THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon…

.

Warning: Rated M... Read on your own guard…

.


.

68. Banshee

Saturday, May 4, 2013

10:32 AM

.


.

Mendengarnya kalimat itu, Seth tertawa. Pahit.

"Ya, ya, tentu saja kau tak mencintaiku, Korra. Tidak pernah. Dan kau tahu apa? Kurasa seluruh kehadiranmu di sini memiliki tujuan. Kau mendekatiku karena tahu aku Beta, kau berharap kau bisa menyelidiki kawanan. Dan kau mendekati Cole, bukan hanya karena ia pewaris Jacob, tapi juga karena kau tahu dengan wewenangnya sebagai calon Alfa masa depan, Cole pastinya memiliki akses luas terhadap rahasia-rahasia suku. Sayangnya, ia tak bisa menutup mulut," ujarnya tanpa perasaan yang tak memperoleh reaksi apapun dari gadis itu selain sebersit senyum. "Benar kan, Korra?"

Justru Brady yang menggeleng.

"Tidak, tidak, itu tidak benar. Bagaimana mungkin kau bisa berpikir begitu, Seth? Korra tidak mungkin…"

Tapi ucapan Korra kemudian membungkamnya. "Tidak, Brad, Seth benar," jawab gadis itu datar. "Kau tahu, Cole memberitahuku hampir semua. Bahkan sebelum aku berhubungan dengan Sam. Sumber utama pengetahuanku tentang kalian. Silsilah, fraksi-fraksi dalam kawanan, perubahannya yang ternyata berhubungan dengan persinggungan kalian dengan para vampir, dan ... oh ya, soal Jacob, tentu," ia tersenyum. "Kakakku sang kepala serigala yang tidak sepenuhnya diterima kawanannya sendiri. Bagaimana pandangan mereka terhadapnya… Bagaimana kau berjuang keras agar kalian bisa diterima, tapi selalu saja sebutan itu melekat pada kalian. Para Pengkhianat."

Wajah Seth tampak pahit. "Jadi itu alasannya kau mendekati Cole. Bukan hanya karena ia calon Alfa, dan bukan hanya karena kau ingin mengorek keterangan darinya, sama seperti kau ingin mengorekku," ucap Seth bagai menuding. "Kau juga berupaya mencari tahu kelemahan kawanan," ingatannya beralih pada hari ketika ia dan Cole bertarung. "Lebih lagi, berusaha memecah belah kawanan."

Korra diam jadi Seth melanjutkan.

"Ya. Kau berusaha mempengaruhi setiap keputusan kami. Kau tahu kawanan kami besar, dan berbahaya bagimu bila kau menyerang frontal. Mengalahkan Jacob artinya mendapatkan kawanan, tapi kekuatan kami dan hubungan darah kau dan Jake mungkin membuatmu berpikir dua kali. Meski tadi kaubilang kau telah memperoleh darah Jacob, kau tak bisa begitu saja mengalahkannya kan? Ia Alfa jantan dan suku kami menganut patriarki, karenanya posisi Jacob lebih tinggi darimu. Dan jikapun Jacob kalah, kau mungkin akan menghadapi semacam pemberontakan dan kau tak ingin kehilangan aset yang penting: kawanan kami yang besar. Karenanya kau memilih pendekatan licik: kau mencoba mengadudomba kami. Aku dan Cole. Kau mendekati Sam bukan hanya karena ia menginginkan perjanjian, tapi sejak awal memang kau ingin meretakkan hubungan Sam dan Jacob. Pertempuran antara para petinggi pastinya menghancurkan kawanan dari dalam. Dan saat itu terjadi, akan mudah bagimu menaklukkan kawanan, mengambil alih."

Anehnya, ekspresi Korra mendadak berubah. Tangannya agak mengepal ketika ia menunduk, tapi kemudian ia mengangkat wajah menghadap Seth. Wajahnya keras, tatapannya tajam. Dan kata-katanya, pengakuannya, meski tenang dan pelan, tetap terasa bagai sambaran halilintar.

"Ya, benar, Seth," ujarnya dalam nada monoton yang beku. "Aku mendekatinya, dan mendekatimu, demi mempenetrasi. Mengintimidasi. Memprovokasi. Mempengaruhi keputusan kalian. Mengadu domba kau dan Cole. Memperlemah kalian."

Seth mendesis. "Kau licik, Korra. Licin seperti lintah. Dan korbanmu bukan hanya aku, tapi juga Cole. Tega kau melakukan itu… Adakah satu saja yang pernah benar-benar kaucintai? Aku bahkan kini ragu kau mencintai ayahmu…"

Perih mencengkeram dadanya ketika didengarnya tawa sinis Korra. "Apa, Seth? 'Ayah'? Maksudmu pria yang mengusir Ibu? Yang memberiku gen ini? Yang lebih memilih putra berharganya ketimbang aku? Apa menurutmu aku bisa memiliki cinta jika demikian caraku tumbuh? Jauh dari cinta apapun?"

Brady menggeleng. Ia ingin berteriak, sungguh. Itu tidak mungkin. Korra hanya berpura-pura. Ia tahu perasaan Seth goyah, dan ia tak ingin merasakan kepedihan ketika Seth meninggalkannya karena tarikan imprint. Lebih lagi, pada Kuroi, atasannya. Hanya itu alasannya mengapa Korra berkata sekejam itu. Perasaan Korra pada Seth dan Cole mungkin tak sedalam itu, tapi ia tak mungkin sengaja menyakiti mereka. Lebih lagi Billy… ia tahu gadis itu sangat mencintai ayahnya, dan diam-diam juga menyayangi Jacob. Korra tak mungkin melakukan semua ini. Tidak mungkin sama sekali.

"Korra, kumohon…," bisiknya. "Hentikan omong kosong ini…"

"Omong kosong?" Korra mendengus. "Bagian mana yang omong kosong?"

"Tapi aku tak percaya ini, Korra," desak Brady. "Katakan sejujurnya. Semua salah paham ini akan berakhir jika kau bicara jujur..." tapi tak ada reaksi yang ia dapat selain kekehan sinis Banshee itu.

"Korra," terdengar bisik peringatan Phat. Tapi Korra mengangkat tangan menyuruh Phat diam. Wajahnya masih keras.

"Kejujuran macam apa lagi yang kauinginkan, Brad? Aku telah mengatakannya. Aku tidak mencintai Seth," dan ia menatap pemuda itu, yang kini wajahnya pasi bagai tertampar. "Dia benar. Aku hanya memanfaatkannya seperti aku memanfaatkan yang lain. Aku tidak peduli pada Seth, Cole, juga kakakku dan Ayah. Terutama Seth. Aku mendapat perintah untuk mendekatinya dan itu kulakukan. Seth sudah mengatakannya: aku manipulator licik, siluman kejam, serigala keji, banshee jahat, setan jalang yang memandangnya tak lebih dari anjing pelacur kotor menjijikkan," suaranya bergetar dalam gaung yang aneh di kepala Seth. "Sekarang kutekankan ini. Tidak. Pernah. Sedetikpun dalam hidupku. Aku. Mencintai. Seth Clearwater."

Seakan ada bom meledak tepat di muka Seth. Wajahnya benar-benar pias. Dan dadanya benar-benar sakit. Bagai habis ditikam oleh sembilu beracun. Dan mungkin lebih dari itu. Ia hanya diam, membelalak, menatap nanar wajah Korra. Sementara Korra menatapnya balik dalam kebekuan yang mencekam ketika waktu berlalu dan tidak ada yang bisa bersuara.

"Kau sudah dengar itu, Seth," ujar Korra akhirnya, dingin, membuang muka. "Sekarang bisa kita kembali pada urusan Collin?" dan ia kembali pada peta di mejanya, kembali terlihat berkonsentrasi mengatakan sesuatu yang bahkan tidak bisa ditangkap Seth, yang masih berada dalam kondisi katatonik setelah ia mendadak merasa dunianya hancur. Wajah Korra blur dalam pandangan matanya. Dunia yang ia tinggali kini memudar, menghilang, musnah hingga bahkan tak ada sisa-sisa serpihan yang bisa ia raba lagi.

