THE ANOTHER BLACK

.

Disclaimer: Stephenie Meyer owns characters and background for this story, although I manipulated some for my delight

.


.

70. Gerbang Neraka

Tuesday, June 04, 2013

1:07 PM

.


.

Sudah lewat tengah malam ketika Sam tiba di tepi sungai di Zona 2. Dirasanya dadanya kembali perih. Sakit yang ia rasakan sejak bertahun-tahun silam mencapai titik kulminasi dari waktu ke waktu. Setiap saat rasanya ia mendekati akhir. Tubuhnya sendiri mengkhianatinya. Tubuhnya sendiri, ia tahu, telah mencapnya sebagai penjahat, pengkhianat. Tanah ini tak lagi menerima tubuhnya. Dalam wujud manusia, lebih lagi dalam wujud serigala. Dengan atau tanpa Titah Jacob, ia sudah tahu akhir yang harus ia hadapi. Hukuman mati, tak terelakkan lagi, pasti jatuh padanya. Dan lebih parah, ia telah diputuskan menjalani hukuman itu perlahan. Dengan siksaan langkah demi langkah yang bahkan tak membiarkan proses penyembuhan alaminya bekerja. Rasa sakit pastinya balasan yang sepadan untuk menyucikan dosa-dosanya. Tidak ada satu kekuatan pun, bahkan mandat para Tetua, yang bisa menghentikan proses itu.

Tidak, bahkan setelah itu pun, ia tak yakin ia akan tersucikan. Namanya akan tercoreng selamanya. Jiwanya terkutuk selamanya. Darahnya akan ternistakan. Hingga bahkan tak ada satu lidah pun yang akan menyebut namanya lagi jika tak dibarengi rentetan caci maki.

Samuel Uley. Paria. Itulah takdirnya.

Larinya berhenti ketika rasa sakit itu tak tertahankan. Terbatuk-batuk keras, dilihatnya darah membuncah dari mulutnya, jatuh ke rumput yang lembab. Ia tak lagi meneruskan larinya, bahkan juga tak lagi berusaha mempertahankan wujud serigalanya. Kembali ke wujud manusia, diraihnya kantung yang terikat di kakinya, dikeluarkannya celana pendek yang sudah seperti pakaian dinasnya dalam sekitar delapan atau sembilan tahun terakhir—entahlah, ia tak menghitung—dan dipakainya dalam keterampilan yang luar biasa. Lantas ia duduk di sebongkah batu besar, memandang angkasa gelap yang menyembul di antara siluet tudung pepohonan.

Berkali-kali, selalu, ia mempertanyakan kembali keputusannya. Benarkah ini, ia, dengan kesadaran penuh, memutuskan untuk melangkahkan kakinya menjejak Gerbang Neraka? Berulang kali diyakinkannya dirinya bahwa keputusan ini benar. Berulang kali ia menimbang, mengukur, dan sampai pada kesimpulan itu. Ini tetap harus dilakukan. Ada kepentingan-kepentingan yang lebih tinggi ketimbang kemerdekaan dan kebebasan tubuhnya dari rasa sakit. Ada hal yang lebih tinggi yang harus ia junjung. Ada tanggung jawab lebih yang harus ia kedepankan. Keputusan harus diambil dan rencana harus dijalankan. Tapi agar rencana itu terwujud, harus ada seseorang yang menjalankannya.

Ya. Harus ada seseorang yang mengambil resiko.

Mengambil peran sebagai penjahat.

Bahkan walau itu berarti membakar kulitnya sendiri dengan cap tembaga menyala, menorehkan cap itu permanen di jiwanya. Cap bertuliskan 'pengkhianat'.

Tapi siapkah ia, benar-benar siapkah ia, atas segala konsekuensinya?

Hukum teritorial mengikat siapapun pengkhianat untuk mati.

Dan lebih lagi, ia tak sendiri. Ia telah menggerek saudara-saudaranya sendiri menempuh jalan yang sama. Paul. Jared. Leah. Dengan suka hati ia akan menanggung dosa mereka semua, agar rasa sakit itu ditimpakan hanya padanya. Agar hukuman itu hanya dirasakannya seorang. Ia sang mastermind, dalang di balik semuanya. Mereka hanya ditariknya, diyakinkannya untuk mendukung rencananya. Memastikan ia bisa mendapatkan semua yang ia butuhkan. Memastikan ada yang menjalankan keputusannya. Melakukan hal-hal yang tidak bisa ia lakukan sendiri. Mereka hanya kepanjangan tangannya. Mereka sama sekali tidak bersalah.

Ia tidak tahu apa Roh Alam Semesta, atau lebih tepat lagi para leluhur penjaga tanah ini, mendengar permohonannya. Apakah kawanannya akan terbebas dari hukum ini? Atau justru, sepertinya, mereka juga sama: 'pengkhianat'?

Paul sudah mengkonfirmasinya. Hukum teritorial tidak hanya jatuh padanya, tapi juga pada seluruh kawanannya. Detik ketika Paul menginjakkan kaki di La Push, detik itu pula ia merasakan apa yang Sam rasakan. Rasa sakit. Siksaan dari dalam.

Itulah alasannya ia menyuruh kawanannya menyingkir, tak lagi menjejak tanah ini. Jika tanah ini tak menerimanya, mungkin masih ada kesempatan bagi mereka untuk tetap selamat di luar tanah Quileute. Tak bisa dibayangkannya orang-orang yang ia kasihi juga terikat hukum itu, ikut menanggung dosa-dosanya. Jared yang selalu setia mendampinginya sejak awal ia berubah, yang bahkan menolak menjadi Alfa bahkan walau darahnya lebih tinggi. Kepercayaan penuh Jared padanya dan rasa ringan yang ditularkannya sanggup mengatasi beban apapun, kekisruhan hati apapun, pergolakan batin apapun, yang bahkan tak sanggup diredakan Emily. Paul, yang meski temperamental, menghormati dan menjunjung tinggi segenap Titahnya tanpa ragu, tanpa pernah mempertanyakan. Jika Jared tangan kanannya, Paul tangan kirinya. Oh, Paul bahkan sudi melompat ke kerak neraka, melakukan hal sekotor apapun jika ia memintanya. Dan Leah. Leah yang ia cintai, sampai kini pun masih. Ia telah memberi banyak sekali kemalangan pada gadis itu, dan ia tak yakin rasa hampa dan bersalah yang ia rasakan beratus tahun pun akan sanggup membayarnya. Seolah belum cukup, ia bahkan menggerek Leah ke kubangan lumpur, ketika seharusnya Leah bisa lepas dari semua ini. Dan Leah masih punya cukup kesabaran—atau entah apa, ia bahkan tidak mengetahuinya dengan pasti; 'cinta'?—untuk menurutinya. Ia takkan mungkin membiarkan Leah juga ikut menderita sakit ini, tidak sedetik pun.

