THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon…

.

Warning: Rated M. Contains conspiratory scheme and may cause headache. Read on your own guard…

.


.

Enampuluh Tujuh - Dunia Bawah (Styx -9-)

Friday, May 3, 2013

12:47 AM

.


.

Gubuk itu rupanya tidak seburuk yang ia sangka sebelumnya. Bagian depannya memang tetap bobrok, seolah siap hancur setiap saat. Terbuat dari kayu yang sebagian besar dindingnya dirambati pepohonan menjalar. Tapi bagian dalamnya agak bersih, meski tidak benar-benar bersih. Setidaknya tidak seperti rumah yang sudah berdekade-dekade diabaikan, tidak ia lihat ada sawang bergelantungan dan perabot penuh debu terjungkir-balik dalam posisi aneh. Hanya ada sebuah meja kayu tua di tengah gubuk, dengan empat kursi mengelilinginya. Di pojokan ada sebuah meja rias dengan kaca yang buram. Seorang gadis duduk beku di bangku kecil di depan kaca, menunduk, hampir tak peduli ketika mereka masuk. Rambutnya menjuntai panjang, sangat panjang hingga hampir menyentuh lantai. Ia hanya memakai gaun musim panas sederhana warna putih, terlihat di balik rambutnya yang terurai menutupi sosoknya. Kulitnya, yang begitu pucat, tampak dari sela-sela rambutnya. Lengannya terjulur, kurus dan pucat. Menyadari keberadaan mereka, seketika gadis itu menoleh. Tak ada senyum di wajahnya. Matanya begitu beku, dan dalam. Aura dingin menguar darinya, yang seketika membuat bulu kuduk siapapun meremang.

Brady hampir terlonjak, mengira itu hantu, sebelum ia mengenali wajah itu.

"Kuroi?" ia hampir tak percaya penglihatannya. "Kau ... mengapa ... rambutmu..."

Gadis itu sama sekali tidak seperti Kuroi. Tentu saja selain kepribadiannya yang gelap dan muram, sosok pendiam yang ia kenal di sekolah. Yang membuatnya tak mengenali Kuroi adalah penampilannya. Kuroi yang ia kenal di sekolah berambut sebahu, dengan tatanan layering Jepun Style, dalam warna hazel brown. Tapi Kuroi ini berambut lurus panjang, berwarna hitam kelam bak malam.

Kuroi sama sekali tak menjawab, kembali menunduk dan berputar, memandang bayangan wajahnya di kaca yang buram.

"Ini memang bakat alami serigala Ainu, tempat asal Kuroi. Rambutnya akan memanjang ke ukuran semula setiap kali ia berubah balik, dan apapun cat yang ia pakai, catnya akan kembali luntur," ujar Phat, yang mendadak keluar dari balik salah satu ruangan di dekat meja rias. Di tangannya ada semacam wadah yang dari baunya jelas ramuan obat herbal. Ia mendekati Kuroi, sementara tangan putih dan lemah Kuroi menyapu rambutnya yang panjang, menjuraikannya ke dada, memperlihatkan punggung yang terbuka.

Jadi benar kata Korra dan Noah. Alfa mereka bukan Sang Ibu. Mereka sama sekali kelompok yang berbeda dengan yang mengorganisasi serangan di jurang.

Terdengar suara napas tertahan di belakang Brady. Seth, jelas, melihat apa yang ada di punggung Kuroi. Luka panjang berwarna merah, masih terbuka, di atas luka diagonal lain yang sudah sembuh, melintang di bagian atas punggung yang putih pucat. Tanpa sadar ia sudah hampir melangkah, mendekati Kuroi. Untung Brady menyadari tepat waktu, menggamit tangannya tanpa suara. Memberinya kode mata 'tidak'.

Susah payah Seth mengendalikan napasnya, mengendalikan reaksinya, dan mundur menarik diri ke pojokan, berdiri bersandar di tembok. Mati-matian berusaha tidak melihat punggung Kuroi dan luka merah di sana. Terutama, untuk tidak menggeram pada Phat, yang kini tengah mengusapkan ramuan hijau kecoklatan berbau menyengat itu di luka Kuroi.

Brady menghampiri Noah, yang sudah menarik kursi, membuka gulungan sesuatu dan menghamparkannya di meja. Keningnya berkerut.

"Apa itu?" tanyanya, melihat apa gerangan yang tengah dipelototi Noah. Peta dunia, rupanya. Dengan tanda berupa titik-titik merah dan beberapa tanda silang. Di ujung matanya, ia melihat Phat melirik pada Noah sesaat, sebelum kembali menekuri pekerjaannya.

"Tidak, bukan apa-apa," sahut Noah, kembali menggulung peta itu.

"Terlihat seperti sesuatu yang serius bagiku," selidik Brady.

"Bukan wewenangku untuk menjawab, Brad. Maaf."

Meski kecewa, Brady tahu diri dan berusaha tak bertanya lagi. Dan memang tak ada kesempatan untuk bertanya. Bagaimanapun, pembicaraan mereka terhenti ketika mendadak terdengar suara di luar. Seseorang dengan cepat menembus pepohonan, terus menggerutu dan berteriak-teriak. Di dalam, atmosfer ketegangan meningkat. Phat memejamkan mata dan menarik napas berat. Noah menggerutu kesal. Namun Kuroi tetap tenang, memandang cermin.

Korra, jelas dari suaranya, melintasi halaman dengan marah.

"Aku tidak mau peduli apa lagi yang kauocehkan, Alfa! Sudah cukup bagiku! Berhenti terus berteriak di kepalaku! Seolah tidak cukup apa yang kulakukan selama ini! Aku sudah melakukan segalanya dan kau masih juga menyalahkanku!"

Ia menerobos ambang pintu yang memang setengah terbuka. Setiap pasang mata beralih padanya. Sosok Korra kusut, sangat. Pakaiannya berantakan dan agak kotor. Rambutnya acak-acakan. Bau aneh menguar darinya. Bau bahan kimia. Sungguh, dengan kondisi seperti itu, siapapun sulit mengenalinya sebagai Korra yang biasa. Matanya nyalang memandang seantero ruangan. Pandangannya tertumbuk pada Brady. Dan lantas pada Seth, yang segera beranjak mendekati Korra.

"Ada apa, Korey?" ia mengulurkan tangan, berupaya mengusap kotoran yang melekat di pipi gadis itu. Tapi Korra menampik tangannya.

"Jangan sentuh aku, Seth!" katanya dingin.

"Korra..." erang Seth merana. Tapi Korra tak mempedulikannya, merengsek bergerak ke kepala meja. Pandangannya terfokus pada sosok Phat dan Kuroi.

"Oke. Kalian jangan terus bicara di kepalaku. Kepalaku sudah penuh sekarang. Kalau ada yang mau kalian katakan, katakan langsung!" bentaknya. Jelas ia tak ada dalam kondisi tenang sekarang.

Phat mendekatinya, menjulurkan ponsel. "Ia menelepon sudah sepuluh kali hari ini."

"Lalu?"

"Ia ingin bicara denganmu."

"Katakan aku tak ada."

"Ayolah, Korra..."

"Serahkan pada Kuroi!"

Mereka berpandangan lama, jelas saling bertukar pembicaraan dalam diam. Korra tampak mendesis dan mendelik kesal, sebelum akhirnya menarik ponsel itu sambil menggerutu. Ia mengutak-atik ponsel, mengetikkan sesuatu dengan cepat, dan akhirnya meletakkan ponsel itu di meja. Wajahnya jelas terganggu.

"Kau tak meneleponnya?" kerung Phat.

"Memangnya aku punya cukup pulsa untuk melakukan pembicaraan internasional! Biar mereka saja yang menelepon!" bentaknya. Ia mendesah panjang, memejamkan mata, sebelum akhirnya kembali bicara, "Sudah hubungi Bunny? Apa yang ia bilang?"

Brady langsung mengerutkan kening.

Bunny?

"Ia masih belum dapat gambaran apapun. Jelas mereka masih menyembunyikan diri. Ada benteng kuat yang menudungi mereka."

Korra berdecak. Wajahnya keras.

"Madame Perfect bilang tidak ada perisai yang bisa menudungi apapun dari Bunny... Kecuali mereka sadar dan berusaha bertindak licik," ujarnya, agak kesal.

"Ya. Tapi yang ini bisa."

Korra tampak makin terganggu.

"Cedric dan Bapa? Apa kata mereka?"

Cedric? Bapa?