.

Dan kemudian kenangan-kenangan itu muncul tanpa bisa dibendungnya. Hari-hari yang mereka lalui berdua. Gadis itu. Senyum itu. Tawa itu.

Perasaan yang begitu nyata. Harapan yang begitu nyata, terasa ada di genggamannya. Sebelum semuanya rusak oleh sebab-sebab yang bahkan tak bisa ia cegah. Ketika bola kaca di tangannya bergulir lepas dari genggaman, dan ketika ia berusaha menangkapnya, justru ia membuat bola itu terlontar lebih keras dan lebih jauh. Membentur lantai dan pecah berkeping-keping. Begitu hancur hingga tak dapat disatukan kembali...

Dan ucapan Korra, "Aku tidak mencintai Seth…"

"Tidak. Pernah. Sedetikpun dalam hidupku. Aku. Mencintai. Seth Clearwater."

Tidak pernah…

.

"Tidak! Tidak, aku tidak terima itu!" mendadak Seth berteriak.

Korra menatapnya dengan sebelah alis terangkat.

"Apa memang yang tak kauterima, Seth?"

"Kau hanya berada dalam pengaruh Alfamu! Kau yang sesungguhnya tidak sekejam ini! Sadarlah, Korra! Ia telah mencuci otakmu!"

"Aku tidak dalam pengaruh siapapun, Seth…"

"Tentu kau begitu. Kau yang kukenal tidak seperti ini. Ini pasti karena si serigala roh sial yang seharusnya sudah membusuk di neraka itu! Kierra!"

Betapa aneh semua ini. Baru beberapa menit berlalu sejak Seth mengemukaan tuduhannya pada Korra. Semua hipotesanya menyudutkan Korra, menempatkannya pada posisi terdakwa. Seakan ia membencinya, sangat. Tapi mendengar kalimat itu, 'aku tidak mencintai Seth Clearwater', semua serangan, senjata yang ia lontarkan ke benteng Korra, langsung terlucuti. Tombak, panah, dan pedang yang ia acungkan jatuh tak berdaya, berdenting keras begitu membentur lantai batu dingin logika Seth. Bergema keras di dinding-dinding yang melingkupi benak Seth yang dipenuhi amarah. Gema yang membangunkan kesadaran Seth yang lain. Sikap pahitnya mendadak hilang, digantikan sikap lain. Perasaan lain. Panik, menyesal, tidak aman.

Seth mendekat. Ditariknya tangan gadis itu, direngkuhnya dengan kedua tangannya. Dipaksanya Korra menatap matanya. "Aku mencintaimu, Korra. Kau tahu aku mencintaimu. Aku tak peduli kau tidak mencintaiku, entah kau memanfaatkanku atau apa, entah kau memandangku sebagai budak atau pelacur... Aku mencintaimu."

Menatap balik Seth, Korra mendengus. "Astaga Seth, tak biasanya kau begini agresif... Apa kau tidak mendengarku tadi? Aku sudah menolakmu. Kau tak perlu berlutut-lutut menyembahku. Bersikaplah jantan dan terimalah," senyum Korra seakan mengolok-oloknya, tapi Seth tidak mundur.

"Korra, kumohon...," bisiknya, membawa tangan Korra ke pipinya. "Aku serius kala kukatakan aku mencintaimu. Aku mencintaimu tanpa syarat. Bahkan kini saat aku tahu siapa kau, aku..."

"Kau tidak tahu siapa aku."

"Aku tahu!" tekan Seth. "Dan aku tetap mencintaimu, Coraline Gerrard! Kau pernah menyelamatkan nyawaku, Korra. Dua kali. Sejak itu aku terus mendambakanmu, mengharapkanmu..."

Korra mendengus.

"Buka matamu, Seth! Aku bukan gadis yang kauimpikan!"

"Ya! Kau gadis yang kuinginkan! Selalu dan selalu..."

"Kau tidak mengimprintku, Seth. Dan aku tahu kau sudah mengimprint...," ia melirik Kuroi dan saat itulah semua terbuka lebar di hadapan Seth.

"Kau sengaja, ya kan, Korra? Kau sengaja mematahkan hatiku, agar kau tidak patah hati? Agar kau tak merasakan nasib seperti ibumu? Nenekmu?" melihat mata Korra yang perlahan kehilangan ketenangannya, topeng yang sedari tadi ia berusaha pertahankan, ia tahu ia benar. "Kukatakan, Korra. Di dunia ini, tidak ada apapun, bahkan imprint, yang mampu menghapus perasaanku padamu. Kita sudah melalui banyak hal. Dan kita akan melalui lebih banyak hal lagi, kita bertiga. Aku, kau, dan anak kita."

"Tidak ada kita bertiga. Dan anak apa yang kauharapkan lahir dari siluman keji, setan jalang sepertiku? Huh, bahkan janin ini akan hancur sebelum kautahu."

Seth seakan tertampar.

"Korra, oh Tuhan…. Korra, maafkan aku...," baru ia menyadari kesalahannya. "Aku bodoh, tolol, menyebutmu seperti itu. Aku kelepasan, aku bahkan tidak berpikir. Tidak, Korra, demi Tuhan, aku tidak benar-benar menganggapmu..."

"Kata-kata yang sudah kaulepaskan tak bisa kautarik lagi, Seth. Dan ya, kuakui semua itu. Kau benar. Aku penyihir jahat."

"Korra, kumohon."

Korra memutus kontak mata. Menunduk, menggeleng.

"Korra, kumohon lihat aku," Seth menyentuh dagu gadis itu, memaksanya mendongak menatap matanya. "Aku pasanganmu. Dan kau pasanganku. Aku sudah tahu pada detik aku melihatmu di hutan..."

"Melihat siapa, Seth?" mata Korra, yang membuat Seth terhentak, tampak berkaca-kaca. Aura penuh percaya diri dan nada suara tenang dan menekan yang sejak tadi ia pertahankan tak ada lagi ketika bentengnya hancur. Perlahan setetes air mata jatuh di pipinya ketika ia berujar, lirih, "Kau tidak jatuh cinta padaku. Kau jatuh cinta pada si serigala hitam! Kau takkan melihatku dua kali jika kau tidak mengiraku sebagai dia..."

"Dan apa pentingnya itu? Kau adalah dia, dia adalah kau! Mungkin perasaanku padamu awalnya adalah ketertarikanku pada sosok heroikmu, tapi begitu aku mengenalmu, begitu kita menghabiskan waktu bersama, aku tahu ada lebih darimu dari sekadar kau adalah serigala hitam dalam mimpiku!"

"Korra," terdengar desis peringatan dari seberang ruangan. Kuroi akhirnya campur tangan. Tapi Korra langsung menyentaknya.

"Ini urusanku, Kuroi! Biar kuselesaikan ini sekarang!"

Lantas ia berpaling pada Seth, suaranya bergetar.

"Dengar dirimu sendiri, Seth. Itulah intinya. Sejak awal hubungan kita berpijak pada sesuatu yang salah."

"Itu tidak salah, Korra. Aku..."

"Itu salah! Itu sepenuhnya salah! Kau tidak dengar aku tadi? Aku mendapat perintah untuk mendekatimu! Aku tidak mencintaimu!" tekan gadis itu.

"Aku tidak peduli soal itu," Seth tetap bersikap keras kepala. "Perintah atau tidak, aku tahu perasaanku sendiri! Harus berapa kali kukatakan, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kau menolongku..."

"Itu salah karena aku bukan serigala hitam!" Korra kehilangan ketenangannya sama sekali, berteriak.

