THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer… Not closely related with the canon…

.

Warning: Rated M... or R to all SK supporters for messed-up and frustrating plots. Obviously will get ME smacked across the face. Read on your own guard…

.


.

69. Veela (Styx -11-)

Saturday, May 4, 2013

10:32 AM

.


.

Lama waktu berlalu ketika Seth hanya bisa membelalak, membeku. Setiap kata penyangkalan menggelegak dalam kepalanya, ketika logikanya sendiri berusaha memperbandingkan setiap adegan, setiap fakta, setiap kecurigaan, setiap teori... Mencari celah apapun untuk membantah, menyatakan 'kau bohong'. Ini tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin.

Tapi lisannya menolak mengatakannya. Entah bagaimana, ada satu sisi dalam dirinya yang justru takut jika penyangkalan itu terucap, kenyataan yang tersingkap selanjutnya justru makin meneguhkan hal itu. Hingga tak ada lagi celah baginya untuk menyangkal, lari dari kemungkinan itu.

Hanya satu pertanyaan terus mengiang di kepalanya. Jika Korra berbohong, untuk apa? Apa langkah strategis yang ia mainkan? Apa tujuannya? Apa keuntungan yang didapat dari kebohongan itu?

Ia berusaha menelusuri rentetan kemungkinan. Apapun. Dan hingga akhir, tak hadir satu pun jawaban memuaskan. Jalan buntu.

Tentunya ia tahu prinsip eliminasi. Jika ia menemui rentetan kemungkinan yang nyaris mustahil dan semua hal itu gugur kecuali satu, hanya kemungkinan terakhir itulah, sebagaimanapun mustahilnya, yang paling mungkin. Paling mendekati kenyataan. Mungkin bahkan, itulah kebenaran.

Mendekati nol tidak sama artinya dengan nol.

Apakah itu berarti pengakuan Korra benar? Ia si Alfa putih?

Korra tidak mengatakan apapun sesudah pengakuan itu. Ia hanya memandang Seth pedih, dan akhirnya memalingkan wajah. Menjauh dari pemuda itu, duduk di tepi tebing. Matanya hampa, tapi wajahnya keras. Ia menarik kedua kakinya, mencakung. Membenamkan wajah di antara kedua lututnya.

Ketika akhirnya kesadaran Seth kembali, bisa dilihatnya sosok Korra. Gadis itu, gadis yang selama ini ia cintai. Gadis yang berbagi semua kebersamaan dengannya. Tawa. Canda. Genggaman tangan. Ciuman. Pelukan. Kecemburuan. Pertengkaran kecil hingga besar yang mengacaukan segalanya. Tapi tak disangkal, ia berbagi mimpi dengannya. Berharap akan sebuah masa depan. Semua terasa begitu nyata selama ini. Begitu nyata, tapi dihadapkan pada kenyataan ini, semua kini terasa bagai ilusi.

Benarkah semua ini?

Selama ini ia merasa mengenal Korra. Melihat semua sisi gadis itu. Cintanya pada Korra memang didasarkan pada ketertarikannya pada sosok si hitam, tapi pada prosesnya, cinta itu tak pernah datang begitu saja, tanpa usaha dan pengorbanan. Berat, memang, harus ia akui, tapi melintasi waktu, mengerahkan sekian kekuatan, akhirnya ia bisa menerima semua sisi gadis itu. Mencintai semua sisi gadis itu.

Tapi sisi ini? Akalnya, perasaannya, batinnya, semua berontak. Ia tidak siap untuk ini. Sama sekali tidak siap.

Meski tak sepenuhnya masuk akal, tapi akhirnya ia bisa menempatkan pengakuan Korra dalam kerangka itu. Menjawab segala pertanyaan tentang kekasihnya. Sikap Korra, sifat Korra yang begitu … penuh kontradiksi. Sisi-sisi dirinya yang begitu bertolak belakang. Seakan di satu hari ia seseorang yang ia kenal, dan di kesempatan lain ia sama sekali berbeda. Begitu asing, tapi juga begitu … menawan.

Juga hal lain. Alasan mengapa malam itu, di dasar jurang, ia kehilangan sebagian memorinya ketika Phat menyeretnya ke hadapan pemimpin mereka. Ketika ia menyaksikan pertemuan Sam dan kawanan asing. Ya, itu masuk akal hingga batas tertentu. Korra, atau Kierra, menghapus memorinya, entah dengan cara apa. Agar identitasnya tidak terbuka pada saat yang belum tepat. Agar ia tak kembali pada Jacob, melapor. Untuk melindungi kawanan mereka, melindungi Sam. Menghindari bentrokan.

Melindungi dirinya, inangnya.

Melindungi Korra. Sekaligus melindungi Kierra.

Bisakah ia menerima semua ini?

Korra … Kierra? Bisakah ia juga mencintainya? Keduanya?

Ia ingin kabur, sungguh. Melarikan kakinya secepat mungkin, sejauh mungkin dari sini.

Atau ia bisa menyeret Korra ke hadapan Jacob, menelanjanginya. Menelanjangi Sam. Itu pastinya akan sulit, bisa jadi dan pasti akan ada pertumpahan darah. Seth tahu ia tidak akan cukup kuat jika ia harus melawan Kierra. Tidak, ia bahkan tidak bisa melakukannya. Kierra adalah Korra. Apa ia bahkan bisa berusaha melawannya? Melawan tubuh gadis yang ia cintai?

Tapi itu yang harus ia lakukan. Ia harus melakukan hal yang tepat. Memperoleh kembali kepercayaan Jacob. Menunjukkan di mana kesetiaannya yang sesungguhnya. Pada Jacob, bukan pada Korra. Bukan pada Kierra.

Tidak. Tidak perlu ia berperang sendiri melawan Korra di sini. Ia tahu ia bisa sangat persuasif. Ia bisa meluluhkan Korra. Korra menyatakan bahwa ia tak mencintainya, tapi pasti ada secuil, sedikit saja rasa itu dalam dirinya. Jauh di dalam dirinya. Korra mengandung anaknya. Tidakkah itu satu keuntungan di pihaknya? Ia bisa merayu Korra, membujuknya, membawanya ke muka Jacob. Membuka topengnya di hadapan kawanan. Menyeretnya ke bawah sidang Jacob. Terserah Jacob, apa ia akan melepaskan Kierra atau memusnahkannya. Kierra mungkin sangat kuat. Tapi ia takkan berdaya di bawah taring belasan serigala. Mungkin akan terjadi pertumpahan darah, tapi dengan trik tertentu, cara licik, mungkin itu bisa dihindari. Kierra bisa dilemahkan, dipereteli kekuatannya saat ia tidak sadar. Sehingga ia bisa dieksekusi tanpa bisa melawan.

Sejarah sudah membuktikan, Kierra bisa dikalahkan. Ia mungkin tidak mati. Tapi tubuh kasarnya bisa dibunuh. Ia bisa diusir. Jacob bisa menempatkan kutukan sama seperti yang dilakukan Kaliso. Mencegah Kierra kembali, berabad-abad. Tak lagi mengusik tanah ini. Atau Jacob mungkin bisa melakukan hal yang lebih baik. Mungkin ia bisa memerangkap roh Kierra, dan melenyapkannya. Dengan demikian tak perlu ada ancaman bagi generasi mendatang.

Benar. Itu hal yang harus ia lakukan. Tak perlu tangannya sendiri yang menghabisi tubuh itu. Gadis yang ia cintai, beserta putranya. Ia bisa meninggalkan penghakiman pada kawanan. Ia bisa menutup mata ketika eksekusi terjadi. Atau pergi, sejauh-jauhnya, tak tahu dan tak perlu tahu.

Itukah keputusan yang tepat? Membuka identitas Korra? Di hadapan seluruh kawanan? Di hadapan Jacob? Apa Jacob akan bisa menerima ini? Apa yang akan terjadi jika ia membukanya? Apakah Jacob akan bangkit memerangi Kierra? Kierra sang penjajah, pengusik teritorinya. Pengancam otoritasnya. Apakah ia akan mengikuti insting, tetap berusaha mempertahankan teritorinya? Bisakah penjelasan menjangkaunya? Bahwa Kierra bukan musuh?

Ya, Kierra kini mungkin bukan musuh. Sam berusaha menjadikannya benteng yang melindungi suku. Tapi sejarah sudah membuktikan seperti apa ia. Kepala suku yang kejam, haus kekuasaan. Bahkan kini pun tak berbeda. Ia penjajah, penguasa sebuah kemaharajaan. Entah berapa suku yang ia invasi, Alfa yang ia perangi, ia paksa tunduk di bawah kakinya. Mungkin ia membunuh semua yang menentang. Memaksakan kekuasaannya.

Astaga, apa yang ada di pikiran Sam? Benteng seperti ini adalah pagar makan tanaman. Tiap saat ia bisa berbalik mengancam suku. Ia harus dihancurkan begitu ada kesempatan. Dengan demikian juga membebaskan seluruh kawanan yang dijajahnya. Yang disatukannya dalam nama 'aliansi', yang sebenarnya hanyalah eufemisme dari kata 'penjajahan'. Penguasaan secara paksa.

Kierra harus dihancurkan.

Tapi bisakah Jacob melawan Kierra, dalam tubuh adiknya sendiri? Apa hasilnya jika itu terjadi? Jacob membunuh Korra? Atau Korra membunuh Jacob, mengklaim seluruh kawanan?