Sungguh Brady tak mendapat petunjuk apapun mengenai apa yang mereka bicarakan. Madame Perfect? Bunny? Cedric? Bapa? Siapa mereka semua?

"Ia masih marah karena kau mengancam keluarganya. Terutama setelah apa yang ia lakukan untuk Jacob. Ia bersikeras tak mau campur tangan lagi untuk urusanmu. Kau tahu, agak tegang di sana. Princess sudah bersikeras untuk melompat ke sini, tak peduli larangannya. Dan ia masih menyalahkanmu untuk insiden Jacob."

Princess?

Korra menggeram. "Jacob bukan hanya tanggung jawabku! Ia sudah seharusnya menolongnya! Lagipula itu juga bukan salahku! Mereka yang melompat ke sana bahkan walau sudah kuperingatkan!"

"Katanya, kalau kau tidak berusaha memprovokasi Jacob..."

"Aku tidak memprovokasinya! Demi Tuhan! Lagipula bukan aku yang bicara, tapi si Alfa! Mereka saja yang dengan bodohnya salah tangkap!"

Brady langsung meremang dalam pembicaraan ini. Mereka menyebut Jacob, dan salah tangkap... Ya, ia memang menangkap hal ini dari pikiran Jacob dan Collin sebelum serangan. Si Alfa Putih membuat kesal Jacob dengan meminta Collin sebagai pengganti Noah dan Korra. Apa itu yang ia maksudkan dengan 'provokasi'?

Tapi itu artinya, Korra menyangkal bahwa kawanannya melakukan provokasi?

Ya. Ia sudah tahu ini dari Embry. Jacob sudah mempercayai kelompok asing itu, meski tak sepenuhnya, sejak ia melihat bagaimana adiknya mendampinginya saat harus bertarung melawan Ariana. Semua salah paham, demikian Jacob berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Tapi Brady tak percaya. Sebagian kawanan pastinya tak percaya. Collin jelas takkan percaya. Dan bahkan, ia yakin ada sebagian dari diri Jacob yang juga tak percaya.

"Kau sudah dapat kabar dari Alexandra?" tanya Phat.

"Tidak. Tapi Grantaire menghubungi Alfa kemarin. Mereka menyerang kawanan gipsi Prancis. Semua selamat, tapi banyak yang luka parah. Enjolras di ujung tanduk, tapi kelihatannya ia akan pulih. Tapi yang jadi kekhawatiranku adalah Marius."

"Kenapa dia?"

"Dia hilang. Entah dia tewas, atau dia berkhianat."

Terlihat wajah Korra menebal dalam kalimat yang ia ucapkan sendiri. Jelas, ia menyikapi berita terakhir dengan berat. Terlalu berat.

"Kita tak bisa menunda lagi, Phat. Benteng harus segera dibangun."

Dengan itu Korra menarik gulungan kertas dari hadapan Noah. Menghamparkannya di meja. Peta itu mengambil alih perhatian Korra dan Phat. Bergantian, mereka menunjuk ini dan itu, membahas sesuatu dengan tegang. Namun mereka bertukar pembicaraan dalam bahasa asing yang tidak bisa dimengerti Brady sama sekali.

"Ada apa?" bisik Brady pada Noah. "Apa yang terjadi?"

"Marius adalah mantan Korra," Noah menjawab dengan tampang bosan. "Mereka hanya jalan dua atau tiga kali, dan Korra menghajarnya karena cowok itu berani menciumnya di bioskop."

"Eh?"

"Yang kutahu dari kepala Phat sih, kisah cinta Korra agak sedikit parah. Seth jelas satu-satunya cowok yang selamat bisa sampai sejauh itu. Biasanya ia kelewat protektif dengan dirinya sendiri. Selain Marius, ada cowok Cina bernama Liang Tse. Dia sih, baru pertama kencan saja sudah dilempar ke sungai. Lalu ada singa India, Radja, dilempar dari tebing curam gara-gara mencoba mencium pipinya saat melihat matahari terbit. Untung ia entah bagaimana bisa berpegangan dan memanjat kembali. Ada dua lagi, sama parahnya, deh. Tapi yang paling parah itu Malik, Alfa serigala Sahara, dihajar habis-habisan dan dicakar mukanya setelah malam sebelumnya ia membuat Korra tidak sadar dan..."

Entah mengapa Brady merasakan ketegangan dari belakang mereka. Seth, sudah jelas, mendengarkan pembicaraan itu dan kini mengernyit memandang mereka, memusatkan konsentrasi. Di sisi sana, Korra masih bicara dengan Phat, tapi pastinya ia juga mendengar gosip Noah. Entah apa yang akan terjadi pada Noah, bahkan ia tak yakin serigala baru itu tahu apa yang ia lakukan dan resikonya, tapi mengetahuinya sekarang jelas bukan keinginan Brady.

"Noah," potongnya, "aku tidak ingin dengar gosip soal masa lalu Korra..."

"Toh itu bukan rahasia. Kalau Korra ingin merahasiakannya, sudah jelas ia bisa membungkamku dengan Titah..."

"Tidak. Aku juga tak mau tahu. Maksudku, apa sebenarnya yang terjadi dengan kawanan kalian? Marius dan Alexandra dan sebagainya?"

Kali itu yang menjawab bukan Noah. Pemuda itu diam, memandang melewati Brady, pada sosok Korra dan Phat. Korra jelas sudah berhenti bicara dengan Phat, dan kini menghadap Brady. Seth masih berdiri agak ke belakang dari Brady, kini bersandar pada salah satu tiang penyangga yang kelihatan agak kokoh. Sikapnya tenang, namun ia memperhatikan dengan seksama.

"Kau ingin tahu siapa kami dan apa yang kami lakukan?" tanya Korra dalam nada yang tidak pernah Brady kenal dari gadis itu. Formal. Agung. Sama sekali bukan Korra.

Sama sekali bukan sahabatnya.

"Kau pastinya sudah tahu siapa kami," ujarnya dengan nada penuh kontrol. "Kami kawanan serigala nomad, penakluk. Kawanan inti dari berbagai kawanan taklukan di seluruh dunia. Kami nomad, tidak punya tanah. Kami memang menaklukkan beberapa kawanan yang memiliki tanah, tapi meski begitu kami tidak memiliki tanah mereka. Kami hanya memiliki kawanan mereka. Kesetiaan mereka. Janji untuk saling melindungi. Dalam ikatan bernama aliansi. Atau mungkin perlu dibilang, kemaharajaan."

Ya. Brady sudah tahu itu. Ia sudah bisa menyimpulkan dari kata-kata Alfa putih yang didengarnya dari ingatan Jacob. Tapi ia membiarkan saja Korra menjelaskan.

"Kau bisa bayangkan kami sebagai sebuah sistem tata surya. Satu kawanan inti, matahari, dan beberapa kawanan taklukan, planet-planet yang mengitarinya. Kawanan taklukan adalah kawanan yang kami menangkan dengan mengalahkan Alfa mereka. Mereka bisa jadi kawanan yang memiliki tanah, atau kawanan nomad yang seperti kami, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Tentu saja kawanan taklukan bisa memiliki kawanan taklukan lain, yang lantas secara otomatis tergabung dalam aliansi kami, mungkin semacam satelit dalam tata surya."

Ia berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan.

"Kawanan inti, kau bisa bayangkan sebagai kawanan yang mengorganisasi seluruh kawanan taklukan. Keanggotaan kawanan inti bisa jadi adalah serigala taklukan yang dimenangkan lewat perebutan klaim, misalnya serigala nomad, entah itu serigala yang terpisah dari kawanannya seperti aku, serigala yang terbuang seperti Kuroi, atau serigala yang berubah di luar wilayahnya seperti Noah. Bisa juga serigala yang tadinya memiliki tanah, namun kehilangan seluruh kawanannya, seperti Phat. Phat di sini tadinya Alfa, ia memiliki sekitar 20 atau 30 anggota di Siam, namun setelah kawanannya dihancurkan, ia memilih untuk bergabung dengan kawanan inti. Tentu saja tidak semua serigala nomad yang berhasil dimenangkan lantas secara otomatis bergabung dengan kawanan inti. Jika ia tidak cukup kuat, atau Alfa tidak ingin mengadopsinya, ia bisa memilih antara menjadi nomad taklukan atau bergabung dengan salah satu kawanan taklukan yang ada."

Jeda sebentar.

