertanya pada Billy. Ia bilang itu hukum yang sudah sangat tua. Sejak zaman Jacob Black I. Tanah ini milik Zacharias Black."
"Siapa Zacharias Black?"
"Paria," ujar Brady. "Kau seharusnya kenal dia. Dia putra sulung Jacob Black I, sekaligus saudara kembar leluhur kita, Joanna Black. Kau pasti tahu kan, gen Black di keluarga Clearwater didapat dari Joanna, sedangkan di keluarga Black didapat dari putra bungsu Jacob I, Joshua?"
Seth mengangguk.
"Nah, Zacharias adalah putra sulung, seharusnya dia jadi Alfa. Namun ia diusir dari suku, sehingga galur utama berpindah pada Joshua. Bagaimanapun, ayahnya memperbolehkannya menempati bidang tanah ini. Tanah kecil, hanya dalam radius dua kilometer dari rumahnya. Dengan kata lain, sebenarnya ini tanah enclave, berada dalam wilayah Quileute tapi secara hukum dimiliki serigala lain. Bisa juga dipandang seperti penjara, sebenarnya. Tapi akhirnya, pada masa kekuasaan Ephraim, ia dihukum mati bersama putrinya, Tatiana. Sejak saat itu, tanah ini jadi tanah terkutuk."
"Tatiana? Tunggu. Siapa lagi itu?"
Kata-kata Brady selanjutnya menohok Seth. Membuatnya sungguh tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tatiana adalah ibu Korey Black. Dengan kata lain, istri pertama Ephraim."
Tentu saja ia tahu siapa itu Korey Black. Korra sering sekali cerita tentangnya. Korey Black, alias Korey Ateara, alias Korey Gerrard. Ibu Ariana. Tapi tak pernah sekalipun Korra menyebut Tatiana. Gadis itu bahkan tak pernah menyebut nama Ephraim. Jelas, ia sama sekali tak bangga menjadi cucu buyut kepala suku yang telah mengabaikan neneknya.
"Jadi Ephraim menghukum mati leluhur Korra?" bisiknya tak percaya.
Selama ini ia mengira kebencian Korra pada galur resmi keluarga Black adalah karena mereka, secara turun-temurun, menimbulkan kesengsaraan pada keluarganya. Apakah Korra tahu juga soal ini? Bagaimana tanggapannya jika ia tahu?
Brady juga sama tak percayanya dengannya, walau alasannya sama sekali berbeda. "Kau tidak tahu soal itu? Memang ini rahasia suku, hanya Dewan yang tahu. Aku tahu hanya karena Collin memberitahuku. Ia mendapat, kau tahu, 'hak-hak khusus' untuk tahu hal seperti itu. Tapi kukira sebagai Beta seharusnya kau tahu..."
Seth menggeleng. Soal ini memang ia tak pernah setajam Collin, tapi ia yakin Jacob pun tak pernah memperhatikan atau mau peduli hingga sedalam itu.
"Jadi itu sebabnya Korey dan Ariana terbuang?" ia bicara bagai bergumam, "Karena ibu dan kakeknya?"
Brady mengangguk.
"Tapi tunggu sebentar. Katamu tadi Ephraim menghukum mati mereka? Apa memang kesalahan mereka?"
Bagaimanapun itu terdengar mengerikan. Ayah Zacharias mengusirnya dan keponakannya sendiri menghukum mati dia? Berikut menghukum mati sang istri?
Brady, anehnya, tampak tidak yakin. "Aku juga tidak begitu jelas. Entah Billy tak tahu, atau sengaja menutup-nutupinya. Collin juga menanyakannya, tapi Billy bilang itu kesalahan yang berhubungan dengan darah dan sebagainya. Aku curiga, sebenarnya, Ephraim berusaha menjadikan dirinya satu-satunya Alfa dan mengambil kembali tanah enclave Zacharias, tapi Collin bilang itu tidak mungkin. Yeah, kau tahu, para Black itu, bagaimanapun, tak pernah percaya pada yang namanya insting agresi-Alfa."
