THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: Based on Stephenie Meyer's Twilight Saga.

.


.

Tujuhpuluh Empat - Padang Gersang

Wednesday, July 03, 2013

9.55 PM

.


.

"Sungguh, Cole ... Sampai sekarang aku tidak mengerti bagaimana caranya kau bisa lolos dari gempa bumi di dasar jurang itu. Ini pastinya mukjizat," ujar Korra pelan seraya mendorong tubuh mumi Collin di kursi roda cadangan Billy, melintasi halaman menuju pesta barbeque kecil yang mereka selenggarakan untuk menyambut sadarnya Collin.

Memang semua kejadian itu rasanya sungguh seperti mimpi hingga rasanya jika tidak melihat buktinya secara langsung, takkan ada yang percaya semua itu: seluruh peristiwa di dasar jurang, Cole tewas, Cole bangkit kembali. Rasanya begitu … aneh.

Betul kata Korra: ini pastinya mukjizat.

Begitu empat orang itu kembali, Cole langsung ditransfer ke Rumah Sakit Kawanan, maksudnya rumah Cullen, untuk menjalani perawatan intensif. Korra memohon-mohon sampai berlutut segala agar Jacob sudi menunda hukuman kurungan rumahnya, agar ia bisa menemani Collin. Sejujurnya, Jacob agak heran melihat gadis yang tempo lalu menekannya kini bersikap begitu submisif, tapi karena tak tega, akhirnya ia meluluskan juga permintaan itu.

Hubungan kawanan Quileute dengan kawanan asing memang masih tegang, tapi setidaknya ada tanda-tanda perdamaian. Ia toh tak bisa terus-terusan memperlakukan adiknya bak musuh. Terlebih pada suatu kesempatan, ketika ia patroli dan Korra pergi ke rumah Cullen bersama Seth, sang Alfa Putih muncul di hadapannya, sendirian. Meminta gencetan senjata. Sebagai bukti itikad baiknya, ia memberi sesuatu yang mengejutkan: meletakkan Korra ke bawah sayapnya. Bukan berarti ia melepas Korra, tentu, hanya menyatakan bahwa ia menyerahkan Korra ke dalam 'perlindungan dan belas kasihan' Jacob. Artinya ia menjadikan Korra sebagai tawanan Jacob, jaminan bahwa ia takkan berbuat macam-macam, misalnya menyerang kawanan Quileute. Jika kawanannya memperlihatkan gerakan mencurigakan, katanya, adalah hak Jacob untuk melakukan apa yang ia mau pada Korra sebagai harga. Membunuhnya, misalnya.

Sejujurnya, hal ini mengesalkan. Beraninya si Alfa Putih menjadikan adiknya sebagai tawanan… Apa ia melakukan itu karena yakin Jacob takkan mungkin melukai adiknya sendiri? Licik betul. Atau ia sudah tak peduli lagi pada keselamatan Korra? Yang makin membuatnya marah, Korra sepertinya terima saja diperlakukan demikian. Ia benar-benar sadar di mana tempatnya dan menunduk patuh—sesuatu yang tidak dilakukannya selama ini. Saking tunduknya, sampai Jacob mendapat kesan bahwa jika ia menyuruh Korra menyembah dan menjilati kakinya, itu pun akan dilakukan.

Tapi tentu saja Jacob takkan tega. Adiknya telah menolong Cole, kawanannya telah menolong kawanan Quileute, dan pastinya banyak kesulitan yang ia hadapi dalam prosesnya. Luka-luka Korra membuktikannya. Dan ingat Korra sedang mengandung, bukan rasa benci lagi yang melingkupinya, tetapi rasa sayang. Seakan ia harus melindungi Korra apapun yang terjadi. Terutama dari dirinya sendiri.

Korra bagaimanapun masih tidak membuka diri sepenuhnya. Jika Jacob bertanya, ujung-ujungnya ia selalu bilang 'bukan wewenangku untuk mengatakannya karena Alfaku belum memberiku izin'—membuktikan betapa kuatnya cengkeraman si Putih padanya. Meski hal ini pedih baginya, setidaknya ia tidak ingin mencari masalah sekarang. Ia tahu dan sangat tahu apa yang bisa dilakukan kawanan asing itu. Ia juga tahu menentang mereka sekarang sama sekali tak punya pengaruh baik apapun. Kawanan masih belum pulih benar. Apalagi dengan Seth yang nyata-nyata memihak Korra, ia tak bisa meresikokan perang terbuka dengan kawanan asing di saat seperti ini. Kawanan terbagi dua sekarang: yang menerima Korra sebagai bagian dari kawanan asing dan menerimanya dengan tangan terbuka sebagai pahlawan, dan mereka yang masih menaruh kecurigaan padanya. Dan sangat disayangkan, sebagian dirinya masih berada di kelompok kedua. Bahkan ia menyuruh Adam dan Caleb untuk mengawasi tiap gerak-gerik Korra dan Seth. Brady menentangnya, menganggapnya memasang penjagaan dan kecurigaan kelewat tinggi, apalagi dengan sikap Korra yang benar-benar mengkhawatirkan sepupunya, tidak peduli siapa dia. Tapi apalah arti protes Brady? Jacob tak bisa meresikokan apapun di titik ini.

Butuh waktu seharian hingga akhirnya Cole sadar. Ia kelihatan masih linglung, sampai Jacob kadang bertanya-tanya apa sepupunya mengalami geger otak permanen. Adam dan Caleb sudah mengecek bulak-balik dengan alat MRI, baik sebelum Cole sadar maupun sesudahnya. Hasil CT-Scan menunjukkan sedikit retak, menurut pembacaan Carlisle via jaringan nirkabel, yang pastinya akan bisa ditanggulangi oleh penyembuhan alami, sehingga mereka tak perlu khawatir. Yang lebih mengkhawatirkan kawanan adalah Cole mengalami guncangan psikologis. Dan sepertinya memang itu yang terjadi, jika melihat kondisinya belakangan.

Collin bukan Collin. Sama sekali bukan ia yang dulu. Ia lebih banyak diam, menerawang. Kadang saat Jacob mengajaknya bicara, meski matanya menatap Jacob, ia tahu pikiran sepupunya entah di mana. Bahkan setelah Caleb memutuskan Cole menunjukkan tanda-tanda kemajuan dan bisa pulang, jujur saja, kondisinya belum pulih 100%. Korra ada di sisinya hampir 24 jam—menungguinya waktu Cole masih belum siuman, dan setelah Cole sadar, ia juga yang mendorongnya ke sana ke mari dengan riang sambil berceloteh. Tapi bahkan Korra pun tak bisa membuat Collin ceria. Kadang ia tersenyum, tapi lantas matanya kembali buram. Entah apa yang dipikirkannya, atau bahkan apa ia berpikir. Tidak ada yang tahu.

Begitu mendapati Cole kembali dengan luka-luka di sekujur tubuhnya, ayah dan ibu Collin tentu saja tidak bisa menahan diri untuk tak mencecar Jacob. Akhirnya terpaksalah Billy memberi kelonggaran atas hukum kerahasiaan yang dipegangnya teguh selama ini, dengan menjelaskan semuanya pada sang adik. Tentu saja Connie tidak percaya—dia kelewat rasional untuk itu. Tapi lewat serangkaian penyangkalan, akhirnya ia terpaksa menerima segala kemustahilan itu sebagai fakta. Lagipula, apa lagi penjelasan yang bisa ia terima?

Hari itu Minggu, tepat delapan hari setelah kejadian di jurang. Dengan kondisi Cole yang membaik, meski masih separuh mumi, Korra memaksa diadakan pesta perayaan di rumah Black. Menarik semua beban berat di dadanya, Jacob berusaha menganggap semua ini sebagai kesempatan untuk merajut kembali semua yang hancur dalam beberapa bulan ini: perpecahan antarkawanan di La Push, perselisihannya dengan adiknya, mental kawanan yang sampai pada titik terendah, semuanya. Setidaknya jika ada kesempatan ia bisa menjadi Alfa yang baik dan bersikap bijak, membuktikan betapa salahnya anggapan semua orang bahwa ia adalah Alfa tak becus yang bisanya hanya mengundang kekacauan, inilah saatnya.

Jadi dengan menghalau segala kecurigaan, ia mengundang hampir semua orang: kawanan, keluarga mereka, para Tetua, Sam dan gerombolan pengkhianatnya… Bahkan ia meminta Korra menyampaikan undangan resmi pada si Alfa Putih dan kawanannya. Entah mereka menganggapnya sebagai taktik akal bulus untuk membongkar identitas mereka, atau curiga kawanan Quileute memasang jebakan untuk kemudian balik menyerang, ia tak peduli. Ia sudah punya itikad baik dan diharapnya itu cukup.

Semoga.

.

Jacob melambai dari tempatnya berdiri, di belakang pemanggang barbeque, ketika melihat tanda kehadiran Collin dan Korra di halaman. Tersenyum, Korra mendorong kursi roda Collin ke arah Jacob, memarkirkannya tidak begitu jauh dari sebatang pohon.

"Jam berapa mereka akan datang, Kak?" tanya Korra manis, mengambil alih pekerjaan dari tangan kakaknya.

Jacob melepaskan tusukan barbeque serta wadah berisi daging dan paprika di tangannya, membiarkan Korra menyelesaikan pekerjaannya. Ia sendiri beralih menata piring-piring di meja.

"Entahlah," jawab Jacob. "Mereka bilang akan datang sekitar jam 3... Baru telat sejam, mungkin ada urusan. Tenang saja, kurasa mereka akan datang sebelum senja."

"Bayangkan suasana pesta nanti dengan tubuh para tuan rumah dibalut perban," senandung Korra menerawang. "Tampaknya kita memang mengadakan pesta Halloween sebelum waktunya... Mungkin nanti kita bisa mengundang Mr. Mummy betulan untuk menjadi pengisi acara. Seharusnya kita pasang lampion labu…"

Jacob tertawa.

Dalam diam ia melirik ke arah Collin. Sepupunya itu tak mengalihkan pandangan dari adiknya. Ini biasa, sebetulnya. Sejak kapan memangnya si serigala kasmaran itu bisa tidak memandang atau memikirkan Korra, tidak peduli Korra sudah ada yang punya? Tapi hari ini, seperti waktu itu, ia sadari ada yang berbeda. Collin tidak memandang dengan menerawang, dengan binar kagum dan sedikit bermimpi yang biasa ada di matanya. Ia memandang tajam. Awas. Bak elang mengintai. Serigala kala berburu, mengawasi mangsa dari balik pepohonan.

Hanya ada dua kemungkinan. Satu, Collin punya niat tidak baik pada adiknya. Dua, Collin masih mencurigai Korra sebagai musuh mereka, dan memutuskan untuk menjadi Beta yang baik dengan melaksanakan tugas pengawasan.

Ia, yang selama ini paling menentang dan selalu asal-asalan melakukan tugas. Betapa ironis. Betapa aneh takdir membelenggu manusia dalam beberapa bulan terakhir ini.

Setelah berbagai kejadian tidak jelas yang melanda La Push, malam itu sudah final, ia harap. Kelompok vampir itu sudah kocar-kacir. Sarang mereka sudah dihancurkan. Ya, itu sarang vampir yang selama ini meneror La Push, bukan sarang kawanan serigala musuh. Dan para serigala asing itu datang untuk membantu.

Dipikir-pikir lagi, memang di balik sikap menyebalkan si Alfa Putih, ia selalu bilang punya itikad baik. Awalnya juga mereka menawarkan sebentuk kerjasama, bukan hanya penaklukan. Para anak buahnya sudah berulang kali menolong kawanan... Sarang vampir itu juga mereka yang menyelidiki diam-diam, mengobrak-abrik duluan. Memang jadinya para vampir itu makin kalap. Pertempuran di wilayah kamping itu termasuk skema balas dendam mereka yang salah sasaran. Tapi bukan berarti kawanan asing itu tidak bertanggung jawab. Mereka jelas tak hanya berpangku tangan melihat kawanan La Push dibantai untuk kesalahan yang mereka perbuat.

Memang situasi jadi parah karena Cole membuat ulah dengan menyangka sarang itu sebagai sarang kawanan. Jacob ikut andil dengan membuat kawanan datang ke sana walau sudah diperingatkan. Membuat rombongan vampir itu mengira kawanan Quileute-lah yang mengobrak-abrik sarang mereka, dan berniat menghancurkan mereka di situ. Tapi sekali lagi, kawanan asing itu membantu. Jika bukan karena mereka, kawanan La Push sudah jadi daging cincang.

Namun walau sudah ditolong dari kematian, Collin masih keras kepala dengan mengira semua itu skema kawanan asing. Mengatur agar para vampir bentrok dengan kawanan La Push, dan pada gilirannya membantu bak pahlawan. Semua dengan tujuan agar kawanan merasa berhutang budi, dan setuju bekerja sama. Agar mereka mampu menaklukkan dengan jalan halus. Tapi anak-anak banyak yang menganggap ucapan Collin itu hanya sekadar pengalihan. Agar tak ada yang menyalahkannya karena hampir membuat kawanan terbantai akibat tindakan gegabah yang ia lakukan: menggiring langsung kawanan ke rumah jagal. Sesudah Cole bangkit dari liang kubur, memang kelompok kontra-Collin tak lagi bergaung. Mereka sudah menyadari rasanya kehilangan saudara, dan meski ketidaksetujuan mereka pada aksi heroik itu masih terdengar di sana-sini, setidaknya sudah tak ada yang menyumpahi Collin lagi.

Jacob sendiri merasa terbelah. Di satu sisi ia ingin percaya pada teori Collin. Tapi jika begitu, artinya mereka masih menduga kawanan asing itu musuh. Dan dengan Korra menjadi bagian dari mereka, artinya Korra pun masih menyimpan rencana di balik sikap manisnya. Jacob tak tahu harus merasa bagaimana dengan kemungkinan abu-abu ini. Serigala hitam, bagaimanapun, berulang kali menolong nyawanya.

Patutkah mereka masih curiga?

Jika dipikir lagi sekarang, mungkin kawanan asing itu hanya... 'berbeda'. Mereka punya cara hidup dan falsafah yang berlainan dengan kawanannya. Mereka mungkin menganggap apa yang mereka lakukan benar, dengan penaklukan dan kata-kata menyebalkan, tapi mereka tak sungguh-sungguh jahat. Mungkin memang ya, mereka hanya berniat mencari sekutu. Untuk melawan musuh bersama, para bangsawan lintah.

Ini semua cuma urusan paradigma. Bagi kawanan La Push yang sejak awal keanggotaannya berdasarkan keturunan, tak pernah ada kata penaklukan. Dan mungkin karena sejarah suku mengajarkan bahwa penjajahan itu salah, mereka tak pernah berpikir tentang okupansi. Jangan kata menjajah, untuk memimpin saja, anggota kawanan saling lempar batu. Kasusnya dengan Sam dulu, atau Collin kemarin, sudah jadi bukti bahwa mereka tak begitu berminat dengan yang namanya kekuasaan.

Tapi ada banyak kawanan shifter di luar sana, dengan sistem masing-masing. Dan para serigala nomad... Mereka hidup dalam alam yang sama sekali tak bisa ia bayangkan. Membentuk pandangan hidup mereka, cara yang paling sesuai bagi mereka. Apakah kini ia akan memaksakan mereka hidup dengan caranya? Cara yang terbentuk di sini, di hutan yang relatif aman tanpa ancaman berarti selain dari para vampir? Tentu tidak.

Ya, seperti para vampir. Ada yang makan manusia dan ada yang tidak. Itu cuma cara hidup. Perbedaan pandangan. Tetapi saat melawan musuh bersama, mereka bisa bersatu padu.

Ini cuma masalah toleransi.

Benarkah begitu?

Tidak. Masih terlalu dini untuknya berpikiran seperti itu. Penilaian dan keputusannya sangat penting. Masa depan suku mungkin tergantung pada keputusannya menyangkut kawanan asing itu. Terutama dengan tidak adanya Seth, tidak ada yang bisa ia harapkan untuk menimbang segala sesuatunya lebih matang dan bijak selain dirinya.

Ya, terutama dengan tidak adanya Seth.

Seth, bagaimana kedudukan dia sekarang? Korra sudah terbukti bagian dari mereka. Lantas Seth mengikutinya. Apa ia masih bisa menyebut Seth sebagai Betanya? Tapi kedudukan Seth tidak hanya ditentukan oleh Korra. Tapi juga oleh Collin. Seth juga terikat pada Collin berdasarkan Sumpah. Kesetiaan Seth pada Collin seharusnya sama besar dengan kesetiaannya pada Korra.

Jujur saja ia masih belum menganggap serigala putih sebagai sekutu. Mereka sedang melakukan gencetan senjata kini, dan Korra ditempatkan sebagai tawanan. Bagaimana perasaan Seth? Dia jelas terbelah. Di antara Korra dan Collin. Apakah ia akan menentang Sumpah, kembali memihak kawanan Jacob? Seperti seharusnya?

Semua takkan terjadi jika Korra bukan bagian dari mereka...

Tapi bagaimanapun adiknya tetap Quileute. Jika ia bisa menarik Korra kembali... Jika ia bisa membuat loyalitas Korra berpindah, kembali padanya... Jika ia bisa memenangkan Korra...

Ya. Jika ia bisa memenangkan si serigala hitam... Atau lebih baik dari itu. Jika ia bisa menang dari si Alfa Putih... Maka tidak hanya Korra dan Seth, juga Noah... Mereka akan kembali... Ia tak perlu khawatir dan bimbang dengan beragam teori lagi. Jawabannya mudah.

Jika ia bisa mengalahkan si Putih...

Tunggu. Apa yang ia pikirkan sekarang? Menaklukkan serigala lain? Serigala yang membawahi banyak kawanan? Apakah dengan demikian ia akan menjadi kaisar dari semua kawanan shape-shifter? Tidak, bukan, menjadi penjajah?

Tidak. Itu tidak akan terjadi.

Ia tidak haus kekuasaan. Bahkan jika ia harus mengalahkan si Putih untuk mendapatkan kembali Korra... Apa ia harus menjadi penakluk untuk itu? Menjadi bagian sistem gila itu?

Tapi Korra ... dan Seth...

Apakah idealisasinya akan balik melawannya?

"Jake?" suara Korra menyelusup di kepalanya. Ia tersadar, mengerjap. Menoleh pada sang adik di sisinya. Tampangnya khawatir. Tangan Korra memegang lengannya. Dan baru ia sadar. Tangannya bergetar hebat. Membuat piring di tangannya ikut berguncang.

Ia langsung menarik napas. Menenangkan diri. Ia tidak boleh berubah di sini. Tidak dengan tangan Korra bergelayut di lengannya.

"Kenapa, Jake?" tanya Korra khawatir. Di ujung sana, Collin masih mengawasi dengan mata memicing.

"Tidak, maaf..." ujar Jacob, kini sudah berhasil menguasai emosi. "Ada sesuatu yang kupikirkan... Tidak apa-apa."

"Istirahatlah kalau kau tak enak badan. Biar di sini aku yang mengurus."

Jacob memaksakan diri tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Korra..." ujarnya. "Hanya sedikit pusing tapi tak apa..."

"Sungguhkah?" telapak tangan Korra bergerak menyentuh dahinya. Seperti biasa, tangan Korra tidak memiliki suhu yang sama dengannya. Lebih dingin. "Astaga, Jake..." Korra kelihatan ngeri. "Kau seperti kompor!"

Entah apa yang membuat karakteristik serigala pada umumnya tidak tampak pada Korra, tapi seharusnya ia bisa menduganya. Gadis itu tetap memakai baju rapat dan tebal di udara yang tengah menghangat. Tubuhnya pun tidak menunjukkan tanda-tanda perkembangan pesat. Ia pendek, suhu tubuhnya rendah… Semua ketiadaan ciri itu membuat mereka tak pernah menduga Korra sudah berubah selama ini. Padahal sudah jelas ia serigala … apa yang terjadi dengannya?

Ia melepaskan tangan Korra dari dahinya. "Tidak apa-apa... Ini namanya normal... Kau itu yang butuh istirahat," kata Jacob, menunjuk sebagian tubuh Korra yang masih diperban rapat.

"Aku tidak apa-apa. Kau itu yang selalu memaksakan diri! Aku dengar Adam selalu ribut setiap kali ia datang dan memeriksamu. Kau belum pulih benar, kan? Menurut padaku sekali ini, Jake... Istirahatlah..." Korra menekankan sungguh-sungguh, mau tak mau membuat Jacob tertawa.

"Apa?" bentak Korra kesal.

"Tidak... kau seperti ibu-ibu..."

"Itu namanya khawatir, tahu! Sana masuk dan istirahat!" Korra pura-pura menendang bokongnya. Jacob berkelit sambil meletakkan piring. Menjulurkan lidah dan menarik sebelah kantong mata dengan sikap mengejek.

"Oke, Mom..." ia memasang tampang usil yang membuat Korra balas melotot dan menjulurkan lidah. "Aku akan masuk… Benar kau tidak butuh aku lagi?"

"Tidak!" kata Korra tegas. "Tapi kalau nanti kau merasa sudah baikan, kau bisa membantuku mengambil buah-buahan. Dan oh ya, aku membuat koktail buah dan pusing. Ada di kulkas. Sekalian masuk, tolong cek apa Seth sudah memanaskan lasagnaku, ya..."

"Lasagna lagi, Korra?" Jacob mengeluh. Beberapa hari ia kekenyangan makan lasagna yang dipersiapkan Korra untuk pesta penyambutan Rachel yang gagal. Dan kali ini Korra membuat lasagna lagi untuk pesta kembalinya Collin?

"Jangan membantah! Salah sendiri kalian protes kalau aku masak masakan India…," Korra menjulurkan lidah padanya. "Sudah sana, cepat!"

Jacob hanya nyengir. "Siap, Mom…," ujarnya seraya memberi hormat pramuka, sebelum berbalik dengan sikap badung yang membuat Korra melemparkan lap dapur padanya.

.


.

Ia masuk dan mendapati Seth sedang sibuk sendirian di dapur, memasukkan loyang-loyang lasagna ke microwave. Lasagna adalah signature dish Korra, beserta serangkaian masakan oriental lain. Tapi karena lidah keluarganya kurang cocok dengan masakan bercita rasa tajam, Korra lebih sering memasak lasagna, pasta, apapun masakan Italia. Cuma itu masakan yang bisa mengakomodasi selera keluarga yang agak hambar, dengan selera Korra yang menggemari rempah-rempah.

Kadang Jake membayangkan apa jadinya bila Korra jadi Alfa, mengurus kawanan. Mungkin ia bisa mengurus sama baiknya dengan Emily, setiap hari memasak... Memenuhi gizi kawanan sekaligus mengembangkan hobinya... Yah, asal Korra tidak sering-sering membuat masakan India atau Indonesia yang bikin sakit perut itu... Tapi toh perut kawanan kan kebal...

Hahaha... masa adiknya disuruh jadi Alfa merangkap koki? Tega sekali kawanan, jika sang Alfa harus mengerjakan semua sendiri, mulai dari masalah kepemimpinan hingga urusan perut?

"Jadi katakan padaku apa yang kaulakukan, Seth," ujar Jacob tajam, mengambil tempat di seberang Seth, bersandar pada konter.

"Eh?" Seth memandangnya bingung, terhenti di tengah-tengah usahanya mengeset timer microwave. "Ummm, aku menjalankan perintah Korra?" ujarnya tak yakin.

"Perintah?"

"Memanaskan lasagna, kau tahu…" ia menunjuk tumpukan lasagna dingin yang baru dikeluarkannya dari kulkas.

Bahkan sebelum Cole dibawa ke rumah Cullen, sejak cukup kuat untuk berjalan ke dapur—walau masih menyandang luka-luka di sekujur tubuh—Korra sudah kelewat antusias untuk mengadakan pesta. Tak mempedulikan apapun, tidak juga larangan Jacob dan permohonan Seth, ia sudah menari-nari di seputar dapur. Dibantu Seth dan Jacob yang bisa dibilang hampir tak berguna selain untuk mengaduk adonan dan menggiling pasta, ia memasak masakan andalannya: lasagna. Tak banyak yang bisa ia masak, memang, mengingat kepulangan mereka begitu mendadak. Sejak ia tak pulang-pulang, urusan persediaan bahan makanan di dapur jadi agak terbengkalai. Untung saja sebelumnya Billy dan Sue, dibantu Emily dan Brady—karena ibu Cole dan Rachel adalah tipe wanita karir yang lemah dalam hal memasak—sudah bekerja keras membuat beragam masakan untuk resepsi duka Collin. Tinggal dihangatkan, sehingga memang tak banyak yang perlu ia tambahkan.

Kebetulan karena kemarin seharusnya jadi hari pemakaman Collin, keluarga Black telah menyiapkan resepsi duka di rumah itu, mengingat halaman rumah keluarga Littlesea terlalu kecil bahkan hanya untuk menampung keluarga besar mereka, lebih lagi pelayat dari seantero suku. Setelah Cole kembali, memang acara itu batal. Para pelayat bubar di tengah jalannya upacara dan bahkan tak mau repot-repot datang untuk menengok Cole—mungkin pikir mereka, ini tentunya jadi waktu privat keluarga—sehingga sudah dipastikan takkan ada yang datang. Tapi Korra bersikeras untuk tetap mengadakan pesta, kali ini diubah menjadi syukuran kembalinya Collin. Tentu saja, mana mau ia membuang masakan hasil kerja keras ayahnya? Meski tidak begitu pun, makanan itu pasti akan habis dengan sendirinya. Sejak kapan sih, nafsu makan para serigala itu berkurang?

"Bukan itu maksudku," decak Jacob, mengambil gelas dari rak dan mengisinya dengan air dari kran. Entah mengapa jawaban kacau Seth membuat tenggorokannya kering. "Maksudku apa yang kaulakukan bersama Korra di hutan? Waktu kau mencari Cole."

"Oh itu…," Seth berbalik mengurus tombol-tombol di tubuh microwave. "Tidak banyak yang harus dikatakan, sebenarnya. Korra merekrutku untuk melacak Cole karena dia kekurangan orang. Lalu setelah beberapa hari mencari, kami tak juga menemukan titik terang. Jadi kami merekrut Brady," jelasnya tanpa berupaya kembali memandang Jacob. Entah apa yang membuatnya begitu serius menghadapi masalah timer.

"Begini caranya," Jacob mendekat dan memencet beberapa tombol. Serius, aneh sekali melihat Seth begitu buta masalah masak-memasak. Ia tahu Seth dimanja oleh ibunya, tapi masa iya ia tak pernah menyentuh dapur?

"Umm, terima kasih," ujar Seth agak malu seraya mundur untuk membuka pintu kulkas.

"Oke. Jadi apa yang kalian dapat?" Jacob bersandar di konter dapur, mengawasi punggung Seth sementara pemuda itu berlama-lama mencari entah-apa.

"Yeah, tidak ada yang terlalu penting. Kami mendapat jejak Cole, lantas mengejar Cole… Melihatnya sedang dirubungi para vampir, bertarung… Mengalahkan mereka dan membawa Cole pulang. Sederhana."

Oke. Di titik itu Jacob tahu ada yang mencurigakan. Seth tidak pernah memandang sesuatu dengan sederhana. Dulu, mungkin ya. Tapi tidak tiga tahun ini.

Dan terutama, tidak untuk sesuatu yang membuat kawanannya panik. Membuat dirinya, Betanya, dan khususnya sang kekasih pulang dalam keadaan hancur.

Diperhatikannya Seth—yang tahu bahwa ia tak bisa terus menenggelamkan diri di balik pintu kulkas—bangkit seraya menggenggam sekaleng bir di tangannya. Nah, ini dia satu lagi yang aneh. Seth tidak minum alkohol.

Jacob berusaha menghalau kecurigaannya. Ya, Seth berusaha menghindar menatapnya atau minum bir sama sekali bukan petunjuk apapun. Itu bahkan tidak mencurigakan sama sekali. Semua pastinya berubah dalam beberapa hari terakhir. Tentu saja Seth stress. Dan sebagian penyebabnya adalah dirinya sendiri. Lagipula Seth sudah dewasa. Sudah akan jadi ayah… Memangnya dia akan melarang Seth minum?

"Kau tahu identitas si serigala putih?" tanyanya langsung, yang tanpa diduga-duga membuat Seth kontan menyemburkan birnya.

Salah. Seharusnya ia sudah menduganya.

"Uhm, maaf…," ujar Seth rikuh, setengah malu, setengah gemetar di hadapan pelototan maut sang Alfa. Diraihnya lap dapur untuk membersihkan konter dan lantai yang terciprat semburan bir, sementara dengan kesal sang Alfa meraih lap kertas untuk membersihkan percikan bir yang sukses mendarat di wajah dan tubuhnya.

Jika ini usaha Seth untuk melakukan pdkt dengan calon kakak ipar, serius, ia jauh lebih parah dari Collin!

"Cih!" gerutu Jacob tanpa berpikir. "Kau bersikap seolah kau memang benar mengenalnya, Seth…"

Dilihatnya Seth memucat tepat di hadapannya, yang seketika membuatnya memicing.

"Kau memang mengetahui identitas si Putih, ya kan?"

"Kumohon, Jacob, jangan bertanya…"

Mata Jacob langsung membelalak.

"Ha! Kau memang mengenalnya!" tudingnya. "Tidak mungkin tidak, kalian bersama selama … berapa lama? Seminggu? Mana mungkin ia terus berada dalam wujud serigala selama itu kan? Katakan: apa ia menurunkan Titah agar kau tidak membocorkan identitasnya padaku?"

Tak menjawab, Seth lekas-lekas menenggak birnya dalam tegukan besar. Hanya untuk kembali memuntahkanya di wastafel sedetik kemudian.

"Astaga, pahit betul!" omelnya. "Minuman apaan sih ini?!"

Dengusan lelah keluar dari bibir Jacob kala ia melangkah mendekat. "Bagaimana Billy bisa tahan dengan minuman itu memang masih misteri… Maka dari itu, jangan coba-coba kalau kau memang tidak biasa…," diraihnya kaleng itu dari tangan Seth, lantas dibuangnya isinya di basin. "Dan satu lagi: jangan coba-coba berbohong atau menutupi apapun lagi dariku, Seth," suaranya mendadak tajam. "Kau memang pandai menutup pikiran, tapi kau itu pembohong yang payah."

"Eh?"

Seth masih bingung mengenai apa sebenarnya yang dimaksud Jacob ketika dengan santainya sang Alfa meluruskan kaki, bersandar pada konter, sementara matanya menatapnya bak terdakwa. Sama sekali tidak bicara apapun.

"Ehm, Jacob," Seth berusaha mengenyahkan rasa tak nyaman di perutnya di bawah tatapan Jacob. "Kalau boleh kutahu…" ia berhenti.

"Apa?"

"Eh, anu…"

"Kau mau tanya sejak kapan dan bagaimana aku tahu soal hubungan kalian?"

Seth menelan ludah.

"Sejak awal, tentu," ujarnya tenang.

"Sejak … awal?" suara Seth agak tercekat.

"Tentu. Pikirmu aku bodoh bisa kauperdaya sepanjang waktu?" cibirnya. "Ya, ya, kuakui aku tak secerdas kau atau Collin. Sam jelas menganggapku Alfa boneka dan bahkan para Tetua tidak mempercayai kepemimpinanku hingga selalu berusaha ikut campur. Kawanan jelas selalu mempertanyakan keputusanku dan menganggap semua penilaian, kecurigaanku tak berdasar sama sekali. Tapi kalau menyangkut Betaku, aku tahu satu hal. Instingku tak mungkin salah. Dan kau, jujur saja, agak terlalu jelas, Seth," ia bahkan tidak tersenyum.

Seth agak menganga. Ia tahu ia sudah memasang penjagaan penuh selama ini. Apa yang ia lewatkan?

"Pertama aku curiga waktu aku mendengar suara Korra di telepon, waktu kalian kencan di Port Angeles, sebelum penyeranganmu yang kedua. Dan Korra pulang diantar olehmu. Jelas ia mabal. Lantas kau telat janjian denganku keesokan harinya. Setelah itu, terus terang saja, aku tak banyak memperhatikan kalian, tapi kalau kuingat-ingat, pastinya banyak sekali petunjuk yang mengarah ke sana. Waktu di api unggun, misalnya. Entah apa yang membuatmu datang bersama Cole padahal aku tahu Cole pergi dengan Brady dan Korra, tapi pastinya kalian membicarakan sesuatu. Dan kalau dikaitkan dengan perselisihan antara kau dan Cole, sudah pasti sesuatu itu berhubungan dengan Korra. Terlihat waktu Cole langsung menghampiri Korra, kau langsung pasang aksi sok-dekat dengan Nessie. Apa kau ingin membuat cemburu Korra?" ia mendengus melihat ekspresi beku Seth. "Oh ya, Embry sempat bilang, kau berinisiatif melakukan patroli hingga Port Angeles dan Seattle. Setelah kuingat-ingat, itu bahkan terjadi tak hanya setelah kau sadar pasca-penyeranganmu yang kedua, tapi sebelumnya. Alasan patroli, eh? Kaupikir apa aku? Aku satu rumah dengan pacarmu!"

Seth tak bisa bicara.

"Saat itu aku berusaha mengenyahkan kecurigaanku. Seth yang kukenal takkan menikam dari belakang, pikirku. Baru kusadari ketika aku dan Korra bertengkar. Ia jelas kenal kau lebih dari yang kusangka. Terlalu kenal, bahkan, kalau menimbang kau tak pernah memunculkan bayangan tentang Korra di pikiranmu. Kau muncul di sidangku setelah aku difitnah Korra. Kau membelaku, ya, tapi tidak sekeras biasanya. Jujur, tampangmu lebih seperti orang yang shock berat waktu itu. Apa pikirmu pacarmu tak mungkin melakukan itu padaku?" ia berdecak sinis. "Dan setelah itu kau terus berupaya mendamaikan aku dan Korra. Hingga taraf yang menurutku kau terlalu ikut campur. Sama sekali bukan tipikalmu, mengingat tidak seperti Embry, kau cenderung tidak mau ikut campur masalah yang bukan urusanmu jika tidak menyangkut kawanan. Lantas aku waktu di perkemahan. Kau memaksa melakukan pengaturan itu. Melindungiku, heh? Apa bukan itu karena kau ingin melindungi Korra?"

Seth masih tak bisa bicara

"Semula kupikir begitu," senyum Jacob yang membuat bulu roma Seth bergidik. "Tapi aneh karena aku yakin kau mendekati Korra karena termakan gosip kawanan mengenai gadis itu serigala hitam. Seharusnya Korra tidak butuh perlindungan kan? Ia yang melindungimu. Image Korra di kepalamu adalah serigala yang kuat, sangat. Aku masih tak mengerti ketika kau benar-benar bersikap aneh sewaktu aku menarikmu dan Cole dari penjagaan, lantas kau agak kehilangan ketenangan waktu aku mendekatimu di sungai, terlambat dan malah ribut dengan Cole, membiarkan lahan kamping tidak dijaga. Dan lebih lagi sikapmu waktu Korra hilang. Beda dari yang lain yang berpikiran Korra diserang atau diculik, kau malah menelurkan kemungkinan Korra pergi sendiri. Tapi anehnya, kau juga panik, walau berusaha menutupinya. Dan saat itu kutahu sesuatu."

Seth bahkan tak kuasa untuk bertanya apa 'sesuatu' itu.

"Kau sendiri tidak yakin ia serigala hitam, kan?"

Tepatnya itu yang menampar Seth. Jacob tidak yakin Seth mencintai Korra jika tidak menganggapnya si serigala hitam…

Di kepala Jacob, jika Korra bukan serigala hitam, maka Seth akan meninggalkannya…

Dan Korra bukan serigala hitam…

"Jake, itu…"

"Apa kau mau bilang kau tak peduli ia siapa, kau mencintainya sepenuhnya? Jujur saja meski aku yakin kau akan mengatakan itu, aku sendiri masih mempertanyakannya," ia menghembuskan napas dan menatap langit-langit rendah, lantas melanjutkan. "Kau menutupi masalah Korra dengan sangat baik, Seth. Tapi dengan itu justru aku menjadi sangat curiga. Kau memang selalu menutupi pikiran, tapi ini terlalu intens. Sikapmu yang aneh waktu di hutan, betapa kau sangat memperhatikan si Hitam… Kecemburuanmu pada Cole… Dan lantas Embry dan Quil mengatakan Cole marah padamu karena Brady mengungkap beberapa adegan dari kepalamu. Mereka membantah mati-matian kemungkinan kalian berpacaran, dan semula aku pun ragu. Tapi tak peduli berapa kali pun kepalaku berusaha mengenyahkannya, instingku terus mendengungkan hal ini: kau bersama Korra… Dan itu, jujur saja, membuatku khawatir."

Tidak ada apapun yang keluar dari bibir Seth. Tidak juga ketika ia hanya menatap Alfanya dengan mata separuh membelalak.

Benar, kawanan selalu menganggap Jacob emosional dan bodoh. Benar, bahkan Tetua pun meragukan kemampuannya. Benar, bahkan ia pun acap menyepelekan sang Alfa. Tapi tentu saja, Jacob memiliki insting. Dan ia ingat, bahkan kecurigaannya pada Sam pun bermula dari Jacob. Ketika Jacob mengaku melihat Sam di hutan. Ketika Jacob mengemukakan kecurigaan-kecurigaannya.

Jacob tidak bodoh.

Mengenai ia yang mendekati adik sang Alfa, mana mungkin Jacob sampai melewatkan hal sejelas itu?

Ya. Jika Jacob sudah curiga bahwa adiknya ada main dengan Seth, tidak mungkin ia tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan di belakangnya. Jauh sebelum ini… Jacob menemukan kotak kondom itu, demi Tuhan!

Dan mengapa Jacob sampai menemukan kotak sial itu? 'Kebetulan', kata Korra? Huh, yang benar saja!

Jadi mengapa Jacob membiarkan? Tahu Jacob, ia mungkin akan langsung menghajarnya begitu tahu Seth-lah yang menyentuh adiknya.

Hanya ada satu kemungkinan…

"Kau berupaya menjadikanku umpan?" tak diduganya pemikiran itu mampir di kepala Seth. Jacob menjadikannya umpan untuk membongkar identitas Korra? "Sumpah itu sengaja kaulakukan agar aku menyerahkan kesetiaanku pada Korra, agar kau bisa membuatku mempenetrasi kawanannya?"

Benarkah begitu? Jacob menjadikannya pion?

Tapi Jacob berdecak.

"Astaga Seth, mana mungkin aku bisa memikirkan hal serumit itu? Jawabannya tidak. Coba tilik lagi kronologis kejadiannya. Waktu di hutan, aku memang curiga tapi aku tak benar-benar yakin kau berpacaran dengan Korra. Aku tak punya bukti apapun. Aku bahkan tidak yakin apa Korra memang sudah berubah atau belum, lebih lagi seratus persen percaya dialah si serigala hitam. Kau tahu seperti apa sikapnya di depanku."

Ya, Seth tahu itu.

"Tapi curiga saja sudah cukup bagiku. Aku tak peduli Korra serigala hitam atau tidak, aku bahkan berdoa dia bukan si Hitam. Itu tak masalah, selama kau percaya dia serigala hitam. Dengan intensitas permainan pikiran geng Collin, tak ada pilihan lain. Sudah jelas kau pasti mendekati Korra, meski aku tak tahu hingga taraf apa. Saat kubuat Sumpah itu, aku cuma berpikir demi dua hal: kawanan dan Korra. Jika aku mati, jika aku tak lagi bisa memimpin, aku ingin mereka berada pada tangan yang tepat."

Tangan yang tepat…

Tangannya…

Sungguhkah?

"Kau ingin melindungiku…," bisik Seth. "Ramalan Alice membuatmu yakin bahwa kau pasti mati, entah karena si Putih atau karena sebab lain, tapi kau tak ingin aku mengalami nasib itu. Karenanya kau memaksaku untuk tetap hidup, apapun bayarannya. Ketika Sumpah itu dibuat, kau bertaruh mengenai identitas Korra sebagai serigala hitam. Kau tidak yakin, tapi menempatkanku di tempat yang sama dengan si Hitam mungkin akan menyelamatkan tidak hanya nyawaku, tapi juga seluruh kawanan. Jikapun Korra belum berubah, kau ingin ada yang melindungi kawanan agar tak bertindak gegabah, membalas dendam kematianmu atau apa. Tapi menempatkanku di tangan Korra, itu saja tidak cukup, begitu kan?" ditatapnya mata sang Alfa dan kali itu ia melihat hal lain yang biasanya terkubur. Tekad. Kasih. "Kau tetap ingin satu saat kami bisa bangkit demi kebebasan kami. Karenanya kau mengikatku dengan Collin…"

Jacob mengangguk.

Ini benar-benar di luar pemikirannya. Selama ini ia melihat Jacob sebagai pion. Tapi ini … Jacob juga … bermain?

Permainan yang parah. Jika Jacob bermain dengan cara seperti ini, ia pasti akan kalah…

"Saat kuyakin kau memang berpacaran dengan Korra dalam level yang … kau-tahu-apa, jujur saja, Seth, aku benar-benar merasa kacau. Tak kuduga kau akan berani melakukan semua itu. Jujur aku ingin menonjokmu karena berani-beraninya membohongiku selama ini… Dan lebih lagi, meremukkanmu karena menyentuh adikku," kata Jacob dengan geraman dalam. Seolah belum cukup, itu masih ditambah tangannya meremas, bukan, meremukkan kaleng bir itu dalam genggamannya. Kelewat berlebihan, memang, dan tidak perlu juga. Seth sudah terbiasa melihat gertakan Jacob dalam level yang jauh lebih tinggi, dan ini terkesan kelewat manusiawi. Namun, anehnya, kali itu gertakan lemah itu membuat mata Seth membelalak dan cuping hidungnya mengembang.

Meski agak memicing, Jacob menyeringai dengan dengusan khasnya, sebelum melempar kaleng itu ke tong sampah di pojok dan melangkah membuka pintu kulkas, mengambil sekaleng cola.

"Aku ingin mengatakan itu. Tapi aku abaikan itu sekarang. Sebagai kakak iparmu, kau bisa anggap itu sebagai hadiah pertunangan," ujarnya santai seraya membuka kaleng cola dan menenggaknya, yang entah bagaimana tampak laksana hantaman bertubi-tubi di wajah pucat Seth. "Tapi tentu saja aku tak memberikannya secara cuma-cuma."

Kepala Seth berpaling padanya begitu cepat hingga Jacob bersumpah ia bisa mendengar derak patah leher Seth.

"Tidak … cuma-cuma?"

"Ya. Aku berusaha melihatnya dalam perspektif berbeda," Jacob mendekat, meletakkan tangannya di bahu Seth. "Kau, Seth, bisa menjadi seseorang yang kuandalkan."

Rasa tidak nyaman menggeliat di perut Seth. Ia tahu apa yang ingin dikatakan Jacob…

"Kini saat aku tahu kau pastinya punya informasi berharga yang pastinya kaudapat dari hubunganmu dengan adikku. Benar begitu, Seth?"

Betul, kan? Meski ia bilang ia awalnya tak ingin mempenetrasi kawanan Korra, tapi itu mampir pula ke kepala sang Alfa. Seth sebagai pion…

"Jake," ia berupaya menghela tangan Jacob. "Aku tidak yakin…"

"Ada apa?" Jacob menatap matanya tajam. "Apa kau mau bilang kau sudah berpindah kesetiaan secara penuh, hingga kau tak bisa lagi menerima perintahku?"

"Tidak, bukan begitu…"

"Aku tidak mengikatmu hanya pada Korra, Seth… Aku juga mengikatmu pada Cole… Dan sejauh yang kutahu, Cole belum terikat pada Korra."

Nah, itu dia masalahnya.

"Jacob," katanya dengan suara mengawang-ngawang, "bagaimana seandainya Cole yang ada di posisiku?"

Jacob menatapnya.

"Kau tahu Cole menyayangi Korra, lebih daripada apapun…"

"Kau masih ragu dengan perasaan Korra?"

Seth menggigit bibir. Sejujurnya, ya.

"Atau kau yang ragu dengan perasaanmu?"

Saat itu Seth terhentak. "Tidak. Tidak. Aku…"

Tak urung Jacob menatapnya curiga. "Apa kau sudah mengimprint seseorang yang lain?"

Seth mengerjap-ngerjap panik, membuat Jacob membelalak.

"Kau mau meninggalkan adikku?!"

"Tidak!" bantah Seth keras. "Tentu tidak! Itu bukan masalahnya, Jake! Astaga, bagaimana aku harus mengatakannya?" ia mendesah dan menyandarkan tubuh ke konter. "Aku cuma bertanya, bagaimana jika mereka saling terikat? Kita tahu kedudukan Cole. Entah posisi Alfa kawanan akan diturunkan pada Cole satu saat nanti, atau Cole sendiri yang bangkit menjadi Alfa…"

"Apa yang ingin kaukatakan?" tanya Jacob dengan mata memicing. Jangan katakan Seth takut jika Cole terikat pada Korra, lantas Cole sebagai Alfa masa depan akan menjadikan kawanan tunduk sukarela di bawah kekuasaan aliansi…

"Jacob, dengar," Seth mendadak tampak serius, mencuri-curi lihat keluar jendela kemudian menatap Jacob tajam. "Aku tak banyak waktu di sini," katanya. "Kau tahu mengenai Hukum Alfa?"

Mana mungkin Jacob tak curiga dengan Seth yang mendadak mengubah pembicaraan? Tapi tahu Seth, terlebih kegugupannya kala mengintip ke halaman belakang, mungkin mengecek di mana Korra, Jacob tahu ada sesuatu yang ingin Seth sampaikan.

Jacob menatap Beta-nya, atau mungkin mantan Beta-nya, ia masih belum dapat memastikan kini.

"Kau tahu bahwa para kandidat Alfa tidak hanya memiliki kesempatan untuk menjadi Alfa, tapi juga punya hak untuk membentuk kawanan terpisah?"

Ya. Ia tahu itu. Pertanyaannya, mengapa Seth menanyakannya?

"Kau tahu bahwa sejatinya, pada awal terbentuk, Alfa kawanan Quileute yang pertama sebelum masuknya kau bukan Sam, melainkan Jared?"

"Apa maksudmu?" kernyit Jacob.

"Aku yakin kau pernah memikirkan ini. Hanya karena Sam yang pertama berubah, bukan berarti ia punya hak untuk membentuk kawanan. Hak Sam untuk membentuk kawanan muncul ketika Jared berubah. Jared memang tidak memiliki hubungan dengan salah satu serigala dalam kawanan Ephraim, tapi ia memiliki silsilah darah Black dari tempat yang lebih tinggi. Moyangnya adalah Joanna Black, putri sulung Jacob Black I, Alfa dua generasi sebelum Ephraim… Dengan kata lain, seharusnya Jared-lah Alfa."

Ya, memang Jacob pernah mendengar ini. Collin pernah mengatakan kemungkinan itu padanya. Tapi mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Seth beda halnya dengan keluar dari bibir Collin. Keduanya memang sama-sama selalu menelurkan banyak kemungkinan aneh, tapi ia tahu Seth takkan bicara jika tanpa pertimbangan.

"Kau berpikir begitu?" tanya Jacob.

Seth mengangguk. "Jared memberikan mandat sementara pada Sam, menunggu waktunya ketika kau berubah dan bisa memimpin. Tapi selanjutnya kau memberi mandat pada Sam. Hanya karena itulah ia bisa menjadi Alfa."

"Artinya benar, begitu Sam membentuk kawanan baru di luarku pun, Jared memang merupakan bagian kawanannya… Sam memerlukan Jared untuk memperkuat kedudukannya."

Ya, Jared atau Leah.

Kembali Seth mengangguk.

"Dan itu berarti," ia bicara hati-hati. "Di kawanan sekarang, bukan cuma kau yang berhak membentuk kawanan."

Jacob berpaling padanya.

"Tidak hanya kau satu-satunya darah Black di kawanan. Kau memang yang memiliki kedudukan paling tinggi, sehingga kandidat lain memiliki otoritas yang lebih lemah. Tapi bukan berarti ia tidak bisa."

"Maksudmu?"

"Kau tahu siapa kandidat-kandidat utama, kan?"

Ya, tentu saja. Dengan mengecualikan Korra, yang sudah dimiliki kawanan lain, dan Embry yang darahnya tidak jelas, jika dirunut dari kedekatan darah dengan galur utama, yang pertama adalah Collin, disusul Ben Two, jika ia kelak berubah. Seth, Quil, Ben, dan Pete berada di tingkat yang sama, tapi dengan menimbang keterikatan mereka dengan darah lain dan kedudukan mereka kini, posisi setelah Ben Two diisi Seth, lantas Quil, disusul Ben One dan Pete. Seth, sama seperti Jared, juga keturunan Joanna Black. Darahnya malah sangat kuat karena menjadi muara beberapa darah serigala. Quil memiliki darah Ateara langsung dan Black dari galur sampingan. Sedangkan Ben One dan Pete sama-sama sepupu tingkat ketiga Jacob.

Ia pernah mendengar dari para Tetua, jumlah kandidat Alfa berbanding lurus dengan perkembangan jumlah kawanan. Kawanan minimal terdiri atas tiga serigala, karena jumlah dua dianggap sebagai kawanan yang tidak imbang, sehingga dengan jumlah tiga belas sekarang, termasuk Jacob, ada empat yang berhak mendirikan kawanan, yakni Jacob sendiri, Collin, Seth, dan Quil. Ia yakin Quil bersikeras tidak akan mau naik, dan Ben One akan memilih berada di bawah Collin walau bagaimanapun, sehingga yang berhak adalah Jacob, Collin, dan Seth.

"Maksudmu kau dan Cole bisa membuat kawanan terpisah?"

Seth mengangguk.

"Apa kau akan melakukan itu?"

Ya, itu pertanyaannya. Apa Seth akan mungkin melakukan itu?

"Konsekuensi akan muncul jika kami berani melakukan itu, Jake."

"Konsekuensi?"

"Tadi sudah kukatakan. Kedudukanmu paling tinggi, sehingga otoritas kami untuk membentuk kawanan terbentur pada izinmu. Jika kami melakukannya tanpa persetujuanmu, seperti yang dilakukan Jared, secara otomatis kami menjadi pengkhianat. Tapi, seperti sudah kukatakan, secara teoritis, itu bukan berarti tidak bisa."

Sudah dua kali Seth mengatakan itu. Ia ingin menekankan sesuatu, Jacob yakin. Tapi sebelum ia bicara, Seth sudah menarik topik lain.

"Dan kau tahu soal prinsip penaklukan serigala kan?"

"Secara garis besar."

"Kalau begitu kau tahu soal hukum serigala terbuang, kan? Dan juga kau tahu, jika kau menaklukkan seorang Alfa, kau tak hanya mendapatkannya, tetapi juga seluruh kawanannya, kan?"

Ia mengangguk. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan Seth?

"Dan jika kau membunuh Alfa itu, bukan hanya kau berhak menjadi Alfa menggantikannya, kau juga berhak mendapatkan pasangannya? Bahkan jika pasangan itu juga memiliki status Alfa?"

"Apa?"

"Itu hanya terjadi jika mereka sudah terikat dan saling mengklaim sebagai pasangan resmi, tentu. Jika seorang Alfa membunuhmu setelah kau meresmikan hubunganmu dengan Renesmee, misalnya, ia akan bisa mengklaim Ness sebagai pasangannya."

"'Meresmikan'?"

"Secara hukum shifter, meresmikan hubungan tidak berarti harus menikah. Bisa kau menandainya, atau mengangkatnya sebagai pasangan tetap. Soal itu aku tidak terlalu paham, sebenarnya."

"Da, dari mana kau tahu?"

"Sebenarnya itu cuma kesimpulanku dari cerita kawanan mereka soal Korra. Kau tahu sebelum ia menginjak La Push, bahkan sebelum bergabung dengan kawanan Alfa Putih, ia sudah memiliki kawanan sendiri?"

"Apa?"

"Ia pernah membunuh seorang Alfa kawanan macan Sumatera dan karenanya berhak menjadi Alfa kawanan itu. Secara otomatis mendapatkan dua pasangannya juga."

"Dua?"

"Mereka memiliki sistem yang berbeda dengan kawanan serigala. Bagi kawanan macan, poligami itu mungkin."

Ya, Jacob mengingatnya. Korra pernah mengatakan ini di perkemahan. Waktu ia bilang pernah membunuh macan… Tidak diduganya itu betulan. Dan, yang dibunuhnya adalah shifter, bukan macan betulan. Entah mengapa ia bergidik.

Sebentar. Ada yang aneh di sini…

"Artinya, memenangkan shifter dari kawanan berbeda jenis juga mungkin?"

"Ya."

"Lalu artinya, Korra telah memiliki … pasangan … selain kau?"

"Ya. Hampir setahun setelah ia pertama kali berubah. Kalau tak salah waktu usianya menjelang 14."

Empat belas dan ia sudah punya pasangan? Wow. Sejak kapan Korra berubah? Usia 12? 13? Tidak aneh, sebenarnya, itu masih lebih tua daripada Josh. Tapi ia berubah sendirian di luar sana. Dan lebih lagi, membunuh Alfa lain dan mengklaim wilayahnya? Artinya adiknya punya teritori di Sumatera sana—di manapun itu? Apa memang Korra sekuat itu?

Bocah kecil itu?

Tapi lebih dari itu, artinya Korra tidak hanya telah membunuh vampir—itu pasti terjadi, bagaimanapun itu takdir yang tak terelakkan—tapi juga membunuh manusia di usia yang sangat muda? Bagaimana caranya ia menanggung beban itu?

Seth masih melanjutkan. "Pasangannya dulu adalah dua macan betina. Kalau tidak salah yang satu meninggal, dan yang satu lagi menjadi pasangan salah satu Alfa lain."

"BETINA?!" Jacob tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak memekik. "Adikku pernah punya pasangan ... dua … perempuan?"

"Itu bukan intinya, Jacob," potong Seth buru-buru sebelum Jacob mulai membahas hal-hal yang melenceng. Hal yang pastinya dalam kondisi normal akan menarik perhatian Geng Gossip Guys, seandainya Collin sebagai pemimpin mereka tidak punya konflik kepentingan di dalamnya. "Pasangan tidak hanya berdasarkan imprint," lanjutnya. "Dan hukum pasangan yang diperoleh lewat penaklukan tidak memandang gender. Hukum Alfa adalah hukum materialisme. Kau mengerti kan maksudku?"

"Oh, ya, tentu," Jacob berdehem-dehem, berusaha kembali meluruskan kepalanya. "Intinya hampir seperti harta rampasan perang, kan? Dan juga, kau bisa memberikan pasanganmu pada shifter lain?"

Kalau mau jujur, ia tidak menyukai hukum ini. Yang benar saja! Siapa yang menetapkan hukum gila seperti itu, menjadikan serigala seakan sesuatu yang tak punya keinginan sendiri, tak punya kemerdekaan sendiri, hingga dirinya pun menjadi harta yang dapat diperebutkan, dipindahtangankan?

Tapi ia tahu kalau berurusan dengan hukum kawanan, ia tak bisa mengedepankan perasaan.

"Bisa dikatakan begitu...," ujar Seth tenang. "Tapi kau hanya bisa memberikan pasanganmu jika ia tidak memiliki status sebagai Alfa. Tapi tentu saja itu tergantung hukum yang berlaku di kawanan tersebut, karena hukum perkawinan dan kepemilikan pasangan di setiap jenis shifter berbeda. Tapi ada hukum yang berlaku general: jika kau membunuh seorang Alfa, kau mendapatkan kawanan sekaligus pasangannya. Satu lagi, jika pasanganmu seorang Alfa, kau juga memiliki otoritas atas kawanannya."

Belum lagi Jacob mampu mencerna penjabaran Seth, tahu-tahu terdengar denting microwave tanda lasagna sudah siap. Seth langsung berperan bak bapak rumah tangga yang baik, menyambar cempal anti panas dan mengeluarkan loyang dari microwave, agak heboh mengibas dan meniup-niup tangannya yang kepanasan. Ia memasukkan loyang lain, mengeset timer, lantas membawa lasagna itu ke halaman. Melewati Jacob yang masih menekur, larut dalam upayanya mengolah informasi yang sebagian besar baru baginya.

Apa sebenarnya maksud Seth?

Sejujurnya, ia tidak tahu apa alasan Seth mengutarakan seluruh Hukum Alfa itu padanya. Ia tidak menempatkan Seth di sana untuk menyelidiki hukum kawanan. Tapi Seth, ia tahu, tidak pernah melakukan sesuatu tanpa sebab. Dan kali ini pun sama. Seth tidak mengatakan langsung apa tujuannya, tapi ia tahu Seth pasti meniatkan sesuatu. Sesuatu yang, jika menimbang seperti apa Seth, mungkin tidak sepenuhnya aman.

Mungkinkah…

Tidak. Itu tidak boleh terjadi.

.


.

Ia sudah hampir mengejar Seth, ketika sesuatu yang lain menarik perhatiannya. Melewati deretan jendela, tak sengaja ia menangkap bayangan dua sosok di halaman, tempat Korra sedang mempersiapkan pesta barbeque. Collin kelihatannya sudah meninggalkan posnya di bawah pohon dan kini sedang berbincang dengan Korra, berbisik-bisik. Jacob berusaha menajamkan telinga, tapi obrolan mereka tak tertangkap. Tampaknya pembicaraannya serius, karena Collin sampai repot-repot merendahkan suara, untuk sesuatu yang ia yakin berusaha Cole rahasiakan darinya.

Tentu saja itu membuatnya curiga, tapi ia berusaha menahan diri untuk tidak ikut campur. Hanya melihat, mengawasi, mungkin ia bisa menangkap sesuatu dari gestur mereka.

Korra tampak tenang. Tapi tidak seceria sebelumnya. Ia menyunggingkan senyum simpul yang aneh, sesekali menampakkan wajah sinis dan terganggu. Dan Collin, ekspresinya tak terlihat dari sudut ini, kelihatannya terus mencecar Korra.

Hingga Korra tampak berdecak, wajahnya sangat kesal. Jacob ingin mendatangi Collin, mencari tahu apa yang dilakukan bocah itu yang membuat adiknya sangat marah. Namun langkahnya terhenti ketika dilihatnya Korra tahu-tahu membungkuk, merenggut kemeja Collin, dan ... merundukkan wajahnya ke wajah Collin...

Jake membelalak. Apa yang ia lihat? Benarkah? Korra mencium Collin? Setelah mereka terlihat bicara dengan intens, beradu argumen, mungkin malah bertengkar?

Apa yang mereka ributkan, sebenarnya?

Namun tiba-tiba ciuman mereka terhenti. Keduanya saling melepaskan diri, menghentak satu sama lain, bahkan, dan wajah mereka berpaling begitu cepat ke satu sisi. Jacob mengikuti arah pandangan mereka. Mencari tahu apa yang menginterupsi kedua pasangan itu.

Agak tidak jelas, terhalang dinding dari jendela ini, tapi ia melihatnya. Meski tak lengkap. Tubuh seseorang di pekarangan. Hanya sekilas sebelum tubuh itu berputar, dan pergi menjauh. Hilang dari pandangan, tertutup bayangan tembok.

Ia melongok mati-matian untuk mengetahui siapa itu. Tapi ia tak perlu sesulit itu menempatkan dirinya pada sudut yang sulit hanya untuk mencari tahu. Karena Collin, bagaimanapun, telah menggeser kursi rodanya, dan mengejar sambil berteriak lantang.

"Seth, tunggu!"

Ya, sudah jelas Seth. Siapa lagi, memang?

Dilihatnya Korra berdecak kesal di tempatnya, mendelik memandang arah perginya Collin, tapi tak bergerak sedikit pun. Malah bersidekap dengan tatapan membunuh.

"Seth, tunggu!" kembali ia mendengar teriakan Collin. "Aku bisa jelaskan! Ini tidak seperti kelihatannya!"

Seth kelihatannya tidak menggubris, karena Collin masih terus merapal kata-kata yang sama.

Hingga ia mendengar suara pukulan, dan seseorang jatuh.

Oh, apa Seth memukul Collin?

Korra pun kelihatannya menyadari sesuatu karena ia bergegas meluncur ke arah tadi pandangannya menuju.

Jacob buru-buru melintasi ruangan, keluar rumah, ke arah pertarungan yang mungkin akan, atau telah terjadi.

Jika ini rencana si martir Seth, maka ia harus mencegahnya.

.


.

Catatan:

Cempal benar-benar ada di KBBI kok… kata serapan dari bahasa Sunda 'ceumpal'

Judul chapter ini menggambarkan betapa kering kerontangnya laporan Seth, sama sekali ga ada sesuatu yang berharga bagi kawanan. Atau demikian menurut Jacob. Seth ga bisa nyeritain semua karena pastinya Korra ga akan ngizinin dia ngebongkar identitasnya.

Jadi gimana nih? Apa lagi-lagi pestanya gagal? Hixxxx…

Kenapa Cole kayak orang linglung? Btw ada rencana apa si Seth yang ditangkap Jake? Bisa nebak dunk?

.

Next: Cerberus