Tapi Paul terpaksa harus datang. Dan menderita karenanya. Ia tak boleh membiarkan Paul menderita lebih dari ini. Segera sesudah urusan ini selesai, ia harus mengirim Paul jauh. Sejauh-jauhnya. Meninggalkan tanah Quileute jauh di belakang.

Dan para Tetua…

Bagaimana mungkin ia menggerek mereka semua juga? Apa konsekuensi yang harus mereka terima? Benar, mereka bukan serigala. Hukum suku tidak mengikat mereka dalam cara seperti hukum itu mengikat para prajurit. Tapi bagaimana mereka harus menanggung rasa bersalah? Ia memaksa Billy mengkhianati putranya sendiri, Sue mengkhianati putra dan putrinya sekaligus, Old Quil mengkhianati cucunya… Ia menggerek mereka semua ke dalam lubang hitam, diselimuti kegelapan pekat yang tak menyisakan jalan untuk kembali…

Dan anak istrinya. Joshua dan Emily. Akankah mereka juga ikut menanggung dosanya? Emily selalu meyakinkannya, setiap kali batinnya goyah, bahwa itu adalah kewajiban. Ia selalu siap bersisian dengannya dalam suka dan duka, menempuh apapun. Tapi Joshua berbeda. Setiapkali melihat mata polos bocah lelaki itu, tak dapat terbendung pilu dan cemas menguasai hatinya. Joshua tak tahu apa-apa. Bocah lelaki 4 tahun itu punya masa depan. Ia tak ragu lagi akan meneruskan jejaknya, menjadi serigala. Apakah ketika hari itu datang, darahnya tetap akan terkutuk, mutlak karena kesalahan ayahnya? Apakah ia akan menjadi paria, terpisah dari tanahnya? Terpisah dari kawanannya? Akankah Alfa Quileute kelak, siapapun itu, memeranginya? Menganggapnya musuh, karena darahnya yang kotor?

Seperti Zacharias Black.

Seperti seluruh keturunan Zacharias. Tatiana. Korey. Ariana.

Seperti Korra…

Bisakah ia melindungi masa depan putranya?

Tegarkan hatimu, Sam Uley! tekannya pada diri sendiri, selalu dan selalu.

Ya, ini tetap harus dilakukan. Sudah kepalang tanggung. Tak ada jalan mundur lagi.

Lebih lagi ketika yang mereka tunggu-tunngu kian mendekat. Ancaman itu kian berwujud.

Selama ini ia bekerja di balik layar. Menempatkan semua orang pada posisinya. Jacob dan kawanan. Tetua. Korra. Memastikan operasional seluruh agen agar mereka bisa melakukan perannya masing-masing. Ia membuat banyak skema. Memetakan segalanya secara terperinci. Memprediksi. Menganalisa. Mengambil keputusan. Memastikan keputusannya berjalan.

Ia hanya cukup menekan tombol yang tepat.

Ya, ia sudah tahu sifat seluruh kawanan. Ia bisa memprediksi gerakan mereka. Jacob mungkin sulit dan sebagai Alfa, instingnya lumayan tajam. Ia tahu Jacob, atau minimal alam bawah sadarnya, sudah mencurigai rencananya. Tapi selama tak ada bukti nyata, Jacob masih belum menjadi ancaman berarti. Jacob bisa ia kendalikan, terlebih dengan sifat inferior dan ketakutan-ketakutannya bahwa ia tak bisa mencapai standar kepemimpinan yang dibebankan seluruh suku padanya. Ia bisa mengacaukan pertimbangan Jacob, dengan menempatkan Korra—yang berarti juga mengungkit seluruh dilemanya perkara masa lalu Billy—pada tempat yang sama. Membuat perhatian Jacob teralihkan. Sementara ia menopangkan seluruh kinerja kawanan pada rasionalitas Seth serta kepatuhan sekaligus kemampuan organisatoris Embry. Ia juga bisa mengendalikan Collin. Collin yang terpaksa duduk di bawah Jacob, tapi ia tahu masih menaruh hormat padanya. Collin bocah pembangkang, tapi ia tahu takkan bisa mengancam rencananya. Bahkan ia pion yang berharga. Tanpa tahu-menahu menyelundupkan satu-dua informasi. Sama seperti Josh, Collin juga agennya. Agen yang sangat penting, bahkan, mengingat ia adalah calon pewaris Jacob. Yang berarti bisa dimanfaatkannya guna mengendalikan tindakan Jacob jika sewaktu-waktu sang Alfa berbalik melawannya.

Itu tampak mudah. Tapi tidak. Selalu dan selalu ada hal yang tak bisa ia prediksi. Ada hal-hal yang ia abaikan, dan ternyata berkembang menjadi ancaman mengerikan. Selalu dan selalu ia mencoba mengambil langkah pencegahan. Tapi ia tak sempurna. Sama sekali tidak. Seringkali apa yang ia lakukan justru berbalik melawannya. Atau lebih sering lagi, ada hal-hal sepele yang justru mengacaukan seluruh rencananya.

Di antara semua hal bodoh itu, yang paling tak bisa ia prediksi, dan yang paling mengancamnya, adalah satu hal. Seth. Seth dan hubungan bocah sialan itu dengan Korra.