Ya. Seth tahu itu. Jacob dan Sam selalu bersitegang, dan lantas ada semacam antipati antara Jacob dan Cole, padahal siapapun tahu betapa eratnya hubungan mereka dulu. Jacob bilang ia tidak tahan dengan sepupunya karena Collin berisik dan tukang gosip, sedangkan Collin bilang ia tidak suka Jake karena ia otoriter dan raja bully menyebalkan. Padahal di mata Seth, Jacob tak pernah bertindak otoriter. Malahan ia kelewat longgar selama tiga tahun terakhir, membuat Dewan mengecamnya karena dianggap kurang tegas menegakkan disiplin. Ancaman menurunkan Titah, yang belakangan jadi kalimat khasnya kalau mulai frustasi, sudah jelas hanya gertak sambal. Kecuali sangat terpaksa atau kelepasan, Jacob jarang benar-benar menurunkan Titah. Kecuali, yah, pada satu orang. Cole.
Di balik persitegangan mereka, dan bagaimanapun keributan itu tampak di mata anak-anak, mereka selalu menyangkal beberapa alasan: insting agresi Alfa, perebutan teritori, dan hal-hal semacamnya. Jika Seth berusaha mengkonfirmasi hal ini pada sang Alfa di depan Cole, Jacob selalu bilang, 'Kalau aku takut ia mengkudetaku, sudah dari awal kutendang ia dari kawanan!' dan Collin selalu membalas, 'Kalau aku memang ingin menjadi Alfa, tak perlu ada kudeta, sudah dari dulu kugerek Brady, Ben, dan Pete membentuk kawanan sendiri!'
Lalu mereka akan mulai meributkan pepesan kosong seperti: 'Mana mungkin kau bisa membentuk kawanan sendiri!' - 'Oh, mana kutahu kalau belum kucoba! Taruhan, kalau diberi pilihan, jika bukan karena darah tololmu itu, takkan ada yang mau mengikutimu, Alfa! Aku sendiri lebih pilih Sam!' - 'Oh, kau bocah kecil sialan menyebalkan! Jika bukan karena Sam kepingin buru-buru pensiun dan menyuruhku mengambil alih di sini, aku juga takkan mau memimpin begundal bandel sepertimu!' - 'Ya, aku juga sama! Jika bukan karena Sam menyuruhku menurutimu, sudah dari dulu kutendang bokong berbulumu!' - 'Ei, kau berani, bocah badung?' - 'Berani! Siapa takut?' - dan seterusnya dan seterusnya.
Intinya mereka bisa ada di satu kawanan cuma karena dua hal. Satu, karena mereka menghormati dua orang yang sama, Billy dan Sam. Dan dua, karena Collin sendiri enggan jadi Alfa, bahkan walau Sam pernah menawarkan kedudukan itu ketika ia pensiun, sebelum memutuskan penggabungan kawanan.
Menurut Collin, jadi Alfa itu kedudukan sinting. Ia jelas tak mau terkurung di La Push, lebih lagi mengambil alih kawanan. Sudah lama ia gatal ingin meninggalkan reservasi mereka, kuliah dan mengumpulkan uang, membuka toko pastry bersama Brady di kota besar. Meninggalkan kawanan pada Seth kalau Jacob pergi bersama Nessie. Sudah lama Seth tahu tentang daya imajinasi Collin, serta bakatnya untuk mewujudkan imajinasi itu dalam bentuk tiga dimensi. Tapi alih-alih bermimpi meneruskan bakatnya di bidang seni keramik atau ahli visual effect untuk film, Cole ingin menjadi cake-sculptor. Semua anak mengatainya sok-imut, tidak sesuai wajah dan lain sebagainya, tapi Seth tahu, Cole hanya ingin menunjang mimpi Brady.