Apa yang akan terjadi dengan kawanan jika itu terjadi? Benarkah kawanan akan mau tunduk? Apa mereka takkan berusaha berontak? Apa yang terjadi jika kawanan berontak? Apa Korra akan melawan mereka? Membunuh keluarganya? Sahabatnya? Collin, jika entah bagaimana ia masih hidup? Brady? Apa yang akan dilakukan Sam jika itu terjadi? Bagaimana dengan Billy? Akankah ia kehilangan dua anaknya sekaligus? Jacob? Dan … Korra?

Ia harus mengambil keputusan yang tepat saat ini. Semua di tangannya. Kunci untuk menghindari pemusnahan massal suku, atau penjajahan, ada di tangannya.

Apa yang harus ia lakukan?

Akhirnya bisa dipaksakan juga ia melangkahkan kaki mendekat. Duduk di sisi Korra.

"Be, benarkah itu?" ia bahkan tidak bisa merangkai kalimat yang cocok untuk situasi ini. Kepalanya begitu penuh seakan mau meledak. "Be, benarkah kau … Kierra?"

Korra mengangkat wajahnya. Tertawa aneh.

"Astaga, Seth…," ujarnya sinis. "Aku sudah membuka diriku, dan kini kau juga tidak percaya? Apa harus aku membuktikannya?"

Seth menelan ludah.

"Kau benar-benar Alfa Putih?"

"Kau heran?"

Sikap Korra, anehnya, berubah. Tak sepahit sebelumnya. Agak sendu, bahkan. Tapi tetap saja ... bukan si Alfa Putih. Bukan sosok otoritatif yang pernah ditemuinya.

Tapi mengapa ia tampak begitu ... muram?

"Eh, tidak…," jawab Seth. Agak salah tingkah. "Kupikir seharusnya inang Kierra adalah seseorang yang lebih…" ia tak punya kata-kata.

"Dewasa?" sumbang Korra.

"Uhm, yeah, dewasa..."

Nada Korra makin kelam. "Yeah, itu memang salah satu kesalahannya. Seharusnya memang ia mengklaim seseorang yang jauh lebih matang, tidak sepertiku..."

"Ja, jadi…," Seth tidak tahu harus berkata apa, "benarkah yang dikatakan legenda? Tubuhmu membeku? Seperti vampir? Kau takkan … seperti shifter lain, mengalami perkembangan pesat sebelum berhenti tumbuh setelah tubuhnya mencapai kedewasaan?"

Korra tertawa, menolehkan kepalanya memandang Seth.

"Aneh sekali kau bertanya begitu. Malah menanyakan soal usia, heh? Aku sudah berharap reaksimu akan sedikit lebih … 'dramatis'," ia menambahkan tanda kutip dalam ucapannya. "Langsung berlari dan berteriak-teriak, misalnya. Melapor pada kakakku, membawa segerombolan serigala untuk mencincangku."

Seth hanya bisa menelan ludah.

"Bukannya itu tak terpikirkan olehmu, kan?" kembali Korra berbisik sinis, berpaling memandang awan.

" 'Kepala suku terkejam sepanjang sejarah Quileute'…. Aku tahu bagaimana kalian semua memandang Kierra. Memandang aku."

"Korra, aku tak mungkin memandangmu seperti itu…"

"Aku bisa dibunuh, kau tahu?" senyum Korra begitu aneh. "Ini pernah terjadi. Sudah kukatakan apa yang dilakukan Kaliso pada Kierra."

Seth kembali menelan ludah.

"Kau tahu aku takkan mungkin melakukan itu."

"Entahlah, Seth. Tak ada yang bisa kupercaya sekarang."

Seth tak mampu berkata-kata lagi.

"Ta, tapi," benak Seth masih penuh penyangkalan. "Jika kau Kierra, maksudku, mengapa kau terus …," ia menggelengkan kepala, mengingat semua ucapan Phat. Kepalanya masih penuh sesak.

"Bertengkar dengannya?" Korra menunjuk.

Lagi-lagi Seth menelan ludah.

"Tadi bukankah kubilang, aku hanya tunggangan? Kesadarannya ada dalam diriku, tapi kesadaranku entah bagaimana bertahan. Ini salah, kau tahu?"

"'Salah'?"

Tentu saja ini salah. Gadisnya adalah Alfa Putih, Jacob dan adiknya benar-benar di sisi yang berlawanan dan mungkin saling bertarung, apa yang lebih salah dari ini? Tapi mendengar nada Korra saat mengucapkannya, ia tahu ada kesalahan lain di luar apa yang jelas-jelas terlihat.

"Ya. Salah," Korra tak menjelaskan lebih lanjut, tapi menambahkan nada yang aneh, yang Seth kenali sebagai kepedihan. Ia mencoba tidak mengungkit itu sekarang.

"Be, berapa lama?" tanyanya. "Sudah berapa lama sejak kau … eh, Kierra … memilikimu?"

Korra sejenak diam, menatap permainan cahaya rembang petang.

"Tujuh bulan," katanya akhirnya.

"Tu, tujuh bulan?!"

"Mungkin lebih sekarang. Empat bulan sebelum aku menginjak tanah ini, tepatnya."

"A, artinya itu terjadi … setelah kau … memasuki kawanannya?"

Korra mengangguk.

"Sejak awal kau memasuki tanah ini, ia sudah menunggangimu?"

Lagi-lagi Korra mengangguk.

"Kau bertindak atas perintahnya…," bisik Seth. Ucapan itu menghantamnya lebih dari yang ia perkirakan. Jika Korra adalah Kierra, siapa sebenarnya yang selama ini ia cintai?

Tidak, tidak, bukan saatnya mengurusi itu sekarang. Identitas Korra begitu bertumpuk. Ada banyak lubang yang tak ia mengerti dalam kenyataan itu. Itu menjawab beberapa hal tapi juga menimbulkan pertanyaan lain.

"Tapi ini mustahil. Ketika di perkemahan, Kau memaksa Jacob menarik mundur kami, dan lantas Alfa Putih bicara dengan Jake… Kau ada di sungai saat itu, bersama Billy. Jacob bisa mendengar suaramu. Kami bisa mendengar suaramu…"

"Oh, haruskah kau bertanya itu, Seth?" itu reaksi Korra sebelum ia kembali memandang jurang, larut dalam pikirannya sendiri.

Tapi jawaban itu datang bahkan sebelum sempat ia berpikir jauh. Tentu saja. Jika kemampuan telepati kawanan Korra bisa bekerja dalam wujud manusia, tak ada alasan Korra tak bisa menggunakan koneksi antar-Alfa tanpa berubah.

Satu dari tumpukan misteri yang terjadi hari itu di perkemahan terjawab sudah. Alfa Putih menghubungi Jacob bahkan walau Jacob jelas mendengar suara Korra dari sungai. Korra tak perlu berubah untuk bicara dengan Jacob. Dan bahkan, satu-satunya saksi lain yang ada di sana, yang bisa bersaksi bahwa Korra tak berubah menjadi serigala, adalah Billy. Billy adalah Tetua. Jika Sam tahu soal kawanan asing, bekerjasama dengan mereka, pastilah ia tahu Korra-lah sang Alfa. Jika Sam tahu, bisa dipastikan Billy tahu. Boleh jadi malah ia sendiri yang merencanakan seluruh situasi itu.

Tapi situasi di perkemahan waktu itu begitu aneh. Billy mengadakan perkemahan sebagai hukuman karena kedua anaknya bertengkar. Bukan, mungkin alasan yang lebih tepat adalah untuk menyatukan keluarga mereka. Tapi lantas perkemahan itu berubah jadi bencana. Brady jatuh dalam jebakan. Jacob harus menarik mundur para pengawalnya. Alfa Putih datang, menjauhkan Jacob dari perkemahan. Lantas serangan ke jantung perkemahan, dengan Billy di tengahnya. Korra menghilang…

Dan kini, Korra adalah Kierra. Ia berputar-putar di hutan dan memaksa Jacob menarik pengawal mungkin agar ia bisa menyelinap keluar tanpa ketahuan. Tapi kalau begitu, mengapa ia tidak kembali? Dan lebih penting lagi, mengapa ia harus keluar? Ia bisa saja masuk, menemui Jacob di area perkemahan dan bukan di luar. Untuk menyamarkan kedatangannya, atau tepatnya bahwa ia sudah ada di dalam sejak awal, ia bisa saja memaksa penarikan pengawal itu, tapi tak perlu juga ia mengajak Jacob keluar. Seolah membuka perkemahan… Seolah memaksa para lintah menyerang… Tanpa pertahanan.

Tunggu, tunggu. Bagaimana jika semua ini sudah rencana sejak awal? Perkemahan di Crescent Lake, tempat yang menjadi titik beberapa pintu masuk liang kelinci. Para lintah tak mungkin menyerang tanpa provokasi. Tidak dalam skala itu. Pastinya kawanan Korra, atau ditambah Sam, telah menyerang mereka terlebih dahulu, dan mereka hanya membalas dendam. Ia sengaja membuka benteng… Meletakkan Billy di tengah… Dan baunya yang kuat di sekitar perkemahan… Sebagai umpan.

Ya, ia pasti tahu salah satu di antara para lintah itu sebagai ibunya, Ariana, sebagaimana dikonfirmasi Jacob begitu ia menemukan liontin dan syal Korra di tangan lintah itu. Korra tahu segalanya tentang silsilah, ia dekat dengan Cole. Ia pasti tahu jika ibunya kembali ke La Push dalam wujud vampir, ia pasti akan membalas dendam. Terbuka kemungkinan ia memang sudah bersinggungan dengan ibunya sebelum itu. Kierra pastinya memanfaatkan posisi Korra ini, jika memang mereka adalah sisa-sisa lintah yang sebelumnya telah digilas. Bau Korra ditambah bau Billy. Dan perkemahan tanpa penjaga.

