THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: Based on Stephenie Meyer's Twilight Saga.
.
.
72. Rest in Peace
Saturday, June 08, 2013
6:46 PM
.
.
Jacob duduk di tepi tempat tidur bersprei merah di kamar yang bukan miliknya. Kepalanya bersandar ke dinding sementara matanya memandang langit-langit yang kosong. Pikirannya entah ke mana.
Dipandangnya sekeliling. Kamar itu standar, biasa. Tidak ada satu pun yang aneh. Kamar cowok remaja pada umumnya. Dinding-dindingnya yang terbuat dari kayu tidak polos, dipenuhi poster artis idola yang memadati dinding hingga sebenarnya hampir tak menyisakan ruang sedikit pun. Sebuah kasur pegas tebal tanpa ranjang ukuran queen size menempel pada dinding itu, tempat kini Jacob duduk. Rak kayu pendek berada di sisinya, dipenuhi beragam barang—mulai dari buku-buku dan majalah di hambalan-hambalan bawah, hingga tape recorder, tumpukan CD, serta pigura-pigura foto, action figure, dan beberapa patung keramik yang dipajang di bagian atasnya. Diedarkan matanya ke sisi lain ruangan. Tampak rak yang lebih besar dipasang di dinding, dijejali aneka patung keramik, dalam beragam ukuran dan bentuk. Sebuah meja belajar berdiri di dekatnya, di depan sebuah jendela ukuran sedang. Buku-buku pelajaran tersusun rapi di sisi sebuah lampu belajar. Sungguh, mengingat siapa pemilik kamar ini, ia tak pernah menduga akan melihat sebuah meja dengan susunan buku serapi itu. Lebih lagi kala ia melihat benda lain. Satu mangkuk besar berada di ujung meja, berisi gulungan besar benang-benang rajut dalam nuansa hijau dan krem serta jarum-jarum haken, dekat sebuah kapstok vertikal dengan besi-besi melengkung yang bertengger di pojok kamar.
Dalam hati Jacob tersenyum melihat selembar karya rajut setengah jadi yang terpajang menggantung di kapstok itu. Syal hijau bergradasi dengan motif dedaunan bertumpuk… Sudah jelas ia tahu untuk siapa syal itu. Sayangnya ia yakin, di manapun orang itu berada kini, ia takkan pernah mendapatkan syal yang diperuntukkan baginya. Oh, bahkan syal itu pun tak pernah akan rampung…
Ia meraih sebuah pigura yang terpajang di atas rak. Pigura itu, sebagaimana beberapa pigura lain, memajang foto tiga orang dalam pose ceria. Seorang gadis yang memasang tampang aneh diapit dua pemuda, satu tertawa lebar dan satu lagi tersenyum. Entah digerakkan oleh apa, mendadak jemari Jacob menelusuri garis-garis senyum di wajah tiga orang itu. Satu orang yang sudah pergi, sedang dua lagi tak ketahuan di mana rimbanya … bahkan apa mereka masih hidup atau sudah ikut menyusul ke alam baka.
Dadanya terasa sesak kala memandang tawa di foto itu. Senyum di foto itu abadi, keceriaan yang akan bertahan selamanya. Sebagaimana foto itu, seperti itulah ketiga orang itu tetap terpatri di benak mereka. Ceria, bahagia, tak tersentuh apapun takdir buruk yang mengikat mereka. Walau kenyataan berkata sebaliknya.
Hari itu Sabtu, tepat seminggu setelah Collin terkubur di dasar jurang. Hari ketika mereka semua harus menyerah. Hari ketika layar harus ditutup, bahkan walau pertunjukan belum dan tak akan pernah dimulai.
"Jacob," suara serak seorang perempuan memanggilnya dari lantai bawah. "Turunlah Honey, sudah waktunya…"
Agak tergagap, Jacob kembali meletakkan pigura itu, menjawab, "Ya, Auntie…"
Bangkit dari tempat tidur, Jacob mematut dirinya di depan cermin. Menepuk-nepuk wajahnya, menghilangkan ekspresi nelangsa yang beberapa hari ini tergurat permanen di wajahnya. Merapikan rambutnya. Meluruskan kemeja hitam dan dasi yang ia pakai. Mengambil jasnya dari gantungan dan memakainya. Tak pernah dibayangkannya ia akan memakai busana seformal itu, atau bahkan datang ke tempat itu, tapi hari ini ia tak punya pilihan. Ia harus. Setidaknya hari ini ia harus bisa tersenyum, walau pilu menggerogoti hatinya hingga tak ada lagi cercah kebahagiaan sedikit pun yang tersisa di sana. Setidaknya ia harus melepas Cole dengan senyuman…
Diraihnya sebentuk mobil-mobilan tanah liat warna merah-biru yang tergeletak di tempat tidur. Mainan miliknya yang dulu diberikan Cole, dibuatnya sendiri dengan tangan-tangannya yang mungil, waktu usianya masih 5 tahun. Mobil yang selama ini selalu bertengger di raknya, kenangan tak terpisahkan dari memori indahnya bersama sepupu yang ia cintai. Kini seperti juga roh Collin yang kembali ke tempatnya berasal, ia akan mengembalikan mobil itu ke pemilik aslinya. Penciptanya.
Diletakkannya mobil-mobilan itu di rak, bersanding bersama patung-patung tanah liat lain. Sembilu mengiris-ngiris sisa apapun yang masih ada di hatinya, sementara dilihatnya wajah penuh senyum Collin menatapnya untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal, my dear Coley…," bisiknya ketika menutup daun pintu kamar Collin. "Semoga kau beristirahat dengan tenang, Kiddo… Maafkan aku dan … terima kasih…"
.
.
Tak pernah ada yang menduga, upacara pemakaman Collin dihadiri begitu banyak orang. Semua orang tahu betapa ceria dan bersahabatnya Collin, tapi tak ada yang pernah menduga bahwa kepergiannya akan mengundang tangis tak hanya kawanan, tapi juga seisi La Push.
Jacob berdiri diam di samping kursi roda ayahnya, memandang berkeliling lingkaran besar yang memutari lubang itu. Lubang yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Collin. Atau tepatnya monumen yang akan menjadi pengingat akan keberadaan saudaranya. Foto besar Collin terpampang di sisi peti mati. Foto wajah penuh tawa yang dihiasi rangkaian bunga lili merah. Bahkan walau itu upacara pemakaman, tak ada yang berani mendebat ketika ibu Collin justru memasang warna merah untuk seluruh perlengkapan upacara, mulai dari bunga hingga tirai penutup peti mati. Merah adalah warna kesukaan Collin dan semua orang tahu itu.
Di dekat foto itu tampak kedua orangtua Collin, Kevin Littlesea dan Cornelia Black-Littlesea. Auntie Connie menangis sesegukan, sementara Uncle Kev memeluk istrinya, berusaha menyabarkannya, walau jelas duka membayang di wajah pria paruh baya tersebut. Jacob tahu, dari ayahnya, begitu mendengar kabar jatuhnya Collin ke jurang dari Brady, kedua orangtua Collin terus mengupayakan pencarian anaknya, walau akhirnya harus menyerah begitu tak ada tanda-tanda ditemukannya Collin. Dan Jacob sungguh menyesal, bahkan sampai akhir pun, para Tetua tetap tidak bisa membongkar perihal Cole pada kedua orangtuanya.
Duka sama yang juga membayang di wajah kawanan. Ben dan Pete, sahabat-sahabat Collin. Quil dan kakeknya. Embry yang datang bersama ibunya. Adam dan Caleb. Josh. Bahkan juga Clark dan Harry, meski seumur-umur, tak pernah mereka memandang Collin tanpa tatapan sinis. Di sudut sana, Jacob juga melihat Sue Uley-Clearwater dan Charlie Swan. Tidak hanya sebagai Tetua, dahulu juga Sue termasuk bibi yang sangat disayangi Collin. Bahkan jika bukan karena tugas Dewan, pastinya ia datang demi keponakan kecilnya yang manis.
Namun di antara deretan para pengantar Collin, tak dilihatnya wajah dua orang. Dua orang yang paling berarti bagi Collin di antara lingkaran kerabat dan sahabatnya. Korra dan Brady.
Korra kabur bersama Paul dan Rachel, hingga kini pun tidak ketahuan keberadaannya. Sekarang Rachel ada di tempat Sam bersama Emily, tapi Paul dan Sam menghilang sejak Kamis dini hari, dan belum kembali hingga kini. Bersama Korra, kemungkinan besar, tapi Jacob tak bisa memastikan. Berulang kali Jacob menelepon mereka, mendatangi pondok itu langsung sejak ia diperbolehkan keluar oleh Adam dua hari lalu. Tapi jangan kata ia bisa langsung melihat batang hidung, atau minimal selintas bayangan ekor mereka. Kabar tentang mereka pun tak ia dapat. Dan dari kecemasan yang menghantui Rachel dan Emily, ia tahu mereka tidak menutup-nutupi apapun.