Tapi di balik itu, Seth tahu, mereka berdua sebenarnya saling peduli. Jacob sendiri yang diam-diam memohon pada Sam waktu pertama sepupunya berubah, agar Collin jangan diturunkan dalam pertempuran melawan para vampir baru. Collin jelas kelimpungan pada saat manapun ketika Jacob diserang, bulak-balik menjagai Jacob di tempat Sam kalau tak ada Embry. Hingga saat ini, Seth tahu, Jacob masih menyimpan kado mobil-mobilan tanah liat dari Cole yang ia beri waktu masih kecil. Dan Cole masih suka membicarakan petualangan masa kecil mereka dengan mata berbinar-binar. Hanya saja, mereka terlalu tinggi hati untuk mau mengakuinya.
Tapi sikap kekanak-kanakan dua orang itu memang legendaris, ada atau tidak insting itu di antara mereka. Seth benar-benar tidak percaya dan tidak mau membayangkan mereka akan membawanya hingga taraf yang lebih mengerikan daripada pertengkaran kecil selama ini. Lebih lagi, jika ia harus percaya bahwa ada insiden, yang didasari insting yang sama, pernah terjadi di masa lalu. Ephraim menghukum mati Alfa lain, katanya? Pamannya, bagaimanapun, dan mertuanya. Bagaimana mungkin seseorang akan tega membunuh saudaranya sendiri?
Jikapun itu benar, pasti ada alasan lain.
"Kapan memang Cole tahu ini?" tanyanya.
Brady diam sejenak. Menghitung. "Setelah kau bertarung dengan Cole di jurang. Kelihatannya kau mengungkit sesuatu soal insting agresi para calon Alfa. Cole takut itu akan terjadi antara ia dan Korra, jadi ia menanyai Sam dan Billy soal asal-usul silsilah Korra. Ia memang sudah sejak lama tahu soal gosip yang beredar, kau tahu, soal Korey dan Ariana. Tapi tak ada yang tahu bahwa ternyata kutukan itu telah berlangsung lebih lama."
"Kutukan? Kutukan apa?"
"Kau tidak sadar? Semua keturunan Zacharias pasti menjalin hubungan dengan keturunan Joshua Black. Dan hubungan mereka selalu menjadi sumber masalah. Putri Zacharias dengan Ephraim, lantas putri mereka, Korey, dengan William, dan putri Korey, Ariana, dengan Billy. Namun darah mereka seakan dikutuk, tak ada satu pun bayi yang lahir dari hubungan itu yang tidak dikucilkan dan bernasib buruk. Setelah tahu ini, Cole jadi merasa, ketertarikannya dengan Korra juga semacam karma, kutukan. Ia takut jika ia terus menyukai gadis itu, itu akan menjadi masalah baru. Makanya ia berusaha melupakan Korra."
Jadi itukah alasannya? Mengapa Cole akhirnya menyerah? Benar-benar menyerah? Merestui hubungannya dengan Korra?
Tapi hubungannya dengan Korra juga bukannya jauh dari masalah. Mungkin memang benar, keturunan Zacharias dikutuk...
Tapi konyol benar, percaya pada hal seperti itu...
"Jadi intinya, kita sekarang berada di tanah yang secara hukum adat bukan milik Jacob?" Seth memandang sekitarnya, berusaha menjauh dari masalah mengerikan soal kutukan di darah Korra.
Anggukan Brady mengkonfirmasi banyak hal. Suasana aneh yang menekan begitu ia memasuki wilayah ini. Mengapa secara alamiah mereka selalu menghindari wilayah ini ketika patroli. Dan juga, mengapa Korra memilih tempat ini sebagai markasnya. Tanah ini sempurna. Berada di dalam wilayah Quileute, tapi tak tersentuh kawanan, seolah berada di dunia yang terpisah dari sekelilingnya.
Ya. Jika ini tanah Zacharias, artinya ini tanah Korra, sebagai satu-satunya keturunannya. Di tanah ini, Korra-lah Alfa. Hukum Jacob tidak berlaku di sini.