Strategi benteng terbuka.

Tapi jika begitu, artinya Korra membiarkan ayahnya dalam bahaya. Sebegitu teganyakah ia?

Tidak, tidak, ia mungkin sudah menduga Jacob takkan mungkin meninggalkan perkemahan tanpa penjagaan sama sekali. Mungkin ia sudah menduga bahwa Jacob akan dengan keras kepala kembali memerintahkan penjagaan setelah ia pergi, dan kali ini dengan ekstra kehati-hatian setelah peringatan yang ia beri dengan rentetan jebakannya. Kalaupun tidak mengandalkan Jacob, pastinya ia sendiri sudah memasang penjagaan. Si serigala emas yang mendadak muncul membantu Cole dan Adam. Dan Sam … kini setelah tahu peran Sam, tak mungkin Sam mendadak muncul di sana. Ia sudah jelas diimplantasi sejak awal. Bahkan mungkin Billy, sebagai Tetua, pun ikut andil dalam perencanaan itu sejak awal. Sam akhirnya tidak bisa muncul, karena serigala emas terpaksa bertarung bersisian dengan Cole dan Adam. Tapi pastinya ia ikut menjaga pertahanan di sisi lain. Bahkan bukan tak mungkin Korra dan Kuroi sendiri ikut bertempur di titik yang tidak ditangani Cole.

Pembersihan massal lintah. Pasti itu tujuannya. Tujuan yang gagal, bagaimanapun, setelah Cole, dan kemudian Jacob, melepaskan Ariana…

Tetap saja. Apa yang membuatnya tidak bisa kembali? Apa yang membuatnya harus menunggu lima hari? Dan bagaimanapun kemungkinan itu masuk akal, tetap ada hal-hal yang seakan luput dari perhatian. Sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak pasa tempatnya. Sesuatu yang meragukan.

Bisakah ia mengetahuinya sekarang?

Bijakkah?

"Jadi apa yang terjadi?" tanyanya setelah sekian lama mereka dicekam kebekuan.

"Apa?"

"Apa yang terjadi tujuh bulan lalu?" Seth menelan pertanyaannya tentang yang terjadi di perkemahan dan memilih fokus pada akarnya. Jika ia ingin tahu mengenai Kierra, ia harus tahu dari dasar. Ada banyak kesempatan, ada banyak waktu untuk yang lain…

Tenang dan tetap penuh kendali, Seth.

Korra memandangnya seakan Seth sudah kehilangan akal. Dan memang, ya, ia merasa ia sudah gila. Gila dan terperosok ke lubang hitam. Tapi ini tak lantas membuatnya putus harapan.

"Kau serius ingin bertanya?"

"Mengapa tidak?"

Sifat persisten Seth kalau ingin mendapatkan sesuatu sudah dikenal luas. Pada dasarnya semua petinggi kawanan itu keras kepala. Sebagai salah satu Black—yang juga memiliki sifat sama—serta sebagai pacar Seth, Korra tidak mungkin tidak tahu. Memang tidak seperti Sam yang selalu sok-ngebos dengan kombinasi kekuatan mata Medusa dan suaranya otoritatifnya yang membuat orang tak bisa berkutik, atau Jacob si tukang paksa yang tidak mau mendengar penolakan apapun, Seth bertindak dengan cara yang lebih lunak. Membujuk atau mengutarakan argumen logis hingga sasarannya tak punya pilihan selain menuruti kehendaknya. Namun, di antara yang lain, sebenarnya Seth-lah yang paling memiliki pengaruh, bahkan terhadap para Black. Dan Korra, sayangnya, juga tidak termasuk pengecualian.

Tahu hal ini, Korra pun hanya mendesah. Meski setengah hati, ia harus mengakui bahwa ia takkan pernah bisa menolak Seth.

"Ceritanya panjang, " katanya akhirnya.

"Kupikir kita punya waktu panjang," Seth meluruskan kaki-kakinya, memandang Korra, berupaya keras terlihat santai. "Masalah rapat toh sudah kaudelegasikan pada wakilmu. Kau tahu, seorang pemimpin selalu punya banyak waktu senggang."

Korra terkekeh.

"Itu kau saja, mungkin."

"Tidak, kok. Jacob selalu mengalihtugaskan masalah-masalah teknis padaku sementara ia hanya sibuk menggerundel, hanyut dalam pikiran acaknya."

Gadis itu kembali tertawa. "Sudah kuduga kau otak kawanan… Dengan jadwal patroli, skema hierarki kawanan, dan sebagainya. Aku yakin kakakku takkan sepintar itu."

Seth tidak hendak bertanya dari mana Korra tahu soal jadwal patroli dan skema hierarki. Jawabannya sudah pasti Sam. Dan kini ia tidak hendak mengungkit hal itu.

"Jadi, bagaimana kisahmu?" tuntutnya lagi.

"Siapkan popcorn, kalau begitu."

Pertama kali dalam seminggu itu, Seth tertawa. Ini baru gadisnya. Korra yang biasa. Korra yang dikenalnya.

"Sederhana, sebenarnya," Korra memulai cerita. "Empat bulan lalu kami diserang di Nepal. Gweneira McLeod-Rajagopalachari inang Kierra waktu itu. Ia sudah lama menjadi inang, jadi tubuhnya memang sudah mulai membusuk. Sebenarnya ia yang bertahan paling lama di antara para inang, sudah lebih dari 60 tahun, sejak—kau tahu—kakak angkatmu Jasper Whitlock membunuh inang sebelumnya, Cosette Fauchelevent," Seth berusaha tidak menahan napas ketika Korra menyebut nama Jasper. "Jadi wajar saja kekuatannya melemah, dan ia jatuh dalam serangan keroyokan para vampir. Dari enam anggota kawananku waktu itu, hanya aku, Kuroi, dan Phat yang selamat."

Korra menarik napas panjang. Jelas masalah ini berat baginya.

"Sudah sejak awal aku ditaklukkan, sebenarnya, ia melirikku sebagai calon penggantinya. Ia berusaha mempersiapkanku. Tapi aku masih terlalu muda. Setidaknya, seharusnya aku masih harus menunggu tiga atau empat tahun lagi, ketika aku sudah cukup matang, secara fisik maupun mental. Tapi kejadian itu membuatnya tak bisa menunggu. Kierra harus punya inang, walau bagaimanapun. Tak bisa membiarkannya tanpa tubuh, seperti sewaktu Cosette mati. Seluruh aliansi bisa berada dalam kondisi chaos tanpa pemimpin, dan dengan mudah hancur di tangan para lintah. Akhirnya Kierra terpaksa memasuki tubuhku."

"Kenapa?" potong Seth.

"Kenapa apa?"

"Ada Kuroi kan? Kenapa ia tidak merasuki Kuroi saja?"

"Karena Kuroi adalah Jenderal Utama kawanan," bisik Korra dengan mata hampa. "Kau tahu berapa usia Kuroi?" ia mengajukan pertanyaan tiba-tiba yang Seth jelas tak tahu jawabannya. Tapi jelas Korra tak mengharapkan jawaban karena ia langsung menjawab sendiri, "Ia lahir pada 1736. Ia bahkan lebih tua dari Kierra."

Seth berusaha keras menahan rahangnya tetap pada tempatnya.

"Kau tahu, Seth? Seorang inang tidak seharusnya tetap hidup. Segera setelah dirasuki, seharusnya kesadarannya menghilang. Ditambah lagi, racun Kierra akan membuat tubuhnya membusuk perlahan sehingga ia akan hancur, mati setelah beberapa dekade. Kuroi sudah mendampingi Kierra sejakawal ia mendirikan kawanan sendiri, setelah ia diusir dari tanah Quileute. Kuroi orang kepercayaannya, tangan kanannya. Pastinya ia tidak ingin Kuroi mati, atau harus tergantikan, apapun."

Korra diam dalam kebekuan yang panjang. Ia meluruskan kaki, menurunkannya ke ujung tebing. Menggoyang-goyangkannya dengan malas.

Melihatnya, Seth tahu bahwa ada hal-hal yang seharusnya tak ia ungkit. Soal Kuroi, jelas. Atau lebih lagi, soal 'kematian inang'.

Korra menyatakan dengan jelas, Kierra tidak ingin menjadikan Kuroi sebagai inang karena Kuroi tak mungkin tergantikan. Yang artinya Korra bisa tergantikan. Di mata Kierra, kedudukan Korra tidaklah seistimewa Kuroi. Selongsong yang bisa dibuang begitu tak dipakai lagi.

Benar. Menjadi inang pastinya tidak seindah kelihatannya. Sebagai seorang penjajah, penguasa aliansi, seharusnya Korra memiliki segalanya. Kekuasaan. Kekuatan. Tapi dengan harga apa? Hilangnya kemerdekaan atas dirinya sendiri. Kematian jiwa, itu sudah jelas. Tapi lebih dari apapun, ia tak bisa membayangkan … Korra … membusuk.

Dan semuanya bukan karena ia menginginkannya sejak semula. Bukan bagian dari perjanjian yang ia tandatangani dengan sukarela.