Korra selama ini menjadi pionnya yang patuh. Semula ia mengira akan sulit menggenggam Korra, mengingat ia juga harus menggenggam Kierra. Tapi ternyata tidak. Korra bertindak sangat sesuai dengan prediksinya. Ia begitu mudah bekerjasama, hingga bahkan ia curiga Kierra sengaja membiarkannya bekerjasama sementara menyimpan rencana tersembunyi. Namun hal itu tak perlu ia khawatirkan sekarang. Selama Kierra mau mendukungnya, rencananya aman.

Tapi yang mengacaukan semua adalah Seth. Cinta segitiga Seth-Korra-Collin, tepatnya. Collin, untungnya, hingga saat ini belum menjadi ancaman berarti secara personal. Tapi semua kacau setelah kehadiran Seth. Setelah ia mencium gelagat hubungan Korra dan Seth. Seth bisa jatuh dari posisinya, itu sama sekali di luar dugaan. Serangan di dasar jurang, itu juga satu dari rentetan kekacauan yang ditimbulkan Collin. Kawanan bisa sampai hancur seperti itu… Kawanan yang hancur sama sekali bukan sesuatu yang baik. Tak ada yang bisa ia kendalikan, tak ada apapun.

Selama ini, Seth dan rasionalitasnya adalah bidak yang penting untuk memastikan ia bisa mengendalikan Jacob, sekaligus juga mengendalikan kinerja kawanan. Seth adalah rem kunci yang memastikan Jacob bisa diterima di kawanan yang dulu, dan sampai sekarang pun, masih mengutuknya. Tapi Seth yang terlempar dari kawanan sepenuhnya tidak berguna, bahkan bisa menjadi ancaman menakutkan.

Ia tahu ia tak pernah bisa mengendalikan Seth. Bahkan dulu waktu Seth masih kecil, bocah itu sudah bisa berpikir dengan pertimbangan sendiri, bertindak sendiri, bahkan mampu mengangkangi Titahnya dengan mengikuti Jacob membelot pada klan vampir. Tapi lebih dari itu, yang ia takutkan adalah kemampuan persuasif Seth. Ia bisa menggenggam seluruh Black. Bukan jaminan hanya karena ada Kierra, ia tak bisa menggenggam Korra. Seth bisa berkembang menjadi jenderal di balik layar yang sama kuat dengannya. Jika Seth sampai tak sejalan dengannya, tidak, jika Seth sampai pada keputusan untuk mengarahkan Korra pada jalan yang lain, jalan yang tidak mendukungnya, itu bisa mengacaukan seluruh rencananya yang sudah disusun jauh-jauh hari.

Ya, kisah cinta segitiga mereka sungguh ancaman. Perasaan Korra pada Collin memang tidak jelas, tapi ia tak menduga itu sampai membuat Kierra tak bisa mengendalikan Korra hingga Korra mengamuk di depan Jacob. Membongkar topeng Paul dalam prosesnya, yang artinya menyingkap tentang mereka. Seolah belum cukup buruk, mendadak Korra menghubungi Seth perkara Collin. Jika Seth masuk ke dalam, tak ada jaminan ia tak bisa menghubungkan simpul-simpul yang selama ini jug asudah banyak yang terlepas, dan mengendus, atau lebih buruk lagi, membongkar semua rencananya. Bisa kacau jika Seth sampai menginfiltrasi kawanan Korra, mempengaruhi mereka. Tidak,yang lebih buruk adalah jika Seth sampai pada keputusan untuk menghancurkan kawanan Korra dari dalam, entah dengan cara licik apa. Seth mungkin takkan tega, tapi jika ia lebih mengedepankan pertimbangan logis, ditambah keputusasaannya, siapa tahu?

Sam mendesah berat, kembali memperhatikan sekeliling. Kierra berjanji akan bertemu dengannya di titik ini, tapi mana ia? Apa ada sesuatu yang menghalanginya datang?

Mendadak semak-semak di sisi timur bergemerisik dan Sam menarik napas lega begitu mencium bau samar Korra yang mendekat. Sebelum ia mencium bau lain yang menyertainya. Bau ancaman.

.


.

Sam membelalak begitu menyadari siapa gerangan yang mengikuti sosok Korra.

"Seth," desisnya tak bersahabat. "Sedang apa kau di sini?"

Seth hanya tersenyum masam. "Kierra sendiri yang membiarkanku ikut," katanya ringan.

Ucapan tenang Seth langsung membuat Sam berpaling pada Korra. Agak marah, jelas.

"Apa yang kaupikirkan, Kierra?" serunya. "Dia tidak boleh ada di sini!"

"Oh, tenang, Sam," Korra bicara dalam suara Kierra yang penuh kontrol. "Clearwater sudah tahu semuanya."

Dalam hati Seth menekur. Kierra memanggil Sam dengan nama depan, tapi dia—pasangan Korra—dengan nama belakang? Apa ia masih dianggap orang luar? Tapi dia sama sekali tak memprotes atau menampakkan wajah terpukul. Diam memperhatikan pertukaran pembicaraan antara Sam dan Kierra dari jauh.

"Kau membuka masalah ini pada Seth?!" suara Sam jelas tak suka.

"Ia berhasil menebak. Dan ia benar."

Sam masih berdesis. "Kau tahu ini tidak termasuk perjanjian," ia mengatakannya dengan nada yang sarat tuduhan.

"Ya, tapi tak ada bagian manapun dari kesepakatan yang menyatakan bahwa anggota kawanan Black, yang menjanjikan kesetiaannya pada inang saya, tidak boleh ditarik ke pihak kita."

"Apa maksudmu menjanjikan kesetiaan pada Korra?" sentak Sam.

"Seth pasangan Korra sekarang. Kau tahu siapa dia. Dan kesetiaannya memang sudah diberikan oleh Jacob. Saya rasa itu artinya kesetiaannya telah berpaling."

"Pasangan Korra?!" nada suara Sam meninggi, terlebih begitu ia mengendus bercampurnya bau dua sosok di hadapannya. "Apa maksudmu 'pasangan resmi'?"

"Benar," ucap Kierra pasti.

Sam segera mendelik pada Seth. Matanya penuh amarah, jelas, sekaligus juga, Seth menangkap, ada sedikit bersit kekecewaan.

—Kekecewaan?