Kalau begitu, artinya Korra tahu mengenai Zacharias?
Tunggu, tunggu. Sebelum itu, apa semua itu mungkin? Korra telah dimenangkan oleh kawanan lain. Apa ia bahkan masih punya hak Alfa?
Seth, bagaimanapun, tidak bisa terus memikirkan itu. Mereka sudah tertinggal jauh, di tempat yang bahkan tidak mereka kenal. Meski, yah, kalau urusan Gubuk Penyihir, ia tahu ke mana arahnya.
"Ayo jalan," katanya, tak ingin lama-lama di titik itu.
Brady langsung mengikuti, walau kentara sekali terpaksa. Jelas, ia ikut kawanan ini untuk mencari Collin, tapi kini ia harus memasuki wilayah serigala lain? Lebih lagi, wilayah yang terlarang bagi mereka? Kapan mereka akan mencari Cole?
"Aku tahu yang kaupikirkan," kata Seth sementara bergegas menyusul Phat dan Noah yang sudah tak kelihatan punggungnya. "Tapi kalau ada masalah hingga kita tidak bisa melanjutkan pencarian, artinya memang masalah itu tidak ringan."
Brady mengangguk.
"Kau sendiri pernah ke sini?" tanyanya.
"Ya. Waktu kecil, bareng Jake dan Cole."
"Bukan, maksudku bersama kawanan ini."
Seth diam sejenak, lalu katanya, "Aku bertemu Phat di sini, tapi sejak itu tidak pernah ke sini lagi. Sejujurnya, selama aku mulai menyisiri hutan bersama Phat, belum pernah aku bertemu seluruh anggota mereka secara lengkap. Aku hanya bersama Phat dan Noah. Pernah sekali kami bertemu Kuroi, tapi ia hanya bicara dengan Phat. Korra sendiri belum pernah kelihatan batang hidungnya," ada nada sendu ketika ia mengatakan kalimat terakhir. Yang Brady berusaha tak menangkap.
"Tapi sebelumnya kau kenal kan, dengan Kuroi Kanna?"
Seth mengangguk. Wajahnya, entah mengapa, masam dan berat. "Aku pernah bertemu dengannya dua kali," ujarnya. "Aku, Korra, Phat, dan Kuroi pernah kencan ganda di Port Angeles."
"Eh, jadi dia pacaran dengan Phat?"
Di titik itu mendadak tampang Seth aneh. Mendung membayang sesaat, sebelum ia berhasil menutupinya dan berujar cepat, "Tidak. Tidak tahu."
Tak urung Brady curiga.
"Hei, Man, ada apa?"
Seth menarik napas panjang. Wajahnya berat, bagai orang yang sudah menua mendadak sekitar sepuluh tahun dalam seminggu terakhir, ketika ia berujar lirih, "Tentang Kuroi ... entah mengapa ... aku merasa...," kata-katanya menggantung di udara ketika ia beralih menatap Brady. "Adanya semacam...," ia juga ragu ketika mengatakannya, "... tarikan..."
Mata Brady langsung membelalak.
"Imprint?!"
Seth tidak menjawab. Tapi justru itu yang membuat Brady meradang.
"Serius! Yang benar saja, Dude! Pada Kuroi Kanna?!"
Seth buru-buru menutup mulut Brady dengan telapak tangan. "Jangan bicara keras-keras, please... Aku tidak ingin siapapun tahu. Terutama Korra."
Ketika Brady mengangguk, barulah Seth melepaskan tangannya. Ia memelankan suaranya serendah mungkin, "Tapi kaubilang kita tak mungkin mengimprint serigala..."
"Entahlah, aku tidak tahu. Jujur aku bingung, aku bahkan tidak yakin aku benar-benar mengimprint, karena perasaan ini begitu lemah. Tidak seperti yang kutangkap dari yang lain... Tapi...," Seth tampak kacau. "Oh, brengsek!" Brady mendengar Seth merutuk pelan. Dan Brady tahu apa sebabnya.