Ia tahu shifter bisa memilih antara menanggalkan kekuatannya dan menua atau menjalani keabadian, yang artinya seharusnya Korra bisa hidup selamanya, muda selamanya, jika ia tidak dirasuki. Tapi sebagaimana ia dengar dari Old Quil, begitu Kierra memasuki tubuh inang, tubuh itu akan muda, tapi masa depannya sudah disegel. Ia pasti mati, begitu tubuhnya tak sanggup menopang roh itu lagi. Roh Kierra bagai racun, menghancurkan tubuh sang inang dari dalam. Dan kini ia tahu, dari kesimpulan cerita Korra di sana-sini, masa kekuatan para inang berbeda. Korra hanya tunggangan, ia tidak cocok sejak awal dan mungkin jika ia terus bertahan, ia akan mati lebih cepat dari yang lain. Jika pun ia mencarikan tubuh lain untuk Kierra, ia harus memberikan darahnya pada penerus Kierra yang baru. Itu artinya sama saja. Korra akan mati. Segera.

Seth tidak tahu aturan macam apa yang merugikan inang secara total itu. Apa manfaat bagi inang atas kehadiran Kierra di tubuhnya selain kekuasaan sementara? Tidak, bahkan kekuasaan itu tak bisa ia nikmati, karena bahkan seharusnya jiwanya, eksistansinya pun menghilang. Tidak ada manfaat apapun. Jujur ia ingin mengorek lebih jauh. Mencari tahu celah, jika ada, untuk menarik Korra dari masalah ini. Membebaskannya dari Kierra, jika bisa. Membebaskannya dari masa depannya yang suram.

Bisakah ia mengoreknya sekarang?

Tidak, tidak. Masih banyak waktu.

Pelan-pelan… Melangkah satu-satu…

"Lantas?" tanya Seth, menghapus bayangan mengerikan Korra yang membusuk, menekan keinginan untuk langsung pada tujuan, dan berusaha keras bersikap biasa-biasa saja.

"Lantas apa?"

"Sesudah itu…"

"Ya sudah. Kau mau cerita apa lagi?"

"Astaga, Korra. Itu bahkan belum dua menit. Kalau ditulis, paling-paling hanya makan seperempat kertas A4."

Gadis itu tertawa. Renyah. Alami. Benar-benar tidak seperti tawanya di dalam gubuk tadi.

"Kalau mau detail, bisa makan sebuku," ujarnya asal. Jemarinya menari di lututnya sendiri.

Seth menarik napas panjang, ikut menurunkan kakinya di ujung tebing. Menyilangkannya dengan santai sementara matanya memandang langit yang makin temaram.

"Kau tahu kau seperti—siapa itu, penyihir di film Harry Potter yang pernah kita tonton? Yang ditempeli Voldemort di belakang kepalanya?"

Korra tertawa, sadar Seth mencoba bercanda. "Profesor Quirrel?"

"Ya, itu…."

"Kau tahu ujung-ujungnya Quirrel mati, kan?"

Seth menelan ludah. Entah sudah berapa kali dalam beberapa puluh menit terakhir.

"Bukan itu maksudku, Korra."

"Tapi memang itu yang akan terjadi, kan?"

Kembali beku.

Angin malam yang dingin mulai mengusik. Korra makin merapatkan pelukan atas kakinya, meringkuk di pinggir tebing. Seth memandangnya. Gadis itu tampak begitu … rapuh. Sama sekali bukan image yang diharapkan siapapun dari seseorang yang baru saja mengaku sebagai Alfa terkuat, penguasa sebuah aliansi besar. Entah mengapa Seth merasakan dorongan yang kuat untuk memeluk gadis itu, memberi kehangatan. Seperti yang selalu dilakukannya dalam bulan-bulan terakhir. Tapi ia tahu Korra tak menginginkannya kini. Korra tak pernah suka ada dalam situasi tergantung pada orang lain. Tak pernah suka ada dalam kondisi dibelaskasihani jika bukan ia melakukannya secara sengaja demi mendapatkan sesuatu. Seth tahu apa yang Korra butuhkan. Sesuatu yang ringan. Sesuatu untuk mengangkat bebannya. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang biasanya ditawarkan Collin. Tapi Collin tak ada di sini sekarang. Hanya ia. Hanya Seth.

"Astaga," kata Seth akhirnya, merebahkan tubuhnya di atas hamparan batu di pinggir cadas, "tak kuduga aku menjadi pasangan kaisarina penguasa aliansi shifter terbesar di seluruh jagat raya… Berarti aku setara raja di raja, ya? 'Paduka Yang Mulia Kaisar Seth Clearwater-Gerrard-Black'," ia mengeja namanya sendiri dengan nada kagum. "Hebat juga…"

Korra membalikkan tubuh, mendelik memandangnya.

"Siapa bilang kau pasanganku?" protesnya.

"Lho, kan memang iya?"

"Tapi kita kan sudah putus. Kau sendiri sudah mengimprint Kuroi. Serigala hitam impianmu yang selalu kaupuja-puja berbulan-bulan, bahkan."

Seth mendesah, menatap mata Korra. Korra balas memelototinya.

"Kan sudah kubilang, Korra," katanya,"di dunia ini tidak ada satu kekuatan pun, bahkan imprint, yang bisa mencegahku mencintaimu."

"Bahkan walau aku bukan serigala hitam?"

"Kan sudah kubilang, aku hanya tertarik pada sikap heroiknya. Tapi aku menghabiskan waktu, yang nyata, menjalani hubungan nyata, denganmu."

"Bahkan walau aku Kierra?"

"Kau tetap Korra, bagaimanapun."

"Apa kau serius menginginkanku? Bukan menginginkan kedudukan Kaisar?"

"Astaga Korra," Seth mencoba keras tampak ringan dan tertawa walau tawa itu seakan tersangkut di tenggorokan. "Aku cuma bercanda soal 'Kaisar' itu. Kau tahu aku bukan pengincar kedudukan apapun… Bahkan jika kau paria, aku akan mengikutimu."

"Aku memang dulu paria."

"Siapapun kau, aku mencintaimu."

"Kau tidak tahu yang kaulakukan, Seth."

"Oh, Korra…," senyumnya. "Kau tahu, aku serigala berpikiran paling terbuka di seluruh kawanan. Aku memiliki sahabat dan kakak angkat vampir, ibuku akan menikahi ayah dari seorang vampir. Oh, Alfaku bahkan akan menikahi seorang hibrida. Kurasa tak masalah menerima tambahan satu hibrida lagi dalam keluarga. Meski dalam bentuk roh…"

"Tidak semudah itu. Aku adalah musuh bebuyutan suku kalian."

"Oh ya? Musuh yang berusaha digaet Sam sebagai pelindung suku, kan? Dan karena kau menolongku dan Jake, kukira Kierra tak sejahat itu…"

Seth mencoba menggapai tangan gadis itu, tapi Korra menepisnya.

"Korra," desah Seth lelah. "Bisa hentikan seluruh drama ini? Kau berlebihan, kau tahu."

"Kau sendiri sama sekali tidak masuk akal."

"Tidak ada yang masuk akal kalau menyangkut cinta, Korey…"

Seth bangkit, kembali duduk. Tangannya menggapai pipi gadis itu, tapi lagi-lagi Korra melengos.

"Ayolah, Korra," bujuk Seth, melirik dan tersenyum penuh makna. "Kita sudah sering memainkan ini. Kau tahu aku bisa sangat keras kepala dan persuasif."

"Kau dengar Noah tadi kan? Aku pernah melempar teman kencanku waktu ia mencoba menciumku di puncak tebing."

"Oh ya? Masa kau tega padaku?" Seth mengerling, mengeluarkan senjata utamanya, membuat Korra menahan napas sesaat. Tapi kemudian wajahnya kembali mengeras, penuh tekad.

"Hah, percaya diri sekali kau. Coba apa kau bisa merayu Kierra."

Seth tertawa. "Wah, aku yakin kalau Kierra, pertahanannya takkan separah kau. Aku tahu beberapa kali, mungkin, Kierra sendiri yang main-main denganku. Kurasa ia takkan begitu keberatan mencuri sedikit kesempatan dan main-main denganku lagi."

Korra membelalak. "Kapan?"

"Oh, masa aku harus menyebutkan? Waktu kita menyewa hotel di Seattle, misalnya. Aku heran tiba-tiba kau menjadi begitu dewasa dan menggoda. Seksi, jujur saja. Kupikir itu sisi lain dirimu yang terpendam. Atau waktu di tebing di hutan…. Atau waktu kau tiba-tiba menyerangku waktu di mobilku, dalam perjalanan pulang dari Seattle. Dua kali, bahkan. Oh, dan omong-omong, waktu itu kau bilang nilaiku 9," ia menambahkan dengan sedikit kedip menggoda.

Mata Korra kembali meremang. "Aku tidak pernah melakukan apapun denganmu di hutan atau di mobil…."

"Oke. Jadi itu konfirmasi bahwa itu Kierra," ujar Seth santai. Kelewat santai, mungkin.

Agak di luar perkiraan Seth, tahu-tahu Korra menyerangnya. Mendorongnya hingga jatuh ke tanah. Memukulinya.

"Aduh!" protesnya, meringkuk defensif. "Apa-apaan sih kau?!"

"Kau berselingkuh dengan Kierra!"

"Astaga, Korra! Mana aku tahu? Aku kan mengira itu kau!"

"Oke! Sekarang bilang, yang mana yang lebih kausuka: aku atau Kierra?"

"Memang ada bedanya?"

"Jelas beda!"

"Oh Tuhan, Korra!" Seth menangkap pergelangan tangan Korra. Gadis itu agak berontak, tapi kenyataan bahwa ia tidak langsung melempar Seth ke jurang di bawah sana—sesuatu yang ia tahu bisa dilakukan—sudah merupakan konfirmasi bahwa ia setengah hati melakukannya. "Kau itu pencemburu betul, sih! Ia kepribadianmu yang lain!"

