THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: Twilight Saga and related materials belong to Stephenie Meyer
.
.
73 – Daun Gugur
Wednesday, June 12, 2013
7.30 PM
.
.
Perasaan apa itu?
Tubuhnya mengambang, seakan terbang, tak punya pijakan lagi atas bumi…
Tentu saja. Ia roh kini. Tubuhnya telah mati. Tubuhnya telah hancur. Manalah mungkin ia kembali ke sana? Ke tubuh yang mungkin sudah tak layak lagi ditempati, tertimbun di bawah bobot sekian ratus ton batu?
Di dunia ini memang tak ada yang abadi. Jadi adakah yang perlu ia sesali?
Ia telah melaksanakan tugasnya. Sebaik-baiknya. Dan kini ia pergi ke ke tempat seharusnya ia berada. Bukan, bukan pergi tapi kembali. Ke tempat yang damai dan tenang. Tempat yang pengakhiran.
Ia bukan meninggalkan teman-temannya selamanya. Ia hanya mendahului yang lain. Ia telah terlebih dahulu lepas dari dunia yang sesak dan menyakitkan itu, pergi ke tempat yang dijanjikan. Tempat tak ada lagi duka, tak ada lagi sakit, tak ada lagi perih. Kini ia akan mengawasi mereka. Melindungi mereka. Menunggu mereka. Hingga satu saat mereka akan menyusulnya…
Tak ada yang perlu ia sesali, kan?
Meski ya, patut ia akui ada satu sesalnya. Tak sempat ia melihat sosok itu. Dan mungkin takkan pernah lagi, untuk waktu yang sangat sangat lama. Tak lagi ia bisa melihat tawa itu. Senyum itu. Mendengar suara itu. Canda itu…
Atau ya, mungkin ia masih bisa mendengarnya. Masih bisa melihatnya. Sosok itu. Tawa itu. Meski senyum itu takkan lagi disampaikan untuknya. Meski canda itu tak lagi dibagi bersamanya. Meski takkan ia dapat memberikan kehangatan itu lagi. Merasakan kenyamanan setiap bersamanya…
Akankah ia bahkan dapat mendengarnya mengucap satu kata itu? Yang saat keluar dari lisannya, entah mengapa begitu merdu? Lirih bagai nyanyian angin, lembut bagai belaian bunga ilalang, namun membuat hatinya riuh bergemerisik bagai getar ujung-ujung dedaunan?
"Cole…"
Ya. Seperti itu.
"Cole…"
Oh… Ternyata alam khayalnya, atau memorinya, masih jua menyisakan satu melodi itu. Kenangan akan suaranya. Terasa begitu nyata. Begitu dekat. Seakan ia mendengarnya langsung… Seakan ia ada di sisinya.
Dan … apa itu?
Oh, ia bahkan bisa merasakan sentuhannya!
"Cole, bangun!"
.
.
Collin mengerjap kala dirasanya bahunya berguncang, atau tepatnya diguncangkan. Ia membuka mata. Menoleh ke sisi. Dan dilihatnya wajah itu.
—Eh? Apa ini mimpi?
Atau ia masuk ke alam lain? Alam sesudah kematian?
Surga?
Itukah wujud surga? Keindahan yang ditampilkan oleh kenangan dan impiannya?
Tentu saja. Tak ada baginya yang lebih indah ketimbang sosok itu. Perasaan kala bersamanya. Dan jika surga berarti berkubang dalam bayangan, ilusi mengenainya, akan ia tempuh apapun untuk bisa memasuki surga itu…
"Astaga, Cole, mau sampai kapan kau tidur di sofaku? Sudah sore tahu!"
—Eh?
Collin bangkit terduduk, memandang berkeliling.
Sofa itu! Jendela dengan hiasan tirai kerang itu! Tembok dengan deretan hiasan dinding ukir-ukiran. Televisi itu. Set game konsol yang teronggok di hadapannya…
Tentu saja ia mengenal semua itu!
Ia ada di ruang tengah keluarga Black!
Ba, bagaimana bisa?
Ia di surga! Ia tahu mungkin surga tidak benar-benar berwujud secara fisik. Mungkin pikiran dan kesadarannyalah yang akan membentuk rupa surga itu. Mungkin surga akan tervisualisasikan dalam wujud yang berbeda bagi setiap insan. Itu bisa mengambil bentuk tempat terindah dalam imajinasinya, tempat yang paling ia inginkan berada, atau tempat yang paling istimewa dalam kenangannya. Apapun.
Tapi tak pernah ada dalam imajinasi tergelapnya, bahkan yang paling surealis sekalipun, surga akan mengambil wujud ruang tengah keluarga Black!
Dari sekian tempat yang pernah ia imajinasikan, mengapa justru itu yang dipilih?
Mengapa bukan hutan yang indah dengan dedaunan gugur aneka warna, atau padang bunga? Mengapa bukan dunia permen? Mengapa bukan dunia salju dengan kristal-kristal es segala bentuk berkilauan? Mengapa bukan alternate universe dalam Final Fantasy? Atau minimal tanah para Hobbit dalam Lord of The Ring? Narnia? Apapun...
Mengapa harus rumah tengah keluarga Black?
Apa imajinasinya memang sedangkal itu?
Atau … ia belum mencapai surga?
Apakah ini neraka?
Bisa jadi… Ia bukan orang baik. Mengantarkan nyawa kawanan, eh? Pastilah ia dilempar ke kerak neraka terdalam. Sesudah ini mungkin algojo Dewa Neraka yang mengambil wujud Jacob Black akan keluar dengan cemeti membara, siap merobek kulitnya untuk kemudian sembuh dan menjadi sasaran empuk untuk dicambuki lagi.
Tapi mengapa… sosok yang muncul di hadapannya adalah… dia?
Tidak, tidak. Pasti ada kesalahan. Algojo neraka seharusnya tak mengambil wujud itu. Dia malaikat. Dia seharusnya menjadi malaikat.
Sekali ia mengerjap.
Dua kali.
Tiga kali.
Segala sesuatu di sekitarnya masih juga sama.
Ini betulan! Ini bukan mimpi!
Apa yang terjadi?
Ia—selamat?
Diangkatnya tangannya. Terakhir kali ia pingsan setelah diserang vampire di rumah Cullen, begitu sadar ia ada di rumah besar itu. Tubuhnya penuh perban bak mumi dan anggota badannya tiidak bisa digerakkan. Tapi ini? Tubuhnya tak kurang suatu apa. Tiada perban. Tiada bekas luka. Tiada apapun.
Dipandangnya wajah itu. Wajah yang selalu ada dalam khayalnya. Wajah yang terus dan terus saja dirindukannya.
Dicobanya menempelkan tangannya ke pipi, meraba wajahnya. Ya, ia bisa merasakan sentuhan tangannya sendiri. Dicobanya mencubit pipinya.
"Auch! Sakit!" ia mengaduh, dan sosok itu tertawa.
"Kau kenapa, Cole? Masih melindur?" ia menghampiri, duduk di sisi Cole. Telapak tangan itu meraba dahinya.
Sejuk…
"Astaga. Benar, kau panas," ia menarik tangannya. "Kupanggilkan temanmu, ya? Siapa itu? Yang kerja di rumah sakit? Adam?"
Ia sudah bangkit menjangkau telepon di pojokan sebelum tangan Collin menghentikannnya.
"Tak usah. Aku tak apa."
"Tapi kau panas…"
"Biasanya juga aku panas…"
"Tapi…"
"Tidak usah, Korra," ia mencoba tersenyum. Dilihatnya gadis itu balas tersenyum.
Astaga. Betapa indahnya. Betapa nyamannya perasaan ini. Bisa berada di sisinya. Bisa menatap wajahnya, senyumnya. Bisa mengucapkan kata itu. Nama itu.
Korra…
"Kuambilkan minum dulu, ya…," sekali lagi gadis itu memberi senyum indahnya, sebelum bangkit ke dapur.
Diikutinya punggung gadis itu dengan matanya. Berkas sinar matahari sore menerobos lewat jendela, membias melewati manik-manik Kristal di antara untaian cangkang kerang, menimbulkan permainan cahaya yang unik di tubuh gadis itu. Seakan melihatnya berkilau, namun dengan citra yang agung dan mistis. Begitu … mempesona.
Dan mendadak Collin tersadar.
"Eh, aku…," ia agak menimbang-nimbang, Haruskah ia menanyakannya pada Korra? Atau haruskah ia menunggu yang lain? Jacob, misalnya?
Dilihatnya sekeliling. Rumah itu sepi. Di mana pula Jacob?
"Ada apa?" tanya Korra seraya mengucurkan air dari kran.
"Anu…"
"Katakan saja," sambil menutup kran, Korra menguatkannya. Tak lama ia kembali dengan segelas air di tangannya. Menyodorkannya pada Collin.
"Terima kasih," sambut Collin, memegang gelas itu di pangkuannya.
Tak pernah ia memperhatikan air minum sebelumnya. Permukaannya yang tenang bak menyerapnya masuk. Warnanya begitu jernih… Garis-garis gelombang melingkar memantul kala gelas itu membentur tangannya… Bagai hipnotis…
Agung. Mistis.
"Ada apa, Cole?" pertanyaan Korra mengagetkannya. Tapi lebih dari itu… Wajah gadis itu begitu dekat… Tidak sampai 20 cm darinya… Collin entah mengapa merasa gugup, menenggak habis air putih di pangkuannya.
"Anu… Berapa lama aku … eh, pingsan?"
"Pingsan?" kening Korra berkerut.
"Eh… 'Sekarat', mungkin…"
"Sekarat?"
"Kau tahu...," ia membiarkan kalimatnya menggantung, menelan ludah, kembali menenggak air putih itu.
—Eh? Bukannya tadi ia sudah menghabiskannya?
Itu tidak penting. Sampai mana Korra tahu?
"Anu ... aku … eh, semalam ... di dasar jurang…," ia bahkan tak bisa membentuk kalimat yang koheren.
"Jurang apa?"
Ah ya, tentu saja Korra tidak tahu.
"Mmm… berapa lama aku tidak sadar?"
Tiba-tiba gadis itu tertawa. "'Tidur', maksudmu? Wah, aku tidak tahu, Cole… Aku kan sekolah seharian. Pulang-pulang kau mendengkur begitu di sofaku. Katamu kau ada urusan hingga tak bisa sekolah. Tidak tahunya tidur…"
—Eh?
"Jacob juga… Masa ia memperbolehkanmu bolos, sih?" gerutunya. Siapapun tahu kendati Korra sendiri tukang bolos dan hobi mabal, ia penentang utama kalau menyangkut Collin membolos. Selalu cerewet mengenai sepupunya sudah kelas tiga dan harus lulus tahun ini dan lain sebagainya. Bukan berarti Collin keberatan… "Omong-omong, ke mana dia?" Korra celingak-celinguk mencari kakaknya. Sementara Collin menatapnya dengan wajah membeku.
"Tunggu, Korra. Tadi katamu aku tidur seharian?"
"Yeah, masalah seharian sih aku tidak tahu…"
"Memang ini hari apa?"
"Masa kau tidak tahu hari? Ini kan Jumat… Eh, atau maksudmu ada peristiwa penting apa? Apa ya? Aku tidak tahu… Siapa yang ulang tahun, ya?" gadis itu masih mencerocos tapi Collin tidak memperhatikan.
—Jumat?
"Kapan memang aku ke rumahmu?"
"Tadi pagi," jawab Korra yang membuat Collin terbelalak.
Tadi pagi…
Tidak mungkin.
.
"Cole?" sentuhan Korra menyadarkannya. "Ada apa?" tanyanya lembut. Kekhawatiran jelas tergambar di matanya.
Korra … bisa begitu lembut … bagai keluar dari ranah imajinasi. Apa ini sungguh tidak nyata?
Atau semua kejadian itu yang tidak nyata? Ia dan kawanan menyerang ke dasar jurang… Lantas entah berapa puluh lintah mengeroyok mereka. Seseorang bernama Sang Ibu, si serigala putih, berada di balik semua serangan ini… Bersandingan dengan seekor lintah yang dipanggil Ars…
Ars.
Ia ingat kini. Vampir yang pernah dilepaskannya di hutan itu… Ia pernah melihatnya sebelumnya. Di pigura di kamar Korra. Di foto-foto yang ditunjukkan Korra. Mengapa ia tak mengingatnya lebih awal? Itu Ariana Black, ibu Korra. Ibu Korra yang katanya sudah mati ternyata berubah kadi vampire dan mengincarnya… Kata-kata Korra waktu di perkemahan, yang didengarnya dari Jacob, ternyata benar. Lebih lagi, ia berniat menghabisi seluruh darah Black. Salah mengiranya sebagai Jacob dan begitu berdeterminasi untuk menghabisinya.
Oh, dan bahkan sebelumnya … ia telah menjatuhkan Seth dan merebut posisi Beta?
Lantas … saat penentuan itu … ketika Brady digigit. Pete digigit. Ia memancing para lintah ke liang kelinci. Meruntuhkan seluruh jaringan terowongan. Dirinya sendiri tertimbun di dasar jurang. Tak ada kemungkinan selamat.
Tapi kalau ia pasti mati, mengapa ia ada di sini?
Apa semua itu tidak nyata?
Hanya mimpi? Imajinasinya yang kelewat produktif memvisualisasikan ketakutan-ketakutan terbesarnya…
Mustahil.
Tapi bagaimanapun itu memang terasa seperti mimpi. Mana mungkin mereka menyerang ke sarang serigala dan tahu-tahu itu sarang lintah? Heh, kebetulan yang dibalut kata sial bernama 'takdir' tak mungkin bergerak sekonyol itu. Mana mungkin ibu Korra berniat balas dendam pada Jacob? Oke, Jacob yang membuatnya terusir belasan tahun lalu, tapi itu ulah anak kecil yang baru saja kehilangan ibunya. Ia memang masih terlalu kecil untuk menyadari bagaimana hubungan dua orang itu dulu, tapi setahunya—dari gosip tentu saja—Ariana sudah bagai ibu kedua Jacob. Tambah lagi, yang lebih absurd, mana mungkin serigala putih, yang menawarkan kerjasama untuk menghancurkan para lintah, dan pemimpin pasukan vampir adalah orang yang sama?
Mana mungkin ia … tewas?
Tapi kalau ia tewas, artinya inilah yang tidak nyata?
Korra di sisinya, Korra dengan senyum manisnya … ini semua maya?
Apa ia ada di surga?
Lagi: mana mungkin surga mengambil bentuk ruang tengah keluarga Black? Collin, luruskan pikiranmu!
"Kau kenapa sih, Cole?" kerut tampak di antara kedua alis Korra. Oh, apa mungkin bidadari surga bisa mengerutkan kening? Dan memangnya akan ada bidadari yang semanis Korra?
Ia tahu ia sudah hilang akal. Berhadapan dengan Korra, segalanya musnah. Pertimbangan akal sehat, bahkan mata, hati, dan seluruh inderanya tersaput mendung. Ia tak bisa melihat apapun yang lain lagi. Hanya ada Korra dan Korra.
Oh, mengapa dunia berputar mengelilingi satu sosok itu?
Dan bahkan sosok itu bukan sesuatu yang bisa menjadi miliknya.
Itu sepupunya.
Itu si serigala hitam.
Itu kekasih Seth.
Astaga. Korra kekasih Seth.
Baru Collin sadar kini. Satu kesalahannya. Ia sudah bersumpah takkan menaruh harapan lagi. Korra sudah terlarang baginya.
Bahkan jika ini mimpi. Bahkan jika ini hanya ilusi. Ia tak boleh membayangkan Korra lagi.
Tapi bak godaan bagi tekadnya, tahu-tahu Korra menyandarkan kepala di bahunya. Bisa ia rasakan detak jantung gadis itu. Kulitnya yang sejuk—oh brengsek, mana mungkin kulit serigala bisa sesejuk itu? Napasnya yang hangat, menyentuh permukaan kulitnya. Rambutnya yang menggelitik. Aromanya yang unik…
Ia tahu Korra. Si pecinta green-life menahun itu kelewat antipati hingga ke tulang sumsum untuk mau memakai bahan-bahan kimiawi sejauh yang ia bisa. Shampoo-nya saja herbal. Baunya khas. Kata Korra, itu aroma santan, telur, dan madu. Seolah masih kurang praktis, si cewek fanatik itu membuatnya sendiri, rela membuang-buang waktu dan uang saku lumayan untuk membeli kelapa di satu-satunya swalayan yang menjual bahan makanan impor di Semenanjung Olympic. Kalau sudah kepepet, mau juga ia menukarnya dengan shampoo lidah buaya yang dijual terbatas—masih herbal, tentu saja. Membuat rambutnya hitam mengkilap dan lebat, katanya. Walau seumur-umur, Collin tetap tidak bisa menganggap logis alasan Korra begitu terobsesi dengan rambut hitam lebat. Rambutnya saja dipotong boyish-cut. Poni asimetrisnya lebih pendek daripada poni Collin.
Aroma itu takkan bisa ditemukan sembarangan di La Push. Aroma tropis yang kalah saing dengan aroma standar yang digemari cewek-cewek La Push: aroma buah-buahan atau aroma parfum dari shampoo mahal yang dijual di toko ibunya Embry. Ia yakin bahkan di negeri tropis tempat dulu Korra tinggal, tidak ada orang yang mau-maunya capek-capek mengikuti gaya hidup Korra. Tapi itu yang membuatnya unik. Menjadikan aroma itu begitu identik dengan Korra.
Aroma yang membuatnya melayang…
Persetan ini nyata atau tidak. Oh, bahkan persetan Seth.
Selama ia bisa ada di sini, membungkus diri dengan aroma gadisnya, segalanya tak penting lagi…
.
"Cole?" bisik Korra, sementara jemarinya menari-nari di punggung tangan pemuda itu. "Aku boleh minta sesuatu?"
"Hm?" Collin menjawab tanpa membuka mata, terlalu hanyut dalam sensasi itu.
"Kau tidak sibuk, kan?"
"Kenapa?"
"Hari ini ada festival budaya di tepi pantai. Kau mau ikut?"
Kali ini Cole membuka mata. "Festival?"
"Kau tahu. Stand yang menjual aneka makanan khas dan kerajinan tradisional. Parade tarian dan nyanyian. Katanya tim dari kelas Budaya akan menampilkan pertunjukan…"
Oh ya. Festival tahunan untuk menarik turis yang baru diadakan lima tahun terakhir. Idenya Leah. Tentu saja Korra ingin ikut yang seperti itu. Apapun yang berbau budaya kan memang favoritnya. Ia mungkin memicing sinis pada event otomotif tahunan yang selalu diikuti Jacob, tapi tak ada urusannya ia bakal melewatkan acara yang bahkan sudah masuk agenda pariwisata Washington.
Ada ular besar yang bergerak di dalam perutnya kala Korra mengajaknya jalan. Ini mungkin semacam kencan… Dan bisa dibayangkannya, ia dan Korra akan menari di tengah dentum-dentum perkusi…
"Kau tidak minta antar Seth saja?" entah kenapa ia malah mengatakan hal itu. Yang langsung disesalinya kala dilihatnya wajah Korra berubah sendu.
—Eh, 'sendu'?
"Ada apa?" tanyanya.
"Tidak," gadis itu menggeleng muram, lantas membuang muka. "Kumohon, jangan bertanya soal itu…"
Entah mengapa melihat Korra seperti itu membuat Collin merasa … apa? 'Senang'? Seakan ada setan jahat mengisikinya untuk mengambil kesempatan. Korra dan Seth sedang ada masalah, eh? Bertengkar? Wow. Ini waktu yang sangat tepat untuk…
Apa-apaan kau, Collin! satu suara menghentaknya. Kau mau menikam dari belakang?!
Tapi Seth-lah yang menikam dari belakang. Sejak awal Korra miliknya.
Apa bukan Seth yang lebih dulu menaruh perhatian pada si Hitam? Lagipula kau sendiri yang terus memanas-manasinya bahwa si Hitam itu Korra…
Aaaaaargh! ia berteriak frustasi, mengacak-acak rambutnya.
"Serius. Kau aneh sekali deh, Cole…," komentar Korra, agak bingung.
Collin diam. Ditatapnya wajah Korra. Kali itu ditangkapnya segurat kesedihan yang sedari tadi alpa ia sadari ada si sana, dan seketika seluruh pertimbangannya lenyap.
Masa bodoh Seth! Ia sudah bilang kalau Seth berani membuat Korra sedih, ia akan menghajarnya dan merebut Korra.
Ia yang akan menghapus duka di wajah itu.
.
Sinar senja yang lembut membiaskan warna-warna hangat nan indah kala ia menghabiskan waktu dengan gadisnya, bergandengan menyusuri garis pantai. Matahari tampak rendah di cakrawala.
Pantai agak penuh turis saat itu. Stand-stand berjejer di dekat hutan, dibanjiri pegunjung, Ia dan Korra sudah menyambangi stand itu satu per satu, melihat-lihat patung dan tas anyam, mencicipi makanan yang begitu banyak, sehingga bahkan dengan perut karetnya, ia sudah merasa kekenyangan. Mereka bahkan ikut menari di lingkaran besar di sisi pantai sebelah selatan. Betapa senangnya ia kala melihat tubuh mungil itu meliuk di hadapannya, berputar dan menggeliat… Kala kulit lembut itu bersentuhan dengan kulitnya… Rasa hangat yang aneh, rasa nyaman yang aneh… Gelombang kehangatan yang begitu intens…
Oh, seandainya saja Korra bisa menjadi miliknya. Benar-benar menjadi miliknya…
Mereka berbincang sambil berjalan, dan sesekali gadis itu berjingkat kala garis air meninggi, menenggelamkan mereka hingga mata kaki, atau berlari kecil kala kepiting mendekati keduanya. Korra memakai hotpants dan tanktop, sesuatu yang jarang sekali ia pakai di tengah udara hangat La Push yang selalu ia bilang dingin, dan bagaimanapun pertama kalinya melihat kulit gadis itu membuat dadanya berdesir. Warna gelap celana denimnya dan warna putih tanktopnya tampak kontras dengan kulitnya, memberi aksentuasi yang justru menonjolkan keindahannya. Warna kulit Korra lebih coklat ketimbang kulitnya; warna tembaga keemasan yang berkilau di bawah sinar senja… Ia tahu kata eksotis mewakili kulit siapapun dalam sukunya, tapi melihat Korra, rasanya ia membawa arti kata 'eksotis' itu pada level yang baru…
"Ke sini, Cole, airnya hangat!" teriak Korra riang sembari menarik tangannya menuju tempat yang airnya lebih dalam. Collin tak bisa menolak, masih agak terpesona, sebelum tahu-tahu Korra sudah mencipratinya dengan butiran-butiran air yang membiaskan cahaya pelangi.
"Awww! Awas kau, Korra!" ia bertekad membalas, membuat cipratan besar yang langsung membuat pakaian gadis itu basah. Korra berlari menghindar, dan Collin mengejar seraya terus membuncahi gadis itu dengan air laut yang asin. Tawa mereka berkumandang kala mereka melepas apapun insting kekanak-kanakan yang tersisa, berkejaran dan saling menyiprat tak peduli apapun yang ada di sekitar.
Dengan perbedaan ketinggian di antara mereka, tentu saja langkah kaki Collin jauh lebih panjang, bahkan walau ia sudah mencoba memelankan larinya. Tidak sampai beberapa ratus meter saja, ia sudah mendekat, menggapai tangan gadis itu.
"Ha! Tertangkap kau!" serunya penuh kemenangan, menarik dan menangkap pinggang Korra, lantas mengangkat tubuh mungil itu keluar dari air. Melemparkannya ke bahunya bak seonggok karung.
"Collin! Lepaskan aku! Dasar kau cabul!" Korra meronta kuat-kuat dalam gendongannya, memukulinya.
"Heh? Cabul? Itu fitnah! Kau sendiri yang minta!" seru Collin yang membuat Korra tertawa nyaring.
"Turunkan! Turunkan!" jeritnya di antara tawanya.
"Igh! Kau bilang begitu seolah-olah aku menculikmu saja! Lihat tuh, orang-orang melihat ke arah kita!"
"Aaaaahh! Cooooooleeeeyyyy… Turunkaaaaaan!" teriaknya ketika tanpa aba-aba, Cole membawanya berlari ke satu-satunya titik di pantai La Push yang tidak dipenuhi karang tajam. Kakinya meronta-ronta dan tangannya makin giat memukuli punggungnya tapi Cole tak peduli. Tidak peduli juga ketika tahu-tahu ia melempar Korra ke dalam air. Sosok kecil itu menghantam air dangkal, mengotori tubuh, wajah, dan pakaiannya dengan pasir.
Collin tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Tidak juga berhenti ketika Korra bangkit dengan wajah kesal, memukuli dadanya.
"Jahaaaaat!" teriaknya.
"Salah sendiri tubuhmu kecil!"
"Tidak ada hubungannya!"
"Jelas ada! Membuat orang gemas, tahu!"
"Gemas? Itu istilahmu untukku? Memangnya kau apa? Pedofil penyuka anak 5 tahun?"
"Hahaha… Itu kan kakakmu, Korra, bukan aku…"
"Iiiiigh! Awas kau Collin, dasar raksasa!" dan Korra mulai menimpukinya dengan pasir. Kali ini situasi berbalik. Collin menghindar, sementara Korra terus mengejar sambil tertawa-tawa. Sebelum, mendadak, gadis itu tersandung sesuatu dan kehilangan keseimbangan.
"Korra!" teriak Collin, menyambar tubuh Korra tepat waktu sebelum gadis itu menghantam karang.
"Ugh, aku tidak apa-apa… Trims…," senyumnya begitu Collin membantunya bangkit, dan mendadak semua itu terjadi.
Matanya bersirobok dengan mata Korra. Mata yang berwarna hitam pada penglihatan pertama, tapi begitu ia memperhatikan lebih seksama, disadarinya warna yang sebetulnya: coklat gelap. Betapa inginnya, selalu, tiap kali menatap bola mata itu, suatu keajaiban terjadi. Selalu diharapkannya terjadi imprint… Namun berkali-kali juga harapan itu mengkhianatinya. Entah sudah berapa ratus atau ribu kali ia menatap mata itu, dan tak pernah ada yang terjadi.
Namun kali ini berbeda. Bukan tarikan imprint, ia sadari. Mata itu begitu dalam dan tenang bak air danau, tidak, lubang hitam tak berdasar. Selalu membuatnya seakan terserap ke dalamnya. Tapi kali ini ada yang lebih dari itu. Ada sesuatu yang berbeda pada mata itu.
"Hei, Cole?" tanya Korra bingung ketika tangan Collin melingkari pinggangnya, menariknya. Kebingungan terbaca di wajah gadis itu, tapi ia tak meronta atau menolak. Tidak juga ketika jarak mereka makin dekat.
Astaga. Betapa sempurna momen ini. Cahaya matahari senja. Tubuh Korra yang basah… begitu sejuk…
Collin merasa segala di sekitarnya perlahan memudar kala tubuh mereka melekat satu sama lain. Dirasakannya detak jantung Korra yang meningkat, desah napasnya yang hangat. Aroma Korra. Bau santan yang kini agak terbalut bau garam laut. Begitu memabukkan…
"Cole?" bisik Korra, masih tak yakin. Nada itu sama sekali tidak provokatif, namun entah mengapa mampu membuatnya melayang hingga ke langit ke tujuh. Getaran yang indah tampak pada bibirnya kala ia mengucap satu kata itu, dan betapa ingin Collin menarik-narik lidahnya agar gadis itu terus mengulang menyebut namanya. Sensasi yang timbul dalam getaran nada itu di udara. Sensasi yang timbul dalam gerakan bibir itu. Bibir yang penuh. Begitu lembut. Basah…
Dan betapa panjang dirasanya detik demi detik, ketika ia—entah digerakkan oleh kekuatan apa—memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Senti demi senti, mili demi mili…
.
"Cole!" suara yang tak asing itu membuyarkan mereka. Menggeram, Cole menoleh ke asal suara. Si brengsek pengganggu Benjamin Cattermole rupanya. Lagi…
Dalam hati ia mengumpat. Mengapa selalu dan selalu saja momen berharganya bersama Korra dirusak oleh kehadiran salah satu kawanan? Mereka punya dendam apa sih dengannya?
Atau mereka disuruh Seth—ya, itu mungkin saja.
Ben terpaku sejenak melihat adegan yang ada di hadapannya—Collin yang menatap tajam seolah siap memakannya hidup-hidup dan Korra yang bergerak tidak nyaman di samping Cole. Wajah mereka berdua sama merahnya.
"Ada apa, Ben?" bentak Collin dalam nada 'sebaiknya-ada-urusan-hidup-mati-atau-kubunuh-kau' .
"Eh, itu…," Ben menunjuk kerumunan di salah satu sisi pantai. "Kawanan membuat api unggun. Para imprintee juga berkumpul. Kalian ikut, ya?"
—Eh?
Jujur Collin tidak percaya pendengarannya. Ben bicara tentang kawanan dan imprint secara terbuka? Di depan Korra?
Tapi lebih dari itu…
Kapan memang ia dengar kawanan akan mengadakan acara di pinggir pantai? Biasanya mereka membuat rencana jauh-jauh hari, dan tidak mungkin Collin tak diikutsertakan. Bagaimanapun ia dan Ben-lah, selain Quil dan Embry, motor kegiatan rekreasi kawanan. Dan lagi, para imprintee kan tidak semuanya tinggal di La Push… Kapan memang mereka tiba? Kenapa ia tak mendengar rencana kedatangan mereka sebelumnya? Biasanya kawanan terlalu antusias dengan berita kedatangan imprintee sehingga tak bisa konsentrasi pada urusan lain.
Tapi Ben memang tidak berbohong. Mendekati kerumunan, dilihatnya anggota kawanannya—berpasang-pasangan. Masing-masing asyik sendiri dengan dunianya. Caleb dengan Selena si putri direktur rumah sakit. Harry dengan Lilly-Ann. Clark dengan Frida. Para pasangan imprint itu memang sudah menapak base selanjutnya dalam hubungan mereka, Caleb malah sudah akan bertunangan—membuatnya iri saja. Quil tampak main air dengan gadis mungil 8 tahun berkepang dua—siapa lagi kalau bukan si cilik Claire? —Heh, kapan memang Claire datang? Bukannya ia sedang sekolah berasrama di Eropa? Jacob dengan si hibrida Renesmee—bagaimana mungkin ia berani pangku-pangkuan dan kasak-kusuk dengan makhluk aneh itu di muka umum? Memangnya ia sudah bosan hidup, ya? Atau mertua vampirnya sudah menarik batas Rating Bimbingan Orangtua sebelum si setengah manusia itu menginjak usia 400 tahun?
Oh, bahkan yang tidak mengimprint pun berpasangan! Embry dengan cewek yang pernah dilihatnya di konter cenderamata tempat Embry kerja sambilan, Karen Colloughby. Itu sama sekali tidak aneh, adik Karen adalah temannya di sekolah dan ia bilang belakangan ini kakaknya sering jalan dengan anak Rez Boys yang sudah pasti Embry. Syukurlah Embry mau keluar dari predikat Damsel in Distress-nya dan mencari peruntungan di luar imprint yang tak kunjung datang. Walau sejujurnya ia agak kecewa Embry tidak terlibat incest dengan salah satu dari tiga kemungkinan saudara tirinya—artinya tidak ada lagi gosip bagus! Adam dengan ... —hei, bukannya itu Tannya Cameron? Apa yang dilihatnya dari cewek bully itu? Yeah, selain ia mantan model papan atas dan pernah dikontrak Hollywood dan lain sebagainya... Pete dengan target rekruitmennya, sepupu Collin, cowok mata empat Ben Two—sudah ia duga mereka memang pacaran! Josh dengan mantan Brady, Roxanne—memangnya dia ingin dicincang habis, ya? Tapi kelihatannya Brady memang tidak keberatan, karena tak jauh dari situ dilihatnya Brady sudah memiliki dunia sendiri, mojok dengan … —heh?! Noah Peterson?!
—Se, sejak kapan…?
Belum lagi habis kebingungannya, dilihatnya Ben One mendekati … Regina Fuller?! HAAAAH?! Apa yang dia lakukan dengan adik Brady yang bahkan belum lulus SD?! Bertambah lagi satu pedofil dalam kawanan?! Seolah dua belum cukup!
Dan bersama keluarga Uley, Sam-Emily-Josh yang tidak terpisahkan, dilihatnya juga para senior: Paul dengan Rachel, Jared dengan Kim—kapan mereka datang, memangnya? Dan tentu saja, Leah Clearwater bersama … uh… bukannya itu si hibrida Nahuel?
Hei—apa-apaan ini?!
Mendadak langkahnya terhenti ketika dirasanya Korra tak lagi mengikutinya. Ia menoleh ke belakang, dahinya mengernyit tatkala dilihatnya Korra memandang satu titik. Wajahnya membeku dan matanya membelalak.
Ia mengikuti arah pandangan Korra, dan seketika dirasakannya kemarahan menggelegak tanpa bisa ia tahan-tahan.
Di sana, di atas sebongkah batu ceper, dilihatnya Seth. Dan ia tak sendiri. Seorang perempuan duduk di sisinya. Kulit perempuan itu menunjukkan bahwa ia pastinya bukan orang Quileute. Kakinya jenjang. Rambutnya hitam panjang…
Ugh!
Seth. Berselingkuh. Dengan perempuan berambut panjang.
Wajah perempuan itu… sial, ia tak bisa melihatnya. Kepala Seth menutupinya.
Ya. Kepala Seth menutupinya.
Mereka berciuman. Terang-terangan. Di tepi pantai. Di muka umum!
Astaga.
Belum lagi ia pulih dari rasa shock-nya, tahu-tahu disadarinya Korra tak lagi ada di sisinya. Gadis itu sudah berlari—menembus kerumunan orang, menuju hutan.
"Korra!" teriaknya, bergerak menyusul gadis itu. Sempat ia menoleh pada kawanan. Kepala-kepala penuh rasa ingin tahu menoleh padanya, kebingungan jelas tergambar di mata mereka. Semua kecuali satu orang. Seth. Yang sama sekali tak berpaling dari apapun yang ia kerjakan dengan perempuan itu. Berciuman. Secara teknis memakan wajahnya. Ugh! Tangannya bahkan merambah lebih jauh. Satu tertimbun dalam kelebatan rambut gadis itu. Satu tergolek santai di pahanya, perlahan-lahan merambat naik, menyelinap ke pinggangnya, merengkuhnya lebih dalam...
Ugh, brengsek!
Ia pasti akan membunuh Seth!
.
Melawan keinginan untuk mengoyak-ngoyak tubuh si bajingan Seth, dilarikannya kakinya mengejar Korra. Menyibak pepohonan, dilihatnya gadis yang ia cintai tengah duduk di tunggul pohon besar yang sudah tumbang, membelakanginya. Gestur sosok yang biasanya tegak menantang dunia itu kini tampak suram. Ia membungkuk, wajahnya terbenam di antara kedua lututnya. Seakan-akan itu bukan dia—sama-sekali bukan Korra yang Collin kenal.
"Korra?" ia mendekat.
Korra bergeser sedikit, memberi tempat bagi Collin untuk duduk di sisinya. Sesaat ia mengangkat kepala, menarik napas panjang dan berat, lantas memalingkan wajah. Berusaha agar Cole tidak menatapnya. Yang Collin tahu, pastinya karena tak ingin Cole melihat air matanya.
"Kemari, Korra," ia merentangkan tangannya, memeluk bahu gadis itu, menariknya ke dalam rengkuhannya. Korra sama sekali tak menolak, bahkan merebahkan kepalanya di dada Collin. Getar-getar bahunya menunjukkan bahwa ia berusaha keras menahan tangisnya. Collin menepuk-nepuk bahunya, menenteramkan. Dan tahu-tahu, begitu saja, isakan Korra pecah.
"Aku tahu ia tidak lagi mencintaiku," bisiknya di antara tangisnya. "Ia marah sekali ketika … tahu … aku mengandung. Aku tidak tahu apa salahku… Mendadak ia memutuskan hubungan dan…," Korra tak lagi bicara, hanya menangis sesegukan, sementara kata demi katanya melukai Collin lebih daripada itu melukai Korra.
Benarkah Seth, Seth yang ia kenal, melakukan semua itu?
Tapi ia melihat sendiri buktinya. Seth … bersama perempuan lain…
"Sejak kapan?" tanyanya, walau ia merasa pertanyaannya mengawang-ngawang.
"Pagi tadi. Ia memutuskanku lewat telepon begitu aku sampai di sekolah…"
Pagi tadi… Artinya setelah ia meng-sms Seth tentang kecurigaannya bahwa Korra mengandung?
"Lantas, perempuan tadi," ia menggigit bibir. Haruskah ia menanyakan itu? "Sejak kapan … Seth dan dia…"
Tapi Korra menggeleng. "Aku tidak tahu…," seguknya. Ia mengusap matanya yang balut dan basah lantas bangkit dari pelukan Collin, menatapnya.
Betapa perih Collin melihat mata itu. Mata gadis yang ia cintai, yang biasanya selalu berbinar-binar, kini begitu tanpa cahaya…
"Apa menurutmu," bisik Korra seraya menggigiti bibir, "ia mendepakku karena perempuan itu? Karenanya ia begitu marah tahu aku … kau tahu… kecelakaan?"
Seth marah? Menolak bertanggung jawab? Apa Seth memang seperti itu? Mustahil… Itu benar-benar bukan Seth.
Tapi Seth juga seharusnya tidak lantas berciuman dengan perempuan lain di muka umum, sementara baru dua hari sebelumnya bersumpah bahwa ia takkan pernah meninggalkan Korra…
"Oh, Korra…," Collin kembali merengkuh gadis itu. Korra menjatuhkan kepala di dadanya, dan tidak sampai semenit, ia sudah merasakan ada air merembes menembus kemeja yang ia pakai. Apa Korra menangis?
Pilu mencekam juga menguasai hatinya. Gadisnya menangis… Ditahannya tangisnya sendiri sementara ia mengetatkan pelukannya pada bahu gadis itu, mengecup puncak kepalanya. Ia tahu Korra memandangnya sebagai kakak. Dan kini, ia harus menjalankan peran itu. Memberi Korra kehangatan. Memberi Korra ketenangan…
"Seharusnya aku mendengarkanmu," Korra berkata lirih di sela-sela tangisnya. "Sejak awal kau sudah memperingatkanku, bilang bahwa Seth hanya mengejar bayangan. Ia tak sungguh-sungguh mencintaiku… Tapi aku malah luruh pada rayuannya, menggantungkan harapanku padanya… Menyembunyikan hubungan ini darimu dan Jacob… Nyata bahwa kini aku bukan … orang yang selama ini ia impikan … ia … membuangku…"
Membuang Korra?
Seth telah menelan kembali janji yang ia ucapkan…
"Apa kurangku, Cole?" Korra kembali terisak. "Karena aku tidak tinggi? Karena aku tidak cantik? Karena rambutku tidak panjang? Karena aku tidak lembut? Aku kurang feminin, begitukah? Karena aku tidak seksi? Karena aku tidak bisa memuaskannya? Karena aku tidak … sesuai fantasinya?" ia terkekeh miris. "Karena aku … anak kecil?"
Ia tahu pertanyaan Korra bahkan tidak menyentuh dasarnya dan itu membuat Collin ikut mempertanyakan.
Mengapa Seth bisa melakukan itu?
Sebagaimana standarnya cowok-cowok yang hobi menggosipi tipe cewek idolanya, ia tahu Seth suka gadis tinggi berambut panjang. Ia juga tahu betapa Korra begitu ingin memiliki tubuh dan rambut seindah itu. Tapi bahwa Seth jelas-jelas bersama seorang gadis dengan karakteristik yang tidak dimiliki Korra…
Bagaimana bisa?
Seth bukan mata keranjang kan? Dia tidak serendah itu... Collin menolak keras kemungkinan seorang Seth bisa sampai selingkuh hanya karena urusan fisik. Pasti ada alasan yang lebih kuat.
Apa karena ia menginginkan sosok yang lebih dewasa? Ia tidak tahan dengan sikap kekanak-kanakan Korra dan moodnya yang berganti-ganti?
Ayolah, semua orang sudah tahu itu sejak dulu! Mengapa ia harus mendekat kalau ia tak bisa menerima Korra?
Apa Seth akhirnya tahu Korra bukan serigala hitam yang ia impikan?
Atau … apakah … Seth mengimprint?
Itukah alasannya? Kapan?
Baru kemarin dini hari ia dan Seth pulang bersama dari dasar jurang. Seth langsung dibawanya ke tempat Adam, untuk merawat luka-lukanya, sementara Jacob menghukumnya patroli sehari semalam. Patrolinya hanya dijeda sekolah, ditambah ketika ia menyempatkan diri ke tempat Sam untuk bertanya satu-dua hal pada para Tetua. Itu tak sampai sejam, kemudian ia melanjutkan patroli lagi. Pagi tadi ia pergi ke rumah Black, menemukan Korra muntah-muntah, meng-sms Seth. Korra pastinya menghubungi Seth sesudahnya.
Jadi kapan perasaan Seth berubah?
Apakah pulang dari rumah Adam, dia bertemu gadis itu? Atau pagi tadi, ketika ia jalan-jalan ke pantai, misalnya… Ia bertemu salah satu turis secara tak sengaja dan langsung mengimprint? Atau ia bertemu si serigala hitam, dan mendapati serigala itu bukan Korra? Lantas semua perasaannya pada Korra hancur musnah jadi debu dan terbang tertiup angin? Begitu mudah?
Begitu … tegakah ia?
Seth Beta yang selama ini dihormati semua orang, Beta yang lembut dan welas asih, Beta yang penuh pertimbangan, Beta yang tak pernah mengedepankan kepentingannya sendiri, Beta yang bertanggung jawab… Apakah semua hanya topeng?
Seperti itukah Seth yang sebenarnya—kejam dan tanpa perasaan?
Menyakiti kekasihnya, ibu dari anaknya?
Apa yang mengubah Seth?
Imprint… Ya. Hanya itu jawabannya. Imprint brengsek. Satu kata itu selalu merusak segalanya. Entah berapa yang jadi korban kekisruhan hukum bodoh itu. Sam, dan kini Seth… Bagaimanapun Seth selalu bersikukuh takkan mengikuti jejak Sam yang pernah menyakiti kakaknya, akhirnya ia takluk juga di bawah jeratan mantra penyihir… Mengingkari sumpahnya sendiri.
Ia takkan begitu kan?
Walau ia tidak mengimprint Korra, ia takkan menyakitinya juga, bukan?
Kembali dikecupnya puncak kepala gadis itu. Kali ini direngkuhnya dalam-dalam, berusaha menunjukkan keberadaannya. Korra mungkin selalu menganggapnya kakak, tapi satu saat ia akan sadar. Tak pernah sedetikpun hati Collin berpaling pada gadis lain. Mereka mungkin sepupu, dan Jacob menentang hubungan itu. Tapi persetan Jacob. Persetan juga segala ucapan Uncle Bill dan Sam ketika ia menanyakan asal usul Korra kemarin. Persetan mereka bicara soal kutukan turun-temurun yang mengikat keturunan Zacharias Black dan Joshua Black. Persetan mereka mengatakan bahwa hubungan itu hanya akan menyakiti mereka berdua.
Ia mencintai Korra. Tulus. Takkan pernah ia membiarkan siapapun menyakitinya.
Lebih lagi dirinya.
Dan selalu, selalu, selalu, ia berharap … satu saat Korra akan melihat padanya. Menyadari perasaannya. Menerima uluran tangannya.
Pasti, pasti ia takkan menyakiti Korra. Pasti ia akan menghapus air matanya. Pasti ia akan menyatukan kembali hati yang pecah itu, menyuburkan hati yang gersang itu, menumbuhkan lagi bunga di sana. Menjadikannya kembali indah. Tidak, jauh lebih indah ketimbang sebelumnya.
Ia akan menjadi kekuatan bagi gadis itu.
.
Lama waktu berlalu sementara Korra terisak dan Collin menepuk-nepuk bahunya, mendengarkan keluhannya. Semua orang bilang cowok selalu tak bisa diharapkan sebagai tempat curhat, tapi di sana Collin berusaha keras mengatasi gatal di tangan dan kakinya untuk tak lantas mengejar Seth dan menghajarnya, atau bahkan menahan gatal di lidahnya untuk tak lantas mengomentari yang tidak-tidak. Ia tahu Korra membutuhkannya sebagai apa.
Dalam diam dipandangnya langit yang membayang di balik jalinan pepohonan. Matahari masih belum beranjak, malam belum lagi menjelang. Apa karena ini musim panas? Seolah sore terasa sangat panjang…
Di luar sana festival masih berlangsung. Oh, bahkan pasang air laut pun tak seberapa tinggi, kalau melihat orang-orang masih belum menepi dari garis pantai. Collin memejamkan mata, berusaha mengingat tanggal. Kapan terakhir kali ia melihat purnama? Ia tidak ingat…
Jika saja malam ini purnama, tentunya ia akan dengan suka hati memandangnya bersama Korra, menatap purnama berdua… Mungkin itu bisa mengatasi gundah gulana di hatinya.
Korra akhirnya melepaskan diri dari pelukannya dan mencoba tersenyum. "Maaf aku merepotkanmu dengan masalahku, Cole…"
"Kata siapa? Aku tidak merasa direpotkan, kok," ia mencoba bersikap kasual.
"Kau selalu baik padaku, selalu ada kapanpun aku butuh…" Korra mempermainkan jemarinya, membentuk motif melingkar-lingkar di punggung telapak tangan Collin. "Kau kakakku yang sangat kusayang…"
Benar, kan, Korra menganggapnya kakak…
Ia mendengus. "Kau tahu, Korra, aku tidak pernah menganggap begitu…"
Kepala Korra terangkat. Wajahnya pasi, seakan tertampar. Rasa shock, sekaligus rasa sakit, hadir begitu cepat.
"Kau … tidak menyayangiku?"
"Bukan," cepat ia bereaksi. "Tapi aku tidak menganggapmu adik…"
Apa ia salah? Karena Korra kini memisahkan diri darinya, menggeser tubuhnya.
"Maaf, Cole… Aku kelewat manja… Tidak tahu diri dan selalu bergantung padamu…" kentara sekali ia berusaha menciptakan jarak.
Apa Korra telah salah mengartikan kata-katanya?
"Tidak, Korra, kau salah paham," diberanikan dirinya meraih tangan Korra. "Bukan aku tidak menyayangimu. Aku hanya tidak menyayangimu sebagai seorang kakak."
"Lantas?" tanda tanya, sekaligus ketakutan tampak di wajah gadis itu. Ketakutan … mengapa juga ia perlu takut?
Collin menggigit bibir, berusaha keras mengatasi debar perasaannya sendiri. Ini taruhan dan ia berkali-kali kalah. Tapi ia harus menyatakannya kali ini.
"Aku…," kata-kata itu tersangkut di ujung lidahnya. Tidak, ia harus berani. "Aku … men, men, menc, cin… Aku mencintaimu, Korra…"
Heh, ia mengatakannya? Apa ia sungguh mengatakannya?
Reaksi Korra sungguh tak sesuai harapannya—atau sepenuhnya sesuai prediksi; reaksi yang sama yang terus ditunjukkannya tiga bulan ini—karena ia hanya tersenyum. "Ya. Aku juga mencintaimu, Cole. Sangat…"
"Bukaaaaaan!" ia menggeleng keras. "Kubilang bukan sebagai kakak!" Astaga. Apa cewek ini bodoh?
Tanda tanya kembali muncul.
"Maksudku… eh…"
Apapun yang ia katakan, ia tahu, hanya akan membentur angin. Selalu dan selalu, tiap kali ia berusaha menyatakan perasaannya, pasti ada saja kejadian yang menghalanginya. Korra selalu saja salah tangkap. Tapi itu takkan terjadi lagi kali ini. Diberanikan dirinya mencondongkan tubuh pada gadis itu. Menahan kedua bahunya. Menempelkan bibirnya di bibir gadis itu. Terasa gadis itu mengejang, sama sekali tak membalas, dan Collin tahu ia telah kalah. Berat hati ditariknya bibirnya dari gadis itu, menunduk menggigiti bibir sendiri. Ia bahkan tak berani menatap mata Korra.
Jeda waktu lama sebelum Korra akhirnya berbisik, "Benarkah? Selama ini kau memandangku seperti … itu…?" bahkan tak ada kebahagiaan dalam suaranya. Hanya ketidakpercayaan.
Oh, Collin rasanya benar-benar ingin menjedukkan kepalanya ke batu besar di tebing. Setelah Korra tahu perasaannya, apa yang ia pikirkan atasnya? Pagar makan tanaman? Sepupu brengsek yang punya niat incest? Selama ini memberinya perhatian hanya karena mengincar kesempatan untuk ... — bagaimana mengatakannya agar tak terkesan terlalu vulgar—'menyelinap ke ranjang Korra'? Selalu memendam pikiran kotor atasnya? Kasih sayangnya tidak tulus?
Apa yang akan Korra lakukan setelah ini? Berlari darinya? Menamparnya karena berani-berani menciumnya? Bilang bahwa ia benci Collin dan menyuruh Collin untuk tak pernah menghubungi, terlebih mendekatinya lagi? Apa ia masih memiliki kesempatan untuk menjelaskan?
Karenanya, jujur saja, ia ingin jatuh menggelinding ketika Korra justru bertanya, "Kau bukannya bersama Brady?"
"Ya ampun, Korra!" teriaknya. "Harus berapa kali aku bilang kalau aku straight!"
"Kau juga tidak naksir Seth?"
"Mana mungkin naksir dia! Seth juga jelas-jelas straight!"
"Bukan berarti kau tidak bisa naksir dia…"
"Bahkan jika pilihannya adalah Seth atau kodok, aku lebih pilih kodok!"
Tawa tidak jelas keluar dari bibir Korra, sebelum mereka kembali diam. Kikuk, canggung, sebut saja. Itu sebelum akhirnya Collin tidak tahan lagi dan bangkit. Mengangkat tangan.
"Kau tahu, Korra, aku menyerah. Aku tahu kau akan bilang 'tidak', jadi…"
"Kata siapa aku akan bilang tidak?"
—Eh?
Rasanya seluruh waktu terhenti detik itu. Collin hanya bisa mengerjap bagai orang bodoh ketika Korra akhirnya bangkit. Gadis itu juga tampak kikuk, menggigiti bibirnya, sebelum mendadak mencondongkan tubuh, berjingkat dan mendaratkan satu kecupan ringan di bibirnya—di bibirnya!—sedangkan Collin tak bisa melakukan apapun selain membeku.
Apa ini mimpi?
Namun semua tak berhenti sampai situ. Dua detik kemudian Korra menarik bibirnya, yang masih tak mendapat sambutan apapun, lantas menyurukkan diri dan menyandarkan kepala di dada Collin.
"Aku tidak mengerti mengapa aku bisa begitu buta selama ini…," detak jantung Korra terasa seirama dengan detak jantungnya. "Tidak pernah melihat apa yang jelas-jelas ada di hadapanku…"
Dan dengan itu Korra mengangkat kepalanya. Mata mereka kembali bertaut. Mata Korra masih sembab dan merah, kesedihan dan patah hati jelas membayang. Tapi kali itu ia melihat yang lain. Harapan.
Begitu inginnya ia mewujudkan harapan itu…
"Aku juga … mencintaimu, Cole… Selalu…," bisiknya yang langsung membuat detak jantungnya berhenti sesaat, sebelum akhirnya menderas. Begitu cepat…
Dan betapa ia tak dapat lagi mempertahankan detak jantung berdenyut dalam kecepatan di bawah laju Ferrari, mungkin bahkan Shinkansen, kala kelopak berbingkai bulu mata tebal dan hitam itu menutup. Menunggu.
Daun berguguran di atas kepalanya, menciptakan suasana romantis yang sangat mendukung. Senja dengan permainan cahayanya menembus celah-celah dedaunan, daun yang berguguran… Ini benar-benar seakan dalam mimpi…
Betapa panjang kiranya ruang yang memisahkan ia dengan Korra, kala ia menguatkan segala nyali yang ada dalam hatinya untuk merengkuh jarak itu, yang rasanya seribu kali jarak Matahari ke Neptunus. Dan ketika akhirnya bibir mereka berpagutan, sungguh ia leleh dalam hangatnya ciuman itu. Bibir Korra yang lembut dan basah… Betapa manis rasa itu. Betapa halus tekstur itu. Dan betapa ia tak ingin waktu berakhir…
Diberanikan dirinya mengulurkan tangan, memeluk pinggang itu, menarik Korra mendekat. Kini mereka satu. Satu dan takkan terpisahkan. Takkan ia biarkan kekuatan apapun memisahkan mereka. Ia akan menghapus duka apapun di wajahnya, menyalakan kembali pelita di hatinya. Menghidupkan kembali keceriaannya…
Korra dan ia satu. Mulai detik ini hingga selamanya.
.
.
Berapa detik? Berapa menit? Berapa jam ia larut dalam ciuman itu? Ia bahkan tidak bisa menghitung… Waktu sudah kehilangan artinya kini. Ruang sudah kehilangan maknanya kini. Segala sesuatu di sekitarnya tak lagi berarti. Hilang, lenyap. Di semesta hanya ada ia dan Korra.
Makin diketatkan pelukannya atas pinggang gadis itu. Dirasanya Korra pun memeluk rapat dirinya. Sebelum mendadak sentuhan itu tak lagi terasa. Apa Korra melepaskan tangannya? Tangannya otomatis bergerak hendak mengembalikan pelukan Korra kembali di punggungnya, tapi ia tak merasakan apapun. Dimana sebenarnya tangan Korra? Dan kini saat ia sadari, ia bahkan tak bisa merasakan tubuh itu… Bibir itu… Detak jantung itu.
Collin membuka mata dan disadarinya Korra tidak ada.
"Korra?" ia mencari ke sekeliling. Kapan Korra melepaskan diri darinya?
Tak ada jawaban.
"Korra!" panggilnya.
Apa Korra kabur? Apa ia akhirnya ragu dan pergi?
Wajar saja. Seth telah melukainya. Apa Korra akan percaya lagi pada orang lain? Pada-nya? Apa Korra akan benar-benar membuka hati untuknya?
Tapi ia akan membuktikan bahwa ia mampu. Bahwa ia sanggup mengobati apapun luka itu. Walau butuh entah sekian lama. Walau entah dengan cara apa.
"Korra!" teriaknya lagi.
Hanya ada daun berguguran yang menjawab teriakannya. Makin lebat dan lebat. Musim panas begini, dan daun sudah berguguran?
Dan baru disadarinya segala di sekitarnya aneh.
Daun berguguran tanpa henti, namun tak dilihatnya pepohonan yang meranggas mengering di atas kepalanya. Malam tak kunjung menjelang. Dan begitu ia menunduk, tak dilihatnya tumpukan daun di lantai hutan.
Segala sesuatu di sekitarnya perlahan lenyap. Suara-suara di kejauhan. Garis pantai. Pepohonan. Gelap dan gelap mulai menelan segala di sekitarnya.
Apa ini?
Saat itu hanya satu di pikirannya: bakat vampir. Ia tahu beberapa vampir dapat menciptakan bayangan hitam. Ketiadaan. Ia tak pernah merasakannya langsung, tapi ia dengar dari Jacob kala sang Alfa bicara tentang salah satu sekutu keluarga Cullen, entah siapa namanya. Ia bahkan ikut merasakan sensasi itu kala Jacob menggambarkan apa yang pernah ia alami dalam latihan gabungan lima tahun lalu.
Astaga. Korra dalam bahaya!
"Korra!" teriaknya, berlari. Ia bahkan tak tahu ke arah mana ia berlari. Kegelapan pekat mengelilinginya.
Dirasanya bumi tempatnya berpijak menghilang. Bukan hanya bumi, tapi juga seluruh rasa akan bumi. Tarikan gravitasi. Semesta. Ia melayang. Tanpa pijakan atas apapun. Seperti burung? Seperti layang-layang? Tidak. Lebih seperti balon putus… Melayang tanpa arah.
Dan satu kesadaran menghentaknya.
Dunia. Ini. Tidak. Nyata.
Ini bukan bakat vampir.
Sejak awal pun dunia ini tidak nyata…
Diangkatnya tangannya. Kini tangan itu memudar, transparan, hingga akhirnya menghilang. Tak hanya tangan, satu per satu anggota tubuhnya memudar dan lenyap. Hingga akhirnya dirasanya bahkan kesadarannya pun lenyap..
.
.
Ia kembali bangun dalam kegelapan pekat. Di mana ini?
Ia tak bisa melihat tubuhnya. Tidak, ia bahkan tak yakin ia masih memiliki tubuh. Jadi mana mungkin ia bisa melihat?
Ia merasa melayang.
Benarkah … ia … telah mati?
Detik ketika kesadaran itu menyelusup, akhirnya segala sesuatu di sekitarnya perlahan berwujud. Ia masih tak dapat melihat tubuhnya, tapi ia bisa melihat tubuh itu—jauh di bawah. Tergeletak di tempat yang gelap. Telanjang. Kaku. Debu putih keabuan dari bebatuan yang runtuh, tanah, dan darah membungkusnya. Bongkahan batu-batu menguburnya. Matanya menutup, dan bisa dilihatnya satu luka besar di dahinya. Pasti batu besar menghantam kepalanya, mengantar nyawanya. Tidak pun, tempat itu sangat gelap dan sempit, tanpa udara, tanpa apapun.
Benar, tak mungkin ia masih bisa hidup dengan kondisi seperti itu.
Dirasanya ia melayang makin tinggi, menjauh dari tubuh itu. Tinggi, makin lama makin tinggi…
Bisa dilihatnya dasar jurang itu dan daerah sekitarnya. Ada rekahan besar, sangat besar, menjalar dari dasar jurang ke daerah sekitarnya. Pasti guncangan yang ia timbulkan, yang meruntuhkan jaringan bawah tanah, menyebabkan munculnya rekahan itu.
Dan kemudian dilihatnya seseorang. Di titik yang sepertinya pusat semua rekahan itu. Berlutut. Menangis.
Entah mengapa, dirasanya ia bisa mendekat. Melayang lebih rendah. Bisa dilihatnya lebih jelas sosok itu. Sosok itu tampak kotor, sangat. Rambutnya kusut. Tangannya berbalut tanah dengan kuku-kuku menghitam. Baret-baret luka setengah terbuka tampak di sekujur tubuhnya. Apa yang ia lakukan hingga mendapat seluruh luka itu?
Sejenak sosok itu tampak seakan menyadari keberadaannya, bangkit dan memandang berkeliling.
"Collin?" ia bisa mendengar suara sosok itu. Nadanya tak yakin.
Ia mengenali suara itu.
Ia mengenali wajah itu.
Ia mengenali sosok itu.
Korra?
Ada apa Korra di sana?
"Collin!" teriak Korra pada angin. "Aku tahu kau di sana! Aku bisa merasakanmu! Jawab aku, Cole!"
Korra bisa merasakannya?
"Collin!" raung gadis itu lagi.
Collin berusaha mengeluarkan suara. Tapi ia bahkan tak bisa merasakan lidahnya. Apa suara yang bisa ia keluarkan?
Gadis itu masih berteriak-teriak memanggilnya. Sebelum akhirnya ia tersuruk ke tanah. Menangis.
Sungguh ia ingin bisa menjawab. Sungguh ia ingin bisa menyentuhnya. Mengusap rambutnya. Menghapus air matanya. Berkata segalanya baik-baik saja.
Tapi ia tak bisa.
Tidak ketika ia merasa tubuhnya kembali ditarik. Naik. Melayang tinggi dan makin tinggi. Menjauhinya. Menjauhi gadis itu.
Cintanya…
Sempat dilihatnya wajah Korra yang tengadah. Satu yang terakhir dilihatnya sebelum dunia di sekitarnya menghilang.
.
.
"Apa kau ingin kembali?"
Siapa itu?
"Apa kau ingin kembali untuknya?"
Collin berusaha melihat sekeliling—jika memang ia bisa melihat. Tak ada apapun di sekitarnya. Hanya kegelapan pekat. Tapi ia bisa menjawab pertanyaan itu.
Tentu, tentu ia ingin kembali. Kembali demi gadis itu. Demi Korra…
"Apa kau ingin hidup?"
Apa itu bahkan perlu ditanyakan? Bagaimana caranya bisa mengusap air mata di pipi gadis itu, jika ia tak kembali hidup?
"Aku bisa membantumu…"
Apa?
"Aku bisa memberi pertukaran…"
Pertukaran?
Perlahan ia merasa ketiadaan gravitasi itu menghilang. Ia memang masih tak bisa melihat apapun di sekelilingnya, tapi ia merasa bisa menapak. Dan ia bisa melihat seseorang—atau sesuatu—perlahan menjelma di hadapannya. Sosok berambut panjang, laki-laki, hanya mengenakan cawat berburu.
Sosok itu mendekat, mendekat. Hingga ia bisa melihat wajah itu.
Dan ia terkesiap.
—Seth?
Tidak, tidak, itu bukan Seth. Mereka memang mirip tapi itu jelas bukan Seth. Atau hanya alam bawah sadarnya yang berusaha memunculkan satu sosok sebagai perwujudan suara itu. Bisa siapa saja. Bisa Seth, atau Jacob, atau Embry…
Mengapa ia malah memilih Seth?
Sosok itu tersenyum.
"Itu tidak penting," katanya.
Mau tak mau ia setuju.
"Aku bisa mewujudkan semua bayanganmu, semua keinginanmu …"
Mewujudkan? Bagaimana caranya?
"Aku bisa membuatmu kembali hidup. Mengeluarkanmu dari timbunan batu itu. Hanya kuminta sesuatu sebagai bayaran."
Bayaran?
Sosok itu mendekat. Lantas, entah mengapa, latar belakang kegelapan di sekitarnya memudar, ketika semesta lain mengambil wujud.
Hutan Quileute, ia tahu. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Seakan ia tidak mengenalnya. Seakan hutan itu berasal dari masa sekian ratus tahun silam…
Dan kemudian, dari kerimbunan pohon, dilihatnya satu sosok keluar. Serigala, jelas. Betina. Bulunya putih sempurna, keperakan di bawah sinar rembulan. Gaya berjalannya begitu agung, begitu megah. Seakan ia menggenggam dunia di bawah cakarnya. Sosoknya diikuti beberapa serigala lain. Sesaat kemudian sosok-sosok itu berubah bentuk. Mengambil bentuk manusia. Seorang perempuan dikelilingi beberapa laki-laki. Semua berambut panjang. Perempuan itu menarik sesuatu dari dahan pohon, sebuah tenunan putih, sebelum menyelimuti tubuhnya dan memimpin serombongan laki-laki itu bergerak. Entah ke mana.
"Itu bayaran yang kuinginkan," ia menunjuk satu sosok di antara kerumunan orang itu. Si perempuan berambut panjang. Pemimpin mereka. Sosok yang semula adalah si serigala putih.
Ia menilik baik-baik wajah itu kala rombongan itu melewatinya. Wajah perempuan itu tampak agung, dengan rahang yang kaku dan tatapan mata yang tajam.
Wajah yang tidak asing…
Dan saat itu ia terkesiap.
Wajah itu…
—Leah?
"Aku ingin kau membunuhnya," kata sosok mirip-Seth lagi. "Aku ingin kau membunuh Kierra."
Kierra…
.
.
"Cole?" suara itu kembali menyelusup. Suara siapa itu?
"Collin?"
Ada lagi suara lain. Dan ia merasakan ada banyak orang lain di sekitarnya. Kenapa? Apa yang terjadi?
"Collin!"
Kenapa banyak sekali orang memanggil namanya?
"Oh Tuhan, ia bergerak!" terdengar suara lain yang ia kenal.
–Mom?
"Collin, kau bisa mendengar suaraku?" ia mendengar suara lain.
–Dad?
Kenapa ia bisa mendengar suara ayah dan ibunya?
"Collin, bisa kau membuka mata?" kembali suara ayahnya terdengar.
Bisakah ia membuka mata?
Perlahan ia mencoba menggerakkan bola matanya. Ya, ia bisa merasakan bola matanya. Ia bisa merasakan tubuhnya. Ia bisa merasakan jantungnya, berdetak. Ia bisa merasakan jemarinya. Bergerak, meraba sesuatu yang lembut.
Dicobanya membuka kelopak matanya. Sulit dan berat, tapi akhirnya kegelapan di sekitarnya tersibak perlahan. Cahaya, sangat terang, menerpanya, hingga ia kembali menutup mata. Baru beberapa detik kemudian ia memberanikan diri kembali membuka mata. Dilihatnya sosok-sosok mengerumuninya. Awalnya tidak jelas. Tapi lantas bayangan-bayangan itu mengambil wujud yang bisa ia kenali.
Ibunya. Ayahnya. Sue. Billy. Dan kawanan. Brady. Ben. Pete. Jacob.
Korra…
"Oh Tuhan, Cole, kau sadar!" gadis itu memekik, langsung menyerbunya bahkan sebelum ibunya memeluknya, mengaitkan tangan di lehernya. Bisa dihirupnya bau itu. Kehangatan itu.
Ini … betulan, kan?
Tak hendak dilepaskannya sensasi itu lagi. Bahkan jika ini masih mimpi. Takkan pernah.
Namun mendadak Korra melepaskan diri darinya. Seseorang menyibak kerumunan.
"Minggir, minggir," suara sosok yang ia kenali sebagai Adam mengusir mereka. "Aku harus memeriksa pasien."
Terdengar gerutuan tak setuju, tapi mereka membubarkan diri juga. Adam duduk di sisinya, mengarahkan ujung bulat stetoskop ke dadanya. Membuka kelopak matanya setengah paksa dan menyinari pupil matanya dengan senter.
"Yep, kau sudah sepenuhnya sadar," kata si dokter gadungan itu, dan dalam hati Collin mengutuk. Penting betul sih dia membuat Korra melepaskan pelukannya hanya untuk kesimpulan yang semua orang tahu?
Ia mencoba bangkit, tapi detik ia bergerak, detik itu pula ia merasa seluruh tubuhnya sakit.
"Aduh!" teriaknya. Dan begitu bahagianya ia bisa mendengar suaranya kembali.
"Jangan bergerak dulu, Bodoh!" tangan Adam menahannya tetap di tempat. "Tulang-tulang di tubuhmu banyak yang hancur… Setidaknya kau butuh pemulihan beberapa hari."
Collin mengangkat tangan dan memperhatikan tubuhnya. Baru disadarinya tubuhnya penuh dibalut perban.
Ugh. Ia jadi mumi lagi…
Tapi setidaknya ia kembali hidup. Itu saja harus ia syukuri.
Ia menatap sekelilingnya, wajah-wajah sumringah bahagia itu. Sebelum tatapannya tertumbuk pada satu sosok yang sebelumnya tak ia sadari. Seth.
Dan mendadak suara itu kembali terngiang di kepalanya. Satu suara terakhir sebelum ia kembali.
Aku telah memberimu kehidupan kedua. Aku hanya ingin kau menepati janjimu…
Benar. Ia telah berjanji.
Ia harus membunuh Kierra.
.
.
Catatan:
Aku ga tenang kalo ga post chap ini… /katanya udah mo kelar masih aja ada lanjutannya… (author ditimpukin pake batu karang First Beach) hehehe maaf ya…
Ugh… betapa inginnya aku kejadian tadi itu beneran… Collin jadian sama Korra… hixxx… Cuma mimpi ternyata… Di cerita ini banyak hal-hal absurd, ketidaksinkronan yang memang ditujukan untuk menciptakan atmosfer kalo itu ga nyata. Kebaca dari awal, ga?
Btw akhirnya Collin sadar! Hehehe…
Siapa tu yg nawarin kehidupan kedua sama Cole? Bs nebak dong ya?
.
Next: Padang Gersang
Laporan Seth pada Jacob soal apa yang terjadi di hutan waktu mereka berusaha nyelamatin Cole /eh emg si Cole ud mati kudu pake ada selamatan… ato malah lg hajatan? /ga penting lo
Dan ada juga sedikit drama Seth x Korra x Cole… hehehe… dan ada sedikit yg berubah di antara mereka tnyt stlh kejadian d hutan…
Tunggu chap slanjutnya ya… ("Embuuuuuunggg!")