Mata Seth membelalak, tanpa terasa genggaman tangannya terlepas. Korra menarik tangannya, wajahnya sesaat terlihat kacau. Tampak oleh Seth, mata gadis itu sedikit berkaca-kaca. Namun ketika tangannya kembali terulur hendak menyentuhnya, Korra menampiknya.

"Hentikan dan jangan buat aku kehilangan muka di depan kawananku, Seth," desisnya.

Gadis itu membuang muka, berbalik. Phat berusaha menahannya, memegang pergelangan tangannya, tapi Korra melepaskannya dan melintasi ruangan. Kuroi bangkit, sesaat pandangan mereka bertemu.

"Gantikan aku, Kuroi. Kuatkan pertahanan di garis batas," bisik Korra yang disambut anggukan Kuroi, sebelum ia berbalik, bergegas meluncur keluar.

Kuroi melangkah anggun ke tempat tadi Korra berdiri di kepala meja. Perhatiannya segera terfokus pada hamparan peta yang ditinggalkan Korra. Sesaat ia melirik Seth, dan Seth harus bersusah payah menahan diri untuk tak larut dalam tatapan gadis itu.

Korra, Korra, demikian tekannya dalam hati. Jangan pikirkan gadis lain dan pikirkan Korra, Seth!

"Kau bisa mengejarnya kalau kau mau," ujar Kuroi pelan, bagai membaca pikirannya.

Ia menatap Seth dengan mata yang penuh pengertian dan saat itu Seth tahu itulah yang harus ia lakukan. Mengangguk dan membisikkan 'terima kasih' samar, ia berbalik, meluncur menuju pintu. Brady terlihat ingin menyusulnya, tapi ucapan Kuroi yang membuka rapat dengan suara tenang, namun tegas, tak hendak menunda pembicaraan mereka demi urusan Seth dan Korra, menghentikannya.

"Kalian dengar Alfa tadi. Kita harus membahas pertahanan kawanan di garis batas."

Alfa?

Semua terbuka di hadapan Brady kini. Kuroi bukan sang Alfa. Korra bahkan punya kendali atas Kuroi.

Kekhawatiran Brady memuncak kala ia memandang keluar. Lewat jendela yang sebagian besar kacanya pecah, ia melihat bayangan sosok serigala abu-abu Seth melintasi halaman yang dipenuhi alang-alang tinggi tak terurus, menuju pepohonan, mengejar, tak lain tak bukan, Korra, yang meluncur cepat seolah tubuh manusianya sama sekali bukan halangan.

.


.

Itu kali pertama Seth mengambil wujud serigala dalam seminggu ini, dan aneh sekali baginya, begitu ia berubah, suara-suara yang ia kenal langsung menyerang kepalanya bagai air bah.

Seth? terdengar suara Embry. Itu kau?

Oh, Embry! Benarkah itu? Seth kembali? terdengar suara Quil.

Seth langsung berhenti di tempatnya. Benarkah ini? Jaringan koneksi dengan kawanan kembali terjalin? Bagaimana bisa? Bukankah ia sudah diusir? Bukankah ia sudah menjadi bagian dari kawanan Korra?

Seth! Astaga, itu benar Seth!

Adam?

Seth tidak menyeberang! Ia masih bagian dari kita, Man!

Ben?

Selamat datang kembali, Beta! seru Quil riang.

Tunggu. Karena Seth kembali dan Jacob belum bertugas, artinya Seth Alfa kan? Embry, yang tengah menjadi Pejabat Alfa Sementara, menimpali. Kalau begitu selamat datang kembali, Alfa!

Tapi kan Seth sudah didepak Collin, Ben menyangkal setengah hati.

Aku yakin kalau masih hidup, Cole akan kembali menyerahkan takhta Beta pada Seth, Ben. Dan tak ada alasan bagi kita untuk menolak Seth kembali memimpin..., Embry bersikukuh.

Tunggu, tunggu, Seth memotong. Aku tidak mengerti. Aku masih menjadi bagian dari kalian?

Kalau kau bisa mendengar kami sih, pastinya begitu.

Ta, tapi... Bukankah Jacob sudah mengusirku?

Ia hanya menyuruhmu menjauh dari kawanan, bukan mengusir.

Tanpa sadar Seth menghembuskan napas lega. Jacob tidak mengusirnya. Korra tidak mengklaimnya sebagai anggota kawanannya. Ia hanya diblokade.

Kau di mana sekarang? tanya Quil, mencoba mengecek keberadaan Seth dari lingkungan sekitarnya. Hei, di mana itu? Aku tak mengenali daerah itu.

Mungkin tidak. Aku di luar teritori Quileute. Di tanah Zacharias Black.

Zacharias?

Orang buangan. Mungkin kau tidak tahu. Leluhur Korra.

Apa?

Intinya aku sedang berada di tanah Korra.

Tunggu. Maksudmu Korra memiliki tanah lain? Terpisah dari teritori Quileute? Embry terdengar bingung.

Sebentar, Seth. Apa maksudmu tanah Korra? Apa Korra Alfa sekarang? Quil lebih bingung.

Korra menjadi anggota kawanan nomad kan? Bagaimana mungkin ia bisa punya tanah? Adam sama bingungnya dengan yang lain.

Tunggu, Seth. Jadi maksudmu itu betulan, seperti kata Jake? Korra memang sudah berubah? Kapan? Mengapa kami tidak tahu? Ben adalah yang paling bingung.

Terlalu panjang untuk kujelaskan. Pokoknya aku ingin kalian menyelidiki satu hal. Zacharias, Tatiana, apa yang terjadi dengan mereka? Apa yang dilakukan Ephraim di masa kekuasaannya?

Siapa lagi Tatiana?

Selidiki saja dan kau akan tahu jawabannya, Em.

Bagaimana caranya aku bisa tahu?

Terserah. Kau cari tahu dari Billy, atau dari Sam. Lakukan apa saja. Aku butuh informasi detail.

Apa mereka akan bilang? Kau tahu, ada informasi yang hanya boleh diketahui orang tertentu dan di antara kami sekarang tidak ada...

Aku tidak peduli dengan konsep kerahasiaan atau apapun. Paksa jika perlu. Para Tetua harus mulai mempertimbangkan kembali kebijakan mereka sekarang. Mereka harus sadar sikap mereka memecah belah kawanan!

Tunggu. Untuk apa kau perlu tahu?

Berhenti bertanya dan lakukan, Embry! Aku tidak dalam mood untuk berbincang-bincang sekarang.

Jika kalimat itu diucapkan Jacob, mungkin wajar. Tapi Seth? Ini sama sekali tidak seperti Seth. Tentunya ia sedang terburu-buru atau berada dalam situasi sangat-sangat genting sekarang. Tidak pun, Embry tahu Seth pastinya sedang frustasi. Setidaknya ia akan begitu jika ditaruh di posisi Seth. Menelan pertanyaan dan berupaya meredam kekesalan di dada anak buahnya, Embry menyuruh mereka menuruti Seth dan berubah balik. Satu per satu mereka menghilang. Semua kecuali Embry.

Aku senang kau kembali, Man, ucap Embry. Tulus.

Ya, aku juga, Seth masih agak tegang. Tapi ucapan tulus Embry bak guyuran air ketika ia tengah di padang gersang. Sejuk, meredakan kekisruhannya. Dan ketika kesejukan itu mendinginkan kepalanya yang panas, adalah rasa menyesal dan tidak enak yang pertama kali mampir. Dengar Em, katanya, aku minta maaf telah membentakmu tadi. Aku agak...

Ya, aku tahu, kita semua memang sedang frustasi sekarang.

Bagaimana Jacob?

Sebentar lagi pulih, kuharap. Hei, aku akan membujuknya untuk mencabut blokademu. Setidaknya kau bisa hadir pada upacara pemakaman Collin. Sabtu ini, kau tahu.

Batin Seth teriris mendengar frase 'pemakaman Collin'. Tapi ia juga tak bisa mengatakan kenyataan bahwa mereka belum menyerah dalam pencarian Collin, ketika masa depan makin tidak pasti. Harapan kosong sama sekali tak punya guna apapun di saat seperti ini.