Alis Korra bertaut. Mengendus kesal, ia menghela tangan Seth. Seth melepaskannya. Kembali duduk mencakung, ia menggerutu sendiri, "Ia bukan kepribadianku yang lain. Ia hanya parasit yang hinggap di salah satu sisi kesadaranku."

"Itu kan sama saja…."

"Jelas beda!"

Seth menghela napas. Ia bangkit, duduk di sisi Korra. Mengalungkan lengan di bahunya. Korra agak berontak. Tapi ketika Seth kembali bersikeras merangkulnya, ia tak bereaksi lagi.

"Oh, Korra," Seth merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Mengusap-usap rambutnya dalam gestur yang menenangkan. "Yang aku cintai itu kau, Korey, bukan Kierra. Coraline Gerrard, kekasihku. Gadis yang menonton film kartun bersamaku, tiap dua menit sekali melompat atau tertawa-tawa sampai tersedak popcorn. Gadis yang makan es krim sampai mulut dan hidungnya belepotan. Gadis sok-hemat yang selalu komentar tiap aku membawanya makan di restoran Italia. Gadis yang terbirit-birit melihat tikus. Gadis yang dengan riang cerita soal pengalamannya memancing sampai jatuh ke sungai atau jatuh ke laut gara-gara naik banana boat. Gadis yang menjerit-jerit begitu aku ingin menyeretnya melompat ke danau. Gadis yang bersamaku mencoba membuat rainbow cake sampai badannya penuh tepung. Bukannya memperhatikan waktu, malah sibuk bercanda melempariku dengan tepung, dan ujung-ujungnya membuat cake-nya gosong. Sue marah waktu tahu dapurnya berantakan, tahu! Serius, Korra, kau mungkin jago masak, tapi soal membuat cake, kau itu nol besar! Mungkin kau harus belajar pada Brady…" Seth terkekeh sendiri di bawah tatapan sebal Korra. "Atau kau mau bilang semua itu juga Kierra?"

Korra menggeleng. "Tidak. Itu aku."

Seth tersenyum, makin rapat memeluk Korra.

"Nah, sekarang kau tak perlu khawatir, kan?"

Di pelukannya, dirasanya gadis itu agak bergidik. "Aku benci kalau Kierra memakai tubuhku untuk urusan aneh-aneh," bisik Korra. Kelihatan sekali ia berusaha memendam kepedihannya. Dan entah mengapa Seth merasa sesuatu yang aneh merayapi perutnya. Senang? Puas? Atas Korra yang mau membuka diri padanya?

Ia buru-buru menampar dirinya sendiri. Ini saatnya ia bersimpati, bukan malah menuruti ego sisi protektifnya.

"Bukankah seharusnya aku yang protes?" Seth mencoba mencairkan suasana. "Tanpa tahu-menahu, tubuhku kan, ehm, 'pelayananku'," katanya yang membuatnya mendapat tatapan membunuh, "yang dimanfaatkan?"

"Masalahnya aku sudah menegaskan, ia tidak boleh memakai tubuhku lagi untuk itu!" kutuk Korra. "Ini bukan yang pertama kalinya. Astaga, aku kadang frustasi, ia benar-benar tidak tahu batasan!"

Mau tak mau Seth tersenyum. Gadis ini memang unik. Bukankah memang seharusnya, sebagai inang, ia memberikan seluruh tubuhnya pada Kierra? Tapi Korra begitu keras kepala. 'Batasan', katanya? Apa itu berarti ia memberlakukan aturan kapan kesadaran Kierra bisa memonopoli tubuhnya dan kapan tidak? Pantas saja Kierra tidak bisa menjadikannya inang, kalau begitu.

Apa dia tak sadar bahwa kesadarannya sendiri, yang memproteksi tubuhnya, justru bisa berbalik merugikannya?

Jika sang tunggangan tak cocok, katanya, maka Kierra akan meninggalkannya dan ia akan mati?

Korra akan mati?

Bayangan Korra yang membusuk cepat, terlalu cepat, atau harus membiarkan darahnya diberikan pada inang selanjutnya kembali mengusik pikiran Seth. Membuatnya makin rapat memeluk gadis itu.

"Ia kan tidak memakai tubuhmu untuk sesuatu yang aneh, Korra," ia mencoba berdamai, menenangkan Korra.

Ya, sekarang harus menggaet hati Korra sekaligus Kierra. Sudah cukup perselisihan di sekitarnya selama ini, mencabik-cabik ikatan yang ada antarkawanan, antarsepupu, antarsaudara. Takkan ia biarkan ada bibit buruk juga berkembang antarpribadi di dalam tubuh yang sama. Lebih lagi, tubuh gadis yang ia sayangi.

Kini baru ia tahu di mana seharusnya ia berperan. Seth Sang Penengah. Masa bodoh jika ia tak merasakan tarikan imprint pada gadis ini, masa bodoh jika Kuroi-lah belahan jiwanya. Korra membutuhkannya kini. Korra, dengan sisi emosional dan overprotektifnya terhadap diri sendiri. Kierra, dengan otoritasnya. Ia harus berusaha, setidaknya, mendamaikan kedua pribadi ini. Phat sudah ribut, Korra selalu membuat kawanannya dan sang Alfa kesal dengan adanya ia bertengkar terus dengan Kierra, membuat kawanannya berada dalam dualisme kepemimpinan dan lain sebagainya.

Jujur saja, ia bisa saja menggunakan ini untuk memecah belah kawanan Korra. Mengadu domba Korra dan sang Alfa. Jika mereka hancur, tepatnya jika Korra hancur, pemimpin mereka hancur, kawanan asing itu hancur dan mudah baginya kembali ke kawanan Jacob. Siapa tahu ia akan dielu-elukan sebagai pahlawan. Tapi pecahnya mereka juga tak punya efek bagus jangka panjang bagi kawanannya. Hanya akan menambah kekisruhan yang ada. Tambah lagi, mereka takkan bisa jadi benteng. Dan Sam harus menelan usahanya selama ini yang ternyata berbuah pahit.

Tidak, ia tak peduli pada Sam. Masa bodoh jika si ular licin itu mau membusuk di neraka sekalipun. Tapi masalahnya, Sam benar sampai taraf tertentu. Mereka memang butuh bantuan aliansi. Setidaknya hingga mereka berhasil menghalau ancaman yang ada di depan mata.

Seth menenangkan dirinya. Ia harus tenang jika ia ingin mengendalikan keadaan. Ia terbukti selalu bisa mengendalikan para Black selama ini. Kini kemampuannya diuji di depan sesuatu yang lebih besar. Tak bisa ia hanya ada di luar, hanya menganalisa, hanya memperhatikan. Tidak bisa juga ia ikut dipermainkan. Ia harus mengambil alih sekarang. Nasib suku di tangannya, tergantung bagaimana ia bisa memainkan bidak-bidak catur di tangannya. Tapi sebelum ia bisa memainkannya, ia harus memastikan ia bisa memegang bidak itu.

Memegang bidak berupa roh serigala ratusan tahun. Tantangan apa yang lebih besar daripada ini?

"Tidak aneh apanya?" Korra masih menggerutu.

"Aku kan pasanganmu, Korey, walau bagaimanapun," ujar Seth lembut. "Aku yakin ia tidak akan melakukannya dengan sembarang orang, misalnya."

"Itu masalahnya! Ia pernah melakukannya! Tidak tahu apa yang ia lakukan saat aku tidak sadar!"

Kening Seth langsung berkerut.

"Kau pasti dengar apa yang dibilang Noah tadi. Si Malik tolol, membuatku tak sadar dan membuat Kierra mengambil alih tubuhku. Aku tahu Malik pasangan Kierra di kawanan Sahara, tapi itu pada masa Gwen! Bukan aku! Dan lagi Malik sudah berumur! Aku baru 16, dan aku selalu berpikir, pengalaman pertamaku seharusnya bersama seseorang yang kucintai, bukannya…"

"Ssssshh, Korra…," Seth buru-buru memotong ucapan Korra, makin erat memeluk gadis itu. Ia tahu ke mana cerita itu akan menuju. "Jangan lagi mengingat-ingat hal-hal buruk. Itu hanya akan membuatmu sakit," bisiknya.

"Oh Tuhan…," Korra, anehnya, tampak begitu rapuh, "kau pasti menganggapku pelacur kawanan sekarang… Tidak, pelacur aliansi…."

"Astaga Korra, mana mungkin aku menganggapmu begitu?" ditahannya kepedihannya sendiri, berusaha tak hanya merangkul tubuh Korra, tetapi juga menghangatkan sisi rapuhnya. "Lupakan soal Malik, oke? Anggap itu tak pernah ada. Pengalaman pertamamu denganku, bukan? Pengalaman pertama Korra, dengan kesadaran Korra, bukan Kierra. Kau mencintaiku, kan?"

Lagi-lagi Korra tidak menjawab. Dan Seth juga tidak ingin menuntut.

"Nah, begini saja," katanya, mencoba mengangkat dagu gadis itu, meminta Korra menatapnya. "Kalau nanti Kierra menguasaimu lagi dan mencoba merayuku, bagaimana kalau kau beri tanda? Kau cuma tunggangannya, kan? Jadi kau masih menguasai kesadaran tubuhmu. Kau bisa menggeleng atau memberi kode apapun…. Jadi aku takkan membiarkannya menyentuhku."