"Dalam kasusku," lanjutnya, "dulu aku sempat membentuk kawanan sendiri, setelah aku membunuh seekor Alfa kawanan macan Sumatera. Aku berhak atas tanah mereka, seluruh kawanan mereka, tapi aku menolak dan memilih menjadi nomad. Meski demikian, dua betina pasangannya, macan tutul bernama Kemangi dan macan kumbang bernama Saga, mengikutiku. Namun tak lama kemudian, di Bangkok, aku dikalahkan Alfa kawanan ini. Karena usiaku yang sangat muda, Alfa memberiku pilihan: antara menjadi Alfa taklukan atau masuk ke kawanan inti. Aku memilih opsi kedua, dan memasukkan Kemangi ke kawanan inti. Sayangnya, Kemangi sudah meninggal sekarang. Saga, bagaimanapun, memilih bergabung dengan salah satu kawanan taklukan lain, setelah menemukan pasangannya di sana."

Jadi seorang anggota kawanan masih bisa bergabung dengan kawanan lain. Brady mengalihkan pandangannya pada Seth. Mata pemuda itu mendadak berkilat, merasakan secercah harapan. Namun harapan itu pudar ketika Korra melanjutkan.

"Aku tahu apa yang kaupikirkan, Seth. Sayangnya itu tak mungkin."

"Mengapa tak mungkin?" sikap tenang Seth luntur. Ia beranjak dari posisinya, mendekat. "Jika kau menjadi pasanganku, bukankah itu artinya kau bisa bergabung dengan kawanan? Di tempat seharusnya kau berada?"

Korra hanya tersenyum masam. "Maaf, Seth..."

"Korra, di sini tempatmu. Kami keluargamu. Jacob kakakmu. Quileute adalah asalmu."

"Karena ada dua alasan mengapa aku tak bisa bergabung. Nomor satu, kau takkan mempertahankan aku selamanya sebagai pasanganmu. Kau tidak benar-benar mencintaiku. Aku bukan serigala yang kauimpikan..."

"Siapa bilang, Korra? Aku..."

"Bisakah kau tidak memotong penjelasanku?" Korra berkata tenang, tapi jelas ia menggemeretakkan giginya. "Itu baru alasan pertama. Dan alasan nomor dua, serigala hitam yang selalu kaurindukan itu, bagaimanapun," ia melirik sekilas kepada Kuroi, "adalah anggota yang penting dalam kawanan inti. Ia Jenderal Utama dan Alfa takkan pernah mau melepaskannya."

Brady memperhatikan arah pandangan Korra. Kuroi melirik tenang dari tempatnya di depan cermin, tapi matanya tajam menatap Korra. Dalam hati Brady mengutuk. Kuroi, si Alfa itu, pastinya punya cengkeraman yang sangat kuat atas kawanan. Sehingga Korra harus meminta izinnya untuk bicara mengenai dirinya sendiri. Seakan dirinya bukan lagi miliknya.

"Lalu, pertanyaan kedua," Korra kembali bicara. "Apa yang kami lakukan? Nah, itu pertanyaan sulit, sebenarnya. Seperti apapun kami berusaha menjelaskan, kalian selalu menampiknya. Tapi satu yang ingin kukatakan: kami tak pernah berniat buruk. Aku tak pernah ingin menaklukkan kawanan kakakku, lebih lagi berusaha membunuh Jacob. Kami datang, awalnya, hanya untuk menelusuri asal-usul Alfaku. Seperti kukatakan pada Jacob ketika aku pertama kali datang, hanya sebulan atau dua bulan. Aku punya agenda tersendiri, tentu. Tapi itu hanya karena aku ingin bertemu Ayah. Huh, seolah kalian mau percaya," ia mendengus.

Brady tahu apa yang ada di pikirannya. Ia sendiri tak tahu harus merasa bagaimana. Korra yang ia kenal, gadis manis yang sangat mencintai ayahnya. Tapi image Korra yang itu sama sekali bukan Korra yang ia lihat sekarang. Jika Korra yang ia kenal adalah topeng, apa sikapnya, perasaannya pada ayahnya, keriangannya kala bercerita ini-itu soal Billy, semua itu adalah topeng? Persahabatan mereka juga kepura-puraan?

"Tapi lantas, di tengah jalan, semua rencana dasar itu berubah," suaranya berubah mencekam. "Tanah ini diserang. Aku tak tahu siapa, kami hanya berupaya membantu. Sementara di luar, satu per satu anggota kawanan kami pun diserang. Kawanan Alexandra, Alfa bawahan kami di Galia, dibantai. Hanya ia yang selamat. Dan kini, mereka rupanya menyerang kawanan Prancis."

"Dibantai? Oleh siapa?"

"Nah, itu dia yang ingin kami korek. Kau tahu, aliansi kami mengadakan perjanjian dengan banyak bangsawan vampir. Seharusnya tidak ada yang berani menyerang, karena serangan atas satu kawanan artinya mengundang perang dengan seluruh aliansi."

"Perang ... dengan seluruh aliansi?"

Rupanya tidak hanya ada satu perang. Di tanah Quileute dan di luar, entah di mana.

"Kalau begitu mengapa kalian tetap di sini?" entah mengapa Brady menanyakan itu. "Kalian seharusnya segera pergi, menolong aliansi kalian atau apapun. Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan. Alfa kalian itu, Kierra kan? Kalian sudah tahu siapa dia. Asal-usulnya. Di acara api unggun, para Tetua sudah bercerita...," dan mendadak ia meremang dalam kalimatnya sendiri.

Tetua, mendadak, begitu tiba-tiba, mengungkap cerita yang dianggap rahasia suku. Aib suku. Jacob pun, ia rasa, tak pernah mendengar cerita itu sebelumnya. Kisah yang menentang segala yang mereka tahu mengenai suku mereka. Sejarah gelap yang mereka kubur dalam-dalam. Dan di depan satu tamu yang kehadirannya tidak mereka harapkan. Korra waktu itu baru bergabung. Baru berapa lama? Kurang dari sebulan, ia rasa. Dan begitu kebetulan, cerita itu menyangkut Kierra. Alfa kawanan asing. Alfanya Korra.

Apakah itu artinya, selama ini pun, Tetua tahu? Mengenai siapa Korra?

Mengapa mereka tak bicara apapun pada Jacob?

"Ya, itu benar, Brady," jawab Korra. "Detik ketika kisah itu bergulir, pertanyaan kami terjawab, meski tidak sepenuhnya. Dan kami tahu para Tetua kalian sudah berhasil mengungkap siapa kami. Mungkin malah sebelum kami tiba di tanah ini. Kau tahu, Dad sendiri yang memintaku datang. Ia sudah tahu siapa aku bahkan sebelum aku sendiri menyadari hubunganku dengan tanah ini."

Di detik itu Brady terhenyak.

Billy ... tahu?

Tapi Billy bersikap begitu wajar... Kasih sayangnya pada Korra, tampak begitu tulus. Tak sedetikpun rasanya ia melihat Korra sebagai ancaman.

Tunggu sebentar. Jika Tetua tahu, itu artinya ... Sam ... tahu?

"Itu tak mungkin!" tolaknya. "Sam menaruh namamu dalam daftar calon serigala. Ia memerintahkan pengawasan untuk mengetahui tanda-tandamu. Mengharapkanmu berubah..."

"Mengharapkanku untuk melepas topeng, sebenarnya," Korra menjawab sambil tersenyum. "Tahukah kau, Sam sudah berbulan-bulan, tidak, bertahun-tahun sebelumnya, terus mengawasiku? Ia dan kawanannya ... mengintaiku dari jauh? Tahukah kau, sejak aku menginjak tanah ini, Sam terus menempelkan matanya di punggungku, mengawasi tiap gerakanku, berusaha mengendusku? Menjebakku dalam tiap kesempatan?"

Terdengar suara napas tertahan.

Sam ... mengetahui semuanya? Sejak awal?

Tapi sebelumnya, ia berkata...

"Kawanan Sam? Sam punya kawanan?"

"Oh, perlukah kau bertanya, Brady? Tentu saja ada kawanan Sam. Dua serigala yang selalu mengikutiku. Pasti kau kenal mereka. Serigala coklat dan abu-abu perak."

Astaga.

"Jared dan Paul?"

Korra memperlihatkan senyumannya.

"Astaga. Mengapa mereka tidak … memberi tahu Jacob?"

"Lagi-lagi, apa perlu kau bertanya? Tentu saja karena mereka memiliki agenda tersendiri."

Agenda?

"Kau bisa menyalahkanku, Brady. Kami sudah akan pulang, kabur sebelum Sam makin menyingkap siapa kami. Tapi aku menahan Alfa. Aku yang egois, tidak mau pergi dari sini. Dan itu murni karena alasan pribadi. Dad. Dan ... Seth."