"Kapan?" kejarnya.
"Waktu Kuroi datang untuk bertemu Phat. Kami pernah dua kali bertemu sebelumnya. tapi, kau tahu, gadis itu terus menunduk. Tapi dua hari yang lalu, ia sempat melihat padaku dan pandangan kami bertemu. Lantas ... yah, kau tahu, hal buruk terjadi."
Tak bisa tidak, Brady merasa dirinya terlempar ke dunia lain. Dunia yang aneh, yang tidak bisa ia percayai. Dunia tempat setan-setan yang lahir dari mimpi buruk bersemayam.
"Tapi, itu tidak bisa, Man!" Brady mengguncang tubuh Seth. "Kau sudah bersama Korra! Oh brengsek, dia sedang mengandung anakmu!"
Seth langsung berpaling padanya begitu cepat hingga rasanya kepalanya akan putus. Matanya dibalut kengerian.
"Ke, kenapa kau tahu..."
Brady memandangnya balik. "Kalau Ben tahu, sudah pasti seisi kawanan tahu," katanya, seakan mengutarakan sesuatu yang wajar dan semua-orang-juga-tahu. "Yeah, kecuali yang masih belum sadar seperti Clark, Pete, dan Harry, tentu. Jake mengutarakan kecurigaannya pada Embry, menyuruh Embry tutup mulut. Dan kau tahu, Embry tak pernah bisa benar-benar menutup pikirannya. Waktu kami mencari Cole, ia sempat kelepasan satu-dua petunjuk. Dan sebelumnya juga, Cole pernah bilang padaku bahwa Korra sakit. Ben mencuplik kesimpulan prematurku dan membuat gosip, dan, sialnya, Embry malah kelepasan mengonfirmasi semuanya."
Dalam hati Seth sibuk mengutuki Embry. Ya, Embry memang tangan kiri Jacob yang setia dan tentunya sebagai Gamma, ia adalah kakak yang baik bagi kawanan, selalu mendengarkan keluh kesah siapapun dan menengahi perselisihan apapun. Tapi ia benar-benar tidak tahu cara menjaga pikirannya. Tidak hanya Jacob selalu mengeluh Embry sama sekali tak bisa menentang mata Medusa Sam, tapi ia selalu jadi korban skema jahat The Gossip Guys. Ugh, bodoh benar Jacob mengatakannya pada Embry, padahal ia sudah tahu seperti apa sahabatnya. Seharusnya...
"Tunggu," Seth memotong rentetan pikirannya sendiri. "Apa katamu tadi? Jake bilang pada Embry?"
Brady mengangguk.
"Artinya Jake tahu?"
Lamat, kembali Brady mengangguk, yang membuat Seth langsung mengerang frustasi.
"Astaga. Pantas saja aku diusir dari kawanan...," ia menyurukkan diri di akar menonjol sebuah batang pohon besar. "Oh Tuhan, ini yang terburuk..."
Sebenarnya tidak. Ini masih belum buruk. Sejauh ini Jacob hanya curiga. Beda halnya jika ia bisa mengonfirmasinya. Dan lebih parah lagi jika Jacob tahu ia mengimprint serigala lain. Alfa kawanan asing itu, tak kurang. Begini sih, bukan hanya ia akan diusir dari suku. Ia bisa dihukum mati seperti Zacharias. Dicincang dan diumpankan pada rusa di tanah Cullen. Tidak, lebih buruk. Bisa jadi Jacob akan suka hati mengirimnya kepada para Volturi supaya ia dimangsa vampir-vampir ganas Volterra. Jika Jacob entah bagaimana masih menimbang persahabatan mereka, dan ia bisa lolos dari amarah Jacob, tak ada alasan ia bisa lolos dari amukan Collin. Itu jika ia masih hidup. Dan kalau tidak, yah, anggap saja Jacob akan melepaskannya dari dunia fana untuk mengirimnya menghadapi amarah Collin di alam baka.