"Kau tahu aku tidak percaya padanya, Kierra," Sam agak menggeram. "Ia bisa jadi di sini, sebagai mata-mata. Diimplantasi untuk menyelidiki. Atau lebih buruk lagi, sengaja berusaha mempenetrasi. Kau tahu apa yang terjadi denganmu dulu, yang dilakukan Kaliso. Tidak ada jaminan ia takkan melakukan itu. Dia Seth Clearwater, walau bagaimanapun. Otak kawanan. Ia bisa lebih licin dari lintah."

Kali ini Seth tidak tinggal diam. "Kau berusaha bilang aku akan berusaha menyakiti Korra, Sam? Korra? Ibu dari anakku?"

Sam langsung berpaling padanya. "Kau tahu anak itu takkan bisa ada!" bentaknya.

"Tetap tidak mengubah fakta bahwa ia ada dalam perutnya!" suara Seth tajam, tegas, dan mantap, membuat Sam makin menggeram. Di titik itu Seth menyeringai sinis. "Lebih licin dari lintah, heh? Apa itu bukannya dirimu sendiri? Berusaha mempenetrasi, heh? Bukankah itu kau, berusaha mengendalikan kawanan selama ini, mengendalikan Jacob bak boneka? Dan begitu ia melakukan kesalahan, kau berniat membuangnya begitu saja?"

Mendengar hinaan itu, Sam bergerak begitu cepat ke arah Seth, yang bergeming dan memasang topeng kaku. Menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menatap Sam tenang.

"Dengar kau, Seth," suara Sam rendah, tajam. "Aku tak tahu apa, tapi aku tahu kau punya rencana. Sekali kulihat kau berbuat sesuatu yang mengancam kami, kau mati."

Seth hanya mendengus, menyeringai kecil.

"Cukup," suara berwibawa Kierra menghentikan mereka. "Kuharap Anda bisa percaya pada saya, Sam. Seth berada dalam pengawasan saya. Jika Clearwater berbuat macam-macam yang mengancam kita, saya takkan peduli jika Korra menuntut atau apa, saya sendiri yang akan menghabisinya." Tak bisa tidak ucapan ini membuat bulu kuduk Seth meremang, tapi ia berusaha menahannya. Memasang topeng kaku yang sama. "Sekarang ini Korra membutuhkannya," lanjut Kierra, takzim. "Hanya itu pertimbangan saya untuk membiarkannya tinggal."

Sam tampak memandang berganti-ganti antara Seth dan Kierra, matanya tampak menyelidik. Sebelum akhirnya ia mendesah, mengangkat tangan. "Oke, terserah apa maumu, Kierra. Ia pasanganmu, kau yang bertanggung jawab atasnya."

"Tentu, Sam," angguk Kierra.

Topik itu pada akhirnya tenggelam, begitu Kierra menuntut alasan Sam memanggilnya ke tempat itu.

"Kami menemukan jejak Cole di lubang keluar di Zona 3," ucap Sam.

Seth tidak merasa perlu tahu apa yang dimaksud dengan 'kami', itu tidak penting sama sekali. 'Collin', ia bilang?

Tahu-tahu Korra membeku sejenak, dan kemudia sikap kaku nan anggun Kierra hilang sama sekali, digantikan sikap yang lebih lepas. Agak tak sabaran. Kelewat antusias, bahkan.

"Apa, Sam? Kaubilang kau menemukan Cole?"

Sam terhentak, agak mundur. "Ko, Korra? Ba, bagaimana kau bisa— Ma, mana Kierra?"

"Itu tidak penting, Sam! Bagaimana keadaan Cole?"

Sam masih berupaya mengumpulkan konsentrasinya sebelum menjawab dan tentunya hal itu tak luput dari perhatian Seth.

"Sejujurnya, kami belum benar-benar menemukan Cole. Tapi ada jejaknya, dan baunya. Ia telah keluar dari reruntuhan…"

Harapan muncul di benak Seth seperti juga ia lihat muncul di wajah Korra. Cole telah keluar... Ia selamat!

"Sam," mendadak terdengar suara dari balik pohon, memutus pembicaraan itu. Seth melirik untuk melihat ke arah pemilik suara yang sepertinya familiar.

Benar saja. Paul.

Ia sudah terbiasa dengan segala kejutan sehingga tak punya daya lagi untuk merasa kaget atau apapun.

Paul mendekat. Sama seperti Sam, ia kelihatan tidak suka melihat kehadiran Seth di belakang Korra. Tapi Seth berupaya tidak terlalu peduli dengan mimik muka Paul. Tidak juga ketika ia mencondongkan tubuh pada Sam, membisikkan sesuatu terlalu pelan hingga tak dapat didengar Seth. Sam mengangguk-angguk sesaat, lantas kembali bicara dengan Korra.

"Upacara pemakaman Cole Sabtu pagi," ucap Sam yang membuat Seth teringat kata-kata Embry. "Kita harus usahakan menemukan Cole maksimal Jumat, karena jika tidak, akan lebih susah menjelaskan pada masyarakat… Bukan berarti itu tidak bisa dilakukan, tapi jika surat-surat sudah diurus, akan lebih repot…"

"Ugh, jangan tolol, Sam," desis Seth yang membuat Sam mendelik. "Kau kan Tetua. Masa kau tidak bisa mengurus masalah administrasi negara? Menetapkan batasan waktu karena terbentur agenda yang seharusnya bisa kauubah? Yang benar saja!"

"Sudah!" teriak Korra. "Sam benar, memang harus ada batas waktu. Kita tak bisa membiarkan Cole di luar sendirian. Harus ada tindakan…"

"Tapi jika ia sudah keluar urusan beres, kan? Nanti juga ia pulang sendiri…," ucap Seth agak memancing, yang segera saja membuat Korra mendelik padanya dan Sam kelihatan makin berat hati. Benar saja, pikir Seth. Ada sesuatu yang salah dengan menghilangnya Cole…

"Masalahnya tidak sesederhana itu," ucap Sam. "Tadi Paul baru menemukan jejak baru Cole. Sepertinya ia pergi ke arah utara."

"Utara?"

Tanpa sadar dahi Seth berkerut. Utara? Untuk apa Cole malah pergi ke utara? Jika ia bisa keluar, bukankah seharusnya ia langsung pulang ke rumah? Langsung menuju barat?