Seth membelalak.

Sesaat ekspresi Korra berubah, agak terlihat pedih, namun ia kembali memasang wajah yang tenang, dan melanjutkan.

"Alfa, bagaimanapun, setuju untuk tinggal. Dengan dua syarat. Satu, menggali lebih jauh pengetahuan suku kalian tentang asal-usulnya. Dan dua, kami harus mengusahakan agar kawanan kalian memasuki aliansi. Kami butuh bantuan kalian. Kalian kawanan yang besar dan pastinya suntikan kekuatan yang sangat besar bagi aliansi. Kami butuh kekuatan kalian untuk mendukung kami, menghadapi perang yang akan datang"

"Artinya ... kalian sejak awal ... ingin menaklukkan kami?"

"Ya. Itu cara yang paling mudah, bagaimanapun. Kesempatan untuk itu sangat banyak. Aku toh sudah mendapatkan darah Jacob. Hanya selangkah lagi, jika aku tak berhenti, jika aku membunuh Jacob, aku sudah bisa mengklaim kawanan kalian. Jika aku jadi Alfa kalian, aku, sebagai serigala yang sudah ia taklukkan, maka kalian otomatis menjadi bagian dari kawanan."

Korra mendapatkan darah Jacob?

"Kapan?" suara Brady bergetar. "Kapan kau hampir...," ia tak tega mengatakannya. Kapan Korra hampir membunuh kakaknya sendiri?

"Ketika Jacob diserang. Kau pastinya ingat. Hari ketika aku muncul di rumah Sam. Seminggu setelah aku sampai di sini."

Tak lagi Brady bisa bicara, atau bereaksi apapun. Seminggu setelah Korra sampai. Bagaimana mungkin? Mereka sudah hampir jatuh ke tangan musuh bahkan tanpa mereka tahu?

"Bagaimanapun penaklukan total adalah jalan terakhir. Kami berusaha menempuh cara yang lebih lunak. Menghubungi Jacob. Menawarkan kerjasama. Namun ia menolak. Dan bahkan menganggap kami ancaman. Itu titik ketika kami berada di kondisi serba salah. Jika Alfa tanah ini tidak menerima kami, ia mungkin akan menyerang atau mengusir. Hanya ada satu cara: penaklukan. Tapi aku tak ingin melakukannya."

"Dan di titik itu kau berusaha mencari jalan untuk tetap tinggal. Dengan mengadakan kerjasama dengan Alfa lain di tanah ini," mendadak Seth bicara. Ucapannya berbuntut tekanan di udara yang mencekam. "Kau tadi menyebutkan para Tetua punya agenda. Itu jawabannya. Kalian melakukan perjanjian dengan Tetua. Tepatnya, dengan Sam..."

Senyum Korra yang dingin merupakan konfirmasi.

"Ini kerjasama yang menguntungkan kalian berdua, tentu saja. Bagimu, kau mendapatkan akses di tanah ini, dalam upayamu mendapatkan kami. Dan tahu seperti apa Sam, ia pastinya takkan luput melihat potensi aliansi untuk melindungi suku."

Hening mencekam kala Brady berupaya mencerna ucapan Seth itu. Kawanan asing ... mengadakan kerjasama dengan Sam ... di luar sepengetahuan kawanan, di luar sepengetahuan Jacob….

"Ya," Seth balas menyunggingkan senyum. "Sam melihat masa depan suku yang suram sejak kita membiarkan diri kita terekspos pada para vampir. Jacob telah mengadakan perjanjian teritorial dengan Volturi untuk melindungi suku, tapi bagi Sam itu adalah langkah buruk. Ia tahu kapanpun mereka bisa mencari cara untuk melanggar perjanjian dan menyerang, memastikan diri mereka aman dari ancaman anjing-anjing seperti kita. Di sisi lain, karena kita merasa aman, kita menjadi lemah. Jacob sendiri jelas tidak pernah memikirkan nasib suku jangka panjang. Pikirannya teralih oleh Renesmee. Ia tak sabar untuk cepat-cepat meninggalkan suku. Sam tahu inilah titik balik yang buruk bagi suku. Ia tahu satu-satunya cara untuk memastikan kawanan dan suku terlindung adalah dengan mengikat diri, membentuk perjanjian, dengan kekuatan yang lebih besar, suatu aliansi. Para penjajah."

"Tapi, Seth," Brady memotong. "Itu artinya Sam melangkahi wewenang Jacob!"

"Aku tak yakin di antara mereka benar-benar tak ada bibit busuk, Brad. Jacob tidak penting bagi Sam. Ia hanya seorang Alfa, Alfa yang sudah jelas akan mengabaikan suku demi seorang hibrida."

Pemuda itu kembali menyunggingkan senyum aneh. Senyum kemenangan, ya, tapi masam.

"Tunggu sebentar, Seth. Tadi kau mengatakan perjanjian. Perjanjian apa?"

"Perjanjian mereka sebenarnya sederhana, Brad. Tak pelak lagi, dengan wewenangnya sebagai Tetua, Sam memberi izin pada kawanan mereka untuk tinggal. Mereka diminta melindungi tanah Quileute."

Perjanjian perlindungan. Brady sama sekali tak melihat sesuatu yang salah di sini.

"Permasalahannya," Seth melanjutkan, "Sam tidak berhak untuk mengadakan perjanjian itu. Sejak awal perjanjian itu tidak valid."

"Oh ya, Seth?" Korra melirik, menyunggingkan senyum penuh kepercayaan diri. "Mengapa kau berpikir perjanjian itu tidak valid?"

"Karena pemilik tanah ini adalah Jacob dan bukan Sam!"

"Ya, tentu. Tapi kau tahu? Jacob menempatkan Sam di atasnya," ujar Korra tenang. "Ia memberi Sam hak. Tentu saja perjanjian ini jadi lebih sulit secara hukum, dan karena Sam hanya mendapat mandat Tetua, membuat kedudukan perjanjian ini lemah. Karenanya ia membuat pertukaran..."

"Pertukaran?" mata Brady meremang. "Ada apa ini?"

Tapi justru Seth yang menjawab.

"Kawanan mereka tidak melindungi dengan cuma-cuma, Brad. Sam memberi mereka akses untuk melakukan klaim. Mengalahkan Jacob. Menundukkan kawanan. Pendek kata, Sam mengadakan perjanjian terlarang."

"Perjanjian ... terlarang?" Brady tak percaya pendengarannya. "Apa ini salah satu tebakanmu, Seth? Karena kau harus mendengarkan ucapanmu sendiri. Itu tidak mungkin!"

"Menyedihkan, Brad. Tapi aku bisa jadi saksi. Aku di sana saat itu, aku menyaksikan perjanjian itu. Pertemuan rahasia di dasar jurang. Kau tahu, hukum suku menyebutkan bahwa Alfa resmi sajalah yang bisa mengadakan perjanjian dengan Alfa lain. Namun, jika Perjanjian tidak dilakukan oleh Alfa yang sama kuat, maka harus ada harga untuk mengikat perjanjian itu. Sebuah pertukaran. Dan Sam, yang bukan Alfa sah tanah ini, berada di posisi yang lebih rendah, sehingga ia harus membayar lebih."

"Membayar?"

Seth mengangguk.

"Ya. Sam menawari Alfa mereka darah Jacob."

"Darah ... Jacob?"

"Benar. Klaim biasanya cukup dengan mengalahkan Alfa, dan otomatis memenangkan seluruh anggotanya. Namun karena ini menyangkut Kierra, pasti ia meminta lebih. Kau tahu legenda itu, Kierra menjadi lebih kuat dengan meminum habis darah kepala suku. Itu yang ditawarkan Sam. Darah Jacob. Kekuatannya. Pendek kata, ia memberi mereka izin untuk membunuh Jacob. Dengan demikian, juga meneguhkan posisi Sam untuk menggantikan Jacob sebagai Alfa boneka."

Meneguhkan posisi Sam ... sebagai Alfa?

"Itu gila, Man!" tolak Brady. "Sam tidak seperti itu! Ia tidak haus kekuasaan!"

"Sam memang tidak haus kekuasaan, tapi kau tahu di mana letak kesetiaan Sam. Bukan pada Jacob, tapi pada suku. Ia akan melakukan apapun demi suku, bahkan menjual jiwanya pada iblis."

Seth menatap Korra tajam, yang balas memandangnya dengan tenang. Tenang dan datar.