"Hah! Seolah kau bisa menolak! Dia kan sudah dewasa dan berpengalaman, jauh sekali dibanding aku. Kau sendiri bilang ia seksi, menggoda… Nilai 9, lah, apa lah…. Aku yakin ia lebih bisa memuaskan fantasimu."

"Fantasi sadomasokis? Bukannya itu kau ahlinya?"

Korra merengut lagi, membuat Seth tertawa.

"Lagipula, apa sih maksudmu dengan lagi?" mendadak Korra melepaskan rangkulan Seth. "Ini tidak benar! Kita sudah putus!" ia menggeleng cepat, tampak agak panik. "Tidak, tidak! Ini tidak benar! Aku sudah menyerah denganmu dan kau bisa mendapatkan Kuroi, serigala impianmu itu."

"Oh Tuhan, Korra, tidak lagi…" desah Seth lelah. "Kupikir kita sudah selesai dengan topik itu."

"Tidak, ini belum selesai. Kau harus menilai posisimu sendiri, Seth. Kau mengimprintnya! Ia belahan jiwamu!"

"Mau jadi belahan jiwa bagaimana? Aku kenal dia juga tidak!"

"Itu kan mudah diurus! Memangnya kau tidak tahu konsep imprint?"

"Nah, itu dia masalahnya. Kau mungkin sudah tahu dari Sam tentang Leah. Kakakku korban imprint! Kaupikir aku mau meneruskan jejak Sam? Memangnya aku tipe cowok tidak bertanggungjawab?"

Di titik itu Korra mendadak menunduk muram. "Kalau kaupikir kau terpaksa harus stuck denganku hanya karena aku mengandung anakmu, itu tidak seharusnya jadi bebanmu, Seth," katanya, tanpa sadar mengelus perutnya. "Aku sudah bilang, janin ini takkan bertahan lama."

"A, apa maksudmu?"

"Kau tahu," Korra tersenyum pedih. "Sejak Kierra mengklaimku, metabolismeku berubah. Aku hampir dipastikan takkan tumbuh. Dan kau tahu apa yang terjadi pada tubuh perempuan yang tidak tumbuh."

Mata Seth meremang.

"Dan lagi, aku bukan inang. Aku hanya tunggangan. Kierra bahkan tak bisa membuat rohku melebur….Tubuhku tidak bisa menyesuaikan diri dengan Kierra. Kami saling berperang di dalam. Racunnya menghancurkan tubuhku, lebih cepat dari inang-inangnya yang lain. Dan tentu saja, menghancurkan janinku. Atau minimal, jika memang keajaiban terjadi, ia akan sampai pada titik ketika ia tak lagi bisa tumbuh, ketika tubuhku takkan bisa mengakomodasi pertumbuhannya. Ia bahkan takkan pernah bisa cukup besar untuk dilahirkan."

Ini tidak nyata, kan?

Ini sama sekali tidak nyata.

.


.

Berapa waktu berlalu, membeku, setelah topik itu bergulir?

Korra masih duduk di tepi tebing, Kedua kakinya terjulur ke bawah, dan ia memainkannya dengan ritme yang menjemukan. Seth di sisinya, melihat ke arah yang sama, pada gerombolan pepohonan di sisi lain jurang. Ekspresi mereka tak terbaca. Meski seolah serius memperhatikan hutan di sisi sana, pandangan mata mereka kosong. Masing-masing hanyut dalam pikiran dan perasaannya sendiri-sendiri.

Hingga akhirnya Korra mendesah lelah, dan bangkit.

"Kurasa ini perpisahan kita," katanya, bergerak seakan ingin meninggalkan tempat itu. "Selamat tinggal, Seth…"

Korra sudah berbalik, hampir melangkah menjauh, ketika tangan Seth mencengkeram pergelangan tangannya.

"Tidak, Korra, kau tak bisa pergi."

Mata Korra menatapnya. Tajam.

"Lepaskan atau kulempar kau ke jurang."

"Lempar saja," Seth bangkit dengan tetap mencengkeram tangan Korra. "Aku ingin tahu apa kau tega membunuhku."

"Oh, tega saja…"

"Begitu? Mau coba?"

Tantangan Seth, bagaimanapun tak berbuah apapun selain beliakan mata Korra. Sekian detik mereka habiskan untuk saling berpandangan. Korra yang menatapnya nanar dan Seth dengan mata menantang, tangannya masih mencengkeram pergelangan tangan Korra. Hingga akhirnya Korra menunduk, suaranya melemah. "Lepaskan, Seth…"

Kali itu Seth melepaskannya. "Kau tahu kan, kau juga mencintaiku…," katanya.

Korra menatapnya selintas, sebelum membuang muka. "Cinta tidak penting, Seth. Sekarang ini sudah tak ada keterkaitanmu denganku. Aku tidak lagi mem-blackmail-mu. Kau tahu aku takkan bisa melahirkan anakmu. Dan kau sendiri sudah memiliki imprint. Jadi aku tak bisa menjangkarkanmu padaku."

"Masalahnya aku yang ingin, Korra. Aku yang ingin menjangkarkan diriku padamu."

Seth memberanikan diri mengangkat dagu gadis itu. Mata kelam Korra bergulir, menatapnya. Bibirnya agak bergetar, dan warnanya yang kemerahan entah mengapa tampak begitu hangat, begitu indah, begitu lembut… Begitu … mengundang… Seth menurunkan wajahnya, bergerak hendak mencium bibir itu. Namun, belum sampai wajah mereka bertemu, tahu-tahu gamparan Korra sudah melayang membentur rahangnya.

"Oh Tuhan!" teriak Seth, ketika disadarinya ujung bibirnya berdarah dan rahangnya setengah retak. "Apa-apaan kau, Korra?!"

"Hentikan, Seth! Aku takkan lagi menyentuh milik Kuroi!"

"Harus berapa kali kukatakan aku tidak mencintainya?"

"Jangan membuatku bingung!"

Mendadak senyum Seth tersungging. "Nah, kan, kau bilang sendiri kalau kau bingung! Kau mencintaiku, Korra! Akui itu!"

Aneh karena Korra mendadak membelalak, lantas membuang muka. Bergerak tidak jelas di tempatnya berdiri. Menggigiti bibirnya.

Seth mengulurkan tangan menyentuh pipinya. Kesempatan pertama, gadis itu berusaha menepis. Tapi ketiga kalinya Seth mencoba, Korra tak lagi bereaksi.

"Tanyakan pada dirimu sendiri, Korra," bisik pemuda itu. "Apa semua yang kita lalui kebohongan? Hanya tugas? Begitukan? Tak pernah sedetik pun kau memiliki perasaan padaku?"

"Ya, itu bohong!"

"Astaga. Jangan bertanya pada egomu, Korra. Tanya perasaanmu. Karena aku yakin ketika pertanyaan itu digulirkan, pastinya mereka akan menjawab bahwa itu benar. Sesuatu yang jauh di luar urusan Kierra dan serigala dan apapun. Ketika kita hanya dua insan, saling melindungi, saling melengkapi, saling membutuhkan… Ketika hanya kita. Tak ada imprint, tak ada suku, tak ada aliansi, tak ada bayi… Ketika semua tak lagi penting, dan kita bahagia."

Korra tak menjawab. Matanya terpejam. Dan samar, Seth bisa melihat kilau bulir air di ujung mata gadis itu.

Ia mengusapkan ujung jemarinya di pipi gadis itu, menghapus air matanya. Korra menunduk ketika pertahanannya jebol. Bahu-bahunya mulai bergetar tatkala ia membawa kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.

Entah mengapa, ia merasakan sesuatu tarikan yang kuat, sangat kuat, lebih kuat dari tarikan imprint, untuk memeluk gadis itu, menenangkannya, menenteramkannya.

Dan belum lagi ia memutuskan untuk melakukannya, tahu-tahu Korra sudah mencondongkan tubuh ke arahnya, menyurukkan diri ke dadanya. Kedua lengan Seth bergerak sendiri sebelum otaknya memberi perintah, memeluk gadis itu. Menariknya lebih rapat.

"Apa kau … akan membunuhku, Seth?" bisik Korra pelan di dadanya.

Apa?

"A, apa maksudmu, Korra? Aku tidak mungkin…"

Namun Korra tak peduli. Tidak diam, tidak mengangkat kepala, terus saja berujar lirih.

"Jika ya, ini saat yang tepat…," ujarnya yang membuat Seth membeku. Sama sekali tak tahu ke mana arah omongan ini. "Kau bisa melemparku atau mematahkan leherku dan membakar tubuhku. Aku takkan mencoba melawan. Kierra tidak bisa melakukan apapun tanpa seizinku. Dalam kondisi sekarang, penyembuhanku sangat sangat lambat, jadi…"

Kenapa Korra mengatakan itu? Kelemahannya sendiri?

"Jangan bicara ngaco, Korra! Aku takkan mungkin membiarkan itu terjadi!"

Protes Seth hanya menghadang angin ketika Korra melanjutkan. "Ya. Dengan begitu, semua pihak diuntungkan. Dia sudah mengklaimku artinya ia tak bisa mencari tubuh lain sebelum aku mati. Jika kau membunuhku, Kierra akan mendapatkan kesempatan untuk mengklaim tubuh lain yang tidak menyusahkannya, dan mencari tubuh baru yang cocok dan bisa dikendalikan sepenuhnya tetap akan makan waktu. Suku kalian pun bebas, setidaknya sementara waktu hingga kalian bisa mempertimbangkan langkah yang harus kalian tempuh jika kami kembali. Atas kutukan Kaliso, toh Kierra tak bisa menyentuh tanah ini jika ia tidak mengklaim inang yang memiliki darah suku ini…"

Jadi itu alasannya Kierra mengklaim Korra. Karena Korra putri Quileute. Ia ingin kembali, walau bagaimanapun…

Jika begitu, nama-nama perempuan dalam daftar Sam. Itulah orang-orang berikutnya yang potensial untuk dirasuki Kierra.