Dan kuharap ia bisa resmi mengangkatmu kembali jadi Beta..., lanjut Embry yang membuat Seth ingin mencibir.

Yeah, seolah itu mungkin...

Yeah, aku tahu. Ini pasti menyangkut bibit buruk yang timbul gara-gara urusan Korra... Uhm, maaf Man, kau pastinya tahu berita itu telah menyebar. Tapi kurasa Jacob pasti akan menerima akhirnya. Mungkin butuh proses, tapi semua masalah akan selesai. Segalanya akan kembali normal.

Embry sangat positif. Terlalu positif.

Keadaan mengajarkanku untuk bersikap positif, kau tahu, untuk menyeimbangkan segalanya. Moral kawanan sedang turun sekarang, dengan masalah ini dan itu. Bahkan Quil juga agak mengalami mental breakdown.Tak ingin tambah memberati mereka dengan sikap skeptis apapun.

Uhm, ya..., mau tak mau Seth tersenyum.

Bagaimanapun selamat, Man...

Untuk apa?

Yeah, pertunanganmu.

Bicara apa kau, Embry?

Lho, memangnya kau tak akan segera menikahi Korra? Embry terdengar bingung. Jacob mungkin bersikap sulit, tapi selama ini juga kau tangan kanannya, jadi pasti perasaannya akan segera membaik. Menerimamu...

Itu masalahnya. Aku tak yakin Korra akan menerimaku.

Eh?

Kau tahu, dengan kedudukannya sebagai Beta kawanan lain dan sebagainya.

Eh?

Si serigala hitam, ingat?

Astaga. Itu betulan Korra? Tidak mungkin!

Pikiran Embry bertarung sendiri. Mengutarakan analisa dan kemungkinan yang bahkan tak masuk akal. Tapi Seth, Seth kekasih Korra... Jika Seth bilang Korra serigala hitam, maka tak ada alasan untuk menolak. Tapi itu tetap tidak mungkin...

Yeah, aku tahu, gumam Seth. Ya, patut diakui memang itu agak aneh. Korra sendiri menyangkal. Entah apa yang ia rencanakan sebetulnya. Belum lagi masalah Sam, dan imprint...

Hei! Apa maksudmu, Seth?

Tidak, tidak ada apa-apa. Seth berusaha menudungi sebagian pikirannya, mendorong urusan Korra ke bagian yang tersembunyi. Tak ada gunanya membagi semua pada kawanan sekarang. Mereka masih panik. Bisa ada masalah yang lebih serius nanti. Dan jika urusannya sampai pada Jacob...

Pokoknya, Em, sekarang ini jangan bilang siapapun aku kembali terhubung dengan kalian. Bilang pada yang lain, jangan sampai terlepas satu petunjuk pun. Terutama aku tak mau ini diketahui Sam.

Eh? Kenapa Sam?

Pokoknya jangan.

Tapi kau menyuruh kami menyelidiki soal Zacharias. Bagaimana bisa kami menyelidiki kalau kami bahkan tidak menyebut atas perintahmu? Kami bahkan tak pernah dengar soal Zacharias.

Bilang saja kau tahu dari Brady. Brady tahu dari Cole. Jadi kurasa persoalan selesai. Nanti, jika aku ternyata tak bisa terhubung denganmu lagi, aku akan mencari cara untuk bisa menghubungimu.

Tunggu. Apa maksudmu kau tidak bisa terhubung lagi?

Kumohon jangan banyak bertanya, Em. Lakukan saja. Dan kuharap, apapun yang kulakukan nanti, kau tetap percaya padaku. Apapun sumpahku, kesetiaanku selamanya pada kawanan. Pada Jacob.

Eh, apa itu maksudnya?

Sudah, Em, maaf, aku harus pergi. Ada urusan lain.

Hei, tunggu, Seth...

Seth tak menunggu lagi. Lekas diselubunginya pikirannya, total. Memutus hubungan dengan Embry. Mungkin, memutus hubungan dengan semuanya. Meninggalkan segalanya di belakang.

Prioritasnya hanya satu.

Korra.

.


.

Seth berubah balik ketika diendusnya bau Korra tak lagi bergerak. Menyibak pepohonan, dilihatnya gadis itu tengah duduk mencakung di tepi semacam tebing batu, memeluk lutut. Di hadapannya, jurang curam menganga bak patahan neraka. Sebersit ketakutan membayang di jiwa Seth kala dilihatnya Korra di sana, di tepi jurang terjal, dalam kondisi yang—kalau ia ditempatkan di posisi Korra—pastinya rapuh. Dan ini bukan salah satu situasi ketika Korra seperti biasa mengeksploitasi kelemahannya untuk mendapatkan hal yang ia inginkan.

Seth lebih dari tahu sisi manipulatif Korra. Gadis itu pintar akting, bagian itu dia tidak sangsi. Sok manis di depan Billy, sok sopan di depan gurunya, dan bukan sekali Seth menemukan Korra sok cengeng kalau terjepit. Itu upayanya untuk mengendalikan lingkungan di sekitarnya, jelas. Jacob tahu bagian itu, tapi apa yang Jacob tahu tidak sepersepuluh yang Seth tahu. Ia sering menyaksikan, ia bahkan sering jadi korban. Sampai kini pun masih. Anak kecil selalu mendapatkan permen yang ia inginkan, bukan?

Tapi berkali-kali jadi korban Korra membuatnya tahu satu hal: sisi lemah Korra juga merupakan dua sisi mata uang. Ada yang sengaja dieksploitasi, untuk yang ini Korra takkan segan menunduk bak submisif padahal ia menyimpan agenda lain untuk mengendalikan segalanya. Oh ya, ia takkan peduli harga diri kalau untuk urusan ini. Ada juga bagian yang memang jujur. Kalau untuk yang kedua, ia akan sok-kuat, menahannya untuk dirinya sendiri. Ia akan kabur, menghindar, menekannya dalam-dalam, berusaha agar tangisnya tak terlihat siapapun. Menyembunyikan di balik sikap sok-ceria atau sok-kuasa.

Dan ia tahu, kali ini adalah kasus kedua.

"Ada urusan apa kau ke sini?!" bentak Korra kasar begitu menyadari keberadaan Seth. Nah, ini salah satu tandanya.

Seth sudah kenal Korra luar dalam, setidaknya bagian Korra yang ia biarkan ungkap di depannya, dan secara garis besar tahu bagaimana menangani gadis sulit itu. Secara global tak jauh beda dari menangani para Black lain: bersikap pasif, menunduk, mengalah. Serangan lembut adalah senjata terampuh melawan para serigala agresif. Para ekstrovert itu, seperti juga reaksi mereka yang spontan, selalu mudah diprediksi. Cuma itu alasan Jacob yang keras kepala lebih memilih mati ketimbang kalah kalau berhadapan dengan Edward, Emmet, atau Rosalie, tapi langsung menunduk bak ujung bambu kalau berhadapan dengan Carlisle atau Jasper. Oh, tambah satu lagi, Esme, yang bahkan mampu menaklukkan Leah. Dan dari para makhluk taktis itulah, Seth mempelajari langkah-langkah penanganan agresi Alfa. Ia tahu ialah yang bisa menjadi buffer Jacob, kunci agar Jacob bisa kembali diterima di kawanan Sam. Cuma itu alasannya ia dengan rela menukar statusnya sebagai penabuh genderang, yang jauh lebih menyenangkan, menjadi jenderal di balik layar.

Tapi khusus kasus Korra, memang harus ada ekstra segalanya. Ekstra kesabaran, ekstra taktik, ekstra kemampuan membaca gerakan, upaya memprediksi reaksi gadis itu, menekan titik-titik tertentu di saat yang tepat, kapan harus mengalah dan kapan harus menyerang...

Intinya ekstra kerja keras.