Mata Brady meremang, melihat sosok frustasi mantan atasannya. "Jadi itu benar? Dia mengandung anakmu?" tanyanya. Tak bisa ditutupi nada ketidakpercayaan berbalut tuduhan dalam suaranya.
Lamat-lamat Seth mengangguk.
"Oh, astaga..." Brady mendekatinya, ikut menyurukkan diri di sisinya. "Kau mati, Man..."
"Ya, aku tahu..." bisik Seth, makin menundukkan wajahnya, menahan kepalanya dengan kedua tangan.
Ini lebih parah dari kasus Sam. Dan ia sudah tahu di sisi mana Jacob berdiri dalam kasus itu. Ia sendiri, meski berusaha bersikap netral, tak bisa tidak memihak Leah. Tapi kini takdir seolah memperoloknya. Coba dengar bagaimana pendapat Leah kalau tahu hal ini. Dan Collin, ugh, ia bahkan tak sanggup membayangkan. Dan Brady sahabat Korra. Oke, ia memang tidak seprotektif Collin. Tapi sudah jelas di pihak mana Brady berdiri.
Semua ini terjadi karena apa? Ia jatuh cinta pada si serigala hitam? Oh brengsek, kenapa ia bisa jatuh cinta pada si serigala hitam? Mengapa serigala hitam itu yang menolongnya? Dan mengapa si serigala hitam itu Korra? Mengapa bukan Kuroi?
Tunggu. Apa yang ia pikirkan? Sekarang pun pikirannya sudah mengkhianati Korra?
Seth memukul dirinya sendiri. Secara mental, tentu. Ia tak boleh begini. Jatuh pada imprint. Itu tidak benar. Apalagi ketika imprint itu sangat lemah.
Korra mungkin gadis mengerikan. Setan bermuka dua. Tunggu, tepatnya entah berapa wajah yang ia punya. Tapi ia mencintainya. Tak ada yang memaksanya mendekati gadis itu. Dan cinta yang berkembang sejak saat itu begitu kuat, terasa begitu murni. Ia menyukai tawanya, kelincahannya, kecerdasannya, keriangannya. Ia suka segala segi gadis itu, pribadi-pribadi yang berbeda yang bahkan tak dikenal orang lain. Ia menyukai Korra yang manis, imut, dan centil. Sosok yang selalu ditampakkannya setiap saat. Kekanakan, ya, tapi tampak begitu murni dan bebas. Lalu ada Korra yang lebih tenang, gadis sopan anggun nan penuh tata krama. Yang ini sudah jelas topeng, tapi fakta bahwa ia bisa memunculkan topeng seperti itu juga menunjukkan bahwa ada sebagian dirinya yang memiliki pesona itu secara alamiah. Lalu ada Korra yang agak sensitif, melankolis dan selalu larut dalam pikirannya sendiri. Ada Korra lain yang begitu penuh kendali. Tangguh, taktis, perhitungan. Penuh kekuatan dan dominasi. Yang manapun, mengutip Collin, Korra selalu bersinar dan seakan menggenggam dunia.
Dan ada juga Korra yang penuh cinta. Yang terus mencintai dan memikirkan ayahnya, merindukan ibunya, menyayangi Collin dan Brady, dan walau tidak mau mengungkapkan secara terang-terangan, juga peduli pada Jacob. Seth merasa beruntung jika ia ada dalam jejeran orang-orang yang dicintai Korra.
Namun Seth tahu, ada bagian lain dari Korra yang lebih kelam, hitam. Sisi yang tak diketahui siapapun, termasuk Collin. Ada sisi lain, ia menyebutnya The Evil Black Wolf. Yang lebih parah dari yang dilihat Jacob, Korra yang mampu menjatuhkan Brady ke dalam jebakan serigala. Ini jauh lebih mengerikan. Korra yang memaksanya tunduk dalam fantasi sadomasokis seakan Seth sendiri yang menginginkannya. Serigala betina yang tak pernah puas dan selalu memaksakan kehendak, memperlakukannya bak submisif. Mungkin bisa dibilang seksi sampai taraf tertentu, tapi lebih dari itu, tak ada kata lain selain sadis. Kejam. Blackmailer.