Tidak hanya Sam dan Paul yang hilang, sebenarnya. Brady dan Seth juga. Semula ia pikir Brady marah padanya, setelah ia menyetujui perintah Dewan untuk menghentikan pencarian Collin, ketika Embry melapor padanya bahwa Brady tidak muncul pada pertemuan kawanan Rabu sore. Tapi lantas Embry membawa kabar bahwa Seth meminta penyelidikan mengenai dua orang Black yang namanya seumur-umur baru ia dengar: Zacharias dan Tatiana, dan bahwa ia tahu kedua nama itu dari Brady. Tanda tanya langsung terpatri di benak Jacob: apa hubungan semua ini dengan Brady? Instingnya merasakan sesuatu yang salah, sehingga ia meminta Josh mencari tahu keberadaan Brady. Ponsel anak itu tidak aktif, dan akun Facebook maupun Twitter yang biasanya rajin ia update juga terlantar. Lebih parah daripada Cole, Brady maniak situs jejaring sosial dan biasanya ia selalu update status minimal dua jam sekali, tapi kali itu sudah beberapa hari ia bahkan tidak mengaksesnya. Usut punya usut, beberapa anak di sekolah sempat melihat Brady pergi bersama seseorang menaiki mobil putih. Mobil yang langsung ia hubungkan dengan seseorang yang juga menghilang. Seth.
Pilu segera saja menekan dadanya. Seth sudah pasti bukan anggota kawanannya lagi. Tapi Brady juga … menyeberang?
Embry menentang hal ini, berkata bahwa pada Rabu malam itu ia bisa mendengar suara Seth. Dan seandainya memang Seth akhirnya menyeberang sebagai efek Sumpah, walau Brady bersamanya, belum tentu Brady juga digerek ke kawanan lain. Tapi ketika Jacob berubah, mencoba menghubungi Seth keesokan harinya, tak pernah ia mendengar suara Seth lagi. Anak-anak dipaksanya berjaga bergantian selama 24 jam sehari, mencari tahu tanda-tanda keberadaan Seth dan Brady. Tapi tak ada apapun. Tidak ada selintas pun pikiran Seth maupun Brady tertangkap. Jacob sendiri berulang kali mencoba menghubungi Alfa Putih, atau Sam—kini setelah sudah jelas keterlibatannya dalam gerakan kawanan asing itu—tapi hasilnya sama saja: nihil.
Kelima orang itu lenyap ditelan bumi, sama seperti Cole.
Ia tak tahu bagaimana jika Korra ada di sini. Apakah adiknya akan berdiri di sisinya, menangis di pelukannya? Ataukah ia akan ada di sisi lain lubang, menatapnya dengan mata yang membara penuh dendam? Ia telah gagal melindungi Collin, dan bahkan menyerah kala berusaha menyelamatkannya. Apakah Korra akan memusuhinya?
Semua orang tahu betapa dekat hubungan mereka, hubungan yang bahkan melampaui ikatan saudara ataupun sahabat. Collin yang selalu ada di samping Korra, menemani dan membuatnya tertawa. Collin yang bertindak lebih sebagai kakak bagi Korra ketimbang dirinya. Collin, yang ia tahu, terang-terangan menyukai Korra. Collin yang panik bukan kepalang ketika Korra hilang, berhari-hari mencari Korra di hutan. Bahkan walau saat itu ia tak memerintahkan Collin untuk tak kembali jika tanpa adiknya, ia tahu Collin akan melakukan hal yang sama. Collin yang mencintai Korra. Collin yang dilihatnya, dengan mata kepala sendiri dan mata seluruh kawanan, hampir mencium Korra di halaman rumahnya, pada hari kepulangan Korra…
Bahkan hingga kini pun ia tak bisa mengerti hubungan mereka. Korra jelas-jelas berpacaran dengan Seth, tapi ia begitu kacau begitu tahu Cole lenyap. Mengamuk padanya dan pergi begitu saja, kemungkinan besar mencari Collin. Tak pernah ada kabar terdengar sejak saat itu. Bahkan walau Jacob menyisiri hutan setiap hari sejak Kamis. Bahkan walau ia menuntut para Tetua. Ia tahu Tetua pasti punya andil dalam kehadiran kawanan asing itu, kawanan Korra, di tanah Quileute, walau ia tak punya bukti dan tak bisa menunjuk pasti apa andil mereka. Tidak, tidak ada yang sanggup memberi informasi apapun. Dan keterlaluan sekali jika mereka menutup-nutupi di saat seperti ini.
Suara lamat-lamat pendeta yang menyudahi ceramah singkatnya , disusul koor pelan para pelayat, menyusup ke dalam kesadarannya. Mars kematian berkumandang, mengiringi peti mati yang diturunkan ke liang lahat. Sahabat-sahabat Collin, Ben dan Pete, ditambah Quil dan Embry, menggulung lengan kemeja hitam mereka untuk mengangkut kotak kayu coklat itu, menurunkannya ke lubang. Tak ada katrol atau tali. Ben dan Pete begitu ingin membawa peti mati Collin turun dengan tangan mereka sendiri, mengantar komandan mereka ke tempat peristirahatan terakhirnya. Meski kata 'tempat peristirahatan terakhir' tidak sepenuhnya benar. Peti itu, bagaimanapun, kosong. Tubuh Collin yang sebenarnya masih tertimbun di dasar jurang, entah apa ada yang bisa menunjuk persis letaknya untuk dapat menziarahinya. Makam itu hanya monumen. Liang kosong dan nisan beku yang hanya menunjukkan satu hal: kegagalannya.
Kegagalannya menimbang persoalan dengan benar. Kegagalannya mengambil keputusan. Kegagalannya melakukan rencana. Kegagalannya memimpin kawanan. Kegagalannya melindungi mereka. Kegagalannya melindungi suku.
Kegagalan yang berbuntut tewasnya saudaranya. Sepupunya. Pewarisnya.
Dan lebih lagi: membuatnya kehilangan semuanya. Adiknya. Seth. Mungkin juga kepercayaan kawanan kini.
Ia bahkan tidak bisa percaya pada dirinya sendiri.
Begitu peti mati sampai ke dasar lubang, keempat pengantar merayap kembali naik ke atas lubang. Para pelayat mulai melantunkan lagu kematian tradisional Quileute. Meski tak mengerti arti syair itu hampir separuhnya, Jacob ikut juga menyumbang suara. Irama ritmis meliuk-liuk membumbung mencapai langit, mengantarkan roh yang telah pergi dari jasadnya ke tempat seharusnya ia berada. Ia kini tak lagi menjadi bagian dari mereka yang hidup di Dunia Tengah. Ia telah terbebas dari kewajiban yang mengikatnya pada dunia maya bernama 'kehidupan'. Lepas dari tubuh kasar yang tidak sempurna, yang dapat sakit, menderita, terluka, dan membusuk. Kini ia mencapai bentuk sempurna: jiwa. Tak lagi terluka, tak lagi merasakan sakit dan derita. Telah tiba waktunya untuk pergi ke kediaman terakhirnya yang sempurna, duduk bersama para leluhur yang lain, mengawasi mereka dari Dunia Atas sana. Sesuai tradisi, satu per satu pelayat, mulai dari keluarga yang paling dekat, maju untuk melemparkan bunga ke peti mati, menjadi persembahan terakhir mereka pada tubuh yang dikembalikan pada dekapan Ibu Bumi.
Ketika tiba gilirannya, sungguh Jacob merasa lebih baik ia melawan Volturi ketimbang melakukannya. Ini akan menjadi segel, ketika artinya ia benar-benar melepas Collin. Tidak seperti keluarga yang lain, ia buru-buru melempar bunga itu, tak hendak berlama-lama berdiri di atas liang. Liang itu serasa kuburan baginya. Bukti kekalahannya. Seakan ialah yang dilemparkan ke sana, menunggu sekop demi sekop tanah menimbunnya.
Kembali ke sisi Billy, Jacob tak kuasa melihat tumpukan bunga yang kini menggunung di tutup peti mati Collin. Diedarkan lagi pandangannya merambah sekeliling. Namun ke manapun matanya pergi, selalu dan selalu perhatiannya tertumbuk pada foto besar itu. Tawa itu. Tawa yang selamanya akan membeku, sebagaimana mereka akan selalu mengenang Collin.
Collin mati sebagai pahlawan. Bagi mereka, setidaknya. Bukan remaja bandel yang jatuh ke jurang gara-gara mengebut dan akhirnya tertimbun longsor begitu ada gempa bumi, versi bodoh yang dipaksakan Dewan Suku pada masyarakat luas. Bukan remaja sakit cinta yang bunuh diri setelah kekasihnya memilih pria lain atau remaja yang dikhianati sahabatnya sendiri yang cemburu, seperti gosip yang beredar di luar. Bukan jenderal tanpa perhitungan yang membawa kawanan menyerbu sarang vampir dan membuat mereka kalah. Bukan prajurit putus asa yang bunuh diri. Tidak semua itu.