Tapi Seth tidak bisa lama-lama berusaha mencerna, karena saat itu dirasanya dadanya basah.

"Korra?" katanya tak yakin, berusaha mengangkat dagu kekasihnya. "Kau menangis?"

Menahan kepalanya di dada Seth, ia menggeleng. Tapi kemudian ia melepaskan pelukannya, memisahkan diri dan mendekati jurang.

"Jika ada kelahiran kembali, Seth… Jika aku punya kesempatan kedua, aku akan membalas semua kebaikanmu…," ujarnya, memandang entah ke mana.

Rasa takut mendadak mencengkeram batin Seth. "Korra? Kau bicara apa?"

Saat itu Korra berbalik. Seth bisa melihat mata sendu itu, tapi ada senyum di bibirnya ketika berucap, "Kuharap kau bahagia dengan Kuroi, Seth. Dia sudah beratus tahun tak mengenal cinta, dan orangnya terlalu kaku, jadi mungkin kau harus ekstra-kerja keras untuk meluluhkan hatinya. Tapi kau akan mendapatkannya walau bagaimanapun. Diam-diam ia sudah mencintaimu sejak awal…"

"Apa maksudmu? Aku sudah bilang…"

Korra tak menanggapinya. Ia sudah kembali menghadap jurang ketika berbisik lirih, "Selamat tinggal…"

Saat itu sesuatu berdering keras di kepala Seth, dan tanpa disadarinya, tepat ketika Korra hampir melontarkan tubuh, tangannya menjangkau, tepat sasaran menarik tangan gadis itu. Sekilas dilihatnya sorot terkejut bercampur kebingungan di mata Korra, sebelum gaya balik mendorong mereka berdua jatuh ke belakang, menjauh dari pinggir tebing. Korra menindih tubuhnya. Dan Seth tak tahu apa yang merasukinya ketika ia mencengkeram bagian depan baju gadis itu, berguling, memutar tubuh Korra dan menekannya ke lantai tanah.

"Apa kau gila?!" bentak Seth marah di mukanya. "Kau ingin bunuh diri? Untuk apa?"

Korra tak menjawab. Matanya adalah siratan berbagai perasaan yang bercampur aduk. Shock, pasti. Tapi juga ada pertanyaan, kesedihan, kebingungan, keputusasaan, dan yang paling tak Seth mengerti: kemarahan. Tapi kemudian mata itu melunak, dan kaca-kaca berkilau mulai tampak, sebelum Korra segera membuang muka, menolak menatapnya.

Dan kemarahan Seth mendadak menguap.

"Astaga, Korra," ia melepaskan cengkeramannya dan meninju tanah. "Jangan lakukan hal sebodoh itu lagi. Kumohon."

Korra tampak tak bisa bicara. Ketika akhirnya ia bersuara, kata-katanya ragu dan tidak jelas.

"Ta, tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian," tekan Seth tegas. Dalam hati ia sibuk mengutuki Kierra. Apa maksud Kierra, membiarkan inangnya melakukan itu? Atau Kierra yang justru memaksa agar Korra melempar dirinya? Apa ia begitu ingin Korra mati agar bisa mencari tubuh baru? Yang lebih cocok, seperti kata Korra? Ia agak menggeram ketika menyatakan, "Kalau Kierra tak menginginkanmu, atau kakakmu meragukanmu, maka aku, Seth Clearwater, yang menginginkanmu. Tidak untuk suku, tidak untuk kawanan, tidak untuk apapun. Tidak sebagai sekutu, tidak sebagai Maharani, tidak sebagai Kierra. Aku tidak memandangmu sebagai siapapun selain Korra, kekasihku."

"Seth?"

Mata Korra makin menunjukkan ketidakmengertian. Yang makin jelas ketika Seth menggerakkan tangannya membelai pipi Korra.

"Aku ada untukmu, Korey…," seulas senyum tampak di bibir Seth. Dan mendadak hatinya penuh buncahan perasaan yang tidak bisa ia deskripsikan atau bahkan ia rasakan sebelumnya. "Aku akan menjadi kekuatan bagimu. Ketika aku ada, aku yang akan melindungimu… Jadi jangan berani-beraninya kau berusaha merenggut dirimu dariku…"

Jemarinya berakhir menelusuri lekuk bibir gadis itu. Dan ia menunduk, bergerak mengecupnya. Kali ini, Korra tidak melawan.

.


.

Seth menatap wajah Korra yang tertidur. Di sini. Di pelukannya. Di bawah bintang.

Korra beringsut dalam tidurnya, meringkuk mendekatkan diri ke tubuh Seth. Wajahnya begitu tenang, damai. Tak pelak Seth merasakan itu lagi. Hasrat untuk ada di sisi gadis itu, melindunginya. Tangannya menggapai-gapai sekeliling, mengambil helaian pakaian Korra yang entah sejak kapan terbengkalai, tertebar begitu saja di ujung jurang itu. Pakaian itu kotor, memang, tapi tak ada helaian lain yang bisa jadi pilihan. Dihamparkannya pakaian itu di atas tubuh telanjang kekasihnya. Dikecupnya dahi gadis itu, lantas dialihkan pandangannya ke langit tanpa bintang.

Kelamnya malam menudungi mereka bagai selimut. Di sana, saat tak ada satu apapun lagi yang memisahkan mereka. Pertama kali dalam sekian lama mereka berhubungan, ketika mereka terbaring bersama atas dasar cinta. Bukan perintah, bukan tanggung jawab, bukan keharusan. Ia bisa merasakannya. Ketika mereka bercinta di bawah langit tanpa hiasan, di hutan tanpa dinding, di atas tebing tanpa kasur empuk atau alas selimut halus lembut, tanpa kemewahan apapun selain satu hal: kepercayaan. Ini mungkin bukan pengalaman yang paling menakjubkan, tapi bagi Seth, ya, ini malam terindah dalam hidupnya. Ketika ia dan Korra satu. Ketika tidak ada lagi keraguan atau benteng pertanyaan yang membatasi mereka berdua. Tidak ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi rahasia. Ketika Korra akhirnya membuka dirinya, mempercayainya. Sepenuhnya.

Tidak ada lagi rahasia.

Ini yang sejak lama ia nantikan, kan?

Lantas mengapa ia tak merasa lengkap?

Entah mengapa, di dalam dadanya, ada satu perasaan lain yang aneh. Menyelusup bagai racun yang perlahan mencengkeram pohon kebahagiaan yang berkembang di dadanya, menyerap kehidupan di pohon itu hingga hancur, kering kerontang.

Apa itu?

Penyesalan?

Satu sudut dalam dadanya terus berteriak memprotes. Apa yang terjadi? Apa ia baru saja melakukan satu hal bodoh, kesalahan lain? Ataukah memang ini yang benar? Yang harus ia lakukan?

Satu sudut itu masih tidak mempercayai ini. Satu sudut yang menyalahkannya karena telah memilih Korra ketimbang Kuroi. Satu sudut yang terus bertanya: 'benarkah ini?' Memilih seorang tunggangan Kierra, tubuh sementara yang kelak akan hancur atau diklaim dan berubah menjadi sosok yang tak ia kenal, ketimbang seseorang yang ditakdirkan menjadi belahan jiwanya?

Kini ia tahu mengapa Korra tak pernah mengatakan cinta padanya. Bukan karena ia tidak mencintai Seth. Entah dalam kadar seberapa besar, dari sikapnya, di balik ribuan topeng yang ia pasang, Seth yakin Korra mencintainya. Tapi ia berada dalam posisi yang membuatnya tak bisa yakin akan cinta itu, atau memberi Seth kepastian. Dari apa yang Seth tangkap, Korra tahu mengenai imprint, dan lebih dari itu, perasaan Seth dan Kuroi sejak awal. Mungkin malah Kuroi sendiri yang mengimprint Seth. Entahlah, ia tak bisa yakin. Dan Korra ada di antara mereka, memaksa menempatkan diri di ruang yang seharusnya tidak ada, tapi akhirnya mampu merampok tempat di hatinya, yang seharusnya menjadi milik Kuroi. Seharusnya ia marah, keberadaan Korra, bagaimanapun, telah membuatnya tak bisa bersatu dengan orang yang dirindukannya. Sosok yang didambakannya sejak lama. Sang serigala hitam.

Tapi kini ia berpikir bagaimana jika ia ada di posisi Korra. Mungkin ia harus menghadapi rasa bersalahnya pada Kuroi. Mungkin ia harus menghadapi rasa bersalahnya pada Seth. Mungkin ia sendiri harus menghadapi perasaannya yang berkembang. Seth ingat pada masa-masa awal, ialah yang agak memaksakan diri agar Korra menerimanya. Mungkin memang Korra diperintahkan untuk mendekatinya—setelah Kierra menilai sendiri bagaimana Seth memandang gadis itu dan melihat potensi keuntungan di pihaknya seandainya Korra dekat dengan Seth. Ya, mungkin awalnya Korra hanyalah alat Kierra guna mendapatkan apa yang ia butuhkan. Pionnya untuk mendekati Seth. Dan Seth menjadi alat Korra untuk mempenetrasi kawanan.

Tapi seiring waktu, Seth merasa bagaimanapun Korra pasti telah menumbuhkan perasaan padanya. Itu terlihat jelas. Ia mulai cemburu, posesif, seakan tak ingin melepaskan. Tapi di sisi lain, kadang ia begitu putus asa, berusaha menabahkan diri bahwa setiap saat ia bisa kehilangan Seth. Dan Seth tahu, batin Korra selalu berperang. Antara mencintai atau berusaha tidak mencintainya. Hingga saat ini.

Dan ia sendiri, bagaimana? Setelah mengetahui semua?

Di samping satu sisi yang masih terus saja mempertanyakan kebenaran langkahnya, sisi lain dirinya tahu ini yang benar. Ini yang terbaik. Ia punya alasan. Alasan yang sangat kuat, logis, dan tak tergoyahkan. Korra membutuhkannya. Lebih dari apapun. Ia harus bertanggungjawab atas Korra. Dan di sisi lain, ia butuh Korra. Lebih dari urusan ia mencintai gadis itu. Ia butuh kepercayaan Korra. Ia butuh segala yang diketahui Korra mengenai satu hal: Kierra.

Ya, Kini ia tahu bagaimana pertimbangan Sam ketika memutuskan mengangkangi Jacob dan memilih mengikat diri dengan Kierra. Ia butuh Kierra. Roh berusia ratusan tahun itu pasti punya banyak pengalaman, pengaruh, kekuatan. Hanya karena ia dulu pernah menjadi musuh suku, bukan berarti ia lantas bisa dihancurkan begitu saja; itu artinya menyia-nyiakan kekuatan dan pengetahuan maha besar. Ia tahu sukunya membutuhkan pengetahuan itu lebih dari apapun guna menghadapi apapun yang ada di depan. Untuk itu ia perlu mendapatkan kepercayaan tak hanya Korra, tapi juga Kierra. Dan juga, ia harus memastikan terciptanya sesuatu yang lebih besar dan mengikat ketimbang perjanjian Kierra dengan Sam.

Tapi ketika keputusan itu terbentuk, ada bagian lain, yang seketika itu juga merasa kosong. Seakan ada lubang dalam dirinya. Rongga yang sangat besar, gelap, dan dalam. Hampa.

Astaga, mengapa ia masih berkubang dalam perasaan-perasaan yang saling berkecamuk? Ia sudah menetapkan pilihan. Titik. Tak bisakah ia berdiri tegak dan mengambil konsekuensi apapun atas pilihannya?

Tangannya bergerak menyentuh perut Korra. Di sana ada anaknya, darah dagingnya. Janin yang berkembang, tapi ia tahu tak akan lama. Janin itu akan luruh sebelum bahkan sempat berbentuk. Hari ke hari, detik demi detik, janin itu berperang.

Oh, bahkan ibunya pun terus berperang.

Tidak bisakah ia melakukan sesuatu?

Demi Korra? Dan juga demi anaknya?

Tiba-tiba mata Korra membuka. Wajahnya mengeras, begitu mendadak. Dan ia melepaskan diri dari pelukan Seth.

"Ada apa Korey?" tanya Seth, bingung dengan perubahan atmosfer yang mendadak.

"Maaf, Clearwater," terdengar suara lain. Dari bibir Korra, ya, tapi yang ini berbeda. Dewasa. Berat. Menekan. Begitu agung. Formal. Suara yang bahkan tak pernah didengar Seth keluar dari bibir Korra dalam sisi manapun ia. Dan ia mengenalnya.

Kierra.

"Sam mencoba menghubungi saya," ujarnya. "Ada gerakan di Zona 2. Kami harus segera ke sana."

Sam … menghubungi Kierra? Apakah ia melakukannya menggunakan koneksi Alfa? Sekarang? Saat ia bahkan tidak berubah?

Ya, ini bukti ucapan Korra sebelumnya. Pada taraf penguasaan telepati yang lebih tinggi, koneksi antar-Alfa tak perlu dilakukan dalam kondisi serigala.

Korra, bukan, Kierra bangkit. Memunguti pakaian Korra dan memakainya cepat, di bawah tatapan Seth yang penuh pertanyaan.

"Di mana Korra?" bagaimanapun, tak bisa disembunyikan nada panik dalam suaranya. Apa Kierra telah mengklaim Korra sepenuhnya? Kesadaran Korra melebur? Atau bahkan menghilang?

"Tidur," jawab Kierra singkat.

"Dan kau mengklaim tubuhnya? Tidakkah sebaiknya kau bangunkan ia dan biarkan ia yang mengurus ini?"

"Maaf, saya tidak bisa. Ia terlalu lelah dan masih emosional. Saya ingin ia istirahat."

Seth bisa melihat kebenaran di balik alasan itu. Ya, Korra masih terlalu lelah. Mungkin perkembangan situasi ini terlihat baik, tapi itu hanya di permukaan. Seth juga tahu di dalam sana, Korra tak mungkin merasa benar-benar lega. Ini bisa jadi sumber masalah baru, kan?

"Biarkan aku ikut," entah mengapa ia mengatakan itu, "Kumohon."

Kierra menatapnya balik. "Ini bukan sesuatu yang membutuhkan penangananmu, Clearwater."

"Tapi aku pasangan Korra. Aku sudah berjanji akan melindunginya. Jika memang ada masalah … maka…," ia sendiri tak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

Dilihatnya Kierra memandangnya, lama. Ia menelan ludah. Namun kemudian Kierra mengangguk.

"Baiklah, kau bagaimanapun berhak tahu."

.


.

Catatan:

-okay, aku update cepat-

Maaf kepada para pendukung SethKuroi… Teaser kemarin itu adalah teaser… maksudnya betulan to tease… ehehehe…#langsung dirajam

Aku ga bisa bikin Seth begitu tidak bertanggung jawab, kabur di saat seperti ini, atau membiarkan Korra mati dan bersuka ria atas kematiannya. Atau, ya, bisa jadi ia menyimpan suatu rencana. Seperti Kaliso (?) Jadi apa sebenernya motif Seth memilih Korra? Apa dia memang mencintai Korra dan menerimanya? Atau … hmmm…

Untuk para reviewers, TERIMA KASIH BANYAAAAAAAKKKK! *hugggzzz*

Skyesphanthom: yup, twist... udah ky es krim. banyak banget pertanyaan ya? Hahaha... sebenernya emang identitas itu tumpang tindih, jadi... ehm... waktu korra berubah d dpn jazz, dy lg ditinggalin alfanya. jadi menurutmu gmn? ehehe... emg kuroi knp pas dy nyuruh seth ngejar korra? tp kuroi mgkn g bakalan banyak diulik di TAB lho... hehehe... perasaan Korra? wah, emg seth kudu baca LoK kynya... soalnya biar gmn jg korra kyny g mgkn ngasi tau perasaanny k orang lain deh

Rhie: kenapa? g setuju ya? hehehe... tenang, itu cuma teaser... hahaha... #dibacok

yup, update nih... maaf ya agak lama...

RJR: hehehe... makasih banyaaaak mencoba menyelami korra... mungkin aku kerasa aneh ya, di TAB sangat2 menjelek2kan korra, di LoK malah ky ngebela dy. Tapi apa boleh buat, TAB ditulis dari sudut pandang kawanan. kalo ada yg berusaha ngertiin korra, paling2 seth, dan itu juga agak bias sama perasaannya yg ngrasa dikhianati.

Bellatrix: ooo... jadi dikau tho temennya RJR... hahahaha... iya...maavin ini udah persiapan satu chap lagi, tadiny m update 2 chap sekaligus tapi ternyata ada yg kudu aku edit2... oh soal sejarah itu ntar bakalan dibahas lagi di TAB ko. sebenernya ini ada di TAB laghe, di bagian api unggun (kierra), terus beberapa dibahas sama jacob pas ngobrol sm quill setelah dia dioperasi. hahaha... ini lanjutannya (malah bikin dirimu makin benci aja deh kynya)

SelfQuill: wuooooowwww, makin banyak aja para pembenci korra... wah aku kayanya bakal digergaji nih setelah chap ini... hmmm...

Setelah ini Seth dan Kierra bertemu Sam. Dan ada kabar soal Cole… Jadi tunggu ya...

Next: Gerbang Neraka

.


.

Teaser untuk para pembenci Sam Medusa Uley

Seth: Kau pengkhianat, Sam! Berani-beraninya kau menikam dari belakang!

Sam: Aku melakukannya karena aku harus! Kau pastinya tahu itu!

Seth: Aku tidak menerima ini! Aku akan menyeretmu ke hadapan Jacob!

Mereka bertarung. Tubuh Sam yang memang sudah hancur dari dalam segera mengkhianatinya, dan Seth menang dengan mudah. Sam pun digerek ke sidang kawanan.

Jacob: Aku takkan memerintahkan pengusiranmu, itu sama saja memberimu yang kau inginkan! Pengkhianat tak boleh dibiarkan hidup! Bagimu hanya ada satu pilihan: hukuman mati!

Sam: Tidaaaaaaaaaaaakkk!

Dan akhirnya Sam pun dieksekusi. Komplotan para Tetua digulung. Suku terbebas dari para pengkhianat. Dengan kematian Sam, Jacob mencari tahu bagaimana cara mengusir roh Kierra selamanya. Mengikuti langkah Kaliso, dengan bantuan Seth ia membunuh Korra dan mengambil alih takhta Maharaja Aliansi.

The End

.


.

Hmmm… Gimana? Gimana?

.