Tapi ada juga Korra yang terlihat rapuh, begitu lemah. Tidak, ini bukan kelemahan yang sengaja dieksposnya secara berlebihan untuk mendapatkan yang ia inginkan. Ia tahu Korra punya banyak sifat buruk, dan sosok manipulator licik itu adalah salah satu sisi buruk Korra yang ia kenal. Tapi ini adalah sisi lain yang lebih jujur, lebih dalam. Bagian yang ia simpan untuk dirinya sendiri, selalu ditutupinya dengan sikap ceria nan kekanakan di satu saat, atau sikap sok-dominan di kesempatan lain. Bagian yang entah bagaimana membangkitkan sisi protektif dalam dirinya. Seth selalu berharap, entah kapan, Korra akan mau jujur pada dirinya sendiri dan mau membuka diri di hadapannya, mempercayai Seth untuk menguatkannya, menenangkannya, melindunginya. Tapi hingga detik ini, angan itu masih jauh dari kenyataan.
Korra pribadi yang kompleks, memang. Paradoks. Penuh kontradiksi. Tapi yang manapun itu, ia mencintai Korra, segala seginya.
Dan ia bertekad akan terus mencintai gadis itu. Seperti apapun Korra sekarang. Entah ia hanya memanfaatkannya, entah ia begitu mengerikan hingga membuat seluruh tulang di tubuhnya tercerabut, entah apa lagi yang mungkin dilakukannya sesudah ini. Bahkan saat ia begitu tak bisa diprediksi seperti saat ini. Seemosional apapun ia.
Mungkin emosi Korra yang menjadi-jadi belakangan adalah efek dari kehamilannya. Orang hamil cenderung berubah, kan? Mudah marah dan lain sebagainya? Dan gadis itu masih sangat muda. Belum lagi 17 tahun. Baru beberapa bulan ada di sini, mengecap yang namanya keluarga. Mungkin ia masih belum punya tempat untuk mengadu, takut untuk bercerita pada keluarganya. Takut membuat Billy kecewa dan lain sebagainya. Belum lagi soal hubungannya dengan kawanan lain, yang menempatkannya pada posisi yang dilematis. Jika ia ada di posisi Korra, pastilah ia frustasi.
Beberapa hari bersama Phat, mendengar langsung bagaimana tanggapan anggota kawanan lain soal Korra, dan beberapa kisah masa lalu Korra, entah mengapa ia mulai merasakan simpati pada gadis itu. Melihatnya dari kacamata yang lain. Kacamata Korra. Posisi Korra ... hubungannya dengan Jacob dan kawanan lain ... semua yang sudah gadis itu alami hingga saat ini... Belum lagi perkara Collin. Cole sahabat terdekat Korra, sepupunya, dan tak dinyana lagi pasti ada sebentuk rasa cinta di antara mereka berdua, dalam kapasitas apapun itu. Pastilah Korra panik dengan tiadanya Cole.
Ia lebih matang, lebih dewasa daripada Korra. Ia seharusnya bisa lebih mengerti, lebih memahami kedudukan gadis itu, beban gadis itu, berempati dengan keadaannya. Bertanggung jawab. Membuat Korra tenang. Membuatnya bisa berpikir lebih logis dan bertindak lebih berperasaan. Meredakan kekisruhan hatinya. Bukan malah kabur begitu semua ini begitu berat dan rumit untuk ditanggung.
Tapi imprint ini...