Collin Littlesea. Bocah bandel yang ceria. Anak yang jujur dan terus terang. Sahabat yang loyal. Serigala pemberani. Komandan yang cerdas.
Coret semua hal tentang Cole yang pembangkang, Cole yang selalu menentang perintahnya, Cole yang tak pernah akur dengannya. Cole tukang gosip menyebalkan. Coret semua itu.
Ia akan kembali menjadi Coley Litsey, saudaranya, sepupunya yang terbaik. Anak kecil yang berlari-lari di belakang rumahnya waktu Thanksgiving, menarik-narik tangannya agar ia mau mengambilkan kue di toples yang ditaruh di meja yang tak terjangkau tangan mungil dan tubuh pendeknya. Bocah manis yang bersamanya memilin tanah liat dan membuat mobil-mobilan, sampai wajahnya kotor penuh lumpur. Bocah yang tertawa riang di sisinya, berlari menyelusup di antara pepohonan, menyusuri hutan, mengumpulkan serangga, mencari jejak kelinci. Bocah yang bersamanya mengukir labu-labu untuk Halloween dan dengan ceria menempatkannya di halaman rumah, ribut menanti-nanti malam Halloween dan meracaukan apa yang akan ia pakai, tapi begitu hari itu tiba, ia langsung menangis melihat bayangannya sendiri di cermin.
Bocah yang diajaknya, bersama Seth, mengerjai kakak-kakak perempuan mereka, melumurkan racun kodok buntat atau menaruh serangga yang membuat Rachel, Rebecca, dan Leah menjerit-jerit, melempari mereka dengan kacang. Rebecca biasanya akan menangis, Rachel mengomel dan melaporkan kelakukan mereka kepada para orangtua, sedangkan Leah akan mengejar-ngejar mereka, menimpuki mereka dengan sepatu dan akhirnya menangkapi mereka satu per satu, mentang-mentang ia yang paling besar dan paling kuat. Memiting anak-anak kecil nakal itu dan menyeret mereka ke hadapan para orangtua yang marah. Seth akan menunduk patuh dan diam saja selama sesi omelan, tapi Cole akan menjerit meraung-raung, protes tak terima karena dimarahi, sehingga Jacob-lah yang ketiban sial harus menenangkannya.
Dan lantas pada malam hari ketika mereka dihukum kurungan rumah, Jacob akan menyelinap ke kamar Collin, karena bocah itu pastinya akan menangis semalaman hingga matanya merah dan bengkak. Jacob selalu harus menemaninya tidur, menepuk-nepuk bahunya sementara Collin bergelung rapat di sisinya, takut akan adanya monster yang keluar dari dalam lemari. Menyenandungkan lagu nina bobo hingga Coley kecil tertidur sambil menghisap jempolnya. Lalu begitu ia beranjak untuk kembali ke rumahnya, Coley sontak bangun dan menarik tangannya, bergumam, "Jakey jan'an pelgi…" dengan suara cadelnya. Meski matanya sayu dan mengantuk, ia tetap bisa mengeluarkan senjata puppy eyes yang begitu manis hingga Jacob tak tega dan kembali berbaring di sisi Collin, menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua dan mengeloninya hingga pagi. Meski itu membuatnya harus menerima detensi tambahan karena sang ayah tahu ia kabur dari kamarnya malam-malam. Tak apa selama ia bisa menemani Little Coley, adiknya yang manis.
Dan ia juga yang mengantar Coley pergi ke sekolah di hari pertamanya, berperan sebagai kakak sekaligus pelindung yang baik. Melotot pada siapapun anak nakal yang berani-beraninya mengejek Collin karena masih membawa kotak bekal ke sekolah, padahal semua teman-temannya sudah mendapat uang saku sendiri. Mengurus Collin yang sering menangis karena masih saja mengompol di celana hingga menginjak bangku sekolah dasar. Karena ada Collin, ia bisa bangkit dari keterpurukan setelah ibunya meninggal, sadar bahwa ada seseorang yang harus ia jaga, yang menjadikannya teladan. Karena ia harus kuat demi Collin.
Bahkan setelah Collin punya sahabat dekat sendiri, Noah dan Brady, Jacob masih berperan sebagai penjaganya dari jauh. Melerai setiap saat Collin terlibat perkelahian dengan siapapun bocah badung yang mengganggu temannya. Anak itu memang dari kecil sudah menunjukkan sifat sok-protektif, tapi sayangnya selalu kalah kalau berkelahi dengan anak-anak yang tubuhnya lebih besar. Jadilah Jacob harus turun tangan, mengancam anak-anak nakal itu supaya jangan berani-berani mengganggu sepupunya. Merawat luka-luka Collin, meski bocah badung itu ribut kalau ia bisa mengurusnya sendiri. Geleng-geleng kepala melihat sifat Collin yang aneh: keras kepala dan sok-kuat tapi cengeng di sisi lain. Menasehatinya agar jangan berkelahi, meski Collin selalu menentang balik, dan ujung-ujungnya malah mereka terlibat perang mulut. Menghibur Collin tiap kali ia kesal karena orangtuanya mengomelinya perihal nilai-nilai ulangannya yang buruk, memperbandingkannya dengan sepupu mereka, Little Ben yang jenius. Mengajari Collin kecil Matematika, pelajaran yang paling ia benci, meski ujung-ujungnya mereka malah asyik main Sega. Menertawakan Collin yang hampir selalu kalah. Lantas Cole yang tidak terima menendang Seganya dan akhirnya mereka malah baku hantam di kamar, sebelum entah Seth tiba-tiba masuk dan berusaha melerai—yang malah tanpa sengaja kena pukul, membuat mereka berhenti karena takut Seth kenapa-kenapa—atau Billy masuk dan mendetensi mereka karena berkelahi.
Dan ia juga yang mengejar Collin, berusaha menjelaskan, ketika Sam mengatakan padanya bahwa sepupu kesayangannya itu berubah jadi serigala saat usianya belum lagi genap 13 tahun. Berusaha menjangkau Collin yang panik bukan kepalang hingga Titah Sam saja tak mampu menjangkaunya, lari ketakutan hingga hampir mencapai Kanada. Dua hari ia ada di sisi Collin, berusaha menenangkannya, menjelaskan beragam hal pada anak kecil yang seharusnya belum waktunya mengalami semua itu. Menerangkan alasan di balik perubahannya. Menjawab ketakutan-ketakutan Collin. Memberi tahu cara agar ia bisa berubah balik. Hingga akhirnya ia bisa membawa Collin pulang, masih bingung tapi setidaknya tidak lagi ketakutan, karena sadar di dunia aneh tempatnya berada kini, ia tidak sendirian. Ia memiliki kawanan yang selalu sedia saling melindungi. Dan lebih lagi, ia memiliki Jacob, kakak sepupu yang selalu menyayanginya. Membimbing Collin mengendalikan amarah dan emosi, walau hingga kini pun tidak sempurna. Diam-diam menjauhkan Collin dari ancaman yang belum patut ia hadapi ketika serangan vampir baru terjadi. Melatih si serigala baru—walau soal ini ia harus memberi kredit pada Jared dan Paul, jelas mereka yang lebih sering menggantikan tugasnya melatih Collin sementara ia sibuk mengejar-ngejar Bella atau hanyut dalam kekisruhan hatinya selepas Bella pergi berbulan madu. Cole pun berupaya tak mengganggunya, ia toh sudah punya teman lain di kawanan: Seth, dan terutama Brady. Hingga akhirnya seiring waktu, Collin bisa memandang segalanya dengan cara yang positif—kelewat positif bahkan. Dengan mata kanak-kanaknya, ia bisa melihat kutukan itu sebagai berkah—tempatnya bisa menjadi tokoh superhero yang keren dan bermain dengan cara yang unik.
Ia ingat malam ketika ia pergi dari tanah Quileute setelah perselisihannya dengan Sam. Kala ia berbalik dari Sam, sempat dilihatnya mata sepupunya. Mata yang shock, sekaligus juga merasa terkhianati. Benak Collin sama sekali tak terbaca. Collin terlalu muda untuk mengerti, dan ia juga tak ingin Collin mengikuti jejaknya. Jadi ia pergi tanpa menoleh dua kali. Seth mengikutinya, tapi Cole tidak. Dan ia bersyukur Collin tetap di samping Sam. Sam pastinya akan melindungi Collin. Sam akan menggantikan perannya sebagai kakak Collin. Sam takkan membiarkan Collin menghadapi bahaya yang ia hadapi kala ia menempuh jalur itu: menjadi serigala yang terpisah dari kelompoknya. Menjadi pengkhianat.
Dan kala kawanan Sam menyerbu kediaman Cullen. Dilihatnya sosok coklat kemerahan Collin ikut menyerang. Kala itu dirasanya kemarahan pada Sam. Bagaimana mungkin Sam tega melakukan itu? Membiarkan anak kecil ikut serta dalam pertempuran? Pastinya Sam menurunkan Titah pada Collin untuk ikut bertempur, atau Cole terlalu kecil untuk membantah. Ia sendiri tahu betapa agresifnya Cole untuk dilihat tidak hanya sebagai anak bawang, tapi juga sebagai prajurit. Yang manapun, ia tahu Sam tidak punya pilihan. Tanpa Jacob, Leah, dan Seth, kekuatan Sam jika dikurangi dua anak kecil, plus Embry dan Quil yang pastinya menyerang separuh hati, hanyalah Jared dan Paul. Kalah jauh jika dibandingkan dengan keluarga Cullen. Dalam nanar dilihatnya Collin menyerang Alice. Alice mungkin kecil dan tampak lemah, tapi ia tahu pasti kekuatan Alice. Alice mungkin tak bisa memprediksi gerakan serigala, tapi tubuhnya yang mungil dan gerakannya yang lincah bisa saja menjadi ancaman. Tambah lagi, melawan seekor serigala yang belum matang? Tapi ketakutannya tidak terjadi. Keluarga Cullen jelas menahan diri untuk tak menyerang balik, dan akhirnya ia bisa menjangkau Sam. Menyelesaikan persoalan dengan jalan damai.
Ketika serangan Volturi terjadi, ia tahu ia tak bisa menahan Sam untuk menurunkan para serigala muda, lebih lagi hanya mengecualikan Collin. Takdir menertawakan mereka: tidak ada serigala baru yang usianya bahkan mencapai 15. Dan ia juga tak bisa terlalu terfokus pada urusan perlindungan anak-anak itu. Ia sendiri harus melindungi Renesmee. Ia harus memanfaatkan sumber daya apapun yang mungkin untuk melindungi Renesmee.
Dan setelah itu, pedih hatinya menyadari keadaan telah berubah sama sekali. Collin tak lagi melihatnya dengan pandangan yang sama seperti sebelum seluruh peristiwa itu terjadi. Di mata Collin, seperti juga mata hampir seluruh kawanan Sam, ia adalah penggunting dalam lipatan. Penyeberang.
Collin membencinya, itu sudah pasti. Tak lain, kakak sepupu yang ia sayangi dan hormati memilih mengabaikan suku, mengabaikan-nya, demi para lintah, musuh mereka. Di mata polos Collin, sudah jelas itu pengkhianatan tertinggi. Ia akan lebih membencinya ketimbang, misalnya, Embry-lah yang melakukan itu. Anak-anak baru di kawanan, Clark dan Harry, terus mengejeknya, mengatainya 'sepupu Black Si Pengkhianat Busuk', dan karenanya mungkin akan mengikuti jejak Seth, menyeberang ke kawanan 'anjing penjaga Cullen', menikam dari belakang. Dengan tegas Cole menentang pemikiran itu, berusaha membuktikan kesetiaannya pada Sam. Dan memang seumur-umur, tak pernah Jacob melihat Collin meragukan Sam. Sam baginya adalah Alfa tanpa cela. Menjunjung tinggi suku dibanding segalanya. Beda sekali dengan sepupunya yang selalu lebih mementingkan hal lain ketimbang kawanan itu. Mantan Beta kurang ajar yang berani-beraninya mengkudeta Sam, idolanya.
Aneh sekali semua bisa berubah begitu drastis dalam satu saat penentuan itu. Ketika Collin tak lagi menyayanginya. Ketika Cole malah berbalik memusuhinya. Paling frontal menentangnya, bahkan. Dan semua tak kembali seperti semula bahkan setelah Sam jelas-jelas melupakan semua, berusaha mengedepankan hubungan baik kedua kawanan, yang sejak kejadian itu saling memandang curiga satu sama lain. Tidak juga ketika Sam turun dan memaksa Jacob menggabungkan kedua kawanan. Ketika semua orang akhirnya mulai menerima Jacob, berkat kerja keras Seth, Collin masih saja selalu bersikap sinis. Semua orang bilang ia tidak akur dengan Collin karena insting agresi Alfa, tapi ia tahu benar: ia telah mengecewakan sepupunya.
Dan mungkin memang ia telah mengecewakan semua orang. Sam. Para Tetua. Seluruh kawanan. Ayahnya. Brady. Seth.
Ia Alfa yang payah.
Dilihatnya, dalam diam, ayahnya menyeka air mata yang jatuh di pipinya yang berkeriput, dan ketika ia mengalihkan pandangannya ke peti mati, dirasanya pandangannya berkabut. Matanya terasa panas, dan sesuatu yang hangat menyentuh pipinya. Tangannya terangkat dan jemarinya refleks menyentuh pipi itu. Keterkejutan yang aneh melanda dadanya, kala disadarinya pipinya basah.
Ia … menangis?
.
Lantunan lagu itu akhirnya usai. Menggantikan bunga yang tak lagi dilemparkan ke tutup peti mati Collin, kini sekop demi sekop tanah menimbun peti itu. Jacob menutup mata, tak ingin melihat lagi. Sudah cukup. Tak bisakah semua ini berhenti menyiksanya? Bisakah semua orang berhenti meratap, atau memandangnya dengan tatapan simpatik, karena ia telah kehilangan sepupu yang ia cintai? Karena mereka tak tahu apapun. Karena seharusnya ia tak mendapat simpati, tapi hujatan. Karena ia telah gagal. Karena ialah yang mengantar Cole ke sana. Karena ia yang membuat Cole menemui ajalnya. Karena ialah yang membunuh Collin…
Mendadak ia merasakan sesuatu. Kehadiran makhluk lain… Ia berpaling ke kanan, ke arah utara, ke balik kerimbunan pohon yang memisahkan lahan pemakaman itu dengan hutan yang pekat. Tidak kelihatan jelas, tapi ia tahu ada siluet sesosok tubuh di sana. Serigala. Berusaha menyembunyikan diri di balik tudung rapat pepohonan. Dan ia tahu siapa itu.
Serigala hitam.
Korra.
Serigala itu menyadari ia memperhatikan dan berpaling menatapnya. Jacob balas mengangguk samar dan serigala itu pun mundur, makin menyembunyikan diri, walau jelas masih mendaratkan perhatian pada kerumunan orang. Jacob segera mengembalikan perhatian ke pemakaman, sementara batinnya kini penuh perasaan yang berkecamuk.
Korra ada di sana, pikirnya.
Korra ada di sana, Korra mengikuti upacara pemakaman Collin.
Tentu saja Korra akan menghadiri pemakaman sahabatnya. Itu sahabatnya. Tapi masalahnya, mengapa Korra harus mengambil wujud serigala? Mengapa ia tidak muncul saja, agar ia bisa mengantar Collin dengan selayaknya? Masihkah Korra mendendam padanya, sehingga menjaga jarak? Apa yang akan terjadi setelah pemakaman ini berakhir? Jika ia menuju hutan, apakah Korra akan menyerangnya? Mencabik-cabiknya?
Tapi lebih dari itu, ada perasaan lain. Perasaan syukur. Lega. Seminggu sudah ia tak mendengar kabar apapun dari Korra, dan kini ia melihat sosoknya. Tak jelas memang ia melihat, sehingga ia tak bisa menilai apa adiknya tidak terluka atau apa. Entah apa yang terjadi selama ini hingga ia tak pulang-pulang, tapi kalau Korra sampai bisa muncul di sini, ia pastinya baik-baik saja. Dan mungkin, dengan kepulangan Korra, Seth dan Brady juga pulang…
Ya. Itu lebih penting kini. Masa bodoh jika Korra menuntut pertanggungjawabannya seperti ancamannya waktu itu. Korra bisa merebut takhta atas kawanan atau apapun. Masa bodoh jika kawanan Korra, si Alfa Putih itu, kelak menundukkannya dan menggantikan posisinya dengan Korra. Terserah. Asalkan Korra selamat. Asalkan adiknya baik-baik saja. Asalkan adiknya tidak terluka.
Ia tak ingin kehilangan adiknya. Tidak seperti ia telah kehilangan Collin…
.
.
Dering telepon mendadak berkumandang dan setiap pasang mata melirik ke arahnya. Jacob mengerjap, sadar teleponnyalah yang berbunyi. Memasang tampang memohon maaf, ia merogoh ke sakunya dan memencet tombol off sekenanya. Namun tak sampai beberapa menit kemudian, telepon keras kepala itu kembali berdering. Menahan gerutuannya, Jacob kembali memencet tombol off. Itu terjadi berulang-ulang hingga tak sadar ia menggeram.
Jacob baru akan mematikan ponselnya ketika menyadari sesuatu. Siapapun itu yang menelepon, pastinya tahu hari ini adalah hari pemakaman Collin. Kenalannya paling-paling hanya sebatas suku ini dan hari ini mereka semua berkumpul di tempat yang sama dengannya. Jacob bahkan sempat menitip pesan di telepon rumah keluarga Cullen di Alaska—saat itu tak ada yang mengangkat, mungkin mereka sedang berburu seperti biasa—agar tak ada yang mengganggunya selama pemakaman. Tapi jika ada telepon di saat seperti ini? Mungkinkah ini darurat?
Akhirnya Jacob memasang wajah minta maaf dan undur diri. Billy menatapnya dengan pandangan memperingatkan atas ketidaksopanannya, di saat seharusnya ia menjadi teladan yang baik, Alfa sekaligus Kepala Suku yang berwibawa. Kepala-kepala menoleh ke arahnya ketika ia menyibak kerumunan. Sebagian tampak prihatin, sebagian bingung, sebagian lain mencibir. Ia berusaha menutup mata atas pandangan mereka dan menjauh.
Jacob sudah separuh jalan mencapai batas hutan, meyakinkan diri bahwa ia sudah cukup jauh dari kerumunan orang dan telinga-telinga yang ingin tahu. Sekilas ia melirik ke arah tadi ia melihat Korra. Serigala hitam itu sudah tak ada kini. Ugh, itu bukan urusannya. Segera ia menarik ponselnya dari saku dan mengakses daftar panggilan. Sesaat dahinya mengernyit.
Telepon dari rumah?
Siapa yang meneleponnya dari rumah?
Rumahnya terkunci, jelas. Kunci rumah hanya dipegang olehnya dan Billy, ia sudah tak pernah menyimpan kunci serep di kotak perkakas lagi semenjak kejadian kuncinya diambil Collin waktu ia sekarat selepas diserang vampir beberapa bulan silam. Lalu siapa yang menelepon dari rumah?
Satu-satunya orang yang memegang kunci duplikat adalah…
—Korra?
Tapi Korra ada di sana… Menyaksikan pemakaman dalam wujud serigala…
Lalu siapa?
Pertanyaan akan selamanya hanya jadi pertanyaan jika tanpa tindakan. Tak menunggu apapun lagi, Jacob langsung saja menelepon balik.
"Halo?" terdengar suara pemuda di seberang sana, dan Jacob membelalak.
"Seth…?" tanyanya tidak yakin.
"Jacob!" seruan di sana tampak gembira. "Aku berusaha menghubungimu dari tadi, Man!"
"Aku di La Push Cemetery," ujar Jacob, agak mengernyit dengan nada suara Seth. Apa Seth tidak tahu hari ini pemakaman Collin? Collin sepupu Seth juga… Sahabatnya semasa kecil, dan Betanya. Oke, memang Beta yang telah mendepaknya, tapi pastinya Seth takkan begitu dendam hingga memutus segala hubungan dengan Collin kan? Tapi wajar saja Seth tidak tahu, ia menghilang sejak seminggu yang lalu… Tapi lebih daripada itu… "Ada urusan apa kau di rumahku, Seth?"
"Umm, maaf aku menerobos. Aku tahu kau tidak memperbolehkanku datang tapi…"
"Itu tidak penting. Sedang apa kau di sana?"
"Hei, aku membawa berita bagus. Kau segeralah ke sini."
Berita bagus? Soal adiknya yang sudah pulang? Oh ya, ia sudah tahu. Ia sudah melihatnya tadi. Apa lagi? Bahwa selama ini Seth ikut kabur bersama adiknya? Mereka berdua mencari Collin, tak menemukan apapun, tapi malah makin dekat satu sama lain sepanjang perjalanan itu? Ugh, tak usah begitu juga mereka sudah dekat… Lantas soal apa? Soal Seth akan melamar adiknya? Soal kehamilan adiknya? Soal ia akan menjadi paman?
Jacob berusaha menahan geramannya ketika berkata dingin, "Tidak bisa. Sudah kubilang, aku sedang ada acara pemakaman."
"Pemakaman?" suara Seth terdengar bingung.
Betul saja. Ia tidak tahu hari apa ini. Jangan-jangan dari tadi Seth mengiranya sedang menziarahi ibunya?
Bisa dirasanya campuran emosi menggunung cepat ketika ia mengatakan kalimat maut itu, "Hari ini pemakaman Cole…"
Jeda beberapa detik sebelum kemudian Seth berseru. Nadanya, anehnya, sangat riang.
"Kalau begitu sampaikan pada mereka semua untuk membubarkan semua orang! Pemakaman batal!"
Sungguh Jacob tak bisa lagi menahan geraman marahnya kali ini. Apa-apaan Seth? Apa ia mau bersikap tidak hormat di tengah suasana duka?
"Apa maksudmu, Seth?" tidak bisa ditahan nada dingin dan tajam dalam suaranya.
Tapi Seth tetap bereaksi santai. Sangat ceria, begitu antusias, malah, kala berujar, "Tidak ada pemakaman, Jake! Cole masih hidup!"
"A, apa?"
"Kami sudah pulang… Cole sudah pulang!"
.
.
Jacob mengendarai Rabbit bagai orang kesetanan. Mobilnya penuh. Di jok depan, Ben. Di jok belakang, tak kurang dari tiga orang: Pete, Caleb, dan Adam dengan tubuh raksasa mereka, dipaksa menjejali ruang yang seharusnya memang tidak ada. Tapi apa boleh buat, mereka tidak membawa mobil datang ke sana. Dan dengan banyaknya orang di pemakaman, yang mungkin akan berusaha mencari tahu apa yang mereka lakukan, Jacob tentu saja tak bisa mengambil resiko menyuruh mereka pergi ke hutan dan berlari ke rumahnya dalam wujud serigala.
Seperti juga mobilnya, otaknya penuh.
Setelah mendapat telepon dari Seth itu, ia langsung kembali ke pemakaman. Berlari. Berteriak-teriak untuk membubarkan pemakaman. Berkata bahwa Cole belum mati. Seharusnya ada banyak cara lain yang lebih wajar dan tidak terlalu membuat ribut—'berwibawa', dalam tanda kutip, mengingat siapa dia dan siapa ayahnya. Tapi dadanya sendiri sudah kelewat penuh dengan beragam perasaan sehingga tak dapat lagi berpikir, lebih lagi mencari cara lain. Alhasil Connie dan Kevin melotot, mungkin juga merasa terhina. Billy agak marah, sekaligus malu, jelas. Mungkin dipikirnya anaknya sudah gila, terbawa emosi dan kesedihannya akibat beban dan kehilangan yang melandanya beberapa bulan ini. Kawanan saling berpandangan dengan bingung. Para pelayat lain memasang beragam wajah yang sukar dideskripsikan, berdengung ribut. Itu sebelum ia bicara bahwa Seth-lah yang membawa berita itu. Sue langsung menyibak kerumunan, bertanya apa benar Seth-lah yang mengatakan padanya, apa benar Seth-nya sudah pulang. Anggukan Jacob langsung membuatnya melesat terbang, diikuti Charlie. Bahkan sebelum Jacob benar-benar sadar, cruiser Charlie sudah meluncur, membawa Billy bersama mereka. Akhirnya Jacob menyusul, membawa Ben, Pete, Adam, dan Caleb. Quil dan Embry berkata akan menyusul setelah mengantar Old Quil dan ibu Embry pulang. Sedangkan Harry dan Clark akan menumpang mobil keluarga Littlesea.
Dan di sanalah ia: di dalam Rabbit dengan empat orang lain, yang sejak awal masuk mobilnya juga sudah mendengung ribut.
"Seth bilang Cole pulang?"
"Yang benar saja! Apa maksudnya Seth berhasil menyelamatkan Collin?"
"Atau Cole berhasil keluar dan pulang sendiri?"
"Jadi selama ini Cole masih tertimbun di dasar jurang dan Seth berhasil menggalinya, atau bagaimana?"
"Bagaimana bisa Seth menerobos masuk rumahmu? Memangnya ia bawa kunci? Atau ia membobol pintu depan?"
"Apa Seth bersama Korra dan Brady juga?"
Jangan harap ia bisa tahu jawaban semua pertanyaan itu.
.
Pertanyaannya makin menggunung begitu ia sampai di rumah keluarga Black. Ia bahkan tiba lebih dulu ketimbang Sue dan Charlie. Ia ingat menyalip mobil mereka di tengah jalan. Mungkin setelah ini Charlie akan memberi surat tilang tapi ia tak mengkhawatirkan hal itu. Ia yakin di mobilnya, Charlie pasti sedang diteriaki Sue yang menyuruhnya menyetir lebih cepat.
Pintu depan terbuka, dan dari dalam ia bisa merasakan bau empat orang. Tak salah lagi, Seth, Cole, Brady, dan … Korra.
Korra ada di sini?
Tapi serigala hitam tadi…
Itu tidak penting. Di sini ada sesuatu yang membuatnya separuh gila hingga tak lagi bisa berpikir. Bau darah. Pekat. Merasakannya juga, Adam dan Caleb langsung berlari mendahuluinya, sementara ia masih membeku di pintu depan. Rasa takut akan menghadapi kenyataan membuatnya tak berani melangkah.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat bagian belakang kepala Seth, duduk di sofa ruang tengah. Tubuhnya tertutup punggung sofa yang menghadap ke arahnya. Tiga yang lain tidak terlihat. Seth tampak menjawab satu-dua pertanyaan Adam, lantas meneleng ke arahnya dan tersenyum begitu menyadari kedatangannya. Ia bahkan tidak bangkit atau apapun. Dan seketika beribu ketakutan membanjiri hati Jacob.
Apa Seth terluka hingga tak bisa bangkit?
Ke mana yang lain?
Apa yang lain terluka?
Oh, bahkan Adam dan Caleb tampak sibuk. Caleb menyambar kotak P3K yang memang terpasang di tembok ruang tengah, lantas menghilang di balik sofa. Adam berlutut di sisi Seth, sibuk melakukan entah-apa dengan perban di tangannya. Ben dan Pete segera ikut sibuk, disuruh-suruh bulak-balik mengambil air hangat dalam baskom, lap, dan entah apa lagi.
Berarti memang benar ada yang terluka.
Rasanya Jacob seakan melintasi adegan yang sama, tapi dengan ruang, waktu, dan pemain berbeda. Punggung sofa selalu menjadi tabir bagi kenyataan yang mengerikan. Tiga belas tahun lalu, ketika ia pulang dan mendapati ayahnya berada di sofa dengan posisi yang sama dengan seorang perempuan. Mereka berjauhan, dan gaya pembicaraan itu juga kasual, jadi seharusnya tidak ada aneh. Tapi begitu ia bangkit, terlihat bahwa ia memangku seorang anak kecil. Anak yang langsung membuat ibunya marah dan berujung pada kematian sang ibu. Atau adegan lima tahun lalu, ketika ia melintasi pintu rumah Cullen, menghadapi punggung sofa yang serupa, dengan Bella di sana. Bahagia membuncah mengisi dadanya melihat Bella masih berupa manusia, tapi begitu ia bangkit… sungguh seluruh dunianya hancur. Dan yang tidak lama terjadi, kala dilihatnya tubuh-tubuh penuh luka para prajurit di sofa-sofa keluarga Cullen, yang tumbang setelah pertempuran di jurang.
Sofa selalu menjadi tempat bersemayamnya kenyataan yang mengerikan.
Saat itu, selalu, ia merasakan secarik kelegaan dan harapan yang sama seperti sekarang. Bahwa orang yang dikasihinya selamat … ada di sana untuknya… Namun tak bisa ditutupi pertanyaan dan kekhawatiran di baliknya, bahwa ada semacam teror menanti di balik tabir itu. Dan lantas kenyataan tersingkap. Menghempaskannya hingga secarik harapan itu langsung musnah tak bersisa. Dan kini, ia dihadapkan pada situasi serupa. Seth di sana. Akankah kenyataan yang ada juga, sekali lagi, menamparnya? Akankah ia menghadapi sesuatu yang sama mengerikan, bahkan lebih?
Ia tidak siap.
Namun selamanya pertanyaan tetap akan jadi pertanyaan jika tanpa tindakan.
Diberanikan dirinya melangkah satu-satu. Walaupun ia belum siap, dan mungkin takkan pernah siap, ia tetap harus mengetahui kenyataan.
"Seth?" ia bertanya, sementara melangkah perlahan melintasi jarak antara pintu depan dan sofa. Jarak itu seakan berlipat, dan suasana di sekitar menekannya. Dinding-dinding menyempit, menghimpit. Kepalanya berdenging. Bau darah makin membuatnya pening, dan kini semua benda berpusing di sekelilingnya. "Kau…," ia menekan semua sensasi aneh itu, "tidak apa-apa?"
Seth menggeleng. "Tidak," senyumnya.
Tapi ia tak juga bangkit. Apa ia terluka parah? Apa ada sesuatu yang terjadi? Seth kehilangan kakinya, misalnya? Atau lebih parah dari itu… Adiknya… Collin… Brady… Apa yang terjadi dengan mereka?
"Seth!" serunya, panik. Tapi ketakutannya sendiri menahannya untuk mengucapkan pertanyaan itu.
Seth mengangkat satu tangannya yang tidak sedang digarap Adam. Menempelkannya ke bibirnya.
"Ssst… Jangan terlalu ribut," ia berbisik. "Ia sedang tidur sekarang…"
"Tidur?"
"Kau ke sinilah…"
Disadarinya ia sudah berhenti separuh jalan. Dan bahkan kini kakinya menolak untuk melangkah.
"Tidak ada sesuatu yang buruk," seakan membaca kekhawatirannya, dengan lembut Seth tersenyum menenangkan. Tentu saja Seth tahu apa traumanya, ia berulang kali memutar adegan itu selama mereka patroli di tanah Cullen dulu. "Aku berjanji. Mendekatlah."
Senyum itu menguatkan kakinya untuk bergerak. Dan begitu ia mendekati sofa, tahulah ia apa yang membuat Seth tak bisa bergerak. Korra bergelung di sofa. Kepalanya di pangkuan Seth.
"Lihat?" senyum Seth makin lembut. "Tidak ada hal buruk apapun jika kau berani melangkah, kan?"
Tapi Jacob tidak bisa tersenyum di titik itu. Bahkan juga tidak bisa bergerak. Berbeda dengan ketenangan yang berusaha ditampakkan Seth, kenyataan sebenarnya berbanding terbalik. Sekali lagi ketakutannya terbukti. Sofa memang menjadi tabir segala yang mengerikan.
Korra jelas bukannya tidak apa-apa. Ia hanya memakai gaun musim panas sederhana yang tak pernah Jacob lihat ia pakai sebelumnya, jadi Jacob bisa melihatnya. Tubuh Korra penuh baret-baret luka panjang. Sebagian besar memang sudah sembuh, hanya menyisakan garis merah muda. Tapi ada juga yang masih terbuka dan merah, meski tak mengeluarkan darah. Dan Jacob hanya bisa membayangkan apa yang terjadi hingga meninggalkan jejak seperti itu.
Dan di sisi lain, ia melihat yang lain. Brady terduduk di karpet, bersandar dengan kepala rebah ke sofa. Jelas ia tidur. Tubuhnya penuh luka tapi kelihatannya sudah dalam proses penyembuhan, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi yang membuat Jacob menahan napas adalah sosok terbaring yang sedang diurus Caleb di sofa.
Itu tubuh Collin, telanjang dan penuh luka. Caleb sedang membasuh luka-lukanya. Baskom dengan air yang ternoda merah tampak di kaki Caleb. Pekat, hingga Caleb harus bangkit untuk mengganti air itu. Dan kala Caleb berdiri, meninggalkan Collin, kala itulah Jacob bisa melihat seluruhnya. Luka-luka terbuka di tubuh sepupunya. Kaki dan tangan yang bengkok ke arah yang salah…
Seth memang harus menata ulang definisinya mengenai 'tidak ada hal buruk'.
"Apa yang … terjadi?" disadarinya suaranya bergetar.
Saat itu dirasanya sesuatu yang hangat menyentuhnya. Seth. Lagi dengan ketenangan yang sempurna.
"Tidak apa-apa, Jacob… Semua sudah berakhir."
"Tidak apa-apa apanya?!" suara Jacob meninggi. "Lihat apa yang terjadi!" ia memandang tangan kanan Seth yang kini terbalut perban dan dipasangi penyangga. "Kalian semua terluka!"
"Sssst… Jacob…" Belum lagi Seth menyelesaikan peringatannya, Korra mengerang dan menggeliat dalam tidurnya. Tangan Seth yang tidak diperban mengelus-elus rambutnya, berujar lembut, "Ssssh … Korey, Honey… Tidak apa-apa, kembalilah tidur…"
'Korey, Honey', dia bilang?
"Mmm… Sethie…," gumam Korra, masih menutup mata, "Bangunkan aku kalau Jacob sudah pulang…"
'Sethie'?
Jika dalam keadaan normal, pastinya Jacob langsung mengoyak-ngoyak Seth saat itu juga. Satu hal terkonfirmasi sudah. Dan Seth masih punya muka untuk muncul di depannya, bersikap seolah semua normal-normal saja… Tapi saat itu ia bahkan tak punya kekuatan untuk mengamuk. Batinnya penuh berbagai emosi yang asing, tapi aneh sekali, di antara berbagai tumpukan emosi itu, ia tak bisa menemukan apapun dalam dirinya untuk merasakan satu hal: amarah…
Bukan Seth, tapi Jacob yang menjawab, "Ya, Korra, aku di sini…"
Mendengar suara Jacob, sontak Korra membuka mata. Bangkit dari pangkuan Seth, duduk berlutut di sofa. Wajahnya agak pias, memandang berganti-ganti antara Seth dan kemudian Jacob dengan mata ketakutan.
—Ketakutan?
Korra, adiknya sendiri, takut padanya?
Wajar, kalau menimbang apa dan seperti apa selama ini dia… Apa yang gadis itu lakukan di belakangnya… Sementara di depan menampakkan wajah sok polos dan berusaha merebut cinta Billy, namun di balik itu menyimpan begitu banyak hal yang ia tak bisa percayai datang dari gadis kecil itu…
Anggota kawanan asing…
Berpacaran dengan Betanya…
Tiba-tiba mengamuk dan menghantamnya…
Belum lagi urusan hamil di usia yang masih terlalu muda…
"Ummm, Jake," ia memberikan tatapan agak marah pada Seth, yang hanya dibalas kekehan santai, lantas melirik Jacob sekilas dan menundukkan kepala. "Aku tidak tahu … kau datang…"
Jacob membeku di tempatnya berdiri, sungguh tak tahu harus bereaksi bagaimana. Apa yang harus ia lakukan? Datang dan merengkuh gadis itu? Bersyukur karena ia selamat? Bersyukur karena Seth dan Collin selamat? Marah dan menonjok Seth karena menyentuh adiknya? Mengamuk pada Seth yang tidak hanya sudah menodai adiknya, tapi juga tanpa pemberitahuan malah bergabung dengan kawanan lain dan kini masih punya nyali untuk menampakkan diri di depannya? Bersikap sebagai kakak yang tegas dan menghukum Korra dengan kurungan rumah hingga usianya 40 nanti? Bersikap sebagai Alfa yang penuh kuasa dan menendang mereka berdua keluar dari tanahnya? Menggerek Korra keluar dan memaksanya menunjukkan identitas aslinya, menyiksanya kalau perlu, agar kawanannya datang dan ia bisa menyudahi semua? Bertarung dengan si Alfa Putih dan membunuhnya untuk mendapatkan Korra kembali?
Ia bahkan tak tahu apa yang ia lakukan, atau apa yang membuatnya melakukan itu, ketika mendadak ia merengkuh jarak antara ia dan Korra. Dan belum lagi ia sadar, tangannya sudah terulur menjangkau Korra. Korra juga sesaat membeku, tidak tahu apa yang akan dilakukan kakaknya, ketika tahu-tahu Jacob mencengkeram kedua bahu gadis itu, merenggutnya dari sofa, memaksanya berdiri. Seakan belum cukup, ia mengguncang-guncang tubuh itu dengan kasar. Membuat Korra mengaduh kesakitan dan Seth, yang sama sekali tak menduga gerakan Alfanya, berteriak memanggil namanya dengan panik, berusaha memisahkan mereka berdua. Tapi Jacob sama sekali tak menaruh peduli, perhatiannya total diarahkan hanya pada Korra.
"Apa yang kaupikir kaulakukan, Nona?!" serunya tepat di depan wajah Korra, "Sampai kapan kau mau terus melakukan hal ini?! Apa kau mau membunuhku, heh?!" ia makin keras mengguncang tubuh adiknya. Cengkeramannya mungkin akan berbekas tapi bahkan ia tak peduli.
"Aduh! Sakit, Jake…," rintih Korra.
"Jacob! Hentikan! Jangan sakiti dia!"
"Diam kau, Seth!" bentak Jacob, lengkap dengan gaung Alfa yang membuat Seth membeku di tempat. "Dan kalian, jangan ikut campur!" serunya pada Adam dan Caleb yang sudah bangkit, siap membela Seth.
Kembali ia berpaling pada Korra, berujar dingin.
"Aku berulang kali menghubungi Alfamu, tidak ada jawaban sama sekali! Kaupikir aku mau terus-terusan ada di posisi ini? Menurutmu kau dan kawananmu bisa melakukan segala hal seenak perutmu di tanahku?!" tanpa sadar ia berteriak.
"Kakak…," Korra masih merintih, dan betapa benci Jacob mendengar kata 'kakak' keluar dari mulut kotor gadis manipulator itu. "Apa yang kaukatakan? Lepaskan aku…,"
Gadis itu berusaha meronta tapi tak mendapat apapun selain tangan Jacob yang kian kuat mencengkeramnya.
"Ampun, Kak… Sakiiiittt~!" terdengar bunyi derak, dan Korra makin keras mengaduh. Menjerit kesakitan.
"Jangan berpura-pura lagi!" bentakan Jacob menutupi jeritan itu. "Aku tahu kau tidak mungkin bisa merasa sakit!"
"Jacob… kumohon…," rengeknya. Air mata mulai membayang di mata gadis itu dan di titik itulah Jacob benar-benar merasa kalap. Jijik. Bahkan tanpa disadarinya benar-benar, ia sudah menjauhkan tubuh itu darinya. Mendorong, tepatnya. Tanpa mengurangi tenaga. Tubuh mungil Korra terhentak oleh tenaga sang kakak, melayang sekian meter, sebelum terhempas menabrak dinding. Menjatuhkan beberapa pajangan ukir yang menghiasi dinding, memecahkannya.
Melihat tubuh adik kecilnya terbanting tanpa perlawanan dan jatuh bak seonggok karung, sebersit perasaan aneh muncul di dada Jacob. Menyesal? Tidak… Ini lebih seperti … ketidakmengertian.
"Korra!" teriak Seth, akhirnya berhasil lepas dari jerat Titah begitu melihat kekasihnya tersuruk di lantai, meringkuk dan merintih. Dengan kecepatan kilat ia sudah melayang menuju Korra, berlutut memeriksa kondisinya. Korra bergayut di lengannya, berupaya bangkit dengan susah payah, tapi terus gagal dan akhirnya ia hanya bisa bersimpuh. Tampak demikian lemah dan rapuh. Sebelah tangannya menutupi lengan atas yang tadi dicengkeram Jacob. Kepalanya menggeleng lemah begitu Seth ingin melihatnya, berkata bahwa ia tidak apa-apa, tapi matanya mengkhianatinya. Tidak mungkin ia tidak apa-apa, dengan perlakuan kasar seekor serigala seperti itu. Setidaknya pastinya ia memar, atau malah mungkin tulang lengan atasnya remuk atau sendi bahunya terlepas. Kayu-kayu pajangan yang hancur menyayat kulitnya, sebagian menancap. Menambah baret-baret luka terbuka di kulit yang memang sudah tidak mulus lagi.
Seth segera berpaling pada Jacob. Ketidakpercayaan sekaligus amarah membayang di matanya.
"Apa yang kaulakukan, Jake?! Teganya kau menyakiti adikmu sendiri?! Bagaimana mungkin kau bisa menjadi begini kejam?!"
Kata-kata itu menusuk Jacob bagai tombak beracun.
"Apa?!" teriaknya, maju, seakan hendak menyerang Seth. Pada saat yang sama Ben dan Pete melesat meringkusnya, menahan tubuhnya, tapi Jacob masih sanggup mendamprat. "Kejam kaubilang?! Katakan siapa yang kejam, aku atau anak buah si penjajah itu?!"
Benci sungguh Jacob pada gadis itu. Apa lagi yang ia lakukan kini? Berpura-pura lemah dan tak berdaya? Siapapun tahu betapa kuat ia. Ia menjatuhkan Quil dan Josh, demi Tuhan! Quil, serigala senior! Josh, yang meski adalah serigala termuda, tapi kekuatannya juga tak bisa diremehkan! Dan lebih lagi, ia bisa menghempaskan Jacob ke dinding! Ia, Jacob, Sang Alfa. Dan sebelumnya pun, ia bisa menjatuhkan Noah, calon shifter yang dari awal juga bertubuh besar dan kuat. Di hutan, menjatuhkan Brady… Dan dengan menimbang ia adalah serigala hitam, entah berapa lintah yang berhasil dikalahkannya.
Tapi kini ia di sana, menggayuti punggung Seth, bersikap seolah Jacob telah menyiksanya.
Dasar setan licik! Sok mengeksploitasi kelemahannya! Selalu dan selalu menjadikan Jacob sebagai kakak tiri yang keji dan sadis, sementara dirinya sendiri Cinderella malang… Dan kini apa? Ia mau menarik simpati sang pangeran tampan berkuda putih?
Astaga, bagaimana mungkin Seth tidak tahu siapa pacarnya? Bukankah ia mengikuti kawanan musuh itu berhari-hari? Seharusnya ia sudah tahu…
Dia serigala hitam, demi Tuhan!
Korra merintih, menurunkan tangannya yang sejak tadi memegangi lengannya sendiri. Jacob bisa melihat, bekas memar biru kemerahan di sana. Cap tangannya waktu ia mencengkeram Korra. Sesaat rasa sesal terbit di hatinya, yang segera dihapusnya saat itu juga.
Ia serigala. Memar itu takkan bertahan lebih dari semenit… Lihat saja, sesaat lagi juga ia akan sembuh.
—Benar, kan?
Korra … serigala, kan?
Entah mengapa ada keraguan menyelinap di dasar hatinya. Benarkah Korra serigala hitam? Serigala hitam dilihatnya di pemakaman Collin, dan ketika ia pulang, Korra sedang tertidur di pangkuan Seth. Mana mungkin ia buru-buru kembali dan langsung saja pasang aksi? Untuk apa?
Tapi kalau bukan serigala hitam, mana mungkin … Korra si Alfa Putih? Itu malah lebih tak mungkin kan?
Tapi kalau bukan … Korra siapa? Serigala yang lain? Atau bahkan belum menjadi serigala?
Ia sungguh tak tahu jawabannya.
Tapi memangnya ia perlu tahu? Bocah itu manipulator licik mengerikan… Tak hanya merebut cinta sang ayah, kini juga merebut Betanya… Merebut Cole dan Brady…
Seth mendelik marah, menggeram pada sang Alfa, tapi masih punya cukup kesadaran untuk tak mengkonfrontasi lebih jauh. Dengan lembut ia mencabuti serpihan-serpihan kayu yang menancap di tubuh kekasihnya, menyabarkan tiap Korra meringis dan mengaduh, lantas berusaha membimbing Korra bangkit. Gadis itu susah payah berusaha berdiri, menopangkan tubuhnya pada pemuda itu. Sesekali kembali tersuruk, tapi akhirnya bisa juga ia berdiri. Dan saat itulah mata Seth maupun Jacob membeliak nanar.
Bagian bawah gaun musim panas Korra bagai dicelup warna merah tua. Segaris darah tampak di antara kedua kakinya, mengalir vertikal, membentuk genangan merah di lantai. Seth begitu cepat berpaling pada Jacob. Matanya berkilat-kilat penuh amarah. Tubuhnya bergetar hebat.
"Kau … membunuh … anakku!"
Dan dengan auman nyalang ia menerjang. Tubuh serigala coklat pasir itu melayang sedetik di ruang tengah keluarga Black, sebelum menerkam sang Alfa, menghempaskannya hingga menabrak sofa yang segera hancur berkeping-keping. Ia bahkan tak memberi kesempatan Jacob untuk berubah, langsung menarik putus kepalanya…
.
.
"Jacob?" suara Seth menghentaknya.
Jacob mengerjap.
Kesadaran menerpa ketika segala di sekitarnya berpusing dan segala benda kembali mengambil bentuknya yang utuh. Ia kembali ke dunia nyata. Adiknya masih memandangnya dari sofa, wajahnya agak takut-takut tapi terlihat emosi lain. Khawatir. Kekhawatiran yang sama yang ada di mata Seth.
Apa itu tadi? Bayangan mengerikan apa tadi? Ia … menyakiti adiknya? Bagaimana bisa ia melakukan itu? Tidak mungkin, kan? Siapapun dia. Serigala atau bukan. Kawanan lain atau bukan. Itu adiknya.
Ia tak lagi tahu apa yang menggerakkannya ketika ia merengkuh jarak antara ia dan Korra. Mencengkeram kedua bahu gadis itu. Mengguncangnya.
"Apa yang kaupikir kaulakukan, Nona?! Apa kau mau membunuhku, heh?!" serunya, kian keras mengguncang tubuh Korra.
"Kak, sakit…," rintih gadis itu.
"Jacob!" seru Seth, bergerak hendak memisahkan sang Alfa dan gadisnya. "Hentikan! Kau menyakitinya!"
Deja-vu kah ini?
Sungguhkah ia akan menyakiti Korra?
"Aku berulang kali menghubungi Alfamu, tidak ada jawaban sama sekali!" tak bisa ditahannya emosi itu membludak dari dalam dadanya. "Kenapa kau harus selalu pergi dan menghilang?!" serunya, yang membuat Korra membelalak dan Seth terpaku.
'Pergi dan menghilang'?
"Oh Tuhan," cengkeraman Jacob mengendur. Bahkan tanpa disadarinya benar-benar, ia sudah merengkuh Korra, membawa kepala gadis itu ke dadanya. Memeluknya erat. "Astaga Korra, maafkan aku… Kau tahu betapa panik aku setiap kali kau menghilang tanpa kabar? Aku benar-benar kena serangan jantung, kau tahu… Kumohon jangan lakukan itu lagi…"
Dilepasnya rengkuhannya atas Korra. Gadis itu masih membeku, memandangnya bagai melihat hantu. Begitu ia melirik ke sisi, dilihatnya Seth juga sama bekunya dengan sang adik. Sebelum kemudian wajah itu melembut, dan—begitu bencinya Jacob—Seth tersenyum.
Tak bisa tidak ia menggeram.
"Ini belum selesai, Mr. Clearwater…," desisnya tajam, penuh penekanan. "Kau harus tetap menjelaskan! Dari A sampai Z, lengkap dengan titik koma dan seluruh tanda baca! Sedetail dan selengkap mungkin!"
Senyum Seth makin lebar.
"Siap," katanya sigap, tapi ringan.
"Kau, Miss Black," ia beralih pada adiknya. "Detensi seminggu. Tidak boleh keluar rumah kecuali ke sekolah. Tidak boleh mengeluyur sepulang sekolah, lebih lagi menginap. Bahkan tidak di rumah Seth. Tidak, terutama tidak di rumah Seth. Dan Seth," ia beralih memandang calon adik iparnya yang mendadak mengejit seolah Jacob telah melontarkan tatapan maut yang lebih berbahaya daripada mata Medusa Sam. "Mulai hari ini aku memberlakukan jam malam. Kau tidak boleh bersama Korra lebih dari jam 10!"
"Tapi…"
Bukan Seth yang memprotes, tapi Korra. Tapi belum lagi kalimat itu selesai, Jacob sudah memotong.
"Tidak ada kata 'tapi', Nona!" tekannya dengan otoritas tunggal. "Aku tak peduli siapa kau, dan aku tak mau mengurusinya juga. Yang jelas di rumah ini aku kakakmu, jadi kau harus tetap menurutiku. Aku tidak mau dengar alasan apapun. Kalau kau keberatan, suruh Alfamu menghadapku."
Korra dan Seth berpandangan, bertukar pembicaraan dalam diam, tapi Jacob bisa membaca apa yang ada di sana. Bingung, sudah pasti.
Tapi kemudian Korra kembali menghadapnya. Ada senyum di bibirnya kala mengangguk patuh, "Baik, Kak." Ia bahkan tak lagi memprotes apapun.
Dan tak bisa lagi Jacob menahannya. Menarik Korra ke dalam rengkuhannya. Menghirup dalam-dalam aroma gadis itu, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah nyata. Dan ketika Seth mundur perlahan, siap memberi ruang pada dua kakak beradik itu, tahu-tahu Jacob juga menariknya. Memeluknya dalam pelukan yang sama bersama Korra.
"Oh Roh Alam Semesta…," bisiknya di rambut keduanya. "Terima kasih kau telah membawa mereka kembali…"
Dipejamkannya matanya rapat-rapat kala batinnya terus mengumandangkan syukur, dan hatinya terus menguatkan satu tekad.
Mereka yang dikasihinya telah kembali. Korra, Collin, Seth, Brady… Ia telah mendapatkan kesempatan kedua. Ia takkan melepaskannya lagi…
.
.
Catatan:
Yuppie…
Maaf aku malah lompat timeline-nya, dan malah mungkin akan ada beberapa flashback sesudah ini. Memang ada alasan untuk ini, sih… Hehehe… Yaitu ga ada ide /plakk
Boong deng… xixixi… Masalahnya ada ide tapi aku jadi takut dengan konsekuensi ide itu /dzinggg… sama aja, bodoh!
Ngga, ngga, aku ga bisa cerita dulu di titik ini. Harus ada triggernya, soalnya emg ngelompat banget, harus dibangun dulu jembatannya…
Apa bener kata Seth, semua sudah berakhir?
Nah selanjutnya, terserah reader deh, mau ditamatin dulu, dan mungkin aku bakal mikir2 apa aku bakal nerusin sekuelnya ato ngga, ato mau aku lanjutin?
Makasih yang masih setia aja ngikutin sampai sini, apalagi yang nyempetin ripiu… Aku lagi lagi dan lagi menghaturkan terima kasih sekaligus beribu maaf… Pastinya serial ini ngeselin, ngebosenin, mengecewakan dan sebagainya dan sebagainya. Yang ngerasa kecele dengan adegan di atas, maaf yaaaa… Hehehe… tadinya udah mau beneran adegan itu sih, hahaha… Tapi masa Jacob mati di tangan Seth? Belum waktunya, jujur aja…