Seth menempuh langkah pertama standar kalau berurusan dengan Korra: hindari segala yang bisa membangkitkan sifat overdefensifnya. Beberapa bulan bersama Korra, ia setidaknya tahu insting pertahanan diri Korra mudah dipicu oleh beberapa hal, misalnya cowok telanjang. Nah, itu sudah jelas, walau aneh dia bisa bertahan di tengah serombongan shifter selama ini. Yang lain, jangan membuat gerakan gerakan pertama menggapainya secara mendadak sebelum ia yang mengambil inisiatif terlebih dahulu. Kasus Jacob di hutan waktu itu sudah jelas. Sampai saat ini, anehnya, hanya Collin seorang yang bisa memeluk Korra duluan tanpa berakibat tulang patah. Seth yakin, jika bukan Korra berusaha menahan diri untuk tak mengungkap identitas di depannya, ia pun bukan pengecualian.

"Korey," Seth memanggil lembut dari tempatnya berdiri. Jika Korra tidak memberinya izin mendekat, boleh jadi nasib yang katanya menimpa salah satu mantan Korra seperti diceritakan Phat—dilempar dari tebing—juga akan menimpanya.

"PERGI!" teriak Korra. Suaranya agak bergaung.

Seth menghela napas. "Aku tahu Jacob memberikan diriku padamu, Korey, dan karenanya mungkin aku jadi milikmu, bawahanmu, tapi kau tak perlu memberiku Titah juga..."

"Seandainya aku bisa," dengus gadis itu.

"Bisa atau tidak, aku tak bisa menyangkal kepemilikanku atasmu. Tapi kau kan tidak harus melakukannya, seandainya saja kita bisa bicara baik-baik..."

Gadis itu bersungut-sungut. "Kau sebenarnya mau apa, Seth?!"

"Minta maaf..."

"Huh! Untuk apa aku memaafkanmu? Memangnya seekor siluman keji tahu kata maaf?"

Benar saja. Ia berusaha bersikap sulit.

"Korey, maaf aku menyebutmu begitu... Sungguh aku tidak berpikir..."

"Simpan maafmu untuk dirimu sendiri, Seth!"

"Korey..."

"Jangan panggil aku Korey!"

"Gerrard, kalau begitu," Seth menyebutnya dalam nada formal, "Maukah kau memaafkanku, Miss Gerrard?"

"Kenapa kau tidak memanggilku 'Banshee' saja?"

Seth mendesah lelah. "Korra, ayolah... Aku harus melakukan apa agar kau sudi memaafkanku?"

"Kau tahu manuvermu itu sangat aneh, kan, Seth? Belum lama kau melakukan segalanya untuk memojokkanku, lalu kau menyebutku Banshee dan sekitar selusin sebutan jalang lain, dan kini kau menyembah-nyembah begitu? Apa kau tak punya harga diri?"

"Korey, sudahlah..."

"Kubilang jangan sebut aku Korey!" teriak Korra lagi, namun sesaat kemudian ia berkata lirih, agak sinis, "Atau kau senang memanggilku dengan nama seorang yang terbuang? Mungkin kau, sebagaimana seluruh sukumu, senang terus menimpakan kesalahan pada kami?"

Oh, tidak lagi pembicaraan seperti ini….

"Korey, kuakui aku salah. Tapi kumohon jangan bawa-bawa dendam masa lalu…"

Suara gadis itu agak bergetar. "Kupikir kau bisa mengerti, Seth…. Dengan empatimu, kupikir kau bisa merasakan ada di posisiku."

"Aku mengerti, Korey… Aku berusaha mengerti."

Namun, bagaimanapun Seth tampak bersungguh-sungguh, kata-katanya tak sampai pada kekasihnya. "Tidak, kau tidak pernah berada di posisiku, jadi apa yang kautahu?!" gelengnya keras.

"Karenanya beri aku penjelasan, Korra. Apa yang bisa kumengerti jika aku tak tahu dengan siapa aku berhadapan?"

"Dan apa?" tantang gadis itu, berbalik. "Jika aku membuka diriku, apa yang akan kaulakukan? Mendorongku dari tebing ini? Berubah dan mencabik-cabikku? Mengikat leherku pada tali berduri dan menyeretku ke hadapan Jake?"

"Mana mungkin kulakukan itu, Korra! Ayolah Korra, kumohon…"

"Kalian para Black sama saja!" Korra mendadak bangkit, menuding. "Kupikir kau setidaknya berbeda, Seth!" teriaknya. "Karena, bagaimanapun, kau keturunan Joanna."

"Dan apa hubungannya jika aku keturunan Joanna?" Seth tidak tahan lagi, agak membentak. Dilihatnya Korra menatapnya, lama, sebelum akhirnya membuang muka.

"Tidak, itu bukan urusanmu."

"Tentu saja itu urusanku! Apa yang kautahu, Korra?"

Gadis itu mendengus. "Ya, tentu saja, itu menjadikanmu keturunan orang itu. Seharusnya kutahu. Kau pastinya sama kejamnya dengan dia."

"Dia? Dia siapa?"

"Tentu saja Kaliso. Tentu kau tahu siapa Kaliso kan?"

Seth membeku pada kalimat terakhir. Satu kalimat sederhana, sangat. Yang mampu menghancurkan segala yang Seth tahu.

Kaliso, kekasih Kierra…

Laki-laki yang mengkhianatinya, menumbangkan kekuasaannya…

Ini tidak mungkin.

Korra berbohong, kan?

Pasti begitu. Korra sang penipu. Ini pasti satu manuvernya. Membuatnya bingung. Membuatnya kalut.

Anehnya, dilihatnya Korra tersenyum sinis.

"Kau tidak tahu, kan, Seth? Kau tidak tahu darahmu sendiri?"

Tunggu, apa itu mungkin … ia adalah keturunan Kierra? Tapi itu mustahil, kan? Kaliso tidak menerima cinta Kierra, jadi yang mungkin adalah Kaliso memiliki putra dari perempuan lain. Darah pengkhianat mengalir dalam nadinya…

"Apa ... maksudmu...," ia bahkan tidak bisa mengucapkan lanjutannya. Begitu aneh, begitu ... mengerikan.

"Bukan hanya kau, sebenarnya," ucap Korra lagi, tak ada senyum di wajahnya. "Brady, Jared Cameron, Noah Peterson, Leah Clearwater, Adam White, Joseph Copper, pendek kata semua yang memiliki tetesan darah Joanna Black. Tapi kau dan Leah, aku yakin memiliki kadar darah Kaliso lebih banyak ketimbang yang lain, mungkin karena kau menjadi muara beberapa galur keturunan Joanna walau aku tidak yakin."

"Tunggu, tunggu," Seth masih belum bisa mencerna hal ini. "Apa maksudmu? Aku keturunan Joanna, lalu aku menjadi keturunan Kaliso? Apa sebenarnya...," tapi lantas kesadaran itu menghantamnya, dan ia menggeleng nanar. "Tidak mungkin..."

Dilihatnya Korra memandangnya dari balik bola mata kelam itu. Sikap penuh sakit hati dan pedihnya berganti kembali menjadi topeng ketenangan, meski tak bisa disangkal kepahitan dalam tiap katanya.

"Ya, Seth," ucapnya. "Joanna memiliki darah si pengkhianat."

"Mustahil..."

"Bagaimanapun ini terdengar mustahil, tapi aku tahu kebenarannya," gadis itu bergerak mendekat, tiap katanya diucapkan pelan dan rendah bagai desisan. Langkahnya anggun, penuh percaya diri. Bukan Korra. Sama sekali bukan Korra.

"Jadi Kaliso … memiliki anak?"

Ini kesimpulan yang mudah, tentu saja, tapi bisa dirasanya matanya meremang ketika ia mengucapkan kalimat itu, dan juga lanjutannya.

" … Joanna?"