Tidak, tidak. Ini tidak benar. Ia harus menolaknya. Lagipula lepas dari Korra demi Kuroi sama saja mengundang masalah. Tidak hanya demi kawanan, karena mencintai pemimpin serigala asing pastinya lebih buruk daripada mencintai Beta mereka. Dengan sifat emosional Korra saat ini, dan posisi Kuroi... Tahu bagaimana posesifnya Korra, gadis itu bisa saja bertarung melawan Kuroi dan entah apa yang akan terjadi. Serigala putih itu sangat kuat. Dan Korra di tangannya. Oh, serigala putih itu bisa menggilasnya dengan mudah. Korra sedang mengandung, ia dan bayinya bisa terluka.
Tidak. Ia harus membuat keputusan yang tepat. Ia tak bisa menyerah pada hal seperti ini.
Terlebih karena ia bahkan tidak yakin itu adalah imprint. Terlalu lemah...
Dan ia sudah bersumpah pada Jacob. Berjanji pada Collin.
Oh sial! Imprint selemah apapun tetap imprint. Saat ini, satu perasaan aneh bahwa Kuroi-lah yang ditakdirkan baginya mulai merasukinya, membuatnya gamang mengenai Korra. Saat ia harus menjadi pasangan Korra yang paling bisa diandalkan? Saat ialah, mungkin, satu-satunya kunci yang mungkin bisa membuat segalanya kembali normal? Menjadi mata rantai untuk menghubungkan kembali Korra dan Jacob? Astaga, mengapa imprint harus terjadi di saat seperti ini? Pada orang yang salah? Benar-benar sial!
Mengapa ia tidak mengimprint Korra?
"Sedang apa kalian di sini?" seseorang menyibak semak di belakang mereka. Brady dan Seth menoleh bersamaan. Noah. Dan tampangnya benar-benar tidak senang.
"Tidak, maaf," Seth buru-buru menata kembali pikirannya, berusaha bersikap wajar. "Kami hanya sedang membicarakan soal kawanan. Aku ingin tahu bagaimana keadaan Jacob dan anak-anak sekarang."
Noah kelihatan tidak percaya, tapi ia menelan saja jawaban itu. "Kita harus segera ke sana," katanya. "Sebentar lagi si Banshee itu datang. Ia benar-benar sedang marah, tak tahu apa yang akan terjadi."
"Banshee?" tanya Brady bingung.
"Maksudku Korra," jelas Noah masam. "Astaga, aku benar-benar hampir gila dibuatnya. Cewek itu mengerikan!" Melihat Seth yang agak salah tingkah, ia buru-buru mengoreksi, "Maaf, Seth. Bukannya aku tidak suka dengan pasanganmu, tapi ... oh sungguh, kami semua sudah hampir tidak tahan. Setidaknya aku, Phat, dan Alfa. Kuharap kau bisa melakukan sesuatu untuk menenangkannya. Kalian berdua, tepatnya."
Seth menghela napas. Korra marah? Apa memang ia bisa menenangkannya? Jika Korra melihatnya, dan tahu semua, bisa jadi malah ia makin emosi. Oh, apalagi di sana ada Kuroi.
Dan Kuroi terluka... Apa ia bisa menahan tarikan imprint itu, dan bersikap wajar? Di depan Kuroi? Di depan Korra?
Ia buru-buru menampar dirinya sendiri. Sekarang bukan waktunya mengurusi imprint. Ia di sini demi Collin, dan masih ada urusan perang di depan mata.
Ia mengangguk, buru-buru menyeret kakinya mengikuti Noah. Brady mengikutinya dengan sejuta kegalauan berkecamuk membayangkan entah apa yang terjadi.
Ia melangkah masuk ke sarang singa. Dan lebih lagi, ditemani seekor macan yang jelas-jelas kapan saja bisa berubah jadi musuh sejati sang singa. Terhimpit di tengah-tengahnya, tampaknya ia harus siap tubuhnya terkoyak-koyak jadi serpihan.
.
.
catatan:
ada dua topik di sini: Gubuk Penyihir dan soal Kuroi. Tolong komennya, mendingan Seth jalan sama Kuroi ato tetep sama Korra? Ato mending ga usah dua2nya? Hehehe...