Dan lebih dari apapun, ia sendiri beberapa kali menyisir Zona 2 bersama Phat. Kenapa ia sama sekali tak menemukan tanda-tanda Cole? Satu lagi, Zona 2 berada beberapa kilometer dari Zona 1. Benarkah kata Phat, jika Cole berhasil menemukan jalan, ia akan terus merangkak hingga mencapai jalan keluar? Karena ia tak mungkin bisa berubah di lorong sempit? Tapi Cole berhasil keluar sejauh itu? Dalam kondisi sangat lemah? Setelah tidak makan dan kekurangan oksigen setelah … berapa hari hingga kini? Lima, hampir enam hari? Bagaimana mungkin ia bisa bertahan?

Seth cepat menampar isi pertimbangannya sendiri. Tidak, tidak, bukan saatnya bersikap skeptis. Cole nyata telah keluar. Baunya telah tercium. Ia seharusnya bersyukur.

"Lalu kenapa kau tidak mengejarnya?" tuntutan itu tidak datang dari Seth, tapi dari Korra. Namun yang ditanya tidak langsung menjawab. Korra menatapnya dengan mata aneh, kekhawatiran dan ketakutan jelas terlihat. "Ada apa, Sam? Apa ada sesuatu dengan Cole? Apa ia tak bisa bertahan? Apa ia sudah…," ia tak bisa mengatakan lanjutannya tapi Seth tahu apa yang ada di pikiran Korra. Apa Cole sudah tewas?

Topeng Sam kelihatan makin berat ketika ia menjawab, "Jejak itu menghilang di separuh jalan…"

"Apa?"

"Kemungkinan disaputi bakat vampir, tapi aku tak tahu. Karenanya kami butuh bantuan Vajirunhis."

Korra mengangguk. "Aku akan memanggilnya," katanya.

Bagaimanapun Seth merasa ada yang salah di sini. Cole telah keluar dari reruntuhan tanpa bantuan. Dan pergi ke utara… itu saja sudah aneh. Lantas ia disaputi bakat vampir…

"Apa ia mungkin ditangkap? Atau diperdaya? Digerakkan oleh entah bakat apa?" dan kemungkinan-kemungkinan lain membanjir bagai air bah. Semua kemungkinan yang tak ingin ia pikirkan…

"Kami tidak tahu itu," jawab Sam. "Tapi yang jelas kita harus bergegas. Aku akan membawa kawananku menyisir barat laut. Bisakah kau membawa kawananmu ke utara, atau jika mungkin, ke timur laut?"

Korra kembali mengangguk, lantas sesaat ia seakan menghilang, sikap yang belakangan Seth pelajari sebagai kondisi trans ketika berusaha berkonsentrasi pada telepati dengan kawanan mereka.

Entah sudah berapa kali ia melihat hal seperti itu selama ini, hanya saja ia tak pernah sadar. Korra selalu berhubungan dengan kawanannya bahkan ketika mereka sedang berkencan? Astaga. Benar-benar memalukan. Apakah itu berarti semua agenda kencannya dengan Korra juga menjadi konsumsi publik? Ia tahu Korra pastinya bisa mengendalikan kemampuan koneksinya, tapi ia tak pernah bisa menyebut pasti kapan mereka terhubung dan kapan tidak. Bisa saja, semua sesi rayuannya, ciumannya, bahkan adegan-adegan yang seharusnya disensor, juga bisa diakses bebas oleh kawanan Korra… Terbuka di hadapan Kuroi… Seperti yang terjadi baru saja…

Di depan Kuroi…

Astaga. Fokus, Seth.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Korra kembali bicara, "Sepuluh menit lagi mereka sampai. Kami akan membagi dua kelompok. Seth dan Brady akan mengikuti Phat, sementara aku akan membawa Kuroi dan Noah," ia memutuskan seenaknya.

"Tunggu. Kenapa aku harus bersama Phat?" protes Seth yang langsung mendapat hadiah tatapan tajam Korra.

"Karena Noah masih belum cukup matang untuk bisa mengadakan koneksi dengan kawanan jika jarak kami terpisah jauh!" jelasnya. "Kita tetap butuh saling terhubung, dan kau tahu kau tidak bisa terhubung dengan kami. Kalian juga butuh pelacak di kawanan kalian. Aku tahu pendengaran dan otakmu bagus, tapi hidungmu tidak, kan? Atau kau ingin bersama Kuroi?"

Kesinisan Korra saat menyebut nama Kuroi membuat Seth tak bisa menahan diri untuk tak mendesah lelah. "Astaga, Korra… Bukan itu maksudku… Maksudku kenapa aku tidak bersamamu saja?"

"Karena aku butuh seseorang yang bisa bicara dengan Brady di kawanan sana!" Korra agak tidak sabar.

"Kalau begitu biarkan aku dan Brady mendampingimu. Kuroi dan Noah bisa bersama Phat."

"Tidak bisa," ujar Korra tegas. "Kuroi Jenderalku. Kami tidak terpisah dalam pertempuran."

"Oke kalau begitu," Seth memilih tidak mendebat, walau ia tahu argumen itu sangat-sangat aneh. "Tetap saja, menurutku kelompok tiga orang terlalu kecil jika kita memiliki kemungkinan akan berhadapan dengan lintah atau harus menyelamatkan Cole dari tangan mereka. Kenapa tak kaucoba hubungi Jacob dan kita membentuk pasukan gabungan? Dengan demikian jangkauan pencarian pun lebih luas dan kita bisa bersiap-siap jika terjadi perang dengan sisa-sisa lintah."

Korra dan Sam berpandangan. Dari wajahnya, Korra kelihatan sudah akan setuju. Tapi belum lagi ia buka mulut, Sam sudah menyambar, "Tidak."

Oh, brengsek Sam, maki Seth.

"Kita tak bisa melakukan itu sekarang, Korra," Sam terlihat memaksa. "Kau tahu seperti apa kakakmu. Akan terlalu sulit untuk menjelaskan, dan ada banyak kemungkinan yang kita tidak tahu. Ini akan menunda pencarian Cole."