Brady masih menggeleng. Semua ini tidak nyata. Tidak mungkin terjadi.

"Itu artinya … Sam … berkhianat…."

"Sam hanya melakukan apa yang menurutnya harus dilakukan. Kau tahu seperti apa dia," Seth mendengus.

Selang sekian waktu hanya diisi oleh kesunyian. Brady jelas shock, sangat. Ia tersuruk di kursi, lemas. Benarkah ini? Sam berkhianat?

Tidak, itu tidak mungkin sama sekali. Sam Alfa mereka. Ia kenal Sam.

"Tapi, tapi…," ia mencoba berpikir dari sudut lain, tidak mentah-mentah menelan pemikiran Seth. "Itu seharusnya sesuatu yang bisa dibicarakan, kan? Kalau memang Sam ingin mengikat perjanjian dengan aliansi, apalagi demi melindungi suku, seharusnya ia bicara pada Jake. Ia Tetua dan Jacob mendengarkannya. Ia tidak harus menjual kawanan."

"Benar. Tapi aku yakin ada sesuatu yang luput dari perhitungan Sam. Jelas, ia awalnya tidak meniatkan pertukaran itu. Ia mengkhianati Jacob karena terpaksa."

"Apa maksudmu?"

"Aku sempat menguping pembicaraan Sam dengan Emily. Ia membuat analogi: ingin melindungi domba dari singa dengan bantuan harimau, tapi para domba yang ketakutan menjerumuskan diri mereka sendiri dalam bahaya. Domba adalah kita. Harimau adalah kawanan asing. Dan singa adalah ancaman itu."

"Apa sebenarnya yang ingin kaukatakan, Seth?"

"Maksudku Sam sudah merencanakan ini sejak lama. Jauh, jauh, jauh sebelum Korra datang. Tidak, ia bahkan merencanakannya sejak perjanjian dengan Volturi ditandatangani."

"Apa?"

"Kau tahu keputusan itu diambil atas inisiatif Jacob, setelah Sam turun takhta. Sam yang paling menentang perjanjian dengan Volturi tiga tahun lalu. Tapi ia tak bisa bicara apapun karena ia sudah meninggalkan jabatannya. Sam tidak lagi berhak mengklaim, karena hierarkinya di dalam kawanan sebenarnya tidak cukup tinggi. Dengan adanya Collin, aku, dan mungkin Embry, kedudukan Sam merosot beberapa level, sehingga sekali melepas jabatan, ia tak bisa lagi menuntutnya kembali. Dan kau tahu itu: sebagai Alfa, Jacob memiliki otoritas tunggal."

Seth menghela napas sesaat. Wajahnya masih tegang dan berat.

"Aku yakin sebelum itu, Sam sudah mengendus keberadaan seorang Black lain. Korra sudah berubah empat tahun lalu, dan kembali berhubungan dengan ayahnya. Alasan Korra berhubungan kembali dengan Billy, setelah sekian lama melupakan asal usulnya, pasti dipicu oleh sesuatu. Mungkin itu alasannya: perubahan. Korra, atau Ariana, pastinya butuh akses atas pengetahuan dan legenda suku, dan menganggap kembali mendekati Billy adalah langkah penting. Pastinya hal ini tidak luput dari perhatian Sam. Pastinya ia bingung, mengapa Korra bisa berubah tanpa sepengetahuan kawanan. Tapi kedudukan Korra yang tinggi dalam hierarki membuatnya berpikir. Jacob, sebagaimana kita semua tahu, pastinya akan pergi begitu Ness menginjak kedewasaan dan itu artinya hanya beberapa tahun lagi. Sam butuh pengganti yang lebih kuat. Ia berupaya mempersiapkan Cole, tapi Cole susah diurus. Aku tidak masuk hitungan karena Sam tidak bisa mengendalikanku. Dan kini ada calon baru: Korra. Jika ia bisa mengikat kembali Korra ke dalam suku, mendapatkan kepercayaan Korra, mengendalikan Korra untuk mengklaim kawanan, ia berharap ia juga bisa mengendalikan kawanan. Menjadikan kawanan lebih kuat."

Senja mulai membayang di luar sana. Berkas sinar matahari masuk lewat jendela, mencelup ruangan dalam warna merah. Seakan mereka ada di dasar neraka.

Seth masih melanjutkan dengan suaranya yang datar.

"Namun berupaya mendapatkan Korra saat itu hanya akan menjadi masalah. Dengan adanya ia berubah terpisah dari kawanan, Korra tanpa sadar menjadi Alfa bagi dirinya sendiri. Dengan darahnya yang tinggi, membawanya kembali ke La Push hanya akan membuat Korra dan Jacob bertarung demi kedudukan. Karenanya ia menyimpan Korra untuk mengklaim Alfa begitu Jacob pergi, untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah. Namun ia pastinya terus mengawasi Korra. Memerintahkan Jared atau Paul untuk mengawasi."

"Da, dari mana kau tahu itu?" potong Brady. "Itu hanya tebakanmu, kan?"

"Ya, itu memang tebakan tapi itu yang bisa kupikirkan. Dan bukan tanpa bukti juga. Tadi Korra bilang soal kawanan Sam. Dan kau tahu ini dari Jacob: Korra bilang ke mana-mana ia selalu diikuti. Rachel dan Paul bepergian sejak tiga tahun lalu. Kartu pos mereka bertumpuk di rumah Jacob. Itu tempat-tempat yang pernah didatangi Korra, walau bagaimanapun. Aku takkan heran jika Paul memang mengawasi Korra atas perintah Sam."

"Apa Billy … tahu soal ini?"

"Aku tidak tahu dan tidak punya bukti apapun, pada titik itu ia menyembunyikannya atau tidak, Brad. Tapi kemungkinan besar Billy memang tahu agenda Sam. Tapi dengan argumen Sam yang kuat, di samping ia sendiri lebih dari antusias untuk kembali bersama putrinya, anak dari perempuan yang ia cintai sejak kecil, tentu saja ia takkan menolak. Billy pastinya mendukung Sam, dengan memberikannya hak untuk membentuk kawanan, menjadi Alfa. Ia mengikutsertakan Jared dalam kawanannya untuk menguatkan kedudukannya. Dengan darah Black yang ia punya, Jared memberinya mandat. Dengan begitu, jika diperlukan, ia bisa menjadi medium untuk menghubungkan para Tetua dengan kawanan lain. Dan juga, menutupi masalah perubahan Paul dan Jared, dan pengawasan atas Korra, dari Jacob."

Hening.

"Namun kemudian hal buruk terjadi. Korra diklaim kawanan asing. Di titik itu Sam kelimpungan. Tapi di saat yang bersamaan Jacob melakukan suatu kesalahan besar: perjanjian dengan Volturi. Sam mengendus bencana besar ada di depan mata. Dan di sanalah ia berpaling pada kawanan Korra. Ia berupaya mempelajari siapa mereka, menilai, membuat rencana. Tahu potensi aliansi, ia tahu ia bisa menjadikan mereka benteng untuk melindungi suku. Tapi ia tahu Jacob pasti akan menentang, sehingga ia berupaya menyembunyikannya dari Jacob."

Jeda sebentar sebelum Seth kembali melanjutkan.

"Tapi lantas ada satu kejadian, entah apa, yang membuat rencana ini harus berjalan lebih cepat. Korra mendadak menghubungi Billy, berkata ibunya meninggal dan ia butuh tempat tinggal. Itu pastinya sesuatu yang aneh bagi Sam, karena ia pastinya tahu Korra sudah berpisah dari ibunya bertahun-tahun sebelumnya, sejak ia diklaim. Tapi ia lebih dari antusias untuk menerima mereka. Ia menguatkan Billy untuk menerima Korra. Sementara ia tetap menyimpan agenda sendiri."

"Dengan tetap menutupinya dari Jacob?"

"Brady, pikirkan ini. Jacob sudah mengikat perjanjian dengan Volturi. Aliansi kawanan asing ini, bagaimanapun, pastinya adalah kekuatan yang berseberangan dengan Volturi. Jika Jacob sendiri yang mengikat perjanjian dengan mereka, itu artinya ia telah mengkhianati perjanjiannya. Sumpah Alfa itu sakral. Alfa yang menelan ludahnya sama saja kehilangan sebagian otoritasnya. Sam tidak mau meresikokan itu. Perjanjian dengan kawanan asing ini adalah back-up plan. Rencana pertama untuk memperkuat benteng Quileute, tetap, adalah membentuk batalion werewolf."

Brady terkesiap. Batalion, perkara yang sudah lama mereka lupakan. Hal yang bahkan tidak jelas wujudnya sekarang. Bahkan setelah sudah jelas ada serangan….

"Ya, Brad. Ternyata ada masalah lebih dekat ke permukaan ketimbang ancaman Volturi. Para vampir gila. Yang katamu, dipimpin oleh 'Sang Ibu'. Sam tidak tahu siapa mereka pada titik itu, tapi jelas mereka ancaman yang mengerikan. Jacob, aku, Embry… para Triad jatuh. Dan rencana batalion tidak berjalan mulus. Di sinilah ia meresikokan segalanya: benar-benar menghubungi kawanan itu."

"Menghubungi kawanan?"

"Ya. Aku yakin bukan kawanan asing ini yang berinisiatif melakukan pendekatan pada Jacob. Mereka melakukannya atas permintaan Sam. Sam mendekati Korra, agar Alfa mereka mau mengadakan kerjasama dengan Jake. Ini seharusnya puncak dari semua usaha Sam. Namun, berlainan dengan perkiraannya, Jacob menolak. Jacob, sebagai Alfa dengan insting untuk mempertahankan wilayah, pastinya lebih memilih egonya ketimbang kerjasama, apalagi tunduk. Lebih lagi, Sam menyembunyikan terlalu banyak hal darinya, sehingga Jacob tak bisa menimbang dalam lingkup yang lebih luas. Di sinilah titik buruk di pihak Sam. Sam tahu ia tak bisa mengalahkan Jacob, dan aneh jadinya kalau ia memaksa Jacob untuk mempertimbangkan kerjasama karena itu artinya membuka topengnya sendiri. Tahu Jacob, jika di titik ini Sam membuka diri, Jacob pasti akan mengamuk, ditambah lagi sudah ada ketegangan di antara mereka sejak perkara batalion. Karenanya ia meminta bantuan orang dengan darah yang lebih kuat untuk mengklaim kawanan."

"Tidak mungkin..."

"Jika kawanan berhasil diklaim, Sam bisa jadi Alfa. Jikapun memang Hukum Teritorial telah turun padanya, mencapnya sebagai pengkhianat, dan tanah ini tak menerimanya, Korra bisa jadi Alfa boneka. Yang manapun tidak masalah baginya, entah kita menjadi taklukan atau bekerjasama dengan mereka, selama suku terlindung."

Ketenangan yang tampak di permukaan, anehnya, terasa begitu mencekam. Intens.

"Aku benar, kan?" senyum Seth, entah mengapa, terlihat begitu mengerikan. "Sekali kau tahu sifat mereka, kau bisa memprediksikan segalanya."

Jeda sesaat ketika kedua orang itu saling memandang tajam, sebelum akhirnya Korra balas menyunggingkan senyum aneh. "Patut kukatakan kau memberiku gambaran yang bagus sekali tentang Sam, Seth... Jelas kau menganggap ia begitu patriotik dan aku adalah pengambil kesempatan licik nan menjijikkan," ia bicara dalam nada rendah.

"Kau tak bisa menyangkal, Korra...," ucap Seth pelan. "Pahit bagiku mengakuinya, tapi memang begitu kenyataannya."

Korra tersenyum. "Sayangnya tidak persis begitu juga kejadiannya. Ada beberapa kesalahan dalam hipotesamu. Pertama, bukan aku yang pertama kali menghubungi Dad, tapi Dad sendiri. Dan yang paling penting: aku memang membuat perjanjian dengan Sam, tapi tidak dengan bayaran darah Jacob. Ya, awalnya ia memang menawarkan seperti kaubilang, tapi aku tak bisa menerimanya. Kau tahu, aku tak perlu membuat perjanjian dengan siapapun kalau hanya untuk mendapatkan darahnya. Aku tahu pola patriarki dalam suku ini, tapi kalau aku mau, dengan darahku dan kedudukanku, aku pasti bisa mengalahkan Jacob dengan mudah."

"Lalu?"

"Yang jelas patut kau tahu, tidak ada satu bagian pun dari perjanjian ini yang mengancam keselamatan Jacob. Sam hanya memaksaku untuk menjadi sekutu suku ini, melindungi suku ini dari serangan."

"Dengan suatu bayaran..."

"Ya. Memang dengan suatu bayaran. Tapi kau tidak bisa membuatku mengatakan apa bayarannya. Perjanjianku dengan Sam dilakukan di bawah sumpah untuk merahasiakannya dan kau tahu, Sumpah Alfa itu sakral."

Seth mendengus. "Kau tak perlu mengatakannya pun aku sudah tahu, Korra. Jika ada yang bisa Sam tawarkan, jika bukan darah Jacob, itu hanya kesetiaannya. Dirinya."

Brady membelalak.

"Apa maksudmu, Seth?"

"Apa kau tak tahu, Brad? Sam sekarat."

"Apa?"

"Jacob tidak tahu ini. Sam sakit."

"Apa maksudmu? Sam tak mungkin sakit!"

"Sam membentuk kawanan di luar sepengetahuan Jacob. Dengan naik pangkatnya ia menjadi Ketua Dewan, manuver Sam bisa dibilang terlalu jelas, ditambah lagi ia membuat Jacob kesal dengan tak bisa menahan diri untuk tak bersikap sok ngebos. Tidak mungkin tidak, dengan adanya ia pernah melihat Sam di hutan, tanpa koneksi dengannya, Jacob tak mungkin tak menduga bahwa Sam telah kembali menjadi Alfa. Alam bawah sadarnya pasti telah mencap Sam sebagai pengkhianat. Dan kau tahu hukum itu, tubuh Sam pasti merasakannya. Selama Jacob belum menurunkan Titah Pengusiran, tanah Quileute menolak tubuhnya, menyiksanya dari dalam. Sam pasti menyadarinya. Aku mendengar, di jurang, Sam bicara bahwa ia ingin ditaklukkan sebelum 'itu' terjadi. Ia berkehendak agar Alfa mereka memenangkannya sebelum tubuhnya benar-benar membusuk. Sejujurnya, ini bisa dibilang 'harga' bagi Sam, tapi juga 'upah'. Penaklukan Sam akan berdampak baik bagi kedua belah pihak."

Korra tersenyum dan saat itu Seth tahu bahwa ia benar.

"Tapi ini masalahnya," lanjut Seth. "Berbeda dengan kasus Noah, Sam sudah berubah dan dimiliki tanah ini. Walau ia sudah jadi Alfa, secara hukum ia masih dimiliki Jacob. Alfa mereka tak bisa begitu saja mengklaim serigala yang masih terikat pada tanahnya. Jadi tak mungkin mengklaim Sam kecuali ia mengalahkan Jacob terlebih dahulu. Di situ ia sampai pada titik tanpa penyelesaian aman."

"Benar," ujar Korra. "Aku tak bisa mengabaikan Sam, membiarkannya membusuk. Auranya sangat agung, kau tahu? Sangat disayangkan jika ia mati. Satu-satunya pilihanku untuk dapat menolong Sam, mengklaimnya, adalah mengklaim posisiku sebagai Alfa Quileute. Dengan begitu aku bisa mengekstradisi seseorang atau mengakuinya kembali sebelum ia diusir permanen. Karena begitu Titah Pengusiran diturunkan, bahkan Alfa pun tak bisa menjangkau serigala terbuang."

"Ya. Itu, atau kalian melakukan pertukaran lain. Seseorang di kawananmu demi Sam."

Gadis itu tertawa. "Oh, jangan bodoh, Seth. Mana mungkin aku hendak menukar salah satu anggota kawananku demi seorang serigala yang ada di ambang kematiannya?"

"Oh, kalian pasti melakukannya, Korra. Kecuali kau mau mengakui bahwa Alfamu melakukan Sumpah palsu."

"Beraninya kau bilang Alfaku mengucapkan Sumpah palsu!"

"Pasti begitu kenyataannya. Mengklaim Alfa adalah sesuatu yang riskan untukmu, ya kan? Kalau kau mau, kau bisa melakukannya dari dulu, tapi tidak. Kau sudah bilang, kau hampir membunuh Jacob, tapi tak kaulakukan. Pasti ada sesuatu yang menahanmu. Terlalu naif kalau aku bilang alasannya adalah karena kau menyayangi kakakmu, tapi yang jelas kau memang tak ingin melakukannya. Tapi itu artinya kalian memberi Sam harapan, memaksanya mendukung kalian, tanpa kalian memberi pertukaran yang adil."

Korra diam agak lama. Ketika akhirnya ia membuka suara, dia malah mengemukakan pertanyaan di balik senyumnya, "Lalu siapa yang kaupikir ingin kami pakai sebagai pertukaran?"

"Entahlah. Kau yang katakan. Noah, misalnya. Atau mungkin kau sendiri."

Di titik itu justru Noah yang meremang.

"Benarkah, Korra?" tuntutnya. "Kau mengklaimku demi menukarku dengan Sam?"

Namun Korra tidak menjawab.

"Kau seharusnya bisa menyelesaikan ini dengan aman, Korra," Seth mengubah intonasi. Tenang, ya, tapi kali ini bukan lagi mengemukakan hipotesis apalagi tuduhan. "Katakan pada Jacob, semua rencana kalian, kekhawatiran kalian, ancaman yang kalian hadapi. Bahaya yang kalian takutkan mengancam tanah kami. Aku yakin Jacob akan mengerti jika ia bisa memandang semua dengan kepala dingin. Ini menyangkut tanahnya dan orang-orang yang berarti baginya, walau bagaimanapun. Jacob akan mengakui kembali Sam, sebelum ia benar-benar membusuk."

"Sayangnya itu tak mungkin, Seth," senyum Korra tampak dingin. "Kau mengatakan kata kuncinya, 'kepala dingin'. Dan Jacob sama sekali jauh dari kata 'kepala dingin'."

"Kau terlalu menyepelekan kakakmu sendiri, Korra! Ia menyayangimu dan juga menghormati Sam. Ia pasti bisa membuat keputusan yang tepat."

"Aku ragu itu."

"Astaga, Korra…. Aku harus berapa kali bilang bahwa Jake menyayangimu? Waktu kau hilang di hutan, waktu ia berusaha memproteksimu ketika kalian kamping..."

Namun mendadak Seth terdiam, ketika memori hari itu kembali.

"Astaga. Waktu itu, kau di hutan. Kau tidak hilang, ya kan? Kau bukannya kebetulan bertemu Sam... Sam sudah tahu saat itu. Ia juga berusaha melindungimu... Beberapa pintu masuk ke jaringan lintah ada di sekitar Crescent Lake. Kau sudah tahu daerah itu tidak aman, kan? Karenanya kau berkeliling, memasang jebakan. Jebakan itu bukan hanya untuk memaksa kami mundur, supaya Alfamu bisa masuk dan menghubungi Jacob. Kau berusaha menutup akses mereka pada kami."

Korra, seperti yang sudah-sudah, menyunggingkan senyumnya yang beku.

"Tidak, tidak. Pasti bukan itu alasannya. Itu hal bodoh," Seth mengoreksi ucapannya sendiri. Tak mungkin vampir bisa ditahan oleh jebakanmu. Yang ada kau membuat Brady jatuh," ia kembali menunduk, tampak seakan berpikir-pikir. Namun akhirnya ia menggeleng."Aku tidak tahu alasannya. Ini benar-benar tak masuk akal. Satu-satunya yang masuk akal hanya jika kalian ada di pihak para vampir, sengaja menarik kami dan memaksa Jacob menjauh agar para vampir bisa menyerang ke jantung perkemahan. Tapi itu tak mungkin, kan? Tak mungkin kau membahayakan keselamatan ayahmu sendiri…"

Seth terlihat stress, dan kediaman Korra sama sekali tak membantu.

"Astaga. Ada terlalu banyak hal yang tak kuketahui di sini," ia seakan bicara pada dirinya sendiri. Sesaat ia menekur, sebelum mengangkat mukanya, menantang mata Korra. "Tapi mengapa kau harus pergi?" tanyanya. "Kau bisa saja menyelinap kembali ke perkemahan. Phat sudah mengatasi para lintah. Kalaupun kau dan Alfamu menangani di titik lain, tetap tak ada alasan untukmu pergi."

Ia menatap Korra yang masih diam.

"Mau jelaskan padaku apa yang terjadi? Apa kau sudah memprediksikan serangan? Apa kau memang sengaja memaksa Jacob pergi? Apa yang kaurencanakan sebenarnya hari itu?"

"Maaf, Seth. Aku tak bisa mengatakannya."

"Astaga, Korra! Kini saat aku jelas di sini, berusaha memahamimu, kau masih tak mau terbuka padaku? Apa kau ingin aku memandangmu sebagai musuh? Karena hanya itu yang bisa kusimpulkan jika aku tak tahu lebih banyak tentangmu!"

"Seth!" peringat Brady, sadar bahwa mantan Betanya sudah mulai tak bisa menahan diri. Seth adalah yang paling bisa mengendalikan diri di antara seluruh kawanan, selain Embry tentu. Tapi berada dalam kondisi menekan seperti ini jelas memberinya kelelahan fisik dan mental, dan bukannya Brady tak tahu itu. Tapi di sini, di sarang macan, ia tahu kefrustasian Seth pastinya tak boleh berlanjut.

Seth menghela napas, berusaha menenangkan diri.

"Oke kalau kau tak mau bilang. Toh aku pasti akan mengetahuinya cepat atau lambat."

"Ya, tentu, tentu," reaksi Korra ringan.

"Tetap aku bersikeras bahwa kau harus membuka diri, Korra," tekan Seth. "Kau tahu kediamanmu ini tak menguntungkan siapapun. Kami, jelas. Sadarkah kau, kami porak poranda sejak kawanan kalian datang? Apa itu yang kauinginkan? Kehancuran kami? Kalian takkan mendapatkan apapun dari kami kalau begitu jadinya, kau tahu? Kawanan yang terpecah sama sekali takkan bisa menjadi suntikan kekuatan bagi kalian, entah kau bisa mengklaim kami atau tidak."

Sikap Korra berubah serius kala kata-kata Seth dimengertinya.

"Apa yang sebenarnya kauinginkan, Seth?" ujarnya tajam.

Seth tersenyum. "Jika Sam bisa mengajukan perjanjian, aku juga bisa."

"Oh ya? Apa memang yang bisa kautawarkan? Atas otoritas apa?" wajah kaku Korra begitu mencekam. "Kau tidak punya kedudukan apapun sekarang, Seth. Tidak di kawananmu. Tidak di kawananku. Tidak di manapun."

"Ya. Tapi aku pasanganmu. Tidakkah itu berarti sesuatu bagimu? Dan kalau kau menginginkan aku dan Brady di sini, pasti ada sesuatu selain urusan pencarian Cole yang kauinginkan dari kami."

Brady mengeluarkan suara napas tertahan tapi Seth mengangkat tangannya, meminta Brady diam.

"Oke," Korra menyilangkan lengannya di depan dada, sikapnya agak rileks. "Coba kudengar apa maumu."

"Sederhana. Kita sudahi ini. Buka topengmu. Jacob mungkin tak mau mendengarku lagi setelah kau sukses membuatku terusir dari kawanan, tapi Brad masih di kawanan dan ia bisa menjadi perantara negosiasi dengan Jacob. Kau tak perlu mengklaim kawanan. Kami bisa menjadi kekuatan kalian jika kau mau. Bekerjasama dengan aliansi atau apapun itu."

"Apa bayaran yang kauinginkan?"

"Sederhana. Biarkan segalanya kembali ke tempatnya. Biarkan Jacob kembali mengklaim Sam. Itu akan menghentikan penderitaannya dan ia tak perlu terusir. Semua berakhir damai."

"Ya, itu jelas yang kauinginkan, Seth," Korra berdecak. "Tapi kalau begitu, itu sama saja tidak memberiku bayaran apapun. Sam dan kekuatannya adalah sesuatu yang aku butuhkan. Kau tahu, Alfaku sudah melirik Sam sejak awal. Jika Jacob memberikan Titah Pengusiran, akan lebih mudah bagiku untuk mendapatkan Sam."

"Jika Jacob menjadi bagian aliansi, lewat kerjasama dan bukan penaklukan, dengan Sam menjadi bagian darinya, itu sama saja kau mendapatkan Sam."

"Ya, tapi tidak dalam taraf yang kuinginkan."

"Brengsek, Korra!" Seth menggebrak meja, kehilangan ketenangannya. "Mau sampai kapan kau bermain sulit dan licik seperti ini?! Kau sudah mendapatkan aku! Jacob sudah menjanjikan kesetiaanku padamu! Bisakah kau menganggap itu sebagai bayaran? Ini tak seharusnya berjalan seperti ini, kau tahu?"

"Kesetiaanmu bukan hanya padaku, tapi juga pada Collin."

Di titik itu Seth terhenyak.

"Jadi itu alasanmu berusaha mendapatkan Collin..."