Kapan sebenarnya masa Kaliso? Kapan masa Joanna? Generasi Joanna di atas kawanan Ephraim. Mungkin ia lahir sekitar tahun 1900-an atau akhir 1890-an. Di atasnya masih ada Jacob Black I dan How-yak. Kapan sebenarnya Kaliso berkuasa?

Pertanyaan itu begitu bertubi-tubi hingga ia pun tak bisa menanyakannya. Satu-satu dulu. Benarkah Joanna adalah putri Kaliso?

"Tidak, bukan dia. Memang ada seorang anak perempuan, yang menurunkan darahnya pada Joanna," Korra menjawab bak tokoh antagonis di film manapun. "Seorang yang kuharap jauh berbeda dengan ayahnya. Kau dengar kata si Tua itu. Si pengkhianat Kaliso membuat Kierra jatuh cinta padanya… Manipulator licik….."

"Tapi Kaliso tidak ... ia tidak membalas cinta Kierra. Ia membunuh Kierra dan menaruh kutukan..."

Kepedihan tampak di wajah gadis itu. "Ya. Ia tidak mencintainya. Lebih jauh, ia mengkhianatinya. Membunuhnya, itu benar. Menjadikan dirinya Kepala Suku. Mengusir rohnya. Menempatkan kutukan agar rohnya tidak kembali. Itu semua benar. Jelas para Tetua melakukan riset yang sangat mendalam dan teliti, kau tahu, mengingat legenda itu, bukan, sejarah itu telah dikubur beratus tahun. Tapi sebagaimana semua legenda, dongeng, apapun yang dikembangkan dari kenyataan, selalu ada bagian yang dipelintir, diputar balik, ditambah atau dikurangi..."

"Kau mau bilang apa sebetulnya, Korey?"

"Kau tahu apa kesalahan terbesar dari kisah Old Quil?" Korra mengajukan pertanyaan yang Seth yakin bersifat retoris. Gadis itu tersenyum aneh, agak mengerikan sejujurnya, sebelum melanjutkan. "Kierra tidak perlu keluar dari raganya hanya untuk berburu. Ia tidak pernah menyatukan diri dengan hewan lain. Itu hanya memberinya alasan untuk menciptakan shifter baru. Dan sejujurnya, karena ia sudah memiliki darah serigala, menyatukan diri dengan tubuh non-serigala hanya membuatnya lemah. Tapi ada yang lebih kuat dari tubuh hewan, yakni tubuh inang. Manusia. Sekali ia menyatukan diri dengan tubuh inang, dan kesadaran inang itu melebur dengannya, sekali mereka menjadi satu, jiwa mereka tak terpisahkan. Kierra adalah kesadaran inang itu dan inang itu adalah Kierra. Secara alamiah Kierra adalah pejuang roh, tapi ia tak pernah mempelajari kemampuan itu, tak ada yang mengajarkannya, sehingga ia tak tahu bagaimana kembali ke tubuh yang ditinggalkan. Hanya ada satu kesempatan ketika Kierra bisa keluar dari tubuh itu, dan membawa jiwa sang inang bersamanya... Dan pada satu kesempatan ia meninggalkan tubuh sang inang, itu artinya tubuh itu mati. Entah karena tubuh itu sudah tak layak atau sekarat. Tapi yang jelas tubuh itu akan benar-benar mati."

Tunggu. Ada yang aneh di sini. Mengapa Korra bisa tahu soal Kierra?

—Oh, patutkah ia bertanya?

Kierra Alfa mereka! Tentu saja ia tahu!

Ingatan mengenai detail legenda yang dikisahkan Old Quil malam itu bermain di benak Seth. Kaliso menghancurkan tubuh kasar Kierra ketika roh Kierra berburu. Tapi jika Korra menyangkal hal itu, artinya….

"Jadi, apa yang terjadi? Ketika Kaliso membunuhnya?"

"Ya, Seth. Kierra tidak sedang berburu. Tapi benar, ia tengah berada dalam kondisi sangat lemah ketika itu. Dan ia tak pernah menduga Kaliso akan melakukan itu ... padanya. Di depannya, Kaliso selalu menampakkan diri sebagai pemuda yang baik dan patuh, dan cinta membuatnya mempercayainya. Membuatnya luruh. Cinta membuatnya lemah."

Tak ada senyum di wajah gadis itu ketika ia melanjutkan.

"Saking percayanya, hingga Kierra membiarkan Kaliso mengetahui saat-saat ketika ia berada dalam titik terendah. Oh ya, ia tak perlu menjebak Kierra ke dalam pelukannya, Kierra menyerahkan diri dengan senang hati. Dan begitu kesempatan itu tiba, ia menjalankan rencana itu. Kaliso membuatnya tak sadar, melepaskan seluruh penjagaan. Menipunya. Ia hampir tak punya tenaga, jangan kata untuk berubah atau melawan, ia bahkan hampir tak bisa bergerak. Kaliso meringkusnya. Membawanya ke penghakiman kawanan. Mereka mengikat dan menariknya di jalanan, lalu membawanya ke tebing, tempat mereka menarik tubuhnya ke aneka jurusan berbeda, mencabiknya seperti mencabik tubuh vampir. Tempat mereka mendirikan api unggun dan melempar potongon tubuhnya ke api. Tempat mereka membakarnya dan berpesta pora di hadapan jasadnya, tepatnya tubuhnya yang termutilasi dan terbakar… Kemudian membuang abunya ke laut. Memasang kutukan untuk mencegah rohnya kembali. Mereka merayakan kematiannya. Dan bahkan sampai kini pun, kalian masih merayakannya. Secara tak sadar. Berpesta dan melakukan tradisi terjun dari tebing, tertawa di tempat yang pernah menjadi tempat pembantaian keji itu. Tebing di Crescent Lake, kau tahu? Di sana mereka mengeksekusinya…"

Suara itu mengawang-awang di udara. Itu, ditambah sosok Korra yang berdiri di puncak tebing melirik padanya, dengan latar belakang langit yang menggelap dan siluet ujung-ujung pepohonan yang berdesir tertiup angin, seakan membawa Seth ke dunia lain. Dunia yang tak dikenalnya. Dimensi lain. Dunia mimpi buruk.

Ini tidak mungkin. Mana mungkin ia percaya hal seperti itu?

"Jadi kau ke sini … Alfamu ke sini … untuk membalas dendam … pada keturunan pembunuhnya dulu?"

"Ya…," aku Korra ringan, kembali tersenyum, menantang. "Kini kau tahu siapa Alfaku, siapa aku, siapa kau. Jadi apa yang ingin kaulakukan? Mendorongku ke jurang? Menyerangku? Menggerek kawananmu untuk menyerangku?"

Jujur itu hal yang ingin dilakukan Seth. Minimal memojokkan Korra dan memaksanya melemparkan dirinya sendiri ke jurang di bawah. Dengan demikian suku bisa bebas dari satu musuh dalam selimut. Dan musuh itu juga sudah mengungkap nama komplotannya. Sam. Ia bisa melaporkan pada Jacob dan nasib Sam bisa diserahkan pada belas kasihan sang Alfa. Entah ia akan diampuni, diusir, atau bahkan dibunuh. Seth tak terlalu peduli.

Itukah … yang ia inginkan?

Ya. Tentu. Itu penyelesaian segalanya. Final.

Tapi Korra… Bagaimana nasib Korra?

Dilihatnya wajah Korra. Wajahnya yang penuh topeng. Tapi sekilas dilihatnya ada segurat perasaan lain yang hanya selintas muncul. Apa itu? Pedih?

Tidak, ia pasti salah lihat. Siluman tidak mungkin merasakan pedih.

Tapi…

"Kau pasti bohong kan, Korra?" tak diduganya justru reaksi itu yang memaksakan diri mencuat ke permukaan. Tertawa lemah, berusaha menyangkal tiap kata yang keluar dari lisan Korra maupun dari kepalanya sendiri. "Kau mengatakan itu hanya untuk mengusirku..."

"Coba dengar dirimu sendiri, Seth. Aku mengatakan hal seperti itu hanya untuk mengusirmu? Kau? Sesuatu yang begitu tak berharga bagiku... Dan aku yakin aku pun sama tak berharganya bagimu."

"Siapa bilang, Korey? Itu tentu tidak benar!"

"Oh ya? Kau terus-menerus bersikap kontradiktif, kau tahu? Mana yang kau inginkan sebetulnya? Memojokkanku? Membunuhku? Menyatakan bahwa kau mencintaiku? Ingin aku jatuh kembali ke pelukanmu agar kau bisa membunuhku dalam tidur seperti Kaliso?"

"Kenapa aku harus membunuhmu dalam tidur? Yang ingin kuhancurkan adalah Alfamu! Kierra!"

Korra berdecak. "Astaga. Dendam Kaliso diwarisi olehmu, ternyata. Kau ingin menghancurkan Kierra? Bukan berita baru, Seth!"

"Ini bukan urusan dendam masa lalu! Ia yang membuatmu seperti ini kan? Ia pastinya mempengaruhimu… Aku tahu kau yang asli tidak sekejam ini, Korra!"

"Oh, memangnya kau kenal aku?"

"Tentu aku kenal! Kau gadisku!"

"Oh, kita baru dua bulan bersama, Seth… Dan kau sendiri yang bilang, selama ini aku yang kaukenal bukan aku yang sesungguhnya…"

Seth seakan tertampar. Korra menggunakan kata-kata yang ia ucapkan dalam emosi kembali padanya. Itu bagai menikamkan pisau kembali padanya. Kata-kata yang bahkan tidak ia niatkan.

Dan ia begitu membela Kierra. Tunduk mati padanya. Dirasanya kebencian itu menggunung dalam dirinya. Kierra sang iblis. Tak diduga, di balik sikap sopan Kierra, di balik sikap tenang Kuroi, ia memiliki kekuatan untuk bisa melakukan ini. Mencengkeram Korra begitu rupa. Hingga jangan kata ia bisa berontak, ia bahkan terpengaruh hingga ke tulang sumsum. Tak bisa lagi membedakan baik dan buruk, benar dan salah.

Kini ia tahu apa yang membuatnya merasakan tarikan itu pada Kuroi. Tidak, ini bukan imprint. Sama sekali bukan. Jika memang yang dikatakan Korra benar, ini hanya karena ia adalah keturunan Kaliso. Mungkin kutukan Kierra sampai padanya. Jika dulu Kierra tak bisa mendapatkan Kaliso, kini ialah yang mendapat karma itu. Tarikan pada akar, itu wajar. Darahnya memberitahunya di mana seharusnya ia berada. Tapi ia takkan tunduk hanya karena darah. Tidak pada seekor siluman keji yang memperbudak kekasihnya.

"Aku bersumpah aku akan membunuh Kierra, Korra. Akan kubunuh ia dan aku akan mendapatkanmu kembali… Membawamu ke tempat seharusnya kau berada…"

"Begitukah? Memang kau sanggup membunuh Kierra? Guna mendapatkanku? Yang benar saja, Seth!"

"Darah Kaliso ada dalam nadiku, artinya aku memang ditakdirkan menghancurkannya!"

Dilihatnya kerling Korra, dan senyumnya yang indah. Begitu mistis…

Hentikan, Seth! Jangan masuk lagi ke dalam jebakannya!

"Astaga. Kierra pasti akan sedih mendengarnya, Seth," kicaunya. "Dan ya, ia memang sedih…"

Seth tidak tahan lagi. "Bisakah kau berhenti bersikap seakan kau menjadi wakilnya?! Bicara seolah kau mengerti perasaannya! Seolah setan bisa punya perasaan!"

"Apa boleh buat, memang aku wakilnya… Hidup matiku adalah deminya, Seth."

Ketenangan Korra, dan keyakinannya yang bulat saat mengatakannya, benar-benar membakar Seth. Ia tidak tahan lagi.

"Astaga. Brengsek Kuroi!" makinya. "Masa bodoh ia bisa menyelamatkan Cole atau tidak… Masa bodoh perjanjiannya dengan Sam…," Masa bodoh ia mengimprint Kuroi… "Aku pasti membunuhnya!"

Anehnya Korra malah tertawa.

"Kuroi?" ia berkata seakan mengejek. "Apa hubungannya dengan Kuroi?"

"Tentu saja ada hubungannya! Kuroi sang inang Kierra!"

Korra kembali tertawa. "Itu hipotesis terbodohmu, Seth. Dari mana kau berkesimpulan bahwa Kierra adalah Kuroi?"

"Karena siapa lagi? Kau serigala hitam. Dan satu-satunya serigala betina lain di kawanan kalian adalah ia."

Korra kembali tertawa. Tawa yang aneh.

"Apa tadi kau tidak dengar? Kubilang aku bukan si serigala hitam."

"Kau pasti bohong! Karena kalau kau bukan serigala hitam, kecuali jika ada serigala lain yang tidak kami tahu, kemungkinan lain hanya Kuroi…" dan mendadak Seth meremang.

Kuroi si serigala hitam…. Tidak mungkin….

Tapi serigala hitam, si serigala asing. Bentuk rahangnya, bentuk matanya, posturnya….

Kuroi si serigala Ainu…

Ini tidak benar, kan?

"Yeah, selamat, Seth," terdengar Korra berkata masam. "Akhirnya kau bisa juga bertemu gadis impianmu. Imprintmu."

Seth menatap Korra dengan nanar. Jadi benar … Korra tahu?

Jika Kuroi bukan Kierra … satu-satunya alasan ketertarikannya pada Kuroi adalah … sungguhan … imprint?

Tapi yang lebih penting daripada itu….

"I, itu tidak mungkin!" teriak Seth penuh penyangkalan. "Ku, Kuroi adalah Kierra! Ia inang Kierra!"

Korra mendengus. "Sayangnya tidak semudah itu. Saat ini tidak ada yang namanya 'inang Kierra'. Kedudukan itu tengah berada dalam bursa."

"A, apa?"

"Tidak semudah itu Kierra menemukan inangnya. Dan omong-omong, ada beberapa tingkatan yang harus dilalui hingga Kierra dapat mengklaim seseorang sebagai inangnya. Jika ia memilih inang seorang manusia yang memiliki darah shifter tapi tak berubah, seperti para putri Quileute dalam legenda, atau siapapun inang-inangnya selama ini, ia bisa dengan mudah mengklaimnya sebagai inang, memaksa kesadaran orang itu mati. Tapi jika ia memilih inang dari para shifter, yang sudah berubah, persoalannya agak rumit."

"Rumit bagaimana?"

"Pertama ada kemungkinan inang itu tidak cocok. Ia tak bisa menopang Kierra. Jika itu terjadi, kedudukan Kierra berada dalam bursa hingga ia menemukan inang yang cocok. Seseorang yang bisa mendukungnya, seseorang yang mampu melebur dengannya. Seseorang yang bisa mengalahkan inang saat itu dan membunuhnya."

"A, apa?"

"Sudah kukatakan ada beberapa tingkatan inang. Pertama yang kami sebut dengan nama 'vahana'. Tunggangan. Itu adalah shifter yang berbagi kesadaran dengan sang Alfa. Ia memberikan tubuhnya, tapi kesadarannya sendiri tetap bertahan. Yang seperti ini biasanya tak bertahan lama. Jika ia tetap tak bisa memberikan seluruh dirinya, Alfa akan meninggalkannya dan ia akan mati. Yang kedua, 'marionette'. Boneka. Roh Kierra menguasainya, ia terpinggirkan dan akhirnya melebur dengan sang Alfa. Dan yang ketiga, inilah yang disebut 'inang'. Kierra menguasai seluruh kesadarannya, sepenuhnya. Kesadarannya sendiri mati. Aku tahu ada level lain yang disebut 'cangkang'. Itu adalah ketika roh Alfa berhasil mengklaim tubuh yang sudah tak berjiwa. Itu hanya ada dalam legenda. Kau pastinya tahu, ketika seseorang bernama Utlapa berhasil mengklaim tubuh kasar Taha Aki setelah mengusir rohnya."

Jeda lama sebelum Korra kembali melanjutkan.

"Sayangnya, saat ini, Alfa kami hanya memiliki seekor tunggangan. Tubuh yang ia miliki terlalu lemah, tidak bisa menopangnya seperti seharusnya. Jadi perjanjian itu telah dicapai: vahana Kierra akan mencari tubuh lain yang lebih cocok. Vahana itu harus menyerahkan jiwanya, darahnya, pada inang Kierra yang baru. Dan ia akan mati."

Mata Seth meremang.

"Ko, Korra...," Seth bahkan tak bisa menyusun kata itu. Kalimat itu. Terasa begitu berat di lidahnya, begitu pahit, begitu menekan.

Dipandangnya gadis itu. Yang ia cintai. Perkataan Phat beberapa hari yang lalu menggema dalam kesadarannya. Terasa bagai mimpi buruk. Mimpi burukkah ini? Ia berada dalam suatu dunia yang bahkan tidak nyata?

Ini tidak mungkin terjadi.

"Korra," dijangkaunya gadis itu. Setiap langkah terasa begitu panjang, begitu berat. Bagai terseret. Bagai sebuah bandul maha besar dikaitkan di sana.

Ketika akhirnya ia berhasil menjangkau Korra, ditariknya lengan gadis itu. Korra balas memandangnya. Kepedihan tampak di matanya.

"Korra," ia menelan ludah. Kata-kata itu bagai hukuman mati. "Jangan katakan ... kau ..."

Tapi Korra berpaling. "Benar, Seth," ucapnya sambil menunduk, "Serigala impianmu bukan aku."

Seth tak mampu berkata-kata.

Lantas seraya mengangkat kepala, memandang bola mata kecoklatan Seth, gadis itu berujar lirih, terlalu lirih dan sendu, "Aku tunggangan Kierra. Akulah Alfa putih… "

Segalanya terasa begitu gelap.

.


.

Catatan:

Maaf lama betul aku update… Lagi fokus sama urusan akademik hahaha…

Seharusnya bahkan chapter ini belum keluar… Harus disesuaikan dengan LoK kan? Akhirnya begitu keluar, parah banget nih… ga tau kenapa… Tadinya aku mau cerita banyak soal Kaliso, udah dibikin juga, tapi hint masalah ini sama sekali belum muncul di LoK, jadi yang ini aja deh yang keluar… hahaha… Maaf kalau mengecewakan…

Perasaan aku crossover banyak banget deh di cerita ini, minimal pinjam2 istilah. Mulai dari Mighty Morphin Power Rangers, Les Miserables, Avatar Korra, Harry Potter, Narnia, The Host, sampe yang paling terakhir di LoK... Spongebob Squarepants... hehehe...

Wawwww… review chapter lalu bikin aku bergetaaaaarrr… Seneng banget sumpah…

Rhie: Seth belum pindah, kok (udah dijawab di chap ini kan?) Duh yang pendukung Kanna… ya, kuberi servis spesial, deh (lihat bawah)

Skyesphanthom: gimana tebakannya di chap ini? Karakterisasi Seth agak jatuh drastis, ya, apa boleh buat… dia menentang pacarnya sendiri sih… Dia juga ga tau apa yg harus dy rasain, apa yg harus dy lakuin. Makasih ud suka Seth… hehehe… Maafin ya dia ga seceria dulu… dan ujug2 jadi Conan… hahahaha… tapi Seth dan teori2nya udah muncul dari awal sih, jadi semoga ga terlalu mendadak.

WinErka: bukan, detektif fiktif berpedang yang muncul di novel dan serial tv yg di conan… yang rambutnya ikal panjang, diiket di tengkuk. Duh siapa sih? (ko jd ngurusin conan)

Tebakannya gmn? kena ga? Hehehe…

mmm… sebenernya sih, seth udah punya rasa ke korra sebelum Sumpah. Kan sejak setelah api unggun juga mereka ud jalan, tapi backstreet (ada di Seth x Korra x Collin).Kalo soal Kuroi sih iya, dy ga bisa ngrasain apapun krn dy udah dimiliki Kierra. Kalo soal perasaan Korra dan Cole, ada di LoK hehehe…

Jacob emosional n bego… maaaaaav maaaaavvv… Sebenernya ga niat bikin begitu, tapi seiring waktu dy bener2 kebanyakan meracau sendiri… Jadilah keliatan bego (sebenernya itu authornya aja…)

RJR: thanxxxxxx… Itu versi Seth. Harap tunggu bagaimana versi Sam sendiri ya… hehehe…

Kuroi emang imejnya tuh Sadako. Sengaja dibikin begitu. Kalo berdiri ada api2 di kanan kirinya. Hahaha…

Zean's Malfoy: warna bulu Korra ada dua jenis. Satu ada di Lok: perunggu, makin ke bawah makin pudar. Satu lagi? Hmmm… ada di atas. Pertanyaannya: betul tidak? (ala Aa Gym) Ya, Korra emg sayang sama Cole. Dia juga tahu Kuroi n Seth sebenernya saling suka. Kenapa malah dy sama Seth? Hehehe…

Nabillaesa44: Cullens sudah datang… warna bulu Korra sudah dijawab. Apa lagi ni? Hehehe…

Bellatrix: Maav Jacob jadi ancur belakangan (cerminan kefrustrasian author) Sejak awal juga, Jake ga terlalu pengen jadi Alfa, jadilah dia agak2 kurang peduli (dan bikin Sam makin sebel), dia ga bisa terlalu disiplin sm anak buahnya krn dy dulu ga suka disuruh2 sm Sam. Soal ketidakkompakan dalam kawanan udah disinggung sebelumnya, alasan dasarnya krn para yunior (terutama Cole) ga percaya sama Jake. Jacob sendiri terus ngrasa inferior krn ngrasa dibanding2in mulu sama Sam, dan ia berusaha sebaik mungkin tapi malah terus disalahkan. Karakter di sini emang ga ada yang sempurna, dan sering mengambil keputusan bodoh yang salah. Maaf.

Tiwi: memang ada rencana penyerangan besar2an, tapi belum… Masih belum mood bikin adegan action lagi nih… hehehe…

SelfQuill: hahaha… iya aku kasih gelas cantik deh…

Korra memang jahat! Betul sekali! Oke, aku sampein ke dia… Btw, karakter Korra di LoK kata pacarku sama banget sama Jacob dan Collin… Bener ya?

Oke. Udah kepanjangan. Kembali dinanti review selanjutnya… ehehehe

Selanjutnya gimana ya? Apa Korra berkata benar atau dia berbohong dengan suatu tujuan? Toh bukan pertama kali Korra berbohong... Bagaimana tanggapan Seth? Apa Seth langsung aja mendorong Korra ke jurang? Semuanya selesai deh… (dan aku bisa tidur nyenyak)

Next: Veela

.


.

Teaser untuk para pendukung Kanna

Seth: "Oke Korra, kau jahat dan aku sudah mengimprint Kuroi, lagipula ia serigala hitam impianku, jadi bye bye…"

Dan ia mendorong Korra ke jurang.

Korra: "Tidaaaaaaaakkkk..."

Dengan matinya Korra, mati juga anaknya (otomatis), Sam ditarik ke pengadilan Jacob dan dibunuh atau diusir. Sebagai orang yang telah membunuh Korra a.k.a. Kierra, Seth memiliki hak untuk mengklaim Kuroi Kanna dan memerintah sebagai Maharaja dan Maharani seluruh aliansi. Mereka hidup bahagia selamanya.

The End.

.


.

Begitu gimana? Ghehehehehe…