Oh, ayolah, Sam… Masa iya kau mau mengemukakan argumen tidak jelas seperti itu? Tapi Seth diam saja dan memperhatikan. Ia perlu tahu sampai sejauh mana sebenarnya agenda Sam. Dan lebih penting lagi, cengkeramannya atas Korra.

"Menurutmu begitu?" kening Korra agak berkerut. Sam mengangguk. "Tapi kita punya Seth," Korra melirik ke arahnya. Seth merasakan secercah harapan, dan ia tersenyum menguatkan. Korra kembali berpaling pada Sam. "Jika Seth bisa menjadi mediator antara aku dan Kakak, ia mungkin bisa memberi penjelasan… Membuat Kakak mendukung kita. Dan lagi, ini semua demi Cole. Mungkin Kakakku akan bisa sedikit menurunkan kecurigaannya, dan memberi kesempatan…"

"Oke. Sudah berapa kesempatan yang pernah kaucoba untuk menghubungi kawanan Jacob, memangnya? Apa selalu berakhir baik? Bukankah ia sendiri yang selalu menanggapi dengan itikad buruk?" Sam bicara, yang di mata Seth tampak seakan ia sedang melancarkan hasutan.

"Tapi kali ini berhubungan dengan Cole… dan ada Seth… Seth orang kepercayaan Jacob," untungnya Korra tidak mentah-mentah menelan ucapan si ular itu.

Tapi bukan Sam namanya kalau begitu saja ia langsung mundur.

"Kalau kau perlu ingat lagi, Korra, Seth kini berada dalam daftar hitam kakakmu," katanya penuh penekanan. "Ia sudah dibuang dari kawanan, begitu yang kudengar. Dan menurutmu apa kakakmu tetap akan menerimanya jika tahu apa yang sudah Seth lakukan padamu? Kau tahu, Jacob menggunakan istilah 'menodai adiknya', dan juga 'bajingan brengsek tidak bertanggungjawab', jika apa yang kudengar dari Josh, yang dengar dari Ben, yang dengar dari Embry itu benar."

Sumpah, mendengar ini, rasanya darah Seth mendidih. Ingin ia merenggut batang pinus dan menyodokkannya ke mulut kotor berbisa Sam. Rasanya seakan Sam sendiri yang membuat berbagai rencana busuk untuk sengaja menjauhkan Seth dari Jacob. Kalau ia berpikir dan menilai keadaan dengan kepala dingin, sebenarnya, hal itu tidak mungkin terjadi. Masalah ini, yang berakhir pada pemblokadean Seth, hadir murni karena tumpukan kesalahan langkah Seth dan sama sekali tak mungkin ada keterlibatan Sam di baliknya. Hanya saja, yang membuatnya murka, tampak Sam memanfaatkan ini demi kepentingannya. Menjauhkan Korra dari Jacob, jelas.

Apakah selama ini juga, bibit busuk yang muncul antara Korra dan Jacob, bagaimana mereka tetap tidak bisa benar-benar akur—bahkan setelah tiga bulan dan jelas semua orang berupaya agar mereka bisa akrab sebagaimana seharusnya—diam-diam adalah hasil kerja Sam? Entah dengan cara apa, terus menghembuskan hasutan agar Korra terus memandang jelek pada kakaknya? Dan mengendalikan situasi yang membuat Jacob terus tak bisa dengan mudah menerima masa lalu ayahnya? Menjadi dalang di balik layar tanpa ketahuan?

Dengan cara apa?

Dan lebih penting lagi, untuk apa?

"Dan perlu juga kaupertimbangkan," ujar Sam lagi, "kau tahu hubungan Jacob dengan Cole tidak semanis madu. Mungkin kakakmu malah akan senang menyingkirkan Cole dari peta keseluruhan. Mungkin ia sendiri tidak ingin menyelamatkan Cole…"

Oke. Sam bisa bilang apa saja soal dia. Tapi tidak soal Cole. Terlebih mengungkit hubungan Jacob dan Cole dalam cara negatif? Itu tak bisa dibiarkan!

"Itu tidak benar, Korra," Seth tak bisa menahan diri lagi. "Memang hubungan mereka tegang, tapi Jacob tak mungkin ingin menyingkirkan Collin."

"Oya? Atas bukti apa?" Seth sangat sangat benci senyum Sam.

"Mereka saling sayang, demi Tuhan!" seru Seth.

"Kau selalu hidup dalam dunia penyangkalanmu sendiri, Seth…," Sam berkata tenang. "Siapapun jelas melihat, dengan mata kepala mereka sendiri, ketegangan di antara mereka. Collin satu-satunya yang paling sering mendapat Titah, heh? Kau seharusnya lihat sendiri, Collin membuat kawanan terpecah sesudah merebut takhta Beta. Pastinya Jacob lega Collin mati, karena bagaimanapun, satu biang kerok musnah... Satu yang paling mungkin mengkudetanya, pula…."

"Tutup mulutmu, Sam!"

Tak pernah Seth merasa semarah ini. Ia sudah maju, bergerak hendak menonjok makhluk berkepala dua itu—tidak, mungkin bukan berkepala dua tapi banyak, Lycra mengerikan—namun Paul menghadangnya.

"Kau serigala tolol," desis Seth. "Sampai kapan kau mau terus taklid buta pada Sam dan tidak menimbang kebenaran dengan kepalamu sendiri?!"

"Karena Sam benar, kau tahu," balas Paul tajam. "Jika kau berhenti melihat apa yang ada di luar dan berusaha menyelami, kau akan tahu semua yang dilakukan Sam bukan demi kepentingannya sendiri. Kau cerdas, Seth… Seharusnya kau tahu…"

"Tidak menepis kenyataan bahwa langkah yang ia tempuh selalu menimbulkan perpecahan!"

"Cukup," seru Korra. Meski tanpa suara Kierra, wibawanya rupanya cukup untuk menghentikan tiga serigala yang sudah siap saling serang di depannya. "Kalian mau bertengkar atau mau mencari Cole? Karena kalau kalian masih ingin berkelahi, sebaiknya kalian salurkan itu pada lintah-lintah yang mungkin mengerubungi Cole saat ini."

Memang ucapan Korra ada benarnya. Agak menggeram, ketiga serigala itu saling menarik diri. Setidaknya mencoba saling bertoleransimeski tak bisa dibilang bekerjasama.

"Oke," Korra kelihatannya puas. "Jadi kita segera saja jalankan rencana. Aku akan tetap terhubung dengan Sam dan Phat. Jadi Seth, kau ikuti saja Phat."

Seth tak punya cara lain selain mengangguk.

"Oke, masalah pembagian kelompok beres," ujar Sam. "Lalu apa kau sendiri siap, Korra?" tanya Sam yang membuat Seth mengerutkan kening. Mengapa Sam menanyakan kesiapan Korra?

Korra hanya mengangguk.

"Apa kau cukup stabil untuk dapat mempertahankan Kierra?"

"Kuharap," jawab Korra.

"Kapan terakhir kau berburu?"

Eh?

"Aku sudah makan lima hari lalu. Tidak sesuai yang kuinginkan tapi cukup. Dua hari lalu aku sempat berburu tapi rupanya makhluk itu belum makan, jadi aku tidak dapat apapun. Tapi kurasa aku masih bisa bertahan."

"Bahkan jika Cole terluka atau terpapar?"

Apa maksudnya?

"Ummm, yeah… Aku bisa tahan kalau itu Cole…" suara Korra agak tak yakin, tapi ada tekad di sana.

"Begitu? Tapi kurasa kita tak bisa mengambil resiko… Paul!" Sam mendadak memberi kode dan Paul pergi sebentar, kembali dengan dua botol di tangannya. Botol itu tertutup rapat dan permukaannya gelap, sehingga Seth tidak bisa mengetahui isinya. Ia bahkan tidak bisa mencium apapun.

Mata Korra tampak menggelap dan cuping hidungnya kembang kempis. Matanya terfokus pada botol-botol itu.

"Apa itu…," suaranya terdengar antusias. Dan Sam mengangguk.

"Tidak terlalu segar. Tapi stoknya ada lumayan banyak. Kurasa cukup untuk beberapa minggu jika kau bisa menahan diri," ujarnya.

"Tentu, tentu. Aku bisa, kok," tawa lebar tersungging di wajah Korra. "Oh, terima kasih banyak, Sam!" tanpa banyak bicara lagi Korra langsung menyambarnya, lantas pergi ke kerimbunan pepohonan.

"Oh, tunggu, Korra," panggil Sam. Korra berbalik. "Sebelum aku lupa, untuk berjaga-jaga," ia melemparkan sebuah paket yang Seth tidak tahu apa. Korra menangkapnya, mengucapkan terima kasih lagi, dan segera pergi. Seth sudah hampir mengejarnya, tapi Paul menahannya.

"Apa yang sebenarnya kauberikan padanya?" Seth membelalak nanar kala ia mencium selintas bau karat di udara dan menyadari apa yang sebenarnya muncul tepat di hadapannya. "Astaga. Kau memberi Korra darah…,"

Dan itu bukan darah sembarangan.

Ia bahkan tak bisa mengatakan itu. 'Darah manusia'…

"Oh, masa kau lupa kalau kekasihmu ditunggangi hibrida?" cibir Sam. "Pastinya itu yang ia butuhkan."

"Brengsek, Sam!" maki Seth. "Kau dulu yang memerintahkan menyerang keluarga Cullen ketika Bella mengandung hibrida… Dan mereka vegetarian! Kini kau memberi Korra minum … darah manusia…"

"Oh, jangan terlalu mendramatisasi, Seth… Itu hanya darah donor. Tidak ada yang terbunuh. Kau pastinya sudah terbiasa dengan si hibrida Cullen itu, jadi tak ada alasan untuk heboh."

Dengan ngeri Seth melontarkan pandangan ke kerimbunan pohon tempat Korra menyembunyikan diri. Mungkin jika tak ada dia, Korra takkan segan makan di situ, di depan Sam dan Paul. Mereka tampaknya tahu dan tidak keberatan sama sekali. Seth serigala paling berpandangan terbuka, ia sudah bilang sendiri. Sedari kecil tumbuh dikelilingi vampir beragam jenis dan hibrida. Kakak angkat, kakak tiri, kakak ipar, keponakan… Semua peminum darah dan ia bisa bertoleransi. Tapi kekasihnya… Adik Jacob… Meminum darah manusia…

Dan kini ia sadari ada sesuatu yang berbeda dari darah itu. Disaputi sesuatu yang berbeda. Bau yang aneh. Bau manis sekaligus pahit yang samar di antara bau amis berkarat…

"Darah apa itu?" tanyanya nanar, tidak pada siapapun. "Itu bukan cuma darah manusia… Apa yang kautambahkan di sana?" ia beralih menatap Sam. Apa yang mungkin ada? Apa akibatnya?

Matanya berubah nanar ketika kesadaran itu menerpanya.

"Apa kau menaruh racun, Sam?" bisiknya.

Sam tak menjawab.

"Apa kau menaruh racun?!" suaranya seketika meninggi. Diterjangnya Sam, namun Paul segera memitingnya bahkan sebelum ia sempat menyentuh ular itu. "Kau menaruh racun, ya kan?!" bentaknya, "Katakan Sam, apa kau berupaya meracuni Korra?! Brengsek! Lepaskan aku, Paul!" ia meronta, yang tak mendapat reaksi apapun selain Paul yang kian mengetatkan pitingannya.

Menggerung keras, Seth kembali berpaling ke arah hutan, masih berupaya membebaskan diri.

"Korra!" teriaknya. "Jangan minum! Sam menaruh—"

BUKK!

Seth jatuh tersungkur ke tanah ketika Sam menonjok ulu hatinya. Kontan ia terbatuk-batuk, memuntahkan darah dari mulutnya. Tapi mimpi buruknya baru saja dimulai. Menyadari Seth berupaya kembali bangkit, dan mungkin akan balas menyerang Sam, Paul segera melindungi atasannya, menyerang Seth bagai orang kesetanan. Ditendangkan kakinya ke perut Seth, berkali-kali, membuat pemuda itu kembali tersuruk. Dan Sam sama sekali tidak menahannya, hanya menatap tanpa ekspresi di balik topengnya yang tebal dan berat.

"Brengsek, Sam…," Seth berupaya bangkit, namun kembali jatuh. Darah masih membuncah. "Kau … apa yang kaulakukan … pada Korra…," ia kembali batuk. Beberapa tulang rusuknya patah, jelas. Tergeletak tak berdaya, ia hanya bisa mendelik tajam pada Sam, nada suaranya penuh tuduhan. "Kau ingin … membunuhnya…?"

Tapi Sam hanya mendengus. "Pikirkan lagi sebelum mengucapkan tuduhanmu, Seth. Ia hibrida. Ia bahkan kebal terhadap racun vampir. Apa menurutmu ada yang bisa meracuninya?"

"Tapi … kau…"

"Itu hanya yang ia butuhkan," Sam tersenyum. "Bayaran yang ia inginkan…"

Bayaran…

Itu bukan darah biasa.

Darah Black…

Darah Jacob…

"Bajingan kau, Sam…," geramnya di sela-sela batuk darah. "Kau melakukan … semua ini…. Apa kau tak tahu … konsekuensi perbuatanmu…?"

"Tentu aku tahu. Apa mungkin ada yang luput dari perhitunganku, Seth? Kau tahu seperti apa aku."

"Ya, aku tahu…," desis Seth. "Ular… berbisa…"

Dan tendangan itu kembali bersarang.

"Paul, sudah!" Titah Sam akhirnya turun. Paul menghentikan tendangan itu, meludah. Amarah menguasai dada Seth, tapi bahkan ia tidak bisa bangkit.

Menggantikan Paul yang mundur, Sam mendekat dan berjongkok di kepala Seth. Kata-katanya tajam dan dingin, mengancam.

"Kuberi peringatan, Clearwater! Jauhkan tanganmu dari urusan ini jika kau ingin selamat!" katanya sebelum bangkit dan melangkah pergi. Namun, mendadak, begitu mendadak, dirasanya sesuatu menghalangi langkahnya. Menggayuti kakinya.

"Siapa bilang kau bisa seenaknya pergi?" meski lemah, Seth masih bisa bertahan, melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan, menangkap pergelangan kaki Sam. "Kau duri dalam daging," desisnya pelan, lemah. "Kaulah ancaman sebenarnya suku ini, Sam Uley… Tidak hanya Jacob, bahkan kau berani menjadikan Kierra bonekamu… Apa sebenarnya … yang kaurencanakan…?"

Bukan hanya rencana melindungi suku, Seth kini menyadari. Sam merencanakan sesuatu yang lebih besar…

Apa itu?

Kekuasaan atas aliansi?

Begitukah?

Apa mungkin ia begitu haus kekuasaan?

Atau ada yang lain?

" 'Menjadikan seorang Maharani sebagai boneka'?" Sam menatapnya tenang, sama sekali tak terpengaruh tuduhan Seth. "Astaga, Seth, kurasa kau menganggapku terlalu tinggi…"

"Karena tak bisa … menganggapmu rendah, bukan, Jenderal?" Seth masih berusaha keras mempertahankan kesadaran di tengah dunia yang kian berputar. "Apa kau mengira … kau akan menang karena kaulah … uhuk, uhuk … satu-satunya dalang pengendali bidak di sini? Asal kautahu, ini bukan … permainan caturmu seorang…. Kau … uhuk, uhuk … bermain di pertandingan … uhuk, uhuk … yang takkan kaumenangkan…"

"'Pertandingan', eh?" kekeh Sam sinis. "Lantas apa kaukira ada yang akan bisa memainkan bidaknya lebih baik dariku? Siapa? Kau, Seth Clearwater?"

Tidak. Mungkin bukan aku. Mungkin malah Kierra…

"Kita … lihat saja…," bahkan dalam lemahnya yang kian menjadi-jadi, ia masih bisa membentuk senyum itu.

"Benar. Waktu yang akan memberi jawaban, Seth…," senyum balasan Sam tampak sangat mengerikan, sebelum ia menghentakkan kaki membebaskan diri dari cengkeraman Seth, menendang wajahnya.

Kepala Seth terhentak dalam satu hantaman keras itu. Darah membuncah ketika tak hanya rahangnya patah, tapi juga hidungnya hancur, dan wajahnya kembali tersungkur mencium lumpur. Kali ini bahkan tak bisa lagi mengangkat wajah.

"Waktu akan memberi jawaban…" didengarnya, samar, ucapan dingin Sam, sebelum kesadarannya sendiri menghilang.

.


.

Catatan:

Sedikit kilasan pikiran Sam. Maaf kalau jadinya malah ga jelas banget. Terus terang aku sendiri agak ga bisa menjelaskan lebih dari separuhnya. Aaaarrrghh…

Masih butuh perbaikan. Kalau ada waktu, aku akan memperbaiki ini lagi deh ntar.. hehehe…

Makasih beraaaaaaaaatttt untuk review chap lalu n yg masih setia aja ngikutin. Mungkin ada yang kesel kenapa Seth malah milih Korra... uhuuhuhuuu... maavvvv... Terus terang aku ga tega bikin Seth ninggalin Korra di titik ini. Setidaknya belum.

Rhie: mungkin bukan ada Cole, tp ada kabar soal Cole. Cole-nya kenapa? Bs tebak ga ni? hehehe... Heh? Ko bisa sih kebablasan bis? Chapternya bikin tidur ya?

Nabillaesa44: Jacob masi di rumah Cullen... eh, ngga, udah bangun sih sekarang... Ntar deh ada di chap berikutnya. Ato ga 2 chap ke depan. Tungguin aja ya...

Zean's Malfoy: makachiii... iya jd inget Aa Gym... Jacob cm ngomong sm Alfa Putih di kepalanya lewat jalur koneksi antarAlfa. Korra bareng Billy ko di sungai. Ada sih sekuelnya tapi masih dirapiin. aga ga jelas sih... tapi sebelum sekuel, yg ini aja belom kelar... hehehe...

Tetep ditunggu review untuk chap ini ya. Pertanyaan n kebingungan, saran, juga hujatan tetep diterima ko.

Luv u all