"Apa?" Brady sama sekali tidak mengerti apa yang muncul di hadapannya.

"Usahanya untuk berusaha menyelamatkan Cole punya niat terselubung, Brad!"

"Apa maksudmu? Korra khawatir pada Cole!"

"Oh ya? Aku yakin alasannya lebih dari itu," Seth memperdengarkan suara bagai orang jijik. Marah, sangat. "Korra tahu Jake membuat Sumpah dengan mengikatku pada Korra dan Cole. Tapi semua ini bukan cuma untuk memastikan aku sepenuhnya memberikan kesetiaanku padanya tanpa terbagi. Aku mungkin tak berharga apapun bagi mereka. Aku hanya budak Korra, anjing pelacurnya yang bodoh," ia mendengus, terasa getaran yang aneh kala ia mengucapkan frase terakhir. Pedih. Perih. Sesak. "Tapi Collin berbeda. Dia Putra Mahkota Quileute, pengganti Jacob, calon Alfa yang sah. Dengan kata lain, asuransi jika rencana mereka tak berjalan lancar. Itu sebabnya Korra berusaha memikat Collin."

Brady tak percaya ini. Seth ... mengira ... semua sikap Korra punya maksud terselubung?

"Dan kau tahu apa, Brad?" senyum Seth hanya bisa ditandingi senyum dingin Korra. "Mereka berhasil. Collin jatuh cinta pada Korra. Jika entah bagaimana Korra tak bisa mengklaim kawanan, Collin-lah yang mereka rencanakan sebagai Alfa boneka. Jika mereka bisa mengendalikan Collin untuk mengklaim kawanan, ia percaya Collin akan sukarela tunduk."

Dan di titik itulah Brady merasa tak tahan lagi.

"Seth," desisnya, "bagaimana mungkin kau bisa bicara begitu?" Brady tak mampu mencerna kalimat yang diucapkan penuh kegetiran itu. "Korra mencintaimu! Kau seharusnya lihat bagaimana cara ia bercerita tentangmu! Ia memujamu!" ingatannya tak urung melayang pada hari ketika Collin menyatakan cintanya pada Korra dan Korra menampik dengan pura-pura tidak tahu. "Dan ia tidak mungkin berusaha meluluhkan Cole untuk alasan konspiratif! Aku bersama Korra dan Collin setiap waktu, ia jauh dari potongan gadis penggoda! Ia bahkan tidak seperti Roxanne! Cole sukarela jatuh cinta..."

"Percayalah, Brady. Aku tahu pasti betapa Korra bisa sangat memikat bahkan walau ia tidak perlu menggoda," Seth menyunggingkan bersit senyum aneh. Kaku, ya, tapi tak bisa disangkal kepedihan di dalamnya. "Benar kata Noah, ia banshee. Manipulator licik yang mengendalikan apapun di sekitarnya."

"Seth, kumohon…," bisik Brady. Di sudut sana, dilihatnya Korra tak lagi tersenyum. Ia tetap menatap tenang, tapi wajahnya mengeras.

Namun Seth tidak mempedulikan peringatannya. "Oh, aku bahkan tak yakin ia pernah sedetikpun mencintaiku. Ia jelas hanya berusaha mendekatiku demi mempenetrasi kawanan. Aku tahu ia juga berusaha melakukan hal sama dengan Cole. Karenanya ia tak pernah ingin mengesahkan hubungan kami, membukanya di hadapan Jacob. Bukan cuma ia mengkhawatirkan amukan Jacob. Ia khawatir jika Cole tahu, ia tak bisa lagi menjalankan rencananya untuk memikat Collin. Aku yakin, jika waktu itu Cole tidak berhasil mengetahui rahasia kami, dan tidak berusaha mengkonfrontasiku, sekarang ini juga Cole sudah luruh ke pelukan Korra. Nasibnya takkan jauh dariku. Dan nyatanya memang ia sudah hampir-hampir jatuh, tinggal selangkah lagi mungkin Korra sudah akan berhasil menundukkannya seperti ia menundukkanku. Memperlakukannya seperti ia memperlakukanku. Menundukkan Collin, Alfa Quileute masa depan, berarti memastikan seluruh kawanan di tangannya. Bayangkan seorang calon Alfa yang agung, jatuh sebagai serigala submisif, tak lebih dari anjing pelacur bagi serigala keji ini."

"Seth!" Brady tak lagi mendesis, ia membentak.

"Dan kau tahu apa ironinya, Brady?" ia memutus kontak mata dari Korra dan menatap Brady. "Ironinya adalah aku tahu. Aku tahu semua sisi gelap Korra, tapi aku tidak bisa berontak. Aku tak bisa lepas. Aku tak tahu bagaimana aku bisa jatuh sedalam itu, jatuh cinta padanya, jadi pelacur kotornya yang menjijikkan," ia sendiri bergidik pada kata-katanya. "Jacob benar kala ia mengusirku dari kawanan. Aku memang tak bisa terus ada di antara kalian. Aku hanya akan menjadi penggunting dalam lipatan, dimanfaatkan siluman licik ini."

"Tutup mulutmu, Seth! Itu tidak benar!" Brady menggeleng keras, lantas ia memandang Korra, memohon. "Katakan itu tidak benar, Korra!"

Wajah Korra hanya berupa topeng kaku. Tak terbaca.

"Katakan itu tidak benar, Korra! Kumohon!" suara Brady kian memaksa. "Kau mencintai Seth! Kau menyayangi Collin! Kau menyayangi Jacob! Aku tahu itu! Aku kenal kau! Collin sahabatmu, Korra! Ia mencintaimu dengan tulus! Seth juga mencintaimu! Dan Jacob kakakmu! Ia menyayangimu!"

"Percayalah Brady, tidak ada seorangpun dari kita yang merasa mengenal Korra, yang benar-benar tahu siapa dia. Penyihir jahat, kejam, keji. Setan jalang..."

"Jangan katakan itu, Seth! Kau sedang bingung! Kau tidak berpikir lurus!" Brady maju mengambil alih, membungkam Seth. Sungguh semua ini tidak bisa diterimanya. Tak bisa ditahannya. Ia kembali pada Korra, pandangan matanya penuh permohonan. "Tolong, Korra, katakan... Aku tahu kau tidak seperti itu. Aku sahabatmu. Aku mengenalmu. Kau mungkin merencanakan sesuatu dengan Sam, tapi itu pastinya demi suku ini. Karena kau menyayangi Billy! Karena kau ingin melindungi ayahmu! Dan perasaanmu pada Seth, pada Cole, adalah sesuatu yang murni! Kau tak punya intensi buruk apapun di baliknya! Tolong, Korra, katakan! Katakan dengan jelas, agar Seth mengerti! Katakan kau mencintainya!"

Brady sudah hampir jatuh pada permohonan. Menyedihkan, memang, tapi semua ini sama sekali tak bisa ia percaya.

Tapi, berlawanan dengan harapannya, Korra hanya memandangnya balik dalam diam. Lama. Ia melirik Kuroi sekilas sebelum akhirnya ia kembali menatap Brady, berujar, begitu tenang, namun dingin. "Maaf, Brady. Seth benar. Aku tidak mencintainya."

.


.

catatan:

Aku sama sekali ga sabaran! Harusnya aku ngepost ini nanti… tapi aku pengen banget post ini dan tau gimana reaksi reader… :D

Ini adalah adegan ketika Seth menghunus pedang, menunjuk, dan berseru 'Kau pelakunya!' (huahahaha… siapa sih detektif yang ada di Conan yang begini?) Tapi tentu saja, argumetasi Seth tidak sempurna. Sama sekali tidak. Tapi memang banyak yang benar, ato mengarah pada kebenaran. 80% lah. Hahahaha... Ini bukan cerita detektif. Silakan pembaca simpulkan sendiri. Hehehe :D

Di akhir disebutin Korra ga cinta Seth, semua cuma akal bulus. Apa benar begitu? Gimana reaksi Seth? Apa dia mau terima kata2 Korra, membencinya? Apa dia bakal ninggalin Korra, dan berpaling pada Kuroi? (sama aja sebenernya, mereka di pihak yang sama) Ato dia mau bersikukuh berjuang, nerima Korra n mungkin narik dia ke pihak Jake? Ato justru seharusnya Jake yang ditarik ke pihak Korra?

Masih lanjut, kok. Chap berikutnya: Banshee. Bakal disebutin siapa Korra (pasti udah pada nyangka sih) jadi stay tune ya… :)

Review ya… Luv u all