THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: Stephenie Meyer owns Twilight saga.
.
.
75. Cerberus
Saturday, 18 August 2013
3:34 AM
.
.
Ciuman Korra, entah kenapa, adalah hal yang paling, paling, paling konfrontatif sekaligus kontradiktif di seluruh dunia.
Pertama karena ia tahu itu tidak benar. Korra, bagaimanapun, sudah menjadi milik orang lain. Tak lain, milik Seth. Dan Seth sudah mengungkapkan semua padanya, percaya padanya. Jadi bagaimana mungkin ia mau ada di posisi ini? Menggunting dalam lipatan? Menikam balik?
Dan kedua, ia tahu ia tak hanya mengkhianati Seth kala itu terjadi, tapi juga mengkhianati kawanan. Siapapun tahu Korra musuh... Entah apa yang mereka lakukan hingga detik ini. Jake berpura-pura menjadi keluarga? Ia berpura-pura menjadi sahabat? Tapi jelas ketika kemungkinan itu muncul, mereka hanya mengintai, mengawasi... Tak boleh ada perasaan terlibat.
Pura-pura? Sungguhkah?
Tapi ciuman itu sudah dinantikannya sejak lama. Sangat, sangat lama. Apakah emosi terakhir ini, dan bukan pertimbangan akal sehatnya, yang memandunya? Bahwa ketika Korra menariknya, dan menyentuhkan bibir di bibirnya, ia hanya sesaat terpaku, tapi selanjutnya malah memejamkan mata, hanyut dalam ciuman itu... Tangannya bukan menjauhkan Korra, tapi malah menariknya mendekat... Tubuhnya hanya sedetik berontak, untuk kemudian menyerah dalam rengkuhan Korra dan dengan senang hati luluh, menjembatani jarak dan menempel pada tubuh Korra. Bibirnya bukan berusaha melepaskan diri, tapi malah bergerak seirama dengan bibir Korra... Ketika ia melakukannya, ia tak ingin waktu berakhir... Dan ketika itu, ia merasa berada dalam semesta lain, ketika bumi tak lagi menjadi tempatnya berpijak. Ia melayang dalam angkasa yang ia tak butuh apapun lagi untuk menjaganya tetap di bumi...
Tidak. Hidupnya penuh, lengkap, saat itu.
Ini tidak benar. Kepalanya terus memprotes. Apa yang ia lakukan? Apa yang terjadi? Apa akibatnya jika ciuman ini terus berlanjut? Apakah ia takkan bisa melepaskan diri dari jerat Korra? Apakah semua tembok yang ia bangun akan runtuh, dan kembali, ia menumbuhkan lagi cintanya yang seharusnya mati?
Ia baru berusaha membunuh cintanya... Kapan? Seminggu yang lalu lebih sedikit? Dan kini ciuman itu datang... Apa mampu ia bertahan?
Tubuhnya tak mendengarkan pertimbangannya. Tidak sama sekali. Karena tubuhnya merespon apa yang ia rasakan ketika bibir mereka bertemu. Kelembutan dan kehangatan dalam satu sentuhan itu. Ekstasi yang membuatnya ingin mencecap lebih, lebih, lebih...
Begitu mudah ia meleleh, hanya dengan satu sentuhan itu?
"Cole?" ia mendengar suara itu. Dalam nada tidak percaya. Tidak mungkin ia tidak mengenali kemarahan, dan rasa terkhianati, di dalamnya. Otomatis ia menarik wajahnya dari wajah Korra. Langsung berpaling ke arah asal suara.
Dilihatnya, tak lain tak bukan, Seth. Mendadak muncul di halaman Jacob, dari sudut rumah.
Ini mimpi buruk.
Seth membeku memandang mereka dengan tatapan nanar. Tapi tak lama. Karena ia terlihat langsung bisa mengumpulkan kewarasannya. Ia terlihat mengepalkan tinju di sisi tubuhnya, sebelum berbalik dan bergegas pergi ke luar pekarangan.
"Seth, tunggu!" teriak Collin. Ia berpaling menatap Korra sejenak, melihat reaksinya. Tapi Korra membuang muka, tak mau melihat baik Collin maupun Seth.
Menggelengkan kepala, sedetik itu ia mencoba berpikir jernih. Apa yang terjadi? Apa yang harus ia lakukan?
Ia tak berpikir lama. Semua sudah jelas.
Berputar di tempatnya, ia berpaling dari Korra. Mengayuh kursi rodanya mengejar Seth. Meninggalkan Korra, yang sesaat membeku tak percaya. Ia tak melewatkan ketika ekspresi Korra berubah dari membelalak menjadi benci, marah. Tapi ia juga tak bisa peduli.
"Seth, tunggu! Aku bisa jelaskan! Ini tidak seperti kelihatannya!" teriaknya. Tak mungkin ia tak mengenali nada putus asa dan frustasi dalam suaranya sendiri. "Ini salah paham, Seth! Kumohon!"
Seth tidak menggubris, makin mempercepat jalannya. Ini gawat. Jika Seth memasuki hutan, dan berubah, ia tak bisa mengikuti. Ia masih belum bisa berubah.
Tapi rupanya Seth tidak terlalu marah hingga harus berubah. Atau mungkin ia menahan diri untuk tidak berubah. Begitu ia menangkap sosok Seth, Collin menyadari bahwa kemungkinan kedualah yang benar. Melewati pekarangan rumah Jake, terhalang pagar hidup, ia melihat Seth berhenti. Tubuhnya bergetar hebat, dan ia berkali-kali terlihat menarik napas untuk meredakan gejolak emosinya.
"Seth..." ia mendekat, tapi berusaha menjaga jarak.
Dilihatnya Seth sudah mereda, dan kini menatapnya dengan tajam.
Astaga, untuk apa ia menjaga jarak? Seth punya lebih dari seribu alasan untuk marah. Jika Seth ingin mengoyak-ngoyaknya, maka itu haknya. Ia harus berani menanggung akibat dari tindakannya sendiri. Ia takkan mundur dari kemarahan Seth. Seperti dulu Seth tidak mundur dari kemarahannya.
Disadarinya ia bergetar ketakutan. Instingnya jelas menyuruhnya lari. Tapi itu ditahannya, dan ia memacu kursi rodanya mendekat.
"Apa maumu, Collin?!" bentak Seth dan sesaat ia berhenti. Seth tidak, jarang sekali membentak...
Tidak, tidak, ia tak boleh mundur...
"Kumohon, Seth... Biarkan aku menjelaskan..." ia kembali menemukan keberaniannya untuk mendekat. "Ini tidak seperti kelihatannya... Aku tidak... aku tidak berencana..."
"Oh ya, kau tentu tidak berencana... Pastinya tak mungkin kau bisa menolak dia..."
Ia mendengar nada sinis dalam ucapan Seth, dan seketika ia merasa lebih bersalah ketimbang sebelumnya. Ya, itu argumennya... Kalimat sinisme Seth, itulah satu-satunya alasan, kebenaran bagi Collin.
Tidak, ia tak bisa berkelit. Ia tak punya pembenaran apapun.
"Maaf, Seth..." ia menjembatani jarak antara Seth dan dirinya. Bahkan tanpa ia sadari, tangannya sudah terulur, menggapai lengan Seth.
Apakah ini tidak diduganya? Atau sudah? Atau malah dinantinya? Ketika lengan Seth bergerak menjauh dari gapaiannya, dan berubah jadi tinju di udara, dan tidak sampai sedetik kemudian, bersarang di rahangnya. Ia bisa merasakan insting untuk menghindar, tapi kesadarannya memaksanya untuk diam di tempat, menunggu datangnya pukulan Seth. Menunggu dan akhirnya merasakan derak patah, mungkin pecah, di rahangnya, sebelum tenaga hantaman yang sama membuatnya oleng dan terjatuh bersama dengan kursi rodanya.
Ia terbatuk, merasakan darah di bibir dan hidungnya. Merasakan asin dan getir di tenggorokkannya kala darah yang sama menyembur dari mulutnya.
"Kumohon, Seth..." ia kembali menemukan suaranya yang menyedihkan. "Maafkan..." ia terbatuk lagi, "maafkan aku..."
Apa posisinya sekarang berbalik? Dari... berapa lama? Tidak sampai dua minggu lalu?
Ha! Roh Semesta Alam tentunya gemar mempermainkan manusia... shifter... apapun...
Ia berusaha menabahkan diri. Seth mungkin akan melihat ini sebagai kesempatan balas dendam. Seth akan membuatnya jadi bubur, perkedel, daging cincang... apalah sebutannya, makanan bagi hewan-hewan liar di hutan. Dengan kondisi bahkan ia tak bisa bergerak, hanya satu tangannya yang aktif, apa yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan diri? Dan bahkan jikapun ia bisa melawan, akankah ia? Seth punya lebih dari sekadar hak untuk membunuhnya. Ia telah berani melanggar teritori serigala lain... Hukum rimba pasti jatuh padanya.
Namun kemarahan Seth surut dalam satu pukulan itu. Ia kini menjauh dari Collin, berusaha mendamaikan dirinya sendiri.
"Astaga, apa yang kulakukan?" gumam Seth, menangkupkan kedua tangan ke kepalanya. Tak berapa lama ia kembali mendekat. Collin sudah bersiap menerima hujan tendangan Seth, namun tak disangka pemuda itu justru mengulurkan tangan pada Collin.
Collin agak mengernyit, tak menduga sikap Seth berubah begitu cepat. Jika ia jadi Seth, melihat ceweknya berciuman dengan cowok lain, pastinya ia akan menghajar habis-habisan cowok itu sampai tidak bisa bangun sebulan. Ya, seperti yang ia lakukan pada Seth tempo lalu.
Tapi ya, ia memang bukan Seth.
Ia mengulurkan tangan menyambut tangan Seth. Seth menghentakkannya bangkit, tapi ia masih belum cukup kuat untuk menopang tubuhnya sendiri. Seketika ia kembali limbung. Untung Seth masih menahannya. Dan kali ini Seth menariknya, langsung memeluknya.
Heh? Apa ini? Seth langsung memeluknya? Begitu saja?
"Astaga Cole, aku sungguh minta maaf..." bisik Seth.
Ya, ya... Sungguh khas Seth. Tidak bisakah cowok satu ini bersikap sedikit lebih ... 'digdaya' ... apapun artinya itu? Collin berhak atas semua kata-kata kotor dan pukulan dan bahkan cabikan Seth, dan semua berakhir hanya dengan satu pukulan yang retaknya pun akan pulih dalam waktu kurang dari setengah jam? Ditambah kini malah Seth yang minta maaf? Apa setelah neraka membeku, kini sebagai efeknya, dunia ikut-ikutan terserang demam pemutarbalikan situasi? Besok giliran surga yang terbakar?
Pastinya begitu... Karena kalau tidak, ia sudah jadi perkedel sekarang...
Deheman di belakang punggungnya menghentak baik Collin maupun Seth, dan mereka berpaling untuk melihat Korra di batas pekarangan, mendelik tak suka. Collin buru-buru menjauhkan diri dari Seth, tapi ia kembali limbung sehingga Seth lagi-lagi menahannya di pinggang.
Korra berdecak, tambah kesal.
"Bisakah kalian menahan diri dan cari tempat yang lebih pribadi? Ini masih di area rumahku, tahu!" bentak gadis itu galak.
—Hah? Apa?
Seth mendesah. "Ya Tuhan, Korra... Bisakah kau berhenti berpikir yang bukan-bukan? Ini bukan seperti yang kaukira..."
—Eh, apa? Apanya yang bukan-bukan?
"Oh, begitukah, Seth?" Korra tersenyum sinis. "Kalau begitu sedang apa kau terus-terusan memeluk Collin begitu?"
"Karena dia akan jatuh kalau tidak kutahan!"
"Oh ya... Manis sekali, Sethie... Alasan saja!" Korra kembali berdecak, kini beralih pandang dari Seth ke Collin lantas ke Seth lagi dengan tatapan membunuh.
Oi! Jangan bilang...
"Di luarmu saja kau begitu lembut. Sok setia. Di dalam kau memang player, Seth! Aku sudah menahan diri dengan apapun yang mungkin terjadi antara kau dan Kuroi. Tapi Cole? Cole?!"
Hah? Kuroi? Maksudnya Kuroi Kanna? Kenapa Kuroi dibawa-bawa?
"Oh, sumpah aku bosan dengan ini!" Korra berteriak frustasi. "Kalau kalian ingin semacam hubungan foursome, quadroamore, apapun itu, kalian bilang langsung di depan mukaku! Jangan main belakang!" Tapi kemudian ia mendengus dan tertawa, berujar sinis… "Oh ya, tentu saja kalian main belakang… Siapa yang bottom di antara kalian? Oh, seolah aku harus bertanya… Pastinya kau kan, Seth?"
Ucapan Korra membuat rahang Collin jatuh saking mendadak dan lebarnya ia menganga. Dan memang faktanya tak jauh-jauh dari bahasa kiasan. Rahangnya masih retak oleh hantaman Seth tadi. Akibatnya ia langsung mengaduh-aduh dan menahan rahangnya dengan satu tangan. Satu tangannya yang tidak dibalut dan ditopang ke tubuhnya, tentu.
"Korra, aku mohon..." pinta Seth dengan nada putus asa. Tapi mana mau Korra mendengar?
"Kuperingatkan kau," Korra menatap tajam mata sepupunya. "Jauhi Seth-ku, Cole!"
Collin langsung salah tingkah. "Oh, iya, tentu..." sahutnya tak jelas. Ia menarik tubuhnya dari pelukan Seth, tapi Seth malah lebih mengetatkan lengannya di pinggang Collin.
"Diam, Cole... Kau kan tidak bisa berdiri… Dan kita tidak melakukan kesalahan apapun."
Oh ya, tentu saja.
Collin menyerah, kini tampak sama putus asanya dengan Seth. Seth tampak repot berusaha menjangkau kursi roda Collin dengan kakinya. Tentu saja tidak terjangkau. Ia berusaha berpindah dengan tetap menahan Collin, susah payah.
Astaga. Ini situasi yang malah tak menguntungkan siapapun.
Karena Korra jelas tambah berang melihat mereka tak juga berjarak. Ia mendekat, jelas memasang sikap akan menghantam Collin. Collin siap-siap memasang sikap defensif, tapi Seth bereaksi lebih cepat, melemparnya ke belakang punggungnya. Kehilangan keseimbangan, tak ada yang bisa dilakukan Collin, selain secara intuitif menggapai mencari pegangan, bersandar di punggung Seth.
Oh, Tuhan...
"Kalian berdua membuatku gila!" teriak Korra lagi. Tanpa ancang-ancang tinjunya bergerak, menghantam wajah Seth.
Oh ya, Korra memukul.
Entah Korra terlalu kuat atau justru mengurangi kekuatannya, Collin menimbang jawabannya adalah yang kedua. Karena wajah Seth oleng ke kanan oleh tonjokan Korra. Tapi sudah sampai di situ saja. Seth tidak jatuh. Rahangnya tidak retak. Tapi jari-jari Korra juga tidak retak.
Tinju kedua Korra hampir bersarang lagi ketika Seth menangkap tangannya.
"Hentikan, Korra, kumohon..."
Korra memberontak. Seth melepaskan tangannya. Korra kelihatan tak ingin memukul lagi. Tapi ia masih murka.
"Apa yang semalam belum cukup, Seth? Apa kau belum puas? Apa kau mau malam ini giliran Mr. Lovely Litsey yang mencakarimu? Dan besok Kuroi dan besoknya lagi entah siapa cewek atau cowok yang jadi korbanmu?!"
Sumpah Collin tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Korra, kau salah paham..." ia mencoba menjernihkan permasalahan. Apapun itu, tampaknya urusannya agak menyimpang dari soal Korra menciumnya. "Aku tidak..."
"Diam kau, Cole! Aku bicara dengan Seth!"
"Korra, kumohon..." Seth kembali bersuara. "Bisakah kita bicara dengan cara yang lebih beradab? Aku tak mengerti ada apa di sini... Serius!"
Ya. Collin setuju dengan Seth, walau bagaimanapun. Seth satu-satunya yang punya hak untuk marah di sini. Mengapa malah ia yang memohon-mohon dari tadi?
"Kau tahu aku benci kau dekat-dekat Cole, dan kini kau malah sengaja bertingkah di depanku?!" teriaknya. Dan ia menurunkan suara, bicara penuh ancaman di depan muka Seth. "Apa kau begitu ingin yang waktu itu terjadi lagi, Seth? Kau ingin tulangmu kuremukkan lagi? Kali ini jadi bubuk hingga kau tak mungkin berharap tulang-tulangmu bisa rekat kembali?"
Apa ia salah dengar? Korra mengancam... meremukkan tulang Seth? Lagi?
Artinya itu sudah pernah terjadi?
Dan apa tadi? Apa Korra mengungkit soal kemampuan penyembuhan alami serigala? Di mukanya?
"Ya ampun, Korra... Aku harus bilang berapa kali kalau tidak ada apa-apa antara aku dan Cole?! Lagipula siapa sih sebenarnya yang kaucemburui? Collin atau aku?"
Sumpah. Collin makin tidak mengerti duduk permasalahannya. Korra cemburu, jelas... Seth, sudah seharusnya... Masalahnya, siapa cemburu pada siapa?
Korra makin marah, tapi menahan diri untuk tidak menyerang Seth atau Collin. Matanya nyalang mencari-cari, dan akhirnya perhatiannya tertumbuk pada kursi roda cadangan Billy yang tadi ditumpangi Collin, yang teronggok di tanah sekitar dua meter dari mereka. Ia melangkah mendekat, dan amat terkejut Collin begitu melihat Korra menggerus kursi roda itu jadi bangkai hanya dalam sekali hantaman kakinya.
Nada suara gadis itu mendadak turun. Tajam. Dingin. "Kuperingatkan kalian. Kalian sengaja memprovokasiku seperti ini lagi, kalian yang akan kuremukkan," ancamnya.
Collin tak bisa mengeluarkan suara saking terpananya. Terpana ... terpesona ... terperanjat ... takut mungkin... Ia tak tahu bedanya kini.
Ia melirik pada Seth. Anehnya Seth sama sekali tidak tampak terkejut. Wajahnya justru siratan ekspresi... apa? Lelah? Atau justru… Sesaat Collin terhenyak menyadari kilatan yang mendadak muncul dan kemudian menghilang dari mata Seth.
… Kemenangan?
"Kumohon, Korra... Kendalikan dirimu... Kau tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada bayimu..."
Bayi? Jadi itu benar?
Korra tertawa hambar. "Oh ya, Seth... Kupikir kau tidak peduli... Dan ya, mungkin kau sebaiknya memang tidak usah peduli... Aku dan anakku hanya akan jadi halangan di antara kalian... Jadi lebih baik kami segera menyingkir..."
"Korra, bukan itu yang..."
Ucapan apapun yang ingin dikatakan Seth, bagaimanapun, tak punya kesempatan untuk terucap. Ia berhenti mendadak, menghela napas lelah. Dan sedetik kemudian tahulah Collin apa sebabnya. Jacob muncul dari balik pagar tanaman, tampak shock. Dan di sisi lain, anak-anak seperti Brady dan Ben juga baru sampai, dengan bingung melangkah keluar dari batas pepohonan begitu menyadari yang sedang terjadi.
"Seth? Korra?" Jacob berlari mendekat. "Ada apa ini?"
Ia melihat bangkai kursi roda teronggok di tanah dan matanya memindai wajah ketiga orang di hadapannya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanyanya entah pada siapa, tapi Collin tahu diam-diam ia melirik ke arah Korra.
Belum lagi Collin bersuara, Seth memotongnya. "Aku, Jake… Maaf, aku kehilangan kendali…"
Sudah jelas sang Alfa tak percaya, karena sekali lagi ia bertanya, "Kau, Seth?"
"Maaf aku menghajar Cole… Aku kehilangan kendali. Akan kubawa Cole masuk," ia sudah meraup bagian belakang lutut Cole, hendak membopongnya, namun Brady yang sigap melihat keadaan bergegas menahannya.
"Aku saja, Seth," ujarnya, mengambil alih Cole dari gendongan Seth. Jika ini kesempatan normal, mungkin anak-anak akan ribut lagi dengan gosip konyol mereka. Tapi tidak kali ini. Tidak dalam keadaan seorang Beta diserang mantan Beta yang kini tak ketahuan ada di pihak mana, di depan seekor tawanan yang mencari masalah tepat di depan hidung Alfa mereka.
Karena ini bisa menjadi masalah. Perang antarkawanan.
Semua tegang menunggu reaksi Jacob. Ia yang biasa besar kemungkinan akan marah dan mengamuk. Tak hanya menghukum Seth yang berani-beraninya cari masalah di saat yang ia pikir akan menjadi titik penting terwujudnya kedamaian. Ia juga mungkin akan menghukum Cole yang menjadi biang masalah. Juga Korra yang membuat situasi kacau.
Tapi tidak. Sang Alfa hanya diam, seakan menunggu penjelasan.
Namun penjelasan itu tidak kunjung datang. Seth hanya menatap Korra tanpa harapan. Wajah Korra tampak keras bak terbuat dari tanah liat yang tengah dibakar di tungku. Lantas Seth mendadak minta izin angkat kaki dari tempat itu seolah halaman rumah Black adalah neraka baginya. Tidak ia mempedulikan Jacob yang menyuruhnya tinggal, atau anak-anak yang penuh tanya. Tidak pula Collin yang masih terus menggumamkan maaf.
Collin terpaku di titik itu. Apa yang terjadi? Seth bahkan menentang Titah? Jacob memang tidak menambahkan gaung apapun di suaranya tadi. Tapi ia calon adik ipar Jacob sekarang. Tidakkah ia ingin tinggal?
Dan tiba-tiba Collin menyadari.
Itu skema Seth! Skema Seth untuk menjebak Korra! Menunjukkan pada Jacob siapa sesungguhnya Korra! Pasti ia entah bagaimana tidak bisa mengatakannya langsung pada Jacob. Korra entah bagaimana pasti membuatnya tidak bisa berkutik, terasing dari kawanan, bahkan tidak bisa mengungkap secara langsung identitas Korra. Tapi ia menunjukkannya… Seth menemukan Collin dan Korra berciuman pasti cuma kebetulan, dan ia sebenarnya sangat emosi, tapi Seth berhasil mengendalikan perasaannya dan membuat skema aneh itu… Ia tidak bisa langsung menunjuk Korra di akhir, mengungkap topeng Korra begitu saja. Tapi Jake pastinya tidak sebodoh itu. Jake akan berpikir.
Jika tidak, ia yang akan menunjukkannya pada Jacob.
Tidak boleh ia membiarkan pengorbanan Seth, mungkin disiksa Korra lagi sesudah ini, berakhir sia-sia.
.
.
Seth bergerak cepat menembus pepohonan. Tujuannya sudah jelas: rumah bobrok di tengah hutan. Rumah yang belakangan ia kenal sebagai markas kawanan asing. Atau lebih pantas dikatakan sekarang: kawanannya.
Baunya sudah tercium bahkan sebelum ia menginjak tanah itu dalam radius lima ratus meter. Sesosok serigala, hitam pekat dengan garis putih, menyambutnya di tengah jalan. Ia mengangguk singkat, sebelum si hitam mengikuti dengan langkah anggun di belakangnya.
Tak jauh dari gubuk itu, ia memberi kode agar serigala itu tak mengikutinya. Mengangguk singkat, si serigala hitam menyelusup ke balik salah satu pohon. Ia sendiri bersembunyi di balik pohon lain, berubah balik dan menarik pakaian dari belitan di kakinya. Begitu ia keluar, dilihatnya sosok manusia Kuroi sudah menunggunya. Seperti biasanya ia berpakaian seadanya bak hantu: gaun putih selutut yang beberapa bagiannya kotor.
Entah Kuroi memang tak peduli penampilan, terobsesi dengan film horor picisan, atau memang berdandan bak Sadako merupakan agendanya entah-dengan-tujuan-apa; jujur saja Seth merasa merinding dekat-dekat sang jenderal kawanan asing itu. Menimbang seperti apa kaku dan logisnya Kuroi, kadang Seth merasa alasan ketigalah yang tepat. Nyatanya, tak hanya para vampir, Kuroi pun praktis 'meneror' hutan La Push beberapa bulan ini. Pastinya itu karena ia diam-diam menjadi benteng penjaga, kan? Dengan menimbang betapa berbahayanya hutan, bisa jadi ia sengaja berdandan ala hantu untuk menakuti-nakuti orang awam, agar tak ada yang berani mendekati hutan demi melindungi nyawa mereka.
Bagaimanapun itu kemungkinan yang kelewat jauh. Alasan utama yang paling logis memang ia saja yang tidak peduli.
"Memangnya kau tidak punya baju lain?" keluhnya, tapi yang diprotes sama sekali tidak menjawab. Dan sebenarnya, bukan tempat bagi Seth untuk ikut campur juga.
Bagaimanapun, memang bicara dengan Kuroi sangat sulit. Sulit mencari topik, lebih sulit lagi berusaha benar-benar mempertahankan percakapan. Ia sudah mencoba beratus kali dalam minggu ini selama ia bergabung dengan kawanan asing itu. Hasilnya masih nol. Terakhir ia bicara cukup panjang adalah ketika Kuroi merawatnya setelah ia disiksa Sam. Itu juga percakapan serius. Ia memperhatikan, Kuroi jarang bicara kecuali membahas sesuatu yang penting. Ia berlawanan betul dengan Korra ataupun Phat. Mungkin memang situasi sekarang tidak memungkinkan untuk bercanda. Tapi Kuroi, ia yakin, bahkan jika situasinya kembali santai sekalipun, tetap sulit untuk tertawa.
Sampai sekarang Seth masih tidak tahu bagaimana cara takdir bekerja. Yang seperti itu dipasangkan takdir untuk menjadi imprintnya? Lebih lagi, akan ke mana perjalanan imprint ini, ia juga sama sekali tidak tahu menahu. Karena ia, di sana, masih menjadi milik Korra.
Imprint tak melulu harus berarti hubungan cinta, demikian ia selalu menekankan pada dirinya sendiri. Ia bisa menjadi pelindung, walau nyatanya justru Kuroi-lah yang melindunginya. Bisa jadi pendamping. Bisa menjadi apapun. Dan kini, ketika tak kurang orang tempat hatinya dan kesetiaannya tertambat, serta imprintnya pun ada di kawanan asing ini, bagaimanalah ia bisa melepaskan diri?
Seth menarik napas panjang. Pengkhianat atau bukan, penilaian itu bukan dirinya yang menentukan. Ia memiliki tujuan sekarang. Ia memiliki misi, meski ialah perencana sekaligus pelaksana misi tersebut. Ia hanya harus melaksanakan misi itu dengan sebaik-baiknya.
Suara jeritan melengking terdengar dari dalam gubuk. Ditingkah dengan suara geramam dalam dan gonggongan kasar, disusul suara sesuatu menabrak dinding dengan suara keras. Mata Seth membelalak kala dilihatnya dinding rumah yang memang sudah bobrok itu mendadak meledak di hadapannya. Satu sosok tampak terlontar dari dalam, jatuh lantas tertimpa semburan puing-puing rumah yang pecah berkeping-keping.
Oh... Dia memang keterlaluan, pikir Seth.
Seth sudah berlari mendekati sosok yang separuh terkubur itu. Namun ia kurang cepat. Kuroi sudah lebih dahulu mendapatkannya, menarik tubuh yang abu-abu terbalut debu beton itu dan melemparkannya kembali melalui lubang pada dinding ke dalam rumah. Tubuh itu membentur kaki besar berbulu keemasan, yang langsung saja meletakkan cakar-cakarnya di leher sosok tadi, menahannya sehingga tidak bisa bergerak.
Kuroi melangkah melalui lubang, mendekati tubuh itu dan berjongkok di sisinya. Phat melepaskan cakarnya, tapi tangan Kuroi cepat menggantikannya. Mencengkeram kerah baju sosok itu dan mengangkatnya seraya mencondongkan tubuhnya sendiri, hingga kepalanya sejajar dengan kepala orang, atau lebih tepatnya makhluk itu.
"Kautahu apa yang bisa dilakukan temanku, kan?" tanyanya dingin. Intonasinya lambat, hampir malas. "Kau perlu tahu bahwa apa yang aku lakukan bisa lebih mengerikan seratus kali lipat…," dan dengan itu ia menarik satu jari wanita itu. Diiringi jerit memilukan, terdengar bunyi derak dan jari itu patah. Tak ada senyum di wajah dingin Kuroi tatkala ia melemparkan patahan jari tengah itu bak melempar sebongkah batu tak berharga ke tumpukan puing. "Itu hanya satu contoh. Kau ingin tanganmu putus sebelah lagi? Atau kakimu mungkin? Pasti menarik melihat seekor vampir melompat-lompat…"
Membayangkan kalimat terakhir seharusnya bisa membuatnya tertawa. Tapi tidak. Kala itu diucapkan Kuroi, entah mengapa itu mampu membuat bulu roma siapapun merinding.
Satu hal mengenai imprintnya yang Seth tahu. Dia kejam, lebih daripada Korra. Sadis.
Maka mengapa takdir membawanya ke sana? Menyeberang ke sisi gelap?
Apakah karena ia masokis, karenanya takdir memasangkannya dengan dua serigala paling keji sepanjang sejarah? Tunggu, bukan dua, melainkan tiga. Moralitasnya berontak, ingin menentang tindakan yang menurutnya di luar batas peri kemanusiaan, atau bahkan peri kevampiran, keserigalaan, apapun. Anehnya, ia tahu itu salah, tapi tak juga ia bisa melakukan apapun untuk melepaskan diri. Bahkan ada satu sisi dalam dirinya yang bergetar. Bukan karena takut atau ngeri. Entah mengapa sisi itu terus berbisik, tatkala Kuroi melakukan itu, ia tampak begitu … entahlah… 'Memukau' pastinya bukan kata yang tepat.
Karena di sana ia hanya diam memperhatikan. Tidak berbuat apapun tatkala Kuroi bangkit dan meletakkan sebelah kakinya di kepala si wanita, yang hanya bisa mendesis dengan tatapan mengancam.
"Tunggu hingga Alfamu tahu ini…"
"Maksudmu siapa? Kierra? Atau Korra? Asal kautahu, ia sendiri yang memerintahkan 'lakukan apa saja untuk membuatmu bicara'. Setelah apa yang kaulakukan, apa kaupikir siapa kau akan berguna saat ini?"
"Aku takkan bisa bicara kalau aku mati."
"Maaf, aku lupa, 'mayat' tidak bisa bicara…"
"Brengsek! Kau meracuni Korra!"
"Menyalahkan kami sekarang? Bukankah kau sendiri yang melepaskan Korra? Haruskah kuingatkan bahwa kau sendiri yang mengabaikannya sesudah itu? Korra sudah bukan Korra-mu yang kaukenal sekarang… Perlukah pembuktian?"
"Bajingan! Sang Ibu takkan tinggal diam!"
"Begitukah? Bukankah ia sendiri mengabaikanmu? Apa kau yakin kau berharga baginya? Bagaimana kalau kami mengirim pesan padanya? Kau tahu? Api ungu…"
Dengan itu ia kembali menunduk, memiting lengan si vampir. Jerit si vampir terdengar kala Kuroi menarik tangan itu. Terdengar bunyi derak ketika retakan mulai timbul di pangkal lengan…
Detik itu Seth tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Kuroi, cukup!"
Kuroi berhenti, menoleh dingin.
"Kuriiwateru-sama, saya mohon Anda tidak ikut campur dalam hal ini."
"Tunjukkan sedikit belas kasih, Kuroi…"
"Ia penjahat perang, Kuriiwateru-sama. Salah satu pemimpin musuh. Apa Anda lupa bahwa ia berada di balik serangan yang pernah mencelakakan Anda? Apa Anda tidak melihat bagaimana ia telah melukai Korin-kun dan Korra-chan? Kami sudah lebih dari berbaik hati dengan tidak langsung membunuhnya di tempat. Jika bukan karena Kierra-sama bersikeras menawannya demi mendapatkan keterangan…"
"Tapi kau takkan bisa mendapatkan apapun dengan pendekatan itu, Kuroi," tunjuk Seth. "Ia sudah bertekad lebih baik mati."
"Begitukah? Apa sebaiknya kita beri apa yang ia inginkan?" Kuroi sudah bergerak lebih jauh, ketika Seth mendadak meluncur ke arahnya dan menahan tangan Kuroi.
"Dengan wewenangku sebagai pasangan Alfamu, kuperintahkan kau mundur, Kuroi!" seru Seth. Phat agak menggeram di sana, tapi ia tak peduli. Kuroi tampak mempertimbangkan sejenak, tapi lantas ia melepaskan juga tangan itu.
"Kau harus bersyukur… Pasangan Alfaku di sini," ia melirik Seth dengan tatapan aneh, "rupanya memiliki lebih dari sekadar nurani untuk mau berbaik hati pada lintah…" Dengan itu, ia bangkit dan menendang kepala si vampir. Makhluk itu mendesis, tapi Kuroi tak mengindahkannya dan berbalik tenang, lantas menuju pojok standarnya di meja rias, duduk menerawang menatap bayangannya di cermin yang buram, sehingga Seth tidak yakin ia memperhatikan.
Seth mengulurkan tangan, membantu vampir itu bangun. "Kau tak apa?" tanyanya.
Tentu saja tak mungkin ia tak apa-apa. Kuroi jelas hampir mencabut lengannya. Bagi seekor vampir, menjalani keabadian dengan satu tangan saja sudah mengerikan. Entah bagaimana jadinya jika ia harus tak memiliki tangan sama sekali.
Si vampir sama sekali tak menjawab, hanya mendelik menatapnya. Seth tersenyum, mengambil potongan jari si vampir di tumpukan puing, lantas kembali dan menempelkannya di tempat asal jari itu.
Dengan kemampuannya, vampir bisa menyatukan kembali anggota tubuhnya yang sudah terpisah satu sama lain bak puzzle tiga dimensi. Dulu Jacob dan Leah selalu menganggap hal itu menarik. Jika Rosalie atau Edward seperti biasa bertingkah menyebalkan, mereka akan bahu-membahu membalas dendam dengan menyusun imajinasi mengerikan tentang diam-diam mempereteli tubuh para vampir lantas menyembunyikan atau mengubur potongannya jauh-jauh, lantas membayangkan seperti apa reaksi makhluk dingin itu saat berupaya mencari dan mempersatukan bagian tubuh mereka. Tentu saja itu imajinasi yang kelewat tidak realistis. Nomor satu, para vampir tidak tidur sehingga nyaris mustahil melakukannya 'diam-diam'. Mereka jelas tak bisa melakukannya terang-terangan karena itu artinya melawan kesepakatan dan bisa memicu perang. Nomor dua, rencana itu tolol karena pastinya jika mereka serius, Edward pasti menangkap rencana itu duluan dan melakukan sesuatu untuk mencegahnya. Tapi, faktanya Edward menganggap ini sangat menarik sekaligus menghibur hingga batas-batas tertentu. Lantas ia akan tersedak atau nyaris berguling-guling menahan tawa, di depan Seth yang dengan polosnya mengira rencana sang Alfa dan kakaknya serius, dan sibuk sendiri merasakan ketakutan yang tak perlu.
Tapi ia tahu, menyatukan kembali potongan tubuh tidak semudah kelihatannya. Biar batu, vampir juga bisa merasakan emosi, termasuk rasa takut, ngeri, dan sakit. Kehilangan anggota tubuh adalah suatu sensasi mengerikan, demikian jelas Jasper yang pernah membuntungi seekor vampir dengan tangannya sendiri. Untuk mengembalikannya pun mereka butuh energi besar, sehingga sesudahnya mereka akan langsung kelaparan,tak peduli jika mereka baru saja makan. Dan proses melekatnya jaringan batu itu ... adalah sesuatu yang ... bukannya melegakan, justru adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Nyaris menyamai sensasi ketika seseorang diubah.
Maka mungkinkah Seth akan berharap hal seperti itu terjadi … pada sosok vampir di depannya?
"Tahan," katanya. Si vampir menggemeretakkan gigi, ketika ia mengembalikan jari itu padanya, dan membetulkan kembali letak tangannya yang memang sudah retak dan hampir terlepas. Di bawah matanya, dilihatnya jaringan itu kembali terakit. Ketimbang seperti otot-otot itu saling menyatu, Seth lebih merasa seakan ada lem yang menyatukan sel-sel batu itu. Lem porselen yang memiliki daya rekat sangat kuat.
Ketika sensasi menyakitkan itu hilang dan si vampir telah bisa kembali menggerakkan tangan dan jari-jarinya, ia menoleh memandang Seth.
"Kenapa … kau lakukan ini?" ucapnya dengan nada menuduh.
"Ehm, aku minta maaf aku tak cepat turun tangan, tapi sejujurnya aku tidak menyetujui penyiksaan ini…"
"Bukan itu. Mengapa kau menolongku?"
Seth agak kikuk sejenak, ia berdehem-dehem dan menggaruk kepalanya sebelum bicara, agak gugup, "Ehm… Aku adalah … eh, pasangan Alfa mereka… Jadi…"
"Ya, aku sudah dengar. Tidak menjelaskan apapun."
"Maksudku, aku pasangan Korra. Jadi secara teknis… Eh, anu…"
Jujur saja Seth tidak tahu apa yang harus ia katakan di titik ini. Memperkenalkan diri sebagai pasangan Korra di depan vampir yang jelas-jelas tengah disiksa? Untuk apa? Meminta restunya? Bayangkan betapa kacaunya situasi itu. Atau mungkin ia ingin menunjukkan diri bukan sebagai musuh, merayu sosok di hadapannya dengan pendekatan yang tidak bisa dilakukan Kuroi? Bermain sebagai polisi baik? Itu sangat kontraproduktif…
Namun vampir berlengan buntung itu tampak tidak terimpresi sama sekali. Yang ada ia malah mendengus dan menyeringai. "Simpan anggapanmu bahwa kau bisa mengasihaniku karena aku mungkin menjadi mertuamu atau apa. Putriku Korra sudah tewas, jika perlu kutekankan."
"Apa?"
Ariana terkekeh. "Kau mengaku kau pasangan Alfa mereka dan kau tidak tahu itu? Mungkin sebenarnya kau hanya salah satu peliharaan barunya…," ujarnya sinis.
"Pe, peliharaan?" terus terang Seth agak terhina dengan kata itu. Terlebih itu dikatakan oleh … yeah, secara hukum, 'mertuanya'. Sudah cukup rasanya kawanan asing itu memandangnya tak lebih dari pelacur Korra, walaupun Kierra sendiri telah mengakui statusnya kini, dan mungkin kawanan Jacob menganggapnya pengkhianat. Tapi bahkan sosok di hadapannya pun menyangsikan kedudukannya?
Tapi ia juga tahu ia bicara dengan lintah. Sebagian besar dari mereka, meski mengutamakan sikap anggun bak bangsawan, tidak sepenuhnya gemar bersopan-santun. Itu bukan masalah utama kini. Apa tadi ia bilang?
"Katamu Korra tewas?"
"Cih. Kau benar-benar tidak tahu, rupanya? Kau bisa tanya anak buahmu kalau kau mau, kalau kau bisa sebut mereka 'anak buah'. Aku mendapat beritanya dua tahun lalu. Putriku dibunuh di Italia oleh seorang vampir bernama Marcus…"
"Marcus?!"
Apa maksudnya Marcus Volturi? Tidak, ia tidak mempertanyakan bagaimana bisa kawanan mereka bersinggungan dengan para bangsawan vampir. Dari apa yang ia tangkap, kelihatannya memang aliansi serupa dengan kerajaan yang berusaha memperkokoh kedudukan dna menjaga perdamaian dengan serangkaian perjanjian. Jelas Volturi akan memakai jalur damai untuk menghindari pertempuran, jika jelas mereka tak bisa dengan mudah melumat musuhnya. Jika kawanan Quileute saja bisa menggugah mereka untuk menandatangani pakta teritorial, tak ada alasannya mereka takkan berusaha menghubungi dan menjalin hubungan baik dengan aliansi, yang kekuatannya jauh lebih besar dan lebih mengancam.
Ditolehkannya kepalanya pada Kuroi dan Phat. Kuroi sama sekali tak melihat padanya, sedangkan Phat tidak menggeleng ataupun mengangguk. Dan dirasanya ketakutan itu.
Sungguhkah … Korra telah tewas bahkan sebelum menginjakkan kaki ke La Push?
Kalau begitu, raga Korra sejak awal hanya cangkang. Yang ia temui selama ini, yang ia cintai, adalah … Kierra?
Tapi … itu tidak mungkin. Korra dan Kierra begitu … berbeda. Mereka dua kesadaran yang terpisah. Karakternya, sikapnya, cara mereka bicara. Korra yang kekanakan dan Kierra yang dewasa. Korra yang mudah marah, pencemburu, dan Kierra yang relatif lebih tenang. Keduanya memiliki kontrol, tapi dengan cara berbeda. Korra tukang memaksakan kehendak. Kierra begitu anggun dan berwibawa sehingga siapapun takkan berani menolak.
Tapi … sungguhkah itu?
Kierra sudah ratusan tahun merasuki raga, hidup laksana orang lain. Pasti bukan sekali ia harus menyamar di hadapan orang yang mengenal tubuh yang ia rasuki. Tidak mungkin ia tidak bisa meniru sifat dan sikap Korra. Hei, siapa tahu sikap tenangnya itu juga hanya topeng...
Tapi kalau begitu … untuk apa ia menunjukkan kedua sisi itu? Korra baru muncul beberapa bulan, tak ada yang tahu seperti apa ia sebelumnya. Jika sejak awal Kierra tak menampilkan sosok Korra pun, tak ada yang akan tahu…
Jadi kesimpulannya cuma satu, kan?
Dan lagi, kalau memang Korra dibunuh Marcus, atau minimal digigit, ia tak mungkin bisa hidup, kan? Dua tahun lalu… ia pasti sudah jadi serigala dan bergabung dengan kawanan Kierra saat itu… Seandainya itu terjadi lebih cepat pun, siapapun yang punya darah serigala, bahkan walau hanya carrier, tidak bisa berubah menjadi vampir…
Tapi kalau begitu, sosok yang ada di hadapannya pun takkan ada. Ibu Korra adalah seorang Black! Jika pada angkatannya La Push dimasuki vampir, ia punya kesempatan setara Billy untuk menjadi serigala. Ia bisa menjadi serigala perempuan pertama setelah era Kierra, mendahului Leah… Oh, ia bahkan bisa menjadi Alfa, minimal Beta.
Mengapa ibu Korra bisa berubah menjadi vampir?
Dan ia mengingat sesuatu.
Tubuh Korra dirasuki, tapi ia memiliki dua kesadaran terpisah. Nyatanya, entah mengapa jiwa Korra tidak bisa melebur begitu mudah. Ia bukan cangkang ketika Kierra memasukinya. Artinya ia takkan mungkin sudah mati oleh racun Marcus. Mengapa serigala tidak mati oleh racun vampir?
Tunggu. Waktu itu, Sam memberi Korra darah Jacob… Sebelumnya, Korra menghisap darah Jacob. Apa yang ia dengar di dasar jurang, ketika ia menguping pembicaraan Sam dengan kawanan? Sam memberi pertukaran 'darah Jacob'… Itu bukan berarti Kierra ingin membunuh Jacob, arti sebenarnya bahkan sangat harfiah…
Korra bilang darah Alfa memberinya kekuatan, hak atas kawanan… Korra jelas menempatkan dirinya di posisi antagonis selama ini. Tapi tidakkah ia mungkin menyembunyikan sesuatu? Bahwa sebenarnya ia membutuhkan darah lebih dari yang ia akui? Untuk menopang Kierra, jika apa yang ia tangkap dari sikap Sam malam itu benar… Tapi mungkinkah lebih dari itu?
Dari cerita Old Quil, juga dari yang ia dapat beberapa hari yang lalu, Kierra menjadikan darah para Alfa sebagai sumber kekuatan, tetapi itu bukan makanan utamanya. Makanan Kierra adalah roh… Korra mengatakan bahwa Kierra tak menghisap sembarang roh, ia menghisap jiwa vampir. Mungkin ia juga sekalian menghisap jiwa inang sedikit demi sedikit selama ia memanfaatkan tubuh inang tersebut, itu yang menjadikan inangnya sedikit demi sedikit hancur. Apakah Kierra tak hanya membutuhkan darah Jacob sebagai sumber kekuatan bagi dirinya, tetapi juga untuk mempertahankan tubuh Korra? Korra-lah yang membutuhkan darah, bukan Kierra?
Tubuh Korra tidak panas. Tidak sedingin vampir, tapi memang dingin. Ia sendiri terus kedinginan, terus memakai baju tebal…
Korra memiliki kecepatan, bahkan dalam wujud manusia…
Keping puzzle itu merekatkan diri. Ada berbagai kemungkinan, tapi dari sekian itu, hanya satu yang merupakan ketakutan terbesarnya.
"Kau dan Korra memiliki resistansi terhadap racun vampir… Racun itu merusak darah serigala kalian, tetapi tidak membunuh… …," ia terhenyak oleh kesimpulannya sendiri. "Korra menjadi seperti itu bukan hanya karena Kierra. Ia sejak awal memiliki gen vampir dalam tubuhnya… Darimu…"
Vampir itu menyeringai. Satu mimpi buruknya telah menjadi kenyataan.
"Korra pastinya memiliki kandungan darah vampir yang jauh lebih rendah darimu karena ia memiliki darah Billy, terlebih karena gen serigalanya telah terpicu sebelumnya. Pertarungan antara gen serigala dan racun vampir mengambil tempat di tubuhnya. Kendati tubuhnya resisten, hingga taraf tertentu itu membuatnya tubuhnya cenderung lebih lemah. Korra seharusnya berdarah panas, lebih daripada manusia pada umumnya, tapi racun itu menghancurkannya dari dalam. Karenanya ia membutuhkan Kierra…" kesadaran itu menghentaknya.
Simbiosis mutualisme. Tidak hanya Kierra membutuhkan Korra. Korra juga membutuhkan Kierra. Hanya dengan kehadirannya, Korra bisa terus hidup…
Sementara. Hingga Korra sendiri hancur oleh racun Kierra.
Ia menekan kepedihannya dan melanjutkan. "Tapi kau berbeda. Karena gen serigalamu tidak terpicu, kau bisa berubah menjadi vampir… Tidak, bukan vampir sembarangan, kau tetap memiliki karakteristik serigala. Cakar… Dan alasan mengapa keberadaan kalian tidak memicu kelahiran serigala secara besar-besaran… Tidak hanya karena kalian berada di luar tanah Quileute dan hanya masuk melalui jaringan bawah tanah. Gen serigala seharusnya terbangkitkan oleh ancaman tak peduli jika ancaman itu ada di dalam tanah Quileute atau di dekatnya. Gen itu tidak langsung bereaksi karena kau masih dianggap bagian suku ini…"
Bahkan Seth sendiri tidak yakin dengan yang terakhir. Apa bahkan itu mungkin? Jika demikian, kebangkitan gen serigala mereka memiliki kelemahan… Kemampuan mereka melindungi suku harus dipertanyakan.
"Tapi dari mana gen itu berasal? Apakah ayahmu? Apakah Korey menikahi seorang vampir ketika ia berada di luar tanah Quileute?"
Wanita itu tidak menjawab.
"Begitukah, Ariana?" cecar Seth lagi. "Kita tahu Korey kembali dalam keadaan hamil... Tidak mungkin ayahmu adalah William Sr. kan? Karena itu akan menjadikanmu saudara tiri Billy..."
Tapi kalau begitu, bagaimana mungkin Korey bisa melahirkan dengan selamat, bahkan sampai menikah kembali... Tidak, mungkin saja Korey tidak menikah kembali. Mungkin sebenarnya ia tewas saat melahirkan, dan sukunya menutup-nutupinya. Benar begitu, kan? Itu jauh lebih masuk akal ketimbang Korey menikahi orang asing bernama Gerrard lantas meninggalkan putrinya sendiri di tangan suku yang jelas-jelas mengutuknya.
Ariana tidak menjawab, hanya terkekeh mengerikan, yang langsung berubah menjadi desisan begitu Phat menggeram dan bergerak maju, seolah mengancam jika vampir buntung itu berani macam-macam, ia akan melumatkannya.
"Tahan," perintah Seth tegas. "Tidak ada tindakan kekerasan terhadap Ariana lebih dari ini tanpa persetujuanku!"
Serigala emas itu berbalik menggeram padanya, memandang Seth tajam, lantas menyalak keras. Seth tak bisa mendengarnya, tapi ia tahu apa yang hendak Phat katakan dalam wujud itu. 'Siapa kau hingga kaupikir kau bisa memerintah kami?'
"Cukup, Phat," bukan Seth yang bicara, melainkan Kuroi. Ia berputar tenang di kursinya dan memandang Seth dengan tatapan bekunya yang biasa. Apa itu? Kebencian? Mungkinkah Kuroi membencinya? "Kuriiwateru-sama jelas tahu seperti apa kedudukan dan haknya kini secara hukum, dan ia tak segan memanfaatkannya," nilainya datar, tapi bak duri wujudnya.
Seth menelan ludah, tapi lantas menegakkan diri. "Benar," ujarnya. "Dan sangat disayangkan, suka atau tidak, kalian harus menaatiku."
Kuroi tersenyum tipis, hingga hampir tak layak disebut senyuman, sebelum kembali berputar menghadap cermin. "Sementara. Mungkin Anda harus mengingat itu, Kuriiwateru-sama…"
Rasa perih itu terasa menyayat detik ketika Kuroi melontarkan ucapan itu. Bukan sekali dalam beberapa hari ini. Seth menarik napas panjang, berusaha menekan rasa sakit itu. Benar, ia memiliki peran. Ini harus ia lakukan, bahkan meski berkorban apapun.
Seth kembali menghadap Ariana. Mata vampir itu menyipit, mendang berganti-ganti antara Seth, Kuroi, dan Phat. Jelas ia sedang berusaha menilai keadaan. Ini gawat.
"Ariana," ujar Seth, meminta perhatiannya. "Kau tahu aku tak akan berbuat kasar dan aku tidak ingin melakukannya. Tapi kau tahu apa yang bisa mereka lakukan, dan ada batas-batas tertentu ketika aku tak lagi bisa menahan mereka. Kau tahu kuasaku terbatas. Jadi kumohon kau mau bekerja sama denganku. Kau mungkin tahu, aku menyayangi putrimu sama seperti kau menyayanginya. Aku tak ingin menempatkan Korra dalam situasi sulit."
Vampir itu mendengus. "Situasi sulit? Jangan bercanda. Tidakkah kau dengar tadi si serigala betina itu mengatakan Korra, atau patut kukatakan siluman dalam tubuh putriku, yang menandaskan bahwa ia memerintahkan mereka melakukan apa saja untuk membuatku bicara?"
Seth mendesah. "Tidakkah kau mengenal putrimu sendiri, Ariana? Seperti apa Korra jika ia ditempatkan pada posisinya kini? Tentu saja ia akan mengatakan itu. Tapi bisakah kau bayangkan kesedihannya jika terpaksa menyakiti ibunya sendiri? Dan bahwa ia harus menekan perasaannya, berpura-pura tegar dan tanpa perasaan? Bukankah itu lebih sakit daripada apapun?"
"Jangan bicara seolah kau mengenalnya!"
"Ya. Aku mengenalnya… Jangan katakan kau sendiri tidak merasakannya juga. Kau juga menyayanginya, kan?"
"Ia bukan Korra!"
"Ia Korra, Ariana. Kau pastinya tahu putrimu belum mati. Kau pernah mendatanginya waktu di perkemahan, kan? Tidak. Kau mungkin tidak bertemu dengannya. Tapi kau memasuki kemahnya, kan?" ia mengingat kembali hari itu. Ketika ia dan Jacob menemukan Ariana sesudah Collin dengan bodoh, atau sangat beruntung, melepaskannya. "Korra selalu menganggap syal paisley itu harta karunnya yang berharga. Itu peninggalanmu kan? Aku melihatnya waktu Korra menunjukkanku foto ketika kalian di India dalam Festival Holi. Kau memakai syal itu…"
"Hentikan…"
"Syal itu yang kauambil lantas kautinggalkan di sebatang pohon…," Seth masih melanjutkan.
"Hentikan…"
"Kau, bagaimanapun, selalu merindukannya, kan? Sama sepertinya…"
"Hentikan!" bentak Ariana.
Kata itu berhasil membungkam Seth. Ditatapnya wanita itu. Beberapa kali dilihatnya foto Ariana, berkali-kali didengarnya Korra berceloteh mengenai ibunya. Beberapa kali ia menangkap memori Jacob mengenai wanita itu, atau membayangkan seperti apa Ariana ketika ia tumbuh bersama Billy. Tak pernah sedetik pun mampir di kepalanya bahwa ia akan berkesempatan melihat wanita itu, dalam rupa yang sama sekali berbeda. Mata yang hitam dan bengis. Penuh amarah. Penuh kebencian.
Ia kenal banyak vampir, tak ada satu pun yang seperti Ariana. Volturi mungkin kejam, tapi bahkan Aro tak punya sorot kebencian di matanya. Dan kebencian itu, ia tahu, ditujukan pada satu titik. Darah Black.
"Kau bertemu Billy malam itu bukan, Ariana? Ketika kalian menyerang perkemahan?" bisik Seth kemudian. "Billy tidak tahu mengenai perubahanmu. Pasti itu sangat mengguncangnya."
Sejujurnya Seth sendiri tidak yakin akan hal ini. Reaksi Billy saat itu begitu shock, seperti habis melihat hantu. Itu tidak mungkin karena ia menyadari Korra lenyap. Billy pasti tahu mengenai kepergian Korra, jika bukan ia sendiri memang ikut merencanakannya. Satu-satunya alasan yang mungkin adalah karena ia melihat sesuatu yang membuatnya sangat terpukul. Dan setelah itu, Jacob dan Seth memergoki Ariana di perkemahan, dengan syal Korra…
Billy tidak mungkin bertemu Ariana sebelum Collin menggiring para vampir ke tepi tebing, jeda waktunya terlalu singkat. Collin bilang ia memojokkan si vampir buntung ketika mendengar teriakan Billy. Jadi mungkin teriakan Billy tidak disebabkan oleh Ariana. Lagipula mereka merasakan kehadiran vampir sesudah mengantar Billy. Ya, Ariana pasti datang sesudahnya, ketika kawanan disibukkan oleh kemungkinan hilangnya Korra. Lantas apa yang membuat Billy berteriak?
Dan mengapa Ariana, yang lolos dari Collin, harus kembali ke perkemahan? Karena ia mencium bau Korra dan tak bisa menahan rindu, hingga ia menempuh resiko kembali ke tempat yang jelas dijaga serigala?
Korra masih tidak mengungkap satu kata pun mengenai kejadian di perkemahan. Tapi sedikit demi sedikit memang ia bisa mereka ulang kejadian waktu itu. Meski banyak lubang gelap yang menganga, begitu banyak pertanyaan…
Tapi dilihatnya Ariana membelalak, dan saat itu ia tahu sebagian dugaannya adalah kebenaran. "Apa yang sebenarnya ingin kaukatakan?" desisnya.
Entah bagaimana kebenarannya. Yang jelas ia tahu ia bisa memanfaatkan hal ini.
"Bahwa sesungguhnya Billy masih mencintaimu, Ariana…," ucapnya lembut dengan nada meyakinkan. "Bahwa baik Billy maupun Korra tidak menginginkan hal seperti ini terus berlanjut…"
Tiba-tiba tawa kering berkumandang dari bibir vampir itu. "William Black? Mencintaiku? Kau bisa mengatakan apa saja. Tapi apa kaupikir kau bisa membodohiku?"
"Aku tahu situasi sulit yang terjadi antara kau dan Billy belasan tahun lalu. Tapi seharusnya kau pun tahu, Ariana… Keputusan Billy untuk membiarkanmu pergi adalah keputusan sulit…"
"Kau tidak tahu apapun!" teriak Ariana yang langsung disambut geraman Phat. Serigala emas itu sudah hampir maju menerkam, tapi berhenti ketika Seth merentangkan tangan menahannya. "Kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan para Black!" lanjutnya. "Mereka iblis yang menyaru sebagai manusia! Lebih kejam daripada vampir! Lebih kejam daripada apapun!"
Seth mengernyit. Iblis?
"Kau pastinya tidak tahu di balik semua kebohongan yang ditanamkan mereka sekian dekade! Tapi aku tahu! Sang Ibu telah mengatakan semuanya padaku!"
"Sang Ibu?"
"Bukan hanya aku dan Korra korban kebiadaban marga Black! Ibuku, Korey, lantas juga sekian generasi di atasnya… Tatiana, Zacharias…"
Ya, ia sudah mendengarnya dari Korra. Tatiana dan Zacharias Black, dieksekusi pada masa Ephraim…
"Adalah misi suci kami untuk melenyapkan seluruh keturunan Black… Memastikan tak ada lagi benih iblis di dunia ini…," lanjut Ariana. "Dengan demikian tak perlu ada lagi kehancuran, kepedihan yang sama yang dirasakan generasi-generasi sesudah kami…"
Apa … maksudnya?
Apa ini? Dendam turun-temurun?
"Siapa sebenarnya Sang Ibu? Mengapa ia merasa berhak melakukan itu?"
Wanita itu mendengus. "Kau pastinya tidak pernah merasakannya. Bagaimana ketika anakmu direnggut darimu. Kau terpaksa meninggalkannya karena berpikir itu hal yang terbaik baginya, mengira kau telah meletakkannya di tangan yang tepat… Kau menahan kesedihanmu, kerinduanmu, berharap dengan pengorbanan itu ia bisa mendapat kesempatan yang lebih baik ketimbang bersamamu… Tapi ketika kau kembali, ternyata ia telah berubah menjadi onggokan sampah. Bahwa mereka mengkhianati kepercayaanmu... Bahwa justru itulah yang menghancurkannya…"
Ia tak langsung menjawab pertanyaan Seth. Apa ia bicara mengenai Korra? Tidak. Ia tidak hanya bicara mengenai putrinya dan dirinya. Ia bicara mengenai yang lain.
Sang Ibu.
Ariana bisa memahami perasaan Sang Ibu…
"Maksudmu Sang Ibu … memiliki hubungan dengan Suku Quileute di masa lalu? Seseorang yang berhubungan erat dengan marga Black?"
Tunggu, tunggu sebentar.
Kembali memori itu berputar di kepalanya. Kata-kata Noah ketika Brady mengatakan kecurigaannya bahwa Kierra-lah yang ada di balik serangan. Sesuatu mengenai dalang semua serangan. Sang Ibu.
Noah menyebutnya 'hibrida Quileute…'
Hibrida…
Ibu Korra memiliki tetesan darah vampir, tidak mungkin tidak. Demikian juga dengan Korra...
Bagimana jika Ariana adalah keturunan Sang Ibu? Jika Sang Ibu-lah yang membawa gen itu…
"Korey atau Tatiana Black? Apakah salah satu dari mereka adalah Sang Ibu?"
Korey menikah dengan seorang pria asing dan pergi keluar La Push kan? Tadi ia pikir Korey mungkin tewas saat melahirkan, tapi jika tidak... Kalau ia tidak tewas, jika ia-lah Sang Ibu... Artinya bukan suaminyalah vampir, melainkah ia sendirilah si hibrida...
Tidak. Ayah Korey jelas Ephraim.
Tapi mungkin saja Korey tewas saat melahirkan lantas dibangkitkan kembali oleh suaminya, seperti Bella. Lantas kembali untuk membalas dendam...
Tapi Sang Ibu adalah hibrida. Bukan vampir... Lagipula ia tidak mungkin bisa berubah jika ia tidak memiliki darah vampir sejak awal.
Berarti garis hibrida itu harus ditarik lebih jauh. Tatiana Black, ibu Korey… Tidak, itu tidak mungkin. Ayahnya Zacharias, kan? Ibunya... Tidak, ibunya pasti manusia. Kecuali kalau ibunyalah sang hibrida... Tapi bukankah ia sudah dibunuh oleh Ephraim? Apa mungkin sebenarnya Ephraim tak tega membunuh istrinya sendiri dan melepaskannya?
Tatiana-kah Sang Ibu? Atau ibu Tatiana?
Di tengah carut-marut pikirannya, didengarnya Ariana mendengus. "Huh. Cukup dekat, Anjing. Tapi kau salah."
Salah? Apakah artinya darah itu berasal dari suatu generasi yang lebih tinggi?
Kalau begitu, tinggal tersisa… "Perempuan misterius yang menikahi Jacob Black I…," kata-kata itu bak bom meledak di kesadaran Seth. "Ibu Zacharias dan Joanna Black…"
Kenyataan itu terbuka di hadapannya.
Zacharias dibuang dari suku, lantas dibantai. Jika itu bukan karena ia melakukan kesalahan, tapi karena ia putra hibrida... Jika ia dibenci karena darahnya...
Joanna dan Zacharias Black…
Leluhurnya dan Korra…
Leluhurnya … memiliki dendam dengan marga Black?
Tunggu, ada yang lebih penting daripada itu. Jika Sang Ibu adalah orang yang sama dengan perempuan yang menikahi Jacob Black II…
Dan perempuan itu, bukankah ia adalah…
Katakan itu tidak mungkin.
Bukan hanya urusan Korra dan dirinya memiliki tetesan darah vampir di nadi mereka yang merisaukannya kini.
Mereka berhadapan dengan wanita itu. Keturunan langsung Kaliso. Yang masih hidup!
Korra tak hanya berhadapan dengan ibunya. Ia juga berhadapan dengan putri Kaliso… Dan jika putri Kaliso memiliki darah vampir, kemungkinan asal darah itu cuma satu.
Kierra.
Kierra berhadapan dengan putrinya sendiri!
Kutukan macam apa ini?
.
.
Ia menghempaskan dirinya di sofa. Kepalanya sungguh berat.
Dua sosok itu ada di hadapannya. Seperti juga sosok-sosok lain yang melingkarinya dengan wajah tegang. Menanti keputusannya. Penghakimannya.
"Katakan apa yang harus kulakukan terhadapmu…," bisiknya lirih tanpa mengangkat kepala. Tak bisa ia menatap wajah-wajah itu. Mata itu.
Tak ada jawaban.
Ia mengepalkan tinjunya begitu keras hingga dirasanya kukunya sendiri menghujam pada telapak tangannya. Ia menggemeretakkan rahangnya begitu keras. Dirasakannya perih ketika kuku-kuku itu mengoyak telapak tangannya, ketika giginya melukai bagian dalam mulutnya, tapi ia tak peduli. Rasa perih itu tidak seberapa, sama sekali tidak seberapa…
Diangkatnya kepalanya menatap sosok yang tengah berlutut di hadapannya dengan wajah tertunduk. Ia tak bisa tidak melihat sosok itu sebagaimana adanya: ringkih dan rapuh… Tapi ia tahu itu hanya penampakan luar. Apa yang sebenarnya ada di balik sosok itu?
Lagi dan lagi ia merasa terkhianati. Setiap kali ia berusaha mendekat, menghalau kebenciannya, setiap kali rasa sayangnya mengemuka, setiap kali itu pula ia dihadapkan pada kenyataan itu. Bahwa sosok itu pembawa masalah. Manipulator. Penghasut. Ancaman bagi semua yang ia tahu. Bahwa seharusnya sejak awal ia mengenyahkannya pada detik ia bertemu dengannya, sebelum menginjak tanah ini.
Bukankah instingnya telah memperingatkannya sejak awal? Mengapa juga ia selalu tanpa sadar menekan insting itu? Mengapa ia harus mengembangkan rasa sayang, rasa protektif atasnya?
"Katakan apa yang harus kulakukan padamu…," kembali diulangnya kata itu.
Masih tak ada jawaban.
"Katakan apa yang harus kulakukan terhadapmu, Korra!" ia setengah berteriak.
Gadis itu mengangkat kepalanya. Mata itu menatapnya. Begitu dingin…
"Aku di tanganmu, Jake…"
Tak ada kelemahan dari kalimat itu. Kepasrahan yang ia tunjukkan, anehnya, justru terasa bak tantangan…
Geraman dalam terdengar dari sang Alfa. "Kau benar-benar tahu kedudukanmu sekarang, bukan, Korra? Alfamu sendiri yang menyatakan padaku bahwa sekali kau berbuat ulah, aku berhak menghukummu atau membunuhmu."
"Sebenarnya ia mengatakan 'jika kawanan kami berbuat sesuatu yang mencurigakan'…"
"Itu sama saja!" bentak Jacob berang. "Kau berbuat mencurigakan! Apa sebenarnya tujuanmu ada di sini? Apa kau sengaja ditanam untuk menginfiltrasi? Ya, sudah pasti. Apa lagi? Mengadu domba? Menyulut kekacauan? Membuat kami terpecah? Membuat kami saling membunuh?"
"Itu bukan niatku… Bukan juga perintah Alfaku…"
"Jadi jelaskan apa yang kaulakukan tadi! Apa kau sengaja membuat Beta dan mantan Betaku saling serang?"
"Jacob…," Embry berusaha menahan emosi sang Alfa, tapi Jacob membentaknya menyuruhnya diam.
"Katakan, Korra," Jacob bangkit dan mendekati gadis itu, mengangkat dagunya. Mata coklat gelap Korra menatapnya. "Apa sebenarnya agenda kawananmu? Apa yang kauinginkan?"
"Seperti yang dikatakan Alfaku: kami bukan ancaman, Jake… Kita memiliki musuh bersama…"
"Seolah aku percaya!" teriak Jacob. Tanpa ia sadari, kepalan tinjunya sudah melayang, siap menggampar Korra. Seisi kawanan menarik napas menunggu tinju itu mendarat di rahang sang adik. Embry dan Brady bahkan siap melompat menahan Jacob untuk berbuat lebih jauh menyakiti gadis itu, siapapun dia. Namun, dalam keterpanaan mereka, insiden itu tak pernah terjadi. Kepalan tangan Jacob berhenti begitu saja di udara. Diiringi gemeretakan gigi, seketika Jacob berbalik, melampiaskan emosinya dengan memukuli sofa.
Jacob sangat reaktif. Ya. Tapi ia tak pernah begini…
Ia frustrasi. Mungkin bahkan lebih.
"Astaga, Korra~!" teriakan Jacob membahana di ruang tengah keluarga Black yang sempit dan sumpek itu, ketika ia kembali menyurukkan diri ke sofa, membenamkan wajahnya di antara kedua telapak tangannya. "Sampai kapan kita harus terus begini?!" bentaknya. "Kita kakak beradik! Seharusnya kau tidak menyimpan rahasia dariku… Menguji kesabaranku… Terutama jika itu makin memperparah keadaan!"
"Maaf, Jake…," bisik Korra.
"Brengsek! Kenapa kau melakukan ini padaku?! Aku menyayangimu, tahu!"
Seisi kawanan terperangah. Ya, di balik ketegangan yang tampak di permukaan, mereka tahu sebenarnya kedua kakak beradik itu diam-diam saling sayang. Tapi tak pernah ada di imajinasi mereka, Jacob akan mau mengatakan itu keras-keras di depan umum. Dalam nada yang penuh kefrustrasian…
Seulas senyum pahit muncul di wajah itu ketika ia menunduk. "Ya, aku juga menyayangimu, Jake… Kau dan Ayah…"
"Jadi mengapa kau terus dan terus berbuat sesuatu untuk menghancurkanku?! Kawananku!"
Korra mengangkat kepalanya. Memandang Jacob dengan tatapan yang aneh. Apa itu? Kasihan? Mengapa ia perlu dikasihani?
Serta-merta Jacob kembali bangkit, mendekat. Mencengkeram bagian depan baju adiknya dan memaksanya berdiri. Seisi kawanan sudah di ujung ketegangan menyaksikan pameran kekasaran sang Alfa, tapi tak bisa melakukan apapun. Lidah dan kaki mereka terikat oleh Titah yang bahkan tidak diucapkan. Beberapa anak menoleh ke arah Collin. Pemuda itu yang biasanya paling sigap membela Korra. Tapi saat itu, mengapa bahkan Collin membuang muka?
"Siapa kau sebenarnya?" desis Jacob tepat di depan wajah Korra. "Serigala hitam? Tidak, tidak, kau pasti bukan dia… Serigala putih? Kemungkinan itu bahkan terlalu kecil... Jadi siapa kau?"
Korra tidak menjawab atau bereaksi apapun. Mengatupkan bibirnya rapat-rapat, meski matanya menantang mata Jacob.
Jacob melepaskan cengkeramannya, dan lantas menunjuk ke pintu. "Keluar dan berubah!"
"A, apa?"
"Kau dengar aku, Korra! Keluar dan berubah!"
"Tapi aku tidak bisa…"
"Kau mau bilang bahkan untuk berubah pun kau butuh persetujuan Alfamu? Keluar, berubah, dan panggil ia ke sini! Semua harus diselesaikan saat ini juga!"
"A, apa yang ingin kaulakukan?" ia terdengar panik.
"Jika aku harus bertarung dengan Alfamu demi mendapatkanmu, maka akan kulakukan! Atau jika kau ingin bertarung denganku demi kedudukan Alfa, maka itu juga akan kulakukan! Aku sudah bosan dengan semua ini, Korra! Aku ingin kejelasan!"
Dan begitu tiba-tiba, Korra menjatuhkan diri di hadapan Jacob. Tidak hanya berlutut, tapi menyembah.
"Jangan perintahkan aku berubah, Kak…," mohonnya. Ketika ia mengangkat kepala, dilihatnya bulir-bulir air mata di pipi gadis itu.
"Apa lagi permainanmu?" geram Jacob. "Aku tak mempan dengan air mata buayamu!"
Tapi Korra masih terisak. "Jika aku berubah, aku akan membunuhnya… Aku tahu aku telah mengecewakanmu dan Dad. Tapi kumohon… Aku tidak ingin ia terluka…"
"Siapa?"
Jacob tak tahu apa seharusnya reaksinya ketika Korra terduduk, memegangi perutnya, dan berucap lirih, "Anakku…"
Anak? Itu yang ia pakai sebagai alasan kini?
Collin, yang sedari tadi hanya duduk di sofa dengan tatapan kosong, mendadak menghentakkan kepala, menoleh ke arah Korra.
"Anak…," bisiknya menerawang. Ada pilu yang aneh kala ia mengucapkan satu kata itu, sebelum kembali menunduk. Hilang dalam pikirannya sendiri.
Jacob tak pernah tahu apakah urusan kehamilan seekor serigala bisa menahan perubahan atau tidak. Satu-satunya serigala betina yang ia kenal selama ini hanya Leah, dan jelas ia tidak pernah hamil. Ia selalu mengira semua serigala betina mandul, setidaknya tidak bisa mengandung hingga saatnya ia melepas kekuatan serigalanya. Kalau mau jujur, ia bahkan tidak bisa menerima kenyataan kehamilan adiknya di titik itu. Adiknya serigala dan ia 'kecelakaan', dua kenyataan yang terlalu menohok, datang di saat bersamaan.
Korra memang biang masalah.
"Kalau begitu hubungi Alfamu," ia menyorongkan ponsel ke wajah Korra. "Katakan aku perlu bicara."
Korra tampak ragu, tak juga meraih ponsel itu.
"Ayo," paksa Jacob.
Tapi adiknya menggeleng. "Maaf Jake, aku tidak bisa…"
"Kenapa?"
"Ia tidak ke mana-mana berlari dengan membawa ponsel…"
"Oh, jadi ia dalam wujud serigala sekarang? Bagus, itu jadi lebih mudah. Aku tinggal memanggilnya."
"Sayangnya itu juga tidak bisa, Jake…"
"Kenapa lagi?"
"Ia tidak ada di sini. Ia pergi tadi pagi. Ada kawanan taklukan kami yang butuh bantuan dan…"
"Alasan!" bentak Jacob. "Kau hanya mencari-cari cara agar kau tidak berubah di depanku!"
"Tidak, Jacob…"
"Kau tahu, Korra? Setelah kupikir-pikir, bisa jadi kaulah Alfa Putih itu sendiri!"
Tidak hanya Korra, tapi juga seisi kawanan terperanjat dengan tuduhan Jacob.
"Jake!" seru Quil. "Itu tidak masuk akal! Berhenti terus memojokkan Korra!"
"Diam, Quil!" bentak Jacob, sekilas melirik Collin. Remaja itu menatap sosok Korra dengan mata membelalak, tapi tak bicara apapun. Tidak membela Korra. Tidak lantas menghajar Jacob karena mengasari Korra. Aneh. Tapi mungkin memang Collin mengalami geger otak. Ia sudah aneh sejak kembali dari liang kubur.
Jacob tak mempedulikan kasak-kusuk protes di sekitarnya dan kembali terfokus pada Korra.
"Kau tahu apa, Korra? Serigala putih itu, Kierra, selalu mengincar para putri kepala suku, kan? Ia diusir, tidak bisa menginjak tanah Quileute. Lantas mendadak ia kembali muncul seiring dengan kedatanganmu di La Push. Apa salah jika aku mencurigai kau adalah dia? Kierra, kembali sebagai putri dari seorang Tetua, adik dari seorang Alfa… Bayangkan betapa sempurnanya itu... Kau bisa dengan mudah mengintai, sementara menebar ranjau untuk menghancurkan kawanan dari dalam. Mencari tahu kelemahan kami. Satu saat mungkin kau berharap aku akan mati dan menurunkan posisi Alfa padamu. Atau kau bisa memancing pertempuran dengan mudah, membunuhku dan mengklaim kedudukanku. Pasti kau mengira aku takkan tega membunuhmu karena kau adikku."
"Jacob!" kali ini Embry yang maju memperingatkan. "Aku tahu aku yang memberimu ide bahwa Korra bukan si serigala hitam. Mungkin kau merasakan semacam agresi Alfa padanya… Tapi bukan berarti ia Alfa Putih! Mungkin ada anggota lain yang tidak kita tahu. Kau tak bisa menuduh tanpa bukti!"
"Aku tidak menuduh tanpa bukti, Embry! Korra memberi Titah pada Noah untuk meredam perubahannya, ingat? Noah menghilang, kemudian kita tahu Noah menjadi anggota kawanan asing itu… Belum lagi pada hari ketika aku menjemput Korra di sekolah, Noah kelihatan betul membencinya, mereka bertatapan, tapi Noah tidak berani mendekat. Kenapa? Karena ada aku di sana? Sudah jelas yang ditakuti Noah adalah Korra. Josh ada di sana waktu itu, tanya dia!"
Semua orang memandang Josh dan ia mengangguk. Tapi Embry menggeleng. "Itu bukan bukti, Jake!"
"Oh, apa perlu aku membeberkan semuanya? Ia menghilang pada hari kita bertemu serigala putih di Crescent Lake, sengaja memasang jebakan untuk membuatku berubah dan bicara dengannya dalam wujud serigala… Waktu aku meminta si Alfa Putih pergi, ia mengatakan bahwa ia punya ikatan dengan tanah ini dan berhak ada di sini. Apa yang harus kusimpulkan memangnya?"
"Ia ada di sungai ketika kau bicara dengan Alfa Putih di perkemahan," Embry masih menyanggah. "Dalam wujud manusia! Kau mendengar suaranya. Seth mendengar suaranya."
"Kalau kaupikir aku tak bisa melakukan koneksi Alfa jika tidak dalam wujud serigala, bukan berarti ia juga sama. Kita tak pernah tahu batas-batas kekuatan kita sendiri. Aku yang dulu tak bisa menurunkan Titah dalam wujud manusia, kini bisa. Aku tak heran jika seiring pengalaman, aku pun bisa melakukan koneksi Alfa tanpa berubah…"
"Tapi lihat dia. Ia begitu submisif. Tubuhnya begitu kecil. Sifatnya, sikapnya, suaranya... Mana mungkin ia…"
"Oh, kalian lebih dari tahu untuk tidak tertipu penampilan fisiknya! Quil bisa bersaksi, Korra mampu menjatuhkanku dan bilang akan menundukkanku. Ia serigala berdarah Alfa, demi Tuhan! Rela menundukkan diri seperti ini… Apa lagi jika bukan merencanakan sesuatu?"
Seisi kawanan menelan ludah. Benarkah … ini?
"Seth mengatakan padaku, Korra memiliki kawanan di Sumatera sebelum ia ditaklukkan Kierra. Seekor serigala Quileute berdarah biru, tak kurang, dengan kekuatan yang sangat besar hingga mampu membunuh seekor macan ketika usianya 14… Begitu potensial hingga bahkan bisa bertahan walau lahir di luar teritori suku, terpisah dari kawanannya… Aku tak heran jika Kierra menginginkan dirinya…"
Sang Alfa tersenyum, tajam memandang Korra. Gadis itu mendongak. Lagi, ekspresinya tidak bisa dibaca.
"Jadi sudikah kau membuka topengmu?" seringainya. "Yang Mulia Kierra…"
.
.
Catatan:
Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir batin… Merdeka! -ga nyambung-
Hehehe, di chap ini ada soal Ariana, dan ada juga soal tuduhan Jacob. Gimana? Yeah, Jacob nyusun argumentasinya ketauan banget lebih digiring emosi daripada logika. Dia emang ngerasain agresi Alfa yang kuat banget sama Korra… Dan dia juga bingung… (ketangkep ga yaaa?)
Btw 'sumpek' beneran ada di KBBI lho... Artinya pengap, sempit (gara-gara kebanyakan orang)
Seperti biasa… R